PENGUATAN AQIDAH SECARA DINI

 

           Aqidah adalah sesuatu yang sangat esensial dalam kehidupan beragama manusia. Keberadaannya merupakan sebuah pondasi bagi semua kegiatan peribadatan yang ada dalam agama untuk dapat diterima oleh sang khaliq. Hal inilah yang dapat dijadikan alasan bahwa pemeluk agama lain yang melakukan ritual ibadah agama yang lain akan tidak diterima, dengan alasan karena mereka berlainan aqidah. Sebagai sebuah bentuk keyakinan, aqidah seringkali menjadi sebuah rahasia pribadi yang tidak boleh dicampuri oleh orang lain. Dari sinilah kadang muncul tindakan – tindakan aneh dari seseorang berkaitan dengan keyakinanannya.

            Kehidupan beragama di Indonesia sanagat beragam. Setidaknya ada lima agama besar yang keberadaannya diakui oleh pemerintah, adalah islam, kristen, katolik, hindu dan budha. Hal ini belum ditambah dengan adanya aliran kepercayaan yang ada dan jumlahnya melebihi dari agama resmi itu sendiri. Dalam menapaki keseharian, mereka hidup dalam jalinan kasih sayang walaupun kadang diselingi oleh perselisihan, namun itu sifatnya hanya temporal saja. Pemeluk agama islam akan menghormati pemeluk agama lain, demikian juga sebaliknya. Ambon adalah contoh nyata dari keharmonisan kehidupan beragama sebelum terjadi perselisihan etnik.

            Memang benar, nabi Muhammad pernah berpesan bahwa kelak umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu yaitu ahlu as – sunah wal jamaa’ah, bergam golongan muncul dalam islam yang kesemuanya saling mengeklaim bahwasannya dialah yang paling benar, sejarah dalam islam telah memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa perbedaan hanya akan membuat perpecahan bagi kita sendiri. Mengapa kita harus beda, kalau hanya yang menjadi inti perbedaan adalah sama? Mu’tazilah, syiah, maturidiyah, asy’ariyah, khawarij adalah ragam aliran yang muncul dalam islam seperti yang telah dikatakan oleh nabi.

            Dalam konteks keindonesiaan, kiranya kita dapat melihat sendiri adanya beragam aliran islam yang berkembang dan seringkali dilarang karena sangat bertentangan dengan esensi dari ajaran islam itu sendiri. Mereka bergerilnya mencari pengikut untuk dapat diakui keberadannya tanpa harus memperdulikan bahwa orang yang mereka ajak untuk mengikuti alirannya adalah orang yang telah berkeyakinan, sehingga yang terjadi adalah adanya perebutan pengikut dalam satu lahan.

            Hal ini terus berlangsung sampai saat ini. Dalam hal ini, masyarakat adalah sosok yang paling dirugikan karena lingkungannya menjadi tidak nyaman lagi ketika muncul sebuah aliran baru yang berbeda dengan lairan yang diyakini oleh kebanyakan warga, sehingga protes tidak dapat dihindarkan untuk segera mengusir anggota masyarakat yang berbeda identitas itu. Dan yang sedang ramai diperbincangkan saat ini adalah keberadaan jama’ah al – qiyadah pimpinan Ahmad Mushaddaq yang telah menuai beragam protes dari semua lapisan masyarakat, termasuk MUI sebagai lembaga fatwa di Indonesia telah menetapkan bahwa al – qiyadah adalah aliran sesat. Sweping pun dilakukan dalam segala bentuknya yang dilakukan diseluruh Indonesia untuk menghentikan lajunya aliran ini. Hasilnya adalah banyak anggota jama’ah yang ditangkap untuk kemudian disadarkan.

            Hal ini tentunya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita untuk menanamkan aqidah sekuat mungkin kepada generasi muda kita, sehingga kelak keyakinan mereka tidak akan goyah walau muncul sebuah goncangan hebat. Sasaran empuk bagi aliran baru yang muncul seringkali adalah mereka para pelajar an mahasiswa, mengapa? Karena seringkali aliran baru yang muncul itu dalam menyampaikan ajarannya berdasarkan logika, sehingga secara otomatis wilayah penyebarannya adalah mereka – mereka yang seringkali bersinggungan dengan permainan logika.

            Sayid Ahmad Marzuki menuliskan beberapa kaidah yang tentang pembekalan aqidah secara dini dalam kitabnya yang berjudul ‘aqidatul ‘awam. Secara runtut dia menyuguhkan hal – hal yang harus ditanamkan kepada seseorang untuk dapat menguatkan aqidah. Walau hanya berbentuk syair namun makna yang terkandung didalamnya sangatlah padat dan hal ini dijabarkan oleh sayid Muhammad al ‘alawi bin maliki al hasani dengan mengambil judul kitab yang sama. Dalam penjabarannya, Sayid Muhammad tidak terlalu tinggi dalam menyampaikan jabarannya, sehingga sangat mudah dipaham oleh mereka para pemula.

 

Achmad Machrus Muttaqin

PP. As – Salafiyyah

Mlangi Nogotirto Gamping Sleman Yogyakarta

( 0274 ) 7435330