DEKADENSI MORAL SISWA

DALAM MASYARAKAT MODERN

 

Pada zaman modern sekarang ini, dekadensi moral menjadi isu sentral yang mencengangkan berbagai pihak. Adanya modernisasi yang tidak dibarengi dengan kesiapan manusia untuk menghadapinya menjadi sasaran empuk untuk dikambing hitamkan. Modernisasi yang melaju tanpa adanya pengawalan yang ketat, telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia, sampai akhirnya semua tatanan pranata sosial dapat terpengaruh dan dipaksakan untuk mau mengikuti arus modernisasi yang terus melaju.

Bukan menjadi rahasia lagi, bahwa sekarang sudah banyak kebudayaan yang ada telah tercemari oleh adanya budaya luar yang dipaksakan masuk dan menajdi pedoman dalam kehidupan sehari – hari. Beragam institusi, beragam tatanan sosial, sampai dengan tatanan kependidikan di Indonesia khususnya, telah tercemari adanya budaya globalisasi. Sasaran yang dituju dari adanya modernisasi adalah menciptakan jiwa – jiwa konsumerisme dan menjadikan kapitalisme sebagai pedoman hidup bagi manusia.

Tidak begitu mengherankan, apabila sekarang pertumbuhan ekonomi semakin cepat yang dimodali oleh kaum kapitalis dengan beragam iming – iming yang menggiurkan, untuk selanjutnya menjadikan kita sebagai budak mereka yang hina. Nista memang, akan tetapi kita telah terbuai dalam pelukan mereka, kita telah terbius oleh rayuan mereka dan kita telah menikmati banyak kemudahan dari mereka. Mungkin kita akan mencoba untuk menerima kenyataan bahwa kita adalah korban dari mereka. Akan tetapi apakah generasi kita akan mengalami nasib seperti kita? Jawaban yang pasti adalah tidak. Kita tidak boleh menjadikan mereka korban kedua setelah kita, mereka harus mampu mengendalikan adanya laju modernisasi.

Sekolah sebagai sebuah institusi pendidikan, yang dalam prakteknya menginginkan adanya penanaman beragam ilmu pengetahuan dan akhlaqul karimah dengan mengusung slogan yang paling terkenal yaitu Taqwa, Cerdas dan Trampil, ternyata sedikit banyak telah terpengaruh oleh adanya arus globalisasi. Nilai – nilai moral yang coba ditanamkan dalam kelas telah berbaur dengan nilai – nilai lain yang pada kenyataannya sangat berbeda jauh dengan kebudayaan kita, sehingga dalam hasilnya, siswa sebagai obyek dari pendidikan menjadi penampung dari adanya pertarungan nilai, dan dalam kelanjutannya naluriah manusia akan menyeleksi secara alami akan nilai – nilai yang masuk dalam pribadi mereka. Hasil yang didapat ternyata cukup mencengangkan, yaitu adanya kecenderungan murid untuk meniru atau menerima nilai – nilai dari luar dari pada nilai – nilai sendiri yang coba ditanamkan oleh para guru mereka dikelas.

Beragam kasus yang memilukan kaitannya dengan tata krama seorang murid baik dengan guru ataupun dengan sesamanya, apalagi dengan kedua orang tuanya seringkali membuat prihatin kita semua. Apakah semua ini merupakan suatu sunatullah dan tidak mungkin untuk dicegah dan diperbaiki? Tentu jawabnnya adalah semua ini memang sunatullah, namun masih banyak jalan untuk memperbaiki kondisi seperti saat ini.

SLTP ( Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ) merupakan awal bagi setiap orang untuk menapaki jalan kehidupan yang semakin meluas, penalaran yang tumbuh dari pikiran mereka semakin maju dan masalah yang mereka hadapi juga semakin kompleks. Adanya pencarian identitas diri menjadikan jiwa mereka sangat labil dan masa - masa inilah yang membutuhkan banyak masukan pemahaman tentang tata krama yang baik, supaya kedepan langkah mereka dapat tertata dengan baik. Masa – masa inilah sebuah moment yang penting bagi kita semua untuk menanamkan dengan sungguh – sunguh nilai – nilai yang positif, supaya jati diri mereka dapat terbentuk dengan baik berasaskan akhlaqul karimah.

Inilah tugas kita, untuk dapat menjadikan mereka sosok yang mampu mengendalikan modernisasi yang berlandaskan ahlaqul karimah, sehingga kedepan modernsiasi benar – benar akan membawa dampak yang positif bagi semua umat manusia. Memang bukan sebuah pekerjaan sederhana, menyiapkan sebuah generasi yang berakhlaq mulia ditengah terpaan gelombang modernisasi seperti saat ini. Namun, ketika kita mempunyai komitmen yang kuat, maka tidak akan ada pekerjaan yang mustahil untuk direalisasikan. 

Kitab Taisirul Khlaq buah karya Saikh al - hafidz Hasan al - Mas’udi ini mencakup 30 bab yang membahas tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pelajar untuk dapat menjadi sosok pelajar yang baik dan handal, yang kelak dapat menjadi sosok yang arif dan bijaksana. Beliau memulainya dengan bab taqwa yang dijadikannya sebagai pondasi untuk langkah seorang murid dalam menapaki kehidupannya dalam keseharian dirumah ataupun disekolah, untuk selanjutnya dikombinasikan dengan segala bentuk hal yang harus dimiliki oleh seorang murid untuk dapat berhasil dalam belajar, serta memiliki pribadi yang unggul. Seperti tata krama seorang murid, hak- hak orang tua, tata krama makan dan minum, seorang murid harus merupakan sosok yang bijaksana sampai dengan bahasan seorang murid harus merupakan sosok yang adil.

 

 

Yogyakarta, 15 September 2007

 

 

 

Achmad Machrus Muttaqin