Tindak Al Qiyadah

Polri Koordinasi dengan Kejaksaan

Ada pasal-pasal yang bisa digunakan untuk menjerat para pelakunya.

JAKARTA -- Aparat Polri akan terus menindak pengikut ajaran al Qiyadah Al Islamiyah. Polri bahkan akan berkoordinasi dengan Kejaksaan Agung untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya.

Penegasan itu disampaikan oleh Kepala Polri Jenderal Sutanto, Jumat, (26/10) di Kantor Presiden di Jakarta. ''Kita koordinasi dengan kejaksaan dan penegak hukum lain untuk langkah-langkah berikutnya,'' ujarnya ketika menjawab pertanyaan wartawan yang mencegatnya usai mendampingi Presiden menerima Ketua PPATK.

Menangani aliran sesat itu, ujar Kapolri, sudah terdapat pakemnya. Ada pasal-pasal yang bisa digunakan untuk menjerat para pelakunya. Namun untuk menjerat pengikut al Qiyadah yang sudah tertangkap, ia masih menunggu hasil koordinasi anak buahnya dengan kejaksaan. ''Masih menunggu tim terkait,'' katanya.

Dua hari lalu, Polri menangkap dua orang pengikut al Qiyadah yang tertangkap tangan sedang menyebarkan pamflet alirannya di Kelurahan Cengkareng Timur. Aliran ini sudah dinyatakan sesat oleh Mejelis Ulama Indonesia (MUI) karena menganut ajaran yang menyimpang dari Islam.

Himbau Warga

Sementara, Kepala Kantor Departemen Agama (Kakandepag) Kabupaten Lebak mengimbau warga jangan terpengaruh aliran Al Qiyadah Al Islamiyah. ''Jika warga menemukan adanya ajakan aliran sesat di tengah masyarakat saya minta segera laporkan kepada aparat kepolisian setempat,'' kata Kakandepag, Kabupaten Lebak H Ahmat Saepudin, di Rangkasbitung, Jumat (26/10).

Ia mengatakan, ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah yang saat ini berkembang jelas-jelas sesat karena tidak mengakui keberadaan Nabi Muhamad SAW sebagai rasul. Juga, tidak mewajibkan melaksanakan solat dan puasa. Selain itu, kalimat syahadat berbeda dengan tidak menyebut Nabi Muhammad SAW. ''Itu jelas-jelas adanya penyimpangan akidah umat Islam,'' katanya.

Menurut dia, penyebaran aliran sesat di Kabupaten Lebak cukup berpotensi dan sangat memungkinkan untuk dimasuki mereka. Mengingat, wilayah Kabupaten Lebak begitu luas juga banyak daerah-daerah terpencil. Ia mencontohkan, aliran sesat Islam Sejati yang berkembang di Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak berada di daerah terpencil.

Sementara, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kepulauan Riau (MUI Kepri) belum memastikan hilangnya beberapa karyawati terkait dengan aliran Islam sesat Al Qiyadah. ''Sampai sekarang masih belum tahu apa ada kaitannya atau tidak, seperti yang terjadi di Jawa,'' kata Ketua Majelis Ulama Indonesia Kepulauan Riau (MUI Kepri) Asyari Abbas.

Menurut Asyari, hilangnya Ade Irma tidak bisa langsung dikaitkan dengan ajaran yang ia anut. ''Mungkin saja ada tindak kriminal murni dan lainnya, tidak bisa langsung vonis tanpa penyidikan yang benar,'' katanya. Sedikitnya tiga karyawati Batam hilang sejak Ahad (7/10), yaitu Heni Fitriani (20) pekerja PT Yokogawa, Elmina Sari (20) pekerja PT Yokogawa dan Ade Irma S (20) pekerja PT Sanyo Precision. Menurut Asyari, dari seluruh Kepri, penganut Al Qiyadah terbanyak di Batam, berjumlah puluhan orang. Sedangkan di Pulau Bintan, hanya beberapa orang.

Asyari mengatakan telah mengetahui keberadaan kelompok aliran sesat itu sejak dua tahun lalu, dan telah memberikan pengarahan kepada pemimpin aliran, Andi. ''Tapi, nampaknya aliran itu masih ada, meski tidak terlampau besar,'' katanya. Menurut Asyari, kelompok itu terpencar di beberapa lokasi di Batam dan tidak memiliki kantor perwakilan. ''Para penganut hanya berkumpul saat pengajian. Tempat mengajinya pun pindah-pindah,'' tambahnya.djo/ant