Faham Mahdi Dalam Perspektif Rasional

Top  Previous  Next

Beberapa Interpretasi Tentang Al-Mahdi

 

Perbedaan pendapat mengenai tokoh Mahdi sebagaimana digambarkan oleh para pengikut paham (Mahdi) tersebut, menunjukkan adanya bermacam-macam penafsiran mengenai sifat dan sikap kepemimpinan tokoh al-Mahdi. Kaum Syi'ah pada umumnya menilainya sebagai pemimpin otoriter yang memiliki hak-hak istimewa, kejam, dan ingin membalas dendam kepada lawan-lawan politiknya. Bahkan Syi'ah Imamiyyah dan sebagian diantara golongan Syi'ah Rafidah berkeyakinan bahwa tiga orang khalifah (Abu Bakr, 'Umar, dan 'Usman), Mu'awiyah, Yazid, Marwan, Ibn Ziyad, dan lain sebagainya, serta semua pembunuh para Imam Syi'ah, akan dibangkitkan kembali untuk diadili oleh Imam Mahdi dan disiksanya sebelum munculnya Dajjal. Kemudian mereka dimatikan lagi dan akan dibangkitkan untuk kedua kalinya di hari kiamat. Selanjutnya dijelaskan oleh Syarif Murtada, bahwa Abu Bakr dan 'Umar akan disalib pada sebuah pohon oleh al-Mahdi.[13]

 

Selain interpretasi tentang al-Mahdi yang otoriter ini, tidak kalah pentingnya untuk dikemukakan di sini, interpretasi kaum Sufi (Syi'ah) yang bertolak dari pemahaman mereka mengenai hadis [kata-kata Arab].

 

Semula hadis ini ditafsirkan bahwa tidak ada Mahdi selain Mahdi yang ada hubungannya dengan Syari'at Nabi Muhammad, sebagaimana halnya hubungan 'Isa a.s., dengan Syari'at Nabi Musa. Kemudian penafsiran ini mengalami perubahan dan penafsiran baru bahwa hal itu mengisyaratkan akan munculnya seorang laki-laki yang akan membawa pembaharuan terhadap hukum-hukum Islam dan akan menegakkan kebenaran. Diantara kaum Sufi tersebut berpendapat bahwa al-Mahdi itu adalah keturunan Fatimah dengan 'Ali, dan ada pula yang berpendapat bahwa al-Mahdi itu bisa dari keturunan siapa saja.[14]

 

Interpretasi kaum Sufi inilah yang tampaknya mengilhami konsep Mirza Ghulam Ahmad tentang al-Mahdi, mengingat kakeknya berasal dari Persia, dan ia pun kemudian dibesarkan di India yang relatif banyak mendapatkan pengaruh paham Syi'ah yang disebarkan oleh para pengikut Sufi itu.

 

Adapun menurut interpretasi golongan Ahmadiyah, al-Mahdi ini bukan pimpinan atau tokoh agama bayangan yang suka berperang dan selalu menghunus pedang untuk menghakimi musuh-musuhnya. Dia adalah "juru damai" antar kelompok-kelompok agama yang berselisih dan saling bermusuhan satu sama lain. Interpretasi kemahdian seperti ini merupakan refleksi keadaan ummat beragama di India pada saat itu, baik di kalangan ummat Islam maupun non-Islam. Kelompok-kelompok agama -Islam, Hindu, dan Kristen- yang berselisih itu, ingin ia persatukan lewat Islam. Untuk mencapai maksud tersebut, perlu dilakukan pembaharuan pemikiran keagamaan. Kedua versi interpretasi diatas rupanya menunjukkan bahwa masing-masing golongan ingin mewujudkannya dalam kenyataan. Dengan demikian, penafsiran terhadap al-Mahdi sangat dipengaruhi oleh keadaan ummat saat itu. Dan oleh sebab itu, masing-masing kelompok dalam merealisasikan ketokohan al-Mahdi, baik dari kalangan Syi'ah maupun Ahmadiyah, melekatkan sifat dan watak yang berbeda terhadap al-Mahdi itu.

 

Dalam hubungan ini Ibn Khaldun menginterprestasikan tentang al-Mahdi sebagai berikut:

 

"Sesungguhnya dakwah agama dan (propaganda politik) kerajaan, tidak akan (berlangsung) dengan sempurna, kecuali dengan mewujudkan sesuatu kekuatan yang fanatik, guna menegakkan dan mempertahankan (dakwah atau propaganda) itu sehingga sempurnalah pertolongan Allah untuknya."[15]

 

Dengan demikian, munculnya al-Mahdi dalam teori 'asabiyah Ibn Khaldun adalah suatu pertanda atau fenomena lahirnya kelompok masyarakat baru yang ingin mewujudkan cita-cita politik yang didasarkan pada ide millenarium. Untuk itu ide tersebut harus dipacu dengan semangat fanatisme kelompok sehingga dapat mewujudkan kekuatan baru untuk memenangkan perjuangan. Oleh sebab itu, kelompok masyarakat baru tersebut tidak akan memperoleh kekuatan dan tidak pula dapat mencapai tujuan perjuangan, tanpa ikut sertanya para propagandis yang memiliki fanatisme yang kuat terhadap Islam dan Ahlul-Bait. Teori tersebut menegaskan bahwa kemunduran dan kekalahan suatu ummat disebabkan oleh lemah atau memudarnya semangat fanatisme dari jiwa ummat itu sendiri.

 

Interpretasi tentang al-Mahdi model Ibn Khaldun ini, tampaknya lebih sesuai dengan panalaran ummat dewasa ini daripada harus membayangkannya dalam ujud al-Mahdi yang amat abstrak dan imajinatif. Term al-Mahdi ini rasanya lebih cocok ditafsirkan sebagai pembawa ide-ide baru guna membangun kembali dunia Islam yang tenggelam dalam keterbelakangan, kepesimisan, dan kedangkalan wawasan dalam menghadapi tantangan zamannya. Kemudian ia dapat mengangkat harkat Islam dan ummat Islam dalam arti yang sebenarnya, sehingga ummat Islam dapat diselamatkan dari ekses-ekses modernisasi yang bersifat materialistis, dan sikap latah atau suka meniru tradisi kaum kafir. Seperti diketahui Rasulullah dalam sabdanya pernah mengemukakan sinyalemen sebagai berikut:

 

"Sungguh kalian (nanti) akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak, pastilah kalian mengikuti mereka." Aku menyela, "Apakah (mereka itu) orang Yahudi dan Nasrani?" Jawab beliau: "Siapa lagi?" (HR. Bukhari dan Muslim dari Sa'id al-Khudri).

 

Lagi pula, dengan pernyataan Rasulullah akan kehadiran kembali Isa al-Masih, sebagaimana disebut dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim, yang diberi mandat untuk membunuh Dajjal (musuh) Islam, hal itu bisa ditafsirkan sebagai lambang akan munculnya kaum pembaharu yang selalu sadar akan bahaya yang senantiasa mengancam dan menteror rohani ummat. Disamping itu mereka pun selalu berorientasi pada kepentingan Islam dan ummat Islam dan berjuang untuk menyelamatkannya dari rongrongm kebebasan hawa nafsu yang ingin mencari kepuasan lahiriah, sebagai ekses dari penerapan teknologi canggih dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Dengan demikian, orang tidak perlu mengaku dan menyatakan dirinya sebagai al-Mahdi maupun sebagai 'Isa al-Masih, apa lagi dengan mengajarkan keyakinan atau peribadatan yang penuh khurafat dan bid'ah.

 

Keterangan hadis diatas, menunjukkan betapa besarnya pengaruh tradisi Yahudi dan Nasrani dewasa ini terhadap sikap dan perilaku ummat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Sistem kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan budaya, tampaknya banyak diwarnai oleh tradisi masyarakat Yahudi dan Nasrani yang dipandang sebagai tradisi modern dan mesti diikuti. Tradisi keislaman hanya tampak pada aspek-aspek ritualnya saja, sedangkan cara hidup dan mempertahankan hidup dan penghidupannya, cara bergaul dan lain sebagainya masih diwarnai oleh tradisi keyahudian atau kenasranian. Jarang diantara ummat Islam yang berorientasi pada ajaran Islam yang sebenarnya. Dalam kondisi ummat seperti inilah diperlukan Mahdi-Mahdi baru dalam pengertian para da'i (penyeru agama) yang tangguh, sebagai penuntun atau penunjuk ummat dan dapat menyelamatkannya dari kemunafikan, kemusyrikan, kefasikan, dan kekafiran.

 

Realitas sinyalemen Rasulullah diatas, memang sulit dihindari oleh masyarakat Muslim dewasa ini, dimana perubahan sosial terjadi sangat dinamis. Salah satu penyebabnya adalah adanya akulturasi budaya dan interaksi sosial yang cepat melalui sistem komunikasi modern yang canggih dan yang dapat membuka isolasi masyarakat tradisional untuk menyerap berbagai budaya asing, dalam kaitan ini adalah budaya Barat yang liberal.

 

Penemuan-penemuan baru yang ditunjang oleh sistem pendidikan modern dalam upaya untuk memperoleh kemudahan-kemudahan dan kenikmatan hidup lahiriah, membawa manusia selalu dilanda oleh rasa ketidakpuasan dalam bidang-bidang kehidupan tertentu. Keadaan seperti ini mendorong manusia abad modern bersikap longgar terhadap ikatan-ikatan dan keyakinan agama, yang semula dianggap sakral atau tabu. Sebagai akibatnya terjadilah pergeseran nilai dari perilaku manusia itu sendiri. Suatu perbuatan yang sebelumnya dipandang nista, bisa jadi berubah menjadi sesuatu yang biasa atau bahkan menjadi kebanggaan; dan demikian pula sebaliknya. Sebagai akibatnya banyak manusia di zaman modern kehilangan makna spiritual dalam kehidupannya.

 

Ketidakseimbangan antara kemajuan materiil yang dicapai oleh manusia, di satu pihak, dan kemunduran spiritual yang dideritanya, di pihak lain, menggiring manusia bersikap kurang selektif dalam menerima budaya atau tradisi asing yang destruktif. Oleh karena itu, mereka bersikap sangat toleran terhadap perilaku yang menyimpang dan bertentangan dengan ajaran agama. Dalam kondisi seperti ini kaum kapitalis modern, sebagai penguasa teknologi canggih, mampu membuat hitam atau putihnya situasi kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Barangkali mereka inilah yang dilambangkan oleh Rasulullah sebagai Dajjal-nya ummat manusia di zaman akhir. Pada saat seperti ini diperlukan kehadiran al-Mahdl atau al-Masih dalam pengertian simbolis yang lebih aktual dan kontekstual. Yaitu kehadiran kelompok Muballig atau Da'i yang tangguh dan memiliki pengetahuan luas dan visi yang jauh, mampu memecahkan problema kehidupan masyarakat, dan sanggup memberikan berbagai alternatif yang lebih Islami dalam menanggulangi berbagai perilaku, tradisi dan situasi ummat di masa mendatang dan tanggap terhadap kondisi ummat masa kini, sehingga mereka diharapkan dapat menyampaikan ajaran Islam secara tepat dan up to date. Yang lebih penting lagi adalah kemampuan mereka mengisi kekosongan rohaniah para penguasa teknologi dengan ajaran Islam dan menghimpunnya menjadi kekuatan baru yang Islami, sehingga tidak mustahil kebangkitan Islam kembali justru muncul dari Barat sebagai suatu keharusan sejarah.

 

Cacatan Kaki :

 

13.Syah 'Abdul-'Aziz Ghulam Hakim ad-Dihlawi, op. cit., hlm. 201.[back]
14.Ibn Khaldun, op. cit., hlm. 327.[back]
15.Ibn Khaldun, op. cit., hlm. 327.[back]