WHAT IS SCIENCE ?

 

A. Pendahuluan

Pada suatu musim panas ketika Feynman (Richard Feynman, salah seorang fisikawan besar abad keduapuluh) masih kanak-kanak, ia ditanyai oleh temannya perihal seekor burung. "See that bird! What kind of bird is that?" Feynman menjawab, "I have'nt the slightest idea." Seolah mengejek, temannya berkata, "Your father does'nt teach you anything!" Tetapi sesungguhnya ayah Feynman telah mengajarkan kepada Feynman perihal tersebut, tentu saja dengan caranya sendiri: "See that bird? It is a Spencer's warbler." (menurut Feynman, konon sebenarnya ayahnya tidak mengetahui sama sekali nama burung tersebut). "You can know the name of that bird in all the languages of the world, but when you're finished, you'll only know absolutely nothing whatever about the bird. You'll only know about humans in different places and what they call the bird. So let's look at the bird and see what it's doing – that whats's caounts."

 

          Content Based Approach adalah pembelajaran sains yang menekankan penguasaan dan pemahaman akan fakta-fakta Ilmiah (scientific content). Dalam pendekatan ini, pembelajaran sains lebih bernuansa doktrinasi sehingga kebenaran bersifat konvergen dan cendrung menjauhkan siswa untuk selalu bersikap skeptis terhadap suatu kebenaran. Di negara-negara maju, pendekatan tradisional ini telah lama mendapatkan kritik dan telah pula dimuseumkan (Dewey, 1910; Schwab, 1966; Bybee dan deBoer, 1991). Pendekatan ini merupakan implementasi dari persepsi yang sempit terhadap sains melulu sebagai suatu system informasi. Hasil-hasil kajian dan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini menyandang berbagai kelemahan yang cukup essensial. Dalam system pembelajaran tradisional ini, para pelajar tidak diajar untuk bersains, melainkan hanya dilatih untuk melantunkan fakta-fakta sains. Sementara itu pandangan yang utuh tentang sains menyarankan suatu pendekatan yang mengedepankan kompetensi akan sains itu sendiri. Berbeda dari metode tradisional, dalam pendekatan berbasis kompetensi ini, pelajar diajar untuk bersains. Pendekatan  semacam ini tentu saja lebih komprehensif dibandingkan dengan yang pertama karena pendekatan yang terakhir ini selain mencakup penguasaan dan pemahaman kandungan ilmiah (fakta-fakta sains) ia mencakup pula pembinaan terhadap sikap dan perilaku ilmiah, misalnya pendekatan ini dikenal sebagai competence based approach. Salah satu perwujudan pendekatan ini adalah apa yang di Amerika dikenal sebagai inquiry dengan slogan ‘Science learning and teaching is process of inquiry’ (NRC, 2000). Untuk itulah diperlukan penjelasan mengenai apakah sains itu?

 

B. Pengertian Sains

          Kebanyakan orang di sekitar kita cendrung memahami bahwa  sains adalah apa yang dapat dipelajari dari buku-buku sains. Sains adalah sesuatu yang berhubungan dengan teknologi, sains adalah sesuatu yang berbau eksak. Dalam kajian kali ini, Sains dimengerti sebagai suatu kumpulan informasi tentang fakta-fakta yang berkaitan dengan apa-apa yang ada di alam semesta. Pandangan tersebut memang ada benarnya, tetapi sesungguhnya sains lebih dari hanya sekedar kumpulan informasi tentang fakta-fakta ilmiah yang berkaitan dengan fenomena alam. Jauh dari itu, Sains merupakan suatu kesatuan yang tersusun atas empat unsur (komponen) yang terjalin dalam interelasi yang mekanistik. Keempat unsur tersebut adalah:

  1. Nilai-nilai ilmiah (Scientific Values)
  2. Sikap dan Perilaku Ilmiah (Scientific Attitudes)
  3. Proses-proses Ilmiah (Scientific Processes)
  4. Kandungan Ilmiah (Scientific Content).

          Dengan interelasi yang mekanistis dari keempat unsurnya inilah yang menjadikan sains itu dapat hidup, yakni dapat melakukan perkembangan. Keempatnya itu saling berkelindan dalam interelasi yang padu dan kompak. Untuk dapat menjawab secara utuh dan tuntas tentang pertanyaan Apakah sains itu?, maka harus melibatkan keempat komponen tersebut dalam pembahasannya. Tindakan Melupakan salah satu saja dari keempatnya akan berakibat timpangnya pengertian akan sains itu sendiri dan pada gilirannya akan menimbulkan adanya perlakuan yang kurang tepat terhadap sains, termasuk timpangnya pengelolaan sistem pendidikan sains. Pandangan yang utuh tentang sains mengatakan sains adalah suatu sistem nilai, suatu sistem perilaku dan sikap, suatu sistem proses sekaligus suatu sistem informasi.

 

C. Empat Unsur Sains

1. Nilai-nilai ilmiah (Scientific Values)

Sains dapat dipandang sebagai suatu sistem nilai. Sistem nilai ini menjadi suatu pedoman / patron bagi perilaku para ilmuwan. Sistem nilai ilmiah tidak tertambat pada suatu peradaban tertentu saja, juga tidak pada suatu sistem kepercayaan tertentu saja. Sistem nilai ilmiah terpancang pada pandangan bahwa sains adalah search for understanding. Nilai-nilai ilmiah ini menjadi suatau patokan / acuan bagi perilaku ilmiah, proses ilmiah dan sistem informasi ilmiah. Adapun nilai-nilai ilmiah menyangkut beberapa hal sebagai berikut:

  1. Keinginan untuk mengetahui dan memahami

          Ilmuwan keinginan untuk mengetahui dan memahami bagaimana alam semesta beserta yang ada di dalamnya berfungsi. Mereka senantiasa berusaha menebak hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang mengatur alam semesta ini. Mereka mengembangkan  teori – teori yang mampu menerangkan bagaimana alam semesta ini diciptakan dan disempurnakan. Seseorang yang tanpa keinginan untuk mengetahui dan memahami suatu perkara tentu tidak akan mungkin dapat berperan sebagai seorang ilmuwan.

 

  1. Menanyakan segala hal

          Bertanya adalah salah satu pekerjaan utama dari seorang ilmuwan. Bertanya bukan berarti mengindikasikan sosok yang bodoh dan terbelakang, melainkan proses bertanya adalah jalan menuju kemajuan. Seorang filosof Yunani kuno yang bernama Thales ( hidup kira-kira 624-546 SM ) dinobatkan sebagai bapak filsafat, hanya karena ia pernah menanyakan ‘Apakah sebenarnya bahan alam semesta ini?’. Dan pertanyaan itu dijawab sendiri olehnya: yaitu Air. Memang ini merupakan suatu jawaban yang sangat sederhana. Bahkan jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan pertanyaannya sendiri. Tetapi Thales dikatakan sebagai filsuf pertama bukan karena jawaban ‘air’ itu, melainkan karena ia telah mampu mengajukan pertanyaan yang dianggap sangat berbobot. Dan bahkan sampai saat ini pertanyaanya itu masih terus bergaung, memanggil jawaban memuaskan yang tiada kunjung datang.

          Pertanyaan ditindaklanjuti dengan sebuah eksperimen dan pengamatan. Eksperimen dan pengamatan ini pada akhirnya menelurkan sebuah jawaban. Ada perbedaan yang menyolok antara pertanyaan yang diajukan oleh seorang ilmuwan dengan pertanyaan yang diajukan oleh seorang awam. Pertama, para ilmuwan bukan saja menanyakan segala sesuatu yang tidak/belum mereka ketahui, tetapi mereka juga menanyakan segala hal yang kelihatannya telah diketahui dan dipahami oleh setiap orang. Sebelum seseorang dapat mempertanyakan segala sesuatu, ia dianggap masih berpikir dengan hati, bukan dengan otak. Seorang ilmuwan selalu menyangsikan setiap hal yang telah diyakini kebenarannya oleh khalayak, bahkan oleh dirinya sendiri. Dengan kata lain, seorang ilmuwan selalu menantang adanya ‘status quo’ dalam rangka untuk meningkatkan pemahaman akan alam semesta ini. Kedua, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para ilmuwan berbeda dari yang ditanyakan oleh orang awam, karena para ilmuwan menanyakan segala hal yang ada dalam benak mereka. Bagi ilmuwan, tiada wilayah terlarang atau tabu untuk dijamah oleh keingintahuannya.  

  1. Pengumpulan data-data dan pemaknaannya

          Informasi merupakan hal yang sangat penting dalam sains. Informasi-informasi semacam itu disebut data yang biasanya diperoleh lewat pengamatan dan pengukuran. Para ilmuwan berusaha memperoleh data-data yang se-akurat dan se-lengkap mungkin. Sebab data-data tersebut hendak mereka gunakan sebagai pijakan untuk menyusun teori-teori dan hipotesa-hipotesa serta untuk menarik kesimpulan-kesimpulan. Seorang ilmuwan bukan hanya mengumpulkan data-data, melainkan seorang ilmuwan juga mencari makna dari data-data yang telah ada ditangannya, yakni menafsirkannya. Dengan mengetahui makna dari data-data tersebut, seorang ilmuwan dimungkinkan akan dapat menjawab berbagai pertanyaan yang menggodanya.

 

  1. Tuntutan pembuktian

          Para ilmuwan bukanlah orang-orang yang mudah berubah pikiran. Mereka membutuhkan bukti-bukti yang cukup untuk berubah pikiran. Pergeseran keyakinan yang terjadi pada diri seorang ilmuwan terjadi bila telah diperoleh cukup bukti-bukti bagi suatu keyakinan baru. Tetapi keyakinan terkini seorang ilmuwan inipun bersifat sementara, karena sebagai ilmuwan ia akan terus menyangsikan kebenaran yang ditawarkan oleh keyakinan terkini itu. Sehingga proses mencari suatu penyempurnaan akan selalu terjadi dan tanpa berkesudahan.

  1. Taat Logika

          Darwin telah mengamati adanya perubahan pada binatang-binatang dari satu pulau ke pulau lain di gugusan Galapagos. Sementara itu Wallace mengamati hal yang sama di kepulauan Nusantara. Berdasarkan pengamatan itu, mereka menarik kesimpulan-kesimpulan yang logis. Pengakuan terhadap logika mendasari adanya penafsiran data-data. Seorang ilmuwan harus berpikir logis dan menjauhkan diri dari berpikir takhayul (non-logis). Berpikiran logis yang berdasarkan adanya data – data yang akurat.

  1. Pertimbangan premis

          Perhatikan kalimat “Jika A maka B”. Dalam kalimat tersebut kalimat A disebut premis dan kalimat B disebut konsekuensi. Jadi, premis adalah syarat cukup (sufficient condition) bagi berlakunya suatu keadaan. Demi suatu penelitian, seorang ilmuwan harus merelakan waktunya untuk mencermati berbagai macam laporan ilmiah (jurnal) yang bersangkutan dengan bidang penelitiannya, terutama mempertimbangkan adanya premis-premis yang dipakai oleh orang lain. Seorang ilmuwan dituntut harus kritis terhadap premis-premis yang telah diasumsikan oleh orang lain ketika menarik suatu kesimpulan-kesimpulan. 

  1. Pertimbangan konsekuensi

          Seorang ilmuwan juga dituntut untuk dapat memikirkan adanya konsekuensi/akibat dari hasil-hasil penemuannya. Efek-efek apakah yang terjadi terhadap lingkungan dan masyarakat. Positifkah? Atau negatifkah? Hambatan untuk hal ini adalah bahwa konsekuensi dari penemuan-penemuan baru diketahui jauh setelah penemuan-penemuan itu sendiri. Oleh karena itu pertimbangan terhadap konsekuensi merupakan suatu pintu bagi pertanyaan-pertanyaan dan eksperimen serta pengamatan-pengamatan berikutnya.

2. Sikap dan Perilaku Ilmiah (Scientific Attitudes)

Perilaku-perilaku ilmiah pada dasarnya merupakan suatu  bentuk perwujudan/ pengejawantahan dari nilai-nilai ilmiah. Nilai ilmiah keinginan untuk mengetahui dan memahami, serta penanyaan segala hal yang menelurkan sikap ilmiah yaitu rasa ingin tahu. Nilai ilmiah questioning all of things terwujud dalam sikap ilmiah meragukan sesuatu (skepticism) dan sikap mau menunda keputusan. Nilai ilmiah pencarian data-data dan pemaknaanya diejawantahkan dalam bentuk sikap ilmiah kejujuran. Nilai ilmiah taat logika menelurkan perilaku ilmiah menjauhi ketakhayulan. Dan seterusnya.

3. Proses-proses Ilmiah (Scientific Processes)

Proses-proses ilmiah adalah rangkaian kegiatan yang dipakai oleh para ilmuwan guna mengumpulkan, menafsirkan dan menyebarkan informasi. Proses-proses ilmiah dapat dipandang sebagai ‘hardware’ dalam perkembangan sains. Output dari proses-proses ilmiah adalah fakta-fakta ilmiah. Proses-proses ilmiah dikelompokkan menjadi tiga golongan:

1.      Proses-proses Dasar

Meliputi:

-      Pengamatan

-      Komunikasi

-      Klasifikasi

-      Penggunaan Angka

-      Penggunaan Relasi Ruang-Waktu dan

-      Pertanyaan-pertanyaan Operasional

2.      Proses-proses Kausal

Meliputi:

-      Inferensi

-      Prediksi

-      Penarikan Kesimpulan

-      Sebab dan Akibat

-      Interaksi dan

-      Sistem

3.      Proses-proses Ilmiah

Meliputi:

-      Pengontrolan variable

-      Penghipotesaan

-      Eksperimen

-      Penafsiran Data

-      Defenisi Operasional 

4. Kandungan Ilmiah (Scientific Content).

Kandungan ilmiah adalah kumpulan fakta-fakta ilmiah yang diperoleh sebagai hasil dari proses-proses ilmiah. Inilah yang sering dianggap oleh khalayak sebagai sains ketika mereka ditanya apakah sains itu. Dari uraian-uraian sebelumnya mudah dipahami bahwa kandungan ilmiah bersifat dinamis, berubah dari waktu ke waktu sebagai akibat dari perilaku-perilaku dan sikap-sikap ilmiah serta proses-proses ilmiah. Dinamisnya fakta-fakta ilmiah ini, misalnya, tidak mungkin terjadi tanpa adanya kesangsian terhadap kebenaran-kebenaran fakta-fakta ilmiah yang telah dihasilkan sebelumnya. Persepsi awal terhadap hubungan astronomis antara bumi dan matahari adalah bahwa bumi berbentuk lempengan yang sangat luas yang berlubang di bagian Barat dan Timurnya. Lubang sebelah Timur merupakan tempat matahari keluar untuk terbit, sedangkan lubang di Barat tempat terbenamnya matahari. Persepsi semacam ini terus dipertahankan sampai suatu saat muncul kesangsian akan kebenarannya. Kesangsian itu selanjutnya memicu berlangsungnya proses-proses ilmiah yang mengakibatkan persepsi orang berubah. Proses iteratif ini berjalan terus hingga hasilnya adalah persepsi kita terkini tentang hubungan astronomis antara bumi dan matahari. Suatu saat persepsi inipun akan berubah.

 

Keempat komponen sains tersebut menjadi ciri kompetensi seorang ilmuwan. Hal ini berarti bahwa seseorang dikatakan memiliki kompetensi seorang ilmuwan bila pada dirinya ditemukan perilaku dan sikap ilmiah sebagai cerminan dari penghayatan terhadap nilai-nilai ilmiah, mampu terlibat dalam proses-proses ilmiah dan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang fakta-fakta ilmiah yang telah diungkapkjan oleh ilmuwan-ilmuwan sebelumnya. Jadi, tidaklah boleh menyebut seseorang sebagai ilmuwan bila ia hanya menjadi konsumen dari fakta-fakta ilmiah yang dihasilkan oleh orang lain.          

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PUSTAKA

 

Reprinted, From My AXIOLOGI: THE SCIENCE OF VALUES. Pp.14-49 . World Books, Al – Buqerque, New Mexiko 1980

G.E. deBoer, 1991, A History of Ideas Indonesia Science Education: Implication for Practice.

R.W. Bybee and G.E. deBoer, 1993, Goals for the Science Curriculum. Dalam Handbook of Research on Science Teaching and Learning, NSTA, Washington, DC.

J. Dewey, 1910, How We Think, D.C. Health, Boston.

P. Kitcher, 1982, Abusing Science: The Case Against Creationisme, MIT Press, Cambridge Mass.

National Research Council, 2000, Inquiry and the National Science Education Standards, Natoinal Academy Press, Washington, D.C.

J. Schwab, 1960, What Do Scientist Do? Behavioral Science, 5 (1).

J. Schwab, 1966, The Teaching of Science, Harvard University Press, Cambridge, M.A.

 

 

 

 

 

 

                         

Nilai-nilai ilmiah

(Scientific Values)

 
 

 

 

 


Quad Arrow: SAINS                                                

 

Kandungan Ilmiah

(Scientific Content)

 

Sikap dan Perilaku Ilmiah (Scientific Attitudes)

 
 

 

 

Proses-proses Ilmiah (Scientific Processes)

 
 

 

 

 

 

 

 


VAPC