Chapter 4.6
Ahmadiyah Sebagai Crypto-Mohammadanisme
 

4.6   Cabiklah Tirai Itu
 

Satu ucapan tidak beres yang berkali-kali dilontarkan Ahmadiyah. Namun demikian kalau sekiranya hendak ditanggapi obrolan Ahmadiyah itu, hanya semata-mata for the sake of arguments saja, katakanlah bahwa menjadi raja­raja di kalangan ummat Islam itu adalah satu kenikmatan dari Allah, lantas menjadi nabi-nabi, yang mana mereka itu? Satu hal yang pasti ialah bahwa Ahmadiyah hanya memiliki satu nabi saja sesudah Nabi Muhammad s.a.w., yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Jika ini dikatakan satu kenikmatan pula, maka yang dimaksud ialah kenikmatan buat Mirza sendiri, ketuarganya maupun para pengikut-pengikutnya yang setia. Bahkan kenikmatan itu begitu besarnya sehingga Ahmadiyah berani mengatakan bahwa ayat-ayat 6 dan 7 dari surah Al-Fatihah, tidak lain ditujukan bagi datangnya Mirza Ghulam.

Jelasnya, menurut Ahmadiyah bahwa dari surah Al-Fatihah ayat 6 dan ayat 7 yang berbunyi:

"Tunjukilah kami ke jalan yang lurus yaitu jalan yang telah Engkau tunjukkan kepada orang-orang yang telah Engkau beri nikmat."

 

Ayat ini, demikian Ahmadiyah, ialah ayat di mana Allah telah memerintahkan kepada ummat Islam supaya sebagai ummat meminta kepadaNya, agar nikmat-nikmat yang pernah diterima oleh ummat dahulu terutama kaum Bani Israiel (Yahudi) diberikan pula pada mereka. Apakah nikmat-nikmat itu? Tidak lain, kata Ahmadiyah, ialah menjadi raja-raja dan nabi-nabi.45

Jadi bagi kaum Muslimin yang selalu mengucapkan do'a dalam Al-Fatihah pada waktu mereka melakukan shalat, tujuh belas kali sehari semalam itu, ternyata do'a mereka telah dikabulkan Tuhan yaitu, dengan munculnya Mirza Ghulam Ahmad dari India, sebagai satu-satunya nabi. Pantas juga kalau orang­orang pengikut Mirza mengatakan bahwa kedatangan Mirza sebagai fadhlan kabiran (buat siapa?!)

Last but not least, untuk lebih banyak mengenal model watak ke-Yahudian kaum Ahmadiyah ini, kita melihat satu uraian lagi dari mereka, dimana satu khabar gembira dari Tuhan telah turun pada Mirza Ghulam Ahmad, isi kabar itu ialah:

"Hai Mirza engkau dari Aku dan Aku dari engkau. "46
 

Wahyu Tuhan di atas sangat menggembirakan Mirza Ghulam, akan tetapi bagaimana mengartikannya? Satu hal yang tidak beres pada Ahmadiyah; bagaimana Tuhan bisa dikatakan dari Mirza dan Mirza dikatakan dari Tuhan? Apanya yang dari Tuhan dan apanya Tuhan yang dari Mirza Ghulam? Ada lagi wahyu yang bikin Mirza Ghulam Ahmad lebih bergembira:

"Wahai bulan (Mirza) engkau dari padaKu dan Aku dari padamu. "47
 

Andaikata wahyu Tuhan itu diartikan harafiah, maka kata-kata itu jelas keluar dari akal tidak waras. Tentu saja Ahmadiyah menolak tuduhan semacam itu. Maka inilah pengertian mereka yang disodorkan ke tengah­tengah pengikutnya. Mula-mula dikemukakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda pada Sayyidina Ali r.a.:

"Hai Ali engkau dari padaku, dan aku dari padamu. "48
 

Kemudian dikemukakan contoh lain, yaitu ketika Nabi Muhammad bersabda pada suku Asy'ari, ialah:

"Mereka dari padaku dan aku dari pada mereka. "49
 

Akhirnya Ahmadiyah bertanya tentang contoh-contoh yang dikemukakannya itu: anehkah itu dan ganjilkah? Dijawab sendiri oleh Ahmadiyah:

 "Ini senafas dengan ilham di atas, yakni ilham Tuhan pada Mirza di atas."50
 

Tentu saja kalau Ahmadiyah yang menjawab, tidak aneh dan tidak ganjil wahyu Tuhan pada Mirza itu. Akan tetapi obrolan-obrolan mereka itu lebih daripada aneh dan ganjil, malah sangat tidak beres maupun tidak karuan.

Bahwa nabi Muhammad pernah bersabda, beliau s.a.w. daripada suku Asy'ari dan suku tersebut dari pada Nabi, ucapan yang demikian itu wajar, sebab terjadi antara dua jenis yang sama yaitu manusia. Juga sabda beliau s.a.w. pada sayyidina Ali tersebut di atas, wajar pula adanya. Bahwa Nabi adalah sepupu Ali bin Abi Thalib r.a., Nabi dipelihara ayah Ali, dan Ali diambil Nabi, dikawinkan pada puteri beliau, kemudian Nabi bersaudara dengan Ali, maka sungguh bahwa Nabi dari pada Ali dan Ali dari pada Nabi s.a.w. Terserah pada Ahmadiyah kini kalau mereka hendak menurunkan martabat Ketuhanan pada dan menjadi martabat manusia seperti Mirza Ghulam Ahmad itu; suatu kebodohan pada akal yang cerdik. Bahkan kecerdikan itu bertambah­tambah karena ucapan-ucapan mereka yang salah. Antara lain Ahmadiyah mengemukakan contoh ayat-ayat al-Qur'an yang diartikan menurut selera mereka, misalnya ayat 249 dari surah Al-Baqarah. Anak buah Mirza Ghulam Ahmad ini mengartikan ayat tersebut sebagai berikut:

"Siapa yang minum dari padanya (air sungai) dia bukan dari padaKU." (faman syariba minhu falaisa minni).51
 

Kemudian Ahmadiyah bertanya:

"Apakah ini berarti bahwa orang yang tidak minum air sungai itu dia dari pada TUHAN?" Inipun senada dengan ilham Tuhan pada Mirza di atas tadi.52
 

Cobalah perhatikan bagaimana Ahmadiyah telah mengubah makna dari ayat tersebut dan sekaligus mengubah jalannya sejarah. Mereka suka mengambil ayat-ayat Al-Qur'an hanya potong-potongannya saja. Tentu saja mereka bermaksud untuk menguatkan ucapan-ucapan mereka. Padahal kelengkapan makna dari surah Al-Baqarah ayat 249 itu ialah sebagai berikut:
 

"Maka ketika Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu yang meminum airnya bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada merasakan airnya kecuali orang yang hanya menciduk seciduk tangan, maka ia adalah pengikutku."
 

Itulah arti yang sebenarnya sesuai dengan sejarah terjadinya peristiwa itu. Bukan diartikan seperti kehendak kaum Ahmadiyah, bahwa yang minum air dari sungai itu, ia bukan dari padaKu (TUHAN). Ini pengertian yang dibuat­buat atau sikap ke-Yahudiannya dengan yuharrifun-al-kalimah an-mawadhi'ih, selalu tampak menyolok pada mereka.

Contoh lain daripada watak-watak menyalah-gunakan arti dan tujuan dari ayat-ayat Al-Qur'an, dikemukakan lagi oleh golongan Mirza Ghulam Ahmad ini. Ahmadiyah mengatakan bahwa kedatangan Imam Mahdi yang dinanti-nantikan itu telah disabdakan Nabi Muhammad dalam sabda beliau:
 

"Sesungguhnya bagi kedatangan Imam Mahdi itu ada dua tanda yang belum pernah terjadi sejak dijadikan langit dan bumi oleh Allah. Tanda itu ialah: akan terjadi gerhana bulan pada permulaan bulan puasa dan gerhana matahari pada pertengahan bulan puasa yang sama. Kejadian serupa ini belum pernah terjadi sejak dijadikannya langit dan bumi oleh Allah."
 

Tanda-tanda tersebut yang dinyatakan dalam hadits di atas, telah terjadi sesuai dengan berita yang tertera, yaitu terjadi pada tahun 1311 hijriah atau bertepatan dengan tahun 1894 masehi.53

Tanda-tanda yang istimewa itulah yang menyongsong kedatangan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi yang dinanti-nantikan. Menurut Ahmadiyah keistimewaan tanda-tanda dari datangnya Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al-Mahdi Al-Ma'huud itu, telah disinggung secara nyata, baik dalam kitab Beibel maupun dalam Al-Qur'anul Karim.54

Lebih lanjut meneruskan, bahwa Yesus telah memberi isyarat akan saat-saat kedatangan beliau yang kedua kalinya itu dalam kitab Beibel. Dalam surat Mattius 24;29, tanda-tanda itu dikatakan:

"Maka sejurus kemudian daripada ketika sengsara itu, matahari akan dikelamkan, dan bulan juga tiada akan bercahaya."55
 

Itulah kutipan Ahmadiyah dari Beibel yang menggambarkan saat-saat kedatangan Yesus kembali. Orang-orang Ahmadiyah ini ternyata berbicara cukup hanya pada dua tanda saja. Tanda pertama, matahari akan dikelamkan, dan tanda kedua, bulan tiada akan bercahaya. Apabila kita melihat sepintas saja akan kejadian-kejadian dari matahari dan bulan di atas, maka kita melihat seolah-olah memang sudah terjadi gerhana bulan dan matahari, dalam bulan yang sama pula. Akan tetapi pada kenyataannya peristiwa bulan tidak bercahaya dan matahari akan dikelamkan itu, sama sekali bukan satu gerhana, sebagaimana yang diuraikan kaum Ahmadiyah. Melainkan satu peristiwa yang terjadi pada saat-saat dunia akan kiamat. Dan bukan itu saja tanda-tanda yang ada dalam kalimat Mattius 24: 29 itu, melainkan lebih dari itu. Justru disinilah kelihatan lagi hobby dari kaum Ahmadiyah, bahwa mereka senang sekali memotong-motong ayat-ayat Al-Qur'an maupun kalimat-kalimat dalam Beibel. Padahal kalimat dalam Mattius 24: 29 itu masih panjang, dan bila diteruskan bunyinya:

"... dan segala bintang di langit akan gugur, dan segala kuat-kuasa yang di langit itupun akan berguncang-gancing."
 

Apa sebab Ahmadiyah membatasi tanda-tanda itu hanya pada matahari kelam dan bulan tiada bercahaya? Jawabnya diberikan oleh mereka sendiri. Hanya tanda-tanda itu saja yang disebut sebab tanda-tanda yang menyongsong datangnya Al-Mahdi Al-Mahuud Mirza Ghulam Ahmad Qadiani.

Yang menarik buat cerita di sini, ialah bahwa kepercayaan orang-orang Kristen tentang "the second coming"nya Yesus Kristus itu, telah diambil alih dan dioper oleh seorang lain, yang mungkin mengaku dirinya sebagai baruz atau inkarnasinya Yesus Israeli itu. Justru orang istimewa si pengoper kedudukan Yesus ini, tidak lain juga Mirza Ghulam Ahmad. Alhasil entah harus berapa kali nama Mirza Ghulam disebut-sebut dalam tulisan ini. Pokoknya ia menjadi tokoh dalam cerita di sini. Tentu saja tokoh pahlawan buat keluarga pengikut­pengikutnya dan mereka yang antipati pada Islam dan ummatnya.
 

Alangkah bahagia Ahmadiyah bahwa kitab suci orang-orang Kristen telah menyambut kedatangan Mirza, dan sungguh lebih berbahagia lagi bila Al­Qur'anul Karim ikut menyambut pula padanya. Kelihatannya Tuhan benar­benar menaruh segala pengharapanNya pada orang India ini.

Dan memang itulah yang dinyatakan sendiri oleh Ahmadiyah bahwa Al­Qur'anul Karim bukan saja menyambut Mirza Ghulam sebagai AHMAD yang DIJANJIKAN56 melainkan juga sebagai IMAM MAHDI yang DINANTI­NANTIKAN. Mengutip dari Al-Qur'an, Ahmadiyah berkata:

"Kitab suci Al-Qur'an berbicara tentang hari kebangkitan itu: Maka apabila pemandangan itu begitu mencengangkan, dan bulan telah gelap cahayanya (gerhana), dan matahari serta bulan telah dihimpunkan.' (Antara lain Qur'an 75: 7-10)
 

Maka pertemuan antara bulan dan matahari itu berkenaan jatuhnya dua gerhana sekaligus terjadi dalam satu bulan yang sama, yaitu bulan Ramadhan seperti yang tersebut dalam hadits. Dua gerhana sekaligus itu mengambil tempat persis pada tahun 1311 hijrah atau 1894 masehi." 57

Demikian uraian Ahmadiyah dan kutipannya dari surah Al-Qiyamah ayat 7 sampai dengan ayat 10. Marilah kita lihat bagaimana kaum Ahmadiyah dalam hal ini putera Mirza Ghulam sendiri, telah bersilat pena.

Mula-mula Ahmadiyah mengambil dari surah Al-Qiyamah itu jumlah 4 (empat) ayat, yaitu dengan menulis di pojok kanan dari terjemahannya angka­angka: Al-Qur'an 75: 7-10, yang berarti ayat ketujuh sampai dengan kesepuluh dari surah Al-Qiyamah telah dikutipnya. Akan tetapi anehnya, mereka tidak menterjemahkan empat ayat, melainkan hanya dua ayat saja, yaitu ayat ketujuh sampai dengan kedelapan.

Kedua, cara Ahmadiyah menterjemahkan dua ayat, tujuh dan delapan dari surah Al-Qiyamah itu jauh menyimpang dari maknanya bahkan dari peristiwa yang terkandung di dalamnya. Mereka, anak buah Mirza Ghulam ini menterjemahkannya ayat-ayat itu sebagai berikut:

"Maka apabila pemandangan itu begitu mencengangkan, dan bulan telah gelap cahayanya (gerhana), dan matahari serta bulan telah dihimpun. "58
 

Kemudian Ahmadiyah mengartikan matahari dan bulan telah dihimpun itu, dengan kata-kata:

"Maka pertemuan antara bulan dan matahari itu berkenaan dengan terjadinya dua gerhana dalam satu bulan, yaitu bulan Ramadhan. sebagaimana yang tersebut dalam hadits."59
 

Yang ketiga, Ahmadiyah sengaja berbuat dengan memotong ayat-ayat Al-Qur'an itu dan menterjemahkannya dengan semaunya, supaya dapat mengkaitkan ayat-ayat tersebut dengan peristiwa munculnya Imam Mahdi India, Mirza Ghulam Ahmad. Satu perbuatan yang lucu dan memalukan.

Tidak lain surah 75: 7-10 itu terkandung didalamnya saat-saat terjadinya hari kiamat. Surahnya sudah jelas disebut: surah Al-Qiyamah. Dan isi dari ayat-ayat 7 sampai dengan sepuluh itu adalah:

"Apabila pemandangan sangat mencengangkan serta menakutkan, dan bulan telah gelap cahayanya, dan matahari dan bulan telah dihimpun, rusak peredarannya, ketika itu, manusia bertanya: ke manakah kita akan lari?!"
 

Jelas bahwa ayat-ayat tujuh sampai dengan sepuluh itu menggambarkan peristiwa datangnya hari kiamat. Tidaklah kita lihat bahwa ayat sebelumnya, yakni ayat enam, merupakan soal: "apakah hari kiamat itu?" Maka Allah s.w.t. menjawab dari soal itu pada ayat sesudahnya yaitu ayat-ayat tujuh sampai ayat-ayat seterusnya.

Satu penipuan dan kedustaanlah yang dilakukan orang-orang Yahudi dari desa Qadian India ini. Mereka selalu mencari jalan buat melogiskan maupun meyakinkan orang-orang yang di luar jemaatnya, dengan cara apa saja. Satu hal yang ajaib, adakah orang-orang Ahmadiyah sendiri sudah tidak bisa memakai logikanya? Kita ingin tahu dimana tafsir Al-Qur'an yang menyebut seperti model Ahmadiyah bahwa: "dan bulan telah gelap cahayanya," diartikan: gerhana bulan. Kemudian "dan matahari serta bulan telah dihimpun" diartikan: dua gerhana dalam satu bulan dari tahun 1311 hijrah itu. Jelas tidak mungkin ada tafsir maupun pengertian seperti cara-cara yang dilakukan kaum Mirza itu.

Mereka banyak sekali mengubah-ubah makna maupun tujuan dari ayat-ayat Al­Qur'anul Karim secara seenaknya saja asal bisa dicocokkan dengan munculnya Mahdi Mirza Ghulam Ahmad.

 

45 lih: M. Ahmad Nuruddin, Masalah Kenabian, hal. 17. ^

46 lih: Analyst, facts about Ahmadiyya movement, Lahore ahmadiyya Anjuman Isha'at-i­ islam, 1951, hal. 21.: (anta minni wa ana minka) ^

47 Mirza Ghulam Ahmad, fountain of Christianity, Rabwah Ahmadiyya muslim missions office, 1961, hal. 45: (ya qamar ya syamsu anta minni wa ana minka). ^

48 Saleh Nahdi, Ahmadiyah membantah tuduhan Wahid Bakry BA., Ujung Pandang, Jema'at Ahmadiyah Indonesia, 1972, hal. 38/39. ^

49 idem no. 46. ^
50 idem no. 46 dan 47. ^
51lih: Saleh Nahdi, bantahan atas tuduhan Wahid Bakry, hal. 38. ^
52 idem no. 49, hal. 38. ^

53 lih: Saleh A. Nahdi, Selayang Pandang Ahmadiyah, hal. 25. ^

54lih: Bashiruddin Mahmud Ahmad, Invitation, Rabwah, the Ahmadiyya muslim foreign missions office, 1961, hal. 47: (its uniqueness is enhanced by the fact that it is also mentioned in the new testament and in the holy Qur'an). ^

55 lih: idem - no 52: ( immediately after the tribulation of those days shall the sun be darkened and the moon shall not give her light.) ^

56 lih: Suara Ansharulah no. 3 & 4. 1955. hal. 18. ^

57 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmad, Invitation, hal. 47: (the holy Quran speaks of the Day of Awakening and goes on: "it is when the sight is dazzled and the moon is eclipsed and the sun and the moon are conjoined. The conjoining refers to the occurence of the two eclipses in the same month, the month of ramadhan as in the hadith. The eclipses took place in 1311 hejira or 1894 A.D.) ^

58 lih: Bashiruddin Mahmud Ahmah, Invitation, hal. 47: (it is when the sight is dazzled and the moon is eclipsed and the sun and the moon are conjoined). ^

59 lih: Bashiruddin. MA., invitation, hal. 47: (the conjoining refers to the occurence of the two eclipses in the same month, the month of ramadhan as in the hadith.) ^