Bab I : Pendahuluan

“Mahasuci dan seraya memuji-Mu ya Allah,
aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Engkau,
aku mohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu.
Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nashir.
La hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzhim.
Alhamdulillahi Rabbil’Alamin.”

Melalui buku ini penulis berupaya mengungkap kezhaliman, kesesatan dan kejahatan di balik gegap-gempita pemberitaan seputar Ma’had Al-Zaytun, Haurgeulis, Indramayu, pimpinan syaikh AS Panji Gumilang, sehubungan dengan banyaknya pengaduan dari masyarakat, baik secara individu maupun kelembagaan kepada kami, tentang adanya kenyataan yang telah lama berjalan dalam keberagamaan ummat Islam yang memiliki nuansa fenomena penyimpangan yang sangat serius.

Sebagai muslim, penulis tidak mungkin berdiam diri dan membiarkan fenomena penyesatan dan penyimpangan ini leluasa hidup, berjalan dan berkembang di masyarakat, dan inilah barangkali yang menjadi alasan diterbitkannya buku ini.

Buku ini berisikan tentang data dan bukti sesat lagi menyesatkan dalam doktrin serta praktek amaliyah gerakan mereka yang menunjukkan adanya keterkaitan yang erat dengan NII, KW-9, Lembaga Kerasulan dan aliran sesat Isa Bugis.

Pandangan terhadap kondisi dan situasi perjuangan atau gerakan politik Kartosoewirjo-NII, secara politik-ideologis dan bukan aqidah 1, sesungguhnya tidaklah menjadi persoalan, terlebih karena mereka mengaku sebagai Mukmin. Segala kebaikan atau prestasi yang telah berhasil dilakukan, maka itu merupakan sisi-sisi positif yang sama sekali tidak perlu dipuja, dikenang dan diabadikan atau bahkan dijadikan mitos, karena sisi-perilaku positif dalam Islam pada dasarnya memang merupakan kewajiban setiap Mukmin tanpa terkecuali 2, dan untuk itu cukuplah Allah sebagai penilai serta sebagai saksi. Kafa billahi hasiban, kafa billahi syahidan.

Bila bahasan ini terkesan berseberangan dengan reputasi atau apa pun namanya yang ada dan melekat pada NII, maka tiada harapan yang lain kecuali timbulnya kesediaan dan kesadaran berbagai pihak untuk melakukan introspeksi pembenahan diri, dalam keimanan maupun ke-Islaman yang shahih dengan menunjukkan hujjah serta alasan yang haq dalam wujud dan bentuk atau melalui forum iqamatul hujjah yang bisa dipertanggung-jawabkan, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia, jika memang mengaku sebagai orang beriman.

Dalam pembuktian dan pelacakan data, penulis telah melakukan investigasi dan koordinasi dengan berbagai pihak yang berkompeten, seperti para mantan atau korban gerakan NII KW-9 Abu TOTO yang tersebar di berbagai propinsi dan kota, maupun sebagian yang masih aktif dalam gerakan NII KW-9 atau kalangan NII lainnya.

Investigasi yang penulis lakukan secara intensif berjalan sekitar satu tahun penuh, disamping pengalaman hidup bersama dengan para tokoh NII di penjara militer berbagai kota serta Lembaga Pemasyarakatan (LP), seperti LP Kalisosok Surabaya, LP Lowok Waru Malang, LP Cipinang Jakarta, terhitung sejak tahun 1981 hingga bebas tahun 1992, dan bergaul secara dekat dengan komunitas NII serta pergerakan lainnya sejak bebas hingga sekarang ini. Yang pasti, bisa dikatakan hampir seluruh tokoh NII baik jalur struktural maupun non-struktural pernah terlibat interaksi secara aktif dengan penulis, baik ketika masih di dalam penjara maupun setelah di luar (bebas).

Sumber data penulis berasal dari buku-buku tentang NII dan yang berkaitan dengan KW-9, juga dokumen atau klipping majalah, surat kabar yang memuat pemberitaan dari tahun ke tahun serta hasil wawancara langsung dengan para pelaku serta korban, tak terkecuali Abu Toto alias Abdus Salam alias AS Panji Gumilang sendiri oleh penulis yang berhasil melakukan wawancara langsung di tahun 1999. Begitu pun wawancara penulis dengan warga di empat desa di sekitar kompleks Ma’had Al-Zaytun berada, penulis mendapatkan berbagai penjelasan yang sangat berharga berkaitan dengan usaha penelitian penulisan buku ini.

Kalangan awam mungkin tidak menyadari adanya keganjilan yang berlangsung dalam praktek keberagamaan dan pendidikan Islam di Ma’had Al-Zaytun, apalagi pada masa sekarang ini setelah berusaha membenahi dan menutupi berbagai penyimpangan dan kesesatan yang menyolok selama ini. Padahal, kalaupun ummat yang awam mau meneliti dan mempelajari secara mendalam terhadap doktrin maupun praktek keberagamaan komunitas Al-Zaytun maupun dengan membaca akhbar kegiatan seputar ma’had yang dimuat dalam majalah Al-Zaytun milik mereka sendiri, ternyata banyak sekali dijumpai keanehan, penyimpangan dan penyesatan.

Diantaranya, praktek penggelembungan nilai zakat fithri yang mencapai lebih dari sepuluh kali lipat, setelah nama ibadah zakat fithri dirubah dengan nama Harakat Ramadlan. Bila pelaksanaan ketentuan zakat fithri yang berjalan dan dipahami oleh umat Islam baik sejak zaman sahabat hingga masa kini adalah sebanyak satu sha’ gandum atau tepung, yang kalau dinilai harganya tidak lebih setara dengan 3,5 liter beras atau sekitar Rp 10.000 dalam bentuk uang, maka oleh NII KW-9 Abu Toto AS Panji Gumilang dilipatgandakan menjadi 13 kali lipat atau uang senilai Rp 100.000 bahkan ada yang membayar Rp 900.000, Rp 1.150.000, Rp 1.500.000 karena diperlombakan. Baik dalam pemungutan maupun pendistribusian, landasan syar’i-nya ternyata hanya mengikuti logika dan analogi yang amat sesat dan menyesatkan, kental sekali muatan nafsu penipuannya 3.

Kesesatan dan penyesatan yang meliputi bidang aqidah, akhlaq dan syari’ah serta persekongkolan gerakannya dengan rezim thaghut yang zhalim dalam melakukan kejahatan terhadap Islam dan kaum Muslimin, rahasia Abu Toto alias Abdus Salam Rasyidi nama yang sebenarnya dari tokoh yang bermain dalam gerakan yang mengatas-namakan NII dan KW-9 di balik nama AS Panji Gumilang dan Ma’had Al-Zaytun yang akan diungkap dan dibeberkan, insya Allah.

Kesesatan serta penyimpangan Abu Toto alias Abdus Salam Rasyidi dengan NII KW-9, sekarang NII Al-Zaytun ternyata adalah sama dan sebangun dengan kesesatan dan penyimpangan kelompok sempalan Islam Isa Bugis.

Pengungkapan tentang keterkaitan dengan NII pada akhirnya menjadi sesuatu hal yang memang harus dilakukan sampai tuntas, mengingat dari berbagai gerakan yang ada di Indonesia, dapat dikatakan hampir 60 persen senantiasa terkait atau pernah berkaitaan dengan apa yang namanya NII. Harapan yang lain nantinya adalah bisa menghindarkan ummat Islam terutama generasi muda, agar tidak terjerumus ke dalam ajaran-ajaran sesat dan menyesatkan. Tidak pula mengecualikan pihak-pihak yang berkompeten seperti MUI, Ormas-ormas Islam dan segenap kaum muslimin agar segera mengklarifikasi serta menuntaskan masalah dan permasalahan yang terkait dengan NII dan ajaran-ajaran NII Al-Zaytun pimpinan Abdus Salam AS Panji Gumilang alias Abu Toto.

Seluruh isi buku ini insya Allah dapat dipertanggung-jawabkan, kepada setiap pihak yang menghendaki klarifikasi ilmiyah dalam forum Iqamatul Hujjah.

Ucapan Jazakumullahu khairan dan terima kasih kepada semua ikhwan yang dengan senang hati memberikan bantuan serta dukungan bagi terselesaikannya penulisan maupun proses investigasi yang cukup melelahkan. Alhamdulillah, atas dukungan dari kalangan pergerakan, khususnya dari para mantan NII non KW-9 maupun NII KW-9 Abu TOTO, dan lebih khusus lagi dari kalangan yang bersedia untuk bersama-sama bertekad membubarkan gerakan bawah tanah NII Ma’had Al-Zaytun.

Demikian pendahuluan dari penulis yang faqir lagi dla’if, semoga semua pihak bisa mengambil manfaat, hikmah maupun i’tibar dengan baik dan benar. Penulis tetap berharap adanya masukan berupa kritik dan saran yang membangun dari pembaca yang budiman atas segala sesuatunya yang berkaitan dengan kekurangan tulisan ini.

 

Footnote
1. Ide dan tindakan Kartosoewirjo memang merupakan hal yang lumrah, dalam artian kondisi dan situasi saat itu memang mengharuskan ummat Islam melakukan gerakan yang seperti itu sebagai wujud nyata perlawanan terhadap kebathilan.
2. Ada kata-kata hikmah Arab yang menyebutkan: La syukra ‘alal wajib. Artinya: Tidak (perlu) ada ucapan terimakasih terhadap sesuatu yang wajib.
3. Untuk lebih jelasnya baca MB Al-Zaytun, edisi III Maret dan edisi XII Desember 2000… Disebut penipuan, karena kalangan NII Al-Zaytun ini kalau dalam masalah keuangan selalu bersikap sangat bersemangat melakukan peningkatan atau penggiatan, akan tetapi dalam masalah ‘ibadah, ternyata mereka malah meninggalkan.