KEİNDAHAN DALAM

KEHİDUPAN

 

 

 

 

 

 

 

 

HARUN YAHYA


 

PERPUSTAKAAN NASIONAL RI: KATALOG DALAM TERBITAN (KDT)

Yahya., Harun

 

Keindahan dalam Al-Qur`an/Harun Yahya; penerjemah, Harisy Syama’un; penyunting, Hilman Handoni.—Jakarta : Senayan Abadi Publishing, 2003.

...., .... hlm. ; ... cm.

ISBN: 979-3471-02-6

1. Al-Qur`an                   I. Judul                        II. Syama’un, Harisy    III. Handoni, Hilman.

 

(1)          Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak sesuatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

(2)          Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipidana dengan pidana paling lama 5 (lima) tahun penjara dan/atau denda paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

UU RI No.7 Tahun 1987 tentang Hak Cipta

 

Judul asli: Beauties for Life in The Qur`an

Penerbit asal: Millat Book Center, New Delhi, India, Agustus 2001

 

Judul terjemah: Keindahan dalam Kehidupan

Penulis: Harun Yahya

Penerjemah: Harisy Syama’un

Penyunting: Hilman Handoni

Perwajahan isi: Basuki Rahmad

Desain Sampul: Eman Sutalingga

Penerbit

Senayan Abadi Publishing

Jl. Hang Lekir VII, No.25 Jakarta Selatan 12120

Telp. (021) 7236206 Fax. (021) 7236209

E-mail: senayan@indosat.net.id

senayanabadi@hotmail.com, senayan_abadi@yahoo.com

 

Cetakan pertama: Jumadil Akhir 1424/Agustus 2003

8All Rights Reserved (Hak Terjemahan Dilindungi)


Daftar Isi

 

Daftar Isi

Pengantar Penerbit

Untuk Para Pembaca

Pendahuluan

Sifat yang Terpuji Menurut Al-Qur`an

Konsep Kesucian

1. Kesucian Jiwa

2. Kesucian Ragawi

3. Pakaian yang Bersih

4. Memelihara Kebersihan Lingkungan

5. Memakan Makanan yang Bersih

Berlatih, Berenang, dan Air Minum

Berjalan Kaki

Intonasi Suara

Luhur Budi

Ramah Tamah

Konsep Kebijaksanaan Pilihan di Dalam Al-Qur`an

Menganalisis Berbagai Tahapan Kemungkinan dalam Per­kem­bang­an

Sahabat Andalan

Pembagian Tugas

Malam untuk Beristirahat, Siang untuk Bekerja

Merahasiakan Informasi Penting terhadap Orang yang Bermaksud Jahat

Mengambil Tindakan Dini

Waspada di Waktu Malam

Tidak Bertindak Sendirian

Hidup di Tempat-Tempat Aman

Menghasilkan Solusi yang Tangguh dan Bertahan Lama

Menolak Memberikan Informasi kepada Orang yang Bermaksud Jahat Akan Mengungkap Kelemahan Mereka

Mempertimbangkan Segala Alternatif Seraya Terus Waspada

Metode-Metode Qur`ani untuk Men­dak­wah­kan Islam

Tidak Ada Upah dalam Urusan Ini

Pastikan, Orang yang Menyampaikan Pesan Dapat Diandalkan

Membuktikan Keyakinan Palsu

Menggunakan Metode Tanya Jawab

Menyeru Secara Terbuka dan Secara Rahasia

Menjelaskan Tanda-Tanda Penciptaan

Mendakwahkan Eksistensi Allah kepada Masyarakat Umum

 “Ibu Kota-Ibu Kota itu”

Pengaruh Kekayaan dan Kegemerlapan

Penampilan Fisik

Penuhi Kebutuhan Manusia

Keikhlasan

Khotbah yang Menentukan

Manfaat Beragam Hewan yang Disebut di Dalam Al-Qur`an

Sumber Gizi

1. Daging dan Kesehatan Pribadi

2. Susu: Keajaiban Produk Hewani

3. Madu

Manfaat-Manfaat Lain dari Hewan

Tanda-Tanda Rahmat yang Berasal dari Lautan

1. Makanan dari Laut

2. Ikan

3. Ornamen-Ornamen yang Dapat Diperoleh dari Laut

Panganan Penuh Hikmah yang Disebut di Dalam Al-Qur`an

Buah-buahan

1. Pisang

2. Anggur

3. Delima

4. Zaitun

5. Kurma

Air Susu Ibu (ASI)

Nilai-Nilai Estetika dan Seni di Dalam Al-Qur`an

Allah Menganugerahkan Keindahan

Dekorasi

1. Lambungkan Langit-Langit

2. Loteng dan Tangga-Tangga Perak

3. Pintu-Pintu

4. Tiang-Tiang Tinggi

5. Dipan-Dipan Berbordir Permata

6. Dipan-Dipan Tinggi dan Ranjang-Ranjang Berhias Sutra

7. Bantal-Bantal Hijau

8. Piring-Piring Emas dan Piala-Piala

9. Bejana-Bejana Perak dan Piala Kristal

Penjelasan Al-Qur`an tentang Tempat-Tempat

Tempat-Tempat Bernaung

Tempat-Tempat Indah

Kesalahan Konsep Teori Evolusi

Runtuhnya Keilmiahan Darwinisme

Tahap Pertama yang Tidak Dapat Diatasi: Asal-Usul Kehidupan

 “Kehidupan Berasal dari Kehidupan”

Usaha-Usaha yang Tidak Meyakinkan di Abad Ke-20

Struktur Kompleks Kehidupan

Mekanisme Penggambaran dari Teori Evolusi

Pengaruh Lamarck

Neo-Darwinisme dan Mutasi

Catatan Fosil: Tidak Ada Tanda Bentuk-Bentuk Transisi

Harapan-Harapan Darwin yang Kandas

Riwayat Evolusi Manusia

Teknologi di Mata dan Telinga

Siapa Pemilik Kesadaran Melihat dan Mendengar dalam Otak?

Keyakinan Materialis

Teori Evolusi adalah Sihir Paling Kuat di Dunia

Tentang Penulis

 

 

 


Pengantar Penerbit

 

 

Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menciptakan semua kenikmatan dan keindahan di alam semesta ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada kekasih dan panutan kehidupan kita, Rasulullah Muhammad saw.. Atas jasa beliau, segala berita langit di dalam Al-Qur`an telah sampai kepada kita. Beliau adalah rahmat bagi alam raya ini, penutup semua nabi dan rasul, dan pembawa risalah yang komprehensip dan paripurna.

Allah telah menciptakan alam raya dan kehidupan yang ada di dalamnya dengan dibalut beragam keindahan. Setiap sudut yang terlihat adalah keserasian dan keseimbangan dari karya cipta dari Yang Mahaagung. Tidak ada detail yang tercecer dari keindahan yang Allah ciptakan. Inilah yang patut kita syukuri sebagai hamba yang beriman.

Buku ini menjabarkan keindahan yang tertata dalam alam semesta ini dan manfaat yang dapat kita peroleh dari keindahan karya cipta tersebut.  Penulis menggali dari ayat-ayat Al-Qur`an beberapa keindahan yang kita nikmati di alam semesta ini dan perbandingan keindahan yang dapat dirasakan di surga nan abadi nanti.

Untuk kita renungkan, buku ini kami sajikan kepada khalayak pembaca. Dari hasil kajian ini, kita akan sama-sama menemukan mutiara hikmah yang sangat berharga. Hikmah yang dapat kita raih adalah modal yang dapat kita jadikan bekal untuk kita menapak dalam garis kehidupan yang akan kita jalani.

 

Jakarta, Jumadil Akhir 1424 H

Agustus           2003 M

 


Untuk Para Pembaca

 

 

Semenjak Dar­win­is­me menolak fakta penciptaan dan hakikat keberadaan Allah, da­lam kurun 140 tahun terakhir, banyak manusia meninggalkan ke­imanan mereka atau terperosok ke dalam keragu-raguan. Teori inilah yang melandasi semua falsafah antiagama. Ka­re­­na itulah, menunjukkan bahwa teori ini merupakan satu pe­ni­puan adalah satu tugas penting yang erat kaitannya de­ngan agama. Dan, menyampaikan tugas penting ini kepada se­ti­ap orang merupakan keharusan. Sebagian pembaca mungkin hanya sem­pat membaca salah satu dari sekian buku kami. Ka­re­na itu, kami pikir sepantasnyalah untuk menyajikan satu bab yang merangkum subjek ini. Satu bab khusus untuk meruntuhkan teori evolusi

Di dalam semua buku karya Harun Yahya, hal-hal yang ber­­kaitan dengan keimanan dijelaskan dengan berpedomankan ca­­haya ayat-ayat Al-Qur`an. Para pembaca diimbau untuk mempe­lajari dan hidup dengannya. Segala sesuatu yang berkaitan de­ngan ayat-ayat Allah dijelaskan sebegitu rupa untuk me­nu­tup peluang timbulnya keragu-raguan atau dapat mencuatkan sejumlah pertanyaan dalam pikiran para pembaca. Ke­se­der­ha­na­­­­an, kelugasan, dan kemudahan gaya penulisannya dapat mem­bu­­at semua orang—pada tingkat usia berapa pun dan kelompok so­sial mana pun—dapat dengan mudah memahami buku-bukunya. Pen­jabaran yang jelas dan efektif ini memungkinkan orang da­pat memahaminya dalam waktu singkat. Bahkan, mereka yang me­nolak spritualitas dengan keras, bakal tergugah oleh kenyataan-kenyataan yang dipaparkan dalam buku ini dan tak mungkin dapat menyangkal kebenaran isinya.

Buku ini dan semua buku karya Harun Yahya lainnya dapat dibaca secara perorangan ataupun didiskusikan dalam per­temuan kelompok. Para pembaca yang ingin meraih manfaat da­ri buku-buku ini, akan merasakan bahwa diskusi tersebut sa­ngat bermanfaat karena mereka dapat mengaitkan refleksi dan pengalaman masing-masing.

Di samping itu, merupakan sumbangan besar bagi agama bila Anda membaca dan turut menyebarluaskan buku-buku kami, yang ditulis semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah. Semua buku karya Harun Yahya sungguh sangat meyakinkan. Dengan alasan ini, bagi mereka yang ingin mendakwahkan agama kepada orang lain, salah satu metode efektifnya adalah mendorong mereka untuk membaca buku-buku karya Harun Yah­ya.

Pembaca diharapkan dapat meluangkan waktu untuk menelaah buku-buku Harun Yahya lainnya pada halaman-halaman terakhir, seraya mengapresiasi sumber materi yang kaya akan hal-hal yang berkaitan dengan keimanan, yang amat berguna dan menyenangkan untuk dibaca.

Di dalam buku-buku karya Harun Yahya, Anda tidak akan menemukan—sebagaimana pada sebagian buku-buku penulis lain—pandangan-pandangan pribadi penulis, penjelasan-penjelasan yang berasal dari sumber-sumber yang diragukan, gaya pe­ne­li­tian yang tidak cermat atas perkara-perkara yang suci, atau mengakibatkan putus asa, ragu-ragu, dan pandangan pesimis yang dapat mengakibatkan penyimpangan di dalam ha­ti.


Pendahuluan

 

 

Apakah Anda menyadari keindahan-keindahan yang dipapar­kan Al-Qur`an? Apakah Anda mempelajari fakta-fakta yang ter­tera dalam Al-Qur`an yang Allah turunkan kepada Anda se­ba­gai pedoman hidup?

Al-Qur`an menjelaskan kepada kita tentang latar belakang kehadiran umat manusia di muka bumi dan bagaimana se­ha­rusnya me­re­ka hidup, sehingga kehidupan itu sesuai dengan mak­sud pen­ciptaan tersebut. Al-Qur`an menjelaskan kewajiban ki­ta kepada Allah dan bagaimana kita akan diberi pahala se­su­ai dengan amal perbuatan kita. Al-Qur`an—Kitab yang Allah tu­runkan kepada hamba-hamba-Nya yang mengabdi dengan kasih sayang—menyeru kita pada keindahan, kebenaran, kesucian, dan kebahagiaan abadi. Kualitas kesempurnaan Al-Qur`an ini terda­pat dalam banyak ayat,

 

“Sesungguhnya, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pe­l­ajaran bagi orang-orang berakal. Al-Qur`an itu bukan­lah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenar­kan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan se­ga­­la sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi ka­um yang beriman.” (Yusuf [12]: 111)

 

“Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (al-Baqarah [2]: 2)

 

Al-Qur`an adalah kitab yang ditujukan kepada manusia di segala usia, sebuah kitab yang berisi semua subjek dasar yang dibutuhkan setiap orang sepanjang hidup mereka, lelaki atau perempuan. Bentuk-bentuk ibadah, pola pikir unik bagi se­tiap muslim, akhlaq terpuji, perilaku mulia yang harus tam­pak di wajah saat menghadapi setiap kejadian tak terduga atau pada saat-saat menghadapi kesulitan, pola hidup yang mem­­bimbing jiwa dan raga demi hidup sehat, peristiwa kemati­an, peristiwa di saat roh melalui hari perhitungan, lalu sur­ga dan neraka menanti semua manusia, semua termaktub da­lam kitab ini.

Sebagai sumber yang khas bagi semua jawaban dan penjelas­an yang mungkin orang pertanyakan tentang keselamatan aba­di, Al-Qur`an juga mengandung banyak isyarat dan per­ingat­an penting bagi kehidupan manusia. Allah mengaitkan ci­ri Al-Qur`an ini dalam ayat,

 

“... Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl [16]: 89)

 

Sebaliknya, hanya mereka yang berimanlah yang hidup se­suai dengan nilai-nilai Al-Qur`an. Karena itu, Al-Qur`an mem­bimbing mereka dalam cahaya tuntunannya.

Allah menciptakan manusia dan menyampaikan—melalui Al-Qur`an—jalan keluar paling tepat serta semua bentuk informa­si yang dibutuhkan untuk menjalani hidup dalam kebaikan ke­­pada se­mua orang. Karena itu, bila menghadapi kesulitan, sungguh penting bagi mereka yang beriman untuk merujuk pada ayat-ayatnya dan penerapan atas tinjauannya. Tak soal apa la­tar belakang intelektualitas yang dimiliki seseorang, pe­nge­tahuannya tetap saja terbatas, sebab hanya Allah satu-sa­tunya yang melebihi semua makhluk. Manusia dapat meraih il­mu pengetahuan hanya dengan perkenan dan kehendak Sang Ma­ha Pencipta.

 

“Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’” (al-Baqarah [2]: 32)

 

Dengan mengacu pada ayat-ayat ini, mereka yang ingin me­nelusuri satu kehidupan nan indah di dunia hendaklah mele­kat­kan diri pada prinsip-prinsip Al-Qur`an. Dengan ber­bu­at demikian, mereka akan meraih “kearifan”, satu kualitas yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa ingat dan takut kepada Allah. Kearifan (kebijaksanaan) inilah yang memungkinkan mereka memperoleh kehidupan paling terhor­mat, merasakan bahagia dan damai, dan—yang paling pen­ting—meraih tujuan mulia atas keberadaan mereka di bumi. Yang harus mereka lakukan adalah berserah diri kepada Allah dan Al-Qur`an; menekuni dan meneliti perintah-perintah dan nasihatnya, mencermati maksudnya, dan mengamalkannya.

Buku ini merupakan hasil renungan atas makna-makna yang terangkum dalam Al-Qur`an dan keindahan yang disajikan ke dalam kehidupan manusia. Ia hendak membantu para pembaca yang menekuni Al-Qur`an, sehingga mereka dapat meraih kehidup­an yang sesungguhnya, yang sesuai dengan makna-makna ha­ki­ki yang terkandung dalam ajaran-ajaran itu.


Sifat yang Terpuji Menurut Al-Qur`an

 

 

Di dalam Al-Qur`an, Allah memaparkan dengan rinci tentang sifat, moralitas tertinggi, dan pola pikir khas orang-orang beriman. Perasaan takut kepada Allah yang menghunjam di dalam kalbu mereka, keyakinan mereka yang tak ter­tan­ding­i dan upaya yang tak pernah goyah untuk mendapatkan rid­ha-Nya, kepercayaan yang mereka gantungkan kepada Allah, se­perti juga keterikatan, keteguhan, ketergantungan, dan ba­nyak lagi kualitas superior serupa, semuanya disuguhkan Al­-Qur`an. Lebih jauh, di dalam Kitab-Nya, Allah menyanjung kualitas-kualitas moral semacam itu, seperti keadilan, ka­sih sayang, rendah hati, sederhana, keteguhan hati, pe­nye­rah­an diri secara total kepada-Nya, serta menghindari ucap­an tak berguna.

Seiring dengan penyajian rinci tentang orang beriman mo­del ini, Al-Qur`an juga bertutur mengenai kehidupan orang-orang beriman pada masa dahulu dan bercerita kepada ki­ta ba­gaimana mereka berdo’a, berperilaku, berbicara, baik di kalangan mereka sendiri maupun dengan orang-orang lain di luar mereka, dan dalam menanggapi berbagai peristiwa. Me­lalui perumpamaan ini, Allah menarik perhatian kita kepada sikap dan perbuatan yang disenangi-Nya.

Titik pandang sebuah masyarakat yang jauh da­ri moralitas Al-Qur`an (masyarakat jahiliyah) terhadap ting­kah laku yang secara sosial bisa diterima bisa saja ber­ubah, sesuai de­­ngan tahapan waktu, suasana, budaya, peristiwa-peristiwa, dan manusianya sendiri. Akan tetapi, perilaku dari mereka yang ko­koh berpegang pada ketetapan hukum Al-Qur`an tetap tak tergoyahkan oleh adanya perubahan kondisi, waktu, dan tem­pat. Seseorang yang beriman senantiasa tunduk-patuh ke­pa­­da perintah dan peringatan Al-Qur`an. Karena itulah, ia men­c­er­­minkan akhlaq terpuji.

Pada bagian ini, akan kami perlihatkan sejumlah contoh pe­rilaku yang layak mendapat penghargaan sesuai penilaian Allah. Akan tetapi, kami tidak menguraikan semua kualitas pe­­­rilaku terpuji dari orang-orang beriman yang secara panjang lebar telah terteradalam Al-Qur`an. Kami hanya memfo­kus­kan perhatian pada moralitas terpuji yang masih ter­se­lu­bung dengan segala keagungan-keagungannya yang terpendam.

 

Konsep Kesucian

Allah menyeru orang-orang beriman supaya membersihkan (me­nyucikan) diri mereka, yang sesuai dengan fitrah jiwa me­reka dan sunnah alam. Kesucian dianggap sebagai satu bentuk lain dari ibadah orang beriman dan, dengan begitu, merupakan sa­tu sumber kelapangan dan kesenangan yang besar bagi me­re­ka sendiri. Di dalam banyak ayat, Allah memerintah­kan orang beriman agar memperhatikan kesucian jiwa dan ra­ga. Nabi kita saw. juga menekankan pentingnya memelihara kesucian,

“Kebersihan adalah sebagian dari iman.(HR Muslim)

Di bawah ini ada sejumlah rincian berkaitan dengan keber­sihan.

1. Kesucian Jiwa

Pengertian qur`ani tentang kesucian berbeda makna dengan yang dipahami oleh masyarakat awam. Menurut Al-Qur`an, su­ci adalah keadaan yang dialami dalam jiwa seseorang. De­mikianlah, kesucian berarti seseorang telah sama sekali mem­­bersihkan dirinya dan nilai-nilai moral masyarakatnya, ben­tuk pola pikirnya, dan gaya hidup yang bertentangan de­ngan Al-Qur`an. Dalam hal ini, Al-Qur`an menganugerahkan ke­­te­nangan jiwa kepada orang-orang beriman.

Tahap awal dari keadaan suci ini berwujud dalam pemikir­an. Tak diragukan lagi, ini merupakan satu kualitas ter­pen­ting. Kesucian jiwa yang dialami manusia tersebut akan ter­­pan­­car dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian, mo­ral terpuji orang tersebut akan nyata bagi siapa saja.

Manusia yang berjiwa suci akan menjauhkan pikirannya da­ri segala bentuk kebatilan. Mereka tidak pernah berniat me­nyakiti, cemburu, kejam, dan mementingkan diri sendiri, yang semuanya merupakan perasaan tercela yang diserap dan di­tampilkan oleh orang-orang yang jauh dari konsep moral Al-Qur`an. Orang-orang beriman memiliki jiwa kesatria, kare­na mereka merindukan moral terpuji. Inilah sebabnya, terle­pas dari penampilan ragawi, orang-orang beriman pun me­na­ruh perhatian besar pada penyucian jiwa mereka—dengan cara men­­jauhi semua keburukan yang muncul dari kelalaian—dan mengajak orang lain untuk mengikuti hal yang serupa.

 

2. Kesucian Ragawi

Di dunia ini, orang-orang beriman berupaya membina suatu lingkungan yang mirip dengan surga. Di dunia ini, mere­ka ingin menikmati segala sesuatu yang akan Allah anuge­rah­kan kepada mereka di surga. Sebagaimana kita pahami dari Al-Qur`an, kesucian ragawi merupakan salah satu dari kua­li­tas-kualitas yang dimiliki manusia surga. Ayat yang ber­bu­nyi, “... anak anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan,” (ath-Thuur [52]: 24) sudah otomatis menjelaskan hal itu. Sebagai tambahan, Al­lah menginformasikan kepada kita dalam banyak ayat la­in­nya, bahwa di surga tersedia, “pasangan-pasangan hidup yang se­nan­tiasa suci sempurna.” (al-Baqarah [2]: 25)

Di ayat lain, Allah menekankan perhatian pada ke­su­ci­an raga adalah yang merujuk pada Nabi Yahya a.s., “Kami anugerah­kan kepadanya... kesucian dari Kami.” (Maryam [19]: 12-13)

 

3. Pakaian yang Bersih

Al-Qur`an juga merujuk pada pentingnya pakaian bersih, se­perti dalam ayat, “Dan pakaianmu sucikanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.” (al-Muddatstsir [74]: 4-5)

Lebih jauh, kebersihan ragawi adalah hal yang penting, sebab hal ini me­nun­jukkan penghargaan seseorang kepada orang lain. Se­sung­guh­nya, penghormatan pada orang lain mensya­ratkan pemeliharaan tampilan fisik seseorang. Orang-orang beriman bukan sekadar menghindari kotoran, tapi juga mem­­berikan kesan rapi yang tak mencolok yang memperjelas besarnya rasa hormat mereka kepada orang lain. Salah satu cara untuk menunjukkan rasa hormat adalah memakai pakaian ber­sih. Melalui Al-Qur`an, Allah memerintahkan kepada kita,

 

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid....” (al-A’raaf [7]: 31)

 

Dalam pemahaman ini, menjaga kebersihan raga dan kerapi­an serta mengupayakan yang terbaik dalam berbagai hal, me­rupakan kualitas yang disenangi Allah. Kualitas-kualitas se­macam ini tidak diutamakan oleh orang-orang yang bodoh. Nabi kita saw. juga mempertegas pengesahan Allah akan kua­li­tas-kualitas seperti itu, sebagaimana disebutkan dalam ha­dits,

“Seseorang bertanya, ‘Bagaimana tentang seseorang yang suka mengenakan pakaian dan sepatu yang indah-indah?’ Ra­sulullah menjawab, ‘Semua ciptaan Allah adalah indah dan Dia menyukai keindahan.’” (HR Muslim)

Kita harus memperhatikan hal berikut ini. Umumnya, seti­­ap orang cenderung untuk berupaya sebaik mungkin memberi­kan kesan terhadap sesuatu yang mereka anggap penting pada se­ti­ap pertemuan dengan orang lain. Demikian halnya orang ber­iman, se­su­ai moralitas yang dikehendaki Al-Qur`an, me­re­ka tampak sa­ngat mementingkan kerapian dengan segenap ke­te­li­­tiannya de­ngan tujuan untuk menyenangkan Allah.

Orang beriman memang layak mendapatkan surga dan, di du­nia ini, mereka terikat untuk selalu berupaya menjaga diri dan lingkungannya agar tetap bersih, sehingga mereka bi­sa mendapatkan kesucian dan keindahan surga di dunia ini.

 

4. Memelihara Kebersihan Lingkungan

Umat Islam sangat berhati-hati dalam menjaga lingkungan terdekat mereka agar tetap bersih. Satu contoh tentang itu disebutkan dalam surah al-Hajj. Allah memerintah­­kan Na­bi Ibrahim a.s. untuk memelihara Ka’bah agar tetap bersih un­­tuk orang-orang beriman yang berdo’a di sekitar tempat itu,

 

“Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Jangan­lah kamu menyekutukan sesuatu pun dengan Aku dan su­cikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ru­ku dan sujud.’” (al-Hajj [22]: 26)

 

Sebagaimana dikehendaki ayat tersebut, kebersihan ling­­kungan tem­pat suci yang sejenis (mushala, masjid, majelis taklim, Ed.) harus dipelihara, terutama sekali bagi orang-orang beriman lainnya yang hendak menunaikan ibadah un­tuk mendapatkan ridha Allah. Karena itu, semua orang beriman yang mengikuti langkah Ibrahim a.s. harus menjaga tem­pat tinggal mereka agar tetap bersih dan rapi, sebab hal itu dapat menyenangkan hati mereka.

Konsep qur`ani tentang kebersihan jelas berbeda dengan pe­mahaman orang-orang yang tidak beriman. Allah memerintahkan orang-orang beriman supaya “bersih dan suci” baik lahir mau­pun batin. Dengan kata lain, hal ini bukanlah bersih da­lam pengertian klasik atau kuno, melainkan sebuah upaya ber­kesinambungan.

Menurut kaidah ini, penggambaran Al-Qur`an tentang kehi­dupan di surga juga bersifat perintah. Lingkungan surga su­dah dibersihkan dari segala bentuk kotoran yang dapat kita li­hat di sekitar kita. Surga adalah sebuah tempat yang pe­nuh dengan kebahagiaan, dengan kebersihan yang sempurna. Tiap detail yang terwujud di sana berada dalam keserasian yang sempurna dengan setiap detail lainnya. Dalam cahaya ilus­trasi seperti ini, insan beriman senantiasa harus berupa­ya menjaga lingkungan mereka agar bersih dan mengalihkan ke­nangan mereka pada tempat-tempat yang mengingatkan mereka ke­pada surga.

 

5. Memakan Makanan yang Bersih

Mengonsumsi pangan bersih adalah satu perintah Ila­hi­ah yang harus selalu ada dalam kalbu semua makhluk beriman,

 

“Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, melainkan mereka menganiaya diri mereka sendiri.” (al-Baqarah [2]: 57)

 

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dan apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu meng­­ikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya se­tan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah [2]: 168)

 

Sebagai tambahan, Allah memasukkan dalam hitungan kelom­pok As-habul Kahfi untuk menunjukkan bahwa orang-orang ber­­iman cen­derung kepada makanan bersih. Sebagaimana dapat kita baca,

 

“…Seorang di antara mereka berkata, ‘Tuhan kamu lebih me­ngetahui berapa lama kamu sudah berada di sini. Utus­lah salah seorang dari kamu ke kota dengan uang pe­rakmu ini, agar dia bisa melihat makanan mana yang le­bih baik, dan membawakan makanan itu untukmu….” (al-Kahfi [18]: 19)

 

Kita akan kembali ke topik ini pada bab lain dalam judul, “Makanan Bermanfaat yang Disebut di Dalam Al-Qur`an”.

 

Berlatih, Berenang, dan Air Minum

Perilaku lain yang disebutkan dalam Al-Qur`an tercantum di dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan ungkapan Nabi Ayyub a.s.,

 

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tu­hannya, ‘Sesungguhnya, aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.’(Allah berfirman) ‘Hentakkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’” (Shaad [38]: 41-42)

 

Dalam menanggapi keluhan kesulitan dan penderitaan, Allah menasihati Nabi Ayyub a.s. supaya “menghentakkan kaki”. Nasihat itu dapat dianggap satu pertanda yang berkena­an dengan manfaat kegiatan olahraga dan berlatih.

Berlatih, khususnya melatih otot-otot panjang seperti ter­dapat pada otot-otot kaki (sebagai contoh: gerakan-gerak­an isometrik), melancarkan aliran darah dan, karena itu, me­ningkatkan volume oksigen untuk masuk ke sel-sel tubuh. Se­lain itu, berlatih me­ngurangi elemen-elemen racun dari tu­buh yang dapat melenyapkan penat, memberikan rasa lega dan kesegaran,[1] dan memberikan kemampuan pada tubuh untuk mem­perbesar resistensi terhadap mikroba. Latihan teratur ju­ga menjaga urat-urat darah tetap bersih dan lebar, yang, dengan kondisi demikian, dapat mencegah: 1)penggumpalan pada urat-urat dan menurunkan risiko penyakit koroner arteri[2] dan 2) mengurangi risiko diabetes dengan mempertahankan kadar gu­la darah pada taraf tertentu dan meningkatkan jumlah ko­les­­terol yang aman di dalam liver.[3] Di samping itu, meng­hen­tak­­kan kaki ke tanah merupakan cara paling efektif untuk 3) me­lepaskan arus listrik statis yang sudah menumpuk di dalam tu­buh, yang kerap mengakibatkan badan kaku.

Sebagai tambahan, sebagaimana disebutkan ayat di atas, mandi diakui merupakan metode paling ampuh untuk menghilang­kan kebekuan arus listrik di tubuh. Ia juga melenyapkan ke­tegangan dan kerumitan pikiran, serta membersihkan badan. Karena itu, mandi merupakan satu penyembuhan efektif untuk stres dan banyak ketidakteraturan (gangguan) fungsi fisik dan ke­ji­wa­an.

Ayat tadi juga menarik perhatian kita pada manfaat-man­faat tak terhingga dari air minum. Hampir setiap fungsi ja­ringan tubuh dipantau dan dikendalikan agar menyerap air se­cara efisien melalui jalur pendistribusian. Fungsi-fungsi da­ri banyak organ tubuh (misalnya otak, kelenjar peluh, perut, usus, ginjal, dan kulit) sangat bergantung pada kecukupan distribusi air. Memastikan bahwa tubuh mendapat ja­­tah air yang cukup tidak saja membuat tubuh berfungsi lebih berdaya guna, bahkan mungkin menolong seseorang terhin­dar dari beragam masalah kesehatan. Peningkatan taraf kon­sum­si air telah terbukti membantu mengurangi berbagai ke­luh­an sakit kepala (migren, kolesterol darah ting­gi, sakit sa­luran rheumatoid penyebab rematik, dan tekanan darah ting­gi. Sebagai tambahan pada beragam manfaat tersebut, air ju­ga menghilangkan letih dan kantuk, sebab serapan air yang ter­atur dan mencukupi membantu menghilangkan anasir ra­cun dari tubuh.

Menaati semua anjuran ini, yang semuanya penting dan vi­tal bagi kesehatan raga dan mental kita, insya Allah akan mem­buahkan hasil terbaik.

 

Berjalan Kaki

Orang-orang congkak mengira sikap angkuh bisa menimbul­kan rasa kagum manusia lain. Dan, dengan begitu, secara ber­lebih-lebihan, mereka memamerkan gaya berjalan, ber­bi­ca­ra, dan memandang dengan penuh sikap sombong. Tanda-tanda aro­­gansi semacam itu tampak nyata dari gaya berjalan se­se­orang.

Ayat-ayat yang merujuk kepada nasihat bijak Luq­man kepada putra beliau mengungkapkan secara gamblang keangkuhan sikap dan penampilan seseorang,

 

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (ka­rena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Luqman [31]: 18)

 

Dalam ayat lain, orang-orang beriman dianjurkan untuk ti­dak berjalan dengan sikap angkuh,

 

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan som­bong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak da­­pat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sam­­pai setinggi gunung.” (al-Israa` [17]: 37)

 

Dengan ayat-ayat ini, Allah memberitahukan kepada kita bah­wa Dia tidak menyukai mereka yang sombong dan memperingat­kan kita agar menjauhi sikap seperti itu. Kita harus se­nantiasa ingat bahwa kesombongan setan, yang tampak dari tun­tutannya bahwa dia lebih tinggi dari makhluk-makhluk la­in­nya ciptaan Allah, yang menyebabkan dia tersingkir dari ha­dapan Allah. Orang beriman yang sadar akan keburukan kua­li­tas-kualitas seperti ini tentu saja menjauhi semua itu.

Tak seorang pun yang senang berada di sekitar orang som­bong. Siapa pula yang merasa nikmat berdampingan dengan orang-orang semacam itu? Umumnya setiap orang mengetahui bahwa orang-orang angkuh dan merasa diri lebih tinggi derajat­nya, dalam kenyataannya, tak lebih dari manusia biasa yang penuh dengan beragam ketidaksempurnaan dan kelemahan-ke­lemahan. Akibatnya, orang sombong, meskipun menderita oleh keangkuhan dirinya sendiri, takkan pernah mencapai tu­ju­an untuk menikmati prestise di kalangan manusia lain di se­kitarnya dan sering tercekam dalam kehinaan.

Al-Qur`an juga menekankan perhatian kita kepada kenyata­an bahwa orang-orang beriman harus memiliki sikap ber­ja­lan yang tidak berlebih-lebihan atau mengada-ada, seba­gai­ma­na yang disebutkan dalam ayat, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan....” (Luqman [31]: 19) Di dalam mematuhi perintah Allah, manusia yang sederhana akan berjalan dengan si­kap sederhana, dan dengan demikian meraih kemuliaan dalam pan­dangan Allah dan orang-orang beriman seluruhnya.

Intonasi Suara

Tinggi-rendahnya (intonasi) suara adalah bagian penting dari ung­kap­an perasaan positif seseorang. Bagaimana se­orang meng­gu­na­kan intonasi mencerminkan kualitas orang bersangkutan. Bahkan, suara merdu sekalipun dapat menyakiti ji­ka diartikulasikan dengan tidak sepatutnya. Allah menasiha­ti hamba-hamba-Nya melalui ucapan Luqman,

 

“... lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya, seburuk-buruk su­ara ialah suara keledai.” (Luqman [31]: 19)

 

Seseorang yang bi­­ca­ra dalam suara keras atau menghardik orang lain tidak akan memberi kesan menyenangkan pada pi­hak lain. Di samping itu, pada kebanyakan kasus, hal se­per­ti ini terasa tak tertahankan, seperti mendengarkan ra­ung­an keledai.

Dengan kata lain, cara orang bicara adalah hal yang pen­ting. Suara orang yang sedang dirundung berang mungkin ter­dengar tak mengenakkan, meskipun suara lelaki atau perem­puan itu, dalam suasana normal, mungkin terasa sedap ditelinga. Sebaliknya juga begitu, seseorang dengan lantunan suara tak sedap bisa saja terdengar lebih merdu kalau meng­ikuti nilai-nilai terpuji dari Al-Qur`an. Suara merdu, di pihak lain, mungkin saja terkesan menyerang dan tak ter­ta­hankan, jika orang itu angkuh dan berkesan menyakitkan. Karena suara orang tersebut, yang merupakan pantulan sifat ne­gatif diri, baik lelaki atau perempuan, cenderung ber­ke­luh kesah dan menghasut.

Sebagaimana halnya suara, mereka yang berakhlaq mulia selalu me­mi­liki sifat rendah hati, santun, bersahaja, damai, dan kon­struktif. Dengan sudut pandang positif dalam ke­hidupan, mereka selalu ceria, bersemangat, cerah, dan gembira. Sifat sempurna ini, yang timbul dari kehidupan dengan akhlaq perilaku seperti dijelaskan dalam Al-Qur`an, termanifestasikan dalam lantun suara seseorang.

 

Luhur Budi

Al-Qur`an menginformasikan kepada kita bahwa manusia beriman pa­da kenyataannya adalah orang-orang yang sangat bermurah ha­ti. Akan tetapi, konsep Al-Qur`an tentang akhlaq mulia agak berbeda da­­ri yang secara umum ditemukan dalam masyarakat. Manusia me­warisi sifat santun dari keluarga mereka atau menyerapnya dari lingkungan masyarakat sekitar. Akan tetepi, pengertian ini ber­­beda dari satu strata ke strata lain. Wujud keluhuran bu­di yang berlandaskan nilai-nilai qur`ani, walau ba­gai­ma­na­pun, me­le­bihi dan di atas nilai dari pemahaman mana pun, ka­rena ia tidak a­kan pernah berubah, baik oleh keadaan mau­pun manusia. Mereka yang menyerap unsur akhlaq mulia, se­ba­gai­ma­na pandangan Al-Qur`an, memandang setiap manusia se­ba­gai hamba-hamba Allah, dan karena itu memperlakukan mereka de­ngan segala kebaikan, walaupun tabiat mereka mungkin saja ti­dak sempurna. Orang-orang semacam ini menjauhi pe­nyim­pang­­an dan tingkah laku yang tidak patut, teguh dalam pen­di­rian, bahwa berketetapan dalam kebaikan mendatangkan kasih sayang Allah, sebagaimana ditandaskan dalam sebuah hadits,

“Allah itu baik dan menyukai kebaikan dalam segala hal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana ditunjukkan ayat berikut, Allah mendorong ma­nusia supaya berbuat baik dan santun kepada orang lain,

 

“Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari bani Is­rael, ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan ber­buat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah ka­ta-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kalian, dan kamu selalu berpaling.” (al-Baqarah [2]:83)

 

Al-Qur`an menghendaki kebaikan kemutlakan. Dengan ka­ta lain, manusia beriman tidak boleh berpaling dari perilaku ba­ik, sekalipun kondisi lingkungannya tampak menginginkan ke­­burukan dan ketidaksenangan. Kelemahan fisik, kehabisan te­na­ga, atau kesukaran tidak akan pernah menghalangi mereka da­­ri keajekan mereka dalam kebaikan. Sementara itu, tak peduli mereka kaya atau miskin, menikmati kedudukan gemerlap atawa jadi orang dalam bui, manusia beriman memper­la­kukan setiap orang dengan baik, karena mereka sadar bahwa Nabi kita saw. menegaskan pentingnya tiap orang beriman untuk berbuat demikian, sebagaimana tersebut dalam hadits, “Manakala kebaikan ditambahkan pada sesuatu, itu akan mem­perindahnya; apabila kebaikan ditarik keluar dari se­suatu, itu akan meninggalkan cacat.”(HR Muslim). Mo­ral­itas agung ini diperkuat dalam ayat berikut, sebagaimana sudah diutarakan dalam bagian sebelumnya,

 

“... berbuat baiklah pada ibu bapak, kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan fakir miskin, serta ucapkanlah kata kata yang baik kepada manusia....” (al-Baqarah [2]: 83)

 

Orang-orang beriman juga harus sangat berhati-hati ter­­hadap cara mereka memperlakukan orang tua mereka sendiri. Di dalam Al-Qur`an, Allah memerintahkan supaya mereka diperlakukan dengan segala kebaikan,

 

“Dan Tuhanmu telah perintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pa­da ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai ber­umur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali ja­ngan­lah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah ke­pa­da mereka perkataan yang mulia.” (al-Israa` [17]: 23)

 

Satu contoh dalam surah Yusuf menegaskan pentingnya meng­hormati orang tua. Nabi Yusuf a.s. pernah dipisahkan da­ri keluarganya, untuk waktu lama, karena saudara-saudaranya menjebloskan beliau ke dalam sebuah sumur. Tak lama ke­mu­di­an, beliau ditemukan oleh satu rombongan pedagang yang mem­ba­wanya ke Mesir dan menjualnya sebagai budak. Kemudian, ka­rena dakwaan palsu, dia dijebloskan ke penjara selama bertahun-tahun, dan dibebaskan, hanya berkat pertolongan Allah, untuk diangkat menjadi bendahara kerajaan Mesir. Ke­mu­di­an, setelah semua ini, beliau memindahkan seluruh ke­lu­ar­ga­nya dari Madyan ke Mesir dan menyambut mereka seperti ter­lukis dalam ayat berikut,

 

“Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf merang­kul ibu bapaknya dan dia berkata, ‘Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.’ Dan dia naikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana….” (Yusuf [12]: 99-100)

 

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa Nabi Yusuf a.s., ter­lepas dari status terhormatnya, berperilaku yang luar biasa santun kepada kedua orang tuanya. Mengangkat keduanya ke atas singgasana, menandakan hormat dan cintanya kepada ke­duanya, dan juga menunjukkan akhlaqnya nan mulia.

 

Ramah Tamah

Bagi umat beriman, yang mengikuti moralitas Al-Qur`an, me­muliakan tamu mereka merupakan wujud kepatuhan pada salah sa­tu perintah Allah serta satu kesempatan untuk mengaplikasi­kan moralitas yang tinggi. Sebab itulah, hamba-hamba ber­iman menyambut tamu-tamu mereka dengan penuh takzim.

Di dalam masyarakat yang tidak beriman, orang umumnya meng­anggap tamu sebagai satu beban, baik dari sudut material maupun spiritual, karena mereka tidak dapat melihat ke­ja­di­an-kejadian semacam itu sebagai kesempatan untuk men­da­pat­kan kesenangan Allah dan memperagakan akhlaq mulia. Se­ba­liknya, orang yang tidak beriman beranggapan bahwa santun dan sopan pada tamu tak lebih dari merupakan keharusan ke­ma­s­yarakatan. Hanya karena mengharapkan suatu imbalan ke­ber­untunganlah yang menggugah mereka untuk ramah dan santun pada tamu.

Al-Qur`an secara khusus menekankan perhatian agar manusia ber­iman menunjukkan akhlaq mulia kepada tamu. Sebelum yang lain-lainnya, manusia beriman menyuguhkan hormat, cinta, da­mai dan santun kepada setiap tamu. Sambutan biasanya di­da­­sarkan pada mempersiapkan tempat dan kebutuhan-kebutuhan la­in­nya, yang tanpa ungkapan hormat, cinta, dan damai, ti­dak bakal menyenangkan sang tamu. Di dalam ayat berikut, Allah mempertegas betapa Dia menyenagi kemolekan jiwa di atas apa pun selain itu,

 

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya, Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (an-Nisaa` [4]: 86)

 

Sebagaimana tersurat dalam ayat di atas, moralitas qur`ani mendorong ma­nu­sia beriman agar berlomba-lomba dalam amal kebaikan, wa­lau sekadar perbuatan biasa seperti menyam­but tamu, sebagai sa­tu sikap yang sudah dicontohkan di sini.

Al-Qur`an juga menginginkan kita memperlakukan tamu agar mereka merasa nyaman dengan menanyakan apa saja keperluan mereka, dan memenuhinya, sebelum sang tamu mengutarakannya. Cara Nabi Ibrahim a.s. melayani tamu beliau merupakan satu contoh bagus tentang ini dan merupakan peragaan satu wujud penting dari keramahtamahan,

 

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan? Ingatlah ketika mereka masuk ke tem­patnya lalu mengucapkan ‘Salamun!’; Ibrahim menja­wab ‘salaman’, kalian adalah orang-orang tidak di­ke­nal. Maka dia pergi secara diam-diam menemui keluar­ga­nya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang di­bakar), lalu dihidangkan kepada mereka (tetapi me­re­ka tidak mau makan).” (adz-Dzaariyaat [51]: 24-27)

 

Satu hal penting dari ayat-ayat ini yang menarik perha­tian kita: akan lebih baik kita lebih dulu menanyakan keperluan tamu, laki atau perempuan, sebelum dia memintanya, karena tamu yang sopan biasanya menunda-nunda me­nge­mu­ka­­kan keper­lu­an­nya. Di luar dari pemikirannya, tamu semacam ini bahkan mencoba menolak apa yang mungkin ditawarkan tu­an­/nyonya rumah. Bila ditanya apakah dia memerlukan se­suatu, sang tamu mungkin akan menjawab “tidak” dan ber­te­ri­ma kasih atas tawaran tersebut. Untuk alasan seperti itu, moral qur`ani akan memikirkan sejak awal tentang apa saja yang mungkin diperlukan tamunya.

Perilaku lain yang disukai berkenaan dengan hal ini ada­­­lah menawarkan bantuan tanpa menunda-nunda. Di atas sega­lanya, perilaku seperti ini mengedepankan rasa senang tu­an ru­­mah bila tamu merasa bahagia berada di sana. Sebagai­ma­na disebutkan ayat tadi, menawarkan sesuatu “dengan se­ge­ra” mengungkap kemauan tulus tuan/nyonya rumah untuk me­la­yani tamunya.

Tingkah laku mulia lainnya yang dapat dipetik dari ayat-ayat tadi adalah walaupun Nabi Ibrahim a.s. belum pernah kedatangan tamu sebelumnya, dia berupaya keras untuk me­­­­la­yani mereka sebaik mungkin dan bersegera menyuguhkan da­ging bakar “anak sapi gemuk, sejenis daging yang terkenal sangat sedap rasanya, sehat dan bergizi. Dus, bisa kita tam­bahkan bahwa selain dari mencukupi layanan-layanan yang te­lah disebutkan, tuan/nyonya rumah harus pula mempersi­ap­kan dan menawarkan makanan kualitas prima, enak, dan segar.

Di luar semua ini, Allah juga menekankan perhatian akan daging yang hendak disajikan untuk tamu.

 

 


Konsep Kebijaksanaan Pilihan di Dalam Al-Qur`an

 

 

Al-Qur`an selalu menekankan konsep kebijaksanaan. Kuali­tas ini dikhususkan untuk orang-orang beriman. Namun, ma­nu­sia menggunakan istilah-istilah bijaksana dan cerdik itu bertukar-balik. Oleh sebab itu, per­­bedaan makna di antara kedua kata tersebut selalu membingungkan, dengan ang­gap­an, yang tentu saja keliru, bahwa orang cerdik dengan sen­di­ri­nya bi­jak­sana. Bijaksana, bagaimanapun, adalah memahami bah­wa Allah hanya meridhai insan-insan beriman. Itu berarti memberdayakan manusia untuk menganalisis dan memahami hal yang dikemukakan ini secara tepat agar mereka mengenal hu­kum alam sebenarnya dan mencarikan solusi pemecahan masalah de­ngan setepat-tepatnya. Berbeda dengan pengertian awam, bi­jak­sana tak ada kaitannya dengan kepintaran seseorang; bah­kan itu merupakan hasil dari keteguhan keyakinan se­se­orang. Dalam banyak ayat, Allah merujuk pada orang-orang tidak beriman sebagai “manusia tanpa kebijaksanaan”.

Kepintaran seseorang tampak dari reaksi seseorang saat meng­hadapi kejadian tak terduga dan situasi runyam. Dibanding­kan dengan reaksi dari mereka yang tidak punya pema­ham­an mendalam tentang adanya Allah, dan karena itu disebut tidak punya wisdom (kebijaksanaan), dengan mereka yang memiliki keyakinan kuat, tampak perbedaan kadar kebijak­sa­na­an masing masing kelompok itu. Bila dihadapkan pada ke­ja­di­an-kejadian mendadak, manusia beriman tetap bersikap mo­de­rat dan menggunakan kebijakan mereka untuk mendapatkan pe­mecahan serta-merta dan tak sia-sia, terlepas dari ke­ru­mit­an situasi. Pendirian bijaksana semacam itu merupakan ha­sil dari pemahaman mereka pada Al-Qur`an, yang Allah ung­kap­kan sebagai satu “kriteria dari pertimbangan antara be­nar dan salah” dan hidup mengikuti perintahnya.

Setiap orang dapat merancang beragam pola pemecahan ma­­salah bila dihadapkan pada situasi yang menghendaki kewas­padaan dan kebijakan. Dan, dengan begitu mereka dapat mencegah kerugian. Namun, tidak ada solusi yang sepasti dan seabadi daripada apa yang diberikan oleh Al-Qur`an, karena berasal dari Allah, yang Maha Mengetahui. Orang beriman yang bertawakal pada Al-Qur`an dan telah dengan kokoh menggenggam “semua petuah ayat-ayatnya,” tentu mendapatkan beragam hasil yang diharapkan dalam segala urusan mereka.

Dalam bab berikut, kita akan menyoroti berbagai hal tentang tindakan-tindakan bijak arahan Al-Qur`an yang diran­cang untuk membimbing orang-orang beriman.

 

Menganalisis Berbagai Tahapan

Kemungkinan dalam Perkembang­an

Adanya kemampuan untuk memikirkan secara menyeluruh se­belum mengawali suatu tugas, menaksir-naksir tahapan-tahap­an kemungkinan menjelang pelaksanaannya, memperhitungkan ke­mungkinan beragam situasi dan akibatnya yang dapat ter­ja­di merupakan tanda-tanda signifikan dari kebijaksanaan. Orang yang tidak bijaksana gagal mempertimbangkan hal-hal ter­­selubung ini dan abai mempertimbangkan pro-kontra se­be­lum membuat keputusan atau mewujudkan suatu gagasan. Ke­te­le­doran sering mendatangkan akibat yang tidak diharapkan dan tak terduga.

Metode Nabi Ibrahim a.s. dalam menyebarkan wahyu Allah ke­pada kaumnya dapat dijadikan teladan uniknya kemampuan ber­pikir menakjubkan dari orang beriman. Kaumnya, yang penyem­bah berhala batu pahatan, bersikeras pada kepercayaan se­sat mereka, memuja patung, meskipun tidak se­utuh­nya mereka yakin akan kebenarannya. Sebab itu, Nabi Ibrahim a.s. me­mutuskan untuk menggunakan metode lain dan menyiapkan sa­tu rencana tahapan tindakan berkelanjutan.

 Dalam rangka membuktikan kepada kaumnya, bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak bermakna selain dari ke­ping­an-kepingan batu belaka, beliau memutuskan untuk meng­han­curkan berhala-berhala tersebut. Tapi sebelum rencana di­laksanakan, dia telusuri metode bijaksana yang paling te­pat, dengan lebih dulu memastikan tidak ada seorang pun yang melihat perbuatannya. Metode itu tergambar dalam ayat berikut,

 

“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya, aku sakit.’ Lalu mereka berpaling darinya dengan membelakang.” (ash-Shaaffat [37]: 89-90)

 

Sebagaimana diungkapkan dalam sejumlah ayat, segera se­­telah beliau sampaikan bahwa dirinya sakit, orang-orang di sekelilingnya meninggalkan tempat itu dan membiarkan dia sen­dirian bersama berhala-berhala itu. Kisah selanjutnya adalah sebagai berikut.

 

“’Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter­hadap berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkan­­nya.’ Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu han­cur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) da­ri patung-patung yang lain; agar mereka kembali (un­tuk ber­tanya) kepadanya.” (al-Anbiyaa` [21]: 57-58)

 

Nabi Ibrahim a.s. menghancurkan semua berhala batu tersebut, kecuali yang terbesar, yang jadi sosok pujaan kaum­nya, karena mereka anggap memiliki kekuatan besar. Tidak la­ma kemudian, kaumnya datang menghampiri Nabi Ibrahim dalam keadaan marah,

 

“Mereka bertanya, ‘Kamukah yang melakukan pebuatan ini ter­hadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang me­lakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.’ Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, ‘Sesung­guh­nya, kami sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (di­ri sendiri).’” (an-Anbiyaa` [21]: 62-64)

 

Dengan mencermati ayat-ayat bersangkutan secara menyelu­ruh, nyatalah bahwa Nabi Ibrahim a.s. mewujudkan rencana be­liau secara bertahap dengan sangat bijaksana. Hasil­nya, beliau mendapatkan apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya, ka­umnya yang memuja berhala mulai menyadari bahwa patung satu-satunya yang tersisa tidak punya kemampuan untuk me­no­long mereka. Patung besar ini, seperti juga berhala yang la­in­nya yang sudah hancur berantakan, tak lebih dari ke­ping­an batu yang tak bisa melihat, mendengar, atau ber­bi­ca­ra. Lebih penting lagi, batu-batu itu tidak mampu me­lin­dungi diri mereka sendiri. Inilah pesan yang sesungguhnya disampaikan Nabi Ibrahim a.s. kepada kaumnya: Jauhi pe­nyem­bah­an batu dan sembahlah Allah, sang Maha Pencipta seluruh alam raya.

Nabi Ibrahim a.s. telah menganalisis kemungkinan-kemung­kinan yang mungkin timbul dan mendapatkan hasil yang di­harapkan. Tamsil ini, bersama dengan banyak contoh serupa yang terhampar di dalam Al-Qur`an, menandaskan bahwa memperhitungkan situasi lingkungan serta sisi psikologis ma­nu­sia agaknya cukup efisien untuk mendapatkan hasil akhir yang dikehendaki. Orang-orang beriman yang bijak lestari se­­lalu memperhitungkan pelaksanaan satu tugas, tahap demi tahap, dan dengan cermat mempertimbangkan faktor dan elemen yang bakal membawa hasil jangka panjang. Sementara itu, tin­dakan-tindakan berlandaskan Al-Qur`an yang mereka wujudkan, sebagaimana juga inisiatif yang mereka prakarsai untuk tu­juan baik, tidak akan membawa kerugian di kemudian hari.

 

Sahabat Andalan

Sebelum pergi menemui Fir’aun untuk menyampaikan pesan Allah, Nabi Musa a.s. meminta persetujuan Allah agar mengizin­kan saudaranya, Harun a.s., untuk menyertainya, seperti dapat kita baca dalam ayat berikut,

 

“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluarga­ku, yaitu Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia ke­kuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, su­pa­ya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak meng­ingat Engkau. Sesungguhnya, Engkau Maha melihat (ke­ada­an) kami.” (Thaahaa [20]: 29-35)

 

Sebagaimana penjelasan ayat-ayat itu, adalah bijaksana untuk mendapatkan sahabat andalan bila menghadapi satu tugas penting. Sesungguhnya, Allah mengabulkan do’a ini. Ayat ber­ikut menegaskan manfaat-manfaat lahiriah dan batiniah dari keikutsertaan teman andalan,

 

“Allah berfirman, ‘Kami akan membantumu dengan saudara­mu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang be­sar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu ber­dua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang.’” (al-Qashash [28]: 35)

 

Bila orang-orang beriman berpegang pada metode ini, me­­reka dapat saling menolong bila salah seorang dari mereka ga­gal atau keliru. Di samping itu, sudah menjadi fakta, ada­­lah lebih mudah bagi dua insan beriman untuk terus memelihara keadaan mengingat kepada Allah, sebab mereka dapat saling mengingatkan terhadap tugas ini manakala pikiran sa­­lah seorang dari mereka mulai bimbang. Ini satu rahasia lain yang diungkapkan ayat tersebut.

Tentu saja, masih banyak manfaat lain yang dapat diraih dari kehadiran sahabat andalan. Keberadaan insan ber­iman la­innya di sisi seseorang dapat menjamin keamanan mereka, se­bab orang yang abai meramalkan suatu bahaya mungkin bisa di­selamatkan oleh tindakan teman pendamping untuk mencegah ri­siko yang mungkin menerpa.

 

Pembagian Tugas

Allah bersumpah atas sejumlah hal di dalam Al-Qur`an un­tuk menekankan pentingnya hal-hal tersebut untuk diperhatikan. Salah satunya mengenai pembagian tugas.

 Dengan bersumpah demi, “(malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan,” (adz-Dzaariyaat [51]: 4) Allah menegas­kan manfaat dari perkongsian. Dengan mematuhi nasihat ini, agar mendistribusikan kerja di antara orang-orang beriman, banyak waktu dapat dihemat dan memungkinkan mereka me­nye­le­sai­kan tugas lebih cepat tinimbang di kerjakan seorang di­ri. Ternyata, satu tugas yang memerlukan sepuluh jam untuk di­se­le­sai­kan satu orang dapat diselesaikan dalam hanya satu jam ji­ka sepuluh orang dilibatkan di dalamnya.

Keuntungan lain adalah tercapainya kualitas hasil akhir yang lebih ting­gi. Dari kerja sama semacam ini, tiap peserta dapat mengambil kearifan, pengetahuan, keahlian, dan pengalaman dari mereka yang turut serta dalam pekerjaan tersebut.

Sebagai tambahan, manakala sejumlah orang dilibatkan da­lam pelaksanaan suatu tugas, kesalahan dan kekeliruan poten­si­al dan kerusakan, yang acap timbul dari ketergesa-gesaan, bisa banyak dikurangi.

Dalam masyarakat tidak beriman, orang umumnya cenderung memonopoli satu pekerjaan untuk diri sendiri dan tidak per­lu berkongsi dengan orang lain; tujuannya agar semua peng­hargaan dan imbalan yang diberikan oleh mereka yang me­nik­mati hasil pekerjaan itu menumpuk pada si pemborong sen­diri. Pembagian kerja dapat menghapus kerakusan semacam itu dan melenyapkan keinginan jelek untuk memborong keuntungan da­ri keberhasilan suatu proyek. Betapapun, suksesnya sebuah pro­yek tak lepas dari keikutkesertaan kebijakan, penge­ta­hu­an, dan pengalaman sejumlah orang, sehingga tak seorang pe­ser­ta pun berhak menyombongkan diri sabagai orang yang pa­ling besar andilnya. Sesungguhnya, orang-orang beriman ti­dak­lah mencari-cari superioritas diri, sebab segala sesuatu yang mereka inginkan adalah kesenangan Allah swt. atas amal perbuatan hamba-hamba-Nya.

Pembagian kerja juga mendatangkan manfaat lain: bekerja secara kolektif untuk keperluan bersama akan mempererat per­sahabatan, persaudaraan, dan kesetiaan sesama peserta. Bah­kan, lebih dari itu, kerja sama memungkinkan seseorang me­ngenal keindahan dan keahlian orang lain dan menepis nafsu serakah dari kalbu orang bersangkutan, dan akhirnya mem­buat dia jadi orang sederhana (moderat).

Bekerja bersama untuk mendapatkan kesenangan Allah mem­buat para peserta merasa saling dihargai, disenangi, dan ber­­bakti, karena suasana yang melandasi kerja semacam itu. Ti­ap upaya yang mereka kedepankan untuk memenuhi tugas yang diemban mencerminkan cinta dan pengabdian kepada Al­­lah. Menyadari kenyataan ini adalah faktor lain yang menyuburkan persaudaraan di kalangan orang-orang beriman.

Malam untuk Beristirahat, Siang untuk Bekerja

Al-Qur`an menyatakan siang hari adalah waktu untuk ber­aktivitas, sementara malam hari lebih baik dimanfaatkan un­tuk istirahat. Ayat yang berkenaan dengan hal itu adalah,

 

“Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu ber­­istirahat padanya dan (menjadikan) siang terang ben­derang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguh­nya, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.” (Yunus [10]: 67)

 

Dengan meneliti tubuh manusia ter­ung­kaplah bahwa metabo­l­isme tubuh sudah diatur supaya beristirahat waktu malam dan bekerja pada siang hari. Kala mentari mulai terbenam, ke­­lenjar otak, yang berada di landasan otak, mulai mem­ben­dung melatonin. Ini membuat orang jadi kurang siaga. Fung­si ker­ja otak menurun dan suhu badan anjlok. Semua reaksi tu­buh terhadap kegelapan akhirnya merendahkan produktivitas se­seorang.

Dengan munculnya waktu fajar, peringkat melatonin berku­rang dan hormon-hormon diaktifkan. Sementara itu, suhu ba­dan meningkat dan fungsi-fungsi otak mencapai tingkat mak­simum. Faktor-faktor ini memberi sumbangan pada kesiagaan, perhatian, dan produktivitas seseorang. Fakta-fakta se­per­ti ini membawa kearifan seperti yang disebutkan dalam ayat,

“Allah menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya.”

 

Merahasiakan Informasi Penting terhadap

Orang yang Bermaksud Jahat

Al-Qur`an menegaskan pentingnya untuk tidak menyebarkan informasi penting kepada orang-orang yang mempunyai mak­sud je­lek, yang menyukai informasi semacam ini untuk me­len­­­­ceng­kan sesuatu yang baik dari orang-orang beriman. Oleh ka­re­na­ itu, bila orang seperti itu tahu bahwa sesuatu yang baik bakal terjadi pada orang yang tidak dia sukai, ke­cem­bu­ru­an orang tadi akan menghadang in­for­masi tersebut sampai kepada orang yang dibencinya itu dengan beragam upaya.

Al-Qur`an memberikan informasi pada kita tentang sauda­ra-saudara lelaki Nabi Yusuf a.s., yang tergolong orang-orang buruk keinginan. Karena kecemburuan mereka pada Nabi Yusuf a.s.—ayah mereka (Nabi Ya’qub) sangat mencintai adik mereka itu—maka mereka menyimpan dendam di hati. Nabi Ya’qub a.s., yang mengetahui adanya maksud jahat yang terpen­dam di hati anak anaknya itu, menasihatkan Yusuf supaya ti­dak mengungkapkan rahasia mimpinya kepada mereka. Dia tahu mimpi itu, yang mengabarkan pada Yusuf bahwa dia hamba pilihan Allah dan dianugerahi banyak karunia, akan membuat saudara-saudaranya tambah marah. Ayat-ayat Al-Qur`an men­ce­ri­takan,

 

“(Ingatlah) Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, ma­ta­hari, dan bulan, kulihat semuanya tunduk padaku.’ Ayah­­nya berkata, ‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mim­pimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka mem­bu­at makar (untuk membinasakan)-mu. Sesungguhnya, se­tan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dan de­mi­kianlah, Tuhanmu, memilihkamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari tabir mimpi mim­pi dan disempurnakan-Nya kepadamu dan kepada ke­lu­ar­ga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nik­-mat­nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ib­ra­him dan Ishaq. Sesungguhnya, Tuhanmu Maha Me­nge­ta­hui lagi Mahabijaksana.’” (Yusuf [12]: 4-6)

 

Allah menyeru manusia merenungkan peristiwa ini, “Sesung­guhnya, ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (ki­sah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf [12]: 7) Tetap waspada kala berada di te­ngah-tengah mereka yang memiliki maksud buruk dan menolak in­formasi penting dari mereka merupakan pelajaran berguna yang bisa dipetik dari ayat-ayat ini.

 

Mengambil Tindakan Dini

Tindakan lain yang Allah tekankan kepada ki­ta adalah agar kita segera bereaksi bila berhadapan dengan satu situasi yang harus ditangani. Di dalam Al-Qur`an, Allah menunjukkan kepada kita satu sikap yang dipraktikkan Nabi kita saw. sebagai contoh,

 

“Dan (ingatlah) ketika kamu berangkat pada pagi hari da­ri rumah keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Men­de­ngar lagi Maha Mengetahui.” (Ali Imran[3]: 121)

 

Seperti disebutkan ayat, dalam suasana perang, Nabi Mu­­ham­mad saw. meninggalkan rumah beliau pada dini hari untuk memberikan pengarahan kepada para pengikut beliau berkenaan dengan tugas-tugas mereka dan mempersiapkan mereka terhadap apa yang bakal terjadi. Selama 1400 tahun, apa yang dipraktikkan Nabi kita saw. telah membimbing dan memberi semangat kepada orang-orang beriman.

Orang yang cepat bertindak mendapatkan cukup waktu untuk mempersiapkan diri. Tambahannya, satu situasi tak ter­­duga atau satu penundaan tidaklah mendatangkan tekanan tam­bahan, sebab mereka punya cukup waktu untuk menghadapi masalah masalah ini.

Berada dalam keadaan tidak tergesa-gesa dapat secara psi­kologis dapat meningkatkan derajat kelegaan jiwa seseorang, sedangkan keterbatasan waktu dapat mem­­buat orang panik dan gelisah. Dua keadaan pikiran yang merintangi kemampuan orang berkonsentrasi, mengemukakan alasan, dan merancang pemecahan masalah yang tepat. Sebaliknya, waktu yang cukup memadai memungkinkan orang bekerja dengan kedamai­an pikiran dan nir-tekanan, mencurahkan perhatian dan kearifan mereka pada pemecahan masalah, dan dengan begitu membuka peluang memformulasikan keputusan terbaik.

 


Waspada di Waktu Malam

Meskipun Allah sudah menentukan malam sebagai waktu un­­tuk ketenangan, Al-Qur`an menyeru kita supaya waspada mela­lui ayat berikut,

 

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluknya, dan dari ke­ja­hat­an malam apabila telah gelap-gulita.’” (al-Falaq [113]: 1-3)

 

Malam, khususnya saat gelap gulita, membatasi kemampuan keandalan tertentu manusia dan menjadikannya jauh le­bih sulit mengambil tindakan-tindakan pengamanan diri. Pada wak­tu malam, akan lebih sulit mempradugakan bahaya, yang ar­tinya: bahwa tingkat kepedulian seseorang tambah menurun. Fak­tor utama di belakang meningkatnya taraf risiko adalah keinginan orang-orang tidak beriman untuk terlibat dalam tin­dak kejahatan di bawah selubung kegelapan, yang me­lin­dungi mereka dari pandangan orang lain. Angka statistik ke­ja­hatan pembunuhan, pencurian, dan banyak lagi kegiatan ke­gi­at­an tidak legal dan berbahaya mengungkapkan bahwa per­bu­at­an perbuatan durjana mereka itu cenderung lebih tinggi volumenya mulai tengah malam hingga waktu fajar.

Al-Qur`an juga menyatakan bahwa orang-orang tak beriman cenderung menyakiti/mengganggu orang beriman di malam ha­ri. Seperti dapat kita baca,

 

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak ber­sembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ke­tika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan ra­hasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Me­liputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (an-Nisaa` [4]: 108)

 

Dalam ayat lain, Allah memberi tahu kita tentang satu makar jahat terhadap Nabi Salih a.s. oleh orang-orang tidak beriman yang memendam kebencian mendalam ter­hadap beliau, dan mengingatkan kita supaya berhati-hati ter­hadap rencana rencana jahat semacam itu,

 

“Mereka berkata, ‘Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bah­wa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada wazirnya (bahwa) kita tidak menyak­sikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.” (an-Naml [27]: 49)

 

Orang-orang beriman adalah mereka yang meng­am­bil peringatan-peringatan Allah dengan penuh keyakinan, dan dengan begitu mengenggam erat pandangan rasional atas semua pe­ristiwa, menerapkan segala jenis kewaspadaan guna melindungi keselamatan mereka di malam hari. Khususnya kala be­per­gian, bekerja, atau bahkan waktu tidur, mereka tetap awas terhadap kemungkinan datangnya bahaya. Tapi, orang harus ingat bahwa semua perhatian ke arah itu tidak setara de­ngan kejahatan, karena itu manusia beriman di samping meleng­kapi persyaratan kewaspadaan yang diperlukan; lalu me­mas­rah­kan diri mereka pada ketentuan Allah.

 

Tidak Bertindak Sendirian

Dari catatan Al-Qur`an tentang para nabi terdahulu, yang melanjutkan pengabdian sebagai panutan untuk semua orang beriman karena kepatuhan mereka pada berbagai perintah dan larangan Allah, kita mengetahui bahwa setiap Nabi di­­temani seorang pendamping, khususnya waktu menjalankan satu misi penting. Sebuah contoh tipikal adalah Nabi Musa a.s. yang didampingi saudaranya sendiri, Harun a.s.. Sebelum me­­nemui Fir’aun, yang sangat membenci dirinya, Nabi Musa a.s. ber­­­munajat kepada Allah agar memperkenankan Harun a.s. m­e­­ne­mani beliau sebagai teman pendamping,

 

“Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku un­tuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku kha­wa­tir mereka akan mendustakanku.” (al-Qashash [28]: 34)

 

Di samping itu, kehadiran pendamping dapat mengurangi nya­­li dan kegetolan mereka yang punya maksud maksud jahat. Se­dangkan kesendirian lebih mendorong mereka untuk me­lam­pi­as­kan niat buruk mereka.

Perjalanan Nabi Musa a.s. dan seorang muridnya adalah sa­tu contoh lain,

 

“Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke per­temuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan bertahun-tahun.’ Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu me­lompat mengambil jalannya ke laut itu.” (al-Kahfi [18]: 60-61)

 

Sebagaimana disebut pada ayat berikutnya, Nabi Musa men­dapat keuntungan dari teman dalam perjalanan panjang itu. Praktik seperti ini, sebetulnya, merupakan satu bentuk ke­waspadaan yang bijaksana. Karena berjalan sendirian ke tem­­­pat jauh dengan orang yang tidak mengenal kondisi dan si­­tuasi wilayah bisa jadi petualangan meragukan, kalau bukan lebih jelek taruhannya. Dalam hal ini, panduan dan du­kung­­an orang lain, dalam artian material dan spiritual, me­ru­pakan pertolongan besar bila seseorang harus mengatasi ke­su­litan kesulitan yang sangat mungkin ditemui selama dan se­sudah perjalanan.

Al-Qur`an membeberkan perjalanan Nabi Muhammad saw. da­ri Mekah ke Madinah sebagai contoh lain,

 

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguh­nya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Me­kah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika ke­duanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada te­mannya, ‘janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan se­ru­an orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Ma­ha­bi­­jak­sana.” (at-Taubah [9]: 40)

 

Mereka yang memusuhi Nabi saw. ingin menangkap dan mem­bunuh beliau, dengan demikian akan melenyapkan pengaruhnya atas para pengikut beliau. Kalaulah Nabi saw. seorang di­ri, di bawah tekanan risiko dan berbahaya itu, tak di­ra­gu­­kan lagi, kaum penyembah berhala pasti memanfaatkan ke­sem­patan mewujudkan ambisi-ambisi jahat mereka. Itu se­bab­nya Nabi kita saw. selalu ditemani oleh setidak-tidaknya sa­tu orang beriman. Praktik inilah yang terus-menerus mem­bim­bing kaum muslimin hingga hari ini.

 

Hidup di Tempat-Tempat Aman

Kondisi-kondisi di sekeliling para Nabi dan pengikut-pengikut mereka dalam kurun perjuangan mereka menghadapi ke­pungan kaum musyrikin dan jahiliah telah mengharuskan para utusan Allah itu untuk meningkatkan kewaspadaan. Tekad ku­at untuk hidup sesuai dengan kaidah prinsip Islam seraya me­nyebarkan pesan Allah, betapapun, telah direspons dengan si­kap permusuhan dan kekerasan oleh puak-puak masyarakat se­kitar. Dalam banyak kasus, sikap memusuhi itu bahkan menju­rus ke upaya-upaya membunuh sejumlah nabi.

Kaum beriman berkeyakinan bahwa segala sesuatu ter­ja­di atas kehendak Allah. Kalau mereka diserang, mereka yakin ada hikmah yang terselip di dalamnya, sebab Al-Qur`an menegas­kan adanya kebaikan pada tiap peristiwa. Maka orang ber­iman yang tidak takut pada siapa atau apa pun selain dari Allah, menempuh cara cara rasionil dan meningkatkan ke­was­pa­da­an untuk menggagalkan rencana makar terhadap mereka.

Salah satu wujud kewaspadaan itu adalah membangun perbentengan kokoh dan aman di sekeliling tempat tinggal dan kota mereka. Al-Qur`an menginformasikan kepada kita ten­tang dua orang yang beperkara yang datang kepada Nabi Dawud a.s..

 

“Dan adakah sampai kepadamu berita tentang orang-orang beperkara ketika memanjat pagar?” (Shaad [38]: 21)

 

Ayat ini, yang berhubungan dengan upaya mereka untuk menemui Nabi Dawud, juga memberi gambaran kepada kita tentang tempat tinggalnya. Mungkin itu satu tempat berteduh yang aman dikelilingi tembok tinggi dan tak mudah diserang.

Wujud kewaspadaan lain yang disebut dalam Al-Qur`an ada­lah memelihara anjing di pintu-pintu masuk dan meningkat­kan keamanan. Seperti dapat kita baca,

 

“Dan kamu mungkin mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah hati kamu akan dipenuhi ketakutan terhadap mereka.” (al-Kahfi [18]: 18)

 

Pemuda-pemuda ini, yang disebut Al-Qur`an sebagai “As-habul Kahfi”, berlindung di dalam sebuah gua dari pe­ngu­asa tirani di masa itu, yang sangat membenci agama. Seperti sejumlah ayat memberitakan pada kita, Allah menghendaki mere­ka tetap dalam keadaan tidur untuk waktu bilangan tahun. Da­ri ayat-ayat tersebut, kita mengetahui bahwa selama bi­lang­an tahun itu mereka menempatkan seekor anjing di pintu gua untuk menjaga keamanan mereka.

 

Menghasilkan Solusi yang Tangguh dan Bertahan Lama

 

“Mereka berkata, ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pemba­yaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’ Dzulqarnain berkata, ‘Apa yang telah di­kuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah le­bih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan(manusia dan alat-alat) agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan potongan besi. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua puncak gu­nung itu, berkatalah Dzulqarnain, ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, ”Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa melubanginya.” (al-Kahfi [18]: 94-97)

 

Pelajaran yang dapat diambil dari sini sudah dijelaskan sendiri oleh ayat yang kita baca: Tinimbang bergantung pada pengamanan lemah dan tidak tangguh, Dzulqarnain me­mi­lih teknologi canggih di masanya, mulai dari bahan hingga pa­da metode konstruksi, untuk membangun perbatasan yang tak ter­tembuskan, agar keamanan masyarakat di sana dapat di­pu­lih­­kan. Sebagai kewaspadaan kedua, dia tuangkan cairan tem­ba­ga mendidih ke atas pagar besi itu.

Inilah tingkat kewaspadaan yang disediakan Al-Qur`an un­tuk orang-orang beriman. Sejalan dengan rekomendasi-rekomendasi tersebut, setiap keadaan yang tidak disukai atau ti­dak menguntungkan, kecil ataupun besar, harus dihindarkan se­suai dengan kemampuan orang-orang beriman merancang pem­ba­ngunan proyek-proyek yang kokoh, tangguh, dan tak ter­tem­bus­kan oleh sembarang serangan.

Menolak Memberikan Informasi kepada Orang yang Bermaksud Jahat Akan Mengungkap Kelemahan Mereka

Mereka yang memendam benci dan cemburu terhadap orangorang beriman, siap menggunakan setiap peluang untuk me­mu­as­kan perasaan-perasaan itu. Oleh sebab itu, insan beriman ja­ngan sekali-kali memberi kesempatan apa pun kepada mereka untuk merancang serangan terselubung.

Allah minta perhatian kita pada masalah ini dengan mengkaitkannya pada kisah Nabi Yusuf a.s.. Saudara-saudara beliau yang seayah berkomplot untuk membunuhnya karena deng­ki dan cemburu, sebab ayah mereka yang sangat menyayangi Yusuf. Menurut perkiraan mereka, bila Yusuf sudah ti­ada, kasih sayang ayah akan beralih pada mereka. Untuk men­ca­pai tujuan tersebut, mereka merancang siasat busuk se­per­ti tersebut dalam surah Yusuf, sebagai berikut.

 

“Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, apa sebabnya engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguh­nya kami adalah orang-orang yang mengingini ke­ba­ik­an baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pa­gi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) ber­­main-main, dan sesungguhnya kami pasti menja­ga­nya.’ Ya’qub berkata, ‘Sesungguhnya, kepergian kamu bersama Yu­suf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya.’” (Yusuf [12]: 11-13)

 

Sebagaimana kita pahami dari ayat-ayat ini, Nabi Ya’qub a.s. tahu bagaimana perasaan putra-putra beliau terha­dap Yusuf a.s. dan tidak menyetujui saran mereka. Dia merasa khawatir kalau-kalau serigala menyerangnya selagi mereka asyik bermain. Saudara-saudaranya, yang akhirnya mem­­bawa Yusuf bersama mereka, memasukkan dia ke dalam sebuah sumur, lalu membawa pulang baju yang dilumuri darah palsu untuk diperlihatkan kepada ayah mereka, seraya berkata­,

 

“’... Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba- lom­ba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau sekali-ka­li tidak akan percaya pada kami, meskipun kami adalah orang-orang yang benar.’ Mereka datang membawa baju ga­misnya (yang berlumuran) dengan darah palsu….” (Yusuf [12]: 17-18)

 

Seperti perkabaran ayat-ayat ini, saudara-saudara Nabi Yu­suf berusaha membenarkan pengkhianatan mereka dengan meman­fa­at­kan keprihatinan Nabi Ya’qub yang telah beliau ucap­kan sebelumnya. Yang dapat kita pahami dari ayat-ayat ter­ka­it bahwa kita tidak seharusnya mengikuti kehendak buruk se­macam itu dan tipu daya orang-orang pembuat kerusakan yang telah membuka aib mereka sendiri.

 

Mempertimbangkan Segala Alternatif Seraya Terus Waspada

Acuh tak acuh merupakan predikat unik bagi manusia yang bersikap masa bodoh. Sesungguhnya, dalam kelompok-kelom­­pok masyarakat masa bodoh banyak masalah yang tidak ter­-se­le­saikan, karena manusia-manusianya cenderung tidak pe­du­li. Itu sebabnya orang-orang yang hidup dalam masyarakat ma­sa bodoh selalu menanggung derita sebagai konsekuensi ke­t­e­ledoran dan sikap tidak peduli.

Dalam Al-Qur`an, Allah menegaskan kekeliruan sikap ini dan mendorong orang-orang beriman supaya peduli dengan saksama dalam mengambil beragam tindakan.

Dari ayat berikut, kita pahami bahwa cermat mempertimbang­­kan segala alternatif merupakan sifat perilaku yang pa­ling tepat,

 

“Dan Ya’qub berkata, ‘Hai anak-anakku janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, masuklah dari pintu pin­tu gerbang berbeda; namun, aku tiada dapat melepaskan kalian barang sedikitpun dari (takdir) Allah. Ke­pu­tusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; ke­pa­da­-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.’” (Yusuf [12]: 67)

 

Nabi Ya’qub a.s. menasihatkan putra-putra beliau, waktu me­reka hendak pergi ke Mesir, agar memasuki kota melalui se­jumlah pintu gerbang. Hal ini benar-benar merupakan satu tin­­dakan bijaksana, karena hal itu menjamin keselamatan jiwa dan harta. Kalaulah mereka masuk lewat satu pintu sa­ja, besar kemungkinan mereka dihadang bahaya. Dengan meng­ap­likasikan ketinggian ilmu seseorang, yang Allah anu­ge­rah­kan kepada kemanusiaan agar mereka bisa mempertimbangkan me­tode terbaik mana hendak dipakai, adalah suatu ke­bi­jak­sa­na­an yang terselubung di bawah nasihat ini. Inilah satu si­kap bijaksana sesuai dengan ajaran Al-Qur`an. Lebih jauh, pe­­luang seperti ini dengan jelas mengungkap perbedaan an­ta­ra kebijaksanaan orang beriman dengan keteledoran orang ti­dak berakal.

Ingatlah, semua tindakan menuju perolehan hasil yang ber­tahan lama merupakan satu bentuk dari do’a. Sesungguhnya, tak ada rencana atau tindakan, betapapun canggihnya, yang da­pat mencegah apa yang sudah Allah takdirkan. Fakta pen­ting ini ada kaitannya dengan nasihat Nabi Ya’qub a.s. kepada putra-putra beliau,

 

“Dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf mem­bawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berka­ta, ‘Sesungguhnya, aku ini adalah saudaramu, maka ja­nganlah kamu berdukacita terhadap apa yang telah mereka kerjakan.’” (Yusuf [12]: 69)

 


Metode-Metode Qur`ani untuk

Mendakwahkan Islam

 

 

Sepanjang kurun sejarah, Allah telah mengutus para rasul silih berganti untuk menyampaikan fakta tentang eksis­tensi-Nya dan adanya hari akhir secara jelas, dan menyu­ruh mereka menyembah hanya Dia. Allah memberitahukan kita bah­wa para utusan-Nya, beserta orang-orang beriman, sudah di­­percayakan dengan tugas ini,

 

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar….” (Ali Imran [3]: 104)

 

Orang-orang beriman hanya disuruh mempermaklumkan Islam. Maknanya, mereka hendaknya menyampaikan perintah Allah kepada manusia dan menyeru mereka menuju kepada moralitas Al-Qur`an. Allah membimbing dan memberikan pengertian ke­pa­da manusia. Dalam hubungan ini, orang-orang beriman diberi kewajiban hanya untuk penggunaan metode-metode yang di­sebutkan di dalam Al-Qur`an; mereka tidak berkewajiban untuk mempercayainya atau tidak.

Untuk mempermudah tugas mereka, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang beriman melalui perintah-perintah yang mudah dimengerti dan terdapat di dalam Al-Qur`an. Tingkah perbuatan para utusan Allah juga jadi contoh untuk umat beriman. Di dalam bab ini, kita akan mengulas metode-metode mendakwahkan pesan itu dan cara mengatasi situasi-situasi yang berubah-ubah dalam melaksanakan tugas mulia ini.

 

Tidak Ada Upah dalam Urusan Ini

Bagi para pendakwah hen­daknya mampu menganalisis dengan pikiran bebas dan masuk akal, dan tanpa dipengaruhi oleh buruk sangka dalam bentuk apa pun, ragu, atau rasa tertekan. Untuk tahap ini, mereka harus yakin pada keikhlas­an orang yang menyampaikan amanah itu.

 Mereka yang tidak akrab dengan pendakwah dan hanya ta­hu sedikit tentang mereka mungkin bisa keliru menentangnya dan meragukan maksud mereka, karena mereka berada di ba­­wah pengaruh lingkungan masyarakat yang acuh tak acuh. Pa­da tahap tertentu, keadaan ini mungkin dapat diterima. Misalnya, barangkali mereka ingin tahu tentang mengapa oang orang beriman bekerja terlalu keras untuk memperkenalkan Is­lam kepada mereka. Karena segala sesuatu di dalam dunia me­re­ka didasarkan pada kepentingan pribadi, mungkin saja be­lum terjangkau di otak mereka, mengapa orang-orang yang berkeyakinan tentang adanya Tuhan hanya mencari ridha Allah. Atau, mungkin saja mereka bertanya-tanya, apakah in­for­masi yang disampaikan para dai memang akurat. Untuk alas­an-alasan yang disebutkan ini, para dai hendaklah ber­upa­ya sebaik mungkin untuk mendahului dengan menampik semua ke­ra­guan dan keprihatinan tanpa menanti pihak lain me­nga­ta­kan keberatan tersebut.

Sesungguhnya, Al-Qur`an meyampaikan kepada kita bahwa se­mua rasul Allah memberikan prioritas utama pada pelaksana­an misi suci ini. Mereka mempunyai keyakinan khusus pada Ke­mahakuasaan Allah dan hari akhir. Karena itu, mereka meng­ab­­dikan seluruh hidupnya untuk mendapatkan restu-Nya. De­ngan keyakinan adanya surga dan neraka, para utusan meng­kha­­wa­tirkan tiap manusia yang mereka temui akan kepastian men­­dapat siksaan pedih di neraka, kecuali mereka mematuhi se­mua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Misi utama me­reka adalah untuk mengajak orang lain bergabung dalam ke­ba­ik­an (makruf) dan menjauhi keburukan (mungkar), serta me­nyam­paikan kepada semua manusia tentang kebesaran dan ke­per­kasaan Allah. Imbalannya, mereka berupaya keras hanyalah de­mi mendapatkan ridha Allah. Selain dari itu, mereka tidak meng­harapkan keuntungan duniawi.

Al-Qur`an menekankan perhatian kita pada poin ini dan me­nandaskan bahwa para Utusan Allah selalu berusaha keras un­­tuk melenyapkan keragu-raguan manusia. Berikut ini sejumlah ayat yang ber­­kait dengan hal ini.

 

“Aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (asy-Syu’araa` [26]: 180)

 

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberikan petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Ka­ta­kan­lah, ‘Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyam­pai­kan (Al-Qur`an) itu tidak lain hanyalah peringatan un­tuk segala umat.’” (al-An’aam [6]: 90)

 

“Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seru­anku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang te­lah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan­nya?” (Huud [11]: 51)

 

“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata, ‘Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.’” (Yaasiin [36]: 20-21)

 

Maka, dalam kepatuhan pada isyarat-isyarat yang disebut dalam ayat-ayat ini, dan yang lain, mereka yang telah men­j­alankan misi mulia itu harus memperjelas hal ini. Kon­di­si dunia saat ini telah memaksa manusia berburuk sangka ter­hadap siapa pun, karena secara primer hubungan an­tar­ma­nu­sia dilandaskan pada kepentingan material. Untuk alasan itu, klarifikasi-klarifikasi demikian akan memperjelas ma­sa­lahnya kepada pihak lain.

 

Pastikan, Orang yang Menyampaikan Pesan Dapat Diandalkan

Tentang bagaimana pesan harus disampaikan, Al-Qur`an menyampaikan pesan yang lain: mereka yang mendakwahkan Islam pertama-tama harus jelas betul kalau mereka orang jujur dan dapat diandalkan. Sesungguhnya, kita maklumi dari Al-Qur`an bahwa semua rasul menggunakan metode ini serta me­nan­das­kan bahwa mereka tidak lain adalah para utusan yang di­tugaskan oleh Allah,

 

“Sesungguhnya, aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.” (asy-Syu’araa` [26]: 107)

 

Ini penting untuk menghilangkan keragu-raguan mereka sebagai objek dari penyampaian pesan Allah. Kalau orang itu ju­­jur, ikhlas, dan bisa diandalkan, kata-kata mereka patut di­in­dahkan dan dilaksanakan. Tapi, sekecil apa pun keraguan me­ngenai keandalan penyampai pesan, itu bakal menyebabkan pi­hak lain membangun mekanisme bela diri. Apabila metode be­la diri ini dapat dipatahkan oleh metode-metode yang dipaparkan Al-Qur`an, manusia akan semakin terbuka untuk menerima dakwah Islam.

 

Membuktikan Keyakinan Palsu

Sesudah menghilangkan keprihatinan dan buruk sangka da­­­ri pihak-pihak sasaran dakwah Islam, langkah selanjutnya ada­lah membuktikan ketidakrasionalan dan kepalsuan keyakinan mereka. Menjelaskan jenis kepalsuan keyakinan mereka harus disampaikan secara meyakinkan dan logis, sebab mereka akan rela meninggalkan keyakinan lamanya setelah mereka be­tul­-betul dapat diyakinkan kesalahannya. Untuk melenyapkan ke­risauan yang menyuramkan pikiran seseorang, Allah meng­ha­dir­kan satu metode. Nafikan kepercayaan palsu lewat metode-me­tode rasional, ilmiah, dan transparan, dengan penjelasan yang berterima dan memuaskan, mencakup ketidakefektifan sis­tem yang dipakai kaum tidak beriman. Metode yang di­gu­na­kan Nabi Ibrahim a.s. untuk menyampaikan pesan kepada ka­um­nya dapat dijadikan contoh,

 

“Ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Apakah yang kamu sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami me­nye­m­bah berhala-berhala dan kami sentiasa tekun me­nyem­­bahnya.’ Berkata Ibrahim, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar (do’a)-mu sewaktu kamu berdo’a kepadanya? atau dapatkah mereka memberi manfaat kepadamu atau mem­beri mudharat?’ Mereka menjawab, ‘(Bukan karena  it­u­) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber­bu­at demikian.’ Ibrahim berkata, ‘Maka apakah kamu mem­­perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?’” (asy-Syu’araa` [26]: 70-76)

 

Nabi Ibrahim a.s. mengajukan pertanyaan-pertanyaan ter­se­but kepada kaumnya dengan tujuan mengetahui alasan-alasan dan inteligensi mereka, dan secara bertahap membuat mereka me­nyadari tidak validnya keyakinan mereka. Sementara itu, de­­ngan tiap pertanyaan dia harapkan kesadaran kaumnya dan me­mastikan mereka akan mengakui ketidaklogisan kepercayaan me­­reka. Dia gunakan metode ini karena kaumnya, yang telah ja­di penyembah berhala batu yang diwariskan nenek moyang mereka, dan tidak pernah merenungkan hal tersebut. Akan tetapi, se­telah Ibrahim memaparkan fakta-fakta, mereka jadi ter­ce­nung. Betapa tidak wajar dan lemahnya benda yang mereka sem­bah turun-temurun.

Ibrahim lalu memperkenalkan Allah lewat tanda-tanda cip­ta­an-Nya nan mahaagung. Sehingga, dengan demikian tampak per­bedaan tak terhitung antara berhala batu yang sama sekali tidak punya kekuatan, dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana,

 

“Sesungguhnya, apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, yaitu Tuhan Yang telah men­ciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan meng­hi­dup­kan aku kembali, dan Yang amat kuinginkan akan meng­am­puni kesalahanku pada hari kiamat.” (asy-Syu’araa` [26]: 77-82)

 

Metode ini telah memberikan kemampuan kepada kaumnya, penyembah berhala, untuk menyadari situasi tidak rasional yang mereka berada di dalamnya. Tapi, kesadaran itu hanya untuk penggalan waktu tertentu.

 

Menggunakan Metode Tanya Jawab

Dengan metode serupa, manusia dapat didorong untuk ber­­tanya lebih jauh tentang hal-hal yang belum mereka yakini. Hal itu akan membuat mereka paham betapa indahnya pe­ma­­ham­­an mereka pada informasi yang sudah sampai kepada me­re­ka, bahwa mereka sudah mampu mengerti makna informasi yang telah disampaikan kepada mereka; sehingga memberi peluang lebih lanjut kepada para dai menyampaikan penjelasan tambahan. Menawarkan informasi lanjutan sebelum meng­kla­ri­fi­kasi apa yang sudah disampaikan dapat membingungkan pihak yang di­tuju.

Sebagai tambahan, membuktikan kesalahan pikiran yang su­dah terdistorsi melalui penyampaian alasan masuk akal dan indah sudah menjadi satu metode Al-Qur`an. Ayat lain meringan­kan kita berkenaan metode ini,

 

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ib­rahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidup­kan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya, Allah menerbitkan matahari dari timur, maka ter­bit­kan­lah dia dari barat,’ lalu heran terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah [2]: 258)

 

Dengan ucapan singkat-padat dan dalam jangkauannya, Nabi Ibrahim a.s. menunjukkan kelemahan orang kafir di hada­pan keperkasaan Allah yang tak terhingga lewat paparan con­toh­-contoh sangat mengesankan, membuat orang itu kenal si­tu­asinya. Saran Nabi Ibrahim a.s. itu mengejutkan dan men­ja­di­kan orang kafir itu diam seribu bahasa. Pola bijak les­ta­ri ini merupakan contoh bagus untuk orang beriman dalam mendakwahkan Islam kepada pihak lain.

 

Menyeru Secara Terbuka dan Secara Rahasia

Allah memberi tahu kita bahwa semua utusan-Nya memanfa­atkan beragam metode dan penjelasan untuk memperkenalkan Ke­agungan Allah kepada manusia dan kebutuhan mereka pada aga­ma. Contoh yang ditunjukkan oleh Nabi Nuh a.s. ini dapat dijadikan pedoman oleh semua orang beriman.

 

“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan ba­junya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguh­nya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku menyeru mereka lagi dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai.’’” (Nuh [71]: 5-12)

 

Do’a ini mengungkapkan bahwa, bila perlu, orang-orang beriman diperkenankan menyampaikan penjelasan baik secara langsung maupun terselubung. Dengan mengingatkan kaumnya tentang hal-hal lumrah yang meninggalkan kesan mendalam pada diri mereka, Nabi Nuh a.s. menguraikan bahwa Allah menganugerahkan rahmat-Nya kepada mereka, agar mereka memikir­kannya. Dia ceritakan pada mereka bahwa Allah menurunkan hujan untuk mengairi tanaman mereka, memberikan harta dan anak-anak kepada mereka, menciptakan sungai-sungai dan kebun-kebun dengan limpahan hasil, dan bahwa hanya Dia pe­mi­lik segala rahmat yang mereka nikmati. Dalam upaya me­na­rik mereka lebih dekat pada konsep agama, dia berusaha keras untuk menjelaskan kepada kaumnya, yang belum mampu menyerap keindahan Islam dan keperluan diri mereka pada agama, bahwa ketamakan mereka akan kepentingan-kepentingan duniawi, semuanya juga berada dalam kendali Allah. Genggaman mereka pada hal-hal mendasar ini akan menjadi fondasi yang tepat untuk pemahaman lebih baik tentang adanya akhirat dan syariat Islam.

 

Menjelaskan Tanda-Tanda Penciptaan

Salah satu metode yang Allah perintahkan kepada orang beriman untuk mengaplikasikannya dalam mendakwahkan Islam kepada kaum mereka adalah dengan memperkenalkan tanda-tanda bukti penciptaan. Banyak Nabi, yang disebut dalam Al-Qur`an, membimbing umat mereka agar memikirkan tanda-tanda tersebut. Nabi Nuh a.s. termasuk seorang dari para rasul itu,

 

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (darinya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.” (Nuh [71]: 15-20)

 

Tanda–tanda penciptaan ini sangat besar maknanya dan mengandung uraian informasi yang bisa mengisi bilangan jilid buku. Coba pikirkan tentang tujuh lapis langit yang merupakan angkasa dan manfaat semua itu pada makhluk-makhluk penghuni bumi dan sitim ekologi, pengaruh sinar mentari dan cahaya bulan terhadap musim, cuaca, pergantian malam dengan siang, dan kehidupan manusia, akan memperlebar jarak pandang dan pada akhirnya orang tambah arif dan makin yakin pada keagungan Al-Qur`an. Dengan memikirkan secara mendalam terhadap bencana-bencana alam, bahwa sekecil apa pun terjadi perubahan pada sistem tata surya akan membawa akibat. Jagat raya kaya dengan rincian-rincian detail, yang diabaikan oleh sebagian terbesar umat manusia. Untuk alasan inilah, menggugah perhatian mereka untuk memikirkan hal-hal yang disebutkan itu dapat dijadikan perangkat dalam membimbing mereka untuk mencermati Mahakuasa dan Mahaperkasanya Allah. Nabi saw. menegaskan pentingnya perbuatan mulia semacam itu,

“Barangsiapa membimbing manusia menuju kebaikan akan mendapat ganjaran dari Allah setara dengan ganjaran yang dinikmati orang-orang yang mempraktikkan bimbingan itu.” (HR Muslim)

Sesungguhnya, Al-Qur`an menyeru manusia untuk mensyukuri tanda-tanda ciptaan yang menunjukkan adanya Allah dan Kemahabesarannya, dan agar punya dampak atas diri mereka. Berikut ini adalah sebagian dari banyak ayat yang dapat menarik perhatian manusia pada subjek ini,

 

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak- retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk jadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadi kebangkitan.” (Qaaf [50]:6-11)

 

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan, Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (al-Ghaasyiyah [88]: 17-21)

 

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? Dan telah kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kukuh supaya bumi itu (tidak) guncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan pula bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari, dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (al-Anbiyaa` [21]: 30-33)

 

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang benar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Mahasuci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Yaasiin [36]: 33-36)

 

“Sesungguhnya, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini; dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (al–Jaatsiyah [45]: 3-5)

 

Mendakwahkan Eksistensi Allah kepada Masyarakat Umum

Seperti sudah dipaparkan sebelumnya, Al-Qur`an menampil­kan beragam-ragam metode untuk memdakwahkan Islam. Keputusan mengenai metode mana yang akan dipakai terserah pada kebijakan dan kearifan orang beriman. Banyak bagian dari Al-Qur`an merujuk pada cara para Rasul Allah menyampaikan Islam kepada orang per orang. Mereka juga menyebutkan satu penyampaian secara terbuka kepada masyarakat awam secara umum.

Al-Qur`an menyatakan bahwa para utusan Allah menyapa warga masyarakat umum dengan sapaan “umatku”. Salah satu dari ayat-ayat (Qur`an) tentang ini berbunyi,

 

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Aad saudara mereka, Huud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?” (al-A’raaf [7]: 65)

 

Pada umumnya, manusia merasa terhina bila dipengaruhi oleh seseorang yang berbeda pandangan dengan mereka. Sebaliknya, meskipun mereka bisa diyakinkan pada kebenaran pandangan-pandangan itu, mereka tetap cenderung menolak sepenuhnya karena buruk sangka pribadi. Ini sebabnya, orang yang mengetahui adanya persepsi demikian mungkin akan memperoleh hasil yang lebih baik dengan menyapa masyarakat umum ketimbang secara orang per orang, karena reaksi positif dari sejumlah orang mungkin membawa dampak menguntungkan atas orang lain.

 

“Ibu Kota-Ibu Kota itu”

 

“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibu kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami....” (al-Qashash [28]: 59)

 

Sepanjang sejarah, Allah telah mengutus para rasul-Nya ke ibu kota-ibu kota untuk menyampaikan kepada para penduduk­nya pesan-pesan-Nya. Ini dapat dijadikan pedoman oleh umat beriman, sebab sebagai satu persyaratan umum adalah lebih efektif memusatkan perhatian pada tempat-tempat utama, lalu mengembangkannya ke kawasan-kawasan lain. Sesungguhnya, Al-Qur`an menegaskan bahwa orang-orang beriman pertama-pertama mengembangkan Islam kepada keluarga mereka. Setelah sanak keluarga merasakan keindahannya, mereka menargetkan pengembangan kepada kelompok yang lebih besar. Inilah cara paling efektif dalam memanfaatkan bakat dakwah mereka dengan sebaik-baiknya.

Sebagaimana diindikasikan oleh Al-Qur`an, para rasul pada umumnya diutus ke kawasan-kawasan padat penduduk di mana “para pemimpin bangsa”, yakni mereka yang umumnya paling keras kepala, menetap. Para utusan Allah pertama-tama menyeru mereka untuk hanya takut kepada Allah dan tentang keindahan moral Islam, sebab para rasul sadar bahwa kecenderungan para pemimpin terhadap Islam akan memberi dampak positif pada banyak orang lain.

Seruan Nabi Musa a.s. kepada Fir’aun adalah satu contoh yang bagus,

 

“Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa, ‘Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguh­nya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir’aun), ‘Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar kamu takut kepada-Nya.’’” (an-Naazi’aat [79]: 15-19)

 

Kearifbijaksanaan yang terpancar dari ayat-ayat ini su­dah bercerita dengan sendirinya: dengan membuktikan kesalah­an pandangan dari orang kafir terkemuka akan membuka pe­luang besar bagi pengikut pemimpin kaum itu untuk menerima ke­benaran.

 

Pengaruh Kekayaan dan Kegemerlapan

Keindahan fisik lingkungan termasuk faktor penting lain­nya yang menunjang keberhasilan pendakwah dalam misi me­nye­bar­luaskan amanah Allah. Sebetulnya, apakah ini merupa­kan kehendak atau bukan, berupaya mendirikan satu tempat yang indah sudah merupakan satu hal lumrah dari keinginan dan tekad semua orang beriman untuk mendekati keindahan surga; orang-orang beriman senantiasa berusaha menerapkan pemahaman qur`ani tentang estetika dan seni keindahan pada lingkungan mereka dan sekitarnya. Al-Qur`an mengandung urai­an teramat gemerlapan dan menakjubkan tentang puri, ta­man, sungai, dipan, dan beragam keindahan dekorasi lainnya yang semuanya menggetarkan jiwa manusia. Dengan begitu, orang-orang beriman mengadopsi gaya estetika qur`ani ini.

Lebih jauh, Al-Qur`an memberi perhatian besar terhadap betapa tingginya serapan di lubuk jiwa umat Islam akan dampak positif dari lingkungan megah dan indah. Dengan cara ini, mereka yang baru diperkenalkan pada Islam hendaknya bisa melihat gambaran bentuk surga menyatu di dalam gaya hidup orang-orang beriman dan lingkungan mereka. Ini membawa hati mereka lebih dekat kepada Islam dan, sebagaimana dengan semua aspek lainnya dari Al-Qur`an, mereka dapat meneliti bagaimana konsep qur`ani diamalkan.

Al-Qur`an memberikan kepada kita sebuah contoh yang tersebut dalam kisah Nabi Sulaiman a.s. dan Ratu Saba,

 

“Dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam istana.’ Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, ‘Sesungguhnya, ia adalah istana licin terbuat dari kaca.’ Berkatalah Balqis, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.’” (an-Naml [27]: 44)

 

Setelah mendengar bahwa Ratu Saba dan rakyatnya menyembah matahari, Nabi Sulaiman a.s. menyeru mereka supaya memasrahkan diri kepada Allah dan Islam. Ratu Saba yang mengunjungi istana Nabi Sulaiman a.s. setelah menerima surat beliau, sangat terkesan pada keindahan dan kekayaan yang dilihatnya di sana. Kekagumannya pada kemolekan itu menggiring dirinya untuk memasrahkan diri ke jalan kebenaran.

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa lantai istana itu sedemikian tembus pandang sehingga Ratu mengira itu limpahan air, dan karena itu ia menyingkapkan bajunya. Lantai tersebut mengandung unsur kemiripan menakjubkan dengan surga, yang digambarkan Al-Qur`an sebagai sebuah tempat penuh dengan “taman-taman” dengan “sungai-sungai mengalir di bawahnya”, dan meskipun istana itu dibangun oleh manusia, ia memberikan dampak seketika atas mereka yang diserukan Islam. Dengan mengakui bahwa keindahan yang melingkarinya adalah hasil dari kearifbijaksanaan, Balqis menyerahkan dirinya pada keagungan (superiority) Islam.

Lebih dari itu, estetika penampilan suatu tempat dan ke­ber­sihannya memberikan rasa lega pada jiwa manusia. Tempat-tempat yang terang benderang, lapang, dan bersih menu­kil­kan satu dekorasi estetika tersendiri yang amat menyen­tuh pada kedamaian pikiran dari orang-orang beriman, dan se­ca­ra positif membawa dampak kepada siapa dakwah sedang disampaikan. Di sisi lain, tempat-tempat gelap, suram, dan berantakan dapat menyebalkan setiap orang, meskipun mereka sendiri tidak menyadari kenyataan ini.

Namun, kita harus ingat bahwa Allah membimbing dan menganugerahkan mata hati kepada tiap manusia. Suasana-suasana demikian hanya dapat berfungsi sebagai suatu do’a, sebab semua itu tidak menjamin bahwa manusia akan memperoleh keyakinan akan adanya Allah. Sementara itu, apa yang sebetulnya perlu diindahkan oleh orang–orang beriman adalah berusaha maksimal untuk mendapatkan ridha Allah dan menyeru manusia kepada Islam sebagai satu amal ibadah. Imbalan untuk pengabdian ini, akan secara adil didapatkan manusia di hari kemudian.

 

Penampilan Fisik

Melalui penampilan fisik, umat beriman memperlihatkan bah­wa mereka hidup menurut prinsip-prinsip moral Al-Qur`an. Di dalam Al-Qur`an, ada seruan Allah kepada manusia beriman untuk sepenuhnya memberi perhatian pada raga dan merawatnya. Dengan mematuhi semua rekomendasi dan perintah Allah akan membuat semua insan beriman, mereka yang melaksanakan suruhan-suruhan Al-Qur`an, mendapatkan kesan mendalam di mata sekalian manusia.

Di pihak lain, hanyalah pikiran yang jernih dan terbuka yang mampu memfokuskan perhatian pada subjek tertentu. Oleh sebab itu, makhluk beriman yang menyeru manusia lain kepada Islam haruslah menjauhi apa pun yang dapat membuyarkan perhatian orang-orang tidak beriman, agar mereka dapat memusatkan perhatian pada pesan dan tanda-tanda keberadaan Allah. Penampilan yang tidak necis membuahkan dampak negatif dan tak menyenangkan pada pemirsa­/pendengar, sementara juru dakwah yang berserah diri pada Al-Qur`an akan sentiasa menyenangkan pandangan mata. Ne­cis­nya penampilan dan kebersihan mereka menumbuhkan rasa kagum, hormat, dan menggugah perhatian.

 

Penuhi Kebutuhan Manusia

Hal lain yang ditunjuk dalam Al-Qur`an adalah agar makhluk beriman memenuhi kebutuhan mereka yang baru saja diperkenalkan kepada Islam. Ini merupakan kecenderungan alami bagi manusia beriman, karena moralitas qur`ani mengajar­kan mereka supaya berbaik hati dan peduli pada sesama meskipun kita sepenuhnya asing bagi mereka.

Surah at-Taubah [9]: 60, “... para mualaf yang dibujuk hatinya...,” menyebutkan bahwa mereka ini termasuk dalam kelompok penerima zakat. Oleh sebab itu, apa pun yang diberi­kan kepada mereka yang hatinya hendak direbut kepada Is­lam adalah sejalan dan patuh pada tuntunan Al-Qur`an.

Di pihak lain, memusatkan perhatian pada suatu subjek penting membutuhkan banyak daya tenaga (energy) baik buat pendengar maupun penceramah. Mengekang energi seseorang kepada topik tertentu untuk waktu lama dapat mendatangkan keletihan raga dan mental. Menawarkan sesuatu kepada mereka untuk dimakan atau diminum dapat meningkatkan daya tenaga ke taraf tertentu dan menolong mereka berkonsentrasi.

 

Keikhlasan

Al-Qur`an menyediakan banyak metode menguntungkan untuk mendakwahkan pesan. Akan tetapi, yang membuat metode-metode dan upaya ini efektif adalah keikhlasan. Pengertian ikhlas menurut Al-Qur`an agak beda dari apa yang dipahami oleh masyarakat yang jahili. Keikhlasan sejati hanya dapat dirasakan apabila mereka yang berceramah yakin pada apa yang diceramahkan. Ketidakikhlasan akan terungkap manakala ucapan tidak sesuai dengan rekomendasi-rekomendasi Allah, dapat diketahui dengan mudah dari sikap bagaimana seseorang bicara.

Di pihak lain, sikap dari mereka yang sungguh-sungguh meyakini kebenaran dari apa yang mereka dakwahkan dan hidup dengannya agak sedikit berbeda. Sebagai contoh, orang yang berkeyakinan kuat adanya akhirat menjelaskan neraka dengan sikap meyakinkan. Nada suara, ekpresi, dan tata bicara mereka memaparkan perasaan mereka sesungguhnya, sehingga menggugah pihak lain menerima kebenaran adanya neraka yang menakutkan itu. Penjelasan oleh mereka yang tidak menguasai unsur eksistensinya, di sisi lain, mungkin menghasilkan dampak negatif pada orang lain. Jadi, nilai-nilai, sikap, dan kehidupan orang-orang ini hendaknya mendukung uraian mereka.

Kita juga perlu ingat bahwa keikhlasan hanya dapat diperoleh melalui keyakinan murni. Allah minta perhatian kita pada ciri sifat dari para utusan-Nya sebagaimana disebutkan di dalam banyak ayat. Sesungguhnya, dengan maksud menyangkal pengaruh seruan yang telah disampaikan para utusan Allah pada jiwa mereka, orang-orang kafir sepanjang sejarah memutarbalikkan semua itu dengan menyebut­nya sihir belaka.

 

Khotbah yang Menentukan

Mendakwahkan pesan secara arif bijaksana, yakni khotbah singkat, padat, dan efektif, adalah wajah lain dari adil yang sama efektifnya dengan keikhlasan. Pidato seperti ini bermakna menjelaskan satu subjek melalui beberapa kata yang memukau, mengutarakan hal-hal terpenting saja, dan menghindari rincian-rincian yang tak ada kaitannya. Al-Qur`an menegaskan pentingnya pidato yang arif bijaksana,

 

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu Dialah yang lebih mngetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (an-Nahl [16]: 125)

 

Kunci untuk pidato bijaksana adalah keikhlasan. Dari ayat di bawah ini, kita memahami bahwa kearifan tidak dapat dipalsukan. Dan seseorang bisa mendapatkannya hanya dengan Kehendak Allah,

 

“Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia....”(al-Baqarah [2]: 269)

 

Allah menekankan perhatian terhadap pentingnya khotbah yang menentukan, dengan mengatakan itu adalah satu hikmah dari sudut pandang Dia, sebagaimana dapat kita baca di bawah ini,

 

“Dan setelah cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya (Musa) hikmah (kenabian) dan pengeta­huan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-Qashash [28]: 14)

 

“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya (Dawud) hikmah dan kebijaksanaan dalam menye­lesaikan perselisihan.” (Shaad [38]: 20)

 

“... Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki....” (al-Baqarah [2]: 251)

 

“... Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.” (an-Nisaa` [4]: 54)

 

“(Allah berkata), ‘Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan ke­pa­danya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.’” (Maryam [19]: 12)


Manfaat Beragam Hewan yang Disebut di Dalam Al-Qur`an

 

 

Di dalam sejumlah ayat, Allah menegaskan bahwa hewan merupakan satu karunia besar dan menganjurkan orang-orang beriman agar mengambil manfaat dari mereka. Salah satu ayat tentang ini berbunyi,

 

“Dan Allah menjadikan bagimu rumahmu sebgai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan membawanya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).” (an-Nahl [16]: 80)

 

Banyak ayat-ayat lain yang merujuk pada manfaat hewan.

Bagian terbesar manusia mereguk manfaat dari hewan-hewan tanpa memikirkan bahwa semua karunia itu datang dari Allah. Mereka hanya mengonsumsi semua itu sebagai produk-produk harian. Namun, sebagai balasan atas beragam-macam karunia-Nya itu, Allah berkehendak agar manusia mensyukuri dan tidak melupakan semua karunia yang telah Dia limpahkan itu. Dalam bab ini kita akan berkutat pada aneka macam rahmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia melalui hewan.

 

Sumber Gizi

 

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh darinya manfaat-manfaat dari minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (Yaasiin [36]: 71-73)

 

Allah menciptakan manusia dengan pelbagai kekurangan dan kelemahan untuk menguji mereka di dunia ini. Dengan ketergantungan pada makanan untuk bertahan hidup, yang sebe­­tulnya satu kelemahan. Akan tetapi, kebanyakan manusia ti­dak menganggap ini sebagai kelemahan dan begitu mudahnya me­ne­rima itu sebagai kebutuhan alami yang tak terelakkan. Akan teta­pi, ketergantungan pada makanan bergizi adalah satu kelemahan dan untuk tujuan suci. Manusia seharusnya mencoba memahami kehendak suci ini. Sebab hanya dengan begitu, mereka dapat memahami kekurangan diri mereka di hadapan keperkasaan Sang Maha Pencipta mereka dan kenyataan bahwa mereka membutuhkan semua karunia yang Dia anugerahkan. Puasa juga mencakup kehendak ini, sebab menahan lapar dan haus untuk waktu pendek dan temporer mengingatkan manusia pada kelemahan diri mereka serta membantu orang lain mengerti akan kebutuhan mereka kepada Allah. Melibatkan diri dalam kegiatan amal perbuatan semacam ini membuat mereka mampu mensyukuri nikmat karunia yang telah diberikan kepada mereka dan merenungkannya dengan tulus.

Kemanusiaan memerlukan Allah, dan Allah, Maha Pemberi (ar-Razzaq), menganugerahkan semua hamba-hamba-Nya dengan segala rupa kebutuhan. Salah satu kebutuhan tersebut adalah bahan makanan yang berasal dari binatang, seperti telur, daging, unggas, susu, madu, dan macam-macam lagi. Di dalam bab ini, akan kita bahas beberapa aspek dari sumber-sumber hikmah dari sumber gizi yang disebutkan dalam Al-Qur`an.

 

1. Daging dan Kesehatan Pribadi

 

“Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.” (ath-Thuur [52]: 22)

 

Daging, yang disebut secara khusus, adalah satu nutrisi penting bagi tubuh manusia. Asam-asam Amino, bongkahan-bongkahan prinsipil dari protein, sangatlah penting untuk jaringan pertumbuhan dan perbaikan. Sebab itu, kecukupan asam amino (pasokan protein) adalah vital bagi beragam kegiatan seperti ini. Protein lengkap, berasal dari daging, menyediakan semua asam amino esensial dalam makanan yang dikonsumsi dalam jumlah yang tepat. Beberapa jenis dari protein, terutama sekali yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, tidak mengandungi jumlah asam amino yang diperlukan tubuh manusia. Kaum Vegetarian yang tergantung pada sayuran untuk kebutuhan protein dapat memperoleh jumlah yang cukup dari asam-asam amino esensial hanya dengan melengkapi aturan makan harian mereka dengan protein sempurna. Pola makan kaum vegetarian yang kurang kandungan protein, sementara kaya dengan unsur karbohidrat, menghadang pasokan yang cukup dari asam amino yang akhirnya bisa terkena edema (pembengkakan akibat akumulasi air berlebihan dalam jaringan tubuh). Ini merupakan satu kesalahan serius dari pola makan yang mematikan.[4]

Daging tidak sekedar bahan makanan berprotein tinggi, tapi juga kaya dengan mineral-mineral vital seperti zat besi, seng, fosfor, potasium, selenium, dan banyak vitamin lainnya (bagian terbesarnya kelompok vitamin B kompleks). Sayuran juga mengandung zat besi dan seng, tapi karena manusia yang ikut pola makan kaya dengan sayuran dan sangat tergantung pada bahan-bahan makanan kaya-serat, maka tubuh mereka tidak dapat sepenuhnya mencerna zat besi dan seng.

Lemak-lemak basah yang ditemukan di dalam daging merah dapat mencegah kelumpuhan, khususnya di kalangan lelaki.[5] Kelumpuhan terjadi akibat dari pemompaan darah secara mendadak ke sel-sel otak, satu tindakan yang membunuh banyak sel darah. Namun, pengkajian belum lama ini mengungkapkan bahwa lemak binatang mengatur aliran darah ke otak.

Berseberangan dengan sangkaan umum, makanan bebas daging tidaklah rendah kadar kolesterolnya. Dengan anggapan bahwa bahan-bahan makanan di luar daging adalah kaya dengan lemak-lemak terselubung, kaum vegetarian secara relatif mengonsumsi lebih banyak lemak terselubung. Dalam upaya menjaga pola makan gizi tinggi, spesialis kesehatan menganjurkan agar konsumsi kolesterol kurang dari 300 mgs per hari. Ini merupakan jumlah persis kolesterol yang didapat dari daging.

Pencernaan protein (daging) secara relatif merupakan proses panjang, tapi 95 persen dari kandungan protein dan 96 persen lemak dapat dicerna dengan mudah. Lemak memungkinkan pencernaan bahan-bahan bergizi lainnya juga. Daging, yang mengandung lemak dalam jumlah pantas, tetap bercokol di dalam perut dalam rentang perpanjangan waktu, menunda rasa lapar, dan meningkatkan kekuatan seseorang untuk menolak rasa lapar. Sebagai tambahan, karena unsur-unsur kandungannya mempergiat kelenjar air liur, ia mempertajam selera makan dan menfasilitasi pencernaan.[6]

Terlepas dari fakta-fakta ilmiah ini, daging sangatlah menyedapkan. Kalaulah sumber gizi esensial ini tidak demikian sedapnya, tentu kita akan harus dipaksa memakannya, terlepas dari cita rasanya, demi mencukupkan kebutuhan kita akan protein. Namun, sebagai satu karunia Allah, ia memang sedap. Sementara itu, Allah menegaskan nilai daging dengan menyebutnya sebagai salah satu makanan di surga, “Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.” (al-Waaqi’ah [56]: 21)

 

2. Susu: Keajaiban Produk Hewani

 

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (an-Nahl [16]:66)

 

Pembentukan susu merupakan satu keajaiban. Itu menggugah pemikiran bahwa minuman yang bersih dan sedap itu dihasilkan di antara darah dan apa yang akan dikeluarkan dari tubuh.

Dengan segala penghargaaan akan manfaat-manfaatnya bagi kesehatan anak-anak dan juga orang dewasa, kandungan susu patut dianalisis. Kasein, sejenis protein, memberikan warna putih pada susu. Dengan meneliti setetes susu di bawah mikroskop, orang akan melihat unsur-unsur sangat mungil yang mengapung. Terlepas dari kasein dan lemak, susu terdiri atas laktosa (larutan kadar gula) dan sejumlah vitamin esensial untuk kesehatan dan mineral (seperti fosfor dan kalsium). Kalsium adalah unsur esensial dari tulang dan gigi.[7]

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, susu adalah bahan makanan yang amat bermanfaat, kaya dengan bahan-bahan esensial untuk pertumbuhan badan. Allah menciptakan susu untuk kemanusiaan sebagai satu rahmat-Nya agar mereka merenungkannya dan mensyukuri Keperkasaan-Nya. Itu juga suatu rahmat yang akan, dengan izin Allah, dapat dinikmati di surga.

 

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh didalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal di neraka, dan diberi minum dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (Muhammad [47]: 15)

 

3. Madu

 

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia.’ Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebenaran) Tuhan bagi orang-orang yang memikirkan.” (an-Nahl [16]: 68-69)

 

Madu, beserta vitamin-vitamin dan mineral-mineral, sangat­lah bermanfaat bagi manusia. Ia mangandung gula (glukosa dan fruktosa), beragam mineral (kalsium, potassium, magnesium, sodium klorin, sulfur, besi, dan fosfor), dan vitamin-vitamin (B1, B2, B3, B5, B6, dan C).[8] Tambahannya, ia juga mengandung sejumlah kecil dari beberapa macam hormon, tembaga, iodium dan zinc—dengan kata lain, ia mengandung, hampir segala yang diperlukan tubuh manusia.

Informasi berikut dikeluarkan ketika Konferensi Pertanian Dunia tahun 1993.

Dalam konferensi tersebut, ada satu sesi khusus tentang penyembuhan dengan menggunakan elemen-elemen berasal dari madu lebah. Beberapa ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, tepung sari, dan propolis (tahi lebah) dapat menyembuhkan banyak penyakit. Seorang dokter dari Rumania mengatakan dia sudah mencoba penggunaan madu untuk penyembuhan katarak pada sejumlah pasien, dan ternyata 2.002 dari 2.094 penderita (95%) sembuh sepenuhnya. Seorang dokter Polandia juga memberitahukan bahwa tahi lebah menyembuhkan banyak penyakit seperti haermorrhoid (demam berdarah), penyakit kulit, penyakit-penyakit pada peranakan, dan bermacam-macam keluhan lainnya.[9]

Manfaat lain dari madu adalah, dibandingkan dengan jumlah gula yang sama, ia mengandung 44% kalori lebih sedikit. Artinya, meskipun madu merupakan penyumbang energi yang besar, ia tidak menambah berat badan orang yang meminumnya.

Cairan kental sedap rasa dan rendah kalori ini gampang sekali dicerna. Karena molekul-molekul cairan manis dapat berubah menjadi glukosa, madu, meski mengandung kadar asam tinggi, mudah dicerna, bahkan oleh penderita penyakit perut.

Madu menolong ginjal dan usus berfungsi lebih baik. Karena tidak mengandung molekul-molekul gula, madu juga manjur untuk otak. Sementara itu, madu juga mem­bersihkan darah dan aliran darah serta instrumental dalam mem­produksi darah. Dengan banyaknya jumlah energi yang dikeluarkannya, madu punya kemampuan yang diperlukan untuk memproduksi daya tenaga guna memproduksi darah.

Madu melindungi tubuh dari keluhan penyempitan kapiler (capillary) dan arteriosklerosis (saluran darah ke jantung), dan juga membunuh bakteri. Bila diminum bersama air sejuk, madu menyatu ke dalam aliran darah hanya dalam waktu tujuh menit, dan dengan demikian merupakan unsur penyembuh cepat dan bagus untuk tubuh. Bila diaduk dengan air, ia mujarab dengan kandungan kualitas antiseptik. Terlepas dari ini, madu mengandung semacam bahan-bahan kimia antibakteri, seperti benzyl alcohol dan banyak lagi.

Sumbangan madu lebah untuk kesehatan manusia tidak terbatas pada madu, sebab lebah juga menghasilkan produk lain: royal jelly. Royal jelly, bahan berbau tajam yang dikeluarkan oleh lebah pekerja untuk memberi makan ratu lebah, adalah karunia lain untuk manusia, karena di dalamnya terkandung sejumlah mineral seperti fosfor, kalsium, besi, sodium, potassium dan magnesium, vitamin B2, B3, dan B6, serta protein dan karbohidrat.

Royal jelly digunakan untuk menyembuhkan keluhan-keluhan berasal dari kerusakan selaput, arterioklerosis, atau kerusakan jaringan tubuh lainnya.[10]

 

“Tidakkah kamu pehatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)-mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin....” (Luqman [31]: 20)

 

Manfaat-Manfaat Lain dari Hewan

 

“Dan di antara binatang ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih....” (al-An’aam [6]: 142)

 

Ayat ini mengungkap manfaat lain yang disediakan binatang untuk kepentingan manusia: wol, bulu, dan kulit. Semua ini benar-benar merupakan bahan mentah bagi banyak benda yang kita manfaatkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Baju panas, selimut, karpet, bahan-bahan pakaian, perabot, dan banyak lagi peralatan lain yang berasal dari binatang. Lebih dari itu, kulit-kulit kambing, sapi, ular, buaya, dan binatang lain-lain sudah lumrah digunakan untuk pakaian, perabotan, dan barang-barang hiasan

Yang lain lagi adalah sutra, satu bahan serat lentur yang diambil dari kepompong ulat sutra. Bahan pakaian dari serat ini merupakan anugerah Allah kepada manusia, dan Dia juga memberikan kabar baik bahwa orang-orang beriman kelak bakal memakai baju sutra di surga,

 

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra.” (al-Insaan [76]: 12)

 

“Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dai sutra halus dan sutra tebal sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya dan tempat istirahat yang indah.” (al-Kahfi [18]: 31)

 

Tak syak lagi, sutra yang bakal dipakai orang-orang beriman di dalam surga akan tak terbandingkan tinggi nilainya dengan sutra di dunia. Namun begitu, sutra yang kita punyai di dunia ini tetap merupakan bahan pakaian sangat berharga. Nilainya dapat disyukuri secara menakjubkan apabila bait-bait sanjungan untuk pembuatannya di­periksa dengan cermat.

Kita harus ingat bahwa pembuat bahan berkualitas tinggi ini bukannya mereka yang tinggi inteligensianya, tidak pula mesin canggih luar biasa, tapi sejenis ulat berukuran panjang antara 5 sampai 10 cm. Kebanyakan dari benang-benang ini dipintal dari serat-serat yang diambil dari kepompong ulat sutra.

Pada tahap akhir pembentukan larva (jentik-jentik), larva dewasa menggabungkan diri pada ranting pohon dan mulai merajut kepompong. Fibrion, serabut lembab yang terjadi dari cairan bergetah, dikeluarkan dari sebuah lubang di bibir bawah larva. Zat bergetah ini cepat mengering di udara, akhirnya mengeras menjadi kepompong. Kemudian, dipersiapkan saat persalinan ulat sutra untuk proses produksi sutra.[11]

Benang yang dihasilkan oleh ulat sutra banyak gunanya, berderet dari bahan tekstil hingga ke obat. Benang sutra yang digunakan pada pembedahan merupakan sumbangan vital untuk kesehatan lanjutan seseorang.

Cukup mengherankan bahwa serangga sekecil itu dapat mengeluarkan satu zat dengan formula yang tersembunyi dalam tubuh ulat dan disumbangkan untuk kemanusiaan. Sesungguhnya, Allah bertanggung jawab untuk seluruh proses kehidupan dan kematian di jagat raya.

Manfaat yang diraup manusia dari binatang tidak bisa dibatasi pada bilangan jenis bahan saja. Dengan menghitung ribuan jenis binatang saja, akan banyak lembaran kertas yang dibutuhkan untuk mencatat jumlah wilayah sumbangan yang dinikmati manusia dari makhluk hewan berkaki, bersayap, dan melata. Ini pun diungkapkan di dalam Al-Qur`an,

 

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya....” (an-Nahl [16]: 18)

 

Bahwa Allah memperlengkapi binatang dengan begitu tinggi kualitas manfaatnya menunjukkan kasih sayang dan perlindungan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Betapapun, kita wajib ingat bahwa siapa pun yang melupakan semua itu adalah rahmat dari Allah akan mempertanggung-jawabkannya pada hari pe­nghitungan. Dengan demikian, siapa pun harus memikirkannya dalam-dalam, sebagaimana Allah menyeru semua manusia untuk berbuat, untuk merenggut makna-makna tersembunyi di balik semua itu dan mensyukuri Dia atas semua rahmat ini.

 

Tanda-Tanda Rahmat yang Berasal dari Lautan

Kita harus sebutkan juga rahmat-rahmat yang datang dari lautan dan termasuk karunia Allah kepada kita. Al-Qur`an menyebutkan beberapa dari itu,

 

“Dan Dialah Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat menemukan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (an-Nahl [16]: 14)

 

Kita akan menemukan rahmat tak terhitung jumlahnya manakala kita meneliti manfaat-manfaat yang diperoleh manusia dari lautan. Setiap laut adalah habitat alami dari beragam jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan, tergantung pada kondisi mereka masing-masing. Al-Qur`an menyebutkan beberapa dari mereka,

 

“Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum, dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar mem­be­lah laut, supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.” (Faathir [35]: 12)

 

Meski manusia tidak terlibat di dalamnya, alam bawah laut memiliki tatanan sempurna yang menawarkan banyak manfaat.

Semua ini memungkinkan, berkat sempurnanya ciptaan Allah. Untuk imbalan semua ini, manusia hanya perlu merasa bersyukur kepada Allah.

 

1. Makanan dari Laut

Manusia yang tidak sepenuhnya mengetahui sumber gizi yang mereka perlukan untuk menjaga kesehatan melalui gizi yang baik, mendapat tawaran banyak sumber gizi kadar terbaik dan siap pakai. Seafood memanglah cukup kaya dengan sumber-sumber gizi prima, sebab diciptakan untuk memenuhi kebutuhan tubuh manusia akan vitamin dan mineral. Allah minta kita perhatikan manfaat makanan-makanan semacam itu,

 

“Dihalalkan bagimu binatang-binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan….” (al-Maa`idah [5]: 96)

 

Produk seafood secara relatif tinggi kandungan mineralnya seperti chromium, cobalt, fosfor, tembaga, iodium, fluorin, dan sodium. Sebagai hasilnya, produk-produk ini meningkatkan pertumbuhan dan pembangunan tubuh, menyeimbangkan tekanan darah, dan mencegah diabetes. Cobalt mencegah anemia, sementara tembaga dan iodium mempercepat penyerapan zat besi agar manusia merasa bersemangat (energetic). Seafood juga memfasilitasi proses mental dan mendorong pertumbuhan kulit sehat, gigi, rambut, dan kuku. Zinc, yang kaya jumlahnya dalam makanan laut, adalah elemen penting untuk pertumbuhan badan dan pembangunannya, melindungi kepekaan penciuman dan rasa, ampuh dalam penyembuhan luka, dan mengatur jumlah serapan vitamin A dalam aliran darah. Lebih jauh lagi, ia merupakan bagian dari insulin, yang mengendalikan kebutuhan energi metabolis.[12] Flourine memperkuat tulang dan membantu otot-otot dan sistem saraf agar berfungsi secara teratur.[13]

Al-Qur`an menyebutkan manfaat lain dari bahan makanan semacam itu dalam surah an-Nahl [16]: 14, “... kamu dapat memakan daging yang segar (ikan)....” Sangat mengejutkan bahwa Allah menyuruh kita memperhatikan “daging segar” dalam ayat ini, sebab, sebagaimana kita tahu, seafood harus dimakan selagi ia masih dalam keadaan segar. Kalau tidak, daging semacam itu akan menyengsarakan badan. Kenyataannya bahwa hanya produk-produk seafood yang dijelaskan begitu rupa di dalam Al-Qur`an mungkin menjurus pada fakta ini.

 

2. Ikan

Sementara Al-Qur`an bicara soal seafood secara umum, ia pun secara spesifik minta perhatian kita pada ikan, sebagaimana diungkapkan dalam kisah Nabi Musa a.s. dan pembantu mudanya; mereka berdua makan ikan selama dalam perjalanan,

 

“Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya, ‘Bawalah kemari makanan kita; se­sungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. Muridnya menjawab, ‘Tahukah kamu tatkala mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan ....’” (al-Kahfi [18]: 62-63)

 

Perlu dicatat bahwa untuk perjalanan panjang seperti itu, Nabi Musa a.s. dan anak muda yang mengiringinya memilih ikan untuk makanan mereka. Dalam menceritakan kisah ini kepada orang-orang beriman, Allah meminta kita untuk memperhatikan nilai gizi dari ikan. Dalam meneliti nilai gizi dari ikan terungkap sejumlah fakta mengejutkan: Ikan kaya dengan kandungan mineral (seperti fosfor, sulfat, dan vanadium) yang meningkatkan pertumbuhan dan pembaikan selaput tubuh, menyembuhkan nyeri persendian, memfasilitasi kesehatan gusi dan gigi, menambah kecantikan dan warna kulit, menolong pemeliharaan kesehatan rambut, dan ampuh melawan infeksi bakteri. Selain itu, ikan juga memainkan peranan mencegah serangan jantung dengan jalan mengatur tingkat kolesterol aliran darah. Dengan memfasilitasi zat kanji dan metabolisme lemak, daging ikan memungkinkan tubuh menjadi lebih energetik dan kuat, dan juga memungkinkan mental memproses agar berfungsi sepatutnya.

Kekurangan vitamin D dan mineral-mineral lain yang terdapat pada ikan bisa mendatangkan penyakit-penyakit kekurangan vitamin seperti sakit gusi, gondok, keluhan kelenjar getah bening, penyakit lembut, dan bengkok tulang pada anak-anak, dan lain-lain.[14]

 

3. Ornamen-Ornamen yang Dapat Diperoleh dari Laut

Mutiara adalah salah satu ornamen pilihan yang diambil dari laut. Proses pembentukan mutiara cukup menarik juga untuk diketahui: Beragam makhluk laut berdaging lunak tanpa tulang seperti kerang, siput, remis, menjajarkan bagian dalam tempurung mereka dengan benda-benda mulia warna keputihan yang disebut ‘induknya-mutiara’. Makhluk-makhluk dasar laut ini menggunakan metode seragam dalam menaklukkan partikel (seperti pasir dan biji-bijian) untuk mencegah kerusakan daging di dalam tempurungnya, dan menyemburkan cairan ke sekeliling induk mutiara. Dengan begitu, mulailah pembentukan mutiara. Seperti mutiara, batu-batu mulia yang ditemukan di dasar lautan juga digunakan sebagai barang perhiasan oleh manusia.

   Pembentukan mutiara yang sangat menakjubkan itu jelas sekali memperlihatkan kemahatinggian kreasi seni Allah, Maha Pencipta. Al-Qur`an menggugah perhatian kita kepada kenyataan bahwa keindahan dan kemolekan secara khusus diciptakan sebagai karunia untuk manusia beriman,

 

“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” (ar-Rahmaan [55]: 19-22)

 


Panganan Penuh Hikmah yang Disebut di Dalam Al-Qur`an

 

 

Orang yang mau mendalami ayat-ayat Al-Qur`an akan menyadari bahwa Allah sudah merentangkan segala penjelasan di dalam Kitab-Nya dan menunjukkan kepada manusia cara-cara untuk memudahkan hidup baik di dunia ini maupun di alam berikutnya. Subjek lain yang menarik perhatian manusia yang memahami adalah yang diutarakan Al-Qur`an tentang makanan-makanan khas yang baik untuk kesehatan manusia.

 

Buah-buahan

Al-Qur`an menyebutkan sejumlah buah-buahan yang oleh ilmu pengetahuan modern ditegaskan memiliki khasiat untuk mencegah beberapa jenis penyakit. Buah-buahan yang memberikan manfaat pada tubuh manusia dalam berbagai cara, juga enak rasanya. Di dalam ayat-ayat Al-Qur`an, Allah menyuruh manusia supaya memperhatikan keberagaman dan keindahan disertai seruan agar merenungkan ciptaan-ciptaan-Nya yang amat menakjubkan,

 

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuhan-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan Kami keluarkan pula zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pula) kematangannya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (al-An’aam [6]: 99)

 

Allah menciptakan beragam jenis buah, setiap jenis memiliki rasa dan harum tersendiri meskipun semuanya tumbuh di tanah yang sama dan diairi dengan air yang sama.

   Sebagaimana penciptaannya, kenyataan bahwa buah-buahan dan sayur-sayuran merupakan sumber-sumber vitamin dan nutrisi esensial yang melimpah, juga menggugah manusia berakal untuk berpikir. Buah-buahan, yang tumbuh dalam tanah lumpur hitam, hanya menyerap unsur-unsur gizi yang diperlukan (mineral-mineral) yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Tapi bagaimana tanah bisa mengetahui nutrisi apa yang harus ia hasilkan? Begitu pula, apakah buah yang dihasilkan tanaman punya kemampuan dan pengetahuan untuk menghunjam ke tanah mencari komponen-komponen keperluannya dan menyerapnya dalam kuantitas yang ia perlukan? Bagaimanapun, sistem ini bekerja dalam tatanan teramat sempurna dan akurat, sehingga setiap jenis tanaman mempunyai warna, rasa dan bau spesifik, serta mengandung mineral dan vitamin dalam kadar terukur persis. Sebagai contoh, buah melon tidak pernah berwarna biru atau asam, tidak pula berbau tanah melainkan sentiasa berbau dan punya rasa khasnya sendiri yang kita kenal.

Allah, pemilik tunggal dan penguasa jagat raya, menciptakan tatanan ini dan memperlihatkannya kepada manusia agar mereka mengambil hikmah dan mensyukuri-Nya.

Al-Qur`an menyebutkan begitu banyak jenis buah-buahan, yang akan tersedia bagi orang-orang beriman di dalam surga. Pada penggalan ini, secara singkat, kita akan memperbincangkan hikmah dan manfaat dari buah-buahan yang disebutkan di dalam Al-Qur`an

 

1. Pisang

Al-Qur`an juga menyebut pisang sebagai salah satu buah-buahan surga,

 

“Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri, dan pohon-pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), dan naungan yang terbentang luas, dan air yang tercurah, dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya.” (al-Waaqi’ah [56]: 28-33)

 

Seperti semua karunia lainnya, buah pisang yang dinikmati para penghuni surga tentu akan jauh lebih sempurna dari pisang yang dapat dibayangkan kini tersedia di dunia. Betapapun, pisang-pisang yang tersedia di surga tidak pernah jadi busuk dan akan memiliki rasa dan wangi yang tidak mungkin kita bayangkan sekarang. Namun, di dunia ini pun Allah sudah menciptakan sejenis buah yang sangat mirip dengan yang ada di surga dan telah menyediakannya untuk kita.

   Pisang, buah yang sangat bergizi, terdiri atas air (75%), protein (1.3%) dan lemak (0.6%). Tiap buah pisang ju­ga mengandung karbohidrat dan potassium dalam jumlah cukup. Di samping menolong menyembuhkan banyak penyakit, pisang sangat dianjurkan untuk penyembuhan demam, gangguan sistem kerja pencernaan, kejang-kejang, dan terkilir. Tingginya jumlah potassium yang dikandungnya (0.24%) memfasilitasi pembuangan ampas dari tubuh.[15]

   Pisang menurunkan tekanan darah dan digunakan untuk penyembuhan beragam alergi. Potassium berfungsi bersama sodium, meningkatkan pertumbuhan sel dan otot, dan mengatur ekuilibrium air dan detak jantung. Setiap perubahan pada keseimbangan sodium-potassium dapat mandatangkan ketidakteraturan pada sistem kerja saraf dan otot. Itu sebabnya, orang harus menjaga ekuilibrium potassium tubuh. Di samping itu, kekurangan potassium dapat berakibat pada edema (penumpukan air berlebihan di suatu organ tubuh) dan menurunkan jumlah sirkulasi gula di dalam darah, maka keseimbangan ini perlu tetap dijaga.[16]

   Pisang, yang kaya vitamin B6, juga memainkan peran penting dalam menggugah reaksi-reaksi unsur kimia dari protein dan asam amino, dan merupakan alat penting untuk menjaga otak berfungsi normal. Unsur-unsur kimiawi ini meningkatkan produksi sel darah merah, menjaga keseimbangan kimia dalam cairan tubuh, membantu produksi energi, dan memberikan kemampuan bertahan terhadap tekanan (stres). Karbohidrat berfungsi sebagai enzim penolong dalam proses metabolisme lemak dan protein. Selain itu, pisang menyembuhkan banyak jenis penyakit anemia (kekurangan sel darah merah dalam darah atau dalam kadar hemoglobin penderita), adalah instrumental dalam pembangunan sel dan otot, memelihara keseimbangan cairan tubuh, dan me­nyem­buhkan penyakit-penyakit pada jantung. Sebaliknya, kekurangan vitamin B6 dapat mengakibatkan letih, mempengaruhi kemampuan berkonsentrasi seseorang, insomnia, anemia, penyakit kulit, dan lain-lain.[17]

Sang pencipta manusia telah menciptakan buah bermanfaat ini dan menjuruskan perhatian kita pada manfaatnya. Allah menegaskan bahwa Dia sudah memberikan kepada manusia apa saja yang diinginkan dan perlukan, dan telah mengingatkan mereka agar tidak bersekutu dengan mereka yang tidak bersyukur,

 

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim [14]: 34)

 

2. Anggur

 

“Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu memperoleh buah-buahan yang banyak dan sebagian dari buah-buahan itu kamu makan.” (al-Mu`minuun [23]: 19)

 

Anggur, yang bergizi tinggi dan kaya dengan beragam vitamin dan bahan-bahan metalik, merupakan satu jenis makanan penting. Sekitar 20-25% isinya adalah gula, yang dapat dengan cepat masuk ke dalam aliran darah. Karena itu, anggur baik untuk mereka yang banyak menggunakan kegiatan fisik dan mental, sebab ia menghilangkan rasa penat dan menggempur anemia. Banyak sekali kandungan besi dan gula di dalam buah anggur yang juga mempergiat produksi darah dan menjadi obat untuk untuk penderita-penderita liver, ginjal, dan sistem pencernaan. Anggur merangsang berfungsinya ginjal dan membantu mengeluarkan ampas-ampas tubuh seperti urea. Dengan mengeluarkan air yang berlebihan dari tubuh, anggur menurunkan tekanan darah.[18]

Para penderita bisul (ulcer) perut, sakit mag, radang persendian, radang usus kecil, rematik, dan mereka yang keracunan, dianjurkan minum jus buah anggur.[19]

Anggur juga menguatkan organ jantung, befaedah dalam menyembuhkan bronchitis dan batuk, serta meningkatkan kecantikan kulit karena anggur membersihkan darah.[20]

Karena anggur meningkatkan produksi air susu, ibu-ibu yang menyusui dianjurkan minum jus buah anggur. Sejumlah unsur kimia yang terdapat dalam buah anggur dapat mengurangi kemungkinan terjangkit kanker kulit.[21]

 

3. Delima

 

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma. Tanaman-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya yang bermacam-macam itu bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya);dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (al-An’aam [6]: 141)

 

Delima, sejenis buah lain yang disebutkan di dalam Al-Qur`an, mengandung potassium yang besar volumenya, selain dari mineral-mineral lain seperti fosfor, kalsium, besi, dan sodium, dan vitaman-vitamin A, B1, B2, B3, dan C. Bereaksi bersama sodium, potassium mengatur ekuilibrium air tubuh dan menjaga detak jantung agar tetap normal. Dengan memelihara keseimbangan kadar potassium-sodium, buah ini juga menunjang kepekaan saraf dan otot agar berfungsi secara teratur, mencegah edema, dan mengurangi kadar gula yang beredar di dalam darah. Delima menghilangkan rasa letih otot dan memungkinkannya bergerak dengan mudah,[22] dan juga menguatkan jantung.[23]

 

4. Zaitun

 

“Dialah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu mengembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanaman-tanaman; zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (an-Nahl [16]: 10-11)

 

Dari pengkajian para pakar, belum lama berselang, di ketahui bahwa zaitun tidak saja enak rasanya, tapi juga merupakan sumber makanan sehat. Kandungan asam linoleik yang terdapat dalam buah ini secara khusus sangat bermanfaat bagi ibu-ibu yang tengah menyusui anaknya. Kekurangan asam linoleik dapat mengurangi pertumbuhan bayi dan memperbesar potensi pada timbulnya beberapa penyakit kulit. Organisasi-organisasi kesehatan, termasuk WHO, menganjurkan penduduk yang bermukim dalam masyarakat yang tingkat penderita diabetes dan arterioclerosis (penebalan saluran urat darah) tinggi supaya mengonsumsi minyak zaitun yang mengandung paling kurang 30% asam linoleik. Hal ini telah menaikkan harga zaitun.[24]

   Manfaat zaitun tidak hanya terbatas pada asam linoleik. Misalnya, unsur klorin yang dikandungnya dapat meningkatkan fungsi liver lebih sempurna, sehingga dengan begitu memfasilitasi tubuh dalam mengeluarkan bahan buangan. Karena juga memberi sumbangan pada kerangka tubuh, za­i­tun dengan demikian membuat tubuh jadi kuat dan panjang usia. Unsur-unsur tersebut juga baik untuk serabut arteri otak.[25]

   Selain manfaat-manfaat yang sudah disebutkan itu, minyak zaitun adalah sumber penting bagi gizi manusia. Berbeda dengan mentega padat, minyak zaitun tidak meninggikan tingkat kolesterol di dalam darah; sebaliknya minyak ini tetap mengendalikannya. Karena itu, para dokter sangat menganjurkan pemakaian zaitun dalam hal masak-memasak. Sementara itu, apakah dalam keadaan panas atau dingin, minyak zaitun mengurangi jumlah asam pencernaan dan dengan demikian melindungi perut dari penyakit-penyakit radang usus dan sakit mag.[26] Minyak zaitun juga membuat teraturnya gerakan kantong empedu.[27]

Penelitian juga telah mengungkapkan bahwa minyak zaitun memiliki kemampuan tertentu untuk mencegah timbulnya penyakit urat darah koroner melalui pengurangan level LDL, sejenis kolesterol yang mengganggu kesehatan, sementara meninggikan tingkat kolesterol yang bermanfaat untuk kesehatan HDL di dalam darah.[28]

   Vitamin E, A, D, dan K dalam darah sangat penting untuk pertumbuhan tulang dan kadar mineral dalam tubuh anak-anak dan orang dewasa. Ia memperkuat tulang-belulang dengan cara menstabilkan kalsium. Minyak zaitun merupakan unsur vital dalam membangun organisme-organisme tubuh. Unsur-unsur antioksidan semacam ini dan asam-asam lemak seperti asam linoleik, yang sangat penting bagi manusia, memperbanyak hormon dan sintesis membran sel-sel biologis. Karena vitamin-vitamin ini memperbaharui sel, mereka juga digunakan untuk mengatasi keluhan-keluhan yang terkait dengan usia seseorang dan perawatan kulit.

Karena vitamin memberi sumbangan pada pertumbuhan otak dan jaringan saraf bayi sebelum dan sesudah kelahiran, satu-satunya rekomendasi para spesialis kepada para ibu adalah minyak zaitun. Di samping memiliki satu peringkat asam linoleik yang sangat mirip tarafnya dengan ASI, minyak zaitun berfungsi sebagai sumber nutrisi alami seperti halnya ASI bila dicampur dengan susu sapi bebas lemak. Sebagai harta milik kesehatan yang penting, minyak zaitun, mujarab untuk mengatasi penyakit-penyakit jantung dan saluran darah. Sehubungan dengan se­ga­la kemanjuran dan kemanfaatan itu, minyak zaitun telah menarik perhatian para spesialis kesehatan dalam kurun tahun terakhir ini.[29]

 

5. Kurma

 

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (ar-Ra’d [13]: 4)

 

Kurma, buah-buahan yang disebut dalam surah Maryam, pohonnya tumbuh di padang gersang bersuhu panas dan banyak manfaatnya. Allah mengindentifikasikan khasiat penyembuhan dari buah ini dengan menceritakan pada Maryam, yang sedang menghadapi persalinan, supaya makan daging buah kurma,

 

“Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum, dan bersenang hatilah....” (Maryam [19]: 24-26)

 

Allah mempunyai maksud tertentu dengan menyeru kita untuk memperhatikan kurma. Dengan meneliti isi kandungan buah ini akan membuat kita lebih paham tentang maksud Ilahi itu. Kurma, dengan kandungan 50% gula, sungguh sangat bergizi karena daging buahnya terdiri atas fruktosa dan glukosa yang keduanya berkalori tinggi, dan mudah serta cepat dicerna.[30] Kandungan gulanya menenangkan saraf yang gelisah serta memberikan rasa aman pada kejiwaan. Sudah pasti tiap persalinan selalu mengeluarkan banyak darah, yang dengan sen­dirinya jumlah gula darah yang tertumpah kare­na­nya cukup banyak. Karena gula yang lenyap itu harus diganti, ke­ter­li­batan kurma, seperti pada persalinan Maryam, nyata benar manfaatnya sebagai tambahan. Kurma juga mengurangi tekanan darah. Meskipun daging sangat besar manfaatnya, tapi tidaklah sebanding dengan lebih besarnya manfaat kurma segar dalam segala hal. Mengonsumsi terlalu banyak daging, yang tak terbantahkan mengandung banyak protein, tidaklah mustahil pada saat yang sama dapat mengakibatkan keracunan. Jadi, makanan-makanan ringan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, yang tentu saja mudah dicerna, hendaknya lebih menjadi pilihan.

Dalam cahaya ayat tadi, kita melihat kurma, khususnya, sung­guh bermanfaat bagi wanita hamil dan ibu-ibu yang menyu­sui secara alami. Daging buah kurma meningkatkan kesehat­an janin di dalam perut ibu, mencegah ibu dari rasa lemah, dan memperbanyak air susu bergizi tinggi.[31]

Di saat yang sama, kurma segar memberikan manfaat besar kepada otak. Kurma, dengan kandungan 2.2% protein, juga berisi banyak jenis vitamin A, B1, dan B2. Protein-protein ini melindungi tubuh dari serangan penyakit dan infeksi, menunjang sel-sel tubuh memperbaharui diri, dan me­nye­im­bang­kan cairan-cairan tubuh. Vitamin A meningkatkan kemampuan pandangan mata dan kekuatan badan, juga kekuatan tulang dan gigi. Vitamin B1 memfasilitasi jaringan saraf berfungsi sehat sempurna, menunjang tubuh mengubah karbohidrat menjadi energi, mengatur selera makan dan pencernaan, serta memberdayakan metabolisme berasal dari protein dan lemak. Vitamin B2 memfasilitasi pembakaran protein-protein yang disebutkan tadi, karbohidrat, dan lemak yang diperlukan untuk penyedian energ dan pembaharuan sel.

Di samping semua ini, kurma juga mengandung banyak mineral yang esensial bagi tubuh (seperti potassium, sodium, kalsium, besi, mangan, dan tembaga). Bila potassium dan sodium bekerja bersamaan, mereka bertindak selaku pengatur ritme detak jantung. Dengan menfasillitasi pengalihan oksigen ke otak, potassium dapat memberdayakan pikiran jernih. Lebih jauh lagi, ia menyediakan kandungan alkali secukupnya pda cairan tubuh, merangsang ginjal mengeluarkan sampah-sampah racun metabolis, membantu menurunkan tekanan darah tinggi, dan menunjang pembentukan kulit sehat.[32]

 Menarik juga untuk dicatat, bahwa daging buah kurma secara khusus bermanfaat bagi mereka yang hidup dalam kawasan di mana kebun-kebun pepohonan ini tumbuh merata. Protein dan gula dari buah kurma merupakan sumber gizi yang paling utama bagi penduduk gurun pasir.

 

Air Susu Ibu (ASI)

 

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu-bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman [31]: 14)

Ayat ini menarik perhatian kita pada pentingnya pemberian ASI untuk bayi selama dua tahun. Sebagaimana diketahui, ASI adalah satu-satunya yang dibutuhkan setiap bayi. Pada saat kelahiran, Allah menempatkan setiap bayi di bawah perlindungan-Nya dan menyuguhkan kepadanya, laki atau perempuan, dengan satu minuman bergizi tinggi yang tidak ada bandingannya dengan jenis sumber air minum apa pun di luar itu.

Ini vital bagi sang bayi, sebab dari detik seorang bayi membuka mata melihat dunia, tubuhnya harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru. Untuk menunjang adaptasi ini, bayi haruslah dipelihara dan dibesarkan dengan sebaik-baik kemudahan yang ada.

ASI adalah sumber makanan paling sempurna dan meningkatkan daya tahan, baik bayi maupun ibu, terhadap serangan penyakit. Para dokter sepakat bahwa makanan bayi buatan manusia boleh digunakan hanya apabila ASI betul-betul tidak mencukupi dan bahwa bayi wajib diberikan air susu ibu, terutama sekali dalam bulan-bulan awal kelahirannya, karena tidak ada bahan makanan lainnya yang dapat sepenuhnya menggantikan ASI.

Juga merupakan satu keajaiban bahwa ASI, merujuk pada kualitas dan kepadatannya, diproduksi khusus dan unik, sesuai dengan kebutuhan bayi yang dilahirkan dari ibu yang melahirkannya. Sebagai contoh, ASI seorang ibu yang melahirkan bayi belum cukup usia (prematur) agak berbeda dengan ASI seorang ibu yang melahirkan dengan masa kehamilan cukup bulan.

ASI juga antibakteri. Cobalah simpan air susu sapi selama enam jam dalam suhu ruangan (bukan lemari pendingin), maka bakteri-bakteri akan mulai menggerogoti susu tersebut, hal yang tidak akan terjadi pada ASI. ASI yang sempurna, yang dapat dengan mudah dicerna bayi, tidak mungkin dapat disaingi oleh makanan bayi buatan manusia mana pun.

 


Nilai-Nilai Estetika dan Seni di Dalam Al-Qur`an

 

 

Sudah menjadi hukum alam, jiwa manusia cenderung untuk mendapatkan kesenangan dari benda-benda yang indah dan cantik. Namun, kecenderungan mewujudkan dalam dirinya berkembang sesuai dengan keyakinan agama serta kearifan masing-masing manusia.

Meyakini bahwa Allah adalah pencipta segala keindahan, manusia beriman akan merasa sangat bahagia men­da­patkan kecantikan ini dan berupaya sebaik mungkin untuk mensyukuri kemahakuasaan dan keelokan ciptaan-Nya. Kerinduan mereka akan surga menunjang kemampuan untuk menikmati kecantikan. Terlebih lagi, dengan menekuni penggambaran Al-Qur`an tentang siksaan neraka dan membandingkannya akan membantu manusia beriman mensyukuri nilai-nilai estetika, yang memberikan rasa suka cita pada jiwa mereka.

 Ayat-ayat Al-Qur`an yang berkaitan dengan surga juga berperan sebagai bimbingan bagi makhluk beriman, karena ayat-ayat itu menguraikan nilai-nilai estetika dan kecantikan yang Allah sudah pilihkan untuk mereka. Inilah bentuk-bentuk kecantikan dan estetika yang menyenangkan Allah. Lebih dari itu, Dia sudah berjanji untuk memberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya dengan kemolekan semacamnya kelak di surga. Dalam cahaya tanda-tanda inilah, orang-orang beriman coba menciptakan satu lingkungan seperti yang digambarkan terdapat di surga, untuk mereka nikmati sendiri di dunia ini, sehingga dengan demikian memperoleh pola hidup yang ditandai dengan melimpahnya keindahan.

 

Allah Menganugerahkan Keindahan

Salah satu anugerah Allah kepada orang-orang beriman di dunia ini adalah barang-barang perhiasan. Allah menciptakan emas dan perak untuk dijadikan perhiasan, mutiara, bahan-bahan pakaian indah bernilai, dan banyak benda lainnya yang disebutkan di dalam Al-Qur`an, semuanya untuk menghibur dan menyenangkan manusia. Keindahan yang akan Allah anugerahkan di surga kepada hamba-hamba-Nya yang sesungguh-sungguhnya tulus ikhlas adalah disanjung,

 

“Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak…,” (al-Insaan [76]: 21)

 

Di dalam ayat ini, Allah menekankan perhatian kita pada nilai keindahan sutra dan tenunannya. Sebagaimana ayat yang disebutkan, perhiasan perak adalah salah satu ornamen yang Allah ciptakan untuk umat manusia. Sebagai contoh, gelang-gelang perak banyak disebutkan pada ayat-ayat lain.

Ayat lain menjelaskan keindahan kalung emas dan mutiara,

 

“Sesungguhnya, Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra.” (al-Hajj [22]: 23)

 

Allah sudah mengindikasikan bahwa mutiara adalah barang hiasan terkenal yang akan dianugerahkan kepada orang-orang beriman penghuni surga, sebagai pahala.

Imbalan untuk semua keindahan itu, kepada manusia hanya dituntut sikap mensyukuri kepada Allah dan hidup di dunia menurut perintah-perintah-Nya dan menjauhi apa pun larangan-Nya. Mereka yang mematuhinya akan dikaruniai surga dan akan menerima berkah dan keindahan-keindahan tidak terbatas untuk selama-lamanya. Kalau tidak, mereka dibolehkan memanfaatkan untuk sementara segala sesuatu yang tersedia di bumi, yang tak satu pun darinya bakal menolong mereka di hari perhitungan, ketika semua manusia harus menghitung semua perbuatan mereka selama berada di dunia ini. Di akhir penghitungan, mereka ini berhak dijebloskan ke neraka, tempat penyiksaan abadi dan tak tertanggungkan pedihnya.

 

Dekorasi

Allah, Dia yang telah menciptakan manusia dalam bentuk terindah, juga memberikan ilham kepada mereka agar mereguk kesenangan dari berbagai macam kecantikan. Di antara semua ciptaan, hanya manusia saja yang mendapat iradah mengenal konsep “kecantikan”. Manusia tidak saja menikmati barang-barang cantik, tapi juga berusaha membuatnya.

Melalui sejumlah tanda di dalam Al-Qur`an, Allah memberikan penghargaan kepada estetika, kecantikan, dan kemolekan, dan memberikan dorongan kepada hamba-hamba-Nya untuk menikmati itu semua. Di dalam al-Qur’an Dia menyatakan bahwa karunia-Nya,

 

“Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah, ‘Semuanya itu disediakan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja di hari kiamat)….” (al-A’raaf [7]: 32)

 

Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tersebut, semua kecantikan dan barang apa pun yang menyedapkan di dunia disediakan untuk manusia beriman yang dapat mensyukuri nikmat itu. Sebaliknya, di hari kemudian, banyak benda lainnya yang tak terbandingkan indah dan megahnya akan khusus jadi milik mereka.

   Setiap keindahan adalah karya seni milik Allah semata, Pencipta segala sesuatu. Itu sebabnya semua keindahan menakjubkan orang-orang beriman, dan mengapa semua orang beriman mensyukuri Allah atas semua karunia itu, dan makin tambah dekat kepada-Nya. Beberapa rincian berkaitan dengan kehidupan Nabi Sulaiman a.s. mengungkap beberapa isyarat tentang hal ini. Di dalam ayat berikut, Nabi Sulaiman a.s. menjelaskan mengapa beliau menggandrungi kekayaan, kekuasaan, dan kemuliaan,

 

“Maka ia berkata, ‘Sesungguhnya, aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’” (Shaad [38]: 32)

 

Seperti diperjelas oleh ayat ini, harta milik, kemuliaan, dan kekayaan, yang semuanya mungkin menggiring orang kafir pada kesesatan, hanya diperuntukkan kepada orang beriman agar mensyukuri Allah dan mendapatkan kesenangan-Nya.

Semua hasil karya seni yang dibuat untuk Nabi Sulaiman a.s. menunjukkan seleranya yang tinggi pada seni. Haekal Sulaiman (The Temple of Solomon), yang hanya satu dindingnya yang masih tersisa sampai ke hari ini di Yerusalem, tadinya adalah sebuah istana megah yang disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat) dan Perjanjian Baru (Injil), Al-Qur`an, serta banyak dokumen sejarah dan gulungan-gulungan catatan. Sebagaimana yang diceritakan Al-Qur`an, tatkala Ratu Saba masuk ke dalam istana itu, dia salah menduga lantainya sebagai sebuah kolam besar, tidak menyadari itu berlapiskan kaca. Ini betul-betul satu karya seni teknik sangat luar biasa cemerlang di masa itu. Setelah dia mengetahui keagungan istana itu, dia takluk pada kearifan, karya seni, dan ketinggian ilmu Nabi Sulaiman serta menyatakan diri masuk ke dalam naungan agama yang seutuhnya yang benar (Islam).

 Kisah riwayat Nabi Sulaiman a.s. merupakan satu contoh yang sangat berkesan bagi orang beriman karena ia mengungkapkan kemampuan artistik dan estetika umat Islam. Dalam kurun waktu akhir-akhir ini, kita juga bisa menyaksikan peninggalan dari pemahaman makna seni yang amat brilian, terutama yang dipelihara oleh kekhalifahan Utsmani. Faktor paling penting dibalik tingginya nilai seni kekhalifahan Utsmani adalah ilham yang diperoleh dari Al-Qur`an dan penerapan tanda-tanda tersurat tentang seni yang tertuang di dalam Kitab Suci ini.

 Al-Qur`an menyediakan banyak rincian dan contoh mengenai dekorasi dan memberikan banyak petunjuk tentang tata rias. Semuanya tersedia, sampai bagaimana memilih tempat di mana seharusnya sebuah dekorasi interior harus diletakkan.

 Ayat-ayat yang menjelaskan wujud surga merujuk pada tanda-tanda semacam itu dan, sebagai tambahan juga memaparkan perhitungan rinci berkenaan dengan lingkungan, untuk membimbing manusia agar mereka mendapatkan tempat-tempat bermukim paling menyenangkan di hamparan dunia ini.

 Beberapa unsur dekorasi yang tertera di dalam Al-Qur`an berbunyi seperti berikut.

 

1. Lambungkan Langit-Langit

 

“Dan demi Baitul Makmur, dan atap yang ditinggikan (langit).” (ath-Thuur [52]: 4-5)

 

Dalam keadaan lapang dan luas, tempat-tempat dengan langit-langit melambung memberikan rasa nyaman kepada kalbu ma­nu­sia. Plafon dengan tatanan demikian juga indah dipandangan mata. Langit-langit rendah, sebaliknya, menimbulkan ke­ti­daknyamanan. Bahwa inilah salah satu bentuk siksaan neraka yang dapat membuat kita bisa lebih mengerti tentang kesengsaraan yang harus dirasakan penghuni Nar (neraka) kelak. Penggambaran Allah ini, bahwa neraka beratap rendah, penuh sesak, dan terkurung, hendaknya dapat meyakinkan kita agar tidak memilih tempat seperti itu di alam dunia ini untuk permukiman kita.

 

2. Loteng dan Tangga-Tangga Perak

 

“…Tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (az-Zukhruf [43]: 33)

 

Elemen-elemen dekoratif lainnya yang disebut di dalam Al-Qur`an adalah loteng–loteng perak dan tangga-tangga tinggi dari perak. Allah menganugerahkan semua keindahan ini kepada manusia. Akan tetapi, Dia juga mengingatkan kita bahwa kemegahan-kemegahan ini sesungguhnya perangkap kehidupan di dunia ini dan bahwa rumah kita yang abadi ada di hari kemudian.

 

3. Pintu-Pintu

 

“Dan Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya, Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-per­hiasan (dari emas)….” (az-Zukhruf [43]: 34-35)

 

Ayat ini menarik perhatian kita pada nilai estetika dan seni dari pintu-pintu dan unsur-unsur perhiasan: “pintu-pintu rumah-rumah mereka”. Di luar penggunaan fungsional mereka, pintu-pintu, yang mungkin dari emas, perak, atau kayu berukir, ataupun dipercantik dengan kaca, mungkin dapat dijadikan sebagai benda-benda hiasan di pintu gerbang rumah ataupun pada bagian-bagian dalam rumah. Sesungguhnya, seni arsitektur dan dekorasi Utsmani banyak mengembangkan pola ini, di samping juga menambah-nambahkan pada pintu-pintu bermacam ukuran serta desian pada istana-istana, rumah peristirahatan, dan rumah-rumah lainnya.

 

4. Tiang-Tiang Tinggi

 

“Yaitu penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. Yang belum pernah dibangun (sesuatu kota) seperti itu di negeri-nergeri lain.” (al-Fajr [89]: 7-8)

 

Sebagaimana kita tahu dari Al-Qur`an, Iram, ibu kota kaum Aad, sangatlah elok bangunannya berkat kemegahan arsitekturnya, terutama tatanan tiang-tiang besar tinggi menjulang. Penyebutan Iram dalam Al-Qur`an adalah untuk menunjukkan adanya perhatian pada nilai tinggi dari keindahan dan sekaligus tampilan bangunan-bangunan tinggi.

 

5. Dipan-Dipan Berbordir Permata

Al-Qur`an acap menyebut dipan-dipan, menguraikannya sebagai karunia Allah yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia senangi,

 

“…Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya) dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.” (al-Ghaasyiyah [88]: 13-16)

 

Dipan-dipan yang menyenangkan dan indah buatannya adalah tempat duduk ideal untuk manusia. Lebih dari itu, perabot rumah ini bisa dipercantik dan dibuat lebih cemerlang. Kita dapat membaca,

 

“Mereka berada di atas dipan yang bertatahkan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.” (al-Waaqi’ah [56]: 15-16)

 

Rasa terhibur yang didapatkan dari dipan-dipan secara khusus direntangkan dalam ayat-ayat berikut,

 

“Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang sangat.” (al-Insaan [76]: 13)

 

“Sesungguhnya, penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (Yaasiin [36]: 55-56)

 

“(yaitu) surga Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, di dalamnya mereka bertelekan….” (Shaad [38]: 50-51)

 

“Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan….” (ath-Thuur [52]: 20)

 

6. Dipan-Dipan Tinggi dan Ranjang-Ranjang Berhias Sutra

 

“Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.” (al-Waaqi’ah [56]: 34)

 

Dipan-dipan dan ranjang-ranjang yang ditinggikan, elemen-elemen dekoratif di dalam surga memberikan pemandangan lebih luas dibandingkan dengan yang rendah-rendah. Dan pada akhirnya memberikan kelegaan,

 

“Mereka bertelekan di atas permadani yang di sebelah dalamnya dari sutra. Dan buah-buahan surga dapat dipetik dari dekat. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (ar-Rahmaan [55]: 54-55)

 

Ayat-ayat ini menarik perhatian kita pada kecantikan penggunaan kain sutra tebal kaya ornamen untuk jok dipan dan seprei ranjang. Sutra nan teramat estetis indahnya, ditambah keelokan desain serta benang pilihan, tentu akan membuat penampilan dipan tambah mengesankan.

 

7. Bantal-Bantal Hijau

 

“Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (ar-Rahmaan [55]: 76-77)

 

Bantal-bantal adalah keindahan lain yang disebutkan di dalam Al-Qur`an. Di samping bantal, ayat ini juga menunjuk pada pentingnya makna hijau, warna lambang perdamaian yang sudah mendapat pengakuan ilmu modern.

 

8. Piring-Piring Emas dan Piala-Piala

 

“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (az-Zukhruf [43]: 71-72)

 

Allah memberitahukan pada kita bahwa barang pecah-belah di surga juga punya nilai artistik dan estetika tinggi. Sebagaimana ayat itu mengatakan lebih lanjut, barang-barang ini merupakan karunia “yang hati-hati mereka menginginkannya serta menyenangkan pandangan mata mereka”.

 

9. Bejana-Bejana Perak dan Piala Kristal

Di samping piring emas, kita juga diberi tahu bahwa piala-piala dari perak dan kristal juga disediakan di surga. Ayat-ayat tentang ini berbunyi,

 

“Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukir mereka dengan sebaik-baiknya.” (al-Insaan [76]: 15-16)

 

Mereka yang hidup mengikuti prinsip-prinsip Islam akan diberikan ganjaran pahala berupa hidup kekal di dalam surga dan dengan bermacam-macam karunia yang bakal menyenangkan jiwa mereka. Sesungguhnya, orang-orang beriman akan menempati rumah-rumah peristirahatan dengan kebun-kebun dan dekorasi hiasan yang belum pernah ada di dunia, dan akan disuguhi minuman-minuman yang lezat cita rasanya dalam cangkir-cangkir emas; minuman-minuman itu diambil dari sungai yang mengalir di bawah istana-istana mereka di dalam surga, sebagaimana kita baca,

 

“Di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir.” (ash-Shaaffat [37]: 44-45)

 

Suguhan-suguhan di dalam Surga tidak bisa dibandingkan dengan apa yang kini tersedia di dunia ini. Namun, Allah menyediakan untuk hamba-hamba-Nya bermacam-macam kesukaan mereka di dunia ini yang mungkin serupa dengan yang ada di surga. Sebagai imbalan untuk karunia-karunia ini, orang-orang beriman hendaklah bersyukur dan menikmati semua itu, dan berterima kasih pada Allah.

 


Penjelasan Al-Qur`an tentang Tempat-Tempat

 

 

Al-Qur`an memberikan informasi rinci mengenai beberapa nabi, umat mereka, dan tempat-tempat tinggal mereka. Allah juga menarik perhatian kita pada tempat-tempat yang sesuai untuk permukiman, lingkungan-lingkungan yang bermanfaat untuk kesehatan manusia, dan suasana yang menyenangkan untuk kehidupan kita.

 

Tempat-Tempat Bernaung

Sejalan dengan pemberian informasi kepada orang-orang beriman tentang di mana Nabi Isa a.s. dan ibu beliau Maryam menetap, Al-Qur`an juga memberikan tanda-tanda tentang kualitas tempat bernaung,

 

“Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (al-Mu`minuun [23]: 50)

 

Setelah kelahiran Nabi Isa, Maryam menetap bersama dia di suatu daerah. Satu hikmah dari tempat itu adalah dengan adanya sebuah sungai yang mengalir di kawasan tersebut. Di atas segala-galanya, lokasi seperti itu dikaruniai dengan air yang melimpah, yang amat penting untuk kehidupan. Sungai juga memfasilitasi kebersihan tubuh dan lingkungan, sebagaimana juga menjamin berfungsinya organ-organ tubuh dengan sepatutnya. Terpuruk dalam keadaan kekurangan air untuk rentang waktu yang lama dapat menimbulkan malapetaka yang cukup serius, termasuk kematian. Hidup di suatu tempat di mana sumber air cukup tersedia memungkinkan manusia mempunyai suplai air untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, air yang bersih dan untuk kebutuhan lain-lain. Sebuah permukiman yang kaya sumber air tentu saja memberikan banyak manfaat kepada kawasan tersebut. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban tercipta pada kawasan-kawasan aliran sungai yang banyak memberikan keuntungan pada manusia. Sebagaimana tersebut dalam ayat tadi, sebuah sungai yang airnya mengalir dari tepi sebuah gunung atau bukit memberikan kesuburan pada delta-delta aliran sungai itu. Secara bertahap, kawasan aliran sungai menjadi kawasan kaya mineral dan sumber makanan. Kawasan seperti itu sangat besar sumbangsihnya pada kualitas dan produktivitas pertanian. Sungai memfasilitasi irigasi dan memberikan sumbangan pada kesuburan dan pertumbuhan tanaman-tanaman. Kawasan aliran sungai juga dapat meningkatkan produktivitas peternakan hewan.

Alasan lain mengapa sungai-sungai menjadi elemen kunci untuk semua peradaban adalah bahwa sungai-sungai tersebut menunjang aktivitas-aktivitas komersial dan sosial, seperti pelayaran, transportasi, dan perikanan. Sebagai contoh, dengan memanfaatkan Sungai Nil bangsa Mesir mencapai kemajuan dalam bidang budaya dan peradaban.

Di samping keuntungan-keuntungan penting dalam bidang sosial dan komersial, keindahan pemandangan dari sebuah sungai merupakan karunia lain untuk nurani manusia. Sumber-sumber air yang tentu saja menyenangkan pandangan mata dan telinga memberikan satu pemandangan yang indah dan membuat kawasan permukiman seperti itu lebih berharga. Keuntungan-keuntungan ini, yang hanya beberapa saja yang sudah kita sebut, kiranya memadai untuk menunjukkan bahwa tempat-tempat dengan simpanan air yang melimpah adalah lebih sesuai untuk permukiman. Allah juga menunjuk pada fakta ini dengan penjelasan sebuah tempat di mana Maryam dan putranya, Nabi Isa, menetap.

 

Tempat-Tempat Indah

Di dalam ayat-ayat mengenai surga, Allah menunjuk pada tempat-tempat dan lingkungan yang indah. Kebun-kebun termasuk di dalam tempat-tempat seperti itu, sebagaimana kita baca,

 

“Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?, kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.” (ar-Rahmaan [55]: 62-64)

 

Allah telah menciptakan manusia dan tahu apa yang paling menyenangkan jiwa seseorang. Kesenangan seseorang yang didapatkan dari lembah hijau merupakan satu wujud dari kenyataan ini.

 

“Tetapi orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.” (az-Zumar [39]: 20)

 

Tempat-tempat dengan “sungai-sungai mengalir di bawahnya” ada disebutkan dalam ayat-ayat tentang surga. Tempat-tempat tinggal dan tempat-tempat peristirahatan di dalam surga disebutkan dibangun di atas kawasan-kawasan seperti itu. Janji Allah untuk melimpahkan karunia kepada hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, yang berwujud tempat-tempat dengan sungai-sungai mengalir di bawahnya merupakan satu tanda yang jelas dari tempat yang dipenuhi rahmat, tempat-tempat yang mana yang juga ada di dunia. Kebun-kebun buah-buahan juga disebutkan di dalam Al-Qur`an sebagai tempat-tempat yang indah. Allah menciptakan berbagai ragam buah-buahan yang mempunyai rasa yang berbeda-beda, padahal tumbuh-tumbuhan itu hidup di atas tanah yang sama. Cabang-cabang pohon yang sarat dengan buah-buahan dan kebun-kebun dari pohon-pohon seperti itu jelas termasuk ke dalam lingkungan tempat-tempat indah di dunia. Lagi, dari Al-Qur`an kita mengetahui tempat-tempat laksana indahnya kebun-kebun di dalam surga yang menakjubkan yang akan menjadi tempat kehidupan abadi. Sebuah ayat yang merujuk pada kebun-kebun dan buah-buahan berbunyi sebagai berikut.

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya, yang demikian itu tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (al-An’aam [6]: 99)

 

Tandan pohon kurma tempat “tandan-tandan buah-buah kurma bergantungan” sangat menakjubkan pandangan, demikian pula rasa buahnya. Di samping itu kebun-kebun anggur, zaitun, dan delima yang berbeda-beda rasa dan warnanya memberikan pemandangan mengesankan mulai dari saat awal pembuahan hingga ke waktu matang sepenuhnya.


Kesalahan Konsep Teori Evolusi

 

 

Setiap detail di alam semesta ini menunjukkan pada sebuah penciptaan yang luar biasa. Sementara itu, materialisme yang menafikan fakta penciptaan alam semesta tidak menghadirkan apa-apa kecuali suatu kerancuan ilmiah.

Sekali materialisme dinyatakan tidak sah maka semua teori yang berbasis pada filosofi ini menjadi tidak berdasar. Yang paling utama dari semua filsafat ini adalah Darwinisme, yakni teori evolusi. Teori yang berargumen bahwa kehidupan berasal dari materi yang mati dan terjadi secara kebetulan ini telah dihancurkan oleh penemuan bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah. Seorang astro-fisikawan Amerika, Hugh Ross, menjelaskan hal tersebut,

“Ateisme, Darwinisme, dan isme-isme lainnya yang berasal dari filsafat abad ke-19 sampai 20 dibangun atas asumsi yang salah, yaitu bahwa alam semesta itu tak terbatas. Keanehan ini telah membawa kita berhadapan dengan penyebab--atau yang menyebabkan--di luar/di balik/sebelum adanya alam semesta dan semua yang dikandungnya, termasuk kehidupan itu sendiri.”[33]

Allahlah yang menciptakan alam semesta dan merancangnya hingga detail terkecil. Karenanya, tidaklah mungkin bagi teori evolusi—yang menyatakan bahwa makhluk hidup tidak diciptakan oleh Tuhan, tetapi terjadi secara kebetulan—untuk dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Tak mengherankan, ketika melihat teori evolusi ini, kita melihat bahwa teori ini dibantah oleh penemuan-penemuan ilmiah. Konstruksi kehidupan ini benar-benar kompleks dan rumit. Dalam alam benda mati misalnya, kita dapat melihat betapa sensitifnya keseimbangan atom. Kita dapat mengamati dalam konstruksi kompleks yang di dalamnya atom-atom tersebut menyatu. Bagaimana luar biasanya mekanisme dan struktur protein, enzim, dan sel.

Konstruksi yang luar biasa dalam kehidupan telah mematahkan teori Darwin di akhir abad ke-20 ini.

Kita telah membahas masalah ini secara detail dalam beberapa kajian lainnya dan masih akan terus membahasnya. Bagaimanapun juga, kami menganggap bahwa akan sangat membantu jika dibuat ringkasan tentang subjek yang penting ini.

 

 

Runtuhnya Keilmiahan Darwinisme

 

Meskipun doktrin ini bermula sejak zaman Yunani Kuno, teori evolusi ini dilanjutkan secara ekstensif pada abad ke-19. Perkembangan terpenting yang membuat teori ini menjadi topik paling terkenal di dunia sains karena adanya buku karya Charles Darwin yang berjudul The Origin of Species yang diterbitkan pada tahun 1859. Di dalam buku ini, Darwin menolak bahwa spesies yang berbeda di bumi ini diciptakan secara terpisah oleh Tuhan. Menurut Darwin, semua makhluk hidup memiliki nenek moyang yang sama dan mereka dianekaragamkan dalam jangka waktu yang lama melalui perubahan secara berangsur-angsur.

Teori Darwin tidak didasarkan pada penemuan ilmiah yang konkret. Sebagaimana yang ia katakan, teori tersebut hanyalah sebuah “asumsi”. Terlebih lagi, ia menyatakan dalam bukunya itu di dalam bab “Difficulties of the Theory” bahwa teori ini telah jatuh di hadapan banyaknya pertanyaan yang kritis.

Darwin menginvestigasi semua kemungkinan dalam penemuan ilmiah baru yang diharapkannya dapat menyelesaikan kesulitan teori ini (Difficulties of the Theory). Tetapi yang terjadi sebaliknya, penemuan-penemuan ilmiah memperluas dimensi kesulitan tesebut.

Kekalahan Darwinisme dalam berhadapan dengan sains dapat dilihat dalam tiga topik mendasar berikut ini.

1.                       Dengan cara apa pun, teori ini tidak mampu menjelaskan bagaimana kehidupan ini muncul di muka bumi.

2.                       Tidak ada penemuan ilmiah yang menujukkan bahwa “mekanisme evolusi” yang diajukan oleh teori ini memiliki kekuatan untuk berkembang sama sekali.

3.                       Catatan fosil benar-benar menunjukkan kebalikan dari teori evolusi.

Dalam bagian ini, kita akan mempelajari tiga hal dasar dalam bahasan umum, yaitu sebagai berikut.

 

 

Tahap Pertama yang Tidak Dapat Diatasi:

Asal-Usul Kehidupan

 

Teori evolusi menyatakan bahwa semua spesies makhluk hidup berevolusi dari sebuah sel tunggal hidup yang ada di bumi purba 3,8 miliar tahun yang lalu. Bagaimana sebuah sel dapat menghasilkan miliaran spesies hidup yang kompleks dan, jika evolusi itu benar-benar terjadi, mengapa jejaknya tidak terdapat dalam catatan fosil, adalah beberapa pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh teori evolusi ini. Bagaimanapun juga, hal pertama dan utama yang perlu dipertanyakan dari proses evolusi ini adalah: bagaimana “sel pertama” ini bermula?

Karena teori evolusi menolak proses penciptaan dan tidak menerima intervensi supranatural apa pun, teori ini tetap manganggap bahwa sel pertama terjadi secara kebetulan karena hukum alam, tanpa perencanaan ataupun pengaturan tertentu. Menurut teori ini, benda mati mestinya memproduksi sel hidup karena kebetulan semata. Ini adalah pernyataan yang tidak konsisten, bahkan dengan hukum biologi yang paling tidak dapat disangkal.

 

“Kehidupan Berasal dari Kehidupan”

Dalam bukunya, Darwin tidak pernah mengacu kepada asal-usul kehidupan. Pada masa Darwin, pemahaman sains yang primitif bersandarkan pada asumsi bahwa makhluk hidup memiliki struktur yang sangat sederhana. Sejak abad pertengahan, teori generatio spontanea (spontaneous generation)—teori yang menganggap benda mati muncul bersama-sama untuk membentuk organisme hidup—diterima oleh masyarakat luas. Orang percaya bahwa serangga berasal dari makanan basi dan tikus berasal dari gandum. Eksperimen-eksperimen yang menarik dilakukan untuk membuktikan teori ini. Orang meyakini, bila sedikit gandum diletakkan pada sepotong pakaian kotor, tikus akan muncul dari sana.

Demikian pula, belatung yang berkembang biak dalam daging diasumsikan sebagai bukti dari teori tersebut. Akan tetapi, hanya beberapa waktu kemudian, dipahami bahwa belatung tidak muncul dari daging dengan tiba-tiba, tetapi dibawa oleh lalat dalam bentuk larva yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Sejalan dengan saat Darwin menulis The Origin of Species, keyakinan bahwa bakteri muncul dari benda mati diterima luas di di dunia sains.

Akan tetapi, lima tahun setelah publikasi buku Darwin, Louis Pasteur mengumumkan hasil eksperimennya setelah lama mempelajari. Eksperimennya membantah teori Generatio Spontanea yang merupakan inti dari teori Darwin. Dalam ceramahnya yang gemilang di Sorbonne pada tahun 1864, Pasteur berkata, “Doktrin Generatio Spontanea tidak akan pernah bangkit dari pukulan yang mematikan dari eksperimen sederhana ini.[34]

Para pembela teori evousi menolak penemuan Pasteur dalam waktu yang cukup lama. Bagaimanapun, seiring dengan perkembangan sains yang dapat mengurai struktur kompleks sel makhluk hidup, ide bahwa kehidupan muncul secara kebetulan itu menghadapi kebuntuan yang lebih besar lagi.

 

Usaha-Usaha yang Tidak Meyakinkan di Abad Ke-20

Evolusionis pertama yang membahas asal-usul kehidupan di abad ke-20 adalah biolog Rusia terkenal, Alexander Oparin. Pada tahun 1930-an, ia mencoba membuktikan bahwa sel makhluk hidup dapat berasal dari kebetulan semata. Dalam perkembangannya, kajian ini ternyata berakhir dengan kegagalan dan Oparin harus mengakui hal ini, “Sayangnya, asal-usul sel mungkin merupakan masalah yang paling tidak jelas di antara keseluruhan studi evolusi organisme.”[35]

Para evolusionis pengikut Oparin mencoba melakukan eksperimen untuk memecahkan masalah asal-usul kehidupan. Eksperimen yang paling terkenal dilakukan oleh seorang ahli kimia Amerika, Stanley Miller, pada tahun 1953. Dengan mengombinasikan gas-gas yang dia kira ada pada atmosfer bumi purba dalam suatu rangkaian eksperimen dan menambahkan energi pada campuran itu, Miller mensintesiskan beberapa molekul organik (asam amino) yang ada dari dalam struktur protein.

Baru saja beberapa tahun berlalu sebelum terungkap bahwa eksperimen—yang kemudian diprentasikan sebagai sebuah langkah penting atas nama evolusi—adalah invalid, atmosfer yang digunakan dalam eksperimen tersebut sangatlah berbeda dari kondisi bumi sebenarnya.[36]

Setelah cukup lama berdiam diri, Miller baru mengakui bahwa media yang digunakan dalam eksperimennya tidaklah realistis.[37]

Semua usaha para evolusionis sepanjang abad ke-20 untuk menjelaskan asal-usul kehidupan berakhir dengan kegagalan. Seorang ahli geokimia bernama Jeffrey Bada dari San Siego Scripps Institute menerima fakta ini dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh majalah Earth pada tahun 1998,

“Hari ini, begitu kita meninggalkan abad kedua puluh, kita masih menghadapi suatu masalah terbesar yang tidak terpecahkan seperti yang telah kita miliki ketika kita memasuki abad kedua puluh: bagaimana kehidupan berkembang di muka bumi?”[38]

 

Struktur Kompleks Kehidupan

Alasan utama mengapa teori evolusi berakhir dengan suatu kebuntuan yang besar seperti itu tentang asal kehidupan adalah karena organisme hidup yang dianggap paling sederhana pun mempunyai struktur yang benar-benar rumit. Sel suatu makhluk hidup adalah lebih rumit daripada seluruh produk teknologi yang diproduksi oleh manusia. Dewasa ini, bahkan pada laboratorium yang paling maju pun di dunia, suatu sel kehidupan tidak dapat diproduksi dengan memadukan berbagai materi anorganik sekaligus.

Kondisi yang diperlukan untuk membentuk sebuah sel sangatlah sulit untuk dijelaskan hanya dengan peristiwa kebetulan saja. Peluang protein (dinding pemisah sel) untuk disintesiskan secara kebetulan adalah 1 dalam 10950 untuk sebuah protein rata-rata yang terbuat dari 500 asam amino. Secara matematis, suatu peluang lebih kecil dari 1 atas 1050 praktis tidak mungkin.

Molekul DNA, yang terletak pada nukleus sebuah sel dan yang menyimpan informasi genetika, adalah suatu bank data yang luar biasa. Dikalkulasikan bahwa jika informasi yang terdapat dalam DNA ini dicatat, akan membuat suatu perpustakaan raksasa yang terdiri atas 900 volume ensiklopedi yang masing-masing memiliki 500 halaman.

Suatu dilema yang sangat menarik muncul pada poin ini: DNA hanya dapat bereplikasi dengan bantuan beberapa protein khusus (enzim). Akan tetapi, sintesis dari enzim-enzim ini hanya dapat direalisasikan dengan informasi yang terdapat dalam DNA. Karena keduanya saling tergantung satu dengan yang lainnya, mereka harus eksis pada waktu yang bersamaan untuk melakukan replikasi. Hal ini membawa skenario bahwa kehidupan yang dikembangkan oleh dirinya sendiri hanya akan membawa kebuntuan. Prof. Leslie Orgel, seorang evolusionis yang bereputasi dari Universitas San Diego, California, mengakui kenyataan ini pada bulan September 1994 yang dibahas pada majalah Scientific American,

“Adalah sangat tidak mungkin bahwa protein dan asam nukleat, keduanya yang secara struktural sangat kompleks, tumbuh secara spontan di tempat yang sama pada waktu yang sama. Tampaknya tidak mungkin untuk memiliki yang satu tanpa memiliki yang lainnya. Begitu juga, dalam pandangan sekilas, seseorang mungkin harus menyimpulkan bahwa kehidupan sesungguhnya tidak pernah berasal dari sarana kimiawi.”[39]

Tidak diragukan, jika tidak mungkin bagi kehidupan untuk berkembang dari penyebab alam, adalah harus diterima bahwa kehidupan telah “diciptakan” secara supernatural. Fakta ini secara eksplisit telah mementahkan teori evolusi, yang mempunyai tujuan utama untuk menolak proses penciptaan.

 

 

Mekanisme Penggambaran dari Teori Evolusi

 

Poin penting kedua yang menegasikan teori Darwin adalah bahwa kedua konsep yang dikemukakan teori ini sebagai “mekanisme evolusioner”, pada realitasnya dipahami tidak mempunyai kekuatan evolusioner.

Darwin mendasarkan seluruh pemunculan teori evolusinya pada mekanisme “seleksi alam”. Tentang mekanisme ini telah jelas tertulis dalam bukunya, The Origin of Species, By Means of Natural Selection....

Seleksi alam berpandangan bahwa makhluk-makhluk hidup yang lebih kuat dan lebih pandai menyesuaikan diri dengan kondisi alam pada habitatnya, akan dapat bertahan hidup dengan segala perjuangannya. Contohnya, pada sekelompok rusa yang berada di bawah ancaman serangan binatang buas, mereka yang dapat berlari lebih cepat akan dapat bertahan hidup. Karenanya, sekawanan rusa akan terdiri atas individu-individu yang lebih cepat dan lebih kuat. Akan tetapi, satu hal yang tidak dapat dipertanyakan, mekanisme ini tidak akan menyebabkan rusa-rusa tersebut berkembang dan mentransformasi diri mereka menjadi spesies hidup yang berbeda, misalnya, menjadi kuda.

Karena itu, mekanisme seleksi alam tidaklah mempunyai kekuatan evolusioner. Darwin juga menyadari fakta ini dan menyatakan dalam bukunya, The Origin of Species,

“Seleksi alam tidak dapat melakukan apa pun hingga berbagai variasi yang menguntungkan bisa terjadi.”[40]

 

Pengaruh Lamarck

Bila demikian, bagaimana “variasi-variasi yang menguntungkan” ini dapat terjadi? Darwin telah mencoba menjawab pertanyaan ini dari sudut pandang pemahaman primitif sains pada masanya. Menurut seorang ahli biologi Prancis bernama Lamarck, yang hidup sebelum Darwin, makhluk hidup bertahan hidup melalui sifat-sifat yang dimiliki selama hidupnya sampai generasi berikutnya dan sifat-sifat ini, yang berakumulasi dari satu generasi ke generasi berikutnya, menyebabkan terbentuknya spesies-spesies baru. Misalnya, menurut Lamarck, jerapah berkembang dari antelop; seiring dengan perjuangan mereka untuk memakan dedaunan pada pohon yang tinggi, leher mereka memanjang dari generasi ke generasi.

Darwin juga memberikan contoh yang sama, dalam bukunya, The Origin of Species, misalnya, ia mengatakan bahwa beberapa beruang yang pergi ke air untuk mencari makanan mentransformasi dirinya menjadi paus setelah beberapa waktu.[41]

Akan tetapi, hukum-hukum keturunan yang ditemukan oleh Mendel dan diverifikasi oleh ilmu genetika yang berkembang pada abad kedua puluh, membongkar legenda tersebut sehabis-habisnya bahwa sifat-sifat yang dimiliki diwariskan pada generasi berikutnya. Akibatnya, seleksi alam telah gagal menjadi suatu mekanisme evolusioner.

 

Neo-Darwinisme dan Mutasi

Agar dapat menemukan suatu solusi, para Darwinis mengembangkan “Teori Sintetis Modern”, atau yang lebih dikenal sebagai Neo-Darwinisme, pada akhir tahun 1930-an. Neo-Darwinisme menambahkan mutasi, yang merupakan berbagai distorsi yang dibentuk dalam gen-gen makhluk hidup karena faktor-faktor eksternal seperti radiasi atau kesalahan-kesalahan replikasi, sebagai “penyebab dari beragam variasi yang menguntungkan” yang merupakan tambahan bagi mutasi alam.

Dewasa ini, model yang mendukung teori evolusi di dunia adalah Neo-Darwinisme. Menurut teori tersebut, jutaan makhluk hidup yang ada di muka bumi ini terbentuk sebagai hasil dari suatu proses di mana organ-organ yang sangat kompleks dari organisme-organisme ini, seperti telinga, mata, paru-paru, dan sayap, mengalami “mutasi”, yaitu kekacauan-kekacauan genetika. Akan tetapi, ada satu fakta saintifik yang sama sekali palsu yang secara keseluruhan meruntuhkan teori ini, yaitu: mutasi tidak menyebabkan makhluk hidup berkembang; sebaliknya, mutasi selalu menyebabkan kerusakan kepada makhluk tersebut.

Alasan untuk ini sangatlah sederhana: DNA mempunyai suatu struktur yang kompleks dan pengaruh-pengaruh acak hanya dapat mengakibatkan kerusakan padanya. Seorang ahli genetika Amerika bernama B.G. Ranganathan menerangkan hal ini,

“Mutasi merupakan suatu proses yang kecil, acak, dan merusak. Ia jarang terjadi dan kemungkinan yang terbaik adalah bahwa ia tidak akan berpengaruh. Empat karakteristik mutasi ini mengimplikasikan bahwa mutasi tidak dapat mengarah pada suatu perkembangan evolusioner. Suatu perubahan yang acak pada suatu organisme yang sangat khusus adalah tidak berpengaruh atau rusak. Suatu perubahan yang acak dalam suatu pengamatan tidak dapat meningkatkan pengamatan. Hal tersebut kemungkinan besar akan merusaknya atau paling tidak akan tidak memengaruhi. Gempa bumi tidak memperbaiki suatu kota, tetapi menyebabkan kerusakan.”[42]

Tidak mengherankan, tidak ada contoh dari mutasi yang berguna, karena yang diobservasi untuk mengembangkan sandi genetika telah diobservasi sejauh ini. Semua mutasi telah terbukti merusak. Karenanya, dipahami bahwa mutasi, yang dipresentasikan sebagai “mekanisme evolusioner”, sebenarnya adalah suatu peristiwa genetika yang merusak makhluk hidup dan menyebabkan mereka tidak berguna (pengaruh yang paling umum dari mutasi terhadap umat manusia adalah kanker). Tidak diragukan, suatu mekanisme destruktif tidak dapat dikatakan sebagai suatu “mekanisme evolusioner”. Sebaliknya, seleksi alam “tidak dapat melakukan apa pun oleh dirinya” sebagaimana hal ini juga diterima oleh Darwin. Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada “mekanisme evolusioner” di alam. Karena tidak ada mekanisme evolusioner yang eksis, tidak juga terdapat proses imajiner yang disebut teori evolusi yang telah dikemukakan.

 

Catatan Fosil: Tidak Ada Tanda Bentuk-Bentuk Transisi

Bukti yang paling jelas bahwa skenario yang dikemukakan oleh teori evolusi tidak mendapatkan tempat adalah catatan fosil.

Menurut teori evolusi, setiap spesies telah tertutup dari pendahulunya. Suatu spesies yang ada sebelumnya telah berubah menjadi sesuatu yang lain dalam satu waktu dan semua spesies menjadi seperti itu dengan cara seperti ini. Menurut teori evolusi, transformasi ini berproses secara bertahap selama berjuta-juta tahun.

Bila hal ini menjadi pembicaraan, spesies lanjutan dalam jumlah yang besar seharusnya telah eksis dan hidup selama periode transformasi yang panjang ini.

Misalnya, beberapa ekor hewan setengah ikan dan setengah reptil seharusnya telah hidup di masa lampau, yang mempunyai beberapa sifat reptil sebagai tambahan terhadap sifat ikan yang telah ada. Atau, seharusnya telah ada beberapa burung reptil, yang memiliki beberapa sifat burung sebagai tambahan terhadap sifat reptil yang telah dimiliki sebelumnya. Karena hal ini akan menjadi sebuah fase transisi, mereka seharusnya adalah makhluk yang tidak mampu melakukan apa pun, defektif, dan lumpuh. Para evolusionis merujuk kepada makhluk-makhluk imajiner ini, yang mereka yakini telah hidup di masa lampau, sebagai “bentuk transisi”.

Jika hewan-hewan seperti itu benar-benar telah ada sebelumnya, seharusnya jumlah mereka pastilah sangat besar, jutaan, bahkan miliaran hewan, dan varietasnya juga pastilah banyak. Yang lebih penting, peninggalan dari makhluk-makhluk yang aneh ini pun seharusnya ada dalam catatan fosil. Dalam The Origin of Species, Darwin telah menerangkan,

“Jika teori saya ini benar, sekian banyak varietas lanjutan, yang berhubungan paling dekat dengan semua spesies pada kelompok yang sama, harusnya dipastikan pernah ada.... Konsekuensinya, bukti dari keberadaan mereka dapat ditemukan hanya di antara peninggalan-peninggalan fosil.”[43]

 

Harapan-Harapan Darwin yang Kandas

Meskipun para evolusionis telah berusaha sekuat tenaga untuk menemukan fosil-fosil sejak pertengahan abad kesembilan belas di seluruh dunia, tidak ada satu bentuk transisi pun yang diketemukan. Semua fosil yang telah ditemukan di bumi menunjukkan bahwa—bertentangan dengan harapan para evolusionis—kehidupan muncul di muka bumi dalam satu masa dan penuh dengan perhitungan.

Seorang palaentologis yang berasal dari Inggris, Derek V. Ager, mengakui fakta ini, meskipun dia adalah seorang evolusionis,

“Poin yang hadir bila kita menguji catatan fosil secara mendetail, baik dalam level susunan maupun spesies, kita menemukan–secara berulang-ulang—hal tersebut bukanlah suatu evolusi yang gradual, melainkan ledakan sekejap dari satu kumpulan dengan mengorbankan yang lainnya.”[44]

Hal ini berarti, dalam catatan fosil, semua spesies tiba-tiba muncul sebagai bentuk yang sempurna, tanpa melalui bentuk transisi sebelumnya. Hal ini bertentangan dengan asumsi-asumsi yang dikemukakan oleh Darwin. Ini pun merupakan suatu bukti yang sangat kuat bahwa makhluk hidup itu diciptakan. Satu-satunya keterangan yang memungkinkan tentang suatu spesies hidup yang muncul tiba-tiba dan sangat lengkap detail-detailnya tanpa adanya nenek moyang evolusioner, ialah kenyataan bahwa makhluk hidup ini diciptakan. Fakta ini diakui juga oleh seorang ahli biologi evolusionis yang terkenal luas, Douglas Futuyma,

“Proses penciptaan dan evolusi, di antara keduanya, menyebabkan adanya keterangan yang mungkin bagi asal-muasal makhluk hidup. Organisme baik yang muncul di permukaan bumi dengan bentuk yang sempurna maupun tidak. Jika tidak, mereka seharusnya berkembang dari spesies yang ada sebelumnya dengan beberapa proses modifikasi. Jika mereka telah muncul dalam bentuk yang sempurna, mereka pastilah diciptakan oleh suatu kecerdasan yang hanya dimiliki oleh Yang Mahakuasa.”[45]

Fosil-fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul dalam struktur yang tersusun sempurna dan terencana di muka bumi. Hal ini berarti “asal-muasal makhluk hidup” (the origin of species) adalah bertolak belakang dengan dugaan Darwin; bukan evolusi, tetapi penciptaan.

 

 


Riwayat Evolusi Manusia

 

Bahasan yang paling sering diangkat oleh para pendukung teori evolusi adalah tentang asal-muasal manusia. Para pengikut Darwin mengklaim bahwa manusia modern sekarang ini adalah hasil perkembangan dari beberapa macam makhluk seperti kera. Selama terjadinya proses evolusi ini, yang diperkirakan telah dimulai sejak 4-5 juta tahun yang lalu, para evolusionis mengklaim bahwa telah ada beberapa “bentuk transisi” antara manusia modern dan para nenek moyangnya. Menurut skenario imajiner yang lengkap ini, empat “kategori” dasar disusun:

1.           Australopithecus,

2.           Homo habilis,

3.           Homo erectus,

4.           Homo sapiens.      

Para evolusionis menyebut bahwa yang dikatakan sebagai nenek moyang pertama manusia adalah makhluk seperti kera “Australopithecus” yang berarti “Kera Afrika Selatan”. Makhluk-makhluk hidup ini sebenarnya tidak pernah ada, tetapi spesies kera tualah yang pernah ada. Sebuah riset yang ekstensif dilakukan terhadap beragam sampel Australopithecus oleh dua orang ahli anatomi terkenal yang berasal dari Inggris dan Amerika, Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, menunjukkan bahwa semua itu merupakan fosil spesies kera biasa yang telah punah dan hampir tidak ada kemiripannya dengan manusia.[46]

Para evolusionis mengklasifikasi tahap dari proses evolusi manusia selanjutnya sebagai “homo” yang berarti “manusia.” Dalam klaim para evolusionis, makhluk hidup dalam serial Homo jauh lebih cepat perkembangannya daripada Australopithecus. Evolusionis merencanakan skema fantastis dengan cara menyusun fosil-fosil yang beragam dari dalam tatanan yang tertentu. Skema ini merupakan suatu imajinasi sebab tidak pernah dibuktikan bahwa ada sebuah hubungan evolusi antara kelompok-kelompok yang berbeda tersebut. Ernst Mayr, salah seorang pembela utama teori evolusi pada abad kedua puluh, mengakui fakta ini dengan menyatakan bahwa “rantai yang mencapai sejauh Homo sapiens sebenarnya hilang”.[47]

Dengan garis besar rantai hubungan seperti “AustralopithecusàHomo habilisàHomo erectusàHomo sapiens”, para evolusionis mengimplikasikan bahwa setiap spesies ini memiliki satu nenek moyang dengan yang lainnya. Akan tetapi, penemuan terakhir dari para palaentologis mengemukakan bahwa Australopithecus, Homo habilis, dan Homo erectus hidup di bagian dunia yang berbeda pada waktu yang bersamaan.[48]

Selain itu, suatu golongan tertentu dari manusia yang diklasifikasikan sebagai Homo erectus terus hidup hingga masa yang sangat modern. Homo sapiens neanderthalensis dan Homo sapiens sapiens (manusia modern) eksis secara bersamaan pada wilayah yang sama.[49]

Situasi yang transparan ini mengindikasikan ketidakvalidan dari klaim bahwa mereka merupakan nenek moyang antara satu dan yang lainnya. Seorang palaentologis dari Universitas Harvard, Stephen Jay Gould, menerangkan tentang kebuntuan dari teori evolusi ini meskipun dia sendiri adalah seorang evolusionis,

“Apa yang menjadi tangga bagi kami jika ada tiga spesies manusia yang eksis secara bersamaan di kurun yang sama (Australopithecus africanus, robus australopithecines, dan Homo habilis), tidak ada satu pun yang dengan jelas merupakan hasil perubahan dari yang lainnya? Selain itu, tidak satu pun dari ketiganya yang berperan dalam proses evolusi selama mereka hidup di muka bumi.”[50]

Singkatnya, skenario dari evolusi manusia, yang dipandang terjadi dengan bantuan beragam gambaran dari beberapa makhluk “setengah kera, setengah manusia” yang muncul di media-media dan buku-buku pelajaran, sejujurnya merupakan suatu propaganda yang disengaja dan tak lain hanyalah suatu dongeng tanpa adanya dasar saintifik.

Lord Solly Zuckerman, salah seorang saintis paling terkemuka dan terkenal di Inggris, yang telah melakukan riset tentang bahasan ini selama bertahun-tahun dan secara khusus telah mengkaji fosil-fosil Australopithecus selama lima belas tahun, akhirnya menyimpulkan, meskipun dia sendiri adalah seorang evolusionis, bahwa sebenarnya tidak ada silsilah keluarga dari kera yang mempunyai kemiripan dengan manusia.

Zuckerman juga membuat suatu “spektrum sains” yang menarik. Dia membuat suatu spektrum sains yang terdiri atas mereka yang dia anggap saintifik hingga mereka yang tidak saintifik. Menurut spektrum Zuckerman, yang “paling saintifik”—berdasarkan pada data-data konkret–dalam bidang sains adalah kimia dan fisika. Setelah keduanya adalah ilmu biologi, kemudian ilmu sosial. Di akhir spektrum, yang dianggap sebagai yang “paling tidak saintifik” adalah “persepsi ekstrasensori”–konsep-konsep seperti telepati dan indera keenam–dan yang terakhir adalah “evolusi manusia”. Zuckerman menerangkan tentang alasannya,

“Kami kemudian berpaling pada susunan kebenaran yang objektif kepada bidang ilmu biologi pra-asumsi, seperti persepsi ekstrasensori atau iterpretasi sejarah fosil manusia, di mana keyakinan (para evolusionis) terhadap sesuatu adalah mungkin—dan di mana pada saat yang sama secara berapi-api meyakini (dalam masalah evolusi) sesuatu yang dapat diyakini secara kontradiktif.”[51]

Riwayat evolusi manusia tidak menghasilkan apa pun kecuali interpretasi-interpretasi yang didasari praduga tentang beberapa fosil yang digali oleh orang-orang tertentu, yang secara membabi buta mengikuti teori mereka.

 

 

Teknologi di Mata dan Telinga

 

Bahasan lainnya yang tetap tidak terjawab oleh teori evolusi adalah kualitas persepsi istimewa yang dimiliki oleh mata dan telinga.

Sebelum melanjutkan kepada bahasan tentang mata, marilah kita jawab suatu pertanyaan tentang “bagaimana kita melihat”. Sinar-sinar terang yang berasal dari suatu objek jatuh secara berseberangan pada retina mata. Di sini, sinar-sinar terang ini ditransmisikan ke dalam signal elektrik oleh sel-sel dan mereka mencapai satu titik tipis di belakang otak yang disebut pusat penglihatan. Signal-signal elektrik ini dipersepsikan dalam pusat otak ini sebagai suatu gambaran setelah melalui serangkaian proses. Dengan latar belakang teknis ini, marilah kita berpikir.

Otak diisolasi dari cahaya. Hal ini berarti di dalam otak itu benar-benar gelap dan cahaya tidak mencapai lokasi di mana otak terletak. Tempat yang disebut pusat penglihatan adalah suatu tempat yang benar-benar gelap di mana tidak ada sedikit pun cahaya pernah mencapainya; mungkin ini adalah tempat yang paling gelap yang pernah Anda tahu. Akan tetapi, Anda mengobservasi suatu dunia yang terang dan berkilauan pada kegelapan yang gulita.

Gambaran yang dibentuk pada mata sangatlah tajam dan bahkan berbeda dengan teknologi abad kedua puluh yang belum pernah dapat mencapainya. Misalnya, perhatikanlah buku yang Anda baca, tangan yang dengannya Anda menggenggam buku, kemudian angkatlah kepala Anda dan lihatlah sekeliling Anda. Pernahkah Anda melihat suatu gambaran yang tajam dan terang sedemikian halnya juga di tempat yang lain? Bahkan, layar televisi yang paling canggih pun yang diproduksi oleh produser televisi terbesar di dunia tidak dapat menyediakan suatu gambaran yang tajam seperti itu bagi Anda. Ini adalah gambaran tiga dimensi, berwarna, dan sangat tajam. Selama lebih dari seratus tahun, beribu-ribu insinyur telah mencoba untuk mencapai ketajaman seperti ini. Pabrik, tempat yang besar, telah didirikan, berbagai riset telah dilakukan, rencana dan desain telah dibuat untuk tujuan ini. Perhatikanlah juga layar televisi dan buku yang dipegang oleh tangan Anda. Anda akan melihat bahwa ada suatu perbedaan yang sangat besar dalam ketajaman dan perbedaan. Selain itu, layar televisi hanya menunjukkan gambaran dua dimensi kepada Anda, sedangkan dengan mata, Anda melihat suatu perspektif tiga dimensi yang mempunyai kedalaman.

Selama bertahun-tahun, sepuluh dari beribu-ribu insinyur telah mencoba membuat televisi tiga dimensi dan mencapai kemampuan yang berkualitas sama dengan mata. Ya, mereka telah membuat sistem televisi tiga dimensi, tetapi tidak mungkin untuk melihatnya tanpa menyimpannya dalam kaca; selain itu, itu hanyalah suatu tiga dimensi artifisial. Latar belakangnya lebih kabur, latar depannya tampak seperti permukaan kertas. Benda tersebut tidak pernah mampu menghasilkan satu daya lihat yang tajam dan terang seperti yang dilakukan oleh mata. Baik pada kamera maupun televisi, ada suatu kualitas gambar yang hilang.

Para evolusionis mengklaim bahwa mekanisme yang menghasilkan gambaran yang tajam dan terang ini telah terbentuk secara kebetulan. Sekarang, jika seseorang mengatakan kepada Anda bahwa gambar pada televisi di kamar Anda terbentuk sebagai hasil yang disengaja, yang dilakukan oleh semua atom yang datang bersamaan dan menyusun peralatan yang menghasilkan suatu gambaran, apa pendapat Anda? Bagaimana atom-atom tersebut dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan manusia?

Jika suatu alat menghasilkan suatu gambaran yang lebih primitif daripada mata yang tidak dapat dibentuk dengan kebetulan, sangatlah jelas bahwa mata dan gambaran yang dilihat oleh mata tidak dapat dibentuk dengan kebetulan pula. Situasi yang sama juga berlaku pada telinga. Bagian luar telinga menangkap suara yang ada dengan menggunakan daun telinga dan mengarahkan suara itu ke bagian tengah telinga; bagian tengah telinga mentransmisikan getaran-getaran suara dengan mengintensifkan suara itu; telinga bagian dalam mengirimkan getaran-getaran ini ke otak dengan menerjemahkan suara itu ke dalam signal-signal elektrik. Sebagaimana mata, proses pendengaran berakhir di pusat pendengaran yang ada di dalam otak.

Situasi yang terjadi pada mata juga berlaku sama bagi telinga, yaitu otak diisolasi dari suara seperti halnya terisolasi dari cahaya: otak tidak memperbolehkan sedikit pun suara masuk. Karena itu, tidak masalah bagaimana ributnya kondisi di luar, bagian dalam otak tetap benar-benar sunyi. Walaupun demikian, cahaya yang paling tajam dipersepsikan dalam otak. Dalam otak Anda, yang terisolasi dari suara, Anda menyimak simponi dari suatu orkestra dan mendengarkan semua suara di tempat yang ramai. Akan tetapi, jika level suara dalam otak Anda diukur dengan suatu alat yang peka pada satu waktu, akan terlihat bahwa kesunyian yang benar-benar hening akan muncul di sana.

Sebagaimana halnya dengan imajinasi, berpuluh-puluh tahun usaha telah dilakukan dalam rangka untuk menghasilkan dan mereproduksi suara yang benar-benar asli. Hasil dari usaha-usaha ini adalah rekaman suara, sistem rekaman yang teliti dan murni, dan sistem untuk menangkap suara. Walaupun semua teknologi ini dan beribu-ribu insinyur serta para ahli telah bekerja pada usaha ini, tidak sedikit pun suara didapatkan yang mempunyai persamaan dalam ketajaman dan kejernihan dengan suara yang dipersepsikan oleh telinga. Pikirkanlah tentang sistem HI-FI yang berkualitas paling tinggi yang dihasilkan oleh perusahaan terbesar dalam industri musik. Bahkan pada alat-alat ini, ketika suara direkam, beberapa suara ada yang hilang; atau ketika Anda menyalakan HI-FI, Anda selalu mendengar suara mendesis sebelum musik mulai. Akan tetapi, suara yang dihasilkan oleh teknologi yang terdapat pada manusia sangat tajam dan jernih. Telinga seorang manusia tidak pernah mempersepsikan satu suara dengan dibarengi suara mendesis atau udara sebagaimana yang terjadi pada HI-FI; telinga mempersepsikan suara secara nyata, tajam, dan jernih. Ini adalah cara yang telah berlaku sejak awal penciptaan manusia.

Sejauh ini, tidak ada alat perekam gambar atau perekam suara yang diproduksi oleh manusia yang sensitif dan berhasil mempersepsikan data-data sensori sebagaimana yang dilakukan oleh mata dan telinga.

Akan tetapi, sejauh penglihatan dan pendengaran dipusatkan, sejauh itu pula fakta yang lebih besar terbentang di balik semua itu.

 

 

Siapa Pemilik Kesadaran Melihat dan

Mendengar dalam Otak?

 

Siapakah dia yang melihat dunia yang memikat dalam otaknya, menyimak simponi dan kicauan burung, serta mencium bunga mawar?

Stimulus yang berasal dari mata, telinga, dan hidung seorang manusia melakukan perjalanan menuju otak sebagai syaraf kimia-elektro yang bergerak. Dalam buku-buku biologi, psikologi, dan biokimia, Anda menemukan berbagai detail tentang bagaimana gambaran ini terbentuk dalam otak. Akan tetapi, Anda tidak akan pernah sampai pada fakta yang paling penting tentang bahasan ini: siapakah dia yang mempersepsikan syaraf-syaraf kimia-elektro ini untuk bergerak sebagai gambaran, suara, bau-bauan, dan peristiwa-peristiwa sensori lainnya dalam otak? Ada satu kesadaran dalam otak yang mempersepsikan semua ini tanpa merasa memerlukan mata, telinga, dan hidung. Kepunyaan siapakah kesadaran ini? Tidak diragukan lagi bahwa kesadaran ini bukanlah kepunyaan urat syaraf, lempengan lemak, dan syaraf-syaraf yang menyusun otak. Inilah yang menyebabkan mengapa para Darwinis-Materialis, yang meyakini bahwa segala sesuatu tersusun dari benda atau materi, tidak dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini.

Kesadaran ini adalah ruh yang diciptakan oleh Allah. Ruh tidaklah membutuhkan mata untuk melihat objek, tidak juga membutuhkan telinga untuk mendengarkan suara. Selain itu, dia tidak juga membutuhkan otak untuk berpikir.

Setiap orang yang membaca fakta eksplisit dan saintifik ini seharusnya merenungkan kekuasaan Allah, merasa takut kepada-Nya, dan bertawakal kepada-Nya; Dia Yang Menguasai seluruh alam di tempat yang gelap gulita dari setiap sentimeter kubik dalam bentuk tiga dimensi, berwarna, berbayang-bayang, dan benderang.

 

 

Keyakinan Materialis

 

Informasi yang telah kita presentasikan sejauh ini menunjukkan kepada kita bahwa teori evolusi adalah suatu klaim yang terbukti tidak sesuai dengan temuan-temuan saintifik. Klaim teori tentang asal kehidupan tersebut adalah tidak konsisten dengan sains, mekanisme evolusionernya tidak mempunyai kekuatan evolusioner, dan fosil-fosil menunjukkan bahwa bentuk-bentuk transisi yang dimiliki oleh teori tersebut tidak pernah eksis. Karenanya, jelaslah bahwa teori evolusi seharusnya disingkirkan sebagai suatu ide yang tidak saintifik. Ini adalah seperti ide bahwa alam semesta itu berpusat pada bumi, yang telah dikeluarkan dari agenda sains sepanjang sejarah.

Walaupun demikian kenyataannya, teori evolusi tetap dipertahankan dalam agenda sains. Beberapa orang telah mencoba untuk mempresentasikan kritiknya terhadap teori tersebut bahkan dianggap sebagai suatu “serangan terhadap sains”. Mengapa?

Alasannya adalah bahwa teori evolusi merupakan suatu keyakinan dogmatik yang sangat diperlukan bagi beberapa kalangan. Kalangan ini secara membabi buta mengikuti filosofi dan mengadopsi Darwinisme karena hanyalah keterangan materialis yang dapat mengemukakan karya-karya alam.

Yang cukup menarik, mereka juga mengakui fakta ini dari waktu ke waktu. Seorang ahli genetika terkenal dan seorang evolusionis yang termasyhur, Richard C. Lewontin, dari Harvard University, mengakui bahwa dia adalah “seorang materialis yang pertama dan utama dan kemudian adalah seorang saintis”,

“Bukanlah metode dan institusi sains yang menyebabkan kita menerima suatu keterangan materialis tentang fenomena dunia, tetapi sebaliknya, yang memaksa kami untuk memprioritaskan untuk mengikuti materialisme adalah karena untuk menciptakan suatu alat investigasi dan serangkaian konsep yang menghasilkan keterangan-keterangan material, tidak peduli bagaimana mencegah intuisi, tidak peduli bagaimana membingungkannya terhadap sesuatu yang tidak dikenal. Selain itu, materialisme adalah mutlak sehingga kami tidak dapat membiarkan Kaki Tuhan berada di ambang pintu.”[52]

Ini adalah pernyataan eksplisit bahwa Darwinisme adalah satu dogma yang tetap dipertahankan hidup hanya demi para pengikut filosofi materialis. Dogma ini menerangkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang menjaga materi. Karena itu, ia berpendapat bahwa benda mati, ketidaksadaran, telah menciptakan kehidupan. Ia bersikukuh bahwa jutaan spesies makhluk hidup, misalnya, burung, ikan, jerapah, harimau, serangga, pohon, bunga, ikan paus, dan manusia ada sebagai hasil dari interaksi antarbenda, seperti turunnya hujan, cahaya petir, dan sebagainya berasal dari benda mati. Ini merupakan suatu konsep yang bertentangan, baik dengan akal maupun sains. Akan tetapi, para Darwinis terus mempertahankannya hanya karena “tidak dapat membiarkan Kaki Tuhan berada di ambang pintu”.

Siapa pun yang tidak melihat asal makhluk hidup dengan prasangka materialis akan melihat kebenaran yang hakiki ini: semua makhluk hidup adalah Mahakarya dari Sang Pencipta, Yang Mahakuasa, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui. Sang Maha Pencipta itu adalah Allah, Yang telah menciptakan seluruh alam semesta dari ketidakadaan, mendesainnya dengan bentuk yang paling sempurna, dan membentuk semua makhluk hidup.

 

 


Teori Evolusi adalah Sihir Paling Kuat di Dunia

 

Perlu diperjelas bahwa siapa pun yang bebas dari prasangka dan bebas dari pengaruh ideologi tertentu, yang menggunakan hanya alasan-alasan dan logika dirinya sendiri, jelas akan mengerti, bahwa mempercayai terori evolusi, yang membawa tahayul-tahayul dari masyarakat-masyarakat tidak berilmu pengetahuan dan peradaban, agaknya tidaklah mungkin mau menerimanya. Sebagaimana sudah diterangkan di atas, mereka yang percaya pada teori evolusi mengira bahwa sejumlah atom dan molekul yang dilemparkan ke dalam sebuah tabung besar dapat menghasilkan pikiran, profesor-profesor cerdas, mahasiswa-mahasiswa universitas, para ilmuwan seperti Einstein dan Galileo, para seniman seperti Humphrey Bogart, Frank Sinatra, dan Pavarotti, seperti halnya rusa, pohon jeruk, dan anyelir-anyelir. Lebih-lebih lagi, para ilmuwan dan para profesor yang percaya pada bualan tak masuk akal ini adalah orang-orang berpendidikan. Oleh karena itu, cukup beralasan untuk membicarakan teori evolusi sebagai “ilmu sihir paling keras dalam sejarah”. Belum pernah terjadi sebelumnya ada kepercayaan atau pandangan yang dapat merenggut kemampuan argumentasi manusia, menolak untuk membiarkan orang berpikir secara intelektual dan logis, dan menyembunyikan kebenaran seolah-olah mata mereka telah tertutup. Bahkan, ini lebih buruk dari kebutaan yang sulit dipercaya dibandingkan dengan kepercayaan orang-orang Mesir kuno dalam menyembah dewa matahari yang mereka sebut sebagai Tuhan “Ra”, pemujaan animisme di kawasan pedalaman Afrika, penduduk Sahara hilir yang menyembah matahari, suku bangsa Nabi Ibrahim yang memuja berhala, atau umat Nabi Musa yang memuja patung anak Sapi Emas.

Sesungguhnya, situasi ini merupakan suatu keadaan jahiliah, tidak berakal, sebagaimana ditunjukkan Allah dalam Al-Qur`an. Allah swt. mengungkapkan dalam banyak ayat bahwa pikiran-pikiran sebagian manusia akan ditutup rapat dan mereka akan tidak berdaya untuk melihat kebenaran. Beberapa ayat tentang hal ini berbunyi sebagai berikut.

 

“Sesungguhnya, orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (al-Baqarah [2]: 6-7)

 

“…mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda keesaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan, mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raaf [7]: 179)

 

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, ‘Sesungguhnya, pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang terkena sihir.’” (al-Hijr [15]: 14–15)

 

Tidak cukup kata-kata untuk menjelaskan betapa menge­jut­kan bahwa teori evolusi ini berhasil merenggut ke­per­cayaan masyarakat luas, menghalangi orang untuk mempercayai kebenaran, dan tetap demikian selama 150 tahun. Bisa dipahami bahwa satu atau beberapa orang mungkin percaya pada skenario-skenario yang tidak masuk akal yang patut dan pantas dikelompokkan sebagai orang-orang yang benar-benar dungu dan tidak logis. Namun, “sihir” adalah satu-satunya penjelasan yang memungkinkan untuk orang-orang dari seluruh pelosok dunia yang percaya bahwa atom-atom tak bernyawa secara tiba-tiba memutuskan untuk datang bersama-sama dan membentuk sebuah jagat raya yang berfungsi dengan satu sistem organisasi tanpa kelemahan, disiplin, sebab dan kesadaran, planet bumi dengan segala perlengkapannya yang begitu sepadan dengan kehidupan, dan makhluk-makhluk bernyawa yang penuh dengan sistem-sistem yang sulit dipahami.

Sesungguhnya, Allah mengungkapkan di dalam Al-Qur`an mengenai insiden yang dialami oleh Nabi Musa, semoga kedamaian dilimpahkan kepadanya, dan Fir’aun bahwa sesungguhnya orang-orang yang mendukung falsafah ateis telah mempengaruhi orang-orang lain melalui sihir. Ketika kepada Fir’aun disampaikan berita tentang agama yang benar, dia memerintahkan supaya Nabi Musa a.s. berhadapan dengan ahli-ahli sihirnya untuk saling menguji kekuatan sihir masing-masing. Tatkala Nabi Musa a.s. memenuhi tantangan itu, dia minta agar tukang-tukang sihir Fir’aun melemparkan tongkat-tongakat mereka lebih dulu. Ayat-ayat lanjutan berbunyi,

 

“Musa berkata, ‘lemparkanlah (lebih dahulu)!’ Maka, tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).” (al-A’raaf [7]: 116)

 

Sebagaimana yang telah kita ketahui, tukang-tukang sihir Fir’aun mampu untuk menipu setiap orang, kecuali Nabi Musa a.s. dan orang-orang yang percaya kepadanya. Namun, bukti-bukti yang dikemukakan Nabi Musa a.s. mampu mematahkan sihir tukang-tukang sihir Fir’aun.

 

“Dan Kami wahyukan kepada Musa, ‘Lemparkanlah tongkatmu!’ Maka, sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan. Karena itu, nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka, mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.” (al-A’raaf [7]: 117 – 119)

 

Sebagaimana bisa kita lihat dari ayat tadi, setelah disadari bahwa orang-orang yang telah terlebih dahulu melemparkan tongkat ternyata hanya sebuah ilusi. Mereka kehilangan kredibilitas. Di masa sekarang, kecuali mereka yang berada di bawah pengaruh tipuan sihir seperti itu, percaya pada tuntutan yang tidak masuk akal dengan berlindung di bawah penyamaran keilmuan dan menghabiskan hidup mereka dalam mempertahankan kepercayaannya itu, sesungguhnya adalah kehinaan, manakala kebenaran yang sesungguhnya muncul dan apa yang mereka anut itu hancur. Sebenarnya, Malcolm Mugridge, seorang filosof ateis dan pendukung teori evolusi, mengakui bahwa dia mengkhawatirkan prospek masa depan teori evolusi itu,

“Saya sendiri yakin bahwa teori evolusi, khususnya apa yang sudah dilontarkan, akan menjadi sebuah lawakan besar di dalam buku-buku sejarah di masa mendatang. Kemajuan ilmu pengetahuan akan terus begulir sehingga sebuah hipotesis yang serapuh dan meragukan itu mungkin terterima pemaksaan kehendak sangat tidak layak yang dipunyainya itu.”

Masa depan tidak terlalu jauh: sebaliknya, manusia akan segera mengetahui bahwa “peluang” itu bukanlah tuhan, dan akan menoleh ke belakang pada teori evolusi sebagai tipuan paling buruk dan sihir yang paling menyeramkan di dunia. Tongkat sihir itu sudah dengan cepat mulai dienyahkan dari pundak manusia di seluruh dunia. Banyak orang yang melihat wajah sebenarnya dari teori evolusi menjadi ragu-ragu dan gundah bagaimana mereka bisa ditaklukkan oleh paham konyol semacam itu.

 

 

 

“Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya

Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.’”

(al-Baqarah [2]: 32)

 


Tentang Penulis

 

 

Penulis dengan nama pena HARUN YAHYA, lahir di Ankara tahun 1956. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Ankara, dia belajar sastra di Universitas Mimar Sinan di Istanbul dan belajar filsafat di Univesitas Istanbul. Sejak tahun 1980-an, penulis sudah menerbitkan ba­nyak bu­ku tentang politik, hal-hal yang berkaitan dengan agama, dan ilmu pengetahuan. Harun Yahya dikenal luas sebagai se­orang pengarang yang telah menulis karya-karya sangat pen­ting yang menyingkap kebohongan para pendukung teori evo­lu­si, ketidakabsahan pernyataan mereka, dan persekongkolan ra­ha­sia antara Darwinisme dan ideologi-ideologi berlumur da­rah, seperti fasisme dan komunisme.

Nama penanya yang diambil dari dua nama ”Harun” (Aaron) dan “Yahya” (John) adalah untuk mengenang dua orang na­­bi mulia yang telah memerangi kerusakan iman. Stempel Nabi saw. pada sampul depan buku-bukunya memiliki arti simbol­is dan berkaitan dengan isi buku-bukunya. Ini adalah re­presentasi Al-Qur`an (kitab suci terakhir) dan Nabi Muham­mad saw. (rasul penutup). Di bawah bimbingan Al-Qur`an dan Sunnah, penulis mewujudkan tujuannya untuk mematahkan se­ti­ap kepercayaan fundamental dari ideologi-ideologi tak ber­tu­han, dan sebagai “kata akhir”, sehingga dapat benar-benar mem­bungkam bantahan-bantahan terhadap agama. Stempel Rasul pe­nu­tup (Muhammad saw.), yang telah mendapat karunia ke­arif­an dan akhlaq mulia, digunakan sebagai simbol dari ke­inginan untuk menyampaikan perkataan paripurna ini.

Semua karya Harun Yahya terfokus pada satu sasaran: untuk menyampaikan pesan Al-Qur`an kepada manusia, menggugah mereka untuk berpikir tentang hal-hal yang berkaitan de­ngan keimanan (seperti keberadaan Allah, keesaan-Nya, dan hari akhir), dan untuk memaparkan kelemahan fondasi dan kesesatan ideologi-ideologi dari sistem-sistem antituhan.

Harun Yahya mensyukuri meluasnya jumlah pembaca di banyak negeri, dari India sampai Amerika, Inggris sampai In­do­­nesia, Polandia sampai Bosnia, dan Spanyol sampai Brazil. Sebagian buku-bukunya telah hadir dalam bahasa Inggris, Pran­cis, Jerman, Spanyol, Italia, Portugis, Urdu, Arab, Al­ba­nia, Rusia, Serbia-Kroasia (Bosnia), Polandia, Melayu, Uy­gur Turki, dan Indonesia, dan semua itu dinikmati oleh pa­ra pembaca di seluruh dunia.

Buku-buku karya Harun Yahya ini mendapat sambutan luar bi­asa di seluruh dunia. Karya-karyanya itu menjadi sarana am­puh bagi banyak orang untuk memantapkan iman mereka kepada Allah dan bagi sebagian yang lain untuk memperoleh ke­pa­ham­an lebih mendalam. Kearifan dan ketulusan disertai gaya pe­nulisan yang mudah dimengerti, membuat buku-bukunya sa­ngat menyentuh, yang secara langsung memberikan efek pada si­apa saja yang membaca atau mempelajarinya. Terbebas dari ke­raguan, karya-karya Harun Yahya memiliki karakter yang is­ti­mewa, hasil yang pasti, dan tak terbantahkan. Tipis kemung­kinan, mereka yang membaca buku-buku ini dan menelaah­nya secara bersungguh-sungguh, masih membela filsafat ma­te­ri­alisme, ateisme, atau ideologi dan filsafat sesat la­in­nya. Andaipun masih tetap membelanya, itu tak lain dari do­rong­an sentimen belaka karena buku-buku ini membongkar ke­pal­su­an paham-paham tersebut secara menyeluruh mulai dari ele­men-elemen dasarnya. Semua gerakan kontemporer yang meno­lak (agama) sudah dilumpuhkan secara ideologis berkat kum­pul­an buku-buku karya Harun Yahya.

Tidak disangsikan bahwa keistimewaan ini merupakan buah kearifan dan kejelasan Al-Qur`an yang mudah dipahami se­ti­ap insan. Secara sederhana, penulis ingin menjadikannya se­bagai sarana dalam mencari jalan kebenaran dari Allah. Ti­dak ada keuntungan materi yang dikejar dari penerbitan kar­ya-karya ini.

Dengan mempertimbangkan fakta-fakta tersebut, mereka yang mendorong orang untuk membacanya, yang membuka “mata” ha­ti, serta yang membimbing mereka menjadi hamba-hamba yang ber­bakti setulusnya kepada Allah, berarti telah berinvestasi amal kebajikan yang tak ternilai.

Sementara itu, merupakan penyia-nyiaan waktu dan tenaga untuk mendakwahkan buku-buku lain yang mengundang ke­bi­ngung­an, menjerumuskan manusia ke dalam ideologi yang me­ru­sak, dan yang jelas-jelas tidak dapat melenyapkan keragu-ra­gu­an. Jelas, tidak mungkin bagi buku-buku yang hanya me­ni­tikberatkan pada kajian literatur—bukan untuk tujuan mu­li­a, yaitu menyelamatkan manusia dari kehilangan keimanan—akan memiliki dampak besar. Mereka yang meragukannya dapat se­gera melihat bahwa satu-satunya tujuan dari buku-buku Ha­run Yahya ini adalah untuk menghancurkan kekufuran dan me­na­­nam­kan nilai-nilai moral Al-Qur`an. Keberhasilan, peng­aruh, dan keikhlasan dari usaha ini akan terlihat pada ke­ya­kinan para pembacanya.

Satu hal yang harus tetap diingat bahwa penyebab utama ber­langsungnya tindak kekerasan, pertikaian, dan semua pende­ritaan yang dialami sebagian besar umat manusia adalah me­­nyebarnya ideologi-ideologi kafir. Keadaan ini hanya dapat diakhiri dengan menghancurkan ideologi kemunafikan dan ke­kafiran serta dengan memberikan pemahaman akan hakikat pen­­cip­taan alam semesta dan penerapan moral qur`ani sebagai pe­doman hidup manusia. Dengan mempertimbangkan keadaan du­nia masa kini, yang menjerumuskan manusia ke dalam pusaran ke­kerasan yang kian memburuk, korupsi, dan perselisihan, je­laslah betapa mendesaknya usaha ini untuk dilaksanakan se­ca­ra efektif. Jika tidak, tentu akan sangat terlambat.

Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa menyebarnya bu­ku-buku Harun Yahya telah mengemban tugas utama ini. Dengan kehendak Allah, buku-buku ini akan menjadi alat untuk me­raih kedamaian, keadilan, dan kebahagiaan sebagaimana di­jan­jikan di dalam Al-Qur`an.

Karya-karya Harun Yahya meliputi: The New Masonic Order, Judaism and Freemasonry, Global Freemasonry, Night Tem­­plars, Islam Denounces Terrorism: The Ritual of the Devil[53], The Disasters Darwinism Brought to Humanity, Communism in Ambush, Fascism: The Bloody Ideology of Darwinism, The ‘Sec­ret Hand’ in Bosnia, Behind the Scenes of The Ho­lo­caust, Behind the Scenes of Terrorism, Israel’s Kurdish Card, The Oppression Policy of Communist China and Eastern Tur­kestan, Palestine, Solution: The Values of the Al-Qur`an, The Winter of Islam and Its Expected Spring, Artic­l­es 1-2-3, A Weapon of Satan: Romanticism, Signs from the Chap­ter of the Cave to the Last Times, Signs of the Last Day, The Last Times and The Beast of the Earth, Truths 1-2, The Western World Turns to God, The Evolution Deceit, Pre­ci­se Answers to Evolutionists, The Blunders of Evolution­ists, Confession of Evolutionists, The Al-Qur`an Denies Dar­winism, Perished Nations, For Men of Understanding, The Pro­phet Musa (as.). The Prophet Yusuf (as.), The Prophet Mu­hammad (saw.), The Prophet Sulaiman (as.), The Golden Age, Allah’s Artistry in Colour, Glory is Everywhere, The Im­portance of the Evidences of Creation, The Truth of Life of This World, The Nightmare of Disbelief, Knowing the Truth, Eternity Has Already Begun, Timelessness and the Re­al­­ity of Fate, Matter: Another Name for Illusion, The Lit­tle Man in the Tower, Islam and the Philosophy of Karma, The Dark Magic of Darwinism, The Religion of Darwinism, The Collapse of the Theory of Evolution in 20 Questions, Allah is Known Through Reason, The Al-Qur`an Leads the Way to Sci­en­ce, The Real origin of Life, Consciousness in the Cell, Technology Imitates Nature, A String of Miracles, The Crea­tion of the Universe, Miracles of the Al-Qur`an, The De­sign in Nature, Self-Sacrifice and Intelligent Behaviour Mo­dels in Animals, The End of Darwisnism, Deep Thinking, Ne­ver Plead Ignorance, The Green Miracle: Photosynthesis, the Miracle in the Cell, The Miracle in the Eye, The Mi­rac­le in the Spider, The Miracle in the Gnat, The Miracle in the Ant, The Miracle of the Immune System, The Miracle of Cre­ation in Plants, The Miracle in the Atom, The Miracle in the Honeybee, The Miracle of Seed, The Miracle of Hormone, The Miracle of the Termite, The Miracle of the Human Body, The Miracle of Man’s Creation, The Miracle of Protein, The Miracle of Smell and Taste, The Miracle of Microworld, The Sec­rets of DNA.

Karyanya untuk buku anak-anak karyanya adalah: Wonders of Allah’s Creation, The World of Animals, The Glory in the Hea­vens, Wonderful Creatures, Let’s Learn Our Islam, The World of Our Little Friends: The Ants, Honeybees That Build Per­fect Combs, Skillful Dam Builders: Beavers.

Karya-karyanya yang berkenaan dengan tema-tema Al-Qur`an meliputi: The Basic Concepts in the Al-Qur`an, The Mo­ral Values of the Al-Qur`an[54], Quick Grasp of Faith 1-2-3, Ever Thought About the Truth?, Crude Understanding of Dis­be­lief, Devoted to Allah, Abandoning the Society of Igno­ran­ce, The Real Home of Believers: Paradise, Knowledge of the Al-Qur`an, Al-Qur`an Index, Emigrating for the Cause of Al­lah, The Character of the Hypocrite in the Al-Qur`an, The Sec­rets of the Hypocrite, The Names of Allah, Communicating the Message and Disputing in the Al-Qur`an, Answers from the Al-Qur`an, Death Resurrection Hell, The Struggle of the Mes­sangers, The Avowed Enemy of Man: Satan, The Greatest Slan­der: Idolatry, The Religion of the Ignorant, The Ar­ro­gan­ce of Satan, Prayer in the Al-Qur`an, The Theory of Evo­lu­tion, The Importance of Conscience in the Al-Qur`an, The Day of Resurrection, Never Forget, Disregarded Judgements of the Al-Qur`an, Human Characters in the Society of Ignorance, The Importance of Patience in the Al-Qur`an, Ge­ne­ral Information from the Al-Qur`an, The Mature Faith, Be­fo­re You Regret, Our Messangers Say, The Mercy of Be­li­ev­ers, The Fear of Allah, Jesus will Return, Beauties Pre­sen­ted by the Al-Qur`an for Life, a Bouquet of the Beauties of Al­lah 1-2-3-4, The Iniquity Called “Mockery” The Mystery of the Test, The True Wisdom According to the Al-Qur`an, The Strug­gle with the Religion of Irrelegion, The School of Yu­suf, The Alliance of the Good, Slanders Spread Against Mus­lims Throughout History, The Importance of Following the Good Word, Why Do You Deceive Yourself?, Islam: The Re­li­gi­on of Ease, Enthusiasm and Excitement in the Al-Qur`an, See­ing Good in All[55], How do the Unwise Interpret the Al-Qur`an? Some Secrets of the Al-Qur`an, The Courage of Be­liev­ers, Being Hopeful in the Al-Qur`an, Justice and To­le­ran­ce in the Al-Qur`an, Basic Tenets of Islam, Those Who do not Listen to the Al-Qur`an, Taking the Al-Qur`an as a Guide, a Lurking Threat: Heedlessness, Sincerity Described in the Al-Qur`an[56].



[1] http://www.quakeroatmeal.com/wellness/articles/GP_exercise.cfm

[2] Barbara A. Brehm, “Your Health and Fitness”, Majalah Fitness Management, 1990.

[3] Kathleen Mullen, Some Benefits of Exercise (Medical Times C.Brown Publishers, 1986).

[4] Resimli Saglik Ansiklopedisi (Illustrated Health Encyclopedia) (Bilpa-Inkilap Publishing), vol. 4, hlm.  476.

[5] Sabah Gazetesi (koran Turki), 25 Desember 1997, dari Harvard University.

[6] Ana Britannica Ansiklopedisi (Britannica Encyclopedia), vol. 8, hlm.  334.

[7] www.bawarchi.com/health/milk2.html

[8] http://biorganic.ifrance.com/biorganic/honey.htm

[9] Hurriyet Gazetesi (koran Turki), 19 October 1993.

[10] http://www.naturalark.com/honey.html

[11] http://www.stonecreeksilk.co.uk/silk.html

[12] Th PDR Family Guide To Nutiro and Health, hlm. 596.

[13] http://www.chatham.edu/PTI/Kitchen_Chem/P.Roberts_01.htm

[14] http://www.essaybank.co.uk/free_coursework/2844.html

[15] Foods & Food Production Encylopedia, hlm. 16.

[16] Prof. Ayse Baysal, Beslenme (Nourishment) (Ankara: Hatipoglu Publishing House, 1996), vol. 6, hlm. 108-109.

[17] Prof. Ayse Baysal, Beslenme (Nourishment) (Ankara: Hatipoglu Publishing House, 1996), vol. 6, hlm.  204.

[18] http://www.naturalways.com/medValFd.htm

[19] Bilim Teknik Dergisi (majalah ilmu pengetahuan Turki), Juli 1987, hlm. 30.

[20] Dr. Mehmet Gobelez, Gidalarimiz ve Sagligimiz (Nutriments and Health) (Ankara: Mars Printing House, 1973), hlm. 81.

[21] Hurriyet Gazetesi (koran Turki), 19 Maret 1999.

[22] Focus Dergisi (majalah Focus), Maret 1999, no. 3, hlm. 43.

[23] Dr. Mehmet Gobelez, Gidalarimiz ve Sagligimiz (Nutriments and Health) (Ankara: Mars Printing House, 1973), hlm. 88.

[24] Scientific Encyclopedia, hlm. 207.

[25] http://www.naturalways.com/medValFd.htm

[26] Muammer Kayahan, "Saglikli Yasam ve Zeytinyagi", (Healty Life and Olive Oil), Bilim Teknik Dergisi (koran Turki), April 1995, hlm. 48; http://www.taris.com.tr/zeytin/ezhak.htm

[27] Muammer Kayahan, "Saglikli Yasam ve Zeytinyagi", (Healty Life and Olive Oil), Bilim Teknik Dergisi (koran Turki), April 1995, hlm. 48; http://www.taris.com.tr/zeytin/ezhak.htm

[28] http://www.naturalways.com/medValFd.htm

[29] http://www.taris.com.tr/zeytin/ezhak.htm

[30] http://www.naturalways.com/medValFd.htm

[31] Dr. Mehmet Gobelez, Gidalarimiz ve Sagligimiz (Nutriments and Health) (Ankara: Mars Printing House, 1973), hlm. 80.

[32] The Independent Newspaper, 9 Juni 1995.

[33] Hugh Ross, The Fingerprint of God, hlm. 50.

[34] Sidney Fox, Klaus Dose, Molecular Evolution and The Origin of Life (San Fransisco: W. H. Freeman and Company, 1972), hlm. 4.

[35] Alexander I. Oparin, The Origin of Life (New York: Dover Publications, 1936, 1953 [reprint]), hlm. 196.

[36] “New Evidence of Evolution of Early Atmosphere and Life”, Bulletin of the American Meteorogical Society, vol. 63, November 1982, hlm. 1328-1330.

[37] Stanley Miller, Molecular Evolution of Life: Current Status of the Prebiotic Synthesis of Small Molecules (1986), hlm. 7.

[38] Jeffrey Bada, Earth, Februari 1998, hlm. 40.

[39] Leslie E. Orgel, “The Origin of Life on Earth”, Scientific American, vol. 271, Oktober 1994, hlm. 78.

[40] Charles Darwin, The Origin of Species by Means of Natural Selection (New York: The Modern Library), hlm. 127.

[41] Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition (Harvard University Press, 1964), hlm. 184.

[42] B. G. Ranganathan, Origins? (Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, 1988), hlm. 7.

[43] Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition (Harvard University Press, 1964), hlm. 179.

[44] Derek A. Ager, “The Nature of the Fossil Record”, Proceedings of the British Geological Association, vol. 87, 1976, hlm. 133.

[45] Douglas Futuyma, Science on Trial (New York: Pantheon Books, 1983), hlm. 197.

[46] Solly Zuckerman, Beyond the Ivory Tower (New York: Toplinger Publications, 1970), hlm. 75-94; Charles E. Oxnard, “The Place of Australopithecus in Human Evolution: Grounds for Doubt”, Nature, vol. 258, hlm. 389.

[47] “Sould science be brought to end by scientist belief that they have final answers or by society’s reluctance to pay the bills?” Scientific American, Desember 1992, hlm. 20.

[48] Alam Walker, Science, vol. 207, 7 Maret 1980, hlm. 1103; A. J. Kelso, Physical Antropology (New York: J. B. Lipincott Co., 1970), Edisi pertama, hlm. 221; M. D. Leakey, Olduvai Gorge (Cambridge: Cambridge University Press, 1971), vol. 3, hlm. 272.

[49] Jeffrey Kluger, “Not So Extinct After All: The Primitive Homo Erectus May Have Survived Long Enough To Coexist With Modern Humans”, Time, 23 Desember 1996.

[50] S. J. Gould, Natural History, vol. 85, 1976, hlm. 30.

[51] Solly Zuckerman, Beyond the Ivory Tower, hlm. 19.

[52] Richard Lewontin, “The Demon-Haunted World”, The New York Review of Books, 9 Januari 1997, hlm. 28.

[53] Telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Senayan Abadi Publishing dengan judul Terorisme: Ritual Setan. (Ed.)

[54] Telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Senayan Abadi Publishing dengan judul Nilai-Nilai Moral Al-Qur`an. (Ed.)

[55] Telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Senayan Abadi Publishing dengan judul Melihat Kebaikan dalam Segala Hal. (Ed.)

[56] Telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Senayan Abadi Publishing dengan judul Keikhlasan dalam Paparan Al-Qur`an. (Ed.)