Kepala Sama Berbulu Pendapat Lain-Lain
tahkan Sekarmadji Kartosuwiryo diadili oleh Mahkamah Militer
yang kemudian menjatuhkan hukuman mati, atas diri tokoh dan
teman dekat Bung Karno itu. Bung Karno tidak memberikan gra­
si/pengampunan kepadanya, karena Kartosuwiryo telah meme­
rintahkan pembunuhan rakyat dan perampokan. Bung Karno
bahkan memerintahkan pelaksanaan hukum mati atas diri tokoh
itu, dan menghilangkan jejak penguburannya di Kepulauan Seri­
bu. Persoalannya tidak rumit kalau kita memiliki keberanian,
bukan? h
g 331 h
Tak Cukup dengan Penamaan
r. Djohan Effendi menulis dalam sebuah harian nasio­
nal, bahwa baik Abdullah Sungkar maupun Abu Bakar
D
Ba’asyir dilaporkan sebagai pendiri gerakan Jama’ah Is-
lamiyah, baik di Malaysia maupun Singapura. Organisasi inilah
yang oleh intelijen Amerika Serikat (AS) maupun Australia, di­
anggap sebagai gerakan teroris internasional. Bahkan, oleh pihak
intelijen Malaysia dan Singapura, organisasi itu dilaporkan telah
merencanakan tindak kekerasan di kedua negara tersebut. Pers
internasional menyebutkan, baik Sungkar maupun Ba’asyir, seba­
gai pemimpin spiritual organisasi tersebut. Benarkah organisasi
itu merupakan persambungan gerakan teroris Al-Qaeda1 seperti
yang disangkakan AS, yang berpangkalan di Afghanistan di masa
pra-pemboman atas AS? Sejarahlah yang akan menjawab perta­
nyaan itu, setelah pemeriksaan teliti selama bertahun-tahun.
Tulisan Dr. Djohan Effendi itu segera dijawab dalam hari­
an yang sama, oleh Fauzan Al-Anshori, Ketua Departemen Data
dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia (MII), beberapa hari
1 Al-Qaeda adalah sebuah organisasi yang semakin dikenal pasca serang­
an 11 September 2001. CIA menuduh al-Qaeda sebagai otak dibalik serangan
terhadap WTC dan Pentagon. Al-Qaeda sebenarnya adalah nama file untuk
menunjukkan daftar anggota-anggota Mujahidin yang berjihad menentang
penjajahan Rusia di Afghanistan, di dalamnya Osama bin Laden dikenal seba­
gai pimpinannya. Ia adalah anak didik CIA untuk proyek menentang Rusia di
Afghanistan. Tetapi kini, senjata telah makan tuan, Osama bin Laden pula yang
membenci Amerika Serikat. Ini terjadi, oleh karena al-Qaeda telah menyeret
konflik “trading oil pipelines” ke wilayah paling suci yang bernama “Agama”
dengan menegaskan fatwa “Killing Americans civilian and military any where
and any time”, sebagai sebuah kewajiban setiap muslim dengan level “fardlu
ain”.
g 332 h
Tak Cukup dengan Penamaan
kemudian. Namun, jawaban itu tidak menyangkal keterangan
Dr. Djohan Effendi akan kebenaran ungkapan, maupun penye­
butan oleh pers internasional bahwa Abdullah Sungkar dan Abu
Bakar Ba’asyir sebagai pemimpin spiritual Jamaah Islamiyah.
Yang dilakukan Fauzan Al-Anshori dalam jawaban tertulis itu,
hanya ‘mengungkit’ penamaan Dr. Djohan Effendi selaku salah
seorang yang disebutnya sebagai pemikir kaum Muslim neo-
modernis. Kelompok terakhir ini disebut-sebut dalam disertasi
Greg Barton2 dari Deakin University, Australia, sebagai pihak
yang meneliti dan menggunakan warisan budaya Islam lama un­
tuk menafsirkan secara kontemporer tempat Islam dalam kebu­
dayaan modern.
Greg Barton menyebutkan, Dr. Djohan Effendi, Dr. Nur­
cholish Madjid, almarhum Ahmad Wahib, Dawam Rahardjo, dan
diri penulis sendiri, sebagai pemuka pendekatan neo-modernis
itu. Orang boleh saja suka atau tidak suka terhadap kelompok
pemikir tersebut, bahkan juga dapat menerima atau menolaknya
sebagai cara berpikir yang absah dalam Islam. Tetapi faktanya,
pemikiran dan kelompok pemikir seperti itu memang ada dalam
dunia Islam, jadi tidak dapat ditolak secara empirik. Demikian
pula, reaksi atasnya adalah sesuatu yang wajar-wajar saja, seper­
ti yang diperlihatkan oleh tokoh gerakan Majelis Mujahidin yang
membuat jawaban tertulis atas pendapat Dr. Djohan Effendi itu.
eg
Lagi-lagi terbukti adanya pendapat yang berbeda dalam ge­
rakan Islam mengenai sesuatu. Tidakkah ini menunjukkan perbe­
daan antara mereka di saat-saat yang sangat menentukan seperti
di masa kini, sebagai sesuatu dianggap penting.? Jawabannya,
persoalan itu tergantung dari sikap kaum muslimin sendiri. Seba­
gaimana kita ketahui, kaum muslimin dapat dibagi dua, dalam
pendekatan mereka kepada perubahan-perubahan sosial yang
terjadi. Di satu pihak, ada kaum muslimin yang merasakan tidak
ada keharusan bergabung dalam gerakan-gerakan Islam terse­
2 Disertasi itu berjudul “The Emergence of Neo-Modernism; a Progres-
sive, Liberal Movement of Islamic Thought in Indonesia: A Textual study Ex-
amining the writings of Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib
and Abdurrahman Wahid 1968-1980”
g 333 h
Islam TENTANG KEKERASAN DAN TERORISME
but. Di lain pihak, ada pengikut gerakan-gerakan Islam modernis
dan tradisional, dan di samping mereka yang mengikuti strategi
budaya atau strategi ideologis. Inilah yang senantiasa harus di­
ingat, kalau kita berbicara tentang Islam Indonesia saat ini.
Seringkali, orang berbicara tentang Islam tanpa memper­
hatikan kenyataan tersebut, terjadilah klaim yang sangat berani,
bahwa orang yang mengemukakan pendapat tersebut berbicara
atas nama Islam secara keseluruhan. Padahal, ia sebenarnya ha­
nya berbicara atas nama kelompok atau pemikirannya sendiri
yang dalam bahasa teori hukum Islam (ushûl fiqh) disebutkan
sebagai langkah menyebutkan hal-hal umum, dan dimaksudkan
untuk hal-hal khusus (ithlâqu al-‘âm wa yurâdu bihi al-khâs).
Di sini, terjadi perpindahan dari seorang pengamat yang seha­
rusnya bersikap obyektif, menjadi seorang aktivis perjuangan
yang sering bersikap subyektif.
Selama kaum muslimin belum dapat menghilangkan klaim-
klaim tersebut di atas, selalu akan terjadi kerancuan berpikir, apa­
lagi kalau hal itu disampaikan melalui media massa. Pantaslah ka­
lau kaum muslimin pada umumnya dibuat kebingungan, mung­
kin termasuk oleh penulis sendiri. Ini karena posisi penulis, yang
sering dikacaukan (dan juga mengacaukan) antara peranan seba­
gai pengamat atau berperan sebagai aktivis perjuangan gerakan
Islam. Lima belas tahun penulis menjadi Ketua Umum Pengurus
Besar Nahdlatul Ulama (PB NU), dan sekarang pun masih men­
jadi Mustasyar (penasehat-nya). Warga Nahdlatul Ulama (NU)
saja sering kebingungan akan hal itu, apalagi orang lain.
eg
Menggunakan pendekatan ilmiah atau tidak subyektif ada­
lah persyaratan mutlak bagi sebuah pandangan/pendapat yang
baik. Emosi tidak boleh digunakan, walaupun kita berada dalam
keadaan sesulit apapun dan terjepit/tersudut. Argumentasi yang
baik harus kering dari emosi untuk mencapai obyektivitas yang
dimaksudkan. Kalau ini tidak diperhatikan, maka pendapat itu
dianggap sebagai sesuatu yang memalukan dan tidak diterima
sebagai sesuatu yang rasional oleh publik. Salah-salah, pandang­
an atau pendapat subyektif dan penuh emosi seperti itu akan
ditertawakan oleh masyarakat, dianggap sebagai lelucon yang
tidak lucu.
g 334 h
Tak Cukup dengan Penamaan
Demikian pula, sanggahan saudara Fauzan atas keterang­
an Dr. Djohan Effendi itu, yang hanya berisi “tudingan“ bahwa
Dr. Djohan Effendi adalah anggota kelompok kaum neo-mo­
dernis Islam di negeri kita. Kalau Dr. Djohan Effendi menggu­
nakan rekaman atas keterangan Abdullah Sungkar dan Abu
Bakar Ba’asyir, mengenai peranan mereka dalam pembentukan
Jamaah Islamiyah, sehingga berani mengambil kesimpulan yang
dikemukakannya, sanggahan saudara Fauzan justru tidaklah
demikian. Yang dilakukan, hanyalah ‘penamaan’ terhadap Dr.
Djohan Effendi sebagai anggota kelompok neo-modernis Islam
di negeri kita. Tentu orang bertanya, manakah obyektivitas sang­
gahan tersebut? Ternyata, yang dilakukan hanyalah penamaan
belaka, tanpa memberikan argumentasi apa-apa. Tidakkah lang­
kah ini justru akan ditertawakan? Tentu saja hal itu akan dilaku­
kan penulis, jika tidak menyangkut sesuatu yang sangat penting
bagi kita bangsa Indonesia, seperti tragedi terorisme.
Dari kritikan di atas, menjadi jelas bahwa sanggahan ter­
sebut sangat memalukan, karena tidak disertai argumentasi apa­
pun. Bahwa keterlibatan Dr. Djohan Effendi dalam kelompok
neo-modernis Islam di Tanah Air kita adalah informasi yang
benar. Dr. Djohan Effendi, dan juga penulis, tidak perlu merasa
malu dengan penamaan itu. Selama kita menghormati dan ber­
sikap benar terhadap sebuah fakta, selama itu pula kita tidak
perlu merasa malu atau takut kepada siapapun. Sedangkan sang­
gahan terhadap sikap itu, kalau hendak dibantah atau ditolak,
hendaknya berdasarkan argumentasi yang kuat dan rasional. Bu­
kannya dengan penamaan belaka bahwa si fulan anggota kelom­
pok ini atau warga kalangan itu. h
g 335 h
Memandang Masalah dengan Jernih
(Menilik Pernyataan Lee Kuan Yew)
alam keterangannya yang dimuat Far Eastern Economic
Review (FEER) edisi 12 Desember 2002, Menteri Senior
D
Singapura Lee Kuan Yew, menyatakan dia bertanya ke­
pada orang-orang Muslim gerakan radikal dari Asia Tenggara.
Pertanyaannya, apa sebab mereka mengubah citra moderat kaum
Muslimin di Asia Tenggara menjadi radikalisme berlebihan? Bagi
penulis, pendapat Lee Kuan Yew tidak dapat diperhitungkan da­
lam pandangannya mengenai Islam di Indonesia. Karena itu dia
mengajukan pertanyaan yang salah, seperti yang diajukannya
kepada gerakan Islam radikal: Mengapakah Anda membuat cit­
ra Islam di Asia Tenggara menjadi begitu buruk dengan mele­
dakkan bom? Sedangkan tadinya citra agama Islam di kawasan
ini begitu moderat? Mengapa penulis menganggap pertanyaan
itu salah, dan karena itu menilainya naif? Bukankah ini sebuah
“tuduhan berat” terhadap seorang pengamat sekaliber Lee yang
kawakan menguasai dunia perpolitikan di Singapura?
Tentu saja penulis mempunyai dasar yang cukup bagi “tu­
duhannya” itu. Pertama, karena hal itu di kemukakan oleh tokoh
tersebut, dengan sendirinya didengarkan oleh banyak pihak, ter­
utama pengambil keputusan di Barat. Karena itu, kalau memang
benar pernyataan Lee Kuan Yew itu salah atau naif, maka harus
segera dikoreksi. Koreksi itu harus segera dilakukan sebelum
pernyataan itu disimpulkan sebagai “kebenaran” oleh para peng­
ambil keputusan di Barat. Demikian juga sebelum “kebenaran”
tersebut dipakai sebagai landasan berpikir oleh para pengamat
di seluruh dunia.
g 336 h
Memandang Masalah dengan Jernih
Walhasil, pendapat dari seorang tokoh seperti pimpinan
Singapura itu haruslah kita bedah dan koreksi bilamana perlu.
Kegagalan melakukan hal ini amat sangat merugikan bagi per­
kembangan Islam di seluruh dunia. Karenanya tulisan ini dibuat
sebagai referensi atas ucapannya tersebut.
Kedua, agama Islam selama ini telah menjadi korban dari
sekian banyak anggapan. Karenanya diperlukan “keberanian mo­
ral” untuk memulai koreksi atas kesalahan demi kesalahan yang
telah terjadi, guna menghindari terulangnya hal itu di masa de­
pan. Bukankah tidak ada yang lebih baik untuk “memulai” deret­
an responsi, selain menerangkan masalah sebenarnya dari per­
nyataan Lee Kuan Yew itu? Melalui sebuah responsi yang sehat,
yaitu dengan mempertanyakan dasar-dasar apa yang digunakan
Lee Kuan Yew untuk menyusun pernyataannya itu. Begitu juga
tinjauan “dari dalam” Islam sendiri, adalah sesuatu yang sangat
penting guna “membaca” kebenaran sebuah pernyataan “orang
luar.” Tulisan ini justru dikemukakan dengan tujuan memper­
oleh pandangan yang tepat tentang gerakan radikal Islam di
negeri kita.
Dalam mengajukan pernyataan di atas, Lee Kuan Yew tam­
pak mempersamakan kekuatan gerakan Islam radikal dengan
gerakan Islam moderat di kawasan Asia Tenggara. Ini adalah
kesalahpandangan di kalangan “para pengamat.” Tetapi, bagai­
manapun juga Lee Kuan Yew harus disanggah, jika ia tidak me­
ngemukakan kebenaran. Kenyataannya, gerakan Islam radikal
itu tidaklah besar, tetapi sanggup melakukan kekerasan. Hal itu
terjadi karena “kesalahan” prinsipil yang dilakukan pemerintah/
eksekutif di negeri kita. Hal ini juga terjadi karena kebanyakan
pengamat menganggap berbagai gerakan Islam radikal sebagai
sesuatu yang besar. Padahal sebenarnya, muslim yang “terlibat”
gerakan radikal itu, tidaklah banyak. Katakanlah, mereka hanya
berjumlah 50.000-an orang, namun jumlah itu tidak ada artinya
di hadapan 200 juta umat Muslim yang moderat. Hanya saja, “ke­
lompok” moderat ini tidak mempunyai dukungan materiil yang
kuat dan minimnya skill/kecakapan, lain halnya dengan gerakan
Islam radikal. Selain itu, gerakan Islam moderat belum memiliki
kohesi organisatoris, yang diperlukannya untuk maju ke depan.
Jika dibiarkan, ketakutan berlebihan peradaban “Islam”
yang merasa dikalahkan oleh peradaban “Barat”, akan menjadi
semakin besar. Padahal kalau dilihat secara budaya, persoalan­
g 337 h
Islam TENTANG KEKERASAN DAN TERORISME
nya akan jauh berlainan dari pandangan tersebut. Kalaupun “Is­
lam” dikalahkan “Barat”, itu mungkin hanya mencakup teknologi,
jaring­an perdagangan dan komunikasi. Namun di bidang-bidang
peradaban kultural lainnya, secara relatif sangat kuat kedudukan­
nya. Karenanya, kita tidak usah merasa “kalah” oleh keadaan itu.
Kita tidak perlu “membuktikan” kehebatan kita melalui penggu­
naan kekerasan (termasuk terorisme), yang berakibat kematian
orang-orang yang tidak bersalah.
Salah satu tanda pendangkalan agama yang terjadi di ka­
langan gerakan radikal Islam adalah upaya memandang hal-hal
yang berbau kelembagaan/institusional sebagai satu-satunya
ukuran “keberhasilan” kaum muslimin. Padahal kultur Islam
lainnya, seperti, rebana, sufisme dan sebagainya, cukup menon­
jol, bahkan dengan kultur itu kaum muslimin berhasil menolak
pengaruh “Barat.”
Lihat saja siaran televisi, yang semakin lama, semakin me­
nunjukkan warna Islam. Di sini kita melihat, tampak kebangki­
tan kultural Islam dalam perpaduan yang lama dan yang baru,
seperti artis yang sudah tidak malu lagi mejeng membawakan
acara keagamaan pada bulan Ramadhan. Jadi, kebesaran Islam
tidak ditentukan oleh pakaian jubah yang dikenakan, atau jeng­
got, sorban dan cadar yang dikenakan, yang menutup seluruh
badan dan wajah perempuan. Seorang perempuan yang meng­
gunakan kerudung “biasa” sama Islamnya dengan yang menggu­
nakan cadar. Karena itu, pandangan yang membedakan antara
mereka, adalah pandangan yang tidak mengenal kaum muslimin
dan hakikat Islam.
Dalam perdebatan dengan Samuel Huntington,1 tentang
teori perbenturan budaya (clash of civilization), penulis me­
nyatakan, bahwa dalam teori perbenturan budaya Islam dan
Barat itu, Huntington hanya melihat pohon, tanpa mengenal
hutannya. Memang ada pohon dalam jumlah kecil yang berbe­
da dari yang lainnya, tetapi keseluruhan hutannya justru mem­
perlihatkan pohon yang sama dengan jumlahnya lebih besar.
1 Samuel Huntington adalah professor di Harvard University. Tahun
1993 dia menulis di sebuah Jurnal di AS, Foreign Affairs dengan judul ‘The
Clash of Civilizations’, h. 22-50. Tulisan ini kemudian menjadi perdebatan ba­
nyak kalangan tentang kemungkinan benturan antara Islam dan Barat. Setelah
terjadi “tragedi 11 September” teori ‘benturan peradaban’ tersebut kembali di­
perbincangkan seolah menemukan titik pembenaran.
g 338 h
Memandang Masalah dengan Jernih
Maksudnya, puluhan ribu kaum Muslimin, tiap tahun belajar di
Barat dalam berbagai bidang, tentu saja kalau ada yang radikal di
antara mereka jumlahnya sangat kecil, dan tidak dapat dijadikan
ukuran bahwa mereka mewakili Islam. Arus belajar “ke Barat”
sangat besar, sehingga pertentangan Islam melawan Barat, tidak
usah dikhawatirkan, apalagi dijadikan momok.
Karena itu, ungkapan Lee Kuan Yew yang memandang ge­
rakan Islam radikal secara berlebih-lebihan, sebagai representasi
umat Islam tersebut, jelas tidak berada pada tempat sebenarnya.
Inilah yang harus diubah, yaitu penggunaan kelompok Islam ra­
dikal sebagai ukuran bagi Islam dan kaum Muslimin yang mayo­
ritas justru bersikap moderat dalam hampir semua hal. Untuk
perubahan itu, kita harus bersabar sedikit, untuk menunggu
hasil pemilihan umum yang akan datang, yang menurut penulis
akan menunjukkan keunggulan yang sangat besar dari gerakan
moderat dalam Islam. Penulis dapat mengatakan hal ini, karena
dalam sehari dapat melakukan tiga sampai empat kali komuni­
kasi langsung dengan rakyat di seluruh pelosok tanah air. Ini
karena penulis dan partai politik yang dipimpinnya, tidak dapat
bersandar pada media massa domestik yang masih “lintang pu­
kang” keadaannya.
Juga harus ada faktor lain yang harus diperhitungkan, ya­
itu peranan pemerintah/eksekutif. Kalau pihak itu takut kepada
gerakan Islam radikal, seperti yang terjadi dewasa ini di Indo­
nesia, maka gerakan tersebut akan menjadi berani dan melang­
gar undang-undang. Karena itu diperlukan keberanian bersikap
tegas (kalau perlu bertindak keras), terhadap unsur-unsur garis
keras yang mengacaukan keamanan.
Penulis tidak setuju dengan RUU Antiterorisme, tetapi di­
perlukan juga keberanian secara fisik berhadapan dengan para
pelaku kekerasan itu. Hal-hal inilah yang harus dimengerti oleh
orang-orang seperti Lee Kuan Yew. Sederhana dalam konsep,
tapi sulit dilaksanakan bukan? h
g 339 h
Kekurangan Informasi
ertemuan itu diadakan di sebuah kuil/gereja milik sebuah
agama baru di Jepang, pecahan dari agama Buddha. Dari
P
pihak penulis, hadir Konsul Jenderal Republik Indonesia
(Konjen Rl) untuk daerah Kansai, Hupudio Supaidi. Dari pihak
Jepang datang berpuluh-puluh agamawan dari berbagai agama,
termasuk tokoh-tokoh Kristen Protestan-Katolik serta seorang
peserta wanita dari Partai Komunis Jepang. Ia juga termasuk
seorang legislator lokal yang menjadi anggota dewan kota (town
consellor) dari Sakai, yang berpenduduk sekitar 800 ribu jiwa.
Sakai adalah kota satelit di Osaka, Jepang, yang sekarang sedang
berusaha menjadi sebuah provinsi/prefectures sendiri, lepas
dari Osaka.
Dalam pertemuan itu, penulis juga ditemani oleh Mr. Hi­
toshi Kato, seorang politisi lokal yang mengundang penulis ke
Sakai dan sang keponakan Hisanori Kato1, seorang ahli tentang
negara kita dan dapat berbahasa Indonesia. Ia bekerja di Ma­
nila dan kembali ke Sakai hanya untuk menemani penulis. Hi­
toshi Kato datang ke Indonesia pada bulan Juli lalu, dan men­
coba melakukan kerjasama dengan Universitas Indonesia (UI)
1 Hisanori adalah peraih PhD dari Universitas Sydney Australia. Ba­
nyak karyanya tentang Indonesia, salah satunya adalah sebuah buku berjudul:
Agama Dan Peradaban: Islam Dan Terciptanya Masyarakat Demokratis
Yang Beradab Di Indonesia (Dian Rakyat, 2002).
g 340 h
Kekurangan Informasi
dan Universitas Nasional (Unas) di Jakarta dengan Universitas
Hagoromo yang memiliki mahasiswa 2000 orang, padahal baru
didirikan beberapa bulan yang lalu di Sakai. Akibat pemberitaan
media massa di Jepang tentang peledakan bom di Bali, ia mem­
punyai persepsi yang ‘salah’ tentang Islam dan kaum Muslimin,
sebagai kaum penjarah dan teroris. Padahal ia menyadari, ratus­
an ribu warga daerah Kansai, di mana Osaka dan Sakai terletak,
memandang Bali sebagai tujuan pariwisata yang harus didatangi
berkali-kali.
Ternyata, kesan mereka itu salah sama sekali, begitu ia
sampai di Jakarta, ia bertemu dengan orang-orang yang ramah,
dan banyak di antaranya dapat dijadikan kawan. Ia bertemu pe­
nulis, dan meminta keterangan tentang Islam dan kaum Mus­
limin. Tentu saja, penulis menyatakan tindakan para teroris itu
—kalau benar dilakukan oleh gerakan Islam— adalah sebuah pe­
nyimpangan kecil dari mayoritas gerakan Islam, yang terutama
banyak dikuasai oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadi­
yah. Jadi tidak benar, anggapan bahwa mayoritas kaum Muslim­
in di negeri ini menyetujui peledakan bom di Bali yang dilakukan
oleh gerakan Islam. Karena tindakan itu akan dianggap diskrimi­
natif oleh pemeluk-pemeluk agama Hindu, yang justru karena
penduduk Bali mayoritas beragama Hindu. Jelas gerakan Islam
tidak menyetujuinya, dan ini jelas bertentangan dengan agama
Islam yang memberikan perlindungan dan menjamin keselamat­
an terhadap kaum minoritas.
Pelurusan pandangan itu, membuat Hitoshi Kato meng­
anggap perlu mengundang penulis ke Sakai. la ingin agar penulis
menjelaskan sendiri kepada penduduk Jepang di Sakai, bahwa
apa yang digambarkan tentang Islam oleh media massa Jepang
selama ini adalah sesuatu yang salah, bertentangan dengan ke­
nyataan sebenarnya. Tentu saja, penulis menyambut baik ajakan
itu, dan menyediakan waktu untuk itu pada minggu pertama bu­
lan November 2002. Berbagai acara digelar, termasuk kunjungan
kepada Walikota Sakai dan pertemuan di Tokyo dengan Ambas­
sador Noburo Matsunaga dan Pendeta Niwano, keduanya teman
penulis yang akrab sejak beberapa tahun yang lalu. Sayang seka­
li, penulis tidak bertemu dengan Daisaku Ikeda, pendiri gerakan
Buddhis Soka Gakkai, yang memiliki sebuah Universitas —tem­
pat penulis menerima gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang
humaniora pada bulan April yang lalu.
g 341 h
Islam TENTANG KEKERASAN DAN TERORISME
Dalam rangkaian pertemuan-pertemuan di Sakai itu -yang,
juga diliput oleh koran Mainichi Shimbun (yang memiliki edisi
Jepang dan Inggris), penulis menjelaskan hakekat Islam sebagai
agama perdamaian, yang disalah-mengerti oleh sebagian kecil
kaum Muslimin, dengan tindakan-tindakan penuh kekerasan
yang mereka lakukan.
Menurut penulis, hal ini mereka lakukan karena dua hal.
Di satu sisi, mereka hanya mementingkan institusi (kelembaga­
an) dalam Islam, yang sekarang tengah terancam di mana-mana,
dalam masyarakat yang berteknologi maju. Mereka lupa, bahwa
Islam juga membawakan kultur/budaya kesantrian, yang jus­
tru sekarang semakin berkembang sebagai pertahanan kaum
Muslimin dalam menghadapi “serangan teknologi maju” itu.
Di sisi kedua, mereka yang melakukan terorisme itu tidak per­
nah mendalami Islam sebagai bidang kajian, karena mereka ti­
dak mengenal kultur/budaya santri itu. Sebagai akibatnya, lalu
mereka langsung mengambil dari sumber-sumber tertulis Islam
(al-adillah al-naqliyyah), tanpa mengetahui deretan penafsiran
yang sudah berjalan berabad-abad untuk memahami kitab suci
al-Qur’ân dan Hadits Nabi Muhammad Saw melalui perubahan-
perubahan penafsirannya. Inilah yang membuat mengapa Islam
memahami toleransi dan menerima pluralitas, yang berujung
pada penerimaan mayoritas Muslim di negeri ini akan Pancasila
dan penolakan mereka atas negara Islam melalui penghapusan
Piagam Jakarta dari Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.
Dalam keterangannya, penulis menyatakan bahwa di Indo­
nesia masih terdapat kelompok-kelompok kecil dalam gerakan
Islam yang masih menginginkan adanya negara Islam. Namun,
mereka selalu dikalahkan dalam setiap upaya formal dalam mela­
kukan hal itu. Penulis tambahkan, ia memiliki keyakinan bahwa
upaya-upaya tersebut tidak akan pernah mencapai hasil karena
tradisi kesantrian tersebut justru semakin berkembang, kini dan
di masa depan, dalam bentuk kultural dan bukan dalam bentuk
politik. Ini rupanya ditangkap oleh mereka yang bertemu dengan
penulis dan, mudah-mudahan, membuat mereka merasa aman
dengan Islam.
eg
Sisi lain yang juga disinggung penulis, adalah kekhususan
g 342 h
Kekurangan Informasi
Islam, khususnya di kawasan Asia Tenggara, yang mengembang­
kan pendidikan pesantren dengan nama bermacam-macam, se­
perti pondok di Malaysia-Thailand-Kamboja serta Madrasah di
Philipina Selatan. Lembaga tersebut membuat prioritasnya sen­
diri, yang berbeda dari prioritas pendidikan yang di negara kita
dikenal sebagai pendidikan umum. Pendidikan umum itu tidak
memberikan tempat penting kepada etika/akhlak, dan sama se­
kali tidak menghiraukan pendidikan agama. Hal itu berakibat
hilangnya pertimbangan moral dari pendidikan dan hanya me­
mentingkan penguasaan ketrampilan dan pengetahuan belaka.
Sebenarnya, kalau ditinjau secara mendalam, sikap “ga­
rang” yang ditunjukkan berbagai gerakan-gerakan Islam yang
kecil, dan sikap menggunakan kekerasan yang diperlihatkan ber­
bagai elemen teroris di negara kita, bersumber pada kurangnya
pengetahuan akan Islam itu sendiri. Dengan mencuatnya mani­
festasi lahiriyah dalam ilmu pengetahuan dan teknologi “Barat”,
mereka lalu menjadi ketakutan akan kekalahan Islam dari per­
adaban yang berteknologi maju. Ini tentu saja salah, karena per­
adaban adalah milik manusia secara keseluruhan. Akan terjadi
proses perpindahan pengetahuan dan teknologi “Barat” itu ke
seluruh peradaban-peradaban lain, termasuk peradaban Islam.
Proses pergulatan antara kultur/budaya Islam dengan pengeta­
huan dan teknologi “Barat” itu, tentu akan mengalami perubah­
an bentuk di lingkungan masyarakat Muslim. Inilah yang tidak
pernah ditangkap mereka, hingga mereka melakukan perlawan­
an yang acapkali berbentuk kekerasan dan tindakan teror.
Ini semua, juga pernah dikemukakan penulis dalam cera­
mah Maulid Nabi Saw di halaman kantor harian umum Memo­
randum di Surabaya, beberapa waktu yang lalu. Bahwa, perubah­
an sosial yang terjadi di Mesir, misalnya, dibawakan atau justru
didorong oleh perubahan bahasa dan sastra Arab yang menjadi
bahasa dan sastra nasional. Tanpa perubahan bahasa dan sastra
Arab sebagai bahasa nasional, perubahan sosial di negeri itu ti­
dak mungkin terjadi. Inilah jasa Dr. Thaha Husein (1889-1973)2
2 Sejak kecil Thaha Husein telah buta. Namun kondisi itu tidak meng­
halanginya untuk terus belajar. Setelah menyelesaikan studi di Universitas
al-Azhar dia menjadi pengajar di Universitas Mesir di Kairo. Tahun 1915 Hu­
sein pergi ke Perancis untuk studi selama 4 tahun. Di samping banyak menulis
tentang sastra Arab, 1938 Thaha Husein menerbitkan buku berjudul Future of
Culture in Egypt yang dinilai banyak orang sangat provokatif.
g 343 h
Islam TENTANG KEKERASAN DAN TERORISME
dan murid-muridnya. Sebaliknya, perubahan sosial juga dapat
mengakibatkan terjadinya perubahan bahasa dan sastra nasio­
nal, seperti dapat dilihat dalam perdebatan antara Sutan Tak­
dir Alisyahbana dengan Sanusi Pane menjelang Perang Dunia
II, walaupun tidak membawa perubahan apa-apa pada bahasa
dan sastra Arab di Indonesia. Ia tetap menjadi bahasa dan sas­
tra tradisional yang dibawakan dalam tembang/sya’ir Arab yang
demikian banyak ditampilkan di Indonesia kini, dengan iringan
musik campuran antara yang lama dan yang baru. Ini terjadi,
karena bahasa dan sastra Arab di negeri ini dianggap sebagai
“bahasa dan sastra Islam”, karena memang tidak menjadi bahasa
nasional. Sebab, bahasa dan sastra nasional kita berasal dari ba­
hasa Melayu, seperti kita ketahui selama ini. Proses yang sangat
menarik, bukan? h
g 344 h
Gandhi, Islam dan Kekerasan
lang tahun ke-101 Mahatma Gandhi, bulan Oktober
yang lalu dirayakan secara sederhana. Tokoh pejuang
U
berkebangsaan India ini terkenal dengan ajaran yang me­
nentang kekerasan (ahimsa) dan satyagraha, yang digunakan­
nya dalam perjuangan menuntut kemerdekaan secara damai bagi
India dari tangan Inggris. Untuk itu, ia meninggalkan praktek
hukum yang sangat menguntungkan di Afrika Selatan, dan kem­
bali ke India untuk memimpin perjuangan kemerdekaan yang
dilakukannya tanpa kekerasaan. Kita yang melakukan peperang­
an melawan Belanda dalam menuntut kemerdekaan, cenderung
untuk meremehkan arti perjuangan damai yang me­reka lakukan.
Sikap inilah yang perlu kita ubah, agar tidak mewarnai hubung­
an kita dengan negeri-negeri lain.
India, setelah perang kemerdekaan usai, ternyata menum­
buhkan dua hal yang sangat penting, yaitu ketundukan kepada
hukum dan berani mengembangkan identitas bangsa tersebut.
Ketundukan kepada hukum itu tampak nyata dalam kehidup­
an sehari-hari, seperti ketika seorang tamtama polisi mencatat
dalam buku catatannya hal-hal yang membuat ia menahan/me­
nangkap seseorang. Setelah keterangan tertulis itu dibacakan ke­
pada si tertangkap, maka ia diminta menandatangani “pra/beri­
ta acara polisi” itu, maka dokumen yang bertanda tangan warga
itu, dijadikan pegangan untuk memeriksanya dengan teliti dan
mengadilinya di pengadilan, kalau memang ia pantas dihukum.
g 345 h
Islam TENTANG KEKERASAN DAN TERORISME
Dengan kata lain, hanya orang yang memang ada indikasi kuat
secara obyektiflah yang dapat ditahan, bukannya keterangan ok­
num polisi tersebut. Karenanya warga negara India lebih banyak
dilindungi oleh hukum, dibandingkan warga negara kita di nege­
ri sendiri.
Namun, ini tidak berarti undang-undang (law) di India
sudah mencerminkan keadilan. Banyak undang-undang yang
dihasilkan Lok Sabha (Majelis Rendah Parlemen India), tidak
menyelesaikan masalah hak-hak anak dan perempuan, dan juga
perlindungan kepada kerja paksa (bounded labour). Kedudukan
pekerja paksa itu sangat rendah secara sosial, hal ini karena di­
perkuat oleh agama Hindu dengan sistem kastanya. Datanglah
Gandhi dengan ajakan menciptakan masyarakat tanpa kasta,
dan memandang mereka dari kasta terbawah (sudra) sebagai
harijan (anak Tuhan). Ternyata, penolakannya atas kekerasan
menumbuhkan rasa perikemanusiaan yang sangat dalam pada
diri Gandhi. Dan ini pula, yang membuat orang-orang Hindu
fundamentalis/ekstrim membunuhnya pada tahun 1948.1
eg
Islam juga mengajarkan hidup tanpa kekerasan. Satu-satu­
nya alasan untuk menggunakan kekerasan, adalah jika kaum
Muslimin diusir dari tempat tinggal mereka (idzâ ukhirijû min
diyârihim). Itupunmasih diperdebatkan, bolehkah kaumMuslim­
in membunuh orang lain, jika jiwanya sendiri tidak terancam?
Demikianlah Islam berjalan berabad-abad lamanya tanpa keke­
rasan, termasuk penyebaran agama tersebut di negeri ini. Alang­
kah jauh bedanya dengan sikap sementara fundamentalis/teroris
Muslim di mana-mana dewasa ini. Terjadi pergolakan berdarah
di sementara daerah, seperti Poso, Sulawesi Tengah dan Ambon,
Maluku. Begitu juga, mereka yang berhaluan “garis keras” di
kalangan berbagai gerakan Islam di sini, berlalu-lalang kian-ke­
mari membawa pedang, clurit, bom, granat serta senapan rakit­
an. Perbuatan itu jelas melanggar undang-undang, tetapi tanpa
1Pada 30 Januari 1948, Gandhi dibunuh seorang lelaki Hindu bernama
Nathuram Godse yang marah karena kepercayaan Gandhi yang menginginkan
rakyat Hindu dan Muslim diberikan hak yang sama. Gandhi kemudian di kre­
masi di Taman Pahlawan Rajghat, Delhi.
g 346 h
Gandhi, Islam dan Kekerasan
ada tindakan apapun dari pemerintah.
Bahkan beberapa dari mereka melakukan gerakan pember­
sihan (sweeping) dan memberhentikan kendaraan untuk diperik­
sa sesuka hati. Pernah juga terjadi, dilakukan sweeping atas cof­
fee house di Kemang, Jakarta, demi untuk menegakkan syari’ah
Islamiyah di negeri ini. Anehnya, botol-botol sandy dipecahkan
dibuang ke lantai, karena berharga murah, sebaliknya wishky
dan vodka yang berharga mahal dibawa pulang dalam keadaan
utuh, mungkin untuk dijual lagi. Sikap mendua yang materialis­
tik ini memperkuat dugaan bahwa di antara para fundamentalis
itu ada orang-orang bayaran dari luar. Masalahnya, mengapakah
para pemimpin berbagai gerakan tersebut tidak dapat mengen­
dalikan anak buah mereka ?
Sikap menggunakan kekerasan itu, juga tidak sedikit dido­
rong oleh berbagai produk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD I dan DPRD II) di berbagai kawasan, seperti di Suma­
tera Barat, Garut, Cianjur, Tasikmalaya dan Pemekasan yang
berkecenderungan untuk memberlakukan syari’ah Islamiyah se­
cara formal. Umpamanya saja dalam bentuk peraturan daerah,
mereka ingin melambangkan kuatnya semangat untuk menolak
tindakan-tindakan yang bertentangan dengan syari’ah Islamiyah
saat masa Orde Baru. Jadi, sebenarnya sikap itu tidak berbeda
jauh dengan orang-orang fundamentalis itu. Karenanya, sidang
kabinet di waktu penulis masih menjadi Presiden memutuskan
bahwa Peraturan Daerah (Perda) yang berlawanan dengan Un­
dang-Undang Dasar (UUD) dianggap tidak berlaku. Penulis ber­
anggapan, keputusan para pendiri negara ini termasuk 7 (tujuh)
orang pemimpin berbagai gerakan Islam, untuk memisahkan
agama dan negara dengan menghilangkan tujuh kata dalam Pia­
gam Jakarta, masih berlaku dan belum dicabut oleh siapapun.
eg
Lalu, mengapakah ada orang-orang fundamentalis itu, yang
umumnya terdiri dari orang-orang muda yang terampil yang ca­
kap secara teknis, namun tidak pernah jelas diri mereka secara
psikologis? Jawabnya sebenarnya sederhana saja. Pertama kare­
na orang-orang itu melihat kaum Muslimin tertinggal jauh di be­
lakang dari orang-orang lain. Nah, “ketertinggalan” itu mereka
kejar secara fisik, yaitu menggunakan kekerasan untuk mengha­
g 347 h
Islam TENTANG KEKERASAN DAN TERORISME
langi kemajuan materialistik dan duniawi itu. Mereka lebih me­
mentingkan berbagai institusi kaum Muslimin, dan tidak percaya
bahwa budaya kaum Muslimin dapat mendorong mereka untuk
meninggalkan kelompok-kelompok lain. Jika sudah mengutama­
kan budaya, maka nantinya “mengejar ketertinggalan” dengan
cara penolakan atas “budaya Barat” akan dilupakan, karena keca­
kapan yang mereka miliki juga berasal dari “dunia Barat”.
Aspek kedua dari munculnya gerakan-gerakan fundamen­
talistik ini adalah proses pendangkalan agama yang menghing­
gapi kaum muda Muslimin sendiri. Mereka kebanyakan adalah
ahli matematika dan ilmu-ilmu eksakta lainnya, para ahli eko­
nomi yang penuh dengan hitungan-hitungan rasional dan para
dokter yang selalu bekerja secara empirik. Maka dengan sendiri­
nya tidak ada waktu bagi mereka untuk mempelajari agama Is­
lam dengan mendalam. Karenanya, mereka mencari jalan pintas
dengan kembali kepada sumber-sumber teksual Islam seperti al-
Qur’ân dan Hadits, tanpa mempelajari berbagai penafsiran dan
pendapat-pendapat hukum yang sudah berjalan berabad-abad
lamanya.
Karena itulah, mereka mencukupkan diri dengan sum­
ber-sumber tekstual yang ada. Karena mereka biasa menghafal
vademecum berbagai nama obat-obatan dan benda-benda lain,
maka dengan mudah mereka menghafal ayat-ayat dan hadits-ha­
dits dalam jumlah besar yang menimbulkan kekaguman orang.
Karena sumber-sumber tertulis itu diturunkan dalam abad ke-7
sampai ke-8 masehi di Jazirah Arab, tentu dibutuhkan penafsir­
an yang kontemporer dan bertanggung jawab untuk memaha­
mi kedua sumber tertulis di atas. Tetapi karena pengetahuan
mereka yang sangat terbatas tentang Islam membuat mereka
fundamentalis. Akibatnya bagi kaum Muslimin lainnya dan bagi
seluruh dunia pula sangat drastis. Tindak kekerasan yang sudah
biasa mewarnai langkah-langkah mereka, dianggap oleh masya­
rakat dunia sebagai ciri khas gerakan Islam. h
g 348 h
Berbeda Tetapi Tidak Bertentangan1
alam sebuah diskusi yang diselengarakan FES (Friedrich
Ebert Stiftung) di Singapura baru-baru ini, dalam ses­
D
si pertama para peserta membicarakan konsep Samuel
Huntington tentang perbenturan antar budaya (clash of civiliza­
tions). Yang menggemparkan, beberapa peserta membicarakan
konsep itu sebagai landasan pembenaran bagi pendapat adanya
para teroris dari kelompok Islam, walaupun sebenarnya Islam
sebagai jalan hidup (syari’ah) menolak penggunaan kekerasan
termasuk terorisme dalam menentang modernitas. Mengemuka­
kan Islam sebagai jalan hidup adalah sesuatu yang wajar, karena
perbedaan pandangan dalam cara hidup itu diperkenankan, yang
tidak dapat diterima adalah perpecahan/pertentangan yang tim-
bul karenanya. Dengan demikian penggunaan kekerasan (teror­
isme) harus ditolak.
Seorang peserta mengemukakan, bahwa di sini terjadi se­
buah proses sangat menarik. Sebagai upaya pemberagaman, bu­
kankah universalitas konsep Samuel Huntington justru harus di­
tolak? Bukankah yang kita inginkan, justru konsep Huntington
itu hanya merupakan kekhususan? Dimanakah batasan antara
yang umum dan yang khusus sehingga tidak ada keraguan lagi
mengenai konsep Huntington itu? Penulis menanggapi pernya­
taan itu dengan mengemukakan, bahwa tidak ada pertentang­
1 Dalam diskursus pesantren ditemukan adanya istilah Ikhtilaf at-
Tanawwu’ (berbeda yang bersifat variatif) dan Ikhtilaf at-Tadlad (berbeda yang
bersifat kontradiktif). Yang perlu dikedepankan adalah Ikhtilaf a-Tanawwu’
yang akan menghantarkan bagaimana bersikap dengan mengacu pada relativ­
isme internal.
g 349 h
Islam TENTANG KEKERASAN DAN TERORISME
an antara yang khusus dan yang umum. Dua-duanya berjalan
seiring, tapi pemaksaan yang umum dengan menghilangkan
yang khusus itulah yang justru harus ditolak. Dengan demikian
kita menolak konsep Huntington itu dengan tidak mengingkari
haknya untuk menyatakan konsep-konsep.
Di sinilah sebenarnya terletak kepemimpinan yang diharap­
kan, yaitu yang dapat menyampaikan kepada masyarakat luas
bahwa penolakan suatu konsep adalah hal umum, namun dapat
menjadi pendapat dominan dalam sebuah masyarakat. Dengan
demikian cara hidup kaum Muslimin dapat ditegakkan, dengan
tidak usah melanggar hak siapapun. Jadi yang harus ditolak ada­
lah pemaksaan itu sendiri, bukannya sikap ingin memberlaku­
kan sebuah cara hidup. Inilah arti penolakan terhadap penetap­
an agama sebagai ideologi negara, dan arti ini sangat dalam bagi
gagasan pemisahan agama dari negara.
eg
Sikap para peserta untuk menolak pemaksaan sesuatu kon­
sep, benar-benar merupakan sebuah hal yang sangat menggem­
birakan. Dengan sikap para intelektual, politisi, dan jurnalis Ti­
mur dan Barat itu, menjadi jelas bahwa konsep Huntington itu
diperiksa bersama-sama secara teliti dan terbuka. Diakui bahwa
Huntington menggunakan standar ganda dalam menyusun kon­
sep itu. Tetapi ia juga mengingatkan kita kepada perbedaan-
perbedaan yang harus dihargai, antara berbagai sistem budaya.
Ini justru menimbulkan harapan besar, akan masa depan umat
manusia. Berbeda dengan Francis Fukuyama yang mengajukan
konsep “Berakhirnya Sejarah” (The End of History), konsep ini
membenarkan sikap pemerintah Amerika Serikat memiliki we­
wenang menjadi “polisi dunia” (policeman of the world). Juga
berarti ia mempunyai hak untuk campur tangan dalam masalah
dalam negeri orang lain.
Sikap yang membenarkan pelanggaran wewenang oleh
Amerika Serikat atas negara-negara lain, sangat bertentangan
dengan pendapat Republik Rakyat Tiongkok (RRT). RRT ber­
pendapat pengeboman atas sebuah negara harus diputuskan
secara multilateral oleh PBB, dan berdasarkan bukti-bukti yang
kuat. Ini dapat diartikan negara itu menolak “hak-hak” Ameri­
ka Serikat untuk melakukan pengeboman atas Afghanistan dan
g 350 h
Berbeda Tetapi Tidak Bertentangan
Irak sebagai negeri yang berdaulat. Bahkan RRT berpendapat,
tindakan Amerika Serikat itu hanya berdasarkan kepada pertim­
bangan-pertimbangan geopolitis yang belum tentu benar.
Sudah tentu, kita sangat berkepentingan dengan konsep
Huntington itu. Bukankah di negeri kita juga ada terorisme
—untuk “melawan” kebudayaan Barat—, yang dituduh menjadi
bagian dari terorisme internasional. Pembenaran anggapan bah­
wa budaya Islam ataupun budaya bangsa-bangsa berkembang
bertentangan dengan “budaya Barat”, adalah pembenaran bagi
teroris yang merasa budaya Islam harus lebih unggul dari pada
budaya Barat. Mungkin saja pendapat ini di dasarkan pada ha­
dits “Islam harus diunggulkan atas (cara-cara hidup) yang lain”
(al-Islâm ya’lû wa lâ yu’lâ ‘alaih). Secara tersamar Huntington
menyimpulkan ada keterpisahan antara budaya Islam -budaya
non Barat— dengan budaya Barat. Justru itulah yang menjadi
keberatan penulis dan teman-teman karena menyiratkan adanya
perbenturan.
eg
Asal pandangan yang menganggap Islam sebagai cara hi­
dup memiliki keungulan atas cara-cara hidup lain, sebenarnya
tidak salah. Setiap orang tentu menganggap sistemnya sendiri
yang benar. Karena itu perbedaan cara hidup adalah sesuatu
yang wajar. Ini termasuk dalam apa yang dimaksudkan oleh
kitab suci al-Qur’ân : “Dan telah Ku buat kalian berbangsa-bang­
sa dan bersuku-suku bangsa, agar kalian saling mengenal (wa
ja’alnâkum syu’ûban waqabâila li ta’ârafû)” (QS al-Hujurat
(49):13). Perbedaan pandangan atau pendapat adalah sesuatu
yang wajar bahkan akan memperkaya kehidupan kolektif kita,
sehingga tidak perlu ditakuti. Kenyataan inilah yang mengiringi
adanya perbedaan kultural (dan juga politik) antara berbagai ke­
lompok Muslimin yang ada kawasan-kawasan dunia.
Yang dilarang oleh agama Islam adalah perpecahan, bu­
kannya perbedaan pendapat. Kitab suci al-Qur’ân menyatakan ;
“Berpeganglah kalian pada tali Allah, dan jangan terpecah-pecah
(wa’tashimû bi hablillâh jamîan wa lâ tafarraqû)” (QS Ali Im­
ran (3): 103). Dengan demikian, perbedaan diakui namun per­
pecahan/keterpecah-belahan ditolak oleh agama Islam. Padahal
para teroris yang mengatasnamakan Islam, justru menolak per­
g 351 h
Islam TENTANG KEKERASAN DAN TERORISME
bedaan pandangan/pendapat itu. Jika pandangan ini diterima,
maka artinya akan menjadi, agama Islam memerintahkan teror­
isme. Padahal agama tersebut memperkenankan pengunaan ke­
kerasannya, hanya jika kaum Muslimin diusir dari tempat tinggal
mereka, (idzâ ukhrijû min diyârihim). Jadi di sini ada perten­
tangan antara pendirian sebagian sangat kecil kaum Muslimin
dengan ajaran agama mereka.
Ada sesuatu yang sangat menarik dalam membandingkan
ajaran Islam dengan konsep perbenturan budaya dari Hunting­
ton itu. Penolakan atas konsep Huntington tersebut, berarti juga
penolakan teoritis atas terorisme dan penggunaan kekerasan
yang dilakukan oleh sebagian sangat kecil kaum Muslimin. Me­
nurut penulis, baik konsep ataupun pandangan tersebut berasal
dari suatu hal yang sama: rasa rendah diri yang ditutupi dengan
kecongkakan sikap. Konsep dan pandangan tersebut sangat
mengganggu saling pengertian antara kekuatan jiwa dari buda­
ya-budaya yang saling berbeda dalam kehidupan umat manusia
dewasa ini. h
g 352 h
Kita dan Perdamaian
enulis diundang oleh UNESCO ke Paris, pada Mei 2003,
untuk menyampaikan pidato pembukaan (keynote ad-
P
dress) dalam sebuah konferensi mengenai pemerintahan
yang baik (good governance) dan etika dunia (global ethics),
yang diadakan antara kaum Budhis dan Muslimin. Konferensi
itu dimaksudkan untuk mencari jembatan antara agama Islam,
yang mewakili agama-agama Ibrahim dan Budhisme yang mewa­
kili agama-agama di luar tradisi Ibrahim.
Dalam kesempatan itu juga, penulis diminta berbicara
mengenai asal-usul (origins) terorisme bersenjata yang sedang
melanda dunia saat ini. Diharapkan pidato pembukaan itu akan
mewarnai dialog tersebut, yang juga dihadiri oleh delegasi dari
Persekutuan Gereja-Gereja Eropa, wakil dari pimpinan agama
Yahudi, Gereja Kristen Orthodox Syria, wakil agama Hindu dan
sebagainya. Dari kalangan agama Budha sendiri, hadir Dharma
Master Hsin-Tao dari Taiwan dan Sulak Sivaraksa dari Thailand,
di samping David Chappel dari University of California di Los
Angeles.
Pertemuan tersebut adalah yang ketiga kalinya, antara se­
bagian kaum Budhis dan kaum Muslimin (termasuk dari Tuni­
sia, Maroko, Saudi Arabia, Sudan, Tanzania dan sejumlah pemu­
ka kaum Muslimin lainnya). Pertemuan pertama terjadi tahun
lalu di sebuah Hotel di Jakarta, disusul pertemuan di New York
dan disudahi dengan pertemuan di Kuala Lumpur (dengan Dr.
Chandra Muzaffar sebagai tuan rumah). Dari pertemuan-perte­
muan tersebut, diharapkan kelanjutan hubungan antara kaum
Muslimin dan Budhis, disamping juga akan dilaksanakannya se­
g 355 h
Islam, PERDAMAIAN DAN MASALAH INTERNASIONAL
buah konferensi besar antar kepala negara-negara berkembang
(developing countries) di Bandung, untuk merayakan 50 tahun
konferensi Asia-Afrika pertama —Bandung I— pada tahun 2005
kelak. Agenda-agenda Konferensi Bandung II harus ditetapkan
tahun ini, untuk mempersiapkan peringatan itu sendiri di Jawa
Barat pada waktunya nanti. Hal ini diperlukan, guna mencari
alternatif bagi dominasi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya
dalam dunia internasional (seperti terbukti dari serangan-se­
rangan atas Afghanistan dan Irak), tanpa harus berkonfrontasi
dengan negara adi kuasa tersebut.
Timbulnya sikap menolak dengan cara konfrontatif itu, ka­
rena tidak dipikirkan dengan mendalam dan jika hanya dilaku­
kan oleh sebuah negara saja. Terbukti dengan adanya rencana
“politik luar negeri” Indonesia yang konyol -seperti keputusan
untuk (pada akhir tahun 2003 ini) keluar dari keanggotaan Dana
Moneter Internasional (International Monetary Funds). Pada
saat menjadi Presiden, penulis bertanya pada seorang ekonom
raksasa dari MIT (Massachusset Institute of Technology), Paul
Krugman. Ia menjawab, sebaiknya Indonesia jangan keluar dari
keanggotaan badan internasional tersebut. Paul Krugman yang
juga pengkritik terbesar lembaga itu menyatakan pada penulis,
hanya negara dengan birokrasi kecil dan bersih yang dapat ke­
luar dari IMF secara baik, sedangkan birokrasi Indonesia sangat­
lah besar dan kotor.
eg
Dalam pidato pembukaan itu, penulis menyatakan bahwa
etika global dan pemerintahan yang baik (good governance)
hanya akan ada artinya kalau didasarkan pada dua hal: kedaulat­
an hukum dan keadilan dalam hubungan internasional. Ini ber­
arti, negara adi-kuasa manapun harus memperhatikan kedua
prinsip ini. Karena itu, perjuangan untuk menegakkan kedaulat­
an hukum dan keadilan dalam hubungan internasional itu harus
mendapat perhatian utama. Pidato pembukaan itu, mendapatkan
jawaban dan tanggapan sangat positif dari berbagai pihak, ter­
masuk Dharma Master Hsin-Tao (Taiwan) yang mewakili para
pengikut agama Budha. Tanggapan yang sama positifnya juga
disampaikan oleh Wolfgang Smiths dari Persekutuan Gereja-Ge­
reja Eropa dan Rabbi Alon Goshen Gottstein dari Jerusalem.
g 356 h
Kita dan Perdamaian
Penulis menyatakan pentingnya arti kedaulatan hukum,
karena di Indonesia dan umumnya negara-negara berkembang,
hal ini masih sangat langka. Justru pada umumnya pemerintah­
an mereka bersifat korup, mudah sekali melakukan pelanggaran
hukum dan di sini konstitusi hampir-hampir diabaikan. Perintah
kitab suci al-Qur’ân: “Wahai kaum Muslimin, tegakkanlah keadil­
an dan jadilah saksi bagi Tuhan, walaupun mengenai diri kalian
sendiri” (yâ ayyuha alladzîna âmanû kûnû qawwâmîna bi al-
qisthi syuhadâ’a li allâhi walau ‘alâ anfusikum) (QS al-Nisa
[4]:135), ternyata tidak dipatuhi oleh umat Islam sendiri. Yang
lebih senang dengan capaian duniawi yang penuh ketidakadilan,
dengan meninggalkan ketentuan-ketentuan yang dirumuskan
oleh kitab suci agama mereka sendiri.
Dalam pidato pembukaan tersebut penulis menyatakan,
agar keadilan menjadi sifat dari etika global dan pemerintahan
yang baik (good governance). Itu didasarkan pada pengamatan
bahwa sebuah negara adi-kuasa, seperti Amerika Serikat dapat
saja melaksanakan dominasi yang hanya menguntungkan diri­
nya sendiri dan merugikan kepentingan negara-negara lain. Ini
terbukti dari serangannya atas Irak, yang terjadi dengan meng­
abaikan sikap Dewan Keamanan (DK) PBB.
Penulis berpendapat jika dalam waktu tiga bulan Saddam
Hussein tidak dapat ditangkap, maka tentu rakyat AS akan ribut
minta tentara mereka ditarik dari Irak. Dan perdamaian di nege­
ri Abu Nawas itu harus ditegakkan melalui perundingan damai.
Dengan kata lain, perubahan berbagai sistem (termasuk sistem
politik dan pemerintahan) di Irak harus dilakukan tanpa melalui
paksaan. Kalau tidak, pemerintah apapun yang akan menggan­
tikan Saddam Hussein akan dianggap sebagai pemerintahan
boneka oleh rakyat Irak sendiri. Kenyataan inilah yang harus
dipahami oleh semua pihak, termasuk AS. Dengan demikian,
apa yang sejak berbulan-bulan ini diusulkan penulis, yaitu per­
damaian di Irak harus dikaitkan langsung dengan perdamaian
abadi antara Palestina dan Israel, semakin menjadi relevan.
eg
Sebagai bagian dari pembentukan etika global dan peme­
rintahan baik (good governance) itu, tentu diperlukan adanya
kampanye besar-besaran untuk membentuk pengertian yang
g 357 h
Islam, PERDAMAIAN DAN MASALAH INTERNASIONAL
mendalam atas kedua hal tersebut. Di sinilah terletak peranan pa­
ra agamawan dan moralis dunia, dengan didukung oleh lemba­
ga-lembaga internasional seperti UNESCO. Karena itu tindakan
sendiri-sendiri dalam pembentukan pendapat dunia, mengenai
etika global dan pemerintahan baik itu, tidak dapat dibenarkan
karena diragukan keberhasilannya. Harus ada dialog terus-me­
nerus antara berbagai kalangan bangsa, terutama antara para
teoritisi dan para penerap nilai-nilai di lapangan. Di sinilah te­
rasa betapa pentingnya arti dialog seperti yang telah diseleng­
garakan oleh UNESCO di Paris itu. Minimal, bagi berbagai pihak
di luar lingkup negara, dapat melakukan pembicaraan mengenai
nilai-nilai global yang ingin kita tegakkan dalam pergaulan inter­
nasional. Dengan pertemuan antar berbagai agama tadi, masing-
masing pihak akan saling belajar dan menimba sumber-sumber
spiritual, dalam membentuk pandangan hidup di masa depan.
Kesadaran seperti ini, mulai muncul akibat merajalelanya
sinisme yang dibawa oleh “pertimbangan-pertimbangan politik
global” (global political considerations) dan akhirnya menjadi
satu-satunya alat pertimbangan. Pertimbangan itu —dalam ke­
rangka kajian strategis disebut sebagai “geopolitical considera­
tions”—, hanya melahirkan kepentingan antara negara-negara
adi-kuasa (super-powers) saja, akibatnya tentu akan melumpuh­
kan negara-negara yang bukan adi-kuasa. Apalagi setelah Uni-
Soviet berantakan, maka hanya tinggal sebuah negara adi-kuasa
yang memaksakan kehendak dan menginjak-injak hukum inter­
nasional untuk kepentingannya sendiri. Contohnya adalah pe­
nyerbuan AS atas Irak, dengan mengesampingkan peranan PBB
melalui Dewan Keamanan.
Di masa depan, tentu saja hal ini akan membawakan reaksi
berupa sederet tuntutan dari negara-negara berkembang akan
sebuah tatanan yang lebih berimbang secara internasional, an­
tara negara industri maju (developed countries) dengan negara
berkembang (developing countries). Dalam penyusunan tatanan
baru seperti itu, tentu saja etika global dan pemerintahan yang
baik harus memperoleh perhatian khusus, baik untuk acuan ke­
rangka baru yang hendak didirikan maupun untuk mengendali­
kan perubahan perubahan yang bakal terjadi.
Karena itu dialog terus-menerus akan kedua hal itu harus
dilakukan, termasuk pertukaran pikiran mengenai peranan spiri­
tualitas manusia. Dialog antara para pemeluk berbagai agama,
g 358 h
Kita dan Perdamaian
seperti yang diselenggarakan di Paris tersebut, tentulah sangat
menarik bagi kita. Pemaparan pengalaman pribadi dan pikiran
dari para pemimpin agama, seperti Dharma Master Hsin Tao
dari Taiwan, tentu saja harus menjadi bagian integral dari dialog
semacam itu. h
g 359 h
Perdamaian Belum Terwujud
di Timur Tengah
ada akhir Februari hingga awal Maret 2003 ini, penulis
berada di Washington DC, Amerika Serikat (AS), guna
P
menghadiri sebuah konferensi perdamaian untuk kawasan
Timur Tengah. Undangan sebagai peserta konferensi, diberikan
oleh IIFWP (Interreligious and International Federation for
World Peace, Federasi Internasional Antar Agama untuk Per­
damaian Dunia), yang berkedudukan di New York. Mengapakah
penulis jauh-jauh mengikuti konferensi tersebut, padahal ham­
pir setiap hari demonstrasi-demonstrasi di tanah air, menuntut
turun/lengsernya pasangan Megawati-Hamzah Haz? Penulis me­
mutuskan pergi ke negara Paman Sam itu, karena dua alasan.
Pertama, karena perkembangan dalam negeri baru mencapai
titik kulminasi setelah minggu kedua bulan Maret 2003. Kedua,
karena persiapan-persiapan perang yang dilakukan oleh AS dan
Inggris sudah berjalan sangat jauh, -saat tulisan ini dibuat- peng­
iriman 198.000 pasukan AS dan 40.000 tentara Inggris ke kawa­
san tersebut, berarti pencegahan perang lebih terasa urgensinya
di kawasan Timur Tengah saat ini.
Tentu ada orang yang berpendapat, sikap gila dalam pen­
dirian penulis, karena menilai saat ini justru saat yang paling
baik untuk memulai sebuah inisiatif baru guna mencari titik
perdamaian abadi bagi kawasan Timur Tengah. Bukankah per­
siapan negara adi kuasa AS dan sekutunya Inggris Raya, meru­
pakan petunjuk tak terbantahkan akan adanya perang yang
g 360 h
Perdamian Belum Terwujud Di Timur Tengah
sudah berjalan sangat jauh, hingga tidak dapat dihentikan? Bu­
kankah pertimbangan-pertimbangan geopolitik telah memaksa
AS dan para sekutunya untuk menggunakan perang sebagai “alat
pemaksa” atas Irak? Jawabannya, adalah bahwa dapat dibenar­
kan ucapan ahli strategi perang Jerman Von Clausewitz, bahwa
“perang adalah kelanjutan dari diplomasi/perundingan yang ga­
gal”. Dalam pandangan penulis, sikap negara-negara besar seper­
ti Jerman, Perancis, Rusia dan Tiongkok menunjukan, bahwa
upaya-upaya diplomatik tetap memiliki relevansi yang besar,
dalam mencari solusi damai atas masalah Timur Tengah. Kare­
nanya, dari sekarang sampai dengan terjadinya secara aktual
pemboman atas Irak, dapat dikatakan peluang bagi perdamaian
di kawasan itu tetap terbuka.
Kitapun sudah terbiasa menghadapi kenyataan, bahwa
penyelesaian sebuah konflik didapati hanya pada akhir sebuah
proses yang panjang, dihadapan persiapan-persiapan “penuh
kekerasan”, yang dalam bahasa asing disebut “merebut keme­
nangan dari gigitan musuh di saat-saat terakhir” (to grab peace
from the jaw of war). Namun, hal itu tidak akan tercapai, apabi­
la dua buah tindakan tidak diambil pada waktu yang bersamaan.
Pertama, adanya sebuah forum yang untuk kesekalian kalinya
membicarakan dan kemudian menetapkan upaya terakhir yang
harus dijalankan untuk menyelesaikan konflik secara damai.
Kedua, begitu keputusan diambil, harus segera ditunjuk orang
yang melaksanakannya, dalam waktu yang begitu sempit.
Dengan dua persyaratan itulah, baru ada harganya untuk
“menggunakan kesempatan dalam kesempitan”. Kesempatan
menegakkan perdamaian abadi di kawasan tersebut, dan meng­
gunakan kesempitan menghadapi kenyataan pahit di kawasan
tersebut.
eg
Penulis mengajukan dalam pidato pembukaan di konferen­
si itu, bahwa perdamaian abadi di Timur Tengah hanya dapat
dicapai, kalau penyelesaian damai atas konflik Israel-Palestina
dikaitkan dengan perdamaian di Irak. Perdamaian antara Israel-
Palestina dapat dicapai dengan dihentikannya persiapan-persiap­
an untuk melakukan pemboman dan pengiriman pasu­an-pasu­
kan ke negara Abu Nawas itu. Dengan demikian, penyelesaian
g 361 h
Islam, PERDAMAIAN DAN MASALAH INTERNASIONAL
konflik Israel-Palestina akan membawa perdamaian di Timur
Tengah secara keseluruhan. Demikian pula, upaya perdamaian
dapat dilakukan dengan dihentikannya pemboman atas Irak.
Jika ternyata hal itu tidak membawa hasil, maka ucapan
Von Clausewitz di atas harus diteruskan dengan ungkapan “pe­
rundingan/negosiasi adalah kelanjutan dari peperangan yang
gagal”. “Kegagalan peperangan” atas Irak akan terjadi, jika Pre­
siden AS, George Bush Jr. gagal menangkap Saddam dalam wak­
tu yang cepat. Mengapa? Karena rakyat AS tidak akan bersedia
membiayai peperangan untuk jangka waktu yang lama, walau­
pun negara tersebut telah mencapai kekayaan berlimpah-limpah
dan memiliki persenjataan yang sangat canggih yang juga mem­
butuhkan biaya yang sangat besar untuk digunakan. Dikombi­
nasikan dengan demonstrasi di mana-mana termasuk di AS dan
Inggris, untuk tidak menyelesaikan konflik tersebut dengan ke­
kerasan, maka dapatlah diperhitungkan peperangan akan ter­
henti dengan sendirinya.
Kalau Saddam Hussein tidak juga segera tertangkap oleh
musuh-musuh politiknya, maka untuk menolong “muka” AS-
Inggris dan Israel, —upaya ini dilakukan agar tidak membuat
peperangan berjalan lama— diperlukan langkah-langkah untuk
mencapai dua pemecahan (solusi). Caranya adalah dengan men­
capai kesepakatan antara ke empat pihak (AS, Inggris, Israel dan
Irak), yang berlanjut dengan penghentian tindak-tindak mili­
ter di kawasan Israel-Palestina dan Irak. Digabungkan dengan
melakukan hal-hal berikut. Pertama, dengan memperkuat nega­
ra Palestina merdeka, melalui pemberian bantuan keuangan
berupa kredit murah berjangka panjang bagi negara itu, katakan­
lah sebesar 1 miliar dolar AS. Karena dengan bantuan seperti itu,
kebangkitan industri dan perdagangan Palestina akan terjadi
sangat cepat, apabila para pemimpin Palestina mampu mencip­
takan pemerintahan yang bersih di masa depan. Kedua, untuk
menghindari perang, —ini paling pahit dan sulit dilaksanakan—
mengusahakan agar Saddam Hussein lengser dari jabatan ke­
presidenan secara sukarela, untuk memungkinkan tercapainya
negara Palestina yang kuat secara industrial/komersial dalam
waktu cepat.
eg
g 362 h
Perdamian Belum Terwujud Di Timur Tengah
Untuk memungkinkan tercapainya hal tersebut di atas,
yaitu “menolong posisi” Israel dan Amerika Serikat-Inggris da­
lam percaturan politik internasional, maka diperlukan seorang
penengah yang bersedia mondar-mandir ke AS, Inggris, Israel,
Palestina, Libya, Irak dan negara-negara lain di Timur Tengah.
Dengan demikian, sikap untuk menentang atau mendukung po­
sisi Israel dan Amerika Serikat-Inggris dalam kedua hal tersebut,
harus dibaca sebagai sikap permulaan (initial attitudes), yang
dapat saja berubah karena perkembangan keadaan. Sedangkan
peranan “negotiator” (juru runding) itu, kalau tidak dilakukan
oleh seseorang secara pribadi (seperti disebutkan di atas), dapat
saja dilakukan oleh sekelompok orang (institusi/group). Hal itu
telah dilakukan dalam kasus Aceh oleh Henry Dunant Center,
sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) internasional yang
berkedudukan di Geneva.
Agar tercapai perdamaian abadi di kawasan itu, kesungguh­
an sikap negara-negara yang terlibat, maupun kegigihan sang
negosiator sangatlah diperlukan. Karenanya, negosiator tersebut
haruslah memperoleh dukungan kuat dari siapapun, dalam ben­
tuk bantuan logistik maupun kemudahan-kemudahan yang lain.
Kalau tugas itu dibebankan pada seseorang, haruslah dipastikan
orang tersebut memiliki stamina yang sangat prima, dibantu oleh
dua orang asisten yang bekerja terus-menerus selama beberapa
bulan. Tentu saja, peranan seperti itu akan sangat menarik hati
siapapun, hingga banyak yang ingin melakukannya. Tetapi, tentu
saja tidak setiap orang (termasuk para diplomat dan para negara­
wan) mampu untuk melaksanakannya. Ada sebuah persyaratan
lain yang sangat penting dalam hal ini; negosiator itu haruslah
dipercaya oleh semua pihak yang terlibat, yang juga membawa
“kelayakan” bagi seorang muslim untuk tugas tersebut.
Itulah sebabnya, mengapa penulis bergairah untuk datang
ke Washington DC. Pertama, untuk mengemukakan pendapat­
nya, bahwa sampai titik terakhir sekalipun, harus diupayakan pe­
nyelesaiaan damai (peaceful settlement) yang bersifat permanen
untuk kawasan Timur Tengah. Kedua, untuk bertemu dan me­
nyampaikan beberapa hasil pemikiran pada negosiator yang di­
pilih atau ditunjuk oleh konferensi di ibu kota negara tersebut.
Konferensi yang diselenggarakan di sebuah hotel di Washington,
yang dari dalam ruangannya masih dapat terlihat bekas-bekas se­
rangan ke gedung Pentagon pada tragedi 11 September 2001 itu,
g 363 h
Islam, PERDAMAIAN DAN MASALAH INTERNASIONAL
diharapkan menjadi forum dengan kewibawaan sangat tinggi
(prestigious body) dalam lingkup politik dunia. Di samping itu,
penulis juga dapat memenuhi undangan berceramah pada Uni­
versitas Michigan di Ann Arbor dan disamping check up medis di
Boston General Hospital. Perjalanan menarik walaupun sangat
melelahkan. h
g 364 h
Dicari Perdamaian,
Perang yang Didapat
eperangan di Irak telah terjadi, dengan dilemparnya ratu­
san buah peluru kendali dari sejumlah alat perang Amerika
P
Serikat (AS) dan sekutunya. Bagi sementara orang, perang
itu disebut sebagai penyerbuan (invasi), karena kekuatan mili­
ter yang sangat tidak berimbang antara kedua belah pihak. Pada
waktu penulis berada di Ann Arbor, di kalangan kampus Uni­
versitas Michigan, seorang hadirin bertanya; —mengenai terjadi­
nya penyerbuan AS ke Irak, namun seorang peserta lain segera
melakukan koreksi; —bukan penyerbuan AS, melainkan penyer­
buan George W. Bush Junior. Ini menunjukkan bahwa penen­
tangan terhadap perang itu berjumlah sangat besar, termasuk
oleh pemerintah kita. Bahkan tiga negara anggota tetap Dewan
Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) -yakni,
Perancis, Rusia, dan RRT menentangnya. Artinya Bush melaku­
kan penyerbuan dengan tidak ada izin dari DK-PBB, yang mem­
bawa krisisnya sendiri —minimal krisis kredibilitas bagi PBB.
Bush selalu menyatakan keinginannya untuk menghilang­
kan “semangat kejahatan” (evil spirit), dengan jalan menurunkan
Saddam Hussein dari kursi kepresidenan Irak. Dengan demiki­
an, ia berusaha menegakkan pemerintahan demokratis yang
kuat di Irak. Tetapi banyak orang meragukan niatan Bush itu,
karena terlihat pertimbangan-pertimbangan geopolitik juga ada
dalam memutuskan penyerangan atas Irak itu. Karena tampak­
nya Saudi Arabia —yang merupakan penghasil minyak terbesar
di dunia— dalam kasus Israel-Palestina, telah meninggalkan ke­
g 365 h
Islam, PERDAMAIAN DAN MASALAH INTERNASIONAL
bijakan politik luar negeri AS. Dengan demikian, peranan negeri
itu haruslah diimbangi dengan negeri penghasil minyak terbesar
kedua di dunia, yaitu Irak. Karena Irak masih diperintah oleh
Saddam Hussein, dengan sendirinya iapun harus diganti dengan
orang lain, yang lebih “terbuka” bagi tekanan-tekanan politik
luar negeri AS, berarti Irak harus diserang. Ada pula orang yang
menganggap faktor psikologis tidak boleh dilupakan dalam hal
ini, yaitu Presiden Bush muda (Junior) harus memenangkan pe­
rang terhadap Saddam Hussein, yang telah menggagalkan “keme­
nangan” Presiden Bush tua (Senior). Benar-tidaknya semua argu­
mentasi tadi, cukup beralasan untuk diajukan dalam perdebatan
pendapat tentang penyerbuan ke Irak itu. Kalau memang benar
adanya, maka AS dan sekutunya harus mengakhiri perang.
Jelas, Irak harus menemukan jalannya sendiri kepada ke­
majuan dalam pembangunan ekonomi, maupun dalam menemu­
kan identitas sendiri, seperti diharapkan oleh banyak kalangan.
Sebagaimana halnya dengan Chun Doo-Hwan1 di Korea Selatan,
yang pada akhirnya menjadi biarawan Budha, dan dengan demi­
kian tidak dituntut oleh pengadilan di sana, sebagai bagian pen­
ting dari rekonsiliasi nasional ala Korea, maka tentu Irak pun
akan menemukan caranya sendiri akan rekonsiliasi nasional
tanpa campur tangan AS.
eg
Gempuran militer atas Irak itu tentu saja menimbulkan
reaksi keras cukup besar di seluruh dunia. Sebuah negara adi-
kuasa telah memaksakan kehendak kepada dunia, melalui penaf­
sirannya sendiri atas perkembangan yang terjadi di dunia ini,
dengan alasan-alasannya sendiri yang berbeda dari pendapat
resmi DK-PBB, jelas telah membuka lembaran buruk dalam tata
hubungan internasional.
Banyak juga orang memuji keberanian
“moral” Bush
1 Penguasa rezim militer Korea Selatan 1980-1988 ini divonis mati oleh
pengadilan kriminal Korsel pada 26 Agustus 1996. Chun terbukti melakukan
korupsi dan menerima suap ratusan juta dollar AS, menjadi dalang kudeta mi­
liter tahun 1979 dan tokoh utama dalam pembantaian para demonstran pro­
demokrasi di Kwangju bulan Mei 1980. Namun setelah dua tahun mendekam
di penjara, presiden berkuasa Kim Young Sam (1993-1998) dan penggantinya
Kim Dae Yung (1998-2003), memberikan amnesti kepadanya.
g 366 h
Dicari Perdamaian Perang Yang Didapat
dalam hal ini. Tetapi, ada juga yang menyatakan, hancurnya
kredibilitas PBB dan tata hukum internasional yang obyektif.
Dampaknya, memungkinkan sebuah negara di Afrika untuk me­
nyerbu tetangganya dengan alasan yang dicari-cari. Jika ini yang
terjadi, dapatkah AS mengerahkan kekuatan militer di seluruh
dunia pada saat bersamaan? Inilah yang mengkhawatirkan para
pengamat itu: hubungan internasional atas dasar penafsiran se­
pihak, tanpa ada pembenaran formal dari DK-PBB, tidak dapat
menjamin menetapnya perdamaian dan ketentraman dunia.
Di hari-hari pertama penyerangan atas Irak tersebut, ten­
tu sajian televisi CNN selalu menggambarkan tentang keperka­
saan AS.2 Setelah dua hari “membatasi diri” dalam penyerangan
tersebut, di hari ketiga kekuatan militer AS yang demikian dah­
syat digelar dengan kekuatan penuh. Sebagian Irak selatan telah
“dibebaskan” dari Saddam Hussein. Pasukan-pasukan kavaleri
AS dari kawasan Kuwait menerobos dengan mudah wilayah Irak
selatan, dan dalam hal ini kecepatan yang luar biasa dari pasu­
kan-pasukan kavaleri AS dan para marinir Inggris sangat menga­
gumkan. Dalam waktu sebentar saja, tanpa perlawanan berarti,
pasukan-pasukan Irak dengan mudah begitu saja menyerah
tanpa syarat. Karena itulah, dapat saja segera diajukan klaim
“kemenangan” AS dan sekutu-sekutunya ditambah dengan pa­
sukan-pasukan AS yang tergabung dalam bala tentara Kurdi di
sebelah utara Irak, jelas bahwa Baghdad dijepit dari utara dan
selatan. Dengan demikian, kejatuhan Baghdad tinggal menung­
gu waktu saja.
Benarkah sikap menganggap AS telah memenangkan per­
tempuran-pertempuran tersebut? Penulis justru menganggap­
nya sebagai permulaaan dari sebuah proses yang sangat panjang,
jika AS tidak dapat menangkap Saddam Hussein dalam waktu
beberapa bulan yang akan datang ini, maka sikap rakyat Irak
akan berubah dengan cepat. Sikap yang selama ini diperlihat­
kan, paling tidak akan berubah menjadi sikap menolak secara
2 Sebuah riset yang dilakukan selama tiga minggu antara bulan Mei-
Juni 2003 terhadap acara berita malam utama di enam stasiun televisi Amerika
Serikat yaitu ABC, CBS, NBC, CNN, FOX, PBS menunjukkan: 64% waktu tayang
tersebut menghadirkan narasumber dari kelompok pendukung perang. Hanya
10% bagi kelompok antiperang. Bahkan, khusus FOX News, 81% diberikan un­
tuk narasumber pendukung perang (Lihat: Amy Goodman & David Goodman,
Perang Demi Uang, 2004).
g 367 h
Islam, PERDAMAIAN DAN MASALAH INTERNASIONAL
psikologis serangan demi serangan AS itu. Sikap seperti ini, jelas
didukung oleh mayoritas bangsa-bangsa dan negara-negara di
dunia. Jelas yang harus diperbuat oleh Saddam Hussein adalah
menghindari penangkapan atas dirinya. Selebihnya, akan “dise­
lesaikan dengan cara damai dan dengan perundingan”. Jika Von
Clausewitz menyatakan, perang adalah penerusan perundingan
yang gagal, maka dapat kita katakan, perundingan damai adalah
penerusan dari peperangan yang tidak mencapai maksudnya.
eg
Inilah kemungkinan buruk yang tidak diperhitungkan jauh
sebelumnya oleh Bush, yang hanya mengandalkan kemarahan
kepada Saddam Hussein saja. Sikap seperti ini memang dapat
saja membawa hasil cepat yang menguntungkan, tetapi dapat
juga berakibat sebaliknya. Penulis memandang rakyat AS tidak
akan mau berperang lama-lama melawan siapapun. Karenanya,
sangat ris­kan melakukan penyerbuan besar-besaran atas negeri
lain dalam tatanan dunia sekarang ini. Di sinilah letak arti pent­
ing dari peranan sebuah lembaga internasional —seperti PBB—.
Paling tidak, persetujuan PBB merupakan pembenaran formal
atas apapun yang dilakukan oleh seluruh negara atas negara
yang lain. Jika kenyataan ini diabaikan, tidaklah menjadi soal
jika sukses yang diperoleh, tapi jika sebaliknya, akan runtuhlah
kewibawaan AS di mata negara-negara lain yang kecil.
Jika AS gagal menangkap Saddam Hussein, dan terpaksa
berperang untuk jangka panjang, maka segera tindakan itu ha­
rus dihentikan, karena tuntutan rakyat Amerika Serikat sendiri
yang tidak mau berperang lama-lama. Jika ini terjadi, maka mau
tidak mau harus dicari formula persetujuan damai atas Irak.
Banyak masalah terkait dengan hal itu, tetapi jelas perundingan
merupakan penyelesaian terbaik. Dalam hal ini, penulis memin­
ta agar supaya penyelesaian damai di Irak, dikaitkan langsung
dengan upaya perdamaian antara Israel dan Palestina. Dengan
demikian, baik Israel maupun seluruh bangsa-bangsa Arab akan
berkepentingan untuk menjaga perdamaian tersebut. Ini adalah
persyaratan sangat penting, karena hanya dengan cara demiki­
anlah sebuah perdamaian abadi dapat ditegakkan di kawasan
Timur-Tengah. Di sinilah terletak kaitan vital antara penyelesai­
an sengketa Irak di satu pihak dan sengketa Israel-Palestina di
g 368 h
Dicari Perdamaian Perang Yang Didapat
pihak lain.
Perdamaian abadi antara Israel dan Palestina, hanya dapat
dicapai manakala negara Palestina diperkuat dengan mengem­
bangkan industri dan perdagangannya. Hal itu hanya dapat di­
capai jika ada bantuan ekonomi besar-besaran, dalam bentuk
kredit murah bagi mereka. Katakanlah pinjaman lunak selama
dua puluh tahun, sebesar satu milyar dollar AS. Sedangkan jika
AS-Inggris tidak dapat menangkap Saddam Hussein, maka
pendapat umum dalam negeri maupun internasional akan me­
maksa penarikan mundur pasukan-pasukan mereka. Dalam hal
ini, dapat diminta Saddam Hussein mengundurkan diri untuk
kepentingan bangsa Arab secara keseluruhan, khususnya agar
memungkinkan pemberian kredit lunak dalam jumlah demiki­
an besar kepada negara Palestina. Ini karena keyakinan penu­
lis, bahwa Saddam Hussein sangat menghormati sebuah negara
Palestina yang merdeka, dan karena ia sendiri telah berhasil
menunjukkan keberhasilannya dalam memimpin Irak yang dise­
rang sebuah negara adi-kuasa, seperti AS. h
g 369 h
Kita dan Pemboman atas Irak
ada umumnya, kita mengikuti salah satu dari dua pandang­
an berikut. Pendapat pertama adalah, kita memandang ke­
P
mungkinan pemboman atas Irak oleh Amerika Serikat dan
sekutu-sekutunya sebagai sebuah bagian dari rencana jahat un­
tuk menyerang Irak dan mengganti presidennya, Saddam Hus­
sein. Dilanjutkan dengan pandangan bahwa rencana itu adalah
bagian dari Konspirasi Zionisme yang dipelopori Israel. Kita bo­
leh setuju atau tidak dengan pandangan ini, namun penulis me­
nolak teori komplotan/konspirasi seperti itu. Tetapi bagaimana
pun pendapat seperti itu ada dan diikuti banyak orang. Karena­
nya, pendapat seperti itu harus diakui keberadaannya dan untuk
itulah diciptakan sebuah disiplin ilmiah yang bernama studi ka­
wasan, yang berjalan seiring dengan teori-teori geopolitik dalam
kajian internasional yang berkembang saat ini.
Sebaliknya, ada pihak lain yang memandang Irak di bawah
pimpinan Presiden Sadam Hussein sebagai biang kerok tindak­
an-tindakan teror internasional, karena itu diperlukan pembom­
an ke Irak, untuk menggulingkan presiden tersebut dari jabatan­
nya. Pemboman itu harus dilakukan secara masif, walaupun
memakan korban sangat banyak dari penduduk Irak, belum lagi
rusaknya kota-kota besar di Irak sebagai akibatnya, yang kes­
emuanya tidak dapat dinilai kerugiannya. Tindakan itu, dalam
pandangan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya haruslah di­
lakukan dengan tujuan untuk membersihkan dunia dari teroris­
me. Kalau ini tidak dilakukan, terorisme internasional akan ber­
lanjut, dan kehidupan di negara-negara tersebut akan sangat
terganggu. Karenanya walaupun menimbulkan banyak korban,
langkah itu harus tetap diambil untuk perdamaian dunia.
g 370 h
Kita dan Pemboman Atas Irak
Memang, kedua hal yang saling bertentangan itu terwujud
dalam kenyataan, dan kita tidak dapat menutup mata akan ke­
adaan ini. Berarti, kita harus mengambil sikap: membenarkan
atau menolak tindakan pemboman atas Irak itu. Memang, ini
pilihan yang sangat sulit, tetapi bagaimanapun juga pilihan ha­
rus dilakukan. Pandangan kita harus dirumuskan. Keengganan,
ketakutan ataupun emosi kita hanya akan memperpanjang soal
itu. Belum lagi akan munculnya sikap pihak-pihak lain terhadap
pendirian kita itu. Karenanya, sebaiknya kita bersikap yang jelas,
masing-masing dengan akibat-akibatnya sendiri.
eg
Sikap itu pun tidak seluruhnya dapat dikemukakan dengan
lugas apa adanya. Karena salah satu persyaratan hubungan inter­
nasional adalah, kemampuan untuk menyampaikan ‘bahasa’
yang dapat mengaitkan kepentingan bangsa atau kelompok yang
satu dengan yang lain. Kemampuan itu yang semakin canggih itu
untuk menutupi ambisi pribadi atau golongan yang ada. Dan sega­
la sesuatunya dirumuskan, supaya sesedikit mungkin membuat
orang yang berpandangan lain dengan kita menjadi jengkel atau
marah. Kita menyaksikan beberapa istilah-istilah yang berubah
arti atau bentuk. Ini adalah konsekuensi logis dari tatanan geo­
politik yang ada. Penguasaan pendapat umum di sebuah negara,
yang ditentukan oleh faktor-faktor yang serba geopolitis, akibat­
nya penggunaan istilah semakin menyimpang jauh dari apa yang
dimaksudkan semula.
Salah satu contoh yang dapat dikemukakan di sini adalah
kata “globalisasi” (penduniaan). Dalam pengertian yang kita
gunakan sehari-hari, yang dimaksud globalisasi adalah sikap
memberikan arti terhadap dunia atau universal. Tetapi segera
terjadi perubahan arti dari kata tersebut, yaitu terjadi pemaksa­
an kehendak atas pemahaman orang banyak, seperti dikehen­
daki oleh kelompok-kelompok yang berjumlah kecil. Karenanya
bagi perusahaan-perusahaan raksasa, kata globalisasi tersebut
lalu berubah makna menjadi dominasi.
Selain itu pengertian dan pemahaman kelompok yang le­
bih besar atas kata “perdagangan bebas” (free trade) yaitu kebe­
basan berdagang. Namun menurut pengertian pihak yang kecil,
kata itu berarti sistem yang menguntungkan pihak yang mem­
g 371 h
Islam, PERDAMAIAN DAN MASALAH INTERNASIONAL
punyai modal besar. Kata “modern” berarti penggusuran hal-hal
yang tradisional oleh yang baru, yang dianggap lebih mengun­
tungkan. Dengan demikian, tersembunyilah arti lebih dalam dari
tradisional, oleh bentuk-bentuk baru yang dianggap modern.
Kata “tempe” umpamanya, dipakaikan untuk menentukan
kekurangan, kelemahan atau ketidakmampuan. Mengemukakan
suatu istilah “bangsa tempe”, umpamanya, dianggap kalah arti
dari bangsa yang kuat. Padahal kata tempe dalam pengunaan di
sini, seharusnya sesuai dengan hakikatnya sebagai sesuatu yang
memiliki gizi tinggi dan nilai berlebih. Jadi, penggunaan kata itu
mencerminkan pandangan salah di masa lampau, bahwa hanya
makanan yang menggunakan daging sajalah yang dianggap ber­
gizi.
Demikian pula kata “perdamaian” dalam pergaulan an­
tar-bangsa. Sekarang kata itu berarti, tidak adanya peperangan
atau penggunaan kekerasan oleh sesuatu pihak atas pihak yang
lain, namun dengan persyaratan dan pengertian dari pihak yang
menang. Kata “terorisme” dapat diartikan menurut kepentingan
geopolitik negara-negara adi kuasa, sehingga yang menentang
pengertian tersebut dianggap sebagai teroris. Berhasilkah upaya
Presiden George W Bush Jr. mengembalikan arti kata teroris,
pada pengertian semula, yaitu penggunaan kekerasan oleh pi­
hak-pihak yang tidak mau berunding? Kalau ini yang dimaksud­
kan oleh Presiden Amerika Serikat itu, lalu mengapakah harus
jatuh korban puluhan ribu jiwa orang-orang yang tidak bersalah,
akibat pemboman itu sendiri? Di sini, kita lihat terjadi perubah­
an arti kata “perdamaian” dan “terorisme”.
eg
Dengan demikian, menjadi jelaslah bagi kita bahwa tindak­
an pemboman secara masif atas Irak adalah sesuatu yang juga
diperdebatkan secara bahasa/epistemologi, dan tidak hanya ber­
dasarkan “rasa panggilan historis” seperti dirasakan pemerinta­­
an Amerika Serikat saat ini. Inilah akibat kalau penafsiran dise­
rahkan kepada sebuah negara adikuasa belaka. Lebih jauh lagi,
sinisme kekuasaan yang didasari pertimbangan-pertimbangan
geopolitik, lalu membuat kita menghadapi jurang pertentangan
dan peperangan dalam ukuran yang masif. Karenanya, marilah
kita berupaya menggunakan ukuran-ukuran moral dan etis
g 372 h
Kita dan Pemboman Atas Irak
dalam tata pergaulan internasional, walaupun banyak penguasa
lain memaksakan kehendak dengan menggunakan kekerasan.
Dan ini yang sebenarnya menjadi esensi ajaran Mahatma Gan­
dhi tentang ahimsa, dunia tanpa kekerasan. Islam juga menolak
penggunaan kekerasan semaunya saja oleh siapapun, dan ke­
kerasan hanya dapat dilakukan oleh kaum muslimin, jika mere­
ka diusir dari rumah-rumah kediaman mereka (idzâ ukhrijû min
diyârihim).
Di sinilah terletak signifikansi dari filsafat dan moralitas,
perdamaian dunia tidak selayaknya hanya dibatasi pengertian­
nya secara geopolitik belaka melainkan harus memasukan mora­
litas ke dalam dirinya. Dalam hal ini, moralitas harus ditentukan
oleh kerangka multilateral seperti PBB, bukan hanya oleh sebuah
negara adi kuasa belaka. Mungkin ini terdengar seperti lamunan
belaka, namun bukankah cita-cita besar sering berangkat dari
lamunan? h
g 373 h
Saddam Hussein dan Kita
alam sebuah wawancara televisi, penulis mengemuka­
kan bahwa banyak hal yang dilupakan Presiden Amerika
D
Serikat, George W Bush Junior, mengenai Presiden Sad­
dam Hussein dari Irak. Bush beberapa kali mengatakan, bahwa
tujuan Amerika Serikat melakukan penyerangan berulang kali,
untuk menangkap Saddam Hussein yang dianggapnya menjadi
penyebab terorisme bersimaharajalela di dunia saat ini. Jadi, ia
merasa berkewajiban menangkap Saddam Hussein untuk mene­
gakkan pemerintahan yang kuat dan demokratis di Irak. Untuk
tujuan itulah ia menyerang Irak secara besar-besaran. Bukan
hanya sekadar bom yang dijatuhkan seperti hujan, melainkan
juga dengan serangan seperempat juta orang bala tentara dari
utara dan selatan, ditambah 40.000 orang prajurit Inggris. Ini
berarti rangkaian serangan besar dalam ukuran perang sebenarnya.
Dilihat dari rencana semula, serangan itu seharusnya ber­
akhir dengan kemenangan mutlak dalam waktu paling akhir 3
hari. Tetapi ternyata, setelah 13 hari serangan —ketika tulisan ini
dibuat—, Saddam Hussein belum juga tertangkap. Sedang jum­
lah korban jiwa dan harta benda dalam satuan-satuan tempur
pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat maupun kerugian
material lainnya telah menimpa Amerika Serikat dan sekutunya
dalam jumlah sangat besar, termasuk di dalamnya tank-tank dan
senjata berat yang terkubur di gurun pasir.
g 374 h
Saddam Hussein dan Kita
Ini belum lagi termasuk sikap negara-negara Arab lainnya
(di luar Kuwait), yang justru cenderung bersikap netral dalam
sengketa tersebut. Di satu pihak, Bush Jr, tidak mengindahkan
keputusan Dewan Keamanan PBB, sehingga serangan yang dila­
kukannya seperti tidak memiliki legitimasi internasional, sedang
serangan atas Irak, merusak kehormatan nasional yang dimiliki
negara-negara Arab lainnya.
Di samping hal-hal di atas, serangan Amerika Serikat dan
sekutu-sekutunya itu juga dilihat sebagai serangan terhadap Is­
lam. Umat Islam di seluruh dunia menyesalkan hal itu, apapun
sebab, alasan dan argumentasi untuk mendukung sikap menolak
serangan itu. Megawati Soekarnoputri yang tidak mau mengutuk
serangan tersebut, dianggap oleh banyak kalangan gerakan Is­
lam di negeri kita, sebagai tidak membela Islam dari serangan
(invasi) atas sebuah bangsa muslim seperti Irak. Bahkan banyak
demonstrasi yang menuntut agar hubungan diplomatik RI-AS
diputuskan saja, sedang produk-produk AS di boikot oleh kaum
muslimin. Sebuah sikap konfrontatif yang sebenarnya jarang di­
perlihatkan oleh gerakan-gerakan Islam, di manapun ia berada.
Sebab utama dari reaksi seperti itu adalah inkonsistensi
pernyataan Presiden AS George W Bush Jr, tentang hakikat se­
rangan AS atas Irak. Awalnya ia mengemukakan serangan itu di­
lakukan guna mencegah malapetaka bagi dunia, karena Saddam
Hussein memiliki senjata pemusnah massal dalam jumlah besar
yang ditemukan. Ternyata belakangan diketahui, senjata-senjata
itu justru dahulu diberikan AS kepada Saddam Hussein untuk
menyerang Iran. Ini berarti AS ikut membuat senjata-senjata ter­
sebut di masa lampau, dan sekarang cuci tangan dari kesalahan
tersebut.
Dalam kesempatan lain, Bush mengatakan bahwa Saddam
adalah “tokoh jahat (evil figure)” yang harus dilenyapkan kare­
na melanggar hak-hak asasi manusia. Mengapa hanya Saddam
Hussein? Bukankah ada sebuah negeri di Timur Tengah yang se­
tiap tahun menembak mati para warga negaranya, hanya karena
mereka dianggap menjadi oposan politik bagi para penguasa
negeri? Kalau memang Bush benar-benar ingin membela demo­
krasi, tentunya ia harus mulai dengan Benua Amerika sendiri,
masih ada negara-negara otokrasi di benua tersebut, seperti Gua­
temala. Bahwa ini tidak diperbuat Bush Jr, sangat mengurangi
kredibilitas ungkapannya itu, hingga dapat dikatakan sebagai ar­
g 375 h
Islam, PERDAMAIAN DAN MASALAH INTERNASIONAL
gumentasi kosong. Pernyataan Bush Jr. tersebut tidak punya arti
apa-apa dan dengan demikian tidak meyakinkan siapapun.
Karena itulah terjadi demonstrasi besar-besaran di selu­
ruh dunia, apalagi di kalangan bangsa-bangsa muslim. Walau­
pun penulis sendiri dianggap sebagai “moderat”, namun penulis
tidak dapat menerima serbuan itu sebagai sebuah langkah yang
tepat. Baik secara militer maupun menurut diplomasi, langkah
itu adalah sebuah tindakan gegabah dari sebuah negara adi kua­
sa atas negara lain yang lemah.
Lebih-lebih lagi, Bush Jr sama sekali “melalaikan” perhi­
tungan tujuan perangnya, yaitu menangkap Presiden Irak, Sad­
dam Hussein. Maka jika dalam waktu tiga bulan Saddam Hussein
tidak tertangkap, haruslah dilakukan penyelesaian damai. Sangat
sulit untuk menangkap Saddam Hussein, karena hubungan yang
sangat baik dengan suku-suku Arab yang berpindah-pindah
tempat (nomaden) di Irak, Jordania, dan Syria. Mungkin Sad­
dam Hussein akan mengulangi tindakannya dalam pertengahan
abad lampau, ketika ia melarikan diri karena diancam hukuman
mati di Irak. Dengan hubungannya yang sangat baik itu, Sad­
dam dilindungi oleh suku-suku (qabilah) dari berbagai negara,
sehingga ia sanggup berjalan kaki dan naik unta sejauh lebih dari
2.000 km untuk mencapai Mesir di bawah pahlawan Gamal Ab­
dul Nasser.
Karena itulah, penulis mengatakan dalam wawancara de­
ngan TV7, bahwa jangan-jangan diktum Von Clausewitz1: “pe­
rang adalah penerusan perundingan damai yang gagal” harus
dilaksanakan secara terbalik dalam kasus Irak. Yaitu, perunding­
an damai adalah kelanjutan dari perang yang tidak mencapai
tujuannya. Ini akan terjadi kalau dalam tiga bulan pasukan-pa­
sukan AS-Inggris tidak berhasil menangkap Saddam Hussein.
Karena rakyat AS tentu menuntut melalui demonstrasi besar-
besaran agar pasukan AS ditarik dari Irak. Perundingan terse­
but diperlukan untuk “menolong muka” AS. Hal ini juga penulis
sampaikan kepada Duta Besar Australia di sebuah tempat lima
hari setelah itu, di depan para stafnya.
Menjadi jelas dari uraian di atas, bahwa pengenalan men­
dalam atas sebuah kawasan sangat diperlukan jika ingin diam­
1 Carl Von Clausewitz adalah salah seorang ahli strategi perang dari
Prussia yang terkenal dan terkemuka di dunia.
g 376 h