Chapter 3.2
Ahmadiyah Sebagai Sincretisme

 

3.2    Ia Telah Difirmankan
 

Maka apa yang telah dilakukan Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya men­dominir hadits demi kepentingan memperoleh pegangan guna memperkuat dirinya, akan selalu dijumpai dalam setiap obrolan Ahmadiyah. Sampai­sampai pada ayat-ayat Al-Quran, tidak terlepas dari pemakaian Mirza Ghulam menurut cara dan selera mereka. Jelasnya, menggxunakan dasar Al­Qur'an dan Hadits untuk mengukuhkan pegangan dengan jalan mengartikan dan mentafsirkan menurut kepentingan dan selera mereka, adalah watak khas serta hobby yang menyolok yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, puteranya, pengikut-pengikutnya maupun alirannya. Kitab-kitab mereka sendiri yang membuktikan ciri-ciri khas itu.

Beralih kini pada urutan yang ketiga atau yang terakhir dari nama pendiri Ahmadiyah, yakni nama AHMAD, maka untuk nama inilah, Mirza Ghulam, puteranya dan alirannya telah membuat suatu surprise yang tidak tanggung­tanggung, menarik dan istimewa:   Jauh dari pada nama Mirza, nama AHMAD ini merupakan kebanggaan bagi yang empunya maupun bagi pengikut-pengikutnya. Menurut puteranya, Bashiruddin Mahmud Ahmad, bahwa acapkali beliau (Mirza) suka menggunakan nama Ahmad bagi diri beliau secara ringkas. Maka waktu menerima bai'at dari orang-orarg beliau hanya memakai nama Ahmad.

Dalam ilham-ilham acapkali Allah s.w.t. suka memanggil kepada beliau dengan nama Ahmad juga.12

Bagaimana dengan yang empunya nama, Mirza Ghulam? Dengan perasaan bangga akan namanya, ia berkata:

"Bahwasanya Allah sendirilah yang memberi nama Ahmad, padaku, ini sebagai pujian untukku di bumi serta di langit."13
 

Mau apa lagi? Kalau Tuhan yang memberi nama padanya, maka jangan ada orang yang mencoba-coba untuk meragukannya.

Hanya sayang masih ada kekurangan dari ucapan-ucapan Mirza di atas. Ia maupun Ahmadiyahnya tidak pernah menceriterakan bagaimana cara Tuhan memberi nama Ahmad itu. Setidak-tidaknya ayah Mirza Ghulam ataupun kakeknya, pernah kedatangan ilham atau dapat mimpi atau bagaimana saja, dari Tuhan Mirza berkenaan dengan nama Ahmadnya.

Kendatipun kisah atau cerita pemberian nama itu tidak ada, namun itu tidak berarti bahwa pemberian nama dari Tuhan tersebut, tidak mempunyai bukti. Justru yang paling berkesan serta meyakinkan, dibuktikan dengan tandas oleh Mirza Ghulam Ahmad dan alirannya.

Adapun bukti yang ditunjukkan itu bukan terjadi pada saat­saat Mirza Ghulam dilahirkan, melainkan pada saat-saat Nabi Muhammad s.a.w. menerima wahyu. Jelasnya, 1200 tahun sebelum kelahiran Mirza Ghulam Ahmad, nama AHMAD yang dimilikinya itu, sudah disebut-sebut Tuhan dalam KitabNya, Al-Qur'an Al-Karim pada surah As-Shaf ayat.6, sebagai AHMAD yang DIJANJIKAN.14

Lebih serius lagi dari pada ulasan Ahmadiyah ialah, bahwa pangkat yang terdapat pada nama Ahmad dalam surah As-Shaf itu, yakni pangkat Rasul, adalah juga milik Mirza Ghulam; berkata Ahmaddyah:

"Jika orang benar-benar meniliti maksud Al-Qur'an itu  (surah 61:6 tadi) maka akan mengetahui, bahwa yang   dimaksud dengan nama AHMAD bukanlah Nabi Muhammad saw. tetapi seorang RASUL yang diturunkan Allah swt. pada    akhir zaman sekarang ini. Bagi kami ialah: Hazrat  (Mirza Ghulam) AHMAD Al-Qadiani."15
 

Demikian tafsir dan makna surah Ash-Shaf ayat 6 yang diolah oleh Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya. Akhirnya dengan ucapan yang meyakinkan, Ahmadiyah dengan lantang berkata:


"Dengan demikian jelaslah, bahwa yang dimaksud Rasul
 Ahmad dalam surah Ash-Shaf ayat 6 tersebut, adalah pendiri Jemaat  Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad     a.s."
16
 

Inilah dia, obrolan-obrolan Mirza Ghulam dan para pengikut­nya; mereka seringkali menonjolkan watak-watak Yahudinya dengan Yuharrifu nal kalimah an-mawadi'ih, bermain sulap, awut-awutan, tamak didalam men­gartikan maupun menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an serta Hadits.

Alasan-alasan yang digunakan Ahmadiyah untuk menguasai nama Ahmad dalam surah As-Shaf itu, seolah-olah kelihatannya masuk akal; akan tetapi kalau diteliti dengan seksama, maka mereka hanya memaksakan agar makna maupun tafsir dari ayat 6 surah As-Shaf itu, dikhususkan pada Mirza Ghulam Ahmad saja. Dengan kata lain, Ahmadiyah menafsirkan maupun rnengartikan ayat-ayat Al-Qur'an, menurut jalan pikiran mereka dan menurut kepentingan mereka. Sebagai alasan mengapa ayat 6 Ash-Shaf itu untuk Mirza, Ahmadiyah berkata:
 

"Memang dalam Al-Quran surah 61:6 tertulis nama Ahmad.  Tidak mungkin nama itu digunakan bagi Nabi Muhammati  saw. karena disitu tertulis tanda-landa dan kejadian-kejadian yang lain, terangnya seperti di bawah  ini:
 

1. Wa huwa yud'a ilal Islam = dan dia {Ahmad) dipanggil (oleh orang-orang yang mengaku dirinya Islam) supaya kembali kepada agama Islam. Mengapa demikian? Mereka menganggap bahwa Hazrat Ahmad a.s. itu sudah kafir-nauzubillah-, disebabkan mengaku dirinya sebagai nabi. Marilah kita perhatikan: Nabi Muhammad saw. berkewajiban memanggil ummat dunia kepada Islam (lih61:8) tetapi pada ayat tersebut malah mereka itulah (baca: ummat Islam) yang memanggil Ahmad, supaya kembali kepada Islam.
 

2. Yuriduna li yuthfiu nurullahi bi afwahihim: mereka itu (baca: seluruh ummat manusia di dunia sekarang ini) ingin benar memadamkan cahaya Allah Ta'ala dengan mulutnya. Pada zaman Nabi Muhammad saw. yang memusuhi Agama Allah (Islam) menghunus pedang, tetapi pada akhir zaman ini, yang melawan dan menghantam Islam tidak  dengan pedang lagi, melainkan dengan "propaganda,"  dengan alat-alat modern, radio dan tulisan-tulisan. Ingatlah pula lidah lebih tajam lagi dari pedang.

3. Huwalladzi arsala rosulahu bilhuda wa dinil haqqi   liyuzhhirahu 'ala dini kullihi: Dia, Tuhan itulah yang mengirim Rasulnya dengan petunjuk, agar dapat ia (Ahmad) memenangkan agama Allah atas segala agama-agama. Terlaksananya ayat ini, hanya di suatu   zaman, dimana pergaulan dunia antara agama dengan agama semuanya, menjadi lebih dekat, jarak antara benua dengan benua itu seakan-akan dekat, semuanya disebabkan alat-alat teknik yang modern tadi, bahkan antara bangsa dengan bangsa kini sudah dapat disatukan (PBB), atau bila dengan alat ialah: radio dan pesawat terbang. Bila kita mau menganalisa semuanya ini, mustahil bisa terkecoh lagi."17
 

Demikianlah ocehan-ocehan  Ahmadiyah mempropagandakan alasan­alasan apa sebab Mirza Ghulam yang menjadi pemilik mutlak nama Ahmad itu. Ditambah lagi dengan ocehan tafsir yang berlagak berani memperkosa ayat-ayat Tuhan, maka jelas tidak seorang mufassirpun yang berani berbuat demikian, kecuali mufassir-mufassir Ahmadiyah yang serba awut-awutan.
 

Berbicara tentang ayat 7 dari Surah Ash-Shaf tersebut, dimana sebagian dari ayat yang tersurat: wa huwa (dan dia) diajak pada Islam, telah digunakan oleh Ahmadiyah sebagai landasan untuk menguatkan hak milik Mirza Ghulam akan nama Ahmadnya itu, maka untuk mengetahui yang sebenarnya dari Firman Allah tersebut, haruslah diketahui keseluruhan ayat-ayatnya. Dan tidak boleh melepaskan kaitannya yang erat dengan ayat-ayat yang sebelumnya. Pada bagian akhir dari ayat 6 surah Ash-Shaf. tersebut:
 

"Maka tatkala Rasul datang pada mereka dengan membawa keterangan atau bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:  Ini adalah sihir yang terang." dilanjutkan kemudian dengan ayat 7 dari surah yang sama, tersebut:

"Dan siapakah yang terlebih aniaya daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, pada saat mana ia diajak pada Islam? Sungguh Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang aniaya."
 

Maka jelas sekali di situ bahwa huwa (ia) adalah orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah pada saat ia diajak oleh Nabi Muhammad s.a.w. kepada Islam. Dan bukan seperti yang diulas Ahmadiyah, bahwa huwa {ia) adalah Ahmad Mirza Ghulam yang diajak pada Islam oleh orang-orang Islam yang menuduhnya kafir. Ini hanya silatan lidah dan sulapan mata yang dibuat oleh mufassir-mufassir Ahmadiyah.

Contoh yang mirip daripada ayat 7 Ash-Shaf tersebut ialah pada surah Az­Zumar ayat 32, yang tersebut:

"Maka siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran   ketika sampai padanya? Bukankah dalam neraka tempat   tinggal orang-orang kafir?"

Ayat, ketika sampai padanya ialah, ketika sampai kebenaran yang dibawa Muhammad s.a.w. pada ia (huwa), maka ia mendustakan ayat-ayat Allah itu. Demikianlah tafsir maupun makna yang benar.

Alasan yang kedua yang dipakai Ahmadiyah bagi landasan pegangan Mirza untuk memiliki nama Ahmad ialah ayat: yuriduna li yuthfi'u nurullahi bi afwahihim. Ahmadiyah mengatakan, bahwa seluruh ummat manusia di dunia sekarang ini ingin benar memadamkan cahaya Allah dengan mulutnya, sedang pada zaman Nabi Muhammad s.a.w. yang memusuhi Agama Allah (Islam) menghunus pedang. Akhir zaman ini yang melawan dan menghantam Islam tidak dengan pedang lagi, melainkan dengan propaganda. Dan ingatlah bahwa lidah lebih tajam dari pedang. Demikian ulasan Ahmadiyah dari ayat tersebut di atas.

Inilah bukti kerabunan mata dan kejumutan pikiran mufassir Ah­madiyah. Mereka terang-terangan menutupi peristiwa-peristiwa sejarah Nabi, ataupun mereka sedang bersilat lidah dan membodohi um­mat   manusia dengan ocehan-ocehan tafsirnya itu. Apakah benar pada akhir zaman ini yang melawan dan menghantam Islam tidak dengan pedang lagi?! Apakah benar pada zaman Nabi Muhammad s.a.w.  yang memusuhi Agama Allah tidak dengan mulut pula?!

Pertanyaan yang pertama akan dijawab kelak, tetapi yang kedua, karena berhubungan dengan obrolan Ahmadiyah tentang nama Ahmadnya Mirza Ghulam, akan dijawab; menurut dasar-dasar dari Al-Qur'anul Karim.

Ayat 78 surah Ali-Imran:

"Di antara mereka itu ada satu golongan yang memutar-balikkan lidahnya dengan membaca kitab, supaya    kamu kira bahwa ia daripada kitab, padahal bukanlah ia daripada kitab, dan mereka berkata: ia daripada sisi  Allah. Padahal bukan ia dari sisi Allah dan mereka itu mengadakan dusta atas Allah sedang mereka mengetahui."

Ayat 33 surah Al-An'aam:

"Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa engkau {ya Muhammad) berduka­cita oleh karena perkataan mereka itu, sesungguhnya mereka itu tiada mendustakan engkau, tetapi orang yang aniaya itu menyangkal ayat-ayat Allah."

Surah Al-A'raf ayat 177:

"Amat jahatlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan   ayat-ayat Kami dan orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri."
Surah At-Taubah ayat 65:

"Jika engkau bertanya pada mereka, niscaya mereka menjawab: sesungguhnya kami bercakap-cakap dan bermain-main. Katakanlah! Patutkah kamu memerolok-olokkan Allah dan ayat-ayatNya serta RasulNya?" Bagian akhir dari ayat 2 surah Yunus:

"Orang-orang kafir berkata: Sesungguhnya ini (Muhammad) ahli sihir yang nyata."

Surah Yunus ayat 65:

"Janganlah engkau berduka cita karena mendengarkan perkataan mereka. Sesungguhnya kekuatan itu bagi Allah semuanya. Dia mendengar lagi mengetahui."

Surah Al-Anfal ayat 31:

"Apabila dibacakan ayat-ayat Kami kepada mereka lalu     mereka berkata: Sesungguhnya telah kami dengar jika kami kehendaki niscaya dapat pula kami mengatakan seperti ini. Ini lain tidak melainkan dongeng-dongen orang-orang dahulu kala."

Surat Al-Anbiya' ayat 5:

"Bahkan mereka berkata: (Qur'an ini) mimpi yang kacau balau. Bahkan dia mengada-adakannya, bahkan dia seorang ahli syair. Sebab itu hendaklah dia mendatangkan satu ayat (mu'jizat) buat kami, seperti telah diutus orang­orang dahulu."

Surat. Ash-Shaffaat, ayat 14/15:

"Apabila mereka melihat ayat (tanda kekuasaan Allah) mereka memperolok-olokkannya. Mereka berkata: ini lain tidak hanya sihir yang nyata."

Surat Shaad ayat 4:

"Mereka takjub karena datang pada mereka pemberi kabar takut di antara mereka, dan berkata orang-orang kafir: Orang ini tukang sihir lagi pendusta."
Surat Az-Zukhruf ayat 7:

"Dan tiadalah datang Nabi kepada mereka melainkan mereka perolok­olokkan."
 

Demikianlah, masih banyak lagi ayat-ayat Tuhan yang mengeten­gahkan cara-cara kaum musyrikin hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulutnya. Sesungguhnya omongan mereka itu keji hina, nista, jahat dan fitnah­fitnah mereka lebih biadab daripada pembunuhan .

Maka para mufassir Ahmadiyah pada kenyataannya buta atau sengaja hendak mengelabui ummat dengan mulut mereka. Jelas bahwa orang Ahmadiyah mengingkari ayat-ayat Al-Qur'an dan mengingkari sejarah Nabi s.a.w.

Lebih daripada itu, Ahmadiyah mengingkari sejarah perjuangan kaum muslimin pada akhir zaman, dengan kata-kata mereka: bahwa yang melawan dan menghantam Islam akhir zaman ini, tidak lagi dengan pedang!

Alasan ketiga yang dipakai oleh Ahmadiyah untuk mengukuhkan Mirza Ghulam sebagai pemilik satu-satunya atas nama Ahmad dari surat. Ash-Shaf itu, ialah ayat: Huwalladzi arsala rasulahu bilhuda wa dinil haqqi li yuzhhirohu ala dini kullihi. Ahmadiyah mengartikan ayat tersebut ialah bahwa Dia Tuhan itulah yang mengirim Rasul-Nya dengan petunjuk, agar dapat ia (AHMAD) memenangkan agama Allah atas segala agama-agama.

Dengan kata lain, Ahmadiyah meyakinkan kita bahwa Mirza Ghulam (Ahmad)lah pendiri Ahmadiyah itu, yang akan memenangkan Islam di­atas segala Agama. Apakah benar demikian? Jika alasan-alasan yang sebelumnya, Ahmadiyah telah menyalah-gunakan ayat-ayat AJ-Qur'an, maka alasan yang terakhir ini tentu saja dibuat sedemikian pula liwat ocehan­ocehan mereka yang akan membuat kaum Muslimin terkecoh. Kelak ocehan­ocehan mereka itu akan terlihat bentuknya.

 

12 lih. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Riwayat hidup Hazrat Ahmad  a.s. hal 2. ^

13 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Al-Khutbatul-Islamiyah, Rabwah  wikalah at-tab-syiir li- tharik uj-jadid, 1388 h., hal. 86:  (wa-an Allaha sammahu Ahmad bima yahmadu bihir Rabbul Jalil  fil-ardhi kama yahmadu fis-sama') ^

14 lih. suara ANSHARULLAH, majallah bulanan Ahmadiyah, no. 3 & 4, Djuni/Djuli th.1955, P.P. Ansharullah-Pusat Indonesia Djogjakarta, hal. 18. ^

15 lih idem Suara Ansharullah, hal. 18. ^

16 lih. Suara Lajnah Imaillah, majallah kaum ibu Ahmadiyah no. 10. th. 11. 1974, B.P L 1. (Badan Penghubung Lajnah Imaillah Indonesia), Yogjakarta, hal. 27. ^
17 lih. suara Ansharullah, hal. 18/19 (note: aslinya ditulis dalam ejaan lama, di sini terlanjur dengan ejaan baru). ^