Kutipan dari sejumlah berita tentang Al Qiyadah Al Islamiyah

Medan (ANTARA News) - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Prof Dr Abdullah Syah, MA meminta umat Islam mewaspadai aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah karena aliran itu dinilai sesat dan melanggar ketentuan dan ajaran Islam.

“Masyarakat perlu lebih hati-hati terkait paham atau aliran itu sehingga tidak sampai terpengaruh,” katanya kepada ANTARA News di Medan, Sabtu.

Ketua MUI KH Ma`ruf Amin di Jakarta, Kamis (4/10) mengeluarkan fatwa bahwa aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah ADALAH sesat dan meminta pemerintah melarang penyebaran paham baru tersebut serta menindaktegas pemimpinnya.

Pendiri aliran itu, Ahmad Moshaddeq, yang sejak 23 Juli 2006 setelah bertapa selama 40 hari 40 malam mengaku dirinya mendapat wahyu dari Allah mengaku sebagai Rasul menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW.

——–

Al Qiyadah Tolak Fatwa Sesat dari MUI

Kamis, 18 Oktober 2007 | 18:38 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Pemimpin Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Ahmad Moshaddeq menolak fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan ajaran Al-Qiyadah sesat.

“Saya tidak membawa agama baru, saya hanya menggenapkan nubuat Allah dalam Al-Qur’an, seperti halnya Muhammad menggenapkan ajaran Isa dan Musa,” kata Moshaddeq saat bertandang ke Kantor Majalah Tempo, Kamis siang.

Pada 4 Oktober lalu, MUI mengeluarkan fatwa sesat terhadap Al-Qiyadah karena tidak mewajibkan shalat lima waktu kecuali shalat malam. “Aliran ini dianggap sesat dan menyesatkan,” kata Ketua MUI KH Ma’ruf Amin yang didampingi Ketua Komisi Fatwa KH Anwar Ibrahim, Ketua Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI H. Utang Ranuwijaya.

Menurut Moshaddeq, syahadat kepada Al Masih Al Maw’ud (Ahmad Moshaddeq) tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti halnya, ajaran Musa yang dimurnikan kembali oleh Isa. Moshaddeq mengaku dirinya mendapat perintah dari Allah untuk menyatakan kerasulannya dan memurnikan ajaran Musa, Isa dan Muhammad atau Din Al-Islam melalui mimpi setelah bertapa selama 40 hari 40 malam di salah satu villanya di Gunung Bunder, Bogor pada 23 Juli 2006.

Moshaddeq adalah pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah DKI Jakarta yang dulunya membidangi Olahraga. Ia mengaku aktif di Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI).

Sebelum membentuk Al-Qiyadah, Moshaddeq mengaku turut membangun KW-9 Negara Islam Indonesia (NII). “Panji Gumilang itu nggak ada apa-apanya,” ujarnya. Ia menganggap Kartosuwiryo adalah nabi dan mengagumi disiplin para pengikut KW-9. Namun, 10 tahun di NII tidak membuat dirinya puas sehingga ia keluar.

======

Al Qiyadah Menggelar Pengajian di Hotel

Liputan6.com, Jakarta: Ratusan pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah menggelar pengajian bersama di salah satu hotel di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (24/10) malam. Ini menunjukkan bahwa Al Qiyadah Al Islamiyah yang dinyatakan sebagai aliran menyimpang dan menyesatkan oleh Majelis Ulama Indonesia masih tetap beraktivitas seperti biasa.

Pengajian tadi malam dihadiri pimpinan Al Qiyadah Al Islamiyah, Ahmad Mushaddeq, yang menobatkan diri sebagai rasul utusan Allah. Dalam pengajian itu, para jemaah menyatakan kesetiaannya kepada rasul mereka yang bergelar Al Masih Al Maw’ud.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Mushaddeq menyatakan tidak gentar atas dikeluarkannya fatwa MUI tersebut. Dia menyatakan, akan tetap menyebarkan ajaran yang diyakininya sebagai suatu kebenaran hakiki. Sang rasul juga menyatakan siap menanggung segala resiko, termasuk kemungkinan menghadapi tuntutan hukum atas penodaan agama

Al Qiyadah Al Islamiyah dianggap menyimpang karena menganggap Nabi Muhammad SAW bukan sebagai nabi terakhir. Aliran ini juga tak mewajibkan umatnya menjalankan salat lima waktu, berpuasa, maupun ibadah haji lantaran dianggap belum turun perintah Allah untuk menjalankan itu. Mereka juga beranggapan saat ini baru memasuki periode Mekah dengan ajaran pokok menegakan aqidah Islamiyah.

 

Waspada Aliran Sesat Al-Qiyadah

Medan (ANTARA News) - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Prof Dr Abdullah Syah, MA meminta umat Islam mewaspadai aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah karena aliran itu dinilai sesat dan melanggar ketentuan dan ajaran Islam.

"Masyarakat perlu lebih hati-hati terkait paham atau aliran itu sehingga tidak sampai terpengaruh," katanya kepada ANTARA News di Medan, Sabtu.

Ketua MUI KH Ma`ruf Amin di Jakarta, Kamis (4/10) mengeluarkan fatwa bahwa aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah ADALAH sesat dan meminta pemerintah melarang penyebaran paham baru tersebut serta menindaktegas pemimpinnya.

Pendiri aliran itu, Ahmad Moshaddeq, yang sejak 23 Juli 2006 setelah bertapa selama 40 hari 40 malam mengaku dirinya mendapat wahyu dari Allah mengaku sebagai Rasul menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, kata Ma`ruf, aliran ini juga tidak mewajibkan untuk melaksanakan salat, melaksanakan ibadah puasa, menunaikan ibadah haji.

Abdullah Syah menambahkan, masyarakat agar dapat menjauhi ajaran yang tidak jelas itu.

Sehubungan itu, bila masyarakat mengetahui adanya ajaran tersebut beredar di wilayah Sumut, segera memberitahukannya pada MUI untuk segera ditindaklanjuti dan dilaporkan pada pihak berwajib.

"Ajaran baru tersebut jangan sampai membuat keresahan di tengah-tengah masyarakat, apalagi di bulan suci Ramadhan ini," katanya menegaskan.

Ketika ditanya apakah aliran Al-Qiyadah sudah ada yang masuk ke Sumut, Abdullah Syah mengatakan pihaknya sampai saat ini belum ada menerima laporan mengenai ajaran itu.

Namun demikian ajaran sesat tersebut setiap saat terus diwaspadai agar jangan sampai masuk dan berkembang di Sumut.

"Ini merupakan tugas dan tanggungjawab kita untuk mengawasi ajaran sesat yang tidak jelas itu," katanya.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

 

6/11/2007 12:05 WIB

MUI Tengarai Intel Asing dan NII di Balik Fenomena Aliran Sesat

Gagah Wijoseno - detikcom *Jakarta* -

Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi pernah mengatakan ramainya aliran sesat saat ini mirip prolog tragedi G30S/PKI. Indikasi ini juga tercium Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ditengarai ada intelijen asing dan kelompok radikal yang ingin memecah belah bangsa Indonesia. "Kita ada indikasi ke sana. Mencurigai ada intelijen asing dan eks Negara Islam Indonesia (NII)," kata Sekretaris Umum MUI Ichwan Sam saat jumpa pers setelah penutupan Rakernas MUI 2007, di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (6/11/2007). Namun, Ichwan menolak untuk membahasnya lebih lanjut. Dia hanya mengatakan, MUI sedang melakukan pembahasan atas masalah ini secara internal. "Kita belum akan buka sekarang, nanti jadi gaduh," ujar dia. Tujuan gonjang-ganjing, lanjutnya, bukan umat Islam. Tujuan mereka adalah untuk memecah belah bangsa Indonesia. MUI akan ber/tabayyun/ (klarifikasi) tentang masalah ini. Sedangkan untuk mengambil tindakan, MUI menyerahkan pada yang lebih berwenang. "Kita punya aparat untuk menindaklanjuti masalah ini" tegas Ichwan.* (nwk/sss)

 

 

Ada Benang Merah Antara NII KW IX dan Alquran Suci

Erna Mardiana - detikcom

*Bandung* - Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS) FUUI menduga gerakan Alquran Suci atau Al Haq yang baru-baru ini muncul mempunyai benang merah dengan gerakan NII KW IX yang muncul pada tahun 90-an. Gerakan ini mempunyai substansi yang sama yaitu menyepelekan ajaran Islam.

Koordinator TIAS FUUI Hedi Muhammad kepada wartawan di kediamannya di Jalan Negla Bandung, Senin (5/11/2007), mengatakan meski pihaknya belum berani menyimpulkan jika gerakan Alquran Suci atau Al Haq itu kelanjutan dari gerakan NII KW IX, namun terdapat benang merah dari dua kelompok itu.

"Mereka menyelekan ajaran agama. Yang satu (Alquran Suci atau Al Haq) hanya shalat satu kali sehari, sementara NII KW IX tidak mewajibkan salat. Jika di Al Quran Suci atau Al Haq dikenal istilah dana tobat, di NII KW IX istilahnya dana hijrah," tuturnya.

Keduanya menganggap bahwa zaman sekarang belum Futuh Makkah, jadi belum diwajibkan salat, zakat, puasa, ataupun ibadah haji. Kedua gerakan ini pun, lanjut Hedi, sama-sama menganggap perbuatan dosa bisa dikonversi dengan uang.

"Kami masih akan terus melakukan penulusuran mengenai kelompok Alquran Suci atau Al Haq ini. Kami tidak akan fokus terhadap nama kelompoknya, namun ajarannya yang menurut saya telah melakukan penodaan terhadap agama," ujar Hedi. * (ern/nrl)*

 

 

Kamis, 25 Oktober 2007

PBNU Desak Hentikan Al Qidayah Al Islamiyah

JAKARTA---Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak pemerintah segera menindak tegas aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Pemerintah diminta menangkap dan mengadili pendirinya sebelum timbul keresahan yang lebih besar di masyarakat.

"Pemerintah tidak boleh tinggal diam. Pemerintah harus segera menghentikan gerakan ini, usut dan tangkap pelakunya, termasuk siapa yang berada di belakang gerakan ini semua," kata Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di Jakarta, Rabu (24/10).

Dikatakannya, pemerintah tidak perlu ragu untuk menghentikan aliran yang bisa merusak akidah masyarakat tersebut. Selanjutnya, perlu dilakukan penyadaran terhadap pengikut aliran yang telah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut. Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah didirikan oleh Ahmad Moshaddeq alias H Salam sejak 23 Juli 2006. Ia mengaku mendapat wahyu dari Allah dan mengaku sebagai Rasul menggantikan posisi Muhammad SAW setelah bertapa selama 40 hari 40 malam.

Kitab Suci yang digunakan adalah Alquran, tetapi meninggalkan hadits dan menafsirkannya sendiri. Aliran itu juga mengajarkan Syahadat baru, yakni "Asyhadu alla ilaha illa Allah wa asyhadu anna Masih al-Mau`ud Rasul Allah", di mana umat yang tidak beriman kepada "al-Masih al-Mau`ud" berarti kafir dan bukan muslim.

Selain itu, aliran baru ini tak mewajibkan salat, puasa dan haji, karena pada abad ini masih dianggap tahap perkembangan Islam awal sebelum akhirnya terbentuk Khilafah Islamiyah. Aliran tersebut juga mengenal penebusan dosa dengan menyerahkan sejumlah uang kepada al Masih al Mau`ud.

"Siapa pun orangnya, kalau mengaku sebagai nabi adalah sesat, merusak dirinya sendiri dan orang lain," kata Hasyim yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur, tersebut.

Sebelumnya, MUI mengeluarkan fatwa bahwa Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah adalah sesat. Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma'ruf Amin, menegaskan, aliran ini berada di luar Islam, dan orang yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari ajaran Islam).

MUI juga mendesak pemerintah melarang penyebaran paham baru tersebut serta menindak tegas pemimpinnya.

(ant )

 

 

Aliran Alquran Suci Diduga Gerakan Al Haq

Erna Mardiana - detikcom

*Bandung* - Nama aliran Alquran Suci yang disebut-sebut merupakan kelompok pengajian yang diikuti beberapa gadis yang dikabarkan hilang, ternyata masih menyimpan tanda tanya.

Apakah benar nama kelompok ini ada? Sebab, baik MUI maupun pihak kepolisian mengaku belum menemukan nama kelompok aliran ini.

Sementara itu, Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS) FUUI mensinyalir kelompok Alquran Suci adalah gerakan kelompok Al Haq. Pada 1 November 2007 lalu di Pekanbaru, ada enam mantan mahasiswa yang kemungkinan juga hilang seperti Yulvie dan lainnya, diciduk polisi di sebuah tempat di Kecamatan Maja.

"Mereka mengaku dari gerakan Al Haq," ujar Koordinator TIAS FUUI Hedi Muhammad di kediamannya, Jalan Negla Bandung, Senin (5/11/2007).

Gerakan yang menamakan dirinya Al Haq ini, kata Hedi, tidak asing bagi TIAS. Sebab, dari kesaksian salah satu korban yang diduga ikut Al Quran Suci, berinisial S, juga menyebutkan bahwa pengajian yang sempat diikuti selama empat bulan itu bernama gerakan Al Haq.

"Tapi anehnya saat kami konfrimasikan dengan S tentang isi baiat Al Quran Suci yang kami temukan di korban hilang asal Majalengka yaitu Ria, si S membenarkan isi baiat itu. Oleh karenanya kamimenyimpulkan Al Quran Suci sama dengan gerakan Al Haq," tegasnya.

Sebenarnya saat *detikcom* wawancarai Ira, teman Dwi Ariyani (20), korban hilang asal Yogyakarta, beberapa waktu lalu, nama kelompok Al Haq ini pun sempat disebut. Menurut Ira, Dwi mengikuti pengajian kelompok bernama Al Haq. "Oleh karenanya untuk ke depan kami akan fokus terhadap ajaran kelompok ini, apa pun namanya. Bisa saja Alquran Suci Al Haq atau apa pun namanya. Yang jelas kelompok ini telah melakukan penodaan terhadap agama," tandasnya. * (ern/mar)*

 

 

Rasul Al Qiyadah Dibon Mabes Polri

Indra Subagja - detikcom

*Jakarta* - Pimpinan Al Qiyadah Ahmad Mushaddeq dibon penyidik Badan Intelijen Mabes Polri. Tersangka penodaan agama ini hendak di-/interview/ terkait penyebaran ajarannya yang mencapai ke 9 provinsi.

Peminjaman Rasul Al Qiyadah ini pun dilakukan hanya beberapa jam saja. Selain itu, hal ini dilakukan dalam rangka koordinasi penyidikan. "Sekarang dia sudah kembali ke tahanan (polda metro jaya)," kata Kepala Satuan Keamanan Negara Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKBP Tornagogo Sihombing, saat dihubungi wartawan di Jakarta, Selasa (6/11/2007) sore.

Ada beberapa anggota satuan intel yang menjemput Mushaddeq dari ruang tahanan Polda Metro Jaya, lalu mengembalikannya lagi. Tornagogo menjelaskan, saat ini pihaknya belum bisa mengizinkan media massa untuk mewawancarai Mushaddeq. "Jangan dulu lah, jangan sampai ada masalah. Nanti bisa menyulut polemik, ini masih hangat," lanjut Tornagogo. Mushaddeq ditetapkan sebagai tersangka sejak Senin malam 29 0ktober, pekan lalu. Penetapan itu dilakukan setelah ayah tiga anak itu menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya.

Hingga kini 30 saksi, baik pengikut maupun warga di sekitar pusat kegiatan Al Qiyadah telah dimintai keterangan. Tambah lagi penyidik akan memanggil saksi ahli hukum pidana dan dari Departemen Agama. * (ndr/aba)*

 

 

01/11/07 16:15

Tiga Pentolan Al Qiyadah Serahkan Diri

Bekasi (ANTARA News) - Beberapa hari setelah pimpinan ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Ahmad Mushaddeq menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya, kini tiga orang pengikut aliran sesat tersebut di Bekasi menyerahkan diri ke polisi.

Kapolres Metro Bekasi, AKBP Mas Guntur Laope di Bekasi, Kamis, mengatakan, ketiga pengikut aliran sesat yang menyerahkan diri tersebut yakni, Ricky Septo Nugroho, Rahmad Hudiana dan Rahman.

Selama ini, ketiga pengikut aliran sesat tersebut beroperasi di Jalan Raya Narogong, Kampung Rawa Roko, Gang Rawa Rt10/01, Bojong Rawalumbu, Kecamatan Rawalumbu, Bekasi.

Mereka merasa khawatir kehidupannya tidak tenang setelah mendengar pimpinan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah ditangkap polisi, sehingga menyerahkan diri ke Polres Metro Bekasi.

Kapolres Metro Bekasi menambahkan, ketiganya telah mengikuti aliran sesat itu selama dua tahun dan menyebarkan ajaran tersebut kepada puluhan warga di Kota Bekasi.

Untuk mendapat simpati dari masyarakat, mereka menyebarkan ajaran tersebut dengan cara menggelar pengajian bersifat tertutup dengan jumlah peserta 20 orang.

"Saya memprediksi pengikut aliran sesat itu di Bekasi bisa lebih banyak. Dan saya mengimbau segera menyerahkan diri ke polisi," ujar Mas Guntur Laope.

Ketiga pengikut aliran sesat itu juga menyerahkan sebuah Al-Kitab, sebuah Al-Qur`an, sebuah buku panduan berjudul "Ruhul Quddus yang turun kepada Al- Masih Al-Mawud", dan lima buah buku panduan ajaran tersebut.

Terkait dengan penyerahan diri pengikut ajaran sesat tersebut, Kapolres Metro Bekasi juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak terpengaruh dan mewaspadai ajaran tersebut.

Sementara itu, Ricky Septo Nugroho ketika ditemui di Polres Metro Bekasi mengatakan, dirinya sebagai pembicara dalam pengajian di rumah kontrakan di Jalan Raya Narogong, Kampung Rawa Roko RT10/01, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawalumbu, Bekasi.

Dalam menjalankan misinya, ia memberi pemahaman kepada para pengikutnya tentang ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah dan Ahmad Mushaddeq sebagai rasul setelah Nabi Muhammad SAW.

Setelah para pengikutnya percaya dan yakin akan ajaran tersebut, kemudian membaca kalimah syahadat tetapi bunyinya tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Ia mengaku resah setelah pimpinan ajaran tersebut ditangkap polisi dan para pengikut di daerah lain juga dikejar-kejar, sehingga bersama dua rekannya menyerahkan diri ke Polres Metro Bekasi.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

 

Pemimpin Al-Qiyadah Menyerah

Rabu, 31/10/2007

 

JAKARTA(SINDO) – Abussalam alias Ahmad Moshaddeq, pemimpin Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Senin (29/10) malam, menyerahkan diri ke kepolisian.

Selain Ahmad Mushaddeq, enam orang pengikut aliran sesat itu juga ikut menyerahkan diri ke Satuan Unit Keamanan Negara (Kamneg) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, pukul 19.00 WIB, tadi malam. Polisi juga menyita lima buah buku hasil karangan Ahmad Mushaddeq yang disebarluaskan khusus bagi jamaahnya. ”Alasan Ahmad Mushaddeq dan pengikutnya menyerahkan karena mereka tahu selama ini dicari polisi dan membaca di media massa mengenai tindakan kekerasan yang dilakukan masyarakat terhadap jamaahnya,” ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman,kemarin.

Hingga kemarin, kata Kapolda, pihaknya sudah berhasil mengamankan 40 orang pengikut ajaran ini. Delapan orang di Jakarta Utara, delapan lagi di Jakarta Selatan,dan 24 orang di Jakarta Barat. Kapolda mengakui,orang nomor satu di aliran agama yang dinyatakan sesat oleh pemerintah dan ulama melalui Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta ini bukan ditangkap, tapi menyerahkan diri. Jenderal bintang dua ini menyatakan, dari hasil pemeriksaan, Ahmad Mushaddeq mengaku, pembentukan ajaran Al-Qiyadah berawal saat dirinya mempelajari Alquran secara autodidak.

Dengan begitu, pensiunan PNS Dinas Olahraga Pemprov DKI Jakarta ini mempunyai pemahaman dan keyakinan tersendiri tentang agama.”Orang pertama yang diajak untuk mengikuti ajarannya adalah istrinya, Hj Dra Waginem, mantan Kepala Sekolah Al Azhar, Kemang, Jakarta Selatan,” kata Kapolda. Menurut Kapolda, sampai saat ini pengikut Ahmad Mushaddeq yang tercatat sebanyak 41.000 tersebar di sembilan daerah di Indonesia.

Di antaranya di Jakarta 8.972 orang dan belum diketahui siapa pemimpinnya; di Tegal 511 orang di bawah pimpinan Ejam Muhtadi; di Padang 1.306 orang, dipimpin Malik Akbar; di Surabaya 2.610 orang pimpinan Muzakir; di Lampung 1.407 orang, pimpinan Muhyidin Al-Muntajar; dan Makassar 4.101 orang, dipimpin Mushodik. Kapolda mengimbau,dengan menyerahnya pemimpin tertinggi Al-Qiyadah ini, masyarakat diminta tidak main hakim sendiri, apalagi melakukan tindakan anarkistis terhadap pengikutnya. Secara hukum, biarlah polisi yang akan menindaknya.

Kejaksaan Agung (Kejagung) akan menggelar rapat khusus untuk menentukan sikap terkait ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah pada pekan ini. Keputusan rapat ini nantinya akan berlaku secara nasional. Departemen Agama (Depag) juga akan segera melakukan finalisasi keputusan terakhir terhadap aliran sesat Al- Qiyadah Al-Islamiyah. Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin memberikan seruan agar aliran Islam sesat yang banyak bermunculan segera diberantas.

Pasalnya, aliran yang dianggap telah menyalahi ajaran Islam tersebut kini banyak meresahkan umat. Dari Bojonegoro, Gus Dur meminta tidak melabeli aliranaliran Islam yang nyleneh dengan istilah sesat.Apalagi kepercayaan itu dilindungi oleh UUD 1945. Gus Dur meminta masalah itu diserahkan kepada Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem). (moh yamin/sazili mustofa/ sujoni/adam prawira/ nanang fahrudin/tritus julan/susi susanti/CR-04)

 

 

Polri Buru Pimpinan Al-Qiyadah

Selasa, 30/10/2007

JAKARTA (SINDO) – Kapolri Jenderal Pol Sutanto menginstruksikan seluruh jajarannya untuk memburu pimpinan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Ahmad Moshaddeq. Menurut Kapolri, aliran yang dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu sudah meresahkan masyarakat.

“Sudah diperiksa di tiap-tiap polda (keberadaan Ahmad Moshaddeq). Di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan tempat-tempat lain, termasuk di Jakarta,” ungkap Kapolri seusai bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden, Jakarta,kemarin. Di samping membidik pimpinannya, jajaran kepolisian juga mengejar tokoh-tokoh di balik keberadaan aliran yang tumbuh di Padang, Sumatera Barat, tersebut. Kapolri saat ini tengah mencari sanksi yang akan dikenakan terhadap pimpinan dan tokohtokoh Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Kapolri membantah anggapan polisi lamban bertindak.“Saya kira tidak. Sejak kemarin sudah ditangani. Sudah, kan bersama-sama masyarakat,”jelasnya. Sementara terhadap para pengikut aliran tersebut, pihak kepolisian menyatakan tidak akan melakukan penangkapan. Para pengikut hanya disadarkan agar tidak terjerumus lebih dalam.“Seperti (pengikut) yang di Padang kan bagus. Mereka terus kembali. Kita harapkan seperti itu,” tutur Sutanto. Di Mabes Polri, Wakil Kepala Divisi (Wakadiv) Humas Mabes Polri Brigjen Pol Anton Bachrul Alam meminta masyarakat tidak bertindak anarkistis menghadapi anggota aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Sebelum ini, terdapat kelompok yang menyatakan keinginan untuk menyerang markas aliran tersebut. “Makanya kami minta masyarakat sabar. Ini akan ditangani Polri,”tegas Anton, kemarin. Anton memastikan Polri akan menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat. Untuk itu, Polri tidak akan memperkenankan siapa pun bertindak main hakim sendiri dalam persoalan ini. “Jangan memberi batas waktu karena itu sudah menghakimi,” ucap Anton.

Sementara itu, Jaksa Agung Hendarman Supandji mengungkapkan, sanksi yang akan dijatuhkan kepada para tokoh aliran sesat ini mengarah pada Pasal 156 tentang Penodaan Agama. Untuk proses penegakan hukumnya, jelas dia, sudah diatur dalam PP No 1/1965 tentang Tata Cara Larangan Kepercayaan. “Itu sudah ada.Jadi kita harus mengikuti ketentuan itu,” tandas Hendarman di Kantor Presiden, Jakarta,kemarin. Jaksa Agung meminta seluruh masyarakat tidak emosional terkait penggerebekan rumah salah satu pengikut aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah oleh massa di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat, tiga hari lalu.

“Kiranya masyarakat bisa bersabar menunggu proses itu (penyidikan),” tandasnya. Meski MUI sudah menyatakan Al-Qiyadah Al-Islamiyah sebagai aliran sesat, Hendarman mengatakan bahwa hal tersebut belum bisa dijadikan pembuktian di pengadilan. Untuk itu, pihaknya sedang melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) Pengawasan Aliran dan Kepercayaan Masyarakat (Pakem) di Jakarta. “Itu harus dilarang dulu oleh pemerintah. Melarang itu ada prosesnya.Untuk bisa dipidana, ada prosesnya,” terang Hendarman. Kemarin, Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta secara resmi memasukkan Al-Qiyadah Al-Islamiyah ke dalam kategori aliran sesat yang keberadaannya dilarang di Jakarta.

“Aliran ini menyimpang dari ajaran-ajaran agama Islam,”kata Kepala Kejati DKI Jakarta Harry Hermansyah seusai Rakor Pakem di Jakarta,kemarin. Dia mengatakan, hasil Rakor Pakem itu akan disampaikan kepada Gubernur DKI sebagai rekomendasi melarang aliran itu di Jakarta. Menurutnya, hasil rapat itu juga akan diserahkan ke Kejaksaan Agung untuk memberikan kepastian bahwa aliran itu sesat.“Ini sebagai masukan bagi Kejaksaan Agung untuk melakukan tindakan hukum,” katanya.

Selain itu, kata dia, rapat koordinasi itu dilakukan untuk menghindari anarkisme masyarakat terhadap pendukung aliran tersebut. Dia menyebut setidaknya ada tiga hal yang menguatkan aliran ini dianggap sesat, pengucapan lafadz dua kalimat syahadat yang berbeda dengan yang diucapkan umat Islam; tidak adanya kewajiban salat, puasa, maupun naik haji; dan menganggap ketua Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Ahmad Moshaddeq, sebagai rasul.

 

Motif Politik

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menduga ada motif politik di balik berkembangnya berbagai aliran agama seperti Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang telah dinyatakan sesat oleh MUI ini. “Saya dengar informasi bahwa berkembangnya ajaran sesat selalu muncul menjelang pemilu. Mungkin saja ini ada motif politik,” kata Din seusai menerima tokoh muslim Australia di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, kemarin.

Namun Din mengaku tidak mengetahui secara pasti mengenai dugaan tersebut. “Saya sendiri tidak tahu dan tidak pernah mau berpikir seperti itu sehingga tidak bisa memberikan pembenaran.Tetapi bisa saja itu terjadi,” terangnya. Selain motif politik, Din menduga mencuatnya aliran sesat karena negara sedang berada pada era keterbukaan dan kebebasan, termasuk bebas membuat ajaran agama. Sehingga, dalam istilah Din,telah muncul ”sales ideologi”. Karena itu, dia berharap pemerintah segera mengambil tindakan sebelum masalah ini memburuk menjadi pertentangan kelompok.

”Jangan sampai masalah Al-Qiyadah Al-Islamiyah ini menimbulkan pertentangan yang besar di kalangan masyarakat karena ini akan merugikan kita semua, terutama yang saya tidak setuju (adalah) melakukan anarkisme, ” katanya. (maya sofia/CR-01/CR04/ adam prawira)

 

 

MUI Dukung Penangkapan Rasul Al Qiyadah

Anwar Khumaini - detikcom *Jakarta* -

Meskipun aliran Al Qiyadah telah ditetapkan sebagai aliran sesat oleh MUI dan Kejati DKI Jakarta, pemimpin Al Qiyadah, Ahmad Moshaddeg tetap saja menghirup udara bebas. Polisi selama ini hanya menangkap para pengikutnya saja, termasuk yang baru saja terjadi di Mapolsek Pancoran, Jaksel.

Menyikapi hal ini, Ketua MUI Amidhan meminta aparat untuk segera menangkap pemimpin Al Qiyadah, agar aliran sesat ini tidak semakin berkembang di Indonesia. "Agar aliran ini tidak menyebar, maka yang harus ditangkap ya rasulnya," ujar Amidhan di sela-sela halal bihalal yang diselenggarakan PP Muhammadiyah di kantor pusat Muhammadiyah, Jl Cikini Raya, Jakarta, Senin (29/10/2007). Seorang rasul, menurut Amidhan tidak mungkin ditemukan di era globalisasi seperti sekarang ini. " Di era globalisasi kok ada orang yang menobatkan diri sebagai rasul. Rasul harus ada mujizatnya, dia dapat mujizat apa," Amidhan mempertanyakan.

Amidhan mengatakan, perbuatan pemimpin Al Qiyadah tersebut sudah merupakan kebohongan publik. Oleh karena itu, dia mendukung Kejati DKI Jakarta yang juga menyatakan bahwa Al Qiyadah adalah aliran sesat. Namun demikian, lanjut Amidhan, masyarakat tidak perlu reaktif menghadapi para pengikut Al Qiyadah. Mereka harusnya malah dibina dan diluruskan kembali aqidahnya. "Tidak perlu menggunakan kekerasan. Yang penting konkretnya, tangkap dulu rasulnya," pinta Amidhan. * (anw/nvt)*

 

 

Motif Politik di Balik Al Qiyadah

Gagah Wijoseno - detikcom

*Jakarta* - Berbagai motif melatarbelakangi munculnya aliran Al Qiyadah Al Islamiyah. Salah satunya adalah motif politik. "Saya mendengar informasi, katanya ini selalu menjelang pemilu," kata Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin di Kantor PP Muhammadiyah, Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Senin (29/10/2007).

Din mengaku tidak pernah menduga ada motif politik di balik Al Qiyadah. Tapi tidak menutup kemungkinan ada hal-hal semacam itu. "Mungkin saja setiap pemilu muncul lagi, muncul lagi," ujarnya. Din menjelaskan, ada 2 motif lain terkait Al Qiyadah. Pertama adalah makin bebasnya orang di Indonesia untuk mengekspresikan ideologinya. Semua ingin bebas, termasuk bebas menciptakan ajaran agama. Kedua, orang-orang yang oportunis. "Ini sering dimanfaatkan orang belajar Islam, tapi tidak mantap. Lalu menyebut dirinya ustad. Ada orang tampil seperti itu, sayangnya selalu saja ada penganutnya dan pendukungnya," imbuhnya.

Din mengajak orang-orang yang tersesat dan disesatkan oleh ajaran Al Qiyadah kembali ke jalan yang benar. Agama bukanlah hal yang pantas dibuat mainan. "Ini adalah sikap yang akan dipertanggungjawabkan secara ukhrowi (akherat). Maka saya mengimbau, kembalilah ke pangkuan Islam," ajaknya. * (mly/sss)*

 

Kajati DKI: Al Qiyadah Dilarang di Jakarta

Nala Edwin - detikcom

*Jakarta* - Hasil rapat koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) yang digelar Kejati DKI Jakarta menyimpulkan aliran Al Qiyadah Al Islamiyah dilarang di Jakarta.

Aliran ini dianggap menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya. "Nanti kita akan membuat surat ke gubernur agar melarang ajaran ini," kata Kajati DKI Jakarta Harry Hermansyah usai rapat di kantornya, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (29/10/2007). Menurut Harry, ada beberapa alasan yang melandasi keputusan itu antara lain kalimat syahadat yang berbeda dibandingkan syahadat yang biasa diucapkan umat Islam. Tidak hanya itu, pernyataan bahwa salat, puasa dan haji belum diwajibkan karena belum ada perintah dari Allah SWT juga dinilai menyimpang.

Alasan lainnya, pernyataan pimpinan Al Qiyadah yang menyatakan sebagai nabi baru setelah menjalankan tirakat selama 40 hari. "Hal itu menyimpang dari ajaran-ajaran agama Islam," katanya. Selain gubernur, Harry juga akan menyampaikan hasil rapat itu ke Kejaksaan Agung. "Ini untuk masukan bagi Kejagung jika ada aliran-aliran Al Qiyadah yang berkembang di daerah selain Jakarta. Tapi untuk rapat kali ini skupnya Jakarta saja," kata dia.

Hasil keputusan ini diharapkan dapat memberi kepastian dan mencegah tindakan anarkis terhadap pengikut ajaran-ajaran Al Qiyadah. Menurutnya, para tersangka yang kini telah diamankan kepolisian akan ditindaklanjuti. Mereka bisa dikenakan pasal 156 KUHP mengenai penistaan agama. Hasil keputusan ini, kata dia, tidak membatasi dan melanggar hak asazi manusia.* (umi/nrl)*

 

PBNU Desak Al Qiyadah Ditindak Tegas, Jika Perlu Dibubarkan

Samsul Hadi - detikcom

*Kediri* - Pengurus Besar Nahdhlatul Ulama (PBNU) mendesak agar pemerintah menindak tegas aliran Al Qiyadah Al Islamiyah dengan cara membubarkanya. PBNU menyebut apa yang diajarkan dalam aliran baru tersebut mengandung unsur konflik. Desakan PBNU ini disampaikan Ketua PBNU, KH. Said Agil Siradj, saat ditemui di Tabligh Akbar, Halal Bihalal dan Doa Bersama Pondok Pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kelurahan Burengan, Kecamatan Kota, Kediri, Minggu (28/10/07).

"Pemerintah tidak boleh tinggal diam dengan munculnya aliran Al Qiyadah Al Islamiyah. Harus ada tindakan tegas," kata Siradj. Menurutnya, tindakan tegas yang bisa dilakukan pemerintah adalah mulai dengan cara persuasif, yaitu pencerahan, hingga pembubaran secara paksa. "Jika perlu dibubarkan," lanjut Siradj. PBNU menilai aliran Al Qiyadah dalam ajaranya mengandung unsur konflik. Konflik terlihat dalam salah satu ajarannya yang tak mewajibkan pemeluknya menunaikan sholat, puasa dan haji, yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam pada umumnya. Jika perbedaan pendapat, lanjutnya, hanya sebatas seputar penentuan perselisihan ringan, seperti penentuan waktu Lebaran, masih bisa ditoleransi. Namun, dalam ajaran Al Qiyadah sudah kategori konflik. "Ini sudah konflik, bukan lagi perbedaan pendapat," jelas Siradj.

Semakin maraknya aliran baru yang bertentangan dengan aliran Islam sesungguhnya, lanjut dia, dikarenakan banyak manusia merasakan euforia kebebasan dalam masa reformasi yang tak terkendali. Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah didirikan oleh Ahmad Moshaddeq alias H Salam sejak 23 Juli 2006. Ia mengaku, mendapat wahyu dari Allah dan mengaku sebagai Rasul menggantikan posisi Muhammad SAW setelah bertapa selama 40 hari 40 malam. Kitab Suci yang digunakan adalah Al Quran, tetapi meninggalkan hadits dan menafsirkannya sendiri.

Aliran itu juga mengajarkan Syahadat baru, yakni "Asyhadualla ilaha illa Allah wa asyhadu anna Masih al-Mau'ud Rasul Allah", di mana umat yang tidak beriman kepada "al-Masih al-Mau`ud" berarti kafir dan bukan muslim. Selain itu, aliran baru ini tidak mewajibkan shalat, puasa dan haji, karena pada abad ini masih dianggap tahap perkembangan Islam awal sebelum akhirnya terbentuk Khilafah Islamiyah. Aliran tersebut juga mengenal penebusan dosa dengan menyerahkan sejumlah uang kepada al-Masih al-Mau`ud.

Kegiatan Tabligh Akbar, Halal Bihalal dan Doa Bersama Pondok Pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) juga dihadiri oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur KH Abdissomad Basyori, Ketua Umum DPP LDII KH. Abdullah Syam dan sejumlah pengurus ormas Islam lainya.

Dalam kegiatan ini juga dilakukan do'a bersama dengan tujuan mendoakan agar ancaman letusan Gunung Kelud di Kabupaten Kediri, tidak menjadi kenyataan. Namun apabila terjadi, didoakan agar masyarakat sekitar dapat selamat dan tabah. * (nwk/nrl)*

 

 

27/10/07 01:27

FUI Tuntut Pembubaran Kelompok "Al Qiyadah"

Jakarta (ANTARA News) - Forum Umat Islam (FUI) menuntut pemerintah segera membubarkan kelompok "Al Qiyadah" serta menangkap pemimpinnya karena keberadaannya merupakan kelompok sesat.

"Kapolri dan Jaksa Agung agar segera membubarkan kelompok sesat itu serta menangkap para pemimpinnya, dan membongkar konspirasi serta dalang di belakangnya karena telah melakukan penodaan agama Islam," kata Ketua FUI, Mashadi, dalam pernyataan sikap forum tersebut, di Jakarta, Jumat (26/10) malam.

Ia mengatakan kelompok itu dan siapa pun di belakangnya telah sengaja secara keji menodai dan merusak akidah umat Islam, serta memberikan citra buruk kepada organisasi massa (ormas), partai dan kelompok yang memiliki identitas Islam.

Dikatakan, kelompok itu juga telah mencatut nama yang baik Al-Qiyadah, sebagaimana pencatutan nama untuk membuat citra buruk, seperti, Komando Jihad dan Al Jamaah Al Islamiyyah.

"Oleh karena itu, kepada para ulama dan ormas Islam agar merapatkan barisan dan mempererat ukhuwah Islamiyah dalam menangkal bahaya kelompok sesat tersebut maupun yang lainnya," katanya.

FUI juga menyerukan kepada para umat agar memiliki kesadaran yang utuh terhadap aqidah dan syariah sebagai kesempurnaan agama Islam yang dipeluknya agar dapat membentengi diri dari pengaruh buruk aliran sesat dan menyesatkan.

"Jelas munculnya pengakuan suatu kelompok atas seseorang sebagai rasul yang diutus dengan suatu syahadat, adalah, suatu bentuk kemungkaran yang merusak kesucian akidah Islam yang hanya mengakui Nabi Muhammad SAW," katanya.

Di tempat yang sama, Ketua Majelis Ulama Islam (MUI), KH Cholil Ridwan, meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secepatnya mengeluarkan sikap larangan atas kelompok itu, agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan.

"Presiden itu paling bertanggung jawab di depan Allah, dan jangan sampai umat Islam menjadi murtad akibat sikap presiden," katanya.

Acara pernyataan sikap itu dihadiri oleh sejumlah perwakilan ormas Islam, seperti, Ketua Umum Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI), Ahmad Sumargono.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

 

 

Presiden SBY Didesak Tindak Tegas Aliran Sesat

Ramadhian Fadillah - detikcom

*Jakarta* - Sebagai imam atau pemimpin sebuah bangsa yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, Presiden SBY diminta untuk segera mengambil tindakan tegas dan membubarkan aliran Al-Qiyadah. Jika tidak, maka SBY berdosa karena telah membiarkan aliran sesat tumbuh di Indonesia.

"Jika SBY dan Menteri-menteri tidak melarang aliran sesat ini, maka nanti SBY harus menanggung dosanya di akhirat karena membiarkan umat Islam dimurtadkan aliran sesat," kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kholil Ridwan saat menggelar jumpa pers di kediaman salah seorang pengurus Forum Umat Islam (FUUI), Ahmad Sumargono di Komplek Dokter, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (26/10/2007).

Kholil menyamakan pemerintah Indonesia yang tidak mengambil tindakan tegas dengan pemerintah kolonial Inggris kala menangani aliran Ahmadiyah. "Ini sama dengan tindakan penjajah Inggris saat menjajah India dan mengangkat Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi," ujar dia.

Selain itu MUI juga menyesalkan sikap Jaksa Agung Hendarman Supandji yang baru akan melaksanakan larangan terhadap Al-Qiyadah jika presiden sudah memberikan restu. "Harusnya Jaksa Agung yang pro aktif agar Presiden memberikan izin," tandasnya.* (rdf/ndr)*

 

25/10/07 20:28

Depag Teliti Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah

Jakarta (ANTARA News) - Departemen Agama (Depag) segera membentuk sebuah tim kecil untuk meneliti lebih lanjut keberadaan aliran al Qiyadah al Islamiyah yang telah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), kata Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Prof Dr Nasaruddin Umar, di Jakarta, Kamis.

"Pemerintah tidak boleh gegabah. Karena itu perlu dibuat tim kecil untuk meneliti aliran tersebut. Kita perlu tahu seperti apa wujudnya," kata Nasaruddin menanggapi permintaan MUI agar pemerintah menindak tegas penganut aliran tersebut.

Tim kecil Depag itu akan berupaya mendalami keberadaan aliran al Qiyadah al Islamiyah, dengan melihat langsung kegiatan mereka yang sesungguhnya. Tim ini untuk melengkapi informasi agar lebih valid. "Kita ingin menggali informasi sebanyak mungkin," ujar Dirjen Bimas Islam itu.

Menurut Nasaruddin, meskipun tim itu baru dibentuk, pihaknya telah memiliki data awal tentang aliran tersebut seperti dari buku-buku, kliping koran, keputusan fatwa MUI.

"Tentang aliran itu memang betul kami sudah tahu, tapi kami tidak ingin tahu dari orang luar. Jadi ingin obyektif," ucapnya lalu menambahkan bahwa tim kecil itu akan bekerja selama tiga hari dan akan selesai pada Senin (29/10). Selanjutnya tim memberi laporan kepada Menteri Agama M. Maftuh Basyuni.

Setelah itu, hasil dari penelitian tim akan menjadi acuan bagi Depag dalam membuat rekomendasi tentang aliran al Qiyadah al Islamiyah yang akan diteruskan ke Kejaksaan Agung dan Kepolisian.

Dirjen Nasaruddin juga mengatakan, dalam mengatasi masalah aliran sesat, kewenangan Depag sesuai dengan Undang-undang yang berlaku. Karena itu pihaknya berupaya memberi bimbingan kepada umat beragama khususnya umat Islam. Karena tidak mustahil ada kelompok yang dianggap sesat ternyata masalahnya ada pada interpretasi.

Ditambahkan, selain melakukan bimbingan, tugas Direktorat Bimas Islam juga untuk memproteksi agar tidak muncul aliran-aliran sesat yang baru.

"Kita juga mengimbau semua pihak kalau ada fenomena yang melawan undang-undang agar pro aktif. Sebab kalau terlambat dampaknya lebih banyak lagi," katanya mengingatkan.

Tentang kalimat syahadat al Qiyadah al Islamiyah, yang tidak menyebut Nabi Muhammad SAW, Nasaruddin yang juga Rektor Perguruan Tinggi Ilmu al Quran menyatakan, kalau memang kalimat syahadat itu diganti sudah pasti sebuah masalah, karena jelas penyimpangan akidah.

"Kita berpatokan pada fatwa MUI," ia menjelaskan.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

 

Jaksa Agung Tunggu Bakorpakem Soal Aliran Sesat Al-Qiyadah

M. Rizal Maslan - detikcom

*Jakarta* - MUI mengeluarkan fatwa bahwa aliran Al-Qiyadah Al-islamiyah sesat. Namun Jaksa Agung Hendarman Supanji mengaku belum akan mengambil tindakan. Dia masih menunggu keputusan Badan Koordinasi Penganut Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem).

"Soal aliran Al-Qiyadah tentunya kalau masih dilarang MUI itu harus masuk ke Bakorpakem di wilayah setempat. Sejauh Bakorpakem itu memutuskan dilarang atau tidak, maka kejaksaan akan mengeluarkan keputusan apakah aliran itu dilarang atau tidak, setelah mendapat persetujuan dari Presiden," kata Jaksa Agung Hendarman Supanji. Hal ini disampaikannya usai Rakor Polhukam di Kantor Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (25/10/2007).

Ketentuan itu, menurut Hendarman, sesuai PP No 1 tahun 1995 mengenai prosedur penentuan aliran sesat. Ada pun proses penentuannya dimulai dengan melakukan pembahasan melalui rapat yang dilakukan Bakorpakem di wilayah setempat, dan hasilnya lalu diserahkan ke pihak kejaksaan negeri setempat. "Lalu hasilnya dikirim ke Kejagung. Setelah ada putusan dari presiden bahwa itu sesat, maka akan masuk pasal penindakan yang diatur oleh UU dan KUHP pasal 456 huruf A yang ancamannya 5 tahun penjara," tandas Hendarman.

Seperti diketahui pendiri aliran ini adalah Ahmad Moshaddeq. Dia mengaku pada 3 Juli 2006, bahwa setelah bertapa selama 40 hari 40 malam mendapat wahyu dari Allah sebagai Rasul menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW.

Dalam ajarannya, pengikut aliran ini tidak mewajibkan melaksanakan salat, ibadah puasa, dan menunaikan ibadah haji. * (ndr/umi)*

 

 

Inilah Ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah yang Dianggap Sesat

Bagus Kurniawan - detikcom

*Jakarta* - Ajaran Al Qiyadah Al-Islamiyah yang dianut tiga warga Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, benar-benar mengagetkan warga lain. Sebab, ajaran itu mengajarkan salat wajib lima waktu itu tidak penting, sehingga tidak perlu dilakukan. Meski tidak melakukan salat wajib, pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah dijamin akan masuk surga. Warga menganggap ajaran aliran ini sesat.

Selain itu, bagi Al Qiyadah Al-Islamiyah, salat yang lebih penting adalah salat lail (malam) yang dilakukan setiap hari pada pukul 00.00 WIB. Meski jumlah rakaat salat lail itu sama dengan salat yang dilakukan umat Islam lainnya, tapi bacaan kalimat syahadat yang diucapkan berbeda. Mereka tidak menyebut Nabi Muhammad SAW, tapi mengucapkan Al Masih Al Ma'wud sebagai rasulullah. Lima Rukun Islam diajarkan berbeda. Oleh karena itu syahadat sebagai rukun Islam pertama diganti.

Kalimat Muhammad Rasulullah diganti Al Masih Al Ma'wud Rasulullah. Sedang empat rukun Islam lainnnya yakni salat, puasa, zakat dan haji belum diajarkan karena masih menunggu turunnya ayat-ayat Al Quran yang lain .

Tidak hanya itu, meski tidak salat 5 waktu dan cukup salat malam, anggota Al Qiyadah Al Islamiyah dijamin akan masuk surga. Al Quran yang artinya sudah dibakukan dan disahkan oleh Departemen Agama, ditafsirkan berdasarkan tafsir oleh kelompok itu sendiri. Layaknya kitab kuning seperti yang diajarkan di pondok-pondok pesantren, Al Quran yang seharusnya bersih dari segala coretan jutsru diberi arti dan tafsir sendiri di atas tulisan-tulisan ayat tersebut.

Saat ini, Quran tersebut juga sedang diteliti dan diperiksa oleh aparat sebagai barang bukti. Dari penulusuran *detikcom* di lapangan, Irawan cs hanya sebagai pengikut saja yang belum lama menjadi anggota pengajian kelompok tersebut. Mereka percaya kata 'dien' itu bukan berarti sebagai agama, tapi sebuah sistem. Mereka juga percaya sistem yang dibawa Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad itu sudah tidak tegas lagi atau ada penyimpangan. Mereka juga menyoroti soal QS Al Imron 83. Karena itu, mereka mempercayai akan datang yang dinamakan Al Masih Al Ma'wud. Hanya saja ketiganya saat diperiksa mengaku belum pernah ketemu. Namun suatu saat nanti oleh pimpinan kelompok dijanjikan akan dipertemukan dengan Al Masih Al Ma'wud.

Hanya saja kapan pertemuan itu akan terjadi belum pernah terungkap, karena ketiga orang itu keburu ditangkap polisi dan diperiksa hingga hari ini, Kamis (20/9/2007) di Mapolres Bantul.* (bgs/asy)*

 

 

MUI DIY: Ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah Sesat

Bagus Kurniawan - detikcom

*Yogyakarta * -Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah yang dianut Irawan, Tugiman dan Sunarto warga Sedayu Bantul jelas-jelas sesat. Sebab, ajaran itu telah menyimpang dari ajaran agama Islam, yakni tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai rasulullah.

Hal itu dikatakan Ketua MUI DIY H Thoha Abdurrahman kepada *detikcom* melalui telepon, Kamis (20/9/2007). "Itu jelas menyimpang dan sesat, karena Nabi Muhammad SAW sebagai rasul sudah diganti. Masalah ini sudah kami laporkan ke MUI Pusat," kata dia. Meski MUI DIY belum mengeluarkan fatwa secara resmi, kata dia, MUI DIY telah menyatakan ajaran itu sesat dan menyimpang jauh dari ajaran Islam.

MUI sudah menerima laporan itu dari polisi maupun Kejaksaan Negeri Bantul mengenai kasus tersebut. Oleh karena itu, setelah mendapat laporan dan berkoordinasi dengan kepolisian, pihaknya langsung melaporkan ke pengurus MUI Pusat. "Dalam waktu dekat sudah akan ada surat fatwa resmi. Kami tidak ingin warga Yogya jadi resah karena kasus ini," tegas Thoha. Dia mengatakan, dari cara pengajarannya yakni salat wajib 5 waktu itu tidak wajib dilakukan oleh anggota Al Qiyadah Al Islamiyah, namun yang penting adalah salat lail atau salat malam. Demikian pula dengan masalah rukun Islam yang lain yang tidak perlu dijalankan, karena ajaran Islam belum tegak. "Kalimat syahadat diganti jelas menyimpang dan sesat. Apalagi kalimat Muhammad Rasulullah diganti Al Masih Al Ma'wud Rasulullah," kata dia.

Berdasarkan penelusuran *detikcom*, Irawan yang lulusan SLTA itu sebelum menjadi anggota pengajian Al Qiyada Al Islamiyah, sehari-harinya bekerja sebagai pedagang buku-buku Islam di kawasan Masjid kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan beberapa tempat di Kota Yogyakarta. Namun belum diketahui, sejak kapan Irawan bergabung dengan kelompok Al Qiyadah Al Islamiyah. Dimungkinkan dia bergabung sejak bulan April 2006. Baru dua bulan kemudian atau bulan Juni 2006, dia mengajak dua orang tetangganya Tugiman dan Sunarto untuk ikut pengajian. Dia bergabung setelah mengenal seseorang kenalannya yang sampai sekarang masih dalam pencarian anggota kepolisian.* (bgs/asy)*

 

 

01/11/2007 00:17 Agama

Pengikut Al-Qiyadah Bertobat

Liputan6.com, Bandar Lampung: Penangkapan para pimpinan dan pengikut Al-Qiyadah di berbagai daerah membuat para pengikut Al-Qiyadah gentar. Tengok saja empat pengikut Al-Qiyadah di Bandar Lampung, Lampung. Rizki dan tiga temannya mengaku insaf dan bertobat didampingi orangtua serta beberapa santri sebuah pondok pesantren pada Rabu (31/10).

Tanpa ragu-ragu, Rizki membuat surat perjanjian keluar dari ajaran Al-Qiyadah yang sebelumnya dijalani secara sembunyi-sembunyi. Rizki mengaku belajar Al-Qiyadah setahun lalu dari seorang guru SMP yang kini telah ditahan Kepolisian Kota Besar Bandar Lampung.

Sementar itu, pimpinan Al-Qiyadah Padang Dedi Supriyadi yang kini ditahan Poltabes Padang akan segera diajukan ke pengadilan. Sedi yang menjadi direktur utama sebuah perusahaan mewajibkan seluruh staf dan karyawan mengikuti pengajian. Awalnya tak ada yang curiga namun setelah ada kewajiban menjalankan shalat malam dan meninggalkan shalat lima waktu, para karyawan mulai membangkang [baca: Pimpinan Al-Qiyadah Padang Diajukan ke Pengadilan].

Pemimpin tertinggi Al-Qiyadah, Ahmad Mushaddeq ditetapkan sebagai tersangka. Mushaddeq dan pengikutnya akan dijerat pasal penodaan dan penistaan agama dengan ancaman hukuman lima tahun penjara [baca: Mushaddeq Jadi Tersangka Penodaan Agama].(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)

 

 

31/10/2007 18:07 Agama

Pimpinan Al-Qiyadah Padang Diajukan ke Pengadilan

Liputan6.com, Padang: Pimpinan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Padang Dedi Supriyadi akan segera diajukan ke pengadilan. Selain Dedi, penyidik Kepolisian Kota Besar Padang, Sumatra Barat, Rabu (31/10), juga memeriksa delapan pengikut lainnya. Namun, mereka belum ditahan.

Pemberkasan Dedi serta delapan pengikut lainnya sudah selesai dan segera dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Padang. Dia dikenakan pasal 165 A Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Penodaan Agama.

Dedi ditetapkan sebagai tahanan Poltabes Padang kemarin petang. Dari pemeriksaan polisi, aliran Al-Qiyadah masuk ke Padang sekitar akhir 2004. Aliran tersebut dibawa Heri Supriyadi, kakak Dedi Supriyadi, yang berada di Jakarta.

Di Jakarta, Direktur Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Carlo Tewu mengatakan, pihaknya masih terus memeriksa pimpinan Al-Qiyadah Ahmad Mushaddeq. Sampai saat ini, tiga anggota aliran Al-Qiyadah telah ditetapkan sebagai tersangka.

Jika pemeriksaan sudah selesai, Polda akan segera melimpahkan berkas para tersangka ke kejaksaan. Ahmad Mushaddeq Serta pengikutnya dijerat pasal 165 A KUHP tentang Penodaan Agama dengan ancaman hukuman lima tahun penjara [baca: Pasal Penodaan Agama Menanti Penganut Al-Qiyadah].(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)

 

 

31/10/2007 05:14 Agama

Pasal Penodaan Agama Menanti Penganut Al-Qiyadah

Liputan6.com, Jakarta: Kepala Kepolisian RI Jenderal Polisi Sutanto menegaskan, pimpinan aliran Al-Qiyadah akan dijerat pasal hukum pidana sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Menurut Kapolri Sutanto, pimpinan kelompok tersebut bersama dengan beberapa pengikutnya sudah cukup untuk dijerat dengan Pasal 165 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Penodaan Agama. Adapun menyikapi beberapa aliran lain yang dianggap menyimpang seperti halnya Al-Qiyadah, Kapolri mengaku menunggu fatwa dari Majelis Ulama Indonesia. Demikian pernyataan Jenderal Sutanto di Jakarta, Selasa (30/10) [baca: Mushaddeq Terancam Lima Tahun Penjara].

Pihak MUI dan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta pun telah menetapkan Al-Qiyadah Al-Islamiyah sebagai ajaran sesat. Usai penetapan itu, masyarakat di sejumlah daerah mulai bereaksi terhadap para pengikut Al-Qiyadah. Di Bogor dan Cilacap, Jawa Barat, misalnya. Mereka menggerebek dan merusak markas Al-Qiyadah.

Kemarin siang, sebuah lokasi berbentuk gubug yang dipercaya kelompok Al-Qiyadah Al-Islamiyah di Bogor sebagai tempat penyebaran aliran, dirusak massa. Tindakan ini sebagai simbol penolakan terhadap ajaran tersebut. Para santri dari Gerakan Umat Islam Indonesia dipimpin Habib Abdurachan Assegaf harus bersusah payah menuju lokasi pertapaan pemimpin Al-Qiyadah, Abdul Salam alias Ahmad Mushaddeq. Massa mengecam kelompok tersebut dituduh telah keluar dari syariat dan akidah agama Islam yang sesungguhnya.

Di Cilacap, polisi menggerebek markas jaringan Al-Qiyadah setempat. Tindakan petugas ini menyikapi laporan warga yang resah terhadap ajaran tersbut. Dari penggerebekan ini lima orang pengikut diamankan polisi. Walau telah dinyatakan sebagai aliran sesat, para pengikut Al-Qiyadah di Cilacap tetap berkeyakinan bahwa ajaran yang dianut mereka adalah benar.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

 

07/11/2007 18:57 Agama

Pakem Tegaskan Al-Qiyadah Sesat

Liputan6.com, Jakarta: Rapat koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) yang digelar di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Rabu (7/11), menetapkan Al-Qiyadah Al-Islamiyah sebagai aliran sesat. Ketetapan ini menegaskan keputusan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta [baca: Lagi, Al-Qiyadah Dinyatakan Sesat].

Pakem terdiri dari berbagai wakil instansi seperti kejaksaan, Departemen Agama, dan Departemen Dalam Negeri. Menurut Pakem, salah satu bukti kesesatan Al-Qiyadah adalah tidak mengakui nabi Muhammad SAW sebagai rasul terakhir.

Al-Qiyadah hanyalah satu dari beragam aliran keagamaan yang belakangan muncul dan dianggap menyimpang. Selain pendekatan hukum dan memberikan cap sesat, tentu perlu pendekatan lebih persuasif untuk menangani para pengikutnya. Wakil Presiden Jusuf Kalla saat menerima pengurus Majelis Ulama Indonesia berpesan para pemimpin agama perlu introspeksi kenapa aliran-aliran yang disebut menyimpang itu muncul.(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)

 

 

06/11/2007 23:20 Agama

Alquran Suci Sesat

Liputan6.com, Jakarta: Majelis Ulama Indonesia akan segera memfatwakan Alquran Suci sebagai aliran yang menyimpang dan menyesatkan. Pasalnya, aliran ini disebut-sebut memperbolehkan sholat tanpa wudhu dan berzina dengan saudara ipar. Demikian disampaikan Ketua MUI Amidhan di Jakarta, Selasa (6/11).

Menurut Amidhan, waktu pengkajian aliran Alquran Suci memakan waktu lebih dari dua tahun. Meski demikian, Komisi Pengkajian MUI masih menunggu sejumlah fakta sebelum mengeluarkan fatwa sesat terhadap aliran ini.

Setelah Ahmadiyah, Lia Eden, Al-Qiyadah, dan Alquran Suci, MUI mengakui masih ada enam aliran Islam lain yang dianggap menyimpang dan kini masih dikaji. Di antaranya Ingkar Sunah, Wahidiyah, Mahisa Kurun, sholat dua bahasa, dan Islam Jamaah yang merupakan perpanjangan dari Lembaga Dakwah Islamiyah. Penganut aliran-aliran inipun cukup banyak dan tersebar di berbagai daerah.(TOZ/Nastiti Lestari dan Agus Suwoto)

 

 

06/11/2007 01:27 Agama

Pelarangan Aliran Keagaman Ditetapkan Tiga Menteri

Liputan6.com, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) bertindak cepat dalam menyelesaikan aliran keagamaan yang dianggap sesat. Permintaan tersebut disampaikan Presiden Yudhoyono di Jakarta, Senin (5/11) malam.

Menteri Agama Maftuh Basyuni menyatakan, keputusan pelarangan aliran keagamaan yang dianggap sesat harus diusulkan oleh tiga menteri. Yakni menteri agama, Kejaksaan Agung, serta menteri dalam negeri.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung menyatakan, setelah dinyatakan sesat, maka atas persetujuan presiden sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 1965, jaksa agung dapat melarang aliran sesat di Tanah Air. Sementara MUI tidak yakin penjara bisa membuat kelompok keagamaan tersebut dapat berpaling dari keyakinannya.

Salah satu kelompok keagamaan yang dinilai sesat oleh MUI adalah Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Mereka dianggap sesat karena tak menjalankan syariat agama seperti umat Islam. Namun, pemerintah sampai saat ini belum melarang kelompok aliran keagamaan itu beredar di Indonesia [baca: Vonis Sesat Rasul Al-Qiyadah].(BOG/Dwi Anggia)

 

 

04/11/2007 13:14 Sigi

Vonis Sesat Rasul Al-Qiyadah

Liputan6.com, Jakarta: Jamaah Al-Qiyadah Al-Islamiyah meyakini Rasul baru telah tiba. Namanya, Al Masih Al Maw'ud. Karenanya, meski mengaku umat Islam mereka tak lagi menyebut Muhammad SAW dalam syahadat tapi diganti dengan nama rasul baru tersebut. Al Masih Al Maw'ud yang dimaksud tak lain adalah Ahmad Mushaddeq alias Abdussalam, pemimpin aliran Al-Qiyadah.

Al-Qiyadah berarti kumpulan para pemimpin. Aliran ini didirikan seorang pensiunan pegawai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2001. Dalam beberapa kali wawancara dengan tim Sigi, Mushaddeq mengaku memperoleh wahyu setelah bertapa selama 40 hari 40 malam di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat.

Ajaran aliran yang mengkalim telah memiliki 50 ribu pengikut ini berbeda dengan mainstrem baku ajaran Islam yang dikenal saat ini. Di antaranya mempercayai adanya rasul baru setelah Muhammad SAW, hanya mewajibkan salat malam, serta tidak mewajibkan puasa, zakat, dan ibadah haji.

Lantaran ajarannya dianggap menyimpang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemudian mengeluarkan fatwa yang menyatakan ajaran yang dibawa Mushaddeq sesat dan menyesatkan. Untuk itu, MUI meminta pemerintah melarang ajaran itu. Tak lama setelah fatwa keluar, Mushaddeq memilih menyerahkan diri dan meminta perlindungan hukum ke Kepolisian Daerah Metro Jaya [baca: Mushaddeq Menyerah].

Mushaddeq adalah putra Betawi. Nama aslinya adalah Abdussalam, lahir di Jakarta pada 21 April 1944. Istrinya Waginem pernah menjadi kepala sekolah sebuah yayasan Islam ternama di Kemang. Abdussalam pernah menjadi pegawai Dinas Olah Raga Pemda DKI dari tahun 1977 hingga pensiun pada Mei tahun 2000. Dia memiliki empat anak, dua di antaranya bahkan disekolahkan di Australia dan Kanada. Di tempat tinggalnya, Abdussalam dikenal aktif menjadi pengurus masjid, pernah membuka bisnis konveksi, dan jago bulu tangkis.

Abdussalam pernah menjadi pelatih atlet bulu tangkis nasional. Icuk Sugiarto, Verawati Vajrin, dan Ricky Subagja adalah atlet yang pernah ditanganinya. Sumber Sigi di kalangan Al-Qiyadah menyebut Abdussalam pernah menjadi anggota Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah IX. Namun, keluar karena tidak bersepaham lagi dengan cara-cara perjuangan Abu Toto, pimpinan gerakan NII.

Al-Qiyadah hanya satu dari sekian kelompok aliran yang dianggap menyempal. Beberapa tahun silam muncul pula kelompok Ahmadiyah. Mirip Al-Qiyadah, kelompok Ahmadiyah juga mengklaim punya nabi dan rasul baru. Ajaran ini berawal di Pakistan kemudian berkembang ke Indonesia [baca: Nasib Pahit Jemaat Ahmadiyah].

Munculnya aliran-aliran baru ini kerap dikaitkan dengan motif lain diluar soal-soal keagamaan. Di Bandung, Jawa Barat munculnya aliran baru justru dikaitkan dengan hilangnya sejumlah orang. Dalam tahun ini sudah sembilan orang dinyatakan hilang. Seluruhnya perempuan berusia 18 hingga 20 tahunan [baca: Satu Lagi Pengikut Agama Menghilang].

Fenomena munculnya nabi baru, aliran baru bisa jadi menunjukkan kegagalan pemimpin agama formal dalam membina umatnya. Saksikan penelusuran tim Sigi selengkapnya di video Sigi edisi 4 November 2007.(IAN/Tim Sigi)

 

 

02/11/2007 00:11 Agama

Lagi, Al-Qiyadah Dinyatakan Sesat

Liputan6.com, Yogyakarta: Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah sebagai aliran sesat dan terlarang. Keputusan itu disampaikan setelah menggelar rapat dengan seluruh kepala kejaksaan negeri di Yogyakarta serta jajaran kepolisian, Kamis (1/11).

Menurut Kepala Kejati Yogyakarta Rudi Prajitno, dasar keputusan itu adalah fatwa Majelis Ulama Indonesia dan hasil kajian terhadap sejumlah buku terbitan Al-Qiyadah. Kendati demikian, pihak Kejati masih memberi kesempatan kepada para pengikutnya untuk bertobat. Pihaknya meminta lembaga dakwah dan MUI untuk membantu para pengikuti Al-Qiyadah kembali ke jalan yang benar.

Sementara itu, di Ciamis, Jawa Barat, seorang warga Pusaka Sari, Cipaku, mengaku sempat tujuh bulan menjadi pengikut Al-Qiyadah karena diajak temannya dengan janji akan diberi modal. Karena usahanya sedang bangkrut, Unen mengikuti ajakan itu. Namun, ajaran aliran ini ternyata tidak sesuai akidah Islam serta Alquran dan hadis, sehingga ia menyesal dan menyatakan bertobat. Khawatir didatangi warga yang memprotes Al-Qiyadah, Unen minta perlindungan pada polisi.

Di Padang, Sumatra Barat, Rustam dan Dasril menyatakan menyesal sebagai pengikut Al-Qiyadah. Sebab, setelah menjadi pengikut aliran ini keduanya baru ajaran mereka jauh menyimpang dari Islam. Kedua karyawan PT Usba ini diajak Dedi Priyadi, pimpinan Al-Qiyadah Kota Padang yang juga pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Selain Rustam dan Dasril, sejumlah karyawan PT Usba yang juga menjadi pengikut akhirnya keluar dari Al-Qiyadah [baca: Kapolri Minta Masyarakat Tak Anarkis].

Lain lagi yang terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Pengikut Al-Qiyadah yang tinggal di sebuah rumah kontrakan di kawasan Tembalang menghilang sejak Rabu lalu. Diduga sebanyak 15 orang penghuninya meninggalkan rumah karena khawatir mendapat protes dari warga.(ADO/Tim Liputan 6 SCTV)

 

 

01/11/2007 13:22 Agama

Kapolri Minta Masyarakat Tak Anarkis

Liputan6.com, Padang: Penangkapan sejumlah pengikut aliran Al-Qiyadah oleh Kepolisian Kota Besar Padang, Sumatra Barat beberapa waktu silam membuat lega para orang tua. Sebab, setelah sekian lama sempat menghilang, mereka akhirnya dapat bertemu dengan buah hatinya. Namun ada pula yang kecewa lantaran anak mereka tidak ada di antara para pengikut yang ditangkap.

Upik, misalnya. Ia kecewa lantaran sang anak bernama Marlina yang notabene anggota Al-Qiyadah tidak tercantum dalam daftar orang ditangkap. Marlina tidak diketahui keberadaannya pascapenggerebekan polisi ke markas Al-Qiyadah di sebuah rumah toko di daerah Simpang Baru, Padang awal bulan silam.

Hal sebaliknya dirasakan Zamzani Darwis. Dia bahagia lantaran sang anak Alam Prima Rozadi menjadi salah satu pengikut aliran pimpinan Ahmad Mushaddeq yang ditangkap. Sebelumnya, Alam yang juga atlet taekwondo Sumbar menghilang sejak awal bulan silam. Adapun aliran Al-Qiyadah masuk ke Padang sekitar akhir tahun 2004. Ajaran tersebut dibawa oleh kakak Dedi Priyadi, yaitu Heri Suprriyadi yang tinggal di Jakarta [baca: Pengikut Al Qiyadah di Padang Hilang].

Sementara itu, menanggapi kasus aliran sesat Al-Qiyadah, Kepala Polri Jenderal Polisi Sutanto menepis adanya tudingan yang menyebutkan dirinya berbeda persepsi dengan Kejaksaan Agung dalam menangani kasus aliran ini. Kapolri mengatakan, selama ini penanganan penyidik kejaksaan maupun Polri tetap mengacu pada hukum yang ada [baca: Pasal Penodaan Agama Menanti Penganut Al-Qiyadah].

Dalam kasus Al-Qiyadah, penyidik menggunakan pasal penodaan agama untuk menjerat pimpinan maupun anggota yang menyebarkan ajarannya. Penjelasan Kapolri ini sekaligus membantah kesan polisi bertindak lamban meski telah muncul pengaduan dari masyarakat.

Belajar dari kasus Al-Qiyadah yang marak di beberapa daerah, Kapolri meminta bantuan masyarakat untuk memantau keberadaan kelompok-kelompok keagamaan yang dapat meresahkan masyarakat dengan melaporkan kepada polisi. Kapolri juga berharap masyarakat tidak bertindak anarkis dalam menyikapi kasus ini. "Kita perlu masukan dari masyarakat untuk segera menginformasikan, terutama dari tokoh-tokoh masyarakat kalau ada aliran-aliran agama," ujar Kapolri.(YNI/Tim Liputan 6 SCTV)

 

 

31/10/2007 01:15 Agama

Pengikut Al Qiyadah di Padang Hilang

Liputan6.com, Padang: Zamzami Darwis, warga Kota Padang, Sumatra Barat mengaku kehilangan anaknya, Alam Prima Rozadi yang menjadi pengikut Al Qiyadah. Pengakuan Darwis ini disampaikan saat ia bersama ratusan umat muslim lain, Selasa (30/10), berunjuk rasa ke Kantor Gubernur Sumbar untuk meminta ketegasan sikap pemerintah setempat soal aliran Al Qiyadah yang terus berkembang di daerah ini.

Zamzami bertekad untuk menemukan kembali anaknya. Dia akan berjihad jika polisi tidak berhasil menemukan Alam. Sejak markas Al Qiyadah di kawasan Simpang Haru, Padang digerebek warga banyak pengikut aliran ini yang hilang. "Hidup atau mati anak saya harus dikembalikan. Kalau pemerintah tidak melakukan ini, saya akan jihad sendiri," kata Zamzami.

Zamzami mengaku telah berusaha membujuk anaknya agar pulang ke rumah tapi tak pernah berhasil. Kali ini dia berharap suaranya bisa didengar sang anak. Sementara itu, Kapolri Jendral Sutanto mempersilakan para orang tua yang merasa kehilangan anggota keluarganya setelah menjadi pengikut Al Qiyadah segera melapor ke polisi agar bisa ditindaklanjuti.(IAN/Denni Risman dan Arset Kusnadi)

 

 

31/10/2007 22:48 Topik Minggu Ini

Kontroversi Al-Qiyadah

Liputan6.com, Jakarta: Nabi baru abad 21. Itulah klaim Ahmad Mushaddeq pimpinan Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang mengaku diutus ke bumi menggantikan Nabi Muhammad SAW. Tak hanya itu, Mushaddeq menetapkan doktrin baru. Pengikutnya tak diwajibkan sholat lima waktu, puasa, membayar zakat, dan naik haji.

Langkah Mushaddeq jelas mengundang kontroversi. Sesat dan menyesatkan itulah vonis yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia dan Kejaksaan Tinggi Jakarta. Penolakan muncul di sejumlah daerah. Bukan hanya polisi, sweeping atas pengikut Al-Qiyadah juga dilakukan organisasi masyarakat dan warga.

Dua hari lalu, Ahmad Mushaddeq bersama enam pengikutnya menyerahkan diri. Selain menyerahkan buku karangannya, nabi baru ini mengklaim punya lebih dari 40 ribu pengikut yang tersebar di sembilan kota. Pria yang tercatat pernah menjadi pengurus Persatuan Bulutangkis Indonesia ini mengaku mendapat wahyu di Gunung Bundar, Bogor, Jabar, enam tahun lalu. Kini Mushaddeq harus menghadapi tuduhan penodaan agama.

Kontroversi Al-Qiyadah terus bergulir. Beragam reaksi diungkapkan sejumlah pihak. Ketua MUI Ma'ruf Amin, aktivis Aliansi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan yang juga Direktur Eksekutif The Wahid Institute Ahmad Suaedy angkat bicara. Pengacara tim Pembela Muslim Mahendradatta dan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Ifdhal Kasim juga sumbang pendapat soal sepak terjang Mushaddeq dalam Topik Minggu Ini yang tayang di SCTV pada Rabu (31/10).

Kemunculan nabi baru di Indonesia bukan barang baru. Sebut saja Lia Eden yang baru bebas Selasa kemarin setelah dua tahun dipenjara. Atau Pendeta Mangapin Sibuea di Bandung yang juga mengaku rasul baru. mesiah lokal abad 21 ini bisa jadi fenomena gunung es problem keberagamaan di negeri ini. Ke depan, bisa jadi kasus serupa akan terus bermunculan. Saksikan selengkapnya di video Topik Minggu Ini edisi 31 Oktober 2007(TOZ/Topik Minggu Ini)

 

31/10/07 16:45

Al Qiyadah Dilarang di Jakarta

Jakarta (ANTARA News) - Ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah secara resmi dilarang penyebaran dan kegiatannya di seluruh wilayah DKI Jakarta karena sejumlah doktrinnya yang menyimpang dari ajaran Islam.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo usai rapat musyawarah pimpinan daerah (Muspida) di Balaikota Jakarta, Rabu, mengatakan pihaknya akan mengeluarkan peraturan gubernur yang melarang penyebaran dan kegiatan aliran tersebut.

"Peraturan gubernur itu akan dikeluarkan pada Rabu (31/10) hari ini yang isinya larangan dan penghentian penyebaran serta kegiatan aliran Al Qiyadah Al Islamiyah di wilayah Provinsi DKI Jakarta," katanya.

Ia menambahkan pelarangan aliran tersebut secara nasional akan dikeluarkan oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Latar belakang dikeluarkannya Pergub DKI itu setelah adanya pengkajian dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya.

Dalam kesempatan itu Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Herry Hermansyah mengatakan dasar penetapan dilarangnya penyebaran aliran itu berdasarkan kajian dari sejumlah pihak yang berwenang dan rapat di lingkungan kejaksaan.

"Ada tiga prinsip dari aliran itu yang menyimpang dari ajaran Islam yaitu mengubah syahadat, pimpinannya mengaku rasul dan menyatakan bahwa pengikutnya tidak diwajibkan melakukan sholat, puasa dan naik haji," kata Herry.

Ia menambahkan pimpinan aliran itu dapat dinyatakan melanggar hukum sesuai pasal 156 KUHPidana tentang penodaan agama dengan ancaman maksimal lima tahun penjara.

Sementara itu Kapolda Metro Jaya Irjen (Pol) Adang Firman memaparkan saat ini pimpinan aliran tersebut Abu Salam alias Ahmad Mushadiq telah ditetapkan sebagai tersangka sementara, sedangkan sejumlah pengikutnya masih dalam proses pemeriksaan.

"Ada yang ditahan, namun banyak pula yang sebetulnya tidak ditahan namun takut pulang sehingga berada di Mapolda," ujarnya.

Sedangkan Ketua MUI DKI Jakarta KH Munzir Tamam mengatakan motif para warga yang tertarik dengan aliran itu masih dikaji, ia tidak menutup kemungkinan juga karena iming-iming ekonomi.

"Untuk mencegah timbulnya aliran yang menyimpang dari ajaran Islam ini maka saya minta para Dai untuk secara jelas dan gamblang memaparkan agama Islam kepada masyarakat," ujarnya.

Munzir menambahkan, dari data yang dikumpulkan aparat keamanan, di wilayah DKI Jakarta setidaknya ada sekitar 1.500 hingga 4.000 orang yang ikut dalam ajaran itu, meski menurutnya masih perlu diteliti sejauh mana tingkat keikutsertaan para warga tersebut.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

 

01/11/07 21:39

Al Qiyadah Terkait Gagasan Ratu Adil

Jakarta (ANTARA News) - Munculnya aliran sesat semacam Al Qiyadah Al Islamiyah menurut Kepala Badan Litbang Depag Prof Dr Atho` Mudzhar, terkait kondisi terpuruknya ekonomi serta gagasan tentang ratu adil dan penyelamatan.

"Pengikutnya adalah orang-orang yang merasa kehilangan harapan ke depan sehingga kemunculan tokoh seperti Ahmad Mosadeq memang ditunggu-tunggu mereka," katanya di sela Diskusi "Living as Moslem in a Secular State" di Jakarta, Kamis malam.

Menurut dia, aliran yang telah difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu memang layak terkena pasal-pasal pidana sehingga diamankan aparat kepolisian karena telah menodai agama Islam.

"Al Qiyadah memang menodai Islam karena beranggapan bahwa Islam sudah hancur, Nabi Muhammad sudah selesai sehingga digantikan olehnya. Ini bisa dibaca dalam belasan halaman tanggapan Al Qiyadah terhadap fatwa MUI," katanya.

Al Qiyadah juga menganggap shalat dan puasa Ramadhan belum wajib terkait dengan tahapan yang masih dalam masa perjuangan di Mekah.

Enam tahap perjuangan Al Qiyadah, ujarnya, pertama perjuangan rahasia, perjuangan terang-terangan, hijrah, perang, futu (merebut) Mekah dan membangun Khilafah yang diramal akan terjadi pada 2024.

Selain penahanan terhadap tokohnya, pemerintah, ujar Atho`, juga akan membina pengikutnya.

Pembinaan Depag, lanjut dia, saat ini juga sudah dilakukan terhadap para tokoh Ahmadiyah dan saat ini sudah melewati dua kali pertemuan.

"Kami melihat ada kemajuan. Kepada mereka kami beri tujuh opsi, antara lain, dibubarkan dan kembali ke Islam yang benar, membuat agama sendiri atau beralih ke aliran kepercayaan atau madzhab, yang seluruhnya ada konsekuensinya," katanya.

Pembinaan juga telah dilakukan pada Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) atau sering disebut Islam jemaah, ujarnya.

"Hasilnya mereka telah berubah dan mereposisi teologinya. Misalnya lebih inklusif dan membiarkan mesjidnya digunakan oleh seluruh umat Islam serta tidak lagi memiliki imam. Mereka sekarang sudah seperti Islam yang benar," katanya.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

 

01/11/07 21:39

Al Qiyadah Terkait Gagasan Ratu Adil

Jakarta (ANTARA News) - Munculnya aliran sesat semacam Al Qiyadah Al Islamiyah menurut Kepala Badan Litbang Depag Prof Dr Atho` Mudzhar, terkait kondisi terpuruknya ekonomi serta gagasan tentang ratu adil dan penyelamatan.

"Pengikutnya adalah orang-orang yang merasa kehilangan harapan ke depan sehingga kemunculan tokoh seperti Ahmad Mosadeq memang ditunggu-tunggu mereka," katanya di sela Diskusi "Living as Moslem in a Secular State" di Jakarta, Kamis malam.

Menurut dia, aliran yang telah difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu memang layak terkena pasal-pasal pidana sehingga diamankan aparat kepolisian karena telah menodai agama Islam.

"Al Qiyadah memang menodai Islam karena beranggapan bahwa Islam sudah hancur, Nabi Muhammad sudah selesai sehingga digantikan olehnya. Ini bisa dibaca dalam belasan halaman tanggapan Al Qiyadah terhadap fatwa MUI," katanya.

Al Qiyadah juga menganggap shalat dan puasa Ramadhan belum wajib terkait dengan tahapan yang masih dalam masa perjuangan di Mekah.

Enam tahap perjuangan Al Qiyadah, ujarnya, pertama perjuangan rahasia, perjuangan terang-terangan, hijrah, perang, futu (merebut) Mekah dan membangun Khilafah yang diramal akan terjadi pada 2024.

Selain penahanan terhadap tokohnya, pemerintah, ujar Atho`, juga akan membina pengikutnya.

Pembinaan Depag, lanjut dia, saat ini juga sudah dilakukan terhadap para tokoh Ahmadiyah dan saat ini sudah melewati dua kali pertemuan.

"Kami melihat ada kemajuan. Kepada mereka kami beri tujuh opsi, antara lain, dibubarkan dan kembali ke Islam yang benar, membuat agama sendiri atau beralih ke aliran kepercayaan atau madzhab, yang seluruhnya ada konsekuensinya," katanya.

Pembinaan juga telah dilakukan pada Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) atau sering disebut Islam jemaah, ujarnya.

"Hasilnya mereka telah berubah dan mereposisi teologinya. Misalnya lebih inklusif dan membiarkan mesjidnya digunakan oleh seluruh umat Islam serta tidak lagi memiliki imam. Mereka sekarang sudah seperti Islam yang benar," katanya.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

 

24/10/07 15:07

PBNU Desak Pemerintah Tegas Terhadap Al Qiyadah Al Islamiyah

Jakarta (ANTARA News} - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak pemerintah segera menindak tegas aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, menangkap dan mengadili pendirinya sebelum timbul keresahan yang lebih besar di masyarakat.

"Pemerintah tidak boleh tinggal diam. Pemerintah harus segera menghentikan gerakan ini, usut dan tangkap pelakunya, termasuk siapa yang berada di belakang gerakan ini semua," kata Ketua Umum PBNU, KH Hasyim Muzadi, di Jakarta, Rabu.

Dikatakannya, pemerintah tidak perlu ragu untuk menghentikan aliran yang bisa merusak akidah masyarakat tersebut. Selanjutnya, perlu dilakukan penyadaran terhadap pengikut aliran yang telah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut.

Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah didirikan oleh Ahmad Moshaddeq alias H Salam sejak 23 Juli 2006. Ia mengaku, mendapat wahyu dari Allah dan mengaku sebagai Rasul menggantikan posisi Muhammad SAW setelah bertapa selama 40 hari 40 malam.

Kitab Suci yang digunakan adalah Al Quran, tetapi meninggalkan hadits dan menafsirkannya sendiri. Aliran itu juga mengajarkan Syahadat baru, yakni "Asyhadu alla ilaha illa Allah wa asyhadu anna Masih al-Mau`ud Rasul Allah", di mana umat yang tidak beriman kepada "al-Masih al-Mau`ud" berarti kafir dan bukan muslim.

Selain itu, aliran baru ini tidak mewajibkan shalat, puasa dan haji, karena pada abad ini masih dianggap tahap perkembangan Islam awal sebelum akhirnya terbentuk Khilafah Islamiyah. Aliran tersebut juga mengenal penebusan dosa dengan menyerahkan sejumlah uang kepada al-Masih al-Mau`ud.

"Siapa pun orangnya, kalau mengaku sebagai nabi adalah sesat, merusak dirinya sendiri dan orang lain," kata Hasyim, yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur, tersebut.

Ditanya pers mengenai kemungkinan ada pihak yang menolak dilakukannya penindakan terhadap aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah dengan alasan kebebasan beragama dan berkeyakinan, Hasyim yang juga Presiden Konferensi Dunia Agama-agama untuk Perdamaian (WCRP) itu secara tegas menyatakan, alasan itu sangat tidak tepat.

"Itu tidak bisa disebut kebebasan beragama," katanya.

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah sesat. Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma`ruf Amin, menegaskan bahwa aliran ini berada di luar Islam, dan orang yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari ajaran Islam).

"Bagi mereka yang sudah telanjur mengikutinya diminta bertobat dan segera kembali kepada ajaran Islam yang sejalan dengan Quran dan hadits," katanya.

MUI juga mendesak pemerintah melarang penyebaran paham baru tersebut serta menindak tegas pemimpinnya. Aliran tersebut telah terbukti menodai dan mencemari ajaran Islam karena mengajarkan sesuatu yang menyimpang dengan mengatasnamakan Islam.

Dakwah aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah itu, kata Maruf, cukup mengkhawatirkan karena telah menyebar ke beberapa provinsi, antara lain di Jawa Barat, Jakarta, Yogyakarta, dan tercatat ribuan orang mengikuti dakwahnya. (*)

Copyright © 2007 ANTARA

 

27/10/07 23:50

Pemerintah Perlu Bentuk Tim Kaji Al-Qiyadah

Banda Aceh (ANTARA News) - Pemerintah bersama lembaga terkait diminta untuk membentuk tim khusus, guna mengkaji kegiatan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah agar bisa didapat konklusi apa penyimpangan yang dilakukan aliran tersebut.

"Saya kira pemerintah perlu segera membentuk tim khusus untuk mengkaji kegiatan yang dilakukan aliran tersebut, sehingga nantinya akan ditemukan penyimpangannya," kata pakar agama Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) HA Hamid Sarong di Banda Aceh, Sabtu.

Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah dinyatakan sebagai aliran sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena dinilai berbeda dalam kalimah syahdat dan tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir.

Hamid Sarong yang juga dekan Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry Provinsi NAD itu mengatakan, tim yang diharapkan dibentuk Pemerintah tersebut dinilai dapat membantu menemukan aspek-aspek yang mungkin bertentangan dengan ajaran Islam.

Pembentukan tim khusus itu bertujuan untuk mengkaji berbagai aspek yang dilakukan jamaah aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, terutama mengenai praktik-praktik ibadah yang tidak lazim dilaksanakan umat Islam seluruh dunia.

Melalui tim ini diharapkan persoalan kesalahpahaman mengenai keagamaan seperti yang dilakukan sebagian masyarakat dapat dihindari dan ke depan semuanya akan sesuai dengan perintah Al-Quran dan Hadits Rasulullah SAW.

"Oleh karena itu, saya mengharapkan Pemerintah lebih serius memperhatikan ihwal pendidikan keagamaan di dalam kehidupan masyarakat, sehingga dapat dihindari salah tafsir dan salah paham mengenai ajaran agama," katanya.

Seandainya ulama dan umara (Pemerintah) bekerja sama mendeteksi sejak dini masalah keagamaan yang dihadapi masyarakat, tentu penyimpangan seperti dilakukan aliran itu dapat dihindari sebelum "terperosok" lebih dalam.

Hamid Sarong menyarankan untuk meningkatkan pendidikan keagamaan masyarakat di masa mendatang, sehingga ke depan dapat dihindari kesalahpahaman krusial seperti yang terjadi di sebagian masyarakat negeri ini.

Pemerintah mengetahui tentang kedangkalan ajaran agama dalam masyarakat, namun aksinya baru sebatas wacana dan belum menjadi program prioritas seperti pembangunan fisik yang serius dilaksanakan selama ini.

"Sudah waktunya Pemerintah dan ulama serius memprioritaskan langkah-langkah ke depan, terutama untuk menghindari bertambah parahnya kedangkalan ajaran agama dalam masyarakat kita di masa mendatang," katanya.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

 

27/10/07 23:50

Pemerintah Perlu Bentuk Tim Kaji Al-Qiyadah

Banda Aceh (ANTARA News) - Pemerintah bersama lembaga terkait diminta untuk membentuk tim khusus, guna mengkaji kegiatan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah agar bisa didapat konklusi apa penyimpangan yang dilakukan aliran tersebut.

"Saya kira pemerintah perlu segera membentuk tim khusus untuk mengkaji kegiatan yang dilakukan aliran tersebut, sehingga nantinya akan ditemukan penyimpangannya," kata pakar agama Islam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) HA Hamid Sarong di Banda Aceh, Sabtu.

Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah dinyatakan sebagai aliran sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena dinilai berbeda dalam kalimah syahdat dan tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir.

Hamid Sarong yang juga dekan Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry Provinsi NAD itu mengatakan, tim yang diharapkan dibentuk Pemerintah tersebut dinilai dapat membantu menemukan aspek-aspek yang mungkin bertentangan dengan ajaran Islam.

Pembentukan tim khusus itu bertujuan untuk mengkaji berbagai aspek yang dilakukan jamaah aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, terutama mengenai praktik-praktik ibadah yang tidak lazim dilaksanakan umat Islam seluruh dunia.

Melalui tim ini diharapkan persoalan kesalahpahaman mengenai keagamaan seperti yang dilakukan sebagian masyarakat dapat dihindari dan ke depan semuanya akan sesuai dengan perintah Al-Quran dan Hadits Rasulullah SAW.

"Oleh karena itu, saya mengharapkan Pemerintah lebih serius memperhatikan ihwal pendidikan keagamaan di dalam kehidupan masyarakat, sehingga dapat dihindari salah tafsir dan salah paham mengenai ajaran agama," katanya.

Seandainya ulama dan umara (Pemerintah) bekerja sama mendeteksi sejak dini masalah keagamaan yang dihadapi masyarakat, tentu penyimpangan seperti dilakukan aliran itu dapat dihindari sebelum "terperosok" lebih dalam.

Hamid Sarong menyarankan untuk meningkatkan pendidikan keagamaan masyarakat di masa mendatang, sehingga ke depan dapat dihindari kesalahpahaman krusial seperti yang terjadi di sebagian masyarakat negeri ini.

Pemerintah mengetahui tentang kedangkalan ajaran agama dalam masyarakat, namun aksinya baru sebatas wacana dan belum menjadi program prioritas seperti pembangunan fisik yang serius dilaksanakan selama ini.

"Sudah waktunya Pemerintah dan ulama serius memprioritaskan langkah-langkah ke depan, terutama untuk menghindari bertambah parahnya kedangkalan ajaran agama dalam masyarakat kita di masa mendatang," katanya.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

 

30/10/07 12:47

Pimpinan Al Qiyadah Serahkan Diri

Jakarta (ANTARA News) - Pimpinan aliran Al Qiyadah Al Islamiyah, Ahmad Mushaddeq, berserta enam pengikutnya Senin malam (29/10) menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya, kata Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Adang Firman.

Mushaddeq dan para pengikutnya itu kini masih menjalani pemeriksaan intensif di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, katanya di Jakarta, Selasa.

"Dia dan pengikutnya mendatangi Mapolda Metro Jaya untuk menyerahkan diri tadi malam (Senin, red) sekitar pukul 19.30 WIB," katanya.

Ia mengatakan, penyidik belum menetapkan mereka sebagai tersangka kasus penistaan agama atau tindak pidana lain , sebab polisi masih mencari keterangan atau alat bukti yang kuat.

Menurut Kapolda Metro Jaya, polisi telah menyita sejumlah barang bukti antara lain empat buku tulisan Mushaddeq, rekaman dan gambar-gambar berisi ajaran aliran itu.

Dikatakannya, Mushaddeq menyerahkan diri setelah melihat reaksi umat Islam dari berbagai media massa yang merasa terganggu dengan aliran itu.

Dengan penyerahan diri itu, Kapolda Metro Jaya meminta masyarakat untuk tidak melakukan tindakan main hakim sendiri terhadap pengikut aliran Al Qiyadah.

"Kalau tetap main hakim sendiri maka bisa jadi nanti malah akan menimbulkan persoalan hukum yang baru," katanya menegaskan.

Selain memeriksa Mushaddeg, Polda Metro Jaya juga telah memeriksa isterinya terkait dengan aliran itu.

Sejumlah umat Islam di Jawa Barat dan Jakarta telah merasa terganggu dengan munculnya aliran ini sebab dinilai menyimpang dari ajaran agama Islam.

MUI, Tangkap

Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar telah meminta agar aparat kepolisian segera menangkap pimpinan Al Qiyadah yang telah mencemaskan, dan menyesatkan umat Islam.

Sebelumnya, sekitar 100 orang anggota Front Pemuda Islam (FPI) Jawa Barat berunjuk rasa ke DPRD Jawa Barat, mendesak penegak hukum agar pimpinan Al Qiyadah, Ahmad Moshaddeq dihukum mati sesuai Syariat Islam.

Kapolri Jenderal Polisi Sutanto sebelumnya juga meminta aparatnya untuk mencari Mushaddeq dan para tokoh-tokoh Al Qiyadah.

Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah didirikan Ahmad Mushaddeq setelah mengaku mendapatkan wahyu untuk menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW.

Dalam ajarannya, pengikut aliran ini tidak mewajibkan melaksanakan salat, ibadah puasa, dan menunaikan ibadah haji.(*)

Copyright © 2007 ANTARA

 

Larangan bagi aliran AL Qiyadah Al Islamiyah

Setelah fatwa dari Majelis Ulama Indonesia, aliran Al Qiyadah Al Islamiyah akhirnya dilarang di wilayah Jakarta. Kejaksaan Tinggi DKI, menganggap ajarannya menyimpang dari agama Islam. Selain ancaman penjara, atas pasal penodaan agama para pengikutnya juga dikhawatirkan menjadi korban kekerasan dari kelompok kelompok tertentu.

Kejaksaan Tinggi Jakarta melarang aliran  Al Qiyadah Al Islamiyah di wilayah Jakarta,  setelah menemukan sejumlah ajaran kelompok ini, menyimpang dari ajaran Islam. Keputusan ini  sekaligus mengukuhkan fatwa sesat yang dikeluarkan  Majelis Ulama Indonesia sebelumnya, terhadap kelompok pimpinan Ahmad al Mossadeg ini. Kepala Kejaksaan Tinggi Jakarta, Harry Hermansyah menyatakan   dengan keluarnya  larangan  ini maka, para pengikutnya  di wilayah Jakarta,  bisa ditangkap polisi  dan dikenakan pasal  penodaan agama.  Harry Hermansyah menjelaskan soal ajaran yang dianggap sesat tersebut. 

 “Ajaran ini sesat dan menyesatkan karena adanya syadat baru yang berbunyi, ashadu Allah ilaa hailaah wa asyhadu anna al masih almaut rasulullah.  Dia mengaku sebagai  rasul baru setelah nabi,  setelah  dia semacam tirakat  40 hari di gunung bundar. Kemudian, yang ketiga dia juga mengajarkan,    belum mewajibkan shalat, puasa dan haji karena belum ada perintah dari Allah”

Keputusan ini dikeluarkan  di tengah  maraknya ancaman kekerasan  dari sejumlah kelompok  terhadap para pengikut aliran al qiyadah di sejumlah daerah.    Tetapi Kejaksaan Tinggi DKI sejauh ini meyakinkan  bahwa larangan tegas ini   justru  dikeluarkan  untuk mencegah pengikut aliran Al Qiyadah menjadi korban  tindak kekerasan. Kejaksaan  Tinggi juga menyatakan telah berkoordinasi  dengan kepolisian untuk mencegah aksi anarkis menyusul larangan ini.

Meski demikian, anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Yoseph Adi Prasetyo, masih mengkhawatirkan   potensi kekerasan, yang  dipicu  larangan ini  mengingat sosialiasasi yang dilakukan pemerintah terutama di tingkat bawah, masih sangat minim. Ia merujuk, kegegalan pemerintah mencegah tindak kekerasan yang  menimpa  para pengikut  Ahmadiyah di Jawa Barat dan Lombok, setelah ajaran mereka dianggap sesat.  “Bisa dengan fatwa ini justru  massa di bawah anarkis, karena massa di bawah menunggu, orang ini sesat atau tidak, berdasarkan dalil agama, tapi begitu muncul fatwa   ya sudah darahnya halal, itu yang terjadi di kelompok akar rumput.  Menurut saya ini yang harus dicegah dari Jakarta belum ada laporan tapi kami memantau, memang mulai  terjadi keresahan, upaya-upaya melakukan penyerangan sedang dilakukan sekarang, menghimpun semua kekuatan.    Kasus yang mendahului ya yang terjadi  di Padang  detik-detik sekaramg ini bisa terjadi seketika setelah diumumkan penyesatan ini  mengingat  mengingat potensi kekerasan kan begitu tinggi sekarang.”

Ancaman kekerasan terhadap pengikut Al Qiyadah itu, begitu nyata, menyusul    sejumlah laporan yang menyebutkan, banyaknya  kasus pelanggaran HAM yang menimpa    para  pengikut  aliran Al Qiyadah di Padang Sumatera Barat.  Sementara, di Bandung Jawa Barat,   kelompok, Front  Pembela Islam berunjuk rasa ke gedung parlemen  untuk mendesak  agar pimpinan  Al Qiyadah di hukum mati.   Ribuan pengikut aliran Al Qiyadah Al Islamiyah  tersebar di sejumlah daerah,  namun   aliran ini  baru dilarang di  wilayah  Jakarta.   Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan putusan Kejati Jakarta ini  akan  digunakan oleh Kejaksaan Agung untuk melarang  aliran ini  secara  nasional dengan  meminta persetujuan presiden.

Zaki Amrullah

 

 

MUI: Ada 9 Aliran Sesat

03 Nov 2007

Majelis Ulama Indonesia menyatakan telah mengeluarkan daftar sembilan aliran kepercayaan yang dianggap menyesatkan.

“Kami mengeluarkan sudah lama, sejak 1989,” kata Ketua MUI Ihwan Syam dalam jumpa pers di kantor Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jumat (2/11)

. Sembilan aliran yang dianggap menyesatkan itu antara lain Islam Jamaah, Ahmadiyah, Ikrar Sunah, Qur'an Suci, Sholat Dua Bahasa, dan Lia Eden. Selain aliran yang bergerak di level nasional, lanjut Ihwan, masih banyak yang bergerak di tingkat lokal.

Wakil Presiden, kata Ihwan, bertanya kepada MUI mengapa aliran-aliran yang dianggap sesat terjadi berulang-ulang.

Ihwan meminta pengawas aliran kepercayaan masyarakat, Kejaksaan Agung, lebih proaktif mengkaji kemungkinan-kemungkinan munculnya aliran sesat. “Supaya ada pekerjaan intelijennya, diamati karena (aliran sesat) tidak muncul dengan dengan tiba-tiba,” kata Ihwan.

Dalam kesempatan itu Ketua Komisi Fatwa MUI Ma'ruf Amin menjelaskan bahwa Al Qiyadah dianggap menyesatkan karena telah menyimpang dari paham yang sudah disepakati oleh seluruh ulama.

Menurut ajaran Islam, kata dia, tidak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad SAW. “Begitu Nabi Muhammad, stop. Sekarang ada rasul lagi, itu SK (surat keputusan)nya sudah nggak ada,” kaat Ma'ruf disambut tawa wartawan.

Penyimpangan aliran, kata Ma'ruf, berbeda dengan perbedaan pendapat. Menurutnya, masyarakat bingung antara perbedaan pendapat dan penyimpangan. Karenanya masalah-masalah seperti ini akan dirumuskan dalam rapat kerja nasional Majelis yang akan dimulai pada 5 November nanti.

Menurut Ma'ruf, Kalla juga mengharapkan majelis untuk menyoroti dakwah lebih khusus. “Jangan sampai banyak aliran yang menyimpang. Para ulama juga diminta untuk berinstrospeksi kenapa ada aliran sesat itu,” kata Ma'ruf.

penulis : Fanny Febiana.

referensi : tempo interaktif

 

 

14 Tahun Lalu MUI Sudah Berfatwa tentang Aliran Sesat

30 Oct 2007

Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya di Jakarta 14 tahun yang lalu telah mengeluarkan fatwa tentang aliran sesat dan menyesatkan. Jika diterapkan menghadapi maraknya aliran Alqiyadah, sudah otomatis aliran tersebut mesti dilarang.

Langkah MUI itu tepatnya dilakukan dalam sidang Majelis Ulama Indonesia tanggal 16 Ramadhan 1403 H, bertepatan dengan tanggal 27 Juni 1983 M. Dalam fatwanya MUI menyatakan:

1. Aliran yang tidak mempercayai hadis Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum syari'at Islam, adalah sesat menyesatkan dan berada di luar agama Islam.

2. Kepada rnereka yang secara sadar atau tidak, telah mengikuti aliran tersebut. agar segera bertaubat.

3. Menyerukan kepada ummat Islam untuk tidak terpengaruh dengan aliran yang sesat itu.

4. Mengharapkan kepada para Ulama untuk memberikan bimbingan dan petunjuk bagi mereka yang ingin bertaubat.

5. Meminta dengan sangat kepada pemerintah agar mengambil tindakan tegas berupa larangan terhadap aliran yang tidak mempercayai Hadits Nabi Muhammad SAW sebagai sumber Syari'at Islam

penulis : hmsb

referensi : Infokom MUI

 

 

Depag Teliti Al-Qiyadah Al-Islamiyah

26 Oct 2007

Membuat ajaran yang menyimpang dari Alquran dan Hadits dengan mencatut nama Islam, aliran Al Qiyadah Al-Islamiyah dianggap melakukan penodaan agama dan dinilai sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Departemen Agama pun membentuk tim kecil untuk meneliti kelompok yang melakukan penyimpangan akidah itu.

Al-Qiyadah Al-Islamiyah antara lain membuat syahadat tanpa mengakui kerasulan Nabi Muhammad SAW. Menanggapi hal ini, Dirjen Bimas Islam Depag, Prof Dr Nasaruddin Umar, menyatakan, kalau memang ada kalimat syahadat yang diganti, sudah pasti sebuah masalah yang jelas-jelas merupakan penyimpangan akidah.

''Kita berpatokan pada fatwa MUI. Tapi supaya lebih valid dan objektif, kami membuat satu tim kecil untuk mendalaminya karena pemerintah tidak boleh gegabah. Kita perlu tahu kegiatan mereka yang sesungguhnya seperti apa wujudnya,'' tutur Nasarudin yang juga Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Alquran Jakarta, kepada wartawan, Kamis (25/10).

Tim kecil itu akan bekerja selama tiga hari. Senin pekan depan ditargetkan selesai bertugas, lalu memberi laporan kepada Menteri Agama. ''Hasil dari penelitian tim akan menjadi acuan untuk Departemen Agama membuat rekomendasi yang diteruskan ke Kejaksaan Agung dan kepolisian,'' kata Nasarudin.

Rasul baru

Ahmad Mushaddeq alias Haji Salam, sebagai pimpinan ajaran itu, bahkan mengaku sebagai rasul baru sejak 23 Juli 2006. Yaitu, setelah dia bertapa di Gunung Bunder, Bogor, selama 40 hari 40 malam.

Dia lalu mengajarkan syahadat berbunyi ''Asyahadu An La Ilaha 'Ala Allah, Wa Asyahadu Anna Masih Al Mau'ud Rasul Allah'' (Saya Bersaksi bahwa Tiada Tuhan kepada Allah dan Saya Bersaksi bahwa Masih Al-Mau'ud sebagai Rasul Allah).

Fatwa MUI Nomor 04 tertanggal 3 Oktober 2007, menyatakan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah sesat. Menurut Ketua Komisi Fatwa MUI, Anwar Ibrahim, keputusan itu lahir setelah membuktikan ajaran itu menodai dan mencemari agama Islam.

Untuk mencegah meluasnya penyebaran ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, MUI terus melakukan sosialisasi kepada para ulama dan masyarakat hingga tingkat bawah. MUI pun berkoordinasi dengan kepolisian untuk secara hukum mencegah kegiatan yang menyesatkan masyarakat tersebut.

Tindakan tegas polisi diperlukan agar masyarakat tidak bertindak main hakim sendiri. Bila terjadi anarki, MUI pula yang akan dipersalahkan sebagai penghasut. Selama ini, misalnya, kaum liberal getol membela perusak citra Islam, dengan menyerang balik MUI atas nama HAM.

''Kami tetap mengimbau kepada masyarakat agar tetap bisa mempercayakan proses hukumnya kepada pihak kepolisian,'' kata Utang Ranuwijaya, ketua Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI, kemarin. Sejumlah warga Muslim di sekitar Bogor dan Jakarta juga melaporkan aliran itu dengan tuduhan melakukan penodaan agama. Tapi pengajian Al-Qiyadah masih tetap berlangsung, seperti Selasa (23/10) malam di sebuah hotel di Jakarta.

''Jadi sekarang tinggal menunggu ketegasan dan action dari polisi,'' tandas Utang.

penulis : dam/ade

referensi : Republika

 

 

Penggerebekan Ormas

Geger Nabi Gunung Bunder

Penghuni ruko tiga lantai di Jalan Dr. Sutomo Nomor 12, Padang, itu Selasa pekan lalu tampak gelagapan. Tiba-tiba saja sekitar pukul 08.00, ratusan massa dari berbagai organisasi pemuda Islam dan Minangkabau mengepung kediaman mereka.

Massa bukan mau menutup Sanggar Senam Alifia Gymnastic dan Warung Internet JZ Net di situ. Melainkan menuntut ajaran Alqiyadah Al-Islamiyah dibubarkan dan markasnya di ruko kawasan Simpang Aru, Padang Timur, itu ditutup. Mereka mendesak polisi agar pimpinan Alqiyadah, Dedi Priyadi, 44 tahun, dan pengikutnya ditangkap.

Alqiyadah dituding menyebarkan ajaran sesat dan menghina Nabi Muhammad SAW. "Jika polisi tak menangkapnya, kami akan bertindak sendiri," teriak M. Siddiq, pemimpin massa, yang kemudian bergerak ke kantor PT Usba di Jalan Veteran. Perusahaan ini dicurigai berada di belakang Alqiyadah Padang.

Kepala Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Padang, Komisaris Besar Tri Agus Heru Prasetyo, cepat bergerak. Agus mengerahkan sejumlah anggotanya merangsek masuk dan menggiring Dedi Pryadi serta 12 anggotanya ke markas poltabes. Pekarangan ruko itu pun dipasangi police line.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat memang memantau gerak-gerik pengikut Alqiyadah sejak dibawa seorang pemuda bernama Herry Mulyadi ke Ranah Minang pada 2004. MUI bahkan mendapatkan sejumlah buku dan tulisan seputar ajaran Alqiyadah, termasuk daftar anggotanya yang berjumlah sekitar 400 orang.

Buku pegangan Alqiyadah adalah tafsir Al-Quran bernama Tafsir Wa Takwil, yang diterjemahkan sesuai dengan selera penganjurnya. Kemudian buku putih Alqiyadah terbitan 20 Februari 2007, bertajuk Ruh Kudus yang Turun Kepada Almasih Mau'ud, yang dipercaya sebagai nabi mereka. Buku itu diberi pengantar oleh Micheil Muchaddas, yang diduga sebagai Almasih Mau'ud.

Berdasarkan observasi dan kajian atas buku-buku tersebut, akhirnya, 24 September lalu, MUI Sumatera Barat menerbitkan fatwa tentang sembilan butir kesesatan Alqiyadah. Antara lain, menolak sunatullah atau hadis Nabi dan kenabian Muhammad SAW.

Mereka menolak kenabian Muhammad SAW karena, katanya, kenabiannya sudah berakhir sejak ia meninggal. Hadisnya pun tidak dipercaya karena dirawikan setelah 320 tahun kemudian. Lalu mereka mengangkat nabi sendiri bernama Almasih Mau'ud, yang dideklarasikan pada 23 Juli 2006 di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat.

Syahadat mereka pun diganti menjadi "asyhadu alla ilaha illallah wa asyahadu anna Masihal Mau'udar Rasulullah". Pengikutnya dilarang menunaikan salat lima waktu. Mereka cuma melakukan salat satu kali di malam hari yang disebut qiyamullail. Umat Islam selain pengikut Alqiyadah dianggap musyrik dan najis yang wajib diperangi.

Menurut Buya H. Gusrizal Gazahar, dari beberapa penyimpangan penafsiran Al-Quran dan buku Ruh Kudus itu terbukti, Alqiyadah mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran Yesus Kristus sebagaimana dipercaya pengikut Injil. Ketua Komisi Fatwa MUI Sumatera Barat itu juga mengingatkan bahwa ajaran Alqiyadah menyebarkan gerakan yang berpotensi memecah belah umat dan bangsa.

Gusrizal mensinyalir, gerakan mereka di Sumatera Barat masih dalam tahap rahasia, merayu mahasiswa dan kalangan muda melalui pengajian Al-Quran. Selain di Padang, pengikutnya diduga sudah menyebar di Kabupaten Padang Pariaman dan Pesisir Selatan.

"Kami minta kepolisian mengusut penganjur ajaran ini. Cukup bukti mereka telah melakukan penodaan terhadap agama, terutama Islam," ujar Buya Gusrizal kepada Gatra. Dedi Priyadi mengaku kepada polisi bahwa jamaahnya tak mengakui kenabian Muhammad SAW dan tidak percaya hadis-hadis Muhammad. "Hadis itu tak dapat dipercaya karena baru dirawikan 320 tahun setelah Muhammad meninggal," katanya.

Namun polisi hati-hati. Setelah diperiksa hingga sore, Dedi Priyadi dan pengikutnya dikenai wajib lapor. Sambil terus melakukan pemeriksaan dan mengumpulkan bukti, polisi menunggu hasil rapat Tim Pengendali Ajaran Agama dan Aliran Kepercayaan Masyarakat, yang akan bersidang Jumat pekan lalu.

Menurut Kapoltabes Padang, Komisaris Besar Drs. Tri Agus Heru Prasetyo, aktivitas pengikut Alqiyadah kini dalam pengawasan polisi. Markasnya disegel. "Semua pihak supaya sabar menunggu hasil pengusutan polisi," ujar Heru.

Fachrul Rasyid HF (Padang)

[Hukum, Gatra Edisi Khusus Beredar Kamis, 11 Oktober 2007]

 

 

 

Kasus Pengikut ”Alquran Suci”, Polda Turunkan Tim

BANDUNG, (PR).-

Kapolda Jabar Irjen Pol. Sunarko Danu Ardanto mengatakan, untuk mencari keberadaan pengikut aliran Alquran Suci yang dikabarkan menghilang, Polda Jabar telah menurunkan anggotanya. "Dalam hal ini, kami turut mem-back up apa yang dilakukan oleh Polwiltabes dan Polres. Anggota kami juga ada yang turun ke lapangan untuk mencari informasi tentang keberadaan mereka," ujar Kapolda di Bandung, Kamis (25/10).

Langkah lainnya adalah tetap berkomunikasi dengan pihak keluarga serta orang-orang yang dekat dan mengenal korban. "Kami juga sudah menyebar identitas serta foto mereka yang hilang, ke seluruh jajaran setingkat polres di wilayah hukum Polda Jabar. Mudah-mudahan ini dapat membantu," katanya.

Sementara di Cirebon, Kepolisian Kab. Cirebon mulai menyelidiki dugaan aliran sesat di balik hilangnya Tufatul Maulidia alias Lidia alias Ifet (20), gadis warga Desa Mertapada Kulon, Kec. Astanajapura (Asjap), Kab Cirebon. Karena baru sebatas indikasi, penyelidikan dilakukan amat hati-hati, karena terkait hal yang cukup peka di masyarakat.

Kapolres Cirebon AKBP Drs. Syamsul Bahri mengemukakan, pihaknya akan mengumpulkan keterangan dari para saksi, terutama pihak keluarga Lidia. "Kami sebisa mungkin juga mencari kemungkinan adanya bukti-bukti. Sejauh ini sifatnya masih indikasi, bahkan kami baru sebatas menerima informasi. Kami akan menyelidiki sejauh mana kebenarannya," tuturnya.

Diberitakan "PR" sebelumnya, Lidia alias Ifet kabur dari rumah, diduga ikut "hijrah” ke kelompok aliran sesat. Pihak orang tua curiga, sebab saat meninggalkan rumah, Lidia pergi secara baik-baik dan pamit mau ambil nilai di tempatnya belajar di Pondok Pesantren (Pontren) "An Naser" Kel. Kaliwadas, Kec Sumber, Kab Cirebon.

Abdulah Ahyadi (70), orang tua Lidia mengemukakan dugaan, putri kedelapannya itu kabur bersama kelompok sesat. Ini dikuatkan dengan adanya SMS yang dikirimkan Lidia kepada saudaranya. Isi pesan adalah ucapan selamat Lebaran dan meminta orang tuanya tidak usah mengkhawatirkan dirinya.

Tanda-tanda lain, sebelum meninggalkan rumah, ada sedikit perubahan perilaku pada gadis kelahiran 11 September 1987 itu, dari gadis manja menjadi pendiam dan penyendiri.

Namun, Kapolsek Asjap AKP Wahyudi mengemukakan versi lain soal misteri di balik hilangnya Lidia. Dituturkan, Lidia pergi dari rumah bersama pacarnya karena hubungan percintaan mereka tidak disetujui pihak keluarga.

Abdulah Ahyadi (70) membantah penilaian Wahyudi. Dia mengatakan, anak ke-8 dari sembilan bersaudara itu memang punya teman lelaki yang diakrabinya. Hanya, saat Lidia kabur, si lelaki itu tidak tahu-menahu.

Bukan kewenangan

Mengenai penilaian masyarakat tentang ajaran Alquran Suci yang katanya sesat, Kapolda enggan berkomentar banyak. "Wewenang kami sebatas mencari keberadaan korban. Kalau soal itu (ajaran sesat-red.), itu bukan wilayah kami. Itu wewenang MUI," tuturnya.

Hal senada diungkapkan Direktur Reserse Kriminal (Direskrim) Polda Jabar Kombes Pol. Tatang Somantri. "Wewenang kami jika sudah ada tindak pidana yang dilakukan oleh aliran tersebut. Apakah itu penganiayaan, penculikan atau tindak pidana lainnya. Selama belum ada laporan kepada kami soal itu, kami tidak berwenang mengambil langkah apa pun," ujarnya.

Investigasi

Ketua Umum Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) K.H. Athian Ali Dai mengatakan, dalam sebulan terakhir Tim Investigasi Aliran Sesat (TIAS) FUUI sudah terjun untuk melakukan investigasi. “Hampir setiap hari FUUI menerima laporan dari masyarakat soal anaknya yang hilang atau perubahan akhlak anaknya yang tak mau beribadah,” katanya.

Dengan munculnya kasus Alquran Suci, menurut Kiai Athian, masyarakat umumnya menghubungkan kehilangan anaknya dengan aliran tersebut. “Padahal, belum tentu anak hilang berkaitan dengan Alquran Suci meski bisa saja ada hubungannya. Kita terus telusuri masalah ini,” katanya.

Dengan adanya kasus Ria di Majalengka, menurut Kiai Athian, TIAS FUUI sedang mengonsentrasikan ke sana sehingga bisa mengungkap Alquran Suci. ”Kesulitan kita, belum ada korban Alquran Suci yang mau melapor,” katanya.

Kesulitan lainnya adalah adanya 250 aliran di Jawa Barat yang sebagian merupakan aliran sesat atau menyimpang dari ajaran Islam. ”Dari motif, aliran sesat juga bermacam-macam, bisa untuk kepentingan kelompok tertentu, kepentingan politik, sampai pengumpulan harta benda,” katanya.

FUUI, kata Kiai Athian, belum mengeluarkan fatwa resmi soal kesesatan Alquran Suci, namun pahamnya sudah terendus. ”Kalau Alquran Suci mengingkari hadis nabi, maka termasuk sesat,” katanya.

Sedangkan Ketua Umum MUI Jabar K.H. Hafizh Utsman mengatakan, wilayah Jawa Barat menjadi lahan subur berkembangnya penyimpangan ajaran Islam berupa aliran sesat. “Saat ini di Jawa Barat berkembang aliran Alqiyadah Al-Islamiyah dan Alquran Suci. Sudah banyak laporan yang masuk ke MUI Jabar dari MUI kabupaten/kota soal gerakan Alqiyadah dan Alquran Suci ini baik dari Cirebon, Indramayu, Bogor, Cianjur, dan daerah lainnya,” katanya saat silaturahmi Idulfitri di Bale Asri Pusdai Jabar, Kamis (25/10).

Kiai Hafizh meminta para pengurus MUI Jabar ataupun MUI kabupaten/kota untuk memantau dan mewaspadai berkembangnya penyimpangan ajaran Islam tersebut. “Apalagi wilayah Jawa Barat sering dijadikan markas atau pusat kegiatan, padahal penggeraknya orang-orang Jakarta. Seperti Alqiyadah Al-Islamiyah di Bogor dengan pimpinannya dari Jakarta,” ucapnya.

MUI pusat, kata Kiai Hafizh, sudah mengeluarkan fatwa sesat kepada Alqiyadah Al-Islamiyah karena mengangkat nabi baru. ”Sedangkan Alquran Suci bisa dinilai menyesatkan karena mengingkari adanya sunah atau hadis Nabi Muhammad atau faham ingkarussunnah,” katanya. (A-71/A-93/A-128/A-153)***

 

Polres Cilacap Terus Cari Anggota Al Qiyadah

Penulis: Liliek Dharmawan (Media Indonesia)

CILACAP--MEDIA: Polres Cilacap, Jawa Tengah, terus mengembangkan pencarian terhadap para anggota Al Qiyadah Al Islamiyah yang ada di wilayah tersebut.

Sejauh ini, tiga tokoh aliran sesat di Cilacap sudah diperiksa dan dikenai wajib lapor seminggu dua kali. Polres juga meminta kepada RT, RW dan desa untuk melakukan pemantauan terhadap aliran tersebut.

"Ada tiga tokoh Al Qiyadah yang sudah kita periksa. Mereka kita kenakan wajib lapor setiap pekan dua kali yakni Senin dan Kamis. Kita juga telah minta agar ajaran tersebut dihentikan karena merupakan aliran sesat. Wilayah yang paling banyak pengikutnya adalah Kecamatan Cilacap Selatan. Selain itu juga kecamatan lainnya, yakni Kesugihan, yang saat sekarang baru kita telusuri," kata Kapolres Cilacap Ajun Komisaris Besar W Wira Wijaya, Rabu (31/10).

Polres Cilacap juga akan mengadakan pertemuan dengan tokoh agama dan MUI stempat untuk membahas masalah ini.

"Prinsip yang dilakukan Polres Cilacap yakni masih melakukan tindakan persuasif dan menghindarkan tindakan anarkis. Jangan sampai hal itu terjadi. Makanya kita akan membahas dengan tokoh-tokoh agama dan MUI, salah satunya untuk meredam kemarahan warga," jelasnya.

Tiga tokoh Al-Qiyadah yang telah diperiksa dan dikenai wajib lapor oleh kepolisian setempat adalah Surip Maryono, Edi Sutarno dan Yudi. Ketiganya adalah warga Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan. Mereka ditangkap karena mengikuti aliran Al-Qiyadah dan saat ini di Cilacap diperkirakan ada 200 orang pengikut aliran tersebut. (LD/OL-03)

 

Al Qiyadah Al Islamiyah Dinyatakan Aliran Sesat

05 Oct 2007

Umat Islam Indonesia diminta untuk mewaspadai penyebaran aliran Al Qiyadah al Islamiyah. Aliran itu telah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) lantaran mengingkari ajaran pokok Islam sebagaimana yang telah dibawakan Nabi Muhammad SAW.

''Hasil verifikasi dan investigasi Komisi Pengkajian MUI, aliran ini memang sesat dan menyesatkan,'' ujar Ketua MUI, KH Ma'ruf Amin, saat menjelaskan keputusan Majelis Fatwa MUI di Jakarta, Kamis (4/10). Saat memberikan keterangan, Ma'ruf didampingi oleh Sekretaris Umum MUI, Ichwan Sam. Keputusan Komisi Fatwa MUI itu tertuang dalam keputusan nomor 4 Tahun 2007 yang dikeluarkan 3 Oktober 2007. Menurut Ma'ruf, aliran al Qiyadah itu sudah menyebar ke berbagai kota besar di Indonesia. Karena itu, masalah ini sudah dianggap sebagai persoalan nasional yang mesti segera ditindaklanjuti oleh pemerintah.

Sesuai dengan Keputusannya, Ketua Komisi Fatwa MUI, KH M Anwar Ibrahim, memaparkan aliran yang memiliki kantor pusat di Desa Gunung Bundar, Kabupaten Bogor, ini mengakui adanya nabi atau rasul baru setelah Nabi Muhammad SAW. Pendiri sekaligus ketua aliran itu yang memiliki nama baiat Ahmad Moshaddeq telah menganggap dirinya sebagai rasul baru.

Proklamasi sebagai rasul itu dinyatakan oleh Moshaddeq pada 23 Juli 2006 di hadapan para pengikutnya. Pria yang kerap digambarkan memiliki sepasang sayap seperti malaikat di punggungnya ini memiliki nama asli Haji Salam. Aliran ini juga mempunyai syahadat baru serta belum mewajibkan shalat, puasa, dan haji bagi pengikutnya. Menurut Anwar, ajaran al-Qiyadah itu sesat dan menyesatkan. Karena itu, ia meminta kepada orang-orang yang telah telanjur mengikutinya supaya bertobat dan kembali pada ajaran Islam yang sejalan dengan Alquran dan hadis.

Pusat aliran al Qiyadah al Islamiyah ini tepatnya terletak di Gunung Sari, Desa Gunung Bundar, Kecamatan Cibung Bulan, Kabupaten Bogor. Lokasinya sekitar 20 kilometer dari Kota Bogor menuju ke arah Sukabumi. Aliran ini pertama kali didirikan pada 2000. Diperkirakan pengikutnya telah mencapai ribuan orang yang tersebar di berbagai kota besar, seperti di Jakarta, Jatim, Jateng, Yogja, Sulawesi Selatan, Sumbar, dan Batam.

Berdasarkan laporan pertemuan akbar aliran itu pada Agustus 2007 yang berhasil didapatkan MUI, selama Juni 2007 saja al Qiyadah mampu merekrut anggota baru sebanyak 1.349 jiwa. Bulan berikutnya, Juli 2007, aliran ini juga berhasil merekrut sebanyak 1.412 jiwa. ''Sebagian besar anggota mereka adalah orang-orang yang tidak paham agama, umumnya pedagang atau pengusaha menengah ke bawah,'' sebut Ketua komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI, Utang Ranuwijaya

Sumber : Koran Republika [05-10-07]

 

Pemerintah: Al-Qiyadah Menyimpang dari Tauhid Islam

Selasa, 30 Okt 07 18:31 WIB

Pemerintah, dalam hal ini, Departemen Agama (Depag) tak akan memberikan toleransi dengan semua aliran yang nyata-nyata menyimpang dari tauhid Islam, alias sesat seperti Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Demikian Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Nasaruddin Umar menanggapi keberadaan Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dinyatakan sebagai aliran sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan dinilai terlarang oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Ia menyatakan, Depag akan tegas menindak aliran sesat itu. "Sikap kita dalam masalah aliran sesat tegas, karena ada kepastian hukum, " kata Nasaruddin.

Kendati begitu, terang dia, Direktorat Jenderal Bimas Islam akan tetap melakukan penyadaran kepada para penganut aliran sesat. Karena bisa saja mereka masuk sebuah aliran karena ketidaktahuan atau sebagainya. Upaya itu dilakukan melalui pendekatan terpadu, baik melalui pendekatan dakwah maupun pendekatan hukum.

"Untuk itu kepada pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah untuk minta maaf dan melakukan syahadat ulang, agar tidak terjerat pasal penistaan agama, " kata Nazaruddin yang juga Rektor Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran ini.

Mengenai Tim Kecil Depag yang dibentuk untuk meneliti Al-Qiyadah Al-Islamiyah, ia menjelaskan, tim itu sudah membuat laporan yang hasilnya akan dijadikan rekomendasi Depag kepada instansi terkait seperti Kepolisian dan Kejaksaan Agung.

Menurutnya, dari penelitian tim itu semakin jelas, bahwa Al-Qiyadah Al-Islamiyah melakukan penyimpangan dari ajaran Islam yang benar seperti syahadat barunya Asyhadu an-lailaha illallah wa asyhadu anna al-masih al-mau'du rasulullah yang menimbulkan kontroversi. Juga menyatakan tugas Nabi Muhammad sudah selesai dan ada nabi yang baru.

"Dibanding dengan Ahmadiyah, kita mendapatkan klarifikasi dan ada titik-titik temu sehingga diperoleh kesepakatan. Tapi karena syahadat al-Qiyadah al-Islamiyah demikian vulgar, jadi tidak ada dialog. Maka kami membenarkan fatwa yang dikeluarkan MUI, " papar Nasaruddin.

Sumber Tim Kecil menyebutkan pusat kegiatan Al-Qiyadah Al-Islamiyah berlokasi di Desa Gunungbunder, kampung Gunungsari, kabupaten Bogor. Tim berhasil mencapai lokasi itu yang berada sekitar 40-an kilometer di bagian barat kota Bogor.

Di lokasi itu terdapat sebuah bangunan vila yang oleh masyarakat di sekitarnya disebut sebagai "vila pink" karena warnanya memang pink. Umat Al-Qiyadah memercayai, bahwa di tempat itulah pemimpin Al-Qiyadah, Abu Salam alias Ahmad Mushadiq "dilantik" menjadi rasul. (dina)

 

Duka Para Ortu yang Anaknya Menjadi Pengikut Alqiyadah Alislamiyah

Tuesday, 30 October 2007

Selalu Tentang Ortu, Salat Tidak Menghadap Kiblat

Ajaran Alqiyadah Islamiyah yang sesat dan menyesatkan benar-benar telah meracuni pengikutnya. Sikap mereka berubah drastis. Inilah cerita para orang tua yang anaknya menjadi pengikut aliran itu. Laporan Segan P.S., Bandarlampung

Rumah itu nampak mungil, berukuran 5 x 7 meter. Terletak di dalam kawasan yang menjadi basis kelompok Alqiyadah Alislamiyah di Bandarlampung. Persisnya di Kampung Jualang, Bumiwaras, Telukbetung Selatan (TbS). Pemilik rumah adalah Jhoni A.S. (49) dan istrinya, Nurbaya (42). Mereka adalah kedua orang tua (ortu) Rizki Fatana alias Kinana (24), anak kedua dari enam bersaudara yang menjadi pengikut aliran sesat tersebut.

Di dalam rumah bercat putih-biru muda itu, terlihat Jhoni dan Nurbaya beserta keluarga besarnya menyaksikan tayangan berita di salah satu stasiun televisi swasta.

’’Masuk, Mas. Beginilah keadaan rumah kami, kecil dan berantakan. Silakan duduk,” sambut Nurbaya. Dia kemudian menawarkan air putih dan sisa kue Lebaran kepada Radar Lampung.

Rumah dua lantai itu berjarak 500 meter dari rumah A. Mahdi Asikin, yang menjadi markas kelompok sesat tersebut. Seperti diketahui, Mahdi, oknum guru SMPN 30 Srengsem, Panjang, Bandarlampung, adalah pimpinan Alqiyadah Alislamiyah untuk wilayah Bandarlampung.

Kini, bersama rekannya, Mustafa, warga Jl. Kebun Jeruk, Tanjungkarang Timur, dirinya menjadi tersangka kasus penodaan terhadap agama. Mereka dijerat pasal 156 (a) KUHP dengan ancaman maksimal lima tahun penjara.

Kepada Radar Lampung, Jhoni menceritakan keterlibatan anaknya dalam kelompok itu. ’’Dia (Kikana, Red) sudah menjadi pengikut aliran sesat tersebut sejak Oktober 2006,” katanya.

Tadinya, ia sempat lega ketika Kikana merantau ke Palembang pada Februari sampai Agustus 2007. Namun, ketika kembali ke Lampung akhir Agustus 2007, Kikana kembali terjerumus.

Jhoni yang sehari-hari berdagang pempek ini tidak pernah menyangka anaknya berubah sikap setelah masuk Alqiyadah Alislamiyah. Dari anak pendiam, jujur, dan rajin salat, sikap Kikana berubah 180 derajat.

’’Jadi suka melawan saya, ibunya, kakak, dan adiknya. Dia juga menolak ketika disuruh salat lima waktu. Saya menyesal membiarkan dia kembali ke Lampung,” keluh Jhoni.

Jhoni semakin merasakan perubahan pada anak lelakinya itu. Selain kerap memberontak, Kikana menolak berpuasa di bulan Ramadan dan tidak mengakui hari raya Idul Fitri. ’’Bahkan, ketika kami melaksanakan salat id, dia malah tidur di rumah,” sambung Nurbaya.

Sikap Kikana membuat keluarganya prihatin. ’’Kalau kami sahur, dia memang ikut (sahur). Tapi, tidak puasa,” jelasnya. Ketika ditanya keluarganya, Kikana malah balik bertanya. ’’Apa artinya berpuasa, salat, dan naik haji itu? Di dalam Alquran tidak pernah diajarkan,” ujar Nurbaya menirukan ucapan putranya ketika itu.

Nurbaya sempat kaget dan tidak pernah menyangka pelajaran mengaji yang didapat dari Mahdi malah menjadi bumerang bagi keluarganya. ’’Apalagi dia (Kikana, Red) menyatakan kalau saya tidak perlu dihormati karena tugas saya hanya melahirkan dirinya,” keluh Nurbaya.

Lantaran tidak tahan, Jhoni sempat berkeluh kesah mengenai dampak aliran itu kepada pihak kelurahan setempat. ’’Kami sobek dan bakar setiap buku atau tulisan tentang Alqiyadah Alislamiyah di dalam kamar tidur Kikana,” tandas Jhoni.

Menurut dia, perbuatan Kikana sudah melampaui batas. Mereka tidak mampu menahan lagi menghadapi sikap Kikana. ’’Kalau malam, dia salat. Tapi, tidak menghadap kiblat,” ujar Jhoni dengan mata berkaca-kaca.

Dia terkenang akan sosok Kikana dulu. Sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Kikana merupakan anak yang rajin salat, puasa, dan mengaji. Namun, kesalehan yang pernah dilakukan seakan terhapus ajaran sesat yang saat ini merebak di seantero Indonesia itu.

Puncaknya, Kamis (18/10), Kikana kabur dari rumah. Rupanya, Kikana pergi ke Jakarta untuk bertemu pimpinan utama Alqiyadah Alislamiyah, Ahmad Mushaddeq alias Almasih Almaw’ud, yang mengaku-aku utusan Tuhan.

Karenanya, Jhoni dan Nurbaya berharap aparat penegak hukum menghentikan aliran sesat tersebut dan menangkap penyebar ajaran tersebut. Mereka mengaku sangat bersyukur kasus ini akhirnya terangkat ke hadapan publik.

’’Kami pasrah, Mas. Bahkan, kami sudah siap anak kami diproses sesuai hukum,” lirih Jhoni. Jhoni meminta dan menganjurkan polisi mengamankan Kikana untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan mempercepat proses penyidikan aliran sesat ini.

Satu hal yang membuat ia masih mempunyai harapan anaknya akan berubah. ’’Dia sudah berjanji dengan kami. Kalau aliran mereka dinyatakan salah oleh penegak hukum, dia akan bertobat dan kembali ke ajaran Islam sesungguhnya,” kata Jhoni.

Perasan sama dialami Ketua RT 035 Subhi Harun (48) dan istrinya, Saptuna (43). Putra sulung mereka, Heru Firmansyah (25), menjadi pengikut Alqiyadah Alislamiyah sejak setahun lalu. ’’Terus terang, kami kecolongan karena tidak pernah memantau pergerakannya,” sesal Saptuna.

Kejadian serupa juga menimpa Talen (24), anak pasangan Yani dan Iko, warga Garuntang, Kecamatan, TbS. Mereka tinggal persisnya di belakang SMPN 11 Bandarlampung. ’’Saya tahu ketika membersihkan kamar tidurnya. Saya temukan kitab suci tiga aliran, yakni Kristen Protestan, Islam, dan Yahudi,” ujar Iko.

Anaknya juga bersikap aneh. Gajinya dari pekerjaan mengampas habis hanya untuk membeli kitab dan buku-buku ajaran Alqiyadah Alislamiyah. ’’Saya tidak tahu harus ngomong apa lagi, Mas. Saya pasrah,” ujar Iko.

Pantauan Radar Lampung di Kampung Jualang, rumah Mahdi terlihat kosong. Hanya satu lampu yang menyala di teras rumahnya. Istri Mahdi, Dra. Indrawati, yang juga disebut menyebarkan aliran itu dan tujuh anaknya telah keluar rumah.

’’Sebelumnya, Sabtu (27/10, Red) malam, sempat ada isu massa akan mendatangi rumahnya,” kata Etang, tetangga Mahdi. Menurutnya, perubahan yang terjadi pada Mahdi terlihat setahun belakangan. Jika semula ia hidup bertetangga, kini menjadi tertutup.

’’Setiap kami nongkrong jam delapan malam, dia pasti keluar rumah. Tapi, kami tidak tahu dia pergi ke mana. Pulang jam 2 pagi. Rumahnya juga kerap dijadikan tempat berkumpul,” urainya. (*)

 

Kisah Pengikut Alqiyadah Alislamiyah yang Kini Sudah Bertobat

Wednesday, 31 October 2007

Berawal dari Penasaran, Tahu Ajaran Sesat dari TV

Selain di Kota Bandarlampung, aliran sesat Alqiyadah Alislamiyah merebak hingga Kabupaten Lampung Tengah. Senin (29/10) lalu, 15 orang pengikut kelompok itu telah bertobat dan kembali ke Islam. Mengapa mereka dulu sampai terjerat masuk kelompok itu? Berikut kisahnya.

Malam Jumat, enam bulan lalu, Kusnadi (40) diajak Sumadi (55), saudaranya yang tinggal satu kampung, mengikuti pengajian. ’’Katanya sekaligus merundingkan masalah keluarga,” kata Kusnadi. Dia mengaku lupa tanggal berapa tepatnya saat itu. Sumadi sempat meminjam tafsir Alquran kepada dirinya.

Sesampainya di rumah Sumadi di Kampung Banjarratu, Waypengubuan, Lampung Tengah, Kusnadi dikenalkan dengan Srudut (64). Pria ini belakangan diketahui pemimpin ajaran sesat itu di Lampung Utara. Kini ia ditahan polisi (lihat Dua Tokoh Alqiyadah di Dua Kabupaten Ditahan di bagian lain halaman ini, Red).

Kusnadi sempat merasa aneh karena dalam acara yang katanya pengajian itu hanya mereka yang hadir. Namun, karena merasa tidak ada yang salah dengan apa yang disampaikan Srudut, perasaan aneh menghilang. Setelah itu pengajian berlangsung setiap pekan.

Bapak lima anak tersebut selalu mengikuti pengajian dengan pengajar Srudut itu. Setelah beberapa kali pengajian dilaksanakan, Srudut meminta Kusnadi dan Sumadi membuat enam janji kepada Allah. Antara lain, tidak boleh musrik, mencuri, berzina, membunuh, dan durhaka. ’’Saya makin penasaran dan terus mengikuti pengajian,” akunya. Saat itu, Kusnadi mengaku belum tahu apa nama ajaran yang dibawa Srudut.

Selama ia ikut pengajian, Srudut tidak pernah melarang salat lima waktu yang dalam ajaran sesat itu menjadi tidak wajib. ’’Srudut malah meminta saya mencontoh perilaku Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Belakangan, ada program baru yang diperkenalkan Srudut. Yakni salat malam atau salat tahajud, menghafal Alquran, belajar mengajar, dan mengajak orang lain ikut kelompok pengajian ini. Anggota pengajian pun bertambah. Total menjadi 15 orang. Mereka tidak hanya dari Kampung Banjarratu. Tapi juga dari Kampung Candirejo dan Dusun Boyolali, Kecamatan Waypengubuan.

Ketika jumlah anggota pengajian bertambah banyak, Kusnadi mulai mendengar selentingan ajaran yang dibawa Srudut sesat. Namun, informasi ini justru membuat dirinya makin penasaran. Ia ingin tahu di mana letak sesatnya. ’’Jangan sampai dikatakan sesat tapi saya tidak tahu sesatnya di mana,” bebernya.

    Tapi, dia mulai curiga ketika mendengar bahwa Srudut memercayai adanya rasul baru setelah Muhammad SAW. ’’Karena saya ingin membuktikan, saya makin intens ikut pengajian,” terangnya. Apalagi, sambungnya, selama ikut pengajian Kusnadi tidak merasa ada yang sesat dalam ajaran yang dibawa oleh Ahmad Mushaddeq tersebut.

Ternyata, kabar tersebut benar adanya. Di TV ia melihat ada orang yang mengaku rasul, yakni Ahmad Mushaddeq, pemimpin Alqiyadah Alislamiyah di Indonesia. ’’Saat itulah saya tahu kalau ajaran yang dibawa Srudut ini aliran sesat,” papar suami dari Suwanti (30) itu.

    Dia semakin sadar ketika beberapa waktu kemudian mendengar Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan Alqiyadah Alislamiyah sebagai aliran sesat dan menyesatkan.

    Pria yang tak bisa baca tulis itu kian merasa berdosa setelah kepala kampung (Kakam) setempat datang dan meminta pengajian yang kerap diadakan malam hari dihentikan. ’’Jika masih dilakukan silakan angkat kaki dari kampung ini,” ujar Kusnadi menirukan ucapan Kakamnya. ’’Sebelum bulan puasa beberapa waktu lalu, pengajian sudah dihentikan,” terusnya. (gede p.k/rg)

 

Republika, Senin, 29 Oktober 2007  18:39:00

Ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah Dapat Mengadu Domba Umat Beragama

Bandarlampung-RoL-- Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama (Kanwil Depag) Provinsi Lampung, H Bas Yuni TH Kahuripan, mengatakan, buku pedoman aliran Alqiyadah Alislamiah selain menyesatkan, juga bisa mengadu domba antarumat beragama.

"Isinya bisa mengadu domba antarumat beragama sehingga perlu diwaspadai, jangan sampai ini berkembang luas, khususnya di Lampung," katanya di Bandarlampung, Senin.

Meski tidak memerinci apa isi dari buku pedoman yang menyesatkan dan dapat memecahbelah antarumat beragama itu, dia mengucapkan syukur karena para pengikut aliran tersebut segera diamankan kepolisian.

"Kalau tidak, selain bisa memberikan pengaruh ke orang lain, namun yang paling berbahaya ketika warga lainnya marah," katanya.

Sehubungan terkaitnya salah seorang pendidik dalam aliran itu, apakah akan dilakukan pemecatan, ia mengatakan hal itu kewenangan instansi terkait, yakni dinas pendidikan.

"Namun semua itu perlu diteliti secara cermat, sejauhmana keterlibatannya. Jika memang jauh, ada kemungkinan dipecat," katanya.

Sementara Gubernur Lampung melalui Asisten Bidang Kesra, Drh Husodo Hadi, mengingatkan masyarakat agar jangan terpengaruh ajaran yang salah itu, serta jangan pula cepat mengambil tindakan sendiri untuk mengatasinya. "Kami sangat mendukung penindakan terhadap penyimpangan agama," katanya.

Sebelumnya, Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Bandarlampung, menetapkan dua tersangka masing-masing kepada Ahmadi Asikin dan Mustafa, pengikut aliran Alqiyadah Alislamiah.

Penetapan tersangka kepada pengikut aliran itu karena ajarannya dinilai telah menimbulkan sifat permusuhan dan penodaan agama sebagaimana diatur dalam Pasal 165 a KUHP, dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

"Ajaran Alqiyadah Alislamiah itu sifatnya telah menyulut permusuhan," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskim) Poltabes Bandarlampung, AKP Hengki Heriyadi. antara/abi

 

Alumi Akan Laporkan Ketua Alqiyadah

(Pikiran Rakyat). Sebanyak 47 ormas Islam di Jawa Barat yang tergabung dalam Aliansi Ummat Islam (Alumi), akan melaporkan ketua Alqiyadah Al Islamiyah, Ahmad Musadek, ke kepolisian karena dianggap telah menghina dan menginjak-injak umat Islam. Alumi menguasakan gugatan tersebut kepada Tim Pengacara Muslim (TPM) pusat yang dikoordinasikan Mahendradatta, S.H. Dalam konferensi pers di Sekretariat Pengurus Wilayah (PW) Persis Jabar Gg. Muncang, Pungkur, Sekretaris Alumi Jabar, Ichsan Setiadi Latief mengatakan, Alqiyadah Al Islamiyah dan aliran sesat lainnya merupakan desain besar untuk menghancurkan umat Islam. ”Khususnya di Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia,” katanya, Sabtu (27/10).

Para pakar yang tergabung dalam Alumi Jabar, telah melakukan kajian intensif soal aliran sesat yang mengatasnamakan Islam. ”Dengan maraknya aliran sesat, Alumi Jabar mengkajinya dari segi syariat, politik, psikologi sosial, dan dari perspektif lainnya,” katanya didampingi pengurus Alumi Jabar, Ustaz H. Hedi Muhammad. Kajian-kajian tersebut menghasilkan tiga pernyataan sikap yang dibacakan di sekretariat PW Persis Jabar. ”Alumi Jabar menegaskan Alqiyadah Al Islamiyah dan aliran sesat lainnya yang mengatasnamakan Islam malah menghina Islam dan menginjak-injak hak asasi umat Islam,” katanya.

Alumi Jabar juga mendukung penuh putusan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat dan Forum Ummat Islam (FUI) yang menyatakan kesesatan Alqiyadah Al Islamiyah. ”Alqiyadah Al Islamiyah telah melantik rasul baru yang dilakukan secara terbuka bahkan diliput media massa,” katanya. Selain itu, Alqiyadah Al Islamiyah juga menerapkan penebusan dosa sebesar Rp 750.000,00 agar pengikutnya terbebas dari dosa-dosa.

 ”Gugatan akan kami ajukan pada Senin (29/10) melalui kuasa hukum yang telah kami tunjuk,” katanya. Omas-ormas Islam yang tergabung dalam Alumi Jabar di antaranya NU, Muhammadiyah, Persis, Mathlaul Anwar, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Persatuan Umat Islam (PUI), Al Irsyad, Forum Ulama Umat Islam (FUUI), Front Pembela Islam (FPI), dan Dewan Dakwah. Ormas pemuda Islam juga ikut bergabung seperti Rohis SMU se-Bandung Raya, Hima dan Himi Persis, Pemuda dan Pemudi Persis, serta Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). (A-71)***