Aqidah Aswaja dan Pembangunan Manusia
         Upaya Menemukan Aqidah Alternatif bagi Kebangkitan Umat Islam.
                             Moh. Najib Buchori, Lc*

Kemunduran Islam oleh banyak kalangan sering dihubung-hubungkan dengan
     pandangan keagamaan yang bersumber dari aqidah. Aqidah yang dianut
     mayoritas Muslim saat itu dituduh sebagai tak mampu menyangga kejayaan
     Islam yang telah dibangun sejak lama. Atas dasar itulah sarjana-sarjana
     Muslim mulai mencari alternatif yang mampu menjadi penyangga kokoh bagi
     bangunan besar.

Pada masa Islam klasik, perdebatan Aqidah masih berada pada tingkat
     perdebatan filosofis. Aqidah diposisikan sebagai kewajiban I=92tikady
     seorang hamba terhadap Tuhannya tanpa melihat implikasinya pada
     pembentukan mental manusia.

Berbeda dengan dulu, sarjana-sarjana Muslim modern melihat aqidah tidak
     saja dalam kerangka penunaian kewajban tapi juga dalam fungsi Aqidah
     dalam membangun dalam membangun sebuah peradaban dengan mengatakan
     Sesung-guhnya Aqidah Islamiyah dalam pandangannya terhadap hakekat
     wujud, manusia dan alam merupakan ide bagi pembentukan peradaban Islam,
     karena peradaban adalah buah dari ide-ide manusia dalam memandang alam.
     Dan sepanjang masa aqidalah yang akan menggerakkan umat manusia menuju
     sebuah peradaban 1. Lebih dari itu, menurut Hasan Hanafi Aqidah bisa
     menjadi ide dasar bagi munculnya perilaku-perilaku manusia, Beliau
     menjelaskan: Tauhid menjadi kekuatan dalam kehidupan di bumi ini dan ia
     mempunyai fungsi praktis untuk melahirkan prilaku dan keyakinan yang
     kuat mentrasformasikan kehidupan sehari-hari dan sistem sosialnya. 2

Secara sosiologis, Aqidah yang dipersonifikasikan dalam ideal-ideal
     agama merupakan faktor diterminan bagi dinamika sosial. Dalam
     masyarakat relegius, prilaku manusia akan didasarkan pada pertimbangan
     agama. Begitu pula struktur politik, ekonomi dan kebudayaan ditentukan
     oleh prilaku mereka dalam mencapai cita-cita ideal agama. Penelitian
     Max Weber yang dituangkan dalam karya agungnya; The Protestan Ethic And
     Spirit Of Capitalism menunjukkan adanya konsistensi logis dan pengaruh
     motivisional yang bersifat mendukung secara timbal balik antara agama
     (etika Protestan) dan movifasi-motivasi ekonomi (semangat Kapitalisme).
     3

Di kalangan sarjana muslim sendiri kebudayaan Islam yang tinggi pada
     zaman klasik disebut sebagai refleksi dinamika sosial yang lahir dari
     keyakinan serta pandangan keagamaan yang berpusat pada Aqidah.
     Temuan-temuan baru dibidang sains tekhnolgi dan pemikiran keagamaan
     semuanya lahir dalam iklim kondusif yang terbentuk oleh
     pandangan-pandangan keagamaan yang bersumber dari aqidah. Pada kutub
     berseberangan, Aqidah dalam bentuk keyakinan dan pandangan keagamaan
     juga bisa menjadi sumber utama statika sosial.

Di Eropa, pemberontakan terhadap dominasi agama pada abad pertengahan
     dilakukan karena agama, dalam bentuk yang dipahami penganutnya,
     dianggap membelenggu kreativitas, menghambat kreatifitas, menghambat
     produktifitas dan tidak mampu bertindak sebagai motivator bagi
     terciptanya kemajuan. Lahirlah gerakan sekulerisme untuk mengajarkan
     agama dalam tempat peribadatan dan menidaklayakkannya sebagai way of
     life. Lebih Ekstrim lagi, Feurbech dan Karl Marx menganggap agama
     sebagai =93Candu bagi Manusia=94.

Dalam dunia Islam, ketika keyakinan dan pandangan keagamaan
     disalah-pahami sebagai preferensi kehidupan akhirat dan ketiadaan hukum
     alam yang pasti terjadilah stagnasi. Keadaan ini diperparah dengan
     sikap dan mental umat Islam yang menerima hasil pemikiran pendahulunya
     sebagai taken for granted, dan karenanya tidak bisa diganggu gugat.
     Maka, selama berabad-abad umat Islam mengalami masa kegelapan, dan baru
     tersentak sadar ketika Eropa datang ke dunia dengan memperkenalkan
     peradaban modernnya. Jadi Aqidah disamping merupakan Ibadah Ilmiyah
     juga mempunyai fungsi strategis dalam pembentukan mental manusia yang
     progresif dinamis maupun regresif statis.

Pertanyaan yang lalu muncul adalah bagaimana aqidah -yang notabene
     adalah pemahaman manusia terhadap pesan-pesan Ilahi- dapat membentuk
     mental progresif dinamis dan karakteristik aqidah progresif. Manusia
     baik secara individual maupun kolektif, mempunyai sifat yang dinamis.
     Tuhan membekali manusia dengan watak =93selalu ingin tahu=94 4 Dengan=
 watak
     tersebut akan selalu mengembara dengan akalnya untuk memenuhi hajat
     rohaninya. Bahkan ketika manusia sudah sampai derajat yang paling
     tinggi pun akan selalu haus dengan pengetahuan-pengetahuan baru. Nabi
     Ibrahim yang sudah mencapai derajat kenabian masih memerlukan
     pengetahuan tentang bagaimana Allah menghidupkan kembali orang yang
     sudah mati.

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: =91Ya Tuhanku=
 perlihatkanlah
          kepadaku bagaimana engkau menghidupkan orang mati.=92 Allah
          berfirman: =91Apakah kamu belum percaya ?=92 Ibrahim menjawab:=
 =91Saya
          telah percaya akan tetapi bertambah tetap hati saya...=94 5=92

Dalam perspektif filosofis, pernyataan Nabi Ibrahim keraguan positif
     yang menandai awal kegiatan falsafi seseorang, dan kegiatan falsafi
     adalah wujud dinamika intrinsik manusia. Dalam bentuknya yang kolektif,
     yaitu masyarakat, manusia senantiasa mengalami perubahan dan oleh
     karena itu juga bersifat dinamis. Dalam ilmu semantik disebut bahwa
     bahasa suatu bangsa tiap seratus tahun mengalami perubahan, dan
     perubahan dalam bahasa menggambarkan perubahan dalam masyarakat. 6

Jadi dalam diri manusia telah tersimpan potensi dinamis, dan untuk
     mengaktualisasikan potensi tersebut dibutuhkan aqidah yang dapat
     memberi-kan iklim kondusif bagi terciptanya dinamika yang intinya
     meniadakan hambatan-hambatan bagi berjalannya dinamika dan sekaligus
     merangsang pertumbuhannya. Dengan merujuk kepada arti etimologis
     dinamika yang berarti gerak, maka menumbuhkan dinamika adalah
     memberikan ruang dan keleluasaan bagi gerak manusia. Hal ini bisa
     terwujud jika manusia dibebaskan dari ikatan-ikatan, baik ikatan
     tradisi, dogma maupun ikatan kehendak yang mengikat. Dengan melepaskan
     diri dari ikatan- ikatan, maka akan lahir kreatifitas dan dari
     kreatifitas akan lahir produktifitas. Untuk membebaskan manusia dari
     ikatan dogma dan tradisi maka ajaran agama harus dipilah menjadi ajaran
     yang mutlak dan ajaran yang relatif. Ajaran yang kebenarannya bersifat
     mutlak yaitu ajaran yang didasarkan pada dalil-dalil al-Qur=92an atau
     Sunnah yang mutawatir. Selain itu juga, ajaran tersebut harus disikapi
     sebagai hasil kreatifitas manusia yang bersifat relatif. Dengan
     demikian sifat dinamis manusia tidak akan berhadapan dengan dogmatisme
     agama yang statis. Dan untuk membebaskan manusia dari ikatan kehendak
     yang memaksa, ia harus meyakini bahwa yang menentukan nasibnya adalah
     dirinya sendiri. Dengan demikian manusia akan bersifat dinamis karena
     adanya keyakinan bahwa ia menentukan masa depannya.

Terwujudnya dinamika juga menuntut syarat rasionalitas, yaitu
     penggunaan akal pikiran oleh manusia dalam menemukan atau mendekati
     kebenaran-kebenaran. Sebab tanpa rasionalitas manusia akan terjebak ke
     dalam tradisi yang membelenggu kreatifitas. Dengan sikap rasional,
     manusia tidak pantas mengoreksi hasil pemikiran terdahulunya lalu
     merombaknya jika jelas- jelas ditemukan kesalahan di dalamnya. Begitu
     pula sebaliknya, jika dalam pemikiran tersebut terkandung nilai
     kebenaran maka dengan semangat rasional manusia akan meneruskan dan
     mengembangkannya. Dengan sikap demikian, maka manusia akan mencapai
     temuan-temuan baru tanpa harus terputus dari khazanah lama intelektual
     lama. Jika liberalisasi dan rasionalisasi telah terpenuhi maka hal yang
     mungkin terjanggal adalah cara pandang manusia yang mengutamakan
     kehidupan setelah mati. Cara pandang seperti ini akan membuat orang
     lebih mudah menyerah kepada kenyataan karena adanya harapan kebahagiaan
     setelah mati; bahkan kemiskinan, penindasan dan kesengsaraan akan
     dianggap sebagai nikmat yang tak perlu diubah. Dengan begitu dinamika
     interistik manusia akan terhambat. Oleh karena itu pandangan yang
     mengabaikan kehidupan dunia harus ditinggalkan. Jadi ada tiga hal yang
     perlu diperlukan untuk menumbuhkan dinamika yaitu liberalisasi,
     rasionalitas dan pandangan yang tidak mengabaikan dunia. Kemudian tiga
     syarat yang telah terpenuhi untuk menumbuhkan dinamika harus mengandung
     nilai spiritual yang mengantisipasi terjadinya krisis moral akibat
     dinamika yang tidak terkendali. Sebab tanpa nilai spiritual manusia
     tidak akan menemukan nilai kemanusiaannya. Seperti yang terjadi di
     Eropa, sekularisme mampu mengem-bangkan semangat rasional tapi tak
     mampu mengantisipasi krisis moral yang diakibatkannya. Manusia tidak
     mampu menemukan kepuasan spritual di balik gemerlapnya peradaban.
     Materialisme, anomi, alienasi, demoralisasi dan bunuh diri merupakan
     akibat rasionalitas inmoral yang menciptakan organisasi yang birokratis
     yang memenggal nilai-nilai kemanusiaan. Modernitas memang mampu
     menciptakan keajaiban alam, tapi ia tak mampu menemukan nilai
     kemanusiaan manusia.

Ketidak mampuan rasionalitas menyelesaikan masalah moral telah terbaca
     Max Weber.Tidak seperti beberapa teori yang optimis di zaman itu,
     pandangan Weber diwarnai oleh apa yang diistilahkan oleh Alvin Gouldner
     "Penderitaan metafisik". Sementara Weber jelas terkesima oleh
     perkembang-an-perkembangan instusional zamannya, rasa pesimisnya
     tertuju pada nilai-nilai modern, kesadaran sosial dan pengalaman
     subyektif suatu masyarakat rasional.

Persoalan yang dihadapi oleh manusia bahwa dunia sosial dan individunya
     pada dasarnya telah menjadi begitu kecil. Kodifikasi hukum, ilmu
     pengetahuan, organisasi rasional dapat membantu merumuskan sarana yang
     sesuai untuk mencapai sasaran sosial serta tujuan hidup, namun prosedur
     prosedur tersebut tidak dapat membantu untuk memilih di antara
     nilai-nilai yang absolut atau tujuan yang bersaing. lImu pengetahuan
     dapat membantu kita membuat keputusan moral bila dihadapkan kepada
     berbagai rangkaian tindakan, akhirnya ilmu pengetahuan tidak menjadi
     relevan pada masalah merumuskan hidup yang baik 7

Kecemasan Weber bukanlah satu-satunya di Eropa, Renedubos, seorang ahli
     biologi dari Amerika dalam bukunya So Human An Animal mengungkapkan hal
     yang senada, bahkan ia menuduh ilmu pengetahuan sebagai penghancur
     nilai agama dan nilai filosofis tanpa memberikan alternatif yang mampu
     memberikan pandangan rasional etis tentang alam.8 Demikianlah sejarah
     Eropa mengajarkan kepada umat manusia bagaimana nilai spiritual harus
     menjiwai seluruh aspek kehidupan manusia agar kemajuan yang dihasilkan
     oleh semangat rasional itu tidak berbalik membunuh tuannya sendiri.

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa suatu peradaban agar
     menjadi kokoh harus disanggah aqidah yang mengakui adanya kekuasaan
     yang tertinggi, yaitu kekuasaan tuhan yang mengatasi kekuasaan manusia.
     Ia harus diyakini telah menciptakan keteraturan alam yang dapat
     dipahami oleh akal manusia dan memberikan kebebasan kepada manusia
     untuk menentukan nasib sendiri. Dan bahwa keimanan terhadap kekuasaan
     tertinggi harus dijabarkan secara implementatif dalam perbuatan manusia
     baik ritual maupun sosial. Dengan demikian perbuatan-perbuatan yang
     bersifat duniawi sebagai penistaan terhadap fitrah manusia justru
     sebaliknya ia dipretensikan sebagai investasi untuk kehidupan di
     akhirat kelak. Dalam kerangka keimanan dalam kekuasaan tertinggi
     tersebut dan dengan akal budi yang dianugerahkanya manusia akan
     bergerak menuju cita-cita ideal yang berdimensi moral dan kemanusiaan,
     yaitu pembangunan mental spritual dan material yang berimbang.

Paradigma Aswaja dan Pembangunan Manusia

Untuk memahami aswaja sebagai sebuah paradigma tidak mungkin hanya
     mengandalkan pemikiran-pemikiran yang mendominasi pandangan keagamaan
     orang sunni sepanjang sejarah. Aswaja sangat kaya dengan khazanah
     pemikiran di berbagai disiplin ilmu. Sedang doktrin yang berhasil
     ditanamkan dan diakui oleh kaum sunni sebagai hakikat aswaja hanya
     sebagian kecil dari keseluruhan yang ada. Di bidang akidah misalnya,
     ada Asy,ari, Maturudi, Ibnu Taimiyah, Imam Haramain dan sederet ulama
     lain .Tetapi dari sekian akidah yang berbeda-beda secara polarisatif
     maupun yang merupakan parian antara kedua polar hanya akidah Asy'ari
     yang berhasil mendominasi pandangan-pandangan keagamaan kaum sunny
     sepanjang sejarah, sementara aqidah lain harus puas berada dipinggiran
     jalan dan hanya sekali saja dilirik sebagai pembanding. Maka sangat
     tepat jika kaum Sunny yang ada selama ini disebut Sunny dengan
     embel-embel sifat dibelakangnya, yaitu Sunny Asy'ary.

Maksud paparan di atas bukan untuk mengkotak-kotak Aswaja, tetapi lebih
     kepada pengakuan terhadap pluralitas, dan bahwa istilah Sunny yang ada
     selama ini bukanlah mewakili Sunni secara keseluruhan. Karena untuk
     menyebut salah satu dari pemikiran yang ada sebagai mewakili aswaja,
     adalah hal yang sulit bahkan mustahil. Dengan pengakuan terhadap
     pluralitas kesempatan untuk menentukan pilihan yang terbaik akan
     menjadi lebih terbuka. Bila aqidah Asy'ari yang relevan pada masanya
     sudah tak relevan lagi dengan masa sekarang, maka aqidah lain bisa
     dipilih sebagai penggantinya tanpa menghilangkan identitas aswaja.
     Dengan mengacu kepada pengakuan terhadap pluralitas pembahasan terhadap
     aswaja di sini akan dibagi menjadi dua, yaitu: 'Aswaja superordinat'
     dan 'Aswaja Subordinat'. Yang dimaksud dengan yang pertama adalah
     pemikiran aswaja yang mendominasi pandangan keagamaan kaum Sunni selama
     ini dan yang dimaksud dengan yang terakhir adalah pemikiran aswaja yang
     tidak atau kurang diakomodir kaum Sunni selama ini.

Pembahasan Aswaja superordinat dalam kaitannya dengan pembangunan
     manusia yang berimbang dimaksudkan dengan pengkajian ulang terhadap
     sifat kesesuaiannya dengan kondisi yang ada sekarang. Tepatkah
     superordinasi aswaja yang ada sekarang ini dipertahankan? Dan
     pembahasan aswaja subordinat dimaksudkan untuk mencari formulasi aswaja
     superordinat baru yang sesuai dengan kondisi yang ada sekarang. Untuk
     pembahasan aswaja superordinat di sini akan ditekankan pada agidah
     Asy'ari yang ada relevansinya dengan prasayarat dengan pembangunan
     manusia yang seimbang seperti telah dibahas di atas; yaitu pengakuan
     akan adanya kekuasaan tertinggi yang mengatasi kekuasaan manusia,
     liberalisasi rasionalitas dan ketiadaan pengabaian kehidupan dunia.

Integritas Tasauf dan Aqidah Asy'ari bagi Pembentukan Mental

Kebebasan dan tanggung jawab manusia atas tindakannya merupakan
     persoalan yang senantiasa menghantui pikiran manusia. Adakah
     perbuatannya merupakan kehendak dan tindakannya sendiri dan karenanya
     dipertanggung jawabannya di hadapan tuhan didasarkan atas kehendak dan
     tindakan tersebut. Ataukah ada kekuatan lain yang memaksa tanpa bisa
     dielakkkan. Jika demikian atas dasar apa ia harus
     mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan tuhan. Dalam persoalan
     ini Asy'ari tidak berpihak pada Jabariah ataupun Qadariah. Jika
     Jabariah berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kekuasaan untuk
     menentukan nasibnya sendiri dan Qadariah berpendapat sebaliknya, maka
     Asy'ari mencoba mencari sintesa dari kedua pendapat tersebut. Sebagai
     manifestasi pengakuannya terhadap adanya kekuasaan tertinggi, Asy'ari
     berpendapat bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu yang terjadi di
     dunia termasuk di antaranya nasib manusia. Dan ketentuan Allah bersifat
     mengikat dan tidak dapat berubah. Namun demikian manusia tetap layak
     mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia, karena ia mempunyai andil
     di dalamnya. Andil tersebut dijabarkan Asy'ari dalam teori
     'kasb=92-nya.Pengertian kasb versi Asy'ari adalah kekuasaan manusia=
 yang
     diciptakan oleh Allah, yang muncul bersamaan dengan terjadinya sesuatu
     perbuatan tanpa adanya hubungan kausalitas antara keduanya. Adapun yang
     menentukan terjadinya perbuatan tersebut adalah Allah dan bukan
     kekuasaan manusia. Dengan kata lain perbuatan manusia mempunyai dua
     sisi. Sisi yang pertama adalah kekuasaan manusia yang hubungannya
     dengan perbuatan tersebut hanya hubungan kebersamaan waktu. Dan sisi
     kedua adalah kekuasaan Allah yang hubungannya dengan perbuatan adalah
     hubungan kausalitas. Dan kekuasaan manusia itulah yang dijadikan dasar
     pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa Asy'ari dalam upaya
     mengkompromikan dua pendapat terjabar kedalam paham fatalisme. Pendapat
     beliau lebih dekat dengan Jabariah. Perbedaannya hanya pada Justifikasi
     Asy'ari terhadap pertanggungjawaban manusia melalui teori kasb. Dan
     teori kasb itu sendiri tidak mampu mengeluarkan pendapat Asy'ari dari
     lingkaran paham Jabariah. Dalam perspektif aqidah Asy'ari manusia tidak
     saja mempunyai kebebasan dalam menentukan nasibnya. Semuanya telah
     ditentukan oleh Allah pada zaman azali. Satu-satunya yang dimiliki
     manusia hanya kekuasaan semu yang tidak mempunyai pengaruh apa-apa
     terhadap perbuatannya.

Pendapat Asy'ari terhadap kebebasan manusia paralel dengan pendapatnya
     tentang hukum sebab-akibat. Menurutnya hubungan antara dua peristiwa
     yang selalu terjadi secara bersamaan bukannlah hubungan sebab akibat.
     Pergesekan api dengan benda yang bisa terbakar sebagai suatu peristiwa,
     tidak mempunyai hubungan kausalitas dengan terjadinya pembakaran
     sebagai peristiwa lain. pembakaran terjadi karena Allah menghendakinya
     terjadi, sementara pergesekan api dengan benda yang dapat terbakar
     hanya peristiwa yang menyertainya tanpa mempunyai pengaruh apa-apa
     terhadap peristiwa pembakaran itu sendiri.10 Pendapat ini, seperti
     disebutkan di atas merupakan manifestasi pengakuan Asy'ari terhadap
     adanya kekuasaan tertinggi, yaitu kekuasaan Allah dan kekuasaan
     tertinggi tersebut diterjemahkan sebagai satu-satunya kekuatan yang
     berpengaruh. Maka api tidak bisa membakar, karena membakar adalah
     kekuatan yang berpengaruh, sedang kekuatan yang berpengaruh hanyalah
     milik Allah.

Dengan doktrin ini, Asy'ari mampu memberikan gambaran yang utuh tentang
     kekuasaan tuhan, tapi gagal menjelaskan fenomena keteraturan alam yang
     diciptakannya. Kepastian hukum alam dalam perspektif aqidah Asy'ari
     menjadi kabur, dan ini melemahkan semangat rasionalitas. Sebab
     pengingkaran terhadap adanya hukum sebab akibat dalam keteraturan alam
     sama dengan mengebiri fungsi akal. Kedua pendapat Asy'ari tentang
     kekuasaan Allah yang mengekang kehendak manusia dan kekuasaan Allah
     yang meniadakan hukum sebab akibat, diterima kaum sunni sebagai doktrin
     yang dogmatis. Dan pada perkembangan selanjutnya doktrin tersebut
     diintegrasikan dengan tasawuf yang dipahami mayoritas Sunni untuk
     menjauhkan diri dari keduniaan.Akibat dari ketiga ajaran di atas yang
     kemudian dianggap sebagai doktrin yang dogmatis, pandangan keagamaan
     kaum sunni menjadi lebih banyak berorientasi pada pemenuhan kebutuhan
     rohani. Kaum Sunni menjadi apatis terhadap hal-hal yang bersifat
     keduniaan. Kegairahan intelektual dan semangat penelitian rasional yang
     tidak terikat dengan doktrin-doktrin dogmatis lenyap dan digantikan
     dengan kegiatan keilmuan yang sangat terbatas pada lingkup penjelasan
     terhadap pemikiran-pemikiran ulama terdahulu. Singkatnya manusia yang
     pada fitrahnya bersifat dinamis akhirnya menjadi statis karena
     pandangan keagamaan yang irasional, fatalistis, dogmatis, dan
     berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rohani.

Memang tidak dipungkiri bahwa pada level "khoowas" penyerahan diri
     mutlak kepada Allah dan pengakuan akan adanya kehendak azaly yang
     bersifat memaksa, tidak menghalangi aktivitas dunia. Apapun kehendak
     Allah pada saman azaly, mereka tetap giat beramal di dunia seakan-akan
     tidak tidak pernah ada kehendak tersebut. Prinsipnya, Kehendak Azaly
     Allah adalah hal yang belum diketahui manusia, dan karenanya manusia
     tetap berbuat tanpa harus terikat dengan takdir. Hal ini sebagai
     manifestasi ketaatan mereka terhadap firman Allah yang artinya : Dan
     katakanlah : =93bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
     orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.=94 11 Dan sabda
     Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ali ra : Tak seorangpun dari kalian
     melainkan telah ditulis tempatnya di neraka dan tempatnya di surga.
     Mereka (sahabat) : bertanya, wahai Rasulullah apakah kita tidak
     berserah kepada catatan kita saja. Rasulullah menjawab =91bekerjalah,
     karena setiap orang dimudahkan untuk hal-hal yang diciptakannya
     karenanya, adapun yang termasuk golongan orang-orang yang berbahagia
     maka akan menuju perbuatan-perbuatan yang sangat membahagiakan, dan
     termasuk golongan orang celaka, maka akan menuju amal yang
     mencelakakan. 12

Dengan berpegang kepada kedua nash tersebut, aqidah sebagai kewajiban
     i=92tiqadih tidak akan menghalangi pekerjaan dunia sebagai kewajiban
     amali. Tetapi, ketika aqidah pada level =93awam=94 harus diyakini dan
     diimplementasikan secara konsisten dalam pekerjaan, maka sulit dipahami
     bahwa adanya kehendak azali yang mengikat tidak akan melemahkan
     semangat bekerja di dunia. Dan seperti disebutkan di atas aqidah akan
     merefleksikan perbuatan, maka segala sesuatu yang terjadi di dunia ini
     sudah ditentukan, semangat bekerja cenderung melemah dan perintah
     bekerja tidak banyak membantu meningkatkan semangat bekerja. Dengan
     kata lain sulit memisahkan aqidah sebagai suatu kewajiban dengan
     bekerja sebagai suatu kewajiban lain.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa aqidah Asy=92ari yang
     mempunyai konsistensi logis dengan pandangan keagamaan yang irasional,
     fatalistis, dogmatis dan berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan
     rohani, tidak dapat menjadi landasan bagi kebangkitan umat Islam. Oleh
     karenanya, harus dicari landasan aqidah baru yang mampu menghantar
     kebangkitan umat Islam. Menumbuhkan sikap rasional dan liberal melalui
     aqidah Aswaja. Masa lalu bukanlah sejarah yang mati. Ia adalah benda
     hidup yang menjadi bahan pembentukan manusia dan masa depannya.13
     Bertolak dari pernyataan Rene Dubos di atas, penulis mencoba menemukan
     landasan-landasan aqidah yang dapat membentuk mental manusia yang ideal
     bagi pembentukan masa depannya melalui penggalian warisan Aswaja. Upaya
     ini, dengan meminjam bahasa George Simmel 14 harus dilihat dalam
     kerangka proses subyektif manusia yang senantiasa berusaha
     mengungkapkan kreatifitasnya. Dan oleh karenanya, sudah barang tentu
     akan berhadapan dengan bentuk-bentuk kemapanan obyektif, yang dulunya
     juga merupakan hasil proses kehidupan subyektif manusia.
     Rasionalitas/Etis seperti telah disebutkan di atas, bahwa suatu
     peradaban harus dibangun di atas suatu keyakinan akan adanya kekuasaan
     tertinggi yang mengatasi kekuasaan manusia.

Dalam Islam keyakinan tersebut dijabarkan dalam kalimat haoqala yaitu
     La Haula Wa La Kuwwata Ill=E2 Bil-L=E2h al- =91Aliyyi al-Adz=EEm.=
 Dengan
     pengakuan tersebut manusia tidak akan pongah dan selalu menyadari bahwa
     dirinya adalah mahluk yang lemah. Hal ini sesuai dengan firman Allah
     yang artinya =93........ dan manusia dijadikan bersifat lemah.=94 15=
 Karena
     merasa lemah, maka manusia memerlukan bimbingan Allah melalui wahyu
     yang diturunkan kepada nabi. Akan tetapi wahyu tidak selamanya
     menyertai perjalanan manusia. Ia telah sempurna dengan berakhirnya masa
     kenabian; sedang permasalahan yang dihadapi manusia terus berkembang
     berbanding sejajar dengan sejarah perjalanannya. Maka diperlukan
     petunjuk akal pada masalah-masalah yang dapat terjangkau oleh
     kemampuannya. Hal ini tak bertentangan dengan kesempurnaan agama Islam
     sebagaimana yang difirmankan Allah : =93Pada hari ini telah=
 kusempurnakan
     untukmu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmaku, dan telah
     kuridhai Islam sebagai agama bagimu=94 16

Konsekuensi dengan berakhirnya kenabian adalah kesempurnaan agama Islam
     karena ia yang akan menjadi petunjuk bagi manusia. Dan makna
     kesempurnaan agama Islam adalah bahwa Allah telah menurunkan wahyu yang
     menunjukkan manusia kepada kebenaran mutlak yang tak terjangkau oleh
     akal dan wahyu yang memberikan otoritas kepada akal budi manusia untuk
     menemukan kebenaran-kebenaran relatif yang dapat terjangkau oleh
     kemampuannya.

Dalam Al-Qu=92an akal mendapat tempat yang tinggi ia diduetkan dengan
     agama; suatu hal tak pernah dialami risalah agama sebelum Islam.17 Dan
     bukan kebetulan jika Al-Quran secara perspektif menyebutkan akal dengan
     berbagai kata. Dr. Ahmad al-Kufi menyebutkan bahwa asal kata al-Aql
     disebut dalam 49 ayat, al-Qalb dengan arti akal disebut dalam 133 ayat,
     an-Nuha dengan arti akal disebut dalam 16 ayat, dan asal kata al-Fikr
     disebut dalam 18 ayat. 18

Demikianlah, Islam menghargai akal dan memberikannya tempat dalam
     menemukan kebenaran di samping kebenaran wahyu. Dan tampaknya legalitas
     akal dalam Islam telah disepakati oleh ulama Aswaja, hanya porsinya
     dalam menemukan suatu kebenaran yang masih diperselisihkan
     mereka.Seperti telah dikemukakan di atas, aqidah Asy=92ari kurang
     berhasil menumbuhkan semangat rasionalitas, meskipun ia mengakui
     legalitas akal, hal itu karena Asy=92ari mengfungsikan hanya sebagai
     justifikasi bagi teks wahyu, sehingga akal diposisikan selalu berdiri
     di belakang naql. Untuk itu perlu dicari kiblat dalam menilai posisi
     akal. Dalam hal ini kiranya cukup menarik untuk meneladani Ar-Razi
     dalam memposisikan akal.Ar-Rasi membagai masalah ilmu kalam menjadi
     tiga yaitu : (1) Masalah hanya dapat dijangkau oleh akal. (2) Masalah
     yang hanyah dapat dijangkau oleh naql. (3) Masalah yang dapat dijangkau
     oleh keduanya.Masalah yang hanya dapat dijangkau oleh akal yaitu
     seluruh masalah pokok yang kebenarannya akan mengesahkan naql, seperti
     Allah mengutus nabi, menciptakan alam dan lain sebagainya. Sedang
     masalah yang hanya dapat dijangkau oleh nagl, masalah yang berhubungan
     dengan kebenaran atau pengingkaran hal yang akan melalui pengalaman
     inderanya, tidak mempunyai gambaran sama sekali tentang hal tersebut.

Kategori masalah kedua dicontoh oleh Ar-Razi dengan ghaibiyat. Dan
     masalah yang dapat dijangkau oleh keduanya hal yang kebenarannya tidak
     mempengaruhi keabsahan naql. Dan akal secara potensial dapat
     menjangkaunya seperti masalah ru=92yah, sifat wahdaniyah dan lain
     sebagainya.Kemudian Ar-Razi menjelas kan pendapatnya bahwa naql tidak
     dapat dipakai untuk membuktikan kategori masalah pertama karena
     kategori masalah pertama dimaksudkan untuk mengesahkan naql itu
     sendiri. Jika naql harus digunakan untuk membuktikan naql itu sendiri
     maka akan terjadi vicius circles (lingkaran yang tak berujung pangkal)
     dan akal tidak dapat menjangkau kategori masalah kedua, karena akal
     sama sekali tidak mempunyai gambaran yang ditarik dari pengalaman
     indera tentang masalah kedua. Maka, pembenaran atau peningkatan akal
     terhadapnya adalah hal yang tidak logis, dan dalam hal ini hanya naql
     yang dapat menjangkaunya. Dalam kategori masalah ketiga meskipun akal
     dan naql bisa menjangkaunya tetapi Ar-Razi -berbeda dengan Asy=92ari-
     lebih mengedapankan akal ketimbang naql.Ar-Razi memberikan alasan bagi
     sikapnya dengan menjelaskan bahwa jika diasumsikan adanya dalil aqli
     yang pasti karena didasarkan atas premis aksiomatis, lalu bertentangan
     dengan dalil naql maka dalil naql harus ditakwil. Sebab jika kedua
     dalil tersebut berten-tangan tidak mungkin dikompromikan, maka hanya
     ada dua kemungkinan : mentakwil dalil naql atau menyalahkan dalil aql.
     Jika kemungkinan kedua dipa kai, maka akan berujung menyalahkan dalil
     naql pula. Sebab kebenaran dalil naqli, seperti telah dikemukakan di
     atas didasarkan atas dalil aqli : dan kalau dalil aqli diragukan
     kebenarannya, berarti dalil naqli didasarkan atas dalil yang meragukan.
     Karena itu pembenaran naql dengan menolak akal berimpilikasi penolakan
     naql itu sendiri. Jika kemungkinan kedua berakibat penyalahan terhadap
     naql, maka tidak ada jalan lain kecuali mentakwil naql sesuai dengan
     dalil akal. 19

Demikianlah sikap Ar-Razi dalam memandang akal. Ia tidak
     me-nomordua-kan akal dalam menemukan kebenaran. Akal seperti juga naql,
     secara independen dapat menjangkau kebenaran, bahkan akal pula yang
     membuktikan kebenaran naql. Tetapi akal bukan kebenaran mutlak yang
     menggantikan kekuasaan tuhan seperti dipahami abad modern Eropa. Naql
     mempunyai wilayah khusus yang tidak dapat ditembus kemampuan akal.
     Dengan demikian Ar- Razi mengambil sikap moderat yang tidak menuhankan
     akal tapi juga tidak membunuh kreatifitas akal (open minded)

Jika pemikiran Ar-Razi dikembangkan dalam masyarakat, maka akan tumbuh
     budaya berpikir rasional. Budaya semacam ini pada gilirannya juga akan
     melahirkan keterbukaan yang tak terikat oleh tradisi dan dogma. Sebab
     kebenaran tidak lagi diukur oleh tradisi yang sudah mapan ataupun hasil
     pemikiran manusia yang didogmakan melainkan dengan rasio. Al-Quran
     sendiri tidak membenarkan cara berpikir yang didasarkan atas tradisi
     yang sudah mapan : =93Dan apabila dikatakan kepada mereka : Ikutilah=
 apa
     yang diturunkan oleh Allah, mereka menjawab tidak, tetapi kami hanya
     mengikuti apa yang telah kami dapai dari perbuatan nenek moyang kami
     (apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu
     tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat suatu petunjuk.=94 20
     Ayat ini menunjukkan bahwa apa yang didapati seseorang dalam
     komunitasnya sebagai tradisi dan budaya yang dihasilkan oleh orang
     terdahulu bukan ukuran kebenaran.

Al-Quran juga mengingatkan bahwa popularitas kebesaran nama bukan
     ukuran kebenaran : Dan mereka berkata : Ya Tuhan kami sesunggguhnya
     kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar- pembesar kami, lalu
     mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, berilah
     kepada mereka azab yang dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan
     kutukan yang besar. 21 Begitulah Al-Quran tidak membenarkan hasil
     pemikiran manusia yang karena kebesaran namanya lalu dijadikan ukuran
     kebenaran.

Dengan demikian Al-Quran telah menghindarkan akal dari cara berpikir
     yang menjadikan kemapanan obyektif dari hasil kreatifitas subyektif
     manusia sebagai barometer kebenaran.Urain ini sama sekali tidak
     dimaksudkan untuk mengecilkan arti jerih payah ulama terdahulu dalam
     menemukan kebenaran justru sebaliknya, dengan tidak menjadikan hasil
     pemikiran manusia sebagai kebenaran mutlak, maka ulama secara
     profesional telah ditempatkan sesuai sifat kemanusiaannya yang mungkin
     salah dan mungkin benar. Jika pemikiran mereka jelas-jelas salah maka
     harus diakui sebagai kesalahan dan jika pemikiran mereka mengandung
     kebenaran, maka kebenaran akan diteruskan dan dikembangkan ; bukan
     karena ia sudah pemikiran yang mapan, tapi secara rasional ia benar.
     Dengan begitu akal manusia bersikap open minded, mudah menerima hal
     baru dan selalu memelihara warisan lama selama ia mengandung kebenaran,
     dan tidak menganggap bahwa kebenaran adalah monopoli suatu golongan.

Urgensi Wahyu Mendampingi Rasionalitas

Seperti telah dikemukakan di atas, rasionalitas Ar-Razi bukan berarti
     menuhankan rasio. Karena rasio mempunyai wilayah sendiri dan tidak
     mungkin menyeberang ke wilayah kekuasaan =93petunjuk tuhan=94. Berarti
     manusia rasional dalam perspektif rasionalitas Ar-Razi tetap memerlukan
     petunjuk tuhan dalam hal yang tidak dimampui oleh akal.

Hal ini berbeda dengan rasionalitas Marxis atau rata-rata rasionalitas
     barat lainnya. Rasionalitas barat adalah rasionalitas arogan. Ia tidak
     mengakui otoritas tuhan, bahkan Auguste Comte, seorang sosiolog yang
     di-bapak sosiologi-kan orang, ingin mengganti agama tuhan dengan agama
     humanitasnya. tentu saja ia gagal, karena agama menyangkut masalah
     moralitas dan bagaimana merumuskan kehidupan yang baik. Kebaikan dan
     keburukan tidak bisa diketaui manusia dengan fitrah akalnya. Hal ini
     bisa dibuktikan dengan perbedaan antara masyarakat lainnya dalam
     menilai kebaikan dan keburukan. Seandainya kebaikan dan keburukan dapat
     ditangkap fitrah akal manusia, tentu tidak terjadi perbedaan antara
     satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Memang tidak dipungkiri, orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat
     berperadaban akan dapat menangkap kebaikan dan keburukan dengan
     akalnya. Tetapi hal itu bukan karena akal secara potensial mampu
     menangkapnya, melainkan karena mereka hidup di dalam masyarakat yang
     telah menganut norma-norma tertentu. Buktinya, jika ada orang hidup
     yang tak pernah berinteraksi dengan orang lain, tentu ia tidak akan
     menangkap kebenaran dan keburukan seperti halnya orang yang hidup di
     tengah masyarakat. Bukankah ini membuktikan bahwa manusia dengan
     akalnya tidak mampu menyelesaikan masalah moral-itas apalagi merumuskan
     kehidupan yang sempurna.

Ketika kita mengamati Al-Quran sebenarnya ia telah mengisyaratkan bahwa
     manusia memerlukan petunjuk tuhan dalam hal moralitas. Al-Quran membagi
     petunjuk ini menjadi dua, yaitu pertama disebut al-Ma=92ruf dan yang
     kedua disebut al-Khair. Untuk menyeru al-Ma=92ruf digunakan kalimat
     al-Amr, seperti =93wa=92mur bil ma=92ruf=94. Kata al-Amr yang berarti=
 perintah
     menunjukkan adanya al-ma=92mur bih (sesuatu yang diperintahkan) yang
     sudah diketahui al- ma=92mur (orang yang diperintah). Sebab jika
     al-ma=92mur bih belum diketahui al-ma=92mur sebagai perintah maka arti
     perintah menjadi tidak berguna. Dengan demikian al-ma=92ruf yang selalu
     berpasangan dengan al=92amr adalah kebaikan yang sudah diketahui
     masyarakat. Sedang untuk menyeru al-khair digunakan kalimat ad-Da=92wah
     seperti =93yad=92u ilal khair=94. Kata ad-Da=92wah yang berarti ajakan,
     mengandung makna meyakinkan orang lain secara verbal untuk melakukan
     al- mad=92u ilaih (hal yang dianjurkan). 22 Adanya perbuatan yang
     berfungsi meyakinkan orang lain menunjukkan bahwa al-mad=92u ilaih=
 belum
     diketahui kebaikannya oleh al-mad=92u (orang yang diajak). Berarti
     al-Khair yang selalu berpasangan dengan ad-da=92wah adalah kebaikan=
 yang
     belum dikenal oleh manusia. Untuk mengenalnya memerlu-kan petunjuk
     Allah melalui rasul-Nya.

Jadi urgensi petunjuk tuhan dalam merumuskan masalah-masalah moral
     telah diisyaratkan al-Quran dan mendapat legitimasi akal. Dalam
     perspektif rasional-itas ar-Razi, masalah moral dikategorikan dalam
     masalah yang tak dapat dijangkau akal. Dengan demikian rasionalitas
     tidak akan menyesatkan manusia karena ia mendapat petunjuk dalam
     hal-hal pokok yang tidak dapat dijangkau oleh akal. Dari uraian di atas
     dapat disimpulkan bahwa untuk menumbuhkan rasionalitas kiranya tidak
     berlebihan jika Ar-Razi dalam mensikapi dalil aqli dan naqli
     diteladani. Rasionalitas yang berkembang, pada gilirannya akan
     membebaskan manusia dari ikatan tradisi yang mapan ataupun pemikiran
     manusia yang dogmatis. Dengan terbebas dari ikatan, manusia akan mudah
     menerima hal-hal yang dianggap benar.

Walaupun manusia mengakui dominannya kekuasaan rasionalitas dan
     kebebasan, namun ia tidak akan terge-lincir dalam sikap arogan, karena
     yang dikembangkan adalah rasionalitas moderat yang mengakui urgensi
     petunjuk-petunjuk tuhan. Justru sebalik nya, dengan rasionalitas
     moderat ia akan menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan nilai-nilai
     kemanusiaan, karena masalah moral dan kemanusiaan datang dari petunjuk
     tuhan yang mutlak kebenaran nya. Bila sikap semacam ini sudah
     berkembang di kalangan Sunni maka tinggal membudayakan =93keseimbangan
     dunia akhirat=94.

Kebebesan Kehendak Manusia Versi Ibnu Taimiyah, Al-Juwaini dan Mahmud
     Syaltut

Dalam agama terdapat dua ajaran yang berkaitan erat dengan
     produktifitas. Pertama, soal kehidupan spritual di akhirat setelah
     berakhirnya kehidupan. Apabila kehidupan di dunia dianggap penting maka
     produktifitas akan meningkat. Tetapi sebaliknya, bila kehidupan dunia
     dianggap tidak penting maka produktifitas akan rendah sekali. Kedua,
     mengenai ketentuan nasib manusia. Kalau nasib manusia ditentu-kan oleh
     kehendak azali, maka produktifitas akan rendah sekali, sebalik-nya,
     bila manusia punya kebebasan dalam menentukan nasib sendir, maka
     produktifitas akan tinggi. 23.

Sebagai mana yang dikemukakan di atas aqidah Asy=92ari yang berupaya
     memoderasi ekstrim Jabariah dan ekstrim Qadariah akhirnya tergelincir
     ke dalam paham fatalistis. Kemudian , ketika aqidah Asy=92ari
     diintegrasikan dengan ajaran tasawuf di kalangan Sunni berkembang
     pandangan keagamaan yang mengabai kan kehidupan dunia. Oleh karena itu
     perlu ditemukan landasan aqidah yang baru yang dapat menghidup-kan
     sema-ngat kehidupan kaum Sunni.

Sebenarnya, semua aqidah Islam yang mengakui adanya kekuasaan
     tertinggi, yang mengatasi kekuasaan manusia -termasuk di antaranya
     mu=92tazilah- akan meyakini sesuatu yang akan terjadi. Apapun yang
     terjadi di dunia tidak pernah meleset dari sesuatu yang pasti terjadi.
     Setelah terjadi kekafiran Abu Jahal orang dengan menggunakan perspektif
     aqidah mana pun akan meyakini kekafiran Abu Jahal sesuatu yang pasti .
     Dalam perspektif Mu=92tazilah keyakinan tentang adanya sesuatu yang=
 pasti
     terjadi muncul dari keyakinan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu
     yang terjadi. Dan sesuatu yang diketahui Allah pasti terjadi. Dalam
     perspektif non-mu=92tazilah keyakinan tersebut lahir dari keyakinan=
 bahwa
     Allah mengetahui dan memastikan segala kejadian di dunia akan terjadi.
     Persoalan yang muncul, sejauh mana manusia mempunyai kebebasan dalam
     memilih? Menurut Ibnu Taimiyah, alam dan isinya, termasuk di dalamnya
     pekerjaan manusia adalah milik dan ciptaan Allah. Allah pada zaman
     azali telah mengetahui dan memastikan segala peristiwa yang akan
     terjadi di dunia nanti. Namun demikian manusia tetap mempunyai
     kemampuan, kehendak dan pilihan yang harus dipertanggung jawabkan di
     hadapan Allah. Selanjutnya ia menjelaskan pula bahwa manusia mempunyai
     kemampuan yang diciptakan Allah. Dan kemampuan dimaksud adalah
     perantara atau sebab yang melahirkan pekerjaan yang disesuaikan dengan
     hukum kualitas yang diciptakan oleh Allah. Jadi, perbuatan manusia
     tidak berbeda dengan fenomena alam lainnya yang mengikuti hukum
     kualitas. Manusia berjalan karena ia menggerakkan kedua kakinya. Begitu
     pun, pepohonan tumbuh karena ia ditanam pada tanah yang subur. Tetapi
     kekuatan menggerakkkan kaki dan kesuburan tanah adalah ciptaan Allah.
     Demikian juga kemampuan gerakan kedua kaki melahirkan pekerjaan
     berjalan; dan kemampuan kesuburan tanah menumbuhkan pepohonan adalah
     hukum kualitas yang diciptakan Allah. 24. Dengan kata lain manusia
     harus bertanggung jawab atas perbuatannya karena ia mempunyai kebebasan
     memilih berkehendak dan akhirnya menjalankan-nya dengan kekuatan yang
     diciptakan oleh Allah. Begitu juga halnya pernyataan Al-Juwaini mengatakan bahwa kekuatan
     manusia dalam berbuat adalah salah satu sebab dari beberapa sebab yang
     diciptakan Allah di dunia. Dan dengan perantaraan sebab manusia
     melakukan perbuatannya. Oleh karena itu suatu pekerjaan dinisbatkan
     kepada Allah karena Ia pencipta sebab. 25 Di samping kedua pendapat di atas perlu juga kiranya mengambil pendapat Mahmud Syaltut, mantan Syeikh Azhar tentang qadla dan qadar. Ia
     berpendapat bahwa qadla dan qadar tidak lain adalah tatanan yang
     landasannya penciptaan Allah terhadap alam. Dan dalam tatanan itu pula
     Allah menghubungkan antara sebab dan akibat, konklusi dan premis nya
     sebagai hukum alam yang pasti dan tak mungkin berubah. Termasuk hukum
     alam tersebut bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang bebas
     menentu-kan pekerjaan tanpa ada yang memaksa-nya. Menurutnya, Allah
     memang tahu apa yang akan dilakukan oleh manusia berdasarkan
     pilihannya. Tetapi ilmu Allah tentang hal tersebut sama sekali tidak
     mengandung arti pemaksaan. Sesung guhnya ia hanya menyingkapkan hal-hal
     yang telah dan akan terjadi sesuai dengan hukum alam. Dalam hal ini
     hukum alam dimaksud adalah kebebasan manusia dalam memilih berdasarkan
     taklif dan kemampuannya. (26)

Dari dua uraian pendapat di atas dapat dilihat bahwa Mahmud Syaltut
     rupanya memberikan porsi kebebasan yang lebih besar bila dibanding
     dengan pendapat Ibnu Taimiyah dan Al-Juwaini. Tetapi keduanya tetap
     menggambarkan free will and free act. Dengan mengikuti pendapat free
     will and free act, manusia akan merasa memiliki perbuatannya, karena ia
     diyakini muncul dari pilihan, kehendak dan pekerjaannya sendiri.
     Manusia juga akan merasa bebas menentukan nasibnya karena ia memiliki
     kehendak dan pilihan. Bila self determination telah diyakini, maka
     manusia tidak akan menganggap penderitaan di dunia sebagai nikmat.
     Karena ia yakin bahwa penderitaan dapat berubah menjadi kebahagiaan
     dengan usahanya. Dengan demikian, tasawuf tidak akan dipahami sebagai
     pemenuhan kebutuhan spritual dengan mengabaikan kebutuhan material.

Kesimpulan

Sebagai akhir dari tulisan ini, bisa disimpulkan bahwa kemajuan dan
     kemunduran suatu umat tergantung dari perspektif keagamaan. Jika aqidah
     melahirkan pandangan keagamaan yang regresif, maka yang terjadi adalah
     kemunduran. Dan jika sebaliknya (lahir dari perspektif progresif), maka
     yang terjadi adalah kemajuan.

Suatu aqidah agar dapat menumbuhkan pandangan keagamaan yang progresif,
     harus memiliki lima karakteristik. Pertama, pengakuan terha-dap
     kekuasaan tertinggi yang mengatasi kekuasaan manusia. Kedua, pengakuan
     terhadap kemampuan akal dalam melacak dan menemukan kebenaran relatif.
     Ketiga, pengakuan terhadap kebebasan manusia dari ikatan tradisi dan
     hasil pemikiran orang terdahulu. Keempat, pengakuan terhadap kebebas an
     manusia dalam menentukan nasibnya. Kelima, pengakuan terhadap urgensi
     kehidupan dunia dan keperluan material. Dengan mengacu kepada lima
     karakteris-tik di atas, nampaknya aqidah Asy=92ari yang berintegrasi
     dengan tasawuf -dalam praktek negatifnya- tidak bisa memberi-kan iklim
     kondusif bagi terciptanya pandangan keagamaan modern.

Berangkat dari kenyataan ini perlu kiranya ditemukan landasan aqidah
     baru bagi kaum Sunni agar dapat tercipta pandangan keagamaan yang
     progresif. Hal ini dapat dilakukan dengan menggali warisan intelektual
     yang ditinggalkan para ulama Aswaja. Untuk menumbuhkan rasionalitas,
     pendapat Ar-Razi tentang kemampuan akal akan dapat dijadikan sebagai
     alternatif. Sebab rasionalitas yang berangkat dari pendapat Ar-Razi
     tidak sampai mengingkari kekuasaan tertinggi (baca;tuhan), sehingga
     akal tidak dipaksakan untuk menembus wilayah kekuasaan petunjuk tuhan.
     Rasionalitas yang tumbuh dari pendapat Ar-Razi pada gilirannya akan
     melepakan manusia dari tradisi dan hasil pemikiran manusia yang
     didogmakan. Dengan demikian manusia mudah menerima hal-hal yang baru
     selama ia diyakini benar, dan tidak enggan membuang hal-hal lama jika
     memang jelas-jelas salah. Dan untuk memberikan kebebasan manusia dalam
     menentukan nasibnya sendiri dapat diajukan pendapat Mahmud Syaltut,
     Ibnu Taimiyah atau Al-Juwaini, sebagai alternatif. Dengan meyakini
     qadla dan qadar seperti yang digambarkan oleh Mahmud Syaltut bahwa
     manusia akan terhindar dari sikap fatalistis. Dan pada gilirannya akan
     menghindarkan manusia dari pandangan keagamaan yang hanya mementingkan
     hajat spritual dan ukhrawi belaka. Jika keyakinan semacam ini
     berkembang, maka aqidah Aswaja belum bisa menjadi aqidah pembangunan,
     aqidah pembebasan dan aqidah keseim-bangan di masa yang akan datang.

Daftar Acuan

1. An Najjar, Abdul Majid, =93Darul Islah al-Aqdi Fi An-Nahdah
          al-Islamiyah=94, Islamiyat al-Ma=92rifah, (Juni 1995), hal. 57
       2. Shimogaki, Kazuo, Between Modernity And Postmodernity The Islamic
          Left And Dr. Hasan Hanafi=92s Thought : A Critical Reading, atau
          Kiri Islam Antara Modernisme Dan Postmodernisme (Telaah Kritis
          atas Pemikiran Hasan Hanafi), terj. M. Imam Abdul Aziz, M. Jadul
          Maula.
       3. Jhonson,Doyle Paul, Shociologocal Theory Cassical Founders and
          Contemporary Perspectives, atau Teori Sosiolgi Kasik Dan Modern,
          terj. Tobert M. Z. Lawang, I, 238.
       4. Thoha, Dr. Abdul Ghoni Al-Ghorib, Muhadlarat Fi Al-Falsafah
          Al-Islamiyah, diktat Fak. Usyhuluddin Univ. Al-Azhar Zagazig, hal
          5
       5. Al-Quran, Surat Albaqarah : 260.
       6. Nasution, Prof. Dr. Harun, Islam Rasional Gagasan dan pemikiran
          Prof. Dr. Harun Nasution, ed. Lukman Ali.
       7. Turner,Bryan S., Weber And Islam, atau Sosiologi Islam Suatu
          Telaah Analitis Atas Tesa Sosiologi Weber, terj. G.A. Ticoalu,
          hal. 289
       8. Dubos, Rene, So Human An Animal, atau Insaniyyat Al-Insan, terj.
          bhs. Arab, Dr. Nabil Subhi At-Thawil, hal 63 Lihat, Prof. Dr.
          Sa=92duddin As-Sayyid Shalih, Afaal Allah Wa Afaal Al-Ibad Bahts=
 Fi
          Musykilat Al-Insan, (Selanjutnya disebut Sa=92duddin, Afal Allah)
          hal. 45, 46, 47

*)Moh. Najib Buchori, Lc adalah mahasiswa program S2 Pascasarjana
     Fakultas Ushuluddin jurusan Aqidah filsafat, Universitas Al-Azhar. Ia
     selain menjabat redaktur Nuansa aktif juga di Istifadah SC

=20
[edy.id]