BIOGRAFI SINGKAT FATIMAH Az-ZAHRA

 

Judul asli:

Ash-Sahd al-Mushaffa min Siirah Bidh’atu al-Musthafa Bahtsu fi Siirah Fathimah Az-Zahra ‘Alaiha Salam ( Bukti otentik dari sejarah pernikahan Nabi Muhammad spesifik pembahasan dalam sejarah Fatimah Az-Zahra RA)

Karya:

Hamam Muhammad Al-Jarraf

Ditulis:

Tahun 1428 H/2007 M

Penerbit:

Belum pernah terbit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Mukaddimah…………………………………………………………………… 4

Pembahasan Pertama: Kelahiran dan masa pertumbuhan Fatimah Az-Zahra…. 8

Pembahasan Kedua: Keutamaan Fatimah RA dari wanita-wanita lain…………10

Pembahasan Ketiga: Hijrah Fatimah Az-Zahra ke Madinah……………………13

Pembahasan Keempat: Pernikahan Fatimah Az-Zahra dengan Ali RA………...15

Pembahasan Kelima: Bentuk Kezuhudan Fatimah Semasa Hidup…………….. 19

Pembahasan Keenam: Fatimah dan Pinangan Putri Abi Jahal…………………. 21

Pembahasan Ketujuh: Fatimah Alaiha Salam dan Wafatnya Rasulullah Saw…  23

Pembahasan Kedelapan: Bumi Tidak Bertuan dan Perang Khaibar……..…….. 25

Pembahasan Kesembilan: Sakitnya Fatimah Az-Zahra dan Wafatnya…………. 27

Daftar Pustaka………………………………………………………………….. 30

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bismillahirrahmannirrahim

 

Mukaddimah.

Segala puji bagi Allah, Dzat yang maha mencukupi, rahmat salam semoga tercurah kepada hamba-Nya, yaitu orang-orang yang terpilih. Kehidupan ini meninggalkan didalamnya pelajaran dan juga tauladan, aku mengambilnya dalam kehidupan ini dari sumbernya yang aku pandang baik dan setiap orang pasti memiliki pedoman hidupnya.

Pembahasan yang ada ditangan anda ini adalah pembahasan mengenai sejarah putri Nabi Muhammad, Fatimah Az-Zahra al-Batul (orang yang meninggalkan kehidupan duniawi untuk beribadah kepada Allah), pemimpin para wanita pada zamannya, putri keturunan nabi dan orang yang terpilih, putri pemimpin umatnya, putri pemimpin para makhluk, Rasulullah Saw.. Ayah dari Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdil Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf al-Quraisyiyah al-Hasyimiyyah dan juga ibu dari Hasan dan Husain.[1]

Secara bersamaan, aku mempelajari tentang kehidupan pemimpin yang meninggalkan kehidupan duniawi untuk beribadah kepada Allah yaitu Fatimah Az-Zahra putri Nabi Muhammad Saw. dan aku juga memahami sabda Rasulullah Saw.:

Fatimah adalah belahan jiwaku barang siapa memusuhinya, maka ia juga memusuhiku[2]

hal ini dimaksudkan supaya aku dapat mempelajari dan mendalami sejarah Fatimah Alaiha Salam secara sepurna, dia adalah pemimpin kaum wanita di surga dan dia juga istri dari sahabat Ali RA, ibu bagi para pemuda penghuni surga, belahan jiwa Rasulullah Saw.

Nabi Muhammad Saw. sangat mencintainya, menghormatinya, senantiasa bersikap lembut kepadanya, dan senantiasa mencurahkan perhatian yang lebih kepadanya. Dia adalah sosok wanita penyabar, tatat beragama, dermawan, teguh pendirian, menerima dan senantiasa bersyukur kepada Allah.[3]

 Dia dengan keadannya yang demikian adalah contoh yang harus diikuti oleh para wanita muslim dan juga anak-anak muslimah. Dia adalah sosok yang sangat penyabar atas penyiksaan orang-orang musyrik Quraisy, dia adalah sosok wanita yang menerima kehidupan zuhud (hidup meninggalkan kesenangan duniawi), dia juga banyak menjadi saksi sejarah kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam kehidupan masyarakat nabi, dia juga meriwayatkan hadits dari ayahnya dan kedua putranya meriwayakan darinya, ayah dari kedua putranya, dan juga Aisyah, Umi Salamah, Sulami Umi Rafi’, dan Anas. Fatimah mengatakannya kepada mereka dengan pelan-pelan dan periwayatannya ada pada kutub As-Sittah.[4]

Ini adalah bait-bait yang menggambarkan budi pekerti Fatimah juga siksaan yang menderanya, yang dinyanyikan oleh Muhammad Iqbal, syair ini ditujukan untuk menunjukkan keagungan dalam diri Fatimah R A:

Sejarah kehidupan Isa dibangun oleh Maryam

Yang akan abadi sepanjang masa selama Maryam disebut

Keagugannya terpancar dari tiga sisi

Dalam bentangan Fatimah dan keturunannya

Dia adalah putri seseorang, dia adalah istri seseorang, dia adalah ibu dari seseorang

Orang yang memiliki kedekatan lebih dengan ayahnya

Dia bersinar yang terpancar dari cahaya mata orang yang terpilih

Pemberi petunjuk bagi kelompok yang membutuhkannya

Dia adalah orang yang senantiasa terjaga dari tidurnya dengan sepenuh jiwa

Seolah-olah setelah datangnya cobaan malah dapat lebih menghidupkannya

Mengulang kembali sejarah hidup yang baru

Seperti halnya pengantin baru yang memiliki tujuan hidup baru pula

Dia adalah contoh dan juga panutan bagi para ibu

Langkahnya tergambar dalam guratan cahaya rembulan

Dia yang menjadikan sabar sebagai sarapan

Dan menganggap keridloan suami sebagai keridloannya

Muhammad Iqbal juga berkata dalam bait-bait syairya yang menjelaskan bahwa Fatimah Az-Zahra adalah tauladan bagi wanita muslimah:

Dia adalah ibu dari dua pemimpin yang agung

Hasan dan Husain yang baik dan bijaksana

Pemilik lentera yang dapat menerangi kegelapan

Penjaga kesatuan umat terbaik

Memandang rendah para raja karena sangat mencintainya

Meredamkan sengketa diantara saudara

Dalam kebaikan yang menyeluruh

Contoh orang merdeka dalam rakyat jelata

Sejarah anak-anak merawat ibunya

Kebiasaan yang baik watak bagi kaum ibu

Sekuntum bunga dalam taman kebenaran yang meninggalkan kehidupan duniawi untuk beribadah kepada Allah

Contoh bagi kaum wanita dalam kebenaran untuk orang yang meninggalkan kehidupan duniawi untuk beribadah kepada Allah

Yang muncul diantara sabar dan ridlo

Dalam mulutnya terdapat Al-Qur’an dan dalam telapaknya adalah kasih sayang

Air matanya senantiasa menetes karena takut kepada Allah

Dalam tempat shalatnya terdapat mutiara yang tersedu.[5]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembahasan Pertama

Kelahiran dan masa pertumbuhan Fatimah Az-Zahra

 

            Dia adalah Fatimah putri pemimpin orang-orang yang bertaqwa, pemimpin keturunan Adam, Rasulullah Saw.  dan ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid, dan dia biasa dipanggil dengan sebutan nama ibu dari bapaknya.[6] Terdapat perbedaan dalam tahun kelahirannya. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Fatimah dilahirkan sesaat sebelum Nabi diutus.[7] Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa Fatimah dilahirkan lima tahun sebelum kenabian.[8]

            Diriwayatkan oleh Al-Waqidi dari Thariq Abi Ja’far al-Baqir berkata:

Ibnu Abbas pernah berkata bahwa ketika Fatimah dilahirkan, Ka’bah waktu itu sedang dibangun dan nabi berusia 35 tahun, dan ini adalah pendapat yang kuat.[9] Fatimah adalah putri terkecil Nabi Saw. dan tidak tersisa setelah Fatimah selain dia. Oleh karena itulah betapa besar pahalanya karena dia menjadi putri kecintaan Nabi Saw.[10]

            Dari Ibnu Juraij berkata:

Nabi Muhammad pernah berkata: aku tidak memiliki seorang anakpun yang dilahirkan Khadijah selain empat anak perempuan, Abdullah dan juga Qasim dan Qibtiyah melahirkan Ibrahim. Zainab adalah putri tertua Nabi Saw. dan Fatimah adalah putri terkecil Nabi dan semuanya sangat dicintai oleh Nabi.[11]  

             Nabi Muhammad Saw. menikahkan Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib pada tahun 12 Hijriah setelah perang Badar dan Fatimah melahirkan beberapa anak bagi Ali yaitu Hasan, Husain, Umi Kultsum, Zainab dan Muhsin. Fatimah meninggal setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. selang 6 bulan, semoga Allah meridlai Fatimah.[12]

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembahasan Kedua:

Keutamaan Fatimah RA dari wanita-wanita lain

 

            Ini adalah rumah nabi. Bagaimana tidak, itu adalah rumah Nabi Muhammad Saw. yang diridlai Allah dan telah menyucikannya dari kotoran. Dikisahkan dari Umar bin Abi Salamah ketika turun ayat ini kepada Nabi Muhammad Saw.

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta`atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

dirumah Umu Salamah, lantas Fatimah berdoa, demikian juga dengan Hasan dan Husain, mereka memuliakannya dengan memakai pakaian terbaik dan Ali waktu itu dibelakang putranya, lantas dia berdoa:

           Wahai Allah, mereka ini adalah keluargaku, hilangkanlah kotoran dari mereka, dan bersihkanlah mereka dengan sebersih-bersihnya. Berkatalah Umu Salamah: aku bersama mereka wahai Nabiyallah, Nabipun berkata engkau tetap dengan kedudukanmu dan engkau tetap dalam kebaikanmu..[13]

 

Dari Abu Hurairah RA:

Bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa Fatimah adalah pemimpin para wanita dari umatku[14]

            Dari Ibnu Abbas RA berkata:

            Rasulullah Saw. pernah menjangkah dibumi sebanyak empat jangkahan, beliau berkata apakah kalian tahu apa makna dari hal ini? Mereka menjawab: Allah dan Rasulnya lebih mengetahuinya, lantas Rasulullah Saw. berkata: Wanita yang paling utama dari ahli surga adalah Khadijah binti khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri fir’aun dan Maryam putri Imran, semoga Allah meridlai mereka semua[15]

            Dari Ibnu Umar Ra bahwa Rasulullah pernah berkata:

            Nama sesorang yang paling aku cintai tidak ada selain Fatimah dan tidak yang lainnya[16]

            Dari abi Sa’d al-Khudri RA berkata, Rasulullah Saw.  pernah berkata:

            Hasan  dan Husain adalah pemimpin pemuda ahli surga dan Fatimah adalah pemimpin perempuannya, kecuali sesuatu yang ada pada Maryam binti Imran[17] 

            Dari Jami’ bin Umair At-Taimi Rahimahullah, berkata:

            Aku bersama bibiku bertandang kepada Aisyah, lantas ditanyakan kepada Aisyah siapakah orang yang paling dicintai Rasulullah Saw.? Berkatalah Aisyah: Fatimah. Dikatakan juga kepada Aisyah, dari golongan laki-laki? Aisyah menjawab: suami Fatimah. Jika ada sesuatu yang aku ketahui lagi maka dia adalah  ahli berpuasa dan selalu menjalankannya[18]

            Dari Khudhaifah RA:

            Telah datang kepadaku para malaikat, lantas mereka ucapkan salam kepadaku, sebelumnya mereka tidak pernah turun dari langit, lantas mereka memberikan kabar gembira kepadaku bahwa Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda ahli surga dan Fatimah adalah pemimpin para wanita ahli surga[19]

            Dari Fatimah RA, bahwa Nabi Muhammad pernah berkata:

            Wahai Fatimah apakah engkau tidak ridla jika engkau menjadi pemimpin wanita ahli surga.[20]

 

 

 

 

 

Pembahasan Ketiga:

Hijrah Fatimah Az-Zahra ke Madinah

 

            Ketika penderitaan yang diderita oleh umat Islam di Makkah semakin besar, datanglah perintah Allah untuk berhijrah. Ini adalah bentuk penderitaan terparah yaitu berupa penderitaan yang melanda dirumah nabi. Ini adalah bentuk penderitaan yang menimpa Nabi Muhammad Saw. dari orang-orang kafir Quraisy dan juga penderitaan yang menimpa rumah Nabi pada waktu itu.

            Dari Umar bin Maimun berkata, Abdullah mengabarkan kepadaku di Bait al-Mal, dia berkata:

            Rasulullah sedang shalat di Bait al-Mal dan orang-orang quraisypun duduk-duduk memenuhi Bait al-Mal, mereka menyembelih hewan sembelihan mereka. Berkatalah sebagian dari mereka: kamu sekalian harus mengambil kotoran hewan sembelihan ini dengan darahnya, lalu berjalanlah pelan-pelan sehingga Muhammad bersujud, lantas letakkanlah kotoran ini diatas pundak Muhammad. Berkatalah Abdullah, lantas Nabipun membuang celaka ini dengan mengambil kotoran itu dan membawanya pergi. Lantas orang-orang quraisy kembali berjalan pelan-pelan, ketika Nabi kembali lagi bersujud, maka kembali lagi orang-orang quraisy meletakkan kotoran dipundak nabi, lantas hal ini dikabarkan kepada Fatimah putri Rasulullah Saw. dia adalah seorang gadis, dia datang dengan berlari lantas mengambil kotoran itu dari pundak Rasulullah, ketika Nabi selesai dari shalatnya, dia berdoa: ya Allah, aku serahkan kepada-Mu  atas tiga orang quraisy ini, ya Allah aku serahkan kepada-Mu Abu Jahal bin Hisyam, Syaibah bin Rabi’ah, Utbah bin Rabi’ah, Uqbah bin Abi Mu’ith sampai dengan sepuluh orang dari orang quraisy. Berkatalah Abdullah: demi Allah, Dzat yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada Muhammad, telah diperlihatkan kepada kalian semua kemenagan pada hari perang badar dengan tewasnya seseorang.[21]  

            Ibnu Hisyam berkata dalam buku sejarahnya:

            Abbas bin Abdil Muthalib mengawal Fatimah dan Umi Kulsum, keduanya adalah putri Rasulullah Saw. dari Makkah hendak menuju ke Madinah lantas Huwairis Nuqayyadz membangkitkan keduanya dan melemparkannya ketanah.[22]

            Diantara orang-orang yang melukai Nabi Muhammad Saw. di Makkah[23] adalah orang yang memiliki dua orang budak perempuan yang berprofesi sebagai penyanyi, karena mereka mengejek Rasulullah Saw. melalui syair-syair lagunya, lantas Rasulullah Saw. memerintahkan untuk membunuhnya dan kedua budak perempuan itu dan Ali bin Abi Thalib RA adalah shahabat yang dianggap paling berhak, lantas Ali membunuhnya.[24]

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembahasan Keempat:

Pernikahan Fatimah Az-Zahra dengan Ali RA

 

            Ali bin Abi Thalib menikahi Fatimah Az-Zahra pada bulan Dzul Qa’dah, tepatnya dua belas tahun sesudah perang Badar. Menurut Ibnu Abdil Barr, Ali bin Abi Thalib menikahi Fatimah Az-Zahra sesudah perang Uhud.[25] Menurut al-Musabbahi, bahwa Fatimah diperistri oleh Ali bin Abi Thalib setelah pernikahan Aisyah berselang empat setengah bulan dan usia Fatimah pada waktu itu lima belas tahun, lima setengah bulan.[26]

Fatimah dilamar.

            Dari Buraidah berkata:

Abu Bakar dan Umar pernah melamar Fatimah, lantas Rasulullah menjawab bahwa Fatimah masih kecil, lalu Ali melamar Fatimah lantas Nabi menikahkan Fatimah dengan Ali.[27] ( HR. Nasa’i)

Mahar dan Persiapan pengantin Fatimah

            Dari Ja’far bin Sa’d dari bapaknya bahwa Ali berkata:

            Ketika aku melamar Fatimah, Nabi Muhammad Saw. berkata: apakah kamu memiliki mahar? Aku menjawab: aku hanya memiliki seekor unta dan juga baju besi, lantas aku menjualnya seharga empat ratus, dan nabi berkata: perbanyaklah berbuat baik kepada Fatimah karena ia adalah wanita terpilih.[28]

Dari Ibnu Abbas berkata:

Ketika Ali RA hendak menikahi Fatimah, Rasulullah Saw. berkata kepada Ali: berikanlah sesuatu kepada Fatimah. Ali menjawab: aku tidak memiliki apa-apa, Rasulullah berkata: dimana baju besimu yang sudah usang.[29]

Dari Ali RA berkata:

Rasulullah Saw. menyiapkan untuk Fatimah sebuah selimut, geriba (tempat air), bantal yang berisikan kapas halus. Muawiyah berkata: simpanlah.  Ubai berkata: selimut dari bahan beludru.[30]

            Dari Ali RA berkata:

            Ketika Ali menikahi Fatimah RA, Rasulullah membawakannya selimut, bantal yang berisikan kapas halus, dua penggilingan, tempat air dari kulit dan dua bejana.[31]

Pesta Pernikahan

            Dari Ibnu Buraidah, dari bapaknya berkata:

            Ketika Ali melamar Fatimah dia berkata: Rasulullah Saw. berkata

Pesta perkawinan itu wajib diadakan. Kemudian Sa’d berkata: dengan domba jantan. Dan berkatalah seorang pemuda dengan ini dan itu sampai dengan  biji-bijian.[32]

 

 

Pesta Pernikahan Fatimah

            Berkatalah Asma’ binti Umais:

         Aku menghadiri pesta pernikahan Fatimah putri Rasulullah Saw., ketika aku datang lebih awal, Rasulullah Saw. datang menghadap pintu dan berkata: wahai Umu Aiman panggilkan untukku saudaraku, lalu Umu Aiman berkata: apakah dia saudaramu dan kemudian engkau menikahkannya? Rasulullah menjawab: benar wahai Umu Aiman. Lalu Asma berkata: lantas datanglah Ali dan kemudian Nabi Muhammad Saw. memercikkan air kepada Ali seraya mendoakannya, lalu Nabi berkata: pangggilkan Fatimah. Asma berkata: lantas datanglah Fatimah dengan tersipu-sipu malu dan Rasulullah berkata kepadanya: terimalah wahai Fatimah, aku telah menikahkan engkau dengan saudaraku yang paling aku cintai. Lalu Asma berkata: Nabi Muhammad Saw. memercikkan air kepada Fatimah dan mendoakannya. Lalu Asma berkata: lantas Rasulullah Saw. pulang dan melihat seseorang yang berkulit hitam dari  antara kedua tangannya. Rasulullah berkata: siapa engaku? Dia menjawab: Aku, Rasulullah berkata: Asma’? dia menjawab: benar, Rasulullah berkata: Asma’ binti Umais? Dia menjawab: benar, Rasulullah berkata: engkau datang kepesta pernikahan putri Rasulullah untuk memuliakanku? Dia menjawab: benar dan berkata: berdoalah untukku.[33]

Pernikahan antara Fatimah dan Ali ini memberikan putra-putri yaitu Hasan, Husain, Muhsin, Umi Kulsum, dan Zainab.[34]                                                                       

 

 

Pembahasan Kelima:

Bentuk Kezuhudan Fatimah semasa hidup

 

            Fatimah adalah sosok wanita penyabar, taat beribadah, dermawan, teguh pendirian, menerima, dan bersyukur kepada Allah,[35] Dia hidup dengan berzuhud, meninggalkan kesenangan duniawi untuk beribadah. Oleh karena itulah pemimpin orang yang meninggalkan kehidupan duniawi untuk beribadah kepada Allah ini senantiasa beribadah hanya karena Allah dan menghiasi dirinya dengan ketaqwaan kepada Allah.[36]

            Dari Abu Sa’d al-Khudri RA:

            Ali bin Abi Thalib RA menemukan uang satu dirham, lantas Fatimah datang membawa uang dirham tersebut untuk menanyaknnya kepada Rasulullah Saw., lalu Rasulullah berkata: ini adalah rizki dari Allah. Lantas Rasulullah makan dari uang satu dirham tersebut, demikian juga dengan Ali dan Fatimah. Setelah hal ini terjadi, seorang wanita mendatangi Rasulullah untuk mencari uang satu dirham, lalu Rasulullah berkata: wahai Ali berikanlah uang satu dirham itu.[37]

            Dari Ali RA:

            Bahwa Fatimah mengadu kepada Rasulullah mengenai sisa adonan roti pada kedua tangan Fatimah, dia hendak mendatangi Rasulullah. Dan segera Fatimah mendatangi Rasulullah untuk menanyakan kepadanya mengenai seorang pembantu, namun ia tidak dapat menemuinya, lalu Fatimah pulang. Nabi berkata: ketika Fatimah datang, aku sedang berbaring, Ali berkata: lalu Fatimah pergi menemui orang-orang, Nabi berkata: kalian berdua datang tiba-tiba sehingga aku terduduk dan kedua telapak kakiku kedinginan. Lalu Rasulullah berkata: ingatlah aku tunjukkan kepada kalian berdua sesuatu yang lebih baik dari pada pembantu ketika melayanimu ditempat tidurmu: bertasbihlah kepada Allah sebanyak tiga puluh tiga kali, memuji kepada Allah sebanyak tigapuluh tiga kali dan mengagungkan Allah sebanyak tiga puluh empat kali.[38]   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembahasan Keenam:

Fatimah  dan Pinangan putri Abi Jahal

 

            Nabi Muhammad Saw. marah kepada Fatimah ketika sampai kepada beliau kabar bahwa Ali menghendaki pendapat beliau untuk diperkenankan meminang putri Abu Jahal.[39] Dari Abdullah bin Zubair berkata:

            Bahwa Ali menyebut putri Abu Jahal, lantas hal ini sampai kepada Rasulullah Saw., kemudian Rasulullah berkata: sesungguhnya Fatimah adalah belahan jiwaku, akan menyakitkanku apa saja yang menyakitkan Fatimah dan menjadi musuhku siapa saja yang memusuhi Fatimah[40]

            Dari Az-Zuhri, bahwa Ali bin Husain mengabarkan kepadaku, bahwa Musawwir bin Mahramah pernah mengabarkan kepadanya:

            Bahwa Ali bin Abi Thalib melamar putri Abi Jahal dan Fatimah putri Nabi Muhammad Saw. berada disampingnya, ketika Fatimah mendengar hal itu lantas Fatimahpun mendatangi Nabi Saw.  lalu berkata: sesungguhnya umatmu berkata  bahwasannya engkau tidak marah kepada putrimu ini dan Ali menikahi putri Abi Jahal, lalu Musawwir berkata: lalu Nabi Saw. berdiri, aku mendengarnya ketika bertemu dengan Rasulullah, lalu Nabi berkata: setelah ini, maka aku akan menikahkan Abu al-‘Ash bin Rabi’ beliau mengatakannya kepadaku dan membenarkannya kepadaku, sesungguhnya Fatimah putri Muhammad adalah belahan jiwaku dan aku tidak suka jika umatku berbuat fitnah kepada Fatimah. Sesungguhnya Fatimah, demi Allah tidak pernah akan berkumpul putri Rasulullah dan putri musuh Allah disisi Seorang laki-laki selamanya, lalu Musawwir berkata: lantas Ali menggagalkan pinangannya. [41]  

Ali menggagalkan pinangannya demi menjaga Fatimah, maka ia tidak akan menikahi wanita lain dan tidak akan melakukannya, maka ketika Fatimah meninggal maka Alipun menikah lagi dan melakukannya.[42]Kemarahan Nabi Saw. ini hanya demi Fatimah, bukan karena Nabi mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah, akan tetapi Nabi menghawatirkan Fatimah, bahwa hal ini nantinya dapat membelokkan agamanya.

Dari Musawwir bin Mahramah:

Seseungguhnya Fatimah adalah belahan jiwaku dan aku menghawatirkannya jika hal ini dapat membelokkan agamanya. Sesungguhnya aku tidak mengharamkan sesuatu yang dihalalkan dan menghalalkan yang diharamkan. Akan tetapi, demi Allah tidak akan pernah berkumpul putri Rasulullah dan putri musuh Allah dibawah lindungan seorang laki-laki selamanya.[43]

                                          

 

 

 

 

 

Pembahasan Ketujuh:

Fatimah dan wafatnya Rasulullah Saw

 

            Sayidah Fatimah telah menyaksikan sendiri sakit ayahnya, yaitu Muhammad Saw. dengan perasaan yang sangat sedih dan cemas, maka wafatnya Rasulullah adalah kesedihan yang paling mendalam yang menimpa Fatimah.  Dari Anas RA berkata:

            Ketika Nabi Muhammad Saw. sakit keras, maka beliaupun diselimuti kesedihan, lantas berkatalah Fatimah: dan ayah bersedih, lantas Nabi berkata kepada Fatimah: tidak ada kesedihan yang menimpa ayahmu ini setelah hari ini.

            Ketika Nabi Muhammad wafat, Fatimah berkata:

            Wahai ayahku Allah telah mengabulkan doamu, wahai ayahku tempatmu adalah surga firdaus, wahai ayahku Jibrilpun menangisimu. Ketika Nabi Muhammad disemayamkan, Fatimah berkata: wahai Anas, berbuat kebajikanlah kalian semua dengan menaburkan tanah diatas makam Rsulullah Saw.? (HR. Bukhari)[44]

            Rasulullah Saw. sampai dengan detik-detik menjelang wafatnya senantiasa berbisik kepada Fatimah dan memberikan rasa aman kepada Fatimah dengan bisikannya, dengan cara ini pula Rasulullah memberitahukan Fatimah perihal kematiannya, Fatimah lantas menangis karena sangat merasa sedih atas perpisahannya dengan Rasulullah Saw. dan penghibur dari keadaan Fatimah saat itu adalah Rasulullah mengabarkan kepada Fatimah suatu kabar yang menjadikan Fatimah dapat tersenyum, yaitu berupa kabar bahwa dia adalah orang pertama dari keluarganya yang akan bertemu dengan Rasulullah, lantas Fatimahpun bergembira karena mendengar hal ini, dialah sebaik-baik kekasih dalam surga Firdaus.

            Dari Aisyah RA:

            Sesungguhnya Rasulullah Saw. mendoakan putrinya, Fatimah dengan berbisik kepadanya, lantas Fatimah menangis. Lalu kembali Rasulullah berbisik kepada Fatimah, lantas Fatimah tersenyum. Maka bertanyalah Aisyah kepada Fatimah: apakah yang dibisikan Rasulullah kepadamu sampai-sampai engkau menangis, lalu kembali Rasulullah berbisik kepadamu lantas engkau tersenyum. Fatimah berkata: Rasulullah berbisik kepadaku dan mengabarkan kepadaku perihal kematiannya lantas aku menangis, lalu kembali Rasulullah berbisik kepadaku dan mengabarkan kepadaku bahwa aku adalah orang pertama yang mengikutinya dari keluarganya lantas aku tersenyum.[45]

            Dari Anas bin Malik:

Fatimah menangisi Rasulullah Saw. lalu ia berkata: wahai ayah, dari Tuhanmu putusan ini menimpamu. Wahai ayah, sampai-sampai Jibril menangisimu. Wahai ayah, surga Firdaus adalah tempatmu[46]

            Akan tetapi, kesedihan mendalam yang menimpa Fatimah telah berpengaruh banyak kepada dirinya, hal ini dikisahkan oleh Anas, ia berkata:

            Ketika Rasulullah Saw. selesai dikuburkan, kamipun pulang. Berkatalah Fatimah: wahai Anas berbuat kebajikanlah kalian semua jika engkau menguburkan Rasulullah Saw. dalam tanah dan pulanglah kalian semua.[47]

Pembahasan Kedelapan:

Bumi Tak Bertuan dan perang Khaibar

 

            Setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, datanglah Fatimah Az-Zahra RA untuk mengambil alih kepemimpinan Rasulullah, pertama ia mendatangi Abu Bakar Ash-Shidiq untuk menanyakan perihal warisan Rasulullah kepada Fatimah dari Nabi Saw, yaitu berupa pasukan perang Khaibar dan sebidang tanah yang tidak bertuan.

            Dari Ibnu Tufail berkata:

Ketika Rasulullah Saw. meninggal Fatimah mengutus kepada Abu Bakar: kamu adalah orang yang diberikan warisan Rasulullah Saw. sebagai kepala keluarga Rasulullah, lalu Ibnu Tufail berkata: Abu Bakar menjawab: bukan, aku adalah keluarga Rasulullah, lalu Fatimah bertanya: lalu dimana senjata Rasulullah Saw.? berkatalah Tufail: lalu Abu Bakar menjawab: sesunnguhnya aku mendengar Rasulullah berkata: sesungguhnya jika Allah memberikan makanan kepada Nabi-Nya, lalu menerimakannya, maka Nabi menjadikan makanan itu bagi orang sesudah Nabi, lantas aku melihat jika Rasulullah menginginkan makanan itu kepada umat Islam, lantas Fatimah berkata: engkau benar dan apa yang kamu dengar dari Rasulullah.[48]

            Dan dengan perkataan Fatimah (lantas Fatimah berkata: kamu dan dan apa yang kamu dengar dari Rasulullah Saw.), maksudnya adalah bahwa Fatimah membenarkan perkataan Abu Bakar. Dia adalah orang yang diberi julukan Ash-Shidiq oleh Nabi Muhammad Saw. bagaimana mungkin Fatimah tidak membenarkan ucapan Abu Bakar kepadanya.

            Terdapat perbedaan pendapat mengenai sesuatu yang dikabarkan oleh para pendakwah tentang sikap Fatimah kepada Abu Bakar, maka akan datang suatu pembahasan yang berkaitan dengan istri Abu Bakar yaitu Asma binti Umais, wanita yang merawat sakit Fatimah dan wanita yang diguncang Fatimah dengan keras  sebelum wafatnya.

            Dengan ini maka sesungguhnya Abu Bakar berpegang pada sunnah Nabi Muhammad Saw. dan menetapi petunjuknya. Para nabi tidak mewariskan dan meninggalkan sesuatu apapun selain sadaqah. Dari Aisyah RA:

            Sesungguhnya Fatimah dan Ibnu Abbas pergi mendatangi Abu Bakar untuk menayakan warisan keduanya dari Rasulullah Saw. keduanya meminta sebidang tanah Rasulullah yang tidak bertuan dan juga senjatanya dalam perang Khaibar. Lalu Abu Bakar berkata keepada mereka: sesungguhnya aku mendengar Rasulullah berkata aku tidak mewariskan apapun kepada kalian aku juga tidak meninggalkan apapun kepada kalian selain sadaqah. Sesungguhnya keluarga Muhammad itu makan dalam harta ini. Dan sesungguhnya aku, demi Allah tidak meninggalimu suatu perkara. Aku melihat Rasulullah Saw. melakukan hal itu kecuali aku melaksanakannya juga[49]

 

 

Pembahasan Kesembilan:

Sakitnya Fatimah Az-Zahra dan wafatnya

 

            Setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, Fatimah jatuh sakit karena bersedih atas meninggalnya Nabi Muhammad Saw. dan selang beberapa bulan kemudian, Fatimah menyusul seperti apa yang diberitakan tentang Fatimah.

            Ketika Fatimah masih dalam keadaan sakit, sahabat Ali meminta bantuan Asma bin Umais istri dari khalifah Abu Bakar, hal ini menandakan adanya hubungan baik yang terjaga antara Abu Bakar dengan keluarga Nabi. Dari Abu Ja’far:

            Sesungguhnya Fatimah berkata kepada Asma binti Umais: sesungguhnya aku mencela perbuatan para wanita yang memakai pakaian lalu mensifatinya. Lalu bertanyalah Asma: wahai putri putri Rasulullah ingatlah, apakah kamu tidak melihat sesuatu yang aku lihat di Habasyah? Aku telah membuatmu basah kuyup dna mengajakmu ketoko lantas aku memakaikanmu pakaian. Lalu Fatimah berkata: hal itu tidaklah bagus dan lebih bagus ketika aku mati nanti, engkau dan Ali memandikan aku dan Ali tidak boleh menikah lagi selain denganmu. Ketika Fatimah meninggal,  Aisyah masuk lantas Asma berkata: janganlah engakau masuk , lalu Asma mengadukan hal ini kepada Abu Bakar lalu Abu Bakarpun datang dan berdiri dipintu dan Asma mengatakan semuanya kepada Abu Bakar. Lalu Asma berkata: dia memerintahkanku. Abu Bakar berkata: lakukanlah apa yang telah dia perintahkan kepadamu lalu Abu Bakar pergi. Ibnu Abdi al-Barr berkata: dia adalah orang pertma yang menutupi kepala Fatimah dalam Islam pada keadaan seperti  itu.[50]

            Fatimah Az-Zahra meningal setelah wafatnya Rasulullah Saw. selang enam bulan, pada malam ketiga hari ketiga bulan Ramadlan tahun sebelas Hijriyah dia adalah seorang anak perempuan, dia adalah wanita yang berumur empat puluh satu tahun menurut pendapat yang lebih sahih,[51] seperti yang dikatakan Imam Dzihabi: Ali memandikan dan menshalatkan Fatimah.

Berkatalah Imarah:

Abbas bin Abdil Muthalib juga menshalatkan Fatimah dan menguburkannya pada malam hari.[52]

Dari Az-Zuhri:

Bahwasannya Urwah bin Jubair mengabarkan kepadanya dari Aisyah, dia menuturkan sebuah hadits dan berkatalah dia: Fatimah hidup setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. selama enam bulan dan Ali menguburkannya,[53] dalam riwayat Muslim: sesungguhnya Ali menshalati Fatimah dan ini adalah riwayat yang rajih.[54]

            Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam, rahmat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Muhammad Saw. yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Dan kepada keluarganya yang diberikan kebaikan kepada mereka dan disucikan dan semua sahabatnya. Wahai Tuhanku  kumpulkanlah aku dengan mereka dalam surga an-Na’im.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

  1. Fadlu Ahla al-Baiti wa Uluwwi Makanatihim, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad al-Ibadi Al-Badr
  2. Asad al-Ghabah, Ibnu al-Atsir al-Jazari
  3. Al-Ishabah fi Tamyizi Ash-Shahabah, Ibnu Hajar al-Ashqalani
  4. Siiru A’lam an-Nabla, AL-Hafidh Muhammad bin Ahmad Adz-Dzihabi Abu Abdillah, Tahqiq: Syau’aib al-Arnuti, Muhammad Nu’aim al-Arqasawsi
  5. Shafwah Ash-Shafwah, Abdurrahman Abu al-Farj Ibnu al-Jauzi
  6. Tarikh Ash-Shagir lil Bukhari, Muraja’ah Mahmud Zaid
  7. Tarikh al-Kabir lil Bukhari, Muraja’ah Sayyid Hasyim An-Nadwa
  8. Sahih Bukhari, Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari
  9. Sahih Muslim, Imam Abi Husain Muslim bin al-Hajjaj An-Naisaburi
  10. Sunan Abi Dawud, Tahqiq Muhammad Nasir Ad-Din al-Albani
  11. Jami’ At-Turmudzi,  Tahqiq Muhammad Nasir Ad-Din al-Albani
  12. Jami’ al-Ushul fi Ahaditsi Ar-Rasul, Ibnu Atsir al-Jazari, Tahqiq: Abdul Qadir al-Arnuti
  13. Musnad Imam Ahmad, Tahqiq Syu’aib al-Arnuti
  14. Siirah Amir al-Mu’minin Ali Bin Abi Thalib, Ali Muhammad Ash-Shalabi
  15. Khamis al-Khalafaurrasyidin (AL-Hasan Bin Ali RA) Syakhsyiyatuhu wa ‘Asyruhu , Ali Muhamad Shalabi
  16. Hilyatul Aulia, Al-Hafidh Abu Nu’aim al-Ashbahani
  17. Misykat al-Mashabih lil Khatib At-Tabrizi, Tahqiq: Muhammad Nasir Ad-Din al-Albani
  18. Shahih Jami’ lil Asy-Suyuti, Tahqiq: Muhammad Nasir Ad-Din al-Albani
  19. Sunan Ibnu Majjah, Tahqiq: Muhammad Nasir Ad-Din al-Albani
  20. Al-Bidayah wa An-Nihayah, Al-Hafidh Ibnu Katsir

 

 



[1] Siiruu A’laami an-Nablaa ( 2/118-119)

[2] Diperiksa oleh al-Albaani: hadits ini sahih, lihat hadits nomor 4188 dalam Shahihu al-Jaami’

[3]  Siiruu A’laami an-Nablaa ( 2/118-119)

 

[4] Al-Ishobah fi Tamyiizi As-Shabah lihat hadit nomor 11583,  Siiruu A’laami an-Nablaa (2/119)

[5] Diiwan Muhammad Iqbal Al-A’mal Al-Kamilah, Sayyid Abdul Majid Ghouri (1/235, 236)

[6] Asad al-Ghabah (5/520),  Al-Ishobah fi Tamyiizi As-Shabah (4/365),  Siiruu A’laami an-Nablaa (2/119), Al-Bidaayah wa An-Nihaayah (9/485)

[7]  Siiruu A’laami an-Nablaa (2/119)

[8]  Shafwah As-Shafwah Ibnu Al-Jauzi (Hal. 27)

[9] Al-Ishobah fi Tamyiizi As-Shabah, lihat hadits nomor 11578

[10] Al-Bidayah wa An-Nihayah Ibnu Katsir (9/485)

[11] Mushannif Abdul Razak bab Wulida an-Nabi hadits nomor (14011), Al-Ishobah Fi Tamyizi As-Shahabat hadits nomor (11583)

[12] Hilyatul Aulia (2/39, 43), Siiru A’lam an-Nabla (2/118)

[13] Diperiksa oleh al-Albani: Hadits ini Shahih, lihat hadits nomor (3205) pada Jami’ At-Turmudzi

[14] At-Tarikh Kabiir karya al-Bukhari, lihat hadits nomor (728)

[15] Diberikan catatan oleh Syu’aib al-Arnauti: sanad hadits ini shahih, rawinya tsiqah, rawi-rawi sahih, lihatlah hadits nomor (2668) dalam Musnad Imam Ahmad

[16]  Diberikan catatan oleh Syu’aib al-Arnauti: sanad hadits ini shahih menetapi syarat Muslim, rawinya tsiqah berupa rawi-rawi Bukhari dan Muslim selain Hammad bin Slamah, dia hanya dari rawi Muslim. Lihatlah hadits nomor (5807) dalam Musnad Imam Ahmad

[17]  Diberikan catatan oleh  Syu’aib al-Arnauti: hadits ini shahih lighairih, sanad hadits ini dha’if karena kedha’ifan Yazid bin Abi Ziyad, lihatlah hadits nomor (11636) dalam Musnad Imam Ahmad

[18] Lihat hadits nomor (6671) dalam Jami’ Ushul fi Ahaaditsi ar-Rasul, bitahqiq: Abdul Qadir ar-Arnauti: Akhrajahu At-Turmudzi hadits nomor (3873)fi Manaqib, bab Manaqib Fatimah binti Muhammad hadits riwayat Hakim dan berkatalah Turmudzi ini adalah hadits hasan gharib.

[19] Diperiksa oleh al-Albani: hadits shahih, lihat hadits nomor (79) dalam Shahih Jami’ 

[20] Diperiksa oleh al-Albani: hadits shahih, lihat hadits nomor (7961) dalam Shahih Jami’ 

 

[21] Diperiksa oleh al-Albani: hadits ini shahih, lihat hadits nomor (307) Sunan Turmudzi

[22] Sirah Ibnu Hisyam (5/71)

[23] Nafsu Masdar as-Saabik

[24] Lihat Masdar yang telah lewat (4/52)

[25] Siru A’lami an-Nabla (2/119)

[26] Adz-Dzihabi mengutipnya dalam  Siru A’lami an-Nabla (2/128)

[27] Diperiksa oleh al-Albani: hadits ini shahih, lihat hadits nomor (6095) Misykat al-Mashaabih, kitab Manaaqib Ali RA

[28]  Tariks Bukhari al-Kabir, lihat hadit nomor (1961)

[29]  Diperiksa oleh al-Albani: hadits ini shahih, lihat hadits nomor (2125) pada Sunan Abi Dawud

[30]  Diberikan catatan oleh  Syuaib al-Arnuuti: sanad hadits ini kuat, lihat hadits nomor (853) dalam musnad Imam Ahmad

[31]  Diberikan catatan oleh  Syuaib al-Arnuuti: sanad hadits ini kuat, lihat hadits nomor (819) dalam musnad  Ahmad

[32]   Diberikan catatan oleh  Syuaib al-Arnuuti: sanad hadits ini hasan, lihat hadits nomor (23085) dalam musnad Imam Ahmad

 

[33] Fadlail as-Sahabat (2/955) nomor (342) sanad hadits ini sahih

[34] Siiru A’lami an-Nabla ( 2/ 119)

[35] Siiru A’lam an-Nabla (2/119)

[36] Abu Nu’aim dalam Hilyah Auliya (2/39)

[37] Diperiksa oleh al-Albani: hadits ini hasan, lihat hadits nomor (1714) Sunan Abu Dawud

[38] Diberikan catatan oleh  Syuaib al-Arnuti: sanad hadits ini shahih menetapi syarat Bukhari Muslim, lihat hadits nomor (740) dalam Musnad Imam Ahmad 

[39] Siiru A’lam an-Nabla (2/119)

[40] Lihat hadits nomor (6675) Jami’ al-Ushul Fi Ahaditsi ar-Rasul, yang diperiksa oleh Abdul Qadir al-Arnuti: Turmudzi juga mengeluarkan hadits ini pada hadits nomor (3868) dalam Manaqib, bab Manaqib binti Nabi, berkatalah Turmudzi hadits ini hasan shahih, hal ini seperti yang dkatakan Abdul Qadir al-Arnuti:

[41] Diperiksa oleh al-Albani: hadits ini shahih, lihat hadits nomor (1999) Sunan Ibnu Majjah

 [42]  Siiru A’lam an-Nabla (2/119, 120)

[43]  Diperiksa oleh al-Albani: hadits ini shahih, lihat hadits nomor (2115) dalam Shahih Jami’

 

[44] Diperiksa oleh al-Albani: hadits ini shahih, lihat hadits nomor (5961) Misykat Al-Mashabih

[45] Diberikan catatan oleh  Syuaib al-Arnuti: sanad hadits ini shahih menetapi syarat Bukhari Muslim, lihat hadits nomor (24527) dalam Musnad Imam Ahmad

[46]   Diberikan catatan oleh  Syuaib al-Arnuti: sanad hadits ini shahih menetapi syarat Bukhari Muslim, lihat hadits nomor (13054) dalam Musnad Imam Ahmad

[47]  Diberikan catatan oleh  Syuaib al-Arnuti: sanad hadits ini shahih menetapi syarat Bukhari Muslim, lihat hadits nomor (13139) dalam Musnad Imam Ahmad

 

[48]  Diberikan catatan oleh Syuaib al-Arnuti: sanad hadits ini hasan, rawinya tsiqah rawinya berupa rawi-rawi Bukhari dan Muslim selain Walid bin Jami’ perawi dari Muslim, lihat hadits nomor (13139) dalam Musnad Imam Ahmad

 

 

[49]   Diberikan catatan oleh  Syuaib al-Arnuti: sanad hadits ini shahih menetapi syarat Bukhari Muslim, lihat hadits nomor (9) dalam Musnad Imam Ahmad

 

 

[50] Jilbab al-Marati al-Muslimah  karya Syaikh al-Albani, (hal. 135), Siiru A’lam an-Nabla (2/128, 129)

[51] Siiru A’lam an-Nabla (2/121, 122)

[52] Shafwah As-Shafwah ( hal. 173)

[53] Tarikh As-Shagir (Al-Ausath) Al-Bukhari 116 Muraja’ah Mahmud Ibrahim Zaid,  Shafwah As-Shafwah (hal. 173)

[54] Sahih Muslim, lihat hadits nomor (1759)