MENGGAGAS PESANTREN IDEAL

DALAM RANAH MODERNISASI

( Suatu Bentuk Upaya Mencari Format Pesantren Ideal, Sebagai Wujud Kebangkitan Pendidikan Islam Asli Indonesia )[1]

Oleh : Achmad Machrus Muttaqin[2]

           

A. Penegasan Judul

            Pesantren merupakan lembaga pendidikan islam tertua yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Oleh karena itu penulis mengatakan bahwasannya pesantren merupakan lembaga pendidikan islam asli Indonesia. Hal ini bukan tanpa dasar historis yang jelas, melainkan berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh Departemen Agama pada tahun 1984 – 1985, sebagaimana dikutip oleh Hasbullah, diperoleh keterangan bahwa pesantren tertua didirikan pada tahun 1062 di Pamekasan Madura, dengan nama pesantren Jan Tampes II. [3]Namun diluar penelitian ini tentunya ada sebuah pesantren yang bernama Jan Tampes I yang tidak diketahui dan sampai sekarang mungkin belum ada penelitian kelanjutan untuk menegaskan bahwa inilah pesantren yang pertama kali berdiri di Indonesia.

Perkembangan pesantren pada saat ini semakin pesat, yang ditandai oleh banyak bermunculannya pesantren dipelosok – pelosok daerah dengan beragam corak yang diusung. Mereka muncul sebagai imbas dari adanya faktor kebutuhan sosial yang mengharapkan adanya pencerahan agamis ditengah rasa keterasingan masyarakat ditengah globalisasi, yang mana kemunculannya didukung oleh adanya lulusan pesantren yang kian bertambah, tentunya hal ini tanpa menafikan ataupun mencoba untuk mengkotakkan antara lulusan yang bermutu dan yang tidak bermutu.

Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki lembaga ini. Ukuran besar atupun kecilnya sebuah pesantren sangat tergantung dari adanya kondisi sosial masyarakat sekitarnya yang mendukung. Karena memang ternyata pesantren tumbuh dan berkembang tanpa bisa melepaskan diri dari masyarakatnya. Suatu pesantren dapat berkembang dengan baik apabila didukung oleh masyarakat sekitarnya dan tentunya juga didukung oleh adanya faktor X, jika orang pesantren menyebutnya sebagai berkah. Keberkahan dari ilmu sang kyai menjadi sesuatu yang sangat urgen disamping faktor sosial yang mendukungnya.

Menurut pendataan yang dilakukan Departemen Agama pada tahun 1997 tercatat ada sekitar 9. 415 pesantren lebih dengan jumlah santri mencapai 1. 631. 727. Kebanyakan tumbuhnya pesantren ini berada pada daerah pedesaan yang memang kepatuhan beragama mereka masih dapat diandalkan, dalam artian mereka masih dapat dikatakan sebagai sosok muslim yang taat, sehingga corak yang seringkali diusung adalah corak tradisionalis, yaitu mencoba membangun suatu basis keagamaan yang berlandaskan  kultur kebudayaan setempat. Tentunya hal ini bukan berarti menafikan bahwa ada beberapa pesantren dipedesaan yang sudah mulai memasukkan pelajaran tambahan seperti bahasa asing ataupun komputer, disamping pelajaran pokok mereka yaitu mengkaji kitab – kitab klasik. Walaupun penambahan materi seperti adanya bahasa asing ataupun komputer belum sepenuhnya dapat menjadikan suatu pesantren menjadi sosok yang modern. Namun begitu, ternyata dalam kenyataannya banyak diantara pesantren  sudah berani mengeklaim diri sebagai yang modern dengan penambahan materi tersebut.

Modern bukan berarti memasukkan segala sesuatu yang bersifat kebaharuan, walaupun inti dari modern adalah segala sesuatu yang baru. Namun kiranya sangat sempit ketika kita memaknai pesantren modern adalah pesantren yang sudah mengadakan sekolah formal ataupun ada kursus ketrampilan. Dalam hemat penulis, yang terpenting adalah bukannya modern atau tidaknya sebuah pesantren, karena itu semua hanyalah sebuah label saja dan yang terpenting adalah bagaimana menjadikan pesantren sebagai sebuah lembaga yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat dewasa ini yaitu menggabungkan dua unsur keagamaan dan keduniaan.

Makalah ini yang berjudul “ MENGGAGAS PESANTREN IDEAL DALAM RANAH MODERNISASI ( Suatu Bentuk Upaya Mencari Format Pesantren Ideal, Sebagai Wujud Kebangkitan Pendidikan Islam Asli Indonesia )“ merupakan suatu upaya untuk mencari format pendidikan pesantren yang terbaik dan sesuai dengan zaman, serta menjadikannya sebagai suatu lembaga pendidikan islam alternatif. Mengapa demikian? karena menurut penulis, banyaknya penanganan pesantren yang dilakukan secara sangat sederhana, serta adanya kefakuman dalam tindakan untuk memberikan materi lebih kepada santrinya, tentunya yang terkait dengan kebutuhan para santri dimasa datang. Seperti life skill misalnya, yang tentunya jika hal ini tetap dilanggengkan akan berakibat buruk terhadap dunia pesantren itu sendiri.  Apa jadinya jika sebuah institusi pendidikan itu tidak terkonsep dengan baik terkait dengan sistem keadministrasiannya secara menyeluruh? Dan apa pula yang akan terjadi ketika produk pesantren hanya bisa mengaji ditengah kerumunan masyarakat yang semakin kompleks? Inilah contoh beberapa pertanyaan yang muncul tatkala kita dihadapkan pada konteks kekinian dengan melihat realitas lapangan yang ada.

Banyak kalangan diluar pesantren terutama masyarakat awam yang menganggap bahwa pesantren hanya memproduk sosok yang taat beribadah dan alim dalam hal agama saja, namun pesantren gagal dalam menjembatani masyarakat pada hal yang bersifat keduniaan, sehingga yang terjadi adalah adanya keraguan masyarakat untuk memasukkan anaknya kepesantren, dengan pertimbangan bahwasannya generasi sekarang tidak hanya cukup untuk dibekali dengan ilmu agama semata, namun lebih dari itu. Generasi sekarang juga harus tangguh dalam IPTEK, sehingga menimbulkan adanya sebuah tuntutan bahwasannya sosok yang menjadi produk pesantren harus mampu menguasai dalam dua bidang fital, yaitu bidang agama dan keduniaan. Hal ini mutlak diperlukan dengan satu alasan bahwa mereka kelak akan dijadikan sebagai imam ditengah masyarakat mereka.

Diharapkan tulisan ini akan dapat menjadi suatu koreksi tersendiri bagi dunia pesantren sebagai sebuah sumbangsih dari penulis yang sudaah cukup lama hidup dipesantren dan hal ini dapat menjadi sebuah tonggak kebangkitan pesantren sehingga dapat menjadi sebuah institusi pendidikan yang maju dan dinamis. Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk mengkaitkan pengalaman penulis selama di pesantren dengan berkaca kepada masa lalu untuk selanjutnya menjadikannya sebagai sebuah pelajaran berharga dan menjadikannya bahan koreksi yang dibarengi dengan adanya inofasi yang cermat serta terarah, sehingga dalam tahap pengkonsepan juga pengaplikasiannya dapat berjalan lancar dan menghasilkan sesuatu yang sempurna serta dapat menimbulkan keberkahan bagi semua.

B. Sebuah Potret Umum Pesantren Tradisional

             Dalam ranah ke Indonesiaan, kata pesantren tentunya sudah tidak asing lagi. Hal ini sangat terkait erat dengan usia pesantren yang memang sudah cukup tua, sehingga kata pesantren dirasa sudah cukup memasyarakat. Tradisi pesantren merupakan sebuah kerangka sistem pendidikan islam tradisional di Indonesia, yang dalam sejarahnya telah menjadi obyek penelitian bagi para peneliti untuk mempelajari islam di Indonesia secara lebih mendalam, baik peneliti dari dalam negri maupun dari luar negri. Beragam lingkup pesantren solah – olah menjadi sebuah inspirator yang tidak pernah kering walaupun sudah seringkali dilakukan penelitian.

Keterkaitan islam di Indonesia dengan pesantren memang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika kita membahas pesantren, maka mau tidak mau kita juga akan membahas Islam, demikian juga sebaliknya ketika kita bicara islam di Indonesia, maka kita juga akan membicarakan pesantren. Hal ini disebabkan adanya keberadaan pesantren di Indonesia yang menjadi pusat penempaan agama islam dan pengembangannya, pesantren dijadikan media dakwah yang ampuh bagi para kyai, dan sampai sekarang tradisi ini masih berlangsung.

K.H. Yusuf Hasyim, pimpinana pondok pesantren Tebuireng Jombang, melihat adanya kekhasan pesantren secara fungsional sebagi institusi yang meliputi fungsi pendidikan, dakwah, kemasyarakatan dan bahkan perjuangan.[4] Jika penulis menafsiri pendapat KH. Yusuf Hasyim ini adalah pesantren dalam fungsi pendidikan lebih berkompeten dalam bidang agama, sedangkan dalam bidang dakwah menurut penulis pesantren diposisikan sebagai pendakwah didaerah – daerah sekitar pesantren, baik yang dilakukan oleh kyai ataupun wakil dari kyai. Jika dalam kemasyarakatan pesantren lebih diharapkan sebagai motor penggerak masyarakat dalam segala bentuknya dan jika dalam hal perjuangan, maka pesantren memang pada zaman perang kemerdekaan menjadi basis perjuangan rakyat Indonesia dan untuk selanjutnya menjadi benteng moral masyarakat untuk melawan arus modernisasi. Mukti Ali mengidentifikasi beberapa karakteristik yang menjadi ciri khas pesantren sebagai berikut:

1.      Adanya hubungan akrab antara santri dan kyai, hal ini karena mereka tinggal dalam pondok.

2.      Tunduknya santri pada kyai

3.      Hidup hemat dan sederhana benar – benar dilakukan di pesantren.

4.      Semangat menolong diri sendiri amat terasa dan kentara dikalangan santri di pesantren.

5.      Jiwa tolong menolong dan semangat persaudaraan sangat mewarnai pergaulan dipondok pesantren.

6.      Kehidupan berdisiplin sangat ditekankan dalam kehidupan pesantren.

7.      Berani menderita untuk mencapai suatu tujuan adalah salah satu pendidikan yang diperoleh santri di pesantren.

8.      Kehidupan agama yang baik dapat diperoleh santri di pesantren.[5]

Demikian Mukti Ali mengambil sebuah kesimpulan tentang karakteristik sebuah pesantren yang sampai saat ini masih dipegang teguh di hampir semua pesantren. Namun begitu, ada beberapa poin yang dalam kenyataannya sekarang sudah agak memudar atau kendor yaitu adanya berani menderita untuk mencapai suatu tujuan. Para santri saat ini sudah jarang sekali yang melakukan “laku prihatin”, kecuali pondok – pondok tua yang telah mewajibkan laku prihatin bagi kalangan santrinya.

Memang terkadang sifat kehasan inilah yang seringkali menjadi suatu nilai plus bagi pesantren. Kemandirian dan juga adanya nilai kebersamaan yang terpupuk dengan baik secara tidak langsung nantinya dapat menimbulkan jiwa – jiwa mandiri dan sosial yang tertanam dengan baik, sehingga kelak ketika produk pesantren ini menjadi imam dimasyarakat dapat dengan mudah menjalankan fungsinya sebagai pendidik masyarakat, pendakwah bagi ajaran islam serta dapat mengayomi masyarakatnya dengan baik.

Mungkin sisi kemandirian yang kelak akan sangat diperlukan. Terutama tentang kemandirian ekonomi. Kenyataan yang sering terjadi dilapangan adalah bahwa ketika produk pesantren tidak dapat mandiri terutama dalam bidang ekonomi, maka fungsinya sebagai pendakwah akan sangat tidak intensif, disinilah letak urgennya permasalahan pemberian materi life skill untuk menunjang masa depan produk pesantren. Diharapkan dari sini mereka akan dapat menjalankan fungsinya dengan baik.

 Kerukunan yang tercipa dalam pesantren, membuktikan bahwasannya pesantren merupakan salah satu media berkumpul beragam karakteristik manusia, yang dilandasi oleh kultur sosial budaya yang saling berlainan. Sikap toleransi yang terbangun antara sesama santri menjadi modal utama untuk dapat melestarikan budaya ini, sebagai sebuah manifestasi dari adanya ajaran bahwa sesama muslim adalah saudara, oleh karena itu mereka disamping dituntut untuk dapat saling mengasihi juga saling membantu satu sama lain selagi masih dalam koridor kebaikan.

Disamping itu masih ada kekhasan lain yang terdapat dalam pesantren yaitu dalam dunia pesantren metode yang paling banyak diterapkan adalah model sorogan, bandongan ataupun wetonan. Disamping itu, dalam pengamatan penulis ada dua model lagi yang sering digunakan dalam dunia pesantren yaitu hafalan dan halaqoh, dengan tujuan supaya santri terbekali pondasi keilmuan dengan kuat serta dalam pemahaman dapat lebih mendalam dikarenakan adanya saling beradu pendapat yang terjadi dalam forum halaqoh yang tentunya secara alamiah akan menguji pemahaman mereka.

Sistem asrama yang selama ini diterapkan dalam pesantren memungkinkan bagi kyai untuk dapat terus memonitoring santrinya dalam berbagai aktifitas kesehariannya, seperti jama’ah, ketepatan jam mengaji, sopan santun ataupun laku prihatin seperti puasa ataupun sholat malam juga ziaroh, sehingga ketika terjadi tindakan yang menyimpang dari nilai – nilai ajaran islam ataupun beragam ritual yang menjadi program pondok, kyai dapat langsung mengingatkannya. Bukan hanya itu saja, melainkan  terkadang badal kyai juga ikut mendinamisir secara langsung semua ritual yang ada dalam sebuah pesantren tanpa pamrih, hal inilah yang menjadikan hampir semua ritual yang ada dapat terkontrol dengan baik dan penuh, sehingga dapat berjalan secara maksimal dan menghasilkan produk – produk yang berdisiplin tinggi.

Dalam perkembangannya, sistem madrasah dan klasikal diterapkan untuk memudahkan adanya proses pembelajaran, sebagai sebuah upaya adanya pembenahan dan pengembangan metode pembelajaran. Kombinasi antara sistem klasikal dengan madrasah inilah yang sekarang banyak diadopsi oleh pesantren saat ini, hal ini dilakukan bukan tanpa dasar, melainkan dengan pertimbangan adanya tertibnya administrasi, adanya pengalokasian materi yang sesuai dan seimbang, adanya penjenjangan kelas yang tertata dan adanya koordinasi pengajaran yang mudah. Memang selama ini hal tersebut masih dilakukan secara sederhana, namun demikian setidaknya ini dapat menjadikan indikasi bahwa pesantren juga merespon adanya kemajuan zaman, sehingga kesan jumud atau statis yang ditudingkan pihak luar kepada pesantren kiranya perlu dikesampingkan jauh – jauh.

Metode yang selama ini dilakukan berupa sorogan, bandongan, wetonan, halaqoh dan juga hafalan diterapkan dalam sistem berjenjang atau madrasah, sehingga tingkat kitab yang dikaji dengan metode diatas akan saling berlainan satu dengan yang lainnya, dengan tujuan untuk lebih mengoptimalkan keilmuan santri secara menyeluruh. Metode sorogan terbukti sangat ampuh dalam pembinaan keilmuan santri, dimana santri menghadap guru untuk membaca suatu kitab secara individu, untuk selanjutnya terjadi suatu diskusi panjang tentang permasalahan yang muncul dari pembacaan kitab tersebut. Metode bandongan terbukti sangat ampuh dalam transferisasi keilmuan guru, dimana guru akan mencurahkan semua pengetahuannya dalam sebuah konsentrasi keilmuan tertentu dan seorang guru yang menganut metode seperti ini tidak akan berani untuk memulai pengajian ketika dia tidak siap betul dalam suatu materi pengajian. Metode wetonan sangat berguna sekali untuk mencari keberkahan kyai, karena pesantren yang menganut sistem kombinansi ini tidak memberikan kesempatan kepada semua santri untuk bertatap muka dengan kyai, sehingga dicarikan waktu pengajian khusus yang memungkinkan bagi semua santri untuk dapat bertatap muka langsung dengan kyainya. Sedangkan metode halaqoh sangat berguna sekali dalam mengasah kemampuan pemahaman santri dalam sebuah materi pengajian, beradu argumen ataupun pembenaran pendapat pribadi dengan beragam alasan menjadi fenomena menarik jika kita mau untuk mencermatinya. Dan yang terakhir metode hafalan sangat berguna untuk membangun pondasi keilmuan santri, dalam setiap bidang ilmu pasti memerlukan adanya metode hafalan ini. Hal ini tanpa melepaskan diri dari adanya dua sisi mata uang yang terus melingkupi sebuah metode yaitu baik dan buruknya sebuah metode, kekurangan dan kelebihan sebuah metode.

Adapun kitab – kitab yang dipelajari dalam pesantren meliputi: membaca al – qur’an, fiqh, ushul fiqh, hadits, adab, tafsir, tauhid, tarikh, tasawuf dan akhlaq         yang kesemuanya itu memerlukan adanya seorang guru yang memang benar – benar berkompeten didalam bidang tersebut untuk mendapatkan keilmuan yang sistematis dan jelas. Masyarakat sampai sekarang masih menganggap hanya pesantren yang mampu memberikan pengajaran seperti itu, satu hal yang perlu diingat bahwa karakteristik yang paling menonjol dalam pesantren adalah terkait dengan tujuan dari pesantren. Dalam hal ini Prof  Mastuhu juga memberikan rumusannya sendiri tentang tujuan dari pesantren sebagai berikut:

“ Menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan, berakhlaq mulia, , bermanfaat bagi masyarakat, atau berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat sekaligus menjadi rasul, yaitu menjadi pelayan masyarakat sebagimana kepribadian Nabi Muhammad SAW ( mengikuti sunah nabi ), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan islam, dan kejayaan umat islam ditengah – tengah masyarakat ( ‘izzul islam wal muslimin ), serta mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia “[6] 

Demikianlah sekilas tentang potret dari keberadaan pesantren tradisional secara umum. Namun dalam hemat penulis hal ini sebenarnya tidaklah begitu lengkap untuk menggambarkan keseluruhan dari dinamika pesantren tradisional yang ada. Selanjutnya Prof Mastuhu, mengidentifikasi karakteristik yang terpotret tadi sebagai sebuah nilai, yang untuk selanjutnya ia bedakan menjadi dua macam yaitu; nilai – nilai kebenaran mutlak dan nilai – nilai kebenaran relatif.[7]  Maksudnya adalah bahwa nilai – nilai yang diyakini sebagai kebenaran mutlak bersifat tetap, sedangkan nilai – nilai kebenaran yang bersifat relatif dapat berubah sesuai dengan adanya kemajuan zaman.

C. Permasalahan

            Tentunya akan banyak memunculakn beragam permasalahan dari penggambaran diatas disamping adanya beberapa buah bentuk pertanyaan yang mengendap selama ini diantaranya adalah

1.   Bagiamana konsep pesantren ideal yang sesuai dengan konteks kekinian?

2. Bagaimana menata ulang pesantren tradisional sebagai bentuk pusat pendidikan islam murni yang sesuai dengan perkembangan zaman?

Dari sini diharapkan akan mendapatkan suatu gambaran yang maju dan sesuai tentang kelanjutan dari sistem pendidikan islam pesantren yang selama ini terkesan kurang bergairah dan tidak ada gejala kebangkitan nyata. Mungkin setidaknya kita dapat mencoba berpikir ulang tentang konsep – konsep yang telah dicetuskan oleh para pemikir islam dulu dan mengkombinasikannya dengan alur pemikiran orang islam sekarang dan menyesuaikannya dengan tuntutan zaman sekarang.

D. Tujuan

            Tujuan dari penulisan ini adalah untuk:

1.      Mendapatkan format pesantren yang ideal.

2.      Menciptakan pesantren ideal yang berbasis kultur

E. Metodologi

            Dalam pembahasan suatu konsep pendidan pesantren disini, maka akan dipelajari tentang sistem pendidikan yang ada dalam pesantren selama ini. Walaupun bentuk dan ragamnya sangat banyak, akan tetapi setidaknya hal ini dapat dijadikan bahan pijakan untuk mengetahui secara lebih jelas akan sistem pendidikan pesantren yang ada, yang mana sistem pendidikan ini merupakan suatu sistem yang diadopsi oleh pesantren dari banyak pemikiran para tokoh pendidikan islam seperti Ibnu Sina, Az – Zarnuji sampai dengan Imam Zarkasyi. Untuk menemukan kedudukan konsep pendidikan ala pesantren tersebut, maka akan dimulai dengan pengumpulan kepustakaan tentang pesantren serta tokoh pendidikan islam dan penulis akan memfokuskan diri kepada salah satu dari tema besar atau pointer dari sistem pendidikan pesantren. Dengan mengikuti pemikiran para tokoh pendidkan islam serta menggabungkannya dengan sistem yang selama ini berjalan, maka sudah barang tentu akan terjamin obyek formal sistem pendidikan islam dan pengaplikasiannya. Dalam pemikiran mereka sudah termuat semua unsur metodis umum seperti berlaku bagi pemikiran sebuah sistem

a.      Interpretasi

Penulis akan melakukan interpretasi dari tulisan – tulisan pemikir pendidikan islam, serta menggabungkan dengan praktek dilapangan secara lngsung dan membuat sebuah hipotesis untuk selanjutnya dapat diambil suatu kesimpulan mengenai konsep pendidikan dipesantren pada zaman dahulu yang nantinya hal ini akan dikolaborasikan dengan sistem pendidikan yang bersifat modern, sehingga diharapkan akan mendapatkan suatu konsep baru tantang sistem pendidikan pesantren yang sesuai dengan zaman sekarang, sehingga pendidikan pesantren akan dapat eksis ditengah globalisasi seperti sekarang ini. Pesantren bukan lagi sebagai sebuah institusi pendidikan yang kampungan, namun suatu institusi pendidikan yang maju dan dinamis.

 

 

     b.    Induksi dan Deduksi

Dengan mempelajari sebagian dari pemikiran para filosof muslim tentang pendidikan dan fenomena pendidikan pesantren saat ini baik yang salaf ataupun modern nantinya penulis akan menginfentarisir dan merunut sebagian ide besar mereka dan menginfentarisir segala perkara yang berkaitan dengan pendidikan dipesantren, sehingga nantinya diharapkan akan mendapatan suatu sintesis pemikiran yang jitu tentang konsep pendidikan islam dalam pesantren dan mengaplikasikannya dalam suatu zaman kekinian, baik dalam kadarnya untuk memperbaiki ataupun membuat sesuatu yang baru. Untuk menciptakan wajah pesantren yang baru dan memadai.

c.    Koherensi Intern

Disini penulis akan berusaha untuk menyesuaikan dalam dataran konsep pendidikan islam ala pesantren dimasa lalu dengan konsep pendidikan islam ala pesantren dimasa kini, sehingga runut jalannya suatu konsep pendidikan islam ala pesantren tetap mengacu kepada pemikiran para pendahulu dan sampai ahirnya diharapkan nantinya dapat menghasilkan suatu sintesis baru yang lebih komprehensif dan sesuai dengan zaman.

      d.    Holistika[8]

Konsep pendidikan islam ala pesantren yang bersangkutan akan dilihat secara keseluruhan tanpa adanya pemisahan dan melakukan suatu penilaian secara keseluruhan serta menyesuaikan dengan para pemikir sesudahnya yang memungkinkan merupakan penyempurna dari konsep terdahulu, sehingga jalinan rantai pemikiran tetap ada dan mencapai klimaksnya setelah mendapatkan format yang terbaik. 

F. Keberadaan dan Eksistensi Pesantren Tradisional

            Dalam gemerlapan modernisasi seperti saat ini yang berimbas pada menjamurnya beragam institusi pendidikan modern, ternyata pesantren masih mampu untuk tetap eksis meramaikan belantika pendidikan di Indonesia dengan segala kesederhanaannya. Sebagai salah satu lembaga pendidikan islam yang sangat diperhitungkan dalam menciptakan kader – kader ulama yang mampu menjadi imam bagi masyarakatnya, pesantren dalam kelanjutannya selalu berbenah diri untuk dapat eksis dalam dunia modern. Keberadaannya bukan hanya bertahan, melainkan mengalami perkembangan baik dari sisi kwantitas maupun sisi kwalitas, terlepas dari adanya standarisasi pesantren yang bermutu ataupun yang tidak bermutu, karena selama ini dalam pengamatan penulis masing – masing pesantren memiliki dinamikanya sendiri – sendiri dan penekanan khusus dalam bidang tertentu, sehingga ketika kita meneliti dan membandingkan antara satu pesantren dengan lainnya akan sangat kentara sekali perbedaannya, walaupun sama dalam penamaannya yaitu pesantren.

 

            Kultur budaya  Jawa yang lebih cenderung ke arah mistik sangat erat hubungannya dengan paham sufisme islam yang dibawa ketanah Jawa, padahal pesantren tumbuh dan berkembang dalam asuhan sufisme islam, dimana karya – karya Al – Ghazali ataupun paham Asy’ariyah sangat dominan dalam hampir seluruh pesantren yang ada, atau singkatnya islam yang berkembang di Indonesia dan yang membidangi kelahiran pesantren adalah islam suni.

            Pada tahun 1942 jumlah pesantren dan madrasah di Indonesia sebanyak 1. 871 dengan siswa 139. 415 orang. Pada tahun 1977 jumlah itu berkembang menjadi 4. 195 lembaga dengan siswa 677. 384. berdasarkan statistik pada Departemen Agama ( 1997 ) jumlah pesantren diseluruh Indonesia kini mencapai lebih dari 9. 415 dengan santri lebih kurang 1. 631. 727 orang. Berikut data selengkapnya:

No

Propinsi

Jumlah

Santri di Asrama

Ponpes

Kyai / Guru

Laki – laki

Perempuan

1

DI Aceh

409

3. 681

41. 548

36. 565

2

Sumut

125

3. 052

21. 958

23. 092

3

Sumbar

82

1. 182

7. 286

7. 835

4

Riau

66

1. 567

11. 802

12. 769

5

Jambi

62

1. 025

10. 131

8. 773

6

Sumsel

88

1. 680

10. 590

12. 035

7

Bengkulu

23

386

1. 631

1. 841

8

Lampung

280

985

2. 811

5. 288

9

DI Jakarta

80

2. 147

4. 720

4. 972

10

Jabar

3. 654

12. 371

240. 794

177. 220

11

Jateng

1. 377

10. 496

133. 246

94. 971

12

DI Yogyakarta

93

1. 190

10. 500

9. 031

13

Jatim

2. 413

26. 648

295. 725

228. 891

14

Kalbar

48

1. 003

3. 973

3. 384

15

Kalteng

41

281

1. 402

1. 135

16

Kalsel

90

1. 730

10. 995

4. 447

17

Kaltim

14

87

454

395

18

Sulut

16

295

1. 165

1. 326

19

Sulteng

34

469

3. 340

3. 041

20

Sulsel

121

493

10. 648

11. 583

21

Sultenggara

29

143

78

91

22

Bali

42

170

1. 430

1. 779

23

NTB

174

1. 916

78. 570

72. 794

24

NTT

6

10

81

61

25

Maluku

25

229

1. 002

1. 094

26

Irja

23

164

722

676

        Jumlah

9. 415

73. 400

906. 638

725. 089

Sumber: Statistik pada Ditbinbaga Islam Depag RI, 1997

            Data statistik ini memang sudah cukup lama, namun karena keterbatasan penulis dalam pencarian data, maka data inilah yang dipakai oleh penulis dengan harapan akan dapat memberikan sedikit keterangan yang jelas tentang perkembangan pesantren yang ada di indonesia. Memang dalam setiap tahunnya Departemen Agama selaku payung pesantren selalu menyebarkan data emis kepada pondok pesantren, untuk selanjutnya diisi dan dijadikan data bagi Departemen Agama supaya dinamika pesantren akan tetap terkontrol dengan baik. 

. Memang pada awalnya hanya aliran suni yang mengembangkan institusi pendidikan bernama pesantren, namun dalam kelanjutannya banyak aliran dalam islam yang mencoba mengembangkan model institusi pendidikan pesantren. Dengan berdasar mereka berkewajiban untuk mendakwahkan islam secara menyeluruh, hal ini berimbas kepada banyaknya ormas ataupun lembaga lain yang mencoba mendirikan pesantren dengan beragam alasan mereka masing – masing. Secara kelembagaan, terdapat pesantren yang memang milik kyai dan ada pula yang milik sebuah yayasan, sehingga pengelolaannya dilakukan secara kolektif. Dari sisi ormas yang menjadi induk juga sangat beragam. Memang harus diakui bahwasannya Nahdlotul Ulama menjadi ormas yang banyak memunculkan pesantren disamping ada Muhammadiyah ataupun Al – Irsyad. Dalam perkembangannya, pesantren dengan beragam induk semang mengusung banyak model. Setidaknya ada empat model pesantren yang berkembang saat ini, yaitu:

1.      Model 1

Pesantren yang mempertahankan kemurnian identitas aslinya sebagai tempat mendalami ilmu – ilmu agama ( Tafaqquh Fiddin ) bagi para santrinya. Semua materi yang diajarkan di pesantren ini sepenuhnya bersifat keagamaan yang bersumber dari kitab – kitab berbahasa arab yang ditulis oleh para ulama abad pertengahan ( 7 – 13 H ) yang dikenal dengan nama kitab kuning. Penamaan kitab kuning bukanlah berdasarkan alasan yang terlalu muluk dan ilmiyah, melainkan hanya berdasarkan pada jenis kertas yang digunakan berwarna kuning. Pondok Pesantren API Tegalrejo di Magelang adalah salah satu pesantren yang menerapkan model ini. 

2.      Model 2

Pesantren yang memasukkan materi – materi umum dalam pengajarannya, namun dengan kurikulum yang disusun sendiri menurut kebutuhan dan tidak mengikuti kurikulum yang ditetapkan pemerintah secara nasional, sehingga ijasah yang dikeluarkan tidak mendapatkan pengakuan dari pemerintah sebagai ijasah formal. Para santri yang hendak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi harus mengikuti ujian persamaan disekolah – sekolah lain. Sebagai contoh adalah pesantren Maslakhul Huda di Kajen Pati Jawa Tengah yang diasuh oleh K.H.M.A. Sahal Mahfudz.

3.      Model 3

Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan umum didalamnya, baik berbentuk Madrasah ( sekolah umum bercirikhas islam dibawah naungan DEPAG ) maupun sekolah ( sekolah umum dibawah DEPDIKNAS ) dalam berbagai jenjangnya, bahkan ada yang sampai perguruan tinggi yang tidak hanya meliputi fakultas – fakultas keagamaan, melainkan juga fakultas – fakultas umum. Pesantren Tebuireng di Jombang Jawa Timur adalah contohnya.

4.      Model 4

Pesantren yang merupakan asrama pelajar islam, dimana para santrinya belajar disekolah – sekolah atau perguruan – perguruan tinggi diluarnya. Pendidikan agama dipesantren model ini diberikan diluar jam – jam sekolah sehingga bisa diikuti oleh semua santrinya. Diperkirakan pesantren model inilah yang terbanyak jumlahnya.[9]  

            Klasifikasi tersebut setidaknya memberikan gambaran yang cukup jelas, bahwasannya perkembangan pesantren dengan beragam coraknya semakin marak saja di Indonesia. Pesantren tidak lagi hanya milik kaum Nahdliyin, melainkan ormas islam kini semakin berlomba – lomba untuk mendirikan pesantren, mungkin mereka sudah mengakui bahwa model pendidikan asrama sangat baik jika diterapkan untuk mendapatkan produk yang tangguh dan handal dan tentunya untuk saat ini bukan hanya dengan tujuan mengembangkan dan mengajarkan ajaran islam semata, namun ada banyak maksud yang berada dibalik pembuatan sebuah pesantren.

            Disini bukan berarti penulis mencoba untuk mengkotak – kotakkan pendiri pesantren masa kini untuk selanjutnya melakukan sebuah penilaian, namun disini penulis mencoba untuk memilah dan memilih dan ahirnya mendoakan supaya mereka para pendiri pesantren dalam memperjuangkan agama memang dilandasi keikhlasan tinggi dan bukan atas dasar pencampuran antara kepentingan pribadi dan perjuangan agama.    

G. Dilema Pesantren Dewasa ini

            Nasihin Hasan, direktur P3M Jakarta, mengidentifikasi masalah utama yang dihadapi pesantren dewasa ini menjadi empat aspek, yaitu:

1.      Masalah identitas diri pondok pesantren dalam hubungannya dengan kemandiriannya terhadap lembaga – lembaga lain di masyarakat.

2.      Masalah jenis kependidikan yang dipilih dan dikelolanya.

3.      Masalah pemeliharaan sumber – sumber daya internal yang ada dan pemanfaatannya bagi pengembangan pesantren itu sendiri.

4.      Masalah antisipasi kemasa depan dalam hubungannya dengan peranan – peranan dasar yang akan dilaksanakan.[10]

Sedangkan Prof. Dr. H. A. Mukti Ali mencermati lemahnya sistem pendidikan pesantren yang hanya menekankan pada aspek tertentu tanpa adanya keseimbangan dan masalah metode pengajaran pesantren. Ia mengemukakan:

1.      Metodik dan dedaktik mengajar kurang, hal ini menyebabkan santri dipondok pesantren memerlukan waktu lama.

2.      Yang digarap dalam pondok pesantren adalah mencerdaskan otak dengan berbagai macam pengetahuan dan penanaman ahlaq mulia dengan pendidikan agama.[11]

Jika kita mau mengamati secara teliti, ternyata permasalahn yang dihadapi oleh pesantren menurut para pemikir islam adalah sesuatu yang sangat fital kaitannya dengan keeksistensiannya dalam ranah modernisasi. Ternyata kemandirian yang tercipta dan ditransfer oleh pesantren kepada santri tidak berimbas pada pesantren itu sendiri, dalam hemat penulis hal ini disebabkan oleh kurangnya tenaga ahli dalam bidang tertentu dipesantren untuk mengolah dan mendidik para santri dalam bidang kemandirian, terutama kemandirian ekonomi. Selama ini yang mereka punyai adalah jiwa – jiwa mandiri, namun miskin teori yang tertata secara sistematis dan terarah.

Mungkin tidak hanya masalah kemandirian saja yang terasa paradoksal di dunia pesantren, namun ternyata pesantren juga belum mampu mengaplikasikan secara sempurna konsep yang telah dirumuskan oleh para pemikir pendidikan islam dahulu. Dalam pandangan penulis pesantren memiliki banyak SDM ataupun SDA yaang bermutu, namun sampai saat ini pesantren masih kekurangan cara mengakomodir semua yang mereka miliki, sehingga semuanya menjadi barang koleksi yang tidak pernah tergarap dengan baik dan menjadi sebuah kekayaan yang mandeg.    

Dilema yang dialami pesantren saat ini tentu sangat erat kaitannya dengan adanya arus modernisasi, yang secara tidak langsung menuntut lebih atas semua yang ada tanpa terkecuali, sehingga tuntutan yang muncul dari masyarakat semakin berlebihan, tidak hanya kepada institusi pendidikan seperti pesantren, melainkan terhadap semua yang berkaitaan dengan kebutuhan masyarakat. Mulai dari sandang, pangan, ataupun papan, juga life still menjadi sesuatu yang dapat dikatakan sebagai yang berlebihan.

 Pengadopsian sistem sekuler yang ditawarkan pihak barat kepada lembaga kependidikan islam di Indonesia untuk selanjutnya dikawinkan dengan sistem salaf yang berkembang dipesantren mungkin dapat dijadikan sebagai suatu solusi yang baik, walaupun sampai saat ini hanya beberapa pesantren yang melakukan hal ini dan berhasil, selebihnya mereka cenderung kearah sekuler dengan menghilangkahn ciri khas kesalafan mereka. Gemerlap modernisasi telah menjadikan sebagian pesantren untuk berlomba – lomba mempercantik diri dengan memasukan beragam pelajaran tambahan untuk selanjutnya mengeklaim sebagai yang modern dengan tujuan untuk terus dapat eksis ditengah modernisasi.

Sekuler memang terkadang diperlukan, namun apakah ini juga diperlukan jika konsep tradisional masih mampu untuk menjadi payung pesantren? Tentu tidak bukan. Namun sayangnya untuk saat ini payung tradisional sudah tidak cukup memadai lagi jika harus tetap dipraktekkan, setidaknya ada sebuah sistem pembanding atau penyempurna untuk menciptakan sebuah pesantren ideal. Tradisional bukan berarti melepaskan diri secara total dari gempita modernisasi, akan tetapi juga tidak salah apabila tradisional melengkapi diri dengan sesuatu yang baru.

Namun begitu, Pengadopsian materi – materi sekular yang dilakukan oleh kebanyakan pesantren mengindikasikan bahwasannya ada dinamika dalam fungsi kependidikannya. Modernisasi kurikulum ini disamping disebabkan oleh kontak langsung dengan bentuk pendidikan model barat yang dibawa oleh penjajah, juga karena adanya sebagian dari para muslim Indonesia yang belajar di luar negeri, seperti Malaysia, India yang telah lebih dulu mengadopsi sistem sekular atau bahkan langsung kesumbernya, seperti Eropa ataupun Amerika. Lewat mereka inilah sistem pendidikan modern merasuki sistem pendidikan islam di Indonesia, termasuk didalamnya adalah pesantren.

            Dengan demikian pesantren yang dulunya merupakan tempat khusus untuk menempa diri dalam bidang agama, kini telah berfungsi ganda. Dengan masuknya materi – materi sekuler menjadikan pesantren disamping memperhatikan kepentingan akherat juga kepentingan duniawi. Hal ini didasarkan pada kesadaran dalam era modernisasi orang tidak cukup hanya berbekal moral baik saja, melainkan dibutuhkan adanya kelengkapan diri yang berbentuk ketrampilan ataupun keahlian yang relevan dengan kebutuhan kerja.

            Jika keadaan yang terjadi seperti ini, maka pesantren supaya tidak terombang – ambing dalam ranah modernisasi dan tidak larut dalam modernisasi, perlu adanya suatu pengambilan sikap tegas dan mendasar, yaitu berupa inovasi diri untuk dapat eksis dan menjadi sosok pendidikan islam yang ideal dan menjadi sosok lembaga pendidikan alternatif dalam gegap gempita modernisasi yang semakin tidak dapat terbendung oleh kekuatan manapun.

H. Inovasi Pesantren Menuju Pesantren Ideal

            Ideal adalah sesuai dengan cita – cita sempurna[12], sedangkan pesantren adalah sebuah institusi pendidikan non formal yang memfokuskan diri kepada pendalaman ajaran agama islam, maka pesantren ideal adalah institusi pendidikan non formal yang memfokuskan diri kepada pendalaman ajaran agama islam yang sesuai dengan cita – cita sempurna, yaitu pesantren yang mampu menjembatani hubungan antara kebutuhan jasmani dan ruhani, antara materil dan moril di era globalisasi seperti saat ini. Bukan saja pesantren mampu membuat produk yang mahir dalam penguasaan agama, melainkan juga dalam penguasaan IPTEK, sehingga produk pesantren akan siap untuk mandiri dalam menyebarkan ajaran islam maupun dalam kebutuhan diri dan tentunya fungsi utama mereka akan terpenuhi yaitu sebagai imam ditengah masyarakat mereka.

            Permasalahan dalam pesantren memang semakin kompleks. Terlebih ketika kita mau mencermati secara penuh tentang ritme perjalanan pesantren. Dinamika pesantren terus saja berkembang seiring dengan lajunya zaman. Terkadang pesantren harus berani merubah diri sekedar untuk dapat bertahan diri, namun tidak jarang juga pesantren yang terpecah dan ahirnya hilang yang diakibatkan adanya konflik internal kyai, jika memang pesantren itu dipegang oleh banyak kyai dalam satu keluarga besar. Layaknya sebuah institusi pendidikan lainnya, pesantren juga seringkali mengalami permasalahan yang sama dengan lainnya. Jadi menurut penulis, dinamika pesantren lebih kompleks dan terkadang lebih rumit, karena menyangkut dengan sebuah institusi pendidikan dan tentunya sebuah keluarga, yaitu keluarga kyai.

Dari pencermatan uraian diatas, maka dalam kelanjutannya perkembangan pesantren sangat ditentukan oleh kemampuan pesantren dalam menangani beragam permasalahan, dilema ataupun suatu konflik yang mungkin muncul dalam pesantren itu sendiri. Oleh karena itu, suatu pesantren supaya tidak terkesan mundur kebelakang dan untuk mengantisipasi segala problem yang mungkin muncul, perlu mengadakan suatu inovasi. Memang suatu bentuk inovasi tidak mungkin datang secara tiba – tiba, melainkan memerlukan adanya suatu upaya yang terus dan konsisten.

            Ada bebarap alasan mendasar mengapa pesantren dirasa harus melakukan inovasi, Sudirman Tebba, seorang peneliti pesantren mengungkapkan alasannya:

1.      Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah dan sosial dirasakan oleh banyak pihak memiliki potensi yang besar untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam bidang pendidikan dan pengembangan masyarakat.

2.      Jumlah pesantren potensial terbukti telah melaksanakan usaha kreatif yang bersifat rintisan.

3.      Usaha ini perlu dikembangkan sambil terus melakukan upaya pembenahan terhadap masalah utama yang dihadapi pesantren, baik yang bersifat internal maupun eksternal.[13]

Usaha yang perlu dilakuakn oleh pesantren, kaitannya dengan inovasi adalah dengan pembenahan pada beberapa segi. Kalau memang pesantren secara makro diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berbobot dalam ranah rekayasa sosial dan tranformasi sosial kultural, tentunya pesantren harus memiliki agenda perubahan / pembaharuan yang jelas, terencana serta berkelanjutan tanpa harus menghilangkan ciri – ciri lama yang masih relevan. Seringkali pesantren terjebak untuk melakukan perubahan total dalam dirinya, sehingga ciri – ciri lama pesantren yang konon menjadi nilai plus tersendiri meredup dan konsekwensinya adalah pesantren merasakan ada sesuatu yang hilang dalam dirinya sehingga seringkali merasakan kehampaan dalam perjalanannya. Jika yang terjadi adalah kondisi seperti ini, maka hanya ada dua pilihan bagi pesantren yaitu menjadi sekuler ataupun membubarkan diri.

Ada tiga ciri utama dan dapat dijadikan sebagai sebuah cara yang perlu diletakkan dalam pesantren tradisional untuk dapat menjadi subyek dari adanya rekayasa sosial dan transformasi sosial kultural untuk dapat menjadi sebuah pesantren yang ideal:

1.      Dimensi Kultural

Dalam konteks ini watak mandiri merupakan ciri kultural yang harus dipertahankan, meskipun harus dengan menjaga diri supaya tidak terjerumus kedalam pengucilan diri atau pengisolasian diri. Hal ini perlu dijaga untuk menjadikan pesantren sebagai sosok yang terus independen dan memegang penuh semua kebijakan yang berkaitan dengan pesantren. Solidaritas spontan dan tidak terarah yang selam ini berkembang dalam pesantren, sudah seharusnya ditingkatkan menjadi kesadaran kolektif yang teroganisir dan berkesinambungan baik dalam lingkungan kalangan pesantren sendiri ataupun melebar sampai dengan antar sesama pesantren, sehingga terbentuk suatu jaringan pesantren yang independen. Dalam kelanjutannya, hal ini dapat dijadikan modal penggerak bagi kebangkitan pesantren dalam berbagai aspeknya.

Dewasa ini jaringan antar pesantren mutlak diperlukan untuk dapat mengembangkan diri. Fungsi dari adanya jaringan ini adalah untuk saling bertukar pengalaman dalam penangan suatu kasus atau bisa disebut sebagai konsultasi antar pesantren ataupun juga untuk saling bertukar kemajuan yang terjadi dalam pesaantren masing – masing. Hal ini mutlak diperlukan karena pesantren tidakn dapat maju secara mandiri dan bersama – sama, melainkan membutuhkan adanya bantuan dari pihak lain yang menjadi starting poin untuk dapat saling memajukan antar sesama pesantren. 

Pola hubungan yang statis dalam pesantren, dimana budaya mengkritisi hampir tidak ada, sudah layaknya diganti dengan budaya saling mengisi dan keterbukaan, serta inovatif dan demokratris. Hal ini sangat berguna untuk dapat menjadi suatu koreksi bagi pesantren dalam rangka pengembangan, sehingga wawasan yang tercipta adalah yang bersifat global dan bukan suatu wawasan yang terbatas, sehingga dalam pencarian format pendidikan yang lebih maju semakin mudah. Pesantren memerlukan adanya sumber daya manusia yang handal untuk dapat memajukannya, sehingga keterbukaan dan budaya saling mengisi mutlak diperlukan.

Budaya kebal akan kritik membangun yang selama ini terkesan tertanam subur dalam pesantren sudah layaknya digantikan dengan demokrasi terpimpin, dimana kyai masih tetap diletakkan pada posisinya sebagai penguasa yang mempunyai kebijakan penuh akan pesantren, namun dengan tidak melepaskan diri dari adanya masukan dari berbagai pihak, sehingga dinamika pesantren menjadi lebih terarah dan merupakan hasil rancangan dari berbagai pihak yang tentunya statemen yang mengatakan bahwa pesantren tumbuh dan berkembang dari masyarakat akan terbukti. Masyarakat disini mencakup masyarakat umum ataupun dari masyarakat pesantren sendiri.   

2.      Dimensi Edukatif

Dalam dimensi edukatif ini antara lain dapat dilihat dari out put atau hasil yang diperoleh pesantren, terkait dengan pendidikannya. Secara tradisional proses pendidikan dipesantren menghasilkan para pemimpin keagamaan yang beroreintasi pada masyarakat desa setempat. Makin berkembangnya deferensiasi dan spealisasi serta berkembangnya tuntutan dan kebutuhan baru dalam proses pembangunan, makin berkembang pula kebutuhan masyarakat. Peran pesantren akan lebih besar dan kontribusinya pada proses transformasi sosial kultural akan makin bermakna apabila ia dapat menjawab tuntutan dan kebutuhan – kabutuhan baru.

Dalam hal ini ada tiga model out put yang dapat dihasilkan pesantren tradisional, yaitu:

a.      Religius Skillful People

Pesantren disamping memberikan pengajaran agama sebagai benteng ataupun bekal ruhani, juga dengan memberikan ketrampilan kerja dalam berbagai bentuknya, yang tentunya disesuaikan dengan kebutuhan pesantren dalam rangka memberdayakan diri pesantren. Disamping itu, mungkin ketrampilan yang ada pada masyarakat dimana para santri berasal dapat dikembangkan dipesantren, sebagai wujud dari adanya kerja sama yang baik antara pesantren, santri dan masyarakat. Sehingga dalam kelanjutannya kerjasama – kerja sama dalam bidang lainnya akan tergarap dengan sendirinya dan tentunya bakat yang telah ada ataupun kecakapan yang dimiliki santri dapat tersalurkan dan dikembangkan, sehingga hal ini pada ahirnya mempunyai aspek manfaat yang besar bagi para santri kelak.

Pesantren menjadi sebuah agen yang menghasilkan santri yang berwawasan keagamaan dan menjadikan santri sebagai tenaga – tenaga trampil, sekaligus mempunyai iman yang teguh dan utuh sehingga religius dalam sikap dan perilaku, yang akan mengisi kebutuhan tenaga dalam berbagai sektor pembangunan. Modernisasi bukan saja membutuhkan orang – orang yang trampil dalam teknologi, melainkan modernisasi sangat membutuhkan produk – produk yang memang handal dalam bidang IPTEK dan juga wawasan keagamaan yang luas, sehingga dengan sendirinya aspek negatif dari modernisasi akan terkikis secara berlahan. Korupsi, kolusi dan juga nepotisme yang selama ini seringkali terjadi lebih dikarenakan oleh adanya para pelaku modernisasi yang kurang terbentengi oleh penguasaan agama yang mapan, sehingga kadar keimanan dan ketaqwaan mereka agak terabaikan.

b.   Religious Community Leader

            Pesantren mendidik para santri untuk dapat menjadi leader bagi dirinya sendiri ataupun merambah kedalam masyarakatnya. Hal ini sudah ditanamkan melalui upaya kemandirian santri, dimana santri dituntut untuk dapat mengatur dirinya sendiri, mulai dari bagaimana memenuhi kebutuhannya dalam makan, mencuci pakaian sendiri, mengatur keuangan, mengatur jam kegiatan dan juga mengatur ritme permasalahan mereka sendiri. Hal – hal yang kelihatannya ringan ini ternyata mempunyai aspek manfaat yang sangat besar yaitu menanamkan kemandirian sejak dini dan dari hal yang ringan dan mungkin ini sesuai dengan konsep KH. Abdullah Gymnastiyar yaitu 3M, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil dan mulai dari sekarang.

Disamping itu pesantren juga perlu menanamkan adanya jiwa leader yang terkonsep secara matang dan sistematis. Hal ini sangat berguna bagi santri untuk menjalankan fungsinya sebagai imam dimasyarakat, sehingga kelak produk pesantren dapat mengatur dan mengarahkan masyarakatnya sendiri dengan terencana dan terarah. Disamping memberikan materi berupa teori, sekiranya praktek juga sangat dibutuhkan yang dapat dilakukan dengan sistem pengiriman santri untuk berdakwah diluar pesantren, atau dengan bahasa lain KKN pesantren, sehingga kelak pesantren menjadi sebuah institusi yang mampu memprodak santri – santrinya sebagai sosok santri yang akan menjadi penggerak yang dinamis dalam proses transformasi sosial kultural dan sekaligus menjadi penjaga gawang terhadap akses pembangunan dan mampu membawakan aspirasi masyarakat, terutama golongan lemah serta melakukan pengendalian sosial secara baik.

c.    Religious Intelektual

            Pesantren mencoba untuk membangun diri dari pemantapan keilmuan santri. Disamping mengharuskan santri untuk cakap dalam bidang agama, juga mempunyai wawasan yang lebih dalam bidang umum. Penguasaan IPTEK pada saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok, maka pesantren sebagai lembaga pendidikan jika menginginkan menjadi sosok yang ideal, maka pesantren harus mampu menciptakan kader yang berbasiskan agama dan bercakrawala menyeluruh dalam semua bidang ilmu.

Didamping itu, pesantren juga diharapkan mempunyai integritas kukuh serta cakap untuk melakukan analisa ilmiah dan konsern terhadap permasalahan sosial. Pesantren dalam hal ini benar – benar mengolah santri menjadi sosok yang tanggap akan permasalahan disekitarnya. Disamping itu para santri juga mampu menganalisa dan mencariakn solusi terbaik bagi masyarakatnya, sehingga slogan santri sebagai pengayom umat benar – benar terbukti adanya. Kegiatan yang sering dilakukan dalam pesantren adalah dengan memberlakukan metode pembelajaran model halaqoh dan adanya perlakuan sama diantara sesama santri. Hal ini sangat berguna untuk mengasah ketajaman analisa santri dan menumbuhkan adanya jiwa tanggap sosial yang tinggi.Penciptaan produk yang berkarakter Religious Intelektual memang bukanlah suatu pekerjaan mudah, namun begitu ternyata hal ini sudah menjadi suatu kebutuhan tersendiri yang mendesak.

3.      Dimensi Sosial.

Dalam dimensi sosial ini, pesantren disamping berfungsi sebagai tempat penempaan ilmu agama, pesantren juga dapat dikembangkan menjadi sebuah lembaga pusat kegiatan belajar masyarakat yang berfungsi untuk menyampaikan teknologi yang baru dan cocok bagi masyarakat setempat, serta memberikan pelayanan sosial dan keagamaan, sehingga keeratan hubungan antara pesantren dan masyarakat akan tetap harmonis dan dalam hal ini pesantren memang diposisikan sebagai penggerak kemajuan sosial.

Disisi lain masyarakat setempat juga dapat berfungsi pula sebagai “ laboratorium sosial ” dimana pesantren melakukan eksperimentasi pengembangan masyarakat yang tentunya sangat berguna untuk mengasah pemahaman santri akan dinamika masyarakat, sehingga pada ahirnya produk pesantren akan cepat membaca situasi masyarakatnya kelak serta mampu beradaptasi dengan baik. Disamping itu, hal ini juga akan menciptakan hubungan timbal balik antara pesantren dan masyarakat setempat yang bersifat simbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain. Disatu sisi masyarakat merasa dibantu dan disatu sisi pesantren dapat melatih santri – santrinya dalam hal pengembangan masyarakat.

Selanjutnya untuk mengembangkan watak mandiri, sederhana, solidaritas yang terkoordinasikan, inovatif, demokratis, luwes secara struktural dan beroreintasi global, maka diperlukan program intervensi yaitu program penyadaran sosial dengan sasaran utama adalah kyai / pimpinan pesantren, para pengasuh / ustadz, dan para santri sendiri. Masih banyak para pimpinan / kyai pondok pesantren yang acuh tak acuh terhadap pesantrennya sendiri. K.H. Suja’I Mashduqi pernah berkata bahwa kyai yang baik adalah yang mementingkan ikan dalam kolamnya sendiri dulu, setelah itu baru ikan yang berada dikolam lain. Maksudnya apa? Yaitu bahwa mengelola pesantren sendiri dengan intens akan lebih baik sehingga dapat memberikan manfaat, dari pada membiarkannya dan menjadikan perkara lain lebih maju setelah pesantrennya tertata dengan baik. 

Sedangkan hasil pendidikan pesantren dapat ditingkatkan melalui beragam usaha – usaha yang dapat dilakukan, standarisasi, program terminal dan speliasisasi, yang selanjutnya dapat dijadikan landasan bagi pengembangan kearah: pesantren dasar, pesantren lanjutan, dan bahkan sampi pesantren tingkat tinggi. Semua itu akan berpulang kepada pihak pesantren sendiri selaku pengelola, sekaligus sebagai agen perubahan.

I. Penutup

            Sejarah mencatat, bahwa pesantren sebagi sebuah sistem pendidikan telah memberikan kontribusinya yang signifikan bagi peradaban islam di Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan indigenous, pesantren memiliki akar sosio – historis yang cukup kuat, sehingga membuatnya mampu menduduki posisi yang relatif sentral dalam dunia keilmuan masyarakatnya, dan sekaligus bertahan ditengah berbagai gelombang perubahan.

            Seiring dengan tantangan perubahan sosio – historis yang melingkupi, maka sudah menjadi suatu keniscayaan bila pesantren senantiasa meresponnya dengan sadar agar semakin kokoh eksistensinya. Hal ini dapat direalisasi dengan melakukan inovasi – inovasi yang relevan dan signifikan tanpa melupakan jatidiri pesantren, sehingga pada ahirnya produk pesantren memang dapat diandalkan dan mampu menjadi penggerak dan pelaku perubahan zaman yang baik.

            Format pengembangan pesantren secara individual dapat diarahkan keberbagai kombinasi dari kemungkinan – kemungkinan yang dideskripsikan diatas. Sedangkan secara operasional yang tepat akan banyak bergantung pada sumber daya pesantren bersangkutan, tingkat kematangan, struktur internal pesantren dan juga tipe komunitas dimana pesantren berada. Jadi keseragaman pengembangan produk pesantren bukanlah suatu tujuan. Oleh karenanya variasi hasilnya merupakan suatu keniscayaan.

            Gagasan pengembangan pesantren bukanlah sesuatu yang final apabila telah ditemukan suatu konsep baru, melainkan akan terus berkembang seiring dengan perubahan zaman dimana  pesantren akan terus dituntut untuk dapat membawa diri dan antisipasi perubahan masyarakat menjadi pertimbangan penting untuk melakukan suatu pengembangan, bagaimana pesantren merespon dinamika masyarakat dan membuat suatu formulasi jitu sehingga pesantren tetap dapat diterima di masyarakat. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Kebijakan Pendidikan Islam

[2] Adalah mahasiswa program S2 MSI UII konsentrasi Pendidikan Islam

[3] Drs. Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996 ), hal. 41

[4] H.M. Yusuf Hasyim, “ Peranan dan Potensi Pesantren dalam pembangunan “, dalam Wolfgang Karcher dkk. ( Peny ), Dinamika Pesantren, ( Jakarta: P3M, 1988 ), hal. 88 

[5] Prof. H. A. Mukti Ali, Beberapa Persoalan Agama Dewasa Ini, ( Jakarta : Rajawali Press, 1987 ), hal. 17 – 18 

[6] Mastuhu, DinamikaSistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian Tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren ( Jakarta: INIS, 1994 ), hal. 56

[7] Ibid, hal. 58

[8] Dr. Anton Bakker & Drs. Achmad Charris Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat ( Yogyakarta : Kanisius, 2002 ) hal. 79

[9] Ismail. SM, Nurul Huda, Abdul Khaliq ( Ed ), Dinamika Pesantren dan Madrasah, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002 ) , hal. 149 –150

[10] M. Nasihin Hasan, “ Karakter dan Fungsi Pesantren “ Dalam Dinamika Pesantren, ( Jakarta: P3M, 1988 ), hal. 114

[11] Mukti Ali. Op. Cit, hal. 9

[12] Pius A Partanto & M. Hasan Al – Barry , Kamus Ilmiah Populer ( Surabaya: Arkola, 1994 ) hal. 237

[13] Sudirman Tebba,  “ Dilema Pesantren, Belenggu Politik dan Pembaharuan Sosial” Dalam Pergulatan Dunia Pesantren ( Jakarta: P3M, 1985 ), hal. 284