Chapter 3.3 - 3.4
Ahmadiyah Sebagai Sincretisme


 

3.3    Ahmad Terakhir
 

Berbicara tentang nama AHMAD dalam surat Ash-Shaf ayat 6, dimana tersirat di dalamnya ucapan Nabi Isa a.s. yang menyampaikan kabar gembira (mubasysyiran) tentang datangnya seorang Nabi di kemudianku (mim ba'di ismuhu) yang bernama AHMAD, tidak lain yang dituju dari ucapan beliau a.s. itu, adalah Nabi Muhammad s.a.w.

Ucapan Nabi Isa a.s. dengan kata-kata "di kemudianku" itu, tidak akan meloncati seorang Nabi yang benar-benar datang tepat sesudah dirinya. Lebih-lebih lagi, dan inilah yang harus menjadi perhatian, bahwa Al-Qur'an adalah Kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Dengan demikian beliaulah orang pertama yang mengetahui akan makna tujuan serta seluruh yang tersirat dalam ayat-ayat Allah. Dengan kata lain, Nabi Muhammad Pesuruh Allah yang menyampaikan kabar gembira dan kabar takut (basyiiran wa nadziiran) pada ummat manusia, tidak akan menyembunyikan sesuatu kabar dari Allah seperti yang tersurat dalam Al-Qur'an surah Ash-Shaf ayat 6 itu.

Jika itu memang ditujukan pada seorang AHMAD dari INDIA dari desa QADIAN, maka Nabi Muhammad s.a.w. pasti mensabdakannya. Juga para sahabat Nabi, para Tabiiin maupun yang sesudahnya akan menyebut "milik siapa Ahmad" pada surah Ash-Shaf itu. Padahal Nabi tidak menyabdakan, tidak juga para sahabat maupun Tabi'in.

Jelaslah kiranya bahwa cara-cara yang dipakai Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya, mencapai konklusi yang terang di sini, bahwa aliran Qadiani dan pendirinya itu telah melakukan penghinaan yang terang-terangan terhadap Nabi Muhammad s.a.w.

Mereka sebenarnya telah menyepelekan tugas suci yang dipikul Nabi Muhammad, menerima kebenaran, menyampaikan serta menegakkan kebenaran itu. Tingkah laku maupun cara-cara yang demikian itulah yang paling disebar-sebarkan Ahmadiyah dalam kitab-kitab mereka.

Yang haq atas nama AHMAD dalam surat Ash-Shaf ayat 6 itu, ialah seorang yang menerima wahyu itu sendiri, AHMAD MUHAMMAD s.a.w. Ribuan tahun sebelum beliau s.a.w. memangku jabatan Rasul dan Nabi yaitu tatkala Nabi Musa a.s diutus oleh Allah untuk bani Israil, tersebut dalam sebuah do'anya; beliau a.s. memohon:

"Ya Allah jadikanlah hamba sebagai pengikut AHMAD."18
 

Kemudian sahabat Salman Al-Farisi tatkala berada di Baitul Maqdis, beliau mendengar dari seorang rahib, yang berkata padanya:

"Wahai Salman, sesungguhnya Tuhan sedang mengutus seorang Rasul bernama AHMAD. Ia mau makan dari pemberian hadiah, akan tetapi ia menolak atas pemberian sedekah. Di antara pundaknya terdapat tanda dari khataman Nubuwah. Ketahuilah wahai Salman, bahwa saat-saat sekarang inilah kedatangannya."19
 

Dan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik, Dharimi, Tirmidzi, An-Nasa'i, Bukhari dan Muslim, dari Jabir ibn Muth'am, beliau s.a.w. bersabda:

"Padaku ada beberapa nama-nama, Aku bernama Muhammad, aku bernama AHMAD, Al-Mahi (yang menghapuskan) kekafiran, Al-Hasyir (yang mengumpulkan) ummat dibawah naunganku, dan Al-Aghib (yang penghabisan) dimana tidak   ada Nabi sesudahku."
 

Demikianlah tentang nama Ahmad dalam surah Ash-Shaf ayat 6. Adapun yang dipakai alasan oleh Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyahnya, baik Hadits maupun Al-Qur'an, hanyalah suatu penipuan belaka. Tidak sepotong ayatpun dalam Al-Qur'an yang menyebut-nyebut nama Mirza Ghulam. Juga tidak sehuah Hadits. Jika memang ada, maka Mirza Ghulam dan Ahmadiyahlah yang mengada-adakan. Bahkan andaikata ada sebuah nama Ahmad kiriman Tuhan yang ditujukan pada Mirza Ghulam, maka itu adalah kiriman yang datang dari Tuhannya Mirza. Sebab ia rupa-rupanya memiliki Tuhan yang khas yang hanya menjadi miliknya. Kelak akan dijumpai dalam beberapa kitab-kitab Ahmadiyah, Tuhan khas milik Mirza Ghulam itu.
 

3.4   Setumpuk Asal-Usul
 

What is in a name? Untuk apa Mirza maupun Ahmadiyahnya memberi embel­embel, komentar terhadap namanya dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits? Andaikata Mirza Ghulam tidak berbuat itu semua, maka segala kepalsuannya tidak secepat itu ditemukan. Tapi apa boleh buat, mungkin dikiranya alasan­alasan itu yang mendukung sepenuhnya, bahkan yang bisa diterima kaum Muslimin di luar alirannya. Padahal justru alasan-alasan itulah yang membuka kedok kepalsuannya. Demikian juga pada hal-hal lain yang digunakan selalu dijumpai sikap-sikap yang ceroboh dan Ahmadiyah dan pendirinya, menggelikan.

Beralih dari nama-namanya pada keturunannya kembali, maka yang inipun tidak kurang hebatnya. Sebagaimana diketahui bahwa dari pihak ayah dan kakek-kakeknya, Mirza Ghulam merangkap dua keturunan, yaitu keturunan Moghol dan keturunan Parsi.

Akan tetapi yang lebih menarik dari hal keturunan Mirza ini, ialah dari pihak ibunya maupun nenek-neneknya. Meskipun Mirza Ghulam jarang bahkan hampir tidak pernah menyebut-nyebut nama ibunya maupun nama nenek-neneknya apalagi membanggakannya, namun demikian ternyata mereka memegang posisi yang menentukan di dalam karier Mirza Ghulam. Justru keturunan mereka itulah yang lebih mantap bagi Mirza Ghulam untuk meletakkan dirinya pada kedudukan yang paling menarik dan jempolan .

Ternyata keturunan Mirza dari pihak ibunya lebih baik, bahkan lebih istimewa dibanding dengan keturunan dari pihak ayahnya. Mula-mula Mirza Ghulam membantah dengan tegas bahwa ia dari kaum Turki.20

Tidak dimengerti mengapa Mirza sampai membantah dirinya sebagai kaum Turki. Mungkin ada kaitannya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Turki, pada waktu ia hidup. Akhir-akhir dari abad ke 19 masehi sekitar tahun-tahun 1881 sampai dengan tahun 1900-an, Sultan Abdul Hamid Turki yang berkedudukan sebagai Khalifah Islam bersama-sama Sayid Jamaluddin Al-Afghani, seorang agitator yang paling ditakuti oleh kekuasaan kolonial Barat, terutama Inggris, telah mendirikan organisasi Pan Islamisme. Suatu gerakan propaganda gencar anti Barat yang militant, effeknya yang mendalam dan kuat memaksa kolonial Barat memperhitungkannya    dengan sungguh-sungguh. Kota Konstantinopel menjadi pusatnya semua orang fanatik dan agitator anti Barat seperti Jamaluddin.21 Seorang pemimpin Islam India berseru kepada kekuasaan Brittania:

"Saya berseru kepada pemerintahan Brittania yang sekarang supaya mengubah politik permusuhannya dengan Turki, untuk menjaga supaya gunung kemarahan jutaan rakyat Islam jangan meletus, yang akan membawa kebinasaan dahsyat."22
 

Demikian hebatnya Pan Islamisme menentang dunia Barat terutama kolonial­isme Inggris. Sebaliknya, Inggris telah menancapkan cengkeramannya dalam­dalam terhadap kaum Muslimin India. Adanya kontradiksi yang hebat itu, maka tidak mustahil atau bisa diduga-duga jika orang-orang seperti Mirza Ghulam Ahmad cepat-cepat mencari posisi yang enak di tengah-tengah arena politik kaum Muslimin India yang hangat. Dan yang paling enak atau paling mudah untuk bersih diri, ialah membantah dirinya dari kaum Turki.

Kalau tidak henar perkiraan di atas atau sama sekali tidak beralasan maka setidak-tidaknya Mirza Ghulam Ahmad maupun Ahmadiyahnya sanggup membuat suatu catatan kecil, yaitu memberi penjelasan, mengapa sampai-sampai Mirza Ghulam menolak diri sebagai kaum Turki; dan mengapa kata-kata "Turki" itu sempat disisipkan diantara berita wahyu yang ia terima dari Tuhannya.
 

Kembali pada keturunan dari pihak ibunya, Mirza Ghulam Ahmad ternyata mempunyai keistimewaan yang tidak tanggung-tanggung. Dengan bangga ia berkata:

"Ketahuilah, bahwasanya Al-Masih Al-Mau'ud itu datangnya dari golongan QUREIS, sebagalmana Isa datangnya dari Bani Israel."23
 

Al-Masih Al-Mau'ud yang dimaksud ialah Pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam. Ia memperoleh gelar itu, dan banyak lagi gelar-gelar yang ia peroleh dari Tuhannya. Lebih meyakinkan lagi tentang keturunan Qureisnya, Mirza Ghulam Ahmad berkata yakin:

"Adalah suatu keharusan bahwa Khalifah ini dari keturunan Qureis."24

Gelar khalifah inipun termasuk milik Mirza Ghulam Ahmad. Satu per­satu dari gelar-gelarnya akan dikenal nanti. Demikianlah pendakian telah sampai ke puncaknya. Keturunan QUREIS pada diri Mirza Ghulam Ahmad merupakan target terpenting dari planningnya.
Sambil bertepuk dada ia berkata: "Ketahuilah siapa aku ini! Jika kamu abaikan maka akan kau hadapi kerugian-kerugian dalam hidupmu." Qureis mungkin masih agak luas ruang lingkupnya, karena ia masih terdiri dari keluarga-keluarga besar. Maka tidak salah lagi jika Mirza Ghulam Ahmad maupun Ahmadiyahnya memilih satu keluarga saja di dalam satu rumah yang paling mulia dan dimuliakan manusia. Dengan perasaan bangga ia berkata:

"Sesungguhnya akulah Al-Mahdi itu, juga Al-Masih Mau'ud, dimana kedudukannya sudah jelas bahwa untuk jabatan kedua pangkat ini harus dipegang oleh seorang dari Bani Fatimah."25
 

Apa sebab Mirza memilih Bani Fatimah unluk melengkapi dirinya? Tidak lain, karena ia akan mengambil alih sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut:

"Dari Ummu Salamah r.a. aku telah mendengar Rasul Allah bersabda: Mahdi itu dari anak cucuku, dari anak Fatimah."
 

Maka Mirza Ghulam Ahmadlah yang menyatakan diri sebagai anak dari anak-anak Fatimah r.a. Kemudian dengan lantang sekali lagi ia berkata:
"Daripada kakek-kakekku, aku ini keturunan Parsi, sedang daripada nenek­nenekku aku ini keturunan
Fatimah. Maka bergabunglah pada diriku dua kemuliaan."
26
 

Jika dua kemuliaan saja, itu masih kurang. Harus ditambah lagi kemuliaan yang di atas segala-galanya. Last but not least inilah kemuliaan­kemuliaan itu. Mirza berkata:

"Daripada Tuhanku, telah turun wahyu padaku, bahwa dari pihak nenek-nenekku, aku ini keturunan Fatimah ahli baitin nubuwah. Demi Allah, telah bersatu pada diriku Nasl (keturunan) Nabi ISHAQ dan nasl (keturunan) Nabi ISMA'IL. "27
 

Bagaimana Mirza Ghulam Ahmad mengaku menjadi anak-cucu Nabi Ishaq a.s.? Apakah benar ia keturunan Nabi Ishaq? Mungkin ada yang tidak beres di sini, dan yang tahu persis bahwa Mirza tidak beres, adalah ia sendiri. Akan tetapi kalau Ahmadiyah mengatakan bahwa itu benar dan tidak ada yang perlu dibereskan, maka kita ucapkan hallo-hallo pada Mirza. Dengan nasl Ishaqnya itu, maka orang boleh berkata pasti, bahwa Mirza Ghulam Ahmad juga dari keturunan YAHUDI! Nah bergembiralah ya Mirza Israeli.

Demikianlah keturunan-keturunan istimewa milik pendiri Ahmadiyah. Satu lagi keturunan yang tidak boleh diabaikan juga hak milik Mirza Ghulam Ahmad. Negeri dimana ia dilahirkan dan dibesarkan, INDIA, juga merupakan salah satu daripada keturunan-keturunan yang ia miliki.    Ahmadiyah menjelaskan bahwa dalam buku agama Hindu (yang mana?) ada tersebut bahwa Messiah yang dijanjikan itu adalah orang INDIA.28
 

Akhirnya, demikian Bashiruddin Mahmud Ahmad menutup cerita tentang identitas ayahnya, berkata:

"Maka sempurnalah sudah apa yang telah termaklum dalam kitab­kitab Ummat Parisi, Ummat Nasrani, Ummat Islam dan Ummat Hindu tentang datangnya Al-Masih yang ditunggu-tunggu zaman, yaitu MIRZA GHULAM AHMAI)."29
 

Itulah bunyi gong Bashiruddin; orang-orang Ahmadiyah boleh merasa bangga terhadap kedudukan maupun keturunan yang dimiliki pemimpin­nya. Andaikala semua keturunan-keturunannya disandangkan di belakang namanya, maka inilah dia: Mirza Ghulam Ahmad AL-MOGHOLI, AL-PARISI, AL-QUREISY, AL-FATIMI ahli Batin Nubuwah dan AL-ISRAELI dan lagi AL-HINDUSTANI. Sungguh suatu keistimewaan yang menggelikan.

18 lih. Abul-Qasim as-Suhaily, ar-Raudul Unuf, 1332/1914, Marokko Sultanul Maghrib, hal. 106: (Allahummaj 'alni min ummati Ahmad). ^

19 lih. dr. Abdul-Aziz Muhammad Azzam, Muhammad Rasul-ul A'zham, 1394/ 1974, majlis a'lalisy-syuun al-Islamiyah, Cairo, hal. 24. ^

20 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istiftaa', hal. 75: (wa lakinnal-lah auhi ila annahum kanu min bani faras la min al-aqwaam ut-turkiyah). ^

21 lih. L Stoddard, Dunia Baru Islam, terjemahan Panitya, Jakarta, 1966,ha1. 65. ^

22 lih. L Stoddard, Dunia Baru Islam, terjemahan Panitya, Jakarta, 1966,ha1. 66, 67. ^

23 lih. Mirza Chulam Ahmad, Al-Khutbat-ul-Ilhamiyah, hal. (ha'): (wa innahu ma ja'a min-al Qureisy kama inna Isa ma Ja'a min-bani Israel). ^

24 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Khutbat-ul-Ilhamiyah, hal. 13. (wa wajaba anla yakun hadzal Khalifah min-al-Qureisy). ^

25 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Khutbat-ul-Ilhamiyah,  hal. 46: (inni ana Al-mahdi alladzihuwa Al-masih muntadzir al-mau'ud, wama jaa fihi annahu min-bani Fatimah) ^

26 idem, idem, hal. 87: (wa ja'alahu min haisul aba'min abna Faras wa min haisul ummahaat min bani Fatimah liyajmau fihil jalaal waljamaal). ^

27 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-Istiftha', hal. 75: (wa ma'a dzalika akhbarani rabbi bian ba'da ummahati min banil Fatimah wa min-ahli baitin-nubuwwah; wallahu fihim nasl Ishaq wa Ismail min kamalil hikmah wal mushalahah). ^

28 lih. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Ahmadiyya Movement, Rabwah The Ahmadiyya Muslim Foreign Missions Office, 1962, hal. 47: (from the books of the Hindus it appeared that the promised Messiah was an Indian). ^

29 lih. Bashiruddin M.A., Ahmadiyya Movement, hal. 47: (in short, in him were fulfilled all the prophecies contained in the books of the Christians, the Parsees, the Hindus and Muslims), note: semua kitab tersebut di atas dalam jumlah lebih dari satu; setidak-tidaknya Ahmadiyyah dapat menyebut masing-masing dua? ^