Chapter 2.6
Ahmadiyah Sebagai Isolasionisme
 


 

2.6    Metode Pendekatan
 

Itulah tokoh syed Ahmad Khan, seorang diri merencanakan dan mencetuskan satu revolusi zaman baru bagi ummat Islam India. DR.J.M.S. Baljon, seorang sarjana bangsa Belanda berkata:

"Syed Ahmad Khan telah merencanakan dan melakukan pemberontakan (mutiny) India yang kedua."34

Maka sungguh tidak patut dan keliwat batas bila pendiri Aligarh itu, hendak disejajarkan atau ditandingkan dengan pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad. Bagaimana hendak ditandingkan, syed ahmad Khan seorang realis tulen dengan Mirza Ghulam seorang khayalis itu? Bahkan tidaklah patut untuk mengatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah berguru secara absentia pada syed Ahmad. Jauh dari pada berguru, Mirza Ghulam hanyalah seorang plagiat besar penunggang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan situasi di India. Ia tidak lebih dari seorang pencuri buah-buah dari hasil tanaman perjuangan pejuang Muslimin.

Untuk kepentingan Islam dan ummatnya misalnya, Mirza Ghulam Ahmad menciptakan gagasan-gagasan yang mustahil dan tampaknya lebih merupakan kisah-kisah advonturir daripada cerita-cerita yang menggelikan. Di antara kissah-kissahnya yang menarik ialah, Mirza Ghulam Ahmad harus menjadikan dirinya lebih dahulu, sebagai Al-Mahdi, Al-Masih, Kreshna, dan last but not least sebagai Nabi dan Rasul. Andaikata masih hendak dicari persamaan­persamaan dengan syed Ahmad Khan dan syed Ahmad Al-Bedawi, maka memang ada juga persamaan-persamaannya. Nama Ahmad kebetulan sama, nama putranya yang terkenal sebagai penerus juga sama, yaitu Mahmud Ahmad; dan nama aliran yang dimiliki mereka sama, Ahmadiyah. Hanya itu saja persamaan-persamaannya.

Akan tetapi tidak demikian pada spirit, perjuangan, maupun ajaran-ajaran mereka itu. Kita sudah tahu perjuangan syed Ahmad Khan, juga perjuangan syed Ahmad Al-Bedawi, yang semasa hidupnya mengadakan perlawanan dan peperangan yang sengit terhadap penyerbu-penyerbu kaum salib dalam perang salib yang ketujuh .

Sedangkan Mirza Ghulam Ahmad adalah sebaliknya, ia dan Ahmadiyah­nya berlindung teduh di bawah naungan salibisme. Sejarah hidup Mirza dan keluarganya serta gerakannya akan membuktikan sendiri keterlibatannya itu. Mungkin perkenalan terhadap Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya, ini masih garis-garis besarnya saja atau masih serba samar dan tidak to the point. Maka untuk menuju pada persoalan-persoalan yang lebih jauh, dan lebih lengkap dari sejarah Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya, methode-methode yang dianjurkan oleh DR. Muhammad Iqbal akan lebih membantu sepenuhnya. Methode beliau yang pertama ialah: Menyusuri jejak-langkah, sepak­terjang, maupun tingkah laku Mirza Ghulam Ahmad, ajaran-ajarannya, contoh-contoh wahyu yang ia terima dari Tuhannya, dan jika ditambah lagi, kehidupan keluarganya. Methode lainnya, yang juga penting dan effektif ialah, mencari dan menggarisbawahi letak-letak Ahmadiyah dan pendirinya di dalam mata rantai sejarah kaum Muslimin India, sebelum abad keduapuluh, atau meneliti situasi dan kondisi Muslim India dalam abad kesembilanbelas itu, sejak jatuhnya Sultan Tipu.35

Dengan methode-methode yang dianjurkan Iqbal itu, perkenalan pada tokoh yang empunya cerita di sini, MIRZA GHULAM AHMAD, sampai pada lubuk dasarnya.

 

 

34 lih.Jamil-ud-din Ahmad, Early of Muslim political Movement, ha1.136. ^

35 lih. syed Abdul Vahid, Thoughts and Reflections of Iqbal, hal. 269:,(A Careful Psychological analysis of the revelations of the founder would perhaps be an effective method of dissecting the inner life of his personality ...Another equally effective and more fruitful method, from the standpoint of the plain man, is to understand the real content of Ahmadism in the light of history of Muslim theological thougt in India, at least from the year 1799. The year 1799 is extremely important in history of the world of Islam. In this year, fell Tippu and his fall meant the extinguishment of Muslim hopes for political prestige in India; and I do hope that one day some young student of modern psychology will take it up for serious study.) ^