a. MASA NABI

Generasi awal yang terdiri dari para sahabat dan tabi'in menerima dan mengajarkan Islam secara utuh, seimbang, mendalam, dan komprehensif. Mereka tidak menonjolkan salah satu bidang, sementara bidang yang lain dilupakan. Ketika mereka memperhatikan aspek batiniyah, mereka tidak melupakan aspek lahiriyah. Ketika mereka mengejar urusan ukhrawi, mereka tidak melalaikan urusan duniawi. Pendek kata, mereka memberi perhatian terhadap akal, ruh, dan jasad secara menyeluruh dan seimbang.

Berbagai kecenderungan sebagian sahabat untuk melakukan atau menayakan hal-hal yang ”tidak semestinya” biasanya langsung mendapat teguran dari Rasulullah SAW. Kecenderungan-kecenderungan itu diposisikan kembali oleh Rasulullah pada titik equilibrium yang wajar. Sebab Islam datang membawa keseimbangan antara kehidupan ruhani, kehidupan jasmani, dan akal pikiran.

Ketika Abdullah bin Amr bin 'Ash melakukan puasa terus menerus setiap harinya, shalat malam hingga tidak tidur, serta meninggalkan kewajibannya sebagai suami terhadap istrinya, maka Rasulullah SAW. menegurnya. Beliau bersabda:

"Wahai Abdullah, sesungguhnya matamu mempunyai hak atasmu, keluargamu punya hak atasmu, istrimu mempunyai hak atasmu, dan tubuhmu punya hak atasmu, maka berikanlah setiap yang mempunyai hak atas hak yang dimilikinya."

Begitu pula ketika Nabi SAW. melihat sekumpulan sahabat-sahabatnya sedang berkumpul dan termenung memikirkan sesuatu. ”Apa yang kalian pikirkan?” tanya Nabi SAW. dengan ramah. ”Kami sedang berfikir tentang Allah,” jawab mereka bangga. Namun Rasulullah SAW. justru menegur mereka, ”Janganlah kalian berfikir tentang dzat Allah, tapi berpikirlah tentang ciptaan-Nya.”[1]

Saat Nabi SAW. ditanya oleh seorang perempuan tua yang ingin mengetahui dimana “posisi Tuhan,” beliau menjawab bahwa Allah Swt. berada di atas langit. Jawaban itu disampaikan Nabi SAW. karena itulah yang sesuai dengan daya nalarnya.

Bila terjadi suatu persoalan yang belum diketahui jawabannya oleh sahabat, mereka langsung menanyakan kepada Rasulullah SAW. Nabi SAW. pun selalu bersikap terbuka menerima beragam persoalan yang diajukan umatnya. Setiap pertanyaan dijawab secara tegas dan memuaskan, walaupun ada sebagian jawaban yang masih bersifat umum. Para sahabat pun bersikap taat, mendengarkan, mengikuti, serta melaksanakan apa disampaikan Nabi SAW.

Kehidupan Nabi di tengah-tengah Umat

Seperti anggota masyarakat pada umumnya, Nabi SAW. pun bergaul bersama para sahabat, baik saat berada di rumah, di masjid, di pasar, di jalan, dalam perjalanan ataupun tidak. Kehidupan Nabi SAW. yang sederhana dan bersahaja baik sebelum maupun setelah hijrah membuat para sahabat dapat dengan mudah mengunjungi dan berbicara dengan beliau kapan saja dan dimana saja. Nabi dapat ditemui kapan saja kecuali bila beliau sedang beristirahat, sebagaimana diajarkan oleh al-Quran. Kemudahan untuk melihat, berbincang, atau bertanya langsung kepada beliau membuat seluruh tindakan ataupun ucapan Nabi SAW. dengan mudah menjadi tumpuan dan perhatian. Sosok Nabi SAW. dari semua aspeknya dijadikan suri teladan oleh para sahabat. Apalagi beliau jika berbicara selalu jelas, ramah, dan mampu menggunakan dialek-dialek mitra bicaranya secara sempurna. Sahabat sangat terpukau saat berbicara dengan beliau. Bahkan mereka mampu bertahan selama berjam-jam berbicara dengan Nabi SAW. tanpa ada keinginan untuk segera berpindah dari majlisnya. Di mata para sahabat, Nabi SAW. adalah sosok idola dan teladan yang sangat memukau dalam segala hal.[2]

Kaum Muslimin di Masa Nabi SAW.

Ketika Nabi Muhammad SAW. masih hidup, kaum Muslimin merupakan sebuah komunitas besar yang bersatu padu secara utuh, baik dalam akidah maupun hukum-hukum furu’iyyah (fiqh), dan tidak ada perbedaan berarti yang bisa mengancam kesatuan umat. Pembicaraan mengenai sifat-sifat Allah Swt. maupun tentang dalil-dalil dalam Al-Quran di kalangan sahabat tidak berlangsung terlalu jauh, karena setiap kali sahabat menemukan kejanggalan bisa langsung ditanyakan kepada Rasulullah SAW. Setiap jawaban dari Rasulullah SAW. sudah cukup menjadi jawaban final yang tak perlu dipersoalkan lagi. Kondisi semacam itu terus berlangsung hingga Rasulullah SAW. wafat pada Bulan Rabi’ul Awal tahun ke 11 Hijriyah, atau 8 Juni 632 Masehi.

b. MASA KHULAFA’ AL-RASYIDIN

Secara umum, kondisi sosial masyarakat Muslim pasca meninggalnya Nabi SAW. tidak mengalami perbedaan mencolok daripada tahun-tahun sebelumnya. Umat Islam pada periode awal Khulafa’ al-Rasyidin, khususnya pada masa Abu Bakar dan Umar, masih tetap berpegang teguh pada pokok-pokok akidah yang diwarisi sejak masa Nabi SAW., meskipun di sana-sini terdapat beberapa persoalan yang menyebabkan timbulnya perbedaan pendapat. Akan tetapi, perbedaan pendapat itu tidaklah berpengaruh besar pada persatuan umat, karena hanya bersifat sepele dan cenderung berbau politis, bukan akidah.[3] Perbedaan-perbedaan kecil itu, berkisar antara lain:

Kematian Utsman semakin memperkeruh situasi dan melahirkan beragam pertanyaaan di kalangan kaum Muslimin tentang hakikat dosa besar dan hukuman yang harus diterima oleh pelakunya. Selanjutnya, perbedaan pendapat itu berkembang kepada soal-soal yang berkaitan dengan masalah iman dan kufur. Hal-hal yang dipertanyakan antara lain: apa pengertian dan sejauh mana batasan iman dan kufur, bagaimana kaitannya dengan perbuatan dzahir, dan apakah pelaku dosa besar masih dianggap mukmin atau kafir? Perbedaan dalam masalah akidah ini pada akhirnya melahirkan tiga aliran kalam, yakni Murji’ah, Khawarij, dan Mu’tazilah.

Dari sini tampak bahwa perdebatan-perdebatan teologis antar sekte yang muncul pada periode akhir masa khulafa al-rasyidin lebih banyak disebabkan oleh persoalan-persoalan politis, yang kemudian digeret ke persoalan akidah. Bahkan ada kecenderungan, hal-hal yang dulunya berbau politis –dengan alasan-alasan tertentu-dipaksakan untuk masuk ke wilayah teologi. Hal ini tampak dalam peristiwa tahkim yang kemudian melahirkan kekecewaan dari pihak khawarij; hal yang dulunya sekedar keputusan politik berubah memasuki wilayah akidah yang menimbulkan perpecahan di kalngan umat.

c. PERIODE KHILAFAH-MONARKHIS

 

d. SPECIALISASI BIDANG-BIDANG KAJIAN

Waktu terus bergerak, perubahanpun terjadi. Karena faktor internal dan eksternal, mulai didapati individu-individu tertentu atau bahkan sekelompok orang yang mengkhususkan diri untuk mendalami salah satu bidang tertentu dari ajaran Islam. Di antaranya ada yang mengkhususkan diri menelaah masalah-masalah ibadah dan segala urusan perintah dan larangan agama. Mereka ini kemudian dikenal dengan ahli fiqih atau fuqaha. Dari sini lahir empat imam madzhab yang sangat terkenal, yaitu Imam Maliki, Imam Hambali, Imam Syafi'i, dan Imam Hanafi.

Sebelumnya ada segolongan orang yang lebih menitik beratkan perhatiannya pada masalah-masalah iman dan keyakinan. Mereka ini kemudian dikenal sebagai ahli ilmu kalam, filsuf, atau teolog Islam. Bidang ini selain melahirkan tokoh-tokoh besar, juga menghasilkan berbagai aliran pemikiran mengenai pokok-pokok agama (ushuluddin), di antaranya adalah Jabariyah dan Qadariyah yang sampai sekarang masih hidup di tengah-tengah pemahaman kaum Muslimin.

Tak lama kemudian segolongan orang lagi memusatkan perhatiannya pada aspek ruhani dan kejiwaan. Mereka itulah yang kemudian hari dikenal sebagai ahli tasawuf atau kaum sufi. Kemunculan mereka sesungguhnya dipicu oleh keadaan di mana sebagian kaum Muslimin sudah tenggelam dalam kemewahan hidup materialistis. Sebagian dari penguasa dan orang-orang kaya mulai terjangkiti penyakit hedonistis.

e. ISLAM MENYERUKAN FITRAH KEMANUSIAAN

Diakui atau tidak, setiap manusia memiliki fitrah ketuhanan. Setiap orang siapapun dia dan dari manapun asalnya pasti membutuhkan Tuhan. Dengan kata lain, kebutuhan beragama sebagai media spiritual-fundamental merupakan kebutuhan dasar manusia, sebab unsur spiritualitas merupakan unsur paling fundamental dalam ajaran agama, termasuk agama Islam. Rasulullah SAW. diberikan tugas oleh Allah Swt. untuk menciptakan perasaan fitrah beragama kepada umatnya, dan memberikan tuntunan guna mencapai tujuan tersebut. Karena itu, al-Quran dalam setiap ajarannya selalu berupaya menyadarkan manusia akan fitrahnya itu. Manusia diserukan untuk menyadari, menghidupkan, mengembangkan, menguatkan, dan menata fitrah ketuhanannnya, dan menghindari kemusyrikan yang dapat merusak fitrah tersebut.

Dalam penciptaan alam semesta, Allah Swt. telah menata alam semesta secara sistematis. Dibalik penciptaan langit juga disertai penciptaan bumi, siang disertai malam, peredaran matahari diiringi dengan peredaran bulan, dan keberadaan manusia dilengkapi dengan penciptaan segala hal yang menjadi kebutuhannya, seperti air, tumbuhan, udara, binatang ternak, dan segala varian kehidupan lainnya.

Manusia juga diajak oleh Allah Swt. untuk memikirkan ciptaan-Nya, bukan memikirkan dzat-Nya. Bagaimana Allah mengelola alam semesta sedemikian teratur, dan menghiasinya dengan sangat indah. Sedangkan manusia, atau makhluk apapun selain Allah Swt., jangankan menciptkan dan mengatur alam semesta, membuat seekor lalatpun pasti tidak mampu (al-Hajj: 73).

Selain bukti penciptaan, manusia juga diajak untuk memikirkan bukti kekuasaan dan kebesaran Allah Swt. manusia diajak untuk melihat alam sekeliling, bagaimana hujan diturunkan, kemudian bumi nan subur ini terbelah, lalu muncullah benih-benih biji-bijian yang kemudian membesar menjadi pepohonan, dan pada akhirnya menghasilkan buah-buahan guna memenuhi kebutuhan manusia (al-‘Abasa: 28).

Manusia juga diajak memikirkan asal penciptaan dirinya. Ia pada mulanya hanya setetes mani yang membuncah dari tulang-tulang rusuk, kemudian menjadi segumpal darah, lalu membesar menjadi segumpal daging yang kemudian dipakaikan tulang-belulang guna menguatkan dagingnya agar bisa tegak berdiri.

Selain itu, bagaiamana unta itu diciptakan, bagiamana langit ditinggikan, bagaiamana gunung ditegakkan, dan bagaiamana bumi dibentangkan (al-Ghasyiah:20). Pandang pula malam hari bagaiamana kilauan bintang-bintang di langit, rembulan dengan segala keindahannya, angin semilir yang menyejukkan jiwa, atau ketenangan malam hari dikala manusia telah terlelap tidur.

Dan masih banyak lagi ayat-ayat atau hadits-hadits Nabi SAW. yang mengajak manusia untuk menggunakan perasaan dan budinya guna memikirkan keberadaan dan kebesaran Allah Swt. Berbeda dengan filsafat Barat yang selalu mengandalkan logika rasionil, ajaran Islam selain menggunakan logika juga mengajarkan tata pijak intuisi (perasaan) dalam upayanya mengetahui hakikat dan eksisitensi dirinya. Ini artinya, ajaran Islam bisa ”masuk” ke dalam semua golongan, baik tua maupun muda, cerdas maupun goblok, karena intuisi atau perasaan pasti dimiliki oleh semua orang. Berbeda dengan logika-rasionil yang hanya mampu dipahami oleh orang-orang yang memiliki IQ cukup memadai.

 

 

 

 



[1] Hilyat al-Auliya’, jilid 6, hal. 67.

[2] Lihat Mau’idzah al-Mu'minin, Husun al-Hamidiyah, dan Ensiklopedi Islam, Op. cit. huruf “H” hal. 42.

[3] Ensiklopedi Islam, Katalog Dalam Terbitan (KDT), pen. PT Ichtiar Baru van Hoeve, Jakarta, vol. Kelima tahun 1999 huruf. ”T” hal. 91-92.