Freidrich Daniel Ernst Schleiermacher

            Pemikir Jerman F. D. E. Schleiermacher (L. 21-11-1768/W. 12-02-1834) adalah pemikir klasik bidang ini. Jasa terbesarnya adalah keberhasilannya mentransformasikan hermeneutika dari wilayah teologis (al-lâhûty) menjadi sebuah ilmu atau disiplin (fan) bagi proses dan beberapa syarat pemahaman dalam menganalisis teks.

Dalam pandangan Schleiermacher, ada dua tugas hermeneutika yang keduanya mempunyai korelasi erat, yaitu interpretasi gramatis dan interpretasi psikologis. Interpretasi gramatikal atau linguistik dipandang sebagai tugas elementer karena berdasarkan prinsip bahwa teks merupakan ekspresi perangkat linguistik yang mentransformasikan ide pengarang (fikr al-mu’allif) kepada pembaca. Menurutnya tugas hermeneutika adalah memahami teks “sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri” dan “memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri”. Dalam interpretasi psikologis, tugasnya adalah bagaimana memahami atau  menangkap kondisi kejiwaan pengarang ketika memproduksi teks. Pada tataran yang sama interpretasi psikologis ini berpusat di sekitar investigasi mengenahi bangkitnya pemikiran di mana terdapat totalitas ‘‘hidupnya pengarang’’.31

Untuk mengakses makna sebuah teks, mufassir membutuhkan dua kompetensi, yakni kompetensi linguistik dan kemampuan memahami kejiwaan pengarang. Kompetensi linguistik sendirian tidaklah cukup, karena manusia tidak dapat mengenali wilayah bahasa yang non-definitif. Demikian juga tidak cukup hanya dengan kompetensi memahami psikologis pengarang, karena kompetensi ini tidak pernah sempurna. Oleh karena itu harus berpegang pada kedua aspek tersebut. Namun, tidak ada kaidah tentang cara-cara merealisasikan hal tersebut.32

Maulidin mengatakan, hermeneutika Schleiermacher–di samping concern pada rekonstruksi linguistik dan psikologis–juga menekankan pada rekonstruksi historis dan komparatif. Dalam rekonstruksi historis, penafsir harus memperhatikan konteks sosio-kultural dan politik serta ekonomi yang menyebabkan sebuah teks berbunyi seperti itu. Sedangkan rekonstruksi komparatif, dimaksudkan agar penafsir “mempertimbangkan teks-teks lain yang terkait”.33

Oleh sebab itu, menurut kami, tanpa melalui proses interpretasi komparatif, penerapan hermeneutika rawan kesalahan. Contonya dalam telaah hermeneutis tentang ‘‘Hadîts larangan melukis’’. Dalam kajian ini, hermeneutika berperan menganalisa aspek psikologis dan merekonstruksi kondisi sosio-historis pada saat munculnya larangan itu. Lukman S. Thahir berpandangan, larangan melukis dan memajang lukisan sangat berkaitan dengan kejiwaan masyarakat (sahabat Nabi) ketika itu, di mana mereka secara psikologis belum lama lepas dari tradisi lama mereka; menyembah berhala. Oleh sebab itu, syariat berupaya keras agar umat Islam terlepas dari kemusrikan tersebut. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mengeluarkan larangan untuk melukis. Jika hal tersebut tidak dilakukan, secara psikologis mereka akan kesulitan melepaskan kepercayaan lamanya. Dengan hipotesis tersebut Lukman lantas menyimpulkan, Hadîts itu secara psikis-antropologis sebenarnya disabdakan dalam kondisi masyarakat transisi dari kepercayaan animisme ke monoteisme. Persoalannya sekarang adalah kondisi sudah berubah, masyarakat sudah berada pada strata keimanan yang kokoh. Sehingga melukis hukumnya boleh. Melukis sudah tidak lagi dikhawatirkan dapat menjerumuskan pada kemusrikan.34 Kajian Lukman ini sebenarnya merupakan paradigma yang sangat mudah sekali ditemui dalam khazanah klasik. So, wacana yang beliau lontarkan ini sama sekali bukan wacana baru. Dalam kitab Ihkâm al-Ahkâm Sarh ‘Umdah al-Ahkâm, pendapat yang senada dengan pandangan Lukman ini telah ditolak mentah-mentah dalam diskusi-diskusi klasik. Sebab secara tekstual terdapat banyak sekali Hadîts yang melarang melukis makhluk bernyawa. Afirmasi hukum haram ini berdasarkan landasan karena banyaknya Hadîts. Hadits-hadits tersebut menerangkan bahwa para pelukis pada hari kiamat kelak akan dituntut memberi nyawa kepada apa yang pernah dilukisnya di dunia. Argumen lainnya menegaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan upaya menyerupai penciptaan Allâh.35 Meski demikian, untuk konteks kajian ilmiah, bukan berarti kajian psikologis-hermeneutis tidak sahih. Titik error-nya tidak terletak pada substansi metodologi hermeneutika itu sendiri, akan tetapi terletak pada aplikasi hermeneutika pada kasus yang tidak tepat sebab bertentangan dengan nash-nash yang lain. Dengan demikian, jelas bahwa untuk menghindari hasil interpretasi yang kontradiktif dengan nash-nash lain, hermeneutika tidak boleh terlepas dari metode interpretasi komparatif-korelatif.

Adapun dalam upaya memahami kondisi psikologis pengarang, Schleiermacher menekankan urgensi pengetahuan kesejarahan dan linguistik yang tepat. Melalui dua pendekatan itu, mufassir akan berada dalam posisi untuk memahami pengarang lebih baik daripada si pengarang memahami dirinya sendiri.36 Contohnya, saya punya kawan bernama Gobot yang sering bilang ‘‘edan’’. Dari kata-kata itu dapat disimpulkan bahwa Gobot–selaku pengarang teks–adalah seorang pemarah. Meski kita tahu bahwa kata-kata ‘‘edan’’ secara linguistik dapat berarti macam-macam: bisa jadi ungkapan kemarahan sebab sebelumnya Gobot dibilang ‘gendut’, keakraban karena sedang guyonan dengan rekan-rekan purna siswa 2005, atau kekecewaan sebab diselingkuhi pasangannya, mungkin juga kekaguman sebab dia sedang melihat gadis seksi lagi genit, dan lain sebagainya. Dari titik tolak ini dapat dimengerti, bahwa kata-kata ‘‘edan’’ yang sering keluar dari mulutnya bisa mengantarkan kita untuk memahami psikologis Gobot. Akan tetapi, untuk memastikan apakah Gobot pemarah, orang yang mudah kecewa, atau pengagum kemolekan, dan seterusnya, dibutuhkan rekonstruksi setting historis yang melatari munculnya kata ‘‘edan.’’ Apakah sebelumnya dia diejek, bercanda, diselingkuhi atau melihat gadis seksi lagi genit. Berbeda jika dia hanya sedikit jengkel atau sedikit kecewa, mungkin dia tidak berkata ‘‘edan’’ tetapi cuma ‘‘sinting’’.

Perlu dicatat, hermeneutika Schleiermacher ini sangat dipengaruhi pemikiran Friedrich Ast dan Friedrich August Wolf. Dari Ast, Schleiermacher memperoleh ide-ide cemerlang guna mengamati isi sebuah teks dari dua aspek: aspek luar dan aspek dalam. Aspek luar sebuah teks adalah tata bahasa dan ciri khas linguistik. Sementara aspek dalam adalah ‘jiwanya’ (geist). Dalam pandangan Ast, hermeneutika diproyeksikan menyingkap makna internal dari sebuah teks beserta situasi yang mengitari munculnya teks. Tugas hermeneutika ini diklasifikasi oleh Ast menjadi tiga bagian, yaitu sejarah, tata bahasa, dan aspek kerohanian (geistige) atau “jiwa” teks.

Filsuf lain yang gagasannya menjiwai hermeneutika Schleiermacher adalah Wolf. Ia mendefinisikan hermeneutika sebagai seni menelanjangi makna teks. Oleh karenanya, tidak janggal jika Schleiermacher menekankan hermeneutikanya pada seni dalam interpretasi.37

Menurut Nashr Hamid Abu Zayd, Schleiermacher sebenarnya termasuk bapak  hermeneutika modern dan bapak dari para pemikir yang datang sesudahnya, baik yang pro maupun kontra dengannya.38

Wilhelm Dilthey

            Wilhelm Dilthey (1833-1911) seorang filsuf yang dikenal karena riset historisitasnya. Ia pengagum berat karya Schleiermacher. Akan tetapi, ia menolak keras terhadap Schleiermacher dalam masalah hipotesa linguistikal, yaitu bahwa manusia adalah makhluk berbahasa. Menurut Dilthey, manusia hidup tidak hanya sebagai makhluk linguistik yang hanya mendengar dan berbicara, menulis dan membaca, lalu kemudian memahami dan menafsirkan. Lebih daripada itu, manusia merupakan makhluk yang memahami dan menafsirkan ‘‘dalam setiap aspek kehidupan’’. Sementara menafsirkan ujaran lisan dan teks hanyalah ‘‘secuil’’ dari bagian yang manusia lakukan untuk hidup. Dalam kaitannya dengan teks, ia menyatakan bahwa kebenaran teks dapat dijangkau, sebab teks memiliki kebenaran dalam dirinya sendiri yang tetap, riil, dan permanen. Seorang penafsir diyakini akan mampu menjangkau kebenaran sebuah teks bila memahami korelasi antara ‘ungkapan’ dan ‘muatannya’.39

            Keberhasilan Dilthey terletak pada tekanan historisitasnya yang menilik kepada kesejarahan manusia serta bahasa dan makna. Hermeneutikanya meliputi baik obyek maupun subyek, peristiwa dan sejarawannya, mufassir dan yang ditafsirkannya. Menurutnya, teks tidak pernah bebas dari pasang surutnya sejarah. Teks ataupun pernyataan tunggal dapat mempunyai makna yang bermacam-macam (ambigu) tergantung pada konteks historis di mana teks atau pernyataan itu muncul.40 Contohnya kata-kata ‘‘aduh’’: ‘‘aduh’’ yang keluar dari mulut seorang penggemar Inul Daratista dan Anisa Bahar; atau ‘‘aduh’’ yang keluar dari mulut santri yang sedang sakit bisul, dapat mempunyai makna yang bermacam-macam. Padahal kata ‘‘aduh’’ tersebut mempunyai arti yang sama, yaitu ‘ungkapan perasaan’. Tetapi dengan merekonstruksi historis, kata ‘‘aduh’’ yang keluar dari penggemar Inul dan Anisa saat menyaksikan acara ‘duet maut’ mempunyai arti kagum dengan ‘‘goyang ngebor’’ dan ‘‘goyang patah-patah’’; sedangkan yang keluar dari mulut santri bisulan mempunyai arti menahan rasa sakit.

Selain mengkritik hipotesa linguistik, Dilthey juga mengkritik konsepsi interpretasi psikologis Schleiermacher, karena berpotensi besar menjebak mufassir pada hasil penafsiran spekulatif.41 Menurut penulis, kritik Dilthey tersebut justru menjadi bumerang. Karena kelemahan yang berupa ‘‘hasil penafsiran spekulatif’’ ternyata juga merupakan kelemahan metodologi Dilthey sendiri. Semisal contoh, penulis sudah bersusah payah dan berpusing ria merangkai kata-kata dalam membuat buku ini, lalu apa hasil dari penafsiran anda? Apakah anda sangat meyakini bahwa karya ini benar-benar ingin menyuguhkan kajian ilmiah dan memecahkan problematika? Atau hanya sekedar ingin mencari keuntungan dari hasil penjualannya? Tapi mungkin juga anda menafsirkan, karya ini hanya sarana untuk mencari popularitas. Agar dapat mencapai penafsirannya, jika anda memakai metodologi Schleiermacher tentunya akan mengkaitkan tulisan ini dengan psikologi penulis. Lalu bagaimana hasil penafsirannya? Pasti sangat spekulatif. Berbeda bila yang dipakai adalah metodologi Dilthey, anda pasti akan mengaitkan tulisan ini dengan konteks kesejarahan kehidupan penulis secara komprehensif. Dapat dipastikan hasilnya juga sangat spekulatif. Walaupun anda mengenal psikologis penulis sebagai seseorang yang berambisi menggerakkan stagnasi pemikiran Islam, atau mengenali historis kehidupan penulis yang dari dulu sibuk berbahtsul masail dan diam-diam ingin mengaktualisasikan fiqh klasik, saya rasa pengenalan itu belum cukup untuk menafsirkan bahwa karya ini benar-benar dicanangkan guna mengatasi stagnasi atau memecahkan problematika dan lainnya. Mengapa? Karena selalu ada kemungkinan niat-niat lain yang tersirat saat membuat karya yang tersurat ini, mungkin saja karena murni li ridha illah, atau jangan-jangan biar orang-orang bilang ‘‘lulusan Lirboyo kerrreeen....’’. Sekali lagi, sangat spekulatif.

Bagi Dilthey, hermeneutika diandaikan mampu mengatasi keterasingan teks karena seorang mufassir memiliki jarak dengan author (pengarang teks), baik dalam hal waktu, geografis maupun bahasa. Untuk menyingkap makna asli teks, penafsir harus membayangkan peristiwa-peristiwa lampau dan seakan-akan menjadi kawan sewaktu dengan author. Proses ini dikenal dengan istilah ‘transposisi’, atau disebut Dilthey dengan reexperiencing, reliving dan recreating yang semua maksudnya sama.42 Sealur dengan proses recreating ini, dalam memahami al-Qur’an misalnya, hermeneutika akan merekomendasikan seorang mufassir untuk membayangkan dirinya hidup pada zaman Nabi Muhammad bersama dengan orang-orang Arab waktu itu untuk bisa memahami apa-apa yang diinginkan oleh Qur’an dan Hadîts.

Hans-Georg Gadamer

Gadamer lahir di Marburg pada tahun 1900. Ia merupakan penafsir yang menjadi representasi hermeneutika di atas landasan jargon ‘‘matinya sang pengarang’’ (the death of author, maut al-muallif). Gadamer menyatakan sekali teks dilempar ke ruang publik, ia telah hidup dengan nafasnya sendiri. Tidak ada kaki referensial yang menopang, bahkan oleh pengarangnya sendiri pun. Oleh karenanya, hermeneutika Gadamer tidak lagi diproyeksikan untuk menguak makna asli teks seperti yang dikehendaki pengarang, namun diarahkan untuk memproduksi makna teks yang hanya tergantung kepada pembaca atau penafsir.43 Konsekuensinya, para penafsir yang berbeda latar belakang kebudayaan, usia, atau tingkat pendidikannya tidak akan melakukan interpretasi yang sama dan pada titik-kulminasi memunculkan hasil penafsiran yang bermacam-macam.44 Adapun memproduksi makna baru dalam proses menginterpretasikan teks adalah suatu keniscayaan. Sebab mufassir tidak pernah dapat menghindar dari keterkondisianya dan ke-ada-annya di dunia.

Secara implisit, hermeneutika Gadamer mengkonsentrasikan dirinya pada tiga hipotesis: konteks kekinian sang penafsir (historisitas), proses dialogis, dan lingiustikalitas.45

Pertama, historisitas (ithâr al-tarihiyyah). Dalam pandangan Gadamer, konsepsi historisitas ini dimaksudkan untuk mendorong penafsir agar selalu memulai interpretasinya dari konteks ruang dan waktunya sendiri. Dengan begitu, penafsir tidak hanya sekedar masuk dalam teks dengan maksud memahami teks tersebut sesuai dengan tujuan pengarangnya.46 Konsepsi tersebut kami teliti dalam kitab Isykâliyat al-Qira’ah wa Âliyat al-ta’wil ternyata didasari sebuah pandangan Gadamer, bahwa sejarah sebenarnya bukanlah sebuah wujud yang berdiri sendiri di masa lalu, bebas dari kesadaran tetap kita dan horison pengalaman masa kini kita. Dari sudut lain, sebenarnya masa kini kita yang tetap dan tidak terpisah dari pengaruh berbagai tradisi yang tertransformasikan kepada kita sepanjang sejarah. Eksistensi kemanusiaan (wujûd al-insâny) bersifat historis dan kontemporer pada saat yang bersamaan, dan manusia tidak mampu melampaui horison tetapnya dalam memahami fakta historis, tidak mampu beralih ke masa lalu untuk bisa terlibat di dalamnya dan memahaminya secara obyektif. Berbagai tradisi yang tertransformasikan kepada kita sepanjang zaman adalah lingkup di mana kita hidup, dan dialah yang membentuk kesadaran tetap kita. Oleh karena itu, ketika kita mengawali dari horison tetap kita untuk memahami masa lalu, kita tidak dalam keadaan terasing dari berbagai tradisi dan sejarah. Manusia hidup dalam lingkaran historisitas (ithâr al-tarikhiyyah). Historisitas inilah yang merupakan ruang lingkup yang tidak tampak di mana manusia hidup di dalamnya. Seperti air tempat ikan hidup dengan tanpa ia mengetahuinya karena air tidak tampak bagi ikan. Berdasarkan hal tersebut, pemahaman kita terhadap sejarah tidak berawal dari kehampaan, bahkan berawal dari horison tetap yang menganggap sejarah sebagai salah satu peletak asalnya (muassis al-asliyyah).47

Kedua, proses dialogis. Dalam mengomentari konsep Gadamer tentang proses dialogis, Josef Bleicher berpendapat tugas utama seorang mufassir adalah menemukan pertanyaan yang padanya sebuah teks menghadirkan jawaban; memahami sebuah teks berarti memahami pertanyaan. Pada waktu yang sama, sebuah teks hanya menjadi sebuah sasaran penafsiran dengan menghadirkan mufassir yang bertanya. Dalam logika tanya-jawab seperti ini sebuah teks ditarik ke dalam sebuah peristiwa melalui aktualisasi dalam pemahaman, di mana teks itu sendiri merepresentasikan sebuah kemungkinan historis. Peredaran atau cakrawala makna pada akhirnya tak terbatas.48

Ketiga, linguistik. Bagi Gadamer, tugas hermeneutika adalah memahami teks. Memahami itu sendiri mempunyai hubungan fundamental dengan bahasa. Ia menegaskan bahwa dulu tugas hermeneutika adalah menyadur makna dari sebuah teks ke dalam situasi konkret, di mana pesan yang terdapat di dalam teks itu ditujukan. Sebagai contoh kitab suci, penafsirannya menuntut interpretasi terhadap teks sesuai dengan kelangsungan ruang dan waktu yang sesungguhnya. Namun pada zaman sekarang ini, para penafsir dituntut mampu menerapkan pesan teks-teks pada konteks ruang dan waktunya sendiri. Menafsirkan berarti menerapkan. Sebenarnya tugas interpretasi sama dengan tugas konkretisasi hukum atau aplikasi hukum pada hal-hal khusus. Jadi, aplikasi juga merupakan pemahaman yang benar terhadap faktor yang universal. Atau dengan kata lain, pemahaman dan interpretasi pada dasarnya juga merupakan penerapan. Untuk dapat memahami sebuah teks, penafsir harus membuang jauh-jauh segala bentuk pra-konsepsi dengan maksud supaya teks-teks tersebut membuka cakrawala maknanya lebar-lebar.49

            Dari uraian di muka, jika diamati, sebenarnya Gadamer tengah berupaya memproduksi makna teks seluas-luasnya. Sebuah teks tidak harus dipahami menurut konteks di mana teks itu sendiri muncul, tetapi lebih jauh lagi Gadamer menekankan pemaknaan teks menurut konteks kekinian dan kedisinian, sehingga pada akhirnya cakrawala makna menjadi terbuka dan tak terbatas.

Paul Ricoeur

            Paul Ricoeur lahir di Valence, Prancis Selatan, pada tahun 1913. Ia berasal dari keluarga Kristen Protestan. Menurutnya, hidup itu sendiri adalah interpretasi. Dia juga menyatakan bahwa pada dasarnya filsafat merupakan sebuah hermeneutika, yaitu kupasan tentang makna-makna tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna. Oleh karena itu, ia mendefinisikan hermeneutika dengan ‘‘teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks (text)’’. Dalam pandangannya, kata-kata adalah sebuah simbol, konsekuensinya kata-kata dipenuhi oleh makna. Jika dalam sebuah teks mempunyai keberagaman makna, di situ interpretasi dibutuhkan. Sebab hermeneutika dapat membuka makna yang asli dan menyingkirkan keanekaragaman makna-makna yang lain dari simbol-simbol tersebut.50 Abu Zayd yang dikenal sebagai pemikir yang ‘‘gandrung’’ dengan wacana bahasa dan kritik sastra modern, menegaskan–dalam kerangka pola hermeneutika Ricoeur–bahwa signifikansi mufassir adalah eksekutor dunia teks yang menganalisis berbagai tingkatan makna baik yang lahir maupun batin, yang literal maupun yang metaforis (majaz).51

            Dalam menganalisis hermeneutika Ricoeur setidaknya ada tolok ukur yang dijadikan pertimbangan urgen. Selain onomatopia (seperti kata-kata yang menirukan suara binatang dsb) sebenarnya kata-kata bersifat konvensional dan tidak memunculkan makna sendiri secara langsung bagi pembaca maupun pendengarnya. Lebih detail lagi, seseorang yang berbicara secara alami kata-katanya akan mengeluarkan pola-pola makna yang plural tergantung pembicaranya. Implikasinya, pola-pola makna itu akan memberikan gambaran tentang “konteks hidup” dan “kesejarahan orang” tersebut (aspek antropologis).52 Misalnya ‘‘ngebor’’, kata-kata ini mempunyai makna bermacam-macam tergantung pada pembicaranya: apakah dia fans berat Inul, tukang penggali sumur bor, atau gigolo, dan sebagainya. Jika keluar dari mulut penggemar Inul, dapat diartikan dengan goyangan yang sungguh-sungguh mencengangkan, sampai-sampai Gus Dur saja melegalkan (jangan-jangan diam-diam nge-fans juga dia, ah suka-suka lah). Tapi yang parah jika keluar dari mulut gigolo, astaghfirullah...pasti kata-kata “ngebor” diartikan dengan esek-esek uduk-uduk!.

           

Ricoeur juga mengkonsep proses pembebasan diri dari konteks (dekontekstualisasi) dan proses masuk kembali ke dalam konteks (rekontekstualisasi). Dalam tataran ini, tugas penafsir melakukan dekontekstualisasi baik dari sudut pandang sosiologis maupun psikologis, serta melakukan rekontekstualisasi. Dengan bahasa lain, penafsir harus membaca ‘‘dari dalam’’ sebuah teks tanpa masuk dan memposisikan diri dalam teks tersebut, serta mengambil konteks sosial yang mengakar dalam teks tersebut dan mencocokkan pada kondisi-kondisi sosial yang baru.53

            Menurut Sumaryono, Ricoeur mengklasifikasi otonomi teks menjadi tiga macam: 1) intensi atau maksud pengarang; 2) situasi kultural dan kondisi sosial yang mengiringi terbentuknya teks tersebut; 3) untuk siapa teks itu dimaksudkan oleh pengarang. Berangkat dari klasifikasi otonomi teks itu, arti dekontekstualisasi dapat dijabarkan, yakni materi teks melepaskan diri dari caklawala intensi yang terbatas dari pengarangnya. Sedangkan makna dekontekstualisasi adalah, teks tersebut membuka diri terhadap kemungkinan ditafsiri secara luas oleh mufassir yang berbeda-beda.54

Husserl

Edmund Gustay Albrecht Husserl (L. 8-04-1859/W. 26-04-1938) adalah pendiri fenomenologi modern. Dalam hermeneutika fenomenologisnya ia membangun rancangan, agar obyek sepenuhnya dapat diinterpretasikan, diperlukan konteks yang semestinya atau sebuah kerangka mental. Bertitik-pijak pada pandangan bahwa teks dapat merefleksikan kerangka mentalnya sendiri, maka menginterpretasikan sebuah teks, berarti pula –secara metodis– mengisolasi teks dari hal-hal yang tidak mempunyai korelasi, dan membiarkannya mengkomunikasikan maknanya sendiri pada subyek (mufassir). Yang dimaksud “hal-hal yang tidak mempunyai korelasi” di antaranya adalah bias-bias subyek atau penafsir. Hermeneutika fenomenologis ini diproyeksikan untuk menangkap kebenaran dari teks sebagaimana adanya, kebenaran hakiki sebuah teks. Berdasarkan premis-premis tersebut Maulidin menyimpulkan, hermeneutika Husserl hanya hendak menyatakan: “biarkanlah teks itu sendiri yang berbicara”. Tersebab itu, nanti akan kami bahas tentang kesepadanan hermeneutika Husserl dengan metodologi interpretasi Ahl al-Zhahir.

            Secara fenomenologis, interpretasi bukanlah sesuatu yang “dilakukan” oleh mufassir, tetapi sesuatu yang “terjadi” pada mufassir. Oleh karenanya, hermeneutika fenomenologis lebih ditekankan pada pembebasan penafsir dari segala kemungkinan bias subyektif. Pembebasan tersebut sangat mungkin sekali dilakukan dengan cara membentengi diri mufassir dari jebakan bias-bias prasangka. Dengan begitu, hadirnya penampakan makna asli teks bukanlah hal yang mustahil.55

            Menariknya, konsepsi Husserl di muka yang hendak menetralisir sang penafsir dari prasangka ditolak mentah-mentah Heidegger. Karena menurutnya, mufassir tidak pernah bisa melepaskan diri dari intervensi prasangka, serta tak berdaya mengisolasi dan menetralisir dirinya dari kontaminasi duniawi. Seandainya bisa, akan timbul pertanyaan di manakah posisi sang penafsir dalam kerja interpretasinya? Padahal relasi mufassir dan penafsiran bersifat integral. Setiap penafsiran tidak akan pernah bisa dilakukan tanpa melibatkan peran aktif penafsir.56

Problem Originality

Hermeneutika poros tengah ini tidak akan menyetarakan al-Qur’an dengan Bible, sebab teks al-Qur’an tidak mempunyai problema originality sebagaimana yang dialami Bible. Hebrew Bible yang disebut oleh orang Kristen dengan Perjanjian Lama, hingga saat ini penulisnya masih menjadi misteri. Richard Elliot Friedman dalam bukunya Who Wrote the Bible, seperti yang dikutip Adian Husaini, hingga kini siapa yang sebenarnya yang menulis Kitab ini (Bible) masih merupakan misteri. Di samping itu, menurut Ugi, Bible yang ditulis dan dibaca saat ini tidak lagi menggunakan bahasa Aslinya. Bahasa asal Bible untuk Perjanjian Lama adalah Hebrew dan untuk Perjanjian Baru menggunakan bahasa Greek (Yunani). Greek Bible ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, Inggris, Prancis, Indonesia.

Menurut Bruce M. Metzger, guru besar bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, banyaknya teks dan manuskrip menyebabkan keragaman teks tidak dapat dihindari. Hingga kini, ada sekitar 5000 manuskrip dalam bahasa Greek yang berbeda satu sama lain. Bruce juga menyatakan ada dua kesulitan yang selalu dihadapi para penafsir Bible: 1) tidak adanya dokumen Bible yang original saat ini; 2) bahan-bahan yang ada pun sekarang ini bermacam-macam, berbeda satu dengan lainnya. Di samping itu, kata Adian, terjemahan ke berbagai bahasa tidak akan mampu mengekspresikan bahasa asalnya dengan tepat. Contohnya, dalam Kitab 1 Raja-raja 11:1 dalam sejumlah versi Bible ditulis sebagai berikut: Versi Lembaga Alkitab Indonesia (2000) ditulis: ‘‘Adapun Raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het.   Dalam The Liiving Bible ditulis: ‘‘King Salomon married any other girls besides the Egyptian princes. Many of them came from nations where idols were worshipped-Moab, Ammon, Edom, Sidon and fro from the Hittites,” sedangkan Bible King James Version menulis: ‘‘But King Salomon loved many strange women, together with the daughter of paharaoh, women of Moabites, Amonites, Edomites, zidonians, and Hittites.” Adapun the Bible Resived Standard Version menulis. ‘‘Now King Salomon loved many foreign women; the dugghter of pharaoh and moabites, Ammonite, E’domite, Sido’niah, and Hittite women.” Dalam edisi Latin ‘Vulgate’: ‘‘rex autem Salomon amavit mulieres alienigenas  multas filiam quoque pharaonis et Moabitidas et Ammanitidas Idumeas et Sidonias et Chettheas.”57 Dari uraian tersebut, dapat dimengerti bahwa sejumlah versi Bible memakai kata ‘mencintai’ (loved/amavit), sedangkan The Living Bible menggunakan kata ‘married’, dan faktanya Salomon memang mengawini wanita-wanita asing itu.

Adapun mengenai bahasa Hebrew Bible, meminjam pendapat Ugi, kini tidak ada seorangpun yang native dalam bahasa Hebrew kuno. Untuk memahami bahasa Hebrew Bible itu para teolog Yahudi dan Kristen memerlukan bantuan bahasa yang serumpun dengan hebrew (Semitic languages). Bahasa yang dapat mengungkap bahasa Hebrew kuno itu tidak lain adalah bahasa Arab, karena bahasa Arab masih hidup hingga hari ini.

            Adian Husaini berpendapat bahwa bahasa Arab hidup karena pengaruh yang dihidupkan oleh al-Qur’an itu sendiri. Jadi, al-Qur’anlah yang menyelamatkan bahasa Arab. Dalam kasus Bible, mereka mesti menyelamatkan dulu bahasa Hebrew sebelum dapat menyelamatkan Bible. Oleh sebab itu, dengan ketiadaan bahasa asal Bible pada saat ini, wajarlah kalau para teolog Yahudi dan Kristen mencari metodologi untuk kembali memahami Bible melalui hermeneutika. Dalam hal ini hermeneutika kemungkinannya dapat membantu suatu karya terjemahan, lebih-lebih lagi apabila bahasa asalnya sudah tidak ditemukan lagi. Schleiermacher sendiri menegaskan di antara tugas hermeneutika adalah ‘‘memahami teks sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri,’’ dan ‘‘memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri’’. Wajarlah apabila Bible yang dikarang banyak orang itu memerlukan hermeneutika untuk memahaminya dengan cara yang lebih baik dari pengarang Bible itu sendiri.58

Gadamer menegaskan bahwa suatu interpretasi akan benar bila interpretasi tersebut mampu menghilang di balik bahasa yang digunakan. Maksudnya adalah bahwa terjemahan itu akan tepat jika pembacanya mengalami suatu kehalusan dan irama bahasa yang teratur. Atau dengan kata lain: ‘‘Terjemahan itu akan terasa indah sekali, bila tidak setia pada bahasa aslinya, dan bila setia maka terjemahan itu tidak akan indah lagi.’’ Artinya terjemahan yang baik bila tidak menurut kata per kata, tetapi disesuaikan menurut lagak ragam bahasa sendiri.59

            Berpijak dari realitas di muka, perlu digarisbawahi bahwa proyek hermeneutika poros tengah harus bermula dari titik yang berseberangan dengan hermeneutika Barat yang didasari problem orisinalitas. Ringkas kata, hermeneutika poros tengah dilandasi keyakinan orisinalitas atau otentisitas al-Qur’an. Di samping itu, ia tidak diproyeksikan untuk memahami teks ‘‘sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri,’’ dan ‘‘memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri’’, seperti yang diandaikan Schleiermacher. Karena penafsir poros tengah–selaku manusia biasa–tidak akan mampu memahami teks-teks keagaman lebih baik daripada Allâh atau Rasulullah .

 



31 Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy and critique. Routledge & Kegan Paul. London, Boston and Henley, h. 14-15.

32 Nashr Hâmid Abû Zayd. Op. cit., h. 20-21.

33 Maulidin, Gerbang (Jurnal Studi Agama dan Demokrasi): Sketsa Hermeneutika, Elsad, h.12-13. lihat juga Josef Bleicher. Loc. cit.

34 Dr. Lukman. S. Thahir. MA. Op. cit. h. 19.

35 Muhammad bin ‘Ali Taqiyuddin al-Masyhûr bi Ibn al-Daqîq al-‘Id, Ihkâm al-Ahkam Syarh ‘Umdah al-Ahkâm, Mathba‘ah al-Sunnah al-Muhammadiyyah, vol. I, h. 372.

36 Josef Bleicher. Loc. cit. Teks aslinya; “The canons developed for psychological interpretation centre arround the  investigation of the emergence of thought from within the totality of an author’s life. The use of these hermeneutical rules alows for the understanding of the meaning of linguistic knowledge, the mufassir is in a position to understand the author better than he had understood himslelf.”

37 E. Sumaryono. Op. cit., h. 39-40.

38 Nashr Hâmid Abû Zayd. Op. cit., h. 23.

39 Maulidin. Op. cit., h. 13-14.

40 E. Sumaryono, Op. cit., h. 57 & 65.

41 Maulidin. Op. cit., h. 15.

42 A. Zainul Hamdi, Gerbang (Jurnal  Studi Agama dan Demokrasi): Hermeneutika Islam (Intektekstualitas, Dekonstruksi, Rekonstruksi), Elsad, h. 57.

43 Ibid, h. 48.

44 E. Sumaryono. Op. cit., h. 72.

45 Josef Bleicher. Op. cit., h. 108-116.

46 E. Sumaryono. Op. cit., h. 78.

47 Nashr Hâmid Abû Zayd. Op. cit., h. 42.

48 Josef Bleicher. Op. cit., h. 114. Teks aslinya demikian; ‘‘The central task of the mufassir is to which a text presents the answer; to understand a text is to understand the question. At the same time, a text only becomes an object of interpretation by presenting the mufassir with a question. In this logic of question and answer a text is drawn into an event by being actualized in understanding which itself represents an histiric possibility. The horizon of meaning is consequently unlimited.’’

49 E. Sumaryono. Loc. cit.

50 Ibid, h. 106-107.

51 Nashr Hâmid Abû Zayd. Op. cit., h. 46-47.

52 E. Sumaryono. Op. cit., 105-106.

53 Josef Bleicher. Op. cit., h. 231. Bandingkan dengan E. Sumaryono. Op. cit., h. 109.

54 Ibid.

55 Maulidin. Op. cit., h.17-18.

56 Ibid, h. 20.

57 Makalah Adian Husaini, Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal?. Bandingkan dengan Makalah Dr. Ugi Suharto, Gugatan Terhadap Otoritas Mushaf Utsmani Dan Tafsir Qath’i. Kedua Makalah tersebut disampaikan dalam workshop pemikiran Islam dan Barat (3-5 Juni 2004) di Tebuireng, Jombang.

58 Ibid. 

59 E. Sumaryono. Op. cit., h. 81.