Menggugat Pluralisme, Sebuah Bacaan Kritis

Pendahuluan

Pluralisme agama sebagai sebuah paham dapat dijelaskan sebagai paham yang, (i) berpandangan bahwa esensi semua agama sama, (ii) muncul sebagai reaksi, dan atau melanjutkan, globalisasi dan modernisasi, (iii)menyetarakan semua agama dalam satu tingkatan yang sejajar dan (iv)bertujuan untuk menghilangkan konflik antar agama. Gagasan ini dalam sejarahnya merupakan respon teologis dari kekacauan yang terjadi di Barat pada permulaan abad pertengahan, yang disebabkan oleh pertikaian tajam antara sekte-sekte Kristen pada saat itu. Kenyataan semacam kemudian mendapat respon dari para teolog Kristen dengan mengenalkan paham keterbukaan dan globalisasi yang berusaha meminimalkan perbedaan yang ada dengan mereduksi agama (baca; Kristen), dengan berbagai aliran didalamnya, hanya kedalam aspek esoteris seraya mengabaikan aspek eksoteris. Pemikiran ini kemudian berpengaruh secara umum pada masa selanjutnya.

Ada dua pandangan yang dapat disebut sebagai pluralisme sebagaimana pengertian diatas. Keduanya adalah teologi global dan paham kesatuan transenden agama-agama (the unity transcendent of religions). Aliran pertama berpijak pada pentingnya penyelarasan segala sesuatu, termasuk agama, pada fenomena global dan modernisasi. Pendekatan yang digunakan pandangan ini bersifat sosiologis dan humaniora. Solusi yang dihasilkan akhirnya bersifat sosiologis pula. Bermula bahwa dunia saat ini sedang mengalami ’penyempitan’ dengan globalisasi, akhirnya identitas budaya, ideologis bahkan agama harus lebur dan disesuaikan dengan zaman modern. Keyakinan yang diusung kelompok ini bahwa seluruh agama, karena desakan globalisasi, pada akhirnya akan berubah secara bertahap dan ’bertemu’ di satu titik yang melebur semua agama menjadi sebuah agama global atau yang di kenal sebagai global theology.

Berbeda dengan yang pertama, kelompok kedua justru nampak sebagai ’musuh’ dari globalisasi, yang menghilangkan nilai religius dan sakral agama-agama. Dalam usaha ’pembelaannya’ terhadap agama-agama kelompok ini mengatakan bahwa sebuah agama tidak dapat begitu saja tunduk pada kajian sosiologis, ia harus dipahami secara mendalam dan menyeluruh. Kelompok ini memilih kajian religius-filosofis dengan pendekatan tradisional[1] dan ingin menemukan esensi terdalam dari setiap agama. Alih-alih membiarkan setiap agama dengan ciri khasnya, kelompok ini ingin mengungkap kesamaan semua agama, terutama dalam hal-hal sakral dan mistis. Salah satu konsep yang dikenalkan aliran ini adalah konsep sophia perennis, yang dalam bahasa Arab disebut al-hikmah al-khalidah. Dalam konsep ini dijelaskan bahwa setiap agama memiliki tradisi sakral yang harus dipelihara, tanpa menganggap salah satunya sebagai lebih unggul daripada yang lain. Karenanya pandangan bahwa agama-agama adalah beberapa jalan yang sama dan setara menuju puncak, merupakan keniscayaan pandangan ini. Kedua pandangan ini pada akhirnya akan menggiring pada kesimpulan mungkinnya, atau perlunya, transformasi agama-agama pada masa mendatang. Demikian perkenalan singkat terhadap dua pandangan kesatuan agama (wahdatul adyan) yang berbeda sudut pandang. Selanjutnya akan dijelaskan lebih terperinci tentang keduanya.

 

Pluralisme Transendentalis

            Aliran ini dinamakan sebagai pluralisme karena pada akhirnya menghasilkan kesimpulan bahwa semua agama pada tataran esoteris dan transenden adalah sama, walaupun sepintas terlihat bahwa pandangan ini bertentangan dengan globalisasi ala pluralisme. Sebutan transendentalis[2] dilekatkan karena inti pemikiran aliran ini adalah kesatuan transenden semua agama. Aliran ini pada mulanya dilatarbelakangi oleh pengalaman mistik para penggagasnya, seperti Rene Guenon dan Frithjof Schuon. Karenanya wajar bila kemudian oleh sebagian kalangan paham ini dinilai lahir dan berasal dari Barat.

            Tema utama yang menjadi pusat perhatian kaum transendentalis—jika dapat disebut demikian—adalah seputar esoterisme dan eksoterisme. Dalam memandang agama, aliran ini menilai bahwa didalam agama terdapat hakikat esoteris dan eksoteris, yang pertama disebut hakikat transenden yang tunggal dalam semua agama, sementara yang kedua disebut hakikat-hakikat religius yang merupakan bentuk formal dari setiap agama. Keragaman eksoteris agama-agama, bagi aliran ini adalah normal dan wajar karena berdasarkan pada, dan hidup dalam, perjalanan sejarah manusia. Dengan konsekuensi tidak ada satu agamapun yang berhak mengakui bahwa ajarannya, terutama segi eksoteris darinya, adalah mutlak dan menjadi kebenaran tunggal, dan semua agama adalah ’bentuk-bentuk penjelmaan yang beragam dari Kebenaran tunggal’. Secara teologis ada dua hal yang sepintas terlihat dapat memperkuat klaim mereka tentang kesamaan semua agama. Pertama, dalam persoalan ketuhanan, agama secara umum dapat diklaim sebagai memiliki tuhan yang sama. Namun ternyata hal ini hanyalah pandangan sekilas saja. Jika diteliti lebih lanjut ternyata ada perbedaan serius dalam konsep ketuhanan agama-agama yang ada. Kedua, dalam tataran moral-etik, seluruh agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Sekalipun dalam hal ini segera nampak bahwa seluruh agama tidak ada yang mengajarkan kejahatan, namun hal itu tidak berarti bahwa semua agama sama-sama benar. Kesejajaran agama-agama mungkin terjadi dalam rangka dialog tentang moral-etis, namun ia menjadi tidak logis saat ditarik ke dalam wilayah teologi dan metafisika yang merupakan hal yang paling mendasar dalam agama.

            Dalam pandangan fiqh, keempat madzhab fiqh sepakat bahwa orang yang tidak mempercayai bahwa orang yang memeluk agama selain Islam adalah kafir, atau meragukan bahwa mereka kafir atau menganggap agama mereka tidak salah adalah dengan sendirinya dia menjadi kafir meskipun dia memeluk dan mempercayai Islam.[3]



[1] Tradisional di sini tidak dipahami seperti pemahaman umum, bahwa ia adalah keyakinan, etika dan nilai-nilai yang diwarisi secara turun temurun . Dalam maknanya yang baru tradisi dipahami sebagai Realitas-realitas atau prinsip-prinsip dasar ketuhanan yang asli yang diwahyukan kepada seluruh manusia dan segenap alam melalui perantara para nabi, rasul dan perantara lain, dengan berbagai cabang prinsip tersebut dan aplikasinya dalam berbagai bidang kehidupan. Lihat Seyyed Hossein Nasr, Knowledge and The Sacred, Lahore, Suhail Academy, h. 67-68, dalam Majalah Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA, thn I no. 3. ………

[2] Secara singkat transenden dalam konteks ini dapat dijelaskan sebagai ’berada diluar batas-batas alam semesta, dan karenanya berada diluar jangkauan ilmu pengetahuan dan pengalaman manusia’.

[3] Muhyiddin Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Rawdlah al-Thalibin, Beirut, Maktab al-Islami, 1985, X/70.