Faham Kewahyuan Syi'ah dan Ahmadiyyah

Top  Previous  Next

Paham Kewahyuan Ahmadiyah

 

Aliran Ahmadiyah yang tampak berkembang dengan subur di Indonesia, pada dasarnya mempunyai beberapa kesamaan dengan paham kewahyuan Syi'ah Isna 'Asyariyyah, terutama paham kewahyuan dari Ahmadiyah Qadiani. Kaum Qadiani lebih ekstrem daripada Ahmadiyah Lahore dalam mempertahankan "ajaran" Mirza Ghulam Ahmad, sedangkan Ahmadiyah Lahore tampak lebih moderat. Kota Qadian adalah tempat dibesarkannya Mirza Ghulam Ahmad, kota tersebut merupakan bagian dari wilayah Punjab - India dan di kawasan India inilah tempat berlangsungnya pertemuan agama-agama besar - Hindu, Budha, Islam, dan Kristen - yang membawa budaya serta tradisi yang beraneka ragam. Selain itu, ia juga berdampingan dengan Persia yang menjadi pusat kegiatan Syi'ah Isna 'Asyariyyah. Dengan demikian, perkembangan Islam di kawasan ini sudah barang tentu mendapatkan corak tertentu yang penuh inovasi (kebid'ahan) dan pengaruh Syi'ah tentunya cukup dominan lewat para propagandisnya yang berbaju mistik atau tarekat. Sebab dengan mistik dan tarekat inilah ajaran-ajaran agama yang sudah berbau Syi'ah, lebih mudah diserap oleh masyarakat Muslim India.

 

Apabila kondisi kehidupan keagamaan masyarakat Islam di India saat itu dikaitkan dengan kehidupan Mirza Ghulam Ahmad, yang tampaknya tidak banyak mengenyam pendidikan di kala mudanya, maka sudah tidak pelak lagi, bahwa Mirza dalam menerima ajaran Islam kurang bahkan tidak selektif -mana Islam yang murni dan mana pula Islam yang ajarannya sudah ternodai berbagai kebid'ahan- sehingga ajaran-ajarannya sulit diterima oleh golongan Sunni sampai hari ini. Sebelum ia diyakini dan dipropagandakan oleh pengikut-pengikut setianya sebagai nabi, rupanya Mirza lebih tampak sebagai pengikut Sunni daripada ia sebagai seorang Syi'i, demikian dalam berbagai pernyataannya untuk menghadapi serangan lawan-lawannya, sesudah ia memproklamasikan dirinya sebagai al-Masih atau al-Mahdi yang dijanjikan.[14]

 

Pengakuannya sebagai 'Isa al-Masih, sedangkan al-Masih. yang dijanjikan itu adalah seorang nabi, dan seorang nabi dalam menerima ajaran-ajaran dan Tuhan adalah melalui wahyu, maka lantaran pengertian yang terakhir inilah lahir paham kewahyuan dalam Ahmadiyah, yang bertentangan dengan paham kewahyuan golongan Sunni, namun banyak persamaannya dengan paham kewahyuan golongan Syi'ah Isna 'Asyariyyah.

 

Adapun faktor-faktor yang membentuk paham kewahyuan golongan Ahmadiyah ini, antara lain adalah sebagai berikut:

 

Hubungannya Dengan Ide Pembaharuannya

 

Cita-cita pembaharuan yang dicanangkan oleh Mirza Ghulam Ahmad sebagai tokoh pendiri aliran baru dalam Islam, yaitu Ahmadiyah, rupanya ingin menyatukan atau menghimpun tiga kekuatan agama besar -Islam, Hindu, dan Nasrani- dibawah pengaruh kepemimpinannya, adalah merupakan masalah besar yang justru akan membawanya kedalam suatu dilema terhadap ide pembaharuannya sendiri. Pengakuannya sebagai penjelmaan dari tiga tokoh karismatik yakni sebagai al-Mahdi, 'Isa al-Masih., dan sebagai Krishna, jelas menunjukkan adanya pengaruh kemahdian Syi'ah lewat hadis-hadis maudu' atau palsu yang dicipta oleh propagandis-propagandisnya atau hadis-hadis da'if (lemah) yang banyak dimuat dalam Kitab-Kitab Sunan.

 

Dalam kaitan ini, dapatkah Mirza dengan pengakuan kekrishnaannya memurtadkan warga Hindu dari agama mereka, dan dengan kemasihannya, dapatkah Mirza menggoyahkan keimanan kaum Nasrani saat itu? Dan dengan pengakuannya sebagai al-Mahdi yang menerima wahyu, justru menimbulkan pertentangan pendapat intern ummat Islam yang membawa pada perpecahan yang dirasakan sampai saat ini. Kaum Ahmadiyah berpendirian bahwa nabi dan wahyu itu masih tetap akan turun sampai kapan pun, karena keduanya sangat diperlukan oleh ummat manusia sepanjang zaman. Pengertian wahyu seperti ini memang diperlukan untuk menafsirkan wahyu tasyri' yang disampaikan oleh Tuhan kepada Nabi Muhammad, guna memperoleh pemahaman yang aktual seirama dengan tuntutan zamannya. Pemahaman seperti ini, tidak jauh berbeda dengan pemahaman kaum Syi'ah. Menurut golongan terakhir ini, bahwa seorang imam bagi mereka ibarat mandataris Nabi Mulhammad SAW., yang harus menuntun dan melindungi ummatnya, untuk itu diperlukan petunjuk langsung dari Tuhan yaitu apa yang mereka namakan sebagai wahyu, lihat kembali pada halaman 115 di atas.

 

Dugaan sementara orang, bahwa wahyu itu benar-benar sudah terhenti sesudah Nabi Muhammad, demikian Nazir Ahmad seorang tokoh Ahmadiyah Qadian, dan Allah tidak berfirman lagi kepada manusia, anggapan seperti itu adalah salah sama sekali. Karena wahyu adalah sesuatu yang dapat menghilangkan keragu-raguan, menambah pengetahuan, dan menyembuhkan hati yang luka. Oleh sebab itu, wahyu tidak dikhususkan kepada nabi saja, dan kadang-kadang Allah berfirman kepada selain nabi, sebagaimana dalam firman-Nya S. asy-Syura: 51:

 

"Dan tiadalah Allah berfirman kepada manusia kecuali dengan (perantaraan) wahyu atau dari balik hijab (tabir pemisah antara alam fisik dengan alam gaib)."

 

Kata libasyarin dalam ayat diatas, Nazir Ahmad menafsirkannya sebagai manusia apakah dia seorang nabi atau bukan, sebagaimana wahyu yang diterima oleh ibu Nabi Musa, kaum Khawari, dan Maryam, ibu Nabi 'Isa.[15]

 

Sebagaimana dijelaskan diatas, bahwa kata wahyu dalam al-Quran, banyak dipakai dalam berbagai ungkapan dan tidak selalu diartikan sebagai firman Allah kepada para rasul atau nabi, tetapi digunakan untuk pengertian yang lain seperti: ilham, memberi isyarat dan lain sebagainya. Sebab, kalau setiap kata wahyu selalu diartikan sebagai firman Tuhan kepada nabi dan rasul, maka di dalam al-Quran juga ada ayat sepertidalam Surah al-An'am: 121, yang apabila diartikan seperti pengertian diatas, maka pengertiannya jauh sama sekali dari maksud yang sebenarnya. Disinilah tampak beberapa kelemahan argumen-argumen yang dikemukakan oleh pengikut-pengikut Ahmadiyah. Demikian pula ayat atau hadis-hadis yang dijadikan dalil tampak kurang logis, karena diinterpretasikan sesuai dengan keyakinan mereka.

 

Dari uraian diatas, jelas bagi kita bahwa ide pembaharuan Mirza Ghulam Ahmad, tidak bisa terlepas dari masalah kewahyuan, sekalipun wahyu yang diterimanya itu berbeda dengan wahyu yang diterima oleh Rasulullah. Namun demikian, ide pembaharuan yang direalisasikannya adalah merupakan faktor pendorong lahirnya paham kewahyuan baru yang kontroversial.

 

Hubungannya Dengan Doktrin Kenabiannya

 

Doktrin kenabian dalam Ahmadiyah rupanya sulit dipisahkan dengan paham kewahyuannya. Jika paham kenabian Syi'ah Isna 'Asyariyyah bermula dari masalah keimaman, maka paham kenabian Ahmadiyah terfokus pada masalah kemasihan yang dijanjikan. Sebagaimana dijelaskan dimuka, paham kenabian Ahmadiyah memang memberi pengertian baru yang senada dengan paham Syi'ah yaitu bahwa nabi itu akan terus diutus oleh Tuhan tanpa batas waktu. Akan tetapi, agaknya berbeda mengenai tugas kenabiannya. Terutama tugas kenabian Mirza Ghulam Ahmad disamping sebagai Hakim Pengislah (juru damai), dia juga bertugas untuk membunuh Dajjal. Sebab Nabi 'Isa yang dahulu pernah diutus oleh Tuhan kepada Bani Israil, telah wafat secara alami, sebagai yang dinyatakan dalam sebuah karyanya:

 

"... Dan di antara kunci pengajaran dan pemberian pemaharnanNya, bahwa al-Masih ibn Maryam benar-benar telah wafat secara alami sebagaimana halnya saudara-saudaranya kaum Muslimin. Dan Allah telah memberi kabar gembira kepadaku dan telah berfirman: "Sesungguhnya al-Masih yang dijanjikan dan al-Mahdi yang berbahagia yang ditunggu-tunggu dan dinanti-nantikan, dia adalah engkau." Kami (Allah) berbuat apa yang Kami kehendaki, maka janganlah engkau membuat kedustaan. Dan (Tuhan) berfirman pula: "Sungguh Kami telah menjadikan kamu sebagai al-Masih ibn Maryam ..."[16]

 

Informasi tentang wafatnya 'Isa ibn Maryam secara wajar memang dapat diterima secara rasional. Informasi seperti ini tentunya sangat berbeda dengan apa yang diyakini oleh pengikut golongan 'Asyariyyah yang beranggapan bahwa 'Isa al-Masih itu masih hidup hingga sekarang, dan dia akan turun lagi menjelang hari Kiamat untuk membunuh Dajjal. Keyakinan seperti ini, tampaknya dilandasi oleh paham Masyi'atullah (kehendak mutlak Tuhan) diluar jangkauan akal manusia. Akan tetapi, jika kepercayaan tersebut dikembalikan pada komitmen ahli-ahli teologi Islam, bahwa keyakinan itu harus didasarkan pada al-Quran dan hadis mutawatir yakni hadis yang memfaedahkan yakin maka tidaklah menjadi kafir bagi orang yang mengingkari pendapat Asyariyyah tersebut. Sebab dasar atau dalil untuk meyakini bahwa 'Isa al-Masih itu masih hidup dan akan turun kembali ke dunia untuk membunuh Dajjal, hanyalah hadis sahih yang memfaedahkan zan atau dugaan. Oleh sebab itu, keyakinan tentang masih hidup atau sudah wafatnya 'Isa al-Masih bukanlah rukun iman, dan karenanya tidak perlu diangkat ke permukaan sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman dan bahkan bisa membawa perpecahan ummat Islam.

 

Adapun pegangan dasar kaum Ahmadiyah adalah al-Qur-an, Mushaf 'Usmani - hadis Bukhari dan Muslim, serta kitab-kitab hadis lainnya, disamping ajaran Mirza Ghulam Ahmad itu sendiri. Pengakuan sebagai mujaddid (pembaharu) kemudian pengakuan Mirza sebagai 'Isa, disamping pengakuannya dapat berdialog langsung dengan Tuhan adalah merupakan faktor penyebab lahirnya paham kenabian Ahmadiyah. Mujaddid dalam pengertian Mirza, bukan diangkat oleh manusia, tetapi harus diangkat oleh Tuhan sebagaimana dalam pernyataannya:

 

"Hai kaumku! Sesungguhnya (ajaranku) itu dari Allah, sungguh (ajaranku) itu dari Allah, sungguh (ajaranku) itu dari Allah. Dan aku bersaksi kepada Tuhanku, bahwa sesungguhnya (ajaranku) dari Allah. Aku beriman kepada-Nya, dan kepada Kitab-Nya al-Furqan, serta kepada apa yang telah ditetapkan pada (Nabi Muhammad) penghulu manusia dan jin. Sungguh aku telah diutus (oleh Allah) pada abad ini untuk mengadakan pembaharuan pada agama dan menyinarkan wajah agama itu. Dan atas yang demikian itu, Allahlah saksinya, dan Allah pun mengetahui siapa yang celaka dan siapa yang bahagia."[17]

 

Penyataan Mirza diatas, oleh Ahmadiyah Qadiani dianggap sebagai wahyu, dan diyakininya sebagai meyakini al-Quran atau hadis Nabi, demikian R. Batuah, pengikut sekte Qadiani di Indonesia. Selanjutnya ia menyatakan: Mirza Ghulam Ahmad harus didengar dan ditaati ajaran-ajarannya.[18] Sebaliknya orang yang mengingkari ajaran Mirza berarti ia mengingkari seluruh ajaran al-Quran, namun bagi sekte Lahore tidak demikian keyakinannya, boleh jadi ajaran Mirza dijadikan sebagai pemacu gerakan dakwahnya saja di kalangan kaum Nasrani di dunia. Pernyataan Mirza sebagai seorang yang dapat berdialog langsung dengan Tuhan layaknya seorang rasul yang menerima wahyu adalah demikian:

 

"Aku tidak pernah mengatakan kepada manusia, kecuali apa yang telah aku tulis dalam kitabku, bahwasanya aku adalah muhaddas dan Allah berbicara dengan aku sebagaimana Allah berbicara dengan para muhaddasin. Dan Allah mengetahui bahwa Dia telah memberiku pangkat ini, maka bagaimana aku (dapat) menolak apa yang telah diberikan Allah kepadaku? Dan dia telah memberiku rizki apakah aku (harus) berpaling dari limpahan (anugerah) Tuhan, Pencipta dan Pemelihara alam semesta ini?"[19]

 

Mungkin orang akan mempersoalkan apakah paham kenabian diatas, sebagai yang dilontarkan oleh Mirza Ghulam Ahmad dapatkah paham itu dikategorikan sebagai pembaharuan dalam Islam? Atau justru sebaliknya yaitu sebagai bid'ah 'akidah? Apabila didalam Surah as-Saf: 6, Nabi 'Isa a.s., menginformasikan kepada pengikutnya, akan datang seorang rasul bernama Ahmad sesudahnya nanti, ini bukan berarti nama Ahmad tersebut untuk Mirza Ghulam Ahmad, tetapi yang dimaksudkan adalah Nabi Muhammad. Ibn 'Abbas adalah salah seorang ulama sahabat, yang lebih mengerti mengenai maksud ayat:

 

"... dan (Isa) memberi kabar gembira akan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, bemama Ahmad ..."

 

Dalam kaitan ini Ibn 'Abbas dalam kitab tafsirnya, tidak menjelaskan adanya nama lain selain nama Rasulullah Muhammad. Rupanya paham kenabian Ahmadiyah ini bermula dan doktrin kewahyuannya.

 

Setelah kita mengikuti uraian diatas, dapatlah disimpulkan bahwa paham kewahyuan Syi'ah Isna 'Asyariyyah dan paham kewahyuan Ahmadiyah adalah tidak jauh berbeda, secara garis besarnya perbedaan kedua paham kewahyuan tersebut, hanyalah terletak pada aspek motivasi gerakan yang melatarbelakanginya.

 

Gerakan Syi'ah lebih diwarnai oleh motif-motif politis, sedangkan gerakan Ahmadiyah, ditandai oleh motif-motif ide pembaharuannya. Jika paham kewahyuan Syi'ah bermuara pada masalah keimaman, maka dalam Ahmadiyah paham kewahyuannya bermuara pada masalah kemahdian atau kemasihan Mirza Ghulam Ahmad. Akan tetapi jika kita lihat dari aspek-aspek yang lain, kedua paham kewahyuan diatas, dapat dikatakan berpangkal pada prinsip-prinsip yang serupa. Yaitu keduanya beranggapan bahkan berkeyakinan bahwa untuk membimbing ummat manusia masih diperlukan wahyu Allah atau petunjuk dari Tuhan yang baru berupa wahyu.

 

Term wahyu yang dimaksud oleh kedua golongan itu, bukanlah wahyu seperti yang ada dalam al-Quran, tetapi wahyu yang lain. Di kalangan Syi'ah dikenal adanya wahyu ta'lim, sedangkan di kalangan Ahmadiyah dikenal dengan wahyu walayah, wahyu tajdid, atau wahyu muhaddas. Baik kaum Syi'ah maupun Ahmadiyah, keduanya memiliki tokoh-tokoh utamanya yang dikenal sebagai al-Mahdi yang merupakan tokoh legendaris yang dapat berhubungan dengan Tuhan, untuk menerima firman-firmanNya. Oleh sebab itu, kedua golongan ini berkeyakinan bahwa wahyu tetap akan turun sampai kapan pun. Demikian pula kehadiran seorang nabi juga tidak terbatas pada kurun waktu tertentu. Dalam kaitan ini, apakah al-Mahdi itu identik dengan nabi? tidak dibahas dalam tulisan ini. Oleh karena konsep kenabian dan kewahyuan tersebut muncul lebih dahulu di kalangan Syi'ah, maka konsep kenabian dan kewahyuan Ahmadiyah banyak mendapat pengaruh dari ajaran Syi'ah.

 

Catatan kaki:

 

14.Al-Maududi, Ma Hiyal-Qadiyaniyyah, hlm. 26, Hamamatul-Busyra, hlm. 35-6.[back]
15.Nazir Ahmad as-Siyalkoti, al-Qaulus-Sarih fi Zuhuril-Mahdi (Lahore: Nawa-i-Waqt Printers Ltd., 1961), hlm. 166.[back]
16.Mirza Ghulam Ahmad, Itmamul-Hujjah 'Alal-Lazi Lajja wa Zagha 'Anil Mahajjah (Lahore: Matba' Kalzar Muhammadi, 1311 H), hlm. 3.[back]
17.Ibid., hlm. 13.[back]
18.Syafi R. Batuah, Ahmadiyah Apa dan Mengapa (Jemaat Ahmahdiyah Indonesia, 1985), hlm. 22-3.[back]
19.Itmamul-Hujjah, op. cit., hlm. 266.[back]