PLURALISME

          Dalam diskursus pemikiran teologi kekinian dan kedisinian, Nurcholis Madjid merupakan tokoh yang gagasannya cukup menggemparkan. Dalam berbagai tulisannya, Cak Nur sangat gigih menyodorkan konsep teologi inklusif. Menurutnya, pada saat ini, kata-kata “Islam” telah menjadi nama sebuah agama yang dibawa oleh  Nabi Muhammad saw. Penamaan ini telah dijelaskan oleh Allah swt. Dalam QS. Al-Imran 3:19; “Sesungguhnya agama bagi Allah ialah  Islam”. Kata “Islam” dalam  ayat itu, kata Cak Nur, selain dapat berarti sebagai nama agama, yaitu agama Islam, juga dapat diartikan sesuai dengan makna asalnya, yaitu “pasrah kepada Tuhan”. Implikasinya, semua agama adalah benar apabila mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan (ber-Islam).

          Penafsiran seperti itu dipetik oleh Cak Nur melalui upaya mengkomparasikan satu ayat dengan ayat yang lain. contohnya, dalam QS. AL-‘Ankabut Allah berfirman; “Dan janganlah kamu sekalian berbantahan dengan para penganut Kitab Suci (Ahl aal-Kitab) melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim. Dan nyatakanlah kepada mereka itu, ‘ Kami beriman kepada Kitab Suci yang diturunkan kepada  kami dan yang diturunkan kepada kamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah Tuhan yang maha Esa, dan kita semua pasrah kepada-Nya (muslimun)”. Dan QS. Alu Imran 3:85; “Apakah mereka mencari (agama) selain agama Tuhan? Padahal telah pasrah (aslama – ber-Islam) kepada-Nya mereka yang ada di langit dan di bumi, dengan taat ataupun terpaksa, dan kepada-Nya-lah semuanya akan kembali. Nyatakanlah, ‘Kami percaya kepada Tuhan dan kepada ajaran yang diturunkan kepada kami, dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub serta anak turun mereka, dan disampaikan kepada Musa dan Isa serta para Nabi yang lain dari Tuhan mereka itu, dan kita semua pasrah (muslimun) kepada-Nya. Dan barang siapa menganut agama selain sikap pasrah (al-Islam) itu, ia tidak akan diterima, dan di Akhirat termasuk orang-orang yang merugi”.[1]

          Dengan memerhatikan ayat-ayat di muka, disimpulkan bahwa Islam sesuai dengan makna generiknya yaitu “pasrah kepada Tuhan”. Sikap keberserahan dan kepasrahan ini menjadi kualifikasi signifikansi pemikiran teologi inklusif Cak Nur.

          Konsep inklusivisme dan pluralisme Nurcholis Madjid ini tidak hanya dalam tataran wacana, melainkan sudah diterapkan di sekolah-sekolah Paramadina, mulai tingkat SD-SMU. Dalam hal ini Budhi Munawar Rahman menyatakan, “wawasan aplikasi konsep pluralisme di sekolah-sekolah Paramadina, dimulai dengan menghormati orang yang berbeda agama dan tidak menghina mereka. Orang yang berbeda agama lantas tidak diklaim kafir”.[2]

         

           



[1] Nurcholis Madjid, Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam  Sejarah: Islam, Iman, dan Ihsan Sebagai Trilogi Ajaran Ilahi, Paramadina, cet. II, 1995, h. 465-466.

[2] Adian Husaini, Tantangan Sekulerisasi Dan Liberalisasi Di Dunia Islam; Liberalisasi Islam Tantangan Bagi Peradaban Melayu, Khairul Bayan, cet. I, 2004, h. 74.