Paham Kewahyuan Syi'ah dan Ahmadiyyah

Top  Previous  Next

Paham Kewahyuan Syi'ah dan Ahmadiyyah

 

Pada dasarnya spiritual manusia menghendaki petunjuk yang dapat memenuhi tuntutan batiniahnya. Tuntutan tersebut tidak lain adalah berupa ide-ide eskatologis yang transendental, yang tidak mungkin dipecahkan secara rasional. Tentunya pemecahan kebutuhan tersebut haruslah melalui berita-berita langit yang dikenal sebagai wahyu. Dalam kaitan ini, G. G. Anawati, seorang spesialis terkenal dalam bidang pemikiran Islam, dari Kairo menjelaskan:

 

Pada hakikatnya agama itu terdiri dari wahyu dan tafsirnya. Wahyu adalah pasti dan tetap, karena ia merupakan pernyataan kehendak Ilahi yang mengandung kebenaran mutlak. Sedangkan tafsir yang merupakan tanggapan nurani manusia terhadap wahyu. Berabad-abad wahyu bertahan tanpa mengalami perubahan sedikit pun, sedangkan tafsir dalam perjalanan masa sering mendapat tekanan baik dari luar maupun dari dalam, dan pada setiap tahapan sejarah memberikan cirinya pada masyarakat.[1]

 

Dalam al-Quran, memang banyak digunakan kata "wahyu" dalam bentuk kata benda atau dalam bentuk kata kerja untuk berbagai pernyataan. Apabila term wahyu ini dikembalikan kepada pengertian teologi Islam, tentunya dapat diambil dua pengertian dasar yaitu: Wahyu Syari'ah dan wahyu bukan Syari'ah atau identik dengan istilah ilham. Pengertian wahyu yang kedua inilah sering oleh sementara kelompok dalam Islam menganggapnya sebagai wahyu yang masih tetap akan turun, walau sepeninggal Nabi Muhammad. Anggapan tersebut tidak hanya sampai di situ saja, akan tetapi, mereka memfungsikan ilham tersebut dan meyakininya sebagai wahyu Syari'ah.

 

Catatan Kaki:

 

1.H.L Beck dan N.J.G. Kaptein, eds., Pandangan Barat Terhadap Literatur, Hukum, Filosofi, Teologi dan Mistik Tradisi Islam Jilid I, terj., Sukarsi (Jakarta: INIS, 1988), hlm. 45.[back]