Bab II : Pesantren Al-Zaytun

A. Kemegahan dan Keajaiban di Padang Tandus?
Tak bisa disangkal, bangunan pondok pesantren Al-Zaytun yang terletak di desa Gantar, Mekar Jaya, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Propinsi Jawa Barat, merupakan pondok pesantren termegah saat ini. Demikian megahnya, sampai-sampai banyak masyarakat Jakarta khususnya, yang telah terbiasa dengan keberadaan kawasan elite dan modern pun masih tetap terkesima,[1] terkagum-kagum saat mereka berbondong-bondong meninjau dan melihat dari dekat pesantren yang termegah serta terbesar di Asia Tenggara itu.
 
Setiap pengunjung yang berwisata ke Ma'had Al Zaytun untuk pertama kalinya hampir pasti akan menyimpulkan, inilah gambaran dan wujud sebuah pesantren yang tidak saja terpadu dan megah, juga sangat menjanjikan bagi masa depan Islam wal muslimin di Indonesia.
 
Sedangkan untuk gedung asrama, baik untuk santri putra maupun putri, diberi nama Al Musthafa, yang letaknya ber-hadapan dan dipisahkan dengan bangunan masjid utama. Di sini, tersedia laboratorium komputer, laboratorium bahasa dan perpustakaan. Fasilitas pendukung asrama seperti ruang makan, kitchen dan laundry disediakan dalam bentuk ruang bangunan rumah makan, yang mampu melayani sekitar 1.700 santri. Kitchen dan laundry[2] masing-masing dalam bentuk bangunan yang luasnya 1.200 meter persegi, dan dilengkapi dengan peralatan modern.
 
Menurut publikasi yang dilakukan pihak Al-Zaytun, bumi Al-Zaytun yang sebelumnya kering dan tandus,[3] kini ditumbuhi segala jenis tanaman, termasuk pohon Tin, Korma dan Zaytun, yang biasanya hanya bisa tumbuh di negeri yang suhu dan keadaan tanahnya sama dengan negeri-negeri Arab. Pohon Tiin yang diwakafkan oleh pewakif dari Yordania dan Palestina, menurut publikasi mereka, konon hanya dalam tempo 40 hari semenjak ditancapkan akarnya di bumi Al-Zaytun ternyata langsung berputik. Padahal di negerinya sendiri belum tentu bisa secepat itu.
 
Yayasan Pesantren Indonesia ini dibentuk dan berdiri secara resmi baru sekitar delapan tahun lalu, tepatnya tanggal 1 Juni 1993 atau tanggal 10 Dzulhijjah 1413 H, dengan akte pendirian tertanggal 25 Januari 1994 bernomor 61 pada Notaris Ny. li Rokayah Sulaiman, SH. Meski tergolong baru, "prestasinya" terkesan spektakuler, bahkan sangat luar biasa untuk ukuran sebuah yayasan ummat Islam pada umumnya.
 
Kemunculan Yayasan Pesantren Indonesia sendiri terkesan tiba-tiba, begitu juga dengan kemampuan mereka menghimpun dana dalam jumlah besar dan dalam tempo yang relatif singkat, mengundang keheranan tersendiri. Apalagi, sampai saat ini kemampuan ekonomi ummat Islam khususnya masih carut-marut, akibat politik peminggiran yang dilakukan oleh rezim Orde Baru terhadap ummat Islam.
 
Ternyata, YPI (Yayasan Pesantren Indonesia), sebuah yayasan Muslim "partikulir" yang secara formal tidak memiliki kaitan dengan institusi yang lebih kuat seperti yayasan milik Keluarga Cendana (Soeharto)[4], yayasan KORPRI, ataupun ICMI[5] dan yang sejenis, dan tidak pula dengan yayasan-yayasan masyarakat Muslim yang ada sebelumnya, ternyata bisa mengusasi lahan seluas ribuan hektar.
 
Secara formal, YPI (Ma’had Al-Zaytun) tak punya hubungan dengan –katakanlah–  ICMI dan sebagainya. Namun menurut harian Republika edisi Ramadlan, Desember tahun 2000, dikabarkan bahwa ICMI di bawah kepemimpinan Adi Sasono dan segenap pengurusnya menggelar kegiatan dan kajian bersama dengan Syaikh al-Ma'had Al-Zaytun, AS Panji Gumilang di Pesantren Al-Zaytun, Haurgeulis Indiamayu. Demikian halnya para tokoh Golkar senior seperti, Harmoko, Abdul Ghafur, Isma'il Shaleh, Slamet Efendi Yusuf dan lain-lain.
 
Yang jelas, YPI dengan Al-Zaytunnya adalah sebuah yayasan yang pengurusnya adalah orang-orang yang bersahaja dan berlatar belakang bersahaja pula. Namun bila tiba-tiba mereka mampu menguasai lahan seluas 1.200 hektar, dengan alasan merupakan tanah waqaf sekalipun, tetap mengundang tanda tanya, dan rasanya mustahil bila tidak punya akses ke institusi yang lebih kuat (minimal secara politis).

B. Latar Belakang Penguasaan Tanah YPI
Berdasarkan hasil investigasi lapangan oleh Penulis dan tim SIKAT, Yayasan Pesantren Indonesia mulai berminat menguasai tanah lahan produktif dan non produktif seluas 1.200 hektar tersebut adalah ketika merebak rencana pembangunan jalan tol ruas Cirebon-Subang. Secara ekonomi dan bisnis, hal tersebut, pada saat itu sangat menjanjikan prospek dan gambaran peluang bagi siapapun untuk ikut berpartisipasi memperoleh bagian keuntungan.
 
Tanah yang diakui milik Yayasan Pesantren Indonesia seluas 1.200 hektar di kawasan desa Gantar, Mekar Jaya, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, tempat berdirinya pesantren Al-Zaytun dibeli dari masyarakat setempat dengan mengatas-namakan pribadi-pribadi atau atas nama perorangan yang bertempat tinggal di desa yang sama dan tercatat sebagai pengurus dan anggota Yayasan Pesantren Indonesia (YPI).
 
Secara administratif, penguasaan tanah oleh Yayasan Pesantren Indonesia atas tanah masyarakat yang berstatus tanah adat tersebut, melalui transaksi jual beli yang sah, artinya memiliki tanda bukti surat akta jual beli yang dikeluarkan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan disaksikan oleh Kepala Desa dalam bentuk stempel Kepala Desa.
 
Berdasarkan data akta jual beli yang ada, tanah-tanah masyarakat desa Mekar Jaya tersebut dibeli dengan harga rata-rata sebesar Rp 500 (lima ratus rupiah) setiap meter perseginya. Akan tetapi berdasarkan pengakuan para pemilik tanah itu sendiri, mereka hanya menerima pembayaran sebesar Rp 300 (tiga ratus rupiah) untuk setiap meternya. Atas kejadian ini masyarakat setempat pernah melakukan demo terhadap kepala desa dan bahkan sempat pula merusak kantor kepala desa, sehingga menyebabkan kegiatan kelurahan dilaksanakan di rumah kepala desa. Akhirnya harga beli dinaikkan menjadi Rp 700 s/d Rp 1.000 per meter persegi.
 
Berdasarkan contoh data yang dikeluarkan oleh kelurahan desa Mekar Jaya yang ditanda-tangani oleh Bapak Api Karpi, Kepala Desa Mekar Jaya, tertanggal 18 Februari 1997 tercatat ada sekitar sebelas nama pembeli yang kesemuanya beralamatkan Al-Zaytun dan sama sekali tidak menyebut alamat yang jelas sebagai penduduk desa Mekar Jaya.[6] Sedangkan jumlah pihak penjual diantara masyarakat desa Mekar Jaya ada sekitar lima puluh delapan warga tertera dengan jelas beralamatkan didesa Mekar Jaya, dan dinyatakan sebagai pemilik tanah desa Blok Sandrem, lengkap dengan nomor code, persil, kelas maupun jumlah luas tanah masing-masing serta nomor akta berikut tanggal dan tahunnya. Untuk tanah blok Sandrem ini tercatat dengan jumlah sekitar 37,7 hektar.
 
Sebagaimana tertera pada brosur-brosur maupun majalah Al-Zaytun sendiri, mereka (YPI) menyatakan memiliki (menguasai) tanah di kawasan desa Mekar Jaya, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu seluas 1.200 Ha. Secara defacto, penguasaan tanah oleh Yayasan Pesantren Indonesia di areal seluas 1.200 hektar di Gantar, desa Mekar Jaya dengan status wakaf seluruhnya, tidak akan dapat diingkari ataupun dinafikan oleh pihak manapun. Karena, penggunaan lahan di lokasi tersebut telah ditunjukkan dalam bentuk bangunan Pesantren, dengan segala sarana pendukungnya membuat hampir setiap yang menyaksikan dan dekat menjadi terkagum-kagum.
 
Apalagi berita dari mulut ke mulut meneruskan pernyataan Syaikh Al-Ma'had Al-Zaytun tentang kronologi pembangunan pesantren yang dikatakannya menggunakan sistem lelang dan wakaf, sebagaimana pernah disampaikan dengan penuturan yang runtut dan meyakinkan kepada wartawan (reporter) Harian Pelita, edisi 27 Juli 1999, antara lain:
 
"Mulanya yayasan hanya mampu membeli 5 ha dan kemudian bertambah sedikit demi sedikit dari hasil wakaf puluhan kaum muslimin yang mampu, sampai tercapai 1.200 ha, demikian juga untak bangunan bertingkat yang ada. Kita pernah mengadakan lelang tiang bangunan, dimana satu tiang dihargai 50 juta rupiah, dan alhamdulillah seluruh tiang bangunan ada yang membelinya. Penggalangan dananya seperti itu.[7]
 
Secara administratif Yayasan Pesantren Indonesia sama sekali belum memiliki selembar pun sertifikat wakaf atas tanah yang luasnya 1.200 hektar tersebut. Jangankan 50 hektar atau 37,7 hektar sebagaimana contoh data yang dikeluarkan oleh kantor kelurahan (Kepala Desa) Mekar Jaya seperti yang disebut di atas, satu hektar pun tak punya, tidak ada sama sekali bukti sertifikat wakaf sah yang dikeluarkan oleh pihak yang paling berkompeten dalam masalah pertanahan (BPN) dimiliki dan dipegang oleh Yayasan Pesantren Indonesia.
 
Selain itu pembelian dan pengatas-namaan YPI (Yayasan Pesantren Indonesia) serta status waqaf pada tanah tersebut yang sesungguhnya terjadi adalah merupakan hasil kejahatan dan penipuan dari sebuah kelompok atau gerakan sesat dan menyesatkan terhadap para anggota atau jama'ahnya, dengan mengatasnamakan diri sebagai NII KW-9 yang menghebohkan sejak beberapa tahun yang lalu hingga sekarang ini (tahun 1990 s/d tahun 2002).
 
Melalui program Infaq Daulah, Shadaqah Tarbiyah dan Shadaqah Aradhi --beli sawah diwajibkan bagi setiap anggota jama'ah NII KW-9 dengan harga maupun luas tanah yang harus dibeli dan dishadaqahkan sangat berlainan, dengan demikian banyak sekali korban yang tertipu serta habis tandas tanah maupun rumah kediaman mereka, demi memenuhi program wajib tersebut.

C. Sebuah Proyek Misteri
Banyak orang dan kalangan yang sama sekali tidak menyangka bila pondok pesantren Al-Zaytun yang termegah itu ternyata dibangun dan didirikan dengan modal awal hasil kejahatan serta hasil mendhalimi (menyengsarakan) banyak orang dengan mengatas-namakan agama dan gerakan NII (Negara Islam Indonesia) Kartosoewirjo, yang hingga saat inipun masih menimbulkan banyak korban. Hal yang faktual ini tetap saja dibantah oleh kalangan Al-Zaytun.
 
Misteri Al-Zaytun dan komunitasnya sangat dirasakan oleh penduduk sekitar Ma'had ini, seperti Desa Tanjung Kerta, Suka Slamet dan Mekar Jaya, antara lain dari sikap tertutup mereka. Juga, penjelasan yang terasa asing, diantaranya mereka mengatakan bahwa proyek Ma'had Al-Zaytun ini adalah proyek untuk Allah, sekaligus milik ABRI, dan untuk Madinah ke II.
 
Menjadi lebih misterius setelah beberapa orang warga dari penduduk sekitar yang diterima sebagai pengajar di Ma'had tersebut (lulusan Gontor), ternyata kemudian cenderung menarik diri dari komunitas asalnya, serta hilang tegur sapanya dengan masyarakat desa itu setelah bergabung dengan komunitas Ma'had ini. Dan warga pun mulai mencium aroma paham aneh dalam praktek ubudiyah di Ma'had ini, misalnya soal makmum masbuq yang tidak perlu lagi menyempurnakan (melengkapi) kekurangan jumlah rakaat yang ketinggalan, dengan alasan karena sudah ditanggung oleh Imam.
 
Sikap anti-sosial dan bahkan sangat menyebalkan serta dhalim, menurut penuturan sebagian warga desa Suka Slamet, ketika sawah milik Al-Zaytun yang tadinya disepakati boleh disewa-pakai oleh mantan pemiliknya, digarap dan bahkan ada yang hampir mendekati panen, tiba-tiba dengan alasan lokasi tersebut akan segera digunakan, tanpa mempertimbangkan jerih payah maupun kesepakatan sebelumnya, garapan warga tersebut dibuldozer oleh pihak Al-Zaytun tanpa perasaan sama sekali. Warga pun jadi sangat kecewa. "Ini katanya untuk Islam, tapi kok tega-tega amat ya, mereka ini orang Islam golongan apa ya?"
 
Meski berbagai fakta telah digulirkan tentang apa dan siapa serta bagaimana sebenarnya Al-Zaytun dengan AS Panji Gumilang, melalui mass media dan kemudian disusul dengan terbitnya karya tulis Al Chaidar tentang Al-Zaytun, AS Panji Gumilang alias Abu Toto tokoh sentral KW-9 (Komandemen Wilayah Sembilan) --salah satu sayap yang dianggap sesat dari gerakan DI atau NII oleh kalangan intern DI/NII sendiri--[8] ternyata masih banyak saja umat Islam yang terkecoh.
 
Lembaga-lembaga dakwah, masyarakat luas, para simpatisan dan calon wali santri Ma’had Al-Zaytun seyogyanya mampu bersikap kritis dan waspada dalam mencermati pendirian lembaga maupun penyelenggaraan pesantren Al-Zaytun ini, yang secara faktual telah menunjukkan bahwa para pengelola dan tokoh Ma’had Al-Zaytun, tidak terkecuali Abu Toto Abdus Salam (AS) Panji Gumilang, ternyata bukanlah tokoh pendidik dan belum pernah pula memiliki bukti keberhasilan maupun pengalaman atau jam terbang dalam mengelola dan menyelenggarakan pesantren, sekalipun untuk ukuran sebuah pesantren yang kecil dan sederhana, kecuali keberhasilan dalam mengorganisir gerakan bawah tanah NII (Negara Islam Indonesia) yang penuh misteri dan kontroversi.
 
Namun mengapa masyarakat luas dan bahkan beberapa tokoh pesantren menjadi tumpul daya kritisnya melihat kenyataan yang ada? Para tokoh pendiri dan pengelola Ma’had Al-Zaytun sama sekali tidak punya pengalaman, kecuali bukti megahnya fisik dan lengkapnya prasarana pesantren serta setumpuk rencana, target dan janji. Bahkan di antara masyarakat intelek seperti ICMI malah secara latah --bahkan salah kaprah dan terburu-buru-- menjadikan Ma’had Al-Zaytun sebagai contoh model bahkan bentuk ideal penyelenggaraan Pesantren Terpadu.

D. NII, Intel Orde Baru dan Ma’had Al-Zaytun
Di antara berbagai tantangan signifikan yang sangat perlu dan membutuhkan perhatian ekstra adalah sebagaimana termaktub dalam firman Allah SWT sebagai berikut: “Dan demikianlah Kami jadikan dalam setiap negeri itu, para pembesarnya sebagai penjahatnya untuk melakukan rekayasa (makar) dalam negeri itu, namun rekayasa itu tidaklah akan menimpa melainkan kepada para pembesar itu, akan tetapi mereka tidak sadar.” (QS 6:123).
 
Yang kini menjadi pertanyaan adalah, mengapa dalam kurun waktu yang cukup panjang ini rekayasa jahat para pembesar di negeri ini belum berbalik menimpa mereka sebagaimana yang disebutkan ayat tersebut di atas? Mungkin karena kualitas dan kuantitas orang yang beriman dan beramal shaleh, ber-‘amar ma’ruf dan ber-nahi munkar, belum cukup signifikan di mata Allah, sehingga sunatullah di atas belum berlaku. Allahu a’lam.
 
Dalam realitas sejarah gerakan yang mengatasnamakan NII, telah terjadi simbiosis-mutualis antara kelompok Muslim yang eksistensinya amat rentan setelah Kartosoewirjo tertangkap, dan dikalahkannya NII oleh rezim kuffar nasionalis sekuler Sukarno.
 
Keberadaan gerakan NII yang compang-camping secara lahir-batin tahun 1963-1968 telah masuk dalam program dan agenda tantangan bagi rezim militer kuffar Soeharto maupun rezim Sukarno.
 
Militer dengan rekayasa politik dan intelijennya hampir dapat dikatakan sepenuhnya menguasai medan maupun basis muslim tanpa terkecuali. Aksi-aksi intelijen dan perekayasaan itu sudah dimulai sejak beralihnya kekuasaan dari rezim sipil kepada rezim militer Soeharto.[9]
 
Terhitung sejak sekitar tahun 1968, militer sudah mulai menggarap melalui aksi rekayasa intelijen terhadap eksponen NII maupun program memecah belah kekuatan Muslim. Melalui komitmen mensukseskan pemilu 1971, Ali Murtopo melancarkan aksi “ulur tangan” kepada sisa-sisa lasykar NII.
 
Tak disangka ternyata gayungpun bersambut, sebagian besar di antara sisa-sisa lasykar NII tersebut malah antusias menyambut uluran tangan Ali Murtopo.
 
Yang jelas hal tersebut berlanjut sampai tahun 1975, bahkan sisa-sisa lasykar NII akhirnya sampai percaya dan dengan sadar menerima ajakan Ali Murtopo[10] untuk melakukan konsolidasi kekuatan NII. Atas jaminan pribadi Danu Mohammad Hasan[11] yang selama ini telah bergabung dengan Ali Murtopo sudah sejak lama, lantas kemudian di lembaga formal BAKIN, namun dengan argumentasi “mempromosikan” Ali Moertopo, yang meyakinkan sudah dan siap untuk tobat serta kembali bergabung dengan Islam, dan berlanjut pula kepada upaya melawan kembali rezim militer kuffar dan dzhalim saat itu, serta untuk mengambil alih kekuasaan.
 
Kelemahan di seluruh segi yang dimiliki ummat islam, NII khususnya, dijadikan sebagai ‘kelinci percobaan’ bagi operasi dan rekayasa politik/intelejen oleh rezim militer. Bila ini berhasil, maka untuk melawan kekuatan muslim di sektor lain pun pasti tidak akan mengalami kesulitan untuk diterapkan hal serupa.
 
Keberhasilan menjadikan pecundang terhadap para lasykar NII sejak tahun 1975 hingga sekarang, merupakan bukti adanya kontrol penuh tangan militer-intelejen atas gerakan NII tersebut, dan seluruh rekayasa politik maupun intelijen militer boleh dikata semuanya sukses dan tak ada yang gagal satupun.
 
Apabila dirunut, masalah penyusupan infiltran intelejen militer ke dalam gerakan ummat Muslim Indonesia yang berlangsung semenjak Orde Baru di bawah Suharto dan Ali Moertopo, maka untuk yang pertama kalinya adalah melalui Danu Muhammad Hasan di tubuh NII yang akhirnya memunculkan kasus Komando Jihad di Jawa Timur tahun 1977.
 
Bersamaan waktunya dengan itu Danu Muhammad Hasan menelusupkan pula infiltran intelejen militer Letda Suprapto Kasie SatGas Intel Kodam V Jaya ke dalam gerakan GPI melalui Zainuddin Qari’ sehingga berhasil memprovokasi sekaligus menggagalkan dan memberangus gerakan penentangan GPI terhadap P-4 dan Aliran Kepercayaan pada tahun 1978.
 
Pada masa itu pula Danu Muhammad Hasan berhasil menjadikan Ateng Djaelani sebagai mitranya di dunia intelijen. Selanjutnya intelejen militer berhasil pula membina dan menyusupkan Hasan Bau ke dalam gerakan Warman, Abdullah Umar dan Farid tahun 1978-1979.
 
Tahun 1981 Bakin kembali menyusupkan anggota kehormatannya (Jenderal Kopral) Najamuddin ke dalam gerakan Jama’ah Imran melalui provokasi dengan menyerahkan setumpuk dokumen rahasia militer dan CSIS yang berisikan rencana jahat ABRI terhadap Islam dan ummat Islam, yang akhirnya memicu aksi perlawanan bersenjata, sehingga diantaranya terjadi penyerangan Polsek Cicendo, Bandung.
 
Berlanjut, dengan terjadinya pembajakan pesawat Garuda Woyla. Sebelumnya kelompok ini berhasil menghabisi Najamuddin, yang tercatat resmi sebagai infiltran intelejen dan provokator dari BAKIN tersebut.[12]
 
Tahun 1983, Ali Moertopo mampus mendadak, setelah berhasil mengkader penerusnya, yaitu LB Moerdani. Proyek awal LB Moerdani yang diajukan kepada Suharto, Presiden RI saat itu, adalah menciptakan stimulus dan pra kondisi untuk segera diberlakukannya Asas Tunggal Pancasila yang banyak mendapatkan tantangan dan penolakan dari kalangan tokoh-tokoh Islam.
 
Pancingan militer secara terang-terangan untuk menyulut kemarahan ummat dengan sikap kurang ajar dan tak terpuji dari aparat teritori militer yang mengguyurkan air comberan dan sengaja masuk ke dalam Mushalla tanpa melepaskan sepatu lars kotornya di samping mengumbar kalimat-kalimat jorok dan menantang ummat Islam, yang mengakibatkan dibakarnya motor aparat teritory tersebut.
 
Akhirnya berlanjut dengan drama pembantaian ummat Islam di Tanjung Priok (12 September 1984), diawali dengan penangkapan beberapa jama'ah oleh pihak aparat dan berlanjut dengan reaksi keras tokoh-tokoh PTDI dan tokoh masyarakat Tanjung Priok Amir Biki dengan menggelar tabligh akbar yang panas, namun diinginkan oleh rezim kuffar dan militer.
 
Ummat Islam yang hanya bermodal semangat dan teriakan takbir menuntut pembebasan anggota jama’ah Mushalla yang ditahan aparat dihadapi dengan persiapan tempur penuh oleh rezim kuffar dan aparat militer, langsung dibawah komando Pangdam Jaya Mayjen Try Sutrisno dan Panglima ABRI Jenderal LB Moerdani. Momentum ini juga dimanfaatkan untuk menciduk serta memenjarakan banyak aktivis Islam melalui penyusupan kembali informan ke dalam tubuh para aktivis.
 
Tahun 1986 intelejen berhasil kembali menyusupkan intel sipilnya bernama Syahroni (mantan preman Blok M) ke dalam gerakan Usrah NII pimpinan Ibnu Thayyib yang kemudian menyebabkan lebih dari 15 orang NII masuk ke penjara.
 
Tahun 1988, satu tahun menjelang diledakkannya kasus Cihideung, Talangsari, Way Jepara, Lampung, Letkol. Hendropriyono yang masih bertugas di Jakarta, pernah berpesan kepada komunitas Jama’ah Imran agar jangan ada yang ikutan ke Lampung, karena dirinya telah diperintahkan untuk melibas tandas gerakan tersebut nantinya setelah menjadi Kolonel dan sebagai Komandan Korem Garuda Hitam, Lampung.[13]
 
Tahun 1986 pihak intelijen merekrut Prawoto alias Abu Toto yang sedang berada di Sabah, Malaysia, dan menyusupkannya kembali ke dalam gerakan LK (Lembaga Kerasulan) tahun 1987, yang saat itu dibawah kepemimpinan Abdul Karim Hasan, yang sebenarnya sudah menyatakan pisah dari NII kepemimpinan Adah Djaelani tahun 1983. Keberadaan Abu Toto mampu mempengaruhi dan meyakinkan Abdul Karim Hasan agar kembali kepada manhaj NII dan menggerogoti struktur kewilayahan NII.[14]
 
Masuknya kembali Abu Toto sejak tahun 1987 inilah yang mempercepat terjadinya perpecahan dalam struktur NII secara besar-besaran, drama dan sandiwara penangkapan kecil-kecilan oleh aparat teritory militer terhadap kelompok yang akhirnya menyebut diri sebagai NII KW-9 ini.
 
Penangkapan terhadap kelompok ini secara agak serius terjadi tahun 1994 di Pandeglang yang melibatkan sekitar 800-an anggota NII. Mereka ditangkap justru setelah menyatakan keluar dari kepemimpinan Abu Toto. Bahkan ketika mereka menyebutkan tentang peran dan ketokohan Abu Toto dalam struktur NII KW-9, Abu Toto tetap tidak tersentuh aparat.
 
Demikian pula saat kepemimpinan NII KW-9 dipegang H. Ra’is Ahmad yang tertangkap tahun 1992 disaat melantik ratusan Mas’ul di kawasan Bekasi, ketika menyebutkan keterlibatan Abu Toto dalam struktur kepemimpinan NII KW-9 kepada aparat, ternyata hal itu sama sekali tidak ditanggapi oleh aparat militer yang menginterogasinya. Malah akhirnya H. Ra’is Ahmad yang mendekam dalam tahanan (tanpa sidang pengadilan) sampai tahun 1997.
 
Kedekatan Abu Toto dengan aparat teritory di Karesidenan Cirebon selanjutnya dapat menjadi bukti, betapa Komandan Korem, Kodim dan Bupati serta Koramil maupun Camat demikian dekat dan kondusif-kontributif kepada Abu Toto dan Ma’had Al-Zaytun, sampai-sampai acara pelepasan Dandim 0616 Indramayu Letkol H. Pranowo yang dimutasikan ke Kodam Siliwangi dan temu-ramah-mesra dengan Danrem Sunan Gunung Jati yang baru pun bisa diselenggarakan di Ma’had Al-Zaytun.[15]
 
Bahkan akhir tahun 1999, ZA Maulani yang Ka BAKIN pun sampai ikut-ikutan membela Abu Toto dan Al-Zaytun, dengan menyarankan kepada Al-Chaidar agar mengurungkan penerbitan buku yang ditulisnya tentang “Sepak Terjang Abu Toto NII KW-9” dalam kesempatan pembicaraan yang sengaja dijadwalkan di Rumah Makan Sate Pancoran, Jakarta Selatan.
 
Memang pada tahun 1996-1998 gerakan intelejen militer memutar modus dan haluannya, dari represif terhadap Islam dan ummat Islam menjadi seakan toleran bahkan dikesankan sangat akomodatif. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah diterapkannya strategi dan jurus “menebar angin menuai badai” ke seluruh strata masyarakat.
 
Gerakan intelijen militer yang ditebarkan ke segala arah, juga dalam rangka memberi kesan kepada publik tentang paradigma militer masa lalu yang sulit untuk dielakkan dari absurditas, otoritarian maupun kekejamannya terhadap rakyat.[16] Namun hampir bisa dipastikan tidak satu pun faksi NII struktural yang tidak ditunggangi oleh militer, intelejen dan kalangan politisi oportunis. Adapun tentang NII non-truktural sulit untuk membuktikan ketidak-terlibatan militer di dalamnya. Wallahu a’lam.
 
Dari seluruh bentuk perlawanan ummat Muslim, baik yang dengan ataupun tanpa kekerasan, sesungguhnya tanpa terkecuali selalu dibawah kontrol dan provokasi intelejen militer. Kasus GPI, Woyla, Tanjung Priok, Lampung, Aceh, Mataram, Pam Swakarsa, Ambon dan Poso serta yang lainnya seperti perpecahan ormas dan partai Islam, keseluruhannya selalu melibatkan infiltran militer intelejen.
 
Ini yang tidak pernah disadari oleh ummat Muslim Indonesia, hanya lantaran mereka mengaku sebagai militer hijau, atau militer yang selalu membawa nama dan suara serta jargon Islam. Juga, dengan cara memberikan sedikit santunan sekadarnya, tsamanan qalilan, yang bertujuan merusak dan melemahkan aqidah (iman) serta memecah-belah koordinasi antar tokoh Islam dan ummatnya, antar sesama tokoh Islam, maupun antar sesama ummat.
 
Kalaupun tidak dengan cara-cara tersebut di atas, maka bentuk rekayasa politik dan intelejen selalu memberi peluang dan kesempatan untuk memunculkan (memancing) terjadinya bentuk-bentuk perlawanan yang sporadis dari ummat Muslim, yang lantas dengan serta-merta dilibas dan digerus secara membabi-buta, tidak seimbang dengan tingkat “perlawanan” yang dilakukan.
 
Pada NII KW-9 Abu Toto (Abdus Salam) AS Panji Gumilang terdapat memiliki benang merah yang sangat kuat dengan NII Kartosoewirjo atau NII struktur Adah Djaelani. Karena pada dasarnya NII KW-9 Abu Toto adalah matarantai dari NII Kartosoewirjo, yang diproklamasikan pada 7 Agustus 1949. Walaupun secara kronologis, ada beberapa masalah yang timbul dalam perjalanannya, yang seakan hidup segan mati pun tak mau, sejak Alm. Kartosoewirjo ditangkap oleh Sukarno dan selanjutnya dieksekusi mati pada Agustus 1962, setelah melalui proses pengadilan militer yang sangat cepat dan singkat.
 
Baru pada sekitar awal pertengahan tahun 1970-an, yang namanya NII mulai bangun dan langsung melakukan kolaborasi, kalau tidak mau atau keberatan jika disebut melakukan konspirasi dengan intelejen-militer rezim Orde Baru pimpin Soeharto, khususnya Ali Moertopo Laknatullah.
 
Sejak saat itulah NII struktural di bawah kepemimpinan Adah Djaelani Tirtapraja, mulai bergerak melakukan manuver rekruitmen melalui pembai’atan atas ummah, tanpa seleksi maupun ikhtiyari terhadap ihwal mad’u (objek rekruitmen), yang bid’ah, yang ambisius, yang materialistis, yang bodoh dan dungu maupun yang ulama’ dan intelek atau pun ahli ibadah di kalangan pengusaha, pejabat maupun masyarakat biasa, semua disama-ratakan (generalisasi).
 
Yang penting, bersedia di-bai’at dan menjadi warga NII, lantas diberi pangkat dan jabatan teritorial sebagai KW (Komandemen Wilayah) dan strata staff di bawahnya, KD (Komandemen Daerah, Bupati) dan strata staff di bawahnya, dan seterusnya. Yang untuk itu setelah di-bai’at dan diberi pangkat serta jabatan harus tha’at (loyal), sekalipun tidak diberikan pembinaan dan pengajaran (tarbiyyah nadzhariyyah) ke-Islaman, tentang Tauhid dan ke-ikhlashan, tentang syari’ah dalam ‘ubudiyyah tentang akhlaqul karimah dan Tazkiyyatun Nafs.
 
Kelanjutan perjalanan NII struktural akhirnya bisa di tebak arahnya, dan karena ketiadaan pembinaan baik ruhiyah maupun intelektual dari para elit maupun staffnya, dan tiada pula uswah, keteladanan dari para pimpinannya dalam ber-NII (berjama’ah). Selain itu kolaborasi yang dijalin dengan Ali Moertopo, harus dibayar mahal. Karena sejak saat itu, rekayasa penjerumusan NII sebagai musuh laten negara, kesan pemberontak dan subversif sebagaimana kesan yang dibangun terhadap NII-Kartosoewirjo sejak dahulunya, mulai dijalankan Ali Moertopo melalui jalur intelejen militer maupun teritorial. Kesan itu akhirnya berhasil dikemas dalam proyek rekayasa pemberontakan (tindakan subversif) dengan nama sandi “Komando Jihad”.
 
Hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, NII struktural berhasil merekrut sekitar hampir seribuan orang. Sekitar tahun 1975 terbentuk struktur komademen seluruh Jawa, dan semakin pesatlah perkembangan rekruitmen tersebut. Melalui rumor yang disebarkan NII, bahwa Libya akan memasok senjata kepada mujahidin NII, hal itupun akhirnya menggema sampai ke mana-mana. Rektuitmen secara bergerilya menciptakan suasana psikologis yang panas dan tegang di kalangan ummat. Apalagi sambutan ummat pun kala itu cukup antusias.
 
Ali Moertopo, hanya dengan ongkang-ongkang kaki, menunggu waktu yang tepat untuk memanen hasil benih yang ditebarkan berupa ide provokasi-agitatif tentang bahaya laten komunis, dan sedikit modal serta uang transport untuk para pentolan NII, dan membiarkannya bergerak melakukan konsolidasi organisasi.
 
Ali Moertopo yang memegang seluruh informasi, gerak-gerik dan langkah pemanfaatan kalangan NII untuk bergerak, bangkit mereorganisir diri tersebut, dalam satu genggamannya, menetapkan tanggal 7 Januari 1977, sebagai hari bersejarah bagi prestasi dirinya sendiri dalam menjalankan Komando Inteljen OPSUS, untuk meringkus seluruh jaringan “kelinci percobaan” dari proyek rekayasa pemberontakan NII dengan sandi “Komando Jihad” yang dibuat dan dijalinnya sendiri.
 
Liciknya, Ali Moertopo menyisakan beberapa pentolan yang ada di Jakarta dan Jawa Barat (seperti Adah Djaelani Tirtapraja, Aceng Kurnia, Ules Suja’i, Toha Mahfudz, Tahmid Rahmat Basuki, Saiful Iman, Opa Musthapa, Seno alias Basyar, Ahmad Husein Salikun, Djarul Alam dan lain lain), agar terus bergerak melakukan rekruitmen dalam kondisi dan status mereka yang “buron” tersebut. Bahkan pada masa “buron” tersebut, pengukuhan resmi dan pengangkatan Adah Djaelani Tirtapraja menjadi Imam/Presiden NII, justru terjadi.
 
Ali Moertopo memang sangat tahu dan paham, secara psikososial dan untuk menyulut emosi orang-orang macam Adah Djaelani dkk yang nantinya pasti justru makin bersemangat untuk melakukan perlawanan atau dalam melampiaskan kemarahan, kalau bisa mungkin akan melakukan pembalasan kepada dirinya dan ABRI, atas pengkhianatan dan jebakan yang telah ia jalankan tersebut.
 
Benar saja. Adah Djaelani dkk setelah mengukuhkan diri sebagai Presiden justru kemudian malah “ngumpet” dan berlindung dalam struktur KW-9 yang baru dibentuknya sendiri dan saat itu dipimpin oleh Seno alias Basyar. Setelah main petak umpet selama lebih kurang tiga tahun, KW-9 diringkus semuanya. Kecuali beberapa orang antara lain AS Panji Gumilang yang waktu itu ganti nama menjadi Prawoto alias Abdus Salam dan sempat melarikan diri ke negeri Sabah, Malaysia, sambil membawa kabur harta jama’ah.sebanyak Rp 2 Milliar.[17]
 
Pada tahun-tahun setelah pemberangusan NII dengan sandi “Komando Jihad” tahun 1977, hampir setiap tahun Ali Moertopo (Intelejen, ABRI) menangguk dan meringkus jaringan struktur NII yang dijalin dan dipeliharanya sendiri, sedikit demi sedikit. Tahun 1979-1980 dengan kasus teror Warman di Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Di Jawa Tengah, Abdullah Umar dengan perampokan gaji dosen UNS Solo (Universitas Sebelas maret). Di Jakarta, Adah Djaelani dkk dan elite KW-9 ditangkap Agustus tahun 1981, di Jawa Timur tahun 1982 ditangkap sebanyak 23 orang. Penangkapan berkala itu tidak pernah berhenti, hatta sampai ketika Ali Moertopo laknatullah tiba-tiba mampus mendadak.
 
Itu semua memang “proyek” ABRI yang sejak awal rezim Orde Baru eksis telah bermusuhan dengan NII serta Islam wal Muslimin, disamping untuk membangun opini bagi masyarakat, tentang pentingnya ketahanan Nasional, perlunya Asas Tunggal, betapa berbahayanya Islam fundamentalis serta segala macam gelar buruk dan menakutkan. Namun yang pasti adalah demi langgengnya kekuasaan dan posisi strategis mereka (Orde Baru) dalam struktur kemasyarakatan dan kenegaraan bangsa Indonesia.
 
Tahun 1984 sesaat setelah berhasil kaburnya Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir[18] ke Malaysia, gerakan Usrah-NII muda mulai diberangus, dimulai dari Solo dan Jogjakarta (Irfan Suryahardi Awwas[19] melalui kasus tabloid Ar-Risalah/Al-Ikhwan dan Ir. Syahirul Alim[20] dkk melalui kasus Pesantren Kilat), akhirnya meluas ke seluruh Jawa Tengah setelah bersamaan dengan meledaknya kasus Tanjung Priok (September 1984), Bom BCA (Oktober 1984), Bom Borobudur, Bom Gereja (sekolah seminari kristen) di Malang, serta Bom Bis Pemudi di Banyuwangi di penghujung tahun 1984. Itulah serangkaian keberhasilan Orde Baru di masa “kejayaan” Ali Moertopo laknatullah dan Benny Moerdani laknatullah dalam memposisikan ummat Islam untuk siap ke penjara dan atau dipenjarakan kapan saja mereka mau.
 
Seluruh aktivitas dan gerakan Islam seperti Abdul Qadir Djaelani dengan GPI-nya, Imran bin Zein dengan kasus Cicendo dan Woyla, Amir Biki dengan kasus Tanjung Priok, Nurhidayat dan Warsidi dengan kasus Talangsari (Lampung), Aceh maupun Ambon, dan yang lebih khususnya adalah NII, Komando Jihad serta Warman, sekali lagi perlu ditegaskan bahwa semuanya itu tak lepas dari cengkeraman dan genggaman intelejen/ABRI.
 
Jika pada masa kebangkitan kembali NII di bawah pimpinan Adah Djaelani dan seluruh jalur-jalur ke bawahnya, sangat dikuasai dan atau dalam genggaman intelejen/ABRI, maka apalagi yang mengaku NII pada masa kini! Logikanya adalah, jangankan NII yang tidak ada apa-apanya saat ini, NII di masa Kartosoewirjo saja tak mampu menolak kehadiran intelejen/TNI atau TRI, yang jaringan dan jalinannya kemudian membelit dan merusak citra TII, dengan sukses akhir berhasil meringkus pimpinan tertinggi NII Kartosoewirjo, dan menggiring sebagian besar pengikutnya bersujud ke pangkuan ibu pertiwi,[21] sampai dengan menanda-tangani surat pernyataan pengakuan bersalah kepada TNI-RI, menyalahkan NII termasuk kepada Kartosoewirjo sang Imam.
 
Akan halnya perkembangan NII yang nyaris berjalan tanpa pembinaan Tarbiyyah Islamiyah di dalamnya, tentu saja hal tersebut menjadikan masing-masing ummat atau anggota NII merasa bebas untuk melakukan pencerahan ilmu dan amal. Munculnya secercah kesadaran ini saja telah membuat porak-poranda struktur NII, maka terjadilah kemudian apa yang namanya perpecahan dalam NII.
 
Di awali oleh sikap Muhammad Sobari dkk melepaskan diri dari struktur kepemimpinan Adah Djaelani, disusul oleh Helmi Aminuddin (putra Danu Muhammad Hasan intelejen sipil binaan Ali Moertopo) yang kemudian bergabung dan menjadi agen gerakan Ikhwanul Muslimin qiyadah Sa’id Hawwa’ yang ketika itu bermukim di Iraq. Sedangkan Haji Karim Hasan dan kawan-kawan mengambil sikap dan jalan yang berlainan pula.
 
Dari perpecahan itu akhirnya masing-masing kubu berjalan saling menolak, bahkan menafikan. Pak M. Sobari berkiprah melalui aktivitas dakwah dan akhirnya memiliki komunitas kelembagaan bernama Thoriquna. Sedangkan Helmi Aminuddin berkiprah dengan manhaj Tarbiyah Ikhwanul Muslimin.
 
Haji Abdul Karim Hasan menempuh jalan lain melalui aqidah (paham) yang sesat dan menyimpang, yaitu aliran Isa Bugis, akhirnya berhasil membangun komunitas LK (Lembaga Kerasulan) yang kemudian menjadi NII KW-9 atau NII Abu Toto.
 
Akhirnya Abu Toto menjadi Imam NII faksi Adah Djaelani Tirtapraja setelah menerima posisi jabatan Imamah dalam NII atas penyerahan Adah Djaelani. Sejarah NII struktural (sabilillah) pun akhirnya kembali terpecah, namun komposisi penguasaan lapangan, tercatat NII Abu Toto Abdus Salam AS Panji Gumilang boleh dibilang lebih menonjol (mayoritas) dibanding faksi lainnya.

E. Perkembangan Ma’had Al-Zaytun
Syahdan, untuk pertama kalinya dalam proses belajar mengajar di Al-Zaytun berjalan "tertib, lancar dan disiplin", para santri terlihat sangat patuh pada peraturan pesantren, bahkan kepatuhan anak-anak tersebut terkesan berlebihan dalam satu sisi namun kurang pada sisi lain. Hal yang berlebihan adalah, para santri memiliki kepatuhan yang demikian tinggi kepada aturan dan disiplin pesantren maupun para asatidz (guru) serta para pengurus Yayasan, sementara kepatuhan dan disiplin akhlaq serta peribadatan, ternyata sama sekali tidak ditanamkan.
 
Akibatnya, di dalam pelaksanaan shalat berjama'ah sangat terlihat, betapa masalah yang sebenarnya sangat fundamental ini ternyata dilaksanakan secara "serba asal".
 
Demikian pula disiplin dan tertib pergaulan antara santri putra-putri, tidak ada batasan (hijab) sama sekali. Bebasnya dalam berhubungan antara santri putra-putri, menjadi pemandangan yang biasa di lingkungan Al-Zaytun, seperti sengaja tidak mendidik para santrinya untuk mencapai tingkat penguasaan nilai-nilai akhlaq al karimah-keshalihan.
 
Sudah sejak awal antara santri putra-putri dibiasakan bergaul bebas dalam proses belajar di satu ruang kelas, bercanda-ria setelah shalat di lingkungan asrama yang tidak ada dinding pembatas sama sekali, bahkan di gedung Al-Musthafa lantai I khusus putra, lantai II separoh putra separoh putri tanpa ada dinding pembatas/hijab.
 
Makan dan jajan berbaur bersama-sama di kantin, dan banyak lagi kejadian-kejadian "tak wajar" yang penulis perhatikan bila itu diukur dengan standar pesantren Islami.
 
Bahkan, para pengajarnya (asatidz dan asatidzah) terlihat seperti memberi contoh yang tidak lazim untuk dilakukan di lingkungan pesantren (seperti makan bakso, ngobrol dan bercengkerama bersama di kantin).
 
Praktis yang memisahkan hubungan santri putra-putri itu ketika saat istirahat atau tidur saja, itu pun masih cukup rentan, karena letak asrama antara santri putra-putri nyaris bisa dikata sama sekali tidak ada dinding pemisah.
 
Kurangnya disiplin para santri terhadap tata nilai (akhlaq) dan pranata {syari'ah) dalam perkara 'ubudiyah maupun mu'amalah tersebut, pada akhirnya menjadikan mereka terjebak pada sikap dan tindakan menyia-nyiakan (melalaikan) shalat, bukan pada pelaksanaan secara berjama'ahnya, akan tetapi benar-benar menganggap sepele terhadap arti dan pelaksanaan shalat secara lahiriyah.
 
Pada awal pembelajaran dilaksanakan, doktrin kepatuhan, mempercayai para asatidz dan Syaikh ma'had serta para pengurus Yayasan sebenarnya sudah mulai ditanamkan, namun tidak dilengkapi dengan menanamkan kesadaran beriman dan ber-Islam. Sering dijumpai oleh banyak penziarah (pada masa awal dahulu) jawaban yang aneh dan mengagetkan siapa pun, ketika pertanyaan tentang shalat diajukan kepada mereka.
 
Ketika tiba waktu Ashar, para santri yang bermain tidak menunjukkan tanda-tanda bersiap-diri untuk melaksanakan shalat ke Masjid secara berjama'ah, sebagaimana kebiasaan yang lazim berlaku di lingkungan pesantren mana pun, padahal suara adzan telah terdengar dikumandangkan.
 
Sampai lebih dari satu jam kemudian, mereka masih juga belum shalat. Ketika hal tersebut ditanyakan kepada mereka, dijawab dengan enteng dan diplomatis: "Kan sudah ditanggung Imam…” [22]
 
Atau, jwaban seperti ini: "Sekarang kan masih periode Makkah…” Jawaban yang seperti ini juga yang sering diberikan oleh para pegawai atau karyawan Ma'had Al-Zaytun.
 
Yang juga terlihat oleh penulis, para petugas keamanan (Tibmara dan Garda Ma'had) maupun pekerja bangunan terlalu asyik dengan tugasnya masing-masing. Dari mulai sebelum masuk waktu shalat Ashar tidak ada tanda-tanda menghentikan aktifitas mereka untuk melakukan shalat, hingga waktu menunjukkan pukul 17.15.
 
Begitu usai bekerja, ternyata tidak ada seorang pun yang mampir ke masjid al-Hayat, akan tetapi terus pulang ke asrama atau mess karyawan yang letaknya bersebelahan dengan kompleks bangunan pesantren.
 
Di balik "kemegahan" Al-Zaytun ternyata masih tetap menyimpan berbagai masalah, baik masalah sosial maupun agama. Warga di empat desa yang mengitarinya sudah banyak yang mengeluh. Apalagi mereka mendapati banyak "keganjilan" yang selalu disuguhkan oleh komunitas ma'had, seperti terlihatnya para pekerja bangunan yang tidak shalat, begitupun mengenai praktek shalat masbuq yang berbeda (melanggar) ketentuan.
 
Bahkan warga pernah menyaksikan, ada di antara para pengurus Yayasan Ma'had Al-Zaytun yang seusai buang air kecil (kencing) tidak beristinja' (tidak berbasuh alias tidak cebok). Itu terjadi pada saat melakukan pengukuran tanah warga yang akan dibeli. Ketika hal itu ditanyakan oleh salah seorang warga, pengurus Yayasan/Ma’had Al-Zaytun menjelaskan bahwa sekarang ini kondisinya sedang berjuang dan sifatnya darurat.
 
Berdasarkan hasil penelitian penulis ke rumah-rumah warga di sekitar lokasi Ma'had Al-Zaytun berada, keresahan warga terhadap keberadaan ma'had dengan komunitasnya tidak bisa dielakkan. Ini pertanda bahwa kehadiran Ma'had Al-Zaytun sama sekali tidak membawa dampak positif bagi warga di sekitar lokasi.
 
Harapan Siti Puji Rahayu yang dimuat pada majalah Al-Zaytun edisi 9-2000 agar keberhasilan Al-Zaytun akan merembet ke masyarakat, rasanya tidak akan terpenuhi. Setetelah penulis langsung menangkap kesan dari masyarakat sekitar ma'had, ternyata harapan seperti itu bagai pungguk merindukan bulan.
 
Begitu pula usulan agar ditumbuhkan kehidupan masyarakat di sekitar ma'had yang lebih baik, dapat dipastikan tidak akan pernah terwujud. Karena, walaupun Ma'had Al-Zaytun mempunyai banyak jenis kegiatan (pekerjaaan), tapi hal itu sama sekali tidak melibatkan masyarakat di sekitar.
 
Yusnanto (nama samaran) menuturkan, "Dulu, waktu pertama pembangunan saya pernah melamar kerja ke Al-Zaytun. Saat itu saya berpikir, apa salahnya orang desa turut bekerja setelah melihat begitu besarnya proyek pembangunan.” Sayang, keinginan Yusnanto itu tidak terwujud. Ia memperoleh jawaban dari pengurus Al-Zaytun agar membuat permohonan izin terlebih dahulu dan mengurusnya ke Jakarta, karena seluruh proyek pekerjaan Ma’had dikoordinir oleh ABRI.[23] Merasa dirinya ditakut-takuti, akhirnya Yusnanto membuang harapannya untuk bekerja di sana.[24]
 
Memang, komunitas Ma'had Al-Zaytun sangat lain dari yang lain dan terkesan eksklusif (tertutup). Seperti penuturan seorang warga, "Saya menjadi heran ketika teman saya sudah masuk menjadi komunitas Al-Zaytun, tiba-tiba teman itu sudah tidak nampak lagi batang hidungnya. Padahal ketika sama-sama beermain dia sangat akrab.”
 
Kini bila berjumpa dia selalu membuang muka seakan-akan tidak pernah kenal. Bila disapa hanya berkata: "Eh, kamu." Setelah saya selidiki, ternyata teman saya itu katanya sudah berbai'at. Pantas saja. Bahkan sekarang ini dia seakan telah menganggap saya sebagai musuh."
 
Kejadian tersebut membuat saya jadi berpikir yang tidak-tidak, "Apakah orang Al-Zaytun ini kumpulan orang-orang teroris?”
 
Tidak satu-dua kejadian saja yang membuat bingung masyarakat. Menurut pengakuan Isman (nama samaran), pernah pekerja ma'had berkata kepadanya bahwa dibangunnya Al-Zaytun adalah dalam rangka membangun Madinah kedua.[25]
 
Sikap tertutup (eksklusif) juga terlihat ketika mengadakan shalat Jum'at. Menurut pengalaman Jayadi (bukan nama sebenarnya) ketika ia hendak mengikuti shalat Jum'at di Al-Zaytun ternyata terlebih dahulu harus izin ke satpam dengan menyerahkan KTP. "Bagaimana ini, aturan bermasyarakat mereka ternyata tidak umum pelaksanaannya. Yang namanya shalat itu, bukankah boleh dilakukan di mana saja tanpa adanya larangan apapun."
 
Ditambahkannya, ternyata pihak Al-Zaytun juga kurang peduli terhadap para pekerja bangunan. Ketika ada peristiwa karyawan meninggal karena jatuh dari lantai tingkat ketika kerja, jenazahnya langsung dimasukkan ke sebuah mobil box lalu berangkat begitu saja, tanpa ada prosesi pemandian jenazah terlebih dahulu. Kemudian dibawa keluar lingkungan Al-Zaytun tidak tahu diantar entah kemana, dan itu terjadi berulang kali. Namun kini Al-Zaytun sudah memiliki mobil ambulance sendiri.
 
Bahkan bila melihat kehidupan rumahtangga para pekerja Al-Zaytun yang berada di tengah-tengah komunitas warga desa Suka Slamet, masyarakat desa Suka Slamet sampai sempat menilai mereka itu seperti tanaman bonsai. Mereka diharuskan hidup prihatin, siap menanggung segala penderitaan hidup. Makan hanya dengan lauk krupuk, bersayurkan kangkung rebus dan sedikit ikan asin namun memiliki pendirian, itu sebagai perwujudan dari sikap dan kesiapan jihad setiap saat.
 
Ketika saya tanyakan kenapa sampai seperti itu, para istri mereka hanya menjawab: "Memang beginilah hidup dalam perjuangan, harus kuat dalam ujian dan cobaan kesederhanaan" Namun ketika ditanya perjuangan apa yang sedang diusahakan, mereka lantas terdiam dan tidak menjawab apa-apa. Karena memang ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Gaya hidup seperti ini pada akhirnya memprihatinkan dan selalu menjadi pembicaraan warga sekitar.
 
Tanggapan tentang komunitas Al-Zaytun serta implikasinya bagi warga desa Suka Slamet juga ditunjukkan Sabar Sembiring. Ia menjelaskan bahwa antara masyarakat dan komunitas Al-Zaytun terdapat kesenjangan hubungan yang sangat jauh sekali.
 
Maksudnya, tidak ada dan tidak terjadi komunikasi sedikit pun. Karyawan yang tinggal di lingkungan warga tidak mau bermasyarakat. Mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam lingkungan pedesaan. Yang sebenarnya para karyawan itu sendiri banyak sekali yang dari pedesaan. "Memangnya kita ini dianggap apa sich?" Demikian ungkapnya.[26]
 
Sabar menambahkan, bahwa sikap arogan selalu ditonjolkan, komunitas ma'had selalu sulit untuk diajak dialog. Padahal dialog adalah sarana komunilasi yang amat penting. Dalam setiap kesempatan acara musyawarah di desa mereka tidak mau hadir, selalu ada saja alasan untuk mengelak. Kalau ada ketegangan di antara kedua komunitas itu, pihak Al-Zaytun selalu mengumbar kata-kata. "Silahkan saja berdemo siapa sich yang berani!"
 
Jauh sebelumnya pun, untuk membungkam keberanian warga, dibuatlah berbagai isu yang disebar di lingkungan warga, yang isinya menerangkan bahwa Syaikh Ma'had Al-Zaytun adalah seorang Jendral. Itu terbukti dengan ditempatkannya beberapa militer aktif sebagai Tibmara (Ketertiban, Keamanan dan Kesejahteraan) Al-Zaytun. Sesungguhnya kekurang-beranian warga untuk berdemo bukan karena takut kepada petugas, tetapi warga merasa takut kualat terhadap ajaran Rasulullah bila mendemo pesantren.
 
Diskriminasi juga dirasakan, ketika warga dilarang berdagang di sekitar lokasi Al-Zaytun. Tetapi uniknya, kalau ada perlu sama warga, pihak Al-Zaytun dalam berbicaranya selalu mengatasnamakan kepentingan masyarakat. Seperti kejadian yang menimpa para tukang ojek, mereka dimintai shadaqah satu sak semen kemudian ditukar dengan satu topi yang ada lambang YPI-nya. Dari kejadian tersebut muncul kesan-kesan negatif dari warga. Di antara mereka ada yang nyeletuk, "Belum menjadi negara saja sudah pelit, apalagi kalau sudah menjadi negara."
 
Mantan Lurah Desa Mekar Jaya pun pernah berkomentar, "Yang semakin menambah kesal hati warga adalah ketika menyaksikan tidak ada upaya dari aparat pemerintah maupun komunitas Ma’had Al-Zaytun untuk membangun sumber daya warga desa di sekitar ma'had."
 
Mantan Lurah tersebut mengumpamakan, minimal bagaimana misalnya pemerintahan desa mengupayakan agar bisa menitipkan anak yatim piatu atau fakir miskin yang memiliki kepandaian setiap satu desa satu anak untuk mendapatkan pendidikan di Al-Zaytun, sebagai "pelipur lara" warga. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, aparat desa malah membela kepentingan ma'had. "Tidak ada kata gratis masuk ke Ma'had Al-Zaytun," demikian ungkapnya." [27]
 
Dengan nada geram, Sabar Sembiring menambahkan bahwa seluruh kejadian-kejadian tersebut menunjukkan bahwa kehadiran proyek pembangunan pesantren Al-Zaytun tidak membawa manfaat sama sekali bagi warga. Semenjak berdirinya hingga sekarang, pihak manajemen ma'had belum pernah menyetorkan pajak."
 
Seorang tokoh masyarakat mencoba terus menasehati warga agar tidak lagi menjual tanah mereka ke Ma'had, walaupun sampai sekarang ini pihak Al-Zaytun masih bersedia membeli tanah warga. Peristiwa pahit yang dialami beberapa warga akibat perlakuan dzalim pihak Al-Zaytun benar-benar dijadikan pelajaran, seperti kasus yang menimpa seorang warga yang menyewa tanah garapan milik Al-Zaytun, sesudah peristiwa pahit yang dialami Pak Sama, ketika ia berurusan dengan pihak Al-Zaytun. Sampai meninggalnya ia tidak mendapatkan ganti tanah yang dijanjikan pihak Al-Zaytun. Di samping itu warga sudah mulai berpikir realistis, "Kalau terus-menerus tanah dijual ke Al-Zaytun, lalu kami mau tinggal di mana dan akan bekerja apa?" Demikian ungkap mereka.
 
Seluruh temuan di lapangan tentang bagaimana sikap warga sekitar terhadap Al-Zaytun, pernah penulis coba “konfrontasikan” dengan berita yang ada di majalah Al-Zaytun[28].
 
Pada majalah tersebut diinformasikan tentang upaya pihak Ma'had Al-Zaytun meluruskan pandangan yang keliru dan rumor-rumor yang beredar di kalangan masyarakat. Antara lain pada majalah itu dimuat hasil tatap muka antara Ma'had Al-Zaytun dengan Fraksi TNI-Polri DPRD Indramayu. Dalam pertemuan itu pihak Al-Zaytun mencoba menjelaskan kerjasama antara Ma'had Al-Zaytun dan masyarakat Haurgeulis.
 
H. Imam Suprianto menuturkan: "Selama ini Perkhidmatan Kesehatan Ma'had Al-Zaytun telah pun mengadakan pelayanan konsultasi pengobatan gratis kepada masyarakat kurang mampu. Tidak kurang dari 200 orang per hari datang ke Perkhidmatan Kesehatan Ma'had Al-Zaytun termasuk di antaranya warga sekitar kecamatan Haurgeulis yang terdiri dari 16 desa. Selain itu, ma'had juga telah memberi kesempatan kepada masyarakat sekitar untuk menggarap lahan wakaf yang sementara ini belum dimanfaatkan secara optimal. Dan hasil pertaniannya dibeli oleh Ma'had Al-Zaytun. Bahkan, dapur Ma'had Al-Zaytun telah pun bekerjasama dengan beberapa pedagang sayuran yang mensuplai kebutuhan dapur karyawan."[29]
 
Dalam kesempatan tatap muka tersebut H. Imam Suprianto juga memaparkan bahwa kehadiran Al-Zaytun mendongkrak perekonomian warga sekitar. "Sejak beradanya ma'had, banyak karyawan dan tamu yang menggunakan jasa transportasi ojek motor yang menjadi mata pencaharian sebagian warga. Juga, 3.000 karyawan ma'had yang menyewa rumah-rumah penduduk tempatan sekitar ma'had: Haurgeulis, Desa Gantar dan Desa Suka Slamet. Tentu saja, hal itu menjadikan lahan pencaharian bagi warga di sekitar ma'had." [30]
 
Namun dalam kenyataannya paparan “angin surga” itu oleh warga desa Suka Slamet, desa terdekat dari lokasi Ma'had Al-Zaytun, dibantah mentah-mentah. Dengan serta-merta warga menjawab, “Itu tidak benar. Yang benar adalah yang kami rasakan hari ini, yaitu sebuah keprihatinan yang mendalam, kami tidak pernah diuntungkan dengan kehadiran Al-Zaytun. Berita yang ada di majalah adalah upaya klise pihak Al-Zaytun untuk melindungi dirinya supaya tetap eksis di mata orang luar.”
 
Ketika ditanyakan kepada warga tentang pernyataan Syaikh ma'had berkenaan dengan pembagian daging qurban kepada warga sekitar, sebagaimana yang dipublikasikan melalui majalah Al-Zaytun edisi perdana, warga pun langsung menjawab, “Suatu kebohongan bila Al-Zaytun dalam kesempatan Iedul Qurban menyatakan telah membagi-bagikan daging sembelihan Qurban kepada masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar ma'had yang mana yang dimaksud mendapatkan pembagian daging qurban dari Ma'had Al-Zaytun tersebut? Pernyataan itu jelas bohong! Kalau yang dimaksud sebagai masyarakat sekitar ma'had itu adalah para karyawan ma'had sendiri yang tinggalnya saja di desa sekitar ma'had, itu mungkin saja, tapi bukan kepada masyarakat sekitar ma'had di luar komunitas Ma'had Al-Zaytun,” tandas warga seraya menunjukkan kekesalannya.
 
Salah seorang anggota tim investigasi SIKAT[31] punya pengalaman menarik tentang Syaikh Al-Ma’had Al-Zaytun (ABU Toto alias AS Panji Gumilang), saat berkunjung ke Al-Zaytun. Syaikh Al-Ma'had ketika itu disertai oleh para staf yang semuanya berpakaian resmi ala pejabat. Ketika diwawancarai, ternyata Syaikh Al-Ma’had sangat bersemangat sekali menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan kehebatan Al-Zaytun, juga tentang dirinya sendiri.
 
Ketika diingatkan soal waktu shalat Ashar, bahkan setengah memohon ia minta kesempatan untuk menunaikan shalat Ashar kepada Abu Toto, Syaikh Al-Ma'had seakan tak peduli, beliau terus saja bercerita. Hingga akhirnya terpaksa anggota tim SIKAT ini mengulangi permintaannya untuk diberi kesempatan menunaikan shalat Ashar dengan setengah memaksa. Akhirnya kesempatan itu diberikan.
 
Menurut perkiraan, ia berharap bisa shalat Ashar berjama’ah dengan Abu Toto. Ternyata Abu Toto tidak turut pergi bersama-sama ke Masjid. Akhirnya anggota tim SIKAT baru menyadari tentang konsep “tarikush shalat” yang menjadi doktrin NII KW-9 Al-Zaytun. Mungkin isu santer bahwa Abu Toto NII KW-9 tidak shalat adalah benar, paling tidak termasuk melalaikan atau mengabaikan shalat sudah merupakan kebiasaan.[32]
 
Tak lama berselang, sejak setahun yang lalu terjadi perkembangan drastis. Semenjak beberapa tokoh tua (para sesepuh) NII seperti Adah Djaelani, Ules Suja'i, Ahmad Husen dan Idris Darmin ditempatkan (muqim) dan tampil secara formal di Ma'had Al-Zaytun, pelaksanaan shalat berangsur normal. Sekali pun, yang penulis saksikan saat itu, terhitung dari jumlah penghuni ma'had yang dinyatakan sendiri oleh bagian informasi adalah sebanyak 6.250 orang, namun yang melaksanakan shalat di masjid Al-Hayat ternyata tidak ada separuhnya. Kemanakah para santri dan para petugas Ma'had Al-Zaytun yang lainnya?
 
Ternyata di antara sebagian santri masih berada di asrama dan sebagian besar para pegawai dan pekerja bangunan tetap aktif dan asyik dengan pekerjaannya masing-masing. Memang dalam rumor yang berkembang menyatakan bahwa shalat jama'ahnya komunitas Ma'had Al-Zaytun adalah dilakukan secara bergilir. Wallahu a'lam.
 
Akan tetapi masalah pergaulan atau bercampurnya santri putra dan putri dalam proses belajar berada di satu ruang kelas, masih tetap berlangsung dan tidak mengalami perubahan, hingga sampai sekitar bulan Agustus tahun 2000 baru mulai ada penertiban untuk memisahkan ruangan belajar antara santri putra dengan putri. Namun tidak untuk para asatidz dan asatidzahnya. Bahkan penulis pun sempat menyaksikan ada tiga wanita dewasa (akhwat) keluar dari komplek bangunan gedung yang sedang dikerjakan, padahal kawasan itu bukan termasuk daerah yang dibenarkan untuk golongan akhwat berada di situ, termasuk larangan bagi para tamu akhwat.
 
Kini suasana yang terlihat ketika penulis berkunjung ke Al-Zaytun medio Januari 2001, kemegahan yang dahulu dielu-elukan, kesuburan tanaman serta keasrian lingkungan maupun kebersihannya yang mempesona banyak orang itu, ternyata sudah mulai memudar.
 
Pohon-pohon kurma yang dibanggakan itu kini tampak tak terawat, daunnya mengering sebagian, demikian pula pohon jati emas yang umurnya 1,5 tahun justru tampak meranggas, daunnya menguning dan dimakan hama, padahal pohon-pohon jati emas yang ada di lingkungan luar Al-Zaytun justru subur menghijau dengan segarnya.
 
Pohon lindung dan rerumputannya pun terlihat kurang terawat, kesan indah dan asrinya pun nyaris tinggal sisa. Dari area kebun dan tanaman jati luasnya lebih satu hektar, terlihat hanya satu orang pekerja yang tampak duduk kecapaian sambil menenteng jerigen air minum, tidak nampak pula petugas kebersihan yang siap sapu bersih kotoran atau sampah dedaunan yang jatuh sejak siang sampai sore, sebagaimana yang penulis saksikan hingga pukul 17.15 saat itu.
 
**
 
I
nvestigasi dan tabayyun terhadap Al-Zaytun sudah dilakukan banyak pihak. Bagi kalangan awam, aparat Al-Zaytun dengan mudah bisa mengatasi (meng-counter) informasi “miring” seputar A-Zaytun yang didapatnya. Salah seorang wali santri yang pernah bersedia memberikan Buku Raport (Daftar Nilai Hasil Evaluasi Belajar santri Ma'had Al-Zaytun) kepada Penulis, ketika melakukan tabayyun sehubungan dengan informasi “miring” yang diperolehnya dari media massa, antara lain mendapat jawaban sebagai berikut:
 
"Apa yang diungkapkan oleh mereka yang mengaku sebagai insan pers itu bohong belaka, bagaimana tidak bohong, mereka itu sebenarnya wartawan media Asing, Australia. Mana mungkin bisa mengerti tentang Al-Zaytun dan segala keterkaitannya?"
 
Bahkan mereka yang berlatar belakang aktivis NII (dari faksi lain), ketika melakukan tabayyun atau ingin protes ataupun mungkin lebih dari itu, bisa begitu mudah di atasi oleh aparat Al-Zaytun. Semuanya hampir dapat dikatakan menemui kegagalan. Justru mereka semua itu akhirnya malah simpati dan terdiam lantas manggut-manggut dan mungkin pula akhirnya menurut serta kembali yakin, bahwa Al-Zaytun dan Abu Toto alias AS (Abdus Salam) Panji Gumilang adalah baik-baik saja, sebagaimana halnya orang Mukmin lainnya.
 
Kenapa bisa demikian? Karena Abu Toto AS (Abdus Salam) Panji Gumilang mampu menciptakan bebagai alasan (penjelasan) yang masuk akal dalam menjawab pertanyaan dan protes kalangan NII, apalagi secara materi pada dasarnya mereka telah ikut berperan-serta[33] menyumbang tegaknya Al-Zaytun. Apalagi kini di Al-Zaytun bercokol figur senior (orangtua) NII, seperti Adah Djaelani Tirtapradja, Ules Suja'i, Ahmad Husein Salikun, Idris Darmin dan lain-lain.
 
Adah Djaelani dan Ules Suja'i bertugas menghadapi jama'ah NII yang berasal dari kawasan Jawa Barat, Ahmad Husein Salikun alias Pak Nur untuk menghadapi jama'ah NII yang berasal dan Jawa Tengah, sedang Idris Darmin untuk menghadapi jama'ah NII yang berasal dari Jawa Timur, dengan jawaban diplomatis yang khas dan seragam:
 
"Semua isu yang beredar dan berkembang, itu sama sekali tidak benar, semuanya di sini berjalan sebagaimana yang berjalan dalam Islam seperti yang kita fahami. Al-Zaytun ini milik kita bersama yang kita usahakan sejak dahulu, untuk kejayaan kita, kejayaan Islam. Tidak usah ribut-ribut, mari kita musyawarahkan bersama-sama di sini, mana yang kurang baik perbaiki, yang sudah baik dukunglah dan kembangkan, di sini ada Pak Adah, ada Pak Ules dan yang lain, jangan khawatir. Toto sudah usaha dan bekerja keras membangun ini semua demi perjuangan kita, tolong mengertilah semuanya."
 
Demikian pula halnya tentang keberadaan beberapa orang guru yang dinyatakan oleh Al-Zaytun berasal dari Pondok Modern Gontor, sebagai bentuk bukti adanya kerjasama antara lembaga pendidikan Al-Zaytun dengan lembaga pendidikan Pondok Modern Gontor.
 
Namun setelah hal tersebut diketahui oleh pimpinan PM Gontor, oknum-oknum guru yang mengaku berasal dari PM Gontor tersebut diperingatkan, agar jangan mengkaitkan nama PM Gontor dengan Al-Zaytun, karena secara kelembagaan PM Gontor belum pernah menandatangani MoU (Memorandum of Understanding) dengan Ma'had Al-Zaytun.
 
Akhirnya sebagian oknum guru eks PM Gontor tersebut mengundurkan diri dan sebagian lainnya masih tetap menjadi pengajar di Al-Zaytun. Dan menurut penuturan para asatidz PM Gontor, Penulis melakukan konfirmasi tentang ada tidaknya kerja sama dengan Al-Zaytun tersebut, sewaktu para alumnus PM Gontor ada dan sempat menjadi pengajar di Ma'had Al-Zaytun tersebut nama-nama mereka diganti semuanya, dan sekarang nama-nama asatidz dari alumnus Gontor semuanya sudah dihapus dalam seluruh file dokumen santri dan pengajar Al-Zaytun.
 
Kemunculan gugatan maupun hujatan oleh berbagai pihak dan kalangan yang meledak di mana-mana terhadap keberadaan NII KW-9 Abu Toto yang sangat meresahkan banyak orang dari berbagai kalangan ini, membuat Ma'had Al-Zaytun melakukan perubahan penampilan dan mungkin saja berbagai jurus kamulflase alias taqiyah sekarang telah disusun dan dilancarkan secara apik.
 
Kini, Abu Toto AS (Abdus Salam) Panji Gumilang berusaha memperkuat lobby dan jaringannya di kalangan Eksekutif maupun Legislatif Pemda Dati II Indramayu, guna mendapatkan dukungan dan sekaligus perlindungan.
 
Upaya-upaya serupa juga dilakukan terhadap tokoh-tokoh politik dan masyarakat serta Ormas maupun Majelis Ta’lim, mantan tokoh Orde Baru maupun ICMI serta artis. Dengan memanfaatkan ketidaktahuan mereka atas sepak terjang dan hakikat yang sebenarnya tentang Al-Zaytun, AS (Abdus Salam) Panji Gumilang dan keterkaitannya yang erat dan menyatu dengan Abu Toto, NII KW-9 maupun NII Adah Djaelani.
 
Ketidaktahuan plus kejahilan umat terhadap Islam, serta teramat lemahnya sikap dan daya kritis umat Islam kepada apa yang namanya penyimpangan, kesesatan maupun penyesatan dalam ber-Islam membuat mereka malah akhirnya menjadi target dan sasaran empuk program penipuan Abu Toto. Hanya dengan modal proposal serta tutur kata manis dan taburan Firman Allah (Al-Qur'an), Sunnah dan Sierah Nabi SAW, membuat banyak orang yakin dan percaya tanpa reserve, bahkan hanyut dalam ajakan Abu Toto AS (Abdus Salam) Panji Gumilang, berpartisipasi melakukan investasi akhirat melalui YPI dan Ma'had Al-Zaytun.
 
Umat kebanyakan memang sama sekali tidak tahu, modal awal YPI dan Ma'had Al-Zaytun adalah hasil dari penipuan dan pemerasan terhadap umat (khususnya jama'ah NII KW-9 dan KW yang lain yang jumlahnya ratusan ribu orang), dan juga hasil menyelewengkan dana zakat, infaq, qurban dan shadaqah.
 
Menurut penuturan mantan Mas’ul Jakarta Timur, Abu Hammas, setiap bulan ia mampu mengumpulkan dana dari umat sebanyak Rp 700.000.000 (tujuh ratus juta rupiah). Dan itu berjalan mulus hingga sekitar hampir 4 tahunan.
 
Abu Hammas menghentikan pemerasannya atas umat, tatkala Allah menyadarkannya melalui pandangan mata kepalanya sendiri atas kesulitan, kesusahan dan penderitaan para jama'ah yang sebenarnya sudah berada di bawah garis kemiskinan, yang dengan susah payah, tetap setia menyerahkan setoran infaq ataupun shadaqah. Sementara dirinya sendiri dan Abu Toto malah bersenang-senang di atas penderitaan umat tersebut.
 
Menurut penuturan Abu Hammas, ini jelas sama sekali tidak sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW. Akhirnya Abu Hammas memutuskan keluar dari NII KW-9 dan taubat. Kini setelah 5 tahun bertaubat Abu Hammas masih belum bisa melepaskan trauma serta penyesalannya atas kesesatan dan penyesatan yang dilakukannya dalam NII KW-9 yang kenyataannya telah banyak menipu serta menyengsarakan umat.
 
Bersama dengan ikhwan yang pernah punya posisi elite dan para mantan korban NII KW-9 lainnya, kini Abu Hammas dkk bergabung ke dalam SIKAT, untuk men-SIKAT habis gerakan sesat Abu Toto NII KW-9 Al-Zaytun hingga ke akar-akarnya! Menurut Abu Hammas, bila memang diidzinkan, ia siap untuk memisahkan kepala Toto dari badannya. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
 
Umat Islam harus kritis dan tidak boleh menutup mata terhadap keganjilan, penyelewengan serta kesesatan maupun penyesatan suatu pemahaman atau praktek keagamaan yang dijalankan Abu Toto dengan NII KW-9 (dan AS Panji Gumilang dengan Ma'had Al-Zaytunnya, pada hakekatnya kedua nama tersebut ada pada jati diri Abdus Salam bin Imam Rasyidi), yang kini memegang komando kepemimpinan tertinggi NII struktural jalur Adah Djaelani Tirtapradja.
 
Betapa besar kerugian, penderitaan, musibah yang ditimpakan kepada para pengikutnya dahulu. Coba dengarkan cerita maupun keluh-kesah mereka serta lihatlah dari dekat keberadaan mereka yang hancur dan berantakan secara materi (financial), futur dalam ibadah (syari'ah) maupun moral (akhlaqulkarimah). Patut disyukuri, masih ada di antara para korban itu yang lantas bangkit dan sadar kemudian menentang Abu Toto serta tetap istaqamah dalam Islam hingga kini.
 
Perkembangan pembangunan fisik Ma'had Al-Zaytun memang seakan terus berjalan tanpa henti, karena mendapat dukungan materi dan teknologi dari para simpatisannya. Tercatat, akibat ikut sertanya Habibie[34] selaku Presiden RI meresmikan berdirinya Ma'had Al-Zaytun ini, hingga saat ini jajaran Menpora (birokrat) telah melibatkan diri secara aktif --bahkan terlalu jauh-- atas pembangunan gedung sarana olahraga Ma'had Al-Zaytun, dengan menerjunkan tim Tehnik, Insinyur-insinyur lulusan Eropa/Amerika dan juga material serta dana.
 
Harmoko juga termasuk pendukung yang sering berkunjung ke Ma'had Al-Zaytun, bahkan melalui rubrik Kopi Pagi di Harian Pos Kota miliknya, ikut serta berpaitisipasi aktif mempromosikan Al-Zaytun sebagai kebanggaan umat Islam Indonesia. Bahkan dalam berbagai kesempatan, Harian Pos Kota memberitakan tentang keberadaan Ma'had Al-Zaytun dengan segala puji-pujian atas kemegahan Al-Zaytun dan kemodernan fasilitasnya, bagai promosi ataupun iklan gratis.
 
Awal Januari dan awal April 2001 lalu rombongan ICMI Pusat berkunjung ke Ma'had AI-Zaytun, langsung dipimpin oleh Adi Sasono selaku Ketua Umum ICMI. Dalam kunjungan tersebut dihasilkan kesepakatan kerjasama antara ICMI dengan YPI Ma'had Al-Zaytun sebagaimana laporan khusus Harian Umum Republika.
 
Ketika dikonfirmasikan bahwa Ma'had AI-Zaytun adalah sarang aliran sesat NII KW-9, Jimly Asshiddiqqie[35] mantan salah satu Ketua ICMI yang kini menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi mengatakan, “… kedatangan ICMI ke Al-Zaytun dalam rangka belajar terhadap keberhasilan dan kelebihan Al-Zaytun.” Lalu dengan nada tinggi dan emosional, seraya membela Al-Zaytun, Jimly Asshiddiqqie berkata, “Kita harus belajar dan memanfaatkan kelebihan ataupun potensi Al-Zaytun. Jumlah tanahnya saja 1.400 Ha, kemampuannya dalam menghimpun dana sejak jauh sebelum mendirikan Al-Zaytun sungguh luar biasa.”
 
Ketika ditanya dari mana dana tersebut diperoleh, ia menjawab, "Yah itu yang kami tidak menemukan jawabannya, karena sepertinya ditutup, tapi kan itu urusan dia (Al-Zaytun)."
 
Lalu atas dasar dan ukuran apa Jimly Asshiddiqqie berkesimpulan bahwa Al-Zaytun memiliki potensi besar dalam menghimpun dana. Bahkan, saat ditanya tentang pemberitaan pers selama ini tentang adanya keterkaitan Ma'had Al-Zaytun dengan isu NII, Jimly Asshiddiqqie menjawab seenaknya, "Memang ada isu dananya dari Libya ada dari mana-mana, tetapi seandainya itu benar, khan nggak apa-apa. Janganlah kita menyebarkan sikap cemburu, justru seharusnya kita menjalin kerjasama, daripada kita umat Islam selalu diadu domba, lebih baik kita saling memberi dan saling mendukung."
 
Puncaknya ketika dimintai pendapatnya sebagai seorang pakar hukum (tata negara) dan selaku salah satu ketua ICMI tentang bagaimana bila terbukti Ma'had Al-Zaytun menjadi sarang dari NII KW-9 Abu Toto sebagaimana diberitakan selama ini, Jimly Asshiddiqqie berubah emosi dan marah, lantas menyatakan kegusaran dan pembelaannya:
 
"Siapa yang membuktikan! Pengadilan dong yang membuktihan, jangan saling memfitnah itu, saya tidak suka itu, itu yang menghancurkan umat, dan orang yang seperti itu harus diperangi, menghancurkan umat Islam itu. Sudahlah itu kan kecurigaan, umat Islam tidak akan maju-maju kalau terus memelihara fitnah, sebaiknya saling kerjasama. Saya memang pernah dengar Syekh Panji Gumilang mantan orang NII, tapi khan itu dulu. Tapi khan tidak ada salahnya kita kerjasamanya dengan mantan NII. Kenapa sich dipersoalkan, banyak kok orang mantan Masyumi, PSI bahkan PKI tapi tidak ada yang persoalkan."
 
Sikap dan pernyataan Jimly selaku salah satu ketua ICMI seperti itu tentunya sangat memprihatinkan. Sedangkan media massa dan ormas Islam sudah sejak lama mencurigai keberadaan Al-Zaytun yang merupakan nama baru gerakan NII.
 
Panji Gumilang sama sekali bukanlah mantan NII, tetapi penerus dan pencetus Neo NII. Untuk itu Jimly seharusnya tahu tentang hal ini (kecuali Jimly pura-pura tidak tahu).
 
NII bukanlah isu, tetapi sudah merupakan momok bagi masyarakat Indonesia. Masalah yang terpenting adalah NII yang ditampilkan melalui Ma’had Al-Zaytun ini mengandung sejumlah cacat aqidah dan telah melakukan explorasi terhadap jama'ahnya dalam rangka mengumpulkan dana untuk membangun Ma'had AI-Zaytun serta menutupi biaya operasional ma'had tersebut.
 
Semua dana Ma'had Al-Zaytun yang diperoleh dari tetesan keringat umat Islam itu, sebenarnya merupakan upaya perampasan harta ummat Islam dengan dalih kepentingan Daulah Islam.
 
Donatur lain adalah Fuad Bawazier, yang disebut-sebut sebagai donatur aktif Abu Toto sejak ketika ia masih menjadi Dirjen Pajak dan tetap aktif hingga saat ini, bahkan menurut pengakuan pihak Al-Zaytun, Fuad Bawazier telah menyumbangkan dana sebesar satu miliar rupiah, termasuk di antaranya sikap dan dukungannya tersebut diwujudkan dengan dakwah membagi-bagikan Majalah Bulanan Al-Zaytun secara gratis kepada teman dan koleganya serta selalu memberikan pembelaan terhadap keberadaan Al-Zaytun maupun sosok Abu Toto.
 
Namun ketika hal ini dikonfirmasikan langsung kepada yang bersangkutan, Fuad Bawazier menjawab, "Memang saya pernah sekali ke sana, itupun bersama dengan kawan-kawan, saat peresmian Al-Zaytun bersama Pak Habibie. Soal sumbangan, nggak benar kalau jumlahnya sampai ratusan bahkan milyaran rupiah, saya nyumbang wajar-wajar saja. Dan saat itu saya nggak tahu kalau di balik Al-Zaytun itu ada masalah, baru belakangan ini saya tahu kalau Al-Zaytun terkait dengan aliran sesat NII KW-9.”
 
Donatur kuat lainnya adalah pengusaha Arab (Developer) bermarga Abdaat: Ghazie, Fauzie dan Jamal bersaudara, pemilik Hotel Nusantara Tanah Abang, tercatat tidak saja bertindak sebagai kontraktor pelaksana seluruh (sebagian besar) proyek pembangunan gedung di kawasan Ma'had Al-Zaytun sejak dari awal hingga sekarang.
 
Ghazie Abdaat memang alumnus Gontor, namun Jamal Abdaat yang tadinya sempat ragu terhadap ajaran Abu Toto dan kemudian ditugaskan oleh Pak Andreas (Isma'il Subardja) untuk memonitor segala perkembangan Al-Zaytun bersama Usamah (menantu Pak Adreas), akhirnya malah larut dalam kesesatan serta malah menikmatinya, Usamah kini mampu menjauhi kesesatan Abu Toto dan bau busuk Al-Zaytun dan bermukim dengan istrinya di Jogjakarta.
 
Bahkan sekarang, pengusaha Arab inilah yang akan membangun hotel di lingkungan Al-Zaytun, dan telah pula ikut serta mewakafkan tanahnya sebanyak 100 Ha kepada YPI untuk Al-Zaytun. Keluarga pengusaha arab ini pula yang akhirnya berhasil merayu salah seorang Imam Masjidil Haram untuk menyempatkan hadir ke Al-Zaytun di Indramayu dan menyerahkan sumbangan uang sebesar US$ 100 ribu.
 
Belum lagi kalangan jama'ah,[36] terhitung sudah sangat banyak yang tertipu dan bergabung dengan NII Al-Zaytun. Dalam menjelaskan pendirian KW-9 tentang periodesasi Makkah-Madinah, belum wajibnya shalat, harakat ramadlan, harakat qurban dan lain sebagainya serta tentang kerasulan setiap orang yang menjalankan misi dakwah dan lain sebagainya dinyatakan secara terang-terangan saat ditanya oleh salah seorang famili dekatnya.[37]
 
Kini eksistensi dan nama Al-Zaytun bagaikan merek dagang bagi pendidikan pesantren, sehingga karena ketidaktahuan umat, khususnya tentang latar belakang, apa dan siapa AS (Abdus Salam) Panji Gumilang Asy-Syaikh al-Ma'had Al-Zaytun, yang sebenarnya juga tokoh kontroversi di panggung sejarah NII struktural dan struktur KW-9 khususnya, tempat Abu Toto alias Toto Salam atau Abu Ma'ariq alias Syamsul Alam membuat sejarah dirinya menjadi AS Panji Gumilang. Sehingga di berbagai kota, seperti di Gresik, Jawa Timur, Ma'had Al-Zaytun didirikan dan merupakan cabang dari Ma'had Al-Zaytun Haurgeulis Indramayu.
 
Kini diberbagai kota, YPI (Yayasan Pesantren Indonesia) didirikan, bertindak sebagai perwakilan untuk penerimaan siswa atau santri yang akan dikirimkan ke Ma'had Al-Zaytun, Indramayu. Kalau saja mereka tahu "belang maupun borok serta penyakit dan virus” yang melekati Syaikh al-Ma’had Al-Zaytun, bisa dipastikan orang-orang tersebut segera meminta “imunisasi” kepada yang berwajib dan berlepas diri dari kaitan maupun keterkaitannya dengan Al-Zaytun. Kalau mereka tidak berlepas diri, dapat dipastikan mereka telah menjadi anggota aktif NII struktur Abu Toto alias Abdus Salam bin Imam Rasyidi (nama asli) alias Syaikh al-Ma'had Al-Zaytun AS Panji Gumilang.
 
Perkembangan struktur NII KW-9 sendiri setelah mendapat legitimasi "bathil" dari Adah Djaelani Tirtapradja, yang akhirnya menjadi kelompok terbesar di antara berbagai faksi (struktur) NII yang ada. Sebagai pengganti posisi Abu Toto di KW-9, setelah namanya berganti menjadi Panji Gumilang, saat ini NII KW-9 jalur Abu Toto dijabat oleh Agus alias Luqman, sedang jalur Tahmid dan Dodo KW-9 dipegang oleh Aos Firdaus. Sedangkan untuk jalur Ajengan Masduki dan Gaos Taufiq KW-9 dipegang oleh Mi'an Abdusy Syukur. Nama-nama tersebut sewaktu-waktu tentu saja bisa berganti, apalagi jika telah diungkap melalui buku ini.
 
Adapun secara gerakan, NII KW-9 pimpinan Abu Toto Abdus Salam Rasyidi alias AS Panji Gumilang, masih tetap menjalankan aksi penyesatan serta pemerasan terhadap umat Islam khususnya yang telah terjebak ke dalam struktur NII KW-9 yang berlanjut sampai sekarang, sebagaimana berdasarkan data bukti dan pengakuan salah satu korban yang baru saja menyatakan keluar dari NII KW-9.
 
Seorang wanita bernama Nur Diniyati (bukan nama sebenarnya), berumur 22 tahun, bekerja sebagai pramuniaga di Cijantung Plaza, Jakarta, pernah bergabung dan di-bai'at oleh Wilayah 9, Daerah (Hud) 6, Shaleh 3, Ibrahim 2, Musa 5, disingkat dengan kode (96325), sejak Oktober 1999. Setelah masuk ia diwajibkan membayar infaq Musyahadah sebesar Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah), lunas.[38]
 
Setelah itu diwajibkan membayar infaq pembangunan masjid Rahmatan lil'Alamin kompleks Madinah Al-Zaytun, Indramayu, sebesar Rp 1.000.000 (sudah dibayar Rp 500.000), membayar iddikhor (tabungan) setiap bulan Rp 10.000, membayar qiradl, baru sebanyak satu gram emas, membayar infaq bulanan (Nafaqah Daulah) sebesar Rp 50.000, membayar harakat Ramadlan, harakat Qurban dan yang lain secara cicilan (istimrar) termasuk di dalamnya infaq pembangunan, iddikhor, qiradl yang setiap bulan dikenakan sebanyak Rp180.000.[39]
 
Sesekali Dini mendapat pembinaan langsung oleh mas'ul dari Al-Zaytun. Ketika diketahui bahwa belum menikah, ada permintaan kepadanya bahwa bila ingin menikah jangan keluar, karena setiap wanita yang sudah masuk akan dijodohkan dengan mas'ul Al-Zaytun. Apabila thaat dan patuh serta setia kepada Madinah, akan diampuni Allah dari semua dosa. Namun apabila keluar dan melepaskan bai'at, maka kelak jika Negara Islam Indonesia berhasil ditegakkan, Negara akan menolak dan tidak bersedia menerima sebagai warga negara. Karena kenyataannya tidak dan belum pernah diberi pembinaan dan justru hanya diwajibkan ini dan itu, akhirnya Dini memilih untuk tidak aktif. Apalagi setelah ia mengikuti pengajian, masalah shalat tidak pernah dibahas sama sekali.

 
Footnote
[1] Hendropriyono semasih menjabat sebagai Menteri Koperasi dan Transmigrasi pernah meninjau Al-Zaytun dengan mengendarai pesawat sendiri (tanpa co-pilot dan ajudan). Di atas langit Al-Zaytun, Hendropriyono seperti terkesima, ia tidak yakin bahwa bangunan megah di bawahnya adalah pesantren Al-Zaytun, tempat dimana seharusnya ia mendarat. Akibatnya ia kebablasan hingga Cirebon. Kisah ini disampaikan KH A. Kholil Ridwan, Ketua BKSPPI, pada acara “Peluncuran Perdana dan Bedah Buku Pesantren Al-Zaytun Sesat” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 22 Juni 2001.
[2] Pelayanan laundry tidak gratis tetapi dikenakan bayaran, demikian juga dengan pelayanan lainnya seperti kesehatan dan sebagainya tidak ada yang gratis.
[3] Areal yang sekarang ditempati bangunan Ma’had Al-Zaytun (200 ha) sebelumnya adalah lahan produktif. Total lahan produktif yang dikuasai Al-Zaytun di Desa Mekar Jaya menurut penjelasan BPD (Badan Perwakilan Desa) Mekar Jaya adalah seluas 650 hektar
[4] Namun dalam kenyataannya Soeharto di saat masih aktif sebagai Presiden RI tercatat ikut pula memberikan sumbangan beberapa ekor sapi kepada Al Zaytun.
[5] Padahal sebagaimana pengakuan Adi Sasono yang juga dibenarkan oleh komunitas Al Zaytun, Abu Toto sudah sering mondar-mandir di Gedung BPPT sejak tahun 1996, ketika berkepentingan untuk menjelaskan rencana Ma'had Al Zaytun kepada dirinya saat itu. Baca Majalah Bulanan Al-Zaytun edisi 12-2000 hal. 113.
[6] Padahal kompleks Al-Zaytun sendiri baru dibangun dan berdiri dalam bentuk kompleks pemukiman setelah tahun 1998, dengan kronologi setelah akta pendirian YPI tertanggal 28-01-1994 terdaftar di kepaniteraan Pengadilan Negeri Subang, YPI mendirikan cabang di Kabupaten Indramayu, Kecamatan Haurgeulis, di Desa Mekar Jaya tersebut, tanggal 17-05-1995 dan terdaftar di kepaniteraan Pengadilan Negeri Indramayu pada tanggal 22-05-1995. Selanjutnya baru dibentuk Al-Zaytun dependen dari YPI, yang merupakan nama paten dari segala bentuk usaha yang diupayakan YPI di berbagai daerah dalam bentuk pesantren ataupun lainnya, dengan akta notaris tertanggal 13-08-1996 pada notaris yang sama, dan terdaftar di kepaniteraan Pengadilan Negeri Subang pada tanggal 16-08-1996. Sejak saat itulah person-person yang dijadikan ujung tombak YPI untuk mengatasi hal-hal yang berkaitan dengan jual-beli dan pengurusan status wakaf pada tanah-tanah masyarakat oleh YPI menggunakan Al-Zaytun sebagai alamat mereka, nama pondok pesantren yang mereka cita-citakan.
[7] Yang sebenarnya terjadi dalam kenyataannya tentu sangat bertolak belakang, karena berdasarkan keterangan para mantan korban NII KW-9 Pimpinan Abu Toto, program pembehasan tanah untuk mendirikan teritory Madinah NII kedua sudah dicanangkan sejak tahun 1993 oleh Abu Toto dengan nama sandi Shadaqah Arodhi yang ternyata banyak penyimpangan (korupsi) dalam program ini.
[8] Lihat Al Chaidar, Pemikiran Politik Proklamator NII SM Kartosoewirjo, Fakta dan Data Sejarah Darul Islam, Jakarta: Darul Falah, 1999. Juga buku lainnya, Sepak Terjang KW9 Abu Toto, Jakarta: Madani Press, 1999.
[9] Hampir seluruh pengikut Kartosoewirjo menyerah kepada RI, bahkan mengakui bahwa sikap politik NII sebenarnya salah menurut syari’at, kecuali beberapa kelompok resimen seperti resimen pimpinan H. Ismail Pranoto, yang baru turun gunung setalah tahun 1964 bersama Kamil.
[10] Ali Moertopo mendekati kalangan sisa-sisa NII melalui program santunan dana rutin setiap bulan serta modal kerja, awalnya melalui Ibrahim Aji (mantan Pangdam Siliwangi dalam bentuk suntikan dana bagi pengelolaan Gapermigas khusus untuk Adah Djaelani. Namun untuk selanjutnya bantuan disalurkan lewat GUPPI dan GAPERMIGAS. Akhirnya jadilah mereka sebagai kontraktor atau penyalur minyak serta SPBU. Selanjutnya mereka diminta untuk mengkonsolidasikan kekuatan NII. Saat itu Ali Moertopo masih menjabat Aspri Presiden yang selanjutnya menjadi WaKa BAKIN dan merangkap Komandan OPSUS ketika mendekati detik-detik digelarnya ‘opera’ rekayasa intelejen dengan sandi Komando Jihad di Jawa Timur. Yang perlu diingat, pada saat yang bersamaan di tahun 1971-1973 Ali Moertopo juga melindungi sekaligus menggarap Nurhasan Ubaidah, Imam Islam Jama’ah yang secara kelembagaan dinyatakan sesat dan terlarang oleh Kejaksaan Agung, malah dipelihara serta diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk melanjutkan kiprahnya dalam menyesatkan ummat Islam melalui lembaga baru LEMKARI (Lembaga Karyawan Islam) di bawah naungan bendera Golkar yang kemudian berganti nama lagi menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) yang berlanjut hingga sekarang.
[11] Danu M. Hasan, Panglima Divisi TII/NII sewaktu menjadi saksi dalam persidangan Kartosoewirjo menyatakan bahwa perjuangan senjata dan proklamasi NII adalah langkah yang keliru dan salah. Tokoh ini akhirnya menjadi sahabat Ali Moertopo dan terakhir tercatat sebagai intelejen sipil BAKIN saat Ali Moertopo sebagai WaKa BAKIN. Kedekatannya dengan WaKa BAKIN inilah yang membuatnya dipercaya lidah maupun pikirannya oleh Adah Djaelani dkk terutama ketika Danu M. Hasan menceritakan kesungguhan Ali Moertopo terhadap Islam serta kesiapannya memasok persenjataan dari Libya sebanyak satu kapal melalui pantai selatan Jawa. Kolaborasi ini akhirnya diberi nama sandi Komando Jihad, awal tahun 1977. Di sisi lain Danu M. Hasan juga ikut bermain dalam kasus perlawanan GPI (Gerakan Pemuda Islam) menentang Aliran Kepercayaan, KNPI, P-4, dengan cara memasukkan seorang infiltran bernama Suprapto. Suprapto diajukan oleh Danu M. Hasan bersama salah seorang aktivis GPI bernama Zainuddin Qari’ yang diaku sebagai iparnya dan anak tokoh DI yang perlu diajak ikut berjuang bersama di GPI. Ternyata infiltran intelejen ini berpangkap Letnan dari Satgas Intelejen Kopkamtib Laksusda Jaya. Lihat buku A. Qadir Djaelani, “Pemuda Islam Menggugat”, 1982.
[12] Najamuddin pernah menunjukkan KTA BAKIN atas nama dirinya kepada penulis.
[13] Hendropriyono memberitahukan rencana proyek (kasus) Talangsari, Way Jepara, Lampung tersebut kepada keluarga komunitas Jama’ah Imran, keluarga Yaqob Ishak yang terhitung sebagai teman dekatnya di SMA. Karena rencana dan persiapan perlawanan ummat Islam di Lampung itu sudah diketahui dan sudah disiapkan secara matang. Sayangnya, ketika masalah ini disampaikan kepada kelompok Jakarta, Nurhidayat dkk, mereka tidak menggubrisnya.
[14] Dari sumber terpercaya komunitas NII, yang kini aktif dalam Majelis Mujahidin.
[15] Baca Majalah Al-Zaytun Juni-Juli 2000, hal. 14.
[16] Peta medan maupun gerakan strategis intelejen militer sejak tahun 1996 s/d 2001 insya Allah dalam waktu dekat akan dibahas dalam buku tersendiri, agar buku ini tidak bergeser dan melebar dari topik, tujuan, kajian dan bahasan yang ditetapkan sebelumnya.
[17] Baca juga pengakuan Bapak Mohammad Soebari paba Bab II.
[18] Ustadz Abu Bakar Ba’asyir kini Ketua AHWA (Ahlul Halli wal Aqdi) Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
[19] Irfan Suryahardy Awwas kini Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
[20] Kini Aktivis Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
[21] Untuk lebih jelasnya silakan baca pengantar buku Al Chaidar “Sepak Terjang KW-9 Abu Toto,” yang ditulis oleh Mufry.
[22] Maksudnya Syaikh al-Ma’had Al-Zaytun, yaitu AS Panji Gumilang.
[23] Pernyataan itu menimbulkan dua kemungkinan. Pertama, untuk menakut-nakuti rakyat kecil seperti Yusnanto, agar tidak macam-macam. Kedua, memang benar-benar proyek yang dikoordinir ABRI.
[24] Wawancara penulis dengan Yusnanto, warga Suka Slamet, Haurgeulis, Indramayu, 14 Januari 2001.
[25] Wawancara penulis dengan Isnan, warga Suka Slamet, Haurgeulis, Indramayu, 14 Januari 2001.
[26] Wawancara penulis dengan Sabar Sembiring, warga Suka Slamet, Haurgeulis, Indramayu, 14 Januari 2001.
[27] Wawancara penulis dengan mantan Kepala Desa Mekar Jaya, Haurgeulis, Indramayu, 14 Januari 2001.
[28] Lihat Majalah Bulanan Al-Zaytun edisi V-Mei 2000, hal. 92-93.
[29] Ibid., edisi 10-2000, hal. 12
[30] Ibid.
[31] Kejadian itu berlangsung ketika ybs belum menjadi anggota tim investigasi SIKAT.
[32] Kesaksian Hidayat semasih menjadi awak MBM GAMMA, yang kini menjadi anggota tim investigasi SIKAT. Pada waktu itu ia ditemani Fitrie (Reporter MBM GAMMA), juga awak majalah SABILI, terdiri dari Eman (Reporter), Imam (Fotografer), mengunjungi Al-Zaytun awal Desember 1999.
[33] Investasi saham dalam bentuk tanah, karena banyak di antara berbagai jajaran NII yang secara tidak sadar terjebak program shadaqah aradhi (beli sawah) yang itu semua sebenarnya merupakan program dan gagasan KW-9 Abu Toto yang disetujui oleh Adah Djaelani, Ules Suja’i, dan Tahmid.
[34] BJ Habibie seusai meresmikan Al-Zaytun (27 Agustus 1999) dan setelah bertanya tentang asal-usul dana pendirian Al-Zaytun kepada AS Panji Gumilang, setengah berbisik ia mengatakan kepada salah seorang pembantunya bahwa dirinya menyangsikan penjelasan asal-usul dana yang disampaikan AS Panji Gumilang. Habibie sangsi, karena ia adalah ahli hitung. Ketika itu AS Panji Gumilang menjelaskan bahwa sumber dana pendirian Al-Zaytun antara lain dari infaq, shadaqah, sumbangan, hasil ternak dan pertanian. Menurut Habibie penjelasan itu tidak masuk akal. Bisa disimpulkan, bahwa keterlibatan Habibie meresmikan Al-Zaytun adalah akibat pengaruh orang-orang di sekitarnya.
[35] Jimly Asshiddhiqqie sendiri mengaku baru sekali mengunjungi Al-Zaytun, padahal sebenarnya menurut konfirmasi Penulis kepada Andy Jamaro tokoh PBNU saat ditemui dalam acara Shilaturrahmi Partai-partai Islam di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah menyatakan: “Saya sudah tiga kali mondar-mandir ke Al-Zaytun bersama Jimly dalam rangka penjajagan kerja sama proyek percontohan nasional dengan Al-Zaytun untuk mendirikan pesantren terpadu di kawasan Baturaja, Sumatera Selatan.”
[36] Istilah jama’ah digunakan kalangan keturunan Arab untuk menyebut “identitas etnis” mereka.
[37] Wawancara dengan Abu Isma’il, warga Kebon Kacang, Tanah Abang, medio Januari 2001 di Tebet, Jakarta Selatan.
[38] Wawancara dengan Nur Diniyati (nama samaran) asal Solo, 16 Desember 2000.
[39] Laporan pengaduan dari Bapak Suharto, orangtua korban jeratan NII Al-Zaytun kepada Penulis, Desember 2000.