Bab V : Suara Para Korban

01. Ridlwan
“Saya Lari Karena Dipukul dan Dicekik”

Kisah Ridlwan, santri asal Ambon yang berhasil melarikan diri dari Al-Zaytun (Jum’at, 3 Maret 2001), melalui drama pelarian yang sukses bersama keluarganya, yang sebelumnya telah bertekad untuk menjemput paksa anaknya, bila perlu dengan kekerasan. Di bawah ini ringkasan penuturan Ridlwan dan keluarganya yang juga kami abadikan melalui handycam.

Ridlwan adalah santri putra tingkat I’dadi (persiapan) angkatan kedua tahun ajaran 2000 di Ma’had Al-Zaytun, membayar uang pendaftaran sebesar Rp 13.500.000 tinggal di Asrama Al-Fajar bersama 12 santri lainnya dalam satu kamar. Usia Ridlwan 11 tahun ketika diwawancarai tim SIKAT.

Dituturkan oleh orangtua Ridlwan sambil masih menunjukkan ekspresi emosi dan kegeramannya terhadap ma'had Al-Zaytun, beliau menuturkan:

Anak saya ini sebenarnya sudah mengeluh dan tidak kerasan tinggal di ma'had sejak liburan Ramadlan 1421 H yang baru lalu. Dengan alasan sering dibentak dan dihardik oleh para ustadz serta diejek oleh teman-teman sekelas maupun teman sekamarnya dengan otok-olok “Ambon hitam” yang berlangsung terus setiap hari tanpa ada pembelaan dari murabbi yang sebenarnya bertanggung-jawab khusus di lingkungan kamar asrama.

Pertama kali pengaduan anak saya via telepon saya terima, katanya ia telah dipukuli oleh ustadznya, namun pengaduan itu saya tanggapi dengan kepala dingin, mungkin anak saya tersebut nakal atau melanggar, sehingga saya biarkan saja. Namun tiba-tiba sekitar satu bulan setelah itu ia mengadu lagi via telepon, bahwa ia telah dicekik dan diancam akan dihabisi, hal tersebut diceritakan sambil menangis dan mengharap betul agar segera dijemput.

Itulah latar belakang kami menjemput Ridlwan dari Al-Zaytun berkenaan dengan cara Al-Zaytun mendidik para santri sebagaimana yang diceritakan oleh Ridlwan anak kami. Padahal tadinya kami berharap pada anak tersebut dengan memasukkan ke pesantren jauh-jauh dari Ambon, selain karena situasi yang kurang aman di sana maka pendidikan ke-Islaman yang kuat dan benar adalah bisa diperoleh anak kami.

Kepercayaan kami terhadap ma'had Al-Zaytun saat itu karena lebih mendasarkan kepada wujud fisik bangunan megah pesantren tersebut, saya pikir mana mungkin keseriusan yang tercermin dari usaha membangun pesantren yang megah bak dongeng tersebut dikelola secara sembarangan?

Di samping itu memang saya sempat diyakinkan oleh saudara saya yang kebetulan akan memborong proyek pembangunan fisik di kawasan ma'had Al-Zaytun, walaupun ternyata pada akhirnya pekerjaan tersebut tidak jadi alias batal.

Tapi ya itulah kenyataannya, kepercayaan kami selaku orangtua menjadi pupus terhadap ma'had Al-Zaytun manakala kami dapati cerita anak kami Ridlwan yang ternyata sangat mengecewakan.

Bayangkan, anak kami yang dulu periang dan lincah, sekarang menjadi seperti anak stress, kadang suka ngomong sendiri dan sering termenung dan bahkan ketika kami tanyakan kepada anak kami tentang pelajaran dan penguasaan baca-tulis Al-Qur'an, ternyata anak kami masih sama dengan ketika sebelum ia masuk ke ma'had Al-Zaytun.

Baca Qur'annya malah sama sekali rusak, karena dilakukan tanpa tajwid, semua dibaca secara datar seperti bacaan bahasa kita berbicara sehari-hari, tata cara wudlunya pun malah terlihat sembarangan, ketika hal tersebut ditanyakan jawabnya, “Aku di sana (ma’had Al-Zaytun, maksudnya) tidak diajari…”

Orangtua Ridlwan mempersilahkan penulis dan tim SIKAT langsung mewawancarai anaknya. Di bawah ini kutipan wawancara penulis dengan Ridlwan yang direkam handycam, sebagai berikut:

Bisa disebutkan nama lengkapnya?
Nama saya Ridlwan bin Syeban, Ayah saya bernama Tamim bin Syeban.

Kapan Ridlwan masuk dan kenapa sampai keluar dan diculik dari ma'had Al-Zaytun?
Saya masuk pesantren Al-Zaytun Juni tahun 2000 diantar oleh ayah langsung dari Ambon dan langsung menuju ma'had Al-Zaytun. Awalnya saya senang dan biasa-biasa saja.

Tetapi setelah liburan Ramadlan kemarin tiba-tiba saya merasa tidak suka setelah teman-teman saya, baik di kelas maupun di kamar asrama semakin sering mengejek saya dengan kata-kata panggilan “Ambon hitam" bila memanggil nama saya dan juga mempermainkan serta memukul saya.

Bukankah pada setiap kamar asrama ada satu murabbi yang mengawasi serta membimbing kamu?
Iya betul, tapi ustadzanya diam dan membiarkan saja.

Di kamar kamu bersama berapa teman?
Satu kamar isinya 13 orang, tapi yang lain cuma 10 orang.

Sekarang tolong lanjutkan ceritanya.
Karena terus menerus begitu akhirnya saya tidak betah. Lalu saya menyampaikan keinginan untuk pulang kepada ustadz pembimbing (murabbi),tapi dijawab, itu tidak boleh.Dan ketika ustadznya tahu kalau saya mulai tidak betah dan berkeinginan untuk berhenti dari Al-Zaytun, ustadznya mulai galak dengan saya.

Akhirnya saya sering menangis dan minta dipulangkan, oleh teman-teman malah diledek, "Ambon cengeng". Karena saya sering menangis dan minta pulang saya sering dibentak dan dipukul.

Lalu saya menjadi malas belajar dan terus minta pulang, setiap saya minta pulang saya dipukul oleh ustadz Syaifuddin Ibrahim.

Akhirnya saya menelepon Ayah di Ambon dan mengadukan pemukulan itu. Tapi ayah saya tidak datang-datang. Pernah paman saya yang di Jakarta datang untuk mengambil saya tapi tidak diperbolehkan oleh Sekretariat, karena syaratnya harus langsung Ayah sendiri.

Lalu karena saya sudah malas belajar dan minta pulang terus akhirnya saya pernah dikeluarkan dari kelas dan dibawa ke kamar 130, di situ saya dipukuli oleh ustadz Ibrahim dan dia langsung membentak sambil mencekik teher saya dengan mengancam, “Kalau kamu minta pulang terus, saya habisi kamu!”

Kamar 130 itu apa dan siapa ustadz Ibrahim itu?
Kamar 130 itu kamar dewan guru tempat menyiksa dan memukuli santri-santri yang melanggar, Ustadz Syaifuddin Ibrahim itu adalah ketua dewan gurunya, orangnya tinggi besar, kulitnya hitam dari NTB dan terkenal jahat, usianya seperti bapak (penulis maksudnya, pen.). Kalau ada anak yang berantem dan berdarah, yang memukul juga akan dibuat berdarah, qisas.

Menurut Ridlwan ustadz yang baik tentu ada kan?
Ya ada, tapi ustadznya kebanyakan jahat-jahat, suka membentak dan memukul.

Setelah kamu dicekik oleh ustadz Ibrahim lalu kamu terus mengadukan ke siapa?
Saya malamnya lantas telepon ke Ambon dan menceritakannya kepada Ayah, sambil menangis. Beberapa hari kemudian keluarga saya yang di Jakarta datang dengan sopirnya. Itu hari Sabtu atau Jum'at tiga hari sebelum Idul Adlha.

Waktu itu ada pengunjung yang menanyakan nama Ridlwan, padahal nama Ridlwan di asrama ada tiga orang, setelah di antara kami saling menyuruh untuk menemui, akhirnya saya yang maju, saya ditemui oleh seseorang yang ternyata sopir paman saya dan ditanya, “kamu punya paman yang tinggalnya di Bogor?”
Saya jawab: “ya betul.”  Lalu sopir paman saya mengatakan, "Paman kamu sudah di masjid. Kamu sekarang ke sana tapi pura-pura saja tidak kenal, lalu setelah itu carilah mobil Carry pamanmu di tempat parkir dan masuklah dari pintu belakang, dan sembunyilah dibawah jok tengah.” Setelah bicara, sopir paman saya langsung pergi. Setelah tiba shalat Dzhuhur saya ke masjid dan setelah selesai shalat saya langsung mencari mobil Carry paman saya, terus saya langsung masuk dan sembunyi di bawah jok tengah. Kemudian setelah itu mobil paman saya berangkat. Setelah melalui pintu pemeriksaan, akhirnya saya lolos, mobil paman saya terus ngebut. Saya baru disuruh bangun dari bawah jok oleh paman saya setelah berada di pintu tol Bekasi.

Setelah kamu berada di rumah paman di Bogor, apakah pihak Al-Zaytun pernah mencari-cari atau menanyakan kamu?
(Dijawab oleh kakak sepupunya): Mereka (pihakAl-Zaytun) menghubungi via telepon di alamat dia mendaftar, yaitu di rumah pamannya yang lain di Rawa Domba Pulo Gadung, Jakarta Timur.
Setelah dua minggu di Bogor baru kita bawa kemari untuk diantar pulang ke Ambon. Rencananya hari Selasa, 26 Maret besok kita antar ke Ambon.

Penulis sempat membawa Ridlwan setibanya dia di Jakarta dari rumah pamannya di Bogor untuk mendatangi berbagai kantor mass media, dan juga bertemu dengan Bapak Din Syamsudin, Bapak Syafi'i Ma'arif serta Ibu Nibras OR Salim. Selanjutnya membawanya ke rumah Arrizal di Tangerang, teman sekelasnya yang lebih dahulu kabur dari ma'had dua minggu sebelumnya. Kesempatan selama satu minggu bersama Ridlwan diberikan oleh keluarganya kepada penulis, karena ternyata Ridlwan adalah keponakan Ir. H. Muhammad Umar Alkatiri, aktivis Islam mantan tapol/napol kasus Peledakan BCA (Bank Central Asia) di tahun 1984, yang penulis kenal ketika sama-sama di dalam penjara.

Coba kini ceritakan aktivitas rutin kamu di Al-Zaytun sejak bangun pagi hingga tidur malam.
Masuk kamar asrama jam tidur pukul 22.00, pintu dikunci dan bangun pukul 03.00 pagi lalu mandi dan terus ke masjid, menunggu sampai waktu shubuh, setelah selesai shalat shubuh, tahfidzh sendiri-sendiri selama setengah jam, lalu kembali ke asrama melakukal tugas piket kamar.
Pukul 06.00 sarapan pagi, pukul 07.00 masuk sekolah, istirahat sebentar untuk shalat Dzhuhur berjama'ah lalu kembali lagi ke asrama pukul 12.30 makan siang di kantin, pukul 13.00 istirahat sampai pukul 14.00 Kemudian bangun pukul 13.30, mufradat sampai pukul 15.00, lantas persiapan shalat Ashar.
Setelah Shalat Ashar berjama'ah, acara bebas makan snack di kantin, setelah itu waktu untuk olahraga, atau ke laundry. Setelah mandi sore langsung ke Masjid untuk Shalat Maghrib berjama'ah, dilanjutkan dengan tahfidzh hingga shalat Isya'.
Kemudian makan malam pukul 20.00, selanjutnya kembali ke asrama ke ruang belajar sampai pukul 21.30. Selankutnya pukul 22.00 masuk kamar untuk tidur.

Ustadz atau Murabbi-nya ikut tidur juga saat itu?
Ustadznya boleh keluar, kita dikunci dari luar.

Bagaimana pergaulan antara santri putra dengan putri, apakah bebas berbicara atau pacaran?
Pergaulannya biasa-biasa saja, ada acara ulang tahun, Valentine’s Day dan ada yang pacaran, tapi kalau ketahuan surat-menyurat nilai akhlaqnya dikurangi.

Antara ustadz dan ustadzah-nya ada yang pacaran?
Ada, banyak, ustadz-nya kan bebas, yang dinikahkan juga ada.

Do'a apa saja yang diajarkan?
Do'a menuntut ilmu dan setiap do'a diakhiri membaca Sami'na wa atha'na ghufranaka Rabbana wa ilaikal mashir.

Do'a untuk orangtua?
Tidak dianjurkan.

Bagaimana kamu diajarkan tentang ketaatan atau kepatuhan kepada Allah?
Kita diajarkan patuh dan taat kepada para ustadz dan Syaikh al ma'had.

Apa yang diajarkan kepada kamu tentang Syaikh ma'had, tentang Al-Zaytun misalnya?
Tentang Syaikh ma'had, dikatakan beliau adalah calon pemimpin bangsa dan dunia karena sudah dikenal oleh pemimpin-pemimpin negara di dunia intemasional. Sehingga banyak negara yang melakukan kerja sama dengan ma'had Al-Zaytun, seperti proyek air minum dari Amerika yang akhirnya setiap santri harus membayar uang sebesar Rp 300.000 untuk membeli peralatan seperti dispenser yang dipasang di setiap kamar asrama, tapi tidak ada air panasnya.
Syai'kh ma'had selalu menceritakan kehebatan Al-Zaytun, dan setiap kami dikumpulkan di Masjid Al-Hayat ceramah yang disampaikan oleh Syaikh ma'had selalu hanya bercerita tentang kehebatan ma'had Al-Zaytun di mata dunia intemasional, sambil mengisahkan jalan-jalan ke luar negeri, tentang Menara Eifel di Paris, kereta api listrik dan banyak.

Bagaimana kamu diajarkan dalam mendo'akan Syaikh al-Ma'had?
Setiap Syaikh ma'had akan pergi ke luar negeri, semua santri dikumpulkan, lantas diberitahukan misi dan keperluan kepergiannya kemudian kita disuruh mengamini do'a yang dibacakan oleh wakil Syaikh untuk kesuksesan Syaikh al Ma'had.

Kamu tahu tempat istirahat atau menginapnya Syaikh al-Ma'had, kamarnya dimana?
Ruangan Syaikh di lantai 5 Gedung Al Musthafa, bagian ujung yang ada antena parabolanya.

Berarti di lingkungan asrama putri dong?
Betul, di lantai 6 juga ada asrama santri putri.

Pada saat Ramadlan yang lalu Zakat Fithrah kamu ditetapkan berapa?
Untuk angkatan saya besarnya Rp 300.000 tapi untuk anak kelas Dua hanya Rp 100.000.

Harakat Qurban?
Ditetapkan Rp 350.000 tapi saya belum membayarnya. Karena saya sudah kabur duluan.

Untuk makan sehari-hari, katanya diambilkan dari hasil peternakan atau dari kolam sendiri?
Betul, tapi setiap hari kita tidak makan daging sapi, kalau ikan kita tidak pernah diberi dari kolam sendiri. Karena ikan yang di kolam itu hanya untuk menjamu para tamu Syaikh saja.

Kamu pernah mendengar dari para ustadz atau Syaikh ma'had tentang Negara Islam?
Pernah, dikatakan oleh para ustadz itu, kami dididik dan disiapkan untuk menjadi pemimpin negara Islam.

Pernah diajarkan tentang sejarah DI/TII Kartosoewirjo?
Tidak

Kamu pernah mendengar keluhan atau hal yang tak wajar tentang para ustadz?
Pernah ustadznya cerita kalau gajinya yang Rp 400.000 per bulan itu yang Rp 300.000 harus disetorkan ke ma'had sebagai infaq. Selain itu dosen pelajaran HAM adalah dari Kristen. Para ustadz juga menceritakan, bahwa mereka pun diajar oleh dosen yang agamanya Kristen.

Kamu tahu berapa banyak teman-temanmu yang lari atau mengundurkan diri?
Sebelum saya kabur dari ma'had, dua teman saya Arrizal dan Akbar telah kabur duluan. Mereka kabur dari ma'had pada waktu shubuh ketika sedang hujan melalui persawahan. Arrizal rumahnya di Tangerang sedangkan Akbar rumahnya di Jogyakarta. Waktu liburan semester kemarin yang tidak kembali ke ma'had sebanyak 17 santri.
Penulis sempat mempertemukan Ridlwan dengan Arrizal di rumah orangtuannya di Tangerang, sebelum pulang ke Ambon.

2. Arrizal
“Saya Dipukul Ustadz Ibrahim”


Mengapa kamu tidak betah dan kabur dari Al-Zaytun?
Hampir sama dengan Ridlwan, namun saya tidak pernah dicekik cuma pernah dipukul sama ustadz Saefuddin Ibrahim. Dia ustadz yang paling galak dan kejam, julukannya Malaikat.

Kamu pemah masuk ruang 130?
Pernah sekali, di situlah saya dipukul ustadz Ibrahim.

Bisa diceritakan proses pelarian Rizal dari ma'had Al-Zaytun?
Saya bersama Akbar sudah merencanakan pelarian sekitar satu minggu. Waktu itu semuanya sedang persiapan shalat Shubuh, saya dan Akbar sambil menunggu peluang di masjid, kebetulan saat itu turun hujan yang cukuplebat. Melalui samping tempat wudhu saya berdua mengendap-endap terus menyeberang dan menyelinap di antara gedung lantas berlari melalui sawah setelah sebelumnya melewati sungai yang sedang deras airnya.
Kami berdua terus berlari menuju arah selatan desa terdekat (desa Suka Slamet maksudnya, pen.), setelah melewati lapangan bola, akhirnya sampailah kami di ujung desa. Kami berdua dihampiri penduduk dan menanyakan keadaan kami, karena pakaian kami basah kuyup dan berlumpur. Lantas kami ditolong masyarakat desa tersebut dan dipinjami pakaian. Lalu disuruh membersihkan badan dan pakaian kotor kami. Setelah itu kami disuruh makan dan istirahat.
Siangnya setelah sholat Dzuhur, kami pamit akan pulang ke Sumedang ke rumah nenek. Dengan menumpang ojek kami berdua diantarkan menuju pangkalan angkot jurusan Sumedang. Saat kabur itu saya tidak bawa uang sama sekali, tetapi Akbar punya uang Rp 40.000.
Sampai di Sumedang sekitar waktu Ashar, di rumah nenek akhirnya kami berdua menginap sambil menghubungi keluarga Akbar di Jogya. Setelah dua hari menginap orangtua Akbar datang menjemput, sedangkan saya diantar pulang ke Tangerang oleh keluarga Nenek di Sumedang saat itu juga.
Sampai di rumah, Bapak saya marah-marah dan hendak mengembalikan saya ke Al-Zaytun. Tapi sebelumnya menghubungi lebih dulu melalui telepon ke sekretariatan ma'had Al-Zaytun, dan dijawab tidak bisa diterima lagi.

Bagaimana kamu merencanakan kabur dari Al-Zaytun?
Saya rencananya kabur bertiga, tapi Ridlwan tidak ikut. Kami bertiga sebelumnya mencari cara bisa kabur, tapi nggak ketahuan. Soalnya banyak santri-santri yang kabur, tapi ketahuan, akhirnya ditangkap keamanan Al-Zaytun (TIBMARA maksudnya, pen.). Lalu kami buat gambar dan arah untuk kabur. Paling aman pagi-pagi lewat belakang Masjid, langsung ke sawah dan tahu-tahu ketemu lapangan sepak bola yang seberangnya sudah rumah penduduk.

Penuturan orangtua Arrizal
Saat penulis melakukan investigasi ke rumah Rizal, hanya berbekal informasi yang sangat minim dari Ridlwan. Selain informasi tentang nama (Arrizal atau Rizal), informasi lain yang bisa diberikan Ridlwan hanya petunjuk singkat: “samping Bank BNI Legok. Tangerang.” Ternyata bukan BNI tetapi BRI.
Dengan izin Allah, Alhamdulillah kami diberi kemudahan secara tidak sengaja bertemu dengan Kades Kemuning, namun masih satu kecamatan, yang dengan suka hati membantu mencarikan alamat Rizal yang beralamatkan di desa Babakan. Melalui jasa Pak kades Kemuning inilah alamat tersebut ditemukan.
Di bawah ini penuturan orangtua Rizal kepada penulis sehubungan dengan proses pengunduran diri putranya dari ma'had Al-Zaytun.

Kami tadinya sangat berharap sekali pesantren seperti Al-Zaytun itu benar-benar pesantren Qur'an-Hadits dan kehidupan Islam dimulai dari situ, sehingga anak saya tidak saja menguasai bahasa Arab dan Inggris tapi juga bertanggung jawab dan benar dalam melaksanakan Islam ini. Namun anak saya ini setelah liburan semester kemarin tiba-tiba saja ngotot pengin keluar dan pindah ke sekolah biasa saja. Saya juga tidak mengerti sama sekali negatifnya Al-Zaytun, karena yang saya dengar masih baik-baik saja, dan yang saya dapatkan dari anak saya sendiri masih minim untuk bisa membuat penilaian tentang Al-Zaytun.

Walaupun memang kalau kita mau mendengar desas-desus, seperti ketika saya mengunjungi anak saya ada wali santri yang dari Surabaya Jawa Timur membisiki saya, itu lho malaikatnya, sambil menunjuk salah seorang ustadz yang bernama Ibrahim, katanya ustadz Ibrahim itu memang terkenal galak dan kejam.

Selain itu setelah 6 bulan belajar di tingkat persiapan (I'dadi) perkembangan penguasaan bahasanya ternyata belum menunjukkan ada perubahan. Diantaranya ketika saya tanyakan tentang pelajaran tarjamah Al-Qur'an, ternyata sama sekali belum diajarkan dan kalaupun anak ini bisa tetapi terjemahan yang verbal dan malah sepotong-sepotong, tidak mengesankan adanya diajarkan berdasarkan ilmu nahwu-sharaf dan yang semestinya gitu.

Dan ketika saya tanyakan apa yang diajarkan kepadamu tentang rukun-rukun shalat, anak saya sama sekali tidak menyebutkan soal wudhu, dan ketika hal itu saya tanyakan kembali anak saya malah menjawab, kita tidak diajarkan harus wudhu dulu sebelum shalat. Coba tanyakan sendiri kepada anak saya itu. Dan memang kalau saya sempat menginap di ma'had sana seingat saya Syaikh ma'had baru sekali ikut shalat berjama'ah di Masjid, selebihnya ketika saya tanyakan hal tersebut kepada Abi Abdus Salam (Wakil Syaikhul ma'had) kenapa Syaikh tidak kelihatan shalat berjama'ah, jawabnya Syaikh sedang sibuk.

Saat itu memang saya sempat berpikir, bagaimana ini kalau Syaikhnya saja ke Masjidnya cuman hari Jum'at saja, jadi tidak memberi contoh gitu. Demikian pula masalah keputusan, semuanya menunggu Syaikh, sepertinya kalau tidak ada Syaikh semua urusan tidak bisa diselesaikan. Sebagai contoh, ketika saya mengurus untuk mengeluarkan barang-barang anak saya, masa harus menunggu Syaikh. Sampai dua malam saya harus menginap di sana, baru setelah saya ngotot bersikeras dan menyerahkan seluruh dokumen administrasi anak saya kepada mereka, akhirnya baru diperbolehkan membawa barang-barang anak saya.

Dan memang kelihatannya masalah uang sepertinya selalu jadi persoalan, ya kalau seperti saya yang sedikit punya, masalah uang untuk ini uang untuk itu tidak masalah, tapi bagaimana bagi orangtua atau keluarga yang uangnya pas-pasan, menganggap Rp 13.500.000 sudah cukup dan tidak lagi akan dimintai uang ini uang itu pasti akhirnya kerepotan dan kebingungan.

Tapi bagaimanapun saya tetap bersyukur, barangkali keluarnya anak saya dari sana justru malah baik untuk kemudian harinya, artinya belum terlalu jauhlah anak saya, jadi ini seperti diselamatkan oleh Allah. Karena memang niat saya benar-benar ingin yang baik sebelumnya.

Pada kesempatan tersebut Rizal masih belum bersedia untuk ditanya, namun setelah penulis datang kembali dengan membawa serta Ridlwan, barulah Rizal bersedia menceritakan proses pelariannya dari ma'had Al-Zaytun, dan sempat direkam handycam.

3. Ibu Rahmah
“Saya Sedih, Anak Saya Kini Berubah”

Dari penuturan orangtua santri yang saat Iedul Adha 1421 H kemarin menyerahkan permintaan anaknya tentang kewajiban ber-Harakah Qurban dalam bentuk uang sebesar Rp 450.000 langsung ke ma'had Al-Zaytun, seakan melengkapi kesedihan dan keputus-asaannya atas keberadaan anaknya di ma'had Al-Zaytun yang makin banyak tuntutannya serta menjadi pemurung dan agak aneh.

Dituturkan dengan nada sedih dan keluh-kesah Ibu Rahmah menceritakan: 'Iedul Adha kemarin saya mengantarkan uang qurban anak saya untuk yang ketiga kalinya ke ma'had, berangkat subuh sampai di sana sekitar pukul 10 wib. Setelah uang saya serahkan kepada panitia qurban di kesekretariatan Masjid Al-Hayat, barulah saya meminta izin kepada pihak ma'had untuk bertemu dengan anak saya.

Sempat beberapa lama saya menunggu sampai akhirnya saya mengingatkan kembali kepada petugas ma'had agar bisa segera bertemu dengan anak saya. Agak lama kemudian anak saya muncul dengan wajah lesu dan tanpa ekspresi kegembiraan atas kedatangan kami sekeluarga.

Saya pun langsung memeluk sambil menanyakan, bagaimana kabar dan segala sesuatunya, namun malah dijawab dengan pertanyaan yang sifatnya bernada menuntut tentang lambatnya pengiriman uang baik uang rutin maupun uang pengadaan mesin cuci yang baru dibayar separo (Rp 500.000 dari seharusnya Rp 1.000.000) dan berbagai tuntutan keuangan yang tidak terpenuhi.

Saya pun lantas bertanya, kamu ini ngomongnya kok duit melulu sih, baru saja kita bertemu. Saya sangat terkejut ketika anak saya memberikan jawaban: "Yang Ibu berikan ini sesungguhnya belum seberapa bila dibandingkan dengan yang saya terima dari syaikh ma'had, coba hitung berapa kebutuhan hidup di sini setiap bulannya, sementara ibu tidak pernah memikirkannya. Ini baru diminta uang sedikit saja sudah mengeluh dan keberatan."

Lantas dilanjutkan dengan memuji kebaikan syaikh ma'had yang tak bisa digambarkan, yang pada intinya meyakinkan kami keluarganya agar tidak berat hati untuk memenuhi setiap permintaan uang yang ditentukan oleh ma'had.

Kami sekeluarga menjadi termangu, ada apa ya, kok anak saya jadi begini. Tak lama kemudian datang waktu lohor, anak saya pun pamit dan menjanjikan ketemu lagi di masjid setelah pukul 14.00 sesudah makan.

Kami pun menunggu sambil berjalan ke sekitar lingkungan ma'had, namun waktu itu kami tidak menyaksikan sama sekali adanya kegiatan penyembelihan qurban pada hari 'Iedul Adha saat itu. Setelah waktu menunjukkan pukul 14.00 kami pun ke masjid, kesana-kemari kami mencari anak tersebut namun belum juga kami temukan, dan baru sekitar hampir waktu Ashar kami dapati anak kami itu duduk termenung di tepi kolam dekat masjid Al-Hayat.

Kami panggil dia. Namun ia datang dan sama sekali tanpa ada semangat, akhirnya kami bujuk-bujuk agar tidak sedih dan kecewa setelah kami berjanji akan memperhatikan keperluan dan permintaannya maka barulah air muka anak saya agak sedikit cerah. Akhirnya kami pulang serasa diganduli dengan penuh pertanyaan yang menggumpal di kepala, sedang perasaan saya pun sebagai orangtua menjadi khawatir sekaligus tersayat-sayat.

Telah diapakan anak saya itu oleh ma'had Al-Zaytun, kenapa ia jadi tidak hormat kepada orangtuanya? Kenapa yang dibicarakan uang, uang dan uang…? Saya sedih dan berharap kiranya keadaan anak saya itu bisa ditolong atau diselamatkan. Dalam perjalanan pulang ternyata kami bertemu dengan orang tua yang senasib dengan kami.

Demikian cerita sekaligus harapan ibu Rahmah kepada Penulis saat diwawancarai pada tanggal 8 Februari 2001.

Dari cerita dan keluh-kesah orangtua salah satu santri di atas tentu tidak menutup kemungkinan adanya keluh-kesah serupa yang saat ini menggumpal dalam pikiran maupun perasaan dan hati masing-masing para orangtua santri. Namun sekedar keluh-kesah tentu tidak akan mengubah keadaan tersebut, terkecuali dengan upaya bersama menghadapi kemisteriusan pesantren yang di balik kemewahannya itu ada penyimpangan dan kesesatan, ada kejahatan dan kezhaliman yang luar biasa, yang dipersiapkan dan dijalankan secara sistematis dan terorganisir.

Bukan suatu prediksi yang berlebihan bila kesimpulan akhir menyatakan praktek program brain washing sesungguhnya telah dilancarkan sejak awal proses pembelajaran di ma'had Al-Zaytun hingga entah kapan berakhirnya, mungkin hal itu berjalan hingga sampai terlepasnya ikatan perasaan maupun ikatan nasab basyariyah antara anak dan orangtua serta keluarga. Na'udzubillahimmdzalik.

4. Bapak Djaini Azar
“Anakku ‘Hilang’ Setelah Ikut NII”


Saya ayah dari enam anak. Saya minta nama saya dirahasiakan saja karena khawatir dengan keselamatan anak saya. Kalau anak saya sudah pulang, tak masalah nama asli saya dicantumkan. Saya dan istri berasal dari Sumatra Barat, namun sudah lama berdiam di Jakarta, di kawasan Cengkareng. Kami membuka rumah makan. Anak ke tiga kami perempuan, sebut saja Dewi (19), setelah lulus SMP, melanjutkan SMA di Padang. Ketika kelas dua SMA di akhir 1999, ia pindah SMA di Cengkareng, dan tinggal bersama kami kembali.

Dewi anak yang sangat baik, penurut, bukan tipe orang yang keras kepala. Ia juga rajin. Rumah setiap hari dibersihkan. Sampai ibunya sering bilang, “udah Wi, berbenahnya, capek nanti kamu.” Tapi dia jawab, ”nanti Ma, sampai benar-benar rapi.” Sama adik-adiknya juga baik, ia sering bercanda sama mereka. Apalagi sama adiknya yang paling kecil, sayang sekali.

“Di sekolah ia dapat rangking terus, terakhir rangking ke tiga.” Kami berharap ia menjadi bidan nantinya. Dan alhamdulillah, ia juga berkeinginan menjadi bidan, seperti salah seorang kerabat kami. Kalau saya pulang, sambil melepas lelah saya minta ia mencarikan uban, ”Wi, cariin uban ayah ya, sudah banyak.” Langsung ia cariin, sambil bercanda dengan saya. Seperti saudara-saudaranya, ia jujur dan tak penah mengambil uang saya atau ibunya. Pernah uang Rp 1.500.000 saya taruh di meja telpon. Sewaktu mau berangkat sekolah sambil pamit, ia ambil recehan di dalamnya, Rp 4.000 sebatas untuk mencukupi ongkos transport ke sekolahnya.

Namun tiga bulan setelah kepindahanya, perangai Dewi berubah. Ia sering terlambat pulang sekolah, sore hingga malam hari. Setiap kami tanya dari mana, jawabnya santai saja, dari rumah teman.”Rumah teman yang mana? Kasih kami nomer telponya, biar nanti kalau Dewi main kami bisa nelpon ke sana, jadi nggak khawatir,” demikian tanya ibunya.Tapi dia tetap tak acuh saja. ”Nggak bisa,” katanya.

Memasuki bulan puasa 1999, ia tambah sering pulang malam. Setiap kami tanya bahkan memarahinya, ia beralasan buka bersama di sekolah. Tiba-tiba di pertengahan bulan puasa, uang di dalam lemari ibunya hilang, padahal lemari itu terkunci. Dua hari kemudian, giliran KTP abangnya hilang. Padahal ditaruh di dalam kantong bajunya. Lantas, di awal Januari 2001, kami ingin menyimpan uang sisa hasil keuntungan dagang ke rekening abangnya. Namun buku tabungannya hilang juga. Anak saya yang lain ngomong, ”… coba cek ke bank, mungkin uang di bank habis juga…” Sewaktu di cek benar juga ternyata tabungan dikuras dengan memalsukan tanda tangan abangnya oleh dua orang laki-laki.

Kami tanyakan pada Dewi, ”… duit sering hilang, siapa yang mengambil Wi?” Dia malah menangis, “… sedikit-sedikit duit hilang, selalu Dewi yang ditanyain." Saat itu Dewi sudah berubah jauh perangainya. Selain terlambat pulang ia jadi anak yang tertutup. Di rumah ia selalu menyendiri. Tidak mau lagi ngobrol dengan keluarga, tak acuh kepada adik-adiknya, begitupun pada kami orangtuanya. Nilai rapotnya pun turun drastis. Merahnya sampai berjumlah sembilan. Saat itu kami sudah curiga, sepertinya ia ikut gerakan NII, kami dengar ada salah seorang anak tetangga juga ikut gerakan itu.

Saat itu di rumah juga banyak yang menelpon, mencari Dewi. Jika kami yang terima telpon itu dan ditanya dari siapa, sang penelpon menjawab dari teman sekolahnya. Kami sering jawab Dewi tidak ada. Atau kami tegaskan kalau mau main datang saja ke rumah. Sering juga setelah mendengar suara yang menerima telepon bukan Dewi, telepon langsung ditutup.

Kami mulai waspada setiap berangkat sekolah Dewi diantar jemput kami pakai motor. Namun terlambat sedikit saja, dia sudah kabur dan pulang ke rumah sore atau malam. Setiap kami desak dari mana, jawabnya dari rumah teman, dan langsung masuk kamar.

Pada bulan Februari hilang lagi uang ibunya, yang disimpan di dalam tas di lemari terkunci. Hilang pula uang recehan seribu atau lima ratus yang ditabung dalam kaleng biskuit sebanyak dua kaleng di lemari itu. Akhirnya Dewi kami desak dan ia mengaku.

“Ya Dewi serahin uang semuanya ke sana.”

Kami tanya, “kemana?”

Ia tenang saja menjawab: “ke sana, untuk berjihad.”

Kami sedih sambil marah, ”jihad ke mana! Untuk berjihad khan harus tahu orangtua?”

Dewi jawab: “ayah nggak ngerti.”

“Nggak ngerti gimana? Duit orangtua kamu ambil, maling itu, itu ajaran yang sesat,” jawab ayahnya.

Dia tenang saja, “nggak bakal hilang, duitnya dititipin di sana.”

Ia juga mengaku mengambil uang di rekening abangnya. Dan ia sendiri yang membuat tiruan tanda tangan abangnya. Alasannya untuk berjihad, sedekah dan infak.

Dewi mulai sering tak pulang sehari semalam padahal tetap kami antar jemput. Kalau tidak ia sudah pergi. Pernah juga kami megalami peristiwa yang cukup memalukan. Emas 25 gram milik kakak sepupunya yang berkunjung ke rumah, hilang juga. Dan Dewi tidak pulang lagi semalam, sewaktu pulang tidak ada penyesalan, atau takut. Kami sedih dan marah, “… emas kamu bawa ke mana? Nggak kasihan orangtua kamu, capek-capek usaha untuk kamu, koq kamu begini amat sih?” Nangis waktu kami ngomong itu, tapi dia santai saja.

Tak lama setelah Iedhul Adha, ia pergi lagi dari rumah, sampai dua minggu. Kebetulan ada anak tetangga, teman sekolahnya yang pernah pergi bersama dia. Setelah kami desak, ia mau mengantar kami ke tempat mereka pergi dulu. Kami menuju ke komplek Departement Agama di Kedoya. Disitu kami temukan Dewi bersama temannya. Dia tak bisa lagi menghindar, namun temannya keburu kabur.

Akhirnya kami paksa untuk menunjukkan tempatnya yang biasa ia pergike tempat ngajinya. Banyak anak muda termasuk Dewi dan ada juga yang sudah drop out dari STAN, dan sudah menyerahkan motor untuk gerakan itu. Orangtuanya tidak tahu ia masuk gerakan itu dan juga kuliahnya yang sudah putus.

Sewaktu pulang ke rumah, sikap Dewi tak acuh. Padahal selama dua minggu anak itu nggak pulang, tak karuan perasaan kami. Sampai akhirnya kami pukul dia, padahal seumur hidup saya belum pernah memukul anak. Aku bapaknya. Namun saya masih sadar, saya sabet kakinya saja. “Kenapa kamu nggak mau ngaku. Kamu itu ikut kelompok apa?”

Di bulan Oktober, kembali ia tak pulang sehari semalam. Saat itulah kami menemukan secarik kertas di kamarnya. Isinya berupa Bai’at (sumpah setia). Saat itulah kami tambah yakin, ia ikut gerakan NII. “Dewi kan ngerugiin Dewi sendiri ikut kelompok itu, mana sekolah berantakan, emak nangis terus mikirin Dewi. Dewi jangan lagi ikut kelompok itu. Itu ajaran sesat. Mereka hanya mau menghancurkan masa depan kita,” nasihat ibunya. Tapi ia tak acuh saja, kayaknya tidak didengar nasihat orangtuanya.

Beberapa waktu kemudian kami baru tahu bahwa kelompok itu orangtua pun bisa dianggap kafir kalau tidak sepaham dengan dia. Memang kami menangkap kesan Dewi begitu benci terhadap orangtua dan saudaranya. Kalau saya bonceng ia pulang dan pergi sekolah, selalu duduknya menjaga jarak seolah bukan muhrim. Kalau saya duduknya duduk ke belakang ia makin menjauh. “Sedih dan marah sekali saya, betapa jauhnya mereka merubah anak kami…”

Pernah pula ia saya kurung di rumah selama seminggu. Sekolahnya pun terpaksa diijinkan untuk tidak masuk selama itu. Pikir saya kalau karena narkoba pasti tidak tahan. Tapi tak terjadi apa-apa ia santai saja. Menonton tv, tapi tak mau dekat dengan keluarga. Dia dingin saja terhadap adik-adiknya. Siang malam kami selalu menjaga dia agar tidak kabur lagi dari rumah.

Sampai akhirnya pada 20 November 2000, seperti biasa kami antar ia ke sekolah. Setelah bel berbunyi, ada seorang pria yang mencarinya dan ngobrol dengan pria temannya. Namun sewaktu guru akan memanggilnya ia sudah tidak ada. Di tempat usaha saya ditelepon adik yang rumahnya tidak jauh dari rumah kami, memberitahu kalau Dewi menelpon dari rumah dan berpesan sedang istirahat di rumah, dan tidak usah dijemput. Saya langsung curiga dan pulang.

Ternyata Dewi sudah mengambil VCD yang ada di rumah. Dengan jalan menjebol pintu, karena ada bekas telapak sepatu di dinding pintu. Dan ternyata Dewi sudah pergi dengan dua orang temannya, menurut pengakuan tetangga yang melihatnya. Sejak saat itu Dewi tidak kembali. Dan hati kami merasa tercabik-cabik, apalagi Dewi anak perempuan. Kami sangat mengkhawatirkan keberadaannya.

Ibunya sampai seperti orang gila menangis dan menjerit memanggil-manggil Dewi, yang tidak tahu dimana ia berada. Pada saat itu sempat goyah iman kami, dengan pergi ke dukun supaya Dewi bisa kembali. Sampai empat bulan kami terus mencari, sambil bawa bekal untuk makan di jalan.

Pada 02 Februari 2001 Dewi menelpon, ia minta maaf dan mengaku sehat-sehat saja. Kami menangis minta dia untuk pulang, dan menanyakan dimana, tapi Dewi bilang ini rahasia. Seminggu kemudian Dewi telepon lagi dia minta dikirimi uang dengan rekening dan nama tertentu. Setelah uang ditransfer ia janji akan pulang sore harinya, minta dijemput di terminal Slipi. Ternyata setelah dicek nomor rekening dan namanya tidak ditemukan. Dan Dewi pun tidak muncul juga.

Beberapa hari kemudian Dewi telepon dengan nada marah karena uangnya tidak dikirim. Kami mencoba menerangkan, tetap tidak mau mengerti juga. Dia malah menjawab, “ya... sudah kalau emak tidak sayang ama Dewi, biarin Dewi dimana aja. Terus dimatikannya telepon itu.” Kami pernah mencoba minta bantuan dari pihak Telkom untuk menyadap sinyal dari mana kalau Dewi telpon. Pihak Telkom mau asal ada ijin dari Kepolisian. Namun ternyata pihak Telkom masih menolaknya juga. Padahal kami mau membayar berapapun biayanya. Kami sudah tertimpa cobaan, tapi mereka terkesan tidak peduli.

Sampai kapan pun kami tetap menunggu kepulangan Dewi. Bahkan kami sudah jauh membayangkan, kalaupun ia pulang bersama suami sesama anggota gerakan itu dan membawa anak, seperti yang dialami tetangga kami, tetap akan kami terima. Kami pun berharap Dewi tergerak hatinya dan kembali ke pangkuan kami. Kami juga memohon dan menuntut tindakan nyata pemerintah. Cukuplah kami, orangtua yang menjadi korban gerakan sesat itu. Dan sampai detik ini, kami tidak tahu di mana Dewi berada. Kami mencoba untuk terus mencari sambil menyerahkan semuanya kepada Allah.

Kesaksian pada rubrik Dzikroyat (majalah Tarbawi) disusun berdasarkan wawancara dengan orangtua korban Bapak Djaini Azar yang dilakukan di kantor SIKAT (Solidaritas Ummat Islam Untuk Korban NII Al-Zaytun dan Aliran Sesat), Jakarta.

Nama asli Dewi adalah Yessy Zamwir binti Djaini Azar, sudah kembali ke rumah dua minggu setelah “Ied Al-Fithri”, sebelum kesaksian pada rubrik Dzikroyat itu dimuat oleh Majalah Tarbawi. Kepulangan Yessy membawa pengakuan dan berita baru tentang perpecahan yang terjadi dalam tubuh NII, yang dimulai dari dalam Ma’had Al-Zaytun, langsung antara Imam NII Al-Zaytun dengan Komandan Tentara NII atau Tentara Islam Indonesia (TII) yang dampaknya pun membelah peta kekuatan NII pada jajaran Teritorial.

Kepulangan Yessy pun atas perintah pimpinan TPH (Team Pelaksana Harian) yang memberikan pilihan kepada seluruh jajaran yang ada dalam meneruskan pola perjuangannya.

Pilihan pertama, adalah jalur Teritorial atau pelaksanaan Dulatul Amri (perputaran komando) tetap berjalan masih dengan susunan struktur NII Abu Toto. Dan bagi para Mas’ul yang masih bersedia meneruskan pergerakan ditempatkan sebagai anggota TPH (Team Pelaksana Harian) yang terbagi menjadi 4 tingkatan TPH (pusat, kabupaten, kecamatan dan desa).

Pilihan kedua, adalah jalur non-Teritorial atau pelaksanaan pergerakan ummat yang sedikit mengalami perubahan dari sisi Al-Amnu (keamanan) dan Program dari yang biasa dilakukan. Intensitas pergerakan harus rapi, teratur dan menjauhi hal-hal yang mengundang Amnu, seperti lari dari rumah, mencuri, menipu dsb. Dan bagi para Mas’ul yang mengundurkan diri dari jabatannya dan memilih menjadi ummat diharapkan agar tetap berkomunikasi dan berkoordinasi dengan para TPH walaupun sudah tidak memiliki tanggungjawab sebagai aparat.

Kepulangan Yessy –yang sempat membuat kekalutan-- bagi kedua orangtuanya yang selama ini pontang-panting dengan segala usaha mencari anaknya yang ‘hilang’ kini terbayar sudah. Namun kekhawatiran akan doktrin sesat NII yang sudah sekian lama diserapnya serta aksi-aksi kriminal yang pernah dilakukannya membuat keluarganya terdorong untuk meluruskannya, tidak hanya pribadi namun seluruh keluarga yang telah menjadi korban NII Abu Toto.

Setelah dianggap siap, Yessy dibawa ke Sekretariat SIKAT untuk berdialog dan diberikan keterangan tentang keberadaan NII serta kesesatannya menurut Islam. Keterangan tentang dotrin, aktivitasnya di Jakarta-Bandung serta kondisi terakhir NII Abu Toto meluncur dari mulutnya sehingga memudahkan Tim SIKAT untuk menjelaskan secara mendetail tentang poin-poin kesesatan NII Abu Toto.

Mendengar pengakuannya tentang keberadaan NII yang terpecah, juga masih banyaknya korban-korban (lari dari rumah) seperti Yessy yang sekarang pergerakannya (Teritorial Jakarta Timur) dimutasi ke Bandung, membuat Tim SIKAT bersama keluarga Yessy bertekad mengambil langkah penyelamatan dengan mengadakan “penggerebekan” ke Malja’ (markas) yang pernah ditempati Yessy di Jakarta dan Bandung. Tim SIKAT yang berjumlah 5 orang beserta 4 orang keluarga Yessy berangkat ke Bandung untuk menindaklanjuti hasil temuan terbaru itu.

Aksi yang akan dilakukan di Bandung tersebut tidak lepas dari kerjasama tim SIKAT dengan FUUI (Forum Ulama Ummat Indonesia) serta FMK (Forum Musyawarah Keluarga Korban NII KW-9), sedangkan untuk mendampingi penggerebekan ditunjuk Bapak Krisman (ketua FMK) agar lebih mempermudah pelaksanaan. Koordinasi dengan pihak Polwiltabes pun sudah dilakukan, namun karena prosedurnya berbelit-belit dan terlalu lambat dalam bergerak, akhirnya penggerebekan dijalankan tanpa bantuan Polwil.

Penggerebekan di Bandung menghasilkan penemuan dokumen tentang perpecahan NII di Ma’had Al-Zaytun, serta dokumen-dokumen kenegaraan yang biasa digunakan komunitas NII Abu Toto. Juga tak lepas 10 orang anggota (1 orang Mas’ul, 1qorinah Mas’ul yaitu istri aparat, dan 8 ummat yang terdiri dari 2 wanita dan 6 laki-laki) yang kebetulan pada malam itu sedang melakukan briefing untuk menyampaikan hasil ijtima’ TPH pusat.

Penggerebekan yang dilakukan sekitar jam 19:00 waktu setempat bersama Ketua RT dan keamanannya membuat kaget masyarakat sekitar yang tidak menyadari bahwa lingkungannya digunakan sebagai pusat pergerakan tingkat desa NII Abu Toto. Selang satua jam setelah Tim SIKAT meninggalkan tempat kejadian pada pukul 21.00 dan langsung menuju Jakarta, polisi setempat mendatangi tempat tersebut dan menahan kesepuluh anggota NII tadi. Tentu saja untuk penindakan lebih lanjut polisi tidak memiliki bukti yang memadai berupa dokumen NII, karena seluruh dokumen penting sudah dibawa Tim SIKAT ke Jakarta untuk bahan penelitian dan penggerebekan lebih lanjut di Jakarta.

Selang sehari setelah melakukan penggerebekan malja’ Yessy di Bandung, tim SIKAT bersama orangtua Yessy melakukan penggerebekan malja’ Yessy di bilangan Kranji, Bekasi. Seperti biasanya, setelah berhasil menjalin kerja sama dan pengertian dengan aparat keamanan desa, RT dan RW penggerebekan dilakukan. Disaksikan masyarakat banyak.

Dari malja’ NII itu ditemukan setumpuk dokumen NII, seperti PDB, Qonun Asasi, Format-format kenegaraan, Kasykul (buku Agenda Mas’ul) organisasi NII. Partisipasi masyarakat mereka mengambil inisiatif sendiri untuk melakukan penggerebekan di tempat lain yang letaknya tidak begitu jauh dari malja’ yang pertama digerebek. Kedua malja’ yang sama-sama satu daerah Jakarta Timur namun beda kecamatan dan telah beda kubu.

Sayang aparat Polsek Kranji datang untuk mengamankan kedua malja’ dengan cara mengangkut mereka para anggota NII yang ditemukan tersebut ke Mapolsekta Kranji. Dan seperti biasa dengan gaya sok aparat yang bertanggung jawab, mereka menolak untuk melakukan koordinasi dengan tim SIKAT maupun orangtua korban terhadap pentingnya dokumen yang telah ditemukan tersebut. Pihak polsek malah menyarankan agar menyelesaikannya menurut prosedur, namun belum sampai 24 jam keberadaan mereka di Mapolsek, para anggota NII tersebut dilepaskan.

Akan halnya kebijakan Polwiltabes Bandung yang menahan dan mempublikasikan penahanannya terhadap 10 anggota NII yang sebenarnya telah keluar dan memberontak terhadap AS Panji Gumilang, malah terkesan enggan untuk melakukan penggalian secara mendalam terhadap informasi-informasi yang berkaitan dengan NII KW-9 dan Al Zaytun kepada 10 anggota Tim Pelaksana Harian NII faksi baru dan belum punya nama tersebut.

Bahkan ketika penulis memberikan tawaran bantuan kepada pihak Polwiltabes tentang informasi berkenaan dengan ihwal 10 anggota NII yang masih berada dalam tahanan Polwil tersebut, pihak Polwil hanya mengucapkan terimakasih dan menyatakan belum perlu melibatkan penulis.

5. Bapak Marwan Siregar
“Berpegangan tangan dan berciuman tidak dilarang…”

Yang bertanda tangan dibawah ini kami,

Nama : Marwan Siregar
Alamat : Jl. Pelajar 100 - 027/014 Kel. Teladan
Timur Kec. Medan Kota, Sumatera
Utara (HP: 0811609321)
Pekerjaan : Anggota Kepolisian RI SATSERSE
POLTABES MEDAN
Pangkat : BRIPKA, NRP: 63080231
Status : Kawin / Orang tua Panusunan Siregar.
Nama Istri : Hj. Darma Taksiyah
Pekerjaan : Ikut Suami.
Status : Ibu Kandung Panusunan Siregar.
No. KTP : 02.5005.550467.0001
Alamat : Ibid.
Nama : Mokhtar Siregar.
Alamat : Ibid.
No. KTP/SIM : 380507140156
Status : Kakek dari Panusunan.

Bersama ini kami mengadukan kepada Bapak KAPOLRI u.p. KAKORSERSE dan KABAINTEL KAM MABES POLRI sehubungan dengan apa yang telah menimpa kami sekeluarga khususnya anak kami,

Nama : Panusunan Siregar.
Lahir : Medan, 22 November 1988.
Status : Santri Ma’had Al-Zaytun, Masuk tahun 2000 Klas I-EA2, menempati asrama Al-Fajar km 323, dan naik kelas II- FA.03 asrama Al-Fajar km. 218 F. Ditarik kembali tanggal 5 Oktober 2001.

Dengan ini menyatakan kami telah merasa diperlakukan secara semena-mena serta dibohongi dan dirugikan secara moril maupun materiel oleh YPI (Yayasan Pesantren Indonesia) melalui Ma’had Al-Zaytun, Haurgeulis, Indramayu Jawa Barat. Mengingat setelah anak saya resmi diterima menjadi santri Ma’had Al-Zaytun yang menurut perjanjian akte notaris akan dididik, dibina dan dibesarkan serta dipelihara berdasarkan ajaran Islam.

Akan tetapi dalam kenyataan praktek pembinaan dan pembelajaran putra kami Panusunan Siregar tidaklah demikian. Anak kami tersebut tidak dididik, dibina, dibesarkan dan dipelihara sesuai dengan ajaran Islam, tetapi dibiarkan menjadi liar dan mendapat pelajaran liar serta memperoleh perlakuan yang liar dari dewan guru. Hal ini dapat kami paparkan sebagai berikut berdasarkan penuturan putra kami maupun dari apa yang kami alami (pengalaman kami) sendiri.

Pelajaran liar yang diterima anak kami antara lain adalah:

  • Wajib berpacaran pada setiap hari jum’at.

  • Berpegangan tangan dan berciuman tidak dilarang, bahkan santri bernama Noris dari Malaysia sempat hamil, namun oleh para ustadz diperintahkan agar digugurkan.

  • Boleh membaca dan memiliki buku bacaan maupun gambar porno. Bisa pesan beli melalui para muwadzhaf (pasukan kuning).

  • Tidak dilarang memasuki asrama atau kamar nisa (santri putri)

  • Tidak diperintahkan mengambil air wudlu setiap hendak shalat, karena dicontohkan oleh para asatidz.

  • Diajak dan diberi contoh oleh asatidz kepada perilaku porno dan jorok, maaf disuruh menghisap kemaluan ustadz yang akhirnya berkelanjutan menjadi perilaku antar para santri.

  • Perkelahian dan tawuran antar kelompok gank.

Diajarkan doktrin NII diantaranya:

  • Presiden Megawati adalah Ratu Balqis yang akan menyerahkan kekuasaannya kepada Nabi Sulaiman yang juga disebut Syaykhul Ma’had AS Panji Gumilang.

  • Menyatakan bahwa Syaikh Panji Gumilang adalah Pemimpin yang akan membangkitkan Islam di Indonesia yang terletak di tengah-tengah garis khatulistiwa.

  • Al-Zaytun kelak akan mengganti bendera Merah Putih Republik Indonesia dengan bendera berwarna hijau Negara Islam, dan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam.

  • Di Al-Zaytun akan segera mencetak mata uang sendiri diberlakukannya mata uang logam perak dan emas yang bergambar Panji Gumilang dan lambang Al-Zaytun.

  • Telah ada latihan menembak setiap hari untuk Garda Ma’had yang pelaksanaannya di Subang.

Perlakuan liar yang diterima anak kami

Ketika putra kami melakukan kenakalan (membawa binatang ular ke dalam asrama) dikenakan hukuman pukulan, disel (dikurung dalam ruangan tanpa diberi baju maupun alas tidur serta tidak diberi kesempatan atau diajarkan untuk melaksanakan shalat fardlu).

Ketika putra kami telah dan sedang berada di dalam hukuman kurungan tersebut tiba-tiba salah seorang kakak kelasnya melemparkan uang hasil mencuri uang milik temannya, yang pada akhirnya kesalahan ditimpakan kepada putra kami. Dan karena putra kami pun menerima tuduhan tersebut akhirnya putra kami kembali menerima pukulan dari 12 orang anggota dewan guru di ruang 130 hingga anak kami sakit selama satu minggu.

Karena putra kami telah dihukum sekap selama 2 (dua) bulan lantaran tuduhan mencuri akhirnya barang-barang, pakaian dan buku serta perlengkapan sekolah putra kami dirusak entah oleh siapa dan sebagian besarnya raib entah kemana. Kami dapatkan putra kami sama sekali tidak memiliki satu helai pakaian pun, sekalipun yang hanya melekat di badannya. Maka selama dua bulan dalam kamar penyekapan tersebut putra kami tidak memakai baju (hanya pakai celana pendek saja), anak kami tidak diberi kesempatan atau diperintahkan mengerjakan shalat apalagi mengikuti kegiatan sekolah maupun yang lainnya.

Putra kami pun pernah sempat dihajar secara fisik dan diancam oleh anggota dewan guru yaitu ustadz yang dikenal paling galak serta dijuluki Malaikat Maut Syaifuddin Ibrahim, setelah putra kami dinyatakan harus diambil kembali oleh orangtuanya dengan membayar denda Rp 15 juta.

Perilaku putra kami menjadi semakin bodoh dan liar

Terhitung sejak 3 bulan setelah tahun awal pembelajaran, putra kami selalu minta kiriman uang, pernah pula meminta kiriman uang sebesar 1 juta dengan alasan untuk membayar hutang. Ternyata setelah didesak putra kami mengatakan, itu karena disuruh oleh ustadz, namun kami tahu hal itu memang sulit untuk membuktikannya.

Meminta dibelikan sepeda, walkman dan macam-macam itu pun karena disuruh oleh ustadznya.

Prestasi dan nilai raportnya pun sangat buruk, bahkan hafalan al-Qur’annya cuma 60 ayat.

Kami tidak terima dan kami menuntut. Apa yang terjadi pada putra kami saya yakin juga terjadi pada para santri yang lain, hanya saja mungkin karena para orangtua mereka belum bisa mendengar berbagai kejanggalan serta kejahatan yang berlangsung dalam ma’had Al-Zaytun tersebut.

Kami tidak bisa menerima perlakuan dari para pamong didik yang keras dan sewenang-wenang terhadap anak kami. Apakah kehidupan dan pembinaan pola pesantren modern itu harus dengan hukuman fisik yang berlebihan? Apakah ada padanan pesantren modern yang menerapkan hukuman fisik pukulan ataupun kurungan secara fisik tanpa pakaian dan tidak lagi diajarkan untuk melaksanakan shalat? Anak kami masih terlalu muda (14 tahun) untuk boleh diperlakukan sebagaimana layaknya hukuman ala Prayuana, dengan tanpa melalui sidang pengadilan, malah putra kami divonnis merusak dan mengotori pesantren.

Kami tidak terima karena justru putra kamilah yang telah dirusak mental dan akhlaqnya melalui pornografi dan seks bebas, ajaran NII dan budaya kafir jahiliyyah yang diajarkan dan diterapkan di ma’had Al-Zaytun.

Kami menuntut kepada pemerintah, MUI dan para pimpinan ormas maupun orpol agar segera menindak serta mengusut secara tuntas terhadap kebohongan dan kejahatan serta pelanggaran HAM Anak yang sedang berlangsung di ma’had sesat Al-Zaytun.

Sikap husnudzhan dan kepercayaan kami yang begitu besar kepada ma’had Al-Zaytun telah disalahgunakan, sehingga seluruh wali santri hingga detik ini tidak satupun yang mendapatkan kwitansi serah terima uang titipan seharga seekor sapi, bahkan masih pula dikenakan beaya ini dan itu serta masih banyak lagi infaq maupun shadaqah lainnya.

Kami sebelumnya adalah orangtua yang percaya sepenuhnya kepada ma’had Al-Zaytun, bahkan sekalipun telah terbit buku yang menjelek-jelekkan Al Zaytun kami pun tetap percaya dan bertekad tetap mendukung Al-Zaytun. Namun setelah mushibah itu menimpa putra kami sendiri maka kami pun seperti baru tersadarkan dari mimpi-mimpi kami sendiri, apa yang terdapat dalam isi buku “Pesantren Al Zaytun Sesat!” sepenuhnya sama persis dengan apa yang diterima putra kami dan juga kami sendiri, bahkan yang kami dapatkan dari putra kami lebih dahsyat kesesatannya ketimbang yang ditulis dalam buku oleh Bapak Umar Abduh.

Maka untuk sementara kami bisa menerima kenyataan ini, akan tetapi apabila keberadaan ma’had Al-Zaytun tidak mendapatkan tindakan dari pemerintah atau MUI dan masyarakat Islam, kami siap untuk mengambil tindakan sendiri, sebesar apapun resikonya kami siap untuk menghadapi.

Demikianlah surat pengaduan ini kami buat dengan sebenarnya untuk dapat digunakan bagi kepentingan pengusutan maupun keperluan lainnya. Kami siap untuk mempertanggung jawabkan kebenaran isi surat pengaduan ini di muka hukum, untuk itu tandatangan pada surat pengaduan ini kami bubuhi materai secukupnya.

Dibuat, di Jakarta tanggal 8 Oktober 2001.

Ditandatangani oleh:

MARWAN SIREGAR
Hj. DARMA TA’SIYAH
H. MOKHTAR SIREGAR

6. Bapak Nizar
“Mereka tidak melaksanakan shalat fardlu…”


Emir anak saya sudah terlibat dalam gerakan NII sejak tahun 1995, setelah kuliahnya selesai di Trisakti dan memperoleh gelar kesarjanaannya di Fakultas Elektro dan bekerja di salah satu BUMN, tiba-tiba saja berhenti kerja, ketika Ma’had Al-Zaytun berdiri dan kemudian diresmikan oleh Presiden Habibie tahun 1999.

Emir anak saya langsung pindah kerja di sana disertai istrinya yang dokter gigi, sedang anaknya dititipkan kepada kami di rumah, kini anaknya sudah dua dan keduanya kami kakeknya yang memelihara.

Sementara Emir dan istrinya baru pulang menengok anaknya setiap enam bulan selama 3 minggu di rumah. Yang saya prihatinkan adalah sejak ia terlibat dengan kelompok pengajian yang akhirnya saya tahu markaznya di ma’had Al-Zaytun ini adalah, sikapnya yang tidak tertib dalam mengerjakan shalat fardlu, kecuali bila setelah saya marah dan mengancam, baru anak saya tersebut mau melaksanakan shalat.

Tetapi sejak dahulu hingga sekarang dalihnya adalah sekarang ini masih masa periode Makkah sehingga belum wajib shalat, dan dalam setiap perdebatan sekalipun anak saya kalah dalam dalil atau argumentasi, namun tetap saja ia bersiteguh dengan sikap dan pemahamannya yang salah itu. Saya sedih dan prihatin dengan cobaan yang menimpa keluarga saya seperti ini.

Dalam masalah materi pun Emir dan istrinya tidak pernah membawa pulang atau pun mengirim hasil jerih payah kerjanya di ma’had Al-Zaytun tersebut, mereka tidak pernah berpikir tentang keperluan 2 anaknya, sekalipun dalam masalah itu kami alhamdulillah tidak kekurangan.

Akan tetapi yang saya pertanyakan, kenapa mereka yang bekerja sedemikian lama itu jika waktu cuti pulang selama 3 minggu itu selalu saja tetap minta uang kepada kami orangtuanya.

Ketika saya tanyakan, selama kalian berdua bekerja di ma’had ini gaji kalian dimana, mereka pun hanya menjawab, untuk kebutuhan perjuangan yang sangat membutuhkan tenaga serta dana yang sangat banyak.

Anak dan menantu saya sikapnya memang masih cukup sopan dengan kami orangtuanya, namun saya kan tetap khawatir bagaimana jadinya anak saya nanti kalau tetap seperti itu?

Memang waktu buku Pesantren Al-Zaytun Sesat? Investigasi Mega Proyek dalam Gerakan NII belum diluncurkan, anak saya minta kepada saya via telepon agar dicarikan buku tersebut.

Padahal saya sendiri baru tahu tentang telah terbit buku ini setelah ada acara peluncuran dan bedah buku di TIM itu.

Makanya saya datang ke kantor sekretariat SIKAT ini disamping minta penjelasan dari penulisnya langsung, saya juga berharap dan bertanya langkah apa kiranya yang bisa segera menghentikan hubungan anak saya tersebut dengan pihak Al-Zaytun ini?

Sekarang anak saya Emir ini katanya memegang pekerjaan bidang pembibitan ikan Patin, padahal dia kan sarjana elektro, sedang mantu saya tetap sebagai dokter gigi di poliklinik kesehatan ma’had tersebut.

Kalau saja langkah maupun tujuan mereka menegakkan syari’at Allah dalam wujud Negara Islam itu betul, saya sama sekali tidak akan menghalangi dan kalau mungkin saya pasti akan mendukung dan membantunya, tapi mana bisa kita percaya kalau ternyata dalam prakteknya mereka tidak melaksanakan shalat fardlu, dan malah terbukti banyak melanggar syari’at serta aqidahnya menyimpang dan sesat.

07. Bapak Musa
“Banyaknya pengunduran diri para santri…”


Lain lagi penuturan Bapak Musa seorang purnawirawan, yang beralamat di Cipulir Jaksel, saat mengadukan keterlibatan putranya Mahdi Sudrajat dalam gerakan NII sejak 5 tahun lalu, kemudian memusatkan kegiatannya di Ma’had Al-Zaytun, Haurgeulis, Indramayu sejak ma’had tersebut sebelum diresmikan Habibie bulan Agustus tahun 1999.

Datang kepada penulis disertai putranya Mahdi Sudrajat yang kini menjadi pengajar santri kelas I Tsanawiy Ma’had Al-Zaytun, padahal ia sendiri adalah sarjana lulusan Universitas Mercu Buana Fakultas Tehnik Industri, lulusan terbaik.

Setelah bekerja beberapa bulan tiba-tiba cabut dan pamit untuk bekerja di ma’had Al-Zaytun. Ketika bapak dan putranya yang sudah sekian lama menjadi aktivis NII dan dua tahun lebih menjadi pengajar di ma’had Al-Zaytun ini sempat datang ke kantor sekretariat SIKAT.

Untuk pertama kalinya sang putra pak Musa ini berpura-pura tidak mengerti tentang ini dan itu yang berkaitan dengan Al-Zaytun dan gerakan rahasia (bawah tanah) istilah mereka gerakan kahfi NII.

Namun setelah sang bapak mengingatkan masa lalu sebelum di Al-Zaytun yang pernah digerebeg malja’ tempat mereka mengaji dan berkumpul lantas dikejar-kejar oleh aparat dan bagaimana sang putra dahulu mengamankan dokumen-dokumen yang dibantu pula oleh sang bapak, akhirnya Mahdi Sudrajat pun bersedia buka kartu dan bersedia pula membantu untuk memberikan informasi yang diperlukan.

Diantaranya adalah informasi tentang adanya keputusan sepihak dan mendadak ditiadakannya liburan kenaikan kelas pada tahun ini dengan alasan diisi dengan kegiatan penting TC (Training Centre) oleh ma’had atas perintah langsung syaykhul Ma’had selama 2 pekan penuh.

Keputusan mendadak itu sebenarnya merupakan antisipasi bagi kemungkinan banyaknya pengunduran diri para santri secara massal atas keputusan para wali atau orangtua setelah mereka mengetahui dan tersadarkan, karena banyak pihak yang telah membuka dan membongkar kesesatan maupun kejahatan serta matarantai gerakan sesat NII ada di balik kedok penyelenggaraan pendidikan ma’had Al-Zaytun.

Hal ini dilakukan oleh ma’had lantaran banyaknya protes dan keberatan para wali santri yang berbondong-bondong membawa buku yang disusun penulis, untuk meminta penjelasan dan tanggapan langsung dari syaikhul ma’had.

Namun dengan nada enteng pihak ma’had menanggapi para wali santri tersebut dengan jawaban sederhana: ini hanya fitnah dan karena hasad serta persaingan bisnis pendidikan semata-mata, syaykul Ma’had telah mendatangi LPPI lembaga yang telah menerbitkan buku tersebut, dan pihak LPPI pun telah mengajukan permohonan ma’afnya.

Begitulah cara Abu Toto meredam kemarahan orangtua santri. Karena pada kenyataannya, syaykhul ma’had tidak pernah ke LPPI, atau menemui penulis (Umar Abduh).

08. Ibu Nung Fadhilah
“Banyak yang tidak melaksanakan shalat…”


Berikut ini surat pengaduan dari seorang korban Al Zaytun, yang juga disampaikan (ditembuskan) kepada penulis.

Kepada Yth.
Bapak-Bapak yang Berwenang dan Berilmu
Di Republik Indonesia

Perihal: pengaduan keberadaan Al Zaytun

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dengan hormat,

Kami yang bertanda tangan dibawah ini
Nama : Nung Fadhilah
Alamat : Jl Sawo Kecik Blok DD No 8 Cikutra Bandung

Adalah orang tua dan wali santri dari

Nama : Raymond Fadhil
Kelahiran : Bandung 18 April 1990
Alamat : Jl Sawo Kecik Blok DD No 8 Cikutra Bandung
Status : Santri Al Zaytun angkatan 2001

Dengan ini mengadukan kepada pihak-pihak yang terkait: Pemerintah Indonesia, MUI, Kejaksaan Agung RI, Kepolisian RI, DEPAG, DPR-MPR dan ORMAS ISLAM, sehubungan dengan keberadaan pondok pesantren Al-Zaytun yang berada di Indramayu. Bahwa ternyata banyak aqidahnya yang menyimpang dari ajaran Islam. Sehingga banyak pula masyarakat yang dirugikan dari segi materi fisik dan moral spiritual.

Bagi ummat yang berkeyakinan sama dengan jama’ah Al-Zaytun mungkin itu tidak menjadi masalah. Tetapi bagi masyarakat yang berbeda keyakinan tentu sangat dirugikan, hanya karena tidak terbukanya sistem aqidah yang digunakan Al-Zaytun. Diantara sebagian kecil yang telah saya ketahui:

  1. Laporan dari santri, pernah dilarang berwudlu ketika saat untuk shalat.

  2. Para pekerja bangunan disamping masjid Al-Hayat tidak turun untuk turut melaksanakan shalat berjama’ah.

  3. Keadaan lingkungan pergaulan sangat terasa dibiarkan bebas dengan membaurnya antara lelaki dan wanita baik itu di kantin di masjid dan di asrama An-Nur tingkat atas ditempati oleh santri pria sedangkan yang di bawah ditempati santri wanita. Ini membuat saya kaget, karena semua ini tidak lazim terjadi dalam sebuah pondok pesantren.

  4. Pada saat tiba di Al-Zaytun untuk mengikuti test calon santri yang di dampingi oleh orangtua santri, panitia sama sekali tidak memperhatikan waktu shalat. Sehingga shalat Dzhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya terpaksa saya gabungkan, karena baru mendapat tempat penginapan tepat pada waktu shalat Isya’. Perkiraan saya itu adalah karena faktor keteledoran panitia, ternyata akhirnya saya ketahui kalau perjuangan seperti telah dianggap sama dengan shalat yang sesungguhnya bagi jama’ah Al Zaytun.

  5. Kurangnya perhatian pada kebersihan masjid, banyak bekas sisa makanan tidak lekas dibersihkan, onggokan sampah di sebelah (papan pengumuman kehilangan) sangat menjijikkan dan satpam masjid pun dengan bebasnya bercanda-ria dengan santri wanita. Ini menandakan kurangnya pengawasan dan perhatian terhadap rumah Allah.

  6. Sama sekali tidak ada toleransi dan terlalu materialistis, anak saya yang hanya memecahkan sebuah piring makan diharuskan membayar seharga Rp 23.000,- (dua puluh tiga ribu rupiah). Ini jelas suatu pemerasan).

  7. Laporan dari santri, temannya tidak melakukan piket sehingga mendapatkan pukulan dan cubitan, ini jelas adalah cara-cara pendidikan yang tidak Islami.

  8. Menurut cerita dari salah seorang dari orangtua santri, shalat tidak diutamakan, kiamat diartikan lain, haji itu bohong, qurban iedul adlha dapat diganti dengan uang, ummat yang belum hijrah adalah kafir, termasuk orangtua sendiri.

  9. Di Al-Zaytun kelak akan berdiri Negara Islam Indonesia dan banyak orang kafir akan dieksekusi, termasuk orangtua darahnya adalah halal.

  10. Pada saat test ternyata jama’ah Al-Zaytun (orangtua calon santri) banyak yang tidak melaksanakan shalat.

  11. Kejanggalan-kejanggalan yang saya lihat dan saksikan sendiri ternyata sesuai dengan buku yang baru saya baca, yang di tulis oleh Umar Abduh, juga yang telah diceritakan oleh saudara saya pada tahun 1986 pernah menjadi jama’ah NII selama 6 bulan lalu keluar.

Maka dengan tidak terbukanya sistem akidah yang diterapkan Al-Zaytun, sehingga saya merasa dibohongi, karena saya bukanlah jama’ah dari Al-Zaytun dan tidak mau menjadi jama’ah Al-Zaytun.

Adapun kemudian ternyata saya mau saja menanda-tangani akte notaris penitipan uang sebesar US$1500 (seribu lima ratus dolar AS) yang saat itu setara dengan Rp 17.225.000 (tujuh belas juta dua ratus dua puluh lima ribu rupiah), yang katanya untuk harga pembelian seekor sapi.

Bahkan mau saja menerima perlakukan pihak Al-Zaytun yang tidak memberikan bukti surat akte notaris penitipan uang tersebut, dan menurut beberapa wali santri sejak semula pun memang tidak ada yang diberi surat tanda bukti notaris penitipan uang oleh pihak Al-Zaytun.

Ini membuktikan adanya tindak kebohongan dan kecurangan serta pelanggaran HAM yang sangat dalam. Dan sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam yang menetapkan wajibnya kejujuran serta transparansi.

Untuk itu tentu saja saya tidak akan membiarkan anak saya nantinya mempunyai akhlaq sebagaimana akhlaq yang dimiliki para pendidik Al-Zaytun, sehingga saya berkeputusan untuk mengambil kembali anak saya.

Saya rasa banyak masyarakat yang belum mengetahui sistem aqidah yang diterapkan Al-Zaytun, sehingga demi pendidikan dan kebaikan serta keshalehan anak saya apapun akhirnya saya lakukan.

Seperti apa yang telah saya lakukan: Saya telah rela menjual perhiasan emas senilai Rp 4.500.000 (empat juta lima ratus ribu rupiah), dan sedikit dari tabungan saya pergunakan, selebihnya kekurangan dana sebesar Rp 15.000.000,- (lima belas juta rupiah) saya pinjam kepada Bank yang harus saya kembalikan dalam tempo 5 tahun, dan angsuran setiap bulannya Rp 425 000 (empat ratus dua puluh lima ribu rupiah).

Jadi total persiapan saya untuk memasukkan anak saya ke Al-Zaytun yang dimulai Desember tahun 2000 antara lain:

1. Biaya masuk TPA yang dikordinir kelompok Al-Zaytun untuk trasportasi ke TPA yang dilaksanakan sekali dalam satu minggu.
2. Ongkos para guru TPA yang datang ke rumah seminggu satu kali.
3. Biaya test masuk di Al-Zaytun.
4. Shadaqah semen dan shadaqah-shadaqah lainnya.

Sehingga total biaya yang telah saya keluarkan adalah Rp 22.500.000 (dua puluh dua juta lima ratus ribu rupiah). Ini adalah pengeluaran yang biasa, yang saya sesalkan dan saya prihatinkan adalah karena dengan sangat terpaksa saya harus membayar cicilan ke Bank setiap bulan sebesar Rp 425.000 (empat ratus dua puluh lima ribu rupiah).

Semua ini saya lakukan demi anak walaupun dalam keadaan ekonomi yang sulit serta memaksakan diri. Tetapi harapan saya tersebut hancur setelah mendengar dan mengetahui sendiri sistem aqidah dan akhlaq yang diterapkan Al Zaytun adalah sesat dan menyimpang .

Sehubungan dengan kejanggalan-kejanggalan tersebut di atas maka saya sangat keberatan dan tidak bisa menerima, saya mohon penandatanganan akte notaris penitipan uang sebesar US$ 1500 (seribu lima ratus dolar AS) dibatalkan dan dikembalikan, termasuk biaya notaris sebesar Rp 50.000 (lima puluh ribu rupiah).

Selanjutnya kepada bapak-bapak pejabat pemerintahan yang pernah berkunjung ke Al-Zaytun seperti Bapak Habibie, Bapak Malik Fajar, Bapak Indrajati, Ibu Tuty Alawiyah, Bapak Adi Sasono dan yang tidak saya ketahui, semuanya harus bertanggung jawab. Paling tidak, harus segera mengklarifikasi keberadaan ma’had Al-Zaytun karena begitu besar pengaruhnya nama-nama tersebut bagi masyarakat awam, padahal ma’had Al-Zaytun ternyata betul-betul sesat.

Sebagai rakyat saya telah dirugikan, dan demi tegaknya hukum saya mengharapkan pengaduan saya ini kiranya ditindak-lanjuti.

Kepada saudara-saudara para wali santri mari kita menuntut kepada pihak-pihak yang terkait dalam masalah ini seperti Ormas Islam, MUI (Majelis Ulama Indonesia), LBH (Lembaga Bantuan Hukum, Kepolisian, Kejaksaan agar segera mengambil tindakan preventif dengan memanggil paksa Syaykh Ma’had AS Panji Gumilang beserta para penanggung jawabnya guna memberikan klarifikasinya di hadapan ummat Islam baik secara terbuka ataupun secara tertutup.

Dan yang lebih penting adalah hasil klarifikasi pihak ma’had Al-Zaytun tersebut benar-benar bisa diketahui oleh banyak pihak ummat yang telah dirugikan oleh mereka.

Selain berlindung kepada Allah SWT saya pun meminta perlindungan dan bantuan serta pembelaan kepada orang perorang maupun lembaga-lembaga resmi dan memiliki kepedulian serta keprihatinan dengan masalah ini.

Demikian pengaduan dan himbauan ini saya buat dengan harapan kiranya mendapat perhatian dan bisa ditindak-lanjuti. Semoga Allah melindungi setiap hamba-Nya dan mengabulkan harapan kita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bandung, 26 Agustus 2001

Ibu Nung Fadhilah


Tembusan:
1. Presiden Republik Indonesia.
2. Ketua MPR RI
3. Ketua DPR RI
4. Ketua MA RI
5. Kejaksaan Agung RI
6. MUI Pusat
7. LBH Indonesia.

09. Alumni SMA 48 Jakarta
“Mereka mencap kafir terhadap semua orang…”


Pengakuan berikut ini bersumber dari sebuah milis di yahoogroups.com, di-forward-kan oleh mufti@texgar.co.id pada July 22, 2003 12:50 AM, yang ditulis dalam bahasa pergaulan. Pada buku ini beberapa singkatan ditulis lengkap untuk tidak membingungkan sebagian pembaca

Assalamu’alaikum wr wb.

Gue mau sharing pengalaman gue ke semua orang nih, supaya nggak ketipu mentah-mentah lagi kayak yang udah gue alamin.

Awalnya temen gue minta temenin ke tempat temen SMA-nya (SMA 48), yang katanya baru balik dari Australia. Dia bilang tuh anak dulunya anak bandel banget; suka nge-drugs, ngegele, maen cewek, dan lain-lain, tapi abis balik dari sana dia berubah banget jadi alim dan ngerti banget soal agama. Karena gue nggak ada kerjaan, yah gue temenin aja, bertiga sama temennya yang satu lagi.

Kita sampe ke tempat temennya temen gue itu (Rama) di daerah Pasar Rebo, jalan Gedong Indah. Ternyata tempatnya itu bukan rumah, tapi kontrakan yang dipake sebagai kantor, yang katanya sih Event Organizer. Di situ ada banyak orang, cowok-cewek, masih muda-muda antara 18-25 tahun. Di sana orang-orangnya pada baek dan ramah banget. Terus si Rama mulai cerita. Awalnya sih cuma seputar dirinya, dan kenapa dia bisa insaf, tapi lama-lama dia ngasih kita Al Quran dan nyuruh kita ngebaca ayat-ayat yang dia tunjukin. Dia banyak ngasih tau hal-hal yang tadinya gue nggak tau, dan itu bikin gue pingin lebih tau lagi. Pas udah sore, dia minta kita balik lagi besoknya untuk nerusin, berhubung dia mau balik lagi ke luar negri 2 hari lagi, jadi harus secepatnya. Yah, karena gue pikir nggak ada ruginya nambah ilmu tentang agama, besoknya gue dateng lagi ama 2 org temen gue itu.

Pas hari kedua itu, dia makin gencar ngajarin kita ilmu-ilmu agama, dan semuanya ditunjukkin lewat ayat-ayat Al Quran, dan kayaknya semuanya emang masuk akal. Dia make whiteboard segala, dan dia nerangin tentang kebangkitan Islam, tentang ibadah kita yang selama ini nggak diterima sama Allah. Hari itu lama banget kita diceramahin, dan gue ngerasa dia berusaha nahan kita supaya nggak pulang, akhirnya Magrib baru bisa pulang, tapi dia maksa banget untuk nerusin besoknya, katanya terakhir sebelum dia balik ke Aussie. Karena temen gue yang lain pada semangat, ya udah akhirnya gue dateng lagi besoknya.

Hari ketiga, gue baru tau kenapa dia napsu banget mau ngajarin kita ilmu agamanya itu. Ternyata dia mau ngajak kita "hijrah" ke sebuah negara yang semua hukumnya berdasarkan Al Quran. Hijrah di sini maksudnya bukan pindah ke lain tempat, tapi pindah secara aqidah, menjadi warga Negara Karunia Allah (NKA). Dia bilang selama ini ibadah kita nggak pernah sampai ke Allah karena kita berada di tempat yang batil (haram), sedangkan segala sesuatu yang hak nggak boleh dicampur dengan yang batil (Al Baqarah, 42).

Jadi kalo kita mau ibadah dan amal kita diterima Allah, kita harus berada dalam suatu system yang bersumber dari Al Quran. Di RI ini, kita nggak bisa ibadah, karena negara ini menyembah Pancasila, bukannya Al Quran. "Hijrah" ini ada di At Taubah ayat 20. Gue udah banyak ngedebat si Rama ini, kalo walaupun RI sumber hukumnya Pancasila, tapi kan kita beriman pada Al Quran, dan nggak mungkin memakai Al Quran sebagai sumber hukum karena di Indonesia ini kan ada banyak agama. Dia bilang, memakai Al Quran sebagai sumber hukum bukan berarti memaksa orang-orang agama lain untuk pindah agama.

Dia ngasih contoh nabi Muhammad dulu, yang kaumnya banyak yang beragama nasrani dan yahudi. Dia juga bilang kalo kita tetep ada di RI berarti kita beriman setengah-setengah, dan itu lebih parah dari orang kafir. Dan dia bilang Sunatullah itu pasti akan terjadi, Islam sedang bangkit, dan sekarang ini saatnya. Masa kebangkitan nabi Muhammad akan terjadi nggak lama lagi. Walaupun nggak dipimpin oleh seorang nabi, tapi negara ini menjalankan Al Quran murni 100%. Dia juga nunjukin perhitungan tahun-tahunnya, dan emang masuk akal juga sih.

Setelah itu dia nanya kita "Mau Hijrah?" Tapi dia nanya dengan nada yang mengandung paksaan, dan walaupun gue sebenernya nggak yakin, gue ngangguk-ngangguk aja.

Setelah itu kita bertiga dipisah-pisah, katanya kita akan dicek keyakinannya, dia bilang ini Pengecekan A. Terus ada orang lain masuk, yang selama ini gue kira dia kerja di tempat itu, ternyata dia salah satu anggotanya. Namanya Jodi. Dia nerangin lebih jauh lagi ke gue tentang NKA ini, dan kenapa kita harus hijrah. Gue udah banyak tanya dan ngedebat apa yang dia sampein, tapi dia kayaknya jago banget ngebalikin semuanya ke gue, dan selalu make ayat-ayat Al Quran sebagai tamengnya. Gue yang nggak begitu ngerti tentang agama, jadi ngerasa kalah dan si Jodi itu bisa bikin gue ngerasa jadi orang yang murtad banget.

Gue juga nanya apa beda negara ini ama NU, Muhammadiyah, dan lain-lain, dan apa yang ngejamin kalo negara ini nggak akan pecah-pecah jadi beberapa golongan Islam, kayak yang udah terjadi sekarang? Dan kenapa negara ini harus ngumpet-ngumpet kalo emang ngerasa bener? Terus, dia bilang kalo negara ini make konsep "gua" , yang dulu juga pernah diterapin Nabi Muhammad, konsep gua maksudnya: orang luar nggak bisa ngeliat kita, tapi kita bisa ngeliat ke luar. Dan dia ngeyakinin kalo dalam NKA ini nggak akan ada perbedaan karena mereka cuma memakai satu sumber hukum, yaitu Al Quran.

Pengecekan A ini berlangsung lama banget, dan kebanyakan sih gue yang tanya, dan dari jawaban-jawaban yang dikasih sama si Jodi ini, gue tetep ngerasa nggak puas, karena mereka mencap "kafir" terhadap semua orang di RI ini kecuali yang udah gabung ama mereka, bahkan semua ulama-ulama dan kyai yang selama ini jadi panutan kita, dia bilang "kafir" karena mereka beribadah dalam suatu system yang haram.

Setelah pengecekan A ini, akan ada pengecekan B, C, dan D. Tapi sebelumnya kita akan dikasih ujian lewat syarat-syarat yang mereka ajuin. Kita disuruh dateng lagi besoknya. Sebenernya gue udah ngerasa banyak hal yang ganjil dari perkataan-perkataan mereka, dan gue udah pingin ngelepasin diri dari mereka, tapi mungkin karena ditakut-takutin sama ayat Al Quran yang bilang bahwa manusia yang udah ditunjukin jalan yang benar tapi tetap nggak mau ngejalanin jalan itu, dia adalah fasik, dan orang fasik akan menghuni neraka, dan kekal di dalamnya. Mereka juga ngelarang keras kita cerita sama siapapun, termasuk orangtua kita, dengan ancaman Allah akan memberi azab yang pedih (sambil nunjukin ayatnya). Terang aja gue takut dan nggak berani cerita sama siapapun. Gue cuma bisa sharing ama temen gue yang dua itu. Tapi mereka berdua keliatannya yakin-yakin aja, dan itu bikin gue mikir, apa guenya yang salah?

Akhirnya gue dateng lagi hari keempat itu, untuk pengecekan B, C, D. katanya sih pengecekan ini paling lama makan waktu 2 jam. Tapi sebelumnya kita harus menuhin syarat-syarat mereka dulu:
1. Nggak boleh ngerokok
2. Nggak boleh pacaran
3 Harus sadaqah
4. Harus infaq dan zakat.

Syarat nomor 2 gue tanyain nih, berhubung gue punya cowok. Tapi dia bilang yang dilarang itu aktivitasnya yang mendekati zina, tapi kalo gue ditanya gue punya pacar apa nggak, jawabannya harus nggak.

Terus masalah sadaqah, dia bilang sadaqah adalah cara kita membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah kita lakukan, semakin besar dosa kita semakin besar juga sadaqah yang harus dibayar, jumlah ini boleh dicicil seumur hidup. Mengingat gue belum kerja dan takutnya nggak bisa bayar, gue sih pinginnya nyebutin 500 ribu aja, tapi si Jodi ngurutin nama gue setelah dua orang temen gue itu, dan mereka nyebutin jumlah yang gede banget, yang pertama 10 juta, yang kedua 8 juta. Gue yang ngerasa malu (takut disangkain nggak mau ngebersihin dosa alias pelit) akhirnya nyebutin 7 juta, dengan pikiran bisa dicicil seumur hidup.

Selain itu, kita juga wajib bayar infaq tiap bulan sebesar 150 ribu. Gue pikir, 150 ribu ditambah cicilan sadaqah kan lumayan gede apalagi buat gue yang belum kerja. Terus, gue tanyain aja hal ini sama si Jodi. Tapi dia malah bilang infaq ini sebagai pendorong kita agar lebih giat cari kerja, atau cari duit. Padahal setau gue, Jodi ini juga belum kerja, dia itu anak ITI '97 yang belum lulus. Gue tersinggung dong, kesannya gue nggak berusaha cari kerja, tapi gue diem aja.

Terus sebagai permulaan, kita diharusin bayar 300 ribu untuk awal cicilan sadaqah, dan harus dibayar hari itu juga. Karena kita semua nggak bawa uang cash, kita nyari ATM. Eh, si Jodi ini kayaknya takut banget kehilangan mangsanya, sampe dia maksa nganterin kita ngambil duit. Abis kita ngambil duit, kita disuruh ngisi biodata, dan disuruh milih nama kedua alias nama-nama Arab. Terus dia minta uang yang 300 ribu itu. Tapi anehnya kita sama sekali nggak dikasih bukti pembayaran, atau kwitansi.

Abis itu gue dan temen-temen gue dipisahin untuk pengecekan selanjutnya. Masing-masing dibawa ke markas wilayah lain, dan di tengah jalan kita disuruh merem.

Di tempat B ini (daerah Condet), gue ditanya-tanyain lagi tentang kenapa mau hijrah, yang lucunya waktu gue bilang gue punya pacar, orang yang nanyain gue itu bilang gue harusnya jawab nggak punya, itu namanya jujur bersyarat (emangnya ada jujur bersyarat?), abis dari sini, gue dibawa lagi naik Vitara warna putih ke depan McD Pondok Indah. Di sini, gue disuruh ganti mobil. Gue naik ke mobil kijang tua, dan di situ digabung sama 4 cewek yang sama kayak gue (calon anggota). Terus kita dibawa lagi ke sebuah rumah kecil yang kotor, untuk ditanya-tanyain lagi.

Untungnya selama perjalanan, gue dan cewek-cewek yang lainnya tuker informasi tentang NKA ini, dan pengalaman mereka hampir sama dengan pengalaman gue. Di situ, gue nemuin banyak hal yang ganjil. Contohnya ada dua orang dari mereka diwajibkan bayar 1 juta untuk awalnya aja, yang satunya udah bayar 400 ribu. Tapi kita semua diwajibkan bohong kalo ditanya soal sadaqah, kita harus bilang 100 ribu, katanya sih supaya nggak riya. Tapi nggak masuk akal lah, kenapa harus ditutup-tutupin, jumlah itu kan sesuai dengan dosa masing-masing? Bukan sesuatu untuk dibanggain.

Pas sampe di tempat C, D ini kita kembali ditanya macem-macem, apa punya keluarga militer, kenapa mau hijrah, dan akhirnya kita disuruh bersumpah atas nama Allah, akan setia dan nggak akan ngebocorin tentang NKA ini ke siapapun. Setelah itu, kita dikasih waktu buat sholat Magrib. Pas itu, gue dan yang lainnya punya kesempatan untuk ngungkapin hal-hal yang ganjil tadi. Saat itu gue udah bener-bener nggak simpatik lagi, dan mulai ngerasa kalo organisasi ini nggak bener. Masa mereka bilang sholat 5 waktu itu nggak perlu dikerjain karena kita belum futuh. Terus gue dan temen-temen yang lain tukeran nomor telepon (walaupun sebenernya mereka ngelarang). Dan setelah itu kita dibawa lagi ke depan McD PI.

Pas sampe di sana, kita dipastiin supaya dateng lagi besoknya untuk pendalaman materi, baru boleh pulang. Gue sih iya-iya aja, padahal dalem hati udah kesel banget, ditambah capek, karena gue udah dateng dari jam 8.30 pagi dan baru boleh pulang jam 8 malam.

Malemnya gue mikirin semuanya, dan gue baru sadar kenapa beberapa hari terakhir sama mereka, gue koq nurut aja perintah mereka (orang-orang NKA). Gue juga baru nyadarin kalo mereka nggak konsisten ama omongan mereka sendiri. Misalnya mereka bilang orangtua kita kafir karena belum hijrah, tapi mereka nyuruh kita minta duit sama mereka. Masa mereka mau nerima uang dari orang kafir?

Dan gue juga udah konsultasi sama seorang temen gue yang paham banget soal Islam, karena dia dulu masuk Islam karena kesadarannya sendiri, bukan karena turunan kayak kebanyakan orang. Gue juga udah nunjukin ayat-ayat yang sering disebut-sebut sama orang-orang NKA ini (mengenai hijrah, jihad, dan nggak boleh mencampuradukkan yang hak dan yang batil).

Ternyata gue baru ngeh kalo mereka-mereka ini manfaatin Al Quran demi tujuan mereka. Mereka "mencomot" sepotong ayat, dan mereka artikan menurut pendapat mereka sendiri, lalu mereka cekokin ke kita-kita yang emang nggak terlalu ngerti isi Al Quran. Padahal Al Quran itu kan memuat kisah-kisah yang sambung menyambung dan nggak bisa dicomot begitu aja tanpa baca ayat-ayat sebelumnya. Jadi penjelasan yang selama ini mereka kasih, adalah versi mereka sendiri dari ayat-ayat Al Quran supaya kita percaya ama mereka.

Kantor yang mereka bilang Event Organizer itu juga cuma kedok. Buktinya dalam rumah itu nggak ada satupun mesin ketik atau komputer, nggak ada file-file layaknya sebuah perusahaan, pembukuan juga nggak ada, yang jelas nggak mungkin kantor nggak punya alat-alat yang lazimnya dipake. Dari semua ini, gue sadar kalo gue udah ditipu, mungkin dicuci otak.

Tapi yang jelas, sebelum terlalu jauh, gue udah mutusin untuk nggak berhubungan ama mereka lagi. Dan buat yang belum pernah ngalamin kayak gini, hati-hati aja kalo diajak temen atau siapapun untuk bergabung dalam organisasi atau negara Islam. Sasaran mereka kebanyakan anak-anak muda yang ilmu agamanya lemah, dan punya cukup duit untuk mereka porotin. Mereka sebenernya sedang dicari-cari ama Polisi.

Bagi yang udah baca pesen ini tolong forward ke temen-temen yang lain supaya korban NKA ini nggak semakin banyak, dan usaha pemberontakan mereka nggak berhasil. Yang mereka incer sebenernya cuma duit kita. Ok, thanks a lot.

Wassalamu’alaikum wr wb

10. Ja’far Rabbani aliasBachtiar Rifai
“Boleh melakukan fai' atau mencuri…”


Sebuah pengakuan dari bahtiar_rifai@indonet.com yang pernah tayang di mailing list darul_islam-nii@egroups.com (yahoogroups) pada tanggal 25 Sep 2000 20:27:22 –0700 dengan judul subject “Trauma…”

Assalamu’alaikum wr wb.

Ijinkan dan perkenankan saya untuk menyampaikan unek-unek yang telah 5 tahun terpendam, pada mailing list yang saya kira cukup representatif ini. Saya adalah mahasiswa tingkat akhir di suatu perguruan tinggi di Yogyakarta, umur 25 tahun. Saya mempunyai pengalaman yang relatif traumatis terhadap NII.

Awalnya, pada akhir tahun 1994 M, saya selalu didekati kakak angkatan kuliah saya. Saya sering bincang-bincang dengan dia karena waktu itu saya udah cukup percaya dengannya, yang dulu juga kakak kelas saya waktu di SMA. Pertamanya dia sering mengajak bicara tentang kondisi sosial, agama, dan politik pada masa itu. Kemudian pembicaraan mulai intensif ke masalah agama.

Dia mulai menjelaskan agama sebagai suatu sistem, yang dikongkritkan dalam bentuk negara. Dia menjelaskan dengan berbagai sumber ayat Al-Qur'an. Waktu saya masih sangat kurang pemahaman tentang makna ayat-ayat, sehingga saya nggak berani melakukan bantahan, atau tanya sedikitpun. Saya cuma mengiyakan, walau dalam hati banyak keraguan. Lagi pula kekuatan mental saya waktu itu masih muda atau ciut.

Tahap berikutnya saya mulai ditemukan temen kakak angkatan saya tersebut. Sang teman menanyai tema-tema atau materi-materi yang sama seperti yang telah disampaikan kakak angkatanku. Bahkan seperti menguji dengan ayat-ayat tentang jihad, berkorban, atau perniagaan. Kemudian diakhiri dengan materi "hijrah".

Tahap berikutnya, saya diajak keluar kota Yogyakarta, yaitu ke kota Kebumen, kecamatan Prembun. Di sana, diulang lagi materi-materi di atas kemudian dijelaskan yang di maksud sistem Islam adalah .... NII/DI/TII. Walaupun dalam hati masih ragu-ragu juga, karena sejak awal sepertinya saya dikondisikan untuk tidak dapat mengelak atau mengatakan tidak. Akhirnya saya iyakan saja apa yang mereka inginkan, yaitu agar saya hijrah dari RI ke NII. Nggak ada salahnya kucoba, sambil cari pengalaman atau petualangan di dunia ekstrim kanan... kataku menghibur hati.

Beberapa hari setelah itu, saya dijelaskan waktu untuk hijrah. Yaitu di Kulon Progo, tanggal 24 November 1994. Saya hijrah dengan sodaqoh Rp. 250.000. Saya juga diberi nama baru, yaitu: Ja'far Rabbani. Menurut mereka saya resmi masuk menjadi warga Negara Islam Indonesia, propinsi Jawa Bagian Selatan. Sayang sekali saya lupa nama pimpinan-pimpinan yang menghijrahkan dan menyaksikan saya hijrah waktu itu.

Setelah itu, saya masuk dalam dunia atau suasana baru dalam pribadi kehidupan saya. Saya kaget karena, saya mulai difahamkan bahwa dalam masa perang antara NII dengan RI, boleh tidak melakukan "sholat wajib". Sholatnya yaa diganti dengan tilawah atau mencari anggota baru. Boleh melakukan fai' atau mencuri, karena semua harta yang ada di dunia ini diperuntukkan bagi manusia yang sholeh, yaitu warga NII. Boleh melakukan tipu muslihat, atau makar yang dapat melemahkan sendi-sendi kehidupan sekitar. Karena nota bene itu adalah kehidupan RI, jahiliyah mereka bilang. Saya juga disarankan untuk meninggalkan kuliah, dengan alasan itu didikan jahiliyah. Alhamdulillah itu tidak saya lakukan, walaupun senior-senior (mereka menyebut: bapak-bapak) banyak yang udah Drop Out dari kampusnya masing-masing.

Saya juga diwajibkan untuk menyetor infak tiap bulan yang jumlahnya tidak boleh sama atau kurang dari bulan yang lalu. Kalau ini terjadi mereka akan mengacam dengan hadis: "... barang siapa yang hari ini sama atau lebih jelek dari kemaren ... maka ...dst". Saya harus bagaimana lagi .... ????

Selain itu saya juga diwajibkan mencari kader-kader baru, dengan jalan mencari kenalan, menemui teman-teman lama, untuk kemudian ditilawah dan ditaftis. Untuk mempermudah pekerjaan ini saya digabungkan dengan anggota lain yang bernama: Nur Hidayat.

Dalam setahun saya hidup, dalam suasana batin sabagai warga NII, saya mendapatkan anak (kader) sebanyak tiga orang (1 cowok, 2 cewek). Saya renungi kembali makna hidup saya di NII .... sepertinya saya ini jadi aneh yaa ...

Saya makin dijauhi temen-temen dekat saya, karena sebagian mereka ada yang menolak saat saya tilawah, kemudian bilang pada teman yang lain, bahwa saya telah "berubah". Nilai kuliah saya amburadul karena jarang kuliah.... kata senior saya, "nggak apa-apa demi tugas negara". Hubungan saya dengan orangtua kandung jadi "dingin" karena saya menganggap mereka kafir, tapi hidup saya secara materi masih tergantung pada mereka berdua. Rasa percaya diriku juga makin luntur, hidup rasanya penuh pesimistik, dan lain-lain.

Pernah saya terkejut saat diberi materi oleh senior saya tentang pernikahan. Bahwa perjodohan yang telah ditentukan pimpinan harus dilaksanakan, apapun rintangannya termasuk halangan dari orangtua kandung masing-masing. Yang penting pimpinan udah menikahkan, kemudian dihamili, pasti ortu kandung mereka nggak kuasa untuk menolak, Astagfirullah.

Bulan Oktober 1995 M, saya membaca artikel di Tempo, bahwa ada NII putih, ada pula NII merah. Kata senior saya, bahwa NII saya emang yang merah tapi tetep satu komando dengan yang di pusat (kata mereka pimpinan pusat dipegang Adah Jaelani). Saya yang baru dengar nama Adah Jaelani, yaa nurut aja apa kata mereka .....

Tapi makin lama, kegalauan, kegelisahan, dan kebingungan menyelimuti hidupku di NII. Akhirnya aku mulai mencari-cari alasan bagaimana bisa keluar dari kebingungan ini, kalau perlu keluar dari NII. Saya sampai bilang dalam hati; lebih baik kafir dari pada hidup pesimis. Umat nabi dulu optimis, aku kok pesimis ... apanya yang salah yaa: diriku sendiri atau NII?

Puncaknya di bulan Desember 1995. Temen satu timku harus pulang ke Semarang (orangtua) karena lulus kuliah, hubunganku dengan senior yang di Jogja juga mulai nggak harmonis, temen-temen NII yang selevel dengan aku juga mulai banyak yang keluar. Akhirnya pada tanggal 18 Desember 1995 kuputuskan keluar dari NII, dengan bilang pada seniorku, yang bernama Abdan Syakuro lewat telpon bahwa saya sudah keluar, tidak percaya lagi dengan apa yang ia katakan. Amin.

Aku juga bilang pada yunior-yuniorku apa yang telah kuputuskan. Anehnya kok mereka juga ikut keluar sama sepertiku .... yang nggak beres itu aku sendiri, yuniorku, seniorku, atau NII ?????

Setelah keluar, aku kucing-kucingan dengan senior-seniorku, karena mereka mengancam akan membunuhku, darah orang murtad itu halal kata mereka. Tapi kalau pas ketemu kok mereka malah yang ngacir nggak karuan ... yang salah itu: aku, RI, atau NII sih????? Kalau NII benar, aku juga merasa sangat berdosa, karena meninggalkan kebenaran, tapi kok begitu ???? Aku nggak merasa menyesal meninggalkan NII .... aneh sekali lagi.

Masa-masa berikutnya kuisi dengan pemulihan baik jasmani yang kurus kering karena dulu kurang gizi (duit habis untuk infak/shodaqoh/tabungan dll). Juga rohani yang kehilangan rasa percaya diri. Kedua bidang itu berupa, menjalin kembali persahabatan dengan temen-temen lama, rajin kuliah, bakti dengan orangtua, dan lain sebagainya.

Sebenarnya masih banyak yang bisa diceritakan, tapi aku mohon tanggapan dulu dari penghuni darul islam nii di sini. Apakah NII yang saya ikuti putih atau merah ??? Apakah perjalanan hidupku ada yang salah ???? Dan apakah-apakah yang lain yang bisa diambil dari cerita di atas.

Jujur saja, saya sebenarnya merindukan kehidupan atau suasana Islami, ada beberapa konsep NII di atas yang saya setujui tapi ada pula yang susah untuk diterima.

Tanggapan bisa dialamatkan di milis ini, atau langsung di bahtiar_rifai@indonet.com. Ataupun yang udah kenal siapa saya bisa langsung datang ke rumah (anda harus sudah mengenal saya, saya tidak suka basa-basi lagi).

11. Raihan Nadjib
“Lambat laun mereka jatuh miskin…”


Kali ini kami tampilkan sebuah pengakuan dari raihan@my-muslim.net. Yang pernah tayang di milis Sabili pada Sun, 19 Nov 2000 13:25:41 -0800 (PST), dengan subject: “TOLONG ! Masalah NII”

Assalamu’alaikum wr wb.

Saya mempunyai seorang pacar (wanita). Belakangan saya mengetahui bahwa orangtua pacar saya ternyata anggota NII versi Al-Zaitun. Padahal orangtua pacar saya tersebut adalah pedagang kecil.

Lambat laun mereka jatuh miskin. Keuntungan yang mereka dapat dari berdagang sebagian besar disumbangkan untuk gerakan mereka. Sekarang mereka terjebak hutang.

Tapi herannya mereka tidak kapok-kapok juga dan malah semakin fanatik mengumpulkan uang dengan berbagai cara, misalnya meminjam uang kepada saya dengan dalih modal dagang, membeli obat, dan lain-lain (sampai sekarang hutang itu belum mereka bayar).

Saya kasihan kepada mereka tapi saya tidak bisa berargumen. Bapak pacar saya adalah lulusan pesantren dan ibunya adalah seorang Qoriah. Sedangkan saya berasal dari keluarga moderat.

Tetangga saya (teman sebaya) sekarang trauma dan disembunyikan oleh keluarganya karena mendapat teror sebab dia pernah mengutarakan hendak keluar dari NII.

Melalui forum ini saya mohon bantuan, apa yang harus saya perbuat. Bila ada yang mempunyai kliping tentang kebohongan NII, mohon saya dikirimi, agar saya dapat menyadarkan mereka. Terima kasih.

12. Triyanto
“Jangan-jangan kita malah diajak ke Neraka …”


Triyanto (e-mail address: triyanto@softhome.net) mengirimkan kesan dan pengalamannya ke milis pada Thu, 07 Dec 2000 11:11:33 –0000 dengan subject Islam Versi NII dan Islam Umum.

Assalamu'alaikum wr. wb.

Berikut yang saya tangkap dari ajaran NII pada waktu pertama kali saya akan masuk, yang kemudian tidak diterima karena perbedaan pendapat antara saya dan umul amri-nya NII.

Cara dakwah NII adalah dengan sembunyi-sembunyi, alasannya mengikuti Sunnah Rosululloh yang melakukan penyebaran Islam secara sembunyi-sembunyi.

Pendapat saya, tidak masuk akal, kalau niatnya menyebarkan Islam, maka dakwah seharian di masjid pun tidak akan ada yang ganggu.

Kaum NII tidak bisa membedakan jaman jahiliah itu seperti apa? Kaum NII juga mengklaim bahwa keadaan sekarang adalah sama dengan jaman jahiliah, padahal yang benar adalah saat ini masih terdengar Adzan, Ayat suci, Santapan Rohani, mengapa mereka menyebutnya jahiliah, apa mereka buta?

Kenapa NII sembunyi? Karena isi dari pengajian yang sembunyi-sembunyi tersebut adalah menjelekkan hukum buatan manusia (Pancasila dan UUD 45). Sasarannya adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan Islam sangat minim dan juga wawasan kebangsaannya yang minim juga, sehingga dengan kondisi tersebut akan sangat mudah untuk membandingkan 2 kondisi yang ada pada waktu itu, contoh: kejahatan merajalela, pelacuran dimana-mana, yang sangat gampang diterima oleh orang awam.

Apa pengenalan ajaran yang dilakukan oleh umul amri?

Seperti biasa, agar tidak tampak mencolok, maka setiap orang yang diajak mengaji akan diajarkan tafsir versi NII (contoh: Bismi = dengan menyebut, begitu seterusnya, atau per kata) jika orang yang mengaji tersebut sudah terbuai dengan kelihaian umul amri maka sang umul amri mulai dengan mengajarkan ayat-ayat yang menurut saya sudah sistematis disusun oleh seseorang berilmu cukup tinggi. Contoh: ayat x ini berhubungan dengan y, dan kemudian di jelaskan di ayat z, begitu seterusnya yang kesemuannya ayat tersebut berisi tentang ajaran yang bertolak belakang dengan pancasila dan atau UUD.

Saya pernah menerima ajaran yang mengupas ayat yang berbunyi Wa maa kholaqtuljinna wal insaa illa liya' buddun. Terjemahan umul amri itu begini: "Dan tidak aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku (Alloh). Pengertian dia, sebenarnya tidak ada Jin, kata umul amri tersebut yang dimaksud dengan Jin di sini adalah Jenius, yang berasal dari bahasa Inggris yang berarti orang pintar. Jadi Jin itu adalah orang pintar."

Saya tertawa mendengar umul amri ini, begitu pinternya orang tersebut mengartikan surat sesuka hatinya, dan itu bukan cuma satu orang, ada tiga orang bung. Saya cuma kasihan sama umul amri tersebut, yang sebenarnya hanya merupakan alat untuk mencari masa.

Contoh kasus, teman saya hanya ingin tahu tentang manfaat Dzikir, dan dikenalkanlah teman saya tersebut dengan seseorang yang kemudian membawanya ke daerah kontrakan petak di Sadjam Kemang, di sana hanya dicekokin ayat-ayat yang membingungkan (yang inti pokoknya negara kita jelek kita akan ganti dasar negara ini dengan Akidah Islam).

Bayangkan bung jika anda yang mengalami hal ini, hanya ingin tahu tentang Dzikir tetapi dia distrap oleh lebih dari 8 orang dari jam 14:00 sampai dengan jam 22:00. Dan teman saya tersebut seakan selalu dipojokkan dan diajak untuk bergabung dengannya. Tetapi Alhamdulillah, akibat saran dari kawan-kawan yang salah satunya jebolan umul amri NII, maka teman saya tidak jadi bergabung.

Apabila anda masuk menjadi anggota NII, maka yang dilakukan pertama sebelum mendalami ajaran NII adalah bai'at. Kalau saja kata bai'at itu dapat diartikan dengan sumpah, bukankan pada waktu kita membaca syahadat sudah merupakan sumpah? Dalam kata-kata bai'at tersebut ada kata-kata yang saya sungguh tidak setuju.
Bayangkan kalau kita warga NII harus tunduk pada perintah Komandan Perang NII, orang sama-sama manusia saja kok harus patuh dan tunduk pada perintahnya, apakah itu tidak murtad?

Jika anda sudah menjadi anggota NII, maka anda harus membayar infaq, yang saya sendiri sampai saat ini belum jelas berapa persen dari total penghasilan. Kalo dari sisi prosentasi saya sependapat dan memang ada aturannya, tetapi dari cara menagihnya saya tidak sependapat sama sekali, bayangkan kalo jam 12 malam mengetok pintu orang hanya untuk menagih infaq yang belum terbayar? Apakah itu tidak mengganggu, apa memang NII senang mengganggu kedamaian orang?

Apakah kita salah, jika sebagai orang islam yang taat tetapi tidak sependapat dengan NII? Kalau jawabannya iya; siapa yang harus diikuti? Perintah Alloh atau perintah NII?

Kalau NII itu benar; mengapa sholat nomor 2, dibandingkan dengan menerima ajarannya? Berdasarkan 3 tempat yang berbeda, Bangka, Cakung dan Bekasi

Sepengetahuan saya Islam itu mudah, dan tidak memberatkan, NII bertele-tele dengan segudang janji? Mengapa tidak membangun saja mulai dari diri sendiri dengan cara mendekatkan diri pada yang Esa dengan belajar dari berbagai sumber (ulama) yang lebih bisa dipercaya daripada belajar dari umul amri yang salah mentafsirkan Alqur'an, jangan-jangan kita malah diajak ke Neraka.

Demikian dan semoga bermanfaat membuka hati yang membacanya.