MUKADDIMAH

 

Sayid Ahmad Marzuki berkata:

Arti kata:

: Nama Dzat yang wajib ada dan wajib disembah.

: Yang maha pemberi nikmat secara umum ( = pokok pokok dari kenikmatan ), seperti iman, kesehatan, rizki, pendengaran, penglihatan dan lain sebagainya.

: Yang maha pemberi nikmat secara khusus ( = cabang cabang dari kenikmatan ), seperti tambahnya iman, bergelimang kenikmatan, rizki yang berlimpah, kecerdasan, keterbatasan pendengaran dan penglihatan dan lain sebagainya.

: Selalu memberi nikmat tanpa henti

Penjelasan:

Dalam penulisan syair aqidatul awam ini, aku mengawalinya dengan basmalah untuk memohon pertolongan kepada allah yang maha agung, yang telah melapangkan kasih sayang NYA kepada semua yang ada secara terus menerus tanpa henti.

  1. Pokok pokok bahsan dari kitab ini dihadirkan secara urut.
  2. Malaksankan hadits nabi Semua perkara baik yang tidak diawali dengan bismillaahirrohmaanirrohimi naka akan terputus[1] maksudnya adalah kebaikan yang didapat dapat berkurang atau menjadi sedikit.
  3. Mengikuti jejak nabi, karena beliau mengawali tulisan dan surat suratnya dengan basmalah, seperti surat beliau kepada raja Hiroqla dan yang lainnya.

 

Sayid Ahmad Marzuki berkata:

Arti kata:

: Secara bahasa adalah pujian secara lisan terhadap sesuatu yang dianggap bagus secara umum, sebagai bentuk penghormatan. Baik itu berupa kenikamtan ataupun bukan. Secara istilah adalah tindakan yang muncul untuk memuliakan pemberi kenikmatan, disebabkan dia telah memberikan kenikmatan walaupun kepada orang yang tidak memujinya. Baik dalam bentuk ucapan atau perasaan bersyukur atau menyatakannya dengan tindakan.

: Sesuatu yang ada dan tidak ada yang mendahuluinya. Qodimnya allah ini berdasarkan alasan:

: Sebelum segala sesuatu ada tanpa permulaan

: Sesudah segala sesuatu berakhir tanpa akhiran

: Kekal, tidak mengalami perobahan

: Tidak berobah, ini adalah penafsiran dari Al Baqi

Penjelasan:

Dalam penulisan syair ini, aku juga memulainya dengan memuji secara lisan kepada allah. Sebuah pujian kepada allah yang maha Qadim dan maha Baqi, sebagai bentuk pemuliaan dan untuk meyakinkan diri bahwa semua pujian muncul dari allah.

1.      Melaksankan hadits nabi Semua perkara baik yang tidak diawali dengan alhamdulillah maka akan terputus[2]

2.      Pemenuhan hak berupa sesuatu yang wajib disyukuri, diantaranya adalah penulisan syair ini.



[1] HR. Khatib dari Abu Hurairah RA dan hadits ini termasuk hadits marfu

[2] HR. Abu Dawud dan hadits ini termasuk hadits hasan menurut Ibnu Sholah