HERMENEUTIK SEBAGAI PENDEKATAN DAN METODE

DALAM KAJIAN ISLAM

Secara umum, hermeneutika dapat didefinisikan sebagai suatu teori atau filsafat tentang interpretasi makna[1]. Namun, ia lazim dimaknai sebagai seni menafsirkan (the art of interpretation). Konon, dalam tradisi kitab suci, kata ini sering dirujuk pada sosok Hermes, yang dianggap menjadi juru tafsir Tuhan. Sosok Hermes ini oleh Sayyed Hossen Nasr,[2] sering diasosiasikan sebagai Nabi Idris.

Sebagai sebuah metode penafsiran/pemahaman, hermeneutika memiliki aliran yang sangat beragam, yang bahkan kadang saling kontradiktif antarsesamanya. Namun setidaknya ada dua polarisasi utama, yakni aliran objektivitas dan aliran subjektivitas. Tradisi objektivitas yang penjaga gawangnya adalah Emilio Betti yang menekankan otonomi objek interpretasi dan mungkinnya objektivitas historis dalam membuat suatu interpretasi yang valid.

Sedangkan, tradisi subjektivitas dengan Gadamer sebagai tokohnya, lebih mengarahkan pemikirannya pada pertanyaan yang lebih filosofis tentang hakikat memahami itu sendiri. Menurutnya, berbicara tentang penafsiran objektivitas yang valid adalah sesuatu yang mustahil.[3] 

Kesamaan pola umum yang dikenal sebagai pola hubungan segitiga (triadic) antara teks, si pembuat teks dan si pembaca (penafsir teks). Dalam hermeneutika, seorang penafsir (hermeneut) dalam memahami sebuah teks --baik itu teks kitab suci maupun teks umum-- dituntut untuk tidak sekadar melihat apa yang ada pada teks, tetapi lebih kepada apa yang ada di balik teks. Untuk lebih jelas, pola hubungan segitiga tersebut dapat digambarkan dalam diagram sebagai berikut:

 

 

                                               

 

 

 

 

The  World of Text

 

                                                  World of Text                                 

                                                    

          The World of Author          World of Context          The  World of Audience                                                           

                               

 

 

 

 

 

 

 

Pemahaman umum yang dikembangkan, sebuah teks selain produk si pengarang (pembuat atau penyusun teks), juga merupakan produk budaya atau (meminjam bahasa Foucoult) episteme suatu masyarakat. Karenanya, konteks historis dari teks menjadi sesuatu yang sangat signifikan untuk dikaji.

Teks dalam konteks hermeneutika sifatnya adalah "polyfonik", mempunyai tafsiran dan "suara" yang banyak, sesuai dengan penafsirnya. Kata Sayyidina 'Ali tentang Qur'an, "Innama yunthiquhur rijal." Qur'an itu adalah teks mati; yang membuatnya "hidup" dan berbunyi adalah manusia. Sementara manusia itu berbeda-beda pendapatnya.[4]

Wahyu yang telah menjadi "verbal" dalam bentuk susunan kata-kata yang turun pada Nabi pun adalah terbatas. Mengenai pengertian dan pemahaman diagram dan kesepakatan dengan diagram tersebut; input -----> wahyu [proses dalam diri Nabi Muhammad SAW] -----> output Al Quran Bedanya dengan kultur input-----> alam sekitar [proses adaptasi dan pembelajaran dalam kumpulan masyarakat Arab] ----> output kultur Arab.[5]

Persoalan dan pemahaman yang umum terhadap teks adalah; input ==> [proses] ==> output    wahyu ==> [proses dalam diri Nabi Muhammad] ==> Al Quran (ayat qawliyah) surroundings ==> [proses adaptasi & pembelajaran oleh komunitas Arab] ==> kultur Arab. Kultur Arablah yang mula-mula mendapat "suntikan" ayat qawliyah, secara berangsur-angsur, sehingga ayat qawliyah itu haruslah dalam bahasa Arab. [6]



 

[1]Josef Bleicher, Contemporary Hermeneutics: Hermeneutics as Method, Philosophy and Critique,(London:Rutledge & Kegan Paul, 1980), p.1.

[2]Sayyed Hossen Nasr, Knowledge and Sacred, ( New York  State University Press. 1989), p. 71.

[3]Richard E Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer, ( Evanston: Northwesten University Press,1969), p. 45-65.

 

[4]Adat dan Budaya dalam Islam dikutip dari  http://216.109.117.135/search/cache?p=Islam+Lokal&toggle=1&ei=UTF- 8&b=41&u=nicolsian.blogspot.com/&w=islam+lokal&d=912DB7D5D2&icp=1&.intl=us accessed 25 Oktober 2005.

[5]Ibid.

[6]Ibid.