Kesimpulan dan Penutup

 
A. Kesimpulan

Ambil Sikap dan Tindakan Tegas

Dalam perkembangannya nanti, boleh jadi Abdul Salam (AS) Panji Gumilang alias Abu Toto akan membuat strategi baru, yaitu dengan mengubah penampilan sebagus mungkin menurut pandangan orang kebanyakan, terutama kalangan penguasa maupun tokoh masyarakat.

Kalaupun demikian, hatta seandainya Toto bertaubat, maka dia harus tetap mempertanggung-jawabkan seluruh kejahatan yang telah dilakukannya baik terhadap para pengikutnya sendiri maupun terhadap Islam, yang qaidah-qaidahnya telah dijungkir-balikkan.

Identitas maupun keberadaan dan siapa sebenarnya AS Panji Gumilang harus diusut tuntas. Bagaimana ia selama ini menyembunyikan serta menutupi identitas dan sepak-terjangnya yang sangat meresahkan serta merugikan banyak orang dan kalangan, melalui NII baik semasa di KW-9 maupun NII yang sekarang ini.

Tuntut tanggung jawab TNI/ABRI yang telah memberikan peluang kepada Abu Toto untuk mencuci atau membersihkan track record dirinya yang sangat buruk dan jahat serta merugikan dan meresahkan umat semasa di KW-9 yang terkenal sesat dan menyesatkan serta memiskinkan dan memeras umat yang masih berjalan hingga kini, dan lantas mengubah namanya menjadi AS Panji Gumilang yang berkuasa penuh di ma'had Al-Zaytun yang pada akhirnya untuk menipu dan bertujuan membuat jera serta fobi bagi para donatur atau aghniya’ domestik maupun mancanegara untuk masa-masa mendatang bagi gerakan Islam dan Muslimin yang sebenarnya.

Permasalahan seperti ini secara intelejen sebenarnya telah nyata-nyata dan terbukti serta diketahui memiliki hubungan yang inhern dengan NII, yang dahulunya ditipu, diburu dan dipenjara. Kini, rencana jahat macam apalagi yang hendak dilakukan TNI/ABRI terhadap umat Islam bangsa Indonesia?

Akankah rekayasa intelejen ABRI dan Rezim Pancasila akan terus-menerus berlanjut dan mengabadikan permusuhannya dengan Islam dan Muslimin melalui cara-cara yang busuk dan licik seperti ini.

Sekalipun rekayasa busuk serta permusuhan terhadap Islam ini telah bisa dilihat oleh mata telanjang banyak orang. Bangkitnya NII dalam pentas pergerakan maupun gerakan-gerakan Islam yang lain sesungguhnya tidak ada yang terlepas dari peran aktif infiltran maupun intelijen militer.

Paradigma baru TNI yang sekarang digembar-gemborkan oleh para elite dan cendekia TNI harus bisa dan berani menghadirkan bukti kongkret yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, itu baru bisa disebut ABRI-TNI tulen dan konsisten, bukan ABRI/TNI munafik alias hipokrit sebagaimana yang selama ini eksis.

ABRI atau TNI harus bisa bersikap tegas dan bertanggung jawab, dan berpendirian akankah tetap memusuhi Islam dan umat Muslim ataukah berani untuk menyatakan tidak lagi menjadikan Islam dan umat Muslim sebagai musuh TNI dan musuh bangsa Indonesia, yang dinyatakan secara resmi dalam bentuk statement oleh pimpinan tertingginya dan kalau perlu dalam bentuk undang-undang. Atau bagaimanalah susunan bahasa kalimatnya, yang penting ya seperti itulah maksudnya.

Sehingga jangan ada lagi istilah-istilah yang menyesatkan seperti “ABRI/TNI Hijau” dan istilah sesat dan menyesatkan lainnya sebagaimana yang dikumandangkan selama ini. Inilah konsekuensi suatu upaya klarifikasi (ilmiyah) yang tidak mungkin lagi bisa dibatasi integralitasnya dalam membahas tentang suatu masalah yang memang selalu kait-mengait.

Selain itu tuntutan secara material, harta milik ummat yang telah dirampas melalui qoror-qoror , apakah itu yang melalui program qiradl, zakat fithrah yang di-mark-up, infaq dan shadaqah, qurban dan tartib, haruslah dikembalikan. Permasalahan yang berhubungan dengan keuangan harus diaudit oleh suatu lembaga keuangan yang representatif dan profesional, jujur dan transparan.

Secara hukum, delik pelanggaran kriminal sesungguhnya telah dilakukan oleh Abu Toto dan segenap aparat KW-9. Melalui program qiradl (pinjaman yang dijanjikan memperoleh keuntungan) yang ketentuannya harus dikembalikan setelah masa berjalan 5 tahun dan iddikhor (tabungan yang dipungut setiap bulan tanpa ada batasnya). Akan tetapi pada kenyataannya tidak satu pun qiradl dan iddikhor para pengikutnya yang dikembalikan, kecuali kepada beberapa person yang berani memaksa dan mengancam.

Penulis akan bekaja sama dengan berbagai lembaga untuk melakukan upaya advokasi (pembelaan) terhadap para korban dari keganasan serta kejahatan Abu Toto Abdus Salam (AS) Panji Gumilang, saat menjadi Panglima Tertinggi jajaran NII KW-9 maupun NII struktural garis komando Adah Djaelani Tirtapraja, terhitung sejak tahun 1992 sampai dengan tahun 2002 sekarang, dengan membuka pendaftaran dan menerima pengaduan dari para korban penipuan dan pemerasan Abu Toto melalui program NII-nya, dan menindak-lanjuti secara resmi seraya berkoordinasi dengan pihak pihak yang berkompeten.

Penulis dan berbagai ormas keagamaan serta LSM maupun LBH akan terus menuntut pembubaran serta pembekuan seluruh kegiatan sesat dan menyesatkan NII garis kepemimpinan Abu Toto alias Abdus Salam (AS) Panji Gumilang di seluruh tempat di mana mereka memiliki jaringan dan anggota.

Menyita seluruh asset YPI untuk kemudian dikembalikan kepada umat yang berhak atas harta yang tersangkut di dalamnya. Merehabilitasi kesesatan dan penyesatan para anggota maupun pengurus keorganisasian mereka dalam suatu pembinaan yang terkoordinasi, dan akan ditentukan melalui musyawarah antar lembaga da'wah secara berkesinambungan dan bertanggung-jawab.

Penulis dan berbagai Ormas serta umat Islam akan menyebarkan kebusukan, kesesatan serta kejahatan Abu Toto dengan kedok Al-Zaytunnya kepada lembaga-lembaga Islam tingkat Intemasional maupun pemerintahan negara-negara Islam dan OKI. Menghimbau serta menyerukan kepada mereka agar meninjau kembali dan menghentikan segala bantuan serta ikatan apapun yang telah dilakukan dengan Al-Zaytun.

Terhadap sikap pro dan kontra yang mungkin muncul dari masyarakat sehubungan dengan upaya penyingkapan kejahatan Abu Toto AS Panji Gumilang yang menggunakan Islam dan NII sebagai kedok ini, kita hanya berpegang teguh pada asas nahi mungkar dalam menghadapi kesesatan dan penyesatan yang telah nyata-nyata terbukti dilakukan oleh Abu Toto AS Panji Gumilang terhadap Islam dan umat Islam, dan sama sekali tidak mempertimbangkan perwujudan kebaikan yang telah berhasil dibangun dan ditegakkannya, karena kebaikan itu semata-mata hanya sekedar kedok untuk menipu umat serta menjalankan programnya dalam rangka merusak maupun melakukan penodaan terhadap Islam.

Kita juga mafhum akan kemungkinan ditempuhnya langkah mencari perlindungan kepada demokrasi dari para pendukungnya yang kini sedang berada di tampuk kekuasaan. Namun kita tetap berpendirian, dalih demokrasi dan hak asasi tidak dapat digunakan untuk melaksanakan aksi kejahatan dan yang bersifat merusak, merugikan serta meresahkan umat dan nilai-nilai baku Agama Islam.

Yang sangat diharapkan oleh berbagai pihak adalah muncul dan ikut sertanya kalangan yang dahulunya pernah di NII dan tetap memperjuangkan tegaknya tauhid dan syari'at Allah, untuk berpartisipasi aktif memberangus Abu Toto dan segenap aliran yang sesat serta menyimpang, yang kini makin nekat mendemonstrasikan kesesatannya dalam beragama. Bukan saja yang berbaju NII tetapi juga terhadap kalangan sesat yang berbaju LDII, Ahmadiyah, Syi'ah dan lain sebagainya.

Penulis berkesimpulan, pertama, masalah NII yang diproklamasikan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada tanggal 7Agstus l949 telah berakhir dengan tertangkapnya SM Kartoseowirjo, yang selanjutnya dieksekusi oleh Pemerintah pada 17 Agustus 1962. Sisa-sisa pengikut NII SM Kartosoewirjo setelah itu sudah tidak punya kekuatan lagi, mereka sudah berhenti bergerak karena sebagian besar tokoh-tokohnya sudah menyerah atau ditangkap.

Gerakan NII muncul kembali pada awal Orde Baru, yang dihidupkan kembali oleh Ali Moertopo, yang kala itu memegang berbagai jabatan strategis seperti Kepala OPSUS (Operasi Khusus), ASPRI (Asisten Pribadi) Presiden Soeharto dan Wakil Kepala Bakin, untuk menghancurkan kekuatan Islam dari dalam.

Dengan demikian ada alasan bagi Pemerintah Orde Baru dengan Kopkamtibnya untuk menangkapi tokoh-tokoh Islam yang kritis kepada Pemerintah.

Dengan memberi label ekstrim kiri kepada sisa-sisa PKI dan label ekstrim kanan kepada umat islam yang kritis ditambah lagi dengan cap DI/TII dan NII, maka cukup alasan bagi Pemerintah Soeharto beserta antek-anteknya untuk memberangus kritikan-kritikan dari para tokoh Islam yang berani menyuarakan kebenaran dan menunjukkan kesalahan Pemerintah. Mereka dapat ditangkap tanpa proses hukum sebab dianggap makar disamakan dengan gerakan pemberontakan PKI.

Jadi, jika sekarang masih ada kelompok-kelompok NII dengan segala macam faksinya yang bergerak di bawah tanah atau bergerak dengan sistem sel, semua telah melakukan kebohongan jika perjuangannya untuk Islam dan umat Islam.

Perbuatan mereka sepenuhnya destruktif, dan merupakan benalu bagi Islam serta memperburuk citra Islam. Perbuatan (perjuangan) yang mereka klaim untuk mendirikan Negara Islam Indonesia atau Negara Madinah itu sesungguhnya hanyalah bohong belaka. Yang jelas perbuatan mereka adalah menipu dan menyesatkan generasi muda Islam, mahasiswa dan orang-orang yang awam agama untuk diarahkan kepada kesediaan dibaiat dan diperas uang dan harta bendanya untuk kepentingan pribadi dari elite pimpinannya.

Untuk itu sangat diharapkan kepada yang berwajib untuk mengaudit kekayaan AS Panji Gumilang, Syaikhul Ma’had Al-Zaytun. Periksa lalu-lintas transfer di Bank, dengan nomor rekening dan nama samarannya pada Bank tertentu. Dalam hal ini Penulis bisa memberikan penjelasan kepada yang berwajib untuk pengusutan kejahatan ini.

Jika benar Al-Zaytun adalah proyek NII yang antara lain tidak mewajibkan sholat, mengubah nishab zakat fitrah, mengubah pelaksanaan penyembelihan qurban dan menjadi penadah harta umat Islam yang telah ditipu dan dizhaliminya, maka pihak berwajib harus segera mengusut secara tuntas.

Sekarang ini di Ma’had Al-Zaytun sudah menginjak tahun ajaran ke III, sekarang dengan jumlah santri sekitar 3.250 anak dari seluruh Indonesia dan beberapa negara tetangga.

Fakta yang diperoleh Penulis mengenai hilang atau berkurangnya murid (santri) ma’had Al-Zaytun yang tidak bisa dibilang kecil sebagai bukti adanya hal yang misterius dan tidak bisa dianggap sepele oleh siapapun, antara lain berdasarkan perbandingan dari Buku Daftar Nilai Hasil Evaluasi Belajar Santri Ma’had Al-Zaytun pada angkatan yang sama (angkatan pertama tahun 1999), menunjukkan adanya keganjilan telah terjadi di ma’had Al-Zaytun.

Pada Buku Raport Angkatan Pertama 1999-2000 tercatat sejumlah 1.456 santri Ma’had Al-Zaytun. Akan tetapi dalam Raport pada tahun kedua (kelas II) atas nama si Pulan didapatkan jumlah santri angkatan pertama tersebut tinggal 1.014 santri. Berarti ada selisih dari berkurangnya siswa di ma’had Al-Zaytun dalam satu tahun sebanyak 442 santri atau menghilang lebih dari 30 persen dari jumlah santri angkatan pertama tahun 1999-2000. Dan untuk tahun ini?

Data ini menimbulkan pertanyaan, di manakah keberadaan 442 santri angkatan pertama ma’had Al-Zaytun ini? Kenapa hal itu bisa teljadi? Lantas bagaimana pertanggung-jawaban ma’had Al-Zaytun atas kejadian ini? Apakah siswa yang keluar sebanyak 30 persen dari angkatan pertama itu terkena sanksi sebagaimana yang telah ditetapkan di ma’had ini sebesar Rp 10.000.000 per tahun atau Rp 1.000.000 per bulan? Kalau dikalkulasikan pasti jumlahnya mencapai puluhan milyar.

Oleh karena itu data ini harus direspon oleh berbagai pihak, khususnya yang berkepentingan untuk memasukkan anaknya ke ma’had tersebut dan semua pihak yang terkait dan peduli terhadap dunia pendidikan.

Yang sangat diyakini adalah belum tentu para orangtua para santri tersebut mengetahui secara persis tentang realitas ma’had Al-Zaytun pimpinan AS Panji Gumilang yang sebenarnya ternyata merupakan sarang dan pusat NII.

Jika mereka para generasi muda tersebut nantinya dijadikan kader oleh NII dengan ajaran-ajaran yang sesat, maka hal tersebut tentu akan sangat membahayakan umat Islam dan bangsa Indonesia di kemudian hari. MUI tidak boleh tinggal diam akan kenyataan seperti ini, jika MUI masih merasa sebagai pimpinan umat Islam.

Ormas-ormas Islam yang lain dan seluruh komponen bangsa harus berani membongkar dan menghentikan kesesatan tersebut. Penulis sudah memberikan informasi melalui buku ini secara terbuka tanpa ada motivasi politik, ekonomi atau kebencian kepada siapa pun, tetapi semata-mata hanya untuk mengungkapkan kebenaran dan menegakkan keadilan dalam rangka amar ma'ruf dan nahi mungkar.

Kedua, Penulis bertanggungjawab penuh atas data dan informasi yang dimuat dalam buku ini. Supaya tidak menjadi fitnah, Penulis mengajak semua pihak yang berkepentingan, baik pemerintah yang berwajib, MUI, pimpinan ormas-ormas Islam dan para ulama untuk ber-tabayyun (melakukan rekonfirmasi dan klarifikasi) atas isi buku ini.

Pada era reformasi ini suasana keterbukaan sangat mendukung upaya-upaya untuk mengungkapkan kebenaran tanpa was-was dan keraguan akan tindakan represif dari pemerintah.

Ketiga, bersama dengan mantan tokoh-tokoh dan anggota-anggota NII yang sudah insyaf, Penulis akan menggalang kekuatan bersama untuk menegakkan kebenaran dan kedilan serta mengentikan segala bentuk kesesatan dan kejahatan AS Panji Gumilang beserta kroninya. Penulis (bersama SIKAT) akan mengungkapkan kebenaran walaupun mungkin akan terasa pahit.

Semoga Allah Yang Maha Kuasa memberi kekuatan kepada hamba-Nya yang berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan serta memberantas kemunkaran.

Keempat, kepada para mahasiswa, pemuda dan mereka yang masih mengikuti atau meyakini ajaran NII segera bertobat. Umat dan orangtua menanti anda untuk kembali ke jalan yang benar dan terhindar dari ksesatan. Pelajarilah agama Islam secara benar sesuai dengan kandungan Al-Qur'an dan As-Sunnah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, dan tidak seperti yang diajarkan oleh SMK dan pengikutnya yang jelas-jelas menyesatkan.

Kelima, Penulis (bersama SIKAT) bersedia berdiskusi dengan semua pihak secara terbuka untuk membuktikan kesesatan AS Panji Gumilang, Syaikhul ma’had Al-Zaytun. Juga menerima pengaduan dari para keluarga Muslim yang anggota keluarganya terperangkap dalam lingkaran NII dan Ma’had Al-Zaytun.

Kepada orangtua yang anak atau keluarganya sekarang belajar atau bekerja di Ma’had Al-Zaytun, Haurgeulis, Indramayu, Jawa Barat, termasuk perwakilan dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia diharapkan berfikir ulang atau mempertimbangkan kembali akan keberdaannya di sarang NII yang berwujud Ma’had Al-Zaytun tersebut.

Keenam, hasil penelitian dan kajian Penulis telah memperoleh bukti konkret adanya benang merah yang sangat kuat dan jelas antara Abu Toto yang terkenal dengan NII KW-9 tempo doeloe dengan AS Panji Gumilang Syaikh Al-Ma’had Al-Zaytun sekarang dan NII Adah Djaelani maupun Kartosoewirjo. Kalau saja ke-Islaman Abu Toto Abdus Salam AS Panji Gumilang dengan Ma’had Al-Zaytun serta gerakan NII tersebut memang betul-betul baik dan benar aqidahnya, baik dan benar ibadah serta akhlaq dan sepak terjangnya, maka siapa saja ingin berpartisipasi dan ikut serta secara serius dan pasti memperjuangkan tegaknya syari'at Allah di bumi Indonesia ini! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Setiap Muslimin ingin berada dalam naungan Daulah Islamiyah serta Mardlatillah. Insya Allah kita semua pasti menginginkan dan memang sangat mendambakannya.

Namun apa jadinya jika diketahui dalam ajaran, doktrin dan ideologi serta amaliyahnya ternyata justru terdapat banyak sekali penyimpangan aqidah, penodaan tauhid serta penjungkir-balikkan syari'at dan perusakan nilai-nilai luhur akhlaq Islamiyah, makna ibadah, menipu, memiskinkan dan memurtadkan umat? Apakah semua kebejatan itu akan kita biarkan hidup dan berkembang?

B. Penutup

Berbagai tindak kejahatan dan penodaan terhadap agama sering dan berulangkali dilakukan serta terjadi dalam masyarakat kita bangsa Indonesia. Dan celakanya, belum pernah sekali pun bangsa atau masyarakatnya (kaum Muslimin) mampu menyelesaikan atau menghentikan tindak kejahatan, penodaan dan penyelewengan tahadap Agama Islam tersebut secara tuntas.

Akibatnya, prestasi umat dan bangsa Indonesia dalam lapangan kesesatan beragama mungkin barangkali menempati rangking 10 besar, sejajar dengan India yang melahirkan agama Ahmadiyah, atau Iran yang beragama Syi'ah dan negara-negara lainnya yang telah pula melahirkan agama baru.

Hanya Saja, keberagamaan bangsa atau masyarakat Indonesia yang sesat dan menyesatkan tersebut belum masuk dalam deretan daftar aliran golongan al-Ahwa’ wal Firaq wal Bida‘ yang telah dibakukan dalam bentuk buku.

Di seluruh penjuru dunia memang telah terjadi kesesatan dan penyesatan dalam beragama, namun masih selalu ada yang berusaha dengan gigih dan sugguh-sungguh untuk menentang dan memberantasnya. Indonesia sendiri, tercatat dalam sejarah belum pernah sekalipun dilalui oleh struktur kekuasaan Daulah Islamiyah, walaupun Islam sendiri telah mendatangi Indonesia sudah sejak abad ke-3 Hijriyah, katanya.

Namun, karena berdasarkan data statistik, penduduknya berjumlah besar, dan menurut pengakuan para penduduk bangsa Indonesia, secara mayoritas lebih memilih dan setuju mejadikan Islam sebagai agamanya, maka terkenallah Indonesia sebagai bangsa Muslim yang terbesar di seluruh dunia.

Sayangnya pengakuan mayoritas tadi sama sekali tidak dan belum disertai sikap istiqomah (konsisten). Bahkan celakanya, mayoritas statistik yang hanya pengakuan tadi justru pada akhirnya malah mengilhami terhadap sikap, pemikiran maupun tindakan yang sangat rancu dan nyaris memalukan!

Bukannya kesadaran untuk tahu diri atas kebodohan (jahil dan ketidaktahuan), kelemahan (dalam berpikir dan beriman sehingga malas dan rentan jiwa maupun mentalnya), isti’jal (terlalu terburu-buru untuk mendapatkan hasil namun tidak hati-hati dan tidak sabar dalam menempuhnya), kekufuran (mengaku beriman namun tak mampu menujukkan rasa syukurnya dalam wujud pengabdian yang tulus dan serius), kesombongan (sikap enggan untuk mengikuti yang pantas diikuti dan menganggap enteng terhadapnya, namun lebih condong untuk mengikuti akalnya yang lemah tetapi kuat dalam hajat, obsesi nafsu). Sehingga yang muncul dan lebih dominan pada bangsa ini adalah sikap lucu, aneh, juga keterlaluan.

Mungkinkah dari bangsa yang seperti ini pengetahuannya, karakteristiknya dan amat jauh dari fithrah-Nya, lantas mengaku sebagai bangsa yang lebih berpeluang untuk menjadi pemimpin dunia Islam? Lebih berpeluang untuk menjadi pembela Islam dan Muslimin? Padahal membela dirinya sendiri saja tidak mampu. Jangankan mampu, berani saja tidak, menghadapi perilaku kebatilan dan kezhaliman yang menindasnya dari tahun ke tahun, sejak mereka orok hingga masuk ke liang kubur.

Yang telah tercatat dalam pena sejarah memiliki keberanian dan keinginan membela Islam, hanyalah kelompok Syarekat Islam yang memunculkan NII, sayangnya masih juga terperosok ke dalam sikap dan pemikiran firqah, dan juga kelompok Woyla yang tak ada kelanjutannya. Sikap lucu, aneh namun keterlaluan ini terbukti dengan lahirnya pengakuan-pengakuan, seperti:

1. Pengakuan Kartosoewirjo sebagai khalifah Allah dan khalifah Rasul SAW di Nusantara Indonesia dan untuk dunia, namun wilayah (basic-teritory) yang berdaulat penuh dan di dalamnya berlaku syari'at (yang diatas-namakan Indonesia) tidak ada dan belum jelas batas-batasnya. Malahan dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun aktivitas kedaulatannya masuk hutan keluar hutan karena terdesak atau dikejar-kejar dan belum pernah sekali pun memiliki Ibukota bagi Negara Islam yang diproklamasikannya tersebut. Pada akhirnya ia berhasil dikalahkan rezim thaghut secara telak, justru di saat setelah merencanakan dan bertekad menggelorakan perang semesta melawan rezim thaghut Soekarno.

2. Pengakuan Nurhasan al 'Ubaidah, Imam Darul Hadits atau Islam Jama'ah, alias LDII sekarang, kekhalifahannya tanpa wilayah dan tanpa penerapan syari'ah. Justru pada akhirnya berkantor di Departemen Penerangan, dan berlindung dalam jaket Golkar, baik semasa Ali Moertopo masih hidup maupun sesudah matinya.

3. Pengakuan Wali al-Fatah, dengan jama'ahnya yang bernama Hizbullah, Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah, yang terus berlanjut setelah wafatnya sang Khalifah, sayangnya ngantornya justru di Kantor Berita Antara, dan kini dijabat oleh anggota ABRI/TNI yang masih aktif. Tidak ada wilayah dan penerapan syari'ah.

4. Pengakuan kelompok Jama'atul Muslimin, yang khalifahnya berkantor di rumahnya di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. Namun, tidak bicara wilayah maupun penerapan Syari'ah.

5. Pengakuan Abdul Qadir Baraja', yang terpilih dalam kelompok mantan Napol (Narapidana Politik Islam) yang bertekad melanjutkan perjuangannya. Membicarakan tegaknya syari'ah, namun tanpa wilayah (teritory) dan penerapan syari'ah.

6. Pengakuan kelompok Hizbut Tahrir, yang mengklaim berhak atas kekhalifahan secara universal atas umat Islam keseluruhan. Walaupun sampai saat ini belum memiliki secuil pun wilayah dan kemampuan memberlakukan syari'at Islam, sekalipun terhadap komunitasnya sendiri.

Kalau saja bangsa ini sungguh-sungguh dan benar-benar bersedia menerima dan memperjuangkan Islam, sepatutnya mereka terima dahulu Islam ini apa adanya dengan tulus serta penuh kerelaan.

Buktikan keimanan melalui penghambaan kepada Allah dengan wujud ketundukan, kepatuhan, kethaatan dan penyerahan yang bisa diukur dan dilihat, yakni senantiasa merujuk kembali kepada Allah serta ittiba' dan bertakwa kepada-Nya seraya meninggalkan sikap dan tindakan kaum musyrik, yang biasa liar, bandel, telmi, inkonsisten dan melecehkan Allah, Rasul, dan orang-orang Mukmin serta umat manusia umumnya. (QS 30:30-32).

Menyadari akan keharusan taubat akibat dosa serta kezhaliman yang berlapis-lapis, di antaranya adalah budaya, peradaban, struktur kekuasaan yang menindas dan falsafah hidup yang musyrik dan Jahiliyah yang tanpa disadari selama ini telah membentuk dan mempengaruhi mental maupun kejiwaan serta perilaku bangsa ini.

Tanggung jawab dan kewajiban setiap hamba yang Mukmin dan Muslim, untuk melestarikan Islam (Al-Qur'an) dengan berpegang dan berpedoman kepada Sunnah Rasul SAW dan Sunnah Khulafa ar Rasyidin, telah sangat jelas dan tegas.Rasul SAW bersabda:

"Diwajibkan atas kalian melaksanakan Sunnahku dan sunnah Khulafa ar Rasyidin, gigit erat-erat dengan gigi gerahammu." (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

"Tiada Nabi yang diutus sebelumku melainkan mempunyai hawariy yang memegangi benar terhadap tuntunan ajarannya, kemudian timbullah pengganti yang sesudahnya suatu generasi yang berbicara tentang suatu yang tidak mereka kerjakan dan mereka lakukan apa yang tidak diperintahkan.

Maka barangsiapa yang berjihad dengan tangannya mereka adalah Mukmin, dan barangsiapa yang berjihad dengan lisannya mereka Mukmin dan barangsiapa yang berjihad dengan hatinya mereka Mukmin, sedang selain dari yang demikian itu adalah tidak ada lagi keimanan yang tersisa dalam hatinya, walaupun seberat biji sawi." (HR Muslim, bersumber dari Ibn Mas'ud).

Marilah kita semua belajar dari sejarah, baik sejarah pembangunan Daulah dan Peradaban Islam maupun sejarah Sahabat dalam mempertahankan berlakunya syari'at dan upaya rehabilitasi Daulah Islamiyah.

Karena dengan melihat sejarah mereka yang telah Allah berikan pujian serta hidayah-Nya tersebut, kita bisa mengambil contoh keteladanan serta pelajaran. Antara merintis dan membangun serta mengembangkan Daulah Islamiyah adalah sangat berbeda dengan merehabilitasinya.

Pada masa perintisan dan pembangunan serta pengembangan Daulah Islamiyah oleh Rasul SAW dan Khulafa ar Rasyidin, kondisi keimanan (aqidah) dan ke-Islaman (keshalihan) masyarakat Islam dapat dikatakan hampir sama dan merata, baik kualitas keimanan maupun kuantitas 'amal shalihnya. Berbeda dengan masa sesudahnya, setelah Bani Umayyah secara de facto mampu menyusun struktur kekuasaan "Mulkan Bani Umayah" secara menyeluruh, baik wilayah maupun publik ummah, walaupun hal itu ditempuh dengan cara yang represif dan otoriter.

Kedudukan dan posisi ahlul 'ilmi, seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdur Rahman bin Abu Bakar, Abdullah bin Zubair, Husein bin Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Handzalah, Nu'man bin Basyir dan lain-lain, secara defacto tidak memiliki tempat, namun keberadaan mereka secara dejure tetap ada di hati kaum muslimin.

Sikap mereka yang diam terhadap struktur kekuasaan Bani Umayyah, bukannya tanpa ada upaya penentangan. Namun karena amat represifnya Mu'awiyah terhadap kaum Muslimin, yang terhitung masih Sahabat Rasulullah SAW tersebut. Kekhalifahan vakum, yang ada hanya Kerajaan Mu'awiyah dan kemudian bergulir sistem kedinastian.

Para sahabat yang terhitung ahlul ‘ilmi tersebut belum pernah sekali pun mengakui kepemimpinan Bani Umayyah. Upaya penegakan syari'ah dan kepemimpinan tetap diupayakan, sekalipun hasilnya kegagalan. Seperti upaya Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Ketika kekuasaan dinasti bergulir ke tangan Yazid yang dikenal fasiq, para ahlul ‘ilmi mempelopori sikap politik bara’ (pelepasan pengakuan terhadap kekuasaan Yazid), disertai dengan pengangkatan Imarah. Di Madinah Imarah dipimpin oleh Abdullah bin Handzalah, sedang di Makkah Imarah dipegang oleh Abdullah bin Zubair melalui bai'at secara kesadaran dan sama sekali tanpa pemaksaan.

Keberadaan dua keamiran dalam ummah pada saat itu, sama sekali tidak menimbulkan suatu pertentangan, apalagi sekedar perselisihan pendapat atau sikap-sikap dan tindakan yang menceminkan kefirqahan.

Keemiran Abdullah bin Handzalah akhirnya berhasil digerus oleh Yazid secara zhalim, namun Yazid tidak mampu berbuat apa-apa terhadap keemiran Ibnu Zubair di Makkah. Setelah Yazid mati, Mu'awiyah II menggantikannya, namun tak lama kemudian ia meletakkan jabatan.

Tiga bulan kosong kepemimpinan akhirnya para penguasa daerah menggabungkan diri kepada keemiran Abdullah bin Zubair, hampir seluruh wilayah Islam, kecuali Damasykus (Ibu Kota kedinastian Bani Umayyah) bergabung dengan Ibnu Zubair tanpa ada kekerasan atau pemaksaan bai'at, sekalipun demikian keemiran Ibnu Zubair tidak lantas melakukan klaim khilafah atas ummah.

Ibnu Zubair yang wilayah kekuasaan Imarah-nya demikian luas itu, tetap tidak mengklaim dirinya sebagai Khalifah, namun yang lebih penting adalah berlakunya syari'ah serta tegaknya akhlaqul karimah dan bersihnya Aqidah tetap dimiliki ummah secara istiqamah.

Bodohkah mereka? Anti Khilafahkah mereka? Jawabnya justru sebaliknya, karena tingginya kesadaran mereka akan arti dan konsekuensi klaim khilafah, maka mereka tidak grusa-grusu, tidak kufur ni'mat, tidak takabbur dan arogan.

Di sisi mereka pun masih ada Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan lain-lain sehingga sikap kehati-hatian dan menghindarkan ummah dari.perpecahan serta pertempuran adalah lebih utama ketimbang sekedar mendapatkan klaim khilafah.

Mereka melakukan perbaikan (rehabilitasi) dan bukan revolusi sebagaimana yang dilakukan Nabi SAW. Marilah kita belajar dan mencontoh serta mendalami sejarah para sahabat Rasul SAW tersebut, dan berhenti dari sikap dan tindakan yang sifatnya membuat sejarah penyelewengan dan pengkhianatan terhadap Islam. Untuk lebih lanjut mengetahui hal ini baca Bidayah wa an Nihayah, Ibnu Katsir juz 6-8.

Akhirnya perkenankanlah penulis mengakhiri buku ini dengan sebuah pengakuan: “Tidak ada suatu kajian dan penelitian yang mampu mencapai tingkat kebenaran, kecuali setelah diuji dan diteliti ulang serta kemudian direvisi secara terus-menerus.

Kemampuan penulis yang dla’if lagi faqir mengharapkan koreksi yang aktif dan kritik yang arif serta positif bagi tercapainya suatu tingkat keyakinan yang layak untuk memperoleh peluang maupun keniscayaan dalam mengharapkan pembenaran dari Allah.

Allahumma arina al haqqa haqqan warzuqnat tiba’ah, wa arinal bathila-bathilan warzuqnaj tinabah. Ya Rabb, janganlah Engkau gelincirkan qalbu-qalbu kami setelah Engkau hidayahi kami, dan anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau adalah al-Wahhab. Mahasuci Engkau ya Allah, dan dengan memuji Engkau, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada dzat yang patut diibadahi selain Engkau, aku memohon ampunan dan bertaubat kepada-Mu."

Alhamdulillahi Rabbil Alamin