NARKOBA

Studi Manhaji Dalam Literatur Islam

 

 

 

Kemajuan di bidang farmasi adalah hal yang patut untuk disyukuri. Namun di sisi lain juga menyebabkan munculnya keprihatinan masyarakat, menyusul adanya peningkatan penyalahgunaan obat-obatan terlarang (narkotika). Masalah penyalahguaan narkotika dan zat-zat berbahaya lainnya dipandang telah menjadi ancaman serius terhadap kesehatan dan moral penduduk di setiap negara, yang mestinya menuntut penanggulangan ekstra dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Karena menyadari kompleksnya permasalahan serta ancaman yang nyata telah melanda generasi muda, maka tak heran bila problematika ini ditetapkan menjadi permasalahan nasional. Untuk membantu penyelesaiannya, ada baiknya jika kami ketengahkan kajian manhaji dalam pemikiran Islam menurut berbagai perspektif tentang pemakaian narkotika dan zat-zat berbahaya lainnya.

 

MENGENALI NARKOTIKA

1.   Pengertian Narkotika

Narkotika atau obat bius yang dalam bahasa Inggrisnya disebut narcotic adalah semua bahan obat yang mempunyai efek kerja yang umumnya bersifat:

a.   Membius (menurunkan kesadaran);

b.   Merangsang (meningkatkan semangat aktivitas);

c.    Ketagihan (ketergantungan/dependence);

d.   Menimbulkan daya berkhayal (halusinasi).

Zat ini mempunyai dua klasifikasi: narkotika dalam cakupan sempit dan narkotika dalam cakupan luas. Narkotika dalam cakupan sempit bersifat alami, yaitu semua bahan opiaten, cocaine dan ganja. Sedangkan narkotika dalam cakupan luas bersifat alami dan synthetis (campuran), yaitu semua bahan obat-obatan yang berasal dari:

1.   Papaver Somniferum (opium/candu, morphine, heroine/putaw dsb);

2.   Eryth Roxylon coca (cocaine);

3.   Cannabis sativa (ganja/hasyisy);

4.   Golongan obat-obatan penenang (depressants);

5.   Golongan obat-obatan perangsang (stimulants);

6.   Golongan obat-obatan khayal (hallucinogen).

 

2.   Jenis-jenis Tanaman Bahan Narkotika

Menurut undang-undang Nomor 9 Tahun 1976, jenis narkotika berasal dari tiga tanaman;

a.   Tanaman candu atau papaver somniverum L. Ia juga dikenal dengan sebutan opium atau opioda.

Di daratan Tiongkok candu yang sudah dimasak mempunyai beberapa sebutan diantaranya: Gee-bow atau Fu-gee, Fung, Toy atau Gorn. Tanaman ini telah dikenal dan digunakan di negeri tersebut sejak Tahun 2735 SM. Di Mesopotamia tanaman ini disebut Gil yang berarti bahan yang menggembirakan dan telah dikenal sejak prasejarah. Di jepang tanaman tersebut dikenal dengan sebutan Ikkanshu. Tanaman candu tidak terdapat di Indonesia, tetapi banyak tumbuh di negara: Turki, Iran, Irak, Afganistan, India, Mesir, China, negara-negara Balkan, Rusia bagian selatan, Afrika Utara, Mexico, Thailand, dsb.

Ciri-ciri tanaman tersebut berbentuk tumbuhan semak dengan tinggi 70 sampai 110 cm, berbunga merah, putih atau ungu. Daunnya berwarna hijau tua keperak-perakan, dengan ukuran lebar 5 sampai 10 cm, panjang 10 sampai 25 cm, berlekuk-lekuk. Buahnya melekat pada ujung tangkai yang berbentuk seperti gong, serta tangkai buah agak panjang dan tegak hingga buah keluar dari rumpun pohonnya. Tiap tangkai hanya memiliki 1 buah saja. Buah berbentuk buah polong dan pada ujungnya terdapat gerigi.

Candu mentah dapat ditemukan di bagian kulit buah, daun dan lainnya yang tercampur sewaktu dilakukan pengum-pulan getah yang mengering pada kulit buah. Candu ini mengandung 20 sampai 23 alcaloida dan asam micon. Alcaloida menurut riset para ahli farmasi merupakan zat hablur, semacam endapan putih yang dapat larut dalam alkohol. Adapun alcaloida yang ada dalam candu terbagi menjadi dua golongan yaitu:

1)  Golongan dengan inti Phenantreen, meliputi: morphine, codeine, dionine, thebine dsb.

2)  Golongan dengan inti Benzyliso-chinoline, meliputi: narciene, papaverine, heroine dsb.

Adapun candu masak adalah candu yang diperoleh dari membersihkan dan mengolah lebih lanjut candu mentah dengan dua proses: 1) Candu masakan dingin disebut cingko; 2) Candu masakan hangat disebut jicingko.

 

Morphine

Morphine merupakan salah satu zat atau bagian terpenting dari candu. Ia adalah alcaloida yang terpenting dari candu dan dalam ilmu kimia mempunyai rumus: C17 H19 NO3. Cara pembuatannya adalah dengan mengolah candu mentah secara kimiawi sehingga akan terdapat zat morphine yang terisolasi yang berwujud seperti kapas atau bubuk putih yang rasanya pahit. Adapun morphine terdapat 4 macam: morphine sulfaat, morphine hydrochlorida, morphine acetaat dan morphine tartraat.

Efek yang ditimbulkan sebab mengkonsumsi morphine diantaranya: 1) menimbulkan gangguan ingatan seperti orang mabuk minuman keras; 2) tidur nyenyak dan bermimpi indah (fly); 3) ketagihan (depedence) dsb.

 

Jadam

Jadam adalah bahan yang menyerupai candu masak. Sifat-sifatnya adalah berwarna hitam seperti aspal, materinya lembek, tidak berbau langu, rasanya pahit sekali melebihi daun putra wali. Ia berasal dari getah pohon tiken yang terdapat antara lain di daerah Lumajang Jawa Timur.

 

b.   Tanaman cocaine (Eryth Roxylon Coca)

Tanaman ini berbentuk semak belukar. Batang, cabang dan tangkainya berkayu, dapat tumbuh mencapai ketinggian kurang lebih 2 meter. Daunnya tidak bertangkai, helai daunnya hanya satu pada tiap tangkai dan kaku. Bentuk daunnya bulat lonjong dengan ujung runcing seperti akasia atau tanjung, permukaannya licin, ukurannya kecil-kecil berwarna hijau. Bunganya kecil dan keras sebesar kacang tanah berwarna kuning kemerahan dan semakin merah jika telah masak.

c.    Tanaman Ganja

Ganja adalah nama pohon yang dalam ilmu tumbuh-tumbuhan disebut canabis sativa. Pohon ini dibedakan menjadi dua jenis, meliputi ganja jantan dan ganja betina. Ganja jantan tidak berbunga maupun berbuah sehingga tidak dapat diambil hasilnya kecuali seratnya digunakan untuk tali. Sedangkan ganja betina berbuah dan berbunga. Pohon ini tergolong tanaman perdu. Batang, cabang dan tangkainya berkayum dengan ketinggian antara 1,5 sampai 2,5 meter. Daun ganja mempunyai ciri khas yaitu ganjil antara 5,7 atau 9 helai. Bentuknya panjang, pinggirnya bergerigi, ujungnya lancip, urat daunnya memanjang. Bagian atasnya halus sedang bagian bawahnya (baliknya) kasar. Ia mempunyai banyak sekali sebutan; di India ia disebut Hashisy, Bhang, Kharas, di Turki ia disebut Kabag, di Amerika terkenal dengan Marihuana dan di Belanda populer dengan sebutan Indische kruidhennep.

 

3. Istilah-istilah Mengenai Obat-Obatan Terlarang

a. Drug

Drug adalah obat atau zat inti yang jika dimasukkan ke dalam badan (ditelan atau melalui injeksi) dapat menimbulkan dampak pada fungsi badan. Maka secara umum obat yang dikonsumsi melalui resep dokter juga dapat disebut drug. Namun secara khusus drug lebih diidentikkan dengan narkotik dan zat yang memabukkan termasuk spiritus, alkohol, thinner dsb. Yang sering disalahgunakan para pecandu narkotik.

b. Psychotropic Substances

Term ini mulai muncul pada Tahun 1971. Psychotropic substances artinya adalah mengubah jiwa dan mental manusia yang memakainya. Jenis obat ini yang sangat populer saat ini adalah ecstasy.

 

c. Depressants

Ia pada dasarnya adalah obat penenang yang berkerja untuk mengurangi kepekaan pusat syaraf sehingga pemakainya menjadi mudah tidur. Materi inti obat ini adalah morphine atau heroine yang diproses secara kimia dengan dicampurkan pada berbagai macam obat seperti obat sakit kepala, obat rematik, obat batuk, obat flu dan lain-lain semisal Hypnotics (jenis obat tidur) dan Tranquilizers (obat penenang).

 

d. Stimulans

Zat ini dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan pada sistem pusat syaraf dan merangsang kemampuan fisik. Namun, daya mental dan konsentrasinya justru cenderung melemah.

 

e. Hallucinegen

Drug dapat berpengaruh menimbulkan khayalan. Selama obat ini masih berpengaruh maka si pemakai akan berperilaku aneh, misalnya tertawa sendiri atau bicara yang tidak karuan karena keseimbangan dan kesadaran pemakai berkurang. Kemudian diikuti oleh perasaan resah dan tidak menyukai setiap orang yang mendekatinya. Termasuk dalam golongan drug ini adalah diantaranya: LSD (Lysergic Acid Diethylamide), PCP (Phendylidine),DMT (Demithyltrytamine), Psilacybe Mushrooms.

 

f. Dependence (ketergantungan).

a.   Psychological dependence. Pecandu drug disebut psychologically dependent jika ia harus memakai drug secara terus-terusan sehingga menjadi habitual (kebiasaan) dan jika tidak dipenuhi dia tidak dapat beraktivitas secara wajar. Seperti gelisah, takut tanpa sebab, hilang semangat dan konsentrasi dsb.

b.   Physical dependence. Jika pemakaian drug itu tidak terpenuhi atau dihentikan maka akan mengganggu kondisi jasma-ninya. Seperti badan tidak bertenaga atau lemas, otot dan persendian terasa ngilu, kepala pusing, badan terasa dingin dan gemetar. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan pem-berian obat selain drug yang biasa dikonsumsi itu.

g. Withdrawl Systems

Yakni kondisi seseorang yang telah mengalami keter-gantungan drug (depedence) kemudian disebabkan hal-hal tertentu lalu ia tidak bisa mendapatkannya lagi. Sehingga kare-na kebutuhannya tidak terpenuhi maka akibatnya ia akan mengalami gangguan siksaan jasmani dan rohani atau mental.

 

h. Tolerance and Escalation Tolerance

Yaitu kecenderungan pecandu drug dari hari ke hari untuk meningkatkan dosis, maka pada tingkat melewati batas pecandu akan menemui ajalnya karena overdosis.

 

i. LSD atau Ecstasy

LSD (Lisergic Acid Diethylamide) adalah drug yang digolongkan dalam jenis hallucinogen (pemicu khayal). Wujud drug ini berupa cairan bening tidak berbau dan tidak ada rasanya, ada juga yang berupa tablet yang berwarna-warni yang saat ini dikenal dengan ecstasy. Ia dapat mendorong pemakainya melakukan tindakan nekad dan berdampak pada hilangnya kontrol berpikir dan berbicara. Dalam jangka panjang akan menimbulkan akibat serius seperti leukemia (penyakit kanker darah), serangan grandmal epilepsi (sejenis ayan) dan kelainan janin bagi pecandu wanita.

 

4.   Efek Mengkonsumsi Narkoba

Dampak yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi narkoba secara umum adalah sebagai berikut :

a.   Euforia

1)  Perasaan senang dan gembira yang luar biasa ditambah munculnya keberanian yang tidak wajar;

2)  Hilangnya segala beban pikiran seperti resah, khawatir, menyesal dsb. Sehingga apa yang ia temui terasa indah dan cenderung beraktifitas dengan penuh rasa percaya diri.

b.   Delirium

1)  Keadaan di atas disusul oleh ketegangan psykhis dan tekanan jiwa yang berat;

2)  Kecurigaan berlebihan atau pikiran paranoid, kemudian diikuti kegelisahan (Agitasi psikomotor) yang mencekam sehingga timbul gangguan kordinasi gerakan motorik (gangguan kerja otak)

 

c.   Hallucination

1)  Timbul khayalan yang tidak terkendali;

2)  Indera penglihatan dan pendengaran tidak stabil. Sehingga tampak dan terdengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada disekitarnya.

 

d.   Weakness

1)   Keadaan jasmani dan rohaninya lemah;

2)   Ingin tidur terus-menerus;

3)   Hilang semangat bekerja dan ingin menyendiri.

 

e.   Drawsiness

Kesadaran turun seperti setengah tidur dan pikiran kacau ingin menambah dosisnya.1

 

 

MANHAJ HUKUM NARKOBA

Al-Quran mempunyai banyak fungsi, di antaranya adalah memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Bukti-bukti otentik menunjukkan bahwa ia turun berdialog dan merespons paradigma maupun peristiwa-peristiwa yang terjadi, bahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada baginda Nabi Muhammad Saw. Di samping itu, ayat-ayat al-Quran diturunkan sedikit demi sedikit (gradual), karena menyesuaikan situasi dan kondisi serta mempertimbangkan aspek psikologis masyarakat waktu itu, seperti dalam beberapa ayat yang menginformasikan tentang hukum khamr. Pada mulanya al-Quran menjelaskan kehalalannya, sebagaimana dalam surat al-Nahl ayat: 67:

.

Dan dari buah kurma dan anggur kamu buat minuman yang memabukkan dan rizqi yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. (QS: al-Nahl: 67)

Bagi orang-orang Muslim waktu itu, khamr hukumnya halal dan mabuk-mabukan merupakan kebiasaan mereka. Namun tidak lama kemudian, Umar bin Khathab, Muadz bin Jabal beserta golongan Sahabat lain mengadu kepada Nabi, bahwa ternyata khamr dapat menghilangkan kesadaran akal atau gangguan motorik, sedangkan judi dapat merugikan, maka turunlah ayat:

.

Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia tetapi dosa keduanya lebih besar dari pada kemanfaatannya.(QS: al-Baqarah: 219).

Setelah diturunkannya ayat ini, sebagian dari mereka mulai meninggalkan kebiasaannya meminum khamr. Akan tetapi segolongan lain masih saja gemar mengkonsumsinya. Kemudian di lain waktu Abd al-Rahman bin Auf mengajak mereka mendirikan shalat, dan bertepatan saat itu mereka dalam keadaan mabuk. Ketika shalat sedang ditunaikan, mereka salah dalam membaca ayat Qul y ayyuhal kfirn l abudu m tabudn (Katakanlah: Hai orang-orang kafir! aku tidak menyembah apa yang kamu sembah), dibaca Qul y ayyuhal kfirn abudu m tabudn (Katakanlah: Hai orang-orang kafir! Aku menyembah apa yang kamu sembah), lalu turunlah ayat:

Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu shalat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. (QS: al-Nisa: 43)

Pasca turunnya ayat ini, dampak positif mulai nampak. Terbukti jumlah peminum saat itu turun drastis. Pada suatu hari, Usman bin Malik memanggil jama'ah Anshar, tapi ternyata sebagian dari mereka sedang bertengkar karena mabuk. Dengan terjadinya insiden ini, Nabi sangat prihatin. Ekspresi kesedihan itu nampak dalam doa beliau saat meminta kepada Allah agar memberikan kejelasan hukumnya khamr, maka akhirnya diturunkan ayat:

. .

Hai orang-orang yang beriman sesungguuhnya khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu, agar kamu mendapat keuntungan. Sesungghnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran khamr dan berjudi itu. Dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang maka berhentilah kamu (dari pekerjaan itu). (QS: al-Maidah: 90-91)

Barpijak dari larangan memakai khamr yang secara gradual ini, ahli hukum melalui penalarannya dengan menyimpulkan bahwa ayat terakhir membatalkan ayat sebelumnya. Berangkat dari metode gradual ini, jika direnungkan, maka akan dipahami bahwa larangan ini mengandung beberapa hikmah. Di antaranya hikmah-hikmah itu adalah: pertama, tampak bahwa turunnya ayat-ayat al-Quran sejalan dengan etika dakwah. Dalam melarang hal yang sudah mengakar dalam kebiasaan suatu masyarakat, al-Quran turun secara gradual mempertimbangkan strata keimanan objek yang sedang mengalami transisi dari ateisme dan animisme menuju monoteisme, serta aspek psikis-antropologis masyarakat waktu itu. Hingga manakala keimanan objek dakwah telah kokoh, barulah dijelaskan larangan memakai khamr secara tegas; kedua, sejak dari awal, Allah Swt. mempertimbangkan adat kebiasaan Muslim primitif dalam mengkonsumsi khamr. Sehingga, jika khamr dilarang tidak secara pelan-pelan, niscaya mereka akan merasa keberatan untuk meninggalkan kebiasaannya itu.2

Nabi Muhammad Saw selaku Rasul yang ditugaskan menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran, kerap sekali menjelaskan ayat-ayat dengan bentuk ungkapan yang universal. Hal itu kami dapati dalam beberapa Hadts (propetic report) dengan rangkaian tranmisi (sanad) yang shahh dan hasan, di antaranya:

Semua perkara yang menutupi akal dan semua perkara yang memabukan itu haram.3 (HR. Abu Dawud).

 

Dari Hadts tersebut, muncul pelbagai versi pendapat dalam menginterpretasikan lafal khamr secara tekstualistik-linguistik.

Versi pertama; khamr adalah minuman memabukkan yang difermentasikan dari anggur.

Versi kedua; minuman memabukkan yang difermentasikan dari anggur dan korma.

Versi ketiga; minuman memabukkan yang diproduksi dari anggur dan korma tanpa memakai proses dimasak.4

Versi keempat; minuman memabukkan yang difermentasikan dari salah satu lima materi, yakni: anggur, korma, madu, gandum putih dan merah.

Versi kelima; setiap minuman yang memabukkan, baik itu difermentasikan dari materi-materi di atas maupun yang lainnya.

Berangkat dari kelima versi ini, Imam Khathby merasa perlu untuk menganalisis versi-versi di atas (mulai pertama sampai keempat), melalui gerak regresif-progresif hermeneutis yang dapat menguak faktor-faktor pembatasan arti linguistik khamr. Menurut beliau, sempitnya interpretasi lafal khamr dari masing-masing versi di atas, disinyalir karena dua faktor: 1) dari aspek historis orang Arab saat itu tidak mengenali khamr (TEC2) kecuali yang terbuat dari anggur; 2) pendapat sebagian sahabat tentang pembuatan khamr yang terbatas hanya dari lima bahan, dinilai dipengaruhi oleh keterbatasan bahan-bahan yang ditemukan pada zaman itu. Sehingga menurut beliau, bisa saja khamr mempunyai cakupan arti yang luas, yaitu baik yang difermentasikan dari materi-materi di atas maupun selainnya.5

Cakupan definisi versi kelima tersebut, sealur dengan Ali ra, Umar bin Khathab, Saad bin Abi Waqas, Abdullah bin Umar, Abu Musa al-Asyari, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Sayyidah Aisah ra, dan Tabiin seperti Ibnu Musayyab, Urwah, Hasan al-Basri, Said bin Jubair. Pendapat mereka juga diikuti oleh Imam Malik, Auzai, Sauri, Ibnu Mubrak, Syafii, Ahmad, Ishak dan mayoritas ahli hadts.

Shhib al-Fatah dalam merespon problematika interpretasi ini melontarkan pendapatnya, bahwa versi pertama (yang membatasi bahan pokok anggur) sangat berpotensi untuk dipadankan dengan versi kelima (yang memutlakkan semua jenis minuman memabukkan), karena pada dasarnya yang dimaksud oleh versi pertama adalah sebatas makna semantik yang substantif (mana lughat al-haqqi). Sehingga, jika khamr punya arti lain, maka arti tersebut adalah metaforis (majaz). Sementara yang dikehendaki oleh versi kelima adalah makna syari.6 Selanjutnya menurut beliau, kontradiksi arti substantif dan metaforis berpotensi untuk dikompromikan, yakni dengan memakai metodologi-ushul fiqh Syafii, serta teori para sahabat yang mensintesiskan (jamu) makna substantif dan metaforis dalam satu kata.7 Adapun mengenai kontradiksi antara makna syari dan lughawi (linguistik), Imam Ibnu Abd al-Bari menandaskan bahwa hal itu tidak menjadi masalah, karena menurutnya metode justifikasi formalistik-legalistik syari hanya mengacu pada makna syari, bukan makna lughawi selagi ditemukan makna syari.

Versi di atas nampaknya adalah pendapat yang dipelopori oleh sebagian sahabat dan ulama-ulama klasik. Dengan indikasi bahwa redaksi yang ditampilkan hanya seputar minuman. Hampir dapat dipastikan, hal itu dipengaruhi oleh belum majunya teknologi yang mampu menciptakan materi-materi memabukkan dalam bentuk varian, mulai dari materi keras, bubuk, cairan bius, dan lainnya. Cara konsumsinya pun bermacam-macam, baik itu dimakan, dihirup, dihisap, disuntikkan (injeksi), dan lain sebagainya. Lantas bagaimana sebenarnya? Berikut ini analisis hukum terhadap hal tersebut.

Berdasarkan panduan-panduan al-Quran dan Hadts yang menyatakan Kullu mukhmirin muskirun wa kullu muskirin haramun (Setiap materi yang dapat menghilangkan kesadaran adalah merupakan materi yang memabukkan, dan setiap materi yang memabukkan adalah haram) (HR. Abu Dawud), dengan didukung oleh hadits-hadits lain yang hampir senada dan bermuatan hukum sama, dan dengan dukungan eksplisit para sahabat, banyak ulama yang mencoba menafsirkan bahwa kata-kata mukhmir menurut tinjauan leksikal adalah bentuk kata yang bermakna universal, yaitu mencakup setiap substansi materi yang dapat menutupi atau menghilangkan kontrol (gangguan kordinasi gerakan motorik). Sedangkan kata-kata muskir juga demikian, maksudnya sama-sama berkapasitas makna universal, yakni mengandung setiap substansi materi yang memabukkan (efek adiktif). Dalam Hadts tersebut, Nabi saw tidak membedakan antara materi yang dikonsumsi dengan cara diminum, dihirup, dihisap, disuntikkan (injeksi), dlsb. Sehingga hal tersebut dinilai sebagai premis-konklusi bahwa mengkonsumsi setiap materi yang memabukkan atau menghilangkan kontrol adalah haram, tanpa membedakan cara mengkonsumsinya.8

Simpulan tersebut secara metodik dapat dikaitkan dengan teori ushul fiqh maqsid al-syariyyah. Tujuan utama syariat ialah memelihara (al-khifdzu), dan memperjuangkan tiga kategori hukum, yakni dharriyyat, hajiyyat, dan tahsiniyyat. Tujuan dari masing-masing kategori tersebut adalah untuk memastikan bahwa kemaslahatan kaum Muslimin, baik di dunia maupun akhirat dapat termanifestasikan dengan cara terbaik.

Dalam kaitannya dengan paradigma ini, kami hanya akan menjelaskan satu dari ketiga kategori hukum di atas, yakni dharuriyat. Dharuriyyat berarti kebutuhan mendesak yang mengandung lima prinsip, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan properti. Ia juga merupakan aspek-aspek hukum yang sangat dibutuhkan demi keberlangsungan urusan-urusan agama maupun keduniaan manusia secara layak. Sehingga pengabaian terhadap aspek-aspek tersebut tentu akan mengakibatkan kekacauan, ketidakadilan di dunia, dan kehidupan akan berlangsung dengan sangat tidak menyenangkan. Dharuriyyah diwujudkan dalam dua sisi: 1) keharusan memanifestasikan kebutuhan di atas; 2) segala sesuatu yang berpotensi menghalangi pemenuhan kebutuhan tersebut harus disingkirkan. Misalnya, Allah telah mewujudkan dan menjaga kemaslahatan akal yang diciptakan sebagai sarana untuk menyingkap ilmu yang membedakan halal dan haram, sebagai sarana pengolahan usaha. Sehingga hal-hal buruk yang mengancamnya (seperti bahaya mengkonsumsi narkoba) harus diberantas dengan cara melarang mengkonsumsi narkoba.9

Abd al-Rahman dalam karya impresifnya Madzhib al-Arbaah memaparkan, dalam hal keharaman memakai zat-zat berbahaya ulama telah mencapai ijma'. Tak pelak jika klaim-klaim murtad, zindik,dan pembuat bidah agi orang-orang yang berani menghalalkannya mewarnai komentar sebagian madzhab Hanafiyyah. Lebih-lebih Ibnu Taimiyah, beliau mengatakan bahwa siapapun yang menghalalkannya dan tidak mau bertaubat setelah diperintah, maka dia boleh dibunuh karena telah murtad, mayatnya tidak boleh dishalati dan dikebumikan di makam orang Islam.10

Fuqaha menegaskan bahwa hukum memakai materi-materi tersebut, meskipun sedikit tetap haram karena ada dua alasan: 1) Sebab sesuai hasil observasi (khubrah), ternyata bahaya materi-materi tersebut melebihi bahaya minuman keras. Sementara, dalam minuman keras sendiri telah ada dalil formal yang mengharamkannya meskipun dalam kadar yang sedikit;11 2) Sebagai upaya antisipasi agar tidak kecanduan. Argumen kedua ini berdasarkan Hadts yang diriwayatkan oleh Ahl al-Sunan; M askara katsruhu faqalluhu haramun (Perkara yang kadar banyaknya dapat memabukkan, maka kadar sedikitnya pun tetap haram).

 

Hukuman Bagi Pemakai Narkoba

Meningkatnya suplai minuman keras yang diikuti dengan semakin kuatnya respon para pecandu merupakan problematika yang memprihatinkan. Hal ini diperparah lagi dengan kurang intensifnya tindakan pihak berwajib dalam memberantasnya. Namun meski demikian, tanggung jawab atas penyelesaian permasalahan ini tidak hanya menjadi beban pihak berwajib, melainkan merupakan tanggung jawab semua pihak. Guna melindungi masyarakat, khususnya generasi muda Indonesia dari pengaruh buruk penyalahgunaan narkotika, maka upaya yang sangat perlu dilakukan adalah membangun kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam setiap upaya penanggulangan.

Dengan melihat budaya masyarakat kita yang agamis, maka pendekatan keagamaan menjadi hal yang urgen dan strategis untuk direalisasikan guna mempertebal keyakinan dan mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam mengenai larangan penyalahgunaan narkotika. Sebagai insan santri kami percaya betul, bahwa pendekatan melalui jalur pembinaan keagamaan merupakan solusi tepat guna membentengi mental generasi muda dari godaan penyalahgunaan narkotika yang menggiurkan. Sejalan dengan upaya-upaya tersebut, vonis apakah yang harus diberikan kepada para pemakai dalam yurisprudensi islam?

Dalam kitab-kitab klasik, hukuman bagi pengkonsumsi adalah had, yakni hukuman cambuk 40 kali bagi orang yang merdeka dan 20 kali bagi hamba sahaya atau budak. Adapun mengenai hukuman mati (eksekusi) bagi peminum kelas berat, menurut mayoritas ulama hal itu telah dinaskh (dibatalkan).12 Sedangkan untuk pengkonsumsi materi-materi selain minuman keras, ulama berbeda pendapat. Menurut Ibnu Taimiyah sanksinya sama dengan pengkonsumsi minuman keras.13 Menurut Imam Mwardi dan ulama lain, sanksinya ialah tazir jikalau materi yang dipakai tidak menimbulkan euforia atau girang, dan tidak mengakibatkan kecanduan. Akan tetapi jika dapat mengakibatkan kecanduan dan euforia maka sanksinya adalah had.14

 

Menakar Pendapat Liberali Tentang Eksistensi

Hukuman Bagi Pemabuk

Dalam hal yang berkaitan dengan sanksi bagi pemabuk, Muhammad Said Ashmawi menyatakan:15 al-Quran dan Hadts tidak menentukannya, tetapi ketika khalfah kedua yaitu Umar ditanya tentang hal ini, ia menentukan delapan puluh cambukan. Diriwayatkan Umar berkata: Jika seseorang mabuk, dia akan lupa sama sekali, dan jika dia telah demikian maka dia akan mengumpat orang lain. Alasannya menjadi bahwa pemabuk akan menggunakan bahasanya untuk menyinggung dan memfitnah. Ashmawi secara lantang menolak alasan seperti ini dengan dasar, bahwa pemabuk tidak seperti penuduh dan tidak mesti memfitnah orang lain. Oleh karena itu Ashmawi menyimpulkan bahwa hukumannya hanya dibebankan bagi pemakai alkohol yang dengan tujuan mabuk. Tetapi bagi orang yang memakai alkohol karena sedang tertimpa malapetaka atau frustasi, maka ia tidak dikenai hukuman, sesuai dengan surat 2:173 Barang siapa dalam keadaan terpaksa sedang ia tidak menginginkannya dan tidak melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 16

Pendapat Ashmawi ini adalah kulpa lata (kesalahan besar) dan kebohongan atas nama agama, karena pada dasarnya Nabi pernah menghukum cambuk empat puluh kali bagi peminum khamr. Disamping itu Hadts ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai perawi yang diakui validitas periwayatannya. Tindakan Nabi ini juga diikuti oleh Abu bakar dengan jumlah cambukan yang sama. Dan jumlah hukuman ini adalah had bagi pemabuk. Kemudian, setelah tampuk kekhalifahan dipegang oleh Umar, dengan pertimbangan bahwa pemabuk akan berbicara sembarangan dan memfitnah orang lain, maka beliau menambahkan jumlah hukumannya menjadi delapan puluh, dengan perincian status hukuman: empat puluh atas nama had, (hukuman ini bersifat tetap [tsawabit atau principles]), dan empat puluh lainnya atas nama tazir (hukuman ini tidak tetap [mutaghayirah atau variables] karena disesuaikan dengan kebijaksanaan imam).17 Dari hipotesis ini dapat diyakini, bahwa klaim Ashmawi bahwa al-Quran dan Hadts tidak menentukan sanksi bagi pemabuk adalah tertolak mentah-mentah. Lalu mengenai penolakan Ashmawi terhadap pertimbangan Umar itu adalah merupakan sikap gegabah, karena ia tidak melihat bahwa pada dasarnya seorang Imam yang saat itu dipegang oleh Umar mempunyai hak prerogatif menjatuhkan hukuman tazir, sesuai dengan kaidah "Tasharuf al-Imam ala raiyah manthun bi al-mashlahah" (kebijakan pemimpin harus berdasarkan kemaslahatan). Jadi, menurut kami metodologi Ashmawi tidak bisa diaplikasikan.

 

Hukuman Mati (Eksekusi) Bagi Pengedar Narkotika

Omset transaksi narkoba sangatlah besar meskipun penuh resiko, ia tergolong cara mudah meraih mahkota kaya raya yang menggiurkan, sehingga undang-undang maupun syariat rawan diterjang. Maraknya pengedaran narkotika di Indonesia diduga kuat karena disebabkan letak geografis negara ini yang berada di antara dua benua yang merupakan jalur lalu lintas ramai sekaligus menjadi daerah transit strategis. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keluasan samudra, dan pantai-pantai yang belum secara maksimal mendapat pengawasan, merupakan daerah rawan penyelundupan. Rumitnya, kejahatan penyelundupan narkotika adalah kegiatan sindikat yang terorganisasi dengan rapi yang beroperasi melalui sistem jaringan yang tertutup. Bukti bahwa Indonesia telah menjadi tempat transit bandar-bandar kelas kakap, adalah seperti tertangkapnya dua orang pria Singapura penyelundup 219 kg. heroin dari Indonesia beberapa waktu yang lalu. Keduanya ditangkap di Port Botany, Sidney oleh anggota Joint Asian Crime Group dengan polisi federal Australia.

Sebagai upaya responsif terhadap bahaya penyelundupan ini, lebih baiknya kita beri kesempatan bagi kitab-kitab klasik untuk menentukan sebuah hukuman bagi para pengedar. Apakah eksekusi (hukuman mati) dapat dibenarkan?

Dalam menjawab pertanyaan ini, diperlukan peninjauan dari beberapa konsepsi fuqaha, khususnya mengenai prinsip tazir. Dalam yurisprudensi Islam, tazir merupakan bentuk sanksi yang dimaksudkan untuk memperbaiki moral (repairing moral), itupun hanya sebatas hukuman seperti pukulan ringan, penjara, deportasi (taghrib), dan lainnya.18 Tetapi tidak boleh sampai memotong anggota tubuh atau membunuh. Eksistensi batasan tazir seperti inilah yang terus dipegang teguh oleh mayoritas pengikut madzhab Syafiiyyah dan Mlikiyyah, sehingga menurut mereka tidak boleh men-tazir dengan eksekusi. Namun bagi bandar kelas kakap boleh untuk divonis penjara seumur hidup. Berbeda dengan pendapat minoritas Syafiiyyah, Hanafiyyah, sebagian pengikut Hanbali, Ibnu Taimiyah beserta muridnya, yakni Ibnu Qayyim, dan minoritas pengikut Malikiyyah. Mereka memperbolehkan tazir dengan bentuk eksekusi (hukuman mati) sebagai pengecualian dari batasan tazir. Menurut versi kedua ini, eksekusi bagi sindikat pengedar narkotika dapat dibenarkan, dengan syarat demi kemaslahatan umum dan dalam keadaan darurat, semisal pengedar sudah berulang kali menjalankan operasinya, sehingga vonis eksekusi diduga kuat menjadi alternatif terakhir untuk menghentikan kriminalitasnya.19 Berdasarkan pendapat yang terakhir ini, maka kebijakan pemerintah dalam menjatuhkan vonis eksekusi dapat dibenarkan bila menjadi alternatif terakhir. Wallahu alam bi al-shawab.

 



1 Drs. H. Masruhi Sudiro, Islam Melawan Narkoba, Jogjakarta: Madani Pustaka Hikmah, cet. I, 2000, h. 13-54.

2 Ab al-Rahman al-Jaziri, Madzhib al-Arbaah, cet Dar-Al-Kutub al-Ilmiyyah, vol. V, h. 14-15. Ali Ahmad al-Jurjani, Hikmah al-Tasyri wa Falsafatih, Haramayn, h. 270. Teori interpretasi korelatif-historis di atas dalam istilah Fazlur Rahman dikenal dengan teori double movement (teori penafsiran gerak ganda).

3 Ibid, h. 36-37.

4 Ibid, h. 21.

5 Ibid, h. 19-21.

6 Ibid, h. 23.

7 Abi Yahya Zakaria al-Anshari al-Syafii, Lub al-Ushl, Hidayah, h. 2.

8 Abu al-Rahman al-Jaziri. Op. cit., h. 35-39.

9 Dr. Abdul al-Karim Zaydan, al-Wajiz fi Ushl al-Fiqh, Yordania: al-Maktabah al-Batsair Amman, cet. III. 1990 M., h. 378-380.

10 Abd al-Rahman al-Jaziri. Op. cit., vol. V, h. 37.

11 Ibid, h. 38-39.

12 Abd al-Rahman al-Jaziri. Op. cit., vol. V, h. 31.

13 Ibid, h. 36.

14 Sayyid Abi Bakar al-Masyhr bi al-Sayyid al-Bakri, Ianah al-Thalibin, Dar al-Fikr, vol. II, h. 354-355.

15 Muhammad Said Ashmawi adalah ahli hukum Mesir yang karirnya dibedakan antara karir akademis dan pengacara. Disamping itu, dia memegang jabatan sebagai penasehat pengadilan tinggi dan anggota komisi pemerintah pembuat undang-undang. Dia juga menjadi ketua pengadilan perkara pidana dan guru besar bidang hukum Islam di Universitas Kairo. Lihat dalam Wael B. Hallaq, Sejarah Teori Hukum Islam: Pengantar Ushul Fiqh Madzhab Sunni, (pent.) E. Kusnadiningrat & Abdul Haris bin Wahid, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, cet. I, 2000, h. 345.

16 Wael B. Hallaq. Op. cit., h. 358.

17 Dr. Mushtafa al-Hin dan Dr. Mushtafa al-Bugha, Fiqh al-Manhaji, cet. IV, 1996 M., Beirut: Dar al-Qalam, vol. III, vol. VIII, h. 71-72.

18 Syaih Muhammad Amin al-Kurdi, Tanwr al-Qulub, Dar al-Fikr, h. 352.

19 Abd al-Qadir Udah, Tasyri al-Jana'i al-Islami, Muasasah al-Risalah, cet. XI, 1996, vol. I, h. 687-688. dan Dr. Wahbah al-Zuhayli, Fiqh al-Islami, Dar Al Fikr, vol. VI, h. 200-201. Lihat juga Majmuah Sabah Kutub Mufidah, h. 58.