Chapter 4.4 - 4.5
Ahmadiyah Sebagai Crypto-Mohammadanisme
 

4.4    Watak Yahudi
 

Tingkah laku yang disukai oleh Mirza Ghulam Ahmad dan Ahmadiyah­nya   ialah mengubah makna maupun tujuan dari ayat-ayat Al-Qur'an dan   Hadits dengan selera serta kepentingan mereka. Seperti watak yang dimiliki kaum Yahudi, yaitu yuharriful alkalimah an-mawadi'ih, maka begitulah sikap dan kelakuan kaum Ahmadiyah ini.

Dalam suatu penjelasan atas sebuah hadits yang menerangkan tentang kesudahan Nabi pada Nabi Muhammad, Ahmadiyah menyatakan pendiriannya yang menarik. Lebih dahulu kita ketahui isi hadits tersebut, yaitu:

"Misal aku dengan Nabi-nabi yang sebelum aku seperti seorang laki-laki yang telah mendirikan sebuah gedung yang indah tetapi ketinggalan satu bata dan mereka bertanya mengapa tidak engkau pasang sebata yang ketinggalan itu. Akulah bata itu dan aku juga kesudahan Nabi-nabi."30
 

Apabila Hadits tersebut dipakai oleh ulama-ulama dengan mengkiaskan satu bata itu untuk menyatakan kenabian Muhammad sebagai Nabi terakhir, maka menurut Ahmadiyah, itu adalah satu penghinaan atas diri beliau. Adakah beliau hanya seperti batu bata saja bagi sebuah gedung yang indah bentuknya itu? Jika dimisalkan dengan tiang mungkin juga diterima, tapi jika Nabi s.a.w. cuma sekedar batu bata saja, sangat keterlaluan, padahal Nabi Muhammad s.a.w. lebih dari Nabi-nabi yang lain bahkan dari Malaikat-malaikat sekalipun.31

Akhirnya karena itu satu penghinaan pada Nabi Muhammad, maka Ahmadiyah mengajukan satu pembelaan juga. Adapun yang dimaksud dengan satu bata itu, kata Ahmadiyah, ialah syari'at atau Agama. Syari'at yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi yang dahulu merupakan satu gedung yang masih kurang (satu bata, bukan? pen.) maka dengan kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. sempurnalah gedung itu.32

Yang menarik dari penjelasan Ahmadiyah di atas ialah bahwa satu bata itu jika dimisalkan Nabi Muhammad adalah satu penghinaan. Yang benar, kata Ahmadiyah, bahwa satu bata itu adalah syari'at atau Agama, yakni Agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Coba bayangkan bahwa gedung yang indah itu diibaratkan syari'at-syari'at Nabi-nabi yang sebelum Nabi Muhammad. Kemudian karena masih ketinggalan satu bata yaitu masih ada satu lobang bata pada gedung yang indah itu. Maka syari'at Nabi Muhammadlah pengisi lobang sebata itu. Apakah ini bukan penghinaan juga?!

Ataukah ada pengertian lain dari Ahmadiyah, bahwa setiap batu-bata pada bangunan yang indah itu adalah syariat atau agama nabi-nabi sebelum nabi Muhammad. Hal ini perlu kiranya minta bantuan Ahmadiyah untuk menaksir berapa jumlah batu bata yang terdapat pada gedung yang indah itu? Jelasnya berapa puluh ribu syariat atau agama sebelum syariat/agama Islam datang? Apa yang dikatakan Ahmadiyah itu adalah nonsense, omong-kosong. Itu tidak lain satu penghinaan atas diri Nabi dan atas syariat yang dibawa beliau.

Selanjutnya Ahmadiyah mengatakan bahwa hadits tersebut adalah dha'if atau lemah dan para perawi dalam hadits itu tidak dapat dijadikan ukuran dan pegangan.33 Pada akhirnya Ahmadiyah mengatakan bahwa dalam hadits itu ada satu keganjilan yang perlu dipikirkan disini. Kalau hadits itu shahih dan Nabi kita s.a.w. sudah menyempurnakan gedung indah dengan penutup lobang yang tadinya terbuka dengan kedatangan beliau. Dalam gedung yang sudah demikian itu Nabi Isa a.s. akan menjadi sebagai apanya? Kita berdasarkan Qur'an dan Hadits masih menunggu kedatangan Nabi, dalam hadits dikatakan nabi Isa akan datang.34 Terakhir Ahmadiyah bertanya:

"Kalau kita ibaratkan Nabi Isa sebagai batu-bata pula dalam rangka susunan Nabi-nabi, maka dimana batu-bata ini akan ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada  lobangnya itu?"35

 

Sekali lagi ulasan Ahmadiyah di atas menarik untuk dibahas. Untuk menjawab pertanyaan: dimana batu-bata Nabi Isa akan ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada lobangnya itu? Ahmadiyah telah menjawab pertanyaan ini, akan tetapi dua jawaban, dari mereka satu sama lain sudah tidak sama. Yang pertama Ahmadiyah menjawab: "Hendaknya dikatakan, masih tinggal dua batu bata lagi yaitu batu-bata nabi Muhammad s.a.w. dan batu-bata nabi Isa a.s. yang akan turun di akhir zaman.36 Jawaban mereka yang pertama ini jelas mengandung satu penghinaan    pada nabi Muhammad. Beliau s.a.w. diibaratkan satu bata saja dan beliau disejajarkan dengan satu bata lainnya yakni batanya nabi Isa a.s. akhir zaman yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian pada jawaban yang kedua, Ahmadiyah berkata:
 

"Itulah sebabnya untuk menyempurnakan syariat-syariat para nabi terdahulu itu datanglah nabi Muhammad membawa syariat Al-Qur'an yang sempurna. Yang sempurna itu tak memerlukan lagi perubahan apapun dalam gedung indah itu. Tetapi untuk merawat, mengapur, membersihkan dan menjaga gedung itu diperlukan seorang petugas, dan untuk memelihara kebun dan halamannya diperlukan tukang kebun yang diberi tugas oleh Tuhan."37
 

Disini pada jawaban yang kedua, gedung indah itu sudah tidak ada lobangnya lagi sebab sudah terisi dengan Nabi Muhammad. Jadi yang ditanyakan oleh Ahmadiyah, dimana batu bata ini akan ditempatkan dalam gedung yang sudah tak ada lobangnya lagi? Telah dijawab sendiri oleh mereka, sedang Nabi Isa itu hanya tukang kapur, tukang sapu, tukang kebun dan tukang rawat atas gedung indah itu. Apa tidak kurang kalau hanya seorang tukang yang merangkap segala pekerjaan atas gedung yang indah itu? Salah-salah Tukang itu (Mirza Ghulam Ahmad) bisa kelabakan, letih dan sakit-sakitan, bukan begitu? Memang ternyata demikian keadaan si tukang Mirza Ghulam itu. Ia sakit-sakitan saja dan kelak kita akan mengetahui betapa hebatnya sakitnya dan betapa pula effeknya terhadap tugasnya itu.

Dengan jawaban yang pertama yaitu bahwa seharusnya ada dua batu-bata pada gedung indah itu, dan pada jawaban yang kedua, bahwa sudah tidak ada lobang untuk pengisian satu bata iagi, sehingga Nabi Isa (Mirza Ghulam) bukan lagi satu batu-bata melainkan hanya tukang kebun dan lain-lain itu, di sinilah Ahmadiyah berbeda jawab satu dengan yang lainnya.

Lebih menarik lagi kalau kita terus memperhatikan ulasan Ahmadiyah atas hadits tersebut di atas. Sebagaimana tersebut Ahmadiyah menyatakan bahwa hadits itu adalah dha'if dan dengan sendirinya tidak dapat dijadikan ukuran dan pegangan.38 Kalau sudah dinyatakan dha'if buat apa dipakai dan diperpanjang uraiannya bertele-tele?! Dha'if ya sudah, tidak perlu lagi. Akan tetapi rupa-rupanya tidak demikian yang diniatkan oleh Ahmadiyah. Sebab hadits itu masih dipakainya dan kemungkinan untuk terlaksananya satu pengisian batu-bata pada lobangnya masih diharapkan dan dipastikan ada.
 

Untuk ini lebih tepat kalau kita mendengar langsung ucapan yang disampaikan oleh Mirza Ghulam Ahmad sendiri. Ia berkata tentang hadits itu:

"Adalah golongan Nabi-nabi yang diibaratkan satu gedung itu kekurangan satu batu-bata, maka Allah akan cukupkan dan sempurnakan gedung itu dengan satu bata yang akhir. Maka akulah bata yang terakhir itu, hai orang yang melihat! "39
 

4.5   Mirza Pelepas Azab
 

Itulah yang diniatkan oleh Mirza Ghulam dan Ahmadiyahnya, bahwa hadits itu tidak dha'if dan bahwa satu bata itu memang ada, jadi bukan dua bata, dan bukan tukang kapur maupun tukang kebunnya gedung indah itu. Yang jelas bagi Ahmadiyah, bahwa semua Nabi-nabi itu ibarat batu-batu bata, termasuk Nabi Muhammad s.a.w. dan satu batu-bata yang kekurangan atas gedung itu diisi oleh Mirza Ghulam Ahmad, sebab dialah Nabi yang terakhir itu.

Selanjutnya Ahmadiyah masih mengutarakan dalil-dalilnya yang lain, dalam rangka menyongsong kedatangan nabi baru sesudah kenabian Muhammad s.a.w. Mereka lebih suka menggunakan ayat-ayat Qur'an dan sekaligus mengartikan sesuai dengan maksud-maksud mereka. Ayat 15 dari surah Bani Israiel, oleh Ahmadiyah diartikan:

"Tidaklah kami menurunkan adzab, melainkan kami kirimkan Rasul lebih dahulu. Ini untuk mencegah agar jangan sampai orang-orang nanti pada hari qiamat   menyoal: {surah Thoha ayat 134): Wahai Tuhan kami, kenapa Engkau tidak mengirimkan Rasul kepada kami lebih dahulu supaya kami dapat menurut ayat-ayat Engkau sebelum kami menderita kehinaan dan sengsara."

Kemudian ayat lain yang berbunyi, ayat 58 Bani Israil:

"Tidaklah satu dusunpun sebelum berdirinya kiamat, melainkan kami akan membinasakan atau mengadzabnya dengan sehebat-hebatnya."
 

Dari kedua ayat ini, demikian Ahmadiyah menegaskan, kita dapat mengam­bil kesimpulan bahwa kedatangan Rasul-rasul sebelum hari kiamat bukan mungkin saja, bahkan harus dan pasti.40 Lagi-lagi Ahmadiyah mengatakan

Rasul-rasul yang akan datang. Kedatangan Rasul-rasul itu justru untuk menyelamatkan kaum Muslimin dari kehancuran dan kesengsaraannya. Bila kehancuran itu terjadi? Ahmadiyah menjawab:

"Ummat Islam telah mengalami kehancuran dua kali. Kehancuran pertama tatkala penyerbuan raja Moghol, Hulagu Khan, pada tahun 1258 itu, dan kehancuran yang kedua tatkala berada di bawah penjajahan imperialisme Barat. "41
 

Karena dua kali kehancuran inilah maka Tuhan mengirim Rasul-rasulNya. Siapakah rasul yang dikirim Tuhan pada tahun 1258 itu dan siapa Rasul yang dikirim pada masa penindasan imperialisme Barat itu? Kaum Ahmadiyah tidak pernah menyebut-nyebut nama rasul yang diutus Tuhan pada tahun penyerbuan Hulagu Khan itu. Melainkan hanya satu rasul yang diutus pada masa penindasan imperialisme Barat, yakni Mirza Ghulam Ahmad. Ada kemungkinan Mirza rnerangkap sebagai rasul tahun 1258 itu juga. Sungguh menarik, bagaimana ia dapat menyelamatkan adzab sengsara kaum Muslimin pada tahun 1258 itu, padahal Mirza Ghulam Ahmad baru muncul ke dunia ini lima ratus tahun kemudian. Tentunya dari saat ke saat kaum Muslimin yang hidup antara 500 tahun itu akan mengajukan soal pada Tuhan: "Wahai Tuhan kami, kenapa Engkau tidak kirim rasul-Mu?" Justru pada waktu itulah saat yang paling tepat bila Tuhan mengutus rasul-Nya,dan tidak menunggu sampai Mirza Ghulam Ahmad lahir.

Kemudian pada kehancuran kaum Muslimin yang kedua kalinya, Tuhan telah mengirimkan: rasulNya, yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Yang penting untuk ditanyakan di sini, apakah gerangan kiranya yang dibuat Mirza Ghulam Ahmad untuk menyelamatkan kaum Musilmin dan penindasan imperialisme Barat?!

Berikut ini Ahmadiyah mengemukakan satu dalil dari Al­Qur'an. Diambil dari surah An-Nisa' ayat 69 yang berbunyi:

"Barangsiapa yang menurut perintah Allah dan RasulNya, nabi Muhammad s.a.w., mereka akan termasuk golongan orang­orang yang diberi nikmat oleh Allah yaitu, nabi-nabi orang­orang siddiq, syahid, dan saleh."
 

Jelasnya mereka sebagai ummat selaras dengan keimanan kesetiaan dan keikhlasan mereka masing-masing dan taufik Ilahi menyertainya pula dapat menerima keempat kedudukan tersebut. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa ummat Islam sebagai ummat yang terbaik dan patuh serta setia kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Muhammad s.a.w. mereka akan diberi empat macam nikmat yaitu: menjadi nabi, menjadi siddiq, menjadi syahid dan menjadi orang saleh. "42

Ahmadiyah meneruskan lagi uraiannya tentang ayat An-Nisa' itu dengan mengatakan, dan jika perkataan minannabiyin (dari Nabi-nabi) dihubungkan dengan perkataan wa man yuthi'illaha warrusula (dan barangsiapa mengikut Allah dan rasul) maka adalah perkataan minan nabiyin itu tafsir (penjelasan) dari kalimat wa man yuthi'ilaha {barangsiapa yang mengikut Allah). Akhirnya Ahmadiyah berkata: "Maka dengan susunan seperti ini sudah pasti adanya nabi-nabi pada masa rasul atau kemudian beliau yang akan mengikut beliau. "43

Yang menarik buat kita bukan saja adanya nabi-nabi sesudah Nabi Muhammad melainkan kata-kata: ada nabi-nabi pada masa rasul. Untuk apa ditulis itu, apa Ahmadiyah buta pada sejarah atau membodoh-bodohi pengikut­pengikutnya. Lebih baik sebut saja: nabi-nabi di kemudian beliau. Inipun tidak terlepas juga dari blundernya, sebab nabi-nabi itu masih ditulisnya jua.

Lebih menarik lagi pada watak Ahmadiyah ialah mengubah arti dan tujuan dari ayat-ayat Al-Qur'an. Seperti dalam surah An-Nisa' tersebut di atas, pengertiannya, bukanlah dimaksud bahwa yang taat pada Allah dan RasulNya akan diberi nikmat menjadi nabi-nabi, siddiqin, syuhada, dan shalihin, melainkan bagi mereka yang taat akan diberi nikmat sebagaimana nikmat yang diterima oleh para nabi, siddiqin, syuhada' dan shalihin. Jika ada dari orang-orang itu muttaqin, shabirin, syakirin, mu'minin, maka Allah akan memberi nikmat sebagaimana yang diterima oleh Nabi-nabi siddiqin syuhada' dan shalihin. Bukankah yang diharap mereka itu ialah keridhaan Allah di dunia dan di akhirat? Jadi jelas bukan nikmat menjadi nabi-nabi. Memang benar sudah banyak ummat Muhammad s.a.w. yang siddiqin, syuhada dan shalihin, tapi tidak pernah ada yang nabiyin, bahkan tidak pernah ada yang nabi, sekalipun. Itu hanya satu kecerdikan Ahmadiyah dengan tujuan membuka jalan bagi masuknya Mirza Ghulam Ahmad menjadi nabi.
Dan inipun juga satu kecerdikan kaum Ahmadiyah yang lain. Diambilnya dari surah Al-Maidah ayat 21:
 

 "Dan ketika nabi Musa a.s. berkata pada kaumnya (Bani Israel) wahai kaumku, ingatlah kamu pada, nikmat Allah yang telah diberikannya kepadamu yaitu waktu ia mengangkat diantara kamu menjadi Nabi-nabi dan raja-raja."
 

Ayat ini tegas menjelaskan bahwa ummat Islam pasti akan menerima kedua macam nikmat tersebut. Nikmat yang kedua sudah sempurna yaitu sudah banyak sekali ummat Islam yang telah menjadi raja-raja dan nikmat yang kedua pasti sempurna pula. "44 Demikian Ahmadiyah.

Yang dimaksud nikmat pertama yang ditunggu-tunggu kaum Muslimin ialah nikmat menjadi nabi-nabi. Nikmat yang kedua menjadi raja-raja sudah banyak dan kalau nikmat itu sudah dirasakan ummat Muhammad, maka itu sudah berlawanan dengan kenyataannya. Justru raja-raja dalam Islam tidak ada dan syari'at Muhammad s.a.w. tidak mengenal kerajaan serta tidak mengajarnya. Raya-raja yang bangun di kalangan kaum muslimin adalah raja­raja yang banyak mendzalimi rakyatnya, dan hanya menikmati kemewahan harta dan perempuan. Apakah yang demikian satu kenikmatan dari Allah?! Ahmadiyah hanya omong-kosong. Apatah lagi datangnya nikmat inabi-nabi sesudah Nabi Muhammad.
 

30 lih: A. Nuruddin, arti hakiki dari ayat katamannabiyin, hal. 44  ^
31 idem. ^

32 idem. ^

33 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 54. ^
34 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 54.
^
35 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 55.
^

36 lih: A. Nuruddin , khataman nabiyin , hal. 45. ^

37 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 55. ^

38 lih: Saleh A. Nahdi, Soal Jawab Ahmadiyah I, hal. 54. ^

39 lih: Mirza Ghulam Ahmad, Khutbat-ul-Ilhamiyah, hal. 32: (fa kaana khaliyan maudi'u labinatin, au'nil mun-amaq alaihi min hadzihil imarah, fa aradha Allahu an yutimma-nabaa' wa yukmila-al-binaa bil labinati - akhirah, fa-ana tilkal-labinatu ayyuhan - nadhiruun.) ^

40 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, hal 22. ^

41 lih: Ali Muchajat, Hakikat al-Masih, Jakarta Al-Busyra, tanpa tahun, hal. 53. ^
42 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian hal. 20. ^
43 lih: idem hal. 21/22.
^

44 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, hal. 17/18. ^