PENTINGNYA PENGAJARAN AKHLAQ

DITENGAH MODERNISASI

 

           

            Modernisasi menjadi suatu keharusan yang muncul ditengah kehidupan manusia sebagai sebuah manivestasi dari pendidikan dan pemikiran manusia yang semakin maju. Beragam piranti pemenuhan kebutuhan manusia diciptakan, untuk dapat menjadikan kehidupan manusia semakin makmur. Bukan menjadi suatu rahasia lagi, jika dalam kelanjutannya modernisasi memunculkan adanya ambifalensi yang sangat membingungkan. Disatu sisi modernisasi menawarkan adanya kebaikan yang sebelumnya belum pernah muncul dalam kehidupan manusia. Namun, disisi yang lain, modernisasi juga telah mencabik tatanan kehidupan sosial masyarakat yang ada.

            Kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan kesiapan sebagian manusia untuk menyongsongnya, menjadikan modernisasi dituduh sebagai dalang dari permasalahan yang sering muncul. Kriminalitas yang semakin meningkat baik dari sisi kwalitas dan kwantitas, moralitas masyarakat yang semakin tercerabut dan budaya local mengalami penggusuran yang sangat kentara.

            Kriminalitas dapat muncul ditengah masyarakat yang pada asalnya merupakan suatu komunitas yang damai. Adanya kebutuhan mendesak yang dibarengi dengan adanya kemampuan diri ntuk memenuhinya menjadikan kenekatan mendjadi jurus utama untuk mendaoatkannya.

 

 

 

            Tingginya angka kriminalitas yang selama ini didominasi oleh orang dewasa sudah seharusnya menjadi keprihatinan tersendiri, menghakimi mereka untuk saat ini mungkin bukan jawaban yang begitu tepat . mengapa? Dalam kenyatannya lembaga pemasyarakatan seringkali dijadikan tempat unutk saling berbagi pengalaman atau dalam istuilah nya sebagai tempayt untuk berguru,

            Pengajaran akhlaq adalah jawabannya, melalui pembinaan yang berkala dengan memberikan pembelajaran akhlaq dimungkinkan akan muncul adanya kesadaran untuk bertindak sesuai apa yang diajarkan. Akahlaq yang mulia dapat menghias harti dan diri seseorang sehingga dalam tingkah lakunya akan mencerminkan sosok yang baik dan akan dimulaiakan oleh orang yang berada didekatnya sebagai orang yang lebih diantara mereka karena keutamaan akhlaqnya.

            Wujud dari adanya Penanaman nilai – nilai moral yang terkadung dalam al – qur’an sudah seharusnya dilakukan secara dini. Selagi anak belum begitu jauh terseret arus modernisasi, sehingga hal ini akan dapat dijadikannya sebagai pedoman diri dalam menapaki perjalanan hidupnya. Segala sesuatu yang ditanamkan kepada anak ketika masih belia akan sangat berperan aktif dalam kemuadian hari, sehingga menjadikan TPA sebagai saranan pemberdayaan akhlaq adalah salah satu jalan untuk menciptakan generasi yang bermoral.  

Dalam pandangan Al – Ghazali, pemberdayaan ini akan berhasil karena dua sebab:

  1. Atas karunia allah yang telah memberikan fitrah manusia secara sempurna.
  2. Akhlaq tersebut diusahakan dengan mujahadah dan riyadlah, maksudnya membawa diri kearah perbuatan – perbuatan yang sesuai dengan akhlaq yang baik 5

Maksud dari pernyataan Ghazali ini, bahwasannya disamping siswa diajarkan untuk senantiasa berdoa juga diharuskan untuk melatih diri dengan riyadlah atau laku prihatin, mencoba menyurutkan hawa nafsu sedari kecil supaya kelak mereka dapat mengendalikan hawa nafsu dan dapat mengendalikan semua tindakan, sehingga tindakan itu memang didasarkan atas hati nurani dan berdasarkan al – qur’an.

            Institusi pendidikan non formal seperti TPA memang dapat mencapai tujuannya dengan melakukan banyak inovasi dan kreasi, termasuk didalamnya upaya untuk memberdayakan akhlaq. Al – Ghazali merumuskan beberapa cara supaya usaha pemberdayaan akhlaq dapat tercapai secara maksimal, yaitu dengan:

  1. Menjadi murid seorang ustadz yang shaleh.
  2. Meminta bantuan seorang teman yang tulus, taat dan mempunyai pengertian.
  3. Mengetahui kekurangan kita dari orang – orang yang tidak simpati kepada kita, karena mereka lebih banyak mengetahui tentang kelemahan kita dari pada teman biasa.
  4. Bergaul dengan orang lain dan menisbahkan kekurangan orang lain itu seperti pada diri sendiri. 6

Dilingkungan TPA setidaknya memiliki apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh siswa, tentu kaitannya dengan pemberdayaan moral. Pergaulan memang sangat mempengaruhi tindakan ataupun perilaku siswa dalam kesehariannya. Jika hal ini tidak dibarengi dengan adanya pembekalan nilai – nilai etika, maka dikhawatirkan nantinya siswa dapat melakukan tindakan – tindakan yang melanggar kesepakatan umum, sehingga bukan kasih sayang sesama mereka yang didapat, melainkan cercaan dan makian yang akan mereka dapat dikarenakan adanya moral mereka yang tidak terberdayakan.

            Adanya upaya untuk menjadikan TPA sebagai sarana pemberdayaan moral anak adalah suatu inovasi tersendiri ditengah globalisasi seperti saat ini. Dengan mengkhususkan adanya mata pelajaran akhlaq dengan alokasi waktu tersendiri, mungkin cara ini akan efektif, seperti kata bijak bahwa menanamkan nilai diwaktu kecil ibarat melukis diatas batu, maka akan sulit hilangnya. Berbeda ketika mananamkan nilai diwaktu besar, maka seperti mengukir diatas air, akan mudah hilang.

            Guru akan sangat kental dalam mewarnai siswa, sehingga  sebaiknya guru merupakan sosok pilihan yang benar – benar dapat dijadikan panutan bagi semua siswa. Menurut al – Mawardi: Sikap tawadlu’ akan menimbulkan simpatik dari para anak didik, sedangkan sikap ujub akan menyebabkan guru kurang disenangi.7Sudah jelas kiranya, bahwa memang seorang guru haruslah orang – orang terpilih. Mampu membawa diri dan wibawanya didepan murid, senantiasa menjadi orang tua dalam keadaan apapun bagi murid.

Dalam kelanjutannya, sikap tawadlu akan melahirkan sikap demokratis pada murid – muridnya. Pelaksanaan prinsip demokratis didalam kegiatan belajar mengajar dapat diwujudkan dalam bentuk timbal balik antara siswa dan siswa, antara guru dan siswa.8 Demokrasi akan membawa semuanya kepada keterbuakaan  yang nantinya dapat mengarah kepada kemajuan bersama yang dilandasi oleh semangat kekeluargaan, sehingga dengan adanya sifat keterbuakaan ini murid dapat lebih mencintai guru dan jika kondisi ini sudah tercipta, maka pelajaran yang disampaikan oleh guru akan mudah diterima oleh murid. Sikap tawadlu yang dimaksud adalah sikap rendah hati dan merasa sederajat dengan orang lain dan saling menghargai, sikap demikian akan menimbulkan rasa persamaan, menghormati orang lain, toleransi sertarasa senasib dan cinta keadilan.9

            Tentunya semua kerja yang dilakukan dalam upaya pemberdayaan harus dilandasi dengan adanya sikap ikhlas, sehingga dalam melakukan pekerjaan ini akan selalu diiringi dengan semangat yang terus menyala. Jika kerja dengan memikul beban pamrih, maka kerja akan berkurang semangat apabila pamrih itu tidak terpenuhi. Mungkin pamrih dalam hal ini dapat berupa status sosial, gaji ataupun penghormatan lebih dalam lingkungan kerja, dan seperti yang kita ketahui bersama, bahwasannya sampai saat ini belum ada TPA yang mampu membayar gurunya dengan standar upah minimum kabupaten ataupun propinsi, sehingga dalam menjalankan roda TPA benar – benar dibutuhkan adanya tenaga – tenaga yang benar – benar ikhlas dalam menjalankan tugasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Toleransi yang menjadi ciri khas bangsa kita telah hilang. Seringkali kita bersikap acuh terhadap sesame, membiarkannya dalam kondisi yang tidak seharusnya mereka alami ditengah sesamanya dapat menikmati kehidupan yang lebih layak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kitab Taysirul Kholaq ini menawarkan solusi bagi kita untuk memproduk generasi yang handal dan tangguh dalam

 

 

 

             



5 Al – Ghazali, Ihya’ Ulumaddin, jilid III ( Mesir: Dar Ihya al Kutub al Arabi, tt ) ,  hal. 56

 

6 Ibid, hal. 67 - 68

7 Al – Mawardi, Adab ad – Dunya wa ad – Din ( Beirut: Dar al – Fikr, tt ) hal. 80

 

8 Cece Wijaya dan A. Tabrani Rusyam, Kemampuan guru dalam proses belajar mengajar ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 1994 )hal. 117

 

9 Ahmad Muhammad al – Hufy, Min Akhlaq an – Nabi ( Al – Majlis al A’la li as – Syu’un al – Islamiyah, 1968 ) hal. 283