Perbandingan antara Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyyah

Top  Previous  Next

Asal Mula Lahirnya Paham Mahdi

 

'Akidah Mahdiyyah dalam tradisi Syi'ah maupun Ahmadiyah merupakan prinsip keyakinan yang mesti dipertahankan. Menurut aliran-aliran Syi'ah, di akhir zaman nanti pasti akan muncul seorang tokoh keturunan Ahlul-Bait yang akan menegakkan kejayaan Islam, memberantas segala bentuk kecurangan, dan mengadakan pemerataan keadilan. Ia akan memegang kekuasaan tertinggi di dunia Islam dan menjadi ikutan ummat manusia.

 

Adapun orang yang pertama kali meneriakkan sebutan al-Mahdi adalah Sulaiman ibn Surad, yang ditujukan kepada Husain sewaktu ia terbunuh, dengan mengatakan: "Husain sebagai al-Mahdi putera al-Mahdi"[1] Selanjutnya dijelaskan, bahwa kata 'al-Mahdi' semula dipahami dalam pengertian bahasa yang artinya, "orang yang mendapat petunjuk Tuhan." Kemudian kata tersebut diartikan sebagai orang yang ditunggu-tunggu kemunculannya dengan membawa kesejahteraan dan kedamaian. Orang yang mula-mula memberi pengertian demikian adalah Kaisan, bekas budak 'Ali ibn Abi Talib dan sebagai tokoh pendiri aliran Kaisaniyyah, yang dialamatkan kepada diri Muhammad ibn Hanafiyyah yang diyakininya sebagai al-Mahdi yang tinggal di bukit Radwa.[2] Julukan al-Mahdl ini mulai tersebar, sejak tahun 66 H, yaitu sesudah pemerintahan Bani Umayyah gagal mempertahankan sendi-sendi keadilan dan persamaan. Menurut aliran ini (Syi'ah Kaisaniyyah), Muhammad ibn al-Hanafiyyah itu adalah al-Mahdi al-Muntazar yang dikenal pula dengan al-Mahdi ibn al-Wasi. Selanjutnya Donaldson menjelaskan, penggunaan istilah al-Mahdi itu, lebih 200 tahun sebelum masa pengumpulan hadis-hadis Nabi, yaitu masa yang cukup untuk kristalisasi pemikiran tentang al-Mahdi dalam bentuknya yang pasti.[3]

 

Sehubungan dengan uraian di atas, hadis-hadis Mahdiyyah memang melahirkan berbagai pendapat yang kontroversial di kalangan ummat Islam. Hadis-hadis Mahdiyyah tidak dimuat dalam Sahih al-Bukhari maupun Sahih al-Muslim, mungkin sekali karena sanad-sanadnya tidak siqah atau dapat dipercaya, sehingga banyak para cendekiawan Muslim yang belakangan seperti: Syaikh Muhammad Darwisy, Muhammad Rasyid Rida, Muhammad Farid Wajdi, Syaikh Tahir Jalaluddin, dan A. Hasan dari PERSIS, tidak mau menerimanya sebagai yang otentik. Akan tetapi sementara ahli-ahli hadis seperti: al-Qurtubi, Ibn Hajar al'Asqalani, Abul-Husain al-Abiri, Syamsuddin as-Sakhawi, Jalaluddin as-Suyuti, Ibn Hajar al-Haitami, az-Zarqani, al-Qadi Muhammad as-Syaukani, al-Qanuji, Abul-Hasan Muhammad as-Sahari, Muhammad Habibullah as-Syanqiti, dan as-Safarini memandang hadis-hadis Mahdiyyah sebagai muttawatir. Hanya saja al-Muhaddis Sayyid Ahmad menegaskan, bahwa tiap-tiap bagian dari hadis-hadis Mahdiyyah itu dengan memandang sanad-nya, tidak dapat dianggap mutawatir.[4]

 

Terjadinya perbedaan pendapat yang bertolak belakang, mengenai hadis-hadis Mahdiyyah disebabkan adanya perbedaan cara menilai keabsahan hadis-hadis tersebut. Pihak yang menolak keotentikannya, disamping mereka mengadakan analisis obyektif dengan menggunakan ilmu-ilmu hadls, juga mengadakan analisis sejarah ummat Islam tentang asal mula terbentuknya paham Mahdi atau Mahdiisme di kalangan kaum Syi'ah. Dalam hubungan ini, Ibn Khaldun pun menolak keotentikan hadis-hadis tersebut, tidak dapat dipercaya riwayatnya. Seperti 'Asim dan Muhammad ibn Khalid adalah perawi-perawi yang kontroversial dalam penilaian kaum Muhaddisin.[5] Dan masalah Mahdiisme ini, Ibn Khaldun tampak lebih menonjolkan teori al-'Asabiyyah-nya. Ia berpendapat, bahwa dakwah Mahdiyyah tidak dapat ditegakkan tanpa disertai semangat fanatisme yang kuat (al-'Asabiyyah) sehingga Allah memberikan pertolongan-Nya, sebab tanpa kekuatan dan fanatisme (idealisme perjuangan) tidak banyak terwujud.[6]

 

Adapun bagi pihak-pihak yang memandang hadis-hadis Mahdiyyah sebagai otentik, pada umumnya analisis mereka hanya didasarkan pada satu aspek saja, yaitu ilmu hadis, seperti ilmu Mustalah Hadis; ilmu Rijalul-Hadis, dan yang semisalnya. Akan tetapi keotentikannya tidak didukung oleh keobyektifan sejarah, terutama sejarah kaum Syi'ah. Mereka tidak menyadari siasat kaum Syi'ah yang selalu mengisukan paham Mahdi dalam perjuangan politiknya, sehingga dapat membentuk opini masyarakat dengan menyebarluaskan atau mengekspos hadis-hadis Mahdiyyah. Dengan demikian pengamhnya sangat luas dan diserap oleh pelbagai sekte dalam Islam. Dan bahkan sementara ahli-ahli hadis sendiri ada yang menilai keotentikannya, hanya dengan mengukur banyaknya orang yang meriwayatkan hadis-hadis Mahdiyyah tersebut. Sebagaimana diketahui, kaum Syi'ah yang berpusat di Irak banyak membuat hadis-hadis palsu (maudu'), sehingga tidak mustahil di antara hadis-hadis Mahdiyyah itu adalah ciptaan mereka, mengingat banyak materi hadisnya yang kontroversial.

 

Memang tepatlah apa yang dinyatakan oleh al-Maududi bahwa apabila hadis-hadis Mahdiyyah ini dilihat lebih cermat, maka akan terdapat dalam sanad-sanad (urut-urutan orang yang meriwayatkannya), banyak segi yang melemahkan. Diantaranya terdapat berbagai ikhtilaf (pertentangan) yang jelas tentang materi hadis itu sendiri. Kedua, partai-partai politik yang terlibat dalam perselisihan di awal sejarah Islam, mereka berusaha menebarkan hadis-hadis Mahdiyyah untuk kepentingan dan tujuan politik masing-masing golongan. Sebab, banyak perawi hadis yang terlibat dalam kegiatan politik praktis saat itu.[7] Selanjutnya pendapat Syaikh Muhammad Darwisy yang dikutip oleh H. M. Arsyad Talib Lubis, menyatakan bahwa hadis-hadis Mahdiyyah adalah lemah (da'if) seluruhnya, tak ada yang dapat dijadikan pegangan, dan janganlah terperdaya oleh orang yang mengumpulkannya dalam berbagai tulisan.[8]

 

Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi terbentuknya paham Mahdi, dapat dilihat dari dua aspek yaitu: Pertama aspek politis dan kedua aspek teologis. Pada aspek politik bermula dari kegagalan-kegagalan kaum Syi'ah secara beruntun untuk memperoleh kekuasaan politik. Kekecewaan mereka yang paling dalam, berawal dari tidak terpilihnya 'Ali ibn Abi Talib sebagas Khalifah pertama. Kemudian disusul oleh kegagalan politik 'Ali dalam menghadapi pembelotan Mu'awiyah yang melahirkan tahkim atau arbitrase, sehingga Khalifah 'Ali menjadi korban kekerasan politik kaum Khawarij, sekalipun saat itu secara doktrinal Syi'ah belum lahir.

 

Pemikiran tentang al-Mahdi, semula bersumber dari aliran Syi'ah, dan terbentuknya pemikiran ini, semenjak mereka kehilangan kekuasaan politik yang berpindah ke tangan Mu'awiyah, sesudah terbunuhnya Khalifah 'Ali. Penyerahan kekuasaan oleh Hasan ibn 'Ali kepada Mu'awiyah, kemudian disusul oleh kematian Husain di padang Karbela, merupakan saat-saat yang mempercepat proses terbentuknya pemikiran tersebut.

 

Apabila kematian 'Ali merupakan awal lahirnya paham Syi'ah yang secara doktrinal ditandai oleh tuntutan mereka akan hak legitimasi kekhalifahan pada keturunan Ahlul-Bait, maka kematian Husain, bagi kaum Syi'ah merupakan awal lahirnya istilah al-Mahdi, sekalipun masih dalam pengertian bahasa. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah tersebut berubah menjadi paham Mahdi al-Muntazar, setelah term al-Mahdi tadi, dihubungkan dengan 'aqidah ar-raj'ah, dan paham Mahdi tersebut dipelopori oleh golongan Syi'ah Kaisaniyyah, sesudah Muhammad ibn al-Hanafiyyah wafat. Rupanya paham Mahdi ini semula, oleh sementara pemimpin Syi'ah Isna 'Asyariyyah, terutama sesudah Muhammad ibn Hasan al-'Askari dinyatakan hilang secara misterius, dijadikan cara untuk mengalihkan perhatian para pengikutnya yang mulai kehilangan semangat dan daya juang mereka, disamping eksistensi sekte ini mulai terancam perpecahan yang serius. Kemudian dimitoskanlah seorang tokoh yang akan membawa kemenangan dan kesejahteraan dengan sebutan al-Mahdi yang ditunggu-tunggu, guna menghimpun kembali potensi mereka. Dalam hubungan ini Ahmad Amin menjelaskan, bahwa para pemimpin gerakan Syi'ah yang berpandangan jauh, menganggap kekecewaan politik tersebut merupakan faktor penyebab keputusasaan, dan faktor ini dikhawatirkan akan menjadi penyakit yang meracuni jiwa kaum Syi'ah. Mereka berusaha membesarkan hati kaumnya dengan ide akan kembalinya kepemimpinan mereka, yang akan menghancurkan kekuasaan Bani Umayyah. Untuk meyakinkan kaumnya, ide tersebut harus bercorak keagamaan. Sebelum terbentuknya paham al-Mahdi al-Muntazar, demikian Ahmad Amin, mula-mula mereka gunakan istilah al-Hukumah al-Muntazirah (pemerintahan Syi'ah yang ditunggu-tunggu), kemudian isu ini berubah menjadi al-Hakim al-Muntazar atau penguasa (Syi'ah) yang ditunggu-tunggu. Akhirnya, isu kedua ini berkembang dan berubah menjadi al-Mahdi al-Muntazar.[9]

 

Dalam merealisasikan ide Mahdiisme, kaum Syi'ah menempuh dua cara yang berbeda. Di satu pihak, kaum Syi'ah ingin merealisasikannya dalam bentuk perjuangan politik nyata, seperti 'Abdullah yang mengaku sebagai Mahdi dari Syi'ah Isma'iliyyah. Akan tetapi, di lain pihak ada beberapa sekte Syi'ah, sengaja tidak ingin mewujudkan tokoh Mahdi sebagai realita, tapi hanya sebagai mitos seperti yang diyakini oleh golongan Syi'ah Isna 'Asyariyyah, dan sekte-sekte Syi'ah lainnya. Oleh karena itu sekte ini tetap mempertahankan konsep al-Mahdi al-Muntazar. Tampaknya konsep keimanan Syi'ah itu memberi kesan, semakin imam itu gaib, semakin ma'sum-lah imam itu. Dan kema'suman itulah yang mendorong pengikut Syi'ah memberi kedudukan istimewa atau otoritas yang tinggi kepada seorang imam.

 

Tampaknya konsep akidah Mahdiyyah bagi pengikut Syi'ah Dua belas, bermula dari kevakuman imam sesudah Imam ke11, yaitu Hasan al-'Askari. Munculnya sekte baru, yaitu aliran Ja'fariyyah yang dipimpin oleh Ja'far saudara Ima-m Hasan al'Askari, benar-benar dipandang oleh golongan Syi'ah Dua belas sebagai ancaman yang berbahaya. Sebab sekte baru tersebut, berkeyakinan bahwa keimaman bagi mereka masih terbuka lebar. Di sisi lain, rupanya Syi'ah Dua belas ingin menyatukan sub-sub sekte lain dari jalur Musa al-Kazim yang telah bercerai-berai.

 

Untuk mencapai maksud tersebut, kemudian oleh pakar-pakar sekte ini, diciptalah teori tentang "imam yang gaib" dengan al-Mahdi sebagai tokohnya, putera Hasan al-'Askari sebagai Imam ke-12, atau yang terakhir belum ada keterangan yang jelas. Dalam masalah ini, sebagai yang dikutip oleh Montgomery Watt dari pendapat an-Nubukhtiy, tentang ada atau tidaknya putera Hasan al-'Askari, memang ada tiga pendapat. Pendapat pertama, mengatakan bahwa Imam ke-11 ini, tidak mempunyai anak laki-laki. Pendapat kedua menyatakan, bahwa ia mempunyai anak laki-laki tetapi, ia wafat sewaktu berusia dua tahun, sedangkan pendapat ketiga mengatakan bahwa ia wafat sewaktu dilahirkan.[10]

 

Ketidakjelasan pengikut Syi'ah Isna 'Asyariyyah tentang keberadaan imam mereka yang kedua belas, mungkin sekali dimanfaatkan oleh kaum politisinya yang lihai untuk mencipta mitos al-Mahdi al-Muntazar. Dengan mitos tersebut kaum politisi aliran ini, dapat mempertahankan loyalitas pengikut Hasan al'Askari kepada imam penggantinya yang selalu gaib itu.

 

Dalam kaitan ini, Montgomery Watt menjelaskan bahwa teori keimaman (imam duabelas) merupakan sebuah interpretasi dari berbagai peristiwa yang telah diseleksi dan dengan sengaja dicipta oleh kaum politisi Syi'ah untuk mencapai tujuan akhir mereka. Seorang yang paling bertanggung jawab terhadap formulasi teori ini dan yang mempertahankannya secara intelektual serta menentang pikiran-pikiran lainnya adalah Abu Sahl an-Naubakhti yang meninggal tahun 913.[11] Dengan demikian, munculnya teori keimaman yang gaib terakhir ini, dengan tokohnya yang menghilang secara misterius, yang dikenal dengan sebutan al-Mahdi al-Muntazar adalah akibat krisis keimaman di kalangan Syi'ah Dua belas. Untuk menjaga keutuhan eksistensi dan loyalitas para pengikutnya, maka diciptalah teori tersebut, sebagai suatu idealisme perjuangan politik mereka.

 

Selanjutnya, faktor-faktor penyebab terbentuknya paham al-Mahdi atau Mahdiisme ini, pada dasarnya ada dua faktor penyebabnya yang sangat erat hubungannya satu sama lain, Pertama adalah faktor intern. Sebagaimana uraian di atas, kaum Syi'ah mengalami kekecewaan dan penderitaan yang bertubi-tubi, dan banyak imam mereka yang menjadi korban kekerasan lawan-lawan politiknya. Keadaan ini mendorong kaum Syi'ah lebih terbuka terhadap masuknya pikiran-pikiran non-Islam, karena mereka ingin mendapat dukungan politik di masyarakat luas, yang sebagian besar anggotanya belum dapat meninggalkan keyakinan lama mereka. Dan sebagai akibatnya lahir keyakinan baru yang inovatif yang dicipta oleh orang yang berpura-pura mencintai Ahlul-Bait.

 

Keputusasaan kaum Syi'ah yang diakibatkan oleh kekalahan politik dan penganiayaan yang berulang-ulang mendorong mereka menjadi gerakan bawah tanah dan siap menerima berbagai macam ide.[12] Sikap keterbukaan aliran ini hampir dapat dipastikan merupakan faktor utama timbulnya berbagai doktrin isoteris, dan salah satunya adalah ajaran Mahdiisme.

 

Selain itu, kisah-kisah dalam al-Quran seperti kisah 'Uzair dan Ashab al-Kahfi, demikian pula dalam kitab-kitab hadis tentang akan turunnya kembali 'Isa ibn Maryarn ke dunia di akhir zaman, sering dijadikan sebagai landasan 'aqidah ar-raj'ah yang kemudian diformulasikan sebagai doktrin Mahdiisme. Disamping itu, usaha-usaha penyebaran hadis-hadis Mahdiyyah oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dibiarkan saja oleh tokoh-tokoh Syi'ah, Umayyah dan 'Abbasiyyah yang mengetahuinya. Karena masing-masing pihak merasa mendapat keuntungan darinya Sikap masa bodoh terhadap orang-orang yang membuat hadis Mahdiyyah ini, oleh Ahmad Amin diistilahkan sebagai persekongkolan yang keji yang dapat merusak pikiran orang banyak.[13] Kelompok Islam tertentu yang tidak berkepentingan dengan hadis-hadis Mahdiyyah, ternyata mengingkari paham Mahdi dan 'aqidah ar-raj'ah seperti: Golongan Muktazilah, Khawarij, dan Syi'ah Zaidiyyah.

 

Tidak kalah hebatnya pengaruh dan peranan sementara kaum Sufi [14] yang telah menyerap paham Mahdi dan memasukkannya ke dalam doktrin esoteris serta mereka gubah dalam bentuk syair, dan pada golongan awam yang telah mereka tenggelamkan kedalam kehidupan penuh khayalan sehingga dapat merusak akidah dan menjadikan mereka statis dalam menghadapi kenyataan hidup, apa lagi dalam menegakkan hukum dan kebenaran. Oleh sebab itu, Fazlur Rahman menegaskan bahwa sebenarnya paham Mahdi di kalangan Islam Sunni, pada dasarnya adalah bersumber pada doktrin Imamah Syi'ah yang didesakkan oleh kaum Sufisme.[15] Dengan demikian, tidaklah mustahil paham kemahdian Islam Sunni ini bermula lewat hadis-hadis Mahdiyyah yang diriwayatkan oleh golongan Sunni sendiri yang kurang selektif terhadap perkembangan sejarah perjuangan politik kaum Syi'ah di satu pihak, dan kegiatan kaum Sufi di pihak lain, dalam memasyarakatkan paham Mahdiyyah tersebut.

 

Kedua, adalah faktor ekstern. Sikap keterbukaan kaum Syi'ah menerima ide-ide dan keyakinan non-Islam, sangat memudahkan penetrasi akidah atau kepercayaan mesianistis dan millenaristis yang bersumber dari pengikut-pengikut ajaran Yahudi dan Nasrani, lewat tokoh-tokohnya yang berpura-pura mencintai Ahlul-Bait.

 

Sebagaimana diketahui, keyakinan seperti disebut terakhir ini, sudah muncul dan berkembang sejak ribuan tahun sebelum Masehi, terutama di kalangan masyarakat Yahudi, sesudah kerajaan mereka dihancurkan oleh bangsa lain. Kemudian mereka menginginkan kembalinya kejayaan mereka, melalui seorang Juru Selamat atau Mesiah.[16] Tokoh ini, menurutkepercayaan mereka ada pula yang berkeyakinan, bahwa dia akan muncul secara supernatural dari seorang wanita. Akan tetapi, sesudah Nabi 'Isa dilahirkan dan terutama sesudah dia diangkat menjadi nabi, banyak kaumnya mengharap agar dia bisa memainkan peranan sebagai al-Masih untuk membebaskan mereka dari penindasan bangsa lain, kalau perlu dengan kekerasan. Akan tetapi, Nabi 'Isa menolak, sebab tugasnya adalah menyelamatkan domba-domba Israil dari kemerosotan rohaniah.[17]

 

Keyakinan tentang akan kembalinya orang yang telah mati ('aqidah ar-raj'ah), dalam kaitan ini Ahmad Amin menyebutkan bahwa keyakinan tersebut, mula-mula dihembuskan oleh Ibn Saba' di tengah-tengah ummat Islam, sewaktu Khalifah 'Ali terbunuh, dengan kelihaiannya ia dapat menarik simpati ummat Islam yang masih awam, ia menyatakan:

 

"Seandainya kalian membawa otak 'Ali seribu kali kepada kami, kami tidak akan membenarkan kematiannya. Dia tidak akan mati sehingga ia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana dipenuhinya bumi ini oleh kecurangan."[18]

 

Bagian akhir dari pernyataan tersebut, kalimatnya sama dengan sebagian besar teks hadis-hadis Mahdiyyah. Kalimat di atas, mengisyaratkan kepada kita, perlu diragukannya keotentikan hadis-hadis Mahdiyyah yang senada dengan pernyataan Ibn Saba' di atas. Akan tetapi, justru hadis-hadis Mahdiyyah semacam itu, sering dijadikan dalil oleh sementara ummat Islam untuk membenarkan mitos al-Mahdi sang Juru Selamat.

 

Berbeda dengan terbentuknya paham kemahdian Ahmadiyah, Mahdiisme Ahmadiyah ini, bermula dari penemuan Mirza Ghulam Ahmad tentang makam Yus Asaf di sebuah desa bernama Mohalla Khan Yar, di kota Srinagar, Kashmir. Makam itu diyakininya sebagai makam Nabi 'Isa, oleh karenanya Abu Zahrah menyatakan:

 

"Dan sungguh Ghulam Ahmad ini, sesudah ia menemukan sebuah kuburan di Srinagar dekat Kashmir ... Dan sungguh ia telah mengarahkan (kegiatannya) mengajak kepada agama baru ..."

 

Selanjutnya dinyatakan: "... sungguh dengan ditemukannya kuburan al-Masih ini, ruh dan kekuatan al-Masih melebur kedalam dirinya, dan mengaku bahwa dirinya adalah al-Mahdi al-Muntazar..."[19]

 

Reinkarnasi yang bersumber dari ajaran Hindu yang diambil alih oleh beberapa sekte Syi'ah ekstrem, tampaknya juga mewarnai akidah Mahdiyyah di kalangan Ahmadiyah. Selain itu, interpretasi kaum Sufi tentang keberadaan al-Mahdi, mengisyaratkan akan lahirnya seorang tokoh pembaharu untuk menegakkan hukum-hukum agama dan kebenaran demikian Ibn Khaldun,[20] juga mewarnai paham Mahdi Ahmadiyah. Kiranya memang agak sulit untuk dikatakan, bahwa paham Ahmadiyah itu, dipengaruhi oleh aliran tertentu dalam Islam atau yang non-Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akan tetapi, jika dilihat dari unsurnya yang beragam, tampaknya paham kemahdian aliran ini, lebih menunjukkan paham kemahdian yang sinkretis.

 

Dari uraian di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa kepercayaan yang bersifat Mesianistis atau Millenaristis, tampaknya sudah muncul sejak lama dan pemunculannya kembali ditengah-tengah masyarakat yang tertindas akibat kezaliman penguasa, mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Gejala umum yang tampak, yaitu diawali dengan munculnya protes-protes sosial yang dibarengi dengan harapan-harapan akan datangnya seorang tokoh legendaris yang akan membawa kesejahteraan dan ketenteraman dalam Islam, tokoh tersebut dikenal dengan Imam Mahdi, Messiah dalam agama Nasrani danYahudi, Ratu Adil dalam budaya Jawa, dan Uri di kalangan orang primitif di Irian. Atas dasar kenyataan sejarah seperti di atas, rupanya para cendekiawan Muslim yang berwawasan luas sulit menerima paham Mahdi yang bersifat eskatologis ini.

 

Sebagaimana telah diuraikan dalam bab-bab terdahulu, kiranya dapat dibedakan secara jelas antara gerakan Mahdi Syi'ah dengan gerakan Mahdi Ahmadiyah. Apabila gerakan Mahdi Syi'ah berangkat dari keinginan untuk mengangkat derajat rakyat tertindas dan membawanya pada kondisi yang lebih baik, sebagai akibat kezaliman dan kecurangan penguasa, maka jalan yang ingin ditempuhnya adalah dengan merebut kekuasaan politik, atau dengan jalan kekerasan. Dengan kekuatan dan kekuasaanlah al-Mahdi akan memberantas segala macam kecurangan dan ketidakadilan. Dengan demikian, jalan yang ditempuhnya dalam merealisasikan ide kemahdiannya adalah dengan jalan melalui dari atas, dan di sini al-Mahdi dilambangkan dengan al-Qa'im (yang bangkit untuk menumpas pemerintahan yang zalim).

 

Adapun gerakan Ma'ndi Ahmadiyah yang bertolak dari keinginan untuk membangun ummat yang telah rusak dan terbelakang, dan ingin mengembalikan Islam dan ummat pemeluknya pada kejayaaannya, maka dalam hal ini, al-Mahdi berkeyakinan, bahwa ummat Islam harus dapat memahami Islam secara aktual. Untuk itu, mereka harus menerima pembaharuan yang dimajukan oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai tokoh al-Mahdi dan sekaligus sebagai al-Masih. Menurut pendapatnya, Islam dan ummat Islam akan maju, apabila mereka mau melaksanakan ajaran yang diterimanya dari Tuhan yang berupa ilham atau yang dikenal dengan wahyu walayah guna melaksanakan ajaran al-Quran sesuai dengan tuntutan zamannya. Oleh karena itu, al-Mahdi al-Ma'hud yang mengaku juga sebagai al-Masih dan Krishna, ingin menghimpun pemeluk-pemeluk agama Nasrani dan Hindu ke dalam Islam tanpa menggunakan kekerasan. Dengan demikian, jalan yang ditempuh oleh gerakan Mahdi Ahmadiyah ini adalah dengan menempuh jalan dari bawah, yaitu dengan mengefektifkan dakwah Islam, terutama lewat tulisan-tulisan, untuk menunjukkan kebenaran Islam terhadap pandangan mereka non-Muslim yang keliru. Oleh karena itu, al-Mahdi berusaha sebagai pendamai di antara ummat yang berselisih, di sinilah ia dilambangkan sebagai Hakim Pengislah (Juru pendamai di antara pihak-pihak yang sedang berselisih).

 

Catatan Kaki :

 

1.Duhal-Islam III, op. Cit., hlm. 236.[back]
2.Ibid.[back]
3.Donaldson, op. Cit., hlm. 231.[back]
4.H.M. Arsyad Thalib Lubis, Imam Mahdi, (Medan: Firma Islamiyah, 1967), hlm. 36, et. Seq.[back]
5.Ibn Khaldun, op. cit., hlm. 312-3, 322.[back]
6.Al-Maududi, op. cit., hlm. 159-60.[back]
7.Ibid., hlm. 159-160.[back]
8.H.M. Arsyad Thalib Lubis, op. cit., hlm. 36.[back]
9.Duhal-Islam III, op. cit., hlm. 241-2.[back]
10.W. Montgomery Watt, The Majesty That was Islam, (London: Sidgwick & Jackson, 1974), hlm. 170; Syah 'Abdul-'Aziz Gulam Hakim ad-Dihlawi, Mukhtasarut-Tuhfah al-Isna Asyariyyah, ed . Muhammad Syukri al-Alusi (Istanbul: Isik Kitabevi, 1980), hlm. 199.[back]
11.Ibid., hlm. 170-1.[back]
12.Fazlur Rahrnan, op. cit., hlm. 172.[back]
13.Duhal-Isram III, op. cit., hlm. 243.[back]
14.Kaum Sufi yang dimaksud disini ialah mereka yang pernah bergabung dengan Syi'ah Isma'iliyyah yang terkemudian mengajarkan tentang al-qatb dan abdal.[back]
15.Fazlur Rahman, op. cit., hlm. 179.[back]
16.Kata "Mesiah" berasal dari bahasa Ibrani "Mashiat," dalam bahasa Arab disebut al-Masih, yang berarti seorang yang diusap dengan minyak kesturi. Demikian pula kata tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin menjadi "Christos," yang selanjutnya dikenal dengan Juru Selamat sebagai yang dikenal sekarang.[back]
17.H.M. Rasyidi, "Imam Mahdi dan Harapan Akan Keadilan," Prisma VI, (Januari, 1977), hlm. 45.[back]
18.Fajrul-Islam, op. cit., hlm. 250-1.[back]
19.Muhammad Abu Zahrah, op. cit., hlm. 250-1.[back]
20.Ibnu Khaldun, op. cit., hlm. 327.[back]