facebook
Mari Bermadzhab, Agar Pemahaman Islam Tidak Tersesat

 

 

Pada sa’at ini semakin banyak orang yang merasa mereka lebih hebat dibandingkan ulama ulama dahulu. Mereka mencoba menebarkan slogan untuk tidak bermadzhab, tetapimengambil hukum dari al-Qur`an dan Sunnah secara langsung. Slogan (semboyan = perkataan) berhukum al-Qur’an dan hadits benar tetapi memiliki tujuan yang salah, dan akan menghasilkan kesalahan yang besar. Adapun diantara dalil-dalil yang diucapkan oleh mereka yang anti madzhab ialah:

 

 

1 – Rasulullah tidak pernah memerintahkan kita untuk bermadzhab, bahkan memerintahkan kita mengikuti sunnahnya.

 

2 – al-Qur`an dan Sunnah sudah cukup menjadi dalil dan hukum sehingga tidak di perlukan lagi Madzhab-madzhab.

 

3 – Madzhab-madzhab itu bid`ah karena tidak ada pada zaman Rasul.

 

4 – Seluruh ulama Madzhab seperti Imam Syafi`i melarang orang-orang mengikuti mereka dalam hukum.

 

5 – Bermadzhab dengan madzhab tertentu berarti telah menolak sunnah Nabi Muhammad SAW.

 

6 – Pada Zaman sekarang sudah semestinya kita berijtihad, karena dihadapan kita telah banyak kitab-kitab hadits, Fiqih, ulumul Hadits dan lain-lain, kesemuanya itu mudah didapati.

 

7 – Para Ulama Madzhab adalah manusia biasa, bukan seorang nabi yang ma’shum dari kesalahan, semestinya kita berpegang kepada yang tidak ma’shum yaitu hadits-hadits Rasulullah.

 

8 – Setiap hadits yang shahih wajib diamalkan, tidak boleh menyalahinya dengan mengikuti pendapat ulama madzhab.

 

Ini sebahagian hujjah-hujjah mereka, kita akan jawab satu persatu insyaAllah.

 

 

 

Masalah pertama

 

1 Rasulullah tidak pernah memerintahkan kita untuk bermadzhab. Dari maknanya, tidak ada perintah untuk bermazhhab secara khusus, akan tetapi, bermazhab diperintahkan secara umum.

 

Perintah umum tersebut terdapat didalam al-Qur`an dan Hadits Rasul , demikian juga disana tidak terdapat larangan untuk bermazhab dari Rasulullah. Dengan demikian tidak boleh kita buang dalil umum yang menyuruh untuk bermadzhab. Bahkan sebagian dalil dan hujjah-hujjah menjurus kepada kekhususan mengikuti ulama-ulama yang telah sampai derajat Ijtihad.

 

Berikut ini saya aka uraikan beberapa dalil tentang bermadzhab:

 

1 – Allah Berfirman :

 

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

 

Artinya : Hendaklah bertanya kepada orang mengetahui jika kamu tidak mengetahui.

 

Penjelasan ayat : ayat ini memerintahkan orang-orang awam yang tidak mengetahui sesuatu, atau belum mencapai derajat mujtahid untuk bertanya kepada orang alim atau orang yang telah sampai derajat Mujtahid. Hal ini bermakna orang yang tidak sampai derajat mujtahid diharuskan mengikuti mazhab-madzhab yang di i’tiraf (diakui) oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah Wal Jama`ah.

 

Siapa yang merasa tidak memiliki ilmu maka dia wajib bertaqlid kepada ulama, sebab Allah tidak mengatakan , jikalau kau tidak mengetahui maka hendaklah lihat didalam al-Qur`an dan Hadits. Karena al-Qur`an dan al-Hadits memiliki pemahaman yang hanya ulama yang mujtahid saja yang memahaminya. Karena itulah Allah memerintahkan untuk bertanya kepada Ulama mujtahid akan arti dan pemahaman dari al-Qur`an dan al-Hadits.

 

2 – Rasulullah SAW bersabda :

 

عن عبد الله بن عمرو بن العاصي قال ” سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالم اتخذ الناس رؤسا جهالا، فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا. ( رواه البخاري و مسلم والترمذي وابن ماجه ولا أحمد والدارمي ).

 

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan menariknya dari hati hamba-hambanya ( ulama ) akan tetapi mengambil ilmu dengan mencabut nyawa ulama, sehingga apabila tidak terdapat ulama, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh ( menjadi pegangan mereka ), mereka bertanya hukum kepadanya, kemudian orang-orang bodoh itu berfatwa menjawab pertanyakkan mereka, jadilah mereka sesat dan menyesatkan pula. ( H.R Bukhari, Muslim , Tirmidzi , Ibnu Majah. Ahmad, ad-Darimi).

 

Penjelasan hadits : Hadits ini menunjukkkan kepada kita semakin sedikitnya ulama pada masa sekarang. Siapa yang mengatakan semangkin banyak maka dia telah menyalahi hadits Nabi yang shahih dan kenyataan yang ada. Sebab Allah mencabut nyawa ulama, dan tidak ada pengganti yang dapat menandingi keilmuannnya. Siapa yang dapat menandingi keilmuan Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi`I, Imam Ahmad pada zaman sekarang?Tidak ada yang mampu. Mereka telah wafat dan meninggalkan warisan yang sangat besar , yaitu ilmu dan madzhab-mazhab mereka.

 

Jadi orang -orang awam yang mengambil warisan ilmu-ilmu mereka seolah-olah seperti bertanya lansung kepada Imam yang empat. Dengan begitu, jauhlah mereka dari kesesatan dan menyesatkan orang. Tetapi orang bodoh yang tidak mau bermadzhab akan menanyakan permasalahannya kepada orang yang berlagak alim dan mujtahid tetapi bodoh, tolol dan sok tahu, maka dia berfatwa menurut hawa nafsunya dan perutnya dalam memahami hadits dan lainnya. Orang ini sangat membahayakan dan menyesatkan umat Islam.Mereka tidak menyadari kesesatan mereka dan berusaha untuk menyebarkan pemahaman mereka, inilah ciri-ciri kebodohannya.

 

Dari hadits ini kita perlu bertanya, mengapa Rasul mengatakan,”mereka bertanya kepada orang-orang bodoh”. Penyebab mereka mengambil ilmu kepada orang yang bodoh ialah karena orang alim sudah tiada lagi. Padahal kitab-kitab hadits semangkin banyak dicetak, kitab-kitab ilmu semangkin menyebar di kalangan masyarakat. Penulis melihat ada beberapa sebab :

 

1 – Pentingnya ulama madzhab dalam menuntun pemahaman yang ada dari al-Qur`an dan al-Hadits, sehingga apabila ulama meninggal dunia, tiada lagi orang yang mampu mengajarkan pemahaman yang sebenarnya dari al-Qur`an dan al-Hadits.

 

2 –Orang-orang yang sesat menolak untuk mengikuti madzhab-madzhab yang telah tertulis dan dibukukan, sehingga mereka lebih memilih orang yang berlagak lebih tahu dalam memahami al-Qur`an dan al-Hadits dibandingkan ulama-ulama terdahulu.

 

3 – Orang yang paling bodoh ialah yang tidak mengetahui bahwa dia bodoh, sehingga dia berfatwa walaupun dalam keadaan bodoh, tidak ingin melihat kembali apa kata ulama-ulama madzhab di dalam kitab mereka.

 

4 – Salah satu tanda hari kiamat adalah madzhab bodoh lebih berkembang dan menyesatkan orang yang bermadzhabkan empat madzhab.

 

5 – Dari hadits diatas juga kita fahami bahwa pada zamansekarang sangat sulit kita dapati ulama yang kedudukannya sampai kepada ulama mujtahid. Apabila kita menyalahi hal ini, kemungkinan kita telah mengingkari hadits Rasul yang menceritakan tentang ilmu akan dicabut dari permukaan bumi ini dengan wafatnya ulama. Pada abad pertama hijriyah, puluhan , bahkan ratusan orang sampai kepada derajat al-Hafizh dan mujtahid, demikian juga pada abad kedua, ketiga, dan keempat. Tetapi setelah itu, ulama-ulama semakin berkurang, apalagi pada zaman kita sekarang. Jadi apa yang dikatakan Rasul telah terjadi pada masa kini.

 

Kita dapat melihat, betapa banyak orang yang mengaku alim dan berfatwa, padahal dia tidak memiliki standar dalam berfatwa. Orang-orang ini bermuka tebal, seperti tembok China.

 

3 – Rasulullah bersabda :

 

لا تسبوا قريشا فإن عالمها يملأ الأرض علما

 

Artinya : Janganlah kamu menghina orang-orang Quraisy, karena seorang ulama dari kalangan bangsa Quraisy, ilmunya akan memenuhi penjuru bumi ini .

 

( H,R Baihaqi didalam al-Manaqib Syafi`i, Abu Naim didalam al-Hilyah, Musnad Abu Daud ath-Thayalisi ).

 

Para ulama menta’wilkan maksud hadits tersebut kepada Imam Syafi`i al-Quraisyi yang telah menebarkan ilmu dan madzhabnya dibumi ini. Diantara ulama yang mengungkapkan hal itu ialah Imam Ahmad Bin Hanbal, Imam Abu Nuaim al-Ashbahani, Imam Baihaqi.

 

Dan maksud ilmu pada hadits tersebut adalah madzhab dan pemahamannya terhadap al-Quran dan sunnah, sebab pemahaman terhadap al-Qur`an dan sunnah itulah yang disebut ilmu. Ilmu itu adalah madzhab jika ilmu tersebut diikuti orang lain. Dengan demikian, madzhab adalah salah satu pemahaman al-Qur`an dan hadits yang diikuti oleh orang lain.

 

 

 

Masalah kedua

 

2 – Pendapat Saudara yang mengatakan bahwa Al-Qur`an dan Sunnah sudah cukup menjadi sumber hukum adalah ungkapan seorang Mujtahid, yang telah memenuhi syarat-syarat berijtihad. Jika Saudara berkata demikian juga, berarti Saudara sudah menjadi mujtahid, dan sudah memiliki syarat-syarat ijtihad. Akan tetapi jika Akan tetapi jika tidak, maka saya sarankanagar Saudara mundur kebelakang, atau membeli cermin ( kaca ) agar dapat bercermin siapa diri anda, dan sampai mana keilmuan anda. Apabila cermin juga tidak mampu menunjukkan hakikat diri anda sendiri dalam keilmuan, maka hendaklah bercermin dengan ulama-ulama ahlus sunnah wal jama`ah, karena cermin yang ada dirumah harganya murah atau sudah pecah. jika tidak tergambar juga hakikat diri anda dihadapan orang lain, maka syaithan telah memperdayakan anda. Ingatlah, menjadi mujtahid itu amat berat, dan memiliki syarat-syarat yang sulit.

 

Rasul bersabda :

 

رحم الله امرءا عرف قدره

 

Artinya : Allah menyayangi seseorang yang mengetahui batas kemampuannya.

 

Kalau anda sadar akan batas keilmuan dan kemampuan anda, tentu anda akan mengikuti madzhab yang empat. Tetapi sayang, anda tidak melihat kelemahan dan kebodohan anda sendiri.

 

Perlu anda ketahui jika anda belum sampai kepada tahap Mujtahid, jika ingin mengambil langsung dari al-Qur`an dan Sunnah, apakah anda telah mengahapal al-Qur`an keseluruhannya? Atau paling sedikit ayat-ayat Ahkam, dan telah mengetahui maksud ayat-ayat tersebut, sebab-sebab turunnya ayat, apakah ayat tersebut tergolong Nasikh atau Mansukh, apakah ayat tersebut Muqayyad atau Muthalaq, atau ayat itu Mujmal atau Mubayyan, atau ayat tersebut `Am atau Khusus, kedudukan setiap kalimat didalam ayat dari segi Nahwu dan `Irabnya, Balaghahnya, bayannya, dari segi penggunanaan kalimat Arab secara `Uruf dan hakikatnya, atau majaznya, kemudian adakah terdapat didalam hadits yang mengkhususkan ayat tersebut, ini masih sebagian yang perlu anda ketahui dari al-Qur`an.

 

Sementara dalam Hadits, anda mesti menghapal seluruh hadits-hadits Ahkam, kemudian mengetahui sebab-sebab terjadinya hadits tersebut, mana yang mansukh dan mana yang Nasikh, mana yang Muqayyad dan mana yang Muthlaq, mana yang mujmal dan mubayyan, mana yang `Am dan Khas, dan mesti mengetahui bahasa arab dengan sedalam-dalamnya, agar tidak menyalahi Qaidah-Qaidah dalam bahasa. Hal ini meliputi Nahwu, Balaghah, bayan, ilmu usul Lughah.

 

Anda juga mesti mengetahui fatwa-fatwa ulama yang terdahulu, sehingga tidak mengeluarkan hukum yang menyalahi ijma` ulama, dan mengetahui shahih atau tidaknya hadits yang akan digunakan. Hal ini meliputi pengetahuan tentang sanad, Jarah dan Ta`dil, Tarikh islami dan ilmu musthalah hadits secara umum dan mendalam, sebab tidak semua hadits shahih dapat dijadikan hujjah secara langsung, karena mungkin saja telah dimansukhkan, atau hadits tersebut umum dan adalagi hadits yang khusus, maka mesti mendahulukan yang khusus. Hal ini akan saya jelaskan insya Allah dalam pembahasan yang khusus.

 

Pertanyaannya adalah, sudahkan anda memiliki syarat yang telah kami sebutkankan, kalau sudah silahkan anda berijtihad sendiri, kalau belum jangan mempermalukan diri sendiri. Kebodohan yang paling bodoh adalah tidak mengakui diri bodoh, sehingga tidak mau belajar dari kebodohannya.

 

 

 

Masalah ketiga

 

3 – Pendapat anda yang mengatakan bermadzhab itu suatu yang bid’ah karena tidak terdapat pada zaman Rasul. Penulis mengira anda belum memahami kata-kata Bid`ah dengan sebenarnya. Tetapi, masalah ini insyaAllah akan kami akan buatkan sebuah pembhasan khusus.

 

Madzhab memang tidak ada pada zaman Nabi, karena para sahabat berada bersama nabi. Apabila ada permasalahan, maka mereka akan bertanya langsung kepada Rasulullah SAW. Akan tetapi setelah Rasulullah meninggal dunia, mulailah muncul madzhab-madzah di kalangan sahabat. Dan yang terkenal di antaraanya adalah madzhab Abu Bakar, madzhab Umar, Utsman, Ali, Abdullah Bin Umar, Sayyidah `Aiysah, Abu Hurairah, Abdullah Bin Mas`ud, dll.

 

Demikian juga pada masa Tabi`in. Madzhab-madzhab telah bermunculan ketika itu, seperti madzhab Az-Zuhri, Hasan al-Bashri, Salim Bin Abdallah, Urwah Bin Zubair, dll.Imam Abu Hanifah juga tergolong Tabi`in yang memiliki Madzhab yang diikuti, begitu pula Imam Malik. maka jelaslah bahwa mengikuti madzhab yang ada dan diakui oleh ulama bukan hal yang bid`ah, jikalau hal tersebut bid`ah, niscaya para sahabat termasuk ahli bid`ah.

 

 

 

 

Masalah keempat

 

4 – Larangan ulama Madzhab kepada murid-muridnya agar jangan mengikuti mereka adalah hal yang tidak benar, sebab seluruh perkataan ulama Madzhab telah dirubah pemahamannya oleh orang tertentu. mari kita lihat sebagian kata-kata Imam Syafi`i` dan kisah Imam Malik.

 

A – Kisah Imam Malik berserta Khalifah Abu Ja`far al-Manshuri.

 

Ibnu Abdul Barr meriwayatkan dengan sanadnya kepada al-Waqidi, beliau berkata : Aku mendengar Malik Bin Anas berkata : ” ketika Abu Ja`far al-Manshur melaksanakan hajji, beliau memanggilku, maka aku bertemu dan bercerita dengannya, beliau bertanya kepadaku dan aku menjawabnya, kemudian Abu Ja`far berkata : ” Aku bermaksud untuk menulis kembali kitab yang telah kamu karang yaitu Muwaththa`, kemudian aku akan kirim keseluruh penjuru negeri islam, dan aku suruh mereka mengamalkan apa yang terkandung didalamnya, dan tidak mengamalkan yang lainnya. Dan meninggalkan semua ilmu-ilmu yang baru selain ” Muwaththa`, karena Aku melihat sumber ilmu adalah riwayat ahli Madinah dan ilmu mereka. Dan aku pun berkata:“Wahai Amirul Mukminin, Janganlah kamu buat seperti itu, karena orang-orang sudah memiliki pendapat sendiri, dan telah mendengarkan hadits Rasul, dan mereka telah meriwayatkan hadits-hadits yang ada, dan setiap kaum telah mengambil dan mengamalkan apa telah diamalkan pendahulunya, dari perbedaan pendapat para shahabat dan selain mereka, jika menolak apa yang mereka percayakan itu sangat berbahaya, biarlah mereka mengamalkan apa yang telah mereka amalkan dan mereka pilih untuk mereka”, berkata Abu J`afar: “Kalaulah engkau suruh aku untuk membuat seperti itu niscaya aku akan laksanakan.”

 

Dalam riwayat yang lain Imam Malik berkata : Wahai Amirul Mukminin Sesungguhnya para sahabat Rasulullah SAW telah berpencar diberbagai negeri, orang-orang telah mengikuti madzhab mereka, maka setiap golongan berpendapat mengikuti madzhab orang yang diikuti.( al-Intiqa : 41 , Imam Darul Hijrah Malik Bin Anas : 78 ).

 

Lihat bagaimana Imam Malik menjawab permintaan Khalifah Abu Ja`far. Beliau tidak melarang orang-orang untuk bertaqlid pada Madzhab yang mereka akui. Sebab pada masa itu madzhab fiqih sangat berkembang sekali. Seperti di Iraq madzhab Imam Abu Hanifah, Di Syam berkembang Madzhab Imam Auza`i, di Mesir berkembang madzhab Imam Laits Ibnu Sa`ad, dan masih banyak lagi madzhab-madzhab yang berkembang saat itu. Bahkan beliau menyarankan kepada Khalifah agar mereka dibenarkan untuk mengikuti madzhabnya masing-masing.

 

B – Perkataan Imam Syafi`i :

 

المزني ناصر مذهبي

 

Artinya : Al-Muzani itu adalah penolong ( dalam menyebarkan ) madzhabku

 

( Lihat Siyar `Alam an-nubala` li adz-Dzahabi : 12/493, Thabqatu Syafi`iyah al-Kubra Li as-Subki : 1/323, terbitan Dar kutub ilmiyah ).

 

Dari perkataan Imam Syafi`i diatas sangat jelas sekali bahwa beliau tidak melarang seorangpun untuk mengikuti madzhabnya, bahkan beliau mengatakan kepada murid-muridnya bahwa al-Muzani adalah seorang penolong dan penyebar madzhab Syafi`i. Apabila beliau melarang untuk mengikuti madzhabnya tentu beliau tidak mengatakan perkataan tersebut.

 

Diriwayatkan Imam al-Khatib didalam karangannya ” al-Faqih wa al-Mutafaqih ( 2 / 15 -19 ) ” cerita yang sangat panjang sekali tentang Imam al-Muzani seorang pewaris ilmu Imam Syafi`i, didalam akhirnya beliau mengungkapkan perkataan al-Muzani : ” Lihatlah apa yang kau tulis dari apa yanh ku ajarkan, tuntutlah ilmu dari seorang yang Faqih, maka kamu akan menjadi Faqih “.

 

Dari perkataan Imam al-Muzani yang memerintahkan muridnya untuk melihat apa yang beliau sampaikan, beliau tidak memerintahkan mereka untuk melihat kepada Hadits, karena hadits tidak boleh difahami dengan sebenarnya hukum yang terdapat didalamnya kecuali oleh seorang yang Faqih. Dan memerintahkan mereka untuk menuntut ilmu kepada seorang yang Faqih bukan hanya untuk mengetahui hadits semata, sebab puncak ilmu hadits adalah Fiqih. Apabila bermadzhab itu dilarang, tentu Imam al-Muzani akan melarang muridnya untuk mengikuti apa yang beliau ajarkan, melainkan memerintahkan mereka mengambil hukum secara langsung dari al-Qur`an.

 

 

 

 

Masalah kelima

 

5 – Pendapat yang mengatakan bahwa bermadzhab dengan madzhab tertentu berarti menolak Sunnah Rasulullah adalah pendapat yang tidak benar dan tidak berasas. Sebab seluruh ulama Mujtahid sangat berpegang teguh dalam mengamalkan sunnah Nabi SAW, mereka telah menjadikan al-Hadits sebagai sumber kedua setelah al-Qur`an, dan kedudukan al-Hadits sangat tinggi dalam pandangan mereka.

 

Sebagian orang salah memahami perkataan Imam-imam Mujtahid seperti Imam Syafi`i dalam perkataanbeliau :

 

إذا وجدتم حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم على خلاف قولي فخذوا به ودعوا ما قلت

 

Artinya : Apabila kamu dapati perkataanku menyalahi perkataan Rasulullah SAW maka tinggalkanlah perkataanku dan ambillah Hadits Rasul..

 

Perlu kita ketahui pemahaman yang mengatakan bahwa Imam Syafi`i melarang mengikuti pendapatnya adalah pemahaman yang salah, karena ungkapan Imam Syafi`i tersebut memiliki pemahaman sebagai berikut .

 

A – Kamu boleh mengikuti pendapatku selama pendapatku tidak bertentangan dengan Hadits Rasulullah.

 

B – Perkataan ini menunjukkan betapa besarnya kedudukkan Hadits Nabi SAW dalam pandangan Imam Syafi`i.

 

C – Karena begitu besarnya kedudukan Hadits di hadapan Imam Syafi`i sehingga beliau menjadikan al-Hadits adalah sumber kedua didalam madzhabnya. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak akan mungkin mendahulukan pendapatnya dari pada Hadits Rasul, kecuali apabila hadits tersebut tidak dianggap shahih dan memiliki beberapa sebab sehingga tidak boleh mengamalkannya, sebab tidak seluruh Hadits shahih boleh diamalkan.

 

D – Imam Syafi` hanya berpegang dengan hadits yang shahih menurut pandangannya,bukan hadits mansukh, atau hadits yang memiliki permasalahan dan `illat, karena beliau adalah seorang ahli hadits yang masyhur.

 

 

 

 

Masalah keenam

 

6 – Adapun ungkapan saudara yang mengatakan pada zaman sekarang ini sebenarnya semakin mudah untuk menjadi mujtahid karena banyaknya buku yang dicetak, berbeda dengan zaman dahulu, adalah ini tidak benar, bahkan menyalahi kenyataan yang ada. Coba kita lihat penyebab mengapa pada zaman ini sukar untuk menjumpai seorang mujtahid.

 

A – Tidak keseluruhan kitab telah dicetak dan disajikan kepada kita. Terbukti masih banyak lagi kitab ulama-ulama muslim yang tersebar dalam bentuk Makhthuthath ( Munuskrip ) di negeri Erofah, Mesir, Turki, Saudi Arabiyah, Pakistan, Hindia dan lain-lain.

 

B – Banyaknya kitab-kitab hadits yang hilang dan tidak ditemui pada saat sekarang ini disebabkan berbagai kejadian, seperti pembakaran kitab-kitab pada masa Monggolia menyerang Baghdad dan membakar seluruh kitab-kitab Islam, penghancuran Negeri Islam di Andalusia, dan lain-lain. Maka bisa saja hal ini boleh kita ketahui jika kita mentakhrij hadits, dan ingin melihat dari sumber aslinya, tetapi tidak diketemukan.

 

C – Pada zaman sekarang orang belajar ilmu menurut bidangnya masing-masing. Pelajar yang di Kuliah Syari`ah tidak mempelajari ilmu musthalah hadits secara mendalam, pelajar yang Kuliah Usuluddin tidak mempelajari Usul Fiqih dan Fiqih secara mendalam, pelajar Lughah bahkan sangat sedikit sekali mempelajari bidang ilmu fiqih dan hadits, dari cara belajar seperti ini bagaimana akan menjadi mujtahid?

 

D – Tidak adanya (langka) pada zaman sekarang orang dapat digelar al-Hafizh. Ini membuktikan betapa buruknya prestasi kita dalam bidang hadits dibandingkan dengan zaman-zaman sebelum kita. Bagaimana mau menjadi mujtahid hadits pun tidak hapal? Kalaulah dalam ilmu hadits saja kita belum mampu menjadi al-Hafizh bagaimana pula ingin menjadi al-Mujtahid?

 

e – Tetapi yang sangat lucunya yang ingin jadi mujtahid itu sekarang terdiri dari pelajar-pelajar kedoktoran,insinyur, mekanik, yang bukan belajar khusus tentang agama. Kalau pelajar agama saja tidak sampai kepada mujtahid bagaimana lagi dengan pelajar yang bukan khusus mempelajari agama? Kalau pun jadi mujtahid pasti mujtahid gadungan ( penipuan ).

 

Cobalah renungkan cerita Ibnu Taimiyah di dalam kitabnya al-Muswaddah : 516, dan diungkapkan oleh muridnya Ibnu Qayyim. Dari Imam Ahmad, ada seorang lelaki bertanya kepada Imam Ahmad: “Apabila seseorang telah menghapal hadits sebanyak seratus ribu hadits, apakah dia sudah dikira (dianggap) Faqih?” Imam Ahmad menjawab: “Tidak dikira (dianggap) Faqih,” berkata lelaki tersebut : ” jika dia hapal dua ratus ribu hadits ? “, Imam Ahmad menjawab : ” tidak disebut Faqih “, berkata lelaki tersebut : ” jika dia telah menghapal tiga ribu hadits ?”, Imam Ahmad menjawab : ” tidak juga dikira Faqih”, berkata lelaki tersebut : ” Jika dia telah menghapal empat ratus ribu hadits?” Imam Ahmad menjawab secara isyarat dengan tangannya dan mengerakkannya, maksudnya, mungkin juga disebut Faqih berfatwa kepada orang dengan ijtihadnya.

 

Cobalah renungkan dimana kedudukan kita dari Faqih dan al-Mujtahid, agar tahu kelemahan kita dan kebodohan kita.

 

E – Memang ada kitab-kitab yang dapat membantu kita agar dapat berijtihad. Tetapi yang jadi permasalahannya, apakah kita mampu benar-benar memahami apa yang kita baca? Apakah yang kita fahami sesuai dengan pemahaman ulama-ulama pada masa salafussalihin? Sebab membaca hadits dengan sendirian tanpa bimbingan seorang guru akan membawa kepada kesesatan, sebagaimana pesan ulama-ulama agar mengambil ilmu dari mulutnya ulama yang ahli.

 

خذوا العلم من أفواه العلماء

 

Artinya : Ambillah ilmu itu dari mulutnya para ulama.

 

Berkata Imam Ibnu Wahab seorang murid Imam Malik yang alim dalam ilmu Hadits:

 

الحديث مضلة إلا للعلماء

 

Artinya : al-Hadits dapat menyesatkan seseorang ( yang membacanya ) kecuali bagi para ulama

 

Berkata Imam Sufyan Bin Uyainah ( seorang ulama besar yang ahli dalam fiqih dan hadits guru Imam Syafi`i ) :

 

الحديث مَضِلّة إلا للفقهاء

 

Artinya : al-Hadits itu dapat menyesatkan seseorang kecuali bagi ulama yang faqih. ( al-Jami` li Ibni Abi Zaid al-Qairuwani : 118 )

 

 

 

 

Masalah ketujuh

 

7 – Apa yang saudara ungkapkan bahwa ulama mujtahid adalah manusia biasa yang mungkin saja salah dalam perbutan atau pemahaman adalah benar, tetapi sangat salah sekali jika saudara menyangka bahwa mereka yang berijtihad tidak boleh diikuti karena mereka manusia biasa. Yang sangat jelasnya, mereka bukan nabi, dan juga bukan bertarap seperti anda,tidak ada seorang ulama yang hidup sekarang ini yang mampu menandingi ilmunya Imam Abu Hanifah, Imam Malik Bin Anas, Imam Syafi`i, Imam Ahmad.

 

Berkata Imam adz-Dzahabi mengungkapkan didalam kitabnya at-Tadzkirah : 627-628 ,diakhir ceritanya dari generasi muhaddits yang kesembilan diantara tahun 258 H – 282 H, beliau berkata : “Wahai syeikh lemah lembutlah pada dirimu, senantiasalah bersikap adil, janganlah memandang mereka dengan penghinaan, jangan kamu menyangka muhaddits pada masa mereka itu sama dengan muhaddits pada masa kita ( maksudnya dari masa 673 H – 748 H ), sama sekali tidak sama. Tidak ada seorang pun pembesar Muhaddits pada masa kita yang sampai kedudukkannya seperti mereka didalam keilmuan.”

 

Dari ungkapan Imam adz-Dzahabi diatas memberikan pengertian bahwa ilmu kita memang tidak setarap dengan para ulama-ulama mujtahid pada zaman dahulu. Jadi jikalau mereka berijihad ternyata salah di dalam ijtihadnya, maka mereka akan mendapat satu pahala dan tidak mendapat dosa. Bagaimana dengan anda yang tidak sampai kepada derajat ijtihad kemudian berijtihad menurut kemampuan anda? Maka kesalahan anda akan lebih banyak dibandingkan dengan ulama-ulama mujtahid yang terdahulu.

 

Dengan begitu seseorang yang memang sudah sampai kepada derajat mujtahid, apabila benar ijtihadnya maka akan mendapatkan dua pahala. Jika salah dalam berijtihad maka mendapat satu pahala saja. Tetapi jika anda yang belum sampai kepada tahap mujtahid berijtihad dan tersalah dalam ijtihadnya, maka anda akan mendapatkan dosa, karena berijtihad dengan kebodohan.

 

 

 

 

Masalah kedelapan

 

8 – Adapun ungkapan anda tentang hadits yang Shahih wajib diamalkan secara langsung adalah salah satu kesalahan. Sebab tidak semua hadits yang shahih dapat diamalkan secara lansung, karena mungkin saja hadits tersebut memiliki `illat yang sangat samar sekali. Kemungkinan hadits shahih tersebut dimansukhkan, atau haditsnya muthlaq kemudian dimuqayyadkan dan lain-lain. Penulis ( insyaallah ) akan membahas permasalahan ini secara khusus .

 

Pada zaman sekarang ini telah banyak kita lihat golongan yang anti dan berusaha untuk menyerang dan membasmi madzhab-mahzhab yang masyhur. Dengan alasan (jargon) kita mesti berpegang teguh dengan al-Qur`an dan sunnah bukan berpegang teguh dengan madzhab. Tidak pernah kita dapati di dalam al-Qur`an atau di dalam hadits Rasulullah untuk menyuruh kita bermadzhab. Bahkan para pendiri madzhab sendiri pun melarang mengikuti jejak mereka, demikian kata mereka.

 

Hal ini sangat aneh sekali, mereka mati-matian mengajak orang agar meninggalkan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi`i, dan Ahmad, tetapi mereka juga sengaja menarik orang untuk mengikuti pemikiran dan pendapat-pendapat Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul Wahab. Apakah mereka tidak tahu bahawa mengikuti pendapat Ibnu Taimiyah juga disebut mengikuti madzhab? Atau mungkin mereka terlupa, juga mungkin karena ta’asub yang berlebih-lebihan terhadap Ibnu Taimiyah? Atau juga mungkin hasad dan dengki dengan pendiri para Madzhab? Kalau tidak sebab-sebab itu niscaya mereka tidak akan keberatan terhadap seseorang yang bermadzhab Hanafi, Maliki, atau Syafi`i.

 

Kenyataan ini telah kita lihat sendiri, jikalau kita kata Ibnu Taimiyah saja yang berpegang teguh dengan al-Qur`an dan Sunnah, maka maknanya madzhab-madzhab yang lain tidak benar. Sebab menurut pandangan mereka ( orang yang tidak bermazhab atau golongan Wahabi ) bahwa Taimiayah yang benar. Disini mereka terlupa bahwa Ibnu Taimiyah seorang manusia bukan seorang nabi yang tidak berdosa. Wajarkah kita larang seseorang bermadzhab, sementara kita sendiri mengikuti madzhab seseorang? Jikalau kita sebutkan seperti ini maka mereka tidak akan mengaku dengan sebenarnya. Bahkan mencoba untuk memutar balikkan Fakta, dengan ucapan kita mesti berpegang teguh dengan al-Qur`an dan Sunnah.

 

Tetapi yang menjadi pertanyaan dibenak hati saya adalah apakah pendiri-pendiri Mazhab tidak mengikuti al-Qur`an dan al-Sunnah? Tentu mereka menjawab ” Sudah tentu para pendiri madzhab mengikut al-Qur`an dan as-Sunnah tetapi mereka manusia yang mungkin memiliki kesalahan”Jadi menurut mereka ( para anti mazhab ) karena adanya kesalahan pada ulama mujtahid maka mereka sendiri mengambil al-Qur`an dan Sunnah secara langsung. Ini akan membuktikan mereka tidak akan tersalah dalam menentukkan hukum dalam berijtihad? Jikalau sekiranya mereka sadar diri dengan kemampuan meraka niscaya mereka akan berpegang teguh dengan mana-mana mazhab yang empat.

 

Pada kesempatan ini saya hanya mencoba untuk memaparkan beberapa dalil yang menjadi pegangan masyarakat awam dalam mengikuti madzhab yang empat, beserta makna dan tujuan ” Madzhab ” dan bila timbulnya madzhab. Dalam kesempatan lain insyaallah saya akan ketengahkan segala dalil-dali yang membatalkan anggapan-anggapan bahwa mengikuti mazhab adalah bid`ah.

 

 

 

Pengertian Madzhab

Kalimat Madzhab berasal dari bahasa Arab yang bersumberkan dari kalimat Dzahaba, kemudian diobah kepada isim maf`ul yang berarti, Sesuatu yang dipegang dan diikuti.Dalam makna lain mana-mana pendapat yang dipegang dan diikuti disebut madzhab. Dengan begitu madzhab adalah suatu pegangan bagi seseorang dalam berbagai masalah, mungkin lebih kita kenal lagi dengan sebutan aliran kepercayaan atau sekte, bukan hanya dari permasalahan Fiqih tetapi juga mencakup permasalahan `Aqidah, Tashawuf, Nahu, Shorof, dan lain-lain. Di dalam Fiqih kita dapati berbagai macam madzhab, seperti madzhab Hanafi, Maliki, dan Syafi`i. Di dalam ‘Aqidah kita dapati madzhab `Asya`irah, Maturidiyah, Muktazilah, Syi`ah. Di dalam Tashawuf kita dapati madzhab Hasan al-Bashri, Rabi`atu adawiyah, Ghazaliyah,Naqsabandiyah, Tijaniyah, dll. Di dalam Nahu kita dapati madzhab al-Kufiyah dan madzhab al-Bashriyah.

 

Tumbuhnya Madzhab Fiqih

 

Pada zaman Rasulullah SAW ”madzhab” belum dikenal dan digunakan karena pada zaman itu Rasul masih berada bersama sahabat. Jadi jika mereka mendapatkan permasalahan maka Rasul akan menjawab dengan wahyu yang diturunkan kepadanya. Tetapi setelah Rasulullah meninggal dunia, para shahabat telah tersebar diseluruh penjuru negeri Islam, sementara itu umat Islam dihadirkan dengan berbagai permasalahan yang menuntut para shahabat berfatwa untuk menggantikan kedudukan Rasul.

 

Tetapi tidak seluruh shahabat mampu berfatwa dan berijtihad, sebab itulah terkenal di kalangan para sahabat yang berfatwa di tengah sahabat-sahabat Rasul lainnya.Sehingga terciptanya Mazhab Abu bakar, Umar, Utsman, Ali, Sayyidah `Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah Bin Umar, Abdullah Bin Mas`ud dan yang lainnya. Kenapa shahabat-sahabat yang lain hanya mengikuti sahabat yang telah sampai derajat mujtahid, karena tidak semua sahabat mendengar hadits Rasul dengan jumlah yang banyak, dan derajat kefaqihan mereka yang berbeda-beda. Sementara Allah telah menyuruh mereka untuk bertanya kepada orang yang `Alim diantara mereka.

 

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

 

Artinya : Hendaklah kamu bertanya kepada orang yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui.

 

Pada zaman Tabi`in timbul pula berbagai macam madzab yang lebih dikenal dengan madzhab Fuqaha Sab`ah ( Madzhab tujuh tokoh Fiqih) di kota Madinah, setalah itu bermunculanlah madzhab yang lainnya di negeri islam, seperti madzhab Ibrahin an-Nakha`i, asy-Syu`bi, dan masih banyak lagi. Sehingga timbulnya madzhab yang masyhur dan diikuti sampai sekarang yaitu Madzhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi`iyah, Hanabilah, madzhab ini dibenarkan oleh ulama-ulama untuk diikuti karena beberapa sebab :

 

1 – Madzhab ini disebarkan turun-temurun dengan secara mutawatir.

 

2 – Madzhab ini di turunkan dengan sanad yang Shahih dan dapat dipegang .

 

3 – Madzhab ini telah dibukukan sehingga aman dari penipuan dan perobahan .

 

4 – Madzhab ini berdasarkan al-Qur`an dan al-Hadits, selainnya para empat madzhab berbeda pendapat dalam menentukan dasar-dasar sumber dan pegangan .

 

5 – Ijma`nya ulama Ahlus Sunnah dalam mengamalkan empat madzhab tersebut.

Danz Putra
afwan kang udah ane delet
ane anggap komen ane diawal sebagai penyebab diskusi menjadi tidak nyaman
afwan
12 Juni
12 Juni
Dhimas W Asyifa
Gio David Widiesha
bukan'a para imam mazhab sendiri yg blg jgn taklid pada mereka
tinggalkan pendapat mereka bila menyelisihi dalil shohih
pintu taklid membuka perselisihan saja
allohualam
==============================
Seorang yang mengikut pendapat Imam asy-Syafi’i jika menemukan sebuah hadits shahih yang menyelisihi atas apa yang telah difatwakan oleh imam asy-Syafi’i yang didasari atas pengetahuannya bahwasanya hadits tersebut bukan mansukh (dinasakh) atau tidak bertentangan dengan hadits yang lebih Raji, maka bagi sang muqallid harus mengamalkan hadits tersebut (dan meninggalakn apa yang telah difatwakan oleh imam as-Syafi’i-red). Dan apa yang diamalkan tersebut akan menjadi madzhabnya (ajarannya-red) imam asy-Syafi’i, dengan syarat sang muqallid tersebut haruslah orang yang:
Memang memiliki kemampuan dalam meneliti tentang keshahihan suatu hadits dan ketidak shahihannya.
Mampu memahami pengertian yang dikandung hadits dan perbuatan yang dimaksudkannya.
Mampu menguraikan bab tersebut dengan didukung oleh dalil-dalil yang lain.
Mengetahui syarat-syarat dalam masalah Tarjih.
Mengetahui pendapat imam asy-Syafi’i dalam masalah tersebut dan mengatahui apa yang yang dimaksudkan oleh beliau.
Mengetahui bahwasanya imam asy-Syafi’i belum pernah menelaah hadits yang ditemukannya tersebut dan meninggalkannya karena adanya pertentangan dengan dalil-dalil yang lain.

lebih lengkapnya saya copaskan dari Kang As'ad
http://www.facebook.com/notes/kang-asad/jika-seorang-muqallid-menemukan-hadits-shahih-yang-menyelisihi-pendapat-imam-mad/194490297237722
12 Juni  1
Dhimas W Asyifa
إذا وجد المقلد حديثا مخالفا لرأي إمامه فهل يعمل به [ إجابة الحافظ العراقي[

سئل الحافظ أبو زرعة ابن العراقي كما في " الأجوبة المرضية عن الأسئلة المكية " (ص:65) عن:


المقلد إذا وجد حديثاً صحيحاً على خلاف ماأفتى به إمامه في الفروع ، يجوز له العمل بالحديث حينئذ أم لا ؟ مع علمه بأن ذلك الحديث غير منسوخ ولامقيّد ؟


الجواب : إن الشافعي رحمه الله تعالى صح عنه أن قال : مامن أحد إلا وتذهب عليه سنة لرسول الله صلى الله عليه وسلم وتعزب عنه ، فمهما قلتُ من قول أو أصّلت من أصل فيه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم خلاف ماقلتُ ، فالقول ماقال رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو قولي ، وفي لفظ آخر : إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ماقلت ، فالمقلد للشافعي إذا وجد حديثاً صحيحاً على خلاف ماأفتى به الشافعي مع علمه بأنه ليس منسوخاً ولامعارضاً بما هو أرجح منه عمل به ، وهو حينئذ مذهب الشافعي بشرط أن يكون المقلد المذكور فيه أهلية معرفة صحيح الحديث من سقيمه ، وأهلية فهم الحديث والعمل به والإحاطة بما في ذلك الباب من الأدلة ، ومعرفة شروط الترجيح وبشرط أن يكون نَظَر كلام الشافعي رحمه الله تعالى في تلك المسألة في مظانه ، وعلم أن الشافعي لم يطلع على ذلك الحديث وتركه لمعارض ، ولهذا قال الماوردي : مذهب الشافعي أن الصلاة الوسطى صلاة العصر لصحة الحديث به مع كون الشافعي نص على أنها الصبح لكونه لم يبلغه الحديث المذكور ، وأما آحاد الناس فليس لهم ذلك ، وكيف يعمل بالحديث من لا يميز صحيحه من سقيمه ولايتأهل للعمل به وليس عنده من النظر ومعرفة قواعد الأصول مايهتدي به إلى ذلك ولاعنده أيضاً إحاطة بكلام الشافعي بحيث يعلم كون الشافعي علم ذلك الحديث أو لم يعلم به ، والظن بسائر الأئمة رحمهم الله تعالى أنهم يقولون في ذلك كقول الشافعي لكن لما لم ينقل عنهم التصريح بذلك لم يجز لنا أن نجعل ذلك مذهباً لهم ونحكيه عنهم ونقوّلهم به ، نعم لايسوغ عندي لمن هو من أهل الفهم ومعرفة صحيح الحديث من سقيمه والتمكن من علمي الأصول والعربية ومعرفة خلاف السلف ومأخذهم إذا وجد حديثاً صحيحاً على خلاف قول مقلِّده أن يترك الحديث ويعمل بقول إمامه وإن لم يجوز له أن يجعل ذلك مذهباً له ، وقد روى البيهقي في " المدخل " بإسناد صحيح إلى عبدالله بن المبارك قال : سمعت أبا حنيفة يقول : إذا جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم فعلى الرأس والعين ، وإذا جاء عن أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم نختار من قولهم ، وإذا جاء عن التابعين زاحمناهم . أهـ
12 Juni  1
Dhimas W Asyifa
Jika seorang muqallid menemukan sebuah hadits shahih yang dari segi dhahirnya bebeda dengan apa yang difatwakan oleh imam madzhabnya, apakah muqallid tersebut boleh mengamalkan hadits tersebut dalam masalah ini atau tidak???? (jawaban Syaikh al-Hafidz al-Iraqi)

Al-Hafidz al-Iraqi pernah ditanya tentang permasalahan tersebut, seperti yang terdapat dalam kitab; Al-Ajwibah al-Mardliyyah ‘an al-As’ilah al-Makiyyah hlm 65.

Jawaban beliau yaitu: Memang benar bahwasanya imam asy-Syafi’i telah berkata; Tidak ada seorang manusia pun kecuali dia akan semakin ditinggalkan oleh sunnah Rasul shalallahu’alaihi wasallam dan semakin jauh darinya. Maka ketika saya berfatwa tentang suatu permasalahan dan menyampaikan suatu masalah dan ternyata apa yang saya sampaikan menyelisihi apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah sahalalahu ‘alaihi wasallam, maka pegangilah apa yang telah disampaikan oleh Rasul tersebut. Dan apa yang telah disampaikan Rasul, itu adalah juga pernyataan saya.

Dalam redaksi yang lain beliau (Imam asy-Syafi’i berkata); Jika kamu semua menemukan dalam kitabku sebuah pernyataan yang menyelisihi sunnah Rasul shalallahu’alaihi wasallam, maka beramalah dengan sunnah Rasul tersebut dan tinggalkanlah pernyataanku.

Seorang yang mengikut pendapat Imam asy-Syafi’i jika menemukan sebuah hadits shahih yang menyelisihi atas apa yang telah difatwakan oleh imam asy-Syafi’i yang didasari atas pengetahuannya bahwasanya hadits tersebut bukan mansukh (dinasakh) atau tidak bertentangan dengan hadits yang lebih Raji, maka bagi sang muqallid harus mengamalkan hadits tersebut (dan meninggalakn apa yang telah difatwakan oleh imam as-Syafi’i-red). Dan apa yang diamalkan tersebut akan menjadi madzhabnya (ajarannya-red) imam asy-Syafi’i, dengan syarat sang muqallid tersebut haruslah orang yang:
Memang memiliki kemampuan dalam meneliti tentang keshahihan suatu hadits dan ketidak shahihannya.
Mampu memahami pengertian yang dikandung hadits dan perbuatan yang dimaksudkannya.
Mampu menguraikan bab tersebut dengan didukung oleh dalil-dalil yang lain.
Mengetahui syarat-syarat dalam masalah Tarjih.
Mengetahui pendapat imam asy-Syafi’i dalam masalah tersebut dan mengatahui apa yang yang dimaksudkan oleh beliau.
Mengetahui bahwasanya imam asy-Syafi’i belum pernah menelaah hadits yang ditemukannya tersebut dan meninggalkannya karena adanya pertentangan dengan dalil-dalil yang lain.
Dalam permasalahan ini, imam al-Mawardi memberikan contoh yaitu; dalam madzhab Syafi’iyyah yang dimaksud dengan shalat al-Wustha adalah shalat ‘Ashar dengan dasar adanya hadits shahih yang menjelaskan hal ini, walaupun dalam redaksi yang tertulis dalam kitabnya, imam asy-Syafi’i menuliskan bahwa maksud shalat al-Wustha adalah shalat Shubuh. Hal ini disebabkan karena hadits shahih yang menjelaskan bahwa shalat al-Wustha adalah shalat ‘Ashar tidak sampai kepada beliau.

Adapun mengenai seseorang yang tidak memiliki keahlian dalam hal-hal yang telah disebutkan di atas, bagaimana mungkin dia dapat mengamalkan suatu hadits (walaupun shahih-red), sedangkan dia tidak memiliki kemapuan untuk membedakan mana hadits yang shahih dan mana yang bukan, serta tidak mampu untuk mengusahakannya. Juga orang tersebut tidak mempunyai suatu kemampuan metodologis dan tidak mengetahui kaedah-kaedah ushul yang sangat penting untuk memahami hadits tersebut. Tidak mampu mejelaskan tentang apa yang disampaikan oleh imam asy-Syafi’i, dengan gambaran orang tersebut tidak mampu menunjukkan bukti bahwasanya imam asy-Syafi’i mengetahui hadits tersebut atau tidak.

Dan persangkaan yang kuat adalah, bahwasanya seluruh Imam-imam Madzahib Rahimahumullah pasti akan menyatakan hal yang sama, seperti yang telah disampaikan oleh imam asy-Syafi’I di atas. Tetapi jika belum jelas benar hal-hal yang telah disebutkan di atas yang disandarkan kepada mereka (para Imam-imam), kita tidak boleh menjadikan penjelasan yang ada dalam hadits shahih yang kita temukan, sebagai madzhab para imam-imam tersebut, atau menceritakan bahwa ini adalah ajaran dari salah satu imam madzhab.

Menurut kami, bagi orang yang memiliki kemampuan untuk memahami suatu hadits, memiliki pengetahuan tentang shahih atau tidaknya hadits, memiliki pengetahuan tetang ilmu-ilmu ushul, mengetahui tata bahasa arab, serta mengetahui perbedaan pendapat dikalangan ulama’ salaf dan mengetahui dasarnya masing-masing. Orang tersebut jika menemukan suatu hadits yang menyelisihi pendapat imam madzhabnya, tidak diperkenankan untuk meninggalkan hadits shahih tersebut, lalu memilih mengikuti pendapat imam madzhabnya. Walaupun pemahaman dari hadits yang ditemukannya tersebut, tidak boleh dijadikan sebagai madzhabnya sendiri.

Telah diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab al-Madkhal dengan sanad yang shahih dari Imam Abdullah bin Mubarak beliau berkata, saya mendengar bahwasanya Imam Abu Hanifah telah berkata; “Jika sesuatu itu datangnya dari Nabi maka akan kami jadikanlah hal yang utama (tinggalkan yang lain-red), jika datangnya dari Sahabat Nabi maka kami akan memilih pendapat mereka, jika datangya dari Tabi’in maka kami akan mencukupkan diri”.

Wallahu A’lam bi ash-Showab.
12 Juni  1
Gio David Widiesha
naam
fatwa tersebut d'tuju untuk seorang awam atau muqolid^^

lalu bgaimana perbedaan dalam 4 mazhab itu sendiri ..ahmad deadat mengatakan ada 200 perbedaan dlm satu furu...

afwan saya tak bsa menyanggah note itu keseluruhan..
hanya saja sekilas saya membaca, disana dikatakan 4 imam mazhab itu mutlak tak ada yg melampaui'a lg

itu sebuah asumsi atas dasar apa?imam tsauri pdahal berkompeten yg menjadi masalah hanya bnyak tidak'a pengikut mazhab itu sendiri

saya menerapkan teknik pemahaman ibnu taimiyah
afwan
12 Juni
Dhimas W Asyifa
Gio David Widiesha
Mazhab Selain Empat Mazhab

Jika ada orang bertanya, "Bukankah di sana ada banyak mujtahid mutlak, baik yang sezaman dengan para imam Mazhab Empat maupun sebelumnya atau setelahnya, lalu mengapa hanya berpegang pada Imam Empat saja?" Jawabnya adalah sebagai berikut:

Pertama, tidak ada mazhab yang di-service secara istimewa oleh para pengikutnya kecuali hanya empat mazhab itu. Kita ambil contoh Mazhab Auza'i, mazhab yang dinisbatkan kepada seorang imam besar bernama Al-Auza'i, meskipun beliau dahulu adalah seorang imam besar yang boleh jadi secara keilmuan menandingi Imam Empat, namun mazhab beliau tidak sampai kepada kita secara mutawatir alias hilang begitu saja ditelan waktu. Yang tersisa hanya nukilan-nukilan perkataan beliau yang dimuat dalam kitab-kitab hadis maupun Fikih, itupun di antara sebagian nukilan itu ada yang benar dan ada yang tidak. Entah ke mana para pengikut yang dahulu mengikuti mazhab beliau? Yang pasti, mazhab beliau tidak terkodifikasi sebagaimana Mazhab Empat. Begitu juga halnya dengan mazhab-mazhab lainnya yang lenyap bersama zaman, seperti mazhab Ibnul Mubarak, mazhab Sufyan Ats-Tsauri, mazhab Ibnu 'Uyaynah, mazhab Al-Layts dan lain-lain.

Bandingkan dengan Mazhab Empat yang tetap eksis dan mendapatkan pelayanan istimewa dari para pengikutnya hingga detik ini dan hingga hari kiamat nanti (atas seizin Allah). Mazhab Hanafi misalnya, yang mendapatkan pelayanan luar biasa dari para pengikutnya sehingga sebagian besar (untuk tidak mengatakan semua) fatwa Imam Abu Hanifah telah terekam secara detail dalam kitab-kitab para muridnya, yaitu Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad. Begitu juga dengan mazhab Maliki, Syafii dan Hambali. Perpustakaan takkan lengkap tanpa kitab-kitab karangan mereka.

Kedua, tak terhitung jumlah para ulama yang menjadi pengikut Mazhab Empat, bahkan di antara mereka adalah para ahli hadis. Sebut saja Imam Nawawi, Ibu Hajar Asqolani, bahkan Ibnu Taimiyah sekalipun. Sangat sulit diterima oleh akal bahwa mereka semua tidak memiliki kemampuan untuk menyaring hadis-hadis shahih dalam mazhab mereka. Jika memang keberadaan mazhab-mazhab itu telah menyimpang dari rel syariat Islam –sebagaimana tuduhan kalangan anti-mazhab, pastilah mereka menjadi orang pertama yang menyerukan kepada umat Islam untuk meninggalkan semua mazhab yang ada.

Ketiga, tak satupun di antara keempat mazhab itu yang dibangun tanpa dasar atau pondasi (ushul). Setiap mazhab memiliki ushulnya masing-masing. Maka, sangat mengherankan seruan sebagian orang untuk membangun mazhab baru namun tidak dijelaskan bagaimana ushulnya. Jika memang kalangan yang ingin berlepas diri dari mazhab-mazhab itu konsisten dengan seruan mereka sendiri, seharusnya mereka menawarkan kepada umat Islam konsep mazhab baru seperti apa yang ingin dibangun. Tentu saja slogan "Jika hadis shahih, itulah mazhabku" saja tidak cukup sebagaimana telah kita bahas di atas.

Jika ada yang bertanya, "Bukankah mazhab-mazhab itu lahir sebelum zaman kodifikasi (tadwin) hadis, jadi ada kemungkinan sebagian hadis shahih tidak sampai kepada sebagian imam?"

Perlu diingat bahwa Imam Abu Hanifah lahir pada tahun 80 H. Artinya, jarak antara kelahiran beliau dengan wafat Rasulullah hanya beberapa puluh tahun saja. Sebagian di antara guru-guru beliau merupakan para pembesar tabiin seperti Al-A'raj, Ikrimah, 'Alqamah dan lain-lain. Begitu juga dengan Imam Malik yang lahir pada tahun 93 H. Dalam kitab Shahih Bukhari atau kitab-kitab hadis lainnya kita sering menjumpai hadis yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Artinya, antara Imam Malik dengan Rasulullah hanya melewati dua orang perawi saja. Lalu bagaimana dengan Imam Abu Hanifah yang masa hidupnya paling mendekati Rasulullah di antara Imam Empat yang ada? Bagaimana dengan Abdullah Ibnul Mubarak, seorang muhaddis besar yang sering hadir dalam majelis Imam Abu Hanifah? Begitu juga dengan Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Memang benar, masih terbuka kemungkinan secara akal bahwa sebagian hadis shahih tidak sampai kepada para imam. Namun, apakah logis mengatakan bahwa seluruh ulama pakar hadis pengikut mazhab itu tidak mengetahui keberadaan hadis-hadis itu? Apakah logis hadis shahih itu baru diketahui di abad belakangan? Ataukah mereka semua terjebak dalam fanatisme kelompok (ta’ashub mazhabi)?

Keempat, banyak hadis yang secara kasat mata tampak shahih namun ternyata memiliki ‘illat qadihah(cacat tersembunyi namun parah) yang hanya bisa dideteksi oleh pakar hadis klasik sehingga mereka semua sepakat meninggalkan hadis itu karena tidak dapat dijadikan hujjah, namun di kemudian hari hadis itu dishahihkan oleh sebagian orang yang tidak mengerti tentang ilmu hadis kecuali hanya dari kitab-kitab saja. Tentu saja kemampuan ahli hadis klasik berbeda dengan ahli hadis kontemporer, apalagi yang hanya bermodalkan kitab-kitab saja tanpa mulazamah dan talaqqi dengan guru. (Baca: “Menimbang Metode Mutaqaddimin dan Mutaakhirin Dalam Kritik Hadits”)

Jadi, menggunakan logika sebagian hadis tidak sampai kepada para imam tidak bisa dijadikan dalil untuk meruntuhkan mazhab mereka. Mazhab fikih itu telah eksis dibangun sebelum adanya kitab-kitab hadis dan diikuti oleh para ulama, bahkan termasuk para muhadditsin, baik mutaqadimin maupun mutaakhirin. Lalu bagaimana mungkin orang yang datang belakangan (di zaman ini) melontarkan kemungkinan bahwa sebagian hadis tidak sampai kepada sebagian imam?

Kesimpulannya, kelompok yang mengajak umat Islam untuk meninggalkan mazhab pada hakikatnya adalah mengajak untuk mengikuti mazhab mereka. Jadi, aliran anti-mazhab pun sebenarnya merupakan mazhab baru yang independen, apapun namanya.
12 Juni  2
Pancaran Qolbu
muaenteeep kek,..
12 Juni
Gio David Widiesha
baik sebenarnya saya beberapa kali sempat berdialog dgn pengusung yang sangat fanatik bermazhab

pribadi menaruh hormat terhadap pendapat yg lebih tua..

saya ingin menyanggah dan bertanya juga,

jadi benar kan argumen saya mengenai muqolid yg mengikuti para imam mazhab yg sngat dominan yg d'sesuaikan dgan kompeten maupun akhlak para imam tersebut..

lalu bila harus bermazhab manakah yg harus 'kami' pilih?

dan yg terakhir saya ingin mengomentari kalimat diatas d'nukil dari turots manakah?atau hanya asumsi penulis

alangkah lebih bijak bila disadur sumbernya demi tdak timbul perselisihan
afwan
12 Juni
Abu Aulia Nusantara
Bukankah dalam kurun 100 tahun pasti diturunkan seorang imam mujtahid??
12 Juni
Abu Aulia Nusantara
Bagaimana dengan Mazhab Imam Jafar shodiq dan Mazhab Ahlulbayt apakah termasuk yang layak dan sah diikuti?
12 Juni
Dhimas W Asyifa
Gio David Widiesha bukan sangat fanatik bermadzab..tapi itu konsekuensi logis yang timbul dari rongrongan anti madzab. semakin kuat anti madzab mencela madzab , maka jangan disalahkan bila mengalami perlakuan serupa

Abu Aulia Nusantara
Bukankah dalam kurun 100 tahun pasti diturunkan seorang imam mujtahid??
======================
@Gio ....nah hadist ttg mujaddid setidaknya memberikan hujjah bahwa setiudaknya mengikuti imam madzab artinya mengikuti rasulullah karena rasulullah sendiri yg mengabarkannya...

di antara para mujaddid dari abad-abad pertama yakni para imam madzab

kalau ibnu taimiyyah dan syaikh muhammad bin abdul wahhab saya nggak tahu ada ulama muktabar yg menggolongkannya sebagai mujaddid

Logika saja , gimana mau dikatakan mujaddid bila ibn taimiiyah potong kompas ke salaf (1-2 abad pertama) ..artinya dari abad ke abad (dr zaman salaf ke zaman ibn taimiyyah (abad 7 H)) ada sekian mujaddid yg diingkari

Untuk syaikh muhammad malah lebih gawat, kembali ke al qur'an dan sunah ...secara teori kembali ke al qur'an dan sunah itu benar, namun praktiknya dengan mengikuti keterangan dari apa yg sudah dikabarkan rasulullah di antaranya melalui pemahaman para mujaddid.Bukan potong kompas sebagaimana syaikh muhammad .
12 Juni  1
Syifa Muhammad
Madzhab Imam Jakfar Asshadiq RA itu sudah tidak tersebar,tapi diteruskan oleh para Imam ahlulbait dg Madzhab Syafii, karena banyak sekali kesamaannya dengan Madzhab Imam Jakfar, banyak juga para Ahlulbait yg bermadzhab lain, itu hanya masalah hukum ibadah aja.Boleh bermadzhab manapun, semuanya dari hadits Rosul SAW.Ahlulbait memilih dan masuk pada semua madzhab, tdk memiliki madzhab sendiri,
12 Juni  2
Abu Aulia Nusantara
Dhimas W Asyifa maksudnya setiap jangka 100 tahun pasti ada imam mujtahid yang muncul? Bukankah begitu? Sya pernha dengar hal ini. Benar atau salah?
12 Juni
Ahmad Nur Zaman Al-Jasmari
Nyimak sambil bakar menyan
12 Juni
Muhammad Rizal
Kayaknya perlu diluruskan bahwa tidak ada yg anti madzhab, anti madzab berarti menolak keberadaan para imam, ini salah besar namanya, para imam tetap kita hormati keberadaan mereka, krn dgn adanya pemikiran mereka, ajaran Islam bisa dikaji lebih mendlm, madzhab sbg pemikiran merupakan referensi. Jadi tidak ada yg anti madzhab. Saya hanya menegaskan jgn sampai madzhab2 itu disamakan kedudukan dgn hadist, ini yg salah kaprah. Pendapat ulama/imam tidak ada jaminan kebenarannya dgn hadist terlebih dgn Al Quran.
12 Juni  1
Gio David Widiesha
mohon maaf ksimpulan fanatik saya salah:-)

@Gio ....nah hadist ttg mujaddid
setidaknya memberikan hujjah bahwa
setiudaknya mengikuti imam madzab
artinya mengikuti rasulullah karena
rasulullah sendiri yg
mengabarkannya...
-------------------------------------

maka dari itu saya mengatakan bhwa dapat d'katakan muncul imam mujtahid bila ada ijma tapi bertolak blkg dgn isi note diatas

seperti jargon kaum syiah bahwa pintu kenabian telah tertutup namun pintu keimaman terbuka hingga kiamat
#saya berlepas diri dari syiah

jika yg d'bahas syaikh abdul wahab, akan melebar ke topik lain

disini sebenar'a tdak ada adu dalil yg ada hanya boleh mengikuti atau tidak pengambilan hujjah lewat seorang ahlul ilmi

tidak ada larangan dalam mengikuti kecuali menyelisihi khobar langit
afwan
12 Juni
Kampoeng Fana
nyimak ^_^
12 Juni  1
Abu Aulia Nusantara
Anti mazhab siapakah dia?

Adakah orang2 yang anti dengan 4 imam mazhab ini, menghina dan melecehkannya? menganggap bahwa 4 aimah adalah sosok yang tidak harus diikuti? atau ijtihad ke 4 aimah tsb adalah sebuah kesalahan atau kesesatan?

Jika ada INILAH ANTI MAZHAB
12 Juni
Abdul Hadi
sepertinya pembahasan tentang perlu tidaknya bermadzhab akan memunculkan perpecahan.. kenapa tidak kita sikapi saja, yang mau bermadzhab silakan, yang tidak mau ya silakan.. bukankah pada akhirnya setiap orang harus mempertanggungjawabkan dirinya sendiri..?
12 Juni
Dhimas W Asyifa
Meninggalkan Hadits Shahih

Hadits yang shahihsekalipun, ketika tidak seorang pun dari kalangan ulama mujtahidmengamalkannya, maka kita tidak boleh mengamalkan. Ada salah seorangSalafi bertanya, “Mengapa kita harus memilih pendapat seluruh ulama yang tidakmengamalkan hadits tersebut, padahal hadits tersebut shahih?”.

Syaikh Ibn Taimiyah, menulis sebuah kitab berjudul Raf’u al-Malam ‘an al-Aimmah al-A’lam. Dalam kitab tersebut Ibn Taimiyah mengemukakan sepuluhalasan, mengapa seorang mujtahid terkadang menolak mengamalkan suatuhadits dan memilih berijtihad sendiri. Menarik untuk dikemukakan di sini, setelahmemaparkan sepuluh alasan tersebut, Syaikh Ibn Taimiyah berkata begini:

“Dalam sekian banyak hadits yang ditinggalkan, boleh jadi seorang ulamameninggalkan suatu hadits karena ia memiliki hujjah (alasan) yang kita tidak mengetahui hujjah itu, karena wawasan keilmuan agama itu luas sekali, dan kitatidak mengetahui semua ilmu yang ada dalam hati para ulama. Seorang ulamaterkadang menyampaikan alasannya, dan terkadang pula tidakmenyampaikannya. Ketika ia menyampaikan alasannya, terkadang sampaikepada kita, dan terkadang tidak sampai. Dan ketika alasan itu sampai kepadakita, terkadang kita tidak dapat menangkap alasan yang sesungguhnya (maudhi’ihtijajihi), dan terkadang dapat menangkapnya.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Raf’u al-Malam ‘an al-Aimmah al-A’lam, hal. 35).

Hadits Shahih Pasti Madzhabku

Para ulama menjelaskan, bahwa maksud perkataan al-Imam al-Syafi’i, “Idzashahha al-hadits fahuwa madzhabi (apabila suatu hadits itu shahih, maka haditsitulah madzhabku)”, adalah bahwa apabila ada suatu hadits bertentangandengan hasil ijtihad al-Imam al-Syafi’i, sedangkan al-Syafi’i tidak tahu terhadaphadits tersebut, maka dapat diasumsikan, bahwa kita harus mengikuti haditstersebut, dan meninggalkan hasil ijtihad al-Imam al-Syafi’i. Akan tetapi apabilahadits tersebut telah diketahui oleh al-Imam al-Syafi’i, sementara hasil ijtihadbeliau berbeda dengan hadits tersebut, maka sudah barang tentu hadits tersebutmemang bukan madzhab beliau. Hal ini seperti ditegaskan oleh al-Imam al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 1/64.

Oleh karena demikian, para ulama menyalahkan al-Imam al-Hafizh Ibn al-Jarud,seorang ulama ahli hadits bermadzhab al-Syafi’i, di mana setiap ia menemukanhadits shahih bertentangan dengan hasil ijtihad al-Imam al-Syafi’i, Ibn al-Jarudlangsung mengklaim bahwa hadits tersebut sebenarnya madzhab al-Syafi’i,berdasarkan pesan al-Syafi’i di atas, tanpa meneliti bahwa hadits tersebut telahdiketahui atau belum oleh al-Imam al-Syafi’i. Al-Imam al-Hafizh Ibn Khuzaimahal-Naisaburi, seorang ulama salaf yang menyandang gelar Imam al-Aimmah(penghulu para imam) dan penyusun kitab Shahih Ibn Khuzaimah, ketikaditanya, apakah ada hadits yang belum diketahui oleh al-Syafi’i dalam ijtihadbeliau? Ibn Khuzaimah menjawab, “Tidak ada”. Hal tersebut seperti diriwayatkanoleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitabnya yang sangat populer al-Bidayah wa al-Nihayah (juz 10, hal. 253
15 Juni  1
Dhimas W Asyifa
copas lagi :
{Tidak semua hadits shahih boleh dibuat hujjah}

Meninggalkan hadits atau mengambilnya sebagai hujjah, memiliki batasan-batasan dan persayaratan-persyaratan tertentu. Tidak semua orang mampu melakukan hal itu. Membuka kitab-kitab hadits dan mengambilnya dengan semaunya tanpa ada keahliaan dalam ilmu hadits atau tanpa merujuk pada ulama yang berkompeten dalam bidangnya, hanyalah permainan anak-anak.

Bukankah sangat banyak para imam besar yang tidak mengambil hadits shahih sebagai hujjah ? disebabkan dengan keahliannya dalam ilmu istidlal dan istinbathnya mereka menilai ada illat-illat yang menyebabkan hadits shahih tersebut tidak bisa dijadikan hujjah atas sebuah hokum.

Contoh :

Imam Syafi’i.

Dalam madzhab Syafi’i, diharuskan membaca basmalah sebelum fatehah bahkan batal sholatnya jika tidak membaca basmalah. Padahal dalam shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Saw tidak membaca basmalah di dalam sholat.
Dan juga dalam mazhab syafi’i jika imam ruku’, makmum harus ruku’, jika imam I’tidal, makmum harus I’tidal, jika imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah, maka makmum mengucapkan sami’allahu liman hamidah. Jika imam sholat dengan duduk karena ada udzur, maka makmum tetap sholat berdiri selama masih mampu berdiri dan tidak boleh duduk.
Sedangkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan :

إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه فإذا ركع فاركعوا وإذا رفع فارفعوا وإذا قال سمع الله لمن حمده فقولوا ربنا لك الحمد وإذا صلى جالسا فصلوا جلوسا أجمعون

“ Sesungguhnya imam itu dijadikan hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya. Jika imam ruku’ maka ruku’lah, jika imam I’tidal maka I’tidallah. Jika imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah maka ucapkanlah Rabbanaa laka al-hamdu dan jika imam sholat dengan duduk, maka sholatlah kalian semua dengan duduk “.

Lalu kenapa imam Syafi’i tidak mengikuti hadits-hadits imam Bukhari dan Muslim tersebut ?? jawabannya; karena beliau melihat dan menilai hadits-hadits shahih tersebut masih memiliki illat atau ada hadits lainnya yang lebih kuat lagi sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.

Imam Abu Hanifah.

Dalam madzhab Hanafi tidak disyaratkan membasuh najis anjing tujuh kali, padahal ada hadits shahih riwayat imam Bukhari dan Muslim :

إذا ولغ الكلب في إناء أحدكم فليغسله سبعا

“ Jika anjing menjilati bejana seseorang dai antara kalian, maka cucilah tujuh kali cucian “.

Dalam hadits shahih riwayat imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa “ Angkatlah kepalamu dan i’tidallah dengan berdiri “, sedangkan dalam madzhab Hanafi sah sholat tanpa ada tumakninah saat i’tidal.
Mengapa imam Abu Hanifah menolak hadits-hadits shahih tersebut ??

Imam Malik.

Dalam hadits shahih riwayat imam Bukhari dan Muslim disebutkan :

البيعان بالخيار ما لم يتفرقا

“ Penjual dan pembeli boleh melakukan khiyar/memilih semenjak keduanya tidak berpisah “

Lalu kenapa dalam madzhab Maliki tidak ada majlis khiyar ?

Dalam hadits shahih riwayat imam Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Saw tidak membasuh seluruh kepalanya saat berwudhu. Sedangkan dalam madzhab Maliki mewajibkan membasuh seluruh kepala saat berwudhu.
Mengapa beliau menyeleisihi hadits-hadits shahih tersebut ??

Imam Ahmad bin Hanbal.

Dalam hadits shahih riwayat imam Bukhari dan Muslim disebutkan bahwasanya Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من صام يوم الشك فقد عصى أبا القاسم

“ Barangsiapa yang berpuasa di hari syak (tanggal 30 sya’ban), maka telah durhaka pada Abu Al-Qasim “.
Sedangkan dalam madzhab hanbali, beliau membolehkan puasa hari syak. Bagaimana beliau bertentangan dengan hadits shahih tersebut ??

Catatan :

Apakah imam Syafi’i, Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hanbal sengaja menolak hadits-hadits shahih ?
Apakah para imam tersebut tidak memahami hadits-hadits shahih ?
Apakah para imam tersebut tidak mengerti ilmu hadits ?
Apakah mereka orang-orang bodoh ?
Mengapa para imam tersebut tidak menjadikan hadits-hadits tersebut sebagai hujjah sehingga tidak menerapkannya ??

Ya, karena para imam itu paham dan mengerti dengan semua kemampuan ilmu yang mereka miliki dan kuasai, bahwa bagi masing-masing telah tegak dalil-dalil lain yang menentangnya.
15 Juni  1
Muhammad Rizal
sekarang terjamintidak kebenaran dari pendapat2 para imam madzab itu??
15 Juni
Sulthon Mohammed Al-Fateh
Dijamin dapat fahala.
16 Juni
Didi Solo
Yang menentukan suatu hal berpahala dan dosa itu kita ataulah Allah?
16 Juni
Abu Raka Nurfadhillah Sumardi
yg nentukan pasti'y kita kang..hehehe.
Menurut kita amal yg dikerjakan dlm pandangan orang baik pasti dpt pahala.
16 Juni
Didi Solo
Hemm..jd ingat..berbohong demi kebaikan..dapat pahala juga dong?..
16 Juni
Sulthon Mohammed Al-Fateh
Didi Solo, bukankah ada hadits yg menyatakan bhw jika seseorang (yg ahli ilmu dgn tdk dilandasi oleh hawa nafsu) berijtihad & ijtihadnya benar maka mendapatkan pahala 2 & jika salah dapat 1??
16 Juni  1
Abu Raka Nurfadhillah Sumardi
klu kita berijtihad krn belum tahu dalil yg membolehkan'y gmn mas Shulthon?
16 Juni
Syifa Muhammad
Bagi orang awam, ada atau tidak adanya dalil adalah sama saja, karena mereka tidak mampu mengambil pengertian darinya. Maka masalah meneliti dalil dan melakukan istinbath bukanlah urusan mereka dan mereka memang tdk diperkenankan melakukan yg demikian itu
16 Juni  1
Abu Raka Nurfadhillah Sumardi
begini kang Syifa, aku dan temanku pernah masuk kesebuah mesjid untk shalat Ashar, tp berhubung nunggu teman yg lg wudhu lama aku shalat tahyatul mesjid, setelah aku dapat 1 rakaat, temanku ikut dibelakang jd makmum. Setelah 2 rakaat aku salam dan temanku terus shalat, dan aku mundur dibelakan dia untk jd makmum shalat ashar. Demi Allah sebelum'y aku belum pernah tau dalil'y apakah boleh atau nggak, tp setelah beberapa tahun aku dpt info dr teman yg comen di JIB ini klu itu boleh dan syah.
Gmn pendapat kang Syifa? Apa aku berdosa krn tlah berijtihad seperti itu?
16 Juni  2
Syifa Muhammad
bermakmum pada masbuq diperbolehkan.
16 Juni
Didi Solo
mungkin yg dimaksud akhi Abu Raka Nurfadhillah Sumardi..bukan makmum masbuqnya Akhi Syifa Muhammad..tapi tindakan yang diambil olehnya saat dia sholat..padahal akhi @Abu Raka Nurfadhillah Sumardi tidak punya kemampuan ber ijtihad..lalu hukumnya bagaimana?
16 Juni  2
Abu Raka Nurfadhillah Sumardi
iya kang Didi maksud aku begitu kang Syifa?
16 Juni
Syifa Muhammad
kalau nt tdk tahu mengapa tidak bertanya?
Bukankah Alloh Ta'ala berfirman dlm surat Al Anbiya ayat 7: maka bertanyalah kpd ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.
Para ulama sudah sepakat bahwa ayat ini memrintahkan kpd orang2 yg tdk mengetahui hukum dan dalilnya agar mengikuti orang2 yg tahu hal tersebut. Dan ulama ushul fiqih menjadikan ayat ini sbgai dasar utama bahwa orang yg tdk mengerti atau awam haruslah bertaklid kpd orang yg alim yg mujtahid.
16 Juni
Abu Raka Nurfadhillah Sumardi
kang Syifa kasus itu jg nggak aku duga kejadianya? Itu kasus jarang terjadi. Apakah kang Syifa pernah mengalami seperti itu?
16 Juni
Syifa Muhammad
next time nt baiknya bertanya jika tidak tahu. Kecuali misal, nt mau sholat, ditengah hutan tapi ga tahu arah kiblatnya yg mana,maka nt berijithad, melihat arah barat dan timur dengan melihat matahari, bila berawan maka mencari cara lain misalnya dengan memperhitungkan masjid terdekat dan mengingat kiblatnya, atau berijtihad mengenai masuknya waktu sholat bila kita didaerah yg jauh dari muslimin.
16 Juni
Didi Solo
baiknya dibaca pelan2 biar paham situasi yang dialami kang@Abu Raka Nurfadhillah Sumardi..kayane masih salah persepsi tuh..
16 Juni
Sulthon Mohammed Al-Fateh
Abu Raka Nurfadhillah Sumardi, apakah pada saat itu antum yakin bhw yg antum perbuat sudah benar ataukah ada keragu-raguan jangan-jangan itu tidak boleh?
16 Juni
Abu Raka Nurfadhillah Sumardi
aku yakin, krn dgn alasan ga mungkin niat shalat tahyatul mesjid yg udah dapat 1 rakaat dirobah menjadi shalat ashar..
Gmn menurut pendapat Kang Sulthon?
Apakah kang Shulthon dan kang Syifa pernah mengalami seperti aku?
16 Juni
Rei Anbu
Saya pernah, pas shalat tahyatul masjid trus ada yg nepuk dari belakang. seketika saya langsung ganti menjadi niat ashar dan imam.
nah ntu gimana juga.....?
16 Juni  1
Abu Raka Nurfadhillah Sumardi
kang Syifa gmn sih, emang mesti aku cari ustadz dulu baru kemudian shalat ya?
Klu masalah shalat dihutan ataupun menentukan waktu shalat itu aku anggap tidk trlalu penting sangat dan kaya'y dijaman skrg ini menentukan waktu shalat ataupun shalat ketika ditengah hutan jarang kejadian.
16 Juni
Rei Anbu
kalau nanti maen ke hutan trus bawa hape, khusus buat pengguna telkomsel bisa akses *250# buat mengetahui arah kiblat.
(^_________________^)
16 Juni  2
Sulthon Mohammed Al-Fateh
Akhi Abu Raka, Tidak ada dosa krn ketidaktahuan.

Tapi untuk kasus anda sy sendiri blm pernah menemukan kasus yg demikian sebelumnya, juga belum mendapatkan hukumnya dlm kitab (mungkin krn blm ketemu) ^_^

Namun untuk kasus teman anda yg bermakmum (masbuk) dibelakang anda yg sedang sholat sunnah tahiyatul masjid maka sholatnya sah dgn dalil:

Dalil Pertama:
Hadits Jabir ra yang menyebutkan bahwa Mu'adz bin jabal ra pernah
melaksanakan sholat isya berjamaah bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam beserta sahabat. Kemudian ia pulang menemui kaumnya dan menjadi Imam sholat yang sama yaitu sholat isya untuk kaumnya tersebut. (HR Muslim)

Dan Imam Nawawi menyebutkan riwayat tambahan dari hadits ini yang
diriwayatkan oleh Imam Syafi'i, bahwa perkara tersebut dilaporkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, dan Nabi tidak mengingkarinya. (Al-majmu' jil 4 hal 272)

Dalil Kedua:
Hadits Abu Bakroh ra tentang salah satu cara lain sholat Khouf yang dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Disebutkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam
melaksanakan sholat dzuhur dalam keadaan khouf (peperangan), kemudian
para sahabat membagi barisan menjadi 2 kelompok. Satu kelompok sholat
bersama Rasul dan yang lain berjaga-jaga. Nabi melaksanakan sholat bersama Kelompok pertama sebanyak 2 rokaat kemudian salam. Lalu masuklah kelompok yang tadi berjaga-jaga untuk
sholat bersama Rasul SAW. Berjamaah 2 rokaat kemudian salam. (HR Abu Daud)

Imam Sayfi'i dalam Kitabnya Al-Um menyebutkan bahwa: 2 rokaat terkahir
Nabi adalah sunnah dan yang pertama wajib. Jadi kelompok kedua yang
sholat bersama Nabi itu sholat wajib sedangkan Imam mereka yakni Nabi SAW melaksanakan Sholat Sunnah. (Al-Um jil 1 hal 173).
17 Juni  1
Didi Solo
Lalau bagaimana hukumnya trhadap perbuatan kang @Abu Raka Nurfadhillah..yang mengambil ijithad tanpa suatu kemampuan atau mempunyai syarat yg membolehkan dia melakukan ijtihad?
17 Juni  1
Rei Anbu
mas Didi Solo, kalau berdasarkan dalil ini bisa gak yah kasus Kang Raka terjawab --> “Allah menghendaki kemudahan bagi kamu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. 2:185)

mengertikan maksud saya.....?!
(^_________________^)
17 Juni
Didi Solo
Hemmm...apa bisa?
Bukankah ada ketentuan dan syarat2 sangat ketat bila seorang ga punya kemampuan melakukan maka wajib taqlid?
Laaahhh ditambah ayat tersebut?
Lalu kemudahannya dimana?
17 Juni  1
Rei Anbu
begini mas, situasi Kang Raka bisa masuk dalam kondisi Urgent.
he said --> kang Syifa gmn sih, emang mesti aku cari ustadz dulu baru kemudian shalat ya?
dari pernyataan diatas bisa kita simpulkan kalau Kang Raka gak mungkin sempat nyari/buka² kitab ulama terlebih dahulu atau pergi nanya ke ustadz.
Bukankah dalam ayat² Al-Quran Allah SWT selalu ada PENGECUALIAN.
seperti dalam firman berikut :
“Hai orang-orang yang beriman! Makanlah yang baik-baik dari apa-apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta bersyukurlah kepada Allah kalau betul-betul kamu berbakti kepadaNya. Allah hanya mengharamkan kepadamu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih bukan karena Allah. Maka barangsiapa dalam keadaan TERPAKSA denganTIDAKSENGAJA dan tidak melewati batas, maka tidaklah berdosa baginya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (al-Baqarah 2:172-173)

jangan terpaku ke bahasan bangkai,babinya.. tapi coba mas Didi tatap kata yg saya cetak Kapital.
Di situlah letak KEHAKIMAN Allah SWT sebagai Penilai. lalu mas sandingkan dengan ayat yg sebelumnya saya copas.

biar lebih jelas saya nukilkan sebuah riwayat, ketika sedang menjalankan ibadah haji, Rasulullah Saw memperhatikan ada sahabat yang terlihat sangat capek, lemah, dan menderita. Maka beliau pun bertanya apa sebabnya. Ternyata, menurut cerita para sahabat yang lain, orang tersebut bernadzar akan naik haji dengan berjalan kaki dari Madinah ke Mekkah. Maka Rasulullah Saw langsung memberitahukan:
“Sesunguhnya Allah tidak membutuhkan tindakan penyiksaan diri sendiri, seperti yang dilakukan oleh orang itu” (HR. Bukhâri dan Muslim, dari Anas ra.)

lalu mas Didi sandingkan lagi dengan ayat yg sebelumnya saya copas.
“Allah menghendaki kemudahan bagi kamu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. 2:185)
Ayat-ayat di atas dengan jelas mengatakan, kesusahan, kepayahan, kesukaran, dan kesengsaraan bukanlah konsep yang dianjurkan Islam (Al-Quran). Islam adalah untuk kemudahan dan kebahagiaan manusia.

coba telaah hadist ini :
… Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik .…”
[Shahih: HR. Muslim (no. 1015), at-Tirmidzi (no. 2989), dan Ahmad (II/328)]

Niat Kang Raka b'ijtihad secara refleks langsung memutar dan menjadi makmum bukan DISENGAJA, tetapi dalam posisi Urgent.
"sesungguhnya segala amal bergantung pada niat.”

kita kembalikan kepada niatnya Kang Raka, jika itu baik semoga Allah mencatatnya sebagai suatu kebajikan. jika bukan, semoga Allah mengampuninya.
(^_____________________^)
17 Juni  4
Rei Anbu
Asumsi saya diatas jauuuhhhhh dari kebenaran, Mohon Koreksinya.
(^_________________^)
17 Juni
Syifa Muhammad
Orang yg taklid bukanlah orang yg alim. Oleh sebab itu tidaklah sah baginya kecuali bertanya kpd ahli ilmu. Dan kpd merekalah kembalinya urusan orang2 awam dlm masalah hukum secara mutlak. Dengan demikian maka kedudukan ahli ilmu begitu pula ucapan2nya bagi orang2 awam adalah seperti kedudukan syara'.

Orang2 yg tdk punya kemampuan dlm ber ijtihad apabila terjadi padanya satu masalah fiqih maka ada 2 kemungkinan caranya bersikap:
1. dia tdk melakukan ibadah sama sekali, dan tentunya menyalahi ijma
2. dia melakukan ibadah, tapi hanya mengikuti hukum akalnya sendiri tanpa didasari oleh ilmu. Apakah boleh atau tidak, salah atau benar.

Dan orang2 awam dikecualikan dari orang yg mampu berijtihad. Maka tugas mereka adalah taklid karena mereka tdk mampu mengetahui hukum dgn jalan ijtihad. Berbeda dgn seorang mujtahid yg memang memiliki kemampuan analisis untuk melahirkan suatu hukum.

"kelebihan seorang ahli ilmu atas seorang ahli ibadah laksana kelebihan diriku(Nabi) atas seseorang yg terendah derajatnya atau kualitas ibadahnya dari sahabatku."
[Tirmidzi dari Abi Umamah , Hasan Shahih]

Jika kita perhatikan, betapa beliau SAW mengaitkan antara ilmu dgn derajat kenabian. Dan betapa Nabi SAW menganggap rendah derajat seorang ahli ibadah yg beramal tanpa didasari ilmu.
17 Juni