JIHAD DAN TERORISME

 

 

Islam sebagai agama yang diturunkan untuk seluruh umat manusia dan relevan dalam segala dimensi, setiap konsepsinya tidak pernah lepas dari tujuan pensyariatan. Seperti jihad, ia disyariatkan sebagai upaya melindungi agama dari sesuatu yang mengancamnya. Ironisnya, term jihad merupakan salah satu konsep Islam yang paling sering disalah-pahami, khususnya oleh kalangan orientalis. Ketika istilah jihad disebut, citra yang muncul di kalangan Barat adalah bahwa pasukan Muslim yang menyerbu ke berbagai wilayah di Timur Tengah atau tempat-tempat lain; memaksa Non-muslim untuk memeluk agama Islam. Begitu melekatnya citra ini, sehingga banyak argumen yang dikemukakan pihak Muslim hanya dicuekin oleh kalangan orientalis.

Sejatinya sejak dari awal, citra yang beredar di kalangan Barat itu telah ditentang oleh al-Quran sendiri yang secara tegas melegitimasi pluralisme agama. Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada yang salah. (QS. al-Baqarah (2): 256). Dan surat al-Midah: 48; Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan hidup yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Dari ayat ini dapat dipahami, bahwa Allah bisa saja menjadikan manusia dalam satu agama jika Ia berkehendak. Akan tetapi Allah telah menciptakan manusia dalam sebuah jalan hidup yang pluralis sebagai media pengujian bagi umat manusia, apakah dengan pluralitas tersebut manusia dapat hidup berdampingan dengan harmonis-humanis.1 Meski demikian kalangan orientalis tak pernah bosan menkorelasikan jihad dengan terorisme. Untuk menangkal fitnah-fitnah itu, maka kajian ini difokuskan untuk meluruskan.

 

Esensi Jihad

Jihad secara leksikal adalah mengerahkan upaya, berusaha, berjuang keras, atau lebih tepatnya ia melukiskan usaha maksimal untuk melawan sesuatu yang salah. Konotasi yang dimiliki kata jihad sangat komprehensif. Pertama, mujhadah; perang spiritual melawan dorongan hawa nafsu. Kedua, ijtihd; mencurahkan kemampuan guna menjustifikasikan hukum yang cukup rumit melalui metode yang ketat dan diproyeksikan untuk mencetuskan pendapat independen dalam yurisprudensi Islam, yakni dengan metode analogi (qiys) dengan menggunakan fondasi ratio-legis (illat) yang terpetik dari al-Quran dan Hadts. Ketiga, amr marf nahi munkar; perjuangan menciptakan lingkungan sosial yang memungkinkan kaum Muslimin untuk mengimplementasikan kewajiban-kewajiban syariat, serta menyesuaikan dengan norma-norma etiknya. Keempat, qitl f sablillh; perang untuk membela agama dari sesuatu yang mengancamnya dengan kode etik yang telah dijelaskan al-Quran dan Hadts.2

 

Menurut Nabi saw., mujhadah adalah yang paling berat. Perjuangan mujhadah selain bersifat individual dalam menghadapi hawa nafsu, juga limit perjuangan itu berlangsung kontinue sepanjang hayat. Diceritakan, ketika Rasulallah saw. baru saja pulang dari perang Badar, para sahabat banyak yang merasa bangga dengan kemenangan mereka dalam peperangan itu, karena dengan jumlah yang sedikit mereka dapat mengalahkan tentara yang memusuhi Islam yang jumlahnya berlipat ganda. Tetapi Rasulullah saw. dengan sedikit ucapan menyadarkan para sahabatnya. Beliau berkata: Kita kembali dari peperangan yang kecil menuju peperangan yang amat besar, yaitu berjuang melawan hawa nafsu.3

 

Jihad secara terminologis, menurut Dr. Wahbah al-Zuhayli, adalah mencurahkan kemampuan untuk menolak agresi orang-orang kafir dengan jiwa raga dan harta.4 Menurut Said Aqil Siraj, jihad merupakan upaya pencurahan tenaga secara fisik yang diproyeksikan untuk mengimplementasikan pesan-pesan Tuhan di muka bumi guna mengakurasikan tugas manusia sebagai khalifah-Nya. Adapun berperang dengan mengangkat senjata hanyalah salah satu dari beberapa model jihad.5

 

Fase-fase Jihad dalam Ranah Historis

Seperti halnya masalah lain, jihad diintruksikan secara gradual (bertahap). Dalam turts disebutkan metode tersebut merupakan salah satu wahana dakwah Islam yang acap kali mewarnai turunnya al-Quran. Ia dipandang hirau akan pertimbangan psikis-antropologis dan sosio-kultural masyarakat saat itu, yang sedang mengalami transisi dari kepercayaan dinamisme,6 animisme,7 dan henoteisme atau politeisme8 ke monoteisme (tauhd). Sehingga perlu adanya afirmasi (itsbt) hukum secara bertahap.

 

1.       Fase Deffensive

Informasi historis secara faktual menunjukkan, saat Nabi saw. mulai mengembangkan sayap-sayap dakwah Islamiahnya, terdapat gerakan pemurtadan dan reaksi penentangan keras yang datang dari penguasa Makkah yang otoriter, diktator serta anarkis-teroris, pengusaha Makkah, kaum feodal, dan para pemilik budak. Mereka ingin mempertahankan tradisi lamanya, di samping juga khawatir jika struktur masyarakat dan perekonomian mereka akan tergoyahkan oleh ajaran Nabi saw. yang menekankan keadilan sosial dan persamaan derajat. Setelah mereka gagal menghentikan laju dakwah Nabi saw. dengan memakai cara diplomatik dan bujuk rayu, akhirnya kaum kafir Makkah menggunakan kekerasan fisik. Kaum muslimin saat itu mendapatkan siksaan yang tidak manusiawi. Mereka dicambuk, dipukul, tidak diberi makan dan minum, diterlentangkan di atas tanah padang pasir dan di atas dadanya diletakkan batu besar. Utsman bin affan dan Abu bakar misalnya, juga mendapatkan perlakuan yang tidak jauh berbeda.

Dalam tahap ini, al-Quran belum mengizinkan jihad. Kaum Muslimin saat itu diperintah untuk melaksakan shalat, zakat, menjunjung tinggi persamaan derajat, menghindari Non-muslim yang selalu menteror orang Islam, serta bersabar dan memaafkan atas penindasan dan penganiayaan yang dilakukan oleh mereka. Jihad saat itu belum diizinkan oleh Allah swt., karena disamping mereka berada di tanah Haram, juga mempertimbangkan kuantitas kaum Muslimin yang hanya secuil dibandingkan kekuatan kafir Makkah. Fase ini disebut tahap kaffu al-yad atau menahan tangan/menahan diri.

Banyak ayat yang menerangkan fase deffensive ini, seperti yang telah dilansir oleh al-Quran dalam surat al-Baqarah (2): 109 yang menyatakan: Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kau kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintahnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.9

 

Ayat-ayat lain yang menerangkan fase ini juga dapat dijumpai dalam QS. al-Nis (4): 77, al-Anm (6): 106, al-Insn (76): 24, al-Hijr (15): 85, al-Jtsiyah (14): 45, Qf (50): 39, dan al-Muzammil (73): 10. Sedangkan Hadts yang menerangkan hal ini banyak sekali, di antaranya: Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memaafkan, maka janganlah memerangi kaum. (HR. Ibnu Hatim dari Ibnu Abbas).

 

2.      Fase Izin Berjihad

Penindasan demi penindasan terus berlangsung, setelah mereka gagal dengan cara intimidasi, kaum Non-muslim Makkah akhirnya mendeportasi kaum Muslim dari tanah air mereka. Melihat situasi seperti itu, Nabi Muhammad saw. mencari solusi mengungsikan sahabat-sahabatnya ke luar Makkah. Di antara mereka ada yang menuju ke Madinah, dan ada juga yang diungsikan ke Abessinia atau Habasyah (Ethiopia). Rombongan yang terdiri dari 10 orang pria dan 5 wanita berangkat. Di antara anggota rombongan itu terdapat Utsman bin Affan beserta istrinya Ruqayyah, Zubair bin Awam dan Abd al-Rahman bin Auf. Kemudian menyusul rombongan kedua dipimpin oleh Jafar bin Abi Thalib. Ada yang mengatakan rombongan ini terdiri dari 80 pria. Sumber lain menyebutkan mereka terdiri dari 83 pria dan 18 wanita.

Berbagai usaha dilakukan kafir Quraysi untuk menghalangi hijrah ke Habasyah, termasuk membujuk raja Habasyah agar menolak kehadiran umat Islam di sana. Namun berbagai usaha itu gagal total.10 Seiring dengan pendeportasian ini (2 H.), turunlah ayat yang menyatakan: Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar kuasa menolong mereka itu. (yaitu) Orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: Tuhan kami hanyalah Allah. (QS. al-Hajj (22): 39-40).

 

Dalam fase ini umat Muslimin sebatas diizinkan berperang, belum diperintahkan berperang dan melawan teror-teror kaum kafir. Ayat-ayat lain yang menerangkan fase ini adalah al-Baqarah (2): 190, dan al-Nis (4): 77. Izin atau permisi jihad dalam fase ini hanya berlaku ketika kaum Muslimin mendapat agresi dari kaum kafir terlebih dahulu, artinya kaum Muslimin tidak diizinkan mendahului menyerang (offensive, hujm).11

 

3.      Fase Wajib Jihad

Pada fase ketiga ini kaum Muslimin telah diwajibkan berjihad. Sebagaimana pernyataan wahyu Ilahiyyah (divine revelation): Diwajibkan (kutiba) atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah(2): 216).

 

Intruksi dengan kalimat imperatif kutiba yang terdapat dalam ayat di atas menunjukkan wajibnya jihad. Kewajiban tersebut bersifat kolektif dan representatif (fardhu kifyah). Maksudnya walaupun obyek kewajiban ini adalah seluruh komunitas Muslim yang memenuhi kriteria sebagai subyek jihad, akan tetapi pelaksanaannya hanya dicukupkan pada satu orang atau golongan, dan itu sekaligus dapat menggugurkan dosa bagi orang lain yang tidak melakukannya. Kecuali jika daerah Islam mendapat agresi dari orang-orang kafir, maka pada situasi seperti itu kewajibannya berubah menjadi fardhu ain,12 bagi penduduk pribumi dan yang berdomosili disekitar tempat itu dengan jarak kurang dari masfah al-qasr.13 Bagi orang-orang yang berada pada jarak melebihi jarak tersebut, hukumnya fardhu kifyah. Hukum fardhu kifyah ini hanya berlaku apabila pasukan Muslim yang sedang bertempur di medan perang telah mampu mengimbangi kekuatan Non-muslim. Sehingga tatkala pasukan Muslim dalam situasi terdesak dan terpaksa dipukul mundur oleh kekuatan kafir, maka hukum jihad menjadi fardhu ain bagi semua kaum Muslimin.14

Ayat-ayat lain yang menyatakan kewajiban ini juga terlansir dalam surat al-Baqarah (2): 244, al-Midah (5): 54, al-Anfal (8): 6, 8, 39 & 57, al-Taubt (9): 5, 12, 14, 29, 36, 73&123, dan Muhammad (47): 4 & 22.

 

4.      Fase Terakhir serta Munculnya Madzhab

Deffensive (Difi) dan Offensive (Hujm)

Tiga fase jihad telah terlewati, mulai dari bersabar serta memaafkan kaum kafir yang anarkis-teroris, diizinkan berjihad sampai wajib berjihad. Pada awalnya kaum Muslimin dilarang memerangi kaum kafir, kemudian disusul permisi dan intruksi jihad secara terbatas, yakni hanya boleh sebatas upaya deffensive dari agresi kaum kafir. Nah, sekarang tiba waktunya Allah swt. menjelaskan limit (batasan) waktu pelaksanaan jihad. Dalam fase ini terdapat dalil transferensial yang berbunyi:

 

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi, dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.(QS. al-Baqarah(2): 193).

Dalam mengomentari ayat ini, al-Quthubi mengatakan, bahwa terdapat dua versi pendapat dalam memahami dan memposisikan ayat ini. Satu versi menyatakan bahwa ayat ini mengintruksikan memerangi secara offensive terhadap semua orang musyrik di mana pun mereka berada sampai hilangnya kemusyrikan, tanpa harus menunggu adanya agresi dari mereka. Mengapa? Karena menurut versi ini, ayat tersebut telah menganulir (naskh)terhadap ayat-ayat yang menerangkan fase-fase sebelumnya. Pemahaman inilah yang akhirnya dijadikan landasan oleh sebagian interpreter (mufassirin) dalam memunculkan madzhab jihad offensive.15 Pada perkembangan berikutnya, madzhab ini merupakan konsepsi yang menjiwai praksis Imam Samudra dan kelompoknya pada khususnya dan kelompok fundamentalis-radikalis pada umumnya.16 Sedangkan versi yang kedua mengatakan bahwa ayat ini tidak menganulir ayat-ayat yang menerangkan fase-fase sebelumnya. Oleh karena itu, intruksi ini hanya terbatas untuk memerangi orang kafir yang melalukan agresi, penganiayaan, pemurtadan, dan mendeportasi kaum Muslimin dari tanah airnya. Versi ini nampaknya merupakan hipotesis deduktif yang dipakai oleh sebagian ulama untuk membangun konsep madzhab jihad deffensive. Prinsip dari paham deffensive ini adalah perang hanya dilakukan demi mempertahankan diri dari tekanan dalam bentuk apapun yang dilakukan oleh pihak kafir.17

Antara Perang Tercela dan Terhormat

Islam memandang peperangan adalah suatu hal yang buruk karena mengakibatkan jatuhnya korban dan rusaknya tatanan kehidupan, namun dampak destruktif tersebut harus diabaikan jika memang genderang perang ditabuh demi tujuan mulia, yaitu dakwah Islam dan membasmi kaum musyrik yang memerangi kaum Muslim. Al-Quran sendiri tidak melegalisasi peperangan kecuali demi mencapai empat tujuan: pertama, memerangi kaum musyrik yang tidak mengindahkan dakwah Islamiyyah dan mencoba melawannya. Lebih dari itu mereka juga mengintimidasi dengan pelbagai siksaan demi membatalkan dakwah Islamiyyah. Terpotret jelas dalam historis perjalanan Islam, Rasulullah swt. pernah melakukannya demi tujuan tersebut; kedua, memerangi orang-orang yang merampas hak-hak orang Muslim, seperti memerangi pembegal dan sebagainya; ketiga, memerangi orang-orang yang murtad, karena mereka dianggap membahayakan agama dengan cara bertindak provokatif dan melakukan propaganda. Perang ini pernah dilakukan oleh Abu Bakar al-Shiddiq sebagai upaya preservatif terhadap agama; keempat, memerangi kelompok pemberontak (bught) yang menolak untuk taat kepada pemerintah, undang-undang, dan menolak untuk memenuhi kewajibannya sebagai warga negara. Perang ini pernah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib sebagai upaya konservasi terhadap kesatuan umat Islam.

 

Peperangan yang disyariatkan dalam Islam dan yang dipandang sebagai jihad adalah perang-perang dengan tujuan di atas. Maka peperangan selain itu hukumnya adalah haram, seperti peperangan yang dipicu oleh motifasi mendapatkan harta rampasan perang, unjuk kekuatan, unjuk keberanian, kesombongan, pamer, fanatisme golongan (ashbiah), balas dendam, kecemburuan, rifalitas (munfasah), malignitas (adwah) dan memperebutkan kedudukan.18

Peperangan yang bertujuan negatif adalah tercela dan tidak bisa dikategorikan jihad f sablillh. Menurut satu pendapat, tidak semua peperangan bisa disebut jihad. Hanya yang murni bertujuan menegakkan agama Islam yang disebut jihad. Demikian pula jihad akan menjadi tercela jika disertai tujuan mencari harta rampasan dan sebagainya. Mungkin pendapat ini terinspirasi oleh Hadts yang menyatakan; Sesungguhnya Allah tidak menerima amal-amal kecuali yang bertujutuan murni.

Al-Thabari dan mayoritas ulama cenderung mengarah pada tidak tercelanya jihad yang disertai tujuan lain, dengan catatan kalau tujuan-tujaun lain tersebut bukan tujuan utama. Hadts di atas diarahkan pada tidak diterimanya amal dengan tujuan ganda yang sama-sama kuatnya, dalam arti keduanya adalah tujuan yang diprioritaskan secara bersamaan. 19

 

 

Melawan Tuduhan Barat

Setiap orang yang mendalami ajaran Islam pasti tahu, bahwa berperang dengan tujuan untuk memaksa Non-muslim agar memeluk Islam merupakan tuduhan yang tidak berdasar alias nonsen, baik dirunut dari sudut pandang akal pikiran maupun dari khazanah Islam. Marilah kita membuktikan kesalahan tuduhan mereka dengan memperhatikan sepucuk surat yang dikirimkan Rasullullah saw. kepada Kaisar Heraclius (Romawi). Dalam surat tersebut beliau mengatakan:

Bismillh al-Rahman al-Rahim

Dari Muhammad Rasulullah kepada Heraclius, Maharaja Romawi.

Amma badu, aku mengajak anda menerima dakwah Islam. Hendaklah anda memeluk agama Islam, niscaya anda akan selamat dan Allah akan mengaruniakan pahala kepada anda dua kali lipat. Jika anda berpaling (mengelak) maka anda memikul dosa orang-orang Arisyyin.

Hai Ahl al-Kitab, marilah kita berpegang pada suatu kalimat (ketetapan) yang tiada perselisihan antara kami dan kalian, (yaitu) bahwasanya kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak menyekutukannya dengan apapun juga, dan yang satu tidak akan menjadikan yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (hai Muhammad): hendaklah kalian menjadi saksi bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah (Muslimum).20

Bagian kedua dari surat Rasulullah saw. itu diambil dari al-Quran, surat Ali Imran ayat: 64. Dalam surat tersebut coba perhatikan dengan kalimat apa Rasulullah saw. mengakhiri suratnya? Ya, jika kalian menolak Islam, hendaklah kalian menjadi saksi bahwa kami adalah orang-orang Muslim yang tetap dalam keislaman kami!. Dalam surat tersebut jelas tidak ada intimidasi (tahdd), hanya dikatakan jika Heraclius tetap pada agamanya semula maka dengan sikapnya itu Heraclius bertanggung jawab atas dosa orang-orang Arisiyyin.

Orang-orang Arisiyyin adalah para pengikut seorang panglima perang dan pendeta Romawi yang bernama Arius. Dialah pemimpin gerakan pengesaan Tuhan dalam sejarah gereja yang dengan keras menolak Isa sebagai Tuhan dan sebagai anak Allah. Arius bersama pengikutnya mengalami penindasan kejam. Semua kekuatan Romawi dikerahkan untuk mengejarnya dan membasmi pengaruh dakwahnya. Sepeninggal Heraclius, gerakan pembasmian itu dilanjutkan oleh raja-raja penggantinya hingga Gereja Arius hancur.

Mungkin orang-orang Romawi mengira bahwa agama Islam merupakan kelanjutan dari bidah Arius (penamaan yang mereka berikan kepada gerakan Arius). Karena itu mereka berusaha keras meng-hancurkan Islam dan menumpas orang-orang yang mendakwahkannya. Mereka memutuskan hendak membunuh siapa saja yang berani memeluk Islam! Seandainya Islam tidak mendapatkan pertolongan dari Allah swt., niscaya Islam sudah lenyap tidak ada kabar beritanya, dan selanjutnya kaum kolonialis Romawi akan terbahak-bahak melihat Islam musnah!

Rasulullah saw. juga menyampaikan dakwahnya kepada raja-raja berbagai negeri dan mengajak mereka supaya bersedia menerima agama Islam. Beliau mengirim surat kepada Kaisar Romawi, Kisra di Persia, Muqauqis di Mesir, Najasyi di Habasyah (Ethiopia) dan raja-raja Arab di kawasan Timur Arabia dan Syam. Banyak orang-orang Nasrani yang mulai memeluk agama Islam, tetapi kaum Nasrani di Syam tidak senang melihat kenyataan itu, kemudian mereka membunuh beberapa orang pemimpin mereka yang memeluk Islam di sebuah tempat yang terkenal dengan nama Muan.

Dalam permasalah ini Ibnu Taimiyyah menyatakan; yang pertama-tama mencetuskan perang terhadap kaum Muslim adalah kaum Nasrani, dengan membunuh secara bengis terhadap orang yang memeluk Islam di Syam. Para utusan Rasulullah saw. datang ke negeri itu untuk mendakwahkan agama Islam semata. Orang memeluk Islam bukan karena paksaan melainkan suka rela, tak sorangpun dari penduduk negeri itu yang dipaksa memeluk Islam. Setalah kaum Nasrani mulai membunuh orang-orang yang memeluk Islam, Rasulullah saw. mengirim pasukan ke daerah Mutah. Tetapi mereka pulang kembali setelah tiga orang komandannya gugur. Beberapa waktu kemudian terjadilah perang Tabuk, akan tetapi dalam peperangan ini bala tentara Romawi menghindari pertempuran. Saat perang melawan kaum Paganis dan Ahl al-Kitab, Allah swt. telah mewajibkan kepada kaum Muslim untuk membela diri dan mempertahankan keyakinan agamanya. Mengenai hal itu Allah swt. berfirman dalam al-Quran al-Karm; Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi karena mereka itu telah dianiaya, dan Allah Maha Kuasa menolong mereka yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar kecuali karena berkata: Tuhan kami hanyalah Allah. (QS. 22: 39-40).

Potret sejarah peperangan melawan Kisra terpampang jelas. Peperangan terjadi setelah Kisra merobek-robek surat Rasulullah saw. yang mengajaknya agar menerima Islam. Kisra sangat marah dan memerintahkan penguasanya di Arabia Selatan supaya menangkap Muhammad Rasulullah saw. dan menghadapkan beliau di istananya. Ketika itu tidak ada jalan lain kecuali mempertahankan diri dengan berperang. Hasilnya, kaum Muslimin dapat mematahkan kekuatan mereka, dan setelah dilucuti senjatanya mereka dibiarkan merenungkan apa yang ditawarkan kepada mereka! Tidak ada paksaan di dalam agama.21

Rudolph Peters mengemukakan; tujuan utama jihad bukanlah untuk memaksa orang-orang kafir untuk memeluk Islam, seperti sering dikemukakan dalam beberapa literatur Barat. Tetapi tujuan pokoknya adalah pembelaan diri kaum Muslimin dari agresi Non-muslim, dan juga ekspansi kawasan Islam. Orang-orang kafir yang ditaklukan di bawah kekuasaan Islam diberikan dua opsi; tetap dalam agama mereka dengan membayar jizyah (pajak), atau masuk Islam sehingga memperoleh hak-hak sipil mereka sepenuhnya.22

Penulis sepakat dengan ungkapan Peters yang menyatakan bahwa jihad tidak bertujuan memaksa orang Non-muslim memeluk Islam. Namun yang perlu dipersoalkan dalam hal ini adalah statemen Peters yang menyatakan bahwa diantara tujuan utama jihad adalah ekspansi. Begitu juga pendapat W. Montgomery Watt yang menyatakan bahwa jihad untuk perluasan wilayah Islam secara besar-besaran pada masa klasik merupakan perkembangan lebih lanjut dari razzia, yakni ekspedisi militer (ghazwah). Dalam konteks terakhir ini, perluasan agama tidak menjadi motif utama. Namun justru perolehan harta rampasan merupakan tujuan utama laskar Muslim yang terlibat dalam ghazwah. Watt berpendapat, razzia diarahkan hanya ke wilayah di mana terdapat banyak harta rampasannya atau di daerah-daerah lemah pertahanannya. Bahkan menurutnya, terhentinya Perang Tours (Poitiers, Prancis) pada tahun 732 lebih disebabkan anggapan konskrip Muslim, bahwa serbuan lebih menusuk ke jantung wilayah Prancis tidak akan menguntungkan karena rampasan yang bakal diperoleh tidak seimbang dengan energi yang dikeluarkan.23

Jika statemen Peters dan Watt di atas kita cermati secara kritis, akan nampak beberapa kelemahannya. Kelemahan pokoknya, menurut Dr. Azyumardi Azra, adalah bahwa mereka telah mereduksi agama melalui pendekatan yang terlalu materialistik. Padahal pada kenyataannya tidak sedikit laskar-laskar Muslim, khususnya di masa klasik, yang melancarkan jihad karena termotivasi semangat keagamaan, intinya untuk membuktikan kebenaran dan kejayaan Islam, bahkan untuk menjadi syuhad (martyrs) di jalan Allah dengan imbalan surga.24

Kesalahan Watt tidak hanya itu saja, tetapi juga terdapat pada penilaiannya yang membatasi target jihad hanya pada daerah-daerah yang lemah perlawananya, sehingga menimbulkan citra bahwa pasukan Muslim pengecut, tidak berani menghadapi perlawanan serius dari musuh, dan sebagainya. Kesalahan itu segara terkoreksi jika dihadapkan pada tradisi Islam. Dalam tradisi itu gugur di medan perang justru menjadi kebanggaan serta jalan meraih derajat mulia, yaitu syuhad. Islam tidak pernah membatasi target jihad hanya pada daerah yang menjanjikan berlimpahnya harta rampasan dan lemah perlawanannya. Namun Islam mekankan pada daerah-daerah yang menghalangi dan tidak mengindahkan dakwah Islamiyyah.25 Ini bukan berarti Islam memaksa orang lain untuk memeluknya, karena Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada yang salah. (QS. al-Baqarah (2): 256).

 

 

Benarkah Islam Teroris?

Belakangan ini jihad acap kali dihubungkan dengan terorisme (al-irhb al-alamy), terutama oleh kalangan Barat. Opini ini dibentuk dengan memanfaatkan berbagai peristiwa peledakan bom dibeberapa tempat, seperti WTC (World Trade Center) dan Pentagon (Markas Besar Militer Amerika). Pada sisi lain media massa juga ikut serta mempengaruhi terbangunnya opini gerakan terorisme Islam. Hal itu diperkuat lagi dengan kampanye adanya terorisme dalam Islam oleh beberapa kedutaan AS yang ditujukan kepada Usamah bin Laden sebagai aktor teroris kelas internasional. Pemberitaan serta kampanye-kampanye itu pada titik klimaksnya mengarah pada tuduhan bahwa terorisme terbangun di atas semangat Islam, sehingga pada perkembangan selanjutnya mengakibat-kan citra Islam tercoreng. Untuk menampik stigma yang sangat merugikan Islam, kiranya perlu adanya kajian-kajian tajam untuk menguak esensi terorisme, dan termasuk terorisme-kah praktek jihad?

Menurut Thornton, terorisme adalah penggunaan teror sebagai tindakan simbolis yang dirancang untuk mempengaruhi kebijaksanaan dan tingkah laku politik dengan cara-cara ekstranormal, khususnya penggunaan atau ancaman kekerasan. Dalam koridor pengertian seperti ini, ia membedakan dua kategori penggunaan teror. Pertama adalah panyelenggaraan teror (enforcement terror) yang dilakukan penguasa untuk menindas tantangan terhadap kekuasaan mereka; kedua, agitational terror, yakni kegiatan teroristik yang dilakukan oknum-oknum yang ingin mengganggu tatanan yang telah mapan untuk kemudian menguasai tatanan politik. Thornton juga membedakan empat jenis terorisme: kriminal, psikis, perang, dan politik. Terorisme kriminal didefinisikan dengan penggunaan teror secara sistematis untuk mencapai tujuan-tujuan material; terorisme psikis penggunaan teror untuk tujuan-tujuan keagamaan; terorisme perang penggunaan teror yang bertujuan melum-puhkan lawan, menghancurkan dan melumpuhkan kekuatan bertarung, sehingga dapat menghancurkanya. Terorisme politik secara umum didefinisikan dengan penggunaan atau ancaman kekerasan untuk mencapai tujuan-tujuan politik.

Berangkat dari klasifikasi tersebut, dibedakan antara teror politik dan terorisme politik. Teror politik terjadi dalam tindakan-tindakan terpisah dan juga dalam bentuk kekerasan massal yang luar biasa, tanpa pandang bulu dan semena-mena. Teror seperti ini tidak sistematis atau tidak terorganisasi, dan kekerasan itu sulit dikontrol. Sedangkan terorisme politik adalah kebijaksanaan berkelanjutan yang melibatkan penggunaan teror terorganisasi, baik itu dilakukan oleh negara, organisasi, atau kelompok-kelompok individual.26

Dari pendefinisian Thornton sekaligus klasifikasinya, dapat dimengerti bahwa ancaman yang bertujuan keagamaan, dan kekerasan perang yang berujung pada tujuan menghancurkan adalah termasuk tindakan terorisme. Berangkat dari definisi serta klasifikasi itu, maka pertanyaannya sekarang adalah apakah jihad yang mendapatkan legalisasi dalam Islam termasuk tindakan terorisme?

Perlu ditegaskan bahwa tidak ada bangsa, generasi dan juga agama yang bebas dari perang, tidak terkecuali Islam. Sekitar 650 tahun silam, Ibnu Khaldun (732-808 H/1332-1406 M.) pernah menyatakan bahwa perang dan berbagai bentuk pertempuran selalu terjadi sejak Allah swt. menciptakan dunia ini.27 Dalam berperang, keperluan untuk mempertahankan diri dengan cara melumpuhkan pertahanan musuh adalah urusan strategi. Petarung-petarung yang terlibat dalam pertempuran hanya dapat melihat tiga kemungkinan: 1) mengalahkan dengan bermodal strategi, yang termasuk di antaranya menteror musuh agar mental mereka runtuh; 2) dikalahkan musuh; 3) melakukan perjanjian damai. Jadi, tidak ada satupun peperangan yang bersih dari strategi teror, tak terkecuali perang crussade dalam tradisi Kristen dan jihad dalam tradisi Islam.

Sementara di sisi lain, kehancuran yang diakibatkan perang merupakan keniscayaan karena tidak ada perang yang terlepas dari dampak itu. Tetapi, jihad tidak pernah menjadikan penghancuran sebagai motif, melainkan ia dikobarkan demi tujuan sebagaimana berikut ini:

Pertama, demi mempertahankan hak-hak umat Islam dan perampasan atas kemerdekaannya. Dalam hal ini Allah swt. berfirman:

Dan bunuhlah mereka dimana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu. (QS. al-Baqarah (2): 191)

 

Kedua, memberantas fitnah dan menanggulangi perampasan hak-hak asasi manusia (HAM), yang menyumbat kebebasan individu umat Islam. Sebagaimana firman Allah swt.:

Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zhalim. (QS. al-Baqarah (2): 193).

Ketiga, membela diri dari agresi kafir. Demi tujuan ini Allah swt. memberikan perintah jihad melalui firmannya:

Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama-sama orang yang bertaqwa. (QS. al-Taubat (10): 36).

 

Beberapa tujuan di muka dilatari oleh terjadinya kasus-kasus yang disebabkan oleh tidak adanya kemerdekaan individu umat Islam, fitnah yang merajalela, berkembangnya kemusyrikan, dan adakalanya kaum Muslimin ditekan dengan berbagai macam intimidasi dan penganiayaan supaya mereka mau meninggalkan agama Islam. Apabila kasus-kasus tersebut dapat diselesaikan dengan cara amar maruf nahi munkar, petunjuk nyata, penerangan, dan pengajaran tentang Islam, maka tidak perlu ada peperangan. Akan tetapi sebaliknya, apabila hal-hal demikian tidak dapat terselesaikan dengan cara tersebut dan justru Islam mendapatkan perlawanan, Islam tidak bersikap diam dan membiarkan kejahatan itu terjadi. Allah swt. memberi petunjuk yang sangat jelas agar umat dalam kondisi seperti ini bersikap tegas, yakni dengan tak segan-segan memerangi mereka.28

Sementara untuk meminimalisir kehancuran yang disebabkan peperangan, Islam merumuskan aturan-aturan sebagai kode etik yang dapat menjaga kesopanan dan menghormati derajat manusia. Kode etik tersebut ialah:

Pertama, tidak boleh merusak daerah musuh dengan cara membakar dan sebagainya, kecuali dalam keadaan terpaksa serta tidak memungkinkan cara lain atau dengan kata lain sebagai laternatif terahir.

Kedua, tidak mengganggu utusan musuh yang resmi datang kepada pihak Muslimin. Rasulullah saw. pun tidak pernah mengganggu utusan musuh yang datang kepada beliau. Allah saw. berfirman:

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berbuat tidak adil. (QS. al-Maidah (5): 8).

 

Ketiga, tidak mengganggu atau membunuh perempuan dan anak-anak. Sebagaimana kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar:

.

Dari Ibnu Umar: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah memeriksa dalam peperangannya, beliau mendapatkan perempuan terbunuh. Beliau tidak membenarkan pembunuhan atas perempuan dan anak-anak. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Keempat, tidak memerangi musuh yang kepada mereka belum sampai dakwah Islam, kecuali setelah diajak masuk Islam dan penerangan mereka justru mengadakan perlawanan. Dalam perjalanan sejarah Islam, Nabi pernah mengirimkan utusan-utusan kepada raja-raja yang berkuasa pada saat itu, di antaranya raja Romawi yang bernama Heraclius,29 raja Gassan (Iran), Mesir, Abessinia, Persia. Melalui cara demikian, tidak ada raja-raja tersebut yang masuk Islam. Akan tetapi, paling tidak dengan cara itu risalah Islam sudah sampai pada mereka. Di antara mereka ada yang menolak dengan baik dan simpatik sambil mengirimkan berbagai hadiah, tetapi juga ada yang menolak dengan kasar. Di antara raja yang menolak dengan kasar adalah raja Gassan. Utusan yang dikirim Nabi dibunuh dengan kejam oleh raja ini. Sebagai jawabannya Nabi kemudian mengirim konskrip perang sebanyak tiga ribu orang di bawah pimpinan Zayd bin Harisah untuk memerangi raja Gassan yang bersekutu dengan Romawi. Peperangan terjadi di Mutah, di utara semenanjung Arabia. Peperangan ini disebut perang Mutah.30

Jelaslah sudah bahwa Islam tidak pernah menjadikan penghancuran sebagai motif jihad, melainkan, sekali lagi kami tegaskan, jihad lebih dikonsentrasikan pada tujuan perlindungan terhadap agama Allah (hifzhu al-dn), memelihara kebebasan individu dari agresi penjajah, pemberantasan fitnah, dan sebagainya. Sedangkan, penggunaan teror yang bertujuan melumpuhkan lawan, menghancurkan dan melumpuhkan kekuatan bertarung, sehingga dapat menghancurkanya adalah soal stategi. Dan strategi semacam itu tidak pernah lepas dari semua peperangan sepanjang sejarah.

Eksepsi di atas penulis harapkan mampu menampik asumsi ora nggenah tentang Islam. Namun jika masih ada orang yang termakan celotehan Amerika yang mengklaim Islam adalah teroris karena dalam ajarannya terdapat konsep jihad, penulis menjawab tidak hanya Islam yang mempunyai konsep perang, tetapi Kristen pun mempunyainya, seperti yang dikenal dengan konsep crussade (perang salib).

Menurut Azyumardi Azra, konsep crussade merupakan perang kata-kata dan sekaligus perang dengan perang. Menurut Khadduri, konsep crussade selain dibentuk tradisi Romawi kuno melalui tokoh besar semacam St. Agustine dan Isodore de Seville, juga dikonsepsikan oleh St. Thomas Aquinas pada abad pertengahan.31

Fakta tentang adanya konsep crussade dalam tradisi Kristen itu dapat dibuktikan di antaranya dengan terjadinya agresi tentara koalisi salibis ke Afghanistan. Semula si Bush menggunakan sandi crussade, setelah menuai protes dunia, si Bush menggantinya dengan sandi Operation Infinite Justice. Menurut Scott Rosenberg, redaktur eksekutif www.salon.com, Infinite Justice tak lain juga berasal dari terminologi Kristen, yang jika dirunut ternyata kembali pada satu kata yaitu perang salib.32 Bukanlah Bush jika tidak culas, curang, licik dan mencla-mencle, dia akhirnya merubah lagi sandi itu dengan Operation Enduring Freedom.

Kita sebagai umat Islam sebenarnya lebih berhak berteriak Amerika dan antek-anteknya adalah nenek moyang teroris (embahe teroris) dan bla...bla...bla.... Mengapa? Karena mereka telah menari-nari entah dengan goyang erotis ala Madonna atau ngebor-nya Inul Daratista di atas penderitaan warga sipil negara-negara Muslim yang telah dibantainya. Terbukti pada tahun 1991 Amerika melalui PBB telah mengembargo Irak. Hal itu telah mengakibatkan kematian lebih dari 600.000 bayi di Irak. Angka ini kemudian berkembang menjadi 1,5 juta bayi menjadi korban. Dalam periode kepemimpinan Taliban (1994-2001) mereka mengembargo Afghanistan melalui trik PBB, akhirnya ribuan sipil Afghanistan kembali menjadi korban. Ratusan ribu sipil Palestina dibantai oleh Israel dengan restu dari Pentagon, sementara Amerika ikut membantu peralatan perang sekaligus finansial. Kebiadaban telanjang itu, meminjam pendapat Imam Samudra, disaksikan oleh seluruh penjuru dunia. Situs www.khurasan.com. menyebutkan angka 200.000 jiwa dari kalangan sipil Afghanistan yang meninggal dunia akibat dijatuhi ribuan ton bom bangsa-bangsa imperalis itu. Dunia melihat dengan mata telanjang bahwa semua yang menjadi sasaran adalah murni rakyat sipil Muslim.33

 

 

Ada Apa dengan Poso, Ambon dan Halmahera?

Jangan terkecoh dengan tema ini! Karena tema tersebut tidak ada hubungannya dengan Rangga dan Cinta dalam tayangan layar lebar Ada Apa Dengan Cinta yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicolas Saputra. Juga tidak ada sangkut pautnya dengan lirik peterpan Ada Apa Denganmu. Tulisan ini hanya berkaitan dengan konflik yang melibatkan dua agama di Poso, Halmahera, dan Ambon, yang mengiringi pembantaian besar-besaran penduduk Muslim di sana.

Di Poso, Sulawesi Tengah, pertikaian pertama berlangsung pada Desember 1998. Enam belas bulan kemudian, 15 April 2000 pertikaian terjadi lagi. Warga Pesantren Walisongo yang terletak di Desa Sintuwulemba, Kecamatan Lage merupakan salah satu sasaran empuk yang dibantai. Sungai Poso menjadi saksi bisu pembantaian umat Islam, khususnya warga Pesantren Walisongo. Mayat-mayat mereka hanyut di Sungai Poso dan terbawa entah sampai ke mana.

Belum ada angka yang pasti jumlah korban dalam pembantaian itu. Dalam situs www.google.co.id/poso dikatakan bahwa pembantainya sudah sangat jelas. Mereka adalah orang-orang Kristen yang dikenal sebagai Pasukan Kelalawar Hitam. Dalam aksinya mereka mengenakan pakaian serba hitam. Salib di dada dan ikat kepala merah. Karena itu mereka sering disebut pula sebagai Pasukan Merah. Selain di Pesantren Walisongo penyerangan dan pembantaian juga dilakukan oleh orang-orang Kristen di sejumlah tempat-tempat lain. Tercatat 16 desa yang penduduknya mayoritas Muslim, kampungnya dihancurkan dan dibakar. Dari arah selatan Poso, kerusakan mencapai Tentena. Dari arah Timur mencapai Malei. Sedangkan dari arah Barat sampai ke wilayah Tamborana. Apapun penyebabnya, kerusuhan Poso telah menyebabkan trauma yang mendalam di kalangan orang-orang Muslim di Poso. Sejak meledaknya kerusuhan itu ribuan ummat Islam menjadi pengungsi.34

 

Sementara di Maluku, yang dikenal dengan kawasan Seribu Pulau, memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpahruah, juga diwarnai kerusuhan yang mengakibatkan jatuhnya korban yang tidak sedikit. Secara historis, Maluku terdiri dari kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai pulau-pulau tersebut. Oleh karena itu, diberi nama Maluku yang berasal dari bahasa Arab al-Mulk yang berarti raja.

Pada abad ke16 Portugis datang ke Maluku melakukan penjajahan sambil menyebarkan agama Kristen. Awal abad ke7, Belanda datang mengusir Portugis, menjajah Maluku, dan menyebarkan misi yang sama, yaitu kristenisasi. Dengan datangnya kedua negara tersebut, agama Kristen mulai berkembang di Maluku. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, pada tahun 1950 terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh masyarakat Kristen yang tergabung dalam RMS (Republik Maluku Selatan) yang didukung oleh Belanda dalam upaya memisahkan Maluku dari Negara RI. Pemberontakan ini dapat dipadamkan oleh TNI yang mendapat bantuan masyarakat setempat.

Pada tahun 1999, kerusuhan yang bernuansa agama kembali berkobar di Maluku. Dimulai di Dobo, Maluku Tenggara yang akhirnya merambat ke Ambon dan Tual, lalu disusul kerusuhan di Maluku Utara pada tahun 2000 yang memakan ribuan korban jiwa dan dampak destruktif dalam berbagai aspek. Kerusuhan di Maluku Utara diawali dari perseteruan antara kecamatan Malifut dan Kao pada akhir tahun 1999. Setelah Muslim Tobelo terbantai dan terusir, penyerangan berlanjut ke kecamatam Galela, sampai akhirnya hanya satu desa Soasio tempat bertahan umat Muslim.

Kondisi ini yang kemudian memotivasi umat Islam Maluku Utara yang berbasis di Tidore dan Ternate untuk memobilisasi pasukan jihad guna melakukan perlawanan. Pasukan jihad berhasil memukul mundur pasukan Kristen dan pada puncaknya, Senin, 19 Juni 2000, mereka berhasil merebut Desa Duma yang merupakan simbol kejayaan Kristen. Di desa inilah terdapat gereja Duma yang merupakan peninggalan Belanda serta menjadi basis kristenisasi pertama di Halmahera.

Peristiwa jatuhnya Duma mengguncang dunia. Kalangan internasional serta merta bereaksi. Sampai-sampai pasukan internasional berencana nimbrung rembuk soal keamanan di Maluku. Hal ini yang kemudian memaksa TNI dan Polri memberlakukan darurat sipil di Maluku Utara untuk mengatasi situasi dan mencegah intervensi pasukan asing pada konflik Maluku.35

Tragedi Halmahera yang akhirnya merambat ke Ambon, merupakan fakta sejarah yang berdampak global. Saat perang masih berkecamuk, sebagai rasa solidaritas, banyak sekali laskar-laskar Islam yang mengirimkan pasukan ke daerah konflik tersebut untuk membantu saudara-saudara sesama Muslim. Mereka berasumsi bahwa hal tersebut adalah jihd f sablillh.

 

 

Penyikapan Tragedi Poso, Ambon, dan Halmahera

1) Akar Masalah Poso

Menurut sebagian pengamat, salah satu pemicu pertikaian adalah konflik politik lokal; perebutan jabatan Bupati Poso pada Desember 1998. Herman Parino, tokoh Kristen, gagal merebut jabatan yang diincarnya. Selanjutnya Herman Parino dan para pendukungnya menuding Arif Patangga, tokoh Muslim yang pada saat itu menjabat bupati yang hendak digantikannya, telah merekayasa gagalnya Parino. Karena emosi, Parino dengan gaya sok yes-nya menggalang massa untuk menyerang rumah Patangga. Namun rencana itu sudah tercium sebelumnya, dan dengan spontanitas para pendukung Patangga bersiap menyambut serangan itu. Dus, bentrokan tidak terelakkan lagi dan....swuing... crusss...ting... ting...aaaah dengan pedang mereka saling bacok-membacok. Dua hari kemudian giliran pendukung Patangga menyerang rumah Parino di desa Tentena.

 

Dalam pertikaian itu polisi (kayak di film India yang datangnya selalu telat) akhirnya menangkap tokoh dari kedua belah pihak. Dalam kerusuhan itu, Herman Parino dan Agfar Patangga, adik kandung Arif Patangga, dianggap telah memprovokasi massa. Tetapi nampaknya penangkapan Herman Parino yang merupakan tokoh Kristen yang dihormati membuat pendukungnya marah. Apalagi Herman lantas dijatuhi sanksi, meskipun Agfar juga dijatuhi hukuman oleh pengadilan negeri Poso.

 

Kasus inilah yang menjadi bara api dalam sekam. Ketika terjadi perkelahian pemuda Islam dan Kristen yang mabuk pada pertengahan April 2000 lalu, kerusuhan pun tidak dapat terhindarkan. Dipicu kerusuhan pada bulan April, tanggal 23 Mei 2000 Pasukan Merah melakukan penyerangan ke beberapa permukiman Muslim. Pertikaian tidak hanya terjadi antara para pendukung Herman Parino dan Arif Patangga. Perkampungan-perkampungan Muslim yang tidak ada kaitannya dengan kerusuhan sebelumnya juga ikut dihancurkan.

Selain konflik lokal, sumber intelejen menyatakan kerusuhan di Poso juga terkait dengan tokoh-tokoh di Jakarta. Salah satu kekuatan yang bermain dalam percaturan berdarah itu adalah kelompok Soeharto. Indikasinya jika proses hukum Soeharto meningkat, tingkat kerusuhan juga meningkat. Temuan di lapangan menunjukkan keterlibatan sekitar 70-an purnawirawan TNI dalam melatih Pasukan Merah. Karena itulah Pasukan Merah sangat mahir dalam menggunakan berbagai senjata api maupun tangan kosong. Pihak intelejen menyebutkan, kelompok yang berkepen-tingan terhadap kerusuhan di Poso ini juga didukung sumber dana yang mengalir deras. Kasus beredarnya milyaran uang palsu dan hilangnya dua kontainer kertas uang yang hingga kini belum ditemukan juga sangat terkait dengan berlangsungnya kerusuhan di Poso ini. Informasi sumber intelejen tersebut juga dibenarkan oleh Wakapolda Sulawesi Tengah, Kolonel Zaenal Abidin Ishak, yang menyatakan keterlibatan 15 anggota Polres Poso dan enam anggota TNI AD dalam kerusuhan itu. Mereka kini sedang mendekam di bui untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Agus Dwikarna, ketua KOMPAK Ujungpandang tidak percaya bahwa kerusuhan di Poso hanya persoalan gagalnya Herman Parino menjadi bupati. Kalau hanya karena perebutan kursi bupati kenapa ummat Islam yang dibantai, tanya Agus. Ia yakin ada upaya melenyapkan umat Islam dari bumi Poso.36

 

2) Akar Masalah Maluku yang Merambat ke Ambon

Pada tahun 1999, kerusuhan kembali meluluhlantakkan Maluku. Dimulai di Dobo, Maluku Tenggara yang merambat ke Ambon dan Tual, lalu disusul kerusuhan di Maluku Utara pada tahun 2000 yang menyebabkan jatuhnya ribuan korban jiwa. Menurut beberapa pengamat, akar konflik Maluku adalah permasalahan politik, sosial, adat, dan budaya turut memicu konflik. Terlibatnya kesultanan Ternate juga turut memberi kontribusi dalam konflik yang akhirnya bermuara pada perang antar agama.

Sesungguhnya ada banyak kesimpulan yang berkembang mengenai akar permasalahan konflik di Maluku. Namun yang tampak terlihat di permukaan adalah konflik antara Islam dengan Kristen. Untuk memahami akar permasalahannya, menurut Faisal, harus dengan melihat kembali historisitas dan perkembangan Maluku sampai sekarang. Dalam sejarah, perseteruan Islam vs Kristen di Maluku sudah terjadi sejak lama. Jadi, memang sudah ada bibit perseteruan, ditambah lagi dengan adanya faktor pendukung yang turut memberikan kontribusi pecahnya konflik antara lain yaitu kelanjutan misi kristenisasi yang diwariskan oleh kolonial Portugis dan Belanda serta ambisi RMS (Republik Maluku Selatan) yang merupakan bentukan pemerintah Kolonial Belanda untuk menjadikan Maluku sebagai negara Kristen.

Pergeseran struktur sosial budaya dan perekonomian masyarakat pun terjadi dengan banyaknya kaum pendatang dari Buton, Bugis, Makasar dan Jawa. Suku Buton, Bugis dan Makasar yang mayoritas beragama Islam mempengaruhi komposisi persentase jumlah penduduk yang beragama Islam dan Kristen. Selain itu memang suku Buton, Bugis dan Makasar terkenal ulet dalam berdagang sehingga menguasai perekonomian Maluku di samping semakin banyak orang-orang Muslim yang memegang peranan penting di dalam pemerintahan daerah Maluku. Hal ini menimbulkan kecemburuan dan ketidakmampuan penduduk Kristen untuk bersaing dan menganggap semua itu sebagai suatu ancaman. Kurang berhasilnya pemerintahan Orde Baru membangun Maluku dan skala persaingan politik untuk menguasai Maluku, turut memberikan kontribusi terhadap konflik dan kelanjutannya. Tetapi semua ini tidak terlepas dari konflik kepentingan dunia Barat terhadap Indonesia. Dimana secara jelas Belanda mempunyai peran dalam mengendalikan dan memberikan dukungan dana, persenjataan dan perlindungan terhadap RMS. Intervensi yang dilakukan oleh dunia internasional yang dipimpin Amerika terhadap pemerintah Indonesia, diduga kuat menambah skala konflik menjadi berkepanjangan.

Lagi-lagi, umat Islam menjadi sasaran empuk dalam konflik ini. Masih segar dalam ingatan kita, tragedi massaker dan pengusiran umat Islam di Tobelo pada Desember 1999 yang dilakukan secara serempak di 13 desa di Kecamatan Tobelo dalam waktu kurang dari satu hari. Kesimpangsiuran berita dan fakta tentang terbunuhnya ribuan korban jiwa, termasuk anak-anak, wanita, dan orang tua yang semula ditutup-tutupi, akhirnya terkuak. Masyarakat dunia kini mengetahui bahwa telah terjadi pelanggaran HAM berat di Indonesia yaitu peristiwa penyerangan terhadap umat Islam di kecamatan Tobelo, Halmahera, Maluku Utara.37

 

Setelah menjadi jelas duduk permasalahannya, lalu bagaimana sikap literatur Islam? Agar pembahasan ini terarah, perlu dicatat terlebih dahulu bahwa dalam khazanah fiqh klasik status kafir terbagi menjadi empat; pertama, kafir dzimmi, yaitu Non-muslim yang mendapat izin dari pemerintah untuk tinggal di negara Islam tanpa ada batas waktu, dimana nyawa dan harta benda mereka dilindungi penguasa Islam. Mereka wajib membayar pajak (jizyah) kepada pemerintahan Islam. Istilah dzimmi ini muncul setelah timbulnya pembagian negara yang didasarkan atas agama. Para fuqaha membagi dunia internasional menjadi tiga bagian, yaitu dr al-harbi (wilayah perang), dr al-Islm (wilayah Islam) dan dr al-amn (wilayah perjanjian damai). Kedua, kafir muahhad, yaitu Non-muslim yang mengadakan gencatan senjata dengan durasi empat bulan, atau sepuluh tahun jika bermaslahat bagi Muslimin, seperti saat kondisi lemahnya pasukan Muslim. Perjanjian ini hanya bisa dilakukan oleh Imam atau wakilnya.38 Ketiga, kafir mustaman, yaitu Non-muslim yang masuk negara Islam atas jaminan aman dari warga Muslim atau pemerintah, dengan durasi kurang dari satu tahun tanpa ada kompensasi pembayaran pajak (jizyah). Namun jika ia ingin berdomisili lebih dari batas waktu tersebut, maka harus mau menanggung pajak, dan saat itulah dia berstatus kafir dzimmi.39 Keempat, kafir harbi, yaitu Non-muslim yang memerangi dan menganiyaya orang Muslim. Kafir terakhir ini boleh diperangi. Dari klasifikasi golongan orang-orang kafir di atas, lantas status apa yang klop dan konkomitan untuk disematkan kepada Non-muslim di daerah-daerah konflik di muka?

 

Dalam menyikapi persoalan ini, Imam Ismail Zayn dengan tegas berfatwa; Non-muslim yang berada di Indonesia, Pakistan, India, Syam, Irak, Mesir, dan Sudan adalah kafir harbi. Karena mereka transparan dalam gerakan pemurtadan. Bahkan, mereka juga aktif menduduki jabatan di birokrasi dan mempunyai hak suara dalam pemilu (al-intikhb al-m). Sedangkan, semua itu bukanlah tindak tanduk kafir dzimmi, mustaman, dan atau muhad. Meskipun demikian, lanjut Imam Ismail Zain, umat Muslimin tetap tidak boleh memerangi mereka, karena otomatis akan menimbulkan ekses yang tidak diinginkan dalam semua aspek kehidupan. Untuk mengantisipasi hal itu, diperlukan sikap dewasa untuk menanggulangi terjadinya konflik yang menyebabkan disintegrasi bangsa, yakni dengan mengedepankan aplikasi kaidah Fiqh Menolak kehancuran (dengan tidak memerangi Non-muslim) harus diprioritaskan dibanding upaya memanifestasikan kemaslahatan (dengan seruan memerangi Non-muslim). Disamping itu, memerangi mereka adalah tindakan diluar kemampuan kita, karena mereka dilindungi undang-undang negara. Sehingga, memerangi mereka adalah sama halnya melawan pemerintah, sementara Allah swt. tidak menuntut hamba-Nya melakukan sesuatu yang diluar batas kemampuan.40

Pernyataan Ismail Zayn tersebut dapat disimpulkan, bahwa status Non-muslim di Indonesia adalah harbi, namun mereka tetap tidak boleh diperangi karena terdapat argumen yang beliau petik dari kaidah fiqh yang bernuansa humanis. Intisari penerapan kaidah fiqh itu adalah anjuran menghindari konflik. Menurut penulis, pernyataan Ismail Zayn dapat dibenarkan. Sebab pernyataan itu hanya berlaku dalam situasi normal; jika keadaan stabil dan kaum Muslimin tidak mendapatkan ancaman dari Non-muslim.

Namun sekarang situasinya lain, khususnya di Poso, Ambon, dan Halmahera. Umat Islam di sana telah mendapatkan pembantaian yang tidak manusiawi. Coretan-coretan dinding yang melecehkan Islam juga sangat mudah ditemui di beberapa sudut permukiman warga. Yang lebih mengagetkan adalah temuan Komite Penanggulangan Krisis (Kompak) Ujungpandang saat melakukan investigasi di Poso, yang menunjukkan adanya keterlibatan gereja dalam beberapa kerusuhan. Entah berapa persen kemungkinan kebenarannya, yang pasti temuan itu membuktikan, bahwa sebelum laskar Non-muslim melakukan penyerangan, mereka menerima pemberkatan dari gereja, kata Agus Dwikarna, ketua KOMPAK Ujungpandang, misalnya pemberkatan yang dilakukan Pendeta Leniy di gereja Silanca (8/6/00) dan Pendeta Rinaldy Damanik di halaman Puskesmas depan Gereja Sinode Tentena. Selain kepada pasukan Kelelawar Hitam, pemberkatan juga diberikan kepada para perusuh (destruktor). Pemberkatan ini memberikan semangat dan kebencian yang tinggi masyarakat Kristen kepada ummat Islam. Kini kabupaten yang dikenal sebagai penghasil kakau terbesar ini nyaris seperti kota mati karena ditinggal penduduknya mengungsi, bangunan yang ditinggalkan hanya tersisa puing-puing yang berserakan.

Disamping itu, pihak gereja melalui Crisis Center GKST untuk kerusuhan Poso juga mengakui bahwa dikalangan mereka ada kelompok terlatih yang berpakaian ala ninja. Mereka menyebutnya sebagai Pejuang Pemulihan Keamanan Poso. Ada ciri-ciri yang sama ketika kelompok merah menyerang. Mereka selalu mengenakan pakaian ala ninja yang serba hitam, semua tertutup kecuali mata. Mereka juga mengenakan atribut salib di dada dan ikat kepala merah. Mayat-mayat juga ditemukan selalu dalam kondisi rusak akibat siksaan atau sengaja dicincang hingga tidak dikenal identitasnya. Dalam berbagai penyerangan pasukan merah selalu di atas angin. Karena itu maka mayoritas korbannya adalah orang-orang Muslim.41

Atas dasar informasi di atas, jika memang benar, maka status Non-muslim yang berada di daerah-daerah konflik tersebut jelas-jelas harbi. Bagaimana tidak? Mereka telah melecehkan agama Islam dan menyerang umat Islam!

 

Meski demikian, kasus Ambon, Poso dan Halmahera tetap masih merupakan masalah sosial yang sangat pelik. Sehingga, upaya-upaya justifikasinya pun menemui banyak kendala, salah satunya adalah karena adanya kemungkinan bahwa tujuan masing-masing pelaku berbeda-beda, sehingga sulit mengidentifikasi satu persatu dari tujuan pelakunya. Padahal, termasuk jihad atau tidaknya sebuah peperangan berpulang pada tujuan pelakunya. Dalam literatur Islam, terdapat pemilahan dalam kaitannya dengan tujuan peperangan serta konsekuensinya. Jika tujuannya adalah melindungi keselamatan jiwa dan harta dari sesuatu yang mengancamnya, serta telah memenuhi prosedur jihad, maka termasuk jihad. Sedangkan, jika tujuan utamanya adalah unjuk kekuatan, unjuk keberanian, kesombongan, pamer, fanatisme golongan,42 balas dendam, kecembu-ruan, rivalitas, malignitas (adwah), dan memperebutkan jabatan, tidak dapat dibenarkan. Sementara, berdasarkan realita di lapangan dalam dokumen rekaman Komite Penanggulangan Krisis, yang berisi bukti-bukti pembantaian serta pengakuan dari saudara-saudara kita sesama Muslim di daerah konflik tersebut, jika dokumen tersebut otentik dan bukan rekayasa, maka menjadi jelas pihak Non-muslim adalah pelaku penyerangan terlebih dahulu, sementara umat Muslim tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mempertahankan diri dengan melakukan perlawanan (difai). Jika memang demikian realitanya, kiranya cukup memadahi untuk pertimbangan kesimpulan, bahwa peperangan diberbagai tempat di atas adalah termasuk jihd f sablillh. Namun perlu diingat, jika motif utamanya adalah hanya karena perebutan kekuasaan, seperti informasi dan analisis sebagian pengamat di muka, maka peperangan tersebut tidak dapat dibenarkan oleh Islam. Wallhu alam bi al-shawb. []



1 Abd al-Qadir Awdah, al-Tasyr al-JanaI al-Islmi, Muassasah al-Rislah, cet. XI, 1996, vol. I, h. 30-35.

2 Wizarah al-Awqaf wa al-Syuun bi al-Kuwait, Mausah al-Fiqhiyyah, Wizrah al-Awqf al-Kuwaitiyyah, vol. XVI, h. 123.

3 PT Ichtiar Baru van Hoeve, Ensiklopedi Islam, cet. 4, Jakarta: PT Ikrar Mandiri Abadi, vol. III, h. 186.

4 Dr. Wahbah al-Zuhayli, Fiqh al-Islam, Dar al-Fikr, vol. VI, h. 413-414. Lihat juga Dr. Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam, cet. I, Jakarta: PT. Temprint, h. 155-158.

5 Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, M.A., Islam Kebangsaan, Penerbit Pustaka Ciganjur, cet. I, h. 137.

6 Dinamisme adalah suatu paham yang mempercayai adanya benda-benda tertentu yang mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

7 Animisme adalah agama yang mempercayai bahwa tiap-tiap benda, baik yang bernyawa maupun yang tidak mempunyai roh. Menurut Edward Burnett Tylor, animisme adalah agama yang tertua di bumi ini.

8 Politeisme adalah kepercayaan kepeda dewa-dewa. Setiap dewa mempunyai tugas tertentu. Bila di antara kelompok dewa-dewa itu ada yang lebih besar dan dihormati, maka dewa lainnya ditinggalkan. Paham demikian ini disebut henoteisme.

9 Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh al-Qurthubi Abu Abdillah, Tafsr al-Qurthbi, Dar al-Syabi, vol. II, h. 71, vol. I, h. 62, vol. XVII, h. 203, & vol. XIX, h. 149. Lihat juga Ismal bin Umar bin Katsir al-Damsuqi Abu al-Fida, Tafsr Ibn al-Katsr, Dar al-Fikr, vol. I, h. 526.

10 Ensiklopedi Islam. Op. cit., vol. III, h. 266.

11 Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh al-Qurthubi Abu Abdillah. Op. cit., vol. II, h. 347, vol. II, h. 35 & vol. V, h. 281. Lihat juga Ismal bin Umar bin Katsir al-Damsuqi abu al-fida. Op. cit., h. 227.

12 Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh al-Qurthubi Abu Abdillah. Op. cit., vol. III, h. 216. Dr. Musthafa al-Hin dan Dr. Musthafa al-Bugha, Fiqh al-Manhaji, Beirut: Dr al-Qalam, cet. IV, 1996 M., jilid: III, vol. VIII, h. 116-118.

13 Masfah al-Qashr, menurut Ahmad al-Husayn al-Mishri=94,500 m. Versi al-Makmun=89,999,992 m. Dalam kitab Tanwr al-Qulb=86 km. Menurut Hanafiyyah=96 km. Menurut mayoritas ulama=119,999,88 m. Sedang menurut Wahbah al-Zuhayli dalam kitab Fiqh al-Islami=88,74 km. Lihat dalam buku Mengenal Istilah dan Rumus Fuqaha, penyusun Kelas III Aliyah 1997, Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien.

14 Abi Zakaria Yahya bin Syarif al-Nawawi, Raudhah al-Thlibn, Maktabah al-Islmi, vol. VII, h. 416. Lihat juga Wizrah al-Awqf wa al-Syun bi al-Kuwait. Op. cit., vol. III, h. 168.

15 Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh al-Qurthubi Abu Abdillah. Op. cit., vol. II, h. 192 & 353.

16 Imam Samudra, Aku Melawan Teroris, Jazera, h. 113.

17 Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farh al-Qurthubi Abu Abdillah. Loc. cit.

18 Abd al-Rahman bin Khaldun (732-808 H./1332-1406 M.), Muqaddimah Ibnu Khaldn, cet. Dar al-Fikr, h. 270.

19 Muhammad bin Ali bin Muhammad al-Syaukani, Nayl al-Awthr, Beirut: Dr al-Jail, 1973, vol. VII, h. 244.

20 Dr. Mushtafa al-Hin dan Dr. Mushtafa al-Bugha, Op. cit, jilid: III, vol; VIII, h. 124-125.

21 Syaikh Muhammad al-Ghazali, Al-Ghazali Menjawab, trj. Miah Sul an al-Islm, (pent.) Muhammad Thahir dan Abu Layla, Mizan Bandung, cet. II, 1989, h.174.

22 Dr. Azyumardi Azra. Op. cit. h. 128.

23 Ibid, h. 129. Lihat juga W. Montgomery Watt, Islamic Political Thought, Edinburgh: 1968, h. 14-16.

24 Ibid.

25 Dr. Mushtafa al-Hin dan Dr. Mushtafa al-Bugha, Op. cit, jilid: III, vol; VIII, h. 115.

26 Dr. Azyumardi Azra. Op. cit., h. 145. Periksa dalam T.P. Thornton, Terror as a Weapon of Politikal Agitation, dalam H. Eckstein (ed), Internal War, New York: 1964, 73-74.

27 Abd al-Rahman bin Khaldun, Muqaddimah, Dr al-Fikr, h. 270.

28 Dr. Mushthafa al-Hin dan Dr. Mushthafa al-Bugha. Op. cit., jilid: III, vol. VIII, h. 126-127.

29 Ibid, h. 124.

30 Ensiklopedi Islam. Op. cit., vol. III, h. 271.

31 Dr. Azyumardi Azra. Op. cit., h. 131.

32 Imam Samudra. Op. cit., h. 113.

33 Ibid, h. 112.

34 www.google.co.id/poso. From: Faisal faisal@rad.net.id.

35 www.google.co.id/halmahera. MER-C (Medical Emergency Rescue Committee).

36 www.google.co.id/poso. From: Faisal@rad.net.id.

37 www.google.co.id/halmahera. MER-C (Medical Emergency Rescue Committee).

38 Imam Syamsuddin bin Abi Abbas Ahmad bin Hamzah Syihabuddin al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, vol. VIII, h.109, dan Dr. Mushtafa al-Hin dan Dr. Mushtafa al-Bugha. Op. cit., vol. VI, h. 114-148.

39 Dr. Mushtafa al-Hin dan Dr. Mushtafa al-Bugha. Op. cit., vol. VI h. 144, dan Dr. Wahbah Zuhayli. Op. cit., vol. VI, h. 433-434.

40 Ismail Ùtsman Zayn al-Yamani al-Maki, Qurrat al-Ayn bi Fatawi Ismail Zayn. t.t. Maktabah al-Barakah, h. 200.

41 www.google.co.id/halmahera. MER-C (Medical Emergency Rescue Committee).

42 Menurut Ibnu Khaldun, sejarawan dan sosiolog Muslim, ashbiah timbul secara alamiah dalam kehidupan manusia karena adanya pertalian darah atau perkauman (shilah al-rahm). Sebelum datangnya Islam, banyak sekali bangsa-bangsa, termasuk Bangsa Arab, menganut sistem tersebut dan hidup dalam kelompok kekerabatan yang besar. Struktur masyarakat didasarkan pada susunan klan (clan organization) yang keanggotaannya didasarkan pada hubungan darah. Sistem hubungan seperti itu dapat menimbulkan solidaritas kesukuan yang kuat dan lebih jauh dapat menimbulkan sifat patriotik yang berlebihan, suku lain yang dianggap musuh harus dibinasakan. Akibatnya sering terjadi konflik dan pertumbahan darah antarsuku. Suatu suku yang menpunyai ashibah yang kuat berhak menguasai suku yang lemah. Suku yang kuat dapat pula membentuk kekuasaan atas suku-suku lemah yang ditaklukannya. Selengkapnya baca Abd al-Rahman bin al-Khaldn, Muqadimah ibn al-Khaln, h. 128.