A. Pendahuluan

Pendidikan islam seperti yang selama ini ada masih terlihat sebagai sebuah praktek pendidikan dan bukan sebagai sebuah ilmu yang memiliki bahasan dan metode penelitianya sendiri, sehingga dalam kelanjutannya perkembangannya sangat lambat jika dibandingkan dengan ilmu pendidikan pada umumnya, berbagai aspek yang melingkupi dalam suatu sistem pendidikan terus mengalami perkembangannya, mulai dari kurikulum, metode pengajaran, aspek lingkungan sampai dengan interaksi antara guru dan murid. Dalam pandangan umat, pendidikan islam mereka kenal hanya ada pada pesantren. Pesantren diposisikan sebagai satu – satunya institusi pendidikan yang bercirikan islam, sehingga orang akan menunjuk pesantren jika harus ditanya tentang sistem pendidikan islam.

 Jika kita mau menilik lebih jauh tentang pemikiran para tokoh pendidikan islam zaman dulu, tentu kita akan menemukan adanya perhatian mereka yang besar dalam bidang pendidikan, kurikulum yang mereka bangun tidak hanya memperhatikan perkembangan murid dari sisi jasmaniyah saja, namun juga menyentuh keseluruhan aspek yang ada dalam diri seorang murid, interaksi antara murid dan guru diatur dengan sedimikian bagusnya, apalagi ketika kita menilik pendapat Az – Zarnuji tentu akan sangat mengagetkan, Az – Zarnuji sangat memperhatikan adanya laku diri yang begitu ketat bagi setiap murid ketika menginginkan adanya keberhasilan dalam menimba ilmu.

Diantara sekian banyak pendapat tentang pendidikan islam, antara satu dengan lainnya saling melengkapi, seorang guru dalam pandangan Al – Mawardi haruslah ikhlas dalam menyampaikan segala ilmunya dan tidak berdasarkan keinginan untuk mendapatkan bayaran, dan seorang guru haruslah seorang yang mampu memberikan tauladan kepada muridnya, baik dalam kesehariannya yang melingkupi tutur kata ataupun tindakan.

Sebagian para tokoh pendidikan islam membuat kurikulum pendidikan islam dengan menitik beratkan pada ajaran – ajaran islam dan pendidikan al – qur’an menempati posisi paling tinggi diantara materi pelajaran yang lain. Materi umum masih menjadi sesuatu yang dinomor duakan dan hal ini terbukti dengan pendapat al – Ghazali yang secara tegas menggelompokkan ilmu – ilmu yang ada dalam beberapa kelompok, walaupun dia juga berpendapat bahwa pemberian ketrampilan kepada murid untuk bekal kemandirian adalah mutlak diperlukan.

B. Pembahasan isi buku

Begitu kompleks pendapat yang diutarakan para pemikir islam dalam bidang pendidikan, kesemuanya itu saling melengkapi, namun pada dasarnya mereka berbicara dalam beberapa hal saja diantaranya adalah:

a. Guru

Para pemikir islam dalam bidang pendidikan sangat sepakat apabila seorang guru harus memiliki nilai lebih, karena para guru dituntut untuk mampu mengembangkan potensi yang ada dalam peserta didik juga dituntut untuk memiliki keluasaan ilmu yang diampu. Al – Mawardi berpendapat bahwa seorang guru harus mampu memotifasi anak didik, menjadi tauladan serta adanya sikap rendah hati, karena dalam pandangan Al – Mawardi profesi guru adalah yang paling mulia, sehingga tidak setiap orang dapat menjadi guru. Guru juga dituntut untuk dapat melibatkan murid dalam proses belajar, murid diusahakan untuk aktif sehingga akan terjadi adanya komunikasi aktif antara guru dan murid dalam kelas atau dalam pendapat Abdullah Achmad disebut dengan metode debating.

Seorang guru dituntut untuk kreatif dan disiplin dalam pengajarannya dengan memperhatikan jam masuk dan jam selesai mengajar. Pemanfaatan waktu luang seyoguanya digunakan untuk memperkaya diri dengan pengetahuan sesuai bidangnya, seorang guru haruslah sosok yang tawadlu’ dan tidak boleh riya dalam segala aspeknya, hal ini merupakan sesuatu yang harus dipenuhi, karena ini sangat terkait erat dengan adanya tauladan yang harus diberikan oleh seorang guru kepada peserta didiknya.

B. Murid

Murid merupakan obyek dari pendidikan, keberadaannya sangat dibutuhkan dalam menjaga keberlangsungan suatu pendidikan. Keberhasilan suatu sistem pendidikan sangat tergantung oleh kwalitas murid yang dihasilkan, oleh karena itu untuk menjadi seorang murid yang baik para tokoh pendidikan islam memberikan beberapa kriteria seorang murid yang baik. Al – Ghozali setidaknya memberikan kriteria sebagai berikut :  seorang murid haruslah berjiwa bersih, menjauhkan diri dari persoalan duniawi, bersikap rendah diri, khusus bagi murid yang baru hendaknya jangan mempelajari ilmu – ilmu yang berlawanan / bertentangan, mendahulukan mempelajari yang wajib, mempelajari ilmu secara bertahap, terfolus pada satu disiplin ilmu sampai menguasai benar, mengenal ilmu yang dipelajari.

   Ibn. Taimiyah mengatakan bahwa untuk menjadi seorang murid yang baik maka hendaknya seorang murid memiliki niyat yang baik, serta mengetahui tata cara menghormati seorang guru, mau menerima setiap ilmu yang diketahui sumbernya, dan juga jika menyalahkan suatu madzhab yang lain.[1] Baik al – Ghazali maupun Ibn Taimiyah sama – sama mencirikan bagaimana sosok murid yang ideal. Keberadaan murid bukanlah sesuatu yang sederhana, melainkan seorang murid juga harus diperhatikan secara seksama dengan mengarahkannya dan menunjukkan jalan yang terbaik bagi keberhasilan pendidikannya, tentunya sampai saat ini tidak ada seorang gurupun yang menginginkan muridnya untuk menjadi tetap bodoh seperti ketika murid belum pernah mengenyam pendidikan.

C. Metode Pembelajaran

Dalam hal ini, tentunya sangat berfariasi sekali bentuknya, karena yang terpenting dalam metode pembelajaran adalah bagaimana suatu materi pelajaran dapat diterima dengan mudah oleh peserta didik. Dan untuk mendapatkan hal yang demikian tentunya antara satu kelas dengan kelas yang  lain ataupun suatu sekolah dengan sekolah yang lain dapat saja menerapka metode pembelajaran yang saling berbeda, tentunya hal ini dengan berpangkal pada satu hal yaitu bagaimana suatu materi pelajaran dapat dietrima dengan mudah oleh murid.

Dalam metode pembelajaran Ibn Jama’ah lebih cenderung menekankan pada sistem hafalan, baginya hafalan sangatlah penting dalam proses pembelajaran, sebab ilmu didapat bukan dari tulisan dibuku, melainkan dengan pengulangan secara terus menerus. Memang Ibn Jama’ah sendiri mengakui bahwa metode ini tidak mendukung bagi perkembangan berfikir, namun hafalan pada dasarnya menantang memorial akal untuk selalu aktif dan konsentrasi dengan pengetahuan yang didapat. Ibn Jama’ah juga berpendapat bahwasannya seorang murid juga dapat dijadikan sebagai subyek pendidikan itu sendiri, yaitu dengan menciptakan suasana yang membangkitkan daya kreatifitas murid, sistem pembelajaran tidak harus dari seorang guru kepada murid, melainkan dapat juga dari murid kepada guru.

Ibn Taimiyah berpendapat bahwa ada dua macam metode pembelajaran yang dapat dilakukan untuk menjamin keberhasilan seorang murid, yaitu; 1. Metode At – Thoriqoh al - Ilmiyah yang didasarkan kepada benarnya alat untuk mencapai ilmu, penguasaan secara menyeluruh terhadap seluruh proses belajar, mensejajarkan antara amal dan pengetahuan. 2. Metode At – Thoriqoh al – Iradah dan untuk terlaksananya metode ini diperlukan adanya tiga unsur, yaitu; dengan mengetahui maksud dari iradah, dengan mengetahui tujuan yang dikehendaki oleh iradah, mengetahui tindakan yang sesuai untuk mendidik iradah tersebut. 3. 

Al – Qabisyi lebih cenderung meletakkan hafalan sebagai suatu metode pembelajaran yang baik, menurutnya menghafal merupakan salah satu metode yang paling baik dan sesuai dengan pendapat modern yang mengatakan bahwa metode hafalan didasarkan pada pengulangan, kecenderungan dan pemahaman terhadap bahan pelajaran yang dihafal itu. Ibn Sina berkata lain bahwa pertimbangan penerapan suatu metode harus berdasarkan kondisi psikologis murid, sehingga Ibn Sina memilih beberapa metode yang layak diterapkan diantaranya adalah metode talqin, metode demonstrasi, metode pembiasaan dan teladan, metode diskusi, metode magang serta metode penugasan.[2]

D. Kurikulum

Secara sederhana istilah kurikulum digunakan untuk menunjukkan sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar. Muatan mata pelajaran yang yang terkandung dalam suatu kurikulumpun akan sangat berfariasi, tergantung obyek yang akan dituju. Konsep Ibn Sina tentang kurikulum didasarkan pada tingkat perkembangan usia anak didik. Untuk anak usia 3 sampai 5 tahun misalnya, menurut Ibn Sina perlu diberikan mata pelajaran olah raga, budi pekerti, kebersihan, seni suara,dan kesenian.[3]

Al – Qabisyi menyatakan bahwa ada dua macam kurikulum yang dapat digunakan dalam suatu institusi pendidikan yaitu kurikulum Ijbari yaitu suatu kurikulum wajib yang harus ditempuh oleh semua murid dan kurikulum Ikhtiyari ( tidak wajib / pilihan ). Ibn jama’ah lebih cenderung kepada adanya dua macam kurikulum yaitu kurikulum dasar yang menjadi tolak pangkal dari pengetahuan dasar murid serta menitik beratkan pada agama serta kebahasaan dan kurikulum pengembangan yang berkenaan dengan pelajaran non – agama. Dan al – Ghazali lebih didasarkan pada kecenderungan ; 1. kecenderungan agama dan tasawuf, 2. kecenderungan pragmatis.

E. Lingkungan 

Lingkungan pendidikan pada akhirnya sangat mendukung adanya keberlangsungan pendidikan itu sendiri. Adanya lingkungan yang baik tentunya akan menghasilkan murid yang berprestasi. Ibn Miskawaih mengatakan bahwa Sebagai mahluk sosial, manusia membutuhkan kondisi yang baik dari luar dirinya.[4] Manusia tidak mungkin dapat melepaskan diri dari lingkungan sosialnya, karena kodratiyah manusia adalah sebagai mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.

Dalam hal ini Ibn Miskawaih membicarakannya secara umum yaitu dengan membicarakannya seperti lingkungan masyarakat pada umumnya, ia memulai dengan lingkungan sekolah terutama antara guru dan murid, lingkungan pemerintahan yang menyangkut rakyat dan pemimpinnya, sampai dengan lingkungan keluarga. Menurutnya kesemuanya ini sangat menjamin adanya keberhasilan seorang anak didik.

Sedangkan Ibn Jama’ah memberikan perhatian besar terhadap lingkungan pendidikan, menurutnya bahwa lingkungan yang baik adalah lingkungan yang didalamnya mengandung pergaulan yang menjunjung tingginilai – nilai etis. Pergaulan yang ada bukanlah pergaulan bebas melainkan pergaulan yang ada batas – batasnya. Hal ini mirip sekali dengan apa yang menjadi pendapat az – Zarnuji pergaulan pada dasarnya sangat berpengaruh sekali akan diri seorang murid.

F. Tujuan Pendidikan

Ibn Taimiyah mengutarakan tiga hal, terkait dengan adanya tujuan pendidikan yaitu; 1. Tujuan individu, hal ini lebih diarahkan kepada terbentuknya pribadi muslim yang baik dan berwibawa, 2. Tujuan Sosial, dalam hal ini pendidikan diposisikan sebagai sesuatu yang dapat mewarnai masyarakat, dapat menuntun suatu masyarakat menuju sesuatu yang lebih baik, 3. Tujuan da’wah Islamiyah, pendidikan islam  seyogyanya mampu menjadi motor perkembangan agama islam itu sendiri.

Menurut Ibn Sina, bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang kearah perkembangan yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual, dan budi pekerti.[5]Suatu konsep pendidikan haruslah sesuatu yang benar – benar sesuai dengan peserta didik yang dituju. Menurut al – Ghazali bahwa ada dua macam tujuan akhir dari suatu pendidikan yaitu tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada allahdan kesempurnaan insani yang bermuara kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.[6] 

G. Kelembagaan

Dalam sejarah islam kita mengenal lembaga yang bernama sekolah ketika pada masa kekhalifahan, sebut saja sepreti sekolah Nizamiyah ataupun kuttab – kuttab seperti penggambaran al – Ghazali dalam merepresentasikan pemikirannya dalam bidang pendidikan. Dalam konteks keindonesiaan kita mengenal adanya Abdullah Achmad dengan melembagakan pendidikan islamdengan mendirikan sekolah Adabiyah. Abdullah Achmad merekrut para pengajar yang berjiwa kebangsaan dalam mendukung kelancaran pembelajaran, dan dalam kelanjutannya sekolah ini bercirikan HIS ( Hollands Inlandsche School ) atau HMS ( Hollands Maleische School ), setelah itu beliau mendirikan TK, walaupun dalam kelanjutannya sekolah ini dibubarkan, namun SD, SMP, SMA yang telah ada tetap dipertahankan dan menambah lagi setingkat dengan perguruan tinggi yaitu Sekolah Tinggi Administrasi Islam ( STAI )

Dalam pandangan Ikhwanul Muslimin bahwasannya ada dua macam corak lembaga pendidikan yaitu lembaga pendidikan yang bersifat formal seperti sekolah dan lembaga pendidikan non formal seperti keluarga kelompok belajar ataupun kursus. Ikhwanul Muslimin membentuk sebuah komite khusus yang berada dikantor pusat dan panitia yang bertugas mendirikan sekolah SD, SL dan sekolah tehnik untuk anak laki – laki dan perempuan yang keadaannya berbeda dengan sekolah – sekolah swasta lainnya.[7]

H. Sistem Pendidikan

            Ikhwanul Muslimin berusaha mengintegrasikaan sistem pendidikan yang dikotomis antara pendidikan agama dan pendidikan umum dengan maksud memberikan nilai agama pada pengetahuan umum dan memberi makna progresif terhadap pengetahuan dan amaliyah agama sehingga sikap keagamaan tersebut tampil lebih aktual. Universalitas dan keterpaduan yang digagas oleh Ikhwanul Muslimin lebih didasarkan pada bahwa pendidikan islam tidak hanya mementingkan satu dimensi saja.

I. Hukuman dalam Pengajaran

          Pada dasarnya Ibn Sina sangat memperhatikan sisi martabat manusia dalam artian manusia itu memiliki sikap dasariyah untuk disayang dan mendapatkan perlakuan halus.sehingga jika mendapatkan suatu perlakuan kasar pasti seseorang akan berontak dan melakukan perlawanan. Dalam pandangannya perlakuan hukuman dapat dilakukan ketika dalam keadaan tidak normal dan dalam keadaan normal pelaksanaan hukuman sangat tidak dibenarkan.

J. Pemberian Life Skill

          Dalam hal ini al – Qabisyi memasukkan Life Skill dalam kurikulum ikhtiyari dengan menyebutkan jenis kegiatan yang dilakukan seperti; pelajaran ketrampilan yang dapat menghasilkan produksi kerja yang mampu membiyayai hidupnya dimasa yang akan datang. Dalam pandangan Ibn Sina bahwa pendidikan juga harus mampu menolong manusia agar tetap eksis dalam melaksanakan fungsinya sebagai khalifah dimasyarakat, dengan suatu keahlian yang dapat diandalkan.

K. Pencampuran Murid

          Pencampuran murid yang sudah mendekati akil baligh sangat tidak baik bagi perkembangan murid, karena perasaan manusia akan semakin berkembang dalam mengenal jenisnya dan hal ini dikhawatirkan hanya akan mengganggu konsentrasi belajar siswa, walaupun terkesaan kuno, tapi inilah yang sesuai dengan ajaran islam, demikian pula ia tidak setuju untuk mencampurkan anak kecil dan orang dewasa ditakutkan nanti dapat merusak moral anak kecil tersebut.

L. Demokrasi Pendidikan

            Al – Qbisyi berpendapat bahwa tidak ada perbedaan dalam manusia untuk mendapatkan pendidikan karena pendidikan adalah hak bagi semua manusia, semua martabat murid sama tidak ada yang berbeda. Kaya atupun miskin mereka adalah juga manusia yang membutuhkan pendidikan oleh karena itu Al – Qabisyi sangat menganjurkan kepada para guru supaya tidak memperhatikan asal usul dari seorang murid yang diajar.

M. Pembaharuan struktur dan Manajemen Pesantren

            Dalam pandangan Imam Zarkasyi bahwa pesantren haruslah merupakan suatu lembaga pendidikan yang independen dengan memperbaiki sturktur dan menata dengan rapi sistem manajerial yang ada, seperti halnya yang telah dilakukan oelh pesantren Gontor. Penanganan pesantren harus dilepas dari kekuasan keluarga kiyai, sehingga kedudukan santri dalam pesantren semuanya adalah sama dan kiyai maupun guru hanya mempunya tugas mengajar, bukan berkuasa penuh dalam suatu pesantren.

N. Pembaharuan dalam pola pikir santri dan kebebasan pesantren

             Saantri diberikan kebebasan dalam menentukan pilihan akan pengajian yang akan diambil,  tanggung jawab dan pemberdayaan kemampuan merupakan sesuatu yang harus dilakukan untuk menciptakan adanya kemandirian santri, tidak seperti pesantren pada umumnya yang masih mengenyam apa adanya sesuatu yang diberikan oleh sang kiyai. Ada satu pernyataan menarik dari imam Zarkasyi yaitu bahwa Gontor tidak mencetak pegawai, tetapi menceytak majikan untuk dirinya sendiri.[8]

C. Analisa

            Semua yang dikemukakan oelah para pemikir Islam diatas adalah suatu bukti perhatian mereka terhadap pendidikan islam. Namun begitu setidaknya tidak semua pendapat yang ada masih relefan untuk diterapakn pada konteks kekinian, walaupun masih ada sebagian kalangan yang mempraktekkannya, seperti adanya pencampuran murid yang sangat ditentang oleh Al – Qabisyi, jika hal ini diterapkan dam konteks kekinian secara menyeluruh maka sudah dapt dipastikan pendidikan yang ada akan berumur pendek.

            Pemberian life skill adalah sesuatu yang sampai sekarang masih jarang dilakukan oleh sekolah yang bercirikan islam, padahal hal ini sangat dibutuhkan bagi peserta didik dalam menggapai masa depannya. Dan yang sering absurd adalah adanya demokrasi dalam pendidikan selama ini pendidikan hanya terkesan disediakan bagi kalangan kaya saja, dan terlalu mengesampingkan masyarakat miskin, dan juga tujuan pendidikan sekarang sudah mulai melenceng dari relnya yaitu dengan menjadikan pendidikan sebagai komoditas profit yang menggiurkan.

            Kondisi murid dan guru harus dibenahi, karena keberadaan guru ataupun murid pada saat ini terlihat asal – asalan saja, padahal apa yang telah tercantum diatas merupakan sesuatu yang seharusnya diterapkan pada kondisi saat ini, banyak guru mengeluh hanya karena mendapatkan honor yang kecil ataupun malah melakukan demonstrasi, bahkan banyaknya murid yang kehilangan kesopanannya karena adanya pengaruh budaya asing , sehingga hal yang demikian ditas perlu untuk diaktualitaskan kembali dalam kehidupan pendidikan sekarang.

            Adanya pembhaharuan pesantren sebagian kalangan pesantren masih enggan untuk melakukannya dan dalam hemat saya memang hal ini sebaiknya diserahkan kepada keluarga kityai sebagai pencetus adanya pesantren tersebut. Pola pikir santri juga masih membutuhkan adanya bimbingan sehingga dalam kelanjutannya mungkin dapat diarahkan kepada kemandirian, namun sampai saat ini masih banyak pesantren yang mempertahankan kesalafannya dan menjadikannya sebagai suatu ciri khas tersendiri.

D. Penutup

            Semua yang telah dipaparkan diatas adalah suatu bentuk pemikiran murni dan mendalam dari para tokoh pendidikan islam dengan melihat kondisi zaman ynag melingkupinya, sehingga kita sebagai manusia yang hidup dalam mas yang berbeda tidak lantas memakan mentah – mentah apa yang telah tersebut diatas, meliankan harus memilah dan memilih yang disesuaikan dengan kondisi yang ada disekitar kita.

 

 

 

Daftar Pustaka

 1. Dr. H. Abudin Nata, MA, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam ; Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001)

 2. Ibn Sina, Kitab as – Siyasah fi at – Tarbiyah ( Mesir: Majalah al – Masyrik, 1906 )

 3. Ibn Miskawaih, Al – Hikmat al – Khalidat, ( terj ) Javidan Khirad oleh Abd ar – Rahman Badawi, ( Kairo: Maktabat Nahdat al – Mishriyat, 1952 ) 

 4. H.M Arifin, M. Ed, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta: Bumi Aksara, 1991 )

 5. Ishak Musa al – Husaini, Ikhwan al – Muslimin,  ( Jakarta : Grafiti Pers, 1983 )

 6. Kenang – kenangan 1926 ( Peringatan Delapan Windu, 1990 ), ( Gontor, 1990 )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RESENSI BUKU

 

 

PEMIKIRAN PARA TOKOH PENDIDIKAN ISLAM

SERI KAJIAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

KARYA: Dr. H. ABUDDIN NATA, MA

 

 

Resensi ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Sosial Pendidikan Islam yang diampu oleh Bp. Prof. Dr. H. Abdurrahman Mas’ud, MA

 

Oleh:

Achmad Machrus Muttaqin

Nim: 05913132

 

 

 

MAGISTER STUDI ISLAM

KONSENTRASI PENDIDIKAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA 2006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Dr. H. Abudin Nata, MA, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam ; Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam ,   ( Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001 ). hal. 156

[2] Ibid, hal. 74

[3] Ibn Sina, kitab as – Siyasah fi at – Tarbiyah ( Mesir: Majalah al – Masyrik, 1906 ), hlm. 1023

[4] Ibn Miskawaih, al – Hikmat al – Khalidat, ( terj ) Javidan Khirad oleh Abd ar – Rahman Badawi, ( Kairo: Maktabat Nahdat al – Mishriyat, 1952 ), hlm. 149 

[5] Ibn Sina. Op. Cit, hal. 1076

[6] H.M Arifin, M. Ed, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta: Bumi Aksara, 1991 ) , hlm. 87

[7] Ishak Musa al – Husaini, Ikhwan al – Muslimin,  ( Jakarta : Grafiti Pers, 1983 ), hlm. 62

[8] Kenang – kenangan 1926 ( Peringatan Delapan Windu, 1990 ), ( Gontor, 1990 ), hlm. 21