Cara Cepat Meraih Keimanan

Kami mudahkan Al-Qur'an untuk diingat. Adakah yang mengambil perhatian?
(Surat al-Qamar: 17)


Rahasia Kekebalan TubuhPERTANYAAN 81

Dinyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Allah tidak menyukai orang yang sombong. Apa arti ‘sombong’ dalam Al-Qur’an?

Menurut Al-Qur’an, karakteristik utama dari orang yang sombong adalah lupa bahwa segala yang dimilikinya, termasuk keunggulan non fisik, merupakan pemberian Allah. Istilah sombong di sini bukan hanya bagi sekelompok orang tertentu yang melupakan Allah dan bersikap takabur. Seseorang bisa juga dikatakan sombong apabila ia berpikiran bahwa kecantikannya bukan pemberian Allah, atau jika ia bangga dengan keberhasilannya. Atau jika ia sudah merasa berkecukupan, dan tidak pernah bertanya pada dirinya apakah ia dapat lebih bertanggung jawab dengan apa yang dimilikinya. Atau jika ia bersikap congkak.

Oleh karena itu, setiap individu harus bersungguh-sungguh menghindari perilaku demikian, serta harus menyadari bahwa ia sangat miskin dibanding Allah. Di hadapan Allah, semua mahluk adalah lemah. Allah bisa saja mengambil segalanya darinya jika Dia menghendakinya.

Nasib akhir dari orang yang sombong disebutkan Allah dalam Al-Qur’an:

Dan apabila dikatakan kepadanya, “Takutlah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahanam. Dan sungguh neraka jahanam itu seburuk-buruknya tempat tinggal. (Surat Al-Baqarah: 206)

PERTANYAAN 82

Sikap yang bagaimana yang dimaksud dengan rendah hati dalam Al-Qur’an?

Berbeda dengan orang yang sombong, seorang yang rendah hati menyadari bahwa segala sesuatu yang dimilikinya merupakan anugrah Allah, atau sebagai batu ujian dariNya. Sebagai manusia, ia menyadari bahwa dirinya lemah dan miskin serta tidak memiliki kekuatan untuk melakukan apapun kecuali atas kehendak Allah. Karenanya, ia selalu mengembalikan segalanya kepada Allah dan bersyukur atas segala keruniaNya. Allah memuji sikap rendah hati dari orang-orang yang beriman:

Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang berjalan di muka bumi dengan rendah hati... (Surat Al-Furqan: 63)

PERTANYAAN 83

Apakah manusia bertanggung jawab atas niatnya?

Setiap orang bertanggungjawab atas niatnya. Ini dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an:

“...Allah akan menghukummu atas niat yang kamu sengaja dalam hatimu...” (Surat Al-Baqarah: 225).

Niat dari setiap tindakan harus selalu ditujukan kepada Allah. Meskipun suatu tindakan nampak baik, jika niatnya untuk mencari ridha orang lain, atau untuk mendapatkan manfa’at duniawi lainnya, tindakan itu tidak akan berkenan di mata Allah. 


PERTANYAAN 84

Apa yang dimaksud dengan pernyataan “kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu”?

Ada anggapan yang sangat keliru bahwa dunia ini merupakan satu-satunya kehidupan bagi manusia. Padahal, dunia hanyalah tempat sementara yang diciptakan Allah untuk menguji manusia. Dan kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan setelah kematian. Karenanya, segala sesuatu yang memikat hati manusia dan menyita pikirannya dalam kehidupan dunia yang singkat ini merupakan “kesenangan yang menipu”.

Dalam ayat berikut, Allah mengingatkan manusia akan tipuan ini serta mengingatkan bahwa tempat tinggal sesungguhnya, yang jauh lebih indah, adalah di sisi Allah:

Dijadikan indah pada pandangan manusia karena kecintaan terhadap apa yang diinginkannya, yaitu: wanita, anak, harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah lah tempat kembali yang jauh lebih baik. (Surat Ali ‘Imran: 14)

PERTANYAAN 85

Apa hikmah dari kelemahan yang kita miliki?

Banyak kekurangan fisik yang diderita manusia. Pertama sekali, manusia harus selalu menjaga dan memelihara kebersihan badan dan lingkungannya. Untuk urusan itu, banyak waktu yang tersita. Namun sebesar apapun usaha yang dilakukan, hasilnya hanya berpengaruh untuk sementara waktu saja. Dalam sejam saja, gigi yang kita sikat akan terasa kotor lagi, seolah tak pernah dibersihkan. Seseorang yang mandi di musim panas, dalam beberapa jam saja akan merasa seolah belum mandi.

Penting difahami bahwa kekurangan seperti ini mempunyai tujuan. Kekurangan yang kita miliki bukanlah sifat yang diwariskan, melainkan sifat yang sengaja diciptakan.

Pergeseran usia dan perubahan sifat tubuh yang menyertainya juga merupakan kelemahan yang diciptakan agar manusia menyadari bahwa hidup ini hanya sementara. Dengan demikian, manusia tidak menjadi terikat dengan kehidupan duniawi yang penuh cacat. Kemudian lebih memusatkan tujuannya pada kehidupan akhirat, “tempat tinggal” yang sesungguhnya.

Telah Allah ingatkan dalam Al-Qur’an bahwa tujuan terbaik bagi manusia adalah kehidupan akhirat:

Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Surat Al-An‘am: 32)

PERTANYAAN 86

Apa alasan utama dikisahkannya umat-umat terdahulu di dalam Al-Qur’an?

Allah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Dia telah menunjukkan jalan yang benar kepada semua umat di sepanjang masa. Dia telah mengingatkan pula kepada mereka melalui nabi-nabiNya bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara, dan tempat tinggal sebenarnya adalah kampung akhirat. Meskipun demikian, kita dapat pelajari bahwa kebanyakan dari mereka menolak dan tidak mendengar ajakan nabinya. Oleh karena itu, Allah menjatuhkan hukuman yang keras dari arah yang tidak disangka-sangka, dan menyapu sebagian dari mereka dari muka bumi.

Salah satu alasan penting dikisahkannya umat-umat yang lampau di dalam Al-Qur’an adalah untuk meyakinkan bahwa manusia sekarang tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jika sekedar mempelajari dan menilai saja bencana yang menimpa umat terdahulu serta bekas arkeologinya, tanpa  mengambil hikmah dari kejadiannya, maka itu merupakan tindakan yang sangat keliru. Allah memerintahkan kita untuk menjadikan bencana tersebut sebagai bahan pelajaran:

Dan telah berapa banyak umat-umat yang lebih besar kekuatannya kami binasakan sebelum mereka ini! Mereka telah menjelajahi banyak negeri, namun apakah mereka mendapat tempat untuk berlari? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang-orang yang memiliki hati, atau yang menggunakan pendengaran, sedang ia menyaksikan (buktinya). (Surat Qaf: 36-37)

PERTANYAAN 87

Untuk apa jin diciptakan?

Keberadaan jin banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an. Seperti halnya manusia, jin diciptakan Allah untuk menyembahNya. Mereka hidup dalam dimensi yang berbeda dari manusia. Seperti disebutkan dalam ayat-ayat tertentu, manusia tidak bisa melihat jin, sebaliknya jin dapat melihat manusia.

Ada keyakinan keliru yang telah meluas bahwa jin dapat memberikan informasi mengenai masa depan. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa mereka tidak memiliki kemampuan demikian. Juga disebutkan bahwa mereka pun bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan Al-Qur’an. Allah menegaskan bahwa jin diciptakan untuk tujuan yang sama seperti halnya manusia.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembahKu. (Surat Az- Zariyat: 56)
 

PERTANYAAN 88

Seperti apakah malaikat itu?

Malaikat adalah mahluk yang tak pernah menyalahi perintah Allah dan hidup dalam dimensi yang berbeda dari manusia. Tidak seperti manusia, malaikat diciptakan bukan untuk diuji. Allah menciptakan mereka sebagai mahluk yang tidak pernah berbuat salah. Mereka diberi tugas yang berbeda-beda yang mereka kerjakan dengan saksama. Jibril ditugaskan untuk menyampaikan wahyu-wahyu Allah kepada nabi-nabiNya. Ada malaikat pencatat di kedua sisi manusia yang mencatat segala perbuatan yang mereka lakukan. Ada malaikat yang ditunjuk untuk mencabut nyawa manusia pada waktu kematiannya. Ada malaikat penjaga neraka yang bertugas mengawasi agar penghuni neraka mengalami siksaan yang berat.

Allah menyatakan bahwa para malaikat merupakan abdi-abdiNya:

Al Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, tidak pula para malaikat yang terdekat kepada Allah... (Surat An-Nisa’: 172)

Allah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, Demikian pula bersaksi para malaikat dan orang-orang yang berilmu. Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Ali ‘Imran: 18)
 

PERTANYAAN 89

Bagaimana cara mendefinisikan waktu?

Waktu dapat didefinisikan sebagai metode dimana satu saat dibandingkan dengan saat lainnya. Contoh berikut akan menjelaskannya. Misalnya, jika seseorang mengetuk sebuah benda, ia akan mendengar bunyi tertentu. Jika ia mengetuknya lagi lima menit kemudian, ia akan mendengar bunyi yang lain. Maka ia akan merasa ada selang di antara bunyi pertama dengan bunyi kedua. Selang antara ini disebut sebagai waktu.

Namun pada saat ia mendengar bunyi kedua, bunyi pertama yang didengarnya hanya ada dalam imajinasinya. Ia merumuskan konsep “waktu” dengan membandingkan saat yang sedang ia alami dengan saat yang disimpan dalam ingatannya. Jika perbandingan ini tidak dibuat, maka tidak akan ada konsep waktu.
 

PERTANYAAN 90

Apa arti relativitas waktu?

Seperti disebutkan di atas, istilah waktu difahami melalui perbandingan yang dibuat di antara dua peristiwa. Namun kesimpulan ini dihasilkan dalam otak dan sifatnya relatif. Hal ini biasa dialami dalam mimpi. Meskipun yang kita lihat dalam mimpi rasanya berlangsung berjam-jam, sebenarnya hanya berlangsung beberapa menit, atau bahkan beberapa detik saja.

Banyak ayat Al-Qur’an menyebutkan beragam contoh mengenai hal ini. Beberapa ayat menerangkan bahwa manusia merasakan waktu secara berbeda, dan kadang merasakan waktu yang singkat sebagai waktu yang sangat lama. Ayat berikut merupakan contoh saat Allah menegur orang-orang yang zalim:

Allah bertanya, “Berapa lamakah kamu tinggal di bumi?”. Mereka menjawab: “Kami tinggal sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”. Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu mengetahui yang sesungguhnya!”. (Surat Al-Muminun: 112-114)
 

 

 

Versi online dari buku-buku Harun Yahya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sedang dalam persiapan.
Untuk sementara Anda dapat mengunjungi halaman Download untuk mendownload versi teks atau pdf yang tersedia dari buku-buku tersebut.

© Harun Yahya Internasional 2004.
Hak Cipta Terpelihara. Semua materi dapat disalin, dicetak dan disebarkan dengan mencantumkan sumber situs web ini
info@harunyahya.com