Chapter 4.7
Ahmadiyah Sebagai Crypto-Mohammadanisme
 

4.7   Organisasi Musailamah Modern
 

Inilah beberapa contoh yang dikerjakan organisasi Mirza Ghulam Ahmad dalam rangka mengubah ayat-ayat Al-Qur'an untuk kepentingan Imam Mahdi India. Mereka berkata:

"Apabila tanda-tanda akhir zaman yang digambarkan oleh Al­Qur'an itu telah tampak dengan jelasnya, maka bersedialah hendaknya kita menerima kedatangan Imam Mahdi itu. "60
 

Kemudian mereka meneruskan uraiannya berkenaan dengan turunnya ayat-ayat suci itu dengan penjelasan seperti berikut:

"Nubuwat-nubuwat Al-Qur'an ini menyangkut beberapa perubahan besar yang bakal terjadi secara menyolok yang pada masa turunnya ayat-ayat tersebut belum ada. Tatkala mendengar tentang bakal terjadinya perubahan- perubahan besar itu orang tercengang karena tidak dapat melukiskan di dalam pikirannya hal-hal besar yang luar biasa itu. "61
 

Dan akhirnya Ahmadiyah melukiskan bahwa perubahan-perubahan besar yang luar biasa itu dan mencengangkan pula itu, kini tidak lagi bersifat luar biasa, bahkan kata Ahmadiyah:

"Tetapi sekarang telah menjadi kenyataan yang oleh kita sekarang dianggap sebagai soal biasa saja."62
 

Apakah gerangan nubuwat-nubuwat Al-Qur'anul Karim yang melukiskan terjadinya perubahan-perubahan besar, yang mencengangkan pikiran manusia luar biasa, akan tetapi justru pada saat-saat sekarang ini, sudah tidak lagi bersifat demikian, melainkan hanya dianggap soal biasa saja? Inilah jawaban Ahmadiyah dari ayat-ayat Al-Qur'an, diambil dari surah At-Takwir ayat 1 sampai dengan ayat 11. Mereka terjemahkan dan tafsirkan satu persatu sebagai berikut:
 

"idza'sy syamsu kuwwirat:" apabila matahari telah tertutup, periksa tanda-tanda kedatangan Imam Mahdi yang disebutkan bersangkutan dengan gerhana matahari;

"waidza'n nujumun kadarat:" apabila bintang-bintang menjadi pudar; bintang adalah orang-orang besar Islam, besar dalam arti ilmunya. Kerohanian dan kesuciannya. Ayat ini menubuwatkan akan berkurangnya orang-orang itu yang dalam segi agama mereka bagaikan bintang pembawa pelita rohaniah dan pembimbing yang baik. Rasulullah s.a.w. bersabda, bahwa sahabat-sahabat beliau adalah bagaikan bintang. Siapa saja dari pada sahabat-sahabat itu dijadikan ikutan pengikut itu akan memperoleh petunjuk yang pasti;

"waidzal jibalu suyyirat:" apabila gunung-gunung bergerak; kapal-kapal laut yang besar-besar bergerak di samudera dinamakan pula sebagai gunung;

"waidzal isyaru 'uththilat:" apabila onta-onta betina yang bunting ditinggalkan; dengan adanya kendaraan-kendaraan modern, mobil, pesawat terbang dan sebagainya di akhir zarnain onta-onta tidak memainkan peranan penting lagi di bidang angkutan seperti dahulu;

"waidzal wuhusyu husyirat:" apabila binatang-binatang buas atau orang-orang primitip dikumpulkan; kita periksa kebun binatang umpamanya atau lihat bangsa-bangsa orang yang tadinya biadab dan terbelakang. Kita lihat orang-orang Afrika dahulu dan sekarang;

"waidzal biharu sujjirat:" apabila lautan membual dan dipertemukan; terusan Suez dan sudah ditembus itu menyatukan dua samudera yang tadinya terpisah, begitu pula terusan Panama;

"waidzan nufusu zuwwijat:" apabila manusia disatukan; PBB, K.A.A. dan organisasi lainnya adalah satu contoh yang hidup. Manusia dari tiap penjuru dunia dahulu tidak pernah berhimpun seperti sekarang. Dari sudut lain nubuwat ini menyangkut pula bidang perhubungan dan komunikasi. Adalah masa dahulu orang yang dapat mengadakan perhubungan dalam sedetik dari timur ke barat? kita camkan sekarang;

"waidzash-shufu nusyriyat:" apablla surat-surat kabar, majallah dan buku-buku tersebut; sejarah menjadi saksi bahwa pada masa dahulu tidak pernah tersebar luas seperti sekarang ini. Ini nubuwatan yang luar biasa pula;

"waidza's samau kusyihat:" apabila langit terbuka; bukan rahasia lagi manusia sekarang terbang di luar angkasa, mengitari bumi berulang kali, hal yang tidak pernah terjadi dalam sejarall dunia;63

Akhirnya Ahmadiyah memberi penegasan tentang ayat-ayat tersebut di atas:

"Inilah beberapa tanda yang dinubuwatkan Al-Qur'an agar manusia memperhatikannya lalu mengenal Imam Mahdi, reformer agung sedunia. "64
 

Demikian cara Ahmadiyah mengartikan dan menafsirkan ayat-ayat satu sampai dengan sebelas dari surah At-Takwir. Cara-cara mereka ini tidak pernah terjadi sebelumnya.

Sungguh satu hal yang luar biasa, mencengangkan bahkan tidak terpikirkan oleh manusia abad sekarang ini, bahwasanya kedatangan Imam Mahdi Mirza Ghulam Ahmad didahului dengan peristiwa-peristiwa yang dinubuwatkan dalam Al-Qur'an. Alangkah hebat mukaddimah penyambutan datangnya Imam Mahdi dari India itu. Bahkan kelak sampai dunia kiamat, manusia pasti akan tercengang tak habis-habisnya, atas keluar-biasaan Tuhan menyambut Mirza Ghulam. Bayangkan, sebelas kali dentuman meriam untuk Imam Mahdi dari desa Qadian itu.

Satu perbuatan cerdik, terang-terangan disengaja dilakukan Ahmadiyah dengan menghilangkan dua buah ayat dari surah At-Takwir itu. Diantara ayat yang berbunyi: "waidzan' nufusu zuwwujat" dengan ayat yang berbunyi "waidzashshuhut nusyirat" terdapat dua ayat yang berbunvi: "waidzal mau'udatu suilat" dan "bi ayyi dzanbin Qutilat." Kedua ayat ini dihilangkan oleh Ahmadiyah, tidak dipakai untuk kepentingan Imam Mahdi Mirza. Apa alasan mereka menghilangkan kedua ayat itu? Apakah tidak bisa dipakai penafsirannya untuk tanda diantara banyak tanda datangnya Imam Mahdi?

Kenyataan bahwa kaum Ahmadiyah ini telah menghilangkan ayat 8 dan ayat 9 dari surah At-Takwir, oleh karena ayat-ayat itu bila diterjemahkan berbunyi:

"Dan apabila anak-anak perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, karena dosa apakah ia sampai dibunuh demikian?"
 

Maka dari terjemahan itu, Ahmadiyah tidak menemukan bahan-bahan zaman sekarang yang bisa diterapkan pada ayat-ayat tersebut .

Surat At-Takwir adalah surat yang sifatnya memberi ingat, membawa kabar takut akan hebatnya peristiwa hari kiamat terjadi. Dalam surat ini dari ayat pertama sampai ayat ke 14 Allah menerangkan bagaimana hebat dan dahsyatnya malapetaka yang menimpa alam sejagad di hari kiamat termasuk matahari, bintang-bintang, gunung-gunung binatang-binatang liar dan jinak dan lautan, dan bagaimana tiap jiwa dipertemukan kembali dengan jasadnya, anak-anak perempuan yang tidak bersalah yang di kubur hidup-hidup sebagaimana banyak terjadi di kalangan sebagian suku-suku yang berdiam di tanah Arab, ditanyai mengapa mereka dibunuh. Ketika itu dibuka kitab setiap manusia yang berisi catatan perbuatan dan amalnya di dunia dan ketika itu pula dinyalakan api neraka dan didekatkan syurga. Di kala itu insaflah setiap insan dan sadarlah dia bahwa segala apa yang dikerjakannya di dunia akan mendapat balasan yang seadil-adilnya dari Allah.65

Peristiwa itu pasti akan terjadi dan saat-saat tibanya berada di tangan Tuhan. Tidak seperti yang diutarakan Ahmadiyah, ayat-ayat dari surah At­Takwir diartikan kiasan belaka seperti:

"Matahari digulung, mereka artikan matahari tertutup atau gerhana. Bintang-bintang berjatuhan, mereka artikan orang-orang besar Islam berkurang. Gunung-gunung dihancurkan, mereka artikan kapal-kapal besar bergerak di samudera. Unta-unta bunting ditinggalkan, mereka artikan mobil pesawat dan lain-lain. Binatang­binatang liar dikumpulkan, mereka artikan kebun binatang. Lautan dijadikan meluap, mereka artikan terusan Suez dan Panama dipertemukan. Arwah dipertemukan dengan jasad, mereka artikan manusia disatukan, PBB-K.A.A. Catatan amal manusia, mereka artikan surat-surat kabar dan majalah. Langit dilenyapkan, mereka artikan manusia kini terbang ke luar angkasa."
 

Tingkah laku yang di luar batas ini sengaja mereka lakukan terang-terangan. Mereka akan terus berbuat demikian demi kepentingan Mirza Ghulam Ahmad.

Bisa dipastikan bahwa Mirza Ghulam sendiri pada waktu masih hidupnya tidak kenal apa itu mobil pesawat ataupun PBB. Jelas bahwa tafsir demikian adalah oleh pengikut-pengikutnya untuk menguatkan kedudukan Mirza Ghulam Ahmad. Mereka menjadi mufassir-mufassir jagoan yang menafsirkan surah At­Takwir menurut selera akal mereka.
Tidak berlebih-lebihan kalau dikatakan bila sang Imam Mahdi Mirza sudah tidak waras akalnya, maka sang cucu, sang putra dan pengikut-pengikutnya tentu jatuh tidak waras pula.
Untuk lebih kenal diagnose "ketidak-warasnya" itu marilah kita periksa cara­cara mereka menterjemahkan maupun menafsirkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang lain.

Lagi-lagi Ahmadiyah berkata:

"Imam Mahdi atau reformer agung adalah petugas dari Allah yang membawa kabar suka dan peringatan-peringatan keras. Di satu pihak Al-Qur'an memberikan tanda guna memudahkan cara mengenalnya oleh manusia, di lain pihak merupakan tanda peringatan-peringatan keras. Sebab itu dalam hubungan kedatangan Imam Mahdi Al-Qur'an memberikan tanda-tanda yang dinubuwatkan dalam ayat-ayat AI-Qurtan yang berikut: idza zulzilat'il ardhu zilzalaha wa-akhrajatil ardhu atsqalaha wa-qala'1 insanu malaha? Apabila bumi digempakan sekeras-kerasnya, bumi mengeluarkan muatannya, lalu manusia berkata: mengapa ini terjadi?"66
 

Demikian kutipan Ahmadiyah dari surah Az-Zalzalah ayat 1 sampai dengan ayat tiga. Mereka tidak melanjutkan kesudahan dari ayat-ayat dalam surah Zalzalah itu. Kebutuhan mereka tampaknya hanya sampai pada ayat 1 sampat tiga saja. Tentu saja kebutuhan untuk Mirza Imam Mahdi, yang dimaksud. Karena itu mereka mengatakan bahwa apabila utusan-utusan Allah itu ditolak termasuk didalamnya petugas Ilahy Mirza Ghulam, maka Allah bertindak dengan berbaga peringatan berupa cobaan-cobaan, adzab, sampai mereka mau menerima para utusanNya. Dan diantara adzab-adzab itu, termasuk gempabumi.67

Surah Zalzalah yang dikutip Ahmadiyah dari ayat I sampai dengan ayat 3 adalah ayat-ayat gempa. Mereka berkata tentang ayat-ayat tersebut:

"Secara harafiah saja nubuwat-nubuwat Al-Qur'an ini sudah beberapa puluh kali digenapkan Tuhan. Ratusan ribu manusia menjadi korban gempa bumi sedang sekarang kita masih dikejutkan oleh berita-berita gempa yang terjadi di berbagai negeri."68
 

Perlu apa lagi disebut secara harafiah saja, bukankah mereka jauh menyimpang dari makna dan tafsir yang sebenarnya, hanya semata-mata untuk memuaskan selera mereka dan Imam Mahdinya? Padahal surah itu adalah surah yang menerangkan peristiwa saat hari kiamat tiba. Bukan tentang gempa-gempa bumi yang telah terjadi di berbagai negeri, seperti maunya Ahmadiyah.

Last but not least, kita akan periksa tubuh Ahmadiyah yang kehilangan akal warasnya ini dengan satu kali lagi melihat cara-cara mereka mengartikan dan menafsirkan Al-Qur'an. Antara lain mereka berkata:

"Peperangan-peperangan dahsyat yang terjadi dan memakan korban jutaan manusia dengan akibat-akibatnya yang mempengaruhi jalannya kehidupan semua mahluk di permukaan bumi ini telah dinubuwatkan Al-Qur'an sebagai salahsatu tanda kedatangan Utusan Agung Ilahi. "69
 

Kedatangan Utusan Agung Ilahy yang dimaksud di atas ialah datangnya utusan yang bernama: Mirza Ghulam Ahmad. Sekali lagi adzab Tuhan terjadi karena penolakan utusan agung dari India itu.

Apakah gerangan yang dinubuwatkan Al-Qur'an tentang peristiwa terjadinya peperangan-peperangan yang dahsyat itu? Sekali lagi Ahmadiyah menjawab bahwa di dalam Al-Qur'an dicatat dalam surah (101: 6) sebagai berikut:

"Alqari'atu malqari'ah? Wa ma adraka mal qari'ah? Yauma yakunu'n nasu kalfarasyil mabtsuts, watakunul jibalu kal ihnil manfusy; yang artinya:

Penggegar, apakah penggegar dan taukah apa yang dikatakan penggegar. Ia adalah hari dimana manusia akan merupakan rama-rama bertebaran dan gunung-gunung akan jadi seperti bulu berhamburan."70
 

Kita ingin tau gerangan apa tafsir kaum Ahmadiyah atas kata-kata: Penggegar itu. Maka inilah dia jawaban mereka yang paling menarik:

"Dua kali 'penggegar' adalah dua kali perang dunia, dan mungkin lebih hebat lagi 'wa ma adraka mal qari'ah?' atau 'penggegar' ketiga yang disertai tanda dahsyat karena tekanan khususnya. Memang bila kita perhitungkan keadaan perlengkapan dan alat-alat perusak sekarang dapatlah dibayangkan betapa hebatnya 'penggegar' ketiga yang akan terjadi nanti yang oleh agama tidak dapat dilepaskan dan silsilah adzab-adzab Ilahi."71
 

Demikian itulah obrolan-obrolan Ahmadiyah tentang Suratul Qari'ah, Suratul Qiyamah; diartikan oleh mereka: perang dunia kesatu, kedua dan ketiga. Mungkin akan menjadi berpuluh-puluh halaman di sini bila kita terus menerus memeriksa cara-cara mereka memberi arti maupun tafsir atas ayat-ayat Al­Qur'anul Karim.

Sebaiknya kita tidak ke situ lagi, melainkan melihat dan memeriksa cara-cara mereka yang lain, hasil refleksi dari akal tidak warasnya.
 

60 lih: Saleh A. Nahdi, majallah Sinar Islam, Yayasan Wisma Damai Bandung, no. 13 th. XV/1965, hal. 18. ^

61lih: idem no. 58, hal. 18. ^
621ih: idem no. 58, hal. 18. ^

63 lih: Saleh Nahdi, Majalah Sinar Islam, no. 13/1965, hal. 18/19.  ^
64 idem, no. 61, hal. 19. ^

65 lih: Juz 'Amma dan Terjemahannya, Dewan Penterjemah Kitab Suci Al-Qur'an, 1973, Jakarta Bumi Restu PT., hal. 87. ^

66 lih: Saleh A. Nahdi, majalah Sinar Islam, no. 13/1965, hal. 20. ^
67 1ih: idem. no. 64, hal. 20. ^

68 lih: idem. no. 64, hal. 20. ^
69 lih: idem. no. 64, hal. 20.
^
70 lih: Saleh A. Nahdi, Sinar Islam no: 13/1965, hal. 20.
^

71 lih: idem no. 68, hal. 20. ^