TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM

DALAM RANAH MODERNISASI

A. Pendahuluan

Modernisasi merupakan suatu masa yang tidak mungkin dapat dihindarisebagi sebuah konsekwensi logis dari berkembangnya paradigma berfikir manusia yang ditandai dengan kemajuan teknologi. Modernisasi menjadi sebuah keniscayaan yang membawa ambivalensi dalam kehidupan manusia.disatu sisi modernisasi menjadikan kesejahteraan manusia menjadi semakin terberdayakan, segala kebutuhan manusia hampir dapat dipenuhi semua. Namun ternyata modernisasi juga membawa dampak negatif yang sangat meresahkan masyarakat yaitu berupa semakin individualis saja sebagian manusia dengan mementingkan keperluan pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan sosialnya semakin rapuh,sehingga jargon toleransi semakin kabur maknanya.

Tingkat kecerdasan dan pendidikan manusia menjadi modal utama dalam perkembangan paradigma berfifkir manusia. Ketika dulu kecerdasan manusia menjadi sesuatu yang sulit untuk ditumbuh kembangkan dan adanya pendidikan yang sulit didapat, sehingga menimbulkan adanya manusia manusia statis dalam artian tidak memiliki banyak ide untuk menciptakan sesuatu yang baru, kini berubah menjadi sosok yang selalu saja membuahkan sesuatu yang baru sebagai imbas dari adanya tingkat kecerdasanmanusia yang semakin meningkat dan akses pendidikan yang semakin mudah untuk diperoleh.

Pendidikan yang mampu menciptakan manusia berwawasan luas yang didasari dengan adanya penguatan moral menjadi sangat penting untuk mempersiapkan kader kader yang handal untuk mengendalikan laju modernisasi, sehingga dampak negatif dari modernisasi dapat ditekan sekecil mungkin. Mungkin saja dalam kelanjutannya jika hal ini tidak terpenuhi akan mengakibatkan semakin banyaknya orang orang yang bertindak sekehendak hati dan mengabaikan orang lain.

B. Peranan pendidikan islam dalam konteks kekinian

Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Kemakmuran suatu bangsa sangat ditentukan oleh adanya mutu pendidikan yang ada. Memang sumber daya alam juga menjadi faktor penentu dalam kemakmuran suatu bangsa, namun jika hal ini tidak ditopang dengan adanya sumber daya manusia yang handal, maka sember daya alam yang ada hanya akan menjadi suatu kekayaan bangsa yang tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal dan ahirnya akan menimbulkan ketimpangan sosial antara si kaya dan simiskin.

Indonesia merupakan salah satu contoh negara dengan sumber daya alam yang melimpah, namun sampai sekarang kemakmuran rakyat Indonesia masih jauh dari kewajaran. Yang terjadi di Indonesia adalah yang kaya semakin kaya dan yang miskin menjadi semakin sulit untuk dapat makan sekali dalam sehari. Memang Indonesia bukan penganut paham liberal, namun dalam prakteknya negara belum berhasil dalam menjalankan amanat pancasila sila ke lima yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang berimbas kepada tidak semua rakyat Indonesia dapat mengenyam pendidikan secara layak. Banyak diantara rakyat Indonesia yang memasuki masa kerja ketika masih dalam usia anak anak. Pengamen jalanan ataupun anak jalanan adalah potret dari semua itu.

Pendidikan menjadi suatu barang yang mahal, yang tidak dapat didiperoleh oleh semua lapisan masyarakat. Bagaimana mungkin propinsi sekaya Irian Jaya yang kaya akan hasil hutan dan tambangnya masih banyak terdapat warga miskin dan anak yang tidak dapat mengenyam pendidikan secara layak, sungguh suatu hal yang sangat memprihatinkan dan lebih menyakitkan lagi adalah masih banyak didaerah ibu kota anak anak dalam usia produktif yang memasuki masa kerja,

Indonesia masih belum mampu membaca kebutuhan warganya terkait dengan kebutuhan akan pendidikan. Amanat undang undang dasar 1945 yang menganggarkan 20 % dari pendapatan nasional untuk sektor pendidikan masih menjadi polemik, belum lagi ditambah dengan adanya praktek praktek KKN yang selama ini masih sangat sulit diberantas dalam berbagai departemen yang ada sebagiimbas darikurangnya perhatian sekolah sekolah yang yang ada di Indonesia dalam pemberdayaan moral siswa.

Pendidikan memang sangat terkait erat dengan sistem, namun penentu dari keberhasilan sebuah sistem adalah pelaku dari sistem itu sendiri. Sampai sekarang masih banyak guru kurang memahami akan psikologi pendidikan. Seolah olah psikologi pendidikan itu hanya kewajiban bagi guru BP untuk memahami dan menghayati serta mengamalkannya. Padahal jauh dari pada itu, bahwasannya setiap pendidik harus paham akan psikologi pendidikan demi terciptanya iklim pendidikan dalam kelas yang kondusif dan materi yang disampaikan dapat mengena dan ahirnya dapat mencapai hasil yang memuaskan.

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, pendidikan bukan berarti hanya pendidikan yang bersifat pengetahuan saja, melainkan adanya penanaman nilai nilai etika pada dasarnya adalah hal yang mutlak harus dilakukan.

Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan". Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi, demokratis, dan toleran dengan mengutamakan persatuan bangsa dan bukannya perpecahan.

Pendidikan yang ideal adalah bagaimana pendidikan dapat mentrasnfer adanya nilai nilai kemasyrakatan, yaitu adanya nilai nilai yang menjadi konsepsi masyarakat terkait dengan adanya tatanan yang berlaku, seperti sopan santun disamping adanya pembekalan dalam pengetahuan umum, sehingga produk yang dihasilkan sekolahan tidak hanya menjadi sosok yang berpengetahuan luas, namun juga beretika tinggi. Pada prinsipnya pengetahuan umum adalah penyempurna dari adanya pendidikan moral. Ketika kita mau mengoreksi sedikit tentang adanya pendidikan di Indonesia, maka akan sangat terlihat bagaimana pendidikan di Indonesia hanya mementingkan pengembangan pengetahuan umum saja dan mengabaikan adanya pemberdayaan moral siswa, sampai ahirnya yang terjadi adalah sekolah hanya mampu membekali pengetahuan umum saja dengan menyisakan adanya kebejatan moral para siswanya. Tidak begitu mengherankan apabila sampai sekarang KKN di Indonesia masih sangat sulit untuk diberantas

Adanya kasus korupsi adalah bukti dari kegagalan sekolah dalam membina moral siswa. Kiranya sudah saatnya mata pelajaran agama untuk lebih diintensifkan sebagai suatu upaya untuk memberdayakan moral siswa, disamping adanya tauladan yang baik dari semua pihak yang baerkaitan dengan sekolah. pengadopsian sistem pendidikan islam menjadi suatu arternatif pilihan tersendiri bagi sekolah sekolah formal. Pendidikan islam di Indonesia dicirikan oleh pendidikan ala pesantren. Bagaimana sistem pendidikan model asrama dapat menjadi suatu problem solving untuk menciptakan siswa yang memiliki bekal berimbang antara pengetahuan umum dan adanya pemberdayaan moral siswa.

Dalam sistem pendidikan model asrama, nantinya siswa akan selalu terpantau dalam segala tindakannya. Bagaimana siswa bargaul, bagaimana siswa mendapatkan tauladan dan nasehat setiap saat dari para gurunya, yang nantinya hal ini di harapkan dapat mendarah daging dan dapat membentuk karakteristik siswa. Para siswa sekolah sebenarnya sangat membutuhkan bantuan untuk mengarahkan segala tidakannya, karena pada masa masa sekolah adalah masa dimana para siswa dihadapkan dengan banyak pilihan, yang pada ahirnya diharapkan supaya para siswa tidak terjerumus dalam pilihan yang negatif.

PBB sebagai badan dunia yang mengayomi semua negara yang yang ada dimuka bumi ini ternyata telah merumuskan adanya beberapa pilar yang dapat menjadikan siswa memperoleh pengetahuan secara luas dengan tidak menghindar dari adanya kewajiban menata etika mereka. Ada empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan yang dicanangkan oleh UNESCO yang perlu dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu:

1) Learning to Know ( belajar untuk mengetahui )

2) Learning to do ( belajar untuk melakukan sesuatu ) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu

3) Learning to be ( belajar untuk menjadi seseorang )

4) Learning to live together ( belajar untuk menjalani kehidupan bersama )

Dalam rangka merealisasikan Learning to know , Guru seyogyanya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu. Learning to do ( belajar untuk melakukan sesuatu ) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan namun tumbuh berkembangnya bakat dan minat tergantung pada lingkungannya. Keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang.

Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari daerah tempat dilangsungkan pendidikan. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru dan guru sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal.

Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima (take and give), perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses "learning to live together" (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Penerapan pilar keempat ini dirasakan makin penting dalam era globalisasi/era persaingan global. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tersebut.

Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian ini, diharapkan nantinya akan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini. Bagimana masyarakat Indonesia dapat berperan aktif dalam kemajuan ini dan bukan hanya menjadi konsumen dari hasil modernisasi, itu yang harus dipikirkan lebih mendalam.

Mengenai kecenderungan merosotnya pencapaian hasil pendidikan selama ini, langkah antisipatif yang perlu ditempuh adalah mengupayakan peningkatan partisipasi masyarakat terhadap dunia pendidikan, peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, serta perbaikan manajemen di setiap jenjang, jalur, dan jenis pendidikan. Selama ini masyarakat terkesan acuh tak acuh dengan sekolah dan sayangnya sekolah juga tidak begitu respon dengan sikap masyarakat tersebut. Sekolah cenderung hanya menjadikan masyrakat / wali murid hanya sebgai sapi perahan saja, yang hanya berguna jika akan mengadakan pembangunan gedung sekolah, sekolah melupakan bahwasannnya peran aktif wali sangat berperan aktif dalam kemajuan sekolah. Kwalitas pendidikan juga menjadi modal utama yang dapat menopang adanya keberhasilan pendidikan, khususnya bagi tenaga pendidik yang ada. Maka dari itu dengan adanya sertifikasi guru diharapkan nantinya mutu pendidikan di Indonesia dapat meningkat.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan di daerah, khususnya di kabupaten / kota, seyogyanya dikaji lebih dulu kondisi obyektif dari unsur unsur yang terkait pada mutu pendidikan, yaitu:

1) Bagaimana kondisi gurunya? ( persebaran, kualifikasi, kompetensi penguasaan materi, kompetensi pembelajaran, kompetensi sosial personal, tingkat kesejahteraan)

2) Bagaimana kurikulum disikapi dan diperlakukan oleh guru dan pejabat pendidikan daerah?

3) Bagaimana bahan belajar yang dipakai oleh siswa dan guru? (proporsi buku dengan siswa, kualitas buku pelajaran)

4) Apa saja yang dirujuk sebagai sumber belajar oleh guru dan siswa?

5) Bagaimana kondisi prasarana belajar yang ada?

6) Adakah sarana pendukung belajar lainnya? (jaringan sekolah dan masyarakat, jaringan antarsekolah, jaringan sekolah dengan pusat-pusat informasi)

7) Bagaimana kondisi iklim belajar yang ada saat ini?.

Mutu pendidikan dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian pembenahan terhadap segala persoalan yang dihadapi. Pembenahan itu dapat berupa pembenahan terhadap kurikulum pendidikan yang dapat memberikan kemampuan dan keterampilan dasar minimal, menerapkan konsep belajar tuntas dan membangkitkan sikap kreatif, demokratis dan mandiri. Perlu diidentifikasi unsur-unsur yang ada di daerah yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi proses peningkatan mutu pendidikan, selain pemerintah daerah, misalnya kelompok pakar, paguyuban mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat daerah, perguruan tinggi, organisasi massa, organisasi politik, pusat penerbitan, studio radio/TV daerah, media masa/cetak daerah, situs internet, dan sanggar belajar.

Pada zaman modernisasi seperti saat ini, maka lembaga pendidikan harus mampu menumbuh kembangkan sikap sikap berikut :

1. Copyng

Bagaimana siswa mampu membaca dan mencermati setiap gejala dan febomena informasi serta memaknai setiap peristiwa yang dihadapkan kepadanya. Diharapkan nantinya siswa menjadi sosok yang kritis akan adanya perkembangan zaman, sehingga siswa akan cepat tanggap akan segala kebutuhannya dan lingkungannya berdasarkan pembacaannya terhadap perubahan zaman yang semakin tidak terbendung, dengan demikian nantinya dampak negatif dari adanya modernisasi akan dapat diminimalisisr

2. Accomodating

Siswa mampu menerima pendapat dari luar luar yang ternyata benar dan melepaskan pendapatnya yang ternyata keliru. Sifat tidak menang sendiri menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan ditengah kehidupan yang semakin individualistik. Seringkali manusia salah penafsiran akan adanya kebenaran, bagaimana kebenaran dimaknai secara pribadi dan harus dimunculkan dari dirinya. Yang terpenting bukanlah harus si A yang mengemukakan kebenaran, akan tetapi bagimana kebenaran itu dapat muncul walaupun dari orang lain.

3. Anticipating

Siswa mampu mengantisipasi akan kejadian apa yang akan terjadi berdasarkan gejala dan fenomena yang dia alami, sehingga mampu memaknai dan mewarnai adanya kemajuan teknologi dan terhindarkan dari adanya ketertinggalan zaman.

4. Reorienting

Siswa mampu mendevinisikan kembali dan memperbaiki orientasi dalam segala bentuknya berdasarkan bukti bukti yang ada serta alasan alasan yang rasional, yang sesuai dengan keberadaan zaman. Terlebih apabila hal ini dalam kelanjutannya memang membutuhkan adanya perbaikan.

5. Selecting

Kemampuan meilah dan memilih sesuatu yang benar terbaik yang paling mungkin diwujudkan sesuai dengan kebutuhan dan keadaan. Pada masa yang akan datang dimungkinkan anak didik akan mengahadapi adanya banyak pilihan yang memungkinkan untuk sangat selektif dalam memilihnya

7. Managing

Kemampuan mengelola dan mengendalikan, lengkap dengan kemampuan mengambil keputusan. Keberanian siswa dalam mengatur dirinya mutlak sangat diperlukan, kaitannya dengan keksistensian dirinya dimasa dating.

8. Developping

Kemampuan untuk mengembangkan pelajaran dan pengalaman yang telah diperolehnya, sehingga menjadi cara baru yang menjadi milik atau penemuannya untuk memecahkan masalah baru. Mungkin hal ini sangat erat kaitannya dengan aplikasi keilmuan siswa untuk dapat mengembangkannya lebih jauh.

9. Kemampuan berijtihad[1]

Mampu memahami ajaran agama yang benar sehingga segala tindakannya dalam mengarungi modernisasi akan tetap dalam keteguhan iman dan taqwa. Bagaimana siswa mampu memahami ajaran agama dan mengaplikasikannya dengan baik serta mengqiyaskan segala sesuatu yang baru dengan ajaran yang telah ada, sehingga jalan kehidupan yang dia tempuh dapat tekontrol oleh agama.

Memang terasa sulit untuk menciptakan suatu formula baru dalam dunia pendidikan islam supaya dapat menjadi motor penggerak dalam arus modernisasi. Hal ini bukan dikarenakan oleh adanya peristiwa kemunduran islam pada masa lampau, karena itu sudah terjadi ratusan tahun yang lalu. Namun hal ini lebih dikarenakan oleh adanya kemalasan dari para orang islam sendiri untuk dapat berkembang lagi. Mungkin untuk konteks sekarang, geliat kebangkitan islam sudah agak terlihat yang ditandai oleh adanya penemuan penemuan baru dalam bidang sains dan teknologi oleh orang orang muslim.

C. Penutup

Pada ahirnya semua yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri. Baik ataupun buruk suatu tindakan pasti semua akan berpulang kepada diri kita masing masing sebagi pembuat sebab. Modernisasi merupakan buah karya manusia yang lahir dari adanya kemajuan paradigma berfikir mereka. Dan jika kita mau menilik, ternyata ini merupakan hasil dari adanya pendidikan yang semakin maju. Oleh karena itu, untuk menciptakan sebuah suasana modernisasi yang nyaman, maka persiapkanlah pendidikan yang baik dan benar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Prof. Dr. Mastuhu,M.Ed, Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam ( Strategi Budaya Menuju Masyarakat Akademik ),( Jakarta: Logos, 1999 ) hal. 48