Bab III : B. Beberapa Kesaksian

1. Oman Boman, Wakil Ketua Perguruan Mathlau’ul Anwar, Menes, Banten.
Awal kedatangan Abdus Salam ke Menes ini dalam rangka semacam KKN dari mahasiswa IAIN Ciputat, Jakarta. Tiba-tiba ia mendapat jodoh guru di sini, Khotimah namanya, cucu Pak Said salah seorang pendiri Mathla’ul Anwar. Sekitar tahun 1969 Abdus Salam menikah dengan Khotimah. Orangtua Abdus Salam diwakili oleh Bapak Suminto dari Jakarta. Sedangkan orangtuanya sendiri H. Imam Rosidi baru datang beberapa hari kemudian. Selanjutnya Abdus Salam menjadi guru Aliyah di Mathla’ul Anwar dan akhirnya malah sempat menjadi kepala ‘Aliyah disini. Abdus Salam sendiri di IAIN dari fakultas Adab.

Abdus Salam ini orangnya memang pinter ngomong, kalau dia sedang ngomik (bercerita, pen), ceritanya bisa seakan beneran gitu. Jadi kalau seandainya menghadapi Abunawas pun dia pasti bisa menghadapi.. Menurut saya Abdus Salam ini memang cerdas dan termasuk maju, karena dialah yang membawa kami kepada kitab-kitab seperti Subulus Salam, Fiqh Sunnah dan kitab-kitab Ibnu Taimiyah. Pada saat itu ketika pak Nafsirin Hadi yang pernah sempat pula menjadi PB (Pengurus Besar) MA pernah menyodorkan pemikiran aliran pemahaman al-Huda (Isa Bugis) maka Abdus Salam-lah yang paling kencang melakukan counter.

Dalam masalah politik, di sini kami memang kalau tidak PII, pasti ya GPI. Tahun 1973 kita pernah sukses di gedung MPR Senayan, tapi tahun 1978 kami malah ditangkap semuanya. Saya sendiri hanya mendekam sehari, sedangkan Abdus Salam dan Saleh As’ad ditahan di Pomdam Siliwangi sampai sekitar 8 bulan. Sejak peristiwa penangkapan itu Abdus Salam berhenti dari keanggotaannya di MA, karena saat itu memang saya menolak ketika Abdus Salam menyatakan hendak datang ke rumah saya setelah ia bebas dari tahanan.

Akhirnya yang saya tahu dia kemudian terus terlibat dengan gerakan politik dan tidak lagi berhubungan dengan saya maupun MA, tapi isterinya masih terus mengajar di sini. Memang sewaktu ada kasus tahun 1981 di rumahnya ditemukan dokumen-dokumen Marxisme dan buku Das Capital, dan sejak itu ia diberi cap PKI oleh pihak aparat, malah untuk Salam itu sudah ada perintah tembak di tempat. Selanjutnya saya tidak mengikuti perkembangannya hingga saat dia muncul sebagai Syaykh Panji Gumilang di Ma’had Al-Zaytun tahun 1999.

Kalau membaca dan mendengar informasi negatif tentang Abdus Salam dari bukunya Al Chaidar saya anggap itu bisa benar dan bisa salah, artinya itu urusan mereka sendirilah. Kami pernah juga diundang ke Al-Zaytun, sampai 1 Muharram kemarin sudah tiga kalinya kami datang ke sana.

(Ketika penulis sampaikan hasil investigasi tentang Abdus Salam dengan segala sepak terjangnya sejak terlibat dengan gerakan NII tahun 1978 dan kiprahnya di KW-9 dan kini malah menjadi Komandan I dengan segala penyimpangan ajarannya, baik yang terdapat dalam dokumen dan pengakuan para mantan anggota NII KW-9 maupun yang terdapat dalam majalah resmi Ma’had Al-Zaytun serta hubungan eratnya dengan Al-Zaytun dengan para tokoh NII seperti Adah Djaelani, Ules Suja’i dan yang lainnya, barulah H. Oman Boman menyatakan rasa keterkejutannya).

“Jadi mereka masih dengan pak Adah Djaelani dan yang lainnya itu tokh, masih tetap dengan NII-nya itu? Wah, kalau kami menunggu sampai melihat hasil didikan mereka selama 6 tahun, kami bisa ketinggalan jauh. Saya akui saya memang belum melakukan penelitian yang mendalam seperti itu, tolong kirimkan kepada saya data-data tersebut secepatnya untuk segera kami kaji agar selanjutnya kami bisa bersikap. Tapi Abdus Salam ini orangnya memang pintar sekali, Abu Nawas masih kalah dengan dia, atau artinya dia itu punya cara-cara yang bisa saja menghadapi segala macam persoalan yang kemudian dihadapi dengan tata krama yang normatif.”

 

2. Effendy Yusuf, Kakek dari istri Abu Toto Abdus Salam Rasyidi.
Abdus Salam Rasyidi yang sekarang bergelar AS Panji Gumilang itu dulu yang menikahkan di Menes sini adalah saya, nama isterinya Khotimah. Sedang saya sendiri terhitung sebagai kakeknya.

Imam Prawoto itu anak pertamanya. Dia punya anak tiga laki-laki dan tiga perempuan. Awalnya Salam ini baik-baik saja bahkan kalau bicara sangat simpatik, tapi setelah dia ikut kelompok pengajiannya Pak Karim mulai saat itu saya kira Salam ini berubah. Apalagi semenjak saya menolak ajakan bai’at pak Karim dan memperbaharui Syahadat dan mengajukan pertanyaan: “Kalau memang Islam saya ini Islam keturunan adalah salah, tolong tunjukkan bukti dan dalilnya bila Rasulullah SAW pernah membai’at Fathimah putrinya untuk mengesahkan ke-Islamannya.”

Sejak saat itu Abdus Salam ikutan membenci saya, bahkan sampai pernah mengatai saya sebagai “anjing” ketika suatu hari terlibat cekcok dengan saya, hanya dengan sebab pohon rambutan saya dahannya melampaui pagar dan daun-daunnya jatuh ke halaman rumahnya. Hubungan keterlibatannya dengan NII secara persis saya tidak tahu, tapi tahun 1978 dia pernah ditahan di Pomdam Bandung sampai sekitar 8 bulan, dan ketika A. Abdul Karim Hasan ditangkap tahun 1981 Salam melarikan diri ke Malaysia, sesekali pulang ke rumahnya, itu kita tahu bila isterinya tiba-tiba bersolek Akhirnya isterinya pun mungkin pernah ke Malaysia tapi tahun 1987 dia dan isterinya kembali ke sini.

Tapi yang jelas Salam ini pinter ngomong dan pikirannya memang maju, dia ini seperti Gatotkaca bisa cepat terbang sehingga lolos terus setiap ada penggerebegan oleh aparat. Kapolres pun sampai dibuat bingung, sebab dia juga punya hubungan baik dan dekat dengan para aparat itu. Salam ini memang pandai meyakinkan, kalau dibilang ada kongkalikong dengan para aparat sepertinya ya begitulah kira-kira.

Dulu dia memang bercita-cita ingin punya rumah yang kalau berangkat pergi orang tidak tahu dan saat pulang pun orang tidak tahu. Waktu penggerebegan tahun 1994 baik Koramil atau Kodim sudah menyatakan sebelumnya kalau Salam ini terlibat dalam gerakan terlarang, tapi ya itulah digerebeg tapi tidak untuk ditangkap, padahal yang lain ditangkapin. Pernah suatu saat saya bertanya ke Koramil di mana gerangan Abdus Salam ini sekarang, karena bagaimana pun dia adalah keluarga saya, namun dijawab oleh mereka, kami tidak tahu tapi mungkin sudah ke luar negeri.

Tentang ajaran dan ibadahnya sejak dulu ya begitu, menurut saya sih nggak bener, masa’ shalat Maghrib saya dengar bacaan Al-Fatihah-nya sampai empat kali, berturut-turut lagi. Kalau dibilang jama’ masa ya tidak terdengar ketika diamnya rakaat yang ketiga maupun bacaan iqamahnya untuk shalat Isya’. Padahal suara bacaannya itu keras, dan saya nguping terus sambil memperhatikan, karena ruangan shalat dia dempat dengan ruangan saya.

Saya dengan banyak di antara orang-orang sini yang dulu ditangkap itu sekarang pada ikut ke Al-Zaytun lagi. Tapi teman dekatnya sejak di MA sini, Saleh As’ad namanya, malah sekarang pisah dengan Salam. Saya kira Saleh As’ad inilah yang paling banyak tahu tentang Salam. Sekarang orang-orangnya Salam sudah mulai gencar berdakwah di sini dengan menawarkan majalah Al-Zaytun serta mengajak agar menyekolahkan anaknya ke sana. Tentu saja saya melarang dan memberi tahu masyarakat tentang siapa itu Panji Gumilang yang tidak lain adalah Abdus Salam yang dulu menghebohkan di sini.

Dan sejak Salam punya Zaytun terhitung baru dua kali dia menengok kembali rumahnya di sini dengan membawa mobil bos tapi sama sekali tidak mau mampir ke rumah saya

 

3. Al Chaidar, bergabung dengan NII KW-9 Tahun 1991-1996
Mulanya karena didatangi seorang sahabat yang telah lama tidak kuliah, Amirul Mukminin namanya. Secara terus-terang dia menceritakan perihal dirinya berhenti dari kuliah, karena telah terlibat secara aktif dalam NII. Lantas sayapun diajaknya ikut pengajian kelompoknya.

Sayapun agak heran, kenapa saya yang diajak, padahal saya sebelumnya telah ta’lim dengan kelompok Ikhwanul Muslimin (kelompok Tarbiyyah, kini Partai Keadilan), kelompok yang dikenal anti dengan gerakan atau kelompok NII. Dan hal ini saya ceritakan kepada Murabbi, mereka tidak suka dan melarang saya berhubungan dengan NII.

Ketidak-sukaan para Murabbi saya inilah yang justru menimbulkan rasa keingin-tahuan saya terhadap NII. Dan ternyata NII mempunyai konsep yang sangat radikal tentang Negara Islam. Apapun persoalannya selalu dihubungkan dengan sistem Negara Islam secara radikal. Jadi, akar segala persoalan sesungguhnya adalah negara ini. Artinya, sebagai contoh, mengapa sekarang banyak fenomena pacaran, atau fenomena perselingkuhan atau fenomena seks bebas di kalangan mahasiswa? Jawabannya, karena negara Indonesia bukan negara Islam.

Dan mereka mencoba menarik calon anggota melalui tema-tema human interest dalam persoalan-persoalan sosial yang sangat mendasar. Setelah tertarik baru diajak mengaji. Sedangkan saya, didekati karena mereka memandang saya punya pikiran-pikiran kritis dan agak fundamentalis, makanya langsung digarap.

Dan akhirnya kita dibawa kepada semangat untuk mengadakan perubahan terhadap semua ketimpangan dan penyakit sosial maupun politik yang ada di negeri ini. Melalui sistem jama’ah negara Islam kita diajak berjuang sekuat tenaga dengan cara mengumpulkan kekuatan mental, fisik dan ekonomi. Dan sayapun gencar berdakwah merekrut calon anggota.

Dan sayapun sempat membayangkan diri bakalan masuk ke jajaran elite kelompok Abu Toto ini. Konyolnya, saya pun tetap terbawa sampai 5 tahun, dan sangat menikmati penyimpangannya yang sangat parah tersebut. Seperti soal penerapan periodesasi hukum dan aturan yang selalu akan terjadi pengulangan. Sehingga jika dahulu masa di Mekkah (Makkiyah) belum diwajibkan shalat ataupun meninggalkan khamar, maka sekarang pun persis seperti itu.

Akibatnya, ketika saya dahulu berdakwah di kampus UI, tanpa ada rasa bersalah, saat itupun saya sambil minum vodka. Dan celakanya, justru hal itulah yang bisa menarik ribuan kaum muda, karena mereka senang mendapatkan ajaran itu. Seakan-akan menunjukkan bahwa tindakan mereka selama ini, seperti minum-minum adalah merupakan tindakan yang sesuai dengan fithrah. Berarti mereka selama ini tidak terlalu jauh dari Islam. Dan sekali lagi, karena itulah mereka tertarik dengan ajaran ini.

Di dalam niatan saya menarik sebanyak mungkin pengikut, tidak ada latar belakang lain kecuali semata-mata untuk kepentingan ekonomi NII. Orang digiring masuk dulu, setelah itu baru diperas ekonominya. Atas tindakan rekrutmen saya ini, masuklah sekitar 2.000-an anggota, yang patuh dan thaat-nya hanya untuk Abu Toto. Dan kalau dijumlah hasil setoran yang saya berikan kepada pimpinan selama itu nggak kurang dari 2 miliar rupiah. Tapi, dasar niat dan keterpengaruhan kita dengan NII karena kering spiritual, kurang ilmu agama, maka sebenarnya ketika menjadi anggota NII Abu Toto sama sekali tak terobati.

Jika tadinya kita merasa ter-alienasi (terasing) dari kehidupan sosial yang ada, seharusnya dengan masuk ke dalam jamaah NII, akan kita dapatkan teman serta bisa bersosialisasi. Kenyataannya, kitapun masih tetap merasa sendiri juga. Bahkan pada akhirnya kita diancam dengan ayat-ayat, dituduh malas, murtad atau kufur, karena kita sudah kesulitan untuk memberikan kontribusi ekonomi kepada NII. Maka faktor inilah yang pada akhirnya menyebabkan saya dan teman-teman yang lain keluar dari NII.

Dan tentang Abu Toto, saya tidak tahu siapa nama aslinya, karena dia punya banyak nama. Saya mengenal betul dengan Abu Toto, karena memang jajaran saya waktu itu di Bekasi Barat. Dan sayapun tetap mengenali Abu Toto, sekalipun dia mengubah namanya menjadi AS Panji Gumilang, atau menjadi Syaikh Ma’had Al-Zaytun di Indramayu itu. Tiada niatan lain saya dalam menyusun buku tentang Abu Toto dengan KW9-nya melainkan, berharap bisa menjadi kafarat kesalahan saya yang telah banyak menyesatkan ummat dan melecehkan Islam, serta memberi tahu ummat yang lain yang belum tahu, tentang apa dan siapa Abu Toto dengan NII KW-9 maupun Ma’had Al Zaytunnya. Dan saya pun sudah sempat membuktikan perlawanan kepada NII KW-9 dengan menyekap mas’ul Shaleh maupun Ibrahim selama tiga hari di malja’ dan sempat pula saya rampas dua kendaraan yang dipakainya serta sejumlah uang yang ada. Toch pada akhirnya mereka tidak mampu berbuat apa-apa kepada saya.

 

4. Imam Shalahuddin, tahun 1989-1996
Perkenalan saya dengan gerakan NII KW-9 Abu Toto berawal dari kedatangannya salah seorang teman yang coba mengajak dialog keagamaan. Dalam dialog tersebut, teman saya selalu mengarahkan pembicaraannya mengenai masalah pergeiakan (harakah). Apalagi ditambah dengan paparannya mengenai masalah isu-isu penting yang menjadi kebutuhan umat Islam dewasa ini, yakni tema tentang Daulah Islamiyah atau Khilafah Islamiyah, yang tentunya siapa pun orangnya bila mengaku dirinya Muslim pasti terpanggil dan bersegera menyambut.

Sebagai seorang remaja Muslim, kajian tersebut membuat saya tertarik untuk mengikutinya, berbekal "kesadaran beragama" yang saya miliki akhirnya berkesimpulan bahwa Daulah Islamiyah memang seharusnya ada di Indonesia. Pembicaraan dengan teman tersebut tidak putus atau selesai sampai di situ saja, bahkan berbalik menjadi sebuah pertanyaan untuk diri saya sendiri.

Pertanyaan tersebut kurang lebihnya yaitu: "Jika Daulah Islam itu memang harus ada, maka siapa gerangan Imamnya dan di mana adanya?"

Untuk kali yang kedua teman saya datang dan dia menanyakan bagaimana kesan dan pembicaraan yang pertama. Bahkan ketika itu juga dia langsung mengajak saya untuk mendatangi sebuah pengajian yang sedang diadakan di sebuah rumah kenalannya (Setelah tahu bahwa tempat itu adalah rumah salah scorang jama'ah yang memang representatif untuk mengadakan pengajian ala mereka).

Untuk menambah pengetahuan sekaligus menghargai teman, akhirnya saya pun ikut ajakan tersebut. Dalam pengajian itu memang sempat dibahas mengenai perlunya umat Islam memiliki Daulah Islamiyah. Bahkan sempat membahas di mana sangat perlunya umat Islam sekarang ini sungguh-sungguh berjihad menegakkan Islam secara kaffah, yakni berhukum Islam serta tinggal di negaia Islam secara berjama'ah. (Dalam tahap pertama ini mereka menyebutnya tilawah. Dan rujukan kajiannya adalah silabus Mabadi'uts-Tsalatsah (karya Abi Karim), yang bermuatan Tauhid Rububiyah, Tauhid Mulkiyah dan Tauhid Uluhiyah. Sehingga terlihat jelas bahwa persoalan utama yang mendesak adalah dibutuhkannya sebuah Negara Islam).

Setelah beberapa menit saya mendengaikan uraian pengajian dengan materi seperti itu, menambah hasrat saya untuk mempertanyakan soal yang sempat menjadi unek-unek saya sebelumnya. Kalau memang di Indonesia sudah ada negara Islam siapakah imamnya dan dimana keberadaannya? Mendengar pertanyaan dari saya langsung seperti itu, Ustadz pemberi materi hanya menjawab: "Ohh, untuk urusan itu nggak usah dululah kamu tahu. Kamu belajar tentang teori-teorinya saja dulu."

Selanjutnya, dari pertemuan itu membawa saya aktif dalam pengajian mereka. Setelah 6 bulan menjalani kajian ini dan mungkin sudah dianggap menguasai dasar pemikiran NII, dan yang teramat penting dalam penyeleksian jama'ah adalah sudah sterilnya saya dari unsur-unsur yang membahayakan, seperti tidak adanya dalam keluarga saya aparat keamanan tentara/polisi, barulah saya direkrut secara resmi oleh mereka dengan melakukan bai'at sebagai jama'ah NII.

Yang menjadi inti dari acara baiat itu adalah perpindahan (hijrah) status kewarganegaraan saya, dari warga negara RI menjadi warga negara Islam Indonesia. Pada saat acara itu pula mulai diungkapnya dasar pijakan sejarah mereka yaitu bahwa konsep negara Islam yang dimaksud adalah Negara Islam yang pemah diproklamasikan S.M. Kartosoewirjo tertanggal 7 Agustus 1949.

Saya pun bertanya: "Memangnya masih ada pengikut ajaran Kartosoewiryo?" Mereka menjawab, "Masih." Kemudian, selesai acara, saya sangat diwanti-wanti untuk tidak membuka-buka kejadian yang baru saja dilaksanakan kepada orang lain. (Diketahui bahwa masalah tersebut memang sudah menjadi doktrin mereka, lihat QS: 17:18,20). Di samping itu ditetapkannya kewajiban saya sebagai warga negara, seperti mengajak orang lain, membayar infak, shodaqoh dll.

Setahun kemudian (1990), karena mungkin saya dianggap memiliki latar belakang pendidikan pesantren, ditambah sudah membawa sepuluh orang berhijrah, saya pun akhirnya diangkat sebagai pejabat (mas'ul Musa) setingkat Lurah di daerah Utan Kayu Selatan, Matraman Jaktim (Kode teritorialnya 9231-12). Namun yang jelas karena sturktur lembaganya adalah negara, maka instrumen kenegaraan dipakainya. Jadi, untuk mengisi kekosongan teritorial semua jama'ah laki-laki ditempatkan sebagai mas'ul.

Dulu menamai teritorialnya memakai istilah Markazul 'Aid (KT), Al Wlayatul Akbar (KPWB), Al Wilayah (KW), Ad Dairah (KD), Al Mantiqoh (KB), Al Muqoto'ah (KC), Al Qoryah (KL). Dengan diangkatnya saya maka bertambahlah kewajiban. Mulai dari mencari umat, membinanya dan mengontrol keuangan tiap harinya. Seluruh kewajiban umat dan aparat tersebut bemngkat dari lima dasar program negara (Binayatul Khomsah), terdiri dari: Bambingan Aqidah, Teritorial, Keaparatan, Keuangan, dan Komunikasi.

Berbarengan adanya sebuah program dari KW-9 berupa mutasi kerja masal (Tahawul 'am), dua tahun kemudian 1994, saya diangkat menjadi aparat Camat di daerah Tambelang, Bekasi Utara (Kode teritorial 9142). Saat itu nama struktur teritorial sudah berubah seperti nama-nama Nabi, di antaranya: Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim dan Musa. Layaknya bekerja di kantor kecamatan, saya yang telah diangkat sebagai Kepala Bag. Keuangan (tsiqoyah) diharuskan berdinas di sebuah kantor (malja), yang sebenarnya hanyalah rumah kontrakan biasa.

Pada Tahun 1995, saya dimutasi lagi ke Bekasi Barat (Kode teritorial 9132) menjadi Kepala Bag. Pembinaan. Dan ternyata semakin kedudukan yang saya pegang semakin tinggi maka kewajiban pun semakin banyak pula. Pangorbanan harta dan jiwa dituntut terus menerus tak mengenal batas. Semua itu harus dilaksanakan tanpa ada alasan untuk ditinggalkan. Seluruh energi sampai yang tersisa harus ditumpahkan untuk memikulkan tanggungjawab dan kewajiban mencari (merekrut) umat sebanyak-banyaknya, mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya pula.

Itulah wujud dari jihad biamwal wa anfus, demikian ungkap para pimpinan KW-9. Terkadang, di sela-sela wejangannya mereka memberikan doktrin, "Hari ini Negara kita sedang miskin", kita yang memiliki harta wajib mengayakannya. Bila negeri ini sudah futuh (merdeka), di mana seluruh kekayaan di negeri ini milik negara, maka nanti apa yang pernah kamu berikan akan dikembalikan. "

Yang sangat menyakitkan hati bila kewajiban yang diemban tidak sesuai dengan target, mereka tidak segan-segan melontarkan kata-kata hinaan, cacian dan makian. Bahkan ada yang terkena pukulan atau tendangan para pimpinan. Hidup seperti binatang perahan saja. Tidak ada yang namanya keperluan pribadi, yang ada adalah kepentingan negara. Bila negara membutuhkan diri kita, kita harus siap melayaninya.

Ketika saya sebagai Camat di Bekasi Utara, saya berhasil merekrut anggota sebanyak 50 orang, sedang waktu dimutasi ke Bekasi Barat, saya berhasil merekrut anggota sebanyak 300 orang. Dan saya pun dianggap salah satu jajaran pemimpin NII yang berhasil, karena pada waktu itu teritorial saya dipandang berhasil merekrut anggota. Pujian dan pimpinan pun mengalir.

Dalam sebulan saya bisa menarik dana sebesar 10-15 juta rupiah. Malahan jika ada program-program tahunan, saya bisa menarik dana sekitar puluhan juta rupiah. Selama menjadi camat, aktivitas saya hanya untuk kedua target itu. Akibatnya, kuliah terbengkalai, ibadah pun kedodoran. Bayangkan, dari pukul 06.00 pagi sampai pukul 11.00 tugas mengontrol umat, siangnya jam 12.00 mengadakan briefing pelaporan hasil kerja kepada pimpinan. Pukul 5 petang untuk penarikan infaq, shodaqoh dll. Jam 7 malam laporan setoran dana. Kemudian dari jam 8 malam ke umat lagi membina umat dan terkadang menyiapkan orang untuk dihijrahkan besok.

Praktis tidak ada waktu luang untuk memikirkan hal yang lain, termasuk beribadah. Mereka telah menekankan kebijakan baru tentang faham "prioritas utama adalah tilawah (baca Al-Qur'an). Dan tilawah adalah lebih penting dan pada shalat." Logika mereka, karena yang bisa mencegah dari tindakan keji dan mungkar justru adalah tilawah dan bukannya shalat.

Untuk menenangkan hati jama'ah, selalu ada saja kalimat-kalimat doktrin yang memang sudah dipersiapkan, "Semua itu kita lakukan untuk menyongsong kebangkitan Islam di negeri ini, dan itu dimulai dari kita. Bila negara ini tegak seluruh harta yang dikeluarkan akan diganti 700%, sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur'an." Demikian ungkap Abu Toto, ketika mengadakan acara irsyad ke bawah. Ia menambahkan, "Untuk ke arah sana, mulai hari ini kita harus mempersiapkan sarana dan prasarananya. Kita akan bangun sebuah proyek nan megah dan besar yang akan kita persiapkan sebagai negara basis sekaligus tanda bukti bahwa kita telah siap menyongsongnya."

Dan ternyata apa yang selalu diucap-ucapkannya itu memang terwujud sebuah bangunan apa yang kemudian dinamakannya Ponpes Al Zaitun di Indramayu. Bangunan yang monumental itu dipersiapkan untuk regenerasi. Di mana para generasi muda dididik dan diarahkan menjadi "pemimpin bangsa". Demikian keyakinan yang terus menerus ditanamkan kepada anggota oleh para pimpinan, semua saya laksanakan dengan penuh kesabaran.

Sebenarnya, sebelum Abu Toto memegang kepemimpinan saya masih menjumpai orang-orang yang baik dan berakhlaq. Telapi setelah Imamah dipegang Abu Toto atau Syaikh AS Panji Gumilang nama sekarang, kebijakan KW-9 mengalami perubahan drastis. Disaat kepemimpinan di tangannya, bukan hanya semakin berat tetapi semakin berubah dasar maupun landasannya. Diantaranya adalah perubahan dasar infaq dan pada konsep qurban.

Islam jelas dan tegas memberlakukan kewajiban infak tidak ditargetkan disesuaikan dengan kurs dollar. Begitu pun dengan berkoiban, hanya kepada yang mampu. Sementara Abu Toto (saat itu nama yang digunakan adalah Abu Ma'ariq) menetapkan berkorban adalah wajib bagi setiap individu, dengan tanpa memandang lagi apakah para anggota mampu secara ekonomi atau tidak.

Selain itu ada pula ketentuan, kambing yang dikorbankan setiap anggota tidak disembelih, tetapi digantikan dengan uang sebesar 150 ribu rupiah, per ekor. Dan karena sifatnya individual, seorang anggota yang memiliki keluarga sebanyak 7 jiwa berarti harus berkorban sebanyak harga 7 ekor kambing.

Akibatnya, bisa dibayangkan, bagaimana para anggota tersebut harus menyediakan dana yang sangat besar. Tapi yang aneh, uang yang dibayarkan tersebut tidak dibelikan kambing kurban, melainkan dibelikan kendaraan. Sekarang dana hasil harakat Qurban itu diarahkan untuk pembangunan Ma'had Al-Zaytun. Mereka menqiyaskan makna quiban: "Bahwa bukan darah kambing yang disembelih yang diinginkan Allah, tapi kebaktiannya, yang mendesak dan sangat dibutuhkan bukan daging qurban, tapi sarana kendaraan."

Saat itu sebenarnya saya ingin berontak, dan banyak anggota yang lain maupun di kalangan pimpinan timbul banyak protes. Di antaranya salah seorang ulama dari Banten mengikrarkan diri keluar dari NII, namun begitu ulama tersebut keluar disertai jamaahnya, tiba-tiba mereka ditangkap Kodim, dengan tuduhan sebagai anggota NII.

Pergolakan batin saya ternyata masih kalah oleh rasio sendiri, saat itu dalam anggapan saya bahwa ini bentuk perjuangannya sebagai umat Islam. Saya punya tekad akan merubah KW-9 ini dari dalam, namun akhirnya tokh saya tidak mampu. Bahkan ketika saya sering melakukan protes terhadap ketentuan-ketentuan yang saya anggap keliru tersebut, yang saya dapatkan adalah pukulan dan tendangan, bahkan ada jamaah lainnya tidak bisa memenuhi kewajiban infaq, maka dikenakan hukuman dikurung dalam kamar semalaman.

Melihat situasi yang semakin parah dan jauhnya nilai-nilai ke-Islaman akhirnya saya menyatakan keluar. Apalagi setelah melihat ekonomi keluarga yang sudah bangkrut, karena rumah, kios dan modal kerja serta motor sudah terjual dan ludes untuk pengoibanan demi kepentingan NII (karena saat itu, "segala apa pun yang kami cintai, harus diberikan untuk kepentingan negara dan pimpinan NII").

Namun proses untuk keluar itu pun agak sulit. Sebelumnya saya mengajukan pengunduran diri sebagai camat atau pimpinan, dan ingin menjadi warga jama'ah biasa saja. Ketika itu bertepatan dengan adanya rasa bersalah saya karena tidak bisa menjalankan tugas soal mengatur pernikahan para anggota, walaupun sebenarnya itu memang saya sengaja. Sebab, dalam jamaah menikah itu dipersulit, melalui ketetapan mahar, taftis (proses seleksi dan pimpinan terhadap kedua calon) dan lain-lainnya, sehingga banyak yang saya izinkan untuk menikah sebagaimana biasa saja, bukan di depan pimpinan.

Konsekuensi atas penolakan terhadap permohonan mundur saya dari jabatan tersebut, saya diwajibkan membuat pernyataan bersalah, untuk kemudian diajukan kepada pimpinan, intinya, siap untuk dihukum. Yang pasti, saya diwajibkan membayar shodaqoh istighfar. Khawatir bahwa saya akan ngoceh setelah menjadi jamaah biasa, ternyata datang teror melalui ancaman, bahwa kesalahan saya sepadan dengan hukuman bunuh, dan tidak sebatas dipecat dari jabatan.

Setelah saya main kucing-kucingan dengan mereka, saya bisa keluar dengan tenang tahun 1996. Setelah keluar pun saya mengalami kesulitan, yaitu susahnya bersosialisasi dengan masyarakat di sekitar. Dan Alhamdulillah setahun kemudian berkat do'a dan usaha akhirnya Allah pun memberikan kemudahan kepada saya. Yang amat saya sayangkan, masih aktifnya kedua adik saya sebagai mas'ul di jajaran KW-9. Saya berharap semoga Allah membukakan mata hatinya untuk melihat realitas yang sesungguhnya dan dampak negatif dari aktifitas yang sedang mereka jalani.

 

5. Kesaksian Basyaruddin: aktif tahun 1993-1996
Saya masuk gerakan ini ketika pada yang kesekian kalinya bertandang ketempat kost teman mahasiswa. Suatu hari saya menemukan teman-teman tengah menyimak materi ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan oleh ustadz muda, tetapi acara ini agak hati-hati karena materinya bila didengar orang-orang pemerintah orde baru, bisa dituduh subversif. Tidak lazim, bahwa teman-teman mahasiswa yang sekuler tiba-tiba menyimak Al-Qur’an yang disampaikan ustadz.

Isi materi dakwah tiada yang janggal, dari pengalaman selama ini memang saya tidak menyukai pemerintah dan program-program pembangunan pemerintah seperti tidak mempunyai agama, penuh dengan korupsi, kolusi dan nepotisme, hukum yang tidak adil, mengizinkan SDSB, pelacuran, minuman keras beredar dan mudah dijangkau oleh kalangan anak-anak sekolah, membelinya pun bisa dengan ketengan, seperti membeli rokok saja. Selain itu perilaku pejabat pemerintah sendiri serba negatif, perilaku pegawai birokrat yang selalu meminta uang. Seolah-olah mereka (orang orang Pemerintah) adalah pemilik negeri ini. Hidup menjadi sulit karena sedikit ada urusan apa saja harus dengan uang, sedang uangpun sangat sulit didapat, dan banyak lagi lainnya.

Karena kondisi yang sedemikian buruk dan jahat ini, tidak ada dalam ajaran Islam. Maka sayapun lebih berpihak kepada Islam. Apalagi jaminan Allah SWT sangat luar biasa. Dengan hadirnya ustadz muda ini saya menaruh harapan besar, bahwa ternyata ada seseorang yang lain, artinya tidak saya saja yang merasakan persoalan rumit akibat ulah penguasa di Indonesia. Kehadiran ustadz yang berani dengan terang terangan menyatakan pendapatnya membuat saya kagum karena keberaniannya, sementara lingkungan yang buruk, orang-orang tidak peduli dengan sesamanya, merekalebih peduli dengan dirinya sendiri mengurusi dan memenuhi kebutuhan masing-masing, yang pada kenyataannya mereka satu sama lain sudah jauh melenceng dari pemahaman ajaran Islam.

Semenjak mengikuti pengajian itu, saya baru tahu kalau itu adalah NII, sepengetahuan saya NII itu adalah para pemberontak semacam perampok yang jahat.Tetapi image saya tentang NII jahat itu akhirnya pupus, karena akibat propaganda penguasa dzalim Orde Baru. Saat saat awal aktif dalam NII KW-9 banyak hikmah yang saya dapatkan tentang konsep ajaran Islam. Saya merasakan persaudaraan yang tidak saya dapatkan diluar persaudaraan Islam. Padahal satu sama lain baru saling kenal, tapi rasanya seperti saudara senasib, orang orang yang tertindas seperti zaman nabi-nabi.

Hingga kemudian saya menemukan banyak penyimpangan ditubuh KW-9 sendiri. Nilai-nilai Islami yang saya anut dengan penuh harapan dan kecintaan yang amat sangat harus terkubur lagi., tetapi ternyata kemudian saya malah terlempar kedalam bentuk penindasan baru yang lebih jahat dari penguasa Orde Baru. Saya dipaksa untuk mengkafirkan orang tua sendiri dan saudara sauadara satu darah serta masyarakat komunitas saya dahulu. Harapan saya yang tadinya ingin mendapatkan kebahagiaannya kemerdekaan dari penindasan, namun ternyata bukannya kemerdekaan jiwa yang saya dapatkan, saya malah terperangkap dalam penindasan jiwa yang lebih dahsyat. Karena KW-9 mengklaim lembaganya sebagai pengejawantahan Tuhan. Dan untuk masalah ini saya sangat takut Tuhan, sebab Tuhan itu maha Kuasa. Apalah artinya saya, sebagai makhluk yang relatif tak luput dari dosa, sementara saya ingin disayang Tuhan.Maka saya mencoba untuk bertahan dengan patuh kepada perintah Tuhan tanpa terkecuali, walau saya diperlakukan semena mena dan ditindas sejadi-jadinya.

KW-9 memberikan janji-janji muluk. Padahal harapan saya hanya rasa persaudaraan saja sudah cukup puas. Tetapi KW-9 memberikan janji-janji kekuasaan, namun harus melalui pengorbanan-pengorbanan yang dituntut dari tiap-tiap jama’ahnya. Selama empat tahun , akhirnya saya berusaha membangun image untuk melawan “Tuhan” lembaga KW-9 tersebut, semoga Tuhan yang sesungguhnya tidak demikian. Walau harapan saya telah musnah, putus sekolah, nama buruk dimata keluarga serta sanak saudara dan lingkungan masyarakat. Saya bulatkan tekad untuk melawandeterminasi negatif ini. Lantas saya keluar dari KW-9, walau saya terus menerus dihantui bayang-bayang KW-9. Demikianlah, saya berdo’a semoga Abu Toto dan lembaga “Tuhan” KW-9 dihancurkan oleh Tuhan yang sesungguhnya, ya’ni Allah SWT, Amin.

 

6. Kesaksian (Pengakuan) Sakinah bulan April tahun 2000
Dengan diantar oleh anggota keluarga yang berdomisili di Jakarta, seorang Ibu datang dari Solo disertai putrinya (Sakinah), mahasiswi ITB semester VIII, yang konon terlibat dengan kelompok NII KW-9, sehingga sempat menghentikan kuliahnya.

Di awal dialog, Sakinah, nama mahasiswi tersebut, sama sekali tak mau bicara. Sesekali keluar suara dari mulutnya berupa komentar singkat dan permintaan mengulang dari apa yang disampaikan penulis.

Penulis membuka dialog dengan menceritakan sejarah perjalanan gerakan Islam di Indonesia mulai tahun 1977 kasus Komando Jihad hingga era kepartaian tahun 1999. Serta tak luput pula menceritakan tentang munculnya berbagai aliran sempalan Islam di Indonesia.

Keterbukaan Sakinah, baru terkuak setelah penulis selesai bercerita. Sakinah mengawali dengan pertanyaan “Bagaimana penilaian Bapak tentang NII?”

Dan akhirnya, ganti penulis yang mulai bertanya langsung: “Siapa Mas’ulnya, kapan berbai’atnya, dan apa yang membuat anda tertarik?”

Jawab Sakinah: “Saya ingin hidup dalam Daulah Islam.”

Penulis pun langsung bertanya, "dari mana anda memulainya?"

“Melalui Madinah” jawabnya.

"Maksudnya Madinah itu apa?" tanya penulis.

Jawab Sakinah: “Madinah itu ya lembaga NII, begitu kata Mas’ul kami, dasarnya sejarah dan proklamasi NII.”

Kemudian penulis berikan penjelasan tentang Marhalah (tahapan) dakwah Rasulullah SAW, sejak awal hingga hijrah ke Madinah, serta karakter kemadinahan dan kemasyarakatan Nabi dan Shahabat. Lantas penulis bertanya kepada Sakinah: "Adakah kesamaan karakter ke-Madinahan Nabi SAW dengan Madinahnya NII?"

Sakinah menjawab: “Ya, tidak sama, karena saat ini masih kahfi, dan kondisi Madinah sedang diusahakan.”

Baiklah, kalau saat ini masih kahfi, saya bertanya lagi: "Apa dan bagaimana keislaman Nabi dan Shahabatnya ketika mereka masih berada di Makkah? Apa yang diajarkan Nabi di saat awal setiap orang yang Musyahadah (masuk islam)? Apa yang pertama kali dilakukan Nabi SAW kepada para shahabatnya itu dengan menetapkan kewajiban infak, iddikhor, tazkiyah dan lain sebagainya sebagaimana yang dilakukan kelompok NII Abu Toto kepadamu?"

Sakinah menjawab: "Saya belum tahu sejarah itu, dan saya pikir ini kan perjuangan untuk Islam, jadi untuk membangun Madinah saya kira memang sangat membutuhkan banyak sekali dana."

Penulis bertanya lagi, "Lantas, bagaimana dengan tanggung jawab missi Islam, melepaskan dan mengeluarkan ummat dari kejahiliyyahan kepada ke-Islaman, selain itu apakah anda tahu dan mendapatkan laporan dari dana yang didapatkan serta pendistribusiannya, karena sebagai seorang intelek, anda kan harus juga bersikap kritis dengan masalah masalah yang seperti ini?"

Sakinah masih bisa juga menjawab, namun sepertinya sudah kurang yakin: “Menurut mereka, bila Daulah sudah tegak, semuanya akan beres. Dan soal dana, rasanya saya baru sadar, setahu saya belum ada yang bertanya seperti itu.”

Ketika penulis mempertanyakan kembali masalah missi Islam: "Kalau harus menunggu terlebih dahulu tegaknya Daulah, baru pembinaan syari’at dan akhlaq dilaksanakan, bagaimana kalau seandainya ia meninggal, sedangkan ia tidak shalat, masih suka bohong dan banyak meninggalkan kewajiban-kewajiban yang lain?"

Sakinah tertegun, dan malah bertanya: "Jadi, yang seharusnya bagaimana?"

Penulis balik bertanya: "Kamu sendiri masih shalat? Dan kenapa masih memakai jilbab?"

Sakinah menjawab: “Sebenarnya sih diperbolehkan untuk tidak shalat dan melepas jilbab, tapi perasaan saya kok tidak pantas gitu, jadi saya tetap shalat dan pakai jilbab. Masa mengaku muslim, tidak shalat dan nggak pakai jilbab, nggak enak rasanya."

Akhirnya penulis jelaskan secara panjang lebar, dan berlangsung selama tiga hari berturut-turut di kantor, dan dilanjutkan oleh kawan-kawan yang lain selama satu minggu, Alhamdulillah akhirnya Sakinah terlepas dari jerat NII KW-9, dan bahkan mampu mempengaruhi dan mengajak seniornya untuk keluar dari NII KW-9. Keberaniannya muncul dan keyakinannya semakin kuat bahwa NII KW-9 itu sesat dan menyesatkan. Ketika para mantan seniornya diajak berdiskusi lebih lanjut dan hendak dipertemukan dengan kami, mereka semuanya menolak atau menghindar.

Dari cerita Sakinah selama sekitar dua tahun terlibat dalam NII KW-9, sudah lupa berapa banyak dana yang diserahkan kepada NII KW-9, namun untuk bulan-bulan terakhir ia diharuskan menyerahkan dana sebesar 4 juta rupiah, untuk itulah ia tidak sempat lagi kuliah, karena sibuk berdagang apa saja selain juga berdakwah merekrut anggota baru.

Di bawah ini beberapa doktrin NII yang terbilang agak lain yang sempat direkam, antara lain:

--Pengulangan sejarah akan terjadi, seperti yang pernah terjadi pada zaman Nabi Yusuf As.

--Tujuh tahun masa panen dan tujuh tahun masa paceklik. Untuk itu ummat selama tujuh tahun harus menyerahkan hartanya kepada Imam NII, sebagai pesiapan untuk masa paceklik setelah tujuh tahun kemudian. Dengan tanpa ada ketetapan sejak kapan dimulainya. Dan tidak pula ada yang mempertanyakannya.

--Sejarah kisah Ashabul Kahfi akan terulang, suatu saat nanti.

--Seluruh dana yang berhasil dikumpulkan akan dikelola melalui ma’had Al-Zaytun.

--Ma’had Al-Zaytun yang sudah berdiri tegak di berbagai daerah adalah bentuk dan wujud konkret amal usaha NII dalam merintis tegaknya Madinah dan Daulah NII.

 

7. Kesaksian Dede Syaifuddin alias Syaiful Bahri, tahun 1995-1996
Saya masuk NII bulan Juni tahun 1995 lalu keluar tahun 1996. Saya meninggalkan bangku kuliah diam-diam, yang akhirnya orangtua mengetahui. Akibatnya keuangan saya di stop. Pimpinan saya bilang, “Jangan didengar, contoh Nabi Ibrahim a.s di mana orangtuanya kafir, kalau orangtua kafir jangan ditha’ati” Akhirnya, saya sering mengambil makanan dari rumah orang tua, untuk saya bawa ke pos (malja) NII.

Saya membayar infak sudah lupa, berapa yang telah saya keluarkan. Sedangkan Qiradl baru 1 gram, Qurban satu kali, katanya saat itu digunakan untuk membeli sawah dan mendirikan ma’had. Selama menjadi anggota NII saya sering kali mengikuti tilawah, di kampus di bilangan Salemba. Lama kelamaan, yang saya rasakan bukannya ketenangan dan ketentraman, tapi justru kok nama saya cemar di mata para jama’ah yang tidak mau menerima NII, baik dari lingkungan keluarga, tetangga rumah maupun teman sekolah. Bahkan di lingkungan NII sendiri saya pun diusir dan dimaki, “Keluar! Keluar!”

Saya jadi sempat bingung dibuat oleh NII. Memang, alasannya, karena saya orang yang cepat bosan dan malas, sehingga hanya menghasilkan 4 orang untuk menjadi Mas’ul, tingkat Musa. Namun saat itu saya punya prinsip, walaupun NII mewajibkan saya untuk zakat, shadaqah dan lain lainnya, saya lebih mengutamakan membeli makanan untuk orang-orang yang ada di Malja, karena Malja tidak menyediakan konsumsi sama sekali bagi ikhwan.

Sebelumnya, saya berada di malja Matraman, di situ saya masih melaksanakan shalat, tetapi ketika saya di-tahawul (mutasi) ke Malja Duren Sawit Klender Jaktim, ternyata senior senior yang ada disitu seperti Aseng, Ali Akbar, Abu Amar dan para senior lainnya, tidak melakukan shalat, tapi tilawah dan ngobrol membicarakan program-program perjuangan NII saja. Akhirnya sayapun menjadi terpengaruh untuk tidak lagi melaksanakan shalat, dan sejak saat itu saya tidak pernah lagi melakukan shalat. Sayapun akhirnya tinggal di malja Duren Sawit.

Pernah suatu hari, kakak saya diberi tilawah oleh Mas’ul yang pendidikan Makkahnya minim, padahal kakak saya seorang mahasiswi, lalu hal tersebut ditolak mentah-mentah oleh kakak saya, dan kemudian saya dibuat malu oleh kakak saya itu, saat di rumah. Bahkan saya dilaporkan kepada kakak saya yang laki-laki yang menjadi perwira polisi, untung, kakak saya cuma bilang: ”Biarin saja, si Dede, nanti juga bosan sendiri.”

Tahun 1996, waktu itu ada pendidikan, saya dari ‘Watad’ dengan kode teritorial 92225. (baca dari belakang, angka 5 adalah posisi Mas’ul Musa namanya Ali Akbar, angka 2 Mas’ul Ibrahim namanya Abu Amar, angka 2 berikutnya mas’ul Shaleh, 2 berikutnya mas’ul Hud adalah Syaifullah alias Aseng, dan angka 9 mas’ul Nuh yang masih dipegang Abu Toto. Untuk menjadi Musa atau Mudabir Musa (92845: posisi saya menempati angka 5, angka 4 Mudabir Ibrahim, angka 8 adalah Abu Amar dan angka 2 adalah Syaifullah, sedang angka 9 Abu Toto), dan saya lupa berapa besarnya dana untuk “tartib” Musa. Sejak saat itu saya naik tingkat menjadi Mudabir Musa, hingga akhirnya saya bosan. Saat itu saya mau keluar dari NII, tapi takut. Akhirnya dengan kepala stress saya nekad akan keluar, tapi mau lari kemana? Karena menurut mereka setiap jengkal tanah ada anggota NII. Saya keluar dari NII perlahan-lahan, saya katakan niat keluar tersebut kepada Ibrahim, namun saya ditahan-tahan oleh mereka, dan dikatakan kepada saya: “Kalau keluar, kafirlah kamu, pokoknya hidup kamu pun tidak ada gunanya di Makkah”.

Memang, sebenarnya saya masih cinta dengan NII, tapi masalah dana dan mencari ummat itu yang saya rasakan sangat berat. Saya mulai benar-benar keluar, setelah ada program tartib besar-besaran. Dan setelah keluar, kepala saya pusing, masyarakat mengejek, shalat tidak, apalagi yang lainnya. Lantas saya merasa jadi ‘Syetan’ di bumi ini, karena NII mengatakan semua perbuatan saya sia-sia. Akhirnya, saya sering mabuk-mabukan, walaupun begitu saya masih tetap takut akibat keluar saya dari NII, kemudian saya masuki dunia Narkoba, di situ saya sukses. Saya tak berpikir lagi kemana saya harus mencari Tuhan, pokoknya hidup saya bebas, dan bebas pergaulan, hingga saya berkenalan dengan seorang wanita, hingga berhubungan serius. Akhirnya orangtua wanita itu tidak menyetujui hubungan saya, dan malah saya dijebloskan ke penjara.

Karena itu saya berpikir, saya sudah tidak punya tuhan lagi, dan saya anggap diri saya ini adalah syetan di bumi ini. Yang menjadi permasalahan, kenapa saya masih merasa tetap setia dengan doktrin NII, terutama doktrin tidak perlu shalat sementara sadar kewajiban jihad untuk mendirikan NII, dan jangan mendengarkan perkataan orang-orang kafir (orang di luar NII), serta paham NII rasanya tak bisa lepas dari otak saya. Selain itu ada efek rusaknya, setelah saya keluar dari NII adalah moral saya rusak dan merasa cap ‘dajjal’ melekat pada diri saya, yang membuat saya merasa terasing dimuka bumi ini.

 

8. Kesaksian Bapak Mohammad Soebari, Mantan Kabag Keuangan DPR RI dan tokoh elite KW-9 yang ditahan tahun 1980 dan bebas tahun 1983.
Saya mengenal baik tentang siapa itu Abu Toto, yang sekarang bernama AS Panji Gumilang dan juga menjadi syaikh atau pimpinan Ma’had Al-Zaytun. Dulunya, dia (AS Panji Gumilang) mengaku bernama Prawoto dan dibai’at sebagai Imarah di wilayah IX oleh Seno alias Basyar pada tahun 1978. Ketika kita semua ditangkap oleh militer (Ali Murtopo) tahun 1980, si Toto ini kabur ke Sabah sambil membawa lari uang jama’ah sebayak 2 Milliar rupiah. Dan setelah itu tidak ada kabar beritanya lagi, namun tiba-tiba muncul kembali sekitar tahun 1988-1989 dan bergabung dengan pak Karim Hasan yang saat itu secara ideologis sudah tidak lagi sejalan dengan saya.

Ketika pak Karim meninggal tahun 1992, seingat saya keberadaan Toto tidak terlihat di sana. Bahkan karena menurut keluarga pak Karim, jenazah tidak boleh dan tidak perlu dimandikan karena menurut mereka beliau mati dalam keadaan syahid, maka saya pun akhirnya tidak ikut menshalati. Meskipun sesungguhnya saya sendiri tahu bahwa pak Karim ini sudah melakukan penyimpangan aqidah dan ubudiyah yang fatal melalui kiprahnya di Lembaga Kerasulan, dan saya pun menyaksikan akhir dari hidupnya yang tragis yang tidak perlu disebutkan disini.

Sayapun sudah sempat datang melihat Al-Zaytun dari dekat, namun ketika saya tanyakan dan saya nyatakan keinginan untuk bertemu Toto, dijawab oleh mereka syaikh lagi tidak ada di tempat. Menurut hemat saya, masalah Al-Zaytun ini memang harus segera diklarifikasi oleh banyak pihak, sebelum dampak dan korban yang jatuh makin banyak serta meluas. Dan secara keilmuan saya sangat setuju serta mendukung jika ada upaya-upaya transparansi ataupun klarifikasi yang berkaitan dengan Toto, Al-Zaytun, KW-9 dan sekaligus NII dengan segala kaitan atau mata rantai sejarahnya dalam masyarakat Indonesia.

Yang telah jelas dan pasti, tidak perlu disangsikan lagi AS Panji Gumilang syaikh ma’had Al-Zaytun sekarang ini adalah Toto atau Prawoto yang dahulunya bersama-sama dengan kami di KW-9 sejak tahun 1978 dan ketika kami ditangkap, diapun lari ke Sabah Malaysia, lantas selanjutnya kembali lagi tahun 1988 bergabung dengan Lembaga Kerasulan, dan setelah pak Karim meninggal, konon dialah yang memimpin KW-9 yang menghebohkan sampai sekarang ini, selebihnya wallahu a’lam.

 

9. Pernyataan Pimpinan Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, KH Abdullah Syukri Zarkasyi.
Sehubungan dengan apa yang dimuat dalam Majalah Al-Zaytun, edisi II bulan Februari 2000 yang menyatakan tentang adanya kesan hubungan dan keterkaitan yang erat antara pondok pesantren Al-Zaytun dengan Pondok Modern Gontor. Dan juga propaganda dari mulut ke mulut oleh kalangan Al-Zaytun, yang menyatakan tentang adanya kerja sama untuk mengelola ma’had Al Zaytun, Haurgeulis Indramayu, dengan para asatidz Pondok Modern Gontor. Demikian pula halnya propaganda tentang rutinitas kunjungan pimpinan Pondok Modern Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi ke ma’had Al-Zaytun, setiap tiga bulan sekali.

Penulis sempat melakukan konfirmasi langsung dengan KH Abdullah Syukri Zarkasyi, pimpinan Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur. Selain bertujuan untuk mendapatkan data diri AS (Abdul Salam) Panji Gumilang alias Abu Toto, sebagai alumnus Pondok Modern Gontor, melalui Buku Induk siswa Pondok Modern Gontor. Penulis juga berkepentingan untuk memperoleh konfirmasi dan penjelasan secara langsung dari pihak yang berkompeten di Pondok Modern Gontor tersebut, yakni KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Sehubungan dengan kuat dan santernya berita dari mulut ke mulut, tentang isu adanya kerja sama Pondok Modern Gontor dengan Al-Zaytun tersebut, serta terjalinnya hubungan yang sudah lama berlangsung antara KW-9 dengan Pondok Modern Gontor, melalui pembinaan terhadap putri-putri kalangan KW-9, termasuk anak dari Abu Toto Abdul Salam Panji Gumilang sendiri, sejak sekitar tahun 1991-1992, di Pondok Pesantren Putri, Mantingan.

Jawaban pimpinan PM Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan para Asatidz, ternyata sangat bertolak belakang dan bertentangan dengan propaganda dan isu yang disebarkan oleh kalangan Al-Zaytun. Bahkan para Asatidz Pondok Modern Gontor tersebut dengan sangat antusias mencarikan bukti data diri Abu Toto alias Abdul Salam bin Rosyidi tersebut, melalui Buku Induk Siswa.

Menurut para asatidz Pondok Modern Gontor, sekitar sebulan yang lalu (sekitar bulan September) para pimpinan dan asatidz PM Gontor telah melakukan musyawarah untuk membahas adanya isu dan propaganda yang disebarkan oleh kalangan Al-Zaytun tersebut.

Dan kesimpulannya, Pondok Modern Gontor harus melakukan counter dengan cara yang sama, atas tersebarnya isu yang merugikan tersebut. Artinya, para asatidz dan eksponen Pondok Modern Gontor, tidak saja menolak dan membantah atas beredarnya isu kerja sama dengan Al-Zaytun, akan tetapi para asatidz dan eksponen Gontor, melarang terhadap para alumnusnya berhubungan dengan ma’had Al-Zaytun dan menghimbau masyarakat agar tidak memasukkan putra-putrinya ke ma’had Al-Zaytun.

Dalam kesempatan melakukan konfirmasi, pimpinan Pondok Modern Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, dengan tegas dan berulang-ulang menyatakan bahwa “Tidak ada kerja sama dengan Al-Zaytun.” Beliau mengakui, memang dulu pernah diundang oleh beberapa alumnus Gontor yang “mungkin” sudah bergabung dengan Abu Toto, yang seingat beliau, alumnus tersebut bernama Zainal Arifin, agar bersedia untuk melakukan kunjungan ke ma’had Al-Zaytun. Namun, menurut KH Abdullah Syukri Zarkasyi, saat itu beliau datang ke ma’had Al-Zaytun tersebut, di sana masih belum ada santrinya sama sekali. Dan yang pertama kali ditanyakan oleh beliau saat itu kepada Zainal Arifin, adalah masalah dana. Ketika beliau menanyakan tentang dari mana asal-usul dana untuk membangun semuanya in? Zainal Arifin menjawab: “Ini semua dari Allah.”

Menurut KH Abdullah Syukri, jawaban ini tidak transparan, sehingga beliau menanyakan lebih jelas lagi: “iya, dari Allah, tetapi melalui siapa?” Karena Zainal Arifin terdiam tidak mau menjawab, pak Kiai Syukri lantas menimpali: “Bagaimana kalian ini, dengan kiainya sendiri ndak mau terbuka.” Akhirnya, masih menurut penuturan beliau: “Saya lantas berpikir, ini berarti pasti ada yang tidak beres.” Saya ndak cocok dan tidak suka dengan hal-hal yang tidak jelas. Memang saat itu mereka mengusulkan kepada saya, supaya Gontor bersedia membantu. Dan saya jawab, silahkan kalian datang ke Gontor dan mari kita bicarakan, namun sampai sekarang tak ada satu pun mereka yang datang. Dan Abu Toto pun pernah datang ke sini (Gontor, maksudnya, pen) tapi tidak menemui saya, dia entah menemui siapa.

Jadi, kalau ada yang mengatakan saya sering ke Al-Zaytun, dan bahkan secara rutin setiap tiga bulan sekali, itu bohong! Bohong itu, saya ke sana cuma sekali saja, itupun ketika masih belum ada santrinya. Kalau persoalan nama Gontor dikait-kaitkan, saya kira bukan cuma Al-Zaytun saja, yang lain juga banyak. Ada yang memakai nama Gontor untuk kepentingan pesantrennya dan ada juga yang memakai nama Gontor untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Terhadap hal-hal yang seperti ini Gontor tidak perlu melakukan counter secara frontal, saya kira cukup dengan dari mulut ke mulut saja. Ya seperti inilah, kalau ada yang bertanya, baru kita jawab. Dan nanti kalau kita sempat ketemu dengan dia (Abu Toto, maksudnya, pen) akan kita katakan, saudara ndak usahlah memakai makai nama Gontor.

 

10. Pernyataan KH Miftah Farid (Ketua MUI Jawa Barat)
Berdasarkan penuturan singkat beliau yang sudah pernah melakukan konfirmasi langsung dengan AS Panji Gumilang alias Abu Toto, berkenaan dengan isu adanya hubungan antara Syaikh al-Ma’had Al-Zaytun dengan NII, maka AS Panji Gumilang membenarkan adanya isu tersebut serta mengakui dirinya sebagai Komandan I kelompok pecahan DI/TII atau bagian dari gerakan NII yang melakukan penggalangan dana melalui program Infaq wajib, namun tidak dengan cara-cara tekanan dan ancaman. Dan kalaupun itu terjadi, maka itu hanya ekses. Dan KH Miftah Farid juga menuturkan saat membicarakan masalah pendanaan pembangunan Ma’had Al Zaytun ini dengan Bapak Atang Ruswita, ternyata beliaupun (Pak Atang Ruswita sendiri) malah mengutip keheranan pak Gubernur Jawa Barat Nuriana yang mengaku bingung dengan besarnya pesantren dan tidak mengetahui asal-usul sumber dana. Namun Pak Atang Ruswita sendiri sempat menanyakan langsung masalah ini kepada AS Panji Gumilang, jawabnya: “Ummat Islam Indonesia kan 200 juta, masa tidak dapat menyediakan dana untuk sebuah pesantren seperti ini.”

 

11. Ules Suja’i, tokoh NII Struktural yang bersama Adah Djaelani menjadi penasehat struktur NII kepemimpinan Abu Toto AS Panji Gumilang.
Bagi saya masalah NII, saya kira sudah tidak lagi menjadi bahan pembicaraan. Karena sekalipun dulu memang kita pernah satu, namun masing-masing orang kan punya pikiran dan cara sendiri-sendiri, jadi untuk menyatukan dalam satu musyawarah pada saat ini, itu sungguh persoalan yang memang berat. Soal perpecahan itu kan semacam sunatillah, seperti yang terjadi di zaman nabi Musa, nabi Isa, nabi Muhammad, waktu zamannya Abu Bakar, jadi kondisi yang terjadi sekarang ini saya tenang-tenang saja.

Tentang permasalahan infaq di Al-Zaytun kalau menurut saya, itu kan masalah insider, artinya orang dalam yang dipungut infaq. Soal pungutan-pungutan yang katanya terjadi menurut bukunya Chaidar, maupun persoalan Chaidar dengan Abu Toto saya tidak tahu-menahu soal itu, saya tidak mengerti. Saya hanya mendengar Chaidar dulu itu asalnya dari KW IX lalu keluar, masalahnya saya tidak tahu, kalau dikatakan ada korban yang jumlahnya sampai ribuan seperti itu saya tidak tahu itu. Bagi saya masalah NII sudah tidak menjadi bahan pembicaraanlah, dan sekarang ini mah masalah pendidikan saja itu yang sekarang dipentingkan gitu, sebab dari dulu kalau menurut analisa saya, perjuangan kita yang begini ini memang karena kurang keilmuan termasuk orang yang memegang peran. Sekarang ada teman yang benar-benar di situ perjuangannya masalah pendidikan dan pembinaan maka saya sangat setuju sekali. Walaupun ini mungkin makan waktu panjang, memang keadaan umat Islam masih begini sih.

Tentang yang diberitakan Tabloid ADIL, saya mah prihatin gitu, yang jelas itu menguntungkan Yahudi dan Nashrani, kalau saya bereaksi tidak mungkin itu diterima percuma saja, jadi kita mengadu kepada Allah saja.Tentang kiprah Abu Toto di masa lalu saya juga kurang tahu, saya ndak ikut-ikutan saat itu, kalaupun ada ADIL memberitakan soal itu tidak pernah mah saya minta klarifikasi ke sana. Pendeknya sekarang ini orang-orang berhenti saja menghujat, itu sudah sangat luar biasa, hadapkanlah hujatan itu ke Gus Dur saja. Dan menurut analisa saya para penghujat Al-Zaytun ini pasti orang yang di belakangnya yang kalau ditelusuri terus ujung-ujungnya pasti Yahudi dan Nashrani. Yang kedua menurut saya kita punya sikap diam sajalah. Kalau tentang Syaikh Ma'had dalam menghadapi mereka yang menghujat ini setahu saya dia tidak pernah membenci kepada yang menghujat itu, tidak pernah benci. Adapun orang-orang yang mendaftar ke Al-Zaytun sekarang ini malah sudah 3.000, murid-muridnya juga tidak berkurang.

Saya sendiri sekarang sudah tidak sering ke Al-Zaytun walaupun di sana biasalah dijamu segala macam, tapi pak Adah yang sering ke sana dan yang lainnya pun ada juga itu. Soal pak Adah yang santer diisukan menerima jatah minyak dari militer, memang dulu itu saya tahu pak Adah pernah menerima jatah minyak dan oli dari RPKAD (KOPASSUS sekarang, pen), karena setiap pasukan itu kan memiliki jatah dari Pertamina, nah oleh RPKAD jatah tersebut diberikan ke pak Adah. Itu mah lewat perjuangan. Saya sendiri dengan pak Adah memang pernah dipanggil oleh Ibrahim Aji mendapat surat supaya dibantu oleh Pertamina lalu masuk ke Pertamina pusat jawabannya kurang memuaskan, malah kalau saya sendiri sampai ke WAPERDAM sampai ketemu Khaerus Shaleh, ya Alhamdulillah berhasil. Kalau dengan Ali Murtopo setiap kita ketemu sih cuma ngancam saja kerjanya.

Tentang Abu Toto yang bisa selamat dari penangkapan sejak tahun 1981 sampai bisa ke Sabah dan lain sebagainya, itu semata-mata karena kelihaian dia, sampai-sampai bisa dapat surat rekomendasi dari pak Natsir jadi Da'i DDI (Dewan Dakwah Indonesia, maksudnya, pen. padahal yang sebenarnya adalah sebagai Da'i Rabithah Alam Islami) sehingga akhirnya yang penting selamat kan? Tentang Abu Toto yang saya tahu, wahh pokoknya dia itu luar biasa sekali pemikirannya, betul-betul intelektual. Jadi dengan dasar kondisi umat yang awam sekali, bodoh mesti ini harus dibuatkan pendidikan dan pengajaran yang programnya hebat gitu, ingin mencetak anak-anak yang pinter gitu.

Tentang dana awal Al-Zaytun dari mana asalnya, yang saya tahu mereka para pemberi itu mengamanatkan agarjangan sampai ada yang tahu, itu merupakan cara shidqah yang paling baik. Kalau katanya dana awal itu asalnya dan para korban ketika di KW-9 oleh Abu Toto, lantas mereka menuntut, ya itu terserahlah. Sedunia menjadi musuh tak masalah. Mereka yakin ini program Allah, jadi Allah pasti melindungi. Orang atau kita menuduh Abu Toto mengeksploitasi, tapi buktinya belum tentu begitu itu. Mungkin jalan yang ditempuh mereka jalan yang benar dalam mengumpulkan dana. Mestinya mereka itu ikhias saja, jangan terlalu jauh bertanya. Alhamdulillah saja ada seorang pemuda yang bisa membangun pendidikan yang luar biasa, yang lain kan tidak becus. Mestinya reaksi ini harusnya yang positif, adapun umpamanya biasalah begitu, maka itu terserah dia. Tapi saya yakin dia tidak salah, saya tahu dia itu kan ngerti hukum, ajaran Islam. Coba kalau dia bicara ini dan si anu, anu, itu kan berarti memberi bahan kepada orang yang anti dan sedang kuasa untuk menghantam kita dan untuk menangkap kita lagi. Maka permintaan saya ini waduhhh percayalah begitu, lalu yang positif reaksi kita begitu.

Tentang persoalan infaq yang dipaksa tapi harus ikhlas, memang di lingkungan kita dulu ada semboyan Pak Karto sendiri yang mengatakan bawalah umat Islam kepada mardlotillah kalau perlu dengan paksa, dalilnya "khudz bi amwalikum" (maksudnya khudz min amwalikum, pen.) itu kan semacam perintah, tapi saya kira di lingkungan mereka untuk orang luar memang seperti paksaan. Dulu, memang pembinaannya sangat luar biasa jadi orang memberikannya ikhlas gitu. Kalau seperti saya misalnya punya harta benda atau uang yang sudah diberikan di sana (Al-Zaytun) dan ahh. ..ini kan demi kebaikan Islam maka untuk kesucian hati kita lebih baik diikhlaskan saja, tokh buktinya ada. Itu sifat seorang Muslim yang ikhlas dari pada nanti tidak mashlahat dunia akhirat gitu. Jadi ikhlaskan saja. Percayalah bahwa itu digunakan untuk kemashlahatan umat. Ya itulah saya kira sikap yang paling baik dari pada jadi omongan terus kan itu dalam Qur'an juga dianggap sebagai hal tidak baik dan nanti malah tidak dapat kemashlahatan dunia akhirat.

Jadi kalau bagi saya masalah kasus-kasus ini (terjadinya pemaksaan infaq, tentang dana tabungan dan qiradl maupun yang lain) kita bicara ekses ya, semua orang juga ada ekses malah ada yang beisifat pribadi. Seperti orang yang shalat saja, bagi yang nggak bener shalatnya pasti ada ekses. Saya kira sampai sekarang ini belum ada satu kelompok Islam yang bisa menjalankan Islam tanpa ekses. Makanya saya sering membaca seperti yang dikeluhkan nabi Yunus gitu, nabi Yunus kan selalu membaca "La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzh dzhalimin" Itu seorang Yunus itu, seorang nabi itu, La ilaha ilia anta, illa anta di situ kan terkandung arti aqidah rububiyah, aqidah mulkiyah dan aqidah uluhiyah, jadi ia sebagai nabi sudah yakin tidak bisa melaksanakan, makanya ke sananya minta ampun kan, itu Yunus. Jadi lebih baiknya kita selalu merasa terus berdosalah, sedikit-sedikit begitu akan ada kebaikan misalnya kita menaruh uang di Al-Zaytun lebih baik itu diikhlaskan barangkali itu akan menambah tabungan kita di akhirat. Memang Pak Karto pernah semboyan bawalah umat ini kepada mardlotillah kalau perlu dengan paksa, tapi saya kira masalah untuk insider atau orang dalam tidak ada yang pernah merasa dipaksa gitu, dan memang disamping mereka memungut, itu lebih dahulu pembinaan supaya sadar dan ikhlas bahwa jama' ah memerlukan beaya. Yang terbaik menurut saya sekarang ini masalah ilmu, itu yang terbaik menurut saya saat ini.

Kalau dengan terlibatnya orang-orang Orde Baru sekarang ini di sana pada hakekatnya itu kan sudah kehendak Allah itu, yakin itu kehendak Allah, itu sunnatillah dulu juga nabi Muhammad tambah kuat setelah masuknya orang musyrik, makanya saya mah berpikir positif saja. Bila pada saat itu Harmoko hatinya tidak begitu misalnya saja, itu mah urusan Allah. Kalau Abu Toto tidak mau melibatkan orang-orang macam Chaidar maupun yang lain, itu karena Chaidar masih terus menghujat, coba kalau mereka berhenti menghujat pasti lain sikap Abu Toto, dan mungkin mereka juga punya pertimbangan lain, mungkin masih menganggap lebih banyak madlaratnya dari pada manfaatnya, sambil melihat sikap Chaidar sendiri rupanya. Tapi yakinilah Abu Toto tidak benci dengan Chaidar, saya sudah tanya langsung itu dia tidak benci. Jadi kalau sewaktu-waktu dalam situasi tertentu mereka datang lalu ishlah sendiri gitu, artinya kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah pasti diterima itu.

Tentang sehubungan dengan akan diterbitkannya buku oleh Umar Abduh yang katanya apa gitu, ahh... kalau nantang mah nggak, biarkan saja bagaimana nanti saja gitu, yang penting kita mendo'a lalu melaksanakan program dan kerja keras. Kalau soal ditutup seperti katanya MUI Umar Shihab, ahh entah itu urusan nanti itu, tutupnya saja belum tentu, tapi kalau para penghujat itu mau tabayyun ke sana maka akan memperoleh pandangan lain. Andaikata Syaikh belum mau menerima dan menanggapi ya harus bersabar sampai dia percaya sama kita yang mau tabayyun, disamping syaratnya tabayyun juga harus ikhlas. Kalau saya mah pernah menasehati dia harus ada peningkatan security itu, sebab di luar masih ada terus yang menghujat, kalau memang dia itu hujatannya benar-benar dzhahir batin, bisa-bisa kan meningkatkan caranya kepada mereka, artinya bisa saja mereka mau membunuh. Ini kita kan mujahid, sehingga kewaspadaan harus maksimal, malah saya pernah seperti itu, sedangkan di sana kan keadaannya terbuka, kalau ada yang mau membinasakan Toto gampang saja kan, yang seperti itu sering mah enggak tapi harus hati-hati. Jadi yang perlu saya tegaskan lagi masalah persoalan yang katanya banyak korban yang sampai merugi akibat program infaq di masa KW-9 saya tidak tahu, karena saya sama sekali tidak ikut di dalamnya, yang saya tahu ada bukti uang banyak di Bank dan bisa membangun, itu realita. Kemudian programnya pun sangat baik, mana ada tamat SMU sudah bisa hafal Al-Qur'an 30 juz, sekarang ini sudah ada yang mampu hafal 13 juz, padahal belum sampai Aliyah, dia bisa hafal bolak-balik, itu saya saksikan sendiri di sana mereka memang punya ingatan yang bagus gitu, saya tanya langsung mereka itu. Lalu guru-gurunya juga sama, apa itu bukan keterangan yang baik. Tuduhan ADIL itu memang luar biasa, yang saya tahu anak-anak itu bila jam 12 sebelum ke masjid mereka langsung wudlu di kelas dan tidak ada yang pulang ke asrama lebih dahulu.

Dan mengenai diri saya secara formal saya tidak ada kaitan dengan mereka, karena saya dan pak Adah memang sebagai Dewan Imamah NII waktu tahun 1979 tapi sekarang sudah non-aktif, lalu kata pak Adah kita ini sudah tidak steril sedangkan gerakan harus terus maju, ya sudah kalau begitu kita serahkan kepada generasi baru yang memang kelihatannya lebih punya kemampuan yang lebih hebat dari pada kita. Kita merasakan, yang kedua memang kelemahan, coba pak Adah sendiri bilang, kita sejak 1962 kita dakwah hasilnya malah pecah-pecah, itu menunjukkan kita tidak mampu, kan? Jadi perjuangan harus ada regenerasi. Lalu sekarang robah strateginya dari strategi revolusi kepada strategi seperti semboyan yang ada di Zaytun yaitu "Pusat Pendidikan dan Pengembangan Budaya Toleransi dan Budaya Perdamaian" robah yang seperti itu bisa saja.

Seperti peristiwa kita di Gunung Cupu. Maaf, ceritanya begini, saat kita di Gunung Cupu itu dunia sudah tahu kalau kita mau menegakkan syari'at Islam dengan dasar kita mengambil kekuasaan, itu latar belakang sampai kita di Gunung Cupu. Waktu itu kita satu resimen, 4.000 juga tidak ada setelah Siliwangi ke sana, coba yang memerangi sekeliling entah puluhan ribu tentara KNIL Belanda belum lagi tentara KL - tentara kerajaan yang bertugas di sana masuk di sini dan katanya mereka memandang ini biang keladi yang akan mendirikan Negara Islam yang sangat dimusuhi oleh Amerika atau AS. Jadi kalau sedang kecil makanya harus segera ditumpas habis. Waktu itu kita hanya mampu bertahan sekitar 4 bulan ada perintah harus bisa keluar sebisa-bisa, kalau kalian mati semua siapa nanti yang akan melanjutkan perjuangan ini, jadi akhirnya bagi tugas saja. Akhirnya ada yang ke Tasik Selatan ada yang Tasik Barat ada yang ke Ciamis, itu banyak anak yang tidak tahu jalan, itu tidak sadar di jalan tapi tahu-tahu sudah di tempat yang dituju saja, itu kan pertolongan Allah? Jadi yang tidak mati di situ akhirnya selamat dan bisa meneruskan perjuangan. Padahal berpuluh ribu tentara Belanda mengepung, karena yang sedikit ini mestinya harus hancur total, karena takut ke depannya nanti berbahaya. Nah sekarang terus ini, apalagi kalau tahu Zaytun itu ke sana larinya, otomatis itu mah, bisa.