ADAB LISAN

 

(Sebuah pembahasan khusus mengenai baik dan buruknya lisan dalam pandangan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pendapat para ulama salaf)

 

 

Penulis:

Abi Anas Bangka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mukaddimah

 

Segala puji bagi Allah, hanya kepada-Nya kita memuji dan memintakan pertolongan, memohonkan perlindungan dari kejelekan diri kita serta perbuatan-perbuatan tercela kita. Ketika Allah telah meberikan hidayah-Nya kepada seseorang, maka Allah tidak akan menyesatkannya dan ketika Allah telah berkehendak untuk menyesatkan seseorang, aka Allah tidak akann eberikan hidayah-Nya kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selian Allah, Tuhan yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhamad adalah hamba dan juga Rasul-Nya.

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Al-‘Imran: 102)

Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisa: 1)

 

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kalamullah Swt. dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Saw., sejelek-jelek perkara adalah menciptakan yang baru, setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan pastilah akan masuk kedalam neraka.

Suatu bentuk kesedihan yang nyata bagi saya adalah ketika saya melihat umat Islam yang tenggela dalam kemunkaran dan juga dosa. Mereka menginginkan untuk kembali kepada agama mereka, akan tetapi hal ini tidak mungkin terjadi kecuali atas kasih sayang Allah kepada mereka, dan juga disebabkan oleh adanya amal perbuatan mereka yang menjaga mereka dari memusuhi Allah dan dari musuh-musuh mereka.

Para cendekiawan Islam berloba-lomba untuk menggerakkan Islam dan juga umat Islam dimanapun berada, hal ini merupakan sebuah pertanda yang pasti bahwa perbuatan mereka memang telah menyimpang jauh dari ajaran-ajaran Allah Swt.

Artinya: Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).(QS. As-Syuraa: 30)

Nabi bersabda:

“Akan menjadi sebuah kebingungan tersendiri, ketika orang-orang menarik perhatianmu, seperti halnya menariknya makanan yang ada dipiring. Mereka berkata: atau karena jumlah kami yang sedikit ketika itu, wahai Rasulullah! Rasulullah berkata: Jumlah kalian banyak, akantetapi kalian bagaikan buih, seperti halnya buih air bah”[1]

Ini adalah sebuah bentuk penyifatan Nabi Muhammad Saw. akan suatu keadaan yang akan sampai kepada kita saat ini, dan sebagai bentuk perubahan/ pergantian dari kembalinya umat/mengembalikan umat kepada Tuhannya, sang penciptanya, dan juga mengembalikan umat kepada agamanya yang lurus, menjadikannya bertaubat dari dosa-dosanya dan juga kemunkarannya.

Lihatlah, apakah saya bukanlah termasuk orang-orang yang menfitnah dan mencela kehormatan orang-orang Islam, apakah saya tidak pernah mengucapkan kata-kata yang dimurkai Allah sang pencipa yang maha luhur dan agung, dengan bergunjing, mengadu domba, membuat kebohongan dan yang sejenis dengan kata-kata tersebut. Hanya kepada Allah saya mengadukan hal ini.

Perkataan-perkataan ini telah banyak menimbulkan adanya pemutusan hubungan persaudaraan, adanya permusuhan dan perpecahan yang muncul ditengah-tengah kehidupan umat manusia, telah banyak mencucurkan darah dan pembunuhan mahluk Allah, telah banyak kata-kata yang telah membinasakan pemiliknya dan menjerumuskannya kedalam neraka jahannam serta mendurhakai Allah.

 Diriwayatkan dari Abi Hurairah dari Nabi Muhammad Saw. bersabda:

“Sesungguhnya jika seorang hamba senantiasa berbicara dengan kata-kata yang diridlai Allah secara reflek, maka Allah akan mengangkatnya berkat kata-kata itu beberpa derajat dan jika seorang hamba senantiasa berbicara dengan kata-kata yang dimurkai Allah secara reflek, maka Allah akan memasukkannya berkat kata-kata itu kedalam neraka jahannam[2]

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya) berkata:

 “Lihatlah, banyak sekali para pemuda yang menjaga dirinya dari tindakan-tindakan tercela dan aniaya, dan mulutnya terlihat sibuk dalam mengingat hidup dan mati, akan tetapi mereka tidak meresapi perkataan mereka, mereka semua tidak mengetahui bahwasannya satu kalimat saja memungkinkan untuk melebur semua amal perbuatannya dan merusak dunia dan juga akhiratnya”

Ketika mulut sudah berbicara (berdiri), maka seluruh badan akan mengikutinya, ketika mulut memiliki pekerti yang jelek, maka demikian juga dengan badan. Diriwayatkan oleh Abi Sa’d al-Khudri dari Nabi Muhammad Saw.:

“Ketika anak keturunan nabi Adam menjelang subuh, maka sesungguhnya semua anggota badannya menolak mulut, lalu berkata: takutkan engkau kepada Allah dari kami, sesungguhnya kami selalu bersamamu, jika engkau memutuskan sesuatu, maka kami akan melaksanakannya, jika engkau menghambur-hamburkan, maka kamipun demiakian, menghambur-hamburkan.”[3]

Sebagai perbandingannya saya melihat orang-orang yang senantiasa memperbaiki sesuatu yang pada dasarnya dapat membinasakan mereka, mereka dengan jumlah yang sedikit mendirikan kewajiban yang telah diperintahkan Allah Swt., berupa amar ma’ruf nahi munkar (perintah kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran).

Yang pas adalah apa yang sesuai dengan kehendak Allah dan menjadikanya sebagai kunci bagi kebaikan yang dapat mengunci kejelekan. Dari Anas bin Malik dari nabi Muhammad Saw. bersabda:

“Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat kunci kebaikan yang dapat mengunci kejelekan, dan dalam diri manusia juga terdapat kunci kejelekan yang dapat mengunci kebaikan, berbahagialah orang yang Allah menjadikan padanya kunci kebaikan pada kedua tangannya dan celakalah orang yang Allah telah menjadikan padanya kunci kejelekan pada kedua tangannya”[4]

Mulut adakalanya menjadi pelayan bagi kebaikan dan ada kalanya juga menjadi pelayan bagi kejelekan, maka wajib bagimu wahai saudaraku untuk tidak berkata kecuali merupakan sebuah perkataan yang baik. Dari ‘Ady bin Hatim berkata: Rasulullah bersabda:

“Takutlah engkau semua kepada neraka, walupun hanya dengan separoh roti, jika seseorang tidak dapat melakukannya maka dengan kalimat yang baik”[5]  

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Nabi bersabda:

“Perkataan yang baik adalah shadaqah”[6]

Ketika tidak mampu melakukannya, maka janganlah lantas berkata buruk. Rasulullah bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat maka berkatalah yang baik atau lebih baik diam”[7]

Ketahuilah wahai saudaraku, Allah telah memberikan petunjuk kebenaran kepadaku dan juga kepadamu, sesungguhnya hanya Allah yang telah memmunculkan engkau dan juga menjagamu dalam keadaan sepi maupun ramai, sesungguhnya apa yang engkau ucapkan pastilah Allah mengetahuinya. Allah berfirman:

 Artinya: Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf: 18)

Artinya:  sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi. (QS. Al-Fajr: 14)

   



[1] As-Salsalah Ash-Shahihah, hal 958, baris 5369

[2] Diriwatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Ar-Riqaq bab Hifdhul Lisan, nomor 6478, dan Imam Muslim nomor 2988 

[3] Shahih At-Thurmudzi nomor 1962

[4] Hadits ini Hasan berdasarkan jalan dan syahidnya, dikeluarkan oleh Ibnu Majjah, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah dan juga dikeluarkan oleh selian kedua rawi tersebut, seperti yang termaktub dalam As-Salsalah As-Shahihah nomor 1332  

[5] HR. Bukhari Muslim

[6] HR. Bukhari Muslim

[7] HR. Bukhari Muslim