Tanggapan Al Qiyadah Al islamiyah kepada MUI DI Yogyakarta atas Fatwanya

Ditulis pada oleh suryaningsih

 http://youtube.com/watch?v=Q9M8pYa-niQ

Yth. DEWAN PIMPINAN MUI DI YOGYAKARTA

Jl. Pekapalan No. 14 Alun-Alun Yogyakarta

TANGGAPAN/JAWABAN ATAS FATWA MUI D.I. YOGYAKARTA NO. B – 149 / MUI-DIY/ FATWA /IX / 2007 TENTANG AL QIYADAH AL ISLAMIYAH

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah, Rabb yang mencipta alam semesta sebagai kerajaanNya yang ditaati oleh makhluk-makhluknya. Puji bagi Allah, yang mengutus nabi dan rasul disepanjang zaman untuk memimpin manusia keluar dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang. Ucapan salam kepada para rasul, khususnya Muhammad SAW yang berhasil melaksanakan tugas kerasulannya dengan sempurna dan meninggalkan sunnah sebagai teladan bagi generasi selanjutnya. Ucapan salam juga kepada para ulama yang menjadi pewaris paling takut kepada Allah dari antara hamba-hambaNya.

Bahwa tujuan Allah mencipta manusia adalah mengabdi kepadaNya dan menjadi wakil Allah dalam mengolah dan memakmurkan bumi. Tugas mengolah dan memakmurkan bumi tidak mungkin ditunaikan secara sempurna, kecuali terorganisir dalam satu sistem tauhid-ajaran Penciptanya. Manusia adalah mahkluk yang zalim dan bodoh, ia cenderung curang, berlaku tidak adil. Mutlak manusia harus menggunakan sistem hidup dari Sang Pencipta.

Allah yang menciptakan segala sesuatu, Dia yang paling memahami karakteristik segala sesuatu, maka Dia yang paling layak mengatur segala sesuatu. Dalam rangka itulah seorang rasul diutus ke dunia, yakni memperbaiki tabiat manusia agar sejalan dengan perintah Sang Pencipta.

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ

Sesungguhnya aku dibangkitkan untuk mengajarkan cara hidup yang mulia (Al Hadits)

Visi diutusnya rasul adalah membawa dan memperjuangkan Dien (system hidup dan kehidupan) yang benar, sehingga manusia hidup seperti tujuan awal penciptaannya : manusia melaksanakan tugas mengolah dan memakmurkan bumi sebagaimana seharusnya sehingga terwujud kondisi rahmat bagi seluruh alam.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan system hidup yang benar untuk dimenangkannya atas segala system hidup walaupun orang-orang musyrik benci (Ash Shaf 61/9)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam (Al Anbiya 21:107)

Muhammad SAW adalah salah seorang rasul Allah yang diutus untuk membenahi kehidupan manusia. Meskipun dia berjuang untuk kepentingan manusia umumnya dan bangsa - Arab Quraisy – khususnya, dia selalu ditentang dan dimusuhi, dia dicemooh, dicaci-maki, bahkan diancam dibunuh. Namun Allah selalu bersama orang-orang yang benar. Muhammad Rasulullah dan para sahabatnya dimenangkan, dan musuh-musuhnya dihinakan dunia akhirat.

Seketika, bangsa Arab yang lahir dipadang pasir muncul sebagai kekuatan super power. Peradaban manusiapun berubah kepada sistem nilai lebih tinggi. Masyarakat Internasional mengakui hal itu. Beberapa yang masih dapat dirasakan : pengangkatan martabat wanita, hukum perang internasional (tidak boleh membunuh rakyat sipil), perkembangan ilmu dan tehnologi disegala bidang : kedokteran, kimia, fisika, matematika dan lainnya. Itu semua adalah sumbangsih Dien Islam – sebagai sistem hidup – dalam menata kehidupan manusia.

Tujuh abad setelah menemui keruntuhannya, kini Dien Islam ditinggalkan bahkan oleh penganutnya. Nilai-nilai Dien Islam yang meliputi aspek idiologi, politik, ekonomi, sosial bidaya, dan pertahanan militer tidak lagi diaktualisasikan. Semua dicampakkan bak sampah dalam peradaban ummat manusia. Dien Islam sebagai jalan hidup dikerdilkan, ia diberi ruang sebatas agama yang - seolah-olah – hanya mengajarkan budi pekerti dan ritualitas belaka. Demikianlah manusia hidup diluar sistem ajaran Pencipta. Maka wajar apabila berbagai petaka menimpa manusia.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ajaran Kami, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Al A’raf 7:96)

Al Masih Al Maw’ud bersama pergerakannya Al Qiyadah Al Islamiyah melihat fenomena kehidupan berdasarkan kacamata kitab-kitab Allah. Kerusakan ekosistem bumi dan ketimpangan sosial manusia adalah akibat ulah manusia. Semuanya salah urus. Manusia telah mengkufuri hukum-hukum Allah, sehingga harus kembali kepada kitab-kitabNya.

Al Masih Al Maw’ud bersama Al Qyadah Al Islamiyah berda’wah mengembalikan kejayaan Dien Islam, memperjuangkan kemaslahatan ummat manusia umumnya dan bangsa Indonesia khususnya. Namun ketika Al Masih Al Maw’ud bersama Al Qiyadah Al Islamiyah ingin mengangkat bangsa Indonesia tecinta dimata dunia – sebagaimana bangsa Arab pada masa Muhammad Rasulullah – tidak disukai, bahkan oleh ummat Islam sendiri.

Dewan Pimpinan Majels Ulama Indonesia D.I. Yogyakarta pada tanggal 28 September 2007, menegluarklan fatwa No.B-149/MUI-DIY/FATWA/IX/2007 tentang Al Qiyadah Al Islamiyah

Pertama : Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah yang dikembangkan oleh Al Masih Al Maw’ud dan mengaku dirinya sebagai nabi dan Raasul dan diantara ajarannya adalah tidak percaya pada peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW serta tidak mengakui wajibnya sholat 5 waktu adalah:

a.    Berada diluar Islam

b.    Sesat dan menyesatkan

c.    Orang islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam)

Kedua: Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah supaya segera taubat dan kembali kepada ajaran Islam yang benar (ar-ruju’ ilal haq)

Ketiga: Mengusulkan kepada pemerintah untuk :

a.    Melarang penyebaran ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah

b.    Melarang dan menutup semua tempat kegiatannya

c.    Mencabut dan melarang beredar buku “Ruhul Qudus Yang Turun kepada Al Masih Al Maw’ud” dan buku-buku yang lain yang sejenis, sesuai dengan Penetapan Presiden No. 4 tahun 1963.

d.    Orang-orang yang terlibat dalam penyebaran paham tersebut agar ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku berdasarkan Penetapan Presiden No. 1 tahun 1965 tentang “Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama” sebab bahwa dalam buku tersebut pada butir c. banyak mengutip ayat-ayat Al Quran dan Hadist-Hadist Nabi yang dipahami menyimpang.

Adapun dasar MUI D.I. Yogyakarta mengeluarkan fatwa tersebut adalah (1) Pemberitaan Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat terbitan Jum’at Legi tanggal 21 September 2007 pada halaman pertama berjudul “Diduga Penganut Aliran Sesat, TIGA WARGA SEDAYU DIPERIKSA POLISI” (2) Surat Dewan Pimpinan Daerah FPI D.I. Yogyakarta No.33/SP-FPI/Ramadan/IX/1428H/2007 tanggal 21 September 2007, perihal pemberitahuan tentang penangkapan Pelaku Penyebar Ajaran sesat dan memohon kepada MUI DIY segera mengambil langkah-langkah antisipasi (3) Persepsi dewan Pimpinan MUI D.I. Yogyakarta atas buku “Ruhul Qudus Yang Turun kepada Al Masih Al Maw’ud” yang diterbitkan Al Qiyadah Al Islamiyah.

Bapak-bapak Dewan Pimpinan MUI DIY yang kami hormati, bahwa kami – al Qiyadah Al Islamiyah – tidak pernah bertemu Dewan Pimpinan MUI DIY dalam sebuah forum diskusi ilmiyah membahas Al Qiyadah Al Islamiyah. Bapak-Bapak belum mengenal Al Qiyadah Al Islamiyah, kecuali apa kata orang dan persepsi sepihak. Bapak-Bapak adalah orang yang berpengetahuan. Namun sebelum mengenal Al Qiyadah Al Islamiyah – dengan bijaknya – berfatwa Al Qiyadah Al Islamiyah sesat menyesatkan. Semestinya bapak-bapak mengundang kami untuk berdialog terlebih dahulu sebelum menjustifikasi kami sesat.

Dien Islam yang mulia mengajarkan kita tidak boleh asal percaya kepada perkataan orang, melainkan harus diklarifikasi agar tidak terjadi kezaliman.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَواْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَـكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS.Al Hujurat 49:6)

Lebih dari itu, yang berhak menentukan seseorang sesat hanya Allah. Namun, bapak-bapak telah mandahului Allah dalam menetapkan perkara:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُواْ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُواْ إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُواْ أَن يَكْفُرُواْ بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيداً

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. An Nissa 4:60)

 

Bapak-Bapak yang duduk di Dewan Pimpinan MUI D.I. Yogyakarta yang kami hormati, oleh karena fatwa sudah keluar, maka kami berkewajiban memberikan klarifikasi sehingga masyarakat tidak terjebak pada persepsi keliru. Adapun dasar klarifikasi kami adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul sebagaimana diwasiatkan oleh Rasulullah Muhammad agar kita tidak tersesat selamanya.

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ الله وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang jika kalian berpegang kepada keduanya maka tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul/ku (Al Hadist)

Memahami makna Islam sempurna

Bapak-bapak ulama yang terhormat, akar masalah segala tuduhan kepada Al iyadah Al Islamiyah - seputar nabi, rasul. Isro’ Mi’roj, sholat dan seterusnya – sehingga disebut sesat terletak pada pemahaman : “Islam telah sempurna”, sebagaimana termaktub dalam Al Maidah 5:3

ِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ

عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِين

Pada hari ini telah Kusempurnakan Dien kalian bagi kalian dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi Dien bagi kalian (QS. Al Maidah 5:3)

Sebagian besar ummat Islam termasuk cendekiawan meyakini bahwa Islam hari ini telah sempurna, sehingga tinggal melanjutkan segala yang diajarkan Muhammad Rasulullah, baik itu aqidah, syari’at, maupun muamalat Islam. Diluar itu, serta merta mereka disebut sesat.

Untuk memahami makna Islam telah sempurna harus dilihat dari dua aspek, yakni konseptual dan aktual. Sempurna secara konseptual berarti telah lengkapnya ilmu tentang Dien Islam yang diajarkan Allah melalui RasulNya. Islam sempurna secara aktual berarti aksioma-aksioma dalam nash kitab telah diaktualisasikan dalam kehidupan secara kaffah “menyeluruh”. Secara konseptual tidak dipermasalahkan. Hari ini wahyu-wahyu yang diterima Rasul Muhammad telah lengkap dan dikodifikasikan dalam mushaf yang terjaga keautentikannya. Justru yang sekarang dipermasalahkan adalah bagaimana dengan aktualisasinya.

Sebagian besar umat Islam, lupa bahwa sebelum kata alyauma akmaltu “pada hari ini Aku sempurnakan” terdapat satu kalimat yang tidak boleh dipisahkan untuk mendapatkan pemahamanan yang utuh tentang kesempurnaan Islam itu.

ٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِين

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa atas Dienmu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan Dien kalian bagi kalian dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi Dien bagi kalian. (QS. Al Maidah 5:3)

Ayat ini menunjukkan bahwa sebelum Allah menyatakan kesempurnaan Islam, Allah mendahuluinya dengan pernyataan : orang-orang kafir telah berputus asa. Artinya, kesempurnaan Islam – menurut ayat ini – memiliki prasarat kondisi, yakni apabila orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan Dien Islam sehingga umat Islam tidak perlu takut kepada orang kafir kecuali Allah.

Berdasar asbabun nuzul, ayat ini turun pada tahun 632 M. Secara kondisional Islam telah memiliki 3 intitusi yang tauhid dan independen :

1.    Terdapatnya ummat tauhid yang memiliki aqidah sama dan siap untuk mengabdi hanya kepada Allah.

2.    Berlaku syariat Islam secara kaffah dan independen

3.    Berdirinya satu sistem kekuasaan yang menjamin berlakunya syariat serta menjamin segala hak dan kewajiban ummat tersebut.

Kemudian, geopolitik, waktu itu adalah telah ditundukkannya kota Mekkah, sehingga tidak ada kekuatan yang mengganggu kedaulatan Islam di Madinah. Maka wajar jika dikatakan orang kafir telah berputus asa untuk mengalahkan Dien Islam.

Tidak seperti kesempurnaan kesempurnaan Islam secara konseptual yang dijamin oleh Allah (Al Hijr 15:9), kesempurnaan secara aktual tidak mendapat jaminan. Dengan pendekatan bahasa, kata al yauma adalah kata yaum yang dijadikan isim ma’rifah, artinya the day “hari itu”. Dimaksud “hari itu” adalah ketika Rasulullah membacakan ayat ini dihadapan 144.000 jundullah saat haji wada’. Oleh karena Allah hanya menggunakan kata al yauma “hari itu” bukan munzul yaumi sejak hari itu”, maka kesempurnaan Islam hanya meliputi kondisi seperti hari itu.

Kondisi hari ini, tahun 2007 M, berbeda dengan kondisi saat itu. Setelah Hulaghu Khan dari Mongol meruntuhkan Khilafah Islam tahun 1258 M, tidak ada kekuasaan yang menjamin berlakunya syariah Islam secara kaffah. Hak dan kewajiban ummat pun tidak ada yang melindungi sehingga ummat menjadi berpecah belah. Jika dahulu orang kafir perputus asa kepada Islam, sekarang yang terjadi adalah sebaliknya, orang Islam selalu takut kepada orang kafir.

Eksistensi Rasul setelah Muhammad SAW

Meskipun 700 tahun yang lalu telah dikalahkan, Islam tidak akan terpuruk selamanya. Dia akan kembali bangkit menguasai dunia untuk mengolah dan memakmurkan bumi sehingga kesejahteeraan meliputi seluruh alam.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka Dien yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merobah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik. (QS.An Nur 24:55)

Janji Allah tidak hanya untuk orang-orang beriman pada masa Rasulullah Muhammad, tetapi juga untuk orang-orang beriman pada masa ini. Janji Allah kepada Rasulullah Muhammad dan sahabat telah dipenuhi 14 abad silam. Adapun janji Allah kepada orang-orang beriman hari ini belum dipenuhi, namun pasti akan dipenuhi.

Pada ayat lain, Allah berfirman bahwa tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada mereka ( Ar Radu 13:11). Maka, kebangkitan Islam tidak mungkin terjadi secara tiba-tiba. Ia harus diperjuangkan. Al Qiyadah Al Islamiyah mengimani janji kebangkitan Islam itu, dan sedang berupaya memperjuangkannya.

Setiap kebangkitan Islam diawali oleh the founding father seperti Musa untuk kebangkitan Islam pertama dari generasi Israel, Isa untuk kebangkitan Islam kedua dari generasi Israel, Muhammad untuk kebangkitan Islam pertama dari generasi Ismail, demikian pula untuk kebangkitan Islam selanjutnya – yang hari ini sedang berlangsung.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dia-lah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan Dien yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala Dien meskipun orang-orang musyrik benci. (QS. Ash Shoff 61:9)

Surat Ash Shoff 61:9 diatas secara tegas menyatakan bahwa untuk memenangkan dien-Nya, Allah mengutus seorang Rasul. Begitulah sunatullah di sepanjang sejarah kehidupan manusia. Apabila kita mengimani Islam akan tegak kembali, maka aksioma Ash Shoff 61:9 harus kembali berlaku. Keberadaan Al Ahzab 33:40 (Muhammad sebagai khataman nabiyin “penutup para nabi”) atau hadist-hadist sejenisnya tidak bisa mengubah makna Ash Shoff 61:9, tetapi juga tidak bertentangan. Dalam arti, ada benang merah yang menghubungkan pernyataan Al Ahzab 33:40 dengan Al Shoff 61:9

Sebelum Muhammad Rasulullah dibangkitkan, Allah “mencintai” bangsa Israel. Bahkan dua kali mereka diberi kesempatan untuk mempimpin kebangkitan Dien Islam. Masa itu, setiap kali Allah membangkitkan nabi atau rasul pasti dari bangsa Israel. Setelah nabi Isa, Allah tidak lagi membangkitkan nabi atau rasul dari bangsa Israel. Dalam hal ini, Rasulullah Isa disebut sebagai penutup nabi bagi bangsa Israel. Hal serupa juga terjadi pada bangsa Arab. Muhammad Rasulullah adalah seorang khataman nabiyin bagi bangsa Arab, sehingga tidak ada nabi atau rasul lagi dari bangsa Arab. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan dibangkitkannya nabi atau Rasul dari bangsa selain Arab.

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang umiyin (Arab) seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah.Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata., dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Jumu’ah 62:2-3)

Bapak-bapak ulama yang kami hormati, kurang lebih begitulah maksud Al Ahzab 33:40 dan hadits-hadits yang sejenisnya, kecuali kalau bapak-bapak – selaku pewaris nabi – hendak menganulir An Nur 24:66, Ash Shoff 61:9, Al Jumuah 62:2-3 serta ayat-ayat lain yang sejenis.

Sholat lima Waktu dan Isra’ Mi’raj

Untuk menetapkan seseorang disebut sesat ataupun tidak bukan hak manusia, Allah yang menentukan. Allah akan lebih paham siapa-siapa yang sesat dari jalanNya dan Dia lebih paham tentang orang-orang yang berpetunjuk. Berbicara Allah tentu bersama RasulNya. Standar untuk menetapkan kesesatan, tiada lain harus menggunakan Kitabullah dan Sunnah Rasul

تَتَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ الله وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang jika kalian berpegang kepada keduanya maka tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul/ku (Al Hadist)

Istillah sunnah maknanya adalah jalan hidup, tradisi atau kebiasaan. Sehingga, kata “sunnah” yang dipadukan dengan kata “rasul” maknanya adalah semua yang menjadi kebiasaan (akhlak) Rasulullah, baik berupa : pikir, kata maupun perbuatan. Kerangka sunnah adalah dalam konteks rasulullah melaksanakan tugasnya, yakni menegakkan Dien Islam diatas segala dien yang ada, sehingga syariah Allah berlaku seluas-luasnya bagi umat manusia. Makna sunnah Rasul tidak boleh keluar dari frame seperti ini, sebab memang untuk itulah para Rasul diutus oleh Allah, termasuk Muhammad SAW

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dia-lah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan Dien yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala Dien meskipun orang-orang musyrik benci. (QS.Ash Shoff 61:9)

Segala seusatu yang menjadi sunnah rasul merupakan kebenaran haqiqi dan tidak terbantahkan, karena seluruh ucapan rasulullah tidak berasal dari hawa nafsu melainkan wahyu yang diwahyukan. Lebih dari itu, sunnah rasul juga harus menjadi teladan bagi siapapun yang mengaku sebagai pengikut Rasul. Dengan tegas Rasulullah Muhammad mengatakan : “Barangsiapa tidak menyukai sunnahku, maka dia bukan ummatku”

Sunnah Rasulullah menjelaskan bahwa kehidupan Rasul dibagi menjadi dua tahap, yakni makiyyah dan madaniyah. Makiyah artinya periode sebelum hijrah, ketika mu’min dalam tekanan daulat Mekkah. Madaniyah artinya periode setelah hijrah, ketika mukmin lepas dari daulat Mekkah. Pembagian periode ini menjadi sangat penting untuk keberhasilan menegakkan Dien Islam, itu mengapa ayat-ayat Al Quran terbagi menjadi ayat makiyah dan ayat madaniyah. Ayat makiyah-madaniyah bukan soal tempat, tetapi kondisi. Sebagai contoh, Al Maidah 5:3 tergolong ayat madaniyah, tetapi turunnya di Mekkah.

Semasa periode makiyah, Perjuangan Rasul terfokus pada pembenahan aqidah ummat. Rasul tidak memberlakukan syariat praktis seperti sholat lima waktu, karena berbicara Islam harus kaffah. Apabila satu syariat telah diterapkan, maka yang lainnya harus diterapkan tanpa pilih-pilih. Apabila pilih-pilh, sama saja iman sebagian kafir sebagian, itulah sebenar-benarnya kafir

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُواْ بَيْنَ اللّهِ وَرُسُلِهِ وَيقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُواْ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيل أُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقّاً وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَاباً مُّهِيناً

Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan:”Kami beriman kepada yang sebahagian dan kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (QS. An Nissa 4:150-151)

 

Bapak-bapak yang mulia, demikianlah untuk menjalankan Islam harus melihat kondisi. Tidak bisa karena ada ayatnya serta merta langsung diterapkan. Jika metode melaksanakan Al Quran seperti itu, mengapa bapak-bapak tidak menerapkan syariat qisas juga qital? Jika bapak-bapak menerapkan syariat saat ini juga, berarti bapak-bapak membenarkan dan mendukung perbuatan Amrozi dan kawan-kawan karena ingin menerapkan surat At Taubah 9:120

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُم مِّنَ الأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُواْ عَن رَّسُولِ اللّهِ وَلاَ يَرْغَبُواْ بِأَنفُسِهِمْ عَن نَّفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لاَ يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلاَ نَصَبٌ وَلاَ مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَطَؤُونَ مَوْطِئاً يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلاَ يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلاً إِلاَّ كُتِبَ لَهُم بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, (QS At Taubah. 9:120)

Tidak demikian, Al Qiyadah Al islamiyah tidak membenarkan tindakan teror. Sekali lagi, untuk menjalankan Islam kaffah harus berdasarkan kondisi, step by step menurut contoh Rasulullah, khususnya Muhammad SAW. Kemudian apabila bapak-bapak bertanya, mengapa untuk menjalankan ritual sholat lima waktu musti menunggu di madaniyah ? Apa susahnya sholat lima waktu diperiode makiyah? Kami tidak bisa menjawab. Tanyakan saja kepada Allah dan Rasulullah Muhammad ! Mengapa Rasulullah Muhammad tidak shalat lima waktu semasa kondisi makiyah? Kami hanya mencontoh sunnah yang ditinggalkan beliau

Pada intinya, Al Qiyadah Al Islamiyah tidak mengkafiri perintah wajib sholat lima waktu. Kami hanya ingin menjalankan Al Quran seperti sunnah yang ditinggalkan para Rasul, khususnya Muhammad.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا

Berkatalah orang-orang yang kafir:”Mengapa al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”, demikianlah supaya Kami perkuat “fuada/akal” kamu dengannya dan Kami membacakanya sekelompok demi sekelompok (QS. Al Furqon 25:32)

Berkaitan Isra’-Mi’raj, Al Qiyadah Al Islamiyah juga tidak mengkafirinya. Tetapi kami menolak pemahaman dengan versi Israiliyat maupun buatan Majusi Persia. Bagaimana mungkin terjadi tawar-menawar antara Allah dan RasulNya berkaitan dengan kewajiban sampai sembilan kami berkaitan shalat, dari 50 waktu menjadi 5 waktu dalam sehari semalam

Pertama tidak mungkin Allah mewajibkan ummat sholat 50 waktu dalam sehari semalam, yang berarti dia harus sholat tiap ½ jam. Kapan waktu buat tidur, bekerja, menuntut ilmu, dan lain sebagainya ? Tidak demikian, Allah tidak akan membenani manusia diluar kesanggupannya

لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْساً إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Al Baqarah 2:286)

Kedua, seandainya Allah benar mewajibkan sholat 50 waktu, maka tidak mungkin Rasulullah Muhammad akan menawar. Beliau tidak punya hak. Akhlaq beliau selalu tunduk atuh kepada perintah-perintah Allah

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِينا

Dan tidakkah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetappkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS. Al Ahzab 33:36)

 

Khatimah

Bapak-bapak ulama yang bijaksana, yang telah mengeluarkan fatwa berdasar kata orang, kami Al Qiyadah Al Islamiyah meyakini janji Allah dan RasulNya berkaitan kebangkitan Islam kembali, dengan segala konsekwensinya. Manhaj yang diterapkan adalah sunnah yang ditinggalkan Rasulullah Muhammad.

Seandainya bapak-bapak tidak mempercayai janji Allah tersbut dan menolak manhaj yang kami terapkan, maka biarlah kami berjalan, dan jangan membuat jalan Allah bengkok. Kami pun tidak meminta Bapak-bapak untuk mencabut fatwa tersebut. Rasulullah bersabda : apabila seorang mukmin menuduh saudaranya kafir (sesat dan sejenisnya) maka kekafiran/kesesatan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya. Itu menjadi urusan Anda dengan Allah. Lanaa a’maluna wa lakum a’malukum, lakum dienukum waliyadien. Bagi kami amal kami dan bagi Anda amal Anda. Bagi Anda dien Anda dan bagi kami Dien kami.

Segala kendala yang kami hadapi, itu semua adalah konsekwensi. Sebagaimana Isa dan Muhammad Rasulullah berhadapan dengan ahlul kitab dalam menegakkan Dien. Kami tidak akan berhenti. Seandainya matahari ditangan kanan dan bulan ditangan kiri, kami tidak akan melepas risalah ini, sampai kami dimenangkan Allah atau binasa karenanya.

Kepada pihak yang berwenang, Al Qiyadah Al Islamiyah bukan sebuah organisasi masyarakat, juga bukan organisasi politik. Kami hanya sebuah pergerakan. Keberadaan kami tidak untuk mengganggu ketertiban masyarakat, apalagi menebar teror. Jangankan membuat bom untuk meneror warga, bahkan kami melarang – siapapun yang bersama kami – membawa senjata tajam. Kami tidak membenarkan segala tindak kekerasan, sebagaimana yang dituduhkan kepada kami. Kami selalu berpesan untuk tidak melanggar hokum positip bahkan yang terkecil.

Walaupun kami berbeda dengan kebanyakan orang, kami percaya bahwa negeri ini menjamin kekebasan bagi penduduknya untuk memiliki satu keyakinan tertentu, baik agama maupun aliran kepercayaan. Seandainya kami dinyatakan keluar dari agama Islam oleh pihak tertentu, maka kami masih mempercayai : ”Tuhan”, yang tentunya diberi kebebasan oleh Negara. Lebih dari itu, kami juga yakin bahwa Negeri ini menjamin kebebasan berserikat dan berkumpul bagi warganya.

Keberadaan kami hanyalah memenuhi kehendak Allah semata, untuk menjadi rahmat bagi seluruh manusia bangsa Indonesia khususnya, sebagamana dahulu dilakukan oleh Rasulullah Musa dan Isa kepada bangsa Israel dan Rasulullah Muhammad kepada bangsa Arab.

Demikian tanggapan ini disusun sebagai jawaban atas fatwa MUI D.I. Yogyakarta tentang Al Qiyadah Al Islamiyah. Karena keterbatasan bahasa, apa yang kami tulis belumlah mewakili seluruhnya. Untuk itu, kami siap memenuhi undangan dialog dan pihak manapun baik MUI, aparat berwenang ataupun siapapun guna memberikan klarifikasi lebih utuh tanpa ditutup-tutupi.

Terakhir kepada Dewan Pimpinan MUI D.I. Yogyakarta, kami bertanya : “Apakah Al Qiyadah Al Islamiyah salah jika berniat memenangkan dien Islam?”

Yogyakarta, 06 Oktober 2007

Juru bicara Al Qiyadah Al Islamiyah

Ahmad Hadi Subroto Puspito

Tembusan :

1. Ngarsa Dalem, Gub. DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X

2. Kapolda D.I. Yogyakarta Brigjen Pol Drs. R. Anggoro Raharjo Hari Anwar, SH

3. Kajati D.I,. Yogyakarta

4. Kapoltabes Kodya Yopgyakarta

5. Polres Sleman

6. Kapolres Kulon Progo

7. Kapolres Bantul

8. Kapolres Gunung Kidul

9. Kajari Yogyakarta

10. Kajari Sleman

11. Kajari Yogyakarta

12. Kajari Bantul;

13. Kajari Gunung Kidul

14. Seluruh media massa naik cetak maupun elektronik di DIY.