Perbandingan antara Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyyah

Top  Previous  Next

Persamaan Dan Perbedaan Antara Paham Mahdi Syi'ah Dan Paham Mahdi Ahmadiyah

 

Pada umumnya keyakinanterhadap al-Mahdi mulai terbentuk sesudah pemimpin Syi'ah yang dicintai oleh pengikutnya itu wafat, sejak dari Mahdiisme Kaisaniyyah sampai Mahdiisme Syi'ah Isna 'Asyariyyah. Krisis kepemimpinan Syi'ah selalu dibarengi dengan usaha-usaha untuk mempertahankan kebenaran kelompoknya dengan memasukkan doktrin 'aqidah ar-raj'ah, masalah gaibah dan Mahdiyyah kepada para pengikutnya, kemudian diikuti dengan membuat hadis-hadis tentang al-Mahdi.

 

Demikian juga keadaan ummat Islam India yang sedang dalam penderitaan, dibawah tekanan pernerintah kolonial Inggris, tentunya mereka juga mengharapkan munculnya seorang tokoh pimpinan yang dapat melepaskan mereka dari berbagai penderitaan. Terutama sekali sesudah pemerintah Inggris di India mengucilkan ummat Islam di satu pihak, dan menganak-emaskan ummat Hindu di pihak lain, seperti sikap pemerintah kolonial Belanda terhadap golongan Muslim di Indonesia,dengan menganak-emaskan golongan Cina dan kaum Nasrani, pada masa sebelum kemerdekaan.

 

Apabila di tengah-tengah memuncaknya penderitaan masyarakat Muslim India yang tertindas seperti yang dialami oleh ummat Islam di Indonesia, kemudian timbul pemberontakan melawan pemerintah kolonial, namun akhirnya dapat ditumpas, maka dalam situasi yang demikian itu, lalu muncul seorang tokoh baru yang mengaku sebagai al-Masih al-Mau'ud dan al-Mahdi al-Ma'hud adalah merupakan gejala umum munculnya ide Mahdiisme di kalangan masyarakat Muslim. Akan tetapi perlu diketahui, munculnya gerakan Mahdiisme di India ini, berbeda dengan gerakan-gerakan perlawanan rakyat terhadap pemerintah kolonial, baik yang muncul di Jawa Barat, Jawa Tengah maupun di Jawa Timur yang dipelopori oleh ummat Islam, dikenal pula dengan sebuah gerakan Mahdi, namun gerakan Mahdi di Jawa lebih mirip dengan gerakan Mahdi Syi'ah. Sekalipun demikian, gejala-gejala yang muncul di permukaan, seperti adanya kepercayaan terhadap tokoh karismatis yang dijanjikan, kekeramatan atau keajaiban, pengakuan sebagai Wali Allah, pengakuan (seorang tokohnya) telah menerima wahyu atau wangsit (pesan) dari tokoh yang supematural dan masih gaib, kemudian disusul dengan munculnya seorang yang mengaku atau ditokohkan sebagai al-Mahdi atau Ratu Adil, untuk mengusir penjajah.

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gerakan Mahdi dan seumpamanya, adalah melupakan modus suatu masyarakat tertindas dan belum maju serta mengalami perubahan sosial yang drastis, guna menuntut perbaikan nasib mereka, atau sebagai protes sosial tehadap penguasa yang zalim, dan keadaan seperti ini, selalu terjadi dalam siklus sejarah ummat manusia. Biasanya gerakan Mahdiisme ini, selalu ditandai dengan protes-protes sosial yang bersifat keagamaan dan sering menjurus ke arah radikalisme. Kadang-kadang gerakannya bersifat nativistis, dan di saat yang lain, ia lebih bersifat millenaristis, bahkan kadangkadang lebih bersifat messianistis.

 

Adapun persamaan dan perbedaan antara paham Mahdi Syi'ah dengan paham Mahdi Ahmadiyah ialah bahwa kedua aliran ini telah menjadikan paham Mahdi sebagai keyakinan prinsip mereka. Hanya saja bagi golongan Ahmadiyah dan Syi'ah Isma'iliyyah, kemunculan tokoh al-Mahdi telah menjadi kenyataan sejarah Bedanya kalau idealisme kemahdian Syi'ah Isma'iliyah telah berakhir dengan wafatnya 'Abdullah al-Mahdi, maka lain halnya dengan idealisme kemahdian golongan Ahmadiyah yang terus hidup dan berkembang, karena ide pembaharuan yang dicanangkan oleh Mirza Ghul-am Ahmad belum tercapai. Idealisme Ahmadiyah, tampak lebih realistis bila dibandingkan dengan idealisme kemahdian Syi'ah Isna 'Asyariyyah, dimana keinginan untuk mewujudkan cita-cita golongan terakhir ini menunggu al-Mahdi al-Muntazar, adalah merupakan idealisme yang fantastis. Sekalipun demikian, semangat Mahdiisme di kalangan pengikut Syi'ah Dua belas ini, lebih lama bertahan daripada semangat Mahdiisme Syi'ah yang lain.

 

Adapun persamaan landasan tersebut, tampaknya kedua aliran ini, sama-sama menggunakan al-Quran dan hadis sebagai dasar aqidah Mahdiyyah masing-masing, sekalipun al-Quran sendiri secara eksplisit tidak pernah menyinggung masalah kemahdian. Akan tetapi, bagi kaum Syi'ah, menunggu kehadiran al-Mahdi merupakan keyakinan pokok, dan untuk menguatkan keyakinannya, mereka mencipta nama julukan untuk al-Mahdi, seperti kata al-qa'im, yang terdapat di dalam al-Quran. Oleh karena itu, al-Kulaini menafsirkan kata al-qa'im dalam Surah ar-Ra'd: 33, sebagai al-Mahdi.

 

"Apakah Tuhan yang menjaga setiap diri (al-Qa'im) terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)?"

 

Kata al-qa'im di atas, diinterpretasikan sebagai al-Mahdi, demikian menurut paham Syi'ah.[21] Tentunya penafsiran tersebut, dikuatkan pula oleh hadis-hadis Mahdiyyah versi Syi'ah yang berupa fatwa-fatwa para Imam Syi'ah.

 

Bagi kaum Syi'ah, sekalipun mereka mensejajarkan kehebatan Imam Mahdi dengan kehebatan nabi, namun umumnya mereka secara tegas tidak memandang al-Mahdi sebagai nabi, berbeda dengan golongan Ahmadiyah, khususnya sekte Qadiani, mereka berkeyakinan bahwa al-Mahdi adalah nabi yang tidak mandiri (gair mustaqil). Oleh karena al-Mahdi adalah al-Masih, dan al-Masih adalah nabi yang mengejawantah pada diri Mirza Ghulam Ahmad, maka untuk menguatkan keyakinan ini, mereka menafsirkan kata [kata-kata Arab] dalam surah as-Saf: 6, sebagai al-Mahdi.

 

"Dan (ingatlah) ketika'Isa ibn Maryam berkata, "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang diturunkan) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad."

 

Sekte Qadiani berpendapat bahwa dalam ayat ini, nama Ahmad diperuntukkan kepada Mirza Ghulam Ahmad, karena dia sama dengan Nabi Isa a.s., dalam sifat-sifatnya, sedangkan Nabi Muhammad SAW., sifat dan pola perjuangannya sama dengan Nabi Musa a.s.[22] Pendapat ini berbeda dengan pendapat sekte Lahore, bahwa nama Ahmad dalam ayat tersebut, adalah untuk diri Nabi Muhammad, sesuai dengan tafsiran para sahabat dan tafsiran Mirza Ghulam Ahrnad sendiri.[23] Selanjutnya tentang hadis-hadis yang mereka pergunakan sebagai dalil untuk menguatkan pendirian mereka, umumnya adalah hadis-hadis yang terdapat pada kitab-kitab Sunan sebagaimana yang digunakan oleh kaum Sunni. Sekalipun demikian, mereka tidak memakai hadis-hadis Mahdiyyah Ahmadiyah, tidak bisa menerima al-Mahdi keturunan Arab. Akan tetapi, yang mereka yakini adalah Mahdi keturunan Persia dan tidak ada hubungannya dengan Ahlul-Bait.

 

Barangkali perlu ditambahkan bahwa kedudukan al-Mahdi dalam pandangan Syi'ah, lebih tinggi daripada kedudukan 'Isa al-Masih yang diturunkan kembali ke dunia, dimana al-Mahdi tampil sebagai imam salat, sedangkan al-Masih sebagai ma'mumnya, mengakui semua imam-imam Syi'ah, dan mengingkari al-Mahdi, demikian menurut keyakinan mereka, ibarat orang yang mengakui semua nabi dan mengingkari Nabi Muhammad.[24]

 

Catatan kaki:

 

21.Donaldson, op. cit., hlm. 232.[back]
22.Departemen Agama, "Potensi Organisasi Keagamaan Ahmadiyah Qadian," vol. II, (Laporan Penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Kanwil Departemen Agama Semarang, 1984/1985), hlm. 33.[back]
23.Tim Dakwah PB. GAI, op. cit., hlm. 23.[back]
24.Ihsan Ilahi Zahir, op. cit., hlm. 362.[back]