Agama di Televisi dan
Dalam Kehidupan
ada suatu hari yang cerah, penulis memasuki ruang tunggu
lapangan terbang Cengkareng, jam 05.30 WIB pagi. Sam­
P
bil menunggu saat penerbangan pertama ke Yogyakarta,
penulis mendengarkan siaran TV di ruang tunggu itu. Seorang
penceramah agama sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan para pemirsa melalui telepon, ketika dihadap­
kan pada masalah-masalah hukum Islam (fiqh) tentang saat
menjalankan ibadah haji. Salah seorang pemirsa menanyakan;
apakah sebuah tindakan yang dilakukan jama’ah haji dapat di­
masukkan dalam kategori perbuatan yang merusak ihram atau
tidak.
Dalam menjawab pertanyaan tersebut, sang penceramah
melakukan pembedaan, antara hal-hal yang merusak syarat-sya­
rat ibadah haji, merusak kewajiban-kewajiban haji dan merusak
ihram itu sendiri. Hal elementer seperti ini -dengan akibat hu­
kum-hukum agama (canon law) sendiri pula yang biasa dipela­
ja­i dari kitab-kitab agama di pesantren, dijelaskan di layar tele­
visi itu oleh sang penceramah. Ini tentu karena sang penanya
diandaikan tidak tahu masalahnya, karena mereka hanya berko­
munikasi melalui telepon. Sekaligus, pertanyaan itu menunjuk­
kan perhatian sang pemirsa tersebut pada segi-segi ibadah, keti­
ka menunaikan perjalanan ibadah haji. Mungkin itu juga disertai
oleh pandangan tertentu mengenai perjalanan haji: peribadatan
yang menyenangkan, menjengkelkan atau yang tidak berguna
sama sekali.
g 239 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
Sudah tentu seorang jama’ah haji memiliki wewenang ber­
tanya tentang sesuatu hal yang oleh jama’ah lain dianggap soal
kecil. Bukankah ia telah mengeluarkan biaya yang sangat besar
untuk melakukan perjalanan tersebut, bahkan mungkin saja ia
sampai menabung uang seumur hidup untuk itu. Karenanya, ia
berhak bertanya apa saja, karena perjalanan tersebut merupakan
sebuah obsesi dalam hidupnya. “Hak” ini adalah sesuatu yang sa­
ngat inherent dalam hidup sang penanya, dan sangat menyedih­
kan bahwa Departemen Agama Republik Indonesia (Depag-RI)
yang menjadi penyelenggara ibadah haji tersebut tidak pernah
mengumpulkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti
itu dalam sebuah buku yang dapat dijadikan pegangan bagi para
calon jama’ah haji. Maka terpaksalah mereka bertanya melalui
TV karena tidak ada saluran lain.
Ketika memasuki lapangan terbang itu, penulis juga ber­
jumpa dengan Jajang C. Noer dan Debra Yatim, keduanya ak­
tivis perempuan -yang juga sama-sama akan menuju Yogyakar­
ta, untuk menayangkan film tentang perjuangan kaum perem­
puan di negeri kita. Tentu saja pertunjukkan film tersebut akan
disertai dialog antara para pemirsa dan kedua aktifis tersebut.
Dan dapat diperkirakan, mereka akan berbeda mengenai tema
makro yaitu tentang perjuangan menegakkan hak-hak wanita
di negeri kita. Ini adalah hal yang wajar, bahkan kalau itu tidak
dibicarakan, justru kita bertanya-tanya dalam hati, kedua orang
aktifis itu untuk apa datang ke Yogyakarta? Kalau hanya untuk
memutar film itu dapat dilakukan oleh para petugas setempat.
Tentu saja merupakan hal yang wajar pula, jika orang lain meng­
anggap pembicaraan mereka itu sesuatu yang bersifat setengah
makro, karena membahas kepentingan kurang lebih separuh
warga masyarakat, yaitu kaum perempuan. Pembahasan baru di­
anggap makro ketika menyangkut pembedaan masyarakat oleh
negara, karena mereka berpendapat bahwa bahasan yang tidak
menyangkut struktur masyarakat, belumlah dianggap sebagai
pembahasan yang serius. Bahwa pembahasan mengenai nasib
perempuan, termasuk apakah poligami (beristri banyak) selayak­
nya dilarang atau tidak, juga menyangkut posisi dan harkat tiga
milyar jiwa lebih kaum perempuan di seluruh dunia saat ini, da­
lam pandangan ini tidak otomatis menjadikan masalah gender
sebagai masalah makro. Memang ini adalah masalah yang sangat
besar dan menyangkut jumlah manusia yang sangat besar pula.
g 240 h
Agama Di TV dan Dalam Kehidupan
Tapi, ia tidak terkait dengan masalah struktur masyarakat.
Karena itu pula ia tetap diperlakukan sebagai masalah mik­
ro. Ditambah dengan ketidakpedulian mayoritas jumlah laki-laki
dan perempuan yang tidak memperhatikan masalah ini, dengan
sendirinya masalah gender ini tidak berkembang menjadi ma­
salah struktural. Memang para aktifis di berbagai bidang di ling­
kungan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dari jenis hawa,
selalu meneriakkan dengan lantang bahwa masalah perempuan/
gender adalah masalah struktural, tetapi tetap saja masalah itu
diperlakukan dalam dunia LSM internasional dan domestik se­
bagai masalah non-struktural. Ini memang menyakitkan, tapi
dalam kenyataan hal ini memang terjadi, dan kita tidak usah me­
ratapinya. Perjuangan memang masih panjang, dan hal itu tidak
perlu diperlakukan secara emosional.
Paham ketiga yaitu, tidak pernah mempersoalkan struktur
masyarakat, dan menganggap semua struktur masyarakat yang
ada dalam sejarah sebagai sesuatu yang benar. Masalah pokok
yang dihadapi umat manusia, menurut pandangan ini, adalah
bagaimana menegakkan keadilan dan kemakmuran yang dalam
ajaran agama Islam disebut dengan istilah kesejahteraan. Jadi,
menurut pandangan ini, masalah utamanya adalah penegakan
hukum dan perumusan kebijakan serta pelaksanaan di bidang
ekonomi, terlepas dari jenis dan watak struktur itu sendiri. Ini­
lah pandangan yang sering disebut sebagai pandangan non-struk­
tural, juga dikenal dengan pandangan developmentalist.
Dalam pandangan ini, Islam atau agama-agama lain dapat
berperan memerangi materialisme dan sebagainya, tanpa mem­
pengaruhi struktur masyarakat. Masalah yang dihadapi terkait
sepenuhnya dengan keahlian dan pengorganisasian sumber daya
manusia yang dimiliki.
Pandangan non-struktural ini, antara lain diikuti oleh para
teknokrat kita, yang selama ini menentukan kebijakan pemba­
ngunan yang kita ikuti sebagai bangsa. Dan ternyata para tek­
nokrat tersebut telah menemui kegagalan, karena keadilan dan
kemakmuran ternyata tidak kunjung tercapai, yang menikmati
hanyalah sejumlah konglomerat belaka. Karenanya, pembahasan
mengenai hubungan antara agama dan ideologi negara, sebaik­
nya dibatasi pada pandangan-pandangan agama yang ada me­
ngenai struktur sosial yang adil bagi seluruh warga masyarakat,
dan menuju pada kemakmuran bangsa. Pendekatan struktural
g 241 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
ini diperlukan, karena memang semua agama menghendaki ma­
syarakat yang adil, menuju pencapaian kemakmuran. “Baldatun
tayyibatun wa rabbun ghafûr (QS Saba’ [34]:15) (negara yang
baik dan Tuhan yang Maha Pengampun)” adalah semboyan upa­
ya kaum muslimin dalam menciptakan masyarakat yang demi­
kian itu, sesuai dengan ajaran Islam sendiri. Karenanya, mem­
bahas hubungan antara Islam dengan negara, dengan membahas
struktur masyarakat yang hendak didirikan, adalah sesuatu yang
secara inherent menyangkut keadilan, dan dengan demikian
merupakan struktur masyarakat yang benar. h
g 242 h
Arabisasi,
Samakah dengan Islamisasi?
eberapa tahun yang lampau, seorang ulama dari Pakistan
datang pada penulis di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul
B
Ulama (PBNU) Jakarta. Pada saat itu, Benazir Bhutto ma­
sih menjabat Perdana Menteri Pakistan. Permintaan orang alim
itu adalah agar penulis memerintahkan semua warga NU untuk
membacakan surah Al-Fatihah bagi keselamatan Bangsa Pakis­
tan. Mengapa? Karena mereka dipimpin Benazir Bhutto yang
berjenis kelamin perempuan. Bukankah Rasulullah SAW telah
bersabda “celakalah sebuah kaum jika dipimpin oleh seorang
perempuan”? Penulis menjawab bahwa hadits tersebut disabda­
kan pada Abad VIII Masehi di Jazirah Arab. Ini berarti diperlu­
kan sebuah penafsiran baru yang berlaku untuk masa kini?
Pada tempat dan waktu Rasulullah masih hidup itu, kon­
sep kepemimpinan bersifat perorangan -di mana seorang kepala
suku harus melakukan hal-hal berikut: memimpin peperangan
melawan suku lain, membagi air melalui irigasi di daerah padang
pasir yang demikian panas, memimpin karavan perdagangan dari
kawasan satu ke kawasan lain dan mendamaikan segala macam
persoalan antar para keluarga yang berbeda-beda kepentingan
dalam sebuah suku, yang berarti juga dia harus berfungsi mem­
buat dan sekaligus melaksanakan hukum.
Sekarang keadaannya sudah lain, dengan menjadi pemim­
pin, baik ia presiden maupun perdana menteri sebuah negara,
konsep kepemimpinan kini telah dilembagakan/diinstitusional-
g 243 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
isasikan. Dalam konteks ini, Perdana Menteri Bhutto tidak boleh
mengambil keputusan sendiri, melainkan melalui sidang kabi­
net yang mayoritas para menterinya adalah kaum lelaki. Kabinet
juga tidak boleh menyimpang dari Undang-undang (UU) yang
dibuat oleh parlemen yang mayoritas beranggotakan laki-laki.
Untuk mengawal mereka, diangkatlah para Hakim Agung yang
membentuk Mahkamah Agung (MA), yang anggotanya juga laki-
laki. Karenanya, kepemimpinan di tangan perempuan tidak lagi
menjadi masalah, karena konsep kepemimpinan itu sendiri telah
dilembagakan/ di-institusionalisasi-kan. “Anda memang benar,”
demikian kata orang alim Pakistan itu, “tetapi tolong tetap ba­
cakan surah Al-Fatihah untuk keselamatan bangsa Pakistan”.
eg
Kisah di atas, dapat dijadikan contoh betapa Arabisasi telah
berkembang menjadi Islamisasi -dengan segala konsekuensinya.
Hal ini pula yang membuat banyak aspek dari kehidupan kaum
muslimin yang dinyatakan dalam simbolisme Arab. Atau dalam
bahasa tersebut, simbolisasi itu bahkan sudah begitu merasuk ke
dalam kehidupan bangsa-bangsa muslim, sehingga secara tidak
terasa Arabisasi disamakan dengan Islamisasi.1 Sebagai contoh,
nama-nama beberapa fakultas di lingkungan Institut Agama Is­
lam Negeri (IAIN) juga di-Arabkan; kata syarî’ah untuk hukum
Islam, adab untuk sastra Arab, ushûluddin untuk studi gerakan-
gerakan Islam dan tarbiyah untuk pendidikan agama. Bahkan
fakultas keputrian dinamakan kulliyyat al-banât. Seolah-olah
tidak terasa ke-Islaman-nya kalau tidak menggunakan kata-kata
1 Dua istilah ini memiliki implikasi yang berbeda, meski bermula pada
pemahaman teks-teks keislaman, al-Qur’an dan Hadis. Namun demikian, ke­
tika mendekati teks-teks tersebut senantiasa meniscayakan adanya korelasi
dan hubungan erat dengan kondisi historis dan sosial yang ada di sekitarnya.
Dalam konteks ini pula lah, sebuah hadis harus dipahami secara cermat dalam
kapasitas apakah Muhammad sebagai salah satu orang Arab dengan segala
setting kulturalnya, atau apakah Muhammad sebagai Rasul yang membawa
pesan-pesan Ketuhanan. Pemetaan ini sangatlah penting, sehingga Imam
Ghazali, seorang pengarang prolific, telah sejak dini melakukan pemisahan an­
tara sabda Nabi yang bersifat budaya kultural dan pesan Nabi sebagai advise
keagamaan yang harus diikuti dan bersifat mengikat. Ghazali adalah ulama
yang pertama kali berani membuat garis demarkasi antara mana yang “Arabis”
dan mana yang “Islamis”
g 244 h
Arabisasi, Samakah dengan Islami?
bahasa Arab tersebut.
Kalau di IAIN saja, yang sekarang juga disebut UIN (Uni­
versitas Islam Negeri) sudah demikian keadaannya, apa pula na­
ma-nama berbagai pondok pesantren.2 Kebiasaan masa lampau
untuk menunjuk kepada pondok pesantren dengan mengguna­
kan nama sebuah kawasan/tempat, seperti Pondok Pesantren
(PP) Lirboyo di Kediri, Tebu Ireng di Jombang dan Krapyak di
Yogyakarta, seolah-olah kurang Islami, kalau tidak mengguna­
kan nama-nama berbahasa Arab. Maka, dipakailah nama PP Al-
Munawwir di Yogya -misalnya, sebagai pengganti PP Krapyak.
Demikian juga, sebutan nama untuk hari dalam seminggu.
Kalau dahulu orang awam menggunakan kata “Minggu” untuk
hari ke tujuh dalam almanak, sekarang orang tidak puas kalau
tidak menggunakan kata “Ahad”. Padahal kata Minggu, sebenar­
nya berasal dari bahasa Portugis, “jour dominggo”, yang berarti
hari Tuhan. Mengapa demikian? Karena pada hari itu orang-
orang Portugis —kulit putih pergi ke Gereja. Sedang pada hari
itu, kini kaum muslimin banyak mengadakan kegiatan keagama­
an, seperti pengajian. Bukankah dengan demikian, justru kaum
muslimin menggunakan hari tutup kantor tersebut sebagai pusat
kegiatan kolektif dalam ber-Tuhan?
eg
Dengan melihat kenyataan di atas, penulis mempunyai
persangkaan bahwa kaum muslimin di Indonesia, sekarang jus­
tru sedang asyik bagaimana mewujudkan berbagai keagamaan
mereka dengan bentuk dan nama yang diambilkan dari Bahasa
Arab. Formalisasi ini, tidak lain adalah kompensasi dari rasa ku­
rang percaya diri terhadap kemampuan bertahan dalam meng­
2 Pondok pesantren disebut juga sebagai lembaga pendidikan tertua
yang telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam, pu­
sat dakwah, dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia. Kata
pesantren atau santri berasal dari Bahasa Tamil yang berarti “guru mengaji”.
Sumber lain menyebutkan bahwa kata itu berasal dari bahasa India shastri
dari akar kata shastra yang berarti “buku-buku suci”, “buku-buku agama”, atau
buku-buku tentang ilmpu pengetahuan”. Di luar Jawa lembaga pendidikan ini
disebut dengan nama lain, seperti surau (di Sumatera Barat), dayah (Aceh),
dan pondok (daerah lain). Kekhususan pesantren dibanding dengan lembaga-
lembaga pendidikan lainnya adalah para santri atau murid tinggal bersama
dengan Kyai atau guru mereka dalam suatu komplek tertentu yang mandiri.
g 245 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
hadapi “kemajuan Barat”. Seolah-olah Islam akan kalah dari per­
adaban Barat yang sekuler, jika tidak digunakan kata-kata ber­
bahasa Arab. Tentu saja rasa kurang percaya diri ini juga dapat
dilihat dalam berbagai aspek kehidupan kaum muslimin seka­
rang di seluruh dunia. Mereka yang tidak pernah mempelajari
agama dan ajaran Islam dengan mendalam, langsung kembali
ke “akar” Islam, yaitu kitab suci al-Qur’ân dan Hadits Nabi Saw.
Dengan demikian, penafsiran mereka atas kedua sumber tertulis
agama Islam yang dikenal dengan sebutan dalil naqli, menjadi
superficial dan “sangat keras” sekali. Bukankah ini sumber dari
terorisme yang kita tolak yang menggunakan nama Islam?
Dari “rujukan langsung” pada kedua sumber pertama Is­
lam itu, juga mengakibatkan sikap sempit yang menolak segala
macam penafsiran berdasarkan ilmu-ilmu agama (religious sub-
ject). Padahal penafsiran baru itu adalah hasil pengalaman dan
pemikiran kaum muslimin dari berbagai kawasan dalam waktu
yang sangat panjang. Para “Pemurni Islam” (Islamic puritan-
ism) seperti itu, juga membuat tudingan salah alamat ke arah
tradisi Islam yang sudah berkembang di berbagai kawasan se­
lama berabad-abad. Memang ada ekses buruk dari pengalaman
perkembangan pemikiran itu, tetapi jawabnya bukanlah berben­
tuk puritanisme yang berlebihan, melainkan dalam kesadaran
membersihkan Islam dari ekses-ekses yang keliru tersebut.
Agama lainpun pernah atau sedang mengalami hal ini, se­
perti yang dijalani kaum Katholik dewasa ini. Reformasi yang
dibawakan oleh berbagai macam kaum Protestan, bagi kaum
Katholik dijawab dengan berbagai langkah kontrareformasi se­
menjak seabad lebih yang lalu. Pengalaman mereka itu yang
kemudian berujung pada teologi pembebasan (liberation theo­
logy),3 merupakan perkembangan menarik yang harus dikaji
oleh kaum muslimin. Ini adalah pelaksanaan dari adagium “per­
bedaan pendapat dari para pemimpin, adalah rahmat bagi umat
(ikhtilâf al-a’immah rahmat al-ummah).” Adagium tersebut
bermula dari ketentuan kitab suci al-Qur’ân: “Ku-jadikan kalian
3 Sistem teologi semacam ini disebut juga dengan rumusan berteologi
yang mempunyai visi sosial dan kemanusiaan. Adalah Farid Essack, seorang
pemikir Islam berkebangsaan Afrika Selatan melalui karyanya, Qur’an, Libera­
tion, and Pluralism (Oxford: Oneworld Oxford, 1997) ingin menunjukkan bah­
wa ajaran-ajaran Islam sebagaimana terdapat dalam al-Qur’an adalah ajaran
yang membebaskan.
g 246 h
Arabisasi, Samakah dengan Islami?
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa agar kalian saling
mengenal (Wa ja’alnâkum syu’ûban wa qabâ’ila li ta’ârafû)”
(QS al-Hujurat(49):13). Makanya, cara terbaik bagi kedua belah
pihak, baik kaum tradisionalis maupun kaum pembaharu dalam
Islam, adalah mengakui pluralitas yang dibawakan oleh agama
Islam. h
g 247 h
Penyesuaian ataukah
Pembaharuan Terbatas
rof. Dr. Azyumardi Azra, Rektor UIN Syarif Hidayatullah
di Ciputat menjelaskan dalam dialog dengan para maha­
P
siswa di layar TVRI tanggal 26 Nopember 2002, tentang
penyebaran Islam di Nusantara. Ia mengemukakan bahwa Islam
disebarkan sejak berabad-abad yang lalu, di seluruh Nusantara
dengan berbagai karya para ulama kita dalam pengajian-penga­
jian. Di antara nama-nama yang disebutkan, terdapat nama
Syekh Arsyad Banjari (1710-1812)1 dari Martapura, Kalimantan
Selatan, ia dikirim oleh salah seorang sultan yang berkuasa di
kawasan tersebut untuk belajar belasan tahun lamanya di Mek­
kah. Namun, ia kembali ke Tanah Air dalam abad ke-18 M, dan
dikuburkan di Kelampayan, Martapura. Walaupun TVRI hanya
1 Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari merupakan salah seorang ulama
yang lahir di Lok Gabang, Martapura, 15 Safar 1122/ 19 Maret 1710 dan sangat
berpengaruh serta memegang peranan penting dalam sejarah dan perkembang­
an Islam, khususnya di Kalimantan. Beliau juga dikenal sebagai tokoh yang
gigih mempertahankan dan mengembangkan paham ahlusunnah waljama’ah
dengan teologi ‘Asy’ariyah dan fikih Mazhab Syafi’i. Semasa hidupnya, beliau
pernah menjabat sebagai mufti (penasehat di bidang agama) pada Kesultan­
an Banjar dan penulis kitab-kitab agama yang cukup produktif. Karya Arsyad
dalam bidang fiqih yang cukup terkenal adalah Sabîl al-Muhtadîn li Tafaqquh
fî Amr al-Dîn yang merupakan syarah dari kitab karya Nûr al-Dîn al-Raniri (w.
1068 H/1658 M), berjudul Shirât al-Mustaqîm. Kitab fikih bermazhab Syafi’i
dan yang ditulis berbahasa Melayu (Jawi) tulisan Arab tersebut dijadikan
sebagai buku pegangan dan bahan pelajaran di beberapa daerah di Indonesia,
Malaysia, dan Thailand.
g 248 h
Penyesuaian Ataukah Pembaharuan Terbatas?
menampilkan gambar istana sultan di Martapura, namun sebe­
narnya saat ini ada pesantren di Kelampayan yang memiliki
santri (pelajar) berjumlah belasan ribu orang.
Prof. Dr. Azyumardi Azra menyebutkan betapa besar jasa
para ulama yang mengaji di Mekkah dan dan kembali ke tanah
air, dalam dua hal: penyebaran agama Islam di kawasan masing-
masing, dan penerapan ajaran agama Islam secara lebih murni.
Pengawasan seorang pakar atas jalannya sejarah di bumi Nusan­
tara ini haruslah dihargai, dan temuan-temuannya itu haruslah
diteruskan oleh para peneliti sejarah Nusantara. Hanya dengan
demikian, kita akan dapat mencapai mutu kesejarahan yang
tinggi, karena didasarkan pada hasil-hasil kajian ilmiah yang
benar. Tentu saja, hasil-hasil kajian ini juga harus disiarkan me­
lalui media khalayak kepada orang awam dengan bahasa yang
mereka mengerti.
Apa yang dilakukan Prof. Dr. Azyumardi ini patut dihar­
gai, karena dengan demikian ia telah menyajikan fakta-fakta
sejarah kepada khalayak ramai. Ini bukanlah sesuatu yang kecil
artinya, karena justru dengan cara demikianlah dapat dilakukan
pendidikan masyarakat mengenai masa lampau negeri dan bang­
sa kita. Ini bahkan lebih besar jasanya daripada penyampaian
hal-hal normatif yang sekarang mendominasi penyiaran kita.
Karenanya, dibutuhkan lebih banyak orang-orang seperti Prof.
Dr. Azra ini, yang pandai menghubungkan dunia ilmiah dengan
masyarakat awam kita. Katakanlah dalam bahasa kuis televisi:
“seratus untuk Pak Azra.”
eg
Namun, tak ada gading yang tak retak, kalau meminjam
ungkapan terkenal berikut: “manusia adalah tempat kesalahan
dan kelalaian (al insân mahallu al khatha’ wa al-nisyân).” Ada
sedikit kesalahan dalam penyampaian beliau akan sejarah masa
lampau kita. Beliau menyatakan, bahwa banyak penyimpangan
yang disebabkan oleh adat dan budaya kita dari masa sebelum
itu, kemudian oleh ulama kita disesuaikan dengan hukum-hu­
kum agama (fiqh) yang formal. Disimpulkan dari situ, bahwa
mereka para ulama melakukan pemurnian Islam. Dan pemur­
nian itu sebenarnya adalah upaya untuk memelihara keabsahan
ajaran-ajaran agama Islam di negeri kita.
g 249 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
Dalam hal ini, apa yang diuraikan secara umum oleh Prof.
Dr. Azra itu, berlaku untuk para ulama umumnya di kawasan ini
pada masa lampau. Juga dengan percontohan mereka, seperti
terlihat dalam pelaksanaan akhlak dan penerapan ibadah, me­
reka para ulama itu telah merintis “ketaatan” agama yang luar
biasa pada bangsa kita, yang masih terpelihara sampai hari ini di
hadapan “pembaratan” (westernisasi) yang dianggap sebagai mo­
dernisasi. Proses seperti ini, yang berjalan sangat lambat selama
berabad-abad lamanya, sangat ditentukan oleh percontohan yang
diberikan elite kepada masyarakat kita. Inilah sebenarnya yang
harus kita ingat, karena kuatnya kecenderungan elite politik kita
dewasa ini hanya untuk mengejar keuntungan pribadi/golongan,
di atas kepentingan bangsa secara keseluruhan.
eg
Hal yang dilupakan Prof. Dr. Azra, adalah menyebutkan
juga fungsi lain yang dilakukan oleh Syekh Arsyad al-Banjari
degan karyanya Sabîl al-Muhtadîn, yang sekarang ini juga men­
jadi nama Masjid Raya/Agung di Kota Banjarmasin. Apa yang
dilupakan Dr. Azra, adalah bahwa dalam karya tersebut Syekh
Arsyad juga melakukan sebuah pembaharuan terbatas atas hu­
kum-hukum agama (fiqh). Dalam karyanya itu, beliau menyam­
paikan hukum agama Perpantangan. Hukum agama ini jelas
memperbaharui hukum agama pembagian waris (farâidh) seca­
ra umum. Kalau biasanya dalam hukum agama itu disebutkan,
ahli waris lelaki menerima bagian dua kali lipat ahli waris perem­
puan. Beliau beranggapan lain halnya dengan adat Banjar yang
berlaku di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan
dewasa ini.
Dalam karyanya itu, beliau menganggap untuk masyara­
kat bersungai besar, seperti di Kalimantan Selatan, harus diingat
adanya sebuah ketentuan lain. Yaitu, rejeki di kawasan itu ada­
lah hasil kerjasama antara suami dan istri. Ketika sang suami
masuk hutan mencari damar, rotan, kayu dan sebagainya, maka
istri menjaga jangan sampai perahu yang ditumpangi itu tidak
terbawa arus air, di samping kewajiban lain seperti menanak
nasi dan sebagainya. Dengan demikian, hasil-hasil hutan yang
dibawa pulang adalah hasil karya dua orang, dan ini tercermin
dalam pembagian harta waris. Menurut adat Perpantangan itu,
g 250 h
Penyesuaian Ataukah Pembaharuan Terbatas?
harta waris dibagi dahulu menjadi dua. Dengan paroh partama
diserahkan kepada pasangan yang masih hidup, jika suami atau
istri meninggal dunia dan hanya paroh kedua itu yang dibagikan
secara hukum waris Islam.
Dengan demikian, Syekh Arsyad melestarikan hukum aga­
ma Islam (fiqh) dengan cara melakukan pembaharuan terbatas.
Namun, pada saat yang bersamaan, beliau juga melakukan pe­
nyebaran agama Islam dan memberikan contoh yang baik bagi
masyarakatnya. Inilah jasa yang sangat besar yang kita kenang
dari hidup beliau, sekembalinya ke tanah air di kawasan Nusan­
tara ini. Hanya dengan inisiatif yang beliau ambil itu, dapat kita
simpulkan dua hal yang sangat penting: pertama, kemampuan
melakukan pembaharuan terbatas, kedua berjasa mendidik ma­
syarakat dalam perjuangan hidup selama puluhan tahun lama­
nya. Jasa dalam dua bidang ini sudah pantas membuat beliau
memperoleh gelar, sebagai penghargaan atas jasa-jasa beliau
yang sangat besar bagi kehidupan kita sebagai bangsa, di masa
kini maupun masa depan.
Jasa Syekh Arsyad di bidang pembaharuan terbatas ini,
dapat disamakan dengan jasa Sultan Agung Hanyakrakusuma2
dalam dinasti para penguasa Mataram. Dengan menetapkan
bahwa tahun Saka, harus dimulai pada bulan Syura, dan bulan­
nya berjumlah tigapuluh hari. Hal yang sama juga dilakukannya
atas hukum perkawinan-perceraian-rujuk yang berlaku hingga
2 Sultan Agung adalah Raja ketiga Kerajaan Mataram yang memerintah
tahun 1613-1645 dan berhasil membawa kerajaannya ke puncak kejayaan de­
ngan pusat pemerintahan di Yogyakarta. Nama kecilnya adalah Pangeran Jat­
miko dengan panggilan Raden Mas Rangsang. Pada tahun 1641, ia menerima
pengakuan dari Mekah sebagai seorang Sultan, kemudian mengambil gelar
selengkapnya Sultan Agung Anyakrakusumo Senopati Ing Alogo Ngabdurrah­
man (secara harfiah berarti raja yang agung, pangeran yang sakti, panglima
perang dan pemangku amanah Tuhan Yang Maha Kasih). Peninggalan Sultan
Agung yang paling legendaris adalah usaha pembaharuannya dalam kalender
Jawa. Sebagaimana diketahui, sebelum masuk pengaruh Islam, kalender yang
dikenal di pulau Jawa didasarkan pada sistem matahari yang lebih terkenal
dengan kalender Saka. Sementara Islam memakai kalender dengan sistem bu­
lan (Qamariyah) yang juga disebut sebagai kalender Hijriyah. Sultan Agung
mencoba menyelaraskan kedua sistem itu dengan menyatukannya serta men­
jadikannya sebagai kalender resmi Mataram. Salah satu ciri kalender tersebut
adalah penggunaan sistem bulan (hijriyah) dengan menggunakan tahun Saka,
seperti Muharram menjadi Suro, Safar menjadi Sapar, Rajab menjadi Rejeb,
dan seterusnya.
g 251 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
saat ini, yang diambilnya dari hukum agama Islam formal (fiqh).
Dengan demikian “pembaharuan terbatas” yang dilakukan kedua
tokoh tersebut berjalan tanpa kekerasan, seperti yang diajarkan
oleh agama Islam. Bukan dengan menggunakan kekerasan, apala­
gi terorisme seperti yang dilakukan sebagian sangat kecil kaum
muslimin yang tidak terdidik secara baik di negeri kita saat ini. h
g 252 h
Pentingnya Sebuah Arti
i akhir November tahun lalu, penulis diundang oleh se­
buah lembaga yang dipimpin Dr. Chandra Muzaffar1
D
untuk turut dalam sebuah diskusi di Malaysia. Karena
tempat dan tanggal diskusi itu dirubah, penulis tidak dapat turut
serta dalam pembahasan-pembahasan yang dilakukan. Penulis
hanya mengirimkan sebuah makalah tertulis kepada lembaga
itu, untuk dibahas dalam kesempatan tersebut. Mudah-mudah­
an dengan langkah itu penulis dapat turut serta dalam memba­
has masalah yang diperbincangkan, yaitu peranan agama dalam
mencari pemahaman yang benar tentang globalisasi. Kalau hal
itu tercapai, berarti penulis telah mengambil bagian dalam pem­
bahasan mengenai satu sisi globalisasi.
Memang, pembahasan mengenai globalisasi selalu sangat
menarik, bukankah hal itu menyangkut seluruh sisi kehidupan
umat manusia? Sisi kolektif kehidupan manusia, seperti perda­
gangan dan sistem keuangan, maupun sisi individual (pribadi)
seseorang -seperti selera kita akan sesuatu, sangat ditentukan
oleh pengertian kita akan globalisasi. Pengertian tertentu yang
diambil itu, dengan sendirinya mengakibatkan sikap tertentu
pula akan globalisasi. Pembahasan istilah tersebut akan sangat
menarik, karena relevansinya dengan kehidupan umat manusia.
Inilah yang mendorong penulis untuk mengirimkan ringkasan
sumbangan pemikiran bagi jalannya pembahasan mengenai pe­
1 Chandra Muzaffar adalah cendekiawan terkemuka Malaysia dan dike­
nal sebagai aktivis HAM. Pernah menjadi anggota eksekutif Asian Commission
on Human Rights dan dinominasikan sebagai pengawas HAM (1988). Buku
yang pernah ditulis antara lain Human Rights and the New World Order, (Pen­
ang: Just, 1993).
g 253 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
ranan agama dan globalisasi yang berlangsung di Malaysia itu.
Persoalannya terletak pada cara bagaimana kita memaha­
mi arti kata globalisasi tersebut. Sebuah pemahaman yang salah
akan mengakibatkan pandangan yang salah pula, dan ini beraki­
bat pada pengambilan sikap yang tidak benar. Dengan demikian
sikap kita, dan juga sikap agama-agama yang ada, harus diuji
kebenarannya melalui pengertian yang benar pula, dan memiliki
obyektifitas yang diperlukan. Dengan demikian, jelaslah bahwa
pengertian yang benar tentang kata tersebut sangat diperlukan,
kalau kita ingin memperoleh kesimpulan yang jelas dan benar.
eg
Dalam pengertian yang umum dipakai, kata globalisasi sa­
ngat dipahami sebagai dominasi usaha-usaha besar dan raksasa
atas tata niaga dan sistem keuangan internasional yang kita ikuti.
Ia juga dipahami sebagai pembentukan selera warga masyarakat
secara global/mendunia yang juga turut kita nikmati saat ini. De­
re­an penjualan “makanan siap-telan” (fast food) menjadi saksi
akan pemaknaan seperti itu. Selera kita ditentukan oleh pasar,
bukannya menentukan pasar. Dari fakta ini saja sudah cukup un­
tuk menjadi bukti akan kuatnya dominasi tersebut. Pengertian
lain globalisasi adalah dominasi komersial dan pengawasan atas
sistem finansial dalam hubungan antar-negara, inilah yang seka­
rang menentukan sekali tata hubungan antara negara-negara
yang ada. Karenanya, pembahasan arti kata globalisasi itu men­
jadi sangat penting dan akan menentukan masa depan umat ma­
nusia. Karena itulah kita juga harus turut berbicara, kalau tidak
ingin nantinya arti itu ditentukan oleh pihak lain yang disebut­
kan di atas.
Dalam hal ini, penulis menganggap arti kata globalisasi ini
harus dipahami secara lebih serius, karena kalau kita lengah dan
tidak memberikan perhatian, justru akan menjadi mangsa tata
niaga internasional yang berlaku di seluruh dunia saat ini. Maka­
nya, dari dulu penulis telah berkali-kali menyampaikan hal ini
kepada masyarakat melalui pidato, ceramah, prasaran maupun
artikel seperti ini.
Sikap penulis ini hampir-hampir tidak pernah mendapat­
kan responsi-responsi yang kreatif.Walaupun penulis jugamenge­
tahui banyak artikel ditulis untuk jurnal-jurnal ilmiah tentang
g 254 h
Pentingnya Sebuah Arti
hal ini, namun hampir seluruh karya-karya itu tidak mencapai
pembaca kebanyakan dan dengan demikian masyarakat tidak
turut pula dalam pembahasan mengenai arti kata globalisasi itu.
Dengan demikian, pemahaman sepihak yang bersifat materialis­
tik atas kata itu tetap saja menjadi dominan. Penulis juga tahu
bahwa dengan tulisan ini pun, masyarakat tetap saja banyak
yang tidak mengetahui adanya bermacam-macam pengertian
dari kata tersebut, karena mungkin terlalu kecilnya upaya untuk
mengajukan pengertian lain, dari apa yang dimengerti masyara­
kat pada waktu ini. Namun, tulisan seperti itu harus dikemuka­
kan guna menunjang sebuah keputusan politik yang nanti akan
diambil pada waktunya.
eg
Dengan kata lain penulis memiliki keyakinan, bahwa peru­
bahan sebuah pengertian akan terjadi, jika ada pihak yang nan­
tinya mengambil kebijakan sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Ini akan terjadi jika ada pemerintahan yang benar-benar memi­
kirkan kepentingan rakyat kebanyakan, dalam perimbangan ke­
kuatan antara berbagai pemikiran di dunia ini. Jika nantinya ada
pemerintahan yang benar-benar tidak rela akan adanya ketim­
pangan kekuatan luar biasa, antara negara-negara berteknologi
maju dengan negara-negara yang sedang berkembang, tentu
akan ada tindakan-tindakan untuk melakukan koreksi terhadap
ketimpangan tersebut. Upaya korektif itulah yang akan menim­
bulkan pengertian yang benar atas kata globalisasi itu.
Islam mengajarkan perlunya dijaga keseimbangan antara
hal-hal yang mengatur kehidupan manusia, mengapa? Karena
hanya dengan keseimbangan itulah keadilan dapat dijaga dan
akan berlangsung baik dalam kehidupan individual maupun
kolektif kita. Sangat banyak kata “i’dilû” (berlakulah yang adil)
dimuat dalam kitab suci al-Qur’ân, maka mau tidak mau pemikir­
an tentang masyarakat harus bertumpu pada kebijakan tersebut.
Kata “al-qisthu” (keadilan) juga demikian banyak terdapat dalam
pemikiran Islam, seperti “Wahai orang-orang beriman, tegak­
kan keadilan dan jadilah saksi bagi Tuhan kalian, walau akan
merugikan (sebagian dari kalangan) kalian sendiri (yâ ayyuha
al-ladzîna âmanû kûnû qawwâmîna bi al-qisthi syuhadâ’a li al-
lâhi walau ‘alâ anfusikum)” (QS al-Nisa [4]:135).
g 255 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
Jadi, jelaslah bahwa upaya menegakkan pengertian yang
benar atas kata “globalisasi” sangat terkait dengan penegakan
keseimbangan antara berbagai kekuatan di dunia ini, yang juga
berkaitan dengan pemikiran akan keadilan dalam pandangan
Islam. Mungkin inilah yang dimaksudkan dengan ungkapan po­
puler “Sebaik-baik perkara/persoalan, adalah yang (terletak)
di tengah-tengah” (khairu al ‘umur ausâthuhâ). Jelaslah dari
hadits tadi, Islam sangat terkait dari sudut pemikiran keseim­
bangan antar-negara. Dengan kata lain, Islam sebenarnya tidak
merelakan ketimpangan yang terjadi pada saat ini. h
g 256 h
Sistem Budaya Daerah Kita dan
Modernisasi
eberapa belas tahun lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan In­
donesia (LIPI) mengadakan penelitian tentang 14 sistem
B
budaya daerah di negeri kita. Sistem budaya daerah Aceh
hingga Nusa Tenggata Timur (NTT) diteliti, termasuk sistem bu­
daya Jawa I dan Jawa II. Yang dimaksudkan dengan sistem buda­
ya Jawa I adalah sistem budaya Jawa yang ada di daerah-daerah
pusat keraton, seperti Yogyakarta dan Solo. Sebaliknya, sistem
budaya Jawa II adalah Jawa pinggiran, terutama di Jawa Timur.
Budaya pesantren, dalam hal ini, termasuk sistem budaya Jawa
II.
Hasil yang sangat menarik dari penelitian tersebut, yang
dipimpin Dr. Mochtar Buchori, adalah pentingnya menerapkan
sistem-sistem tersebut di saat sistem modern belum dapat dite­
rapkan. Sistem budaya Ngada di Flores Timur, umpamanya,
adalah substitusi bagi sistem hukum nasional kita di daerah itu,
ketika belum berdiri lembaga pengadilan di sana. Kode etik Siri
dalam masyarakat Bugis, yang berintikan pembelaan terhadap
kehormatan diri, tidaklah lekang pada masa ini. Beberapa kejadi­
an penggunaan badik untuk mempertahankan diri, di berbagai
daerah di kalangan orang Bugis, jelas menunjukkan adanya pene­
rapan nilai-nilai yang berlaku dalam sistem budaya daerah Bugis
itu.
Penelitian menunjukkan, terdapat kemampuan hidup sis­
tem budaya daerah kita di tengah-tengah arus modernisasi yang
datang tanpa dapat dicegah. Karenanya, sikap yang tepat adalah
g 257 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
bagaimana memanfaatkan sistem budaya daerah di suatu tem­
pat dalam satu periode, dengan dua tujuan: menunggu mapan­
nya masyarakat dalam menghadapi modernisasi, dan mengelo­
la arus perubahan untuk tidak datang secara tiba-tiba. Dengan
cara demikian, kita dapat mengurangi akibat-akibat modernisasi
menjadi sekecil mungkin.
eg
Clifford Geertz1 dari Universitas Princeton, menganggap
kyai/ulama’ pesantren sebagai “makelar budaya” (cultural bro­
ker). Dia menyimpulkan demikian, karena melihat para kyai
melakukan fungsi screening bagi budaya di luar masyarakatnya.
Nilai-nilai baru yang dianggap merugikan, disaring oleh mereka
agar tidak menanggalkan budaya lama —kyai bagaikan dam/
waduk yang menyimpan air untuk menghidupi daerah sekitar.
Namun pengaruh budaya luar yang datang ke suatu daerah,
bagaikan permukaan air yang naik oleh adanya bendungan itu.
Masyarakat dilindungi dari pengaruh-pengaruh negatif, dan di­
biarkan mengambil pengaruh-pengaruh luar yang positif.
Hiroko Horikoshi dalam disertasinya2 berhasil membukti­
kan bahwa Kyai mengambil peranan sendiri untuk merumus­
kan gerak pembangunan di tempat mereka berada. Ini berarti,
menurut Horikoshi reaksi pesantren terhadap modernisasi tidak­
lah sama dari satu ke lain tempat. Dengan demikian, tidak akan
ada sebuah jawaban umum yang berlaku bagi semua pesantren
terhadap tantangan proses modernisasi. Dengan kata lain, Hori­
koshi menolak pendapat Geertz di atas.
Menurut Horikoshi, masing-masing pesantren dan Kyai
akan mencari jawaban-jawaban sendiri —dan, dengan demikian
tidak ada jawaban umum yang berlaku bagi semua dalam hal
ini. Pendapat Geertz di atas, dengan sendirinya, terbantahkan
1 Clifford Geertz adalah seorang antropolog yang sangat terkenal dalam
studi keindonesiaan. Melalui penelitiannya di Mojokuto, yang kemudian terbit
bukunya Religion of Java. Dia membagi stratifikasi sosial-religius masyarakat
Jawa dalam tiga kelompok, yaitu priyayi, santri, dan abangan. Meski mendapat
banyak kritik dan koreksi, namun hingga sekarang teori ini masih mewarnai
studi sosial-religius di Indonesia.
2 Disertasi Hiroko Horikoshi berjudul Kiai dan Perubahan Sosial, (Ja­
karta: P3M, 1987).
g 258 h
Sistem Budaya Daerah Kita dan Modernisasi
oleh temuan-temuan yang dilakukan Horikoshi terhadap reaksi
Kyai Yusuf Thojiri dari Pesantren Cipari, Garut, atas tantangan
modernisasi. Pesantren yang dipimpin oleh besan mendiang
KH. Anwar Musaddad itu, tentu memberikan reaksi lain terha­
dap proses modernisasi. Pesantren yang sekarang dipimpin oleh
Ustadzah Aminah Anwar Musaddad itu, sekarang justru tertarik
pada upaya mendukung Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang
bergerak di bidang garment dan pelestarian lingkungan alam
melalui penghutanan kembali.
eg
Jelaslah dengan demikian, bahwa bermacam cara dapat
digunakan untuk mengenal berbagai reaksi terhadap proses mo­
dernisasi. Ada reaksi yang menggunakan warisan sistem budaya
daerah, tapi ada pula yang merumuskan reaksi mereka dalam
bentuk tradisi yang tidak tersistemkan. Ada pula reaksi yang
bersifat temporer, tapi ada pula yang bersifat permanen. Ada
yang berpola umum, tapi ada pula yang menggunakan cara-cara
khusus dalam memberikan reaksi.
Kesemuannya itu dapat disimpulkan, keengganan meneri­
ma bulat-bulat apa yang dirumuskan “orang lain” untuk diri kita
sendiri. Proses pribumisasi (nativisasi) berlangsung dalam ben­
tuk bermacam-macam, pada saat tingkat penalaran dan keteram­
pilan berjalan, melalui berbagai sistem pendidikan. Dengan de­
mikian, proses pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
di Indonesia berjalan dalam dua arah yang berbeda. Di satu pi­
hak, kita menerima pengalihan teknologi dan keterampilan dari
bangsa-bangsa lain, melalui sistem pendidikan formal —maka,
lahirlah tenaga-tenaga profesional untuk mengelolanya. Di pi­
hak lain, pendidikan informal kita justru menolak pendekatan
menelan bulat-bulat apa yang datang dari luar.
Dengan demikian, tidaklah heran jika ada dua macam
jalur komunikasi dalam kehidupan bangsa kita. Di satu sisi, kita
menggunakan jalur komunikasi modern, yang bersandar pada
sistem pendapat formal dan media massa. Media massa pun,
yang dahulu sangat takut pada kekuasaan pemerintah, kini jus­
tru tunduk terhadap kekuasaan uang; dengan kemampuan yang
belum berkembang menjadi proses yang efektif. Di sisi lain, di­
gunakan jalur lain, yaitu komunikasi langsung dengan massa
g 259 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
kongregasi jama’ah masjid/surau, gereja, pengajian-pengajian
khalayak/majelis ta’lim, kelenteng/vihara, merupakan saluran
wahana langsung tersebut. Apalagi, jika seseorang atau kelom­
pok mampu menggunakan kedua jalur komunikasi itu, tentu
akan menjadikan sistem politik kita sekarang dan di masa depan
menjadi sangat transparan, akan menjadi lahan menarik untuk
dapat dipelajari dan diamati dengan seksama. h
g 260 h
“Tombo Ati” Berbentuk Jazz?
ebagaimana diketahui “Tombo Ati” adalah nama sebuah
sajak berbahasa Arab ciptaan Sayyidina Ali, yang oleh KH.
S
Bisri Mustofa dari Rembang (ayah KH. A. Mustofa Bisri)
diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dengan menggunakan ju­
dul tersebut. Dalam sajak itu, disebutkan 5 hal yang seharusnya
dilakukan oleh seorang muslim yang ingin mendekatkan diri ke­
pada Allah Swt. Kelima hal itu dianggap sebagai obat (tombo)
bagi seorang Muslim. Dengan melaksanakan secara teratur ke­
lima hal yang disebutkan dalam sajak tersebut, dijanjikan orang
itu akan menjadi Muslim “yang baik”. Dianggap demikian karena
ia melaksanakan amalan agama secara tuntas. Sajak ini sangat
populer di kalangan para santri di Pulau Jawa, terutama di ling­
kungan pesantren.
Karenanya sangatlah penting untuk mengamati, adakah sa­
jak itu tetap digemari oleh kaum Muslimin Sunni tradisional?
Kalau ia tetap dilestarikan, maka hal itu menunjukkan kemam­
puan Muslimin Sunni tradisional menjaga budaya kesantrian
mereka di alam serba modern ini. Jadi kemampuan sebuah ke­
lompok melestarikan sebuah sajak bukanlah “peristiwa lumrah”.
Peristiwa itu justru menyentuh sebuah pergulatan dahsyat yang
menyangkut budaya kelompok Sunni tradisional melawan proses
modernisasi, yang dalam hal ini berbentuk westernisasi (pem­
baratan). Bahwa sajak itu, dalam bentuk sangat tradisional dan
memiliki isi kongkret lokal (Jawa), justru membuat pertarungan
budaya itu lebih menarik untuk diamati.
Sebuah proses maha besar yang meliputi jutaan jiwa warga
masyarakat, sedang terjadi dalam bentuk yang sama sekali ti­
g 261 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
dak terduga. Terlihat dalam sajak tersebut yang berisi “perintah
agama” untuk berdzikir tengah malam, mengerti dan mema­
hami isi kandungan kitab suci al-Qur’ân, bergaul erat dengan
para ulama dan berpuasa untuk menjaga hawa nafsu, adalah
hal-hal utama dalam asketisme (khalwah) yang merupakan pola
hidup ideal bagi seorang Muslim, yang menempa dirinya men­
jadi “orang baik dan layak” (shaleh). Jika anjuran itu diikuti oleh
kaum Muslim dalam jumlah besar, tentu saja keseluruhan kaum
Muslimin akan memperoleh “kebaikan” tertentu dalam hidup
mereka. Gambaran itu sangat ideal, namun modernisasi datang
untuk menantangnya.
eg
Dalam sebuah perhelatan perkawinan di Kota Solo, penulis
mengalami sendiri hal itu. Ketika sebuah kelompok band menam­
pilkan permainan lagu Tombo Ati itu secara “modern”. Penulis
sangat tercengang. Pertama, oleh kenyataan sebuah produk sas­
tra yang sangat kuno (walaupun berupa terjemahan) dapat disaji­
kan dalam irama yang tidak terduga sama sekali. Mungkin irama
jazz itu bercampur dengan langgam Jawa, namun ia tetap saja
sebuah iringan jazz. Mungkin tidak semodern permainan Sadao
Watanabe1, namun bentuk jazz dari Tombo Ati itu tetap tampak
dalam sajian sekitar 5 menit itu.
Di sini kita sampai kepada sebuah kenyataan, munculnya
berbagai bentuk dan sajian tradisional dengan mempertahan­
kan “hakikat keaslian” di hadapan tantangan modernitas. Tidak
hanya penampilan alat-alat musiknya saja, melainkan dalam
per­bahan fungsi dari sajak itu sendiri. Kalau semula sajak itu
dimaksudkan sebagai pesan moral sangat ideal bagi kaum Mus­
limin, namun dalam pagelaran tersebut berubah peran menjadi
sebuah hiburan.
Tentu saja kita tidak dapat menyamakan pagelaran musik
yang menggemakan Tombo Ati dengan Debus dari Banten, yang
memperagakan manusia tidak berdarah ketika ditusuk benda ta­
jam. Kita tidak menyadari, sebenarnya untuk melakukan pertun­
jukan Debus itu, seseorang yang belasan tahun “tirakat” harus­
1 Sadao Watanabe adalah legenda musik jazz dari Jepang. Ia mahir me­
mainkan alto saxophone dan sopranino saxophone.
g 262 h
“Tombo Ati” Berbentuk Jazz
lah menahan diri dari kebiasaan-kebiasaan memakan sejumlah
makanan dan membatasi kebiasaan yang dijalankan dalam ke­
hidupan sehari-hari. Dengan demikian untuk menjalankan per­
tunjukan itu terdapat keyakinan agama dan latihan-latihan mere­
duksi kebiasaan sehari-hari.
Penampilan sajak Tombo Ati dalam sajian jazz adalah se­
suatu yang sangat menarik untuk diamati. Jelas dari penampilan
Tombo Ati itu terjadi sebuah proses yang oleh para pengamat
perkembangan masyarakat disebut sebagai perjumpaan (en-
counter) antara peradaban tradisional dengan peradaban mo­
dern. Dilanjutkan dengan “proses tawar menawar” (trade off)
yang sering terasa aneh, karena menampilkan sesuatu yang tidak
tradisional maupun modern. Kemampuan melakukan tawar-me­
nawar seperti itulah, yang sekarang dihadapi kebudayaan kita.
Ini adalah kenyataan hidup yang harus dihadapi bukannya dihar­
dik atau disesali (seperti terlihat dari sementara reaksi berlebih­
an atas pagelaran “ngebor” dari Inul).
eg
Perjumpaan antara yang tradisional dan yang modern itu
dimungkinkan oleh kerangka komersial yang bernama pariwi­
sata. Namun dalam tradisionalisme ada juga mengandung watak-
watak yang tidak komersial, dan harus didorong untuk maju.
Perjumpaan juga terjadi antar agama. Contohnya, keti­
ka agama Buddha dibawa oleh Dinasti Syailendra ke pulau
Jawa dan bertemu dengan agama Hindu yang sudah terlebih
dahulu datang, hasilnya adalah agama Hindu-Buddha (Bhai­
rawa).  Agama Islam yang masuk ke Indonesia juga mengalami
hal yang sama. Perjumpaan antara ajaran formal Islam dengan
budaya Aceh misalnya melahirkan “seni kaum Sufi” seperti tari
Seudati, yang dengan indahnya digambarkan oleh James Siegel
dalam Rope of God.2 Berbeda dari model Minangkabau yang
mengalami perbenturan dahsyat bidang hukum agama, antara
hukum formal Islam dan ketentuan-ketentuan adat. Hasilnya
adalah ketidakpastian sikap yang ditutup-tutupi oleh ungkapan
2 James Siegel adalah Professor of Anthropology dan Asian Studies,
di Cornell University. Rope of God adalah buku yang diterbitkan Universitas
Machigan tahun 2000 yang menceritakan tentang budaya masyarakat Aceh.
g 263 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
Adat Basandi Sara’ dan Sara’ Basandi Kitabullah .”3 Di Gua
(Sumatera Selatan) yang terjadi adalah lain lagi, yaitu ketentuan
Islam jalan terus, sedangkan hal-hal tradisional pra-Islam juga
dilakukan. Di pulau Jawa yang terjadi adalah hubungan yang
dinamai oleh seorang akademisi sebagai “hubungan multi-kera­
tonik.” Dalam hubungan ini kaum santri mengembangkan pola
kehidupan sendiri yang tidak dipengaruhi oleh “adat pra Islam”
yang datang dari keraton.
Perkembangan keadaan seperti itu, mengharuskan kita
menyadari bahwa setiap agama di samping ajaran-ajaran for­
mal yang dimilikinya, juga mempunyai proses saling mengam­
bil dengan aspek-aspek lain dari kehidupan budaya. Dari situ­
lah, kita harus menerima adanya perkembangan empirik yang
sering dinamakan studi kawasan mengenai Islam. Penulis meli­
hat perlunya studi kawasan itu untuk setidak-tidaknya kawasan-
kawasan Islam berikut: Islam dalam masyarakat Afrika-Utara
dan negara-negara Arab, kawasan Islam di Afrika Hitam, Islam
dalam masyarakat Turki-Persia-Afganistan, Islam di masyarakat
Asia Selatan, Islam di masyarakat Asia Tenggara dan masyara­
kat minoritas Islam yang berindustri maju. Kedengarannya mu­
dah membuat studi kawasan (area-studies) Islam, tapi hal itu
sebenarnya sulit dilaksanakan. h
3 Konsepsi ini terlahir dari proses akomodasi Islam awal dalam tradisi
lokal di Minangkabau yang menempatkan Tarekat di daerah ini sebagai faktor
yang berpengaruh terhadap formasi sosial. Formasi sosial di daerah ini mem­
buktikan adanya penerimaan lokal secara bertahap atas Islam—sebuah proses
yang tak hanya secara geografis berlangsung dari rantau menuju darek, namun
juga menjadikan pergumulan Islam lebih bermakna internal Minangkabau.
Konsep tersebut muncul ketika Syekh Burhanuddin (pernah berguru kepada
Syekh Abdurrauf Singkel di Aceh) masih hidup dan merupakan hasil “Per­
janjian Marapalam” tahun 1668. (lihat: Rusydi Ramli, Hikayat Fakih Saghir
‘Ulamiah Tuanku Samiang Syekh Jalaluddin Ahmad Koto Tuo: Suatu Studi
“Sejarah Pemikiran Islam” dari Teks Tokoh Gerakan Padri Awal Abad XX
(Padang: IAIN Imam Bonjol, 1989).
g 264 h
Dicari: Keunggulan Budaya
da sebuah prinsip yang selalu dikumandangkan oleh
mereka yang meneriakan kebesaran Islam: “Islam itu
A
unggul, dan tidak dapat diungguli (al-Islâm ya’lû wala
yu’la alahi).” Dengan pemahaman mereka sendiri, lalu mereka
menolak apa yang dianggap sebagai “kekerdilan” Islam dan ke­
jayaan orang lain. Mereka lalu menolak peradaban-peradaban
lain dengan menyerukan sikap “mengunggulkan“ Islam secara
doktriner. Pendekatan doktriner seperti itu berbentuk pemujaan
Islam terhadap “keunggulan” teknis peradaban-peradaban lain.
Dari sinilah lahir semacam klaim kebesaran Islam dan kerendah­
an peradaban lain, karena memandang Islam secara berlebihan
dan memandang peradaban lain lebih rendah.
Dari “keangkuhan budaya” seperti itu, lahirlah sikap oto­
riter yang hanya membenarkan diri sendiri dan menggangap
orang atau peradaban lain sebagai yang bersalah atas kemundur­
an peradaban lainnya. Akibat dari pandangan itu, segala macam
cara dapat dipergunakan kaum muslim untuk mempertahankan
keunggulan Islam. Kemudian lahir semacam sikap yang melihat
kekerasan sebagai satu-satunya cara “mempertahankan Islam”.
Dan lahirlah terorisme dan sikap radikal demi “kepentingan” Is­
lam.
Mereka tidak mengenal ketentuan hukum Islam/fiqh bah­
wa orang Islam diperkenankan menggunakan kekerasan hanya
jika diusir dari kediaman mereka (idzâ ukhrijû min diyârihim).
Selain alasan tersebut itu tidak diperkenankan menggunakan
kekerasan terhadap siapapun, walau atas dasar keunggulan pan­
dangan Islam. Sesuai dengan ungkapan di atas maka jelas, me­
reka salah memahami Islam, ketika memaahami bahwa kaum
muslimin dipe­kenankan menggunakan kekerasan atas kaum
g 265 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
lain. Inilah yang dimaksudkan oleh kitab suci al-Qur’ân dengan
ungkapan “Tiap kelompok bersikap bangga atas milik sendiri
(kullu hizbin bimâ ladaihim farihûn)” (QS al-Mu’minûn [23]:
54). Kalau sikap itu dicerca oleh al-Qur’ân, berarti juga dicerca
oleh Rasul-Nya.
eg
Jelaslah sikap Islam dalam hal ini, yaitu tidak mengangap
rendah peradaban orang lain. Bahkan Islam mengajukan un­
tuk mencari keunggulan dari orang lain sebagai bagian dari
pengembangannya. Untuk mencapai keunggulan itu Nabi ber­
sabda “carilah ilmu hingga ke tanah Tiongkok (utlubû al-ilmâ
walau bî al-shîn).” Bukankah hingga saat ini pun ilmu-ilmu ka­
jian keagamaan Islam telah berkembang luas di kawasan terse­
but? Dengan demikian, Nabi mengharuskan kita mencarinya ke
mana-mana. Ini berarti kita tidak boleh apriori terhadap siapa­
pun, karena ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang terdapat
di mana-mana. Bahkan teknologi maju yang kita gunakan adalah
hasil ikutan (spend off) dari teknologi ruang angkasa yang dirin­
tis dan dibuat di bumi ini. Dengan demikian, teknologi antariksa
juga menghasilkan hal-hal yang berguna bagi kehidupan kita se­
hari-hari. Pengertian “longgar” seperi inilah yang dikehendaki
kitab suci al-Qur’ân dan Hadits.
Lalu adakah “kelebihan teknis” orang-orang lain atas kaum
muslimin yang dapat dianggap sebagai “kekalahan” umat Islam?
Tidak, karena amal perbuatan kaum muslimin yang ikhlas kepa­
da agama mereka memiliki sebuah nilai lebih. Hal itu dinyatakan
sendiri oleh Al-Qur’an: “Dan orang yang menjadikan selain Is­
lam sebagai agama, tak akan diterima amal perbuatannya di akhi­
rat. Dan ia adalah orang yang merugi (wa man yabtaghi ghaira
al-Islâmi dînan falan yuqbala minhu wa huwa fi al-âkhirati
min al-khâsirîn)” (QS Ali Imran [3]:85). Dari kitab suci ini dapat
diartikan bahwa Allah tidak akan menerima amal perbuatan
seorang non-muslim, tetapi di dalam kehidupan sehari-hari kita
tidak boleh memandang rendah kerja siapapun.
Sebenarnya pengertian kata “diterima di akhirat” berkaitan
dengan keyakinan agama dan dengan demikian memiliki kuali­
tas tersendiri. Sedangkan pada tataran duniawi perbuatan itu
tidak tersangkut dengan keyakinan agama, melainkan “secara
g 266 h
Dicari: Keunggulan Budaya
teknis” membawa manfaat bagi manusia lain. Jadi manfaat dari
setiap perbuatan dilepaskan oleh Islam dari keyakinan agama
dan sesuatu yang secara teknis memiliki kegunaan bagi manu­
sia diakui oleh Islam. Namun, dimensi “penerimaan” dari sudut
keyakinan agama memiliki nilainya sendiri. Peng-Islaman per­
buatan kita justru tidak tergantung dari nilai “perbuatan teknis”
semata, karena antara dunia dan akhirat memiliki dua dimensi
yang berbeda satu dari yang lain.
eg
Dengan demikian, jelas peradaban Islam memiliki keung­
gulan budaya dari sudut penglihatan Islam sendiri, karena ada
kaitannya dengan keyakinan keagamaan. Kita diharuskan me­
ngembangkan dua sikap hidup yang berlainan. Di satu pihak,
kaum muslimin harus mengusahakan agar supaya Islam -sebagai
agama langit yang terakhir- tidak tertinggal, minimal secara teo­
ritik. Tetapi di pihak lain kaum muslimin diingatkan untuk meli­
hat juga dimensi keyakinan agama dalam menilai hasil budaya
sendiri. Ini juga berarti Islam menolak tindak kekerasan untuk
mengejar ketertinggalan “teknis” tadi. Walaupun kita menggu­
nakan kekerasan berlipat-lipat kalau memang secara budaya
kita tidak memiliki pendorong ke arah kemajuan, maka kaum
muslimin akan tetap tertinggal di bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi. Dengan demikian keunggulan atau ketertinggalan
budaya Islam tidak terkait dengan penguasaan “kekuatan poli­
tik”, melainkan dari kemampuan budaya sebuah masyarakat
muslim untuk memelihara kekuatan pendorong ke arah kema­
juan, teknologi dan ilmu pengetahuan.
Kita tidak perlu berkecil hati melihat “kelebihan” orang
lain, karena hal itu hanya akibat belaka dari kemampuan bu­
daya mereka mendorong munculnya hal-hal baru yang bersifat
“teknis”. Di sinilah letak pentingnya dari apa yang oleh Samuel
Huntington disebut sebagai “perbenturan budaya (clash of civi-
lizations)”. Perbenturan ini secara positif harus dilihat sebagai
perlombaan antar budaya, jadi bukanlah sesuatu yang harus di­
hindari.
eg
g 267 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
Beberapa tahun lalu penulis diminta oleh Yomiuri Shim-
bun, harian berbahasa Jepang terbitan Tokyo dan terbesar di
dunia dengan oplah 11 juta lembar tiap hari, untuk berdiskusi
dengan Profesor Huntington, bersama-sama dengan Chan Heng
Chee (dulu Direktur Lembaga Kajian Asia-Tenggara di Singa­
pura dan sekarang Dubes negeri itu untuk Amerika Serikat) dan
Profesor Aoki dari Universitas Osaka. Dalam diskusi di Tokyo
itu, penulis menyatakan kenyataan yang terjadi justru berten­
tangan dengan teori “perbenturan budaya” yang dikemukakan
Huntington. Justru sebaliknya ratusan ribu warga muslimin dari
seluruh dunia belajar ilmu pengetahuan dan teknologi di nege­
ri-negeri Barat tiap tahunnya, yang berarti di kedua bidang itu
kaum muslim saat ini tengah mengadopsi (mengambil) dari bu­
daya Barat.1
Nah, keyakinan agama Islam mengarahkan mereka agar
menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mereka
kembangkan dari negeri-negeri Barat untuk kepentingan kemanu­
siaan, bukannya untuk kepentingan diri sendiri. Pada waktunya
nanti, sikap ini akan melahirkan kelebihan budaya Islam yang
mungkin tidak dimiliki orang lain: “kebudayaan yang tetap ber­
orientasi melestarikan perikemanusiaan, dan tetap melanjutkan
misi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi”. Kalau perlu
harus kita tambahkan pelestarian akhlak yang sekarang meru­
pakan kesulitan terbesar yang dihadapi umat manusia di masa
depan, seperti terbukti dengan penyebaran AIDS di seluruh du­
nia, termasuk di negeri-negeri muslim. h
1 Teori “benturan peradaban” (clash of civilizations) Samuel P. Hunting­
ton terdapat dalam bukunya Clash of Civilizations and The Remaking of World
Order. Pada dasarnya Huntington membenarkan bahwa Islam adalah anca­
man bagi dunia. Pemikiran Huntington ini seakan menjadi “wahyu” tentang
terjadinya “perang suci” antara Islam dan Barat. Dalam melihat peradaban Is­
lam, tentunya jangan dilihat perbedaan pohon yang warna-warni itu, coba lihat
hutannya (dari atas), maka akan terlihat bahwa semua sama: hijau ”.
g 268 h
Keraton dan Perjalanan Budayanya
inggu keempat bulan Desember 2002, penulis atas
undangan Susuhunan Pakubuwono XII1 dari Solo, me­
M
lancong ke Kuala Lumpur untuk dua malam. Penulis
memperoleh undangan itu, karena Sri Susuhunan juga diundang
oleh sejumlah petinggi Malaysia guna merayakan ulang tahun­
nya yang ke-80. Ini menunjukkan, bahwa pengaruh Keraton
Solo Hadiningrat masih kuat hingga ke Negeri Jiran, seperti Ma­
laysia. Sudah tentu pengaruh tersebut bersifat budaya/kultural
saja, karena pengaruh politisnya sudah diambil alih pemerintah
negeri kita. Inilah yang harus disadari, karena kalau yang di­
inginkan adalah pengaruh politik tentu akan kecewa.
Kunjungan tersebut penulis lakukan tanpa memberitahu­
kan pihak Pemerintah Malaysia, terutama Kantor Perdana Mente­
ri Mahathir Muhammad, karena protokoler kunjungan tersebut
tentu akan diambil alih oleh pihak pemerintah federal, yang ka­
lau di Malaysia disebut kerajaan. Pihak protokol akan membuat
susah teman-teman Malaysia yang ingin menjumpai penulis dan
akan membuat penulis tidak merdeka. Tentu, ini juga merupa­
kan pertanda bah­wa kunjungan itu tidak mempunyai arti politis
1 Susuhunan Pakubuwono XII memiliki nama lengkap Raden Mas Suryo
Guritno yang lahir pada 14 April 1925. Beliau dikukuhkan sebagai raja Jawa
pada tanggal 12 Juli 1945. Di pundaknyalah tertumpu tugas kepemimpinan
Jawa, yang terhimpit di antara dua zaman, yaitu pergeseran (transformasi) dari
nilai tradisional ke alam modern dan perubahan dari iklim budaya feodal ke
zaman budaya demokrasi.
g 269 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
apapun. Dengan demikian, penulis juga merasa tidak perlu mem­
beritahukan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala
Lumpur atas kunjungan tersebut. Karena penulis tidak ingin di­
ganggu siapapun dalam melakukan kunjungan tersebut.
Pada hari kedua, penulis melakukan perjalanan selama tu­
juh jam (pulang-pergi) untuk melakukan ziarah ke makam Hang
Tuah, di Tanjung Kling, negara bagian Malaka. Di tempat itu,
kepada penulis dibacakan serangkaian tulisan yang menyertai
beberapa buah gambaran/lukisan tentang beliau. Katakanlah
semacam diorama tentang kehidupan Hang Tuah,2 yang sejak
masih muda sudah mengabdi kepada Raja/Sultan Malaka. Bah­
kan, oleh intrik istana ia diharuskan membunuh saudara seper­
guruan dan senasib sepenanggungan yaitu, Hang Jebat.3 Harga
inilah yang harus dibayar oleh Hang Tuah untuk pengabdiannya
kepada Sultan. Ia adalah prototype “Korpri sempurna”, —seperti
halnya Habib Abdurrahman al-Basyaibani, yang dikuburkan di
Segarapura, Kemantrenjero (sekarang terletak di Kecamatan Re­
joso, Pasuruan). Ia adalah nenek moyang penulis yang menjadi
abdi dalem Sultan Trenggono dari Demak.
eg
Penulis mengemukakan bahwa Susuhunan Pakubuwono
XII masih memainkan peranan penting dalam rangkaian ikatan
budaya/kultural yang merekatkan kedua bangsa serumpun, Indo­
nesia dan Malaysia. Apapun perbedaan antara keduanya, namun
persamaan yang ada haruslah dipupuk terus, agar menghasilkan
ikatan yang semakin kuat di hadapan tantangan modernisasi ke­
hidupan, yang sering berbentuk westernisasi (pembaratan). Di
kala perkembangan politik justru mengarahkan Indonesia dan
2 Hang Tuah adalah pahlawan nasional Malaysia. Namanya muncul
dalam karya sastra Hikayat Hang Tuah dan Sejarah Melayu yang disusun oleh
Mansur Shah, salah seorang penguasa di Malaka. Tak bisa dipastikan, apakah
Hang Tuah adalah tokoh mitos atau sejarah, meskipun dalam Sejarah Melayu
disebutkan Hang Tuah mati di abad ke-15.
3 Buku Hikayat Hang Tuah menyebut Hang Jebat sebagai salah seorang
dari 4 sahabat karib Hang Tuah, yaitu Hang Kasturi, Hang Lekir, dan Hang
Lekiu. Hang Jebat mengantikan jabatan Hang Tuah sebagai laksamana Kesul­
tanan Malaka setelah Hang Tuah difitnah dan diasingkan. Namun Hang Jebat
berkhianat kepada Sultan Mahmud Shah. Akhirnya Hang Tuah dipanggil kem­
bali oleh Sultan Malaka untuk membunuh Hang Jebat.
g 270 h
Keraton dan Perjalanan Budayanya
Malaysia untuk saling bersaing, namun persaingan itu sendiri
haruslah diimbangi oleh ikatan-ikatan budaya/kultural yang
sangat kuat. Seperti halnya Kanada, yang secara politis lebih ter­
ikat kepada Kerajaan Inggris, yang terletak 9000 km di seberang
lautan, walau secara kultural lebih dekat kepada Amerika Serikat
yang secara geografis adalah negara jiran/tetangga.
Ikatan seperti ini, yaitu berdasarkan persamaan budaya
antara dua negara, masih mempunyai kekuatan sendiri. Seperti
negara jiran, Australia justru merasa lebih dekat kepada Keraja­
an Inggris atau Amerika Serikat, yang memiliki ikatannya sendi­
ri satu dengan yang lain dari sisi budaya. Inilah “kodrat alami”
yang intensitasnya tidak dapat disangkal lagi oleh siapapun.
Karena itu, kemauan pihak Keraton Solo4 sangatlah memiliki ar­
ti penting; ia menunjang kedekatan hubungan antara Indonesia
dan Malaysia.
Karena itulah, penulis tidak mengerti mengapa ada pejabat
Indonesia yang mengatakan bahwa Keraton Solo tidak penting
artinya bila dibandingkan dengan keraton lainnya di Jawa. Ini
adalah ucapan orang yang tidak mengerti peranan budaya sebuah
keraton. Yang dimengerti orang itu hanyalah peranan politisnya
belaka, yang belum tentu memiliki kelanggengan dalam hubung­
an antara kedua bangsa. Padahal setiap kali kita memperhatikan
hubungan antara dua bangsa serumpun, seperti Indonesia dan
Malaysia, tentulah menjadi sangat penting untuk mengetahui
peranan politik atau peranan budayanyan. Kerancuan dalam
melihat hal ini hanya akan membuat kita kepada keadaan tidak
4 Keraton Surakarta adalah sebuah warisan budaya Jawa. Dalam Babad
Tanah Jawi (1941), Babad Kartasura Pacinan (1940), maupun dalam Babad Gi­
yanti (1916, I), kisah perpindahan Keraton dari Kartasura ke Surakarta berawal
dari setibanya Sunan Paku Buwana II (1726 - 1749) kembali dari Ponorogo
(1742), baginda menyaksikan kehancuran bangunan istana. Hampir seluruh
bangunan rusak berat, bahkan banyak yang rata dengan tanah akibat ulah para
pemberontak Cina. Bagi Sunan, keadaan tersebut mendorong niatnya untuk
membangun sebuah istana yang baru, sebab istana Kartasura sudah tidak layak
lagi sebagai tempat raja dan pusat kerajaan. Niat ini kemudian disampaikan
kepada para punggawa kerajaan. Patih R. Ad. Pringgalaya dan beberapa bang­
sawan diajak berembug tentang rencana pembangunan istana baru tersebut.
Raja berkehendak membangun istana baru di tempat yang baru. Raja men­
ghendaki, istana yang baru itu berada di sebelah timur istana lama, dekat den­
gan Bengawan Sala. Hal ini dilakukan di samping untuk menjauhi pengaruh
para pemberontak yang mungkin masih bersembunyi di Kartasura, juga untuk
menghapus kenangan buruk kehancuran Istana Kartasura.
g 271 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
menguntungkan: ditertawakan orang baik di Indonesia maupun
di Malaysia.
eg
Dalam jamuan makan malam untuk menghormati ulang
tahun ke-80 Susuhunan Pakubuwono XII di Kuala Lumpur itu,
penulis juga mengemukakan peran lain selain peran budaya itu.
Pada saat ini, Malaysia dan Thailand sedang mengutamakan
pengembangan wilayah ke sebelah utara kawasan ASEAN -yaitu,
Myanmar, Vietnam, Laos dan Kamboja. Secara politis, ini berarti
Malaysia dan Thailand mengambil peranan politik lebih besar di
wilayah utara kawasan ASEAN tersebut. Ini dapat dimengerti,
karena dua negara di wilayah selatan dari perhimpunan ASEAN
itu, yaitu Singapura dan Indonesia sedang dilanda krisis masing-
masing. Dalam hal ini, Malaysia dan Thailand melakukan sebuah
hal yang alami dan wajar, yaitu mengisi sebuah kekosongan politik.
Peran Malaysia di wilayah sebelah utara kawasan ASEAN
itu berjalan sangat cepat, tidak seperti peran politik Indonesia di
wilayah selatan kawasan tersebut, yang terasa tidak bertambah
sama sekali. Ini karena ASEAN belum dapat menerima Papua
Nugini, Timor Lorosae dan negeri-negeri pasifik sebelah barat
(western pacific states). Maka dengan sendirinya, lebih sulit
bagi Indonesia untuk mendukung mereka secara kongkrit di bi­
dang politik, sedangkan hubungan budaya dengan wilayah terse­
but masih belum berkembang secara pesat. Keeratan hubungan
budaya antara Indonesia dengan wilayah pasifik barat tersebut,
akan sangat ditentukan oleh kerjasama ekonomi dan komersial.
Peran budaya Indonesia dan peran budaya Malaysia di
wilayah masing-masing itu, harus disambungkan secara baik.
Dalam hal ini, keraton Surakarta Hadiningrat mempunyai pelu­
ang sangat besar mengembangkan peranan kedua bangsa serum­
pun itu. Inilah yang harus senantiasa menjadi pegangan dalam
meninjau posisi keraton dalam hubungan itu. Dan ini adalah
peran alami, yang bagaimanapun juga tidak akan dapat diim­
bangi oleh hubungan yang direkayasa. Dalam hal ini, kita tidak
memerlukan intervensi khusus. h
g 272 h
Akan Jadi Apakah Para Raja?
ata “Raja” di Maluku, terutama Ambon, berarti kepala
kampung/desa. Ada yang perempuan, ada pula yang laki-
K
laki; berfungsi sebagai pemimpin masyarakat dan sangat
berpengaruh secara adat di lingkungan masyarakat mereka. Per­
gaulan mereka dengan rakyat yang dipimpin sangatlah erat, dan
boleh dikata merekalah yang menjadi penentu (decision maker).
Kalau para Raja dan berbagai dusun/desa setuju tentang sesuatu,
biasanya itulah yang menjadi konsensus bersama yang diikuti
rakyat. Dengan konsep adat mengenai fungsi para pemuka adat
tersebut, seperti Raja dan sebagainya itu, membuat pemerintah
daerah/pusat terbantu dalam melaksanakan tugasnya. Seperti
memutuskan cara penyelesaian bagi kasus konflik antar agama
dan antar etnis pada saat-saat seperti sekarang ini dengan cara
gerakan Baku Bae.1
Dengan fungsi dari konsep adat tadi, mengharuskan pe­
merintah daerah dan pusat untuk bersikap rendah hati dalam
memberikan tempat bagi pelaksanaan peran mereka. Bahkan
kalau perlu seolah-olah hanya mereka-lah yang berperan, sedang
pemerintah pusat dan daerah hanya bersifat membantu, teruta­
ma dalam konseptualisasi cara-cara yang diperlukan untuk me­
ngatasi konflik yang terjadi. Dalam hal ini, peran para pemimpin
agama dalam proses tersebut juga menjadi sangat penting. Baik
1 Harafiah Baku Bae adalah saling berbaikan. Dalam konflik Maluku
pengertiannya diperluas menjadi penghentian kekerasan sehingga gerakan
Baku Bae adalah gerakan masyarakat sipil untuk menghentikan kekerasan di
Maluku.
g 273 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
para pemuka agama maupun adat, merupakan pihak-pihak yang
dipercayai oleh warga masyarakat. Karenanya, kerjasama erat
antara para pemimpin informal seperti mereka itu, dan para pe­
mimpin formal (pejabat daerah dan pusat), sangat diperlukan
dan merupakan sarat utama bagi penyelesaian konflik-konflik
yang terjadi.
Apalagi, kalau dalam konflik-konflik tersebut terjadi peng­
ambilan peran oleh sebagian sangat kecil orang-orang yang me­
ngaku menjadi pemimpin masyarakat, atas nama agama atau ke­
lompok etnis yang ada. Inilah penyebab berlarutnya konflik, baik
di Ambon maupun di Poso (Sulawesi Tengah) dan mungkin juga
daerah-daerah lain. Melakukan identifikasi para pelaku perda­
maian tidaklah mudah, dan karenanya sering diambil tindakan
pintas dengan membuat persetujuan atas penyelesaian konflik,
melalui perjanjian-perjanjian seperti Malino, yang meliputi ber­
bagai pihak resmi maupun tidak resmi di kalangan bangsa kita,
dengan disaksikan oleh pihak negara-negara lain. Diharapkan,
dengan penandatanganan Perjanjian Malino yang sudah berusia
setahun itu, dapat dicapai sendi-sendi perdamaian antara ber­
bagai pihak yang terlibat dalam konflik agama maupun etnis di
berbagai kawasan Indonesia Timur itu.
eg
Ini adalah kesimpulan pertemuan penulis dengan Barron­
ess Cox2 di Majelis Tinggi (House of Lords) London, Inggris,
pertenga­an November 2002. Pertemuan itu sendiri berjalan
sangat sederhana di sebuah restoran dalam Gedung Parlemen
Inggris, sambil santap malam. Namun, kesederhanaan itu tidak
menutup kenyataan akan pentingnya pertemuan tersebut. Bar­
roness Cox sedang mempersiapkan sebuah pertemuan antara
para pemimpin agama bagi kedua daerah itu, sedangkan penulis
dalam hal ini ditunjuk sebagai Presiden Kehormatan (Honorary
President) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Internasional3
2 Perempuan bangsawan Inggris ini bernama lengkap Baroness Caroline
Cox of Queensbury. Dia adalah Presiden pada Christian Solidarity Worldwide.
3 Lembaga itu bernama International Islamic Christian Organization
for Reconciliantion and Reconstruction (IICOR). IICOR diluncurkan Kamis 13
Februari 2003 di Jakarta. Baroness Cox sebagai ketua dewan eksekutif lembaga
itu.
g 274 h
Akan Jadi Apakah Para Raja?
yang didirikan oleh tokoh itu yang bekerja khusus untuk men­
cari penyelesaian bagi konflik berdasarkan agama maupun etnis
di kawasan Indonesia. Dalam pemikiran penulis, bahwa bukan
hanya para pemuka agama saja yang mempunyai peranan sangat
menentukan dalam mencari penyelesaian bagi konflik-konflik
tersebut, namun juga para pemuka adat, ternyata dapat diterima.
Dengan dasar yang disetujui itu, dalam waktu tidak terlalu
lama lagi, pertemuan antar pemuka agama dan adat itu akan dise­
lenggarakan, dan ini akan merupakan sumbangan besar bagi pe­
nyelesaian krisis yang terjadi di kedua kawasan tersebut. Tentu
saja, dalam pertemuan tersebut para pejabat pemerintah pusat
dan daerah yang bersangkutan dengan masalah itu akan diun­
dang sebagai peserta atau pemberi makalah. Ini adalah hal yang
normal-normal saja, karena kerja mencari penyelesaian bagi
konflik berdasarkan agama dan etnisitas tersebut memang meru­
pakan kerja kolektif yang harus diselesaikan dengan baik.
Karenanya, prinsip-prinsip penyelesaian berbagai konflik
di kedua kawasan itu merupakan kerja awal yang harus ditanga­
ni dengan tuntas. Penulis sendiri meminta kepada Barroness
Cox supaya penyelesaian masalah tersebut dapat dilakukan se­
cara alami (natural).
Putri sulung penulis, Alissa Munawarah, yang tinggal di
Yogyakarta terlibat sangat mendalam pada proses penciptaan
gagasan Baku Bae itu. Beberapa orang pemimpin adat telah
menemui penulis, dalam kedudukan sebagai presiden. Ternyata
perkembangan keadaan selama lebih setahun ini sangat meng­
gembirakan, walaupun di sana-sini masih ada upaya berbagai
kelompok sangat kecil yang berusaha “memanaskan” situasi
dan mencegah terjadinya proses penyelesaian yang diharapkan
tersebut.
eg
Dengan sendirinya, gagasan penulis tentang peranan para
pemuka adat itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru
mengenai kedudukan mereka dalam kehidupan masyarakat In­
donesia di masa depan. Karena agama Islam juga mengembang­
kan nilai-nilai (values) yang penting bagi pembangunan dan pe­
rubahan sosial, dengan sendirinya lalu timbul pertanyaan; nilai
Islam apakah yang paling tepat dikembangkan dalam hal ini?
g 275 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
Juga ada sebuah pertanyaan lain: dalam perkembangan sosial
seperti itu, adakah tempat bagi pelaksanaan nilai-nilai Islam ter­
sebut? Dari kedua pertanyaan pokok tersebut di atas, tentu juga
muncul banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak akan di­
jawab di sini. Panjangnya ruangan untuk tulisan ini membatasi
hal tersebut.
Sebuah nilai Islam (Islamic value) tepat untuk dipakai bagi
peranan para pemuka adat tersebut, yaitu; “Tiada Islam tanpa
kelompok, tiada kelompok tanpa kepemimpinan, dan tiada kepe­
mimpinan tanpa ketundukan” (La Islama Illa bi Jama’ah wala
Jama’ata Illa bi Imarah wala Imarata Illa Bi Tha’ah).” Ini
berarti, pemuka adat dapat menjadi pemimpin, karena sebuah
ungkapan lain juga mengatakan: “hukum adat dapat saja diguna­
kan sebagai pedoman agama (al ‘âdatu muhakkamah),” yang
menunjukkan pertalian antara hukum adat dan Islam, hingga
benar adanya anggapan bahwa nilai-nilai Islam tidak bertentang­
an dengan adat.
Kedua ungkapan di atas, harus diletakkan dalam sebuah
kerangka, yaitu harus memberikan prioritas kepada kepentingan
umum. Pengertian kepentingan umum itu adalah tindakan-tin­
dakan yang dalam literatur agama Islam diberi nama maslahah
‘âmmah, yang harus tercermin dalam kebijakan yang diambil
maupun tindakan yang dilaksanakan bagi kepentingan masyara­
kat/orang banyak oleh para pemimpin.
Hal ini dengan jelas tergambar dalam adagium “kebijakan-
kebijakan/tindakan-tindakan seorang pemimpin harus terkait
sepenuhnya dengan kepentingan masyarakat
(tasharruf al-
lmâm ‘alâ al-ra’îyyah manûthun bi al-mashlahah).” Jadi jelas,
prinsip kegunaan (asas manfaat) dan bukan sekedar berkuasa,
menjadi ukuran keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin.
Para pemuka agama dan para pemimpin adat di masa depan ha­
rus mengambil peran lebih banyak sebagai pemimpin masyara­
kat. Dalam arti selalu mementingkan kesejahteraan masyarakat
dan bukannya kelangsungan lembaga-lembaga yang mereka
pimpin. h
g 276 h
Islam dan Marshall McLuhan
di Surabaya
enulis diundang oleh harian Memorandum untuk mem­
berikan ceramah Maulid Nabi Muhammad Saw, beberapa
P
waktu yang lalu yang dihadiri ribuan massa, diantaranya
para habaib yang datang dari berbagai penjuru Jawa Timur. Pe­
nulis sendiri disertai Prof. Dr. Mona Abaza1 dari Mesir, Maria
Pakpahan dan dr. Sugiat dari DPW PKB Jakarta. Dalam acara itu
H. Moh. Aqiel Ali, selaku pemimpin umum harian ini menyata­
kan, peredaran oplaag harian tersebut kini sudah mencapai 120
ribu exemplar per hari, yang menjadikannya koran besar dengan
pembaca yang rata di Jawa Timur.
Maksud penulis mengajak Prof. Dr. Mona Abaza dan Maria
Pakpahan tercapai yaitu melihat sesuatu yang belum pernah mere­
ka saksikan. Hal itu adalah digelarnya pembacaan shalawat Nabi
dari Habib Al-Haddad dan sajak Burdah2 dari Imam Al-Bushairi.
1 Mona Abaza adalah associate professor bidang sosiologi di American
University di Kairo, Mesir. Beberapa karyanya antara lain Islamic Education,
Perceptions and Exchanges (Paris, Cahier d’Archipel, 1994), Debates on Islam
and Knowledge in Malaysia and Egypt: Shifting Worlds (Taylor & Francis,
2002).
2 Dikisahkan, kasidah burdah diciptakan ketika Syekh al-Busyiri ter­
serang penyakit aneh. Sebagian tubuhnya lumpuh. Ia bermunajat pada Ilahi
sambil mengucurkan air mata memohon kesembuhan. Tak lupa ia  ciptakan se­
jumlah syair pujian untuk Rasulullah SAW, dengan maksud memohon syafaat.
Dalam tidurnya ia bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam
mimpi tersebut al-Busyiri sempat berdialog dengan Nabi. Ia membacakan
syair-syair pujiannya untuk Nabi, namun sampai pada bait ke 51: “famâ bala-
g 277 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
Ketika memberikan ceramah, penulis mempertanyakan adakah
para peraga kedua jenis pagelaran agama itu berlatih atas ke­
hendak sendiri sepanjang tahun, ataukah ada yang membiayai?
Terdengar jawaban gemuruh; tidak! Ini artinya mereka tidak per­
nah mengkaitkan latihan sepanjang tahun dengan pembiayaan
acara. Dengan kata lain, mereka berlatih atas inisiatif sendiri dan
dibiayai oleh keinginan keras mengabdi pada agama.
Inisiatif sendiri tanpa ada yang menyuruh inilah yang oleh
Marshall McLuhan, seorang pakar komunikasi,3 sebagai “happe­
ning (kejadian)”. Dicontohkan penulis dalam ceramah itu -seper­
ti yang terjadi di Masjid Raya Pasuruan, setiap tahun dua kali.
Para pemain rebana datang dari seluruh penjuru Jawa Timur,
setiap kelompok bermain sekitar 5-10 menit. Mereka datang
sendiri dengan menyewa truk, memakai pakaian dan tanda pe­
ngenal serta makanan sendiri. Begitu juga kendaraan yang mere­
ka pakai, umumnya truk, disewa sendiri oleh tiap kelompok.
eg
Apa yang disebutkan sebagai happening oleh McLuhan itu,
juga terjadi pada acara haul/peringatan upacara kematian Sunan
Bonang di Tuban. Acara itu tidak memerlukan undangan dari
panitia, kecuali hanya berupa pemberitahuan yang sangat terba­
ghul ilmi fîhi annahu basyarun...” ia tidak sanggup meneruskannya. Konon
Rasul menyuruhnya meneruskan “wa annahu khayru khalqillahi kullihimi”.
Kemudian Nabi memberikan jubah (burdah) kepada al-Busyiri dan mengusap
bagian tubuh yang mengalami kelumpuhan. Ketika esok paginya orang tua ini
terbangun, tiba-tiba ia bisa berjalan dan pulih seperti sedia kala. Dengan ceria
ia berjalan-jalan di pasar sambil membacakan syair-syair pujian untuk Rasul.
Syair-syair inilah yang kemudian dikenal sebagai kasidah Burdah. Kasidah
Burdah terdiri atas 162 sajak Dari 162 bait tersebut, 10 bait tentang cinta, 16
bait tentang hawa nafsu, 30 tentang pujian terhadap Nabi, 19 tentang kelahiran
Nabi, 10 tentang pujian terhadap al-Qur’an, 3 tentang Isra’ Mi’raj, 22 tentang
jihad, 14 tentang istighfar, dan selebihnya (38 bait) tentang tawassul dan mu­
najat. Puisi cinta untuk Rasul ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai ba­
hasa (Persia, India, Pakistan, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Indonesia, Inggris,
Prancis, Jerman, Spanyol dan Italia). Di beberapa pesantren salaf, kasidah ini
masih senantiasa dibaca.
3 Herbert Marshall Mcluhan (1911-1980) adalah ahli filsafat dan profe­
sor bahasa Inggris kelahiran Kanada. Mcluhan yang juga dikenal sebagai ahli
teori komunikasi telah memberikan sumbangan konsep berupa “budaya popu­
ler/populer culture” dalam ranah ilmu antropologi.
g 278 h
Islam dan Marshall McLuhan di Surabaya
tas, tidak lebih dari 300 orang saja, untuk mereka yang disedia­
kan tempat duduk. Sedangkan untuk puluhan ribu pengunjung
lainnya, mereka membawa sendiri tikar/koran bekas sebagai
alas duduk serta botol air untuk mereka minum sendiri, tanpa
mendapat undangan untuk hadir. Selama 43 tahun, muballigh
kondang alm. KH. Yasin Yusuf dari Blitar, berpidato dalam acara
haul tersebut, tanpa mendapatkan undangan dari panitia. Yang
penting, ia dan rakyat pengunjung tahu hari dan tanggal acara
haul tersebut, dan mereka datang atas dasar kesadaran mereka
sendiri.
Ternyata, dalam hal-hal yang terjadi tanpa disiapkan ma­
tang-matang terlebih dahulu, pengamatan Marshall McLuhan
itu terjadi. Happening itu terdapat di seluruh dunia dalam ben­
tuk dan ragam yang beraneka warna. Apakah implikasi dari hal
tersebut? Mudah saja pertanyaan itu untuk dapat dijawab: se­
lama hal-hal itu dianggap membawa berkah Tuhan dan terbuk­
tikan, maka selama itu pula kesuka-relaan akan menjadi pen­
dorongnya. Ini terjadi, dalam banyak bidang kehidupan yang
memperagakan kekayaan kultural suatu kelompok, tanpa ada
yang dapat melarangnya.
Dengan kata lain, kesukarelaan atas dasar keagamaan itu,
adalah sesuatu yang menghidupi masyarakat kita. Apa yang ti­
dak diuraikan penulis dalam acara peringatan maulid Nabi Saw.
itu, karena keterbatasan waktu, adalah keharusan bagi kita un­
tuk menerapkan secara lebih luas prinsip kesukarelaan di atas.
Terutama dalam kehidupan politik kita, perlu dipikirkan adanya
sebuah sistem politik yang sesuai dengan ajaran agama tentang
keikhlasan, kejujuran/ketulusan dan keterbukaan. Menjadi nya­
ta bagi kita, bahwa pembentukan sebuah sistem politik yang me­
miliki kandungan sangat beragam, benar-benar diperlukan saat
ini.
Jelaslah bahwa aspek kesukarelaan dan keterbukaan sis­
tem politik itu sangat diperlukan dalam sikap dan landasan ke­
hidupan kita sebagai bangsa. Sementara itu, happening seba­
gaimana yang diamati McLuhan itu ternyata memiliki arti yang
mendalam bagi peneropongan akan fungsi ajaran agama terse­
but. Hal ini berlaku pula dalam politik. Pengingkaran terhadap
kesukarelaan di bidang politik, hanya akan menghasilkan sistem
politik yang memungkinkan seseorang berbohong kepada rakyat.
h
g 279 h
Diperlukan Spiritualitas Baru
ada minggu terakhir bulan September 2002, penulis di­
minta hadir pada sebuah pertemuan untuk membentuk
P
sebuah Dewan Agama, yang akan menjadi organisasi pe­
nasehat bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Penulis yang seharusnya tidak berangkat, karena situasi di tanah
air yang sangat sensitif, menganggap pertemuan tersebut sangat
penting, hingga penulis datang ke New York untuk hadir, walau­
pun tidak untuk seluruh pertemuan tersebut. Dalam pertemuan
itu, penulis mendapat peluang waktu untuk berbicara selama tu­
juh menit saja, di hadapan begitu banyak negarawan, orang pan­
dai dan para pemimpin berbagai negara serta bermacam-macam
corak organisasi.
Waktu tujuh menit yang disediakan untuk penulis pun ti­
dak seluruhnya dipakai, karena penulis hanya berbicara lima
menit saja. Namun, pembicaraan selama lima menit itu ternyata
mengubah jalannya pertemuan. Hampir seluruh peserta menjadi­
kan pidato penulis sebagai rujukan dalam pembicaraan dua hari
berikutnya. Sebenarnya yang dikemukakan penulis dalam per­
temuan tersebut sangatlah sederhana saja, yakni: spiritualitas
harus kembali berbicara dalam arena politik. Hal ini sebelumnya
pernah dikemukakan penulis sewaktu menerima gelar Doctor
Honoris Causa di bidang Humaniora dari Universitas Soka Gak­
kai di Tokyo, pada bulan April 2002.
g 280 h
Diperlukan Spiritualitas Baru
Apa yang penulis kemukakan baik di Tokyo maupun di New
York, adalah sebuah kenyataan bahwa berbagai organisasi ke­
agamaan yang besar di dunia ternyata menyokong partai-partai
politik tertentu. Soka Gakkai selaku organisasi Buddha terbesar
di dunia sejak tiga dasawarsa terakhir ini, mendukung Partai Ko­
meito (partai bersih), yang sekarang menjadi mitra junior bagi
Partai Demokratik Liberal yang memerintah Jepang saat ini. Di
India, RSS (Rashtriya Swayamsevak Sangha) sebuah organisa­
si keagamaan Hindu terbesar yang didirikan pada tahun 1925,
mendukung Bharatya Janatha Party (BJP), di bawah pimpinan
Atal Behari Vajpayee yang memerintah India sekarang ini, meru­
pakan bukti tak terbantahkan tentang hal di atas. Demikian juga,
Jam’iyyah al-Taqrib Baina al-Madzâhib, di bawah pimpinan
orang-orang seperti Ayatullah Wa’iz Zadeh, mendukung Presi­
den Iran Mohammad Khatami. Sedang organisasi keagamaan
seperti Nahdlatul Ulama di Indonesia, mendukung Partai Ke­
bangkitan Bangsa (PKB).
eg
Apakah artinya semua ini? Karena agama memiliki sudut
pandang yang berdasarkan pada etika dan moralitas suatu
bangsa, yang sudah hampir hilang dari kehidupan politik ber­
bagai bangsa. Karena itu muncul reaksi dalam berbagai bentuk.
Di kalangan gerakan-gerakan Kristiani, baik dari kaum Katolik
maupun Protestan, timbul apa yang dinamakan sebagai “tanda-
tanda zaman” ataupun pembebasan manusia dari keterkung­
kungan pandangan sekuler yang tidak mengacu pada etika dan
moralitas. Maka, lahirlah sejumlah “alternatif-alternatif”, seperti
Teologi Pembebasan (liberation theology) yang dibawakan oleh
Leonardo Boff1 dan kawan-kawan di Amerika Latin dalam paruh
kedua abad lalu. Ini membawa gaungnya sendi­ri yang dipenuhi
dengan perdebatan sengit di hampir semua pemikir keagamaan
dari berbagai keyakinan yang ada saat ini. Dari “alternatif-alter­
natif” seperti inilah lahir kesadaran, bahwa harus dilakukan ber­
1 Leonardo Boff dilahirkan pada 14 Desember 1938 di Concórdia, Estado
de Santa Catarina, Brasil. Ia seorang teolog, filsuf dan penulis, yang terkenal
karena ia aktif mendukung perjuangan hak-hak kaum miskin dan mereka yang
tersisihkan. Ia adalah salah satu pencetus Teologi Pembebasan, bersama-sama
dengan Gustavo Gutierrez.
g 281 h
Islam, PENDIDIKAN DAN MASALAH SOSIAL BUDAYA
bagai tindakan untuk menghidupkan kembali berbagai peranan
agama, pada bidang-bidang yang strategis untuk kehidupan ber­
sama seluruh umat manusia.
Namun, perkembangan spiritualitas yang demikian hiruk-
pikuk, ternyata tidaklah bergema di bidang politik. Para politisi
tetap saja sibuk dengan kepentingan-kepentingan mereka, dan
hampir-hampir tidak mau melihat etika, moral, dan kehidup­
an umat manusia, kecuali secara manipulatif. lnilah yang meru­
pakan hidangan sehari-hari yang kita saksikan saat ini, mulai
dari berbagai skandal seksual, finansial maupun kultural yang
melibatkan para pemimpin dari berbagai negara. Kenyataan pa­
ling jelas dari hal ini dapat dilihat pada bagaimana usaha banyak
politisi untuk kepentingan pribadi ataupun golongan.
eg
Dekadensi moral itu, dalam artiannya yang luas, dapat di­
lihat pada lembaga PBB saat ini. Bahwa ada Dewan Keamanan
(DK) dengan wewenang lima buah negara anggota untuk menja­
tuhkan veto, menunjukkan dengan jelas bahwa wawasan moral
dan etika telah hilang dari badan politik tertinggi dunia saat ini.
Dan, jika diperlukan, maka sebuah negara adi kuasa yang juga
menjadi anggota tetap DK-PBB, yaitu Amerika Serikat (AS) dapat
memaksakan kehendak untuk menyerbu Irak dan Afghanistan di
luar kerangka PBB sendiri. Ketidakseimbangan ini jelas merupa­
kan hal yang memerlukan koreksi, untuk menyehatkan proses
di dalamnya. Diantaranya, melalui penyadaran semua pihak
akan pentingnya arti spiritualitas yang baru dalam perpolitikan
tingkat dunia.
Dalam hal ini, penulis menerima penuh ketentuan dari
adagium geopolitik “tak ada hegemoni dalam hubungan inter­
nasional” seperti yang diajarkan oleh para pemimpin Republik
Rakyat Tiongkok (RRT) di bawah kekuasaan Mao Zedong atas
Partai Komunis Tiongkok. Kebijakan tanpa hegemoni itu, men­
jadi ukuran penting yang harus diaplikasikan dalam hubungan
internasiona oleh lembaga spiritualitas baru. Namun, pemikiran
yang demikian menarik ini sering juga dilanggar oleh para peng­
anutnya sendiri. Itu semua terjadi karena dia ditetapkan tanpa
ada spiritualitas itu sendiri di dalamnya. Apabila geopolitik di­
lepaskan dari spiritualitas hubungan internasional, maka akan
g 282 h
Diperlukan Spiritualitas Baru
membuatnya menjadi alat belaka bagi sikap hidup materialistik
yang dikembangkan di luar ketentuan etis dan moral.
Oleh karena itu, harus dilihat dan selalu dipertimbangkan
sebuah tindakan yang akan diambil oleh sebuah negara, akan­
kah memenuhi kriteria keadilan dan kemakmuran bersama?
Memang, pertanyaan ini kedengarannya sangat naif, namun bu­
kankah kita sekarang sudah melihat akibat-akibat terjauh dari
politik kepentingan (interest politics) dalam hubungan interna­
sional? Perdana Menteri Thailand Thaksin Shinawatra menye­
barkan gagasan, agar ada transaksi barter (counter trade) dalam
hubungan antar negara-negara berkembang, guna menghemat
devisa antara mereka. Bukankah ini berarti sebagai sikap protes
atas ketergantungan negara-negara berkembang kepada sebuah
negara saja, yaitu AS, dalam masalah devisa? Bukankah ketergan­
tungan ini sekarang juga terdapat dalam penggunaan mata uang
Euro dan Yen? Belum lagi diingat kekuatan Renminbi dari RRC,
yang diperkirakan akan turut menguasai pasaran uang dunia
sepuluh tahun lagi? Bukankah dengan demikian menjadi nyata
bagi kita, keperluan akan sebuah spiritualitas baru? h
g 283 h
Doktrin dan Tembang
alam budaya Jawa, dikenal tembang anak-anak “Lir-ilir”.1
Demikian terkenalnya tembang anak-anak itu, sehingga
D
ia sering terdengar dibawakan bocah angon (anak gem­
bala ternak) di atas punggung kerbau pada sebuah sawah yang
sedang kering kerontang di musim kemarau. Apa yang istimewa
dari tembang tersebut, hingga perlu diketengahkan melalui tu­
lisan ini? Apakah penulis kehabisan bahan untuk dibahas, hing­
ga ‘barang sekecil’ itu diketengahkan kembali dalam forum mulia
ini? Bukankah itu sebuah tanda, bahwa penulis hanya mengada-
ada, dan membahas sesuatu yang tidak ada artinya?
Sebenarnya, tidak demikian halnya. Justru dengan meng­
ungkapkan adanya hubungan antara aqidah Islam dan tembang
anak-anak di atas, penulis ingin mengemukakan sebuah pende­
katan strategis yang ditempuh para pejuang muslim di kawasan
budaya Nusantara di masa lampau. Penulis ingin mempertanya­
kan, pendekatan strategis mereka, benarkah memiliki efektifitas
di masa lampau, waktu sekarang dan masa depan? Kalau penulis
dapat mengajak para pembaca tulisan ini untuk turut memikir­
kannya, tercapailah sudah tujuan penulis membahas masalah
ini. Sebuah kerja sederhana, yang menyangkut masa depan umat
Islam di negeri ini. Adakah sesuatu yang lebih mulia dari maksud
di atas?
1 Tembang Ilir-ilir yang ditulis Sunan Kalijaga sangat dikenal di kalang-
an orang Jawa. Syairnya sarat dengan nilai dakwah dan tasawuf yang tinggi.
Sebagai seorang wali Allah yang sangat jenius dalam bersyair, beliau sangat
efektif menggunakan budaya setempat sebagai sarana pendekatan dakwah.
Syair selengkapnya adalah “ Lir-ilir, lir ilir..Tandure wis sumilir..Tak ijo royo
royo..Tak sengguh penganten anyar…Cah angon-cah angon..Peneken blimb-
ing kuwi..Lunyu lunyu ya peneken..Kanggo mbasuh dodotiro…Dodotiro..
dototiro..Kumitir bedah ing pinggir.Dondomana jlumatono..Kanggo seba
mengko sore…Mumpung jembar kalangane..Mumpung padang..rembulane..
Yo surake..Surak hayo!”
g 284 h