Chapter 3.5 - 3.6
Ahmadiyah Sebagai Sincretisme


 

3.5   Kuning Langsat Bukan Kemerah-merahan
 

Sesudah kita ketahui sejumlah nama maupun keturunan-keturunan Mirza Ghulam Ahmad, maka adalah lebih sempurna lagi jika kita kenal lebih jauh identitas lahiriyahnya. Dalam hal ini perihal warna atau kelir kulit Mirza Ghulam Ahmad mustahaq untuk diketahui dan dibicarakan di sini. Sebabnya tidak lain ialah karena orang-orang Ahmadiyah merasa bangga akan kelir kulit pemimpinnya itu. Ahmadiyah menjelaskan bahwa dalam beberapa Hadits diterangkan:

"Kelir kulit yang mulia Nabi Muhammad s.a.w. adalah PUTIH. Kulit yang mulia Nabi Isa a.s. adalah KEMERAH-MERAHAN. Kulit yang mulia Nabi AHMAD a.s.  (Al-Masih, II) adalah KUNING LANGSAT. "30

Yang dimaksud dengan yang mulia Nabi Ahmad a.s., tidak lain ialah Mirza Ghulam Ahmad. Dikemukakan oleh Ahmadiyah bahwa ada beberapa Hadils yang menerangkan tentang kelir kulit-kulit ke-tiga Nabi di atas itu. Manakah beberapa Hadits itu? Cukup kiranya sebuah saja dikemukakan di sini, maka     Ahmadiyah        akan tertolong dirinya dari kecerobohan­kecerobohannya.

Lebih lanjut Ahmadiyah menambahkan bahwa kalau Nabi Isa a.s. itu kulitnya kemerah-merahan sedangkan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. itu kulitnya kuning langsat, itu merupakan satu bukti yang menggelora, bahwa Al-Masih yang datang kedua kalinya itu bukanlah Almasih putera Maryam r.a. yang dulu itu. Sebab seandainya Nabi Isa a.s. yang dulu itu datang keduakalinya di dunia ini selaku Al-Masih II, pastilah Almasih II itu kulitnyapun kemerah-merahan, bukan kuning langsat.31
 

Demikianlah salah satu alasan dari seribu satu macam alasan yang dipakai Ahmadiyah untuk memahkotai Mirza Ghulam dengan gelar Al-Masih kedua. Berbicara tentang warna kulit manusia di atas dunia ini, maka warna "kuning langsat" itulah yang lebih menarik bagi orang-orang Asia khususnya. Memang demikian, justru itulah kulit yang dimiliki Mirza Ghulam Ahmad, benar-benar menggelora! Seorang cucunya berkata tentang kakeknya itu:

"Bahwasanya Mirza Ghulam Ahmad termasuk dalam golongan yang paling elok. "32
 

Begitu eloknya dia, wahai siapa pula yang lidak jatuh hati padanya?!


3.6   Lampu Aladin Di Tangan Mirza
 

Sudah tentu yang jatuh hati padanya adalah puteranya Bashiruddin, cucu­cucunya dan orang-orang yang buta hati dan buta pikiran. Kepalsuan yang be­gitu kentara ternyata dapat disulap-sulap menjadi elok dan bergelora berkat propaganda-propaganda obralan dan pakaian-pakaian kebesaran yang menyolok.

Keistimewaan Mirza Ghulam Ahmad yang explosiv itu bukan hanya terda­pat pada nama-nama keturunan-keturunan maupun kelir kulitnya, bahkan jauh daripada itu, lebih banyak dan lebih istimewa lagi terdapat pada pangkat­pangkat gelar-gelar maupun jabatan-jabatan yang menjadi miliknya.

Bukan kepalang-tanggung hebatnya, tidak seorang Nabi maupun seorang Rasul sebelumnya yang memperoleh kedudukan begitu tinggi, mulia, seperti yang pernah diperoleh Mirza Ghulam Ahmad. Bahkan lebih tinggi, lebih mulia dari Yesus Kristus yang dianak-Tuhankan oleh kaum Kristen. Letak kehebatannya ialah bahwa semua milik Mirza Ghulam Ahmad diperoleh langsung dari Tuhannya. Maka marilah berkenalan dengan orang Qadian yang superior ini. Mirza Ghulam Ahmad mendapat julukan Pelindang "telur" Islam.33 Tidak dijelaskan mengapa Islam dikiaskan dengan telur itu. Setidak­tidaknya telur gampang sekali retak atau pecah. Alangkah lemahnya kondisi Islam sehingga dikiaskan sebagai telur belaka dan Mirza Ghulam Ahmad adalah orangnya, pelindung dari keretakan dan pecah itu, ataukah ia yang mengerami dan sekaligus yang menetaskan telur itu?!

Beralih pada gelar-gelarnya yang lain, Mirza Ghulam dikatakan sebagai penjaga kebun Allah.34 Mungkin yang dimaksud kebun di situ adalah Islam atau sorga? Pendek kata demikian pendapat Ahmadiyah, pribadi Mirza Ghulam Ahmad itu patut dihormati sebab ia berkhasiat sebagai "kibriti ahmar. "35 Oleh wujudnya itu maka nampaklah kehidupan agama Islam.

Selanjutnya Mirza Ghulam Ahmad adalah mujaddid akbar,36 kepala dari semua pembaharu yang dikirim ke dunia untuk memperbaharui Islam yang di dalam akidah-akidahnya telah terdapat banyak kontradiksi-kontradiksi. Bahkan lebih dari pada mujaddid akbar, Mirza Ghulam turunnya ke dunia ini sebagai "Fadhlan kabiran" bagi ummat manusia.37 Kemudian masih juga perihal turunnya Mirza Ghulam ke dunia, Ahmadiyah berkata:

"Pada hakikatnya ketika Imam Zaman turun ke bumi maka besertanya turun ribuan cahaya demi cahaya, dan di persada langit terjadi suatu suasana kemeriahan, dan    terjadilah suatu penyebaran rohaniyat dan nuraniyat yang menggugahkan orang-orang berbakat suci. Pendeknya barangsiapa yang mempunyai bakat untuk menerima ilham semenjak itulah ia mulai menerima ilham."38

Dan siapakah Imam Zaman itu? Maka pada saat ini, kata Mirza Ghulam Ahmad, 'aku berkata tanpa merasa takut dan gentar sedikitpun, dengan kerunia dan anugerah Allah Ta'ala menyatakan: "Imam Zaman itu adalah aku sendiri."'39 Bagaimana Hadits mengenai Imam Zaman itu? Ahmadiyah berkata telah mengutip sebuah Hadits, akan tetapi sayang tidak menyebut tentang isi maupun perawi-perawinya; Dikatakan dalam Hadits itu bahwa, "barangsiapa yang kembali ke hadirat Allah dalam keadaan tidak menahu atau tidak mengenal tentang Iman Zamannya, ia akan datang dengan mata buta dan matinya berada dalam keadaan jahiliyah"!40
 

Demikian vonnis Ahmadiyah terhadap Muslimin maupun yang bukan Muslim, yang berada di luar aliran Mirza Ghulam Ahmad; kalau tidak mau tahu atau tidak mau kenal Imam Zaman itu, maka ia mati jahiliah!

Ingin tahu bagaimana akhlak Imam Zaman Mirza Ghulam Ahmad itu? Ahmadiyah dengan lantang berkata:

"Pada diri Imam Zaman Mirza Ghulam Ahmad telah cocok sepenuhnya kandungan ayat: Innaka la-'ala khuluqin 'azhim. "41


Innaka la 'ala khuluqin azhim, Al-Qur'anul
Karim ayat 4 suratul-Qalam, yang disampaikan Allah s.w.t. kepada  Nabi Muhammad s.a.w. sebagai insan kamil yang dihiasi ahlak mulia, dengan enaknya diambil alih begitu saja oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai kualitet dari akhlaknya sendiri. Ia merasa telah memiliki segala-galanya. Di tangannya ada lampu aladin, tinggal ia menggosok maka segala keinginannya terkabul!
 

Perhatikanlah kini sebaris pantun yang ditujukan pada Mirza Ghulam Ahmad, dibuat oleh pengikut-pengikutnya yang setia:
 

"Wujudnya meliputi segala-gala.

Sedang engkau hanya sebagian

Kau akan binasa jika melarikan diri dari padanya. "42
 

Pantun diatas bukan saja satu peringatan keras bagi mereka yang melarikan diri dari lingkungan rumah Mirza Ghulam Ahmad tatkala wabah pes melanda Punjab termasuk Qadian, melainkan juga satu peringatan keras buat setiap orang yang tidak masuk Ahmadiyah, bahwa mereka akan binasa, yakni mati kafir jahiliyah! Kemudian ia, Mirza Ghulam Ahmad, dikenal sebagai khatamal aulia', yakni wali yang paling sempurna.43

Disamping kata khatam yang diartikan sempurna itu, ternyata Ah­madiyah memberi arti lain juga yakni: akhir. Sebab Mirza Ghulam Ahmad mengambil lagi kedudukan yang lebih meyakinkan dengan berkata: Aku adalah Wali yang terakhir sebab tidak ada wali sesudahku. Yang dimaksud tidak ada wali sesudahku ialah wali-wali yang berada di luar lingkungan Ahmadiyah.44
Mereka bukan wali dan tidak bisa jadi wali, kecuali kalau mereka mau masuk menjadi pengikut-pengikut Mirza Ghulam Ahmad.

Langkah-langkah berikut yang ditempuh Mirza Ghulam Ahmad adalah langkah-langkah yang paling berani, dalam arti kata ceroboh, dari seorang Qadian yang mengaku dirinya Muslim.

Sesudah dikenal sebagai khatamal aulia' Mirza Ghulam dikenal juga sebagai Muhaddats yakni orang yang diajak bercakap-cakap oleh Allah.45 Bahkan Ahmadiyah mengatakan dari tingginya derajat Mirza Ghulam Ahmad, sampai-sampai Allah Taala dengan sangat terbukanya bercakap-cakap dengan beliau.46 Seringkali terjadi soal jawab dan waktu itu ditanya, waktu itu juga datang jawaban.47
 

Last but not least, Ahmadiyah berkata:

"Dan DIA {ALLAH) membuka tabir dari sebagian wajahNya yang bercahaya dan mengkilap itu. Bukan itu saja, bahkan seringkali demikian rupa seolah-olah Allah Ta'ala tengah bergurau dengan beliau. "48
 

Explosive bukan! belum lagi, Mirza Ghulam belum meledakkan seluruh ambisinya. Bagaimana hendak diartikan oleh Ahmadiyah kata-kata: seolah­olah Allah Ta'ala tengah bergurau dengan beliau?!

Lebih dari itu, mungkin dikarenakan Mirza Ghulam sudah melihat dari sebagian wajahNya yang bercahaya dan mengkilap itu maka wajah Mirza kena kecipratan cahaya mengkilapnya Tuhan. Salah seorang cucunya yang bernama: Mirza Mubarak Ahmad tokoh pimpinan dalam instansi tahrikjadid yang mengemudikan missi-missi Ahmadiyah di luar Pakistan dan India, menyanjung kakeknya Mirza Ghulam Ahmad dengan kalimat-kalimat yang amat mengesankan:

"Ketika hari raya Adha tiba, demikian Mubarak Ahmad bercerita, setelah beliau (Mirza Ghulam) duduk di kursi dan mulai berpidato, nampak seakan-akan beliau berada di alam lain. Mata beliau hampir-hampir tertutup dan wajah suci beliau begitu bercahaya nampaknya seakan-akan Nur Ilahy itu menyelimutinya dalam keadaan luar-biasa bercahaya dan terang. Pada saat itu wajah beliau sukur dipandang dan dari kening beliau cahaya demikian memancar-mancar, sehingga, menyilaukan tiap orang yang memandangnya."49
 

Selanjutnya sang cucu meneruskan puja-pujinya terhadap kakeknya dengan mengatakan bahwa beliau (Mirza Ghulam) adalah Satu nur yang dizhahirkan ke dunia untuk menyinari ummat manusia.50 Beliau adalah juga Bulan Purnama yang sempurna.51

Dengan gelar satu Nur dan Bulan Purnama yang sempurna itu, maka sebenarnya Mirza Ghulam Ahmad boleh dipastikan, bahwa pada wajahnya terdapat satu cahaya yang sedap dipandang. Akan tetapi kalau mengingat kata-kata Mubarak Ahmad bahwa Mirza pada keningnya ada cahaya demikian memancar-mancar sehingga menyilaukan setiap orang yang memandangnya, maka apakah gerangan kiranya cahaya yang melekat di dahi Mirza Ghulam itu?! Kalau tidak sinar cahaya sang surya, mungkinkah ia cahaya mercusuar, yang langsung menyorot mata-mata para pengikutnya dari jarak yang tidak jauh, katakanlah tiga mil laut?!
 

30 lih. Suara lajnah Imaillah, no. 10 th. 11, 1974, hal. 33. ^

31 idem, hal. 33. ^

32 lih Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau'ud a.s., Yayasan Wisma Damai, Bandung 1971, hal. 7 ^

33 lih. Mirza Ghulam Ahmad, perlunya seorang Imam Zaman, terjemah: R. Ahmad Anwar, 1996, P.P. Majlis Chuddamul Ahmadiyah Indonesia, Jakarta, hal. 17. ^

34 lih. idem hal. 17. ^
35 lih. idem hal. 17.
^

36 lih. Saleh A. Nahdi, Ahmadiyah selayang pandang, 1963, hal. 27 ^

37 lih. Saleh A. Nahdi, Soal-Jawab Ahmadiyah 1, Ujung  ^
38 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Imam zaman, hal. 10 ^
39 idem, hal. 32.
^

40 idem hal. 10 dan lih. majallah Ahmadiyah Sinar Islam-no.13, 1965, Bandung, Yayasan Wisma Damai, ha1.8 Khuddamul Ahmadiyah, Surabaya Pandang, RAPEN, 1972, hal. 23. ^

41 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Imam Zaman, hal. 15 ^

42 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Perlunya Imam Zaman, hal. 18. ^
43 lih. Mirza Ghulam Ahmad, al-khutbat-ul-ilhamiyah, hal. 9.
^

44 lih. Mirza Ghulam Ahmad, idem, hal. 10: (wa ana khatam-al auliya' Ia wali ba'di illal lazhi huwa minni wa ala ahdi.) ^

45 lih. Mirza Ghulam Ahmad, Ajaranku, alih bahasa R. Ahmad Anwar, Bandung Yayasan Wisma Damai, 1966, hal. 43. ^

46 lih. Mirza Ghulam Ahmad, perlunya seorang Imam Zaman, hal. 20 ^

47 lih. Idem, hal. 20. ^
48 lih. Idem, hal. 20.
^

49 lih. Mirza Mubarak Ahmad, Masih Mau'ud a.s., hal. 83. ^
50 lih. idem hal. 87. ^

51 lih. idem hal. 5. ^