Faham Mahdi Dalam Perspektif Rasional

Top  Previous  Next

Aspek Landasan Idiil Mahdiisme

 

Sebagai diketahui paham Mahdi muncul, adalah akibat kegagalan kaum Syi'ah berperan di bidang politik. Memang benar, paham ini telah dikenal secara luas di kalangan ummat Islam, namun pengenalan mereka tidak ditunjang oleh pengetahuan yang luas dan obyektif. Mereka kurang memahami proses terbentuknya paham tersebut, dan pada umumnya mereka mengenal paham Mahdi hanyalah lewat kitab-kitab hadis yang memuat hadis-hadis Mahdiyyah. Ummat Islam mengenal paham ini, sangat boleh jadi sesudah tersebarnya hadis-hadis Mahdiyyah secara intensif dalam berbagai versinya. Para ahli hadis yang meriwayatkannya, menurut penuturan sosiolog Muslim kenamaan, Ibn Kaldun dalam Muqaddimah-nya, seperti Imam Tirmizi, Abu Dawud, Ibn Majah, al-Hakim, Imam Tabrani dan Abu Ya'la. Mereka itu menyandarkan hadis-hadis pada sekelompok sahabat Nabi seperti: 'Ali, Ibn 'Abbas, Ibn 'Umar, Talhah, Ibn Mas'ud, Abu Hurairah, Anas Ibn Malik, Abu Sa'id al-Khudri, Ummu Habibah, Ummu Salamah, Sauban ibn Iyas, 'Ali al-Hilaliy, dan Abdullah Ibn Haris. Selanjutnya Ibn Khaldun menyatakan:

 

"Apabila pada tokoh-tokoh (orang yang menjadi) sanad (sandaran) hadis-hadis Mahdiyyah, terdapat cacat karena ia pelupa atau jelek hafalannya, lemah atau mungkin jelek pandangan (paham)-nya, kemudian mereka (para ahli hadis tersebut) mencari jalan lain untuk menyahihkan hadis Mahdiyyah atau menilainya di bawah derajat hadis sahih ..."[1]

 

Dalam kaitan ini al-Maududi dalam bukunya [kata-kata Arab] mengelompokkan hadis-hadis Mahdiyyah menjadi dua bagian: Pertama, hadis-hadis Mahdiyyah yang secara jelas menyebutkan nama "Mahdi." Kedua, hadis-hadis Mahdiyyah yang tidak menyebutkannya secara tegas. Akan tetapi, mengenai asal-usul keturunan al-Mahdi tersebut, terdapat banyak sekali riwayat yang kontroversial.[2] Sebagian riwayat-riwayat itu, demikian al-Maududi, bahwa al-Mahdi itu adalah keturunan 'Ali dengan Fatimah puteri Rasulullah. Ada pula riwayat yang menyatakan, al-Mahdi itu berasal dari keluarga 'Abbas bahkan meluas sampai pada keturunan 'Abdul-Muttalib (kakek Rasulullah). Sementara riwayat lain lagi memberitakan bahwa tokoh (al-Mahdi) yang ditunggu-tunggu itu berasal dari suatu kampung yang bernama "Kara'ah," atau "Kadi'ah," atau "Karimah." Golongan Ahmadiyah memandang nama kampung tersebut di atas adalah kampung kelahiran al-Mahdi al-Ma'hud (Mirza Ghulam Ahmad), artinya, bahwa tokoh al-Mahdi itu dilahirkan di luar kota Mekkah dan Madinah.

 

Pernyataan hadis-hadis Mahdiyyah yang kontroversial seperti itu menunjukkan banyaknya motif yang timbul dari berbagai kelompok Muslim yang sedang bersaing dan berlomba merebut pengaruh, dengan menyebarkan berita-berita akan munculnya seorang tokoh al-Mahdi atau Juru Selamat, sesuai dengan kepentingan dan tujuan masing-masing. Tokoh itulah yang diisukan sebagai orang yang akan membebaskan mereka dari tindakan kezaliman dan penindasan dari lawan-lawan politiknya. Seandainya kepemimpinan seorang khalifah yang berwibawa, adil, memiliki kesanggupan berkorban, dan selalu berorientasi kepada kepentingan rakyat banyak dan melindungi mereka dari berbagai macam ancaman bahaya, sebagaimana pernah dilakukan oleh kedua Khalifah Abu Bakr dan 'Umar, sehingga kestabilan politik, ekonomi, dan keamanan tetap terjamin, kesatuan dan persatuan ummat Islam dapat dipertahankan, tentulah paham Mahdi atau Mahdiisme tidak akan muncul secepat itu. Dimana kemunculan paham ini didorong oleh timbulnya keresahan dan kerawanan dalam berbagai bidang kemasyarakatan yang mengakibatkan terjadinya protes-protes sosial yang sulit dihindarkan. Dalam situasi yang demikian itulah timbul keinginan masyarakat luas yang mendambakan sosok pimpinan yang dapat mengayomi kepentingan dan ketenteraman mereka, dari berbagai tindakan kesewenang-wenangan oleh para penguasa yang sedang memerintah.

 

Dengan demikian landasan ideal paham Mahdi tersebut bukanlah didasarkan atas kepentingan agama tetapi, pada mulanya, lebih bersifat politis. Kemudian para pendukung paham ini sedikit demi sedikit membalut kepentingan politik tersebut dengan kepentingan yang bersifat keagamaan, dan barulah kemudian bermunculan hadis-hadis Mahdiyyah dalam berbagai versinya. Dan pada akhirnya tampaklah paham Mahdi ini sebagai paham keagamaan, apalagi sesudah banyak diantara hadis-hadis Mahdiyyah ini secara kurang selektif dimuat dalam kitab-kitab Sunan. Mengapa sampai terjadi yang demikian? Barangkali salah satu faktor penting yang perlu dicatat adalah, bahwa agama merupakan alat paling ampuh untuk meyakinkan masyarakat luas terhadap ide-ide kemahdian. Yang dikaji adalah bahwa teks-teks hadis Mahdiyyah pada umumnya identik dengan teks bagian akhir pernyataan Ibn Saba', yang tidak mempercayai kematian 'Ali ibn Abi Talib, sewaktu berita itu sampai ke telinganya.

 

Hadis Mahdiyyah Dan Identitas Kelompok

 

Dari fenomena tersebut di atas munculah dalam gerakan politik Syi'ah pengkultusan pribadi 'Ali ibn Abi Talib dan keturunannya. Karena sikap pengkultusan ini, penulis Barat seperti Dozy menilai kaum Syi'ah dalam berbagai tradisinya banyak dipengaruhi oleh budaya Persia, dimana rakyat memandang raja memiliki hak-hak istimewa yang harus dipatuhi dan diikuti seperti halnya Tuhan. Demikian pula golongan Syi'ah memandang 'Ali dan keturunannya atau imam-imam mereka sebagai memiliki kema'suman (suci dari dosa), sehingga ketundukan mereka kepada seorang imam tidak jauh berbeda dengan ketundukan mereka kepada seorang rasul.

 

Dalam hubungan ini Ihsan Ilahi Zahir, berkesimpulan bahwa sikap pengkultusan kaum Syi'ah terhadap imam-imam mereka, bermula sejak masuknya unsur-unsur Yahudi, Nasrani, dan Majusi (agama Persia kuno) ke dalam Islam. Akan tetapi, unsur yang paling dominan dalam tradisi Syi'ah tersebut adalah unsur kepersiaan, terutama dalam pengkultusan mereka terhadap para imam.[3]

 

Fenomena tersebut, tampaknya juga mewarnai hadis-hadis Mahdiyyah, di mana dinyatakan bahwa pasti ada diantara keturunan 'Ali atau Ahlul-Bait yang akan bangkit untuk menegakkan kembali kejayaan Islam, setelah mereka mengalami kekalahan yang serius, terutama untuk menegakkan keadilan dan membasmi kejahatan. Dengan demikian, wajarlah apabila kaum Syi'ah sangat mendambakan hadirnya seorang Juru Selamat yang dapat membebaskan mereka dari berbagai kezaliman dan dapat mempertahankan eksistensinya sebagai penguasa tunggal di dunia Islam. Di kalangan Syi'ah Iran umpamanya, dalam paham kemahdiannya, nampak diwarnai oleh perasaan dendam dan cemburu terhadap penguasa Arab, sehingga tidak mustahil antar kedua bangsa itu akan selalu timbul perselisihan yang diikuti dengan tindak kekerasan dan reaksioner.

 

Perasaan tersebut sangat boleh jadi dipengaruhi oleh sejarah bangsa itu (Iran) sendiri. Di satu pihak, mereka mencapai puncak kejayaan dan merasa sebagai bangsa nomor satu di dunia, akan tetapi di pihak lain, mereka juga pernah dikalahkan bangsa Arab (tentara Islam di bawah pimpinan Khalifah 'Umar ibn Khattab). Tentunya oleh Khalifah, mereka yang telah memeluk Islam, diperlakukan sama dengan Muslim lainnya tanpa dibeda-bedakan satu dengan yang lain. Barangkali saja bangsa Iran ini dianggap sebagai bangsa asing atau 'Ajam, sehingga karenanya kedudukan mereka disejajarkan dengan kedudukan kaum mawali (bekas budak) atau sebagai masyarakat kelas dua. Dengan demikian, perlakuan dinasti Umayyah terhadap bangsa Persia yang bertentangan dengan semangat ukhuwwah Islamiyyah yang diajarkan oleh Nabi, tampaknya merupakan faktor yang mendorong timbulnya rasa dendam bangsa Persia terhadap bangsa Arab hingga sekarang.

 

Disamping itu, perkawinan antara puteri Yazdajir III dengan Husain, cucu Rasulullah, juga merupakan faktor tersendiri yang mendorong sebagian besar di antara mereka lebih cenderung menjadi pengikut Syi'ah yang menginginkan hak legitimasi kekhilafahan berada di tangan keturunan 'Ali dengan Fatimah. Oleh karena itu, lepasnya jabatan khalifah dari tangan Ahlul-Bait ke tangan pihak lain dipandang sebagai penyerobotan hak-hak Ahlul-Bait. Itulah sebabnya mereka ingin menjatuhkan dinasti Umayyah dengan jalan kekerasan walaupun, karena kokohnya kekuasaan Umayyah, mereka selalu gagal dan bahkan mereka selalu mendapat tekanan, baik di masa Umayyah maupun 'Abbasiyyah. Karena penderitaan yang berkepanjangan inilah, mereka sangat mengharapkan kehadiran al-Mahdi al-Muntazar untuk membalas dendam mereka.

 

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa faktor yang membentuk kefanatikan Syi'ah Iran terhadap paham Mahdi agak berbeda dengan paham Mahdi Syi'ah lainnya. Dampak dari paham Mahdi Syi'ah Iran tersebut terlihat nyata dalam sikap politik bangsa itu sampai hari ini, terutama sesudah Ayatullah Khumaini berkuasa di Iran.

 

Rupanya paham Mahdi ini tidak hanya menjadi milik golongan Syi'ah saja, tetapi di kalangan Sunni pun dikenal paham tersebut. Di masa Dinasti Umayyah, terutama di masa-masa kemundurannya, muncul pula paham seperti itu, namun tokohnya bukanlah al-Mahdi, tetapi Sufyani. Demikian pula halnya di kalangan dinasti 'Abbasiyyah. Mereka menunggu-nunggu munculnya al-Mahdi lain dari keturunan 'Abbas. Timbulnya harapan seperti itu, tidak lain karena mereka menginginkan kembalinya kejayaan mereka yang telah silam. Oleh karena dinasti terakhir ini menggunakan bendera hitam sebagai lambang kemenangannya, maka ciri seperti ini juga muncul dalam hadis-hadis Mahdiyyah yang mereka pegangi.

 

Ada riwayat yang menyatakan, bahwa pada suatu saat nanti akan lahir sekelompok manusia yang datang dari arah timur (Khurasan) berbendera hitam dengan membawa kemenangan. Bahkan ada riwayat lain yang secara jelas menyebutkan bahwa mereka berperang melawan putera Abu Sufyan dari dinasti Umayyah dan para pendukungnya. Sebagaimana diketahui dalam sejarah Islam, warna hitam merupakan lambang kejayaan pasukan 'Abbasiyyah yang dipimpin oleh Salman al-Farisi dari Khurasan. Dengan demikian, nyata sekali kepalsuan hadis Mahdiyyah tersebut. Kenyataan seperti itu tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh golongan Umayyah.

 

Dalam penyebaran paham Mahdi tersebut, rupanya mereka juga tidak ketinggalan untuk membuat hadis-hadis palsu sebagaimana dilakukan oleh golongan Syi'ah, agar paham Mahdi yang mereka jadikan sebagai landasan ideal perjuangan politiknya dapat diterima oleh masyarakat luas dan dapat memotivasi mereka untuk menjadi pendukung ide perjuangannya.

 

Dalam penuturan Ahmad Amin, pembuat hadis Mahdiyyah untuk golongan Umayyah adalah Khalid ibn Yazid ibn Mu'awiyah.[4] Selanjutnya ditegaskan, bahwa kepandaian membuat hadis-hadis Mahdiyyah tersebut ialah dengan cara meninggalkan teks-teks hadis yang dapat dipakai oleh siapa saja dan untuk masa kapan saja. Apabila yang menang itu golongan 'Ali atau golongan 'Abbasiyyah umpamanya, maka hadis-hadis Mahdiyyah tersebut dapat mereka pergunakan untuk kepentingan mereka.[5] Penggunaan nama "Sufyani" sebagai nama tokoh yang ditunggu-tunggu oleh golongan Mu'awiyah seperti halnya al-Mahdi yang ditunggu-tunggu oleh kaum Syi'ah, mungkin sekali diambil dari nama salah seorang tokoh putera Umayyah, yaitu Abu Sufyan, dan karena itu nama "Sufyani" sekaligus menjadi identitas golongan ini.

 

Jika hadis-hadis Mahdiyyah yang dipegangi oleh golongan Syi'ah itu menunjukkan, bahwa kedudukan Mahdi diunggulkan sehingga ia narnpak lebih tinggi daripada kedudukan 'Isa al-Masih, maka tidak tertutup kemungkinan ada kelompok lain yang kurang sependapat dengan cara-cara Syi'ah tersebut, dan mencobanya untuk menyejajarkan kedudukan 'Isa al-Masih dengan al-Mahdi, bahkan mengidentikkannya. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibuatlah hadis-hadis Mahdiyyah versi lain, seperti hadis yang dijadikan pegangan golongan Ahmadiyyah:

 

"Tidak ada Mahdi selain 'Isa ibn Maryam."

 

Dalam hubungan ini, Ibn Khaldun sebagai sosiolog Muslim, mencoba mengomentari hadis Mahdiyyah diatas, yang diriwayatkan oleh Muhammad ibn Khalid. Perawi ini, menurut penilaian al-Hakim dan al-Baihaqi, adalah orang yang tidak diketahui identitasnya (majhul) sebagai Ahli hadis dan sebagai orang yang boleh meriwayatkan hadis.[6] Bahkan seorang Ahli hadis, Sayyid Ahmad, menilai hadis tersebut sebagai palsu dan tidak berdasar.

 

Selanjutnya dijelaskan bahwa hadis diatas, oleh sementara orang diinterpretasikan: [kata-kata Arab] artinya,

 

"tidak seorang (bayi) pun dalam ayunan yang dapat berbicara, selain 'Isa ibn Maryam."

 

Sedangkan Ibn Abi Wasil menafsirkan demikian:

 

"Tidak ada Mahdi yang petunjuknya serupa dengan petunjuk 'Isa Ibn Maryam."

 

Senada dengan hadis Mahdiyyah diatas, Imam Ahmad meriwayatkan sebagai berikut:

 

"Hampir tibalah saatnya orang yang hidup diantara kalian, akan dapat menjumpai 'Isa ibn Maryam sebagai Imam Mahdi dan sebagai hakim yang adil." (HR. Ahmad).

 

Hadis ini secara tegas menyamakan antara Mahdi dan 'Isa al-Masih sebagai satu pribadi. Yang menjadi pertanyaan, apakah kehadiran kembali 'Isa al-Masih di dunia ini melalui proses reinkarnasi sebagaimana diyakini oleh golongan Ahmadiyah ataukah tidak? Untuk menjawab pertanyaan di atas, al-Maududi menjelaskan:

 

"Bahwa kehadiran 'Isa yang kedua kalinya tidaklah melalui proses kelahiran kembali, yang jelas dipergunakan term nuzul' atau turun. Dan kehadirannya bukan sebagai nabi yang mendapatkan wahyu. Ia tidak membawa Syari'at baru dan tidak menambah atau mengurangi Syari'at Nabi Muhammad. Dia pun tidak mengadakan pembaharuan atau membentuk sekte baru, serta tidak mengajak manusia untuk beriman kepadanya. Kehadirannya yang kedua ini hanya untuk tujuan tertentu, yaitu memberantas fitnah Dajjal."[7]

 

Penegasan al-Maududi ini, hanyalah mewakili paham Sunni pada umumnya, tentang 'Isa al-Masih. Namun penegasan tersebut juga mengundang timbulnya pertanyaan baru, yaitu: Apakah selama ini 'Isa a.s., masih hidup di alam malaikat, di alam jin, atau di alam ruh lainnya? Jika ia membenarkan alternatif yang terakhir, bahwa 'Isa bisa hidup di alam ruh, maka akan timbul lagi pertanyaan berikutnya. Apakah dia manusia setengah malaikat, manusia setengah jin, ataukah manusia sebenarnya yang dapat hidup di alam ruh dan terlepas dari hukum alam yang berlaku bagi manusia lainnya? Barangkali pertanyaan terakhir ini, sekaligus merupakan kunci jawaban golongan Sunni dengan disertai interpretasi intuitif, serta mengembalikan persoalan tersebut kepada Masyi'atullah atau kehendak mutlak Tuhan, sebagaimana kepercayaan mereka terhadap Khidir yang pernah hidup semasa dengan Nabi Musa. Masalah tersebut (turunnya 'Isa a s.), menurut Dr. Ahmad asy-Syirbashi, telah menjadi perdebatan diantara para ulama baik dulu maupun sekarang. Selanjutnya ia menambahkan, bahwa para ulama pada umumnya memandang masalah tersebut bukan merupakan keyakinan pokok, karena tidak ada dasarnya yang mutawatir (otentik) sehingga tidak perlu diperdebatkan.[8]

 

Disamping itu perlu dicatat, bahwa hadis sahih hanyalah menghasilkan zan (dugaan) yang tidak bisa dijadikan sebagai dalil dalam masalah keyakinan. Apalagi masalah turunnya 'Isa al-Masih ini sudah menjadi kepercayaan kaum Yahudi dan Nasrani, dan al-Quran tidak menyinggungnya sedikitpun. Al-Quran hanya menegaskan:

 

"Sungguh Aku (Allah akan mematikan kamu ('Isa) dan mengangkatmu kepada-Ku ..." (S. Al-Ahzab: 55)

 

Ayat diatas memberi petunjuk kepada kita bahwa Nabi 'Isa termasuk makhluk Allah yang mengalami proses kematian sesuai dengan Sunnatullah (hukum alam) yang berlaku untuk setiap ciptaan-Nya, sebagaimana yang dialami oleh manusia lainnya.[9]

 

Oleh sebab itu, informasi akan kehadiran 'Isa al-Masih, sebagaimana dinyatakan dalam hadis Bukhari dan Muslim, untuk kedua kalinya masuk akal, apabila informasi tersebut diinterpretasikan sebagai lambang kebangkitan Islam di abad modern setelah manusia kehilangan makna spiritual dalam hidupnya. Dengan demikian kerancuan atau kesimpangsiuran hadis-hadis Mahdiyyah, jelas menunjukkan kepalsuan hadis tersebut. Dalam hubungan ini perlu dikemukakan beberapa pendapat para 'ulama' dan cendekiawan Muslim tentang hal tersebut.

 

Beberapa  Pendapat Tentang Hadis-Hadis Mahdiyyah Sebagai Hadis Palsu

 

Pertama, pendapat Syaikh Muhammad Darwisy, yang mengatakan dalam bukunya Asna'ul-Matalib:

 

"Hadis-hadis Mahdiyyah semuanya adalah lemah, tidak ada yang dapat dijadikan pegangan, dan seorang tidak boleh terkecoh oleh orang yang (berusaha) mengumpulkannya dalam berbagai karyanya."

 

Kedua, pendapat Sayyid Ahmad, seorang ahli hadis, dalam bukunya Ibrazul-Wahmil-Ma'mun, terutama mengenai hadis Mahdiyyah yang dipegangi oleh golongan Ahmadiyah:

 

"Sungguh hadis Mahdiyyah ini, bukanlah hadis da'if (lemah) sebagai yang dikatakan oleh si pengeritik hadis (Ibn Khaldun) dan sekalipun (pengeritik) lain mengatakan yang demikian itu, bahkan hadis itu batal, palsu dan dibuat-buat, tidak ada dasarnya hadis itu dari ucapan Nabi SAW., juga bukan ucapan Anas Ibn Malik, ataupun ucapan Hasan al-Basri."[10]

 

Ketiga, pendapat Muhammad Farid Wajdi dalam karya besarnya, Da'iratul-Ma'arif al-Qarnil-'Isyrin, menyatakan:

 

"Maka sesungguhnya di dalam hadis-hadis Mahdiyyah itu, tergolong (pernyataan) yang keterlaluan, dan merupakan pukulan keras bagi sejarah, serta sangat berlebih-lebihan, tidak memahami pelbagai persoalan manusia, dan jauh dari sunnatullah (hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan untuk semua ciptaanNya), yang dikenal oleh manusia. Pada mulanya pembaca tidak merasa, bahwa hadis-hadis Mahdiyyah itu adalah hadis-hadis palsu yang sengaja dibuat oleh tokoh-tokoh yang sesat, atau oleh para pendukung ('Ali) untuk sebagian ahli propagandisnya yang menuntut kekhilafahan di Arabia atau di Magrib (Afrika)."[11]

 

Selain itu, Ahmad Amin juga berpendapat, bahwa hadis-hadis Mahdiyyah itu merupakan hadis yang mengandung cerita bohong, sebab dalam kisah kehidupan al-Mahdi telah dipenuhi dengan cerita yang aneh-aneh dan kabar gaib tentang peristiwa zamannya. Disamping itu, terdapat juga apa yang disebut al-Jafr yaitu ilmu ramalan yang ditulis pada kulit lembu, tentang apa yang akan dialami oleh Ahlul-Bait, dan menurut kaum Syi'ah, ramalan tersebut diriwayatkan dari Ja'far as-S-adiq.[12] Berita-berita aneh semacam itu, banyak juga terdapat dalam kitab yang disebut kitab al-Malahim yang dimiliki oleh sebagian ummat Islam. Anehnya berita-berita semacam itu oleh pengarangnya dijadikan sebagai hadis, dan menghubungkannya dengan Rasulullah. Sebagian lagi dihubungkan dengan Ahlul-Bait. Dan sebagian yang lain menghubungkannya dengan Ka'ab al-Akbar dan Wahb ibn Munabbah.

 

Demikianlah pendapat sementara para sarjana Muslim. Tampaknya mereka meneliti dan melihat dengan jeli hadis-hadis Mahdiyyah itu, tidak hanya dari aspek 'ulumul-hadis atau ilmuilmu hadis, akan tetapi juga menghubungkannya dengan aspek-aspek sejarah yang obyektif, terutama sejarah ummat Islam itu sendiri. Dengan cara seperti ini, seorang akan lebih selamat dan tidak mudah terjebak ke dalam paham-paham yang keliru dan sesat. Hadis-hadis Mahdiyyah yang kontroversial itu, rupanya merupakan akibat dari terjadinya persaingan ketat antara kelompok-kelompok Muslim yang sedang berselisih pada saat itu untuk merebut pengaruh yang lebih luas di bidang politik. Kecenderungan politik yang didasari dengan paham agama, tampaknya mendorong terciptanya paham keagamaan yang bermacam-macam Di saat seperti itulah masing-masing pihak membuat hadis-hadis palsu tentang al-Mahdi dengan berbagai versinya.

 

Cacatan Kaki :

 

1.'Ibn Khaldun, op. cit.,hlm. 311-2.[back]
2.Al-Maudidi, op. cit., hlm. 159-60.[back]
3.Ihsan Ilahi Zahir, op. cit., hlm. 401.[back]
4.Duhal-Islam III, op. cit., hlm. 238.[back]
5.Ibid., Hlm. 219.[back]
6.Ibn Khaldun, op. cit., hlm. 322.[back]
7.al-Maududi, op. cit., hlm. 216-7.[back]
8.Ahmad asy-Syirbasyi, Yas'alunaka fid-Din wal-Hayah, (Beirut: Darul-Jail, tt.), hlm. 514.[back]
9.Bandingkan dengan Ahmad asy-Syirbasyi, ibid., hlm. 513.[back]
10.M. Arsyad Thalib Lubis, op. cit., hlm. 35 dan 45.[back]
11.Muhammad Farid Wajdi Da'iratul-Maarifil-Qarnil-'Isyrin, (Beirut, Libanon: Darul-Ma'rifah lit-Tiba'ah wan-Nasyr, 1971), hlm. 480.[back]
12.Duhal-Islam III, op. cit., hlm. 243.[back]