Faham Mahdi Dalam Perspektif Rasional

Top  Previous  Next

Proses Tersebarnya Paham Mahdi

 

Paham Mahdi atau Mahdiisme, semula merupakan isu politik dari golongan Syi'ah yang kalah secara serius dalam percaturan politik di abad-abad pertama Hijrah. Kekalahan Syi'ah ini, tentunya melemahkan semangat dan daya juang diantara pengikutya. Gejala melemahnya semangat juang mereka dalam mempertahankan eksistensinya, tampaknya menjadi perhatian khusus bagi kaum politisi Syi'ah yang berambisi untuk merebut kekuatan politik. Mereka berusaha membangkitkan kembali semangat perjuangan para pengikutnya dengan mengisukan al-Mahdi sebagai Juru Selamat yang akan memberi pertolongan dan memenangkan kembali perjuangan mereka, lewat para propagandis Syi'ah yang amat fanatik.

 

Bersamaan dengan isu politik yang baru ini, dicipta pula hadis-hadis Mahdiyyah yang memberi harapan-harapan baru, yaitu akan diraihnya kembali kejayaan dan kemenangan kaum Syi'ah dalam menghadapi lawan-lawan politiknya. Isu al-Mahdi yang bersifat politis ini ditopang oleh 'aqidah ar-raj'ah, masalah al-gaibah dan imamah ciptaan Ibn Saba'. Kemudian isu tersebut diformulasikan oleh kelompok politisi Syi'ah yang lihai, menurut analisis Ahmad Amin rupanya proses terbentuknya paham Mahdi dimulai dari term "pemerintahan Syi'ah yang ditunggu-tunggu," kemudian isu tersebut berkembang dan berubah menjadi "penguasa yang ditunggu-tunggu," yang selanjutnya berubah lagi menjadi "al-Mahdi yang ditunggu-tunggu." Sayang proses terbentuknya paham Mahdi itu, tidak dijelaskan secara kronologis dengan menyebutkan tokoh-tokoh Syi'ah yang mencipta paham tersebut.

 

Akan tetapi, sejak kekalahan Syi'ah Kaisaniyyah, isu al-Mahdi al-Muntazar sudah muncul dan mereka sebarkan di kalangan pengikutnya. Dari sekte ini, isu al-Mahdi diambil alih oleh sub-sub sekte dari Syi'ah Imamiyyah, dan pengikut paham Mahdi yang paling dikenal dalam sejarah adalah paham Mahdi Syi'ah Isna 'Asyariyyah dan Isma'iliyyah, keduanya mempunyai daerah pengaruh yang cukup luas, lantaran aktivitas para propagandisnya yang fanatik. Keefektivan penyebaran paham Mahdi ini ditunjang pula oleh adanya suasana kemunduran dan kekalahan diantara kelompok-kelompok Muslim yang sedang bersaing, di satu pihak, dan, di pihak lain, karena adanya semangat baru diantara kelompok tersebut untuk bangkit kembali guna menebus kekalahan mereka di bidang politik. Tujuan utamanya tidak lain adalah membangun kembali kejayaan mereka yang telah hilang, namun demikian, tidak jarang dijumpai dalam masyarakat kita muncul seorang yang mendakwahkan dirinya sebagai Imam Mahdi secara person, tanpa memiliki latar belakang perjuangan dari suatu kelompok tertentu.

 

Selain itu perlu ditambahkan disini, bahwa golongan Sufi tidak kalah hebat peranannya dalam menyebarkan paham Mahdi. Merekalah yang digambarkan oleh Fazlur Rahman sebagai Qussas, story-teller atau juru cerita yang sangat besar pengaruhnya di kalangan masyarakat umum. Untuk menarik perhatian umum, mereka memperluas cerita dalam al-Quran dan membumbuinya dengan kisah-kisah yang bersumber dari agama Nasrani, Yahudi, Gnostik, bahkan diambil juga dan kisah-kisah dalam agama Buddha dan Zoroaster. Juru cerita yang berhaluan Syi'ah dan yang berada dalam pengaruh Kristen ini dengan sengaja memasukkan ide-ide baru tentang al-Mahdi sebagai figur spiritual yang akan muncul di akhir zaman dan akan menegakkan kembali supremasi dan keadilan Islam dengan memberantas kaum yang menentang Tuhan.[16]

 

Dalam hubungan ini, sementara golongan Sufi lain dalam paham kemahdiannya mempunyai corak kemahdian yang berbeda, yaitu apa yang disebut al-Quth, atau pemimpin utama penguasa rohaniah Al-Qutb ini, menurut Ahmad Amin, merupakan tandingan Imam atau al-Mahdi. Dia dipandang sebagai pengatur segala urusan sepanjang masa dan diyakini sebagai tiang penyangga langit dan tanpa keberadaannya sudah barang tentu langit itu akan runtuh. Selanjutnya dijelaskan bahwa di bawah al-Qutb ini adalah tingkatan para cerdik pandai, demikian Ahmad Amin.[17]

 

Dari keterangan diatas, jelaslah bahwa al-Mahdi dalam perspektif rasional tampak sulit diterima sebagai ajaran dari Nabi, dan hal itu sendiri tidak terdapat didalam al-Quran maupun didalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Memang, jika orang membaca hadis-hadis Mahdiyyah hanya sepintas dan hanya beberapa buah hadis saja yang ditelaahnya, tanpa mau membandingkan secara jeli dengan hadis-hadis Mahdiyyah lainnya yang penuh kontroversial, tentunya dia akan menerimanya dan mempercayainya sebagai sesuatu yang benar-benar datang dari Nabi. Akan tetapi, jika dia mempelajarinya dengan sikap kritis serta menghubungkannya dengan sejarah ummat Islam secara obyektif, maka dia tidak akan menerima begitu saja pernyataan-pernyataan hadis Mahdiyyah yang bertentangan dengan penalaran akal sehat itu.

 

Catatan kaki:

 

16.Fazlur Rahman, op. cit., hlm. 132-3.[back]
17.Duhal-Islam III, op. cit., hlm. 245.[back]