Kejahilan Al-Qiyadah Terhadap Tafsir

Sudah menjadi ciri pengikut aliran sesat bahwa mereka menggunakan ayat-ayat Alquran untuk membela alirannya dan pemahamannya, padahal Ayat tersebut jauh dari apa yang mereka fahami, bahkan mereka tidak mengerti Asbabunnuzul nya, serta tafsir ayat yang mereka bawakan.

Ingkarussunnah, demikian pemahaman aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Kebodohan yang menyelimuti kepala mereka telah menyebabkan mereka tidak menyadari bahwa tidak ada hujjah sedikitpun yang dapat mereka gunakan dihadapan Ahlussunah waljamaah, Apalagi dihadapan Alloh Subhanahu wata’ala. Berikut ini mari kita menyimak pembahasan tentang kelemahan serta kejahilan hujjah pengikut atau bahkan pentolan dari Aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Hujah Aneh seorang pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa umat Islam telah membelakangi al-Qur’an dan hanya mengutamakan hadits saja. Sebagaimana disebutkan dalam AlQuran:

Dan berkatalah Rasululloh: “Wahai Tuhanku sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini satu perlembagaan yang ditinggalkan, tidak dipakai”. [al-Furqan 25:30]

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً

Jawaban:

Syubhat ini mudah dijawab apabila kita perhatikan benar-benar kepada siapakah pengaduan Rasulullah tersebut ditujukan. Perhatikan bahwa istilah yang digunakan dalam surah al-Furqan di atas adalah “kaumku” dan bukannya “umatku”. Perkataan kaum lazimnya merujuk kepada satu bangsa, suku atau kabilah, Namun jika dikatakan “umat” maka lazimnya merujuk kepada satu kumpulan manusia yang mengikuti satu jalan atau pimpinan. Seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap kaumnya dalam ayat di atas adalah mirip kepada seruan beberapa Rasul dan Nabi sebelum baginda terhadap kaum mereka masing-masing sebagaimana yang telah diungkap oleh al-Qur’an:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ

Dan (ingatlah) ketika Nabi Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu telah menganiaya diri kamu sendiri dengan sebab kamu menyembah patung anak lembu itu.” [al-Baqarah 2:54]

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلاً وَنَهَارا

Nabi Nuh berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam (supaya mereka beriman).” [Nuh 71:05]

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ

Dan kepada kaum Aad, Kami utuskan saudara mereka: Nabi Hud ia berkata: “Wahai kaumku! Sembahlah Allah !” [Hud 11:50]

Nukilan 3 ayat di atas jelas menunjukkan bahwa para Nabi dan Rasul menggunakan panggilan kaumku untuk memaksudkan kepada kaum atau masyarakat yang hidup bersama mereka (Nabi atau Rosul ‘alaihimussalam). Akan tetapi istilah “kaumku” akan berubah kepada “umatku” atau umat saja apabila yang ditujukan adalah sekumpulan manusia yang mengikuti jalan atau pimpinan seseorang Rasul, baik yang hidup sejaman dengan Rasul tersebut ataupun sesudahnya. Perhatikan ayat-ayat berikut:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولٌ فَإِذَا جَاء رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُون

Dan bagi tiap-tiap satu umat ada seorang Rasul (yang diutuskan kepadanya). [Yunus 10:47]

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus di kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): “Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah Taghut.” [an-Nahl 16:36]

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَا أُمَمٌ

Demikianlah, Kami utuskan engkau (wahai Muhammad) kepada satu umat yang telah berlalu sebelumnya beberapa umat yang lain. [ar-Ra’d 13:30]

Perbandingan antara ayat-ayat di atas jelas menunjukkan kepada kita perbedaan antara istilah kaum dan umat. Diulangi bahwa perkataan kaum itu biasanya ditujukan kepada satu bangsa, suku atau kabilah, dan perkataan umat biasanya ditujukan kepada satu kumpulan manusia yang mengikuti satu jalan atau pimpinan.

Maka Penggunaan Kata kaum, juga berbeda dengan penggunaan kata Umat. Simaklah hadits berikut ini ;

Dari Ibnu Abbas (radiallahu-anhu), beliau berkata, telah bersabda Rasulullah sallallahu-alaihi-wasallam tentang Kota Mekah: “Alangkah baiknya engkau (Mekkah) sebagai satu negeri dan alangkah aku sukai, seandainya kaumku tidak mengusirku darimu (Mekkah), niscaya aku tidak tinggal ditempat selainmu (Mekkah).” [Mu’jam al-Kabir) dan al-Hakim, dinilai sahih oleh Syu’aib al-Arnuth dalam Sahih Ibnu Hibban – no: 3709 (Kitab al-Hajj, Bab Keutamaan Makkah)]

Namun jika Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam menyampaikan urusan orang-orang Islam seluruhnya hingga akhir zaman, beliau akan menyebut dengan “umatku” sebagaimana terukir dalam hadits berikut:

Sesungguhnya Allah memberi keampunan dan tidak menghisab segala pembicaraan hati umatku selama mereka tidak mengatakannya atau melakukannya.[HR Bukhari, Muslim]

Perumpamaan umatku adalah seperti hujan, tidak diketahui apakah awalnya yang baik atau akhirnya. [Imam Suyuthi, Jamii-us-Sagheir – hadits no: 8161]

Oleh karenanya pengaduan Rasululloh sallallahu ’alaihi wasallam terhadap “kaumku” dalam ayat diatas sebenarnya merujuk kepada bangsa atau sukunya sendiri pada saat itu, yakni bangsa Quraish.[ al-Zamakhsyari – Tafsir al-Kasysyaf, jld 3, hal 282] Ayat ini tidak ditujukan kepada kita umat Islam karena kita tetap merujuk kepada al-Qur’an serta merujuk kepada Hadits.

Kesimpulan ;

Alangkah Jahilnya orang-orang Al-Qiyadah Al-Islamiyah jika menggunakan ayat tersebut untuk menolak Hadits-hadits Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam.

Mereka tidak mengerti tafsir, tidak juga ilmu hadits.

abasalma.wordpress.com