BOM SYAHID

Dalam Perspektif Islam

 

Agresi tentara imperalis Israel terhadap warga Palestina, dan invasi tentara koalisi yang dipromotori oleh Monster bin Drakula Amerika Serikat (meminjam istilah Imam Samudra J) terhadap warga Irak, sebagai tindak lanjut tuduhan kepemilikan bom pembunuh massal, dirasa semakin menyesakkan dan menyayat hati umat Muslim sedunia. Tragedi kemanusiaan atau massaker (pembunuhan besar-besaran) terjadi nyaris di setiap sudut pemukiman Muslim. Kendati seruan jihad dan intifada telah didengungkan oleh pemuka agama Palestina dan Irak, tapi kekuatan mereka jauh lebih kecil dibanding kekuatan tentara zionis dan koalisi salibis. Melihat tantangan tersebut, muncullah strategi perang bernyali, yaitu bom syahid dengan cara menyusup ke kamp-kamp tentara zionis dan koalisi salibis. Dengan strategi ini diharapkan akan mengimbangi kekalahan di berbagai front dan menciptakan demoralisasi kekuatan lawan, meskipun harus dibayar dengan nyawa. Namun, kematian inilah yang justru diharapkan para pejuang tersebut. Mereka meyakini aksi bom syahid merupakan kematian terhormat (syahid) daripada menyerah dan berlutut di hadapan para aggressor. Populerlah slogan Isy Kriman aw Mut Syhidan (hiduplah dengan mulia atau matilah secara syahid).

Bagi orang awam, bom syahid mungkin merupakan suatu hal yang gila, yang hanya akan dilakukan brandal-brandal jalanan frustasi. Lepas dari opini tersebut, perlu kiranya kajian kritis terhadap aksi bom syahid. Kajian ini menggunakan metode pendekatan historis peperangan Islam, telaah interpretasi surat al-Baqarah ayat 195, aplikasi metodologi-ushul fiqh, serta kaidah fiqh sebagai hipotesis jawaban.

 

 

Sejarah Peperangan Serdadu Muslim dan Kajian Qurani

Yazd bin Ab Habb pernah meriwayatkan dari Aslam bin Imrn tentang sebuah kisah peperangan pasukan Muslim dengan tentara Romawi. Pada saat itu brigade Muslim berada di daerah Konstantinopel (Istanbul, Turki).1 Di antara brigade Muslim tersebut terdapat Abd al-Rahmn bin Wlid. Ketika pasukan Romawi dengan agresif merasuk perbatasan kota Romawi, secara spontan pasukan Muslim merapatkan barisasn untuk membendungnya. Namun sebelum perang terbuka pecah, tiba-tiba ada seorang laki-laki pasukan Muslim yang nekat berlari menembus batalyon kafir Romawi (in-ghimas, aksi jibaku). Melihat adegan tersebut, beberapa pasukan Muslim berteriak histeris sambil berkata; dia telah mati sia-sia karena bunuh diri. Sementara bunuh diri dilarang dalam al-Quran;

Dan belanjakanlah (harta bendamu) dijalan Allh, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. (QS. al-Baqarah: 195).

 

Penilaian mereka kemudian disangkal Ab Ayyb, karena mereka salah dalam memposisikan dan menginterpretasikan ayat tersebut. Kepada mereka beliau menjelaskan, bahwa sebenarnya ayat itu diturunkan untuk orang-orang kaya yang tidak mau meng-infaq-kan hartanya di jalan Allh, dan tidak mau ikut berperang (qidn) karena sibuk dengan urusan duniawi. Sehingga maksud ayat tersebut adalah belanjakanlah harta bendamu di jalan Allhuntuk mempersenjatai orang-orang miskin yang hendak berperangdan janganlah kamu meninggalkan perang, karena dua hal itu akan menyebabkan jumlah pasukan Muslim berkurang, lalu jika suatu saat pasukan Muslim kalah, maka akhirnya kamu pun akan terbunuh. Interpretasi-hermeneutis melalui rekonstruksi historis yang dilakukan Ab Ayyb ini senada dengan interpretasi Ibn al-Abbs.

Menurut Imam al-Bar bin Ajb; kebinasaan diartikan dengan putus asa dalam mengharapkan ampunan dari Allah, sebab konteks historis yang melatari turunnya ayat ini adalah merespon seseorang yang merasa dirinya sebagai pendosa, lalu ia menganggap tidak ada gunanya bertaubat, akhirnya ia justru semakin larut dalam perbuatan maksiat.

Menurut Zayd bin Aslm; interpretasi ayat di atas ialah janganlah kamu sekalian pergi berjihad tanpa bekal, karena itu sama saja dengan bunuh diri.

Beberapa penafsiran para mufassir di atas semakin memperjelas, bahwa surat al-Baqarah ayat 195 tidak dapat dibuat dasar larangan tindakan bom syahid. Interpretasi-hermeneutis Ab Ayyub di atas juga Ab Abdillh al-Qurthubi. Al-Qurthubi mengatakan, terdapat dalil transferensial tentang kisah seorang lelaki yang bertanya pada Nabi saw Lelaki itu berkata wahai Nabi, apa pendapatmu jika aku mati di medan perang dengan sabar dan ikhlas? Nabi menjawab; kamu akan masuk surga. Lalu lelaki tersebut akhirnya dengan heroik maju ke medan perang seorang diri sampai dia terbunuh. Nah, jika tindakan tersebut dilarang atas dasar-pijak tendensi surat al-Baqarah ayat: 195, maka pastilah Nabi akan melarangnya. Disebabkan Nabi tidak melarangnya dengan ayat tersebut, maka menjadi mudah dipahami bahwa ayat tersebut tidak dapat digunakan sebagai tendensi larangan bom syahid.

Dalam kitab Jmi al-Ahkm al-Quran, terdapat penjelasan hukum atas tindakan seorang diri yang dengan nekat menembus barisan perang musuh, meskipun masih menyisakan pro-kontra di kalangan ulama.

Versi pertama, pendapat Qsim bin Mukhaymarah dan Qsim bin Muhammad. Mereka menyatakan boleh apabila aktor (pelaku) mempunyai kemampuan dan dengan niat yang tulus karena Allh. Jika tidak demikian, maka hukumnya haram.

Versi kedua, menurut sebagian pendapat yang lemah (ql); hukumnya boleh jika tujuanya tulus demi istisyhd (agar mati syahid), karena seolah-olah yang menjadi sasaran agresinya hanyalah salah satu dari sekian banyak serdadu musuh, sehingga perlawananya terhadap musuh dinilai sebanding.

Versi ketiga, pendapat Ibn Khuwayz Mandat. Tindakan heroik seperti di atas boleh dilakukan apabila sang aktor yakin akan keselamatan dirinya sendiri, bisa membunuh musuh sebagai target utama, dan membawa dampak positif bagi pasukan Muslim atau setidak-tidaknya bisa menurunkan mental lawan.

Versi keempat, Muhammad bin Husayn; boleh apabila aktor yakin akan selamat dan operasi bom syahidnya dapat mengobarkan semangat juang serdadu Muslim, dan juga meruntuhkan mental lawan sebab takjub menyaksikan keberanian pasukan Muslim dalam membela agama Allh. Husayn juga menyatakan: bagi yang terbunuh dalam peperangan ini kelak dia mendapat derajat mulia di sisi Allh, seperti yang telah dijanjikan dalam firman-Nya;

Sesungguhnya Allh telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allh, lalu membunuh dan terbunuh. (QS. al-Taubah: 111).

 

Lanjutnya lagi, jika pelaku tidak memenuhi kriteria di atas, maka hukumnya makruh.2

Berbeda dengan Imam al-Ghazali,3 beliau mengklaim tidak ada kontradiksi di kalangan ulama mengenai pembenaran aksi berjibaku meskipun pelaku yakin akan mati, dengan catatan aksinya berdampak positif terhadap Muslimin dan pelakunya tergolong orang yang mampu,baik secara fisik maupun materi. Beliau menambahkan memang terkadang tindakan ini dianggap menentang larangan surat al-Baqarah ayat 195, padahal tidak demikian, karena konteks ayat tersebut menurut Ibn Abbas adalah dalam masalah meninggalkan infaq, atau dalam konteks pendosa yang putus asa akan ampunan Allah, menurut al-Bara bin Âzib. Namun meskipun demikian, jika tindakan tersebut dilakukan oleh orang yang tidak mampu misalnya seperti orang buta, maka hukumnya haram dan masuk dalam cakupan universalitas teks surat al-Baqarah ayat: 195.

Sekilas, komentar Imam al-Ghazali tersebut mengindikasikan bahwa beliau lebih memilih untuk mengambil jalan tengah dalam memposisikan peran ayat tersebut, yakni dengan memahami secara kontekstual sekaligus tekstual dalam situasi maupun kasus tertentu. Terbukti, disamping memperhatikan spesialitas konteks yang melatari turunnya ayat (khusus al-sabab), beliau juga memahami nash tersebut secara tekstual-literal. Akan tetapi, pemahaman beliau yang secara tekstual-literal itu hanya berlaku pada kasus tertentu seperti dalam penyikapan tindakan berjibaku oleh orang yang tidak mampu. Menurut al-Ghazali, berdasarkan pemahaman terhadap surat al-Baqarah ayat: 195, secara tekstual, tindakan tersebut hukumnya haram karena termasuk kategori bunuh diri.4

 

 

Bom Dalam Al-Quran Dan Hadts

Secara eksplisit, komentar para ulama di muka hanya berkisar seputar permasalahan berjibaku, namun bukan berarti redaksi-redaksi tersebut tidak dapat digunakan menjawab kasus bom syahid. Karena pada dasarnya, dalam perang hanya ada dua pilihan antara membunuh atau terbunuh. Strategi perang dan senjata yang digunakan tidak terbatas pada panah, tombak, pedang ataupun bom, sebab semua itu hanya masalah teknis yang bersifat situasional dan kondisional.

Dalam kaitannya dengan masalah teknis ini, kami tertarik dengan analogi Imam Samudra. Dia berpendapat; Dalam al-Quran dan Hadts, memang tidak terdapat kata-kata bom sebagaimana tidak terdapat pula kata-kata pesawat terbang atau visa atau passport. Tetapi, bukan berarti bagi seseorang yang hendak melaksanakan ibadah haji dengan memanfaatkan pesawat terbang sebagai alat transport adalah tidak boleh. Pesawat terbang adalah persoalan teknis, sekedar alat untuk menyampaikan mereka ketempat tujuan. Begitu halnya dengan bom, hanyalah sebagai salah satu alat untuk perang. Lanjutnya lagi, sebenarnya pada zaman Rasulullah saw terdapat alat tempur yang sangat terkenal yang disebut manjaniq, semacam ketapel raksasa untuk melempar batu besar. Fungsi manjaniq menyerupai mortir di zaman sekarang ini. Daya rusak mortar jelas lebih dahsyat dari pada senjata-senjata sejenis senapan, apalagi pedang. Mortir memang tidak lain daripada bom atau explosive.

Sebagai seorang yang tergolong Muslim galak, ternyata Imam Samudra juga rajin dan teliti dalam menelaah karya-karya ulama mufassirin. Dalam bukunya yang berjudul Aku Melawan Teroris yang ia tulis di tempat uzlah dan khalwat yang biasa disebut orang dengan penjara, ia mengutip cerita tentang peperangan Rasulullah dari kitab Tafsir Ibn Katsir; Dalam pengepungan terhadap kaum Banu Hawazin dan sekutunya, Rasulullah saw. menggunakan mortir (baca: manjaniq) selama empat puluh hari.5

Perspektif Ushul Fiqh dan Kaidah Fiqh

Dalam ranah hokum Islam, setiap cetusan terkait erat dengan yang namanya konsep Maqasid al-Syariyyah. Karena hal itu merupakan fundamen keseluruhan ajaran Islam. Dalam konteks bom syahid, akan dipakai unit analisis konsep kebutuhan dharuriyyah/elementer. Kebutuhan elementer adalah kebutuhan mendesak yang mengandung lima prinsip, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan menjaga harta. Contohnya, jihad disyariatkan demi menjaga agama, meskipun harus mengorbankan nyawa.6

Berpijak dari konsep tersebut, fuqaha mengembangkannya pada beberapa kasus yang mempunyai sudut pandang sama. Contohnya seperti jika terjadi kontradiksi antara kemaslahatan yang dominan (rjih) dengan kerusakan yang tergolong kecil (marjh), maka kemaslahatan tersebut harus diprioritaskan untuk diwujudkan. Kaidah ini dapat diterapkan dalam menyikapi bom syahid. Dengan basis analisis ini dapat ditarik semacam kesimpulan tertentu. Konteks kemaslahatan dominan (rajih) dalam bom syahid adalah dengan adanya aksi bom syahid, batalyon musuh menjadi porak-poranda, jatuh mentalnya, dan pada akhirnya berlanjut dengan kemenangan yang diraih serdadu Muslim. Konsep kerusakan yang kecil merupakan kematian pelaku bom syahid. Dengan sentuhan kaidah ini, dapat ditarik simpulan bahwa bom syahid demi kemenangan serdadu Muslim dapat dibenarkan meskipun harus mengorbankan nyawa aktornya.7

Analisa ini sejalan dengan Imam al-Rzi.8 Beliau berpendapat, tidak semua tindakan mengorbankan diri adalah tercela. Meskipun pada awalnya esensi tindakan tersebut termasuk dalam lingkup tindakan destruktif (mafsadah), akan tetapi tindakan itu dapat dibenarkan jika motifnya sebagai upaya menghindar dari bahaya yang lebih besar. Hal ini dapat diilustrasikan pada sebuah situasi di mana brigade Muslim dalam kondisi lemah atau jumlah yang sedikit, sehingga untuk menyelamatkan mereka dari kekalahan dibutuhkan solusi alternatif berupa bom syahid. Tarikan kesimpulan hukum semacam ini merupakan penerapan kaidah fiqh ketika terjadi kontradiksi antara dua kerusakan maka wajib melakukan tindakan antisipasi terhadap kerusakan yang lebih besar, dengan cara melakukan tindakan yang lebih kecil efeknya (akhaf al-dhararain).9

Fenomena yang harus diperhatikan ialah jatuhnya beberapa korban dari pihak sipil Irak dan Palestina akibat bom syahid, yang tak jarang mereka adalah anak-anak kecil dan perempuan. Disadari, bahwa tindakan bom syahid merupakan solusi praktis agar terbebas dari situasi dilematis di tengah-tengah gencarnya agresi pasukan koalisi salibis dan zionis imperialistis. Di samping mengingat jumlah pasukan Muslim yang bisa dikatakan hanya secuil. Pejuang Muslim di Irak dan Palestina menganggap situasi ini dalam skala darurat, maka tak pelak lagi jika mereka nekat menggunakan strategi bom syahid sebagai senjata ampuh untuk membombardir brigade musuh, meskipun konsekwensinya akan berjatuhan korban dari pihak sipil. Dalam hal ini bagaimana sikap dan komentar para ulama? Secara tegas para fuqaha memaparkan bahwa membunuh orang-orang Muslim yang tak berdosa adalah haram karena tergolong perbuatan destruktif (mafsadah), kecuali ketika mereka dijadikan perisai oleh tentara kafir, maka dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat. Menurut versi yang memperbolehkan argumentasinya adalah karena membunuh beberapa orang Muslim lebih kecil mafsadah-nya dibanding terbunuhnya semua pasukan Muslim ditangan musuh. Dari paparan argumentasi ini dapat diambil benang merah bahwa prinsip permasalahan ini adalah mengacu pada kaidah sistematis akhaf al-dhararayn (pertimbangan dampak paling minimal), sehingga prinsip tersebut sangat relevan apabila diaplikasikan untuk melegitimasi tindakan bom syahid meskipun berimbas pada jatuhnya korban dari pihak sipil dalam situasi dan kondisi darurat.10

Dari apa yang telah diuraikan secara detail mengenai hukum bom syahid, yang penting untuk dicatat adalah bahwa aksi-aksi bom syahid yang telah dipaparkan di muka sangat kontras sekali dengan bunuh diri, sebab bunuh diri merupakan tindakan yang dilatarbelakangi oleh rasa frustasi. Sementara bom syahid merupakan tindakan yang dilatari tujuan-tujuan mulia seperti yang telah teruraikan di muka.

Rasulullah bersabda, Pada zaman sebelum kalian, ada seseorang yang terluka karena tidak sabar menahan sakit lalu ia mengambil sebilah pisau, dengan pisau itu ia mengerat tangannya sendiri sampai mengalirkan darah sehingga ia mati. Dalam merespon peristiwa Allh berfirman, Hambaku mendahului (ketentuan)-ku, diharamkan baginya surga. (HR. Imam Bukhari).11

Dalam mengomentari tindakan bunuh diri dalam Hadts itu, Imam Samudra (pelaku peledakan bom Bali) berpendapat, bahwa perbuatan di atas dapat dipahami sebagai bunuh diri alias mati konyol bin mati katak. Tidak berbeda dengan seorang yang frustasi karena putus cinta, bangkrut, ditinggal mati orang yang dicintai, tidak sabar menahan derita, lalu menenggak baygon, endrin, atau sejenisnya sampai mati.12

Dari uraian di muka dapat disimpulkan bahwa bom syahid yang terjadi di Irak dan Israel dapat dibenarkan dengan beberapa pertimbangan: pertama, musuh yang diperangi sudah sesuai dengan kriteria kafir harbi; kedua, tidak dapat disalahkan dengan hanya bertendensi pada surat al-Baqarah ayat 195, karena ayat tersebut konteksnya adalah berhubungan dengan infq fi sabilillh atau putus asa dari ampunan Allah, dan tidak ada korelasi dengan bunuh diri; ketiga, membawa dampak positif terhadap kaum Muslimin, karena dengan tindakan tersebut secara otomatis akan meruntuhkan mental zionis dan koalisi salibis imperialistis; keempat, lawan akan mengakui kegigihan dan heroiknya kaum Muslimin dalam membela agama Allah; kelima, tindakannya dapat mengobarkan semangat juang Muslim. Tindakan bom syahid tetap dibenarkan meskipun menelan korban dari pihak sipil, dengan catatan dalam situasi darurat. Wallhu Alam bi al-Shawb.



1 Istanbul merupakan kota pelabuhan terbesar di Turki dengan jumlah penduduk sekitar 6.000.000. jiwa. Letak geografisnya sangat unik; sebagian masuk benua Eropa dan sebagian lagi masuk benua Asia, keduanya dihubungkan dengan jembatan yang melintasi selat Bosporus. Istanbul bermula dari sebuah kota bernama Bizantium yang dibangun oleh bangsa Yunani kira-kira pada abad ke-7 SM. Pada tahun 330, kota itu dijadikan ibu kota Kekaisaran Romawi oleh Kaisar Constantine Agung, dan dinamai Constantinopel (kota Constantin). Setelah pecahnya Kekaisaran Romawi pada tahun 395, kota itu menjadi ibu kota Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), sedang ibu kota Kekaisaran Romawi Barat adalah Roma. Constantinopel dibangun di dararatan Eropa dan dipisahkan dari Asia Kecil oleh selat Bosporus, tetapi sejarah dan kebudayaannya berjalin erat dengan Asia. Kota yang dilindungi oleh Laut Marmara di sebelah selatan dan benteng Golden Horn di bagian utara ini tekenal kaya dengan bangunan bersejarah, diantaranya seejumlah museum penting dan gereja peninggalan Kekaisaran Bizantium, yaitu gereja Aya Sofia yang didirikan tahun 537 pada masa Kaisar Yustinianus (517-565).

2 Abi Abdillah al-Qurthubi, al-Jami al-Ahkm al-Quran, Dar al-Fikr, vol. II, h. 361-364.

3 Al-Ghazali (450-505 H/1058-19 Desember 1111 M). Nama lengkapnya ialah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Tusi al-Ghazali, seorang pemikir Islam sepanjang sejarah Islam, teolog, filsuf, dan sufi termasyhur. Ia lahir di kota Ghazalah, sebuah kota kecil dekat Tus di Khurasan, yang ketika itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam. Ia telah menulis hampir 100 buah buku yang meliputi berbagai ilmu pengetahuan, seperti teologi Islam, fiqh, tasawuf, filsafat, akhlak, dan autobiografi.

4 Imam al-Ghazali, Ihy Ulm al-Dn, Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, h. 315.

5 Imam Samudra, Aku Melawan Teroris, Jazera, 150.

6 Dr. Abd al-Karim Zaydan, al-Wajiz fi Ushl Fiqh, Maktabah al-Bashair, h. 378-379.

7 Abi Muhammad Izzuddin Abd al-Azz bin Abd al-Salam, Qawaid al-Ahkm fi Mashlih al-Anam, Beirut Libanon: Dar al-Marifat, vol. I, h. 84 & 95.

8 Imam Muhammad al-Razi Fakhruddin (Iran, 1149-Herat, Afghanistan, 1209) seorang mufassir, mutakalim, ahli ushul fiqh dan pengamat perkembangan pemikiran dan sosial. Dalam bidang fiqh, beliau menganut Madzhab Syafii. Pada abad ke-6 H, ia dinyatakan sebagai tokoh reformasi dunia Islam, sebagaiman tokoh Abu Hamid al-Ghazali pada abad ke-5 H. Bahkan ia dijuluki sebagai tokoh pembangunan sistem teologis melalui pendekatan filsafat.

9 Imam Muhammad al-Razi Fakhruddin, Tafsir al-Fakhr al-Rzi, Dar al-Fikr, jld: 8, Vol. 15, h. 18.

10 Abi Muhammad Izzuddin Abd al-Aziz bin Abd al-Salamh. Op. cit., 83.

11 Dr. Ahmad al-Sarbashi, Yasalunak fi al-Dn wa al-Hayat, Dar al-Jayl, vol. I, h. 537-538.

12 Imam Samudra. Op. cit., h. 181.