BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Islam adalah agama yang mencoba untuk mengatur kehidupan umatnya dalam segala aspeknya. Mulai dari peribadatan, pergaulan sampai dengan pendidikan. Hal ini dilakukan dengan maksud supaya umat Islam dapat menapaki kehidupan di dunia dengan baik dan benar. Kesemua ajaran Islam telah dipercayakan kepada Muhammad untuk menyampaikannya kepada seluruh umat.

Wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad adalah berupa perintah untuk membaca dan bukan perintah untuk menyembah Allah, berdagang ataupun berbuat daik dengan sesama. Jika kita mau menilik lebih jauh akan kenyataan ini, maka akan terbesit sebuah pertanyaan, ada apa dibalik perintah pertama itu? Kata bacalah yang merupakan wahyu pertama yang diterima Muhammad, merupakan sebuah kata yang mengandung banyak penafsiran.

Pendidikan mungkin sebuah padanan kata yang cocok untuk menggantikan kata bacalah. Jika hal ini kita sepakati, maka penafsiran yang muncul akan semakin jelas. Bahwa Muhammad pertama kali mendapatkan wahyu berupa perintah untuk mendidik, mengajarkan risalah Islam kepada seluruh umat. Dan dalam ajaran Islam menerangkan bahwa manusia pertama yang diciptakan oleh Allah telah didik oleh Allah sendiri untuk mengenal benda-benda disekelilingnya, untuk selanjutnya mereka (manusia) saling mengajarkan pengetahuan satu sama lain yang terbingkai dalam sebuah proses pendidikan.

Pendidikan Islam mempunyai sejarah panjang. Dalam pengertian seluas-luasnya, pendidikan Islam berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Pemikiran tentang pendidikan akan selalu berkembang dan saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Pemikiran para tokoh pendidikan pada masa lampau akan dikaji ulang oleh praktisi pendidikan modern untuk selanjutnya dicarikan sebuah sintesa baru yang sesuai dengan zamannya.

Pendidikan telah menjadikan manusia tercerahkan, sehingga pemikiran manusia akan selalu mengalami perkembangannya. Tingkat pengetahuan dan kedewasaan manusia akan selalu berkembang setiap saat dengan mendapatkan pengaruh pendidikan yang melingkupinya. Inilah yang menjadi tonggak dasar bagi adanya perkembangan pendidikan setiap saat, mengevaluasi diri dan menyesuaikan dengan kebutuhan zamannya.

Secara definitif, pendidikan diartikan oleh John Dewey sebagai sebuah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia, sedangkan Ki Hajar Dewantara mengartikannya sebagai menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.1

Pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. Bila disingkat pendidikan Islam ialah bimbingan terhadap seseorang agar ia menjadi muslim semaksimal mungkin.2 Bimbingan terhadap potensi-potensi yang dimiliki seseorang, yang dalam bahasa al-Ghazali adalah al-Fadhilah dan kemudian menjadi teori dasar bagi pendidikan Islam.

Berangkat dari definisi ini, maka sudah seharusnya teori-teori pendidikan Islam sekurang-kurangnya membahas hal-hal sebagai berikut:

1.      Pendidikan dalam keluarga:

a.       Aspek Jasmani

b.      Aspek Akal

c.       Aspek Hati

2.      Pendidikan dalam masyarakat:

a.       Aspek Jasmani

b.      Aspek Akal

c.       Aspek Hati

3.      Pendidikan di sekolah:

a.       Aspek Jasmani

b.      Aspek Akal

c.       Aspek Hati3

Tujuan pendidikan secara umum adalah pemberdayaan potensi manusia, sehingga manusia dikemudian hari dapat memanfaatkan potensinya secara maksimal dan dapat dijadikan bekal dalam menapaki kehidupan serta dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Semua ini dalam konsep pendidikan al-Ghazali tidak lepas dari peran guru yang sangat dominan. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki sifat profesionalisme yang tinggi, supaya dapat memudahkan tercapainya keberhasilan pendidikan.

Seorang guru yang profesional akan senantiasa berusaha untuk memberdayakan potensi murid secara keseluruhan guna menciptakan pribadi-pribadi yang mandiri, berbudi luhur, berwawasan luas dan mampu bersosialisasi dengan sesamanya. Karena menurut mereka, pendidikan yang hanya memberikan ruang pada salah satu aspek, hanya akan menciptakan sebuah produk yang timpang.

Al-Ghazali menempatkan guru dalam posisi yang luhur, karena segala yang terpancar oleh guru akan senantiasa dijadikan pedoman langkah murid dalam keseharian, sehingga seorang guru dituntut harus benar-benar sosok yang berwibawa dan berakhlak mulia, sehingga murid akan seperti gurunya. Guru adalah sebuah panggilan hati untuk mengabdikan diri sepenuhnya dalam pendidikan.

Fenomena adanya kecenderungan potensi murid tidak terberdayakan secara keseluruhan, sehingga diarasa timpang menjadi keumuman. Dan tentunya hal ini menjadi tugas guru untuk senantiasa memberikan yang terbaik bagi murid. Memang bukan menjadi tugas guru semata untuk dapat menjadikan murid berhasil dalam keilmuan, akan tetapi murid juga dituntut untuk menjalankan tugasnya secara semestinya. Seperti yang telah dirumuskan al-Ghazali. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa cita-cita pendidikan Taman Siswa adalah membangun orang yang berfikir merdeka, ialah manusia yang merdeka lahir dan batin.4 Hal ini dapat tercapai apabila tiap-tiap individu memiliki:

 

1.      Kecakapan panca indra.

2.      Ketajaman berfikir.

3.      Kejernihan berperasaan.

4.      Kemantapan dan kuatnya kemauan dan tenaga, dan

5.       Keluhuran budi pekerti.5

Inilah yang kita kenal dengan konsep pemberdayaan model Ki Hajar Dewantara yang kemudian dibahasakan sebagai pemberdayaan rasa, karsa dan cipta, dan ada yang menambahkan dengan karya.6 Pendidikan harus dapat memberdayakan potensi yang ada pada peserta didik, mengembangkannya dan menjadikannya sebagai bentuk kepribadian yang tangguh.

Tujuan pendidikan menurut al-Ghazali adalah tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah dan kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akherat.7 Tujuan ini tampak bernuansa religius dan moral tanpa mengabaikan masalah duniawi.8 Sehingga konsep pendidikannya dapat dikatakan lebih mementingkan pemberdayaan ranah afektif.

Kaidah fiqh mengatakan bahwa ketika sarana yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu adalah sebuah instrumen pokok, maka sarana itu wajib diadakan untuk mencapai sebuah tujuan. Oleh karena itu, jika untuk mencapai pemberdayaan afektif membutuhkan pemberdayaan ranah kognitif dan psikomotorik, maka dua hal itu menjadi bagian integral dari upaya pemberdayaan afektif.

Al-Ghazali memang berbicara banyak tentang pendidikan. Baginya, pendidikan merupakan sesuatu yang harus ada untuk menjaga keberadaan dan keselamatan manusia di bumi. Sebagai seorang khalifah Allah di bumi, manusia harus memiliki kesempurnaan untuk dapat mengolah dunia dan sesamanya sehingga dapat selalu bertindak sesuai dengan ajaran Islam.

Untuk dapat mendapatkan tujuan dari pendidikan dibutuhkan adanya alat yang dapat mengontrol dan mengarahkan proses pendidikan, evaluasi adalah sebuah alat kontrol dalam perjalanan proses pendidikan. Mengapa harus menilai? Karena kita ingin mengetahui seberapa jauh penyerapan dari materi ajar yang telah disampaikan, sehingga tujuan dari pendidikan itu sendiri dapat terkontrol terus secara baik. Dari sinilah, segala maksud dan tujuan dapat terkontrol dan terkendali untuk menghasilkan sesuatu yang diharapkan secara memuaskan.

Al-Ghazali disamping merumuskan sebuah konsep pendidikan yang mencoba menggabungkan dua fungsi utama dari manusia yaitu sebagai hamba dan khalifah Allah, sehingga dalam rumusan konsep pendidikannya al-Ghazali memberikan porsi yang seimbang antara keilmuan yang dibutuhkan manusia untuk kebutuhannya didunia dan kebutuhannya untuk menjalankan fungsinya sebagai hamba, dengan tetap meletakkan ilmu agama sebagai prioritas.

Sebagai penyempurna dari konsep pendidikannya, al-Ghazali telah merumuskan sebuah sistem evaluasi yang bersifat menyeluruh dalam melihat murid. Berbeda dengan evaluasi yang dilaksanakan disekolah-sekolah sekarang yang dirasa mudah untuk direka ataupun rentan disusupi berbagai kepentingan yang menjadikan hasil evaluasi tidak lagi bersifat oebyektif, evaluasi al-Ghazali menawarkan sebuah kemudahan konsep dan pelaksanaannya, namun bersifat menyeluruh. Hal ini tentunya sangat berpengaruh terhadap out put yang dihasilkan sekolah, yang meluas terhadap kredibilitas sekolah.

Suharsimi Arikunto menginfentarisir penyebab yang sering dialami oleh sekolah dalam kegagalan mendapatkan out put yang kurang bermutu antara lain;

1.      Input yang kurang baik kualitasnya.

2.      Guru dan personal yang kurang tepat.

3.      Materi yang tidak atau kurang cocok.

4.      Metode mengajar dan sistem evaluasi yang kurang memadai.

5.      Kurangnya sarana penunjang.

6.       Sistem administrasi yang kurang tepat.9

Sistem evaluasi hendaknya disesuaikan dengan konsep pendidikan yang ada. Konsep pendidikan yang yang baik adalah yang mampu memberdayakan potensi siswa yang coba dikembangkan disekolah, sehingga sistem evaluasipun harus mengacu kepada hal tersebut. Oleh karena itu, sekolah harus benar-benar dapat merumuskan tujuan dari pendidikan yang diselenggarakan dengan melihat potensi yang coba dikembangkan.

Penelitian ini bermaksud untuk mencoba untuk menggali sistem evaluasi dalam konsep pendidikan al-Ghazali untuk diaktualisasikan kembali dalam fenomena pendidikan sekarang. Sebuah sistem evaluasi yang mengandalkan tiga komponen utama evaluator yaitu murid, guru dan Tuhan. Hal ini berangkat dari hubungan vertikal dan horisontal yang senantiasa melingkupi kehidupan manusia yang menawarkan kemudahan pelaksanaan dengan tetap menjaga prinsip dasar evaluasi, yaitu objektifitas, kontuinitas dan komprehensif.

B.   Rumusan Masalah

Berpijak pada latar belakang permasalahan diatas, penulis akan mengajukan dua buah pertanyaan mendasar tentang evaluasi kaitannya dalam konsep pendidikan al-Ghazali untuk mengahasilkan sebuah konklusi baru tentang sistem evaluasi:

1.      Bagaimana konsep pendidikan al-Ghazali?

2.      Bagaimana sistem evaluasi dalam konsep pendidikan al-Ghazali?

C.   Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1.      Mengetahui konsep pendidikan al-Ghazali.

2.      Mengetahui sistem evaluasi dalam konsep pendidikan al-Ghazali.

Kegunaan dari penelitian ini adalah:

1.      Sebagai sebuah masukan baru bagi para pendidik, pengamat pendidikan, departemen pendidikan dan para praktisi pendidikan yang mungkin hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan diskusi dan permenungan

2.      Sebagai sumbangan pemikiran yang wajib dalam kancah dunia intelektual

3.      Sebagai kado persembahan ucapan terima kasih kepada bapak dan ibu penulis, sebuah pembuktian diri bahwa penulis memang serius dalam melaksanakan tugas belajar.

D.   Telaah Pustaka

Evaluasi menjadi komponen yang sangat penting dalam sebuah pendidikan. Keberadaannya lebih diarahkan kepada instrument pengendali dan pengontrol dari tujuan pendidikan, oleh karena itu sebuah konsep evaluasi pendidikan harus mampu menjangkau semua yang berkaitan dengan hal-hal yang seharusnya dilakukan sebuah evaluasi.

Sebuah konsep pendidikan akan menelorkan sebuah sistem evaluasi, sebagai sebuah konsekwensi logis dan sebuah sistem evaluasi akan menyesuaikan diri dengan konsep pendidikan yang ada, sehingga sebuah sistem evaluasi juga akan mengalami perkembangannya. Untuk tidak mengulang sebuah penelitian, maka diperlukan adanya sebuah telaah pustaka dan sejauh pengamatan dan penelusuran penulis didapatkan beberapa kajian mengenai evaluasi dan al-Ghazali sebagai berikut:

1.      Suharsimi Arikunto yang menulis buku dengan judul Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan penulisan ini didasarkan pada penelitiannya yang dilakukan secara terbatas pada buku kurikulum 1975 yang sudah dilengkapi dengan pedoman penilaian. Pada prakteknya, banyak guru yang belum memahami akan pedoman penilaian ini dan bahkan tidak pernah mempelajarinya sama sekali, sehingga penulisan buku ini lebih diarahkan pada untuk dijadikan sebagai buku pedoman dalam melakukan sebuah penilaian.10 Buku ini membahas tentang evaluasi pendidikan secara lengkap, yang dilengkapi dengan contoh-contoh yang diperlukan. Diawali dengan pembahasan tentang pengertian evaluasi sampai dengan pembahasan evaluasi pengajaran dan masih banyak lagi karya beliau yang membahas tentang evaluasi.

2.      Anas Sudijono yang menulis buku berjudul Pengantar Evaluasi Pendidikan. Penulisan ini didasarkan pada kenyataan bahwa buku-buku evaluasi pendidikan saat ini belum dapat mendukung pencapaian target pendidikan secara tuntas. Dalam buku ini dibahas tentang evaluasi pendidikan secara lengkap beserta contoh tabel yang diperlukan.11 Diawali dengan pembahasan pengertian evaluasi sampai dengan teknik penentuan nilai akhir. Dari penulisan buku ini diharapan nantinya pendidikan dapat dievaluasi secara baik dan benar.

3.      Ary Ginanjar Agustian penulis buku yang berjudul Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ (Emotional Spiritual Quotient) berdasarkan 6 rukun Iman dan 5 rukun Islam, didalamnya ia mencoba untuk membuat sebuah cara membangun kecerdasan emosi dengan memanfaatkan kekutan rukun Iman dan Islam, hal ini dikombinasikan dengan pengalaman-pengalaman pribadi yang tepat, bahwa manusia mempunyai dua hubungan yang selalu mengikat yaitu kaitannya dengan manusia dengan sesamanya dan manusia dengan Tuhannya, oleh karena itu dibutuhan adanya cara yang baik untuk dapat melakukan keduanya secara serasi dan seimbang, yaitu dengan cara menghayati dengan sepenuh hati akan keenam rukun Iman untuk selanjutnya dimanifestasikan dalam tindakan yang berujud rukun Islam.12

4.      Wahid Arbani, mahasiswa MSI UII yang menulis tesis pada tahun 2003 dengan judul Konsep Pendidikan Akhlaq Menurut Ibnu Miskawaih (Telaah Filsafat Pendidikan). Dia mengungkapkan tentang konsep pendidikan akhlaq yang diterapkan oleh Ibnu Miskawaih, dengan doktrin jalan tengahnya yang ternyata memiliki nuansa dinamik dan feleksibel, yang pada akhirnya hal ini dapat mengarah kepada terwujudnya pribadi susila dan berwatak mulia dan mungkin jika hal ini diterapkan dalam kontek kekinian juga sangat sesuai, ditengah kehidupan orang-orang yang selalu mengeklaim benar akan dirinya sendiri.

5.      Saleh Hasan, penulis tesis yang berjudul Konsep al-Akhlaq al-Fardiyyah Dalam al-Quran (Suatu Kajian Tematik) yang ditulisnya pada tahun 2000 di MSI UII, menyimpulkan bahwa manusia mempunyai dua poensi besar yang harus dikembangkan lebih lanjut untuk menjaga kelestariannya dan hubungan dengan sesamanya, juga hubungan dengan Tuhannya. Kedua potensi itu adalah IQ dan EQ. oleh karena itu, jika semuanya terberdayakan dapat membentuk pribadi yang berakhlaq mulia dan berwawasan luas sesuai dengan al-Quran.

6.      Nur Asiah, mahasiswa MSI UII yang menulis tesis berjudul Konsep Pendidikan Menurut Al-Ghazali Dalam Prespektif Progressifisme pada tahun 2000. Didalamnya ia mengulas tentang konsep pemberdayaan sisi afektif menurut al-Ghazali dan untuk selanjutnya coba dibandingkan dengan konsep pendidikan menurut progressifisme. Didalamnya dia hanya sekedar menimbang dan menilai akan kedua konsep itu dan tidak mencoba untuk membuat sebuah sintesa baru yang mengkolaborasikan keduanya.

7.      Muhammad Suyudi, Konsep Belajar Menurut Al-Ghazali dan Telaah Terhadap Progressivisme (Studi Perbandingan), Tesis IAIN Sunan Kalijaga tahun 1994. Dalam tesis ini, Muhammad Suyudi hanya melakukan sebuah upaya perbandingan konsep belajar antara al-Ghazali dan Progressivisme. Dan dia tidak melakukan sebuah analisa lebih lanjut tentang al-Ghazali.

8.      Junaidi, Pendidikan Akhlak Dalam Perspektif Ibnu Miskawaih dan Imam Al-Ghazali, Tesis IAIN tahun 1997. Didalamnya hanya membahas tentang penerapan pendidikan akhlak yang harus diterapkan dalam model pendidikan apapun dengan mengadopsi sistem pendidikan akhlak Ibnu Miskawaih dan al-Ghazali.

9.      M. Athoullah Ahmad, Konsep Pendidikan Etika Menurut al-Ghazali dan Plato (Studi Perbandingan), Tesis MSI UII yang ditulis pada tahun 2000. Dalam karyanya ini dia menuliskan bahwa etika al-Ghazali berangkat dari klasifikasi ilmu yang dibaginya menjadi dua, yaitu ilmu dunia dan ilmu akherat. Sedangkan ilmu akherat itu sendiri dibaginya menjadi dua, yaitu mukasyafah dan muamalah dan etika masuk kedalam kelompok ilmu muamalah. Dalam etika, al-Ghazali membaginya menjadi dua, yaitu yang baik dan yang buruk dan dalam prosesnya peran guru sangat dominan dalam pembentukan etika siswa.

10.  Sholihin, Konsep Dasar Pendidikan Menurut Imam al-Ghazali (Pendekatan Psikologis), Tesis MSI UII yang ditulis pada tahun 2001. Didalamnya dia mengungkapkan, bahwa konsep dasar pendidikan al-Ghazali terbagi menjadi ijmali dan tafsili. Secara ijmali adalah akhlakul karimah, Iman dan Islam. Secara tafsili, disamping Iman dan Islam, guru dan murid harus memiliki modal dasar berupa kesucian hati bagi guru dan murid, penanaman sifat mahmudah pada pribadi guru dan murid, dan ikhlas belajar dan mengajar semata-mata mencari ridla Allah.

11.  M. Bahri Ghazali, Konsep Ilmu Menurut al-Ghazali: Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, tesis IAIN Sunan kalijaga pada tahun 1989. tesis ini membicarakan tentang hakekat ilmu dalam pandangan al-Ghazali, yang di ikuti dengan hukum mempelajarinya setelah melakukan klasifikasi terlebih dahulu dan dalam bahasannya diakhiri dengan perkembangan ilmu.

12.  Habib Bahrodin, Faktor Pembawaan dan Lingkungan Dalam Pendidikan Agama Islam (Telaah Pemikiran al-Ghazali Dalam Kitab Ihya Ulumaddin), Skripsi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2002, yang intinya bahwa pembawaan dalam pandangan al-Ghazali adalah fitrah yaitu sifat dasar manusia yang dibekali sejak lahir yang memiliki beberapa keistimewaan yang bersifat aktif dan responsif terhadap stimulus-stimulus yang datang dari lingkungan. Seyogyanya antara pembawaan dan lingkungan adalah suatu sarana yang harus dikembangkan menuju marifatullah.

13.  Iwan Setiawan, Pemikiran al-Ghazali dan Paolo Freire Tentang Manusia dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Islam, Skripsi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2005, yang berintikan bahwa perlunya manusia berjuang menjadi subyek kehidupan dan melaksanakan amanat dari Tuhan untuk menjadi khalifah dimuka bumi. Oleh karena itu, amal-amal sholeh dan kerja sosial adalah sebuah upaya manusia supaya dapat bermanfaat bagi sesamanya.

14.  Isfachiana, Akhlak Guru Dalam Perspektif al-Ghazali dan Implikasinya Terhadap Pembentukan Akhlak Siswa. Skripsi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga yang ditulis pada tahun 2005 dan berintikan bahwa guru seharusnya mampu menampilkan teknik pengajaran yang mencerminkan akhlak, karena perkembangan dan pertumbuhan akhlak siswa sangat tergantung dari pembawaan dan lingkungan, jika lingkungan pergulan dan pembelajaran baik yang ditopang dengan guru yang baik pula, maka seorang siswa dimungkinkan akan mempunyai akhlak yang luhur pula. Penilaian siswa terhadap guru akan membantu memberi efek positif dan negatif terhadap pembentukan akhlak siswa.

15.  Abdul Hamid, Hierarki Ilmu Pengetahuan Dalam Pendidikan Islam Telaah Atas Pemikiran al-Ghazali. Skripsi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga yang ditulis pada tahun 2005 dan berintikan bahwa al-Ghazali membagi ilmu kedalam tiga skala global dengan melalui pendekatan epistemologi, ontologi dan aksiologi. Hal ini diterjemahkan kedalam empat klasifikasi, yaitu; membagi dalam ranah ilmu teoritis dan praktis, pengetahuan yang dihadirkan dan yang dicapai, ilmu-ilmu religius dan intelektual dan ilmu-ilmu yang fardlu ain dan fardlu kifayah.

16.  Ahmad Sahar, Pandangan al-Ghazali dan Emile Durkheim tentang Pendidikan Moral Dalam Masyarakat Modern. Skripsi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2003. Intinya adalah Menurut al-Ghazali pendidikan moral lebih bersifat individual dan religius dengan tujuan untuk membentuk manusia yang suci jiwanya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, sumbernya adalah wahyu dan prosesnya dalam bimbingan seorang syaikh secara ketat. Sedangkan Durkheim pendidikan moralnya lebih bercorak sosial, rasional dan sekuler, sehingga pendidikan moral adalah sarana sosial untuk mewujudkan tujuan sosial. Tujuannya adalah terciptanya solidaritas sosial dalam masyarakat sedangkan otoritas pembuat moral adalah masyarakat.

17.  Muhammad Musthofa, Konsep Guru dan Siswa Ideal Menurut al-Ghazali Dalam Kitab Ihya Ulumaddin. Skripsi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2003. Inti dari tulisan ini adalah bahwa untuk menjadi seorang guru dan siswa yang ideal, maka harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan tata kesopanan dan tugas-tugas guru serta tata kesopanan dan tugas-tugas manusia, yang kesemuanya terangkum dalam kitab Ihya Ulumaddin.

18.  Irmayanti, Konsep Pendidikan Agama Pada Anak Menurut Imam al-Ghazali (Kajian Dari Sudut Psikologi Perkembangan). Skripsi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2003. Berintikan perihal perkembangan anak ini, al-Ghazali membagi kedalam beberapa periode, yakni periode al-janin, periode al-thifl, periode al-tamyiz. Dalam pembelajaran, materi harus sesuai dengan tingkat pemahaman dan periode perkembangan masing-masing dan hendaknya banyak diwarnai oleh ajaran akhlak dan tasawuf.

19.  Yaya Nihaya, Konsep Pendidikan Sosial Menurut al-Ghazali. Skripsi Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2003. Intinya adalah untuk membentuk pribadi anak agar berjiwa sosial, maka harus ditanamkan pendidikan anak tentang nilai-nilai dan norma-norma sosial yang mengacu pada ajaran Islam yang berlandaskan al-Quran dan al-Hadits supaya berakhlak mulia dan dapat membatasi pergaulan dengan baik.

20.  Munawar, Seni Paduan Suara Menurut Ibnu Hazm Dan Imam al-Ghazali. Skripsi Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2002. Pada intinya paduan suara hukumnya adalah mubah. Namun, semuanya itu sangat tergantung dari niyatnya. Al-Ghazali memberikan batasan akan kemubahan ini, yaitu merupakan lagu-lagu Islami, mengandung perkataan baik. Sedangkan yang diharamkan adalah yang mengandung perkataan tidak baik, alat musik yang digunakan adalah simbol peminum khamr, seperti gitar dan mengikuti atribut orang kafir.

21.  Muflih, Konseling Islam Dalam Pemikiran al-Ghazali. Skripsi Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2001. Intinya adalah Fase penjelasan masalah bercorak direktif (Pengarahan), konselor mengarahkan tentang perkara-perkara yang harus dijelaskan dengan alasan dia mempunyai masalah kepribadian. Dengan menggunakan teori cermin sebagai evaluasi kepribadian karena pokoknya adalah kerusakan akhlak, sedangkan pemecahan yang digunakan adalah dengan pemotongan penyebab masalah psikologis yaitu kemarahan dan syahwat dengan cara riyadlah dan mujahadah.

22.  Saringan, Konsep Pembinaan Akhlak Anak Menurut al-Ghazali Dalam Terjemahan Kitab Mauidlotul Muminin Min Ihya Ulumuddin Oleh Moh Abdai Ronthomi (Studi Tentang Materi dan Dasarnya Dan Segi Kebudayaan dan Agama Islam). Skripsi Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2002. Intinya adalah bahwa al-Ghazali menyampaikan materi pembinaan akhlak pada kitab Ihya Ulumaddin yang terkandung juga dalam kitab Mauidlotul Muminin yang menampilkan materi berupa akhlak kepada diri sendiri, orang lain, lingkungan, kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini berdasar kepada nilai kebudayaan pada masyarakat. Baik pada masa Nabi, maupun sesudahnya dan juga berdasar pada al-Quran dan al-Hadits.

23.  Muhaimin, Hakekat Manusia (Studi Perbandingan Pandangan Abraham Maslow dan al-Ghazali). Skripsi Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 2005. Intinya hakekat manusia adalah kemampuan-kemampuan dan potensi-potensi, makna hidup serta pengalaman transenden manusia didalam kehidupannya sehari-hari sebagai wujud aktualisasi diri. Al-Ghazali menyatakan bahwa hakekat manusia adalah menyadari bahwa kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh manusia adalah pemberian Allah sebagai pembeda dari mahluk-mahluk ciptaan manusia. Seperti ruh, akal, hati, nafs agar dia memuliakan dirinya sendiri. Persamaan pendapat dari kedua tokoh adalah bahwa manusia memiliki keistimewaan dan perbedaannya adalah bahwa Maslow melihat manusia Antroposentris, sedangkan al-Ghazali melihat manusia Antropo-Religius-Sentris.

Dari beberapa penelusuran terbatas ini, dapat disimpulkan bahwa penelitian tentang sistem evaluasi dalam konsep pendidikan al-Ghazali belum ada yang membahas secara serius, sehingga layak diangkat untuk dilakukan sebuah penelitian lebih lanjut.

 

E.   Landasan Teori

Islam merupakan agama rahmat. Islam senantiasa memperhatikan umatnya dalam segala aspeknya, termasuk didalamnya adalah pendidikan, sebagai sebuah alat bagi manusia untuk dapat menjaga kelangsungan mereka. Dalam kenyatannya, pendidikan Islam senantiasa mengalami dinamikanya yang dilakukan oleh para tokoh pendidikan Islam sebagai pengendali dari dinamika pendidikan Islam yang terjadi.

Pendidikan adalah sebuah usaha yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan perkembangan. Keberadaan manusia dimuka bumi ini akan sebanding dengan usaha yang dilakukan untuk melakukan upaya perkembangannya. Semakin manusia berusaha melakukan perkembangan, maka semakin maju pula pendidikan yang dihasilkan. Maka posisi pendidikan dapat dikatakan fleksibel, menyesuaikan dengan perkembangan manusia. Tidak ada sebuah patokan baku dalam pendidikan, pendidikan akan terus mengalami perubahan bentuk namun tetap dalam maksud dan tujuannya secara umum.

1.      Konsep pendidikan al-Ghazali

Dalam kamus ilmiah populer, konsep diartikan sebagai ide umum, pengertian, pemikiran, rancangan, dan rencana dasar.13Al-Ghazali sebagai seorang tokoh pendidikan Islam, lebih mengarahkan konsep pendidikannya untuk pembentukan manusia yang sempurna guna menyongsong manusia menjadi hamba dan khalifah Allah di bumi. Hal ini diperkuat dengan pernyataan al-Ghazali dalam Ihya Ulumaddin:

Mahluk yang paling mulia dibumi ini adalah jenis manusia, dan bagian yang paling mulia diantara substansi manusia itu adalah hatinya, sedang guru adalah orang yang berusaha menyempurnakan, meningkatkan, mensucikan dan membimbing hati itu mendekatkan diri kepada Allah SWT dan dari segi lain, termasuk tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi. Dikatakan khalifah Allah karena khalifah Allah telah membuka hati seorang alim dengan ilmu, dimana ilmu itu justru menjadi identitasnya, karena itu ia bagaikan bendara bagi personalia-personalia didalam khazanah Tuhan.14

 

Pendidikan adalah usaha yang sengaja diadakan baik langsung maupun dengan cara tidak langsung untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaan.15Oleh karena itulah pendidikan harus mampu memberdayakan semua potensi yang dimiliki siswa, baik yang bersifat jasmani ataupun rohani, karena dengan pemberdayaan inilah siswa dapat mencapai kedewasaannya dengan sempurna.

Dalam pandangan al-Ghazali, pendidikan merupakan sebuah alat untuk menjadikan manusia dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah. Pembagian ilmu yang dilakukan al-Ghazali semata-mata untuk menyeimbangkan bekal yang harus dikuasai manusia, dalam posisinya sebagai khalifah dan hamba yang kelak menjadi sebuah bentuk embrio kurikulum al-Ghazali.

Guru sebagai ujung tombak dalam sebuah proses pendidikan, sehingga posisinya sangat dimuliakan. Al-Ghazali menempatkannya pada posisi yang tinggi, serta menerapkan beberapa kriteria dasar yag harus dipenuhi. Murid juga menjadi perhatian tersendiri bagi al-Ghazali, sehingga al-Ghazali-pun menerapkan kriteria dasar yang ketat pula, supaya proses pendidikan dapat berjalan dengan baik.

2.      Sistem evaluasi

Evaluasi dapat diartikan sebagai metode, cara yang teratur (untuk melakukan sesuatu), susunan cara.16Evaluasi sebagai sebuah bagian dari instrumen pendidikan akan sangat berperan dalam menunjang keberhasilan siswa. Dengan evaluasi, proses pemberdayaan yang dikembangkan dalam sekolah dapat terkontrol dengan baik, dengan evaluasi perkembangan siswa dalam segala aspeknya dapat terkedali dan diikuti perkembangannya. Secara umum, evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidaknya memiliki tiga jenis fungsi pokok, yaitu;

a.       Mengukur kemajuan

b.      Menunjang penyusunan rencana

c.        Memperbaikai atau penyempurnaan kembali17

Evaluasi yang dilakukan secara berkesinambungan akan membuka peluang bagi evaluator untuk dapat membuat perkiraan apakah tujuan dari pendidikan itu dapat dicapai sesuai dengan target. Jika tidak memungkinkan untuk sesuai target, maka dia akan membuat terobosan-terobosan baru untuk dapat mencapai target pendidikan. Setidaknya inilah instrumen pengendali dalam pencapaian target pendidikan.

Evaluasi seharusnya mampu membangkitkan semangat siswa untuk melengkapi kekurangan yang ada setelah dilakukan evaluasi. Evaluasi yang diadakan harus mengacu pada potensi yang dimiliki siswa, sehingga potensi siswa yang coba diberdayakan dalam sekolah dapat terkontrol dan dapat berkembang selaras, serasi, serta seimbang. Inilah yang akan menjadikan siswa dapat membekali dirinya dan meneruskan kehidupan.

Al-Ghazali menawarkan sebuah konsep evaluasi yang mudah dalam pelaksanaannya. Sebuah sistem evaluasi yang bersifat menyeluruh dan saling mengait satu sama lain, sehingga dapat menjamin sebuah hasil evaluasi bersifat objektif. Dalam sistem evaluasinya, al-Ghazali meletakkan murid dan guru sebagai subjek dan objek evaluasi sekaligus dan mendudukkan Allah sebagai evaluator tunggal yang menyeluruh.

Prinsip dasar yang harus dipenuhi dalam sebuah evaluasi yang baik dan benar adalah bahwa evaluasi dapat menilai semua potensi yang coba dikembangkan di sekolah. Jika potensi itu berbeda satu sama lain, walaupun masih dalam satu kesatuan, maka evaluasi yang diadakan juga harus berbeda-beda, menyesuiakan dengan bidang yang akan dievaluasi, sehingga semua potensi yang coba dikembangkan mendapat porsi penilaian yang tepat.

F.    Metodologi Penelitian

Kajian penelitian tesis ini adalah murni kajian buku, oleh karenanya penelitian ini disebut kajian pustaka (Library Reseach).18 Obyek kajian dari penelitian ini adalah segala bentuk literatur yang membahas tentang evaluasi pendidikan, baik berupa buku, majalah, surat kabar, dokumen, makalah ataupun artikel media elektronik. Hal ini dimaksudkan untuk lebih memudahkan dalam mendapatkan bahan kajian, sehingga permasalahan yang diajukan dapat terjawab dengan sempurna.

Penelitian ini termasuk kategori penelitian kualitatif dengan teknik dan penyajian hasil analisisnya dalam bentuk deskriptif.19 Penelitian ini menggunakan pendekatan historis20dengan memakai analisa deduktif analitik untuk memperoleh arti yang sebenarnya dari suatu pernyataan dalam teks. Juga contents analysis yang digunakan untuk menganalisis konsep evaluasi al-Ghazali, mendeskripsikan pemikiran al-Ghazali sebagai sebuah konsekwensi ditinjau dari segi konseptual. Dengan demikian analysis contents dapat berfungsi sebagai alat penyaringan data lewat dokumen dan perangkat analisis akan membuat inferensi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini. Untuk mendiskripsikan analisis ini ada tiga syarat yang harus dipenuhi:

1.      Obyektif, penelitian ini sesuai dengan kejadian empirik yang teramati dan terukur. Sehingga bukan merupakan sesuatu yang direka.

2.      Pendekatan sistematis, yakni data-data mana yang termasuk dalam kategori dan data mana yang tidak termasuk dalam kategori. Adanya pemilahan data dimaksudkan untuk lebih memfokuskan bahasan dan pembahasan tidak akan keluar dari jalur bahasan inti.

3.      Generalisasi, yakni temuannya haruslah mempunyai sumbangan teoritik. Maka hasil temuan dalam penelitian ini akan digeneralisasikan sehingga dapat dirumuskan suatu konsep evaluasi.

Adapun langkah-langkahnya adalah pertama dengan pengadaan data yang terdiri atas penentuan satuan, sampel, pencatatan data yang diperlukan baik dari data primer maupun sekunder. Kedua adalah pengurangan data, ketiga adalah inferensi dan keempat adalah analisis.

Dalam penelitian ini juga digunakan teknik komparatif yang difungsikan untuk membandingkan pemikiran al-Ghazali dengan beberapa tokoh pendidikan. Untuk mengambil kesimpulan, digunakan tata fakir reflektif, yaitu berfikir yang prosesnya mondar-mandir antara yang empirik dan yang abstrak.

Data primer dari penelitian ini adalah karya-karya al-Ghazali terutama Ihya Ulumaddin dan Ayyuhal Walad, buku-buku yang membahas tentang evaluasi karya Suharsimi Arikunto, sedangkan data sekundernya adalah semua tulisan yang mendukung dalam penulisan tesis ini.

G.  Sistimatika Pembahasan

Sistimatika pembahasan dalam tesis ini akan dilakukan secara urut:

Bab I : Pendahuluan. Berupa pengantar untuk membuka ruang dalam sebuah pembahasan inti. Disamping itu, perlu adanya sebuah telaah atas beberapa hasil kajian-kajian yang membahas seputar permasalahan tersebut, hal ini dilakukan supaya tidak terjadi adanya sebuah pengulangan penelitian dalam hal yang sama. Metodologi digunakan untuk lebih memfokuskan kajian dan mengarahkan bahasan, sehingga tetap pada jalur pembahasan. Dan nantinya akan ditutup dengan sistematika pembahasan untuk memudahkan langkah-langkah garapan.

Bab II : Konsep pendidikan al-Ghazali. Hal ini perlu sekali dipaparkan untuk lebih jauh mengetahui pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan sebagai sebuah jembatan untuk membuka ruang bahasan tentang sistem evaluasinya.

Bab III : Evaluasi pendidikan. Berupa konsep dasar evaluasi, yang mengetengahkan alasan-alasan melakukan evaluasi, manfaat, serta tujuan yang diinginkan dari sebuah tindakan evaluasi, yang ditujukan untuk dapat dijadikan bahan pertimbangan dan perbandingan bagi pembahasan tesis ini.

Bab V : Evaluasi pendidikan al-Ghazali. Berupa bahasan pokok, sebuah analisa tentang sistem evaluasi al-Ghazali yang coba untuk digali dan dirumuskan secara sistematis yang berupa pembahasan tentang landasan sistem evaluasi pendidikan al-Ghazali, sumber sistem evaluasi al-Ghazali, tujuan evaluasi pendidikan al-Ghazali, objek dan subjek evaluasi dan alat-alat evaluasi

Bab VI : Penutup

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

AL-GHAZALI DAN PEMIKIRANNYA

 

 

A.    Riwayat hidup al-Ghazali

Pada masa kekuasaan bani Abbasiyah, pasca dinasti Saljuk, muncul seorang pemikir Islam sepanjang sejarah Islam, teolog, filsuf, dan sufi termasyhur disebuah kota kecil dekat Thusia di Khurasan, yang ketika itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan didunia Islam.21 Beliau sangat senang melakukan penilikan lebih jauh akan sebuah ilmu, dan kebiasaan ini dibawanya sampai pada akhirnya dia mengalami keguncangan batin yang hebat dalam usahanya menemukan ilmu yang hakiki dan tasawuf adalah tambatan trakhir pengembaraan intelektualnya.

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad, mendapat gelar imam besar Abu Hamid al-Ghazali Hujjatul Islam, yang dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M, disuatu kampung yang bernama Ghazalah, Thusia yang merupakan suatu kota di Khurasan, Persia.22Ayahnya adalah seorang fakir yang senang berkunjung kepada orang-orang alim. Walaupun beliau memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa Saljuk, namun beliau tidak memanfaatkan hubungan kekerabatan ini untuk mencari keuntungan dengan mendapatkan fasilitas sebagai kerabat penguasa, sehingga dapat hidup lebih makmur.

Pekerjaan beliau adalah sebagai pemintal kain bulu yang dijual dipasar setempat. Karena kedekatannya dengan para ulamalah yang menjadikan beliau tidak silau akan harta dunia, apalagi beliau mempunyai sahabat seorang sufi, yang kelak mengasuh al-Ghazali dan adiknya, yaitu al-Razikani. Beliau lebih senang dengan rizki yang diusahaknnya sendiri. Dengan tangannya sendiri, ia memintal untuk mendapatkan jatah rizki yang diberikan allah kepadanya, walaupun hanya sedikit. Bahkan, ketika mendapatkan rizki yang lebih untuk sekedar mencukupi kebutuhan hidupnya, beliau senantiasa membagikannya kepada ulama setempat.

Beliau senantiasa mengunjungi ulama dikala waktu senggang. Seringkali beliau menangis ketika mendengar ceramah-ceramah ulama yang dikunjunginya yang menyentuh kalbu secara mendalam. Sehingga dalam kesehariannya, beliau senantiasa berdoa kepada Allah, memohon supaya dikaruniai putra yang pandai dan berilmu.

Allah maha mendengar, sehingga doa yang diutarakan dengan sepenuh hati menjadi sebuah kenyataan. Beliau dikaruniai dua putra, yaitu al-Ghazali dan Abu Ahmadi Mujiddudin. Keduanya menjadi tersohor, al-Ghazali dengan keilmuannya yang luas dan Mujiduddin menjadi sorang penceramah/penasehat yang tersohor. Walaupun ayah al-Ghazali harus meninggal terlebih dahulu sebelum melihat kedua putranya bersinar.

Sebelum meninggal, beliau sempat menitipkan kedua putranya kepada seorang sahabatnya, untuk mendidiknya supaya kelak menjadi seorang yang pandai dan berilmu, yaitu seorang sufi yang bernama Ahmad bin Muhammad al-Razikani.23 Dengan nada penuh penyesalan, beliau berkata kepada sahabatnya;

Nasib saya sangat malang, karena tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Saya ingin, supaya kemalangan saya dapat ditebus oleh kedua anakku ini. Peliharalah mereka, dan pergunakan sampai habis harta warisan yang aku tinggalkan ini, untuk mengajar mereka24

 

Doa dan kasih sayang ibunya yang begitu tulus, menjadikan al-Ghazali tetap tegar untuk belajar, menimba ilmu agama yang tidak bertepi, supaya dapat mereguknya sepuas mungkin sampai kedalam inti ilmu pengetahuan itu sendiri. Setelah beberapa lama al-Ghazali dalam asuhan al-Razikani, harta peningalan ayahnya-pun habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Sebagai seorang sufi, al-Razikani tentulah bukan seorang yang berharta. Hidupnya seperti halnya para sufi lainnya, melakukan zuhud dan mencari kebendaan hanya sebatas untuk dapat menopang hidup, supaya dapat terus beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, al-Razikani menganjurkan kepada al-Ghazali dan adiknya untuk melanjutkan pendidikan kemadrasah yang membebaskan beaya pendidikan bagi siswanya, serta menaggung beaya hidup siswanya, sehingga cita-cita luhur mereka dapat tercapai.

Al-Ghazali lahir dalam situasi sosial dan budaya yang penuh dengan pergolakan, mungkin inilah yang mengakibatkan dia menjadi sosok yang haus akan keilmuan. Ada tiga kondisi penting yang melingkupi kelahiran al-Ghazali, yaitu:

1.      Budaya

Dalam bidang budaya, al-Ghazali lahir ketika terjadi interaksi budaya yang sangat intens. Antara filsafat untuk mendukung agama, kebudayaan asing yang mendominasi literatur dan pengajaran, kontrafersi keagamaan, para Sufis yang mulai lepas dari syariah dan kompetisi antara kristen dan yahudi.

 

 

 

2.      Politik

Dalam bidang politik, al-Ghazali lahir ketika terjadi perpindahan kekuasaan Abbasiyah dari bercorak Arab dan Persia, ke pada bani Saljuk keturunan Turki yang dinilai kurang taat beragama.

3.      Agama

Dalam bidang agama, al-Ghazali lahir disaat terjadi pertentangan antara kaum syiaah dan sunny yang menajam. Sehingga, negara mengambil kebijakan memperkuat pahamnya, yaitu sunny melalui jalur pendidikan madrasah.25

Pengembaraan keilmuannya dimulai dari daerah kelahirannya, yaitu Thusia. Al-Ghazali belajar kepada ayahnya dan al-Razikani. Setelah dirasa cukup, al-Ghazali meneruskan pendidikannya disebuah madrasah dikota kelahirannya dan bertemu dengan Yusuf an-Nasaj. Setelah menamatkan pendidikan madrasah, al-Ghazali pergi ke Jurjan untuk berguru kepada al-Ismaili. Pengembaraannya ia lanjutkan dengan menimba ilmu di Naisabur kepada al-Juwaini, dengan menjadi siswa sekolah tinggi Nizamiyah. Kecerdasan dan penguasaannya akan keilmuan yang baik, menjadikan al-Ghazali mempunyai nilai lebih dimata gurunya, sehingga ia dianggap telah mampu menyamai gurunya dalam bidang keilmuan dan al-Juwaini mengangkatnya menjadi asisten dan menyebutnya sebagai bahrun mughriq (lautan yang menenggelamkan).

Ketika usianya meninjak 28 tahun, tanda-tanda kemashurannya mulai muncul, pemikiran dan tindakannya mulai diperhitungkan orang lain. Al-Ghazali telah mampu menulis beberapa karya dan juga mampu membangkitkan paham skeptisme yang kemudian menjadikannya mendapatkan perhatian. Semenjak kecil al-Ghazali memang dikenal sebagai anak pencinta pengetahuan dan juga pencari kebenaran yang hakiki, sekalipun banyak aral merintang yang menjadi sebuah konsekwensi.

Setelah al-Juwaini wafat (1085), al-Ghazali meninggalkan Naisabur menuju Muaskar untuk memenuhi undangan perdana mentri Nizam al-Mulk, pendiri madrasah Nizamiyah. Muaskar pada waktu itu adalah tempat pemukiman perdana mentri, pembesar-pembesar kerajaan, dan para ulama/intelektual terkemuka. Disini ia menghadiri pertemuan-pertemuan ilmiah yang rutin diadakan di istana Nizam al-Mulk. Melalui forum inilah kemasyhurannya semakin meluas. Kepandaian al-Ghazali menyebabkan perdana mentri Nizam al-Mulk mengangkatnya menjadi guru besar pada madrasah Nizamiyah di Baghdad tahun 1090M. Ini merupakan kedudukan sangat terhormat dan merupakan prestasi puncak, dan inilah yang menjadikannya semakin popular. Akan tetapi, setelah lima tahun (1090-1095) memangku jabatan itu, ia mengundurkan diri.26

Jabatan ini dilaksanakannya dengan baik dan berhasil. Selain mengajar di Baghdad, dia juga mengadakan bantahan-bantahan terhadap pikiran-pikiran golongan Batiniyah, Ismailiyah, Filsafat dan lainnya.27Para mahasiswanya sangat antusias ketika mengikuti kuliah al-Ghazali, hal ini dikarenakan pengetahuannya yang luas dan mendalam tentang ilmu pengetahuan, sampai para ulama waktu itu dan masyarakatpun senantiasa mengikuti perkembangan pemikiran dan pendapat-pendapat al-Ghazali.

Setelah perdana mentri Nizam al-Mulk meninggal, karena dibunuh oleh seorang upahan pedagang garam didaerah dekat Nahawand, Persi dan dimakamkan dikota Isfahan, jauh dari ibu kota.28 Banyak peminat sejarah pendidikan Islam yang berpendapat bahwa inilah penyebab dari keguncangan batin al-Ghazali, sehingga ia merasa sedih dan pergi meninggalkan Baghdad untuk menemukan kebenaran hakiki yang bersumber dari yang Esa.

Namun, sebagian ahli sejarah mengatakan bahwa sebenarnya al-Ghazali telah mempelajari beragam pengetahuan dan memahami semua firqah yang ada, paham-paham yang ada, bahkan filsafat. Dan setelah mempelajari ilmu kalam dari al-Juwaini, keguncangan batinnya menjadi semakin menyeruak, untuk mencari kebenaran hakiki.

Dalam benak al-Ghazali, ternyata kesemua ilmu pengetahuan yang dipelajarinya tidak ada yang dapat memuaskan batinya, mengantarkannya kepada kebenaran yang hakiki. Kesemua ilmu pengetahuan dengan cara mendapatkannya mempunyai celah untuk membohongi, sehingga kebenaran hakiki masih menjadi sebuah misteri

Akal yang selama ini digunakan untuk mencari ilmu pengetahuan, serta panca indra yang senantiasa dia gunakan juga untuk mencari pengetahuan, tidak dapat memberikannya sebuah kebenaran hakiki yang dapat memuaskan kebutuhan batinnya, diapun lantas melepas semua kehormatan dan kemasyhuran yang dia sandang selama ini untuk mencari pemuas bagi batinnya. A. Hanafi mengisahkan;

Dan selama waktu itu ia tertimpa keragu-raguan tentang kegunaan pekerjaannya, sehingga akhirnya ia menderita penyakit yang tidak bisa diobati degan obat lahiriyah (psikoterapi), pekerjaan itu kemudian ditinggalkannya pada tahun 488 H, untuk menuju Damsyik dan dikota ini ia merenung, membaca dan menulis selama kurang lebih dua tahun, dengan tasawuf sebagai jalan hidupnya29

 

Pada tahun 1095, al-Ghazali meninggalkan profesinya sebagai guru, pergi mengembara dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kebenaran hakiki. Segala gelar dan kemasyhuran ditanggalkan dan ditinggalkannya, mengembara dengan menjalani kehidupan sufi. Keluarganya pun ditinggalkannya, setelah diberi bekal secukupnya. Selama sepuluh tahun ia menjalani kehidupan sebagai seorang sufi.30

Pengembaraanya dimulai dengan menunaikan ibadah haji di Makkah. Setelah selesai, ia singgah di Syams untuk beberapa lama. Setelah itu ia mengunjungi Damaskus dan menempati pada sebuah masjid yang bernama al-Umawi, disebuah pojokan masjid yang sampai sekarang dikenal dengan sebutan al-Ghazaliyah. Disini ia menjalani kehidupan tasawuf, merenung, membaca dan menulis dan menghasilkan karya monumentalnya yaitu Ihya Ulumuddin.

Al-Ghazali melanjutkan pengembaraannya menuju Palestina dengan menempati masjid Baitul Maqdis sebagai tempat bernaung, dengan tetap menjalani kehidupan tasawuf, merenung, membaca serta menulis. Setelah dirasa cukup, ia melanjutkan mengunjungi Mesir, menetap untuk sementara waktu di Iskandariyah. Sampai akhirnya al-Ghazali kembali ke Baghdad untuk menggelar pengajian, mengajarkan hasil perenungannya.31

Pada tahun 1105, al-Ghazali kembali kepada tugasnya semula mengajar di madrasah Nizamiyah memenuhi panggilan Fakhr al-Mulk, putra Nizam al-Mulk.32Al-Ghazali tidak lama mengajar kembali di Naisabur, yang kemudian ia memutuskan untuk kembali kekampung halamannya. Disana ia mendirikan sebuah halaqoh (sekolah khusus untuk calon sufi) yang diasuhnya sampai ia wafat.

Al-Ghazali wafat di Thusia pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H/ 19 Desember 1111 M dihadapan adiknya Abu Ahmadi Mujiddudin. Meninggalkan 3 anak perempuan, sedangkan anak laki-lakinya yang bernama Hamid, meninggal dunia semenjak kecil, karenanya ia bergelar Abu Hamid yang berarti bapak dari Hamid.33

Al-Ghazali adalah seorang pemikir besar dalam sejarah Islam. Seorang orientalis yang bernama Zwemmer menempatkan al-Ghazali sebagai tokoh Islam yang paling berpengaruh setelah al-Asyari. Besar jasanya dalam menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama yang semakin memudar pada waktu itu. Penyimpangan ajaran yang semakin tidak terkontrol dan penafsiran-penafsiran yang ditumpangi beragam kepentingan.

B.     Guru-guru al-Ghazali

Al-Ghazali lahir ditengah keluarga yang taat beribadah. Ia memiliki ayah yang mencintai para ulama sholeh yang berhaluan Syafiiyah dan penganut aqidah Asyariyah. Kondisi kemelut keagamaan, politik dan sosial yang memanas waktu itu, menjadi nilai lebih dalam jiwa al-Ghazali untuk selanjutnya menjadikan ia sebagai sosok yang haus akan ilmu pengetahuan dan gemar akan penyelidikan lebih dalam untuk mencari hakekat kebenaran.

Al-Ghazali adalah produk dari zamannya. Pemerintahan yang berkuasa waktu itu beraliran Sunny yang beraqidah Asyariyah, setelah menggulingkan dinasti Buwaihi yang beraliran Syiah, sehingga ulama-ulama yang hidup pada masa ini adalah mereka yang beraliran Sunny. Merekalah yang mendidik dan mengarahkan serta mempengaruhi kepribadian dan corak pemikiran al-Ghazali. Diantaranya adalah sebagai berikut;

1.      Al-Ghazali belajar al-Quran kepada ayahnya.

2.      Ahmad bin Muhamad al-Razikani. Dari beliau al-Ghazali mempelajari ilmu fiqh, riwayat hidup para Nabi dan kehidupan spiritual mereka, menghafal syair-syair mahabbah kepada Tuhan, al-Quran dan as-Sunnah.

3.      Yusuf an-Nasj. Dari beliau al-Ghazali mempelajari tasawuf.

4.      Imam Abu Nasr al-Ismaili. Dari beliau al-Ghazali mempelajari bahasa Arab, bahasa Persi dan pengetahuan agama.

5.      Imam Haramain al-Juwaini. Dari beliau al-Ghazali mempelajari ilmu fiqh, ilmu mantik, ilmu kalam, ilmu ushul, sufisme dan filsafat.

6.      Abi Sahl Muhammad bin Ahmad al-Hifsi al-Maruzi. Dari beliau al-Ghazali belajar kitab Shahih Bukhari.

Dalam kenyataannya, al-Ghazali banyak menimba ilmu dari beberapa guru selain yang disebutkan tadi. Namun, keenam guru tersebut sudah cukup mewakili, karena kebanyakan guru-guru al-Ghazali adalah dalam bidang hadits, sehingga pada dasarnya al-Ghazali adalah seorang ahli hadits. Penggunaan hadits-hadits pada kitab Ihya Ulumuddin yang banyak tidak shohih, lebih dikarenakan untuk memudahkan bahasan dan memberikan pengertian bahwa penggunaan hadits yang tidak shahih adalah dibenarkan asalkan merujuk kepada kebaikan dan tidak ditemukan padanannya dalam hadits yang shahih.

Guru-guru al-Ghazali selain yang disebutkan tadi, diantaranya adalah Imam al-Zahid Abi Ali al-Fadhlu bin Muhammad bin Ali al-Farmudzi al-Thusi, Abu al-Fath Nasr bin Ali bin Ahmad al-Hakimi al-Thusi, Abu Muhammad bin Ahmad al-Khuri, Muhammad bin Yahya bin Muhammad al-Sujai al-Zuzini, al-Hafidz Abu al-Fityan Umar bin Abi al-Hasan al-Ruwaisi al-Dahastani, Nasr bin Ibrahim al-Maqdisi.

 

C.    Karya-karya al-Ghazali

Al-Ghazali adalah seorang pemikir besar yang mempunyai banyak karya ilmiyah. Keilmuannya yang luas dan mendalam dituangkan dalam karya-karyanya yang menjadi kajian dan sumber inspirasi bagi para intelektual muslim maupun barat saat ini. Bahkan, tidak sedikit pemikiran al-Ghazali yang diklaim menjadi pemikiran seseorang saat ini.

Karangannya meliputi berbagai disiplin keilmuan, seperti filsafat, ushul fiqh, fiqh, tasawuf, kalam, serta otobiografinya. Badawi Thabana menulis hasil-hasil karya al-Ghazali sebanyak 47 kitab, seperti yang dikutip oleh Zainuddin menurut kelompok ilmu pengetahuan sebagai berikut:

1.      Kelompok filsafat dan ilmu kalam, yang meliputi:

a.       Maqashid al-Falasifah (Tujuan para filosuf)

b.      Tahafut al-Falasifah (Kerancuan para filosuf)

c.       Al-Iqtishad fi al-Itiqad (Moderasi dalam aqidah)

d.      Al-Munqid min al-Dhalal (Pembebas dari kesesatan)

e.       Al-Maqashidul Asna fi Maani Asmillah al-Husna (Arti nama-nama Tuhan Allah yang hasan)

f.       Faishalut Tafriqah bainal Islam wa Zindiqah (Perbedaan antara Islam dan zindiq)

g.      Al-Qishasul Mustaqim (Jalan untuk mengatasi perselisihan pendapat)

h.      Al-Mustadhiri (Penjelasan-penjelasan)

i.        Hujjatul Haq (Argumen yang benar)

j.        Mufsilul Khilaf fi Ushuluddin (Memisahkan perselisihan dalam ushuluddin)

k.      Al-Muntaha fi al-ilmi al-Jidal (Tata cara dalam ilmu diskusi)

l.        Al-Madhnun bin Ala Ghairi Ahlihi (Persangkaan pada bukan ahlinya)

m.    Mahkun Nadlar (Metodologika)

n.      Asraar Ilmiddin (Rahasia ilmu agama)

o.      Al-Arbain fi Ushuluddin (40 masalah ushuluddin)

p.      Iljam al-Awwam an Ilmi al-Kalam (Menghalangi orang awam dari ilmu kalam)

q.      Al-Qulul Jamil fi ar-Raddi ala Man Ghayar al-Injil (Kata yang baik untuk orang-orang yang mengubah injil)

r.        Miyar al-Ilmi (Timbangan ilmu)

s.       Al-Intishar (Rahasia-rahasia alam)

t.        Isbatun Nadlar (Pemantapan logika)

2.      Kelompok ilmu fiqh dan ushul fiqh, yang meliputi;

a.       Al-Basith (Pembahasan yang mendalam)

b.      Al-Wasith (Perantara)

c.       Al-Wajiz (Surat-surat wasiat)

d.      Khulashah al-Mukhtashar (Intisari ringkasan karangan)

e.       Al-Mustasyfa ( Pilihan)

f.       Al-Mankhul (Adat kebiasaan)

g.      Syifah al Ilmi fi Qiyas wa at-Talil (Penyembuh yang baik dalam qiyas dan talil)

h.      Adz-Dzariah ila Makarim as-Syariah (Jalan kepada kemuliaan syariah)

3.      Kelompok ilmu akhlak dan tasawuf, yang meliputi:

a.       Ihya Ulumuddin (Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama)

b.      Mizan al-Amal (Timbangan amal)

c.       Kimia as-Saadah (Kimia kebahagiaan)

d.      Misykat al-Anwar (Relung-relung cahaya)

e.       Minhaj al-Abidin (Pedoan beribadah)

f.       Ad-Darar al-Fakhirah fi Kasyfi Ulum al-Akhirah (Mutiara penyingkap ilmu akhirat)

g.      Al-Ainis fi al-Wahdah (Lembut-lembut dalam kesatuan)

h.      Al-Qurbah Ilallahi Azza wa Jalla (Mendekatkan diri kepada Allah)

i.        Akhlaq al-Abrar wa an-Najat min al-Asrar (Akhlaq yang luhur dan menyelamatkan dari keburukan)

j.        Bidayah al-Hidayah (Permulaan mencari petunjuk)

k.      Al-Mabadi wa al-Ghayyah (Permulaan dan tujuan)

l.        Talbis al-Iblis (Tipu daya iblis)

m.    Nashihat al-Mulk (Nasihat untuk raja-raja)

n.      Al-Ulum al-Laduniyyah (Ilmu-ilmu laduni)

o.      Ar-Risalah Qudsiyah (Risalah suci)

p.      Al-Makhadz (Tempat pengambilan)

q.      Al-Amali (Kemuliaan)

4.      Kelompok ilmu tafsir yang meliputi:

a.       Yaaquutu at-Tawil fi Tafsir at-Tanzil (Metodologi tawil didalam tafsir yang diturunkan): Terdiri 40 jilid

b.      Jawahir al-Quran (Rahasia yang terkandung dalam al-quran)34

Karya al-Ghazali sebenarnya lebih dari yang tersebut diatas. Namun, bagi penulis kiranya ini sudah cukup mewakili dari karya-karya al-Ghazali yang lain. Karena ada banyak ahli sejarah yang mengatakan bahwa karya al-Ghazali lebih dari 80 buah karya, bahkan ada yang mengatakan bahwa karya al-Ghazali lebih dari 100 buah. Semuanya mungkin benar ketika kita mau mencermati berita-berita sejarah tentang keluasaan dan kedalaman ilmu pengetahuan al-Ghazali.

D.    Pendidikan

Dalam pembahasan pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan, maka kita tidak akan menemukan sebuah karya al-Ghazali yang membahas secara tuntas tentang pendidikan. Memang al-Ghazali tidak pernah menulis sebuah kitab yang khusus mengulas tentang pendidikan. Pemikirannya tentang pendidikan tertuang dalam beberapa karyanya. Seperti Ihya Ulumuddin, Ayyuhal Walad, Fatihatul kitab, al-Munkid min ad-Dalal dan lain sebagainya. Oleh karena itulah, pembahasan kali ini ditujukan untuk mengumpulkan secara utuh pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan yang bertebaran dalam karya-karyanya.

Sampai sekarang masih banyak intelektual muslim yang tidak mengetahui bahwasannya al-Ghazali mempunyai konsep yang matang tentang pendidikan. Sebuah konsep yang muncul dari pengalamannya mengajar di madrasah Nizamiyah dan sebuah reaksi atas sistem pendidikan yang diterapkan oleh negara, yang menurutnya memiliki ketimpangan yang mendasar antara kebutuhan dunia dan akhirat.

Pada umumnya para intelektual muslim mengenal al-Ghazali sebagai tokoh filsafat dengan karyanya Maqashid al-Falasifah, tasawuf dan akhlak dengan karyanya Ihya Ulumuddin serta Ayyuhal Walad, fiqh dengan karyanya Minhajul Abidin. Hal ini dikarenakan sangat minimnya penelitian yang serius tentang al-Ghazali dalam bidang pendidikannya.

Pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan dimulainya dengan pembagian ilmu yang didasarkan pada penyeimbangan antara ilmu yang bersifat keduniaan dan akhirat, hal ini lebih didasarkan pada hadits Nabi bahwa siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat, maka ia harus menguasai ilmu keduanya, sedangkan dunia adalah sebuah jalan yang harus ditempuh oleh manusia untuk menuju akherat.

Tujuan dari ilmu yang dirumuskan oleh al-Ghazali lebih mengarah kepada ketuhanan, dalam artian dia mencoba untuk mengerucutkan tujuan pendidikan untuk membentuk manusia yang sempurna berlandaskan Islam, sehingga dapat menemukan kebenaran hakiki. Dengan rangkain ilmu-ilmu pengetahuan yang harus dipelajari seseorang, dari semenjak anak-anak sampai dewasa.

Menurut al-Ghazali, unutk dapat menciptakan manusia-manusia sempurna dibutuhkan beberapa cara mendidik yang baik, yang ditunjang dengan penciptaan kondisi yang mendukung. Sehingga dibutuhkan adanya sebuah rencana serius dan sistematis, serta terencana sejak dini dalam melaksanakan tugas mulia ini. Yaitu berupa tujuan pendididkan, perumusan kurikulum, metode pengajaran, pedoman-pedoman guru dan pedoman-pedoman murid dan sistem evaluasi.

1.      Teori Pendidikan

Teori pendidikan al-Ghazali adalah al-Fadhilah, yang kemudian disepakati oleh para intelektual muslim sebagai teori pendidikan Islam dan diangkat dan diaktualkan kembali oleh M. Atiyah al-Abrasyi dan Hasan Langgulung. Teori ini berangkat dari asumsi bahwa anak adalah orang yang memiliki potensi serba positif, ia memiliki tauhid, memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, dan kesucian jiwa.35Hal ini tentunya sangat berlawanan sekali dengan paham determinisme yang memposisikan murid sebagai sosok yang belum mandiri dan tidak memiliki pengetahuan, sehingga membutuhkan pendidikan.

Teori al-Fadhilah lebih mengarah kepada upaya pemberdayaan potensi-potensi yang pada prinsipnya telah dimiliki oleh setiap orang yang dibawanya semenjak lahir. Ada beberapa potensi yang hendaknya dikembangkan dalam pendidikan, ketika kita merujuk pada firman Allah dalam surat al-Alaq ayat 1-5:

 

 

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah dan Tuhan-mulah yang maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya36

 

Dan juga firman Allah dalam surat al-Muddatsir ayat 1-5:

 

 

Hai orang yang berkemul (berselimut), Bangunlah, lalu berilah peringatan!, Dan Tuhan-mu agungkanlah, Dan pakaianmu bersihkanlah, Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah 37

 

Dalam ayat tersebut, ketika kita cermat, maka akan ditemukan aspek-aspek yang hendak dikembangkan dalam pendidikan Islam. Menurut Mahmud Yunus, dalam pendidikan Islam ada tiga aspek kepribadian manusia yang harus dibina:

1.      Aspek Jasmani

Yaitu mementingkan kebersihan, yang tergambar pada perintah untuk membersihkan pakaian. Dlahir adalah cerminan dari batin, maka jika dlahir terlihat sehat, maka batinpun demikian. al-Ghazali juga mementingkan adanya pendidikan jasmani, bahwa murid agar dibiasakan untuk beraktifitas disiang hari supaya tidak menjadi pemalas. Laku rihatin yang dianjurkan dengan maksud supaya kesehatan badan terjaga dengan tidak melebih-lebihkan makan.

2.      Aspek Akal

Yaitu segi pembinaan kecerdasan dan pemberian pengetahuan. Ini dijelaskan dalam ayat yang menyuruh mempelajari kejadian manusia. Kecerdasan manusia sebagai sesuatu yang dibawa sejak lahir, harus dikembangkan. Hal inilah yang menjadikan dasar bahwasannya pendidikan tidak lebih dari sekedar membina dan mengarahkan potensi manusia.

3.      Aspek Rohani

Yaitu pembinaan segi keagamaan. Ini dijelaskan pada ayat yang menyuruh membaca dengan nama Allah, Tuhan maha pemurah, mengagungkan Tuhan. Termasuk rohani juga adalah pendidikan akhlak, yang dijelaskan agar suka memberi, dan tanpa mengharapkan balasan yang banyak, agar bersabar dalam melaksanakan tugas.38

Berpangkal dari asumsi diatas, memunculkan pengertian dari pendidikan Islam, adalah program bimbingan (pimpinan, tuntunan, usulan) oleh subyek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, intuisi, dan sebagainya) dan raga obyek didik dengan bahan materi-materi tertentu, dengan metode tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada kearah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai dengan Islam.39

Dalam konteks Islam, pendidikan dapat diartikan sebagai proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal didunia dan memetik hasilnya diakherat.40Devinisi secara jelas dan terperinci mengenai pendidikan Islam sampai sekarang masih menjadi perdebatan dikalangan para intelektual muslim. Bahkan pada konferensi pendidikan Islam pertama pada tahun 1977 yang diselenggarakan di universitas King Abdul Aziz Arab Saudi, tidak mendapatkan sebuah kesepakatan tentang devinisi pendidikan Islam yang disepakati secara bersama, sehingga devinisi itu mengalir begitu saja dan menjadikan semua devinisi yang dibuat oleh para intelektual muslim tentang pendidikan Islam dapat dijadikan pegangan.

 

 

 

2.      Tujuan Pendidikan

Proses pendidikan pada intinya merupakan interaksi antara pendidik (guru) dan peserta didik (murid) untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikannya.41 Sedangkan tujuan pendidikan secara umum antara lain mentransmisikan pengalaman dari suatu generasi ke generasi berikutnya, pendidikan menekankan pengalaman dari seluruh masyarakat, bukan pengalaman pribadi perorangan.42

Pengalaman masyarakat tersebut dapat berupa cerita rakyat, tradisi, adat istiadat, syair dan sejenisnya.43 Devinisi ini sejalan dengan pendapat John Dewey yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan organisasi pengalaman hidup, pembentukan kembali pengalaman hidup dan juga pembahasan pengalaman hidup sendiri.44

Ilmu pengetahuan yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah merupakan sebuah warisan dari yang esa, melalui ayat-ayatnya yang verbal, yang kemudian ditafsirkan oleh umatnya dengan beragam sisi pandang dan kepentingan, sampai akhirnya menghasilkan sebuah disiplin keilmuan untuk selanjutnya di ajarkan kepada generasi berikutnya supaya dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada yang Esa, menemukan hakikat dari kebenaran yang bersumber dari yang Esa.

Pendidikan bukan bertujuan untuk mengejar kebendaan, kegagahan ataupun kedudukan sosial yang selama ini semakin membekas saja dalam pandangan orang awam. Pendidikan identik dengan kemakmuran dan kedudukan yang lebih tinggi, sehingga semakin tinggi orang mengenyam pendidikan, maka pengharapan lebih pun semakin membekas.

Jika pendidikan bertujuan demikian, maka yang terjadi adalah keputusasaan apabila tujuan itu tidak tercapai, ketika tujuan pendidikan diarahkan bukan pada mendekatkan diri kepada Allah akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan.45 Paradigma pemikiran masyarakat hendaknya dirubah, bahwa pendidikan pada prinsipnya bukanlah untuk mencapai keduniaan yang lebih, melainkan untuk dapat lebih mendekatkan diri kepada yang Esa.

Firman Allah dalam surat Adz-Dzariat ayat 56:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku46

 

Dalam mencari ilmu hendaknya tidak ditujukan selain karena Allah. Kebendaan ataupun status sosial merupakan sesuatu yang akan datang dengan sendirinya ketika kita benar-benar menguasai dan menghayati serta mengamalkan ilmu pendidikan yang kita pelajari. Orang akan menilai sesamanya dari tindakan yang dipancarkan oleh keilmuan yang merasuk dalam sanubarinya. Semakin dalam ilmu pengetahuan yang merasuk dalam sanubari seseorang, maka hal ini akan sangat mempengaruhi kesehariannya.

Al-Ghazali dalam masa awal pencarian ilmu pengetahuan tidak mendasarkannya kepada tujuan mencari harta dan kenikmatan, melainkan untuk mencari ridla Allah. Lebih lanjut al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang berakal sehat adalah orang yang dapat menggunkan dunia untuk mencapai kebahagiaan akherat. Dunia akan rusak dan segala yang ada didalamnya hanya merupakan titipan sementara, kesenangan yang ada hanya bersifat membujuk untuk dapat lupa akan kehidupan akherat.

Firman Allah dalam surat al-Hadid ayat 20:

 

 

Ketahuilah bahwa bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang mealaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbagga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan diakhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu47

 

Seorang muslim sudah seharusnya mendasarkan tujuan pendidikan untuk mencapai kebahagiaan diakherat, karena akherat bersifat kekal dan lebih baik dari pada dunia. Dunia adalah penjara bagi orang muslim, maka tidak sepantasnyalah mereka terlalu memikirkan akan keduniaan dan melupakan akherat. Hendaknya dunia hanya dijadikan sarana untuk dapat menciptakan kehidupan akherat yang baik.

Firman Allah dalam surat ad-Dluha ayat 4:

Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan48

Abudin Nata berpendapat bahwa tujuan pendidikan al-Ghazali adalah:

1.      Tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah.

2.      Kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akherat.49

Pernyataan Abuddin Nata ini didasarkan pada pembacaanya atas sebuah hadits Nabi yang esensinya memberikan pesan bahwa untuk dapat memperoleh kebahagiaan dunia, dibutuhkan ilmu yang dapat menjadikan seseorang eksis dalam kehidupan dunia, sedangkan untuk memperoleh kebahagiaan akherat dibutuhkan ilmu yang dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan-nya, sehingga ketika mengiginkan keduanya maka harus menguasasi ilmu-ilmu dunia dan ilmu-ilmu akherat.

Zainuddin dalam bukunya Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghazali mencoba merumuskan tentang tujuan pendidikan menurut al-Ghazali, yang meliputi:

1.      Aspek keilmuan

Hal ini yang dapat mengantarkan manusia agar senang berfikir, menggalakkan penelitian, dan mengembangkan ilmu pengetahuan menjadi manusia yang cerdas dan trampil. Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Apabila engkau mengadakan penyelidikan/penalaran terhadap ilmu pengetahuan, maka engkau akan melihat kelezatan padanya. Oleh karena itu tujuan mempelajari ilmu pengetahuan adalah karena ilmu pengetahuan itu sendiri50

 

2.      Aspek Kerohanian

Hal ini dapat mengantarkan manusia agar berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur dan berkepribadian kuat. Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Tujuan murid dalam mempelajari segala ilmu pengetahuan pada masa sekarang adalah kesempurnaan dan keutamaan jiwanya51

 

3.      Aspek Ketuhanan

Yang dapat mengantarkan manusia beragama agar dapat mencapai kebahagiaan didunia dan akherat. Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Dan sungguh engkau mengetahui bahwa hasil ilmu pengetahuan adalah mendekatkan diri kepada Tuhan pencipta alam, menghubungkan diri dan berhampiran dengan ketinggian malaikat, demikian itu diakherat. Adapun didunia adalah kemuliaan, kebesaran, pengaruh pemerintahan bagi pemimpin negara dan penghormatan menurut kebiasaannya52

 

3.      Pembagian Ilmu

Pembagian ilmu menurut al-Ghazali termuat dalam kitab Ihya Ulumuddin juz 1. Para penggiat tentang pendidikan al-Ghazali seringkali menjadikan klasifikasi ilmu ini sebagai sebuah bentuk kurikulum pendidikan al-Ghazali. Mereka menyuguhkannya kedalam beragam bentuk yang berbeda-beda dengan menggunakan sudut pandang yang berbeda-beda pula, namun masih dalam satu kerangka yang sama. Berikut skema pembagian ilmu al-Ghazali menurut penulis berdasarkan telaah atas kitab Ihya Ulumuddin juz 1.

 

Skema Pembagian Ilmu Al-Ghazali

Dalam Kitab Ihya Ulumaddin juz 1

 

Al-Ghazali secara gamblang dan tuntas menuangkan pikirannya mengenai klasifikasi ilmu pengetahuan didalam Ihya Ulumuddin. Al-Ghazali membagi ilmu penegetahuan kedalam 2 kelompok besar, yaitu:

a.       Fardlu ain

b.      Fardlu Kifayah

1.      Fardlu ain

Artinya adalah ilmu tentang cara amal perbuatan yang wajib. Dan hal ini wajib diketahui/dipelajari oleh setiap muslim. Berkaitan dengan kedudukannya sebagai mahluk beragama yang tentunya dikenai kewajiban-kewajiban yang meminta pemenuhan secara utuh dan bersifat individu. Dalam hal ini al-Ghazali membaginya menjadi dua, yaitu:

a)      Ilmu Mukasyafah

Adalah ilmu batin dan itulah kesudahan segala ilmu. Kondisi terangkatnya tutup yang menutupi sehingga jelaslah kenyataan kebenaran Allah pada semua itu dengan sejelas-jelasnya, laksana mata memandang yang tidak diragukan lagi.

b)      Ilmu Muamalah

Adalah ilmu perihal hati (jiwa). Apa yang terpuji dari padanya. Seperti sabar, syukur, takut, harap, rela, zuhud, taqwa, sederhana, pemurah, mengenal nikmat Allah Taala dalam segala keadaan, ihsan, baik sangka, baik budi, bagus pergaulan, benar dan ikhlas.

Ilmu Muamalah terdiri dari 3 pokok bagian, yaitu:

1)      Itiqad (aqidah)

Hal ini berkaitan dengan perkara pertama yang harus diketahui oleh seseorang adalah tauhid-meng-Esakan Tuhan-, sebagai sebuah pondasi untuk menanamkan keyakinan secara dini. Dengan maksud kelak anak memiliki kepribadian daan pegangan hidup yang berpangkal pada keyakinannya.

2)      Filu (berbuat)

Ketika seseorang diberi karunia oleh Allah berupa panjang umur dan kesehatan, maka ada banyak hal yang harus di pelajari dan kuasai berkaitan dengan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi secara tuntas. Adanya kewajiban seseorang menjalankan sholat, zakat, puasa dan haji, menjadikan wajib pula untuk mempelajari sholat, zakat, puasa dan haji.

3)      Tarku (Tidak berbuat)

Hal ini bersifat kondisional, dengan melihak kondisi seseorang dan perkembangan keadaan. Maka tidaklah wajib mempelajari kata-kata yang buruk bagi orang bisu, karena tidak mungkin dia akan mengucapkannya. Namun hal ini menjadi wajib dipelajari oleh orang yang dapat berbicara, supaya mereka dapat terjaga dari berkata-kata kotor dan selamatlah dia dari melakukan kesalahan.

2.      Fardlu Kifayah

Ilmu fardlu kifayah pada dasarnya adalah ilmu-ilmu yang dapat menjadikan kehidupan manusia didunia dapat menjadi lebih baik dan terjamin dalam segala bentuknya. Adalah ilmu yang harus dimiliki oleh salah seorang dari suatu kelompok masyarakat. Dalam hal ini al-Ghazali membaginya menjadi:

a)      Ilmu Syariah

b)      Ilmu Ghoiru Syariah

1)      Ilmu Syariah

Adalah ilmu yang diperoleh dari para Nabi-nabi. Sebuah ajaran pada masa lalu yang diberikan para Nabi kepada umatnya. Pemahaman yang ada merujuk kepada kebenaran yang bersifat Ilahiyah, dengan menafikan danya rentang waktu yang cukup lama hingga sampai kepada msyarakat sekarang, sehingga dimungkinkan terdapat pemahaman yang memungkinkan memunculkan penafsiran-penafsiran yang sarat akan muatan kepentingan dan membingkainya dalam kerangka Ilahiyah, padahal sudah keluar dari nuansa Ilahiyah.

Oleh karena itu, al-Ghazali membaginya kepada yang terpuji dan tercela:

a)      Terpuji

Ada 4 hal pokok dalam lingkup ilmu syariah yang terpuji ini, yaitu:

1)      Ushul (pokok)

Terdiri dari kitabullah Azza Wajalla, Sunnah Rasul SAW, ijma umat, dan peninggalan-peninggalan sahabat (atsar)

2)      Furu (cabang)

adalah apa yang dipahami dari pokok-pokok tersebut, merupakan sebuah hasil rasionalisasi suatu tingkatan yang bersumber dari pokok. Berupa ilmu-ilmu yang harus dipelajari yang mempunyai keterkaitan berjenjang dan berkesinambungan dengan ilmu-ilmu pokok tersebut. Al-Ghazali membaginya menjadi:

a)      Menyangkut kepentingan dunia yang terangkum dalam fiqh (kitab-kitab fiqh)

b)      Menyangkut kepentingan akhirat, yaitu ilmu tentang keadaan hati, budi pekerti terpuji dan tercela, hal ihwal yang diridlai dan dibenci oleh Allah.

3)      Mukaddimah (ilmu pengantar)

adalah ilmu yang digunakan sebagai alat, sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan risalah keagamaan, maupun untuk memahaminya. Karena setiap agama pasti menggunakan sebuah media yang digunakan untuk menyampaikan risalah-risalahnya, serta untuk memahaminya. Hal ini terus berkembang menyesuaikan dengan kondisi pemeluknya dengan tetap mengacu kepada media asal. Maka, mempelajari media untuk dapat memahami risalah-risalah agama adalah wajib. Media yang dimaksud adalah bahasa, ilmu bahasa, tata bahasa dan tulis menulis.

4)      Mutammimah (penyempurna)

adalah ilmu-ilmu yang menjadi penyempurna dari pokok yang disebutkan sebelumnya, dengan tujuan supaya pemahaman pokok akan lebih sempurna jika ditunjang dengan ilmu-ilmu yang terbingkai dalam kelompok penyemurna, sehingga kewajiban-kewajiban yang dilakukan manusia menjadi lebih baik dan sempurna serta dapat memberikan makna dalam kehidupannya. Dalam hal ini, ilmu-ilmu penyempurna al-Quran adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan semua aspek kajian al-Quran, yang meliputi:

a)      Ilmu yang berhubungan dengan kata-katanya, berupa cara membaca dan bunyi hurufnya.

b)      Ilmu yang berhubungan dengan pengertiannya, berupa ilmu tafsir.

c)      Ilmu yang berhubungan dengan hukumnya, berupa nasikh-mansukh, khos-am, nash-dlohir, dan ushul fiqh.

Sedangkan ilmu-ilmu penyempurna sunnah Nabi dan riwayat sahabat, yaitu ilmu ulumul hadits, ilmu mengenai perawi-perawi hadits; namanya, keturunannya, nama-nama sahabat, kepribadiannya, perawi-perawi dan keadaan mereka ketika meriwayatkan hadits.

2)      Ilmu Ghairu Syariah

Pada prinsipnya ilmu-ilmu fardlu kifayah adalah ilmu-ilmu mengenai urusan dunia. Karena selain ibadah, manusia membutuhkan pranata lain untuk kelangsungan hidupnya dan menjaga kelancaran dalam melaksanakan ibadah sebagai bentuk pemenuhan kewajiban. Al-Ghazali membaginya kepada:

a)      Ilmu yang terpuji

Adalah ilmu yang ada hubungannya dengan kepentingan urusan duniawi, yang dibagi menjadi:

b)      Fardlu kifayah

Adalah tiap-tiap ilmu yang tidak dapat dikesampingkan dalam penegakan urusan duniawi, meliputi; kedokteran, berhitung, pembagian waris, pertanian, pertenunan, siasat, pembekaman, dan menjahit.

c)      Utama, tetapi tidak fardlu

Adalah mendalami penuh akan kedokteran, berhitung dan lain sebagainya. Karena dengan pendalaman lebih, akan menjadikan seseorang ahli, sehingga dapat lebih memberikan jaminan.

1)      Ilmu yang tercela, seperti ilmu sihir, mantra-mantra dan ilmu tenung.

2)      Ilmu yang diperbolehkan, meliputi ilmu tentang pantun-pantun yang tidak cabul dan berita-berita sejarah.53

4. Kurikulum

Pembahasan mengenai kurikulum pendidikan al-Ghazali, hendaknya dilakukan dengan memahami terlebih dahulu secara mendalam tentang pembagian ilmu menurut al-Ghazali, karena dari sinilah kita akan mempunyai gambaran tentang kurikulum al-Ghazali. Dan untuk lebih mengerucutkan gambaran itu, diperlukan adanya alat deteksi kurikulum yang meliputi pengertian kurikulum, cakupan kurikulum, asas-asas kurikulum, prinsip-prinsip kurikulum.

a.      Pengertian kurikulum

Tujuan pendidikan akan dapat tercapai, jika terdapat jalan yang mengarahkannya, berupa rangkaian-rangkaian materi yang disusun secara teratur dan berjenjang dan juga cara penyampaiannya. Kurikulum adalah sebuah alat untuk memperoleh sebuah tujuan pendidikan, oleh karena itu kurikulum dapat diartikan sebagai pokok dalam pendidikan.

Kurikulum secara harfiyah diartikan sebagai bahan pengajaran, yang berasal dari bahasa latin curriculum, ada pula yang mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Prancis courier yang berarti berlari.54Dalam kelanjutannya, kata ini digunakan sebagai penunjukkan atas materi ajar yang disusun untuk menunjang tujuan pendidikan, sebuah rangkaian pelajaran yang harus ditempuh dalam satu jenjang pendidikan.

Crow and Crow mengatakan, bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis, yang diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.55Sedangkan Hasan Langgulung mengatakan bahwa kurikulum adalah sebuah sebuah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olah raga dan kesenian, baik yang berada didalam maupun diluar kelas yang dikelola oleh sekolah.56

Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum merupakan sebuah alat yang dirancang secara sistematis, terarah dan terukur untuk mencapai sebuah tujuan. Keberadaannya sangat fleksibel, menyesuiakan dengan tujuan yang hendak dicapai. Hal inilah yang menjadi celah untuk dapat memasukkan maksud-maksud atau kepentingan-kepentingan tertentu yang menggunakan alat pendidikan.

b.      Cakupan dan komponen kurikulum

Dalam perkembangannya, kurikulum bukanlah sekedar rencana pelajaran, melainkan meningkat mencakup semua yang terjadi dalam proses pendidikan di sekolah, merupakan sesuatu yang secara nyata disekolah dan bersifat aktual. Hal ini menjadikan cakupan kurikulum semakin luas dan kompleks. Hasan Langgulung mencoba untuk membuat sebuah patokan dasar yang dapat dijadikan standar dalam pembuatan kurikulum. Ada 4 hal pokok yang harus di perhatikan dalam penyusunan kurikulum, meliputi:

1.      Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu, dengan tebih tegas lagi orang yang bagaimana yang ingin kita bentuk melalui kurikulum itu?

2.      Pengetahuan (knowledge), informasi-iformasi, data-data, aktifitas-aktifitas, dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu, bagian inilah yang biasa disebut mata pelajaran, bagian ini pulalah yang dimasukkan dalam silabus.

3.      Metode dan cara-cara mengajar yang dipakai oleh guru-guru untuk mengajar dan mendorong murid-murid belajar dan membawa mereka kearah yang dikehendaki oleh kurikulum.

4.      Metode dan cara penilaian yang digunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan dalam kurikulum. Seperti ujian triwulan, ujian akhir dan lain-lain.57

Dalam pandangan penulis, ungkapan Hasan Langgulung ini merupakan penjabaran dari 4 pertanyaan pokok yang dilontarkan oleh Ralph W. Tyler dalam bukunya Basic Principles of Curriculumand Intruction (1949), yang merupakan rumusan asumsi awal yang digunakan untuk menyusun kurikulum, yaitu:

1.      Tujuan apa yang harus dicapai sekolah?

2.      Bagaimanakah memilih bahan pelajaran guna mencapai tujuan itu?

3.      Bagaimanakah bahan disajikan, agar efektif diajarkan?

4.      Bagaimanakah efektivitas belajar dapat dinilai?58

Dari sinilah lantas lahir sebuah patokan dasar dalam penyusunan kurikulum, yang terdiri dari tujuan, isi, metode pembelajaran dan evaluasi. Kesemuanya itu harus saling mengait, selaras, seimbang dan berjenjang, sehingga diharapkan sebuah rancangan kurikulum dapat menghasilkan out put yang memiliki keilmuan yang bulat dan utuh.

c.       Asas-Asas Kurikulum

Dalam membuat ataupun mengembangkan kurikulum, bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Ada beberapa perangkat yang harus digunakan sebagai alat bantu untuk penyusunannya. Asas-asas kurikulum merupakan sebuah pijakan filosofis yang harus dikuasai oleh orang yang akan membuat ataupun mengembangkan kurikulum, sehingga kurikulum nantinya benar-benar hasil sebuah pekerjaan yang terencana dan hasilnya benar-banar dapat dipertanggung jawabkan untuk digunakan dalam upaya mencapai sebuah tujuan pendidikan.

Asas-asas kurikulum itu adalah:

  1. Asas filosofis

Asas ini yang merupakan asas yang berkenaan dengan tujuan pendidikan yang sesuai dengan falsafah negara. Hal inilah yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh negara untuk menanamkan nilai-nilai patriotisme, ataupun digunakan sebagai media pengembangan sebuah paham negara yang terbingkai dalam falsafah negara.

 

  1. Asas psikologis

Asas ini yang memperhatikan aspek peserta didik secara intens dan menyeluruh. Kondisi anak dalam keseluruhannya sangat diperhatikan. Mulai dari usia perkembangan sampai dengan perimbangan antara fisik dan kondisi mental siswa, hal ini meliputi:

a)      Psikologis anak dan perkembangan anak.

b)      Psikologi belajar dan bagaimana proses belajar anak.

  1. Asas Sosiologis

Asas ini yang memperhatikan keadaan masyarakat, perkembangan dan perubahannya, kebudayaan manusia, hasil kerja manusia berua pengetahuan, dan lain-lain.

  1. Asas Organisatoris

Asas ini yang mempertimbangkan bentuk dan organisasi bahan pelajaran yang disajikan.59

d.      Ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam

Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani mengungkapkan bahwa ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

1.      Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan-tujuannya dan kandungan-kandungan, metode-metode, alat-alat dan teknik-tekniknya bercorak agama.

2.      Meluas cakupannya dan menyeluruh kandungannya, yaitu kurikulum yang betul-betul mencerminkan semangat, pemikiran, dan ajaran yang menyeluruh. Disamping itu, juga luas dalam perhatiannya. Ia memperhatikan pengembangan dan bimbingan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologis, sosial dan spiritual.

3.      Bersikap seimbang diantara berbagai ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan. Selain itu, juga seimbang antara pengetahuan yang berguna bagi pengembangan individu dan pengembangan sosial.

4.      Bersikap menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan oleh anak didik.

  1. Kurikulum yang disusun selalu disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik.60

e.       Prinsip kurikulum pendidikan Islam

Pendidikan Islam memiliki prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam perumusan kurikulum, sehingga hubungan antara materi pelajaran umum dengan agama akan saling mengait dan mempengaruhi, serta melengkapi. Mengapa? Karena pada prinsipnya semuanya bersumber pada yang Esa, hanya karena adanya penafsiran dengan sudut pandang yang berlainan menjadikannya terlihat berbeda.

Al-Syaibani menyebutkan ada 7 prinsip kurikulum dalam Islam, yaitu:

1.      Prinsip pertautan yang sempurna dengan agama, termasuk ajarannya dan nilai-nilainya. Setiap bagian yang terdapat dalam kurikulum, mulai dari tujuan, kandungan, metode mengajar, cara-cara perlakuan dan sebagainya harus berdasar pada agama dan akhlak Islam. Yakni harus terisi dengan jiwa agama Islam, keutamaan cita-cita dan kemauannya yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

2.      Prinsip menyeluruh (universal) pada tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan kurikulum, yakni mencakup tujuan membina aqidah, akal dan jasmaninya, dan hal lain yang bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangan spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, politik; terasuk ilmu-ilmu agama, bahasa, kemanusiaan, fisik, praktis, profesional, seni rupa dan sebagainya.

3.      Prinsip keseimbangan yang relatif antara antara tujuan-tujuan dan kandungan-kandungan.

4.      Prinsip perkaitan antara bakat, minat, kemampuan-kemampuan, dan kebutuhan pelajar. Begitu juga dengan alam sekitar, baik yang bersifat fisik, maupun sosial dimana pelajar itu hidup dan berinteraksi.

5.      Prinsip pemeliharaan perbedaan-perbedaan individual diantara para pelajar, baik dari segi minat maupun bakatnya.

6.      Prinsip menerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat.

7.      Prinsip berkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktivitas yang terkandung dalam kurikulum.61

Dalam hal ini, nuansa agama sangat kentara sekali. Rangkaian-rangkaian mata pelajaran yang terkandung dalam kurikulum, semuanya bermuara menuju kepada yang Esa. Hal ini pula yang diterapkan pada pendidikan dimasa Nabi, sampai pada masa-masa kekuasaan dinasti.

Secara umum, kurikulum pendidikan berprinsip pada tiga hal pokok, yaitu berkesinambungan, berurutan dan integritas pengalaman. Jadi, disamping kurikulum merupakan sebuah rangkaian materi-materi yang saling mengait, juga harus disusun secara berurutan dan berjenjang, yang diarahkan secara sistematis untuk memperoleh tujuan pendidikan.

f.       Kurikulum pendidikan al-Ghazali

Pembahasan ini merupakan inti dari upaya mencari bentuk kurikulum al-Ghazali. Memang masih menjadi pertanyaan tersendiri bagi penulis apakah al-Gazali memiliki sebuah bentuk kurikulum atau hanya sekedar pengakomodir ilmu pengetahuan yang hendaknya dimasukkan dalam kurikulum? Selama ini para penggiat pemikiran al-Ghazali menjadikan pembagian ilmu yang dilakukan oleh al-Ghazali sebagai bentuk kurikulumnya. Namun, dalam hal ini penulis memiliki pendapat tersendiri.

Tujuan pendidikan yang akan dicapai oleh kurikulum dalam pendidikan Islam adalah sama dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri, yaitu membentuk akhlak yang mulia, dalam kaitannya dengan hakikat penciptaan manusia. Adapun yang menjadi inti dari materi kurikulum pendidikan Islam itu sendiri adalah bahan-bahan, aktivitas dan pengalaman yang mengandung ketauhidan.62

Senada dengan hal ini, bahwa tujuan pendidikan menurut al-Ghazali adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang bermuara pada pembentukan akhlak mulia, sehingga seyogyanya materi-materi ajar yang diberikan lebih mengedepankan unsur keagamaan yang menjurus kepada ketauhidan. Dengan begitu nantinya antara tujuan pendidikan dan kurikulum akan sesuai.

Untuk menilik lebih jauh tentang kurikulum al-Ghazali, terlebih dahulu perlu disinggung adanya macam bentuk kurikulum yang ada dan diberlakukan dalam pendidikan Islam, mulai pada zaman Nabi sampai dengan masa al-Ghazali secara runtut.

  1. Kurikulum sebelum al-Ghazali

Kurikulum sebelum al-Ghazali dimulai semenjak Muhammad diangkat menjadi Rasul. Dimulai ketika Muhammad berada di Makkah, sehingga bentuk dan cakupan materinya sangat sederhana dan belum terumuskan secara sistematis. Mengapa? Karena pada masa ini Nabi baru memperoleh wahyu dan ditugaskan untuk menyampaikannya kepada umatnya.

a.       Kurikulum masa Nabi di Makkah

Kurikulum pada masa ini hanya berupa al-Quran dengan perinciannya meliputi; iman, sholat dan akhlak.63 Tentunya hal ini dapat kita maklumi. Muhammad pada masa ini berada pada masa yang sangat sulit, lingkungannya dipenuhi dengan orang-orang jahiliyah yang anti dengan Islam. Untuk mengenalkan Islam, pada mulanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sampai Muhammad menemukan celah untuk melakukannya secara terang-terangan. Juga, wahyu yang diterima baru sebatas pengajakan bertauhid, menegakkan kewajiban yang paling utama, yaitu sholat dan pemberian contoh akhlak yang baik.

b.      Kurikulum masa Nabi di Madinah

Kurikulum pada masa ini sudah mengalami perkembangan, dikarenakan semakin banyaknya wahyu yang diterima Muhammad, sehingga hal-hal yang perlu diatur semakin banyak. Dalam masa ini bentuknya adalah:

1)      Membaca al-Quran

2)      Ke-Imanan (rukun Iman)

3)      Ibadah (rukun Islam)

4)      Akhlak

5)      Dasar ekonomi

6)      Dasar politik

7)      Olah raga dan kesehatan

8)      Membaca dan menulis64

c.       Kurikulum masa Khulafaurrosyidin dan Bani Umayyah

Pada masa ini, kurikulum mengalami perubahan, namun dari dapat juga dikatakan semakin meluas cakupannya yang tertuang dalam materi-materi pelajaran disekolah, yang disebut Kuttab. Semakin luasnya kekuasaan Islam dan adanya pengaruh budaya wilayah taklukan menjadikan muncul beragam pengetahuan baru yang perlu untuk dikembangkan dan diajarkan disekolah. Kurikulum itu meliputi:

1)      Membaca dan menulis

2)      Membaca al-Quran dan menghafalkannya

3)      Ke-Imanan, ibadah dan akhlak

Pada masa Khlifah Umar bin Khattab, beliau menginstruksikan kepada penduduk kota supaya mengajarkan anak-anak mereka:

1)      Berenang

2)      Menunggang kuda

3)      Memanah

4)      Membaca dan menghafal syair yang mudah dan peribahasa

Disekolah tingkat menengah dan tinggi diajarkan:

1)      Al-Quran dan tafsirnya

2)      Hadits dan pengumpulannya

3)      Fiqh65

d.      Kurikulum masa Bani Abbasiyah

Kurikulum pada masa Abbasiyah menjadi semakin kompleks, dikarenakan adanya perluasan wilayah Islam, dengan semakin banyaknya pengaruh budaya lokal yang semakin luas. Hal ini ditambah dengan semakin banyaknya aliran yang berkembang dalam Islam, menjadikan keragaman masyarakat semakin kentara. Ini juga yang telah mempengaruhi corak pemikiran al-Ghazali. Di Kuttab, diajarkan:

1)      Membaca al-Quran dan menghafal

2)      Pokok-pokok agama; Iman, ibadah dan akhlak

3)      Membaca dan menulis

4)      Kisah orang-orang besar (tokoh) Islam

5)      Membaca dan menghafal syair dan natsar (Prosa)

6)      Berhitung

7)      Pokok-pokok nahwu dan sharf

Al-Qabisyi memilahnya menjadi mata pelajaran wajib dan mata pelajaran pilihan.

1)      Mata pelajaran wajib, terdiri dari:

a)      Al-Quran

b)      Sholat

c)      Doa

d)     Sedikit nahwu dan bahasa Arab

e)      Membaca dan menulis

2)      Mata pelajaran pilihan, terdiri dari:

a)      Berhitung

b)      Semua ilmu nahwu dan bahasa Arab

c)      Syair

d)     Riwayat atau tarikh Arab66

Umumnya, mata pelajaran yang diajarkan disekolah menengah, adalah sebagai berikut:

1)      Al-Quran

2)      Bahasa Arab dan kesustraannya

3)      Fiqh

4)      Tafsir

5)      Hadits

6)      Nahwu, Sharf, Balaghoh

7)      Ilmu pasti

8)      Mantik

9)      Ilmu falak

10)  Tarikh

11)  Ilmu alam

12)  Kedokteran

13)  Musik

Untuk sekolah menengah kejuruan juru tulis, mata pelajarannya sebagai berikut:

1)      Bahasa

2)      Surat menyurat

3)      Pidato

4)      Diskusi

5)      Berdebat

6)      Tulisan indah67

Pendidikan tinggi atau perguruan tinggi pada masa Abbasiyah mengambil dua jurusan, yaitu:

1.      Jurusan ilmu-ilmu agama dan bahasa, serta kesustraan Arab (jurusan ilmu-ilmu naqliyah)

2.      Jurusan ilmu-ilmu hikmah (jurusan ilmu-ilmu aqliyah)

Adapun mata pelajaran pada jurusan ilmu-ilmu naqliyah, terdiri dari:

a)      Tafsir

b)      Hadits

c)      Fiqh dan Ushul fiqh

d)     Nahwu dan Sharf

e)      Balaghoh

f)       Bahasa dan kesustraan arab

Sedangkan pelajaran pada jurusan ilmu-ilmu aqliyah terdiri atas:

a)      Mantik

b)      Ilmu-ilmu alam dan kimia

c)      Musik

d)     Ilmu-ilmu pasti

e)      Ilmu ukur

f)       Ilmu falak

g)      Ilmu Ilahiyah (ketuhanan)

h)      Ilmu hewan

i)        Ilmu tumbuh-tumbuhan

j)        Kedokteran68

2.      Kurikulum al-Ghazali

Untuk mengetahui kurikulum al-Ghazali, sebaiknya disamping kita memahami tentang pembagian ilmu menurut al-Ghazali, juga perlu kita pahami lebih dalam kondisi sosial politik yang melingkupi masa produktifnya al-Ghazali. Kekuasaan dinati Abbasiyah Saljuk diperoleh setelah menggulingkan dinasti Buwaihi yang beraliran syiaah dengan menguasai kota Baghdad pada tahun 447 H/1055 M pimpinan Tughril Biq yang beraliran sunny, hal ini secara otomatis menjadikan aliran sunny sebagai aliran resmi negara.

Dinasti Buwaihi telah berkuasa cukup lama, dengan memanfaatkan media pendidikan untuk membumikan paham yang dianutnya ditengah masyarakat kekuasannya, sehingga kegiatannya sangat terstruktur dan terencana. Antara aliran sunny dan syiaah memiliki idiologi dan politik yang berbeda, sehingga secara otomatis dinasti Saljuk berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengikis habis paham syiah yang sudah mengakar di masyarakat dan menggantikannya dengan paham sunny.

Propaganda pendidikan menjadi pilihan utama dinasti Saljuk untuk maksud ini. Dengan menggunakan media madrasah yang muncul pada masa pemerintahan wazir Nizam al-Mulk sehingga penamaan madrasah pun dinisbahkan kepada penggagasnya yaitu madrasah Nizamiyah. Disamping alasan ini, pertambahan jumlah penduduk dalam wilayah kekuasaan menjadi pertimbangan tersendiri. Negara membutuhkan sebuah tempat pendidikan massal bagi penduduknya. Madrasah Nizamiyah pun didirikan pada hampir semua wilayah kekuasaan Abbasiyah, seperti Baghdad, Nisyapur, Basrah, Asfahan, Mausil dan lainnya.

Dominasi pemerintah dalam perjalanan madrasah sangat kentara. Mulai dari kebijakan-kebijakan madrasah, penentuan kurikulum, penunjukkan guru, guru harus dari kalangan sunny. Sehingga nuansa pendidikan pada masa ini sangat agamis sunny. Dominasi pemerintah pada madrasah juga merambah pada penentuan anggaran beaya dan pengangkatan staf-staf lainnya.69

Situasi politik yang terkungkung seperti ini mengakibatkan adanya denyut nadi pendidikan madrasah menjadi statis. Pemikiran dan konsep mengenai pendidikan menjadi monopoli negara, tidak ada celah bagi adanya penafsiran ganda apalagi sistem pendidikan yang berbeda dengan pemerintah, karena yang demikian akan dianggap sebagai penentang pemerintah.

Situasi seperti ini tidak memungkinkan bagi al-Ghazali untuk memaksakan pemikirannya tentang kurikulum pendidikannya, dan inilah yang menjadi celah bagi sebagian pemikir pendidikan Islam untuk mengatakan bahwa al-Ghazali tidak memiliki rancangan kurikulum. Pembagian ilmu yang dilakukan oleh al-Ghazali hanya sebatas kritik atas pendidikan yang ada pada waktu itu, dengan materi-materi agama yang sangat mendominasi dan tidak memberikan ruang yang cukup untuk materi-materi non agama.

Dalam pandangan al-Ghazali manusia yang cerdas adalah yang dapat menjadikan dunia sebagai alat untuk mendapatkan kebahagiaan akherat. Sehingga, ilmu-ilmu yang dapat menjadikan kehidupan dunia menjadi lebih baik perlu diberikan porsi yang seimbang. Dunia merupakan tempat bernaung manusia sebelum menuju akherat, apabila dunia dapat dijadikan sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, maka upaya untuk menjadikannya lebih baik sangat diperlukan.

Pembagian ilmu yang dilakukannya hanya sebuah masukan bagi pemerintah untuk tidak terbuai dengan pemusnahan aliran syiah dengan memakai propaganda pendidikan, sehingga pendidikan sangat bernuansa agamis dengan melupakan kebutuhan lain manusia selama masih didunia. Dikotomi pendidikan memang sudah ada waktu itu, jadi dikotomi bukan merupakan sesuatu yang baru.

Ada tiga alasan yang dapat digunakan untuk mendukung pendapat ini, yaitu:

a.       Motif pendirian madrasah sebagai institusi pendidikan tidak murni bermotif kependidikan. Ada motif politik dan idiologi dibalik pendirian madrasah oleh dinasti Saljuk, yakni sebagai alat propaganda tandingan untuk mengeliminasi pengaruh idiologi politik yang ada pada saat itu yang sewaktu-waktu dapat membahayakan kelangsungan kekuasaan dinasti Saljuk. Yakni idiologi syiah yang dianut oleh dinasti Buwaihi yang baru saja di taklukkan oleh dinasti Saljuk dan dinasti Fathimiyah di Mesir.

b.      Kurikulum atau program pendidikan dimadrasah dipengaruhi oleh idiologi dominan saat itu, yakni idiologi sunny. Kurikulum yang ada juga sarat dengan muatan-muatan keagamaan versi sunny (ilmu fiqh, ushul fiqh, ilmu kalam dan ilmu tafsir). Memang sangat wajar dan cukup logis keadaan seperti ini. Program atau kurikulum pendidikan merupakan cermin idiologi dominan yang dianut masyarakat yang ada pada suatu saat. Idiologi yang ada pada masa dinasti Saljuk dan kebetulan menjadi idiologi resmi penguasa atau pemerintah adalah sunny.70

c.       Al-Ghazali tidak mampu mengambil hati Nizam al-Mulk untuk dapat mempengaruhi lebih jauh dalam perencanaan pendidikan, termasuk didalamnya adalah penyusunan kurikulum dengan mendasarkannya pada pembagian ilmu yang dilakukan al-Ghazali. Walaupun pada awalnya Nizam al-Mulk terkesima atas keilmuan dan pemikiran al-Ghazali sehingga mengangkatnya menjadi guru besar pada madrasah Nizamiyah.

Pada dasarnya al-Ghazali berpandangan bahwa ilmu pengetahuan, baik yang teoritis maupun praktis itu berjenjang. Oleh karena itu, keutamaanpun bertingkat-tingkat karena adanya tinggi rendahnya pengetahuan tadi. Upaya al-Ghazali melakukan klasifikasi ilmu agama itu pada keyakinannya mengarahkan bahwa ilmu agama adalah yang paling utama, sebab ilmu agama hanya dapat diperoleh dengan kesempurnaan akal dan kejernihan pikiran.71

Dalam materi yang diberikan kepada murid, al-Ghazali memberikan kriteria sebagai berikut:

a.       Materi yang bermanfaat bagi manusia dalam upaya mewujudkan sebuah kehidupan yang religiuas, seperti etika dan lain-lain.

b.      Materi pendidikan memberikan kemudahan dan dukungan kepada manusia untuk mempelajari ilmu agama, seperti ilmu bahasa, gramatika dan lainnya.

c.       Materi pendidikan yang bermanfaat untuk bekal hidup dunia, seperti kedokteran.

d.      Materi pendidikan yang bermanfaat dalam membangun kebudayaan dan peradaban, seperti sejarah, sastra, politik dan lainnya.72

Dari sinilah Fathiyyat Hasan Sulaiman berpendapat bahwa al-Ghazali telah membuat sebuah kurikulum pendidikan secara hirarkis sebagai berikut:

a.       Tingkat pertama, al-Quran dan ilmu agama. Seperti fiqh, ilmu hadits dan lainnya.

b.      Tingkat kedua, ilmu bahasa dan gramatika, termasuk juga tajwid

c.       Tingkat ketiga, ilmu dalam kategori fardlu kifayah. Seperti kedokteran, ilmu hitung, polotik dan lainnya.

d.      Tingkat keempat, ilmu tentang kebudayaan. Seperti sastra, sejarah dan beberapa cabang filsafat.73

Jika kita tetap memaksakan untuk melihat kurikulum al-Ghazali secara utuh yang dipaksakan masuk kedalam kurikulum negara, maka jawabannya adalah suatu bentuk kolaborasi antara kurikulum pendidikan yang diberlakukan pada waktu itu, yaitu kurikulum yang diberlakukan pada masa dinasti Abbasiyah dengan pembagian ilmu yang dilakukan oleh al-Ghazali.

Menurut Muhammad Munir Mursyi, seperti yang dikutip oleh Abuddin Nata dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam 1, bahwa al-Ghazali mengusulkan beberapa pengetahuan yang harus dipelajari disekolah. Ilmu pengetahuan tersebut adalah:

a.       Ilmu al-Quran dan ilmu agama, seperti fiqh, hadits dan tafsir

b.      Sekumpulan bahasa, nahwu dan makhraj, serta lafadz-lafadznya, karea ilmu ini berfungsi membantu ilmu agama.

c.       Ilmu-ilmu yang fardlu kifayah, yaitu ilmu kedokteran, matematika, teknologi yang beraneka macam jenisnya, termasuk juga ilmu politik

d.      Ilmu kebudayaan seperti syair, sejarah dan beberapa cabang filsafat.74

Pemikiran al-Ghazali mengenai kurikulum pendidikan belum sampai menembus pada kurikulum resmi negara, karena kondisi situasi politik saat itu yang memanfaatkan pendidikan sebagai alat propaganda. Sehingga kurikulum al-Ghazali terkesan hanya sebatas embrio, berupa materi-materi pelajaran yang hendaknya dimasukkan dalam pendidikan madrasah.

5.      Metode

Metode berasal dari dua rumpun kata, yaitu meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti jalan atau cara.75Dari makna kata ini, sehingga metode dapat diartikan sebagai sebuah jalan yang harus dilalui/ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu. Mohammad Athiyah al-Abrasyi mendefinisikannya sebagai jalan yang kita ikuti untuk memberi paham kepada murid-murid dalam segala macam pelajaran, dalam segala mata pelajaran. Sedangkan Abd al-Rahim Ghunaimah menyebut metode sebagai cara-cara yang diikuti oleh guru untuk menyampaikan sesuatu kepada anak didik.76

Secara umum al-Ghazali tidak mengemukakan metode tertentu pada pengajaran (penyampaian materi pelajaran) dalam sebuah karya tulisnya. Namun, al-Ghazali hanya memberikan prinsip-prinsip tertentu. Dalam metode pengajaran secara umum al-Ghazali hanya mengungkapkan prinsip-prinsip tertentu dan langkah-langkah khusus yang seyogyanya diikuti oleh seorang guru ketika tengah menunaikan tugas mengajar.77

Al-Ghazali mencoba memberikan keluasan bagi guru untuk membuat dan menentukan metode mengajar yang sesuai dengan peserta didiknya. Pendidikan setidaknya mengandung tiga macam bentuk kegiatan, yaitu belajar, mengajar dan mendidik. Dalam pendidikan, anak berarti sedang belajar mengenai sesuatu pengetahuan melalui perantara guru, sedangkan guru berarti melakukan sebuah tindakan mengajar berbentuk transfer pengetahuan dan pengalaman, serta guru melakukan sebuah tindakan mendidik perilaku siswa untuk dapat menjadi lebih baik.

Ada dua tindakan guru yang dilakukan dalam satu waktu, yaitu mengajar dan mendidik. Keduanya berproses secara bersamaan mengarah pada sebuah obyek didik, yaitu murid. Seorang guru harus benar-benar mencurahkan perhatiannya kepada murid, dengan menganggapnya sebagai anak sendiri. Sehingga jalinan emosional dapat terjalin dengan erat dan perkembangan keilmuan dan psikologis murid dapat terus terpantau oleh guru.

1.      Asas-asas metode belajar78

Dalam proses belajar mengajar, supaya tercipta suasana kondusirf dan materi pelajaran dapat mengena dan diterima murid dengan baik, maka ada beberapa asas yang perlu diperhatikan oleh murid, yaitu:

a)      Memusatkan perhatian sepenuhnya

Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Kemudian tidak ada kekuatan yang membantu pada pemahaman selain mempergunakan pendengaran, yaitu mencurahkan sepenuh jiwa agar dapat menerima seluruh pelajaran yang disampaikan guru dengan penuh perhatian, merendahkan diri, syukur, gembira dan mendapatkan nikmat79

 

Dalam proses belajar mengajar, murid hendaknya memperhatikan keterangan guru dengan penuh perhatian dan semangat. Berkonsentrasi, mengikuti secara seksama alur keterangan guru. Sehingga keterangan-keterangan yang diberikan oleh guru dapat diterima secara runtut dan utuh dan menjadikan suasana kelas kondusif. Dalam hal ini ada tiga buah tindakan yang mutlak harus dilakukan oleh murid, yaitu:

1)      Memperhatikan

2)      Senang terhadap materi pelajaran

3)      Merasa membutuhkan

b)      Mengetahui tujuan ilmu pengetahuan yang dipelajari

Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Pelajar harus mengetahui hubungan ilmu pengetahuan itu kepada tujuannya, sehingga pengetahuan yang tinggi dan dekat dengan jiwanya akan membawa pengaruh kepada tujuannya yang masih jauh. Dan tujuan yang penting akan membawa pengaruh pula kepada yang tidak penting. Tujuan yang penting adalah mengandung kepentingan untukmu sendiri dan tidak ada yang penting bagimu kecuali urusanmu didunia dan akherat80

 

Salah satu faktor keberhasilan murid dalam menuntut ilmu adalah mereka tahu akan tujuan ilmu pengetuan itu sendiri untuk dipelajari, sehingga murid akan memiliki sedikit gambaran tentang pelajaran yang akan ditempuh dan senantiasa menggunakan penalarannya untuk mengembangkan pemahaman yang diperoleh dari guru, sehingga komunikasi antara guru dan murid akan terjadi dengan selaras. Hal ini sangat baik untuk:

1)      Memperbaiki niat belajar murid

2)      Menyadarkan bahwa ilmu pengetahuan itu bertingkat dan berjenjang

3)      Melatih penalaran murid

4)      Melatih kreatifitas murid

c)      Mempelajari ilmu pengetahuan dari yang sederhana kepada yang kompleks

Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Seorang pelajar pada tingkat pegetahuan permualaan, seharusnya dapat menjaga diri dari perdebatan-perdebatan, perbedaan pendapat tentang ilmu pengetahuan. Baik yang dipelajarinya itu ilmu dunia, maupun ilmu akherat, karena yang demikian itu akan meragukan pikirannya, mengherankan hatinya, melemahkan pendapatnya dan akan menjadikannya putus asa untuk mengetahui dan mendalami ilmu pengetahuan itu81

 

Pemahaman dasar sangat dibutuhkan oleh murid untuk dapat melandasi pengembangan ilmu pengetahuannya. Dengan maksud supaya perkembangan murid dapat terarah dan terencana dengan baik, sehingga dapat memperoleh sebuah pemahaman yang utuh tentang ilmu pengetahuan. Dan hal ini dapat bermanfaat untuk:

1)      Pembentukan dasar keilmuan yang kuat

2)      Penumbuhan semangat belajar yang baik

3)      Dapat melatih berfikir sistematis

d)     Mempelajari ilmu pengetahuan dengan memperhatikan sistematika pembahasannya.

Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Seorang pelajar seharusnya tidak mendalami suatu bidang ilmu pengetahuan, selain ia telah menyelesaikan bidang ilmu pengetahuan sebelumnya. Karena sesungguhnya ilmu pengetahuan itu berurutan secara jelas. Sebagian menjadi jalan menuju sebagian yang lain dan orang yang mendapat petunjuk adalah orang yang dapat memelihara sistematika dan dengan cara yang berangsur-angsur82

 

Menjadi sebuah keharusan bagi murid untuk mempelajari ilmu pengetahuan secara bertahap. Dilakukan secara sistematis dan terencana, penalaran murid akan maksud dan tujuan mempelajari suatu ilmu pengetahuan akan dapat membantunya dalam menyadarkan murid untuk mempelajarinya secara bertahap. Dan menjadi tugas guru untuk memperhatikan dan mengarahkannya untuk lebih baik. Hal ini sangat bermanfaat untuk:

1)      Menumbuhkan jiwa keuletan dan ketelatenan

2)      Memperoleh pemahaman yang utuh dan menyeluruh

2.      Asas-asas metode mengajar83

Dalam melakukan kegiatan mengajar, seorang guru hendaknya memperhatikan beberapa prinsip yang dilakukan supaya pengajaran benar-benar dapat memberikan manfaat bagi murid. Pengajaran dilakukan dengan sepenuh hati sebagai sebuah amanah yang mulia. Untuk itu, seorang guru hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a)      Memperhatikan tingkat daya pemikiran murid

Dalam hal ini al-ghazali mengatakan:

Seorang guru hendaklah dapat memperkirakan daya pemahaman muridnya dan jangan diberikan pelajaran yang belum sampai tingkat akal pikirannya, sehingga ia akan lari dari pelajaran atau menjadikan tumpul otaknya84

 

Pelajaran yang disampaikan oleh guru akan mengena dengan baik apabila disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan kecerdasan murid. Seorang guru harus dapat memahami kondisi psikologis murid, sehingga dapat memperkirakan bentuk-bentuk materi yang akan diberikan, sehingga materi pelajaran dapat dipahami dengan baik oleh murid.

Pelajaran yang disampaikan dengan tanpa memperhatikan hal ini akan dapat menjadikan beban bagi murid, yang dapat mengakibatkan murid kehilangan semangat untuk belajar, tidak mau bersekolah karena menganggap sekolah hanya akan memberinya beban, ataupun tekanan-tekanan psikologis lain yang menjurus kepada hal-hal negatif. Seorang guru hendaknya senantiasa:

1)      Mau mengikuti dan memahami kondisi murid

2)      Senantiasa menumbuhkan daya kreatifitas diri

b)      Menerangkan pelajaran dengan cara yang sejelas-jelasnya

Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Seorang anak yang paling rendah tingkat berfikirnya, hendaklah diberikan pelajaran dengan keterangan yang jelas dan pantas baginya. Dan janganlah disebutkan padanya bahwa dibalik keterangan ini masih ada pembahasan mendalam yang tidak dijelaskan kepadanya85

 

Setiap pelajaran yang diberikan hendaklah memberikan pemahaman baru dan peningkatan keilmuan murid. Sehingga sangatlah tidak etis apabila seorang guru menyimpan sebagian pengetahuan yang dimilikinya, hanya karena takut dapat tersaingi oleh murid. Seorang guru yang profesional akan senantiasa menyampaikan materi dengan gamblang, dimana seluruh materi yang telah disiapkan terlebih dulu, disampaikan semuanya secara tuntas.

Kondisi seperti ini akan sangat membantu perkembangan keilmuan murid dan mendidik murid untuk menjadi sosok yang amanah. Murid adalah cerminan dari guru yang mendidiknya, karena guru adalah sosok yang dapat mempengaruhi murid dalam segala bentuknya secara terstruktur dan terencana, sehingga seorang guru hendaknya:

1)      Penyabar

2)      Dapat dipercaya

3)      Ulet dan telaten

c)      Mengajarkan ilmu pengetahuan dari yang kongkrit kepada yang abstrak

Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Seorang guru janganlah meninggalkan nasehat sedikitpun, yang demikian itu adalah melarangnya mempelajari ilmu pengetahuan pada tingkat sebelum berhak pada tingkat itu dan mempelajari ilmu penegtahuan yang tersembunyi (abstrak) sebelum menguasai ilmu penegtahuan yang kongkrit86

 

Guru hendaknya senantiasa memberikan materi pelajaran secara urut dengan penalaran yang sesuai. Dengan maksud untuk menghidarkan murid dari pemahaman yang acak karena adanya penyampaian materi yang meloncat-loncat dan mengarahkannya pada pemahaman yang sistematis. Hal ini sangat bermanfaat untuk melatih murid senantiasa tidak suka berkhayal, dan senantiasa berfikir tentang sesuatu yang nyata.

Apabila ada seorang murid yang tingkat pemahamannya berbeda dari rata-rata, maka wajib bagi guru untuk memperlakukan sesuai dengan porsinya. Oleh karena itu, guru hendaknya merupakan sosok yang:

1)      Cermat

2)      Tertib

3)      Adil

d)     Mengajarkan ilmu pengetahuan dengan cara berangsur-angsur

Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Seorang guru yang memgang satu fak mata pelajaran hendaklah memberi kesempatan pada murid-murid untuk mempelajari mata pelajaran lainnya. Dan apabila dia memegang beberapa fak mata pelajaran, maka hendaklah ia memelihara kemajuan murid dengan cara berangsur-angsur dan setingkat demi setingkat87

 

Jenis ilmu pengetahuan sangatlah banyak dan kesemuanya saling melengkapi serta tersusun secara berjenjang dan saling mengait. Pemahaman inilah hendaknya diterapkan oleh guru dalam penyampaian materi ajar bagi siswa. Memberikannya secara berjenjang dan berurutan hingga menjadi sebuah kesatuan yang utuh dan menganjurkan untuk mempelajari hal lain yang berkiatan dengan pelajaran ataupun untuk mendukung perkembangan pengetahuannya.

Guru ditugaskan senantiasa memperhatikan perkembangan keilmuan murid dan untuk dapat mengontrolnya dengan baik serta terukur, guru menggunakan alat bantu yang bernama evaluasi yang berfungsi untuk mengukur dan menilai materi ajar yang disampaikan, sehingga pemahaman murid dapat terkontrol dengan baik. Maka, seorang guru harus:

1)      Obyektif

2)      Proposional

3.      Asas-asas metode mendidik88

a)      Memberikan latihan-latihan

Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Ketahuilah bahwa metode dalam melatih anak-anak adalah merupakan hal yang sangat penting dan perlu sekali89

 

Metode latihan ini harus diberikan sedini mungkin, untuk dapat mengetahui dan memahami perkembangan murid, sebagai alat yang digunakan untuk mengontrol perkembangan murid, yang meliputi pembiasaan, disiplin dan contoh-contoh, hal ini juga harus dibarengi dengan anjuran, larangan, perintah. Dengan maksud supaya terdapat hubungan saling mengontrol dan mengikat. Dalam melaksanakan hal ini, seorang guru hendaknya memperhatikan:

1)      Proposional

2)      Mendidik

b)      Memberikan pengertian dan nasehat-nasehat

Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Apabila pertumbuhan anak itu baik, maka nasehat-nasehat itu akan meresap, berpengaruh, berguna dan teguh dihatinya. Seperti teguhnya ukiran pada batu, pada masa dewasanya nanti90

 

Pemberian nasehat lebih difungsikan untuk mengarahkan anak tindakannya. Disamping itu, dapat pula berkembang menjadi sebuah media konsultasi dengan harapan akan lebih memupuk rasa percaya diri murid. Sebaiknya hal ini dilakukan dengan memperhatikan:

1)      Terarah

2)      Terencana

3)      Terorganisir

c)      Melindungi anak dari pergaulan yang buruk

Dalam hal ini al-Ghazali mengatakan:

Dan pokok dari pendidikan anak adalah menjaga dan melindunginya dari pergaulan-pergaulan yang buruk91

 

Proses pendidikan tidak hanya terjadi didalam kelas. Namun perkembangan murid diluar kelas juga menjadi perhatian guru. Guru merupakan sosok yang harus rela berkorban secara lahir maupun batin demi kebaikan bagi murid-muridnya. Oleh sebab itu, semua tugas guru hendaknya dilakukan secara:

1)      Lahir dengan memantaunya secara berkala dan berkesinambungan, baik dalam perkembangan pengetahuan ataupun perilaku murid

2)      Batin dengan mendoakan murid setiap saat supaya dapat menjadi anak yang pandai, berbakti dan berbudi pekerti baik.

Dalam prakteknya, mendidik memiliki cakupan makna dan kerja yang lebih luas dari pada mengajar. Mendidik mengarahkan perhatian lebih secara universal, yang meliputi semua aspek-aspek yang ada pada murid. Mengajar lebih kepada penekanan dalam kegiatan belajar mengajar didalam kelas. Inilah yang menjadikan tugas guru mulia, tidak sembarangan orang dapat melakukannya.

Pemahaman yang ada sekarang dan berkembang dalam masyarakat adalah guru hanya bertugas untuk memperhatikan murid ketika proses belajar mengajar berlangsug, untuk selanjutnya pengawasan menjadi tugas orang tua masing-masing, dan anehnya hampir semua orang tua menganggap bahwa pendidikan adalah tanggung jawab guru dalam segala bentuknya.

Antara guru dan wali murid hendaknya saling bekerja sama untuk memperhatikan perkembangan anak dalam segala aspeknya dan saling memberikan saran dan usulan untuk kebaikan anak, sehingga perkembangan anak benar-benar dapat terkontrol secara menyeluruh dan kelak dapat menjadi manusia yang baik dan berguna.

6.      Guru

a.      Sebuah prolog

Konsep pendidikan tidak akan membuahkan hasil jika tidak terdapat unsur pelaksana dari konsep tersebut, terlebih dalam sebuah institusi pendidikan. Pelaksana dari konsep pendidikan di sekolah adalah guru. Guru merupakan orang yang melakukan kegiatan belajar mengajar, namun secara umum guru dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat mempengaruhi lainnya.

Guru pertama bagi setiap orang adalah orang tua. Pelajaran pertama yang diperoleh anak adalah ketauhidan supaya anak terlandasi dalam sisi keyakinan dan dapat membarikannya pondasi untuk dapat bersandar serta memberikannya pemahaman bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi diluar kekuatannya, yaitu kekuatan Tuhan yang telah menciptakannya.

Perkembangan jiwa dan pola pikir anak yang diakibatkan adanya pertambahan usia dan juga luasnya pergaulan menjadikan kebutuhan anak dalam pembekalan diri semakin kompleks, sehingga anak membutuhkan pengetahuan yang lebih dari sekedar kayakinan yang telah ditanamkan. Terdapat dua alasan mendasar yang memunculkan adanya pembentukan sekolah, yaitu:

1)      Ketidak mampuan orang tua

Maksudnya adalah banyak orang tua yang tidak memahami sistematika pembekalan ilmu pengetahuan anak secara baik, sehingga mereka merasa membutuhkan orang yang dapat memberikan pembekalan pengetahuan anak secara sistematis dan terencana, sehingga memunculkan sebuah ide pembentukan sebuah kelompok belajar yang terlembagakan yang diisi oleh orang-orang yang paham akan akan perencanaan pendidikan secara matang. Dan kelompok belajar itu sekarang lazim disebut sebagai sekolah

2)      Efesiensi

Orang tua memandang bahwa menyerahkan sebagian tanggung jawabnya untuk mendidik anak kepada orang lain, karena hal ini dianggap akan lebih mendidik anak lebih mandiri dan mempunyai pengalaman yang lebih, walaupun pada dasarnya mereka mampu untuk memberikan pengetahuan yang sesuai dan tersistematiskan kepada anak-anak mereka. Kegiatan memberikan pengetahuan kepada anak yang dilakukan secara mandiri dianggap kurang efesien dan kurang memberikan ruang gerak dan ekspresi anak serta lebih banyak menyita waktu, sehingga banyak agenda yang mesti dikorbankan.

Pada prinsipnya pendidikan anak adalah kebutuhan wali murid atau orang tua, sehingga pendidikan adalah urusan mereka para wali murid. Sedangkan sekolah dan guru merupakan kepanjangan tangan dari wali murid, oleh sebab itu sudah menjadi sebuah kewajiban untuk melibatkan wali murid dalam segala urusan sekolah. Pendidikan bukanlah monopoli sekolah yang mengesampingkan pihak luar sekolah, melainkan pendidikan merupakan usuran semua orang yang memiliki anak.

Firman Allah yang menunjukkan pengertian bahwa Allah telah memerintahkan dengan seruan peliharalah dirimu dan anggota keluargamu dari ancaman neraka menjadi sebuah penguat, bahwa memang pada prinsipnya pendidikan adalah tanggung jawab orang tua. Pemahaman yang mengakar tentang guru selama ini adalah sebuah predikat yang diberikan kepada orang-orang yang mengajar disekolah-sekolah, mulai dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi. Memang hal ini ada benarnya, namun guru yang dimaksudkan adalah guru yang terstruktur dan terencana.

Guru secara umum dapat diartikan sebagai mereka yang dapat memberikan pengertian baru, walau hanya satu huruf. Hal ini dengan berlandaskan perkataan sahabat Ali yang mengatakan bahwa aku adalah budak dari seseorang yang telah mengajarkanku walau hanya satu huruf. Memang cukup sederhana, namun guru yang hakiki adalah mereka yang dapat mendidik jasmani dan rohani seseorang.

Dalam Islam dikenal banyak istilah untuk menunjukkan kepada orang yang memberikan pengajaran, diantaranya; muallim, mudarris, ustadz, muaddib. Menurut penulis istilah ini ada karena kekayaan kosa kosa kata arab yang dibantu dengan alat pencetak kalimat yang sesuai dengan maksudnya, yaitu ilmu sharf.

 

b.      Dasar al-Quran

1)      QS. Ali Imran, ayat 187:

 

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya. Lalu mereka melemparkan janji itu kebelakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima92

 

2)      QS. At-Taubah, ayat 122:

 

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya93

 

3)      QS. An-Nahl, ayat 125:

 

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk94

 

c.       Dasar al-Hadits

1)      HR. Abu Naim

Tidak diberikan oleh Allah kepada seseorang yang berilmu akan ilmu, melainkan telah diambilp-NYA janji, seperti yang diambil-NYA kepada Nabi-nabi, bahwa mereka akan menerangkan ilmu itu kepada manusia dan tidak akan menyembunyikannya95

 

2)      HR. Abu Dawud dan Turmudzi

Barang siapa mengetahui suatu ilmu, lalu menyembunyikannya. Maka ia dikenakan oleh Allah kekang dengan api neraka pada hari kiamat96

 

3)      HR. Turmudzi

Bahwasannya Allah SWT, Malaikat-malaikat-NYA, isi langit dan bumi-NYA, sampai kepada semut didalam lobang dan ikan didalam laut, semuanya berdoa kebajikan kepada orang yang mengajarkan manusia97

 

d.      Adab dan tugas-tugas guru

Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menerangkan secara jelas tentang adab dan tugas-tugas guru yang harus dipenuhi sebagai syarat untuk dapat menjadi seorang guru ideal, yaitu:

1)      Mempunyai rasa belas kasihan kepada murid-murid dan memperlakukan mereka sebagai anak sendiri

2)      Mengikuti jejak Rasul SAW. Maka ia tidak mencari upah, balasan dan terima kasih dengan mengajar itu.

3)      Tidak meninggalkan nasehat sedikitpun, kepada yang demikian itu adalah dengan melarangnya mempelajari suatu tingkat, sebelum ia berhak pada tingkat itu.

4)      Hal ini termasuk pada yang halus-halus dari mengajar, bahwa guru menghardik muridnya dari berperangai jahat dengan cara sidiran selama mungkin dan tidak dengan cara terus terang. Dan dengan cara kasih sayang, tidak dengan cara mengejek.

5)      Seorang guru yang bertanggung jawab pada salah satu mata pelajaran, tidak boleh melecehkan pelajaran yang lain dihadapan muridnya.

6)      Guru harus menyingkatkan pelajaran menurut tenaga pemahaman murid, jangan diajarkan pelajaran yang belum sampai otaknya kesana.

7)      Kepada seorang pelajar yang singkat paham, hendaknya diberikan pelajaran yang jelas, yang layak baginya. Janganlah disebutkan padanya bahwa, dibalik yang diterangkan ini ada lagi pembahasan yang mendalam yang disimpan, tidak dijelaskan.

8)      Guru itu harus mengamalkan sepanjang ilmunya, jangan perkataanya membohongi perbuatannya. Karena ilmu dilihat dengan mata hati dan amal dilihat dengan mata kepala, yang mempunyai mata kepala adalah lebih banyak.98

Al-Ghazali dengan teliti berdasarkan pengalaman dan penalaran yang mendalam telah mampu merumuskan tugas-tugas yang harus dipenuhi oleh guru. Sekilas memang sangat agamis, karena konsep ini lahir dari situasi yang menuntutnya demikian, ditambah dengan adanya pendapat al-Ghazali mengenai ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan muncul dari penafsiran ayat-ayat yang tersirat maupun yang tersirat, sehingga menjadikan ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang suci dan untuk memperolehnya juga dibutuhkan adanya kesucian baik lahir maupun batin, dengan asumsi bahwa antara yang benar dan salah tiak akan pernah bercampur. Dan diamalkan oleh orang-orang yang suci pula, orang yang mulia dan didudukkan pada tingkat yang tinggi.

Sikap kerelaan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dengan mendasarkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, menjadi sebuah syarat yang dirasa sangat berat. Kebanyakan guru pada saat ini menjadikan profesi guru sebagai alat pengeruk kebendaan, bahkan terkadang lebih dari itu dengan menjadikan sekolah sebagai bisnis yang menggiurkan.

Memang para ulama sepakat bahwa mendapatkan imbalan materi dari mengajarkan al-Quran dan ilmu-ilmu agama diperbolehkan, dengan catatan hanya sebatas untuk memperlancar tugas-tugas guru dalam menjalankan tugasnya dan bukan untuk menumpuk kekayaan dengan cara mengajarkan al-Quran ataupun ilmu-ilmu agama.

Guru bukanlah sebuah jabatan yang disandang oleh setiap orang yang berilmu, melainkan seorang guru haruslah sosok yang benar-benar dapat dijadikan panutan dan sadar akan tugas mulianya. Pada zaman al-Ghazali hanya pemerintah yang dapat mengangkat seseorang menjadi guru dengan kriteria tertentu. Dan hanya orang-orang sekaliber al-Juwaini, al-Ghazali ataupun al-Ismaili yang dapat menyandang jabatan guru.

Pengangkatan guru tidak berdasarkan test masuk yang diselenggarakan secara massal, dengan mengharuskan seseorang mengikuti beberapa tahapan yang harus dilaluinya sebelum menyandang sertifikat guru. Pengangkatan guru lebih mengacu kepada keilmuan dan pribadi seseorang yang diamati secara seksama dan berkelanjutan.

Sekolah berorientasi bisnis dan bukan lagi education oriented, pada saat ini sudah merebak dan menggejala. Tujuan mendidik hanya dijadikan tameng untuk melindungi maksud yang sebenarnya. Sehingga mungkin sangat layak untuk dilontarkan sebuah pendapat bahwa sekolah adalah urusan semua orang yang beruang. Hal ini menjadikan beaya sekolah semakin mahal dengan beragam alasan yang diungkapkan.

Materi bukanlah tujuan utama dari pendidikan. Tujuan utama dari pendidikan adalah untuk mencari keridlaan dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Maka sangatlah tidak layak bagi guru untuk mendapatkan lebih dari tugasnya mengajar. Sertifikasi porto folio yang digulirkan pemerintah untuk mendapatkan kesejahteraan lebih dan menjadi bahan rebutan para guru adalah sebuah tindakan yang tidak mencerminkan sikap budi pekerti yang mulia.

Banyak dikisahkan seorang guru akan sangat bersedih ketika tidak lulus ujian porto folio. Dalam hal ini, terlihat bahwa guru adalah sosok yang dihinakan, dengan menempatkannya dalam golongan miskin yang hendak memperoleh sedikit jatah rangsum dengan memperebutkan kartu terlebih dahulu. Dimana wibawa guru?

Kesejahteraan guru adalah tugas negara untuk memenuhinya. Dikisahkan pada masa Khalifah al-Muntashir, pada madrasah al-Muntasyiriyah menghabiskan dana yang sangat banyak untuk operasional selama satu tahun. Darul Ilmi di Kairo, yang didirikan oleh al-Hakim Biamrillah pada tahun 1004 M menghabiskan kira-kira 257 dinar setiap tahun yang digunakan untuk membeli tikar, kertas, gaji pemimpin perpustakaan, air, gaji pesuruh, memenuhi keperluan para ulama (kertas, tinta, pena), memperbaiki kain pintu, menjilid buku, membeli tikar bulu (untuk tempat duduk pada musim dingin).99 Dalam pembiyayaan itu agaknya belum termasuk gaji guru dan karyawan sekolah.100

Ahmad Tafsir mengatakan bahwa Nizam al-Mulk mengeluarkan beaya yang besar dalam pendidikan, sebesar 600. 000 dinar setiap tahunnya untuk beaya operasional seluruh madrasah dan yang 60. 000 dinar untuk madrasah Nizamiyah Baghdad. Satu dinar setara dengan 4, 025 gram emas. Jadi beaya setahun madrasah Nizamiyah Baghdad saja menghabiskan lebih dari 240 kilogram emas, sedangkan beaya semua sekolah yang diurus oleh Nizam al-Mulk dalam setiap tahun mencapai lebih dari 2,4 ton emas.101

Perbandingan yang muncul adalah jika emas itu ditukarkan dengan rupiah dengan kurs saat ini, tentu jumlahnya akan trilyunan rupiah dan secara otomatis tidak akan ada guru yang dimiskinkan oleh pendidikan, serta semua lapisan masyarakat dapat mengakses pendidikan seperti al-Ghazali waktu itu yang lahir dari keluarga miskin dan berhasil menjadi sosok pemikir agung.

Keseriusan pemerintah dalam penanganan pendidikan pada masa Nizam al-Mulk sangat serius dan terencana, sehingga semua yang terkait dengan pendidikan sangat diperhatikan, mulai dari sarana dan prasarana pendidikan sampai dengan kesejahteraan gurunya. Dalam berita sejarah tidak pernah dikabarkan bahwa al-Ghazali memiliki pekerjaan sambilan selain mengajar, hal ini cukup dijadikan dalih bahwa kesejahteraan guru pada saat itu memang sangat diperhatikan, dizaman 900 tahun yang lalu.

e.       Ide kemunculan lembaga sekolah

Dari uraian diatas, kalau kita cermati lebih jauh ternyata ide-ide penyelenggraan pendidikan memang sudah ada semenjak manusia lahir dan berkembang sesuai zaman. Dengan menggunakan beragam penyempurnaan sampai akhirnya menampakkan diri seperti yang kita kenal sekarang. Secara runtutnya adalah sebagai berikut:

1)      Sekolah masyarakat

Pada prinsipnya pendidikan adalah tanggung jawab orang tua untuk melakukannya. Pemberdayaan potensi anak sedini mungkin dilakukan supaya mereka terbekali keilmuan yang dapat digunakan untuk bekal kehidupannya dikemudian hari. Hal ini berawal dari ayat al-Quran yang menyatakan bahwa setiap orang haruslah menjaga diri dan keluarganya dari api nereka.

Pemahaman yang muncul adalah bahwa manusia membutuhkan sesuatu dalam upayanya menghindarkan diri dan keluarganya dari api neraka. Pendalaman ilmu agama adalah jawabannya, supaya gerak dan langkah manusia senantiasa berlandaskan ajaran agama dan terhindarkan dari kesalahan. Disamping itu untuk tetap menjaga keberadaan dan kelangsungan manusia menjalankan ibadahnya, maka manusia membutuhkan kemakmuran didunia dan untuk memperolehnya, manusia membutuhkan ilmu dunia. Sehingga pembekalan anak atas ilmu agama dan keduniaan mutlak diperlukan.

Kewajiban ini jarang sekali disadari oleh kebanyakan orang, mereka beranggapan bahwa pendidikan adalah urusan guru-guru yang berada di Masjid ataupun sekolah, sedangkan orang tua hanya berkewajiban memberinya makan dan sedikit nasehat serta senantiasa berdoa bagi anak. Hal ini diperparah dengan adanya sedikit orang tua yang dapat membekali anaknya akan kedua keilmuan tersebut. Kalaupun ada, mereka cenderung merasa kerepotan untuk melakukannya sendiri dan merasa tidak efisien.

Dari sinilah lantas muncul gagasan untuk menciptakan sebuah lembaga atau tepatnya tempat penyelenggaraan pendidikan secara masal, seperti yang kita kenal sekarang adalah sekolah. Dalam perkembangannya, sekolah terus saja mengalami dinamikanya dalam segala bentuknya. Baik dari sisi manajemennya ataupun tujuan yang hendak dicapai, ini semua merupakan sebuah upaya untuk benar-benar menjadikan pendidikan berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu memberdayakan potensi murid.

2)      Sekolah perorangan

Idealisme merupakan ruh bagi setiap orang yang muncul dari anugrah paling besar yaitu akal. Setiap manusia akan mengalami perkembangan pemikirannya sendiri-sendiri dengan berbagai ragam corak yang mempengaruhinya. Pemikiran ini selanjutnya dapat membentuk sebuah kepribadian bahkan sebuah ideologi yang senantiasa akan terus diperjuangkan untuk dapat dikenal dan diikuti oleh orang sekelilingnya.

Berkaca kepada ketika al-Ghazali pulang dan mendirikan sekolah untuk calon sufi. Terlihat bahwa al-Ghazali memiliki sebuah bangunan pemikiran yang sudah menjadi suatu kepribadian dan diyakini sebagai sesuatu yang baik, sehingga al-Ghazali sangat berkeinginan dan berkepentingan untuk menyebarkan dan mengajarkannya kepada masyarakat.

Penyebaran dan pengajaran akan suatu keyakinan membutuhkan sebuah media. Sekolah adalah media yang paling efisien untuk menyebarkan ajaran tersebut. Hal ini pada saat sekarang banyak dilakukan oleh ormas-ormas keagamaan yang mengaku sebagai penerus dari sebuah idealisme seorang tokoh, sehingga pada prinsipnya mereka memang sangat berkepentingan untuk mencari pengikut guna mempertahankan eksistensinya dengan menggunakan sekolah dengan label tertentu sebagai media pembelajaran.

3)      Sekolah Negri

Negara memang sangat berkepentingan terhadap pembentukan sebuah sekolah. Disamping sebagai sarana untuk menanamkan ideologi negara secara menyeluruh, juga sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan pembekalan ilmu pengetahuan. Dalam sekolah negara, tujuan pendidikan akan disesuaikan dengan tujuan negara yang muncul dari falsafah negara.

Madrasah Nizamiyah adalah bukti sejarah atas kepentingan negara untuk menanamkan ideologi sunny dan menggeser ideologi syiah yang dibawa oleh dinasti Buwaihi. Hampir semua materi pendidikan yang diberikan merupakan materi agama yang berlandaskan keyakinan sunny. Sekolah model ini merupakan sebuah bentuk monopoli negara terhadap pendidikan. Mengapa? Karena segala urusan yang berkaitan dengan sekolah menjadi otoritas negara untuk menentukan dan menanggungnya.

7.      Murid

a.      Sebuah prolog

Murid adalah sosok yang memperoleh pengajaran. Kata murid berasal dari bahasa arab iradah yang berarti berkehendak, sedangkan kata muridan merupakan bentuk dari isim failnya yang berarti orang yang berkehendak. Orang yang menghendaki tentang sesuatu dan ketika kita tarik dalam pembahasan pendidikan maka akan bermakna orang yang menghendaki pengajaran.

Abuddin Nata mendefinisikan murid sebagai orang yang menghendaki agar mendapatkan ilmu pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dan kepribadian yang baik untuk bekal hidupnya, agar berbahagia didunia dan akherat dengan jalan belajar yang sungguh-sungguh.102 Untuk mencapai seperti itu maka hendaklah terlebih dulu murid menata diri dan mengetahui tujuan mencari ilmu.

Pada dasarnya, setiap orang memiliki potensi-potensi yang diberikan oleh Allah semenjak lahir. Untuk selanjutnya menuntut untuk dikembangkan lebih lanjut supaya manusia cukup terbekali dalam menapaki kehidupan dunia. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya bimbingan yang kontinu dan menyeluruh terhadap semua potensi yang dimiliki manusia, sehingga nantinya manusia benar-benar terbekali dengan potensinya sendiri.

Pendidikan pada dasarnya hanya merupakan sebuah upaya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki murid. Pancingan yang digunakan adalah beragam materi pelajaran yang tertata dan terkontrol supaya benar-benar dapat mengembangkan potensi dengan maksimal dan menghasilkan sosok manusia-manusia yang sempurna. Manusia sempurna dalam Islam haruslah:

1)      Jasmaninya sehat, serta kuat, termasuk berketrampilan.

2)      Akalnya cerdas, serta pandai.

3)      Hatinya (kalbunya) penuh iman kepada Allah.103

Untuk mencapai tujuan ini, maka seorang murid memiliki beberapa kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, al-Ghazali mengemukakan tentang adab dan kewajiban-kewajiban murid. Posisi murid sebagai obyek didik hendaknya diletakkan sesuai porsinya, dengan melihatnya sebagai sosok yang unggul, supaya dapat menjadi motivasi bagi murid ataupun bagi guru.

b.      Dasar al-Quran

1)      QS. At-Taubah, ayat 122

 

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya104

 

2)      QS. An-Nahl, ayat 43

Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui105

 

 

 

c.       Dasar hadits

1)      HR. Abu Naim

,

Ilmu itu adalah gudang-gudang, anak kuncinya pertanyaan. Dari itu bertanyalah! Sesungguhnya diberi pahala pada bertanya itu empat orang, yaitu penanya, yang berilmu, pendengar dan yang suka kepada yang tiga tadi106

 

2)      HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Abdul Birri

Suatu bab dari ilmu yang dipelajari seseorang, adalah lebih baik baginya dari dunia dan isinya107

 

 

d.      Adab dan tugas murid

al-Ghazali merumuskan beberapa persyaratan yang hendaknya dipenuhi oleh seorang murid, dengan harapan murid dapat memperoleh tujuan yang diharapkan, yaitu:

1)      Mendahulukan kesucian batin dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela. Karena ilmu pengetahuan itu adalah kebaktian hati, sholat batin dan pendekatan jiwa kepada Allah Taala

2)      Seorang pelajar itu hendaklah mengurangi hungannya dengan urusan duniawi, menjauhkan diri dari kaum keluarga dan kampung halaman. Sebab segala hubungan itu mempengaruhi dan dapat memalingkan hati kepada yang lain.

3)      Seorang pelajar itu jangan menyombong dengan ilmunya dan jangan menentang gurunya, tetapi menyerah seluruhnya kepada guru dengan keyakinan kepada segala nasihatnya, sebagaimana seorang sakit yang bodoh yakin kepada dokter yang ahli berpengalaman

4)      Seorang pelajar pada tingkat permulaan hendaklah menjaga diri dari mendengar pertentangan orang tentang ilmu pengetahuan. Sama saja yang dipelajarinya itu ilmu keduniaan atau ilmu keakhiratan. Karena yang demikian itu meragukan pikirannya, mengherankan hatinya, melemahkan pendapatnya dan membawanya kepada berputus asa dari mengetahui dan mendalaminya

5)      Seorang pelajar itu tidak meninggalkan suatu mata pelajaranpun dari ilmu pengetahua yang terpuji dan tidak suatu macampun dari berbagai macamnya, selain dengan pandangan dimana ia memandang kepada maksud dan tujuan dari masing-masing ilmu itu

6)      Seorang pelajar itu tidak memasuki suatu bidang dalam ilmu pengetahuan dengan serentak. Tetapi memelihara tertib dan memulainya dengan yang lebih penting

7)      Seorang murid tidak mempelajari suatu bidang ilmu pengetahuan, sebelum menyempurnakan bidang yang sebelumnya. Karena ilmu pengetahuan itu tersusun dengan tertib sebagaimana menjadi jalan menuju kebahagiaan yang lain. Mendapat petunjuklah kiranya orang yang dapat memelihara tata tertib dan susunan itu

8)      Seorang pelajar itu hendaklah mengenal sebab untuk dapat mengetahui ilmu yang termulia. Yang demikian itu dikehendaki dua perkara:

9)      Kemuliaan hasilnya

10)  Kepercayaan dan kekuatan dalilnya

11)  Bahwa tujuan pelajar sekarang adalah kebatinannya dan mencantikannya dengan sifat keutamaan

12)  Seorang pelajar harus mengetahui hubungan antara ilmu pengetahuan dan tujuannya. Supaya pengetahuan yang tinggi dan dekat dengan jiwanya itu membawa pengaruh kepada tujuannya yang masih jauh dan yang penting membawa pengaruh kepada yang tidak penting.108

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

EVALUASI PENDIDIKAN

 

A.    Pengertian

Kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran. Dalam kamus ilmiah populer, evaluasi diartikan sebagai penaksiran, penilaian, perkiraan keadaan, penentuan nilai.109Sedangkan secara istilah evaluasi diartikan sebagai sebuah kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu obyek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan.110

Pengertian evaluasi ini kiranya masih terlalu luas, sehingga dapat digunakan dalam berbagai bidang yang memang membutuhkan evaluasi untuk dapat mencapai sebuah hasil yang diinginkan. Evaluasi merupakan suatu tindakan untuk menentukan nilai, ketika kita mencermati devinisi evaluasi diatas maka terdapat empat kata kunci yang tersurat dalam devinisi tersebut yang saling mengait.

Pertama adalah tindakan nyata yang dilakukan oleh evaluator (orang yang melakukan tindakan evaluasi) untuk melakukan sebuah penilaian terhadap sebuah objek, kedua adalah objek yang dinilai itu sendiri yang dapat mengambil bentuk beragam, bisa berupa benda ataupun non benda, bisa yang bergerak ataupun non bergerak, bisa yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Ketiga adalah instrument berupa alat yang digunakan untuk melakukan penilaian dengan kaidah-kaidah tertentu yang memang benar-benar handal sehingga hasil evaluasi dapat dipertanggung jawabkan. Dan yang keempat adalah hasil evaluasi yang merupakan maksud dari tindakan evaluasi sebagai sebuah pekerjaan untuk menilik lebih jauh pencapaian target.

Berangkat dari pemaknaan diatas, maka evaluasi pendidikan merupakan suatu tindakan penilaian pendidikan yang menggunakan sebuah instrument penilaian untuk mengetahui hasil dari sebuah proses pendidikan. Lebih lanjut, Lembaga Administrasi Negara memberikan batasan-batasan mengenai evaluasi pendidikan, bahwa evaluasi pendidikan adalah:

1.      Proses/kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan.

2.      Usaha untuk memperoleh informasi berupa umpan balik (feed back) bagi penyempurnaan pendidikan.111

Suharsimi Arikunto tidak memberikan devinisi secara khusus tentang evaluasi pendidikan, namun ia hanya memberikan sebuah patokan dasar tentang evaluasi pendidikan untuk selanjutnya dapat dibuat sebuah pemaknaan evaluasi pendidikan secara mandiri. Menurutnya, evaluasi pendidikan pada prinsipnya berpangkal dari:

1.      Mengukur

Adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran dan pengukuran bersifat kuantitatif

2.      Menilai

Adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesautu dengan ukuran baik buruk, dan penilaian bersifat kualitatif

3.      Mengadakan evaluasi

Adalah meliputi kedua langkah diatas, yakni mengukur dan menilai.112

Evaluasi pendidikan merupakan sebuah tindakan pengukuran terhadap objek evaluasi yang dilakukan oleh evaluator untuk dapat menilai secara objektif untuk mengetahui hasil dari sebuah proses pendidikan, dengan menjadikan guru sebagai evaluator dan murid sebagai objek evaluasi dan prestasi sebagai hasil dari evaluasi yang dapat memberikan makna tersendiri bagi siswa, guru ataupun institusi sekolah.

Sebuah konsep pendidikan diimplementasikan melalui media sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan itu sendiri, yang didalamnya terdapat sebuah transformasi pengetahuan yang melibatkan adanya guru dan murid. Sehingga inti dari dari pendidikan adalah guru, murid dan pengajaran. Sekolah hanyalah media saja dan bukan merupakan hal yang pokok.

Dalam kenyataannya banyak kita jumpai proses pembelajaran yang berada diluar sekolah. Merujuk pada pendapat Suharsimi Arikunto, bahwa sekolah adalah tempat untuk mengolah siswa supaya menjadi sosok yang mandiri, sehingga perumpamaan yang muncul adalah sekolah merupakan sebuah pabrik yang berisi bermacam-macam mesin untuk memproduksi sebuah barang yang dinginkan oleh pabrik tersebut, sedangkan murid adalah barang mentah yang hendak diolah.

Murid sebagai barang mentah masuk kedalam sekolah untuk diolah oleh sekolah melalui transformasi yang memiliki mesin-mesin berupa guru-guru, bahan pengajaran, metode mengajar, sistrem evaluasi sebagai instrument pengendali dari perjalanan transformasi dan juga perangkat lainnya sebagai kelengkapan sebuah pabrik untuk mengasilkan produk yang diinginkan. Inilah sebuah gambaran kecil tentang sebuah proses pendidikan yang ada.

B.     Maksud Evaluasi

Evaluasi pendidikan dilakukan tentunya memiliki maksud-maksud tertentu, sebuah tindakan tidak mungkin lepas dari maksud-maksud tertentu. Dari sini menjadikan sebuah tindakan evaluasi haruslah mempunyai arti dan dapat dipertanggung jawabkan. Mengapa harus menilai? Pertanyaan ini memang sangat fundamental, sebagai sebuah landasan pijak filosofis dalam tindakan evaluasi. Seberapa pentingkah evaluasi, sehingga semua yang ada membutuhkan evaluasi?

Terdapat 3 maksud penting dalam pelaksanaan sebuah evaluasi, yaitu:

1.      Evaluasi dilakukan untuk mengukur dan menilai perjalanan sebuah konsep pendidikan, serta mengawalnya supaya tetap berada pada jalur yang telah ditentukan untuk dapat mengetahui perjalanan konsep pendidikan dan dapat menghasilkan out put sesuai dengan tujuan pendidikan.

2.      Evaluasi dilakukan sebagai sebuah bentuk pencirian guru yang profesional. Guru sebagai sosok pelaksana dari konsep pendidikan harus melaksanakan pengontrolan terhadap materi ajar dengan melakukan evaluasi pengajaran secara berkala dan terencana.

3.      Evaluasi dilakukan sebagai bentuk kegiatan manajemen yang meretas dalam dunia pendidikan, yang meliputi dari kegiatan planning, programing, organizing, actuating, controling dan juga evaluating.

C.    Tujuan Evaluasi

Hasil dari sebuah evaluasi pendidikan dapat juga dikatakan sebgai prestasi belajar. Orang akan menilai seorang murid dan memberikan label pandai ataupun bodoh dengan melihat prestasi yang diperoleh. Memang tidak adil untuk memberikan label pandai ataupun bodoh terhadap seorang siswa dengan melihat satu hasil evaluasi, kerana evaluasi merupakan suatu tindakan yang kontinyu dan berkelanjutan, sehingga banyak kemungkinan yang mungkin terjadi dalam jarak satu evaluasi dengan evaluasi beriktnya.

1.      Evaluasi pendidikan setidaknya bertujuan untuk:

2.      Umpan balik bagi pendidik dalam mengajar

3.      Keperluan diagnostik

4.      Keperluan bimbingan dan penyuluhan

5.      Keperluan seleksi

6.      Keperluan penempatan atau penjurusan

7.      Keperluan menentukan kurikulum

8.      Menentukan kebijaksanaan sekolah.113

Muchtar Buchori mengidentifikasi bahwa tujuan khusus dari evaluasi pendidikan adalah:

1.      Untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik setelah ia menyadari pendidikan selama jangka waktu tertentu.

2.      Untuk mengetahui tingkat efisien metode-metode pendidikan yang dipergunakan pendidikan selama jangka waktu tertentu tadi.114

Tujuan evaluasi hendaknya disesuaikan dengan bidang yang dilakukan evaluasi, jika dalam bidang pendidikan maka evaluasi hendaknya ditujukan untuk mengukur keberhasilan pendidikan yang diterapkan. Dalam kelanjutannya, tujuan evaluasi pendidikan akan semakin berkembang dengan melakukan penyesuaian-peyesuaian kebutuhan yang berkembang.

D.    Fungsi Evaluasi

Suatu tindakan dilakukan disamping memiliki tujuan, selayaknya tindakan itu juga memiliki fungsi atau manfaat, sehingga tindakan evaluasi benar-benar berarti dan memiliki nilai lebih. Fungsi evaluasi dalam pendidikan dapat ditilik dari tiga segi, yaitu:

1.      Segi psikologi

Dari sisi ini fungsi pendidikan dapat disoroti dari dua sisi, yaitu dari sisi peserta didik dan dari sisi pendidik.

a.       Bagi peserta didik, evaluasi pendidikan secara psikologis akan emmberikan pedoman atau pegangan batin kepada mereka untuk mengenal kapasitas dan status dirinya masing-masing ditengah kelompok atau kelasnya.

b.      Bagi pendidik, evaluasi pendidikan akan memberikan kepastian atau ketetapan hati kepada diri pendidik tersebut, sudah sejauh manakah kiranya usaha yang telah dilakukannya selama ini telah membawa hasil, sehingga ia secara psikologis memiliki pedoman atau pegangan batin yang pasti guna menentukan langkah-langkah apa saja yang dipandang perlu dilakukan selanjutnya.

2.      Segi didaktik

Bagi peserta didik, secara didaktik evaluasi pendidikan (khususnya evaluasi hasil belajar) akan dapat memberikan dorongan (motivasi kepada mereka untuk dapat memperbaiki, meningkatkan dan mempertahankan prestasinya. Sedangkan bagi pendidik setidaknya memiliki 5 macam fungsi, yaitu:

a.       Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha (prestasi yang telah dicapai oleh peserta didiknya)

b.      Memberikan informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing peserta didik ditengah-tengah kelompoknya.

c.       Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didik.

d.      Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi peserta didik yang memang memerlukannya.

e.       Memberikan petunjuk tentang sudah sejauh manakah program pengajaran yang telah ditentukan telah dapat dicapai.

3.      Segi Administratif

Secara administratif, evaluasi pendidikan memiliki 3 fungsi, yaitu:

a.       Memberikan laporan.

b.      Memberikan bahan-bahan keterangan (data)

c.       Memberikan gambaran.115

E.     Ciri-ciri penilaian dalam pendidikan

Suharsimi Arikunto dalam bukunya Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan menyatakan bahwa ada 5 macam ciri dari penilaian pendidikan, yaitu:

1.      Penilaian dilakukan secara tidak langsung.

2.      Penggunaan ukuran kuantitatif, penilaian pendidikan bersifat kuantitatif artinya menggunakan simbol bilangan sebagai hasil pertama pengukuran, setelah itu diinterpretasikan kebentuk kualitatif.

3.      Penilaian pendidikan menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap.

4.      Bersifat relatif, artinya tidak sama atau tidak selalu tetap dari satu waktu kewaktu yang lain.

5.      Dalam penilaian pendidikan itu sering terjadi kesalahan-kesalahan. Adapun sumber kesalahan dapat ditinjau dari berbagai faktor, yaitu:

a)      Terletak pada alat ukurnya.

b)      Terletak pada orang yang melakukan penilaian.

c)      Terletak pada anak yang dinilai.

d)     Terletak pada situasi dimana penilaian berlangsung.116

F.     Prinsip-prinsip Evaluasi

Prinsip-prinsip dasar yang harus dipenuhi dalam evaluasi merupakan syarat mutlak untuk dapat memperoleh tujuan evaluasi. Diantaranya yaitu:

1.      Kontuinitas

2.      Keseluruhan

3.      Objektifitas

4.      Kooperatif117

Kontuinitas berarti bahwa evaluasi harus dilakukan secara kontinyu samapi dengan tujuan dari pendidikan terpenuhi. Antara hasil evaluasi yang pertama kali dilakukan harus sinergi dengan bentuk evaluasi selanjutnya dan seterusnya. Sehingga hasil evaluasi merupakan rangkaian yang saling terikat untuk menjadi tolak ukur dalam melihat out put yang akan dihasilkan.

Keseluruhan berarti bahwa evaluasi dilakukan secara menyeluruh dalam semua materi ajar yang telah digariskan oleh kurikulum, sehingga evaluasi benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pengawas dari kurikulum yang merupakan penjabaran lebih jauh dari tujuan pendidikan yang berimplikasi pada adanya upaya perimbangan pemberdayaan potensi murid yang coba dikembangkan dalam sekolah.

Objektifitas berarti bahwa evaluasi dilakukan secara objektif dengan melihat langsung objek evaluasi dan merupakan bentuk penilaian langsung terhadap objek evaluasi, sehingga seorang evaluator haruslah orang yang benar-benar independen, dalam artian dapat memisahkan unsur subyektifitas ketika melakukan tindakan evaluasi.

Kooperatif berarti bahwa evaluasi dilakukan secara bersama-sama dalam menentukan hasil akhir sebuah jenjang pendidikan. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan hasil-hasil evaluasi yang dilakukan oleh evaluator lain untuk selanjutnya dibandingkan dengan standarisasi yang telah ditetapkan untuk mendapatkan sebuah nilai akhir.

G.    Ciri-ciri Evaluasi yang baik

Evaluasi yang baik memiliki tiga unsur pokok, diharapkan dengan evaluasi yang baik dapat memperoleh hasil yang baik pula, yaitu:

1.      Evaluasi dan hasil langsung

Dalam proses belajar mengajar, seringkali kita melakukan evaluasi. Baik evaluasi itu dilakukan pada saat proses pembelajaran sedang berlangsung untuk mengetahui kesesuaian metode yang digunakan ataupun evaluasi yang dilakukan setelah proses belajar mengajar selesai untuk mengetahui hasil yang diperoleh murid dalam proses belajar mengajar.

2.      Evaluasi dan transfer

Hal penting yang berkenaan dengan proses belajar mengajar adalah adanya kemungkinan mentransfer hasil peoses belajar mengajar kedalam sebuah bentuk yang fungsional, mempraktekkan secara langsung teori-teori yang diperoleh murid untuk pembuktian secara nyata dilapangan.

3.      Evaluasi langsung dari proses belajar118

Disamping kita dituntut untuk dapat menilai dan mengetahui hasil belajar, kita juga harus dapat menilai proses belajar mengajar, suapaya tindakan belajar mengajar dapat diorganisasi dengan baik, sehingga koordinasi akan tumbuh dan berjalan dengan baik sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.

H.    Objek Evaluasi

Objek evaluasi menurut Chabib Thoha ada 4 macam, yaitu:

1.      Evaluasi masukan (input)

Adalah evaluasi yang berkaitan dengan kwalitas masukan berupa anak didik yang terdiri dari tes intelegensi dan juga tes kepribadian dengan asumsi bahwa ketika sekolah mendapatkan input yang berkwalitas, maka akan mudah untuk mengolahnya dan menjamin untuk dapat mencapai tujuan pendidikan dengan tepat dan sempurna.

2.      Evaluasi Proses

Adalah evaluasi yang dilakukan terhadap proses belajar mengajar, berupa kemampuan guru dalam menyampaikan pelajaran, kesesuaian metode pengajaran, penilikan kurikulum dan media pembelajaran yang kesemuanya memang harus dilakukan secara berkala dan terencana secara matang.

3.      Evaluasi Produk

Adalah evaluasi yang dilakukan terhadap produk dari pendidikan, merupakan hasil akhir dari proses pendidikan. Seringkali evaluasi produk dijadikan barometer bagi kesuksesan sekolah, karena hal ini dapat membangun imej dimasyarakat tentang sekolah dan kredibilitas sekolah dipertaruhkan.

4.      Evaluasi Konteks.119

Adalah evaluasi yang berkaitan dengan masalah-masalah kompleks yang melibatkan hal-hal diluar proses pendidikan tetapi ia secara langsung mempengaruhi proses pendidikan, seperti lingkungan, sosial, budaya dan keluarga.

Dalam hal ini, Suharsimi Arikunto menawarkan tiga bentuk objek dari evaluasi, yaitu:

1.      Input yang meliputi:

a)      Kemampuan

b)      Kepribadian

c)      Sikap-sikap

d)     Intelegensi

2.      Transformasi yang meliputi:

a)      Kurikulum/materi

b)      Metode dan cara penilaian

c)      Sarana pendidikan/media

d)     Sistem administrasi

e)      Guru dan personal lainnya

3.      Out Put

Adalah hasil dari proses pendidikan, merupakan evaluasi terakhir yang dilakukan kepada murid dengan menggunakan tes pencapaian/achievement test.120

I.       Langkah-langkah evaluasi

Ada enam langkah yang harus ditempuh evaluator untuk melakukan tindakan evaluasi, yaitu:

1.      Menyusun rencana hasil belajar, meliputi:

a)      Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi

b)      Menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi

c)      Memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan didalam pelaksanaan evaluasi

d)     Menyusun alat-alat pengukur yang akan dipergunakan dalam pengukuran dan penilaian hasil belajar peserta didik.

e)      Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi

2.      Menentukan frekwensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri (kapan dan seberapa kali evaluasi hasil belajar itu akan dialksanakan)

3.      Menghimpun data

4.      Melakukan verifikasi data

5.      Mengolah dan menganalisa data

6.      Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan

7.      Tindak lanjut hasil evaluasi.121

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

SISTEM EVALUASI DALAM KONSEP PENDIDIKAN AL-GHAZALI

 

  1. Landasan sistem evaluasi pendidikan al-Ghazali

Ilmu merupakan proses yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Ilmu secara kualitatif merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga mendapatkan kebahagiaan didunia dan akhirat.122Menimba ilmu merupakan kewajiban yang dibebankan oleh Tuhan kepada manusia, sebagai hamba yang pada prinsipnya memiliki dua garis hubungan, yaitu horisontal berkaitan dengan kehidupan manusia didunia dan vertikal yang berkaitan dengan keakhiratan.

Dunia dijadikan sebagai sarana untuk menuju akhirat yang didalamnya mengandung beberapa implikasi yang harus diterima oleh manusia, berupa penuntutan ilmu dunia untuk dapat menjaga keberadaan manusia dan menjadikan bekal di akhirat. Manusia dapat mempelajari ilmu-ilmu yang dibutuhkan tersebut melalui proses pendidikan, seperti halnya para Nabi yang mendapatkan pendidikan langsung dari Allah.

Landasan utama yang digunakan dalam pendidikan al-Ghazali adalah teori al-Fadhilah. Teori ini merupakan ide dasar dari konsep pendidikan al-Ghazali yang memandang manusia sebagai sosok yang mempunyai nilai positif tentang kecerdasan, daya kreatif dan juga keluhuran budi. Manusia bukanlah sosok yang bodoh dan tidak memiliki potensi, seperti dalam pandangan determinisme, sehingga membutuhkan adanya masukan untuk menciptakan potensi yang dapat membekalinya dalam kelangsungan hidupnya.

Dalam hal ini, peran pendidikan adalah menonjolkan dan menguatkan potensi yang dimiliki manusia supaya dapat menjadi sebuah kepribadian. Sebagai sebuah upaya pemberdayaan lebih jauh potensi yang dimiliki manusia. Oleh karena itu, konsep pendidikan harus memperhatikan potensi-potensi yang dimiliki manusia, dengan maksud supaya terjadi kesesuaian antara alat pengembangan dengan bahan yang akan dikembangkan.

Mengapa harus sesuai? Karena jika tidak terjadi kesesuaian antara alat dengan bahan yang akan dikembangkan, hal ini dapat menghasilkan sesuatu yang sebaliknya, yaitu bahwa pendidikan dapat menumbuhkan sikap negatif; perilaku kekerasan, tidak peduli terhadap sesama atau kejahatan lain.123Tentunya hal ini merupakan sesuatu yang bertolak belakang dengan teori al-Fadhilah yang menghendaki terciptanya manusia sempurna.

Dari sini, pada prinsipnya pendidikan Islam memang menghendaki terciptanya manusia-manusia sempurna yang berlandaskan Islam. Manusia yang memiliki dua peran sekaligus dalam satu waktu. Disatu sisi manusia diciptakan dan berperan sebagai sosok hamba, sedangkan disisi yang lain manusia diciptakan dan berperan sebagai sosok khalifah. Oleh karena itu pendidikan Islam harus diarahkan kepada dua dimensi, yaitu dimensi dialektikal horisontal dan dimensi ketundukan vertikal.124

Konsekwensi logis yang ada dari keadaan ini adalah manusia harus terbekali keilmuan yang memenuhi kebutuhannya dalam memerankan dua fungsi tersebut. Al-Ghazali telah merumuskan hal ini. Dalam konsep pendidikannya, al-Ghazali telah mencoba untuk menyeimbangkan kebutuhan ilmu-ilmu manusia terkait dengan dua fungsi yang dimiliki manusia. Namun, al-Ghazali tetap menempatkan ilmu agama sebagai bidang yang paling mulia, karena fungsi utama manusia adalah untuk beribadah kepada Tuhannya dan agama mengajarkan tuntunan beribadah tersebut, sedangkan ilmu dunia digunakan untuk menunjang kehidupan manusia didunia, yang berkaitan dengan fungsi manusia sebagai khalifah untuk mengatur dan menjaga kelestarian dunia.

Proses pendidikan yang dilakukan manusia merupakan pengamalan dari sebuah konsep pendidikan yang telah dirumuskan oleh para ahli pendidikan, termasuk didalamnya adalah al-Ghazali. Dalam perumusannya, al-Ghazali pada prinsipnya telah memperlihatkan sebuah cara atau metode yang dapat digunakan untuk mengawasi dan mengendalikan proses pendidikan, sehingga perjalanan proses pendidikan tidak keluar dari jalur yang telah ditentukan dan dapat mengantarkan pada tujuan pendidikan. Alat pengawas itu berupa sistem evaluasi.

Dalam pendidikan Islam, evaluasi pendidikan dapat diberikan batasan sebagai suatu kegiatan untuk menentukan taraf kemampuan suatu pekerjaan dalam proses pendidikan Islam.125Evaluasi dapat juga diartikan sebagai penilaian ataupun penaksiran tentang keadaan objek dengan menggunakan sebuah alat yang dapat dipercaya. Dalam bahasa Arab dikenal kata Taqdiirul Qiimah untuk menunjukkan makna penilaian yang berasal dari akar kata Qadara.126Pemaknaan ini berimbas pada adanya penggunaan angka-angka sebagai simbol penilaian.

Dalam bahasa Arab juga dikenal sebuah kata yang pemaksanaannya sangat dekat dengan kata evaluasi, ialah kata Muhasabah, yang berasal dari kata Hasiba dan berarti menghitung, atau kata Hasaba yang berarti memperkirakan.127 Al-ghazali menggunakan kata tersebut dalam menjelaskan tentang evaluasi diri (Muhasabah an-Nafs) setelah melakukan aktifitas.128

Dalam penggunaan istilah ini, al-Ghazali mendasarkannya pada surat al-Hasyr ayat 18 sebagai landasan pokok dalam tindakan evaluasi diri;

(18)

 

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan129

 

Berdasarkan ayat diatas, pengertian evaluasi dapat dijelaskan dengan memperhatikan kata Waltanzur (memperhatikan) yang berasal dari kata Nazara. Kata tersebut sepadan dengan kata Tadabbara yang berarti menimbang, Fakkara yang berarti memikirkan, Qaddara yang berarti memperkirakan dan Qayyasa yang berarti membandingkan.130

Merujuk pada ayat ini, Suharsimi Arikunto dalam bukunya Dasar-dasar Evaluasi menjelaskan pengertian evaluasi dengan menggunakan tiga istilah, yaitu pengukuran, penilaian dan evaluasi itu sendiri. Berpijak dari uraian diatas bahwa evaluasi adalah suatu usaha memikirkan, memperkirakan, membandingkan, menimbang, mengukur dan menghitung aktifitas diri dan orang lain yang telah dikerjakan, dikaitkan dengan tujuan yang dicanangkan untuk meningkatkan usaha dan aktifitas menuju tujuan yang lebih baik diwaktu mendatang.131

Dikaitkan dengan pendidikan, evaluasi pendidikan berarti usaha memikirkan, membandingkan, memprediksi (memperkirakan), menimbang, mengukur dan menghitung segala aktifitas yang telah berlangsung dalam proses pendidikan, untuk meningkatkan usaha dan aktifitasnya sehingga dapat seefektif dan seefisien mungkin dalam mencapai tujuan yang lebih baik diwaktu yang akan datang.132

Disamping al-Ghazali menggunakan ayat untuk melandasi konsep evaluasi pendidikannya, dia juga menggunakan Hadits untuk lebih menguatkannya;

,

Hitunglah diri kalian semua, sebelum dilakukan penghitungan atas diri kalian semua dan timbanglah amal perbuatan kalian semua, sebelum dilakukan penimbangan terhadap amal kalian semua133

 

Dalam kitab Ayyuhal Walad, al-Ghazali memberikan pengertian kepada murid untuk senantiasa mengevaluasi diri secara mandiri dengan berani bertanggung jawab atas segala tindakan;

Wahai murid, hiduplah sekehendakmu karena sesungguhnya engkau akan mati dan menciailah sesukamu karena sesungguhnya engkau akan memisahkan diri dari yang dicintai dan berbuatlah sekehendakmu karena sesungguhnya engkau akan menerima balasan dari perbuatanmu itu134

 

Dari pembacaan diatas, al-Ghazali mencoba untuk membuat sebuah rumusan evaluasi mandiri yang menyeluruh terhadap manusia dan menyadarkan diri bahwa segala yang ada memang membutuhkan sebuah evaluasi untuk dapat memaknai segala tindakan dan mengarahkannya supaya benar-benar dapat memberikan manfaat.

B.     Sumber sistem evaluasi al-Ghazali

Ilmu pengetahuan adalah sebuah saran untuk dapat menemukan kebenaran, sedangkan kebenaran yang hakiki adalah Tuhan. Semua yang ada didunia adalah hanya kebenaran yang bersifat nisbi dan bersifat sementara, maka ilmu pengetahuan adalah sebuah sarana untuk dapat mendekatkan diri kepada tuhan, untuk dapat menyingkap kebenaran yang hakiki, yaitu Tuhan.

Al-Ghazali merupakan sosok yang haus akan ilmu pengetahuan, ia senantiasa mempelajari dan mendalami ilmu pengetahuan sampai kepada akarnya. Dan hal ini merupakan kebiasaan al-Ghazali semenjak kecil yang terus dibawanya sampai akhirnya dia menemukan jalan untuk dapat menyingkap kebenaran hakiki, yaitu tasawuf.

Dalam kegemarannya untuk mempelajari dan mendalami ilmu pengetahuan sampai kepada akarnya tercermin dalam ungkapannya sebagai berikut;

Kehausan untuk mencari hakikat kebenaran sesuatu sebagai habit dan favorit saya dari sejak kecil dan masa mudaku merupakan insting dan bakat yang dicampakkan Allah SWT pada tempramen saya, bukan merupakan usaha atau rekaan saja135

 

Lebih jauh, dalam keseriusannya mempelajari dan mendalami suatu ilmu pengetahuan terllihat dalam perkataan al-Ghazali:

Aku telah menceburkan diri dalam lautan yang sangat dalam. Aku selami palungnya dengan gagah berani tanpa rasa takut. Aku merenung dalam setiap ruang yang gelap. Aku kaji setiap masalah yang sulit, kemudian menceburkan diri dalam jurang yang dalam. Kuteliti akidah setiap aliran, aku berusaha menggali rahasia yang ada disetiap aliran. Semua itu kulakukan untuk membedakan kebenaran kesalahan, keaslian dan kepalsuan. Jika aku bertemu dengan seseorang dari aliran bathiniyyah, aku akan pelajari ajaran kebathinannya. Bila bertemu dengan seorang dari aliran zahiriyah aku ingin mengetahui intisari pemikirannya. Apabila ia seorang filosof, aku akan mempelajari hakikat filsafatnya. Jika ia ahli ilmu kalam, aku akan berusaha keras untuk mengetahui puncak paham argumentasinya. Bila ia seorang sufi, saya akan mengukur kedalaman rahasia tasawufnya. Bila ia seorang ahli ibadah, saya akan mempelajari rujukan intisari ajarannya. Apabila ia seorang zindiq atau pembelot, saya mencari tahu sebab musabab keberanian mereka mengingkari Allah.136

Al-Ghazali adalah produk dari zamannya, yaitu zaman pertengahan. Sebuah zaman dalam Islam yang menjadi poros kemajuan pemikiran Islam. Perkembangan keilmuan dan pemikiran didukung oleh negara dengan memberikan fasilitas yang memadai, seperti penerjemahan karya-karya Yunani dan pembangunan perpustakaan juga madrasah.

Thusia adalah salah satu pusat kebudayaan Islam pada waktu itu, sehingga iklim kehidupan al-Ghazali sangatlah kental dengan nuansa intelektual ataupun politik berupa penggulingan dinasti Buwaihi yang berlandaskan keyakinan syiah oleh dinasti Saljuk yang berlandaskan keyakinan sunny. Pada akhirnya keyakinan sunny-lah yang mampu mempengaruhi corak pemikrian al-Ghazali, karena pada saat itu sunny menjadi ideologi negara.

Dalam pengembaraan intelektualnya, al-Ghazali telah mempelajari dan mendalami banyak ilmu pengetahuan. Kecerdasan yang dia miliki telah menjadikannya sosok ensiklopedi hidup dan megantarkannya ditahbiskan menjadi kepala madrasah Nidhamiyah. Al-Ghazali memulai pengembaraan intelektualnya dengan mempelajari dan mendalami Kalam dan berpindah dengan mempelajari dan mendalami Kebathinan, untuk selanjutnya pengembaraan intelektualnya tertuju pada Filsafat dan berhenti pada pendalaman Tasawuf.

Perjalanan intelektual al-Ghazali inilah yang kemudian membuat al-Ghazali berpendapat bahwa terdapat empat137 kelompok manusia pencari kebenaran yang masing-masing memiliki corak dan ragam jalan untuk memperoleh kebenaran, yaitu:

1.      Ahli ilmu kalam

Mereka mengaku ahli pikir dan selidik, yang menggunakan metode debat dalam memecahkan suatu permasalahan dan hasilnya itulah yang menjadi kesimpulan akhir dengan menafikan kaidah benar ataupun salah dari hasil akhir tersebut. Kebenaran merupakan kesepakatan kolektif, dengan kesepakatan bersama dan menjadi tanggung jawab bersama.

Metodologi kalam adalah dialektis, pendekatan dialektis merupakan pergeseran secara perlahan dari teks ke nalar. Namun teks masih ditempatkan pada posisi fundamental, sehingga produk atau argumen pendekatan ini terkesan bersifat penjelasan (explanatory), bukan ekplorasi (explatory).138Metode (pendekatan keilmuan) kalam lebih menekankan dimensi lahiriyah-tekstual, eksoterik, konkrit dan final.139

Pada satu sisi al-Ghazali membenarkan bahwa kalam bersumber dari dan berlandaskan Al-quran, pada sisi lain ia menganggap metodologi kalam terdiri dari kepercayaan (iman) dan rasionasi yang dicemari oleh silogisme palsu. Kalam telah terpengaruh oleh filsafat.140Dalam kelanjutannya, al-Ghazali lantas meninggalkan kalam karena ia menganggap kalam seringkali hanya mementingkan perdebatan dan mengabaikan landasan pijak yang harus dipegang.

Dalam al-Iqtisad fi al-Itiqad, al-Ghazali menetapkan bahwa hukum kalam adalah fardlu kifayah bagi kaum muslimin disuatu negri tertentu.141 Karena pada prinsipnya kalam hanya berfungsi untuk melindungi akidah yang telah dianut dari upaya penggoyahan dan bukan untuk menanamkan akidah tertentu kepada orang yang belum menganutnya, terlebih untuk menghayatinya lebih dalam.

2.      Golongan Bathiniyah

Setelah nabi Muhammad wafat, maka secara otomatis pedoman hidup berpangkal pada al-Quran, al-Hadits dan ulama (orang yang alim=mengetahui). Sebagian umat Islam ada yang memandang bahwa pewaris Nabi ialah orang-orang alim yang persis seperti Nabi, suci dari dosa (masum min al-dzunub)-atau dalam istilah kebathinan mahfudz), itulah yang fatwa-fatwanya wajib diikuti. Selain dia, tidak benar dan sesat.142

Golongan bathiniyah cenderung menafikan adanya penafsiran ataupun intepretasi dari pihak manapun. Ajaran yang disampaikan oleh imam yang terjaga dari dosa senantiasa dilaksanakan sesuai perintah tanpa dilakukan penggubahan ataupun sekedar mencoba menjadikannya terlihat lebih gampang untuk dilaksanakan. Mereka terlihat sangat penurut.

Metodologi pemikiran yang dibangun kelompok bathiniyah cenderung mengebiri peran akal dengan hanya mau menerima realitas yang bersumber dari imam yang dianggap masum. Sebab mereka meyakini seorang yang masum selalu berada disetiap masa dan generasi. Bathiniyah juga disebut Talimiyah.143 Sebutan talimiyah ini muncul dari doktrin yang mereka kembangkan berkenaan dengan otoritas proses talim (pengajaran) sebagai satu-satunya proses transformasi ilmu pengetahuan.144

Pada masa al-Ghazali, golongan bathiniyyah tidak segan-segan untuk melakukan tindakan kekerasan, termasuk dengan menghabisi orang yang mencoba menghalangi ataupun menghancurkan kelompoknya. Nizam al-Mulk adalah salah satu korban pembunuhan oleh aliran bathiniyah. Aliran ini baru benar-benar dapat ditumpas ketika tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan menundukkan kekhalifahan Saljuk.

3.      Golongan Filsafat

Mereka mengaku ahli logika/mantiq yang mendasarkan kebenaran itu pada rasionalitas/penalaran akal. Menurut mereka, masalah dianggap benar apabila dapat diterima akal. Dalam filsafat Islam, posisi akal ditempatkan pada kedudukan yang tinggi, karena fungsinya sebagai salah satu sumber pengetahuan dan alat penafsir dari ayat-ayat Al-quran, serta pembeda bagi manusia dengan mahluk lainnya.

Al-Ghazali bahkan meyakini bahwa akal cukup capabel untuk menangkap bukan saja yang terbatas, melainkan juga yang tidak terbatas.145 Oleh sebab itu yang menjadi objek akal adalah segala sesuatu yang ada (realitas).146Dalam artian, tidak ada penghalang bagi akal untuk menerima semua realita yang ada, kecuali akal yang menutup diri untuk mencerna suatu realita.

Menurut al-Ghazali, akal dapat dipakai untuk empat arti, yaitu:

a.       Gharizah (instinct), yang dengannya manusia dapat menangkap ilmu-ilmu apriori dan ilmu-ilmu inferensial yang dihasilkan dari eksperimen.

b.      Ilmu-ilmu yang muncul secara aktual pada seorang mumayyiz, yakni hukum-hukum akal yang termasuk ilmu-ilmu apriori.

c.       Ilmu-ilmu yang diperoleh dari eksperimen mengenai ikhwal sesuatu; dan

d.      Keberhasilan gharizah dalam mengetahui akibat segala sesuatu dan mengendalikan naluri syahwat secara proporsional.147

Al-Ghazali menempatkan akal pada posisi sentral dalam sumber pengetahuannya, karena akal merupakan pembeda bagi manusia dengan mahluk lainnya. Akal menangkap realitas sebagaimana adanya tanpa rekaan, sehingga bersih dari kesalahan. Hanya khayal dan wahm (keraguan) yang dapat menyebabkan akal keliru dalam mencerna realita. Akal bila bersih dari gangguan khayal dan wahm, tak terbayang akan keliru dan dapat menangkap segala sesuatu sebagaimana realitasnya.148

Pentingnya peran akal dalam sumber pengetahuan ini dikukuhkan oleh Fazlur Rahman, dengan pernyataannya:

Betapapun, filsafat adalah sebuah kebutuhan intelektual abadi dan harus dibiarkan tumbuh subur, baik demi dirinya sendiri maupun demi disiplin-disiplin lain, sebab ia menanamkan semangat analitis-kritis yang sangat dibutuhkan dan melahirkan gagasan-gagasan baru yang menjadi alat intelektual penting bagi ilmu-ilmu lainnya, tidak kurang bagi agama dan teologi. Oleh karena itu, seseorang yang mencampakkan kekayaan filsafatnya, berarti ia mencampakkan dirinya dalam bahaya kelaparan dalam hal gagasan-gagasan segar. Sesungguhnya ia melakukan bunuh diri intelektual.149

 

Bahkan al-Ghazali tidak dapat melepaskan diri dari filsafat, walaupun ia telah mengecam filsafat dalam Thafut al-Falasifah, hal ini sebagai pembuktian bahwa al-Ghazali bukanlah seorang yang anti filsafat. Dalam hal ini Ahmad Syafii Maarif mengatakan bahwa:

Al-Ghazali bukanlah tokoh yang menyebarkan benih anti intelektualisme, sebab ia hanyalah menyerang dengan tuntas aspek metafisik dari filsafat al-Farabi dan Ibnu Sina, terutama diserangnya dari aspek metafisik ini. Ia tidak pernah menentang logika atau penggunaan penalaran, yang ia tentang adalah klaim akal untuk mengetahui seluruh kebenaran150

 

Kesalahan dalam penyikapan hal inilah yang kemudian menyudutkan posisi al-Ghazali. Al-Ghazali mendapatkan kecaman dari para pemikir Islam, baik pada zaman klasik maupun modern. Al-Ghazali telah dituduh membunuh tradisi berpikir dalam dunia Islam. Namun, menurut hemat saya. Pada prinsipnya hal inilah yang menjadi tanda bahwa tradisi berpikir belumlah surut, karena banyak karya tandingan yang menyerang al-Ghazali, sehingga menyalahkan al-Ghazali adalah suatu tindakan yang salah.

4.      Golongan tasawuf

Mereka mengaku khawasul-hadlar yang menggunakan metode kontemplasi (perenungan) pengalaman dari dalam batinnya sendiri, yang disebut dzauq. Berupa proses penjernihan lahir dan batin, dengan menjalankan riyadlah dan mujahadah sebagai rutinitas dan ritual yang senantiasa dijalankan dalam kesehariannya.

Walaupun mereka menggunakan metode yang berbeda-beda, namun pada prinsipnya mereka memiliki prinsip permasalahan yang sama, yaitu pribadi, dunia dan Allah.151 Metode tasawuf mendasarkan pada pengalaman intuitif individual, yang tidak diupayakan melalui pemikiran diskursif. Asumsinya adalah pengetahuan intuitif akan mampu menyerapkan secara holistik objek pengetahuan yang dengan pendekatan lain hanya bisa ditangkap secara fragmental. Namun demikian, metode ini ingin menjembatani ketegangan klasik antara filsafat dan ortodoksi, sebab metode inipun sesungguhnya menunjukkan dimensi rasionalitas.152

Metode mistis memang terlihat lebih menjeluk ketimbang pendekatan analitis, sebab ia merupakan sebuah bentuk pemikiran yang tidak hanya menerapkan akal, melainkan juga perasaan pribadi.153 Menurut al-Ghazali ilmu sufiyah pada hakekatnya adalah pendalaman amalan akal pikiran untuk mencapai ilmu-ilmu yang jernih dan bersih dari campuran alam dria, yakni menghendaki seseorang melepaskan diri dari dunia dria dan tenggelam dalam batin manusia, serta lepas dari alam dria tersebut.154

Al-Ghazali mendalami tasawuf selama 10 tahun, dan menurutnya tasawuf adalah sebaik-baik jalan pencarian hakekat ilmu pengetahuan, hal ini didasarkan pada pernyataannya sebagai berikut:

keadaan seperti itu tidak dicapai dengan perangkat argumentasi maupun struktur pembicaraan, melainkan dengan cahaya yang dipancarkan Allah kedalam dada, cahaya itu yang menjadi pembuka berbagai pengetahuan. Oleh karena itu, barang siapa yang menduga penemuan itu melulu bergantung kepada argumentasi-argumentasi, berarti dia telah menyempitkan Allah yang maha luas155

 

Karya terbesar al-Ghazali dalam bidang tasawuf adalah Ihya Ulumuddin, merupakan hasil perenungannya selama menjalani kehidupan asketik, sebuah bentuk upaya pemaduan Iman, Islam dan Ihsan. Dalam hal ini Hamka menanggapinya:

Ihya Ulumuddin (menghidupkan kembali ilmu agama) adalah suatu buku lukisan pikiran, suatu kesanggupan yang mudah, gabungan kejernihan otak dengan perasaan hati yang murni. Suatu filsafat yang luhur dari seorang yang anti filsafat. Suatu jelmaan pikiran tinggi dari seorang yang tidak hanya mengemukakan pikiran, suatu kitab buat menyempurnakan paham tentang rahasia Al-quran, suatu sastra yang bukan hanya untuk muslim, bahkan kebenaran untuk dunia156

 

Dalam pandangan al-Ghazali merekalah para golongan pencari kebenaran yang ada. Walaupun hasil yang didapatkan mereka bukanlah sesuatu yang final, yang baku, akan tetapi keempat golongan itulah yang mampu merumuskan dan membuat sebuah bangunan keyakinan yang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai sebuah pedoman langkah dalam mengarungi kehidupan, seperti yang tercermin dalam ungkapan al-Ghazali:

Pada pikiranku, kebenaran tentulah ada pada salah satu dari keempat golongan ini, sekurang-kurangnya. Sebab merekalah yang menempuh rupa-rupa jalan untuk mencarinya. Andaikata semuanya tak dapat mencapai kebenaran, maka tak ada harapan lagi untuk mencapainya, sebab setelah aku meninggalkan taklid, tak adalah jalan lagi untuk kembali kepada taklid itu157

 

Ilmu pengetahuan dapat berkembang berkat bantuan akal dan penelitian. Keempat golongan ini mencoba menggunakan metodenya sendiri-sendiri dalam mengembangkan ilmu pengetahuan yang berasal dari ayat-ayat yang tersirat maupun tersurat. Bahkan mereka telah mampu mengembangkannya lebih jauh dengan menjadikannya sebagai sebuah bentuk keyakinan.

Dalam pandangan al-Ghazali, ilmu pengetahuan yang tidak dapat menghindarkan seseorang dari melakukan perbuatan-perbuatan mendurhakai allah, maka ilmu pengetahuan itu juga tidak akan dapat menyelamatkannya dari api neraka. Ilmu pengetahuan hendaknya dipelajari dan diamalkan sebagaimana fungsinya, supaya ilmu pengetahuan benar-benar dapat menjadikan manusia menjadi lebih baik.

C.    Tujuan evaluasi pendidikan al-Ghazali

Sebuah tindakan mengandaikan adanya tujuan yang hendak dicapai sebagai bentuk akhir hasil dari tindakan. Keberhasilan suatu tindakan sangat dipengaruhi oleh pelaku dari tindakan itu sendiri, disamping adanya sarana yang tersedia. Hal inilah yang menjadi dasar dari dilakukannya sebuah sebuah konsep pendidikan. Sebuah konsep pendidikan akan mampu berjalan dengan baik dan memperoleh tujuan yang hendak dicapai apabila dilaksanakan oleh mereka yang berkompeten.

Konsep pendidikan mewajibkan adanya sebuah sistem evaluasi yang tepat, yang bermuara pada tujuan akhir dari evaluasi. Secara umum, tujuan dari evaluasi pendidikan adalah mengetahui keadaan murid berkaitan dengan proses pendidikan yang dilaksanakan. Hal ini dimaksudkan supaya pendidikan yang dilaksankan benar-benar dapat terkontrol dengan baik untuk mencapai tujuan pendidikan yang dicanangkan.

Evaluasi pendidikan tanpa dilandasi dengan tujuan yang hendak dicapai akan menjadikan evaluasi tidak terarah dan tidak memperoleh hasil yang diinginkan, sehingga kontribusi yang diberikan hampir tidak ada, selain masalah baru berupa adanya kemungkinan perjalanan proses pendidikan semakin tidak terkontrol dengan baik.

Evaluasi pendidikan al-Ghazali pada prinsipnya diarahkan sepenuhnya untuk mengetahui kondisi murid berkaitan dengan penilikan sejauh mana murid telah dapat meresap ilmu pengetahuan yang didapat dalam pembelajaran dan perkembangan kepribadian murid. Evaluasi pendidikan al-Ghazali berangkat dari teori dasar pendidikannya, yaitu al-Fadhilah. Sebuah teori dasar yang melihat murid sebagai sosok yang memiliki kecerdasan dan keutamaan lebih, sehingga evaluasi pendidikannya diarahkan untuk megetahui:

1.      Sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya.

2.      Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat.

3.      Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitarnya.

4.      Sikap dan pandangan terhadap diri sendiri selaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta khalifah Allah SWT158

Keempat kemampuan dasar tersebut dijabarkan dalam beberapa klasifikasi kemampuan teknis, yaitu:

1.      Sejauhmana loyalitas dan pengabdiannya kepada Allah dengan indikasi-indikasi lahiriyah berupa tingkah laku yang mencerminkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

2.      Sejauhmana peserta didik dapat menerapkan nilai-nilai agamanya dan kegiatan hidup bermasyarakat, seperti akhlak yang mulia dan disiplin.

3.      Bagaimana peserta didik berusaha mengelola dan memelihara serta menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya, apakah ia merusak ataukah memberi makna bagi kehidupannya dan masyarakat dimana ia berada.

4.      Bagaimana dan sejauhmana ia memandang diri sendiri sebagai hamba Allah dalam menghadapi kenyataan masyarakat yang beraneka ragam budaya, suku dan agama.159

Seluruh tujuan tersebut dapat dicapai melalui pelaksanaan evaluasi yang mengacu pada prinsip-prinsip Al-quran dan As-sunnah, disamping menganut prinsip objektifitas, kontuinitas dan komprehensip. Sedangkan operasionalisasinya dilapangan dapat saja dilakukan melalui beberapa bentuk evaluasi. Test atau non test, lisan atau tulisan, pre test atau post test dan lain sebagainya.160

D.    Objek dan subjek evaluasi

Objek dan subjek dalam evaluasi pendidikan adalah dua unsur pokok yang harus ada. Objek didudukkan pada posisi sesuatu yang dinilai, sedangkan subjek didudukkan pada posisi sebagai sesuatu yang melakukan pekerjaan penilaian. Tindakan evaluasi merupakan sebuah upaya pengendalian, supaya pendidikan dapat mencapai tujuan.

Keterkaitan antara subjek dan objek evaluasi sangatlah erat. Terkadang subjek evaluasi juga menjadi bagian integral dari objek evaluasi itu sendiri, sehingga evaluasi dapat dikatakan sebagai sebuah tindakan penilaian objektif mandiri. Namun, terkadang antara subjek dan objek evaluasi merupakan dua hal yang terpisah, akan tetapi masih dalam satu kesatuan kerja.

Evaluasi mandiri adalah bentuk evaluasi yang dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja, serta dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Pendidikan yang menerapkan evaluasi mandiri lebih memposisikannya sebagai upaya deteksi dini yang kemudian diintregasikan dengan upaya evaluasi yang dilakukan pihak lain untuk mendapatkan hasil akhir yang bersifat menyeluruh.

1.      Murid

Sebagai subjek sekaligus objek evaluasi dalam pendidikan, murid memerankan peran yang sangat penting dalam pencapaian target pendidikan. Murid memposisikan dirinya sebagai penerima dan sekaligus pengendali dalam proses pendidikan, yang dimaksudkan dalam pemetaan ini adalah murid sebagai penerima materi pendidikan dan juga murid sebagai pengendali serta pengontrol materi yang didapatkan untuk disesuaikan dengan target pembelajaran yang telah digariskan.

Upaya pemberdayaan potensi murid melalui pembelajaran mengambil bentuknya sendiri-sendiri menyesuaikan dengan tingkatan pendidikan. Pendidikan adalah salah satu upaya pemberdayaan potensi murid, maka evaluasi yang dilakukan hendaknya berpangkal pada:

a.       Keilmuan

Murid hendaknya senantiasa melihat dan mengukur pemahamannya dalam suatu ilmu pengetahuan yang dipelajarinya. Hal ini diperlukan, supaya murid dapat melihat secara langsung pemahaman ilmu pengetahuan yang telah didapatnya, sehingga dapat dijadikan landasan baginya untuk melakukan pengembangan keilmuan lebih lanjut. Jika terjadi kekurangan, maka murid dapat melakukan pembenahan lebih dini.

Media yang tersedia bagi murid untuk melakukan pengukuran keilmuan secara mandiri sangatlah banyak, belajar kelompok ataupun diskusi kecil sudah cukup baginya untuk dapat sekedar mengukur keilmuan secara dini. Kebanyakan murid sekarang mempunyai keengganan untuk melihat kedalaman keilmuannya sendiri, sehingga sering kita jumpai adanya murid yang memiliki kemampuan tidak sebanding dengan tingkat pendidikannya.

Upaya al-Ghazali untuk menciptakan murid-murid yang mandiri adalah dengan membuat beberapa persyaratan khusus bagi murid. Disamping itu, perjalanan intelektual al-Ghazali dapat dijadikan pelajaran bagi murid untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu, karena hanya dengan mencurahkan sepenuh perhatian dan daya kekuatan dalam mencari ilmu yang dapat mengantarkan seseorang mencapai kelezatan dari ilmu.

Ilmu pengetahuan sebagai proses yang dapat menghantarkan manusia untuk dapat dekat dengan tuhannya sudah seharusnya dijadikan prioritas dalam usahanya untuk selalu dikembangkan dan diawasi setiap saat. Terlebih hal ini dilakukan ketika masih dalam proses transfer keilmuan yang mengambil bentuk pembelajaran sekolah.

b.      Kedewasaan/Kepribadian

Salah satu aspek yang hendak ditumbuh kembangkan dalam pendidikan islam adalah perkembangan cara berpikir murid atau yang biasa kita kenal dengan kedewasaan. Pola pikir ini dapat terbentuk dengan usaha yang dilakukan setahap demi setahap. Kedewsaan seseorang tidaklah dapat dipaksakan, hal ini akan tumbuh dan berkembaang sejalan dengan pengalaman hidupnya.

Inti dari penumbuh kembangan pola pikir adalah dengan memanfaatkan akal secara maksimal untuk terus berproses menjalankan fungsinya secara maksimal dan pendidikan sekolah melakukannya. Akal memegang peranan penting dalam pembentukan karekter seseorang, dengan alasan karena memang objek dari hal ini adalah akal itu sendiri.

Pola pikir yang meretas menjadi sebuah kedewasaan bagi murid, sangatlah diperlukan. Hal ini dapat dijadikan modal utama dalam kelanjutan peningkatan mutu keilmuannya serta menjadi modal penting dalam bersosialisasi dengan masyarakatnya. Banyak faktor yang melingkupi perkembangan pola pikir seseorang, mendekat dan masuk untuk mempengaruhi dan membentuk pola pikir seseorang sampai akhirnya menjadi sebuah kepribadian.

Pada prinsipnya terdapat dua faktor utama yang secara intens mempengaruhi dan mencoba untuk membentuk pola pikir seseorang. Yaitu:

1.      Faktor lingkungan

Faktor ini merupakan hal yang dapat dikatakan paling menonjol dalam upayanya mempengaruhi corak pemikiran seseorang dalam membentuk kedewasaan. Bahkan seringkali orang akan terprediksi lebih awal akan sifat dan karakternya dari lingkungan tempat ia bersosialisasi setiap saat. Lingkungan yang baik dimungkinkan dapat memberikan pengaruh-pengaruh positif dalam diri seseorang, sebaliknya lingkungan yang buruk dapat memberikan pengaruh-pengaruh negatif dalam diri seseorang.

Seorang murid hendaknya senantiasa berada pada lingkungan yang baik, supaya perkembangan psikologisnya dapat dipengaruhi secara intens oleh hal-hal yang positif, sehingga karakter dan kepribadian yang terbangun bersifat positif. Lingkungan itu mengambil bentuknya dalam lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan dan juga lingkungan sekolah. Ketiga lingkungan inilah yang pada intinya berupaya untuk senantiasa memberikan pengaruhnya terhadap murid.

2.      Faktor pendidikan

Faktor ini, menjadi sebuah alat penyeimbang dan pengarah bagi perkembangan pola pikir seseorang, dimana perkembangan pola pikir dan kedewasaan seseorang coba ditumbuh kembangkan secara bertahap dan bertingkat, perencanaannya sudah disiapkan terlebih dahulu dengan beragam perangkat yang telah ditentukan.

Perangkat-perangkat yang telah disusun dilaksanakan secara maksimal oleh orang-orang yang berkompetan, sehingga perkembangan pola pikir seseorang benar-benar dapat dikontrol dan diarahkan. Guru adalaah tokoh utama dalam upaya menumbuh kembangkan pola pikir dan kedewasaan murid, karena guru adalah sosok yang senantiasa berinteraksi dengan murid setiap saat dan memperhatikan murid dengan sepenuh hati.

c.       Mutu ibadah

Tingkat pendidikan dapat juga dijadikan sebagai barometer tersendiri untuk melihat mutu ibadah seseorang. Asumsi dasar yang digunakan adalah bahwa semakin kokohnya keimanan seseorang maka dengan sedirinya mutu ibadah yang dijalankannya sebagai sebuah pemenuhan kewajiban akan meningkat dengan sendirinya, baik dari sisi kwalitas maupun dari sisi kwantitas.

Tingkat pendidikan mengandaikan adanya semakin luasnya keilmuan seseorang yang berimbas pada semakin banyaknya bukti-bukti kekuasaan Tuhan yang diketahui dan dipahami, sehingga keadaan ini akan memunculkan sebuah sikap takjub sebagai bentuk pengungkapan kekaguman, dan inilah yang dapat semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaan seseorang dan menjadikannya semakin berupaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya dan melakukan upaya untuk selalu mencari bukti-bukti kekuasaan Tuhan.

Ilmu pengatahuan yang dapat meningkatkan mutu ibadah seseorang dan menjauhkannya dari mengingkari Tuhan, akan dapat juga menyelamatkannya dari ancaman api neraka. Fenomena yang marak terjadi sekarang adalah banyaknya orang yang terlihat mutu ibadahnya meningkat dari sisi kwantitas, dengan banyak melakukan ritual keagamaan. Namun, ada hal yang disayangkan yaitu bahwa hal ini tidak dibarengi dengan uapaya peningkatan mutu ibadah dari sisi kwalitas yang meretas dalam tindakan sehari-hari.

2.      Guru

Guru adalah seorang evaluator bagi murid dan juga bagi dirinya sendiri. Sebagai seorang evaluator bagi murid, guru harus senantiasa memperhatikan perkembangan murid dalam segala bentuknya secara intens, supaya dapat melakukan bimbingan dan pengarahan dengan cepat dan tepat. Uapaya ini dilakukan sebagai wujud pembuktian diri dalam pengabdiannya kepada pendidikan secara total.

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai evaluator, guru dituntut untuk melakukan tindakan evaluasi secara objektif, kontinyu dan komprehensif. Mengapa? Supaya evaluasi benar-benar dapat dipertanggung jawabkan dan memberikan makna bagi guru dan murid sebagai subjek dan objek evaluasi. Obejktif dimaksudkan bahwa guru harus benar-benar objektif dalam melihat murid sesuai dengan apa adanya tanpa dipengaruhi oleh faktor lain yang dapat memalingkan dari unsur objektifitas.

Kontinu dimaksudkan bahwa evaluasi harus dilakukan secara terencana dan berkelanjutan supaya dapat dijadikan bahan perumusan hasil akhir. Sebelum melakukan tindakan evaluasi, guru harus benar-benar telah membuat sebuah rancangan evaluasi dengan beragam perangkatnya secara komplit, supaya evaluasi dapat berjalan dengan lancar dan baik.

Komprehensif dimaksudkan adalah bahwa evaluasi harus mencakup keseluruhan potensi yang hendak dikembangkan dalam proses pendidikan, sehingga perkembangan potensi-potensi itu dapat terkontrol dengan baik dan dapat berkembang secara seimbang. Evaluasi yang dilakukan tidak mencakup keseluruhan dapat menimbulkan sebuah ketimpangan yang berimbas pada lahirnya sifat-sifat yang negatif dalam diri murid.

Unsur objektifitas, kontuinitas dan komprehensif adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam tindakan evaluasi, karena ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi satu sama lain. Untuk dapat melakukan evaluasi yang baik dibutuhkan evaluator yang handal. Guru sebagai evaluator bagi murid hendaknya senantiasa melihat dirinya dan meningkatkan kualitas yang bercermin pada peningkatan empat hal, yaitu:

a.       Sidiq/ benar

Guru harus senantiasa melakukan tidakan dan ucapan dengan benar. Setiap tindakan hendaknya berlandaskan keilmuan ataupun alasan yang kuat mengapa suatu tindakan harus dilakukan, mengapa suatu ucapan harus dikemukakan. Hal ini mengandaikan adanya sikap kehati-hatian guru yang bermuara pada keilmuan yang dimilikinya. Guru yang memiliki keilmuan utuh akan dapat meretas pada tindakan dan ucapannya.

Guru yang baik akan pantang untuk berbicara bohong, seorang guru yang baik akan pantang untuk melakukan tindakan yang menyimpang dari nilai-nilai positif. Mengapa? Karena ketika guru melakukan tindakan-tindakan yang tercela, maka pada dasarnya hal itu adalah sebuah pembuktian bahwa pada prinsipnya guru tidak mempunyai keilmuan yang mendalam dan dipahaminya secara baik yang tercermin dalam ucapan dan tindakan.

Murid akan senantiasa bercermin pada guru dalam setiap perkara yang muncul darinya dan akan dijadikan pedoman bagi murid. Guru yang baik akan melahirkan murid-murid yang baik, sedangkan guru yang tidak baik akan melahirkan murid-murid yang tidak baik pula. Oleh karena itulah al-Ghazali sangat ketat dalam merumuskan syarat-syarat guru.

b.      Amanah/dapat dipercaya

Guru adalah pengemban amanat yang mulia, maka sudah seharusnya guru adalah sosok yang dapat dipercaya. Sebuah amanat hendaknya dilimpahkan pada orang yang benar-benar dapat dipercaya, supaya dapat dijalankan dengan baik. Guru memiliki amanat untuk memberikan bimbingan dan pengawasan secara kontinu pada perkembangan potensi murid. Dari sini dapat dipahami bahwa guru adalah peletak dasar kemampuan murid dalam upayanya menjadi hamba dan khalifah Allah.

Kepercayaan wali murid kepada guru untuk memberikan bimbingan dan pengawasan dalam perkembangan keilmuan dan kepribadian adalah sebuah tanggung jawab yang tidak ringan. Oleh karena itulah upaya untuk dapat menjadikan guru mampu menjalankan amanat ini dengan baik adalah sebuah keniscayaan yang harus direalisasikan. Seperti dengan memberikan penghormatan yang tinggi dan kesejahteraan yang memadai.

c.       Tabligh/menyampaikan

Tugas guru adalah menyampaikan materi pelajaran dengan baik, sebuah transfer keilmuan yang dilakukan secara terarah dan terencana. Guru harus mampu menyampaikan materi dan pemahamannya dengan tuntas kepada murid dengan tidak menyisakan keterangan ataupun bimbingan yang pada dasarnya menjadi hak murid untuk mendapatkannya, tentunya hal ini disesuaikan dengan tingkatan pendidikan murid.

Hal ini menjadi sangat penting, karena guru adalah ujung tombak dari pendidikan. Sebagai pelaksana langsung dari konsep pendidikan yang ada. Dari sini nantinya akan dapat membantu murid dalam memahami pelajaran dengan baik dan dapat mempermudah bagi guru untuk mengawasi dan memberikan bimbingan keilmuan murid.

d.      Fatonah/cerdas

Profesionalisme guru memang sangat diperlukan untuk menjamin proses pendidikan dapat berjalan dengan baik. Profesionalisme mengandaikan adanya guru yang cerdas, yang paham akan profesinya secara mendalam dan dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Guru haruslah seorang yang cerdas, supaya dapat dengan mudah memperluas keilmuannya dan mampu merumuskan strategi pembelajaran yang baik, serta sebagai pembuktian bahwa ia memiliki keilmuan yang baik.

Menciptakan suasana kelas yang dinamis dan dapat menyampaikan materi dengan baik membutuhkan adanya kecerdasan yang tinggi. Guru dituntut untuk dapat merumuskan cara-cara khusus untuk dapat menghidupkan suasana pembelajaran dan hal ini dapat berubah-ubah sewaktu-waktu dalam situasi yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Seoarang guru yang cerdas akan mampu melakukannya dengan baik.

3.      Tuhan

Tuhan hanya diposisikan sebagai subyek evaluasi, mengapa? Karena Otoritas tertinggi didunia berada ditangan Tuhan, semua yang bersumber didunia bersumber dari Tuhan. Manusia, tumbuhan dan juga hewan adalah ciptaan Tuhan dengan maksud sebagai sebuah pembuktian nyata dari keberadaan Tuhan. Sebagai pemegang otoritas tunggal, tuhan berkuasa untuk memberikan kehidupan dan melakukan pengawasan secara mandiri terhadap mahluk-Nya.

Kehadirannya memang tidak dapat diindra dan hanya dapat diyakini dalam hati. Hanya manusia yang mampu mencerna kondisi ini dengan bantuan akal untuk memahaminya. Dalam memberikan kehidupan, Tuhan akan senantiasa memberikan kenikmatan-kenikmatan duniawi kepada semua mahluknya tanpa terkecuali untuk dapat menjalani kehidupan, dengan rasionalisasi bahwa manusia membutuhkan makan dan minum untuk dapat hidup, serta hewan dan tumbuhan juga membutuhkannya dan beragam kebutuhan lain yang mendukungnya.

Tuhan akan melakukan evaluasi setiap saat kepada mahluk-Nya dengan mengambil bentuk dan situasinya sendiri. Hal ini berkait dengan kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan Tuhan kepada manusia, apabila manusia mensyukuri kenikmatan yang telah diberikan, maka Tuhan akan menambahkannya. Apabila manusia mengingkarinya, maka Tuhan akan memberikan ancaman berupa siksa.

Cobaan hidup yang dialami manusia adalah salah satu bentuk evaluasi yang dilakukan Tuhan kepada mahluk-Nya. Namun, hal ini seringkali dipahami oleh manusia sebagai bentuk kemurkaan Tuhan kepada mahluk-Nya, padahal cobaan itu adalah sebuah ujian dan bahan evaluasi diri bagi manusia. Bukanlah cerminan diri seseorang yang baik ketika memungkiri adanya cobaan dengan mengumpat.

Sebagai seorang hamba yang baik, hendaknya kita senantiasa menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan untuk dapat lebih mendekatkan diri kepada-Nya, serta senantiasa mendapatkan nikmat yang melimpah. Bersyukur atas nikmat yang didapat serta bersabar ketika mendapatkan cobaan dalam segala bentuknya. Manusia adalah perencana dari segala yang diinginkannya, namun Tuhanlah yang menjadi penentu dengan kekuatan qadha dan qadar-Nya. Tuhan adalah sumber segala sesuatu, maka kepadanyalah semua akan kembali.

E.     Alat-alat evaluasi

Alat evaluasi adalah instrumen penting dalam melakukan tindakan evaluasi, karena tindakan evaluasi supaya dapat mendapatkan hasil dibutuhkan alat untuk memperolehnya. Al-Ghazali pada prinsipnya telah merumuskan alat evaluasi tersebut yang terumuskan secara sistematis dan saling terkait, serta bertingkat. Alat evaluasi itu adalah:

1.      Teknik Tanya Jawab

Hal ini merupakan pemahaman dari jalan aliran Kalam yang ditempuh untuk mendapatkan kebenaran. Teknik ini dilakukan dengan membicarakan kembali materi pelajaran yang disampaikan guru, baik yang bersifat mengulang keterangan ataupun melengkapi keterangan untuk dapat menyempurnakan pemahaman murid terhadap materi pelajaran.

Teknik ini dapat dilakukan dengan dua model yaitu guru memberikan pancingan pertanyaan kepada murid ataupun memberikan waktu kepada murid untuk bertanya. Pertanyaan yang muncul diarahka untuk tetap dalam koridor pembahasan materi, sehingga jawaban yang muncul dari guru dapat membulatkan pemahaman murid.

Dengan hal ini diharapkan suasana pembelajaran akan terasa hidup dan komunikasi yang terjalin antara murid dengan guru dapat berjalan dengan baik, yang menjurus kepada adanya kedekatan dan keterbukaan murid terhadap guru. Sebagai bentuk evaluasi dini dari pendidikan, tanya jawab harus benar-benar diarahkan untuk membulatkan pemahaman murid. Mengapa? Karena murid berangkat dari situasi dan kondisi yang berlainan, sehingga tingkat pemahaman materi pendidikan diantara mereka sangat beragam.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pemahaman murid adalah:

a.       Tingkat Intelegensi

Tingkat intelegensi murid menjadi titik tolak untuk dapat menerima dan memahami materi pelajaran dengan baik. Murid dengan tingkat kecerdasan tinggi akan dapat menerima dan memahami materi pelajaran dengan baik, serta melakukan penalaran lebih jauh secara terarah dengan bantuan guru untuk membimbingnya. Sedangkan murid dengan tingkat intelegensi rendah akan sulit untuk dapat menerima dan memahami materi pelajaran dengan baik.

Memang sekolah adalah ibarat sebuah pabrik yang mencoba menghasilkan sebuah produk, untuk dapat menghasilkan produk yang baik dan bermutu tinggi dibutuhkan adanya bahan yang baik pula. Namun, bahan yang diperoleh sekolah tidak membedakan bahan yang akan diolahnya, karena sekolah yang baik dan bermutu pada prinsipnya adalah sekolah yang mampu mengolah bahan yang berkwalitas biasa menjadi produk yang luar biasa. Dan hal ini dapat diperoleh hanya dengan menyiapkan mesin-mesin yang benar-benar baik kwalitasnya.

Murid yang kurang intelegensinya dibanding dengan murid lainnya harus mendapatkan perhatian lebih untuk dapat menjaga ritme semangat murid dalam mencari ilmu dan dia harus mengimbangi diri dengan usaha-usaha nyata untuk dapat menyesuaikan diri dengan sesamanya, sehingga terjadi adanya simbiosis mutualisme antara guru dan murid.

Guru yang baik akan paham terhadap kondisi anak didiknya, sehingga guru akan secara refleks memberikan perhatian lebih terhadap murid yang tidak mampu menangkap dan mamahami materi pelajaran dengan baik dengan cara senantiasa memberinya motivasi dan bimbingan lebih kepadanya, walaupun pada prinsipnya kedua hal ini harus diberikan secara merata kepada semua anak didiknya sebagai sebuah hak yang harus diperoleh, namun adil tidaklah harus dengan memberikan porsi yang sama.

b.      Metode yang kurang sesuai

Metode pembelajaran haruslah disesuaikan dengan materi pelajaran yang hendak disampaikan supaya dapat disampaikan dengan baik dan mudah diterima murid. Pelajaran-pelajaran yang membutuhkan praktikum, maka harus melakukan praktikum sebagai usaha maksimal untuk memberikan keilmuan secara utuh. Namun, hal ini juga tidak menafikan bahwa terkadang terdapat satu metode yang dapat digunakan untuk menyampaikan beberapa materi pelajaran.

Pemilihan metode yang pas harus dilakukan secara cermat dan teliti untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam hal ini, kreatifitas guru sangat dibutuhkan untuk dapat merumuskan beragam metode yang dibutuhkan untuk menyampaikan materi pelajaran, supaya pembelajaran tidak terkesan monoton dan membosankan. Terlebih guru-guru yang mengampu lebih dari satu mata pelajaran.

Kesalahan dalam memilih dan menentukan metode pengajaran dapat mengakibatkan materi pelajaran dipahami secara baur oleh murid, karena materi pelajaran disampaikan secara tidak urut dan meloncat-loncat. Hal inilah yang kemudian pembelajaran menjadi tidak efektif dan tidak memberikan masukan yang dibutuhkan murid dalam suatu pelajaran.

c.       Sarana dan Prasarana

Suasana pembelajaran seringkali mengaitkan diri dengan sarana dan prasarana belajar yang tersedia. Semakin baik sarana dan prasarana belajar yang tersedia akan berdampak pada kondisi psikologis murid, sebagai sesuatu yang harus diperhatikan. Dan hal ini akan berimbas pada semakin konsdusifnya suasana pembelajaran yang diciptakan, sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan efisien.

Ruangan sekolah sebagai tempat dilakukannya proses belajar mengajar sering dituding sebagai penyebab dari ketidak kondusifan pembelajaran, karena ruangan kelas sempit dan sudah lama tidak dilakukan peremajaan. Ruangan sempit akan cepat menjadikan murid merasa sumpek, karena tidak memberikan ruang yang cukup bagi gerak murid, sehingga murid tidak fokus dalam mengikuti proses pembelajaran.

Pada prinsipnya murid hanya membutuhkan suasana yang nyaman, suasana yang mampu menjadikannya berkonsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini kemudian ditafsirkan dengan keharusan bagi sekolah untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang komplit, yang menawarkan adanya keamanan dan kenyamanan bagi murid dalam mengikuti proses pendidikan.

Suasana aman dan nyaman tidaklah harus demikian, sayangnya inilah yang dipahami oleh kebanyakan orang dan mengakibatkan beaya pendidikan menjadi mahal. Suasana itu dapat diciptakan tidak dengan bermodalkan ruang pendidikan yang megah, namun dengan memanfaatkan guru untuk menciptakannya dalam kelas dan hal inilah yang dilakukan oleh sekolah-sekolah yang menamakan diri dengan sekolah alam.

Manfaat yang dapat diperoleh dari teknik ini adalah:

1.      Bagi murid

a)      Berani berpendapat

Teknik tanya jawab dapat memupuk keberanian murid untuk selalu menanyakan kemuskilan dalam suatu pelajaran dan juga menjadikan murid untuk berani mengutakan pendapatnya. Keberanian ini adalah sesuatu yang sangat sulit untuk ditumbuhkan dalam diri murid, sehingga pengupayaannya harus terus dilakukan, supaya jiwa keberanian mengakar dalam diri murid yang dapat meretas kedalam berbagai ragam tindakan.

b)      Pemahaman utuh

Sebagai sebuah alat evaluasi dasar, teknik tanya jawab dapat memberikan pemahaman utuh suatu materi pelajaran kepada murid. Pemahaman utuh sangat dibutuhkan oleh murid untuk dijadikan landasan dalam melakukan pengembangannya dengan baik. Keilmuan murid harus ditopang dengan pondasi yang kokoh supaya dapat dikatakan sempurna.

c)      Pendirian

Berkepribadian menjadi sesuatu yang harus ditumbuhkan dalam diri murid. Hal ini dapat dilakukan dengan beragam cara. Murid mengungkapkan sebuah jawaban atas pertanyaan yang dilandasi dengan pengetahuannya, dan mencoba untuk mempertahankannya dapat menjadikan ia teguh dalam memegang pendirian. Namun hal ini perlu diarahkan supaya murid tidak terjebak dalam kesombongan.

2.      Bagi guru

a)      Meningkatkan kemampuan

Dengan teknik tanya jawab menjadikan guru harus senantiasa meningkatkan kemampuannya mengajar dan juga mutu keilmuannya. Mengapa? Karena dalam kelas akan banyak terjadi sesuatu yang tidak terduga yang membutuhkan pemecahan cepat. Wawasan guru akan membantunya dalam mencari cara untuk mengatasinya.

b)      Melatih kesabaran

Modal terpenting dalam pengajaran adalah kesabaran. Hal ini diperlukan karena proses pendidikan mengandaikan adanya interaksi yang berlajut dengan orang-orang yang memiliki karakteristik yang saling berbeda-beda, sehingga membutuhkan kesabaran untuk memahami dan menghadapinya. Dalam kelas terkadang murid melontarkan pertanyaan yang keluar dari pembahasan utama ataupun melontarkan sebuah pertanyaan yang menyinggung perasaan, karena berkait dengan hal pribadi ataupun profesi.

2.      Teknik praktik

Sebagai sebuah evaluasi lanjutan, teknik praktek lebih menekankan pada upaya pembuktian nyata pemahaman murid tentang suatu ilmu pengetahuan. Pemahaman murid akan ilmu pengetahuan membutuhkan pembuktian lebih lanjut supaya keilmuannya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan, pembuktian itu dapat dilakukan dengan mempraktekkan teori atau materi pelajaran yang telah didapatnya.

Metode ini merupakan cara yang dilakukan oleh aliran Bathiniyah yang senantiasa melakukan ajaran gurunya tanpa adanya intrepetasi dalam mencari kebenaran, ajaran dari gurulah yang dianggap benar, karena guru adalah seorang yang masum. Teknik praktek sangat dibutuhkan dalam segala pelajaran, yang tentunya dengan mengambil bentuk yang beraneka ragam, menyesuaikan dengan ilmu pengetahuan yang menjadi titik tolaknya.

Dengan teknik praktek, guru akan semakin jelas dalam melihat kondisi keilmuan siswa, sehingga dapat melakukan pembenahan dan penyempurnaan secara dini dalam pemahaman murid. Banyaknya fenomena murid terlihat memahami pelajaran, namun tidak dapat mempraktekkannya adalah pertimbangan lebih untuk menekankan teknik ini.

Manfaat yang dapat diperoleh dari metode ini adalah:

a.       Bagi murid

1.      Aplikasi teori

Sebagai sebuah tanggung jawab dan pembuktian pemahaman murid dalam suatu pelajaran. Disamping itu, hal ini juga sebagai pembuktian kebenaran sebuah teori ilmu pengetahuan. Dari sini akan menemukan sebuah titik temu antara murid yang mempelajari dengan kebenaran dari ilmu pengetahuan itu sendiri yang dapat memberikan semangat tersendiri bagi murid untuk mendalaminya lebih jauh.

2.      Keberanian

Murid akan terbiasa untuk berani mempraktekkan pemahaman yang ia dapatkan. Seringkali kita melihat adanya murid yang enggan karena malu ataupun takut salah untuk mempraktekkan pemahamannya, sehingga menjadi permasalahan tersendiri bagi guru untuk dapat melihat keilmuan murid secara jelas. Dan nantinya hal ini akan berimbas pada pengamalan lebih jauh keilmuan murid dalam kehidupan yang lebih luas.

3.      Mencari bentuk penyelesaian baru

Teknik praktek disamping dapat berfungsi sebagai metode evaluasi, juga menjadi sebuah metode pengajaran. Dimaksudkan dari sini adalah disamping dapat mengungkap kebenaran ilmu pengetahuan, juga dimaksudkan untuk dapat menemukan sebuah bentuk penyelesaian baru yang mungkin dapat dimunculkan dalam suatu permasalahan yang sama, sehingga pembuktian dapat menempuh beragam jalan yang dapat dilaluinya.

b.      Bagi guru

1.      Barometer

Manfaat yang dapat diperoleh guru dari teknik ini adalah hasil dari evaluai ini dapat dijadikan rekomendasi ataupun mengarahkan pengembangan keilmuan murid lebih lanjut, karena secara pemahaman murid sudah cukup terlihat dan pembuktian lebih lanjut telah dipraktekkan dengan baik, sehingga alasan bagi guru untuk menambah materi ataupun merekomendasikan murid untuk mempelajari suatu ilmu pengetahuan lebih dalam menajdi semakin kuat.

2.      Kejelian guru

Guru akan semakin dituntut untuk jeli melihat murid. Kejelian ini yang akan menyeleksi dengan ketat tingkat keilmuan murid. Apakah murid benar-benar memahami materi dengan baik dengan pemahamannya yang baik dan dapat mempraktekkannya dengan benar menjadi bahan pertimbangan tersendiri dan perlu diperhatikan secara seksama.

3.      Teknik Penalaran

Pengembangan lebih jauh keilmuan murid menjadi sebuah keniscayaan yang pasti dan harus dilakukan. Sejalan dengan tingkat penalaran murid, maka pengembangan ilmu pengetahuan akan berjalan dengan sendirinya yang tidak dapat dibendung dan diendapkan. Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan bagaikan air yang terus mengalir, sehingga senantiasa membutuhkan tempat penampungan. Dan teknik ini terilhami dari metode yang digunakan kelompok filsafat dalam mencari kebenaran, yaitu dengan mengandalkan kekuatan akal.

Murid membutuhkan sebuah tempat ekpresi keilmuannya, yang dapat berbentuk upaya pengembangan lebih jauh ataupun menemukan sebuah teori baru. Kekuatan akal akan membantu murid untuk melakukan hal itu dan menjadi tugas guru untuk membimbingnya secara lebih inten. Karena pada teknik ini sangat membutuhkan bantuan guru untuk mengarahkan pemikiran murid dengan jelas dan baik yang berlandaskan teori dan pengalaman.

Bentuk dari evaluasi ini menyesuaikan dengan ilmu pengetahuan yang menjadi pangkal evaluasi. Teknik ini menitik beratkan pada perkembangan penalaran murid, yang berpangkal pada pemahamannya tentang ilmu pengetahuan. Sehingga pikiran murid akan benar-benar dapat diberdayakan dengan memberikan ruang ekpresi berupa penalaran lebih dalam suatu ilmu pengetahuan yang didapat murid.

Manfaat yang dapat diperoleh adalah:

a. Bagi murid

1.      Analisa

Murid dilatih untuk menganalisa secara mandiri keilmuan yang didapatnya, melakukan pengkritisan tentang sebuah ilmu pengetahuan yang dilakukannya dengan berlandaskan penalaran yang dilakukannya, sehingga dalam diri murid dapat muncul jiwa kritis dan jeli dalam memandang sebuah permasalahan.

2.      Kemandirian

Murid akan terbekali semangat kemandirian yang muncul dari tindakannya secara mandiri dalam melakukan penalaran ilmu pengetahuan dengan tetap berada dibawah pengawasan guru. Keleluasan ekpresi yang dilakukan tanpa pengendalian dan pengarahan akan menimbulkan hasil negatif. Murid akan membuat dan merumuskan rambu-rambu bagi dirinya supaya tidak terjebak dalam kesalahan. Tahapan-tahapan yang akan dilakukan dapat terumuskan dengan sendirinya, sehingga murid akan tahu kapan dia harus memulai dan kapan dia harus menyelesaikan.

3.      Tanggung jawab

Murid akan dituntut tanggung jawab dalam tindakannya melakukan upaya pengembangan lebih jauh dalam ilmu pengetahuan. Dari sinilah murid akan belajar lebih lanjut untuk bertanggung, berani mempertanggung jawabkan penalaran yang telah dilakukan. Seorang yang beriman akan senantiasa berani untuk mengambil resiko yang muncul dalam tindakannya sebagai sebuah tanggung jawab yang harus ditanggungnya.

Dalam hal ini yang harus dilakukan oleh guru adalah:

1.      Pengendali

dalam penalaran yang dilakukan siswa, murid membutuhkan bentuan guru berupa pengendalian. Baik dalam emosi ataupun prasangka yang dapat menjerumuskan murid pada kesalahan, karena kedua hal inilah yang pada prinsipnya dapat menghambat kerja akal dalam menemukan kebenaran. Dalam melakukan penalaran, murid tidak boleh terlalu jauh dalam melakukannya dan tugas guru untuk mengendalikannya.

2.      Pengarah

Disamping sebagai pengendali, guru juga berfungsi sebagai pengarah. Pengarahan yang baik harus dilakukan secara sistematis, yang dimulai dari awal tindakan yang dilakukan murid. Dengan maksud supaya penalaran yang dilakukan murid benar-benar dapat mempeloleh hasil dan mudah bagi guru untuk melakukan pengawasan dan pengendalian.

 

 

4.      Teknik Observasi

Dalam kamus ilmiah populer kata observasi diartikan sebagai pengamatan, pengawasan, peninjauan, penyelidikan, dan riset.161 Ini merupakan tugas guru secara keseluruhan, yaitu melakukan pengamatan terhadap muri dalam segala aspeknya, melakukan pengawasan terhadap tindakan dan perkembangan murid secara berkala dan berkelanjutan, melakukan peninjauan dan penyelidikan lebih jauh terhadap keilmuan dan perkembangan jiwa dan jasmani murid.

Teknik ini merupakan meniru cara kelompok tasawuf dalam usahanya mencari kebenaran, yaitu dengan observasi diri secara total. Dengan laku prihatin dan mujahadah supaya jasmani dan rohani seseorang dapat bersih. Guru harus mampu melakukan penilikan lebih dalam terhadap diri siswa secara keseluruhan yang dimulai dari awal ketika murid mempelajari ilmu pengetahuan, karena teknik observasi merupakan puncak dari kegiatan evaluasi, yang hasilnya menjadi bahan pertimbangan langsung bagi guru untuk dapat merekomendasikan murid menduduki tingkat yang lebih tinggi

Manfaat yang dapat diambil oleh murid adalah:

a.       Manusia sempurna

Evaluasi yang dilakukan secara menyeluruh oleh guru terhadap murid, menjadikan semua potensi yang coba dikembangkan menjadi terkontrol dan terkendali dengan baik, sehingga perkembangannya dapat berjalan dengan serasi dan seimbang, dan dapat membekalinya dalam mengarungi kehidupan yang lebih luas serta menjalankan fungsinya sebagi khalifah sekaligus sebagai hamba tuhan.

Hal yang harus dilakukan guru dalam hal ini adalah:

a.       Objektif

Guru harus benar-benar objektif dalam melakukan tindakan evaluasi ini, karena hal ini berkait erat dengan hasil akhir dari sebuah proses pendidikan yang dapat menentukan kelangsungan keilmuan dan kehidupan murid dimasa datang. Evaluasi ini jika dilakukan dengan tidak objektif hanya akan menjerumuskan murid dalam jurang kesesatan, karena perkembangan murid tidak terkontrol secara keseluruhan.

b.      Tegas

Ketegasan harus ada dalam menentukan hasil akhir, karena ilmu pengetahuan adalah sebuah proses untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Sehingga dalam melakukan proses untuk dapat melanjutkan ke jenjang yang lain dibutuhkan adanya kejujuran diri akan kemampuan yang dimiliki dan guru sebagai sosok yang mempunyai otoritas untuk membuat rekomendasi itu dituntut harus benar-benar tegas dalam menentukan sikap, sebagai penopang dari objektifitas.

Al-Ghazali membuat rumusan pendidikan dengan baik dengan memperhatikan perimbangan keilmuan yang harus dikuasai murid untuk dapat menjalankan tugasnya sebagai hamba dan khalifah dengan baik, serta sistem evaluasi yang tergambarkan dalam perjalanan intelektualnya merupakan sebuah rumusan evaluasi yang menyeluruh dan berjenjang.

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

Pendidikan menjadi sebuah kebutuhan pokok bagi manusia. Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia pada prinsipnya memiliki dua fungsi sekaligus yang harus diembannya dalam satu waktu, yaitu manusia sebagai hamba dan manusia sebagai khalifah allah. Pemaknaan yang mudah dari kenyataan ini adalah manusia memiliki hubungan dua hubungan, yaitu vertikal dan horisontal.

Penguasaan ilmu-ilmu yang mendukung kedua fungsi tersebut menjadi suatu keniscayaan yang harus dipenuhi supaya kedua fungsi tersebut dapat berjalan dengan selaras serasi dan seimbang. Sekolah menjadi pilihan utama untuk menyelenggarakan pengajaran ilmu-ilmu pengetahuan yang diperlukan bagi manusia tersebut, dengan mengambil konsep pendidikan yang beraneka ragam.

A.    Al-Ghazali adalah salah satu pemikir pendidikan islam yang mencoba untuk merumuskan kebutuhan manusia tersebut, dengan membuat sebuah kosep pendidikan yang diarahkan dengan menyeimbangkan porsi ilmu-ilmu yang harus diajarkan disekolah. Dengan mengusung teori al-Fadhilah, al-Ghazali merumuskan tujuan pendidikannya untuk menciptakan manusia-manusia sempurna. Manusia yang dapat mendekatkan diri kepada allah dengan menggunakan ilmunya. Kurikulum pendidikannya disusun dengan menyeimbangkan antara keilmuan dunia dan akherat dengan tetap meletakkan ilmu-ilmu agama sebagai prioritas. Dengan rumusan dasar-dasar metode pengajaran yang dibuat, menjadikan guru yang menjadi ujung tombak pendidikan mudah untuk memilihnya dan menyesuiakan dengan pelajaran. Hal ini diimbangkan dengan perumusan syarat-syarat guru dan murid secara apik, sehingga menjadi suatu kesatuan yang utuh.

B.     Sistem evaluasi sebagai alat pengendali dan pengontrol dari laju pembelajaran ilmu-ilmu di sekolah dirumuskan dengan cermat. Evaluasi pendidikan al-Ghazali berangkat dengan memposisikan murid dan guru sebagai subyek dan obyek evaluasi sekaligus yang coba diintegrasikan secara apik dan mendudukkan allah sebagai evaluator tunggal yang menyeluruh. Evaluasi pendidikan al-Ghazali dapat dipahami dengan cara menngunakan teori-teori dasar evaluasi yang diutarakan oleh Suharsimi Arikunto dalam karyanya Dasar-Dasar Evaluasi yang akan memunculkan empat macam teknik evaluasi, yaitu tanya jawab, praktek, penalaran dan observsi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, M. Amin, 2002, Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam, Bandung: Mizan

Ahmad, Abu dan Nur Uhbiyati, 2001, Ilmu Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta

Ahmad, Zainal Abidin, 1975, Riwayat Hidup Imam AL-Ghazali, Jakarta: Bulan Bintang

A. Hanafi, 1976, Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang

Ali, Atabik dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, 1998, Al-Asyri; Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak

Al-Ghazali, Tanpa Tahun, Ayyuhal Walad, Kediri: Pethok

-------------, 1962, Al-Iqtisad fi al-Itiqad, Mesir: Maktabah Muhammad Subayh

-------------, 1964, Fadlaihu al-Bathiniyyah, Kairo: Dar al-Qoumiyyah li al-Thibaah wa al-Nasyr

------------, 1964, Misykat al-Anwar, Abu al-Ala Afifi (Ed.), Kairo: Dar al-Qoumiyyah

------------, Tanpa Tahun, Ihya Ulumaddin, Juz I, Singapura: Dar Sulaiman MaraI

------------, Tanpa Tahun, Ihya Ulumuddin, juz 1, Beirut: Daar al-Fikr

------------, 1983, Ihya Ulumuddin, terj. Ismail Yakub, jilid 1, Jakarta: CV. Faozan

------------, 2004, Ilmu Laduni, Terj. M. Yaniyullah, Jakarta: Hikmah

------------, 1995, Minhajul Abidin, Terj. Abdul Hiyadh, Surabaya: Mutiara Ilmu

Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Toumy, 1979, Filsafat Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang

A. M. Saefudin, 1991, Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi, Bandung: Mizan

A. Partanto, Pius dan M. Dahlan al-Barry, 1994, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola

Arikunto, Suharsimi, 1993, Dasar -Dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara

Arifin, Zainal, 1991, Evaluasi Instruksional; Prinsip- Teknik- Prosedur, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Buchori, Muchtar, 1980, Teknik-Teknik Evaluasi Dalam Pendidikan, Bandung: Jemmars

Crow and Crow, 1990, Pengantar Ilmu Pendidikan, Edisi III, Yogyakarta: Rake Sarasin

Departemen Agama RI, AL-ALIYY; Al-quran dan Tejemahnya, Bandung: CV Penerbit Diponegoro

D. Marimba, Ahmad, 1980, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Maarif

Ensiklopedi Islam, 1994, Jilid II, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve

Fakhri, Majid, 1986, Sejarah Filsafat Islam, Terj. Mulyadhi Kartanegara, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya

Ginanjar Agustian, Ary, 2001, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ ( Emotional Spiritual Quotient ) berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam, Jakarta: Penerbit Arga

Hamka, 1986, Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta: Pustaka Panjimas

Husein, Syedd Sajjad dan Syedd Ali Asyraf, 1979, Crisis in Moslem Education, Jeddah: King Abdul Aziz University

Jalaluddin dan Usman Said, 1999, Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

J. Moloeng, Lexy, 1990, Metodologi Penelitian Kualitatif, Tjun Surjaman (Ed), Bandung: Remaja Rosda Karya

Junus, Mahmud, 1966, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Mutiara

JWM. Bakker SY, 1978, Sejarah Filsafat Dalam Islam, Yogyakarta: Kanisius

Langgulung, Hasan, 2000, Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Al-Husna Zikra

-----------------------, 1980, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, Bandung: Al-Maarif

----------------------, 1986, Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologis, Filsafat dan Pendidikan, Jakarta: Pustaka al-Husna

Maluf, Louis, 1931, Al-Munjid, Beirut: Al-Katsulikiyyah

M. Arifin, 1991, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara

Mudyaharjo, Redja, 2002, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar Dasar Pendidikan Pada Umumnya dan Pendidikan Di Indonesia, Jakarta: PT. Rineka Cipta

Muhajir, Noeng, 2000, Metdologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake Press

Mulkhan, Abdul Munir, 2001, Humanisasi Pendidikan Islam, Dalam Tashwirul Afkar, Edisi 11, Jakarta: Lakpesdam NU

Mustaqim, 1999, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Peajar

Munawwir, Ahmad Warson, 1997, Al-Munawwir; Kamus Arab-Indonesia, Surabaya: Pustaka Progressif

Nata, Abuddin, 2001, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam: Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

----------------, 2001, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid Studi Tasawuf Al-Ghazali, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

----------------, 1997, Filsafat Pendidikan Islam 1, Jakarta: Logos Wacana Ilmu

Nizar, Samsul, 2002, Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers

Pidarta, Made, 1997, Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, Jakarta: PT. Rineka Cipta

------------------, 1991, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Jakarta: Bumi Aksara

Rusn, Abidin Ibnu, 1998, Pemikiran Al-ghazali Tentang Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sholeh, Asrorun Niam, 2004, Reorientasi Pendidikan Islam, Mengurai Relefansi Konsep al-Ghazali Dalam Konteks Kekinian, Jakarta: eLSAS

Sibawaihi, 2004, Eskatologi Al-Ghazali dan Fazrur Rahman, Studi Komparatif Epistemologi Klasik-Kontemporer, Yogyakarta: Islamika

S. Nasution, 1991, Pengembangan Kurikulum, Bandung: Citra Aditya Bakti

--------------, 2005, Asas-Asas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara

Sudijono, Anas, 2005, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Sukmadinata, Nana Syaodih, 1997, Pengembangan kurikulum, Teori dan Praktek, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya

Sulaiman, Fathiyyat Hasan, 1990, Konsep Pendidikan al-Ghazali, Terj. Ahmad Hakim dan Imam Aziz, Jakarta: P3M

Surat Edaran Ketua Lembaga Administrasi Negara Nomor 44/SEKLAN/2/80 Tentang Pedoman Teknis Pengevaluasian Pendidikan Dan Latihan Pegawai Negri Sipil Bab 1 Butir 1

Suwito dan Faozan (Ed), 2005, Sejarah Sosial Pendidikan Islam, Jakarta: Prenada Media

SyafiI, Imam, 1992, Konsep Guru Menurut Al-Ghazali Pendekatan Filosofis Pedagogis, Yogyakarta: Duta Pustaka

Tafsir, Ahmad, 2005, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya

Thoha, Chabib, 1996, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

------------------, 2003, Teknik Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Winarno, Surahmat, 1992, Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung: Tarsito

Zuhairini, 1992, Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara

Zainuddin dkk, 1991, Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, Jakarta: Bumi Aksara

 

 

 

 

 



1 Abu Ahmad dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001), hal. 69

2 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2005), hal. 32

3 Ibid.

4 Redja Mudyahardja, Pengantar Pendidikan: Sebuah Studi Awal Tentang Dasar Dasar Pendidikan Pada Umumnya dan Pendidikan Di Indonesia, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002) hal. 303

5 Ibid

6 Made Pidarta, Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia, ( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1997) hal. 12

7 M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991) Cet. I, hal. 87

8 Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam: Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001) hal. 86

9 Suharsimi Arikunto, Dasar -Dasar Evaluasi Pendidikan, ( Jakarta: Bumi Aksara, 1993 ) hal. 5

10 Ibid., hal. V

11 Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005 ) hal. VII

12 Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ ( Emotional Spiritual Quotient ) berdasarkan 6 rukun iman dan 5 rukun islam, ( Jakarta: Penerbit Arga, 2001 ) hal. 286

13 Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), hal. 362

14 Al Ghazali, Ihya Ulumaddin, Juz I, (Singapura: Dar Sulaiman MaraI , tt), hal. 13

15 Anas Sudijono, Pengantar., hal. 69

16 Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus., hal. 712

17 Anas Sudijono, Pengantar., hal. 8

18 Surahmat winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah, ( Bandung: Tarsito, 1992 ), hal. 251

19 Lexy J. Moloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Tjun Surjaman (Ed), (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990), hal. 30

20 Noeng Muhajir, Metdologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Press, 2000), hal. 7

21 Ensiklopedi Islam, Jilid II, (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1994), hal. 25

[1] Zainuddin dkk, Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal. 7

23 Mustaqim, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hal. 84

24 Zainuddin dkk, Seluk-Beluk., hal. 7

25 Lihat Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid Studi Tasawuf Al-Ghazali, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 56-57

26 Ensiklopedi Islam., hal. 26

27 A. Hanafi, Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hal. 197

28 Zainal Abidin Ahmad, Riwayat Hidup Imam Al-Ghazali, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 43

29 A. Hanafi, Filsafat., hal. 198

30 Ensiklopedi., hal.27

31 Abuddin Nata, Pemikiran., hal. 84

32 Ibid.

33 Zainuddin dkk., Seluk-Beluk., hal. 10

34 Ibid., hal. 19-21

35 Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), hal. 25

36 Departemen Agama RI, AL-ALIYY; Al-quran dan Terjemahnya, (Bandung: CV Penerbit Diponegoro, 2000), hal. 479

37 Ibid., hal. 459-460

38 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan., hal. 56

39 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Maarif, 1980), hal. 23

40 Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Maarif, 1980), hal. 144

41 Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan kurikulum, Teori dan Praktek, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 1997), hal. 191

42 Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 83

43 Syedd Sajjad Husein dan Syedd Ali Asyraf, Crisis in Moslem Education, (Jeddah: King Abdul Aziz University, 1979), hal. 36

44 Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan., hal. 41

45 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hal. 162

46 Departemen Agama RI., AL-ALIYY., hal. 417

47 Ibid., hal. 431

48 Ibid., hal. 478

49 Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 86

50 Zainuddin dkk, Seluk-Beluk., hal. 42

51 Ibid., hal. 44

52 Ibid., hal. 46

53 Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, juz 1, (Beirut: Daar al-Fikr, tt), hal. 26-31

54 S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991), hal. 9

55 Crow and Crow, Pengantar Ilmu Pendidikan, Edisi III, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1990), hal. 9

56 Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 2000), hal 337

57 Ibid., hal. 338

58 S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal. 17

59 Ibid., hal. 10

60 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan., hal. 127

61 Ibid., hal. 128

62 Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1999), hal. 45

63 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan., hal. 57

64 Ibid., hal. 60

65 Ibid

66 Ibid., hal. 61

67 Ibid., hal. 62

68 Ibid.., hal. 63

69 Suwito dan Faozan (Ed), Sejarah Sosial Pendidikan Islam, (Jakarta: Prenada Media, 2005), hal. 156

70 Ibid., hal 157

71 Asrorun Niam Sholeh, Reorientasi Pendidikan Islam, Mengurai Relefansi Konsep al-Ghazali Dalam Konteks Kekinian, (Jakarta: eLSAS, 2004), hal. 59

72 Ibid., hal. 83

73 Fathiyyat Hasan Sulaiman, Konsep Pendidikan al-Ghazali, Terj. Ahmad Hakim dan Imam Aziz, (Jakarta: P3M, 1990), hal. 35

74 Abuddin Nata, Filsafat., hal. 167

75 M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam: Suatu Tinjauan teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal. 61

76 Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat., hal. 53

77 Imam Syafii, Konsep Guru Menurut Al-Ghazali Pendekatan Filosofis Pedagogis, (Yogyakarta: Duta Pustaka, 1992), hal. 69

78 Zainuddin dkk., Seluk-Beluk., hal 75

79 Ibid., hal. 76

80 Ibid., hal. 77

81 Ibid

82 Ibid., hal. 78

83 Ibid

84 Ibid

85 Ibid., hal. 79

86 Ibid

87 Ibid., hal. 80

88 Ibid., hal. 81

89 Ibid

90 Ibid

91 Ibid., 82

92 Departemen Agama RI, AL-ALIYY., hal. 59

93 Ibid., hal. 164

94 Ibid., hal. 224

95 Al-Ghazali, Ihya Ulumaddin, Jilid 1, Terj. Ismail Yakub, (Jakarta: CV. Faizan, 1983), hal. 63

96 Ibid., hal. 66

97 Ibid., hal. 67

98 Al-Ghazali, Ihya., hal 189-211

99 Mahmud Junus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Mutiara, 1966), hal. 59

100 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan., hal. 98

101 Ibid., hal. 99

102 Abuddin Nata, Perspektif Islam ., hal. 49

103 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan., hal. 46

104 Departemen Agama RI, AL-ALIYY., hal. 164

105 Ibid., hal. 217

106 Al-Ghazali, Ihya., hal. 59

107 Ibid., hal. 58

108 Al-Ghazali, Ihya.., hal.189-211

109 Pius A. Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Kamus ., hal. 163

110 M. Chabib Thoha, Teknik Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 1

111 Lihat, Surat Edaran Ketua Lembaga Administrasi Negara Nomor 44/SEKLAN/2/80 Tentang Pedoman Teknis Pengevaluasian Pendidikan Dan Latihan Pegawai Negri Sipil Bab 1 Butir 1

112 Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar., hal. 3

113 Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional; Prinsip- Teknik- Prosedur, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. 1991), hal. 4

114 Muchtar Buchori, Teknik-Teknik Evaluasi Dalam Pendidikan, (Bandung: Jemmars, 1980), hal. 6

115 Anas Sudijono, Pengantar ., hal. 10-14

116 Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar., hal. 11-16

117 Zainal Arifin, Evaluasi., hal. 11-12

118 Ibid., hal. 16

119 Chabib Thoha, Teknik., hal. 14

120 Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar., hal. 18-21

121 Anas Sudijono, Pengantar., hal. 59-62

122 Asrorun Niam Sholeh, Reorientasi., hal. 59

123 Abdul Munir Mulkhan, Humanisasi Pendidikan Islam, Dalam Tashwirul Afkar, Edisi 11, (Jakarta: Lakpesdam NU, 2001), hal. 17

124 A. M. Saefudin, Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi, (Bandung: Mizan, 1991), hal. 126

125 Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), hal. 139

126 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir; Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), hal. 1096

127 Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Al-Asyri; Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak, 1998), hal. 764-765

128 Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hal. 105

129 Departemen Agama RI, AL-ALIYY., hal. 437

130 Louis Maluf, Al-Munjid, (Beirut: Al-Katsulikiyyah, 1931), hal. 890

131 Abidin Ibnu Rusn, Pemikrian., hal. 106

132 Ibid, hal. 107

133 Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, ( Kediri: Pethok, Tanpa Tahun), hal. 5

134 Ibid., hal. 6

135 Abuddin Nata, Pemikiran., hal. 82

136 Asrorun Niam Sholeh, Reorientasi., hal. 31

137 Zainuddin dkk, Seluk-Beluk., hal. 27-28

138 Sibawaihi, Eskatologi Al-Ghazali dan Fazrur Rahman, Studi Komparatif Epistemologi Klasik-Kontemporer, (Yogyakarta: Islamika, 2004), hal. 227-228

139 Ibid., hal 228

140 Ibid

141 Al-Ghazali, Al-Iqtisad fi al-Itiqad, (Mesir: Maktabah Muhammad Subayh, 1962), hal. 9

142 Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran., hal. 19-20

143 Asrorun Niam Sholeh, Reorientasi., hal. 39

144 Al-Ghazali, Fadlaihu al-Bathiniyyah, (Kairo: Dar al-Qoumiyyah li al-Thibaah wa al-Nasyr, 1964), hal. 17

145 Al-Ghazali, Misykat al-Anwar, Abu al-Ala Afifi (Ed.), (kairo: Dar al-Qoumiyyah, 1964), hal. 55

146 Ibid., hal. 45-46

147 Sibawaihi, Eskatologi., hal. 206-207

148 Ibid., hal. 207

149 Ibid., hal. 239

150 Zainuddin dkk, Seluk-Beluk., hal. 13

151 Ibid., hal. 28

152 Sibawaihi, Eskatologi., hal. 244

153 Ibid

154 Zainuddin dkk, Seluk-Beluk., hal. 33

155 Ibid., hal. 33

156 Hamka, Tasauf: Perkembangan dan Pemurniannya, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986), hal. 138

157 Zainuddin dkk, Seluk-Beluk., hal. 28

158 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, teoritis dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 80

 

159 Ibid., hal. 81

160 Ibid., hal. 81

161 Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus., hal. 533