Faham Kewahyuan Syi'ah dan Ahmadiyyah

Top  Previous  Next

Paham Kewahyuan Kaum Syi'ah

 

Kaum Syi'ah yang dimaksud disini adalah lebih dikhususkan kepada golongan Syi'ah Isna 'Asyariyyah. Mengingat aliran ini, sangat besar pengaruhnya dan tampak mau berkembang di Indonesia, Syi'ah Isna 'Asyariyyah ini sekarang berpusat di Iran, dengan keberhasilan mereka mendirikan negara Republik Islam Iran yang dipelopori oleh Ayatullah Khumaini, sesudah ia dapat merebut kekuasaan Sah Iran, Riza Pahlevi pada 11 Februari 1979.

 

Sebagaimana telah diuraikan diatas, bahwa saat terbentuknya paham Syi'ah, tampak lebih banyak ditentukan oleh masalah politik. Kekalahan yang bertubi-tubi, banyak imam-imam mereka yang menjadi korban kekerasan politik dinasti Umayyah, dan gerakan-gerakan perlawanan mereka dapat ditumpas. Dalam kondisi yang demikian itulah golongan ini menjadi antipati terhadap Bani Umayyah yang pada hakikatnya mereka dipandang sebagai golongan Sunni. Di sisi lain, juga berakibat timbulnya sikap yang eksklusivistik pada aliran Syi'ah ini, dan sikap seperti ini, tampak sangat menonjol dalam doktrin-doktrinnya yang kontroversial.

 

Hubungannya Dengan Doktrin Keimaman

 

Paham kewahyuan Syi'ah, rupanya tidak bisa terlepas dari masalah keimaman, Keimaman bagi mereka merupakan sesuatu yang paling fundamental dalam ajaran Syi'ah, karena itu, status keimaman bagi kaum Syi'ah tidak jauh berbeda dengan status kenabian. Setiap imam Syi'ah, dalam hal ini adalah Syi'ah Isna 'Asyariyyah, dipandang ma'sum yakni terjaga atau suci dari dosa. Para imam itu, bagi kaum Syi'ah selalu diyakini sebagai tokoh yang senantiasa mendapat bimbingan wahyu dari Tuhan, sebagaimana halnya dengan Syi'ah yang gullah atau ekstrem, seperti Syi'ah Mufaddiliyyah, Syi'ah al-Qariyyah yang beranggapan bahwa wahyu dan nabi itu tidak pernah terhenti sampai hari kiamat. Menurut aliran al-Mufaddiliyyah, apabila sifat ketuhanan telah menyatu dalam diri seseorang, maka dia adalah nabi, namun jika ia menyeru kepada manusia untuk mengikuti petunjuk-petunjuknya, maka dia adalah rasul. Akan tetapi, bagi golongan al-Qariyyah beranggapan, bahwa orang yang belum mencapai derajat insan Kamil (manusia sempurna), kadang-kadang ia dapat juga menerima wahyu, yaitu wahyu ta'lim (wahyu pengajaran).[8] Konsep wahyu ta'lim ini senada dengan konsep kewahyuan golongan Ahmadiyah yang dikenal dengan wakyu muhaddas, wahyu walayah atau wahyu tajdid yaitu wahyu yang diperoleh secara berdialog dengan Tuhan, wahyu kewalian atau wahyu pembaharuan.

 

Hubungannya Dengan Sikap Syi'ah Yang Eksklusivistik

 

Sikap seperti ini boleh jadi karena kaum Syi'ah selalu mengkultuskan para imam mereka. Sikap merasa benar sendiri tersebut rupanya didorong keinginan hak-hak legitimasi kekhilafahan. Karena itulah kaum Syi'ah tidak segan-segan menuduh kaum Sunni, suka memanipulasikan hadis-hadis dan ayat-ayat al-Quran yang menyangkut kepentingan Ahlul-Bait Nabi, maksudnya adalah 'Ali ibn Abi Talib. Sangat boleh jadi sikap yang eksklusivistik tersebut bermula dari rasa fanatisme kelompok. Oleh sebab itu, mereka sulit menerima kebenaran dari pihak lain, dan tentunya mereka akan mempertahankan paham mereka sekalipun keliru atau menyimpang dari prinsip-prinsip keislaman. Selain itu, mereka juga memakai dalil-dalil atau bukti-bukti baik rasional maupun tekstual yang mungkin sulit diterima oleh pihak lain.

 

Dalam hubungan ini, sikap antipati kaum Syi'ah terhadap golongan Bani Umayyah yang semula berpangkal pada masalah khilafah, namun kemudian berkembang pada masalah-masalah lain diluar masalah politik. Sebagai akibat praktis dari sikap yang bermusuhan tadi, kaum Syi'ah yang datang kemudian, tidak mau lagi mengakui kekhilafahan Abu Bakr, 'Umar, dan 'Usman. Ketiga Khalifah tersebut dalam pandangan kaum Syi'ah dianggap sebagai penyerobot-penyerobot hak-hak Ahlul-Bait, yaitu hak 'Ali untuk menjadi Khalifah pertama. Oleh sebab itu, usaha penulisan kembali al-Quran dimasa Abu Bakr kemudian disempurnakan penulisannya kembali dalam bentuknya yang seragam oleh Khalifah 'Usman, dan hasilnya telah diterima dan diakui oleh suluruh ummat Islam, demikian pula telah diakui juga oleh 'Ali ibn Abi Talib, namun bagi pengikut Syi'ah tetap tidak mau menerima dan mengakui sebagai mushaf satu-satunya yang harus diyakini keotentikannya. Penolakan kaum Syi'ah terhadap Mushaf 'Usmani ini rupanya merupakan bukti nyata dari rencana global Ibn Saba' yang berpura-pura memihak 'Ali ibn Abi Talib, untuk meruntuhkan kejayaan Islam dari dalam dengan memecah-belah ummat Islam dan dengan meracuni akidah mereka.

 

Penolakan kaum Syi'ah diatas, berbeda dengan sikap 'Ali sendiri yang mengakui dan memuji akan kebenaran dan kemuliaan usaha 'Usman dalam mengantisipasi perpecahan diantara ummat Islam dengan mengatakan: "Seandainya aku yang menjadi khalifah, tentu akan aku lakukan sebagaimana yang dilakukan Usman.[9] Yaitu mengadakan penulisan kembali al-Quran dalam bentuk yang seragam sebagai yang telah diupayakan oleh Khalifah Ketiga. Dengan demikian, penolakan kaum Syi'ah terhadap Mushaf 'Usmani tampak lebih diorientasikan pada kepentingan politik mereka terhadap golongan Sunni. Bahkan mereka, demikian ad-Dihlawi, melemparkan tuduhan-tuduhan kepada tokoh tokoh dan para pemimpin Sunni seperti: Abu Bakr, 'Umar, dan 'Usman sebagai telah memanipulasi surah-surah dan ayat-ayat al-Quran, terutama ayat-ayat yang berkaitan dengan keutamaan-keutamaan Ahlul-Bait seperti Surah al-Walayah dan sebagainya.[10] Untuk itu, perlu disini disajikan sebuah contoh dari Surah Walayah yang diyakini kaum Syi'ah, bahwa surah itu sengaja dibuang oleh kaum Sunni, karena mereka, demikian tuduhan Syi'ah, menganggap surah tersebut memuat keutamaan 'Ali ibn Abi Talib. Dalam Kitab Quran versi Syi'ah Persia, Surah Walayah ini dicantumkan, dan dikutip oleh ad-Dihlawi dalam sebuah bukunya yang berjudul: Mukhtasar at-Tuhfah al-Isna 'Asyariyyah halaman 33 adalah sebagai berikut:

 

[Tulisan Arab]

 

Dari kenyataan-kenyataan diatas, dapat diduga bahwa penolakan kaum Syi'ah terhadap Mushaf 'Usmani ini dikarenakan para penulisnya bukan dari "pihak 'Ali ibn Abi Talib." Jika kaum Syi'ah menerima mushaf tersebut, berarti mereka harus mengakui eksistensi kekhilafahan sebelum 'Ali, dan yang demikian itu, bagi Syi'ah berarti kekalahannya dan kemenangan di pihak kaum Sunni. Dan sebagai konsekuensi penolakan tersebut, maka sebagai alternatif terakhir ialah kaum Syi'ah harus berpegang pada mushaf 'Ali ibn Abi Talib, atau yang dikenal dengan "mushaf Fatimah." Kemudian, apakah mereka sudah merasa puas dengan penolakan itu? Tidak, mereka juga membuat kedustaan lain selain pada al-Quran. Al-Kulaini, demikian nama seorang tokoh Syi'ah yang mereka sejajarkan dengan al-Bukhari, dalam meriwayatkan hadis-hadis dari imam-imam Syi'ah sebenarnya hanya rekayasa al-Kulaini sendiri dengan mencatut beberapa nama dari keturunan 'Ali ibn Abi Talib, dalam meriwayatkan "hadis-hadis" versi Syi'ah, dan ia mengatakan bahwa dirinya telah meriwayatkan (hadis} dari Hisyam ibn Salim dan 'Abdullah: "Sesungguhnya al-Quran yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW., adalah 17.000 ayat. Demikian pula hadis yang diriwayatkannya dari Hakam ibn 'Utaibah, ia berkata: 'Ali Zainal Abidin ibn Husain telah membaca sebuah ayat al-Quran yang berbunyi demikian:

 

[Tulisan Arab]

 

"Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus seorang rasul dan nabi tidak pula mengutus seorang muhaddas sebelum kamu Muhammad ..."[11]

 

Selanjutnya ia berkata: "Ali ibn Abi Talib adalah seorang muhaddas." Disini 'Ali, oleh kaum Syi'ah dianggap sebagai seorang yang dapat berdialog langsung dengan Tuhan, karenanya ia mendapat wahyu muhaddas, sebagaimana keyakinan orang Ahmadiyah terhadap Mirza Ghulam Ahmad. Jelaslah disini bahwa penggunaan istilah wahyu muhaddas oleh Ahmadiyah, rupanya telah lebih dahulu digunakan oleh golongan Syi'ah. Dengan demikian jelaslah bagi kita, betapa besar pengaruh ajaran Syi'ah ke dalam aliran Ahmadiyah dan pengaruh tersebut tampak lebih dominan terutama dalam masalah kewahyuan dan kenabian. Pengaruh tersebut, sangat boleh jadi lewat ajaran kaum Sufi Syi'ah di daerah dimana Mirza Ghulam Ahmad tinggal atau dibesarkan.

 

Pemusnahan mushaf-mushaf pribadi di kalangan sahabat Nabi, dan hanya Mushaf 'Usmani saja yang diakui sebagai mushaf standar rupanya mendorong kaum Syi'ah untuk mempertahankan mushaf 'Ali, kemudian mushaf 'Ali tersebut, mereka tambah ayat-ayatnya menjadi 17.000 ayat. Sesudah itu mereka melemparkan tuduhan terhadap lawan-lawan politiknya. Seorang pengarang kitab Faslul-Kitab fi Isbati Kitabi Rabbil-Arbab, yang bernama Husain ibn Muhammad Taqi an-Nuri at-Tabarisi, menuduh para pembesar sahabat seperti: Abu Bakr, 'Umar, dan 'Usman, telah mengubah al-Quran dengan menghilangkan sebagian dari surah-surah dan ayat-ayatnya yang berkenaan dengan keutamaan Ahlul Bait, juga mengenai perintah untuk mengikuti Ahlul-Bait, serta larangan memusuhinya. Sebagai yang dicontohkan dalam Surah al-Insyirah, dimana salah satu ayatnya menurut mereka dibuang oleh kaum Sunni, yaitu ayat:

 

[kata-kata Arab].

 

Disamping itu mereka juga berkeyakinan bahwa dalam Mushaf 'Usmani ada surah yang panjang yang dibuang, yang mereka namakan sebagai Surah al-Walayah.[12]

 

Paham kewahyuan Syi'ah tersebut menunjukkan kepada kita betapa menyimpangnya pemahaman mereka tentang al-Quran, apabila dibandingkan dengan pemahaman kaum Sunni. Karena sikap mereka yang eksklusif inilah yang mendorong mereka menghalalkan cara-cara yang telah diharamkan oleh Islam, yaitu dengan menambah-nambah ayat atau surah dalam al-Quran, sehingga mereka berpendirian bahwa al-Quran yang sekarang berada di tangan ummat Islam adalah palsu, demikian kaum Syi'ah. Adapun al-Quran yang benar adalah al-Quran yang diambil melalui imam-imam mereka. Selanjutnya ad-Dihlawi menambahkan, golongan Syi'ah Isna 'Asyariyyah melarang pada para pengikutnya, berdalil dengan menggunakan Mushaf 'Usmani sebab menurut pendirian mereka bahwa mushaf tersebut adalah:

 

1.Kalimat-kalimatnya yang telah diubah atau dihilangkan sebagian surah-surahnya, demikian pula tentang tertib urut sebagian surah-surahnya ("tidak asli lagi").

 

2.Penulisan Mushaf 'Usmani mereka ibaratkan seperti penulisan Kitab Taurat dan Injil. Karena sebagian penulisnya adalah kaum munafiq dan penipu agama.

 

3.Bahwa Kitab Taurat dan Injil telah di-nasakh (digantikan) oleh al-Quran. Sedangkan al-Quran yang beredar sekarang banyak sekali yang telah dirusak. Dan tidak seorang pun yang mengerti (keaslian) Kitab al-Quran ini kecuali tiga orang imam Syi'ah. Siapa tiga orang yang dimaksud itu, tampaknya sulit diketahui, sebab sumber itu tidak menyebutkan atau mengisyaratkannya.[13] Demikian pendirian kaum Syi'ah dalam mempertahankan paham kewahyuan mereka dan tampak bertolak belakang dengan paham kaum Sunni.

 

Catatan Kaki:

 

8.Syah 'Abdul-'Aziz Ghulam Hakim ad-Dihlawi, Mukhtasar at-Tuhfatul-Isna 'Asyariyyah (Turki: Isik Kitabevi, 1980), hlm. 10; 24. Selanjutnya disebut ad-Dihlawi.[back]
9.Subhi Salih, Mabahis fi 'Ulumil-Quran (Kairo: Darul-Ittihad al-'Arabi lit Tiba'ah, 1977), hlm. 83.[back]
10.Ad-Dihlawi, op. cit., hlm. 30.[back]
11.Ibid., hlm. 52.[back]
12.Ibid., hlm. 30, 31.[back]
13.Ibid., hlm. 50.[back]