PUASA RAMADLAN

 

 

Karya : Abdul Al-Razak Naufal

Penerbit : Daar Al-Syuruq

 

 

 

 

 

 

 

Diterjemahkan Oleh:

Achmad Machrus Muttaqin, S. Fil. I

 

 

PUASA RAMADLAN

 

Bismillahiirahmannirrahiim

Buku ini merupakan rangkaian dari rukun Islam yang di tujukan untuk menjelaskan hakikat Islam, hak dan juga kewajiban umat Islam, baik yang bersifat individu maupun kelompok.

Buku ini membutuhkan adanya label ilmiah untuk dapat menguatkan ajaran Islam, hal ini di karenakan ilmiah adalah watak zaman sekarang, dengan menggunakan bahasa ilmiah pula. Dengan mendasarkan buku ini pada metode ilmiah, dapat menjadikannya mampu untuk mencapai tujuan dari disusunnya buku ini. Penulis menyusun buku ini bagi masyarakat umum, yaitu bagi orang-orang yang mampu membacanya, sehingga memungkinkan baginya untuk memperjuangkannya.

Tulisan ini adalah tentang puasa Ramadlan, yang di maksudkan untuk memberikan pengertian kepada umat manusia tentang kewajiban, tujuan, dan hukum-hukumnya. Aku memohon kepada Allah SWT, untuk dapat menerima puasa kita dan senantiasa melipat gandakan pahala puasa kita. Amin

 

Abdul Al-Razak Naufal

 

 

 

 

 

 

Bismillahirrahmannirrahim

 

 

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah: 183)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bulan Ramadlan

 

Pada masa permulaan Islam, para mujtahid mencoba untuk bersepakat pada sebab dari penamaan bulan yang agung ini dengan nama Ramadlan. Diantara mereka, ada yang berpendapat bahwa:

  1. Ramadlan adalah salah satu dari Asma al-Husna.
  2. Ramadlan adalah nama seorang pemuda sholih yang hendak di muliakan oleh Rasulullah SAW, lantas nama pemuda itu di ucapkan pada bulan ini.
  3. Di bulan ini terjadi hujan besar yang tidak merusak, yang di sebut dengan Ramdlaa (panas), lantas hal ini di jadikan sebagai sebuah nama bulan.
  4. Kata Ramdlaa (panas) itu di tujukan bagi tanah yang sangat panas, dan bulan ini menjadi panas ketika di namakan Ramdlaa, maka hal ini di jadikan sebab bagi penamaan Ramadlan
  5. Beribadah di bulan ini dapat menghanguskan dosa, oleh karena itu di namakan bulan Ramadlan.
  6. Orang-orang Arab membakar/mengasah senjata mereka (untuk berperang) di bulan sebelum Syawal untuk berperang sebelum tiba bulan yang di muliakan.

Dan masih banyak lagi pendapat lain. Kecuali, ketika orang-orang yang mencoba memahami setiap pendapat ini dan sebab-sebabnya tidak menemukan sesuatu yang menguatkan dan mereka tidak dapat menerima kebenarannya, maka yang mendekati pada kebenaran adalah bahwa Ramadlan sebagai sebuah nama itu sama seperti bulan Rajab, Shafar, Jumadil Awal, Jumadil Akhir ataupun Syawal dan juga nama-nama lainnya, tidak ada sebab yang menyertai.

Bulan Ramadlan menjadi berbeda, sebab ada sesuatu yang menjadikannya sebagai bulan yang paling baik dari bulan-bulan yang lain, yaitu:

  1. Kitab nabi Ibrahim SAW di turunkan pada malam pertama bulan Ramadlan.
  2. Kitab Taurat di turunkan kepada nabi Musa pada tanggal 6 bulan Ramadlan.
  3. Kitab Injil di turunkan kepada nabi Isa pada tanggal 13 bulan Ramadlan.
  4. Al-Quran di turunkan kepada nabi Muhammad di malam lailatul qadr, yaitu salah satu malam di bulan Ramadlan. Di katakan bahwa malam lailatul qadr adalah malam ke-17, dikatakan pula bahwa malam lailatul qadr adalah malam ke-23, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa malam lailatul qadr adalah malam ke-25, dan pendapat yang paling masyhur adalah malam ke-27. Akan tetapi, pendapat yang paling kuat adalah pada 10 hari terakhir di bulan Ramadlan.

Ketika malam ini di sebut sebagai malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, hal ini di karenakan adanya suatu kejadian yang terjadi di malam itu dan tidak terjadi di malam yang lain, sampai akhirnya lailatul qadr menjadi satu-satunya malam yang ada dalam setahun yang mendapat julukan malam keselamatan. Hal ini berdasarkan firman Allah:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?, malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan., pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan., malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadar: 1-5)

Lantas bagaimana dengan keseluruhan bulan Ramadlan? Hari-harinya dan juga malam-malamnya?

Dalam bulan Ramadlan, Allah telah memberikan pertolongan-Nya dan mengokohkan kaum muslimin dengan beragam pertolongan yang menakjubkan. Pada bulan Ramadlan terjadi perang Badar, merupakan perang yang menunjukkan kekuatan Islam yang sesungguhnya, kekuatan pasukan dan kekuatan iman umat Islam. Dalam perang ini, Allah memberikan pertolongan-Nya, seolah-olah hal ini menjadi sebuah awal yang baik bagi pembentukan negara Islam yang besar.

Setelah nabi Muhammad dan orang-orang yang mempercayai Allah dan ke-rasulannya meninggalkan Makkah, setelah orang-orang kafir semakin berani melakukan penganiyayaan, beliau berpindah ke Madinah dan kekuasaan Islam disana menjadi semakin kuat. Nabi Muhammad SAW melihat bahwa jalan yang dilalui oleh para pedagang Quraisy, yaitu antara Makkah dan Syam, di samping dapat dijadikan sebagai tempat istirahat, juga dapat di jadikan sebagai tempat untuk mempersiapkan kekuatan perang oleh para kafilah-kafilah muslim. Hal ini di karenakan dekatnya posisi mereka dengan rombongan dagang Quraisy, baik ketika berangkat ataupun pulang, sehingga memungkinkan bagi kaum muslimin untuk dapat memenangkan peperangan.

Nabi Muhammad SAW menghendaki untuk menaklukkan kaum Quraisy dengan mencegat rombongan dagang mereka melalui jalan yang lain, yaitu jalan yang agak jauh dari posisi kaum muslimin, dengan mencegat salah satu dari rombongan mereka. Hal ini di lakukan untuk dapat mengembalikan sebagian harta rampasan kepada orang-orang Makkah muslim yang turut berhijrah, dengan cara mengalahkan salah satu rombongan mereka dan hal ini juga di maksudkan untuk memecah kekuatan musuh dengan menghancurkan salah satu rombongan dagang mereka.

Ketika nabi Muhammad mengetahui bahwa dari kota Makkah telah berangkat rombongan dagang besar yang di pimpin oleh Abu Sofyan, nabi Muhammad tidak lantas mendahului rombongan dagang Makkah, di karenakan adanya ikatan yang kuat diantara setiap penduduk Makkah, hal ini terjadi pada tahun 2 Hijriyah. Maka nabi Muhammad pun berangkat pada hari ke delapan di bulan Ramadlan dengan membawa kekuatan tiga ratus pasukan dan sebagian besar dari kaum Muhajirin dan Anshar menginginkan untuk menyerang ketika pulang dari berdagang, sehingga sudah mendapatkan laba yang banyak.

Abu Sufyan tidak mengetahui rencana kaum muslimin ini, sehingga Abu Sufyan mengirim seorang utusan untuk mengabarkan bahwa rombongan dagangnya dalam bahaya dan meminta kepada orang-orang Makkah untuk berangkat berperang dengan membawa jumlah pasukan yang besar. Orang-orang Quraisy menyanggupinya dan segera mengumpulkan pemuda-pemuda Makkah, serta membekalinya dengan harta dan senjata.

Setelah nabi Muhammad SAW dan para sahabat sampai di jurang Badar, badar adalah tempat untuk jual beli, yang juga di jadikan sebagai tempat untuk berkumpul bagi orang-orang Arab sekali dalam setahun, yang terletak diantara Makkah dan Madinah. Sisi barat jurang Badar lebih dekat berhubungan dengan Madinah dan tempat ini jauh dari sumber air. Diantara posisi mereka dengan sumber air, terdapat tanah berpasir halus yang amblas ketika di injak.

Setelah beberapa hari bertahan, umat Islam merasakan kehausan dan sangat membutuhkan air, maka merekapun menghadap Rasulullah untuk meminta pendapat beliau, dan mereka juga mendapati nabi Muhammad mengalami hal serupa. Lantas nabi Muhammad mengangkat kedua tangannya, menengadahkan wajahnya ke langit dan memohon kepada Allah, memintakan kelonggaran. Allah SWT menurunkan hujan besar, sehingga kaum muslimin dapat meminumnya dan mengambil secukupnya untuk bekal

Air hujan yang mengaliri tanah berpasir lembut tersebut ternyata menjadikannya lebih baik, yaitu tanah menjadi basah dan keras. Hal ini memudahkan bagi kaum muslimin untuk berjalan menuju sumber air. Kaum muslimin pun berhenti untuk istirahat dan Allah menurunkan rasa kantuk kepada mereka, serta membangunkannya dari tidur dengan kondisi yang lebih baik dari kemarin.

Pasukan musuh dengan kekuatan penuh dan persenjataan yang lengkap semakin mendekati posisi kaum muslimin yang berjumlah sedikit, namun mereka memiliki jiwa dan keimanan yang kuat. Sudah jelas bahwa sebab dari berkumpulnya dua kelompok ini adalah adanya rombongan dagang. Abu Sufyan menyelamatkan diri dengan berlari menuju laut, akan tetapi Allah menghendaki untuk mengkokohkan pasukan kaum muslimin yang jumlahnya lebih sedikit dari orang-orang musyrik. Allah memberikan pertolongan-Nya kepada kaum muslimin (ketika jumlah pasukan mereka sedikit), sehingga umat manusia akan tahu bahwa Allah senantiasa menyertai kaum muslimin di manapun berada. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam Al-Quran:

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi) (QS. Al-Qishas: 5)

Allah menurunkan firman-Nya berupa perintah kepada kaum muslimin untuk berperang dan bukan mundur, Allah memberikan kabar gembira bagi mereka dengan pertolongan dan hal ini di dasarkan pada Al-Quran:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur)., Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya., Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Anfaal: 15-17)

Dan Allah berfirman kepada kaum musyrikin:

Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti[1]; maka itulah yang lehih baik bagimu; dan jika kamu kembali[2], niscaya Kami kembali (pula)[3]; dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahayapun, biarpun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman (QS. Al-Anfal: 19)

Ke dua kelompok tersebut bertemu di waktu subuh pada hari Jumat tanggal 17 bulan Ramadlan dan nabi Muhammad melihat adanya dua kelompok besar yang tidak sebanding jumlahnya. Kaum muslimin lebih sedikit jumlahnya, lebih dari setengah jumlah kaum musyrikin. Perbedaanya, jika kaum muslimin memiliki keyakinan dan keberanian yang kuat, maka orang-orang kafir memiliki persenjataan yang lengkap dan perlengkapan yang mendukung. Nabi Muhammad dan Abu Bakar kembali menuju kemah untuk memantapkan semangat pasukannya, lantas nabi Muhammad SAW menghadap kiblat, memohon kepada Allah dengan segenap jiwa raga, mengucapkan janji-janji Allah memohon supaya di wujudkan untuk menolong kaum muslimin, menguatkan Islam, dan mengibarkan bendera agama yang benar.

Nabi Muhammad berkata:

Ya Allah, orang quraisy ini telah datang dengan tipu muslihatnya, yang membawa pembohongan terhadap utusan-Mu. Ya Allah, turunkanlah pertolongan-Mu seperti yang telah Engkau janjikan kepada kami. Ya Allah, jika kelompok ini hancur pada hari ini, maka kelak tidak akan ada yang akan menyembah-Mu lagi

 

Abu Bakar berkata kepada nabi Muhammad:

Wahai nabi Allah, ucapanmu akan janji-janji Allah, maka sesungguhnya Allah akan memenuhi janji-Nya kepadamu

 

Pada saat waspada, nabi berada di arah kiblat yang gelap sedang terkantuk berat, beliau samar-samar melihat adanya pertolongan Allah, lantas beliau keluar menemui kaum muslimin dan berkata kepada mereka:

Demi Dzat. Muhammad dengan kekuasaan-Nya, tidak seorangpun akan membunuh mereka, maka hendaklah membunuh hanya dengan berniat karena Allah dan tidak dengan memusuhi, kecuali Allah akan memasukkanya ke Surga

Turunlah kabar gembira, yang terkandung dalam firman Allah:

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti[4], Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar(QS. Al-Anfal: 65-66)

Kaum muslimin menyerang orang-orang musyrik dengan hati yang dipenuhi dengan keimanan, keyakinan dan berperang dengan sepenuh jiwa, mengharapkan dapat segera menuju surga. Mereka berlomba-lomba dalam berperang mengharapkan bisa mendapatkan kebahagiaan dengan memerangi musuh atau berjuang di jalan Allah. Orang-orang musyrik pun berguguran dan menyerah, dan barisan merekapun kocar-kacir. Bala tentara orang-orang musyrik berlarian, meninggalkan amunisi dan persenjataannya.

Belum sampai matahari bergeser condong ke barat, peperangan telah berhenti, dengan kekalahan di pihak orang-orang musyrik yang sulit mereka terima. Di pihak orang musyrik terbunuh sebanyak 70 orang dan kaum muslimin juga berhasil menahan 70 orang. Sedangkan kaum muslimin yang beruntung dengan menjadi syahid sebanyak 14 orang. Kaum muslimin berhasil merampas banyak amunisi, berupa perbekalan dan perlengkapan.

Ini adalah perang Badar besar, yang merupakan permulaan dari terbentuknya negara Islam. Hal ini memunculkan tanda-tanda ancaman yang di rasakan oleh kaum musyrikin. Kaum musliminpun semakin bersemangat untuk menyebarkan agama mereka dan berjuang di jalan Allah.

Pada bulan Ramadlan di tahun 8 Hijriah, lengkaplah pertolongan Allah dengan di taklukkannya kota Makkah. Setelah perang Badar besar, terjadi banyak peperangan dan permusuhan antara kaum muslimin dan orang-orang musyrik, hal ini yang menyebabkan Rasulullah semakin yakin dengan pendapatnya untuk melakukan persiapan guna menaklukkan kota Makkah yang menjadi benteng bagi orang-orang musyrik. Rasulullahpun mengirim seorang utusan kepada kaum muslimin yang berada di desa-desa dan sekitarnya, yaitu orang pedalaman untuk berkumpul di Madinah pada awal Ramadlan.

Pada tanggal 10 Ramadlan, nabi Muhammad beserta 10. 000 kaum muslimin dari golongan Anshar dan Muhajirin berangkat untuk menghadang orang-orang musyrik di tanah lapang yang biasa di gunakan untuk melakukan perjalanan oleh mereka. Allahu Akbar, Allahu Akbar, kaum muslimin berhasil merebut kembali kehormatan kota Makkah, sehingga penduduk Makkahpun keluar dengan lidah yang terasa kelu dan Islam-pun mendapatkan tempat di hati mereka. Lantas kaum muslimin-pun banyak menjumpai orang-orang yang bertaqwa dan meng-Esakan Allah, seolah-olah malaikat telah memplester mulut-mulut mereka, jiwa-jiwa yang suci telah menuntun mereka. Orang-orang meneriakkan . Nabi Muhammad-pun memasuki kota Makkah, menundukkan kepalanya dan bersujud memuliakan Allah.

Nabi Muhammad kembali menuju ontanya. Beliau kembali mendoakan orang-orang shalih supaya tidak lagi mengalami peperangan. Nabi Muhammad memasuki kabah untuk membersihkannya dari patung-patung, dengan dibantu kaum muslimin, mereka bersama-sama menghancurkan patung-patung itu, seraya membacakan firman Allah:

Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap". Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.(QS. Al-Isyra: 81)

Nabi Muhammad memerintahkan sahabat Bilal untuk mengumandangkan adzan bagi umat manusia dari atas kabah dan nabi Muhammad berdiri di depan kabah seraya berkata:

Tidak ada tuhan selain Allah, Dzat yang maha Esa. Benar apa yang telah di janjikan-Nya dan Allah telah menolong hamba-Nya. Allah telah menghilangkan kesusahan dengan seorang diri

Kemudian nabi Muhammad mengumumkan bahwa beliau telah memaafkan orang-orang yang telah berbuat salah kepadanya atau kepada kaum muslimin, dengan berkata:

Wahai orang quraisy, apa yang akan kamu ucapkan? Dan apa yang akan kamu sangkakan terhadap tindakanku kepadamu? Mereka menjawab baiksaudaraku yang mulia dan anak dari saudaraku yang agung

Dengan ini, maka sempurnalah penaklukan kota Makkah dan semakin kuat kekuasaan kaum muslimin. Allah telah membenarkan janji-Nya dengan berfirman:

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat (QS. An-Nashr: 1-3)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puasa dan Hukum-hukumnya

 

Allah mewajibkan puasa Ramadlan kepada umat Islam, dengan menyandarkan pada ketentuan perintah-Nya yang terkandung dalam ayat Al-Quran:

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah: 185)

Hal ini dilakukan dengan menahan makan, minum dan berhubungan badan, mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari. Ketentuan dari firman Allah ini dilanjutkan dengan firman Allah berikutnya:

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf[5] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 187)

Puasa Ramadlan di tetapkan pada hari senin minggu kedua bulan Syaban tahun ke-2 Hijriyah. Puasa Ramadlan bukanlah puasa pertama yang di tetapkan bagi manusia, karena puasa adalah suatu ibadah yang telah di wajibkan oleh Allah SWT kepada hambanya, semenjak Allah menciptakan manusia. Dalam hal ini Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa(Qs. Al-Baqarah: 183)

Berdasarkan keterangan ini, sesunguhnya semua agama telah mewajibkan puasa, walaupun tidak di ketahui ketentuan-ketentuannya, mengenai bagaimana manusia berpuasa sebelum adanya tiga agama terakhir. Kecuali umat yahudi dan nasrani yang berpuasa pada waktu-waktu tertentu saja dan bagi kelompok-kelompok tertentu pula. Pada kitab injil dan taurat yang ada saat ini, tercantum bahwa puasa adalah ibadah yang telah di wajibkan oleh Allah kepada umat-Nya.

Puasa, sebelum adanya tiga agama terakhir tentu berbeda dengan puasa kita, dan terkadang juga menyerupainya. Tidak semua puasa adalah menahan makan dan minum, karena kata shoum disini di artikan dengan menahan. Seperti halnya dengan puasa dari makan adalah menahan diri dari makan. Ada juga menahan diri dari berbicara, adalah berpuasa dari bicara.

Dalam Al-Quran di sebutkan adanya ketentuan-ketentuan ayat yang menunjukkan adanya puasa dari berbicara. Allah mewajibkan kepada nabi Zakaria untuk berpuasa dari berbicara selama tiga hari. Hal ini berdasarkan firman Allah:

Berkata Zakariya: "Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)". Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari". (QS. Al-Imran: 41)

Seperti halnya yang telah di perintahkan kepada Maryam, dengan ketentuan yang terkandung dalam sebuah ayat:

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini". (QS. Maryam: 26)

Ketika puasa adalah suatu bentuk ibadah, maka wajib bagi manusia untuk menjalankan puasa, sebagai bukti ketaatan kepada Allah. Pelajaran-pelajaran sekolah sekarang memahami bahwa puasa itu di syariatkan untuk kebaikan manusia di dunia, sepertinya hal ini juga menjadi jalan bagi kebahagiaan di akherat.

Awal Ramadlan di tetapkan dengan cara melihat bulan di langit. Tidak ada perbedaan dan perdebatan dalam hal ini, karena melihat bulan adalah sebuah cara untuk dapat mengumumkan awal bulan dan memulai puasa. Apabila di suatu negara bulan tidak dapat dilihat, dikarenakan adanya mendung atau di karenakan adanya sebab lain, maka di perbolehkan untuk berpedoman pada melihat bulan di negara Islam lain.

Untuk menetapkannya, cukup berdasarkan pada kesaksian seorang muslim yang melihat bulan di negara manapun untuk menetapkan awal puasa. Hal ini berpedoman pada sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas:

Datanglah seorang Badui kepada nabi, dia berkata: bahwa aku telah melihat bulan. Nabi SAW berkata: Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?. Badui-pun menjawab: iya. Lalu nabi berkata: apakah engkau bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah?. Badui-pun menjawab: iya. Lalu nabi SAW berkata: wahai Bilal, kumandangkanlah adzan bagi umat manusia, supaya mereka berpuasa besok.

Apabila di semua negara-negara Islam tidak dapat melihat bulan tepat pada waktunya, maka di haruskan bagi umat Islam untuk menyempurnakan bulan Syaban genap 30 hari dan memulai puasa di hari berikutnya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

Berpuasalah kalian semua karena telah melihat bulan dan berbukalah kalian semua karena telah melihat bulan. Jika terjadi mendung, maka wajib bagi kalian semua untuk menyempurnakan bilangan bulan Syaban menjadi genap 30 hari

Ketika dalam melihat bulan Ramadlan cukup dengan kesaksian seorang muslim yang melihat bulan, maka dalam melihat bulan Syawal tidak cukup dengan kesaksian seorang muslim, karena dalam melihat bulan Syawal di wajibkan berdasar pada minimal dua orang yang melihat bulan. Hal ini di sebabkan ketika awal puasa telah terlewat, maka lebih baik untuk mengakhirkannya dari yang telah di tetapkan. Adapun akhir dari puasa adalah dengan berdasarkan pada habisnya bulan Ramadlan. Menetapi ketentuan ini adalah wajib hukumnya. Dengan habisnya bulan Ramadlan, maka berakhir pula ibadah-ibadah yang ada di bulan ini dan di susul kemudian dengan sholat berjamaah, yaitu sholat Id di waktu pagi pada hari pertama bulan Syawal.

Untuk menentukan awal bulan, negara-negara Islam berpedoman pada peredaran bulan dengan menggunakan teropong atau dengan penghitungan peredaran bulan. Hal ini dimaksudkan untuk meneropong bulan di langit, yaitu rukyah. Ketika pada malam hari negara-negara Islam tidak dapat melihat bulan dengan sempurna, untuk memperjelas sesuatu yang akan di tetapkan dengan cara melihat bulan atau dengan menyempurnakan bulan Syaban menjadi genap 30 hari, maka dengan berdasarkan pada keadaan ini, urusan mengenai permulaan awal bulan menjadi tanggung jawab sendiri bagi negara-negara Islam di manapun berada. Bagi umat Islam yang berada di barat yang hidup di negara non Islam, untuk melihat permulaan puasa dari negara Islam terdekat ataupun berdasarkan pada ketetapan dan pengumuman pemerintah setempat. Adapun bagi orang-orang yang tidak dapat melakukannya, maka memungkinkan baginya untuk berpegang pada pendapat pribadi, dengan cara meneropong bulan atau menyempurnakan bulan Syaban menjadi genap 30 hari, mana saja yang menurutnya benar.

Permulaan hari puasa dan akhirannya adalah perkara yang sudah jelas dan mudah untuk menentukannya. Puasa di mulai dengan di tandai terbit fajar dan di akhiri dengan terbenamnya matahari. Setiap negara Islam mempunyai cara yang berbeda-beda untuk mengumumkan permulaan dan akhir puasa setiap hari. Ketika seseorang tidak dapat mengikuti pengumuman ini, karena ada sebab tertentu ataupun sebab yang lain, maka memungkinkan baginya untuk mengetahui waktu permulaan dan akhir puasa secara keseluruhan.

Orang-orang Islam yang hidup di belahan bumi bagian barat di negara non Islam, yaitu sebuah negara yang mempunyai masa edaran matahari lama, yang menjadikan waktu siang lama atau negara yang memiliki waktu terbenam begitu cepat (negara yang memiliki waktu siang sedikit) yang menjadikan waktu siang sangat berkurang (sedikit), maka waktu puasa pada keadaan pertama sangat banyak dan menyusahkan bagi orang yang berpuasa pada keadaan ini, sedangkan pada keadaan kedua waktu puasa sangat sebentar dan tidak begitu dapat merasakan puasa dalam keadaan ini, maka wajib bagi mereka yang hidup dalam dua keadaan ini untuk mengikuti waktu yang berlaku bagi negara Islam terdekat, sehingga ia mengetahui kapan waktu memulai puasa dan kapan waktunya berbuka. Dan ketika hal ini tidak memungkinkan baginya, maka diperbolehkan baginya untuk mengikuti waktu Makkah atau Madinah, yang dapat memudahkan baginya untuk mengetahui jumlah waktu puasa, yaitu waktu memulai dan waktu mengakhiri puasa dan juga dapat menjadikannya sebagai pedoman.

Puasa telah di wajibkan bagi muslim laki-laki dan perempuan dengan syarat telah mencapai usia akil baligh, sehat jasmani dan rohani, menetap dan tidak berpindah-pindah. Bagi wanita di haruskan suci dari haidl dan nifas. Bagi anak yang belum mencapai usia akil baligh tidak di wajibkan baginya untuk berpuasa, demikian juga dengan orang gila sampai dengan akalnya kembali sempurna. Dalam hal ini nabi Muhammad bersabda:

Diangkatlah pena dari tiga golongan, yaitu dari orang gila sampai dengan dia waras, dari orang tidur sampai dengan ia bangun dan dari anak kecil sampai dengan ia mimpi basah

Akan tetapi, bagi orang tua diwajibkan untuk mendidik anak-anaknya berpuasa, sampai dengan ia melihat anaknya benar-benar mampu menjalankan puasa. Maka ia menyuruh anaknya untuk senantiasa membiasakan diri berpuasa sampai dengan anaknya mencapai usia di wajibkannya berpuasa, sehingga dapat menjalankan puasa dengan mudah.

Bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya dengan mempermudah orang yang sedang tertimpa keadaan yang memberatkan, berupa pelaksanaan puasa yang dapat menyusahkannya, yaitu dengan memperbolehkan berbuka bagi muslim yang sedang mengalami keadaan berat tertentu, seperti ketika dalam perjalanan atau sakit, dan meng-qodlo[6] puasa yang di tinggalkan setelah keadaan berat itu berlalu, yang telah mencegahnya untuk berpuasa, sesudah bulan Ramadlan dan di waktu kapan saja yang di kehendaki. Akan tetapi ketika mereka hendak meng-qodlo puasa dan mencari waktu yang paling utama, lantas mereka tidak mengetahui kapan waktu yang paling utama itu, maka dalam hal ini Allah berfirman:

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 184)

Al-Quran tidak menerangkan tentang batasan-batasan kriteria sakit yang menyebabkan di perbolehkannya tidak berpuasa, hal ini di karenakan berbeda-bedanya kekuatan tubuh manusia. Terkadang sakit menjadi beban bagi seseorang, sehingga tidak mampu untuk menjalankan puasa dan terkadang hal ini tidak menjadi beban bagi orang lain dan mampu menjalankan puasa, oleh karena itulah Islam tidak memberikan perkiraan mengenai sakit keras atau sesuatu yang menimpa berupa kesusahan ketika menjalankan puasa. Hal ini memungkinkan bagi manusia untuk memiliki keinginan membatalkan puasa, yaitu seseorang yang meyakini secara benar bahwa kondisinya tidak begitu sehat, yang dapat menimbulkan bahaya ketika ia berpuasa, yaitu ketika ia sakit. Maka di perbolehkan baginya untuk tidak berpuasa dengan syarat meng-qodlonya setelah sembuh.

Demikian juga dengan orang yang dalam perjalanan, Islam memperbolehkannya untuk membatalkan puasa atau tidak menggunakan kemurahan ini untuk membatalkan puasa dengan tetap menjalankan puasa. Hal ini berlaku dengan melihat keyakinannya tentang bahaya yang dapat menimpanya dalam perjalanan ketika ia tetap berpuasa, maka wajib baginya untuk membatalkan puasa ketika ia meyakini bahwa puasa dapat membahayakan dirinya dalam perjalanan dan wajib baginya untuk meng-qodlonya setelah Ramadlan, satu hari di qodlo dengan satu hari. Islam tidak memberikan batasan mengenai jarak perjalanan, lamanya perjalanan dan jalan yang di tempuh, yang memperbolehkan bagi seseorang untuk membatalkan puasa, sehingga memungkinkan bagi seseorang, untuk memperkirakan dirinya dapat melaluinya, yaitu kemampuan untuk mengatasi beban beratnya dan dalam hal ini kekuatan manusia berbeda satu dengan yang lain.

Hukum berpuasa bagi orang yang sakit dan dalam perjalanan ini tidak berlaku bagi orang yang hamil atau menyusui, maka sangat memungkinkan baginya untuk menjalankan puasa Ramadlan ketika memang dirinya mampu menjalankan puasa dan hal ini tidak membahayakan bagi dirinya, janinnya ataupun anaknya. Ketika ia mengkhawatirkan dirinya atau janin yang di kandungnya ataupun anak yang di susuinya, maka wajib baginya untuk membatalkan puasa dan wajib baginya untuk meng-qodlo puasa setelah bebannya hilang dan bulan Ramadlan telah berakhir.

Ada juga kelompok lain, yaitu mereka yang tidak sehat, lantas mereka di wajibkan berpuasa dan orang-orang yang tidak sakit akan tetapi memungkinkan baginya untuk membatalkan puasa, lalu meng-qodlonya setelah mereka sehat. Mereka adalah orang-orang yang sudah tua yang sudah tidak mampu lagi untuk menjalankan puasa. Ketika usinya semakin bertambah, maka beban merekapun semakin bertambah pula yang mengakibatkan ia tidak mampu lagi menjalankan puasa. Demikian juga dengan orang yang mengidap penyakit kambuhan yang tidak dapat di prediksi kesembuhannya, maka Allah memperbolehkan mereka untuk tidak berpuasa dan tidak mewajibkan mereka untuk meng-qodlo puasa, karena mereka memang tidak mampu melakukannya. Akan tetapi di wajibkan bagi mereka untuk membayar fidyah (tebusan), berupa memberi makan kepada orang miskin pada setiap hari sebanyak hari-hari puasa yang di tinggalkan. Hal berdasarkan ayat Al-Quran:

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[7], maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 184)

Yutiqunahu disini bermakna: membebaskannya dari kesusahan dan kesengsaraan.

Kesusahan yang ada pada puasa menyesuaikan dengan kekuatan manusia ataupun terkadang melebihi kekuatan manusia. Dalam dua keadaan ini, bahaya jelas adanya. Ketentuan mengenai denda atau tebusan hanya di wajibkan ketika tidak ada kejelasan mengenai kemampuan untuk membayar denda atau tebusan bagi orang tua yang lemah atau orang sakit yang tidak dapat di prediksi kesembuhannya, adapun ketika sudah ada kejelasan bahwa dirinya tidak mampu memberi makan orang miskin, maka tidak ada denda baginya. Allah SWT tidak akan membebani seseorang, kecuali di sesuaikan dengan kemampuannya.

Ada juga kelompok lain yang memiliki beban berat tertentu dan baginya di kenai beban tertentu pula. Mereka adalah para pekerja/buruh dan lain sebagainya. Yaitu para pekerja yang dalam melakukan pekerjaannya merasa terbebani disebabkan ia menjalankan puasa atau adanya akibat yang dapat menimpa mereka atau membahayakan mereka, ataupun membahayakan orang lain ketika mereka melakukan pekerjaannya dalam keadaan berpuasa. Islam memperbolehkan mereka untuk membatalkan puasa dan menggantinya dengan membayar denda.

Sebagian orang beranggapan bahwa puasa hanyalah sekedar menahan diri dari makan dan minum serta dari berhubungan badan mulai dari terbit fajar sampai dengan terbenamnya matahari. Akan tetapi sesungguhnya puasa adalah suatu bentuk ibadah yang dapat menyempurnakan manusia dengan mengekang hawa nafsu, supaya dapat seperti malaikat, yaitu orang-orang yang tidak hanya menahan makan dan minum, akan tetapi senantiasa berdzikir dan bertasbih, mentaati perintah-Nya dan memuji-Nya. Ketika puasa dapat mencegah manusia dari makan dan minum yang keduanya menjadi kekuatan bagi dirinya, juga dapat mencegah manusia dari berhubungan badan yaitu puncak dari kebutuhan biologis, maka wajib baginya untuk menjauhi segala bentuk dosa dimanapun berada dan juga menjauhkan diri dari bermain-main dengan dosa, semuanya dan apapun bentuknya. Hendaknya sepanjang ia menjalankan puasa senantiasa membiasakan diri beribadah kepada Allah. Sepanjang puasanya dipenuhi dengan aktifitas menjalankan ibadah, dengan senantiasa memohon bantuan Allah, berfikir sebelum berkata dan bertindak: apakah sudah pantas kata-kata atau tindakannya yang senantiasa di awasi oleh malaikat-malaikat? Atau Allah telah meridlainya. Apakah hal ini berkaitan dengan kekuasaan Allah terhdap hambanya? Para ulama berpendapat bahwa dalam ucapan dan tindakan terdapat dosa yang dapat merusak puasa, hal ini dengan berdasar pada sebuah hadits:

Lima perkara yang dapat membatalkan puasa, yaitu berbohong, menggunjing, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan nafsu

Orang yang berpuasa, yang dapat menahan diri dari makan dan minum, namun tidak dapat mencegah dirinya dari melakukan dosa-dosa ini, maka ia tidak akan mendapatkan balasan apapun dari puasanya, hal ini berdasarkan ketentuan sebuah hadits:

Banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, selain rasa lapar dan dahaga

Banyak hadits yang di tulis, yang ditujukan bagi orang-orang yang berpuasa, sebagai sebuah jalan yang harus di tempuh supaya dapat memperoleh maksud dari puasa dan mendapatkan banyak pahala, seperti yang terkandung dalam sebuah hadits:

Barang siapa berpuasa Ramadlan dengan penuh keimanan dan hanya karena Allah, maka akan dimaafkan baginya dosa yang telah dilakukan

Ketetapan mengenai jalan yang harus dilalui oleh orang yang berpuasa, yaitu dengan penuh keimanan dan menjalankan puasa hanya untuk melaksanakan perintah Allah, serta lebih mendekatkan diri kepada Allah dan menyerahkan balasan yang kelak di dapatnya hanya kepada Allah adalah jalan orang-orang yang menjauhkan diri dari dosa dengan sempurna dan meninggalkan segala hal yang menyerupai haram ataupun meninggalkan dosa kecil. Kewajiban orang berpuasa adalah mencegah diri dari segala perkataan bohong, melakukan tindakan penipuan dan berkata kotor. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW:

Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukan tindakan tercela, niscaya Allah tidak akan memberkahi makanan dan minumannya

Rasulullah juga melarang orang yang berpuasa dari menggunjing, yaitu orang yang sedang berpuasa membuka rahasia orang lain yang tidak disukai oleh orang lain tersebut, hal ini berdasarkan hadits nabi yang muncul ketika nabi mendengar berita bahwa ada dua orang wanita yang sedang duduk-duduk sambil menggunjingkan orang lain, lantas nabi berkata:

Kedua wanita ini yang sedang berpuasa dengan perkara yang telah di halalkan oleh Allah bagi keduanya dan membatalkannya dengan sesuatu yang telah di haramkan oleh Allah bagi keduanya

Rasulullah juga melarang orang yang berpuasa dari berbicara kotor, membentak atau membalas caci maki, hal ini berdasarkan hadit nabi:

Ketika salah satu diantara kamu sedang berpuasa, maka janganlah berkata keji dan membentak. Jika ada orang yang mencaci maki atau menganiaya, maka katakanlah bahwa aku adalah orang yang sedang berpuasa

Ini adalah kebiasaan orang yang berpuasa, yang mengharapkan puasanya dapat di terima. Orang yang berpuasa, yang mengharapkan pahala dan rahmat Allah, maka hendaklah sepanjang hari ia menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dan senantiasa berbuat kebajikan, berbicara santun, tidak mau mendengarkan celaan, tidak melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan tujuan mata di ciptakan, yaitu untuk melihat tanda-tanda bukti keagungan Allah.

Orang yang taat beribadah dapat mencapai derajat yang lebih tinggi dengan puasanya, hatinyapun ikut berpuasa dengan hanya mengingat Allah dan berdzikir kepada Allah, tidak terlintas dalam benaknya rasa dendam maupun buruk sangka. Hal ini tidak bermakna bahwa seseorang harus mengasingkan diri dan tidak beramal, karena beramal adalah suatu bentuk ibadah. Ihklas dalam beramal dan berusaha menyempurnakannya merupakan bentuk ibadah yang sempurna, yaitu orang yang beramal dengan tulus ikhlas, tidak mengharapkan sesuatu kecuali hanya karena Allah yang kelak akan membalasnya, karena memang hanya Allah yang dapat membalas amalnya.

Terkadang seseorang juga melakukan kesalahan dan dia tidak merasa bersalah ataupun merasa takut karenanya, akan tetapi ia senantiasa menjalankan urusan keduniaan dengan sepenuh hati, maka yakinlah bahwa perbuatannya tidak akan diterima Allah, kecuali Allah menghendakinya. Allah-lah yang menentukan pilihan, apakah suatu kejadian yang terjadi, kecuali karena Allah telah menghendakinya?

Menggunakan semua waktu luangnya untuk menjalankan ibadah yang telah di wajibkan Allah, seperti sholat, berdzikir, bertasbih dan membaca Al-Quran. Perbuatan terbaik yang dapat dilakukan untuk menghidupkan malam bulan Ramadlan adalah dengan memahami dan menghayati Al-Quran yang telah di wahyukan Allah kepada nabi-Nya di bulan Ramadlan, karena memahami ayat-ayat Al-Quran dan menghayati kandungan makna dari ayat-ayat Al-Quran tersebut dapat menjadi obat dari segala macam jenis obat dan menjadi penyelamat dari segala macam bentuk penyelamat! Menjadi obat dari penyakit hati dan menjadi penyelamat dari segala macam bentuk kesalahan, cobaan dunia dan nyala api neraka di akherat.

Ketika hal ini menjadi sesuatu yang di wajibkan bagi orang yang berpuasa selama bulan Ramadlan, maka ketika datang sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan, wajib bagi orang yang berpuasa untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah, memperbanyak amal perbuatan baik dan berusaha mendapatkan lailatul qadar di salah satu malam ini dengan memperbanyak sedekah dan memanjatkan doa.

Hal-hal yang dapat membatalkan puasa dan mewajibkan bagi seseorang untuk meng-qodlonya, diantaranya yaitu; ketika seseorang makan dan minum dengan di sengaja pada saat berpuasa mulai terbit fajar sampai terbenam matahari dan ia sadar bahwa ia sedang berpuasa. Muntah yang di sengaja juga dapat membatalkan puasa, haidl dan nifas bagi wanita walau hanya sedikit sebelum matahari terbenam. Niat membatalkan puasa juga dapat membatalkan puasa, maka ketika seseorang berniat hendak membatalkan puasa, walaupun dalam kenyataannya sepanjang hari ia dalam keadaan puasa, tidak makan dan minum, maka puasanya batal, karena salah satu rukun puasa adalah niat. Hal ini berdasarkan sebuah hadits:

Seseorang yang tidak mengumpulkan niat puasa sebelum terbit fajar, maka ia tidak berpuasa.

Tidak ada ketentuan waktu untuk niat berpuasa, niat puasa dapat dilakukan di setiap kesempatan pada waktu malam sebelum terbit fajar dan juga tidak ada ketentuan mengenai bentuk lafadl niat, akan tetapi niat cukup dalam hati. Pembuktian dari niat cukup dengan sahur, walaupun hanya dengan setetes air yang dimaksudkan untuk berpuasa, hal ini sudah cukup untuk menguatkan niat dan maksud dari menjalankan puasa.

Wajib bagi orang yang batal puasanya karena salah satu sebab ini untuk meng-qodlonya sesudah bulan Ramadlan dan memohon ampunan atas perbuatannya, bertobat kepada Allah karena telah melanggar perintah-Nya, yaitu puasa di bulan Ramadlan. Adapun orang yang menggauli istrinya dalam keadaan berpuasa, maka puasanya pun batal dan ia telah melakukan dosa, maka baginya di kenakan tambahan, selain harus meng-qodlo puasa yang batal juga harus membayar denda berupa membebaskan budak atau berpuasa selama dua bulan berturut-turut atau juga memberi makan kepada 60 fakir miskin. Hal ini berpedoman pada hadits nabi SAW ketika beliau di datangi seseorang, lalu ia berkata:

Rusaklah aku wahai Rasulullah

Apa yang menyebabkan kamu rusak?

Aku telah menggauli istriku di bulan Ramadlan

Apakah kamu dapat membebaskan budak?

Tidak

Apakah kamu mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?

Tidak

Apakah kamu mampu memberi makan kepada 60 fakir miskin?

Tidak

Lalu orang itupun duduk, lantas nabi Muhammad SAW mendatanginya dengan membawa pinggan yang berisi kurma dan berkata:

Bersedekahlah dengan ini

Apakah kepada orang-orang fakir diantara kita? Sedangkan keluargaku lebih membutuhkannya

Nabi-pun tertawa, sampai-sampai gigi serinya terlihat dan berkata:

Pergilah dan berikan makanan ini kepada keluargamu

Hadits ini menerangkan mengenai hukum Islam tentang seseorang yang menggauli istrinya dalam keadaan berpuasa, hal ini sama juga menerangkan tentang kemurahan Islam dalam memudahkan suatu permasalahan.

Ada juga ditemukan perkara-perkara lain yang sering dijumpai oleh kebanyakan orang yang terlihat dapat membatalkan puasa, akan tetapi pada dasarnya tidak membatalkan puasa, yaitu ketika seseorang merasa akan muntah dan ia tidak dapat menahannya maka puasanya tidak batal, kebalikan dari muntah yang di sengaja atau tidak ada usaha untuk menahannya, padahal dia mampu melakukannya, hal ini berdasarkan sebuah hadits:

Barang siapa mengeluarkan muntahan dan dia dalam keadaan berpuasa, maka tidak ada kewajiban baginya untuk meng-qodlonya

Demikian juga tidak batal puasa seseorang yang makan atau minum karena lupa, puasanya tetap sah. Hal ini berdasarkan sebuah hadits:

Barang siapa lupa bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia makan atau minum, maka wajib baginya untuk menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum

Menyerupai dengan orang yang makan atau mminum karena lupa, adalah menyangka bahwa puasa belum dimulai, karena fajar belum terbit. Lalu ketika ia akan memulai puasa, ternyata fajar telah terbit dan hari sudah siang atau menyangka bahwa puasa telah selesai dan matahari telah terbenam, ternyata dia salah. Hal ini dengan mengamalkan ketentuan ayat:

..Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.. (Al-Ahzab: 5)

Dan juga sebuah hadits:

Sesungguhnya Allah membebaskan umat-Nya yang salah, lupa dan keterpaksaan yang menimpa

Tidak membatalkan puasa, suntik/injeksi dengan segala macam jenisnya yang di tujukan untuk mengobati dan memberikan kekuatan, karena hal ini tidak di berikan melalui jalan yang biasa di gunakan untuk makan dan orang yang di suntikpun tidak merasa kenyang. Demikian juga dengan pemasangan alat medis pada mata, hidung dan telinga. Demikian juga dengan bedak yang dioleskan pada kulit atau menghirup kukus ataupun wewangian dan mencium bunga mawar. Puasa juga tidak batal sebab masuknya benda asing kedalam tubuh seseorang melalui mulut atau hidung yang tidak dapat di cegahnya atau menjaganya dari barang asing tersebut, seperti debu jalan, butiran-butiran gandum. Bagi orang yang sedang masak, puasa juga tidak batal sebab mencicipi makanan untuk mengetahui tingkat kematangan, keasinan dan manis, dengan syarat tidak ada sesuatu yang masuk kedalam perut orang yang berpuasa, akan tetapi cukup dengan merasakan di lidah, lalu mengeluarkannya dari mulut.

Puasa juga tidak batal sebab mencium istri, memeluk untuk menghargainya, akan tetapi dimakruhkan apabila ciuman dan pelukan itu dapat menyebabkan timbulnya gairah jasmani, karena orang yang berpuasa itu telah mempersiapkan dirinya untuk menjalankan ibadah di sepanjang puasanya, oleh karenanya diharuskan untuk berperilaku selayaknya orang yang rajin beribadah, yaitu orang yang bersungguh-sungguh dengan ibadahnya. Demikian juga tidak membatalkan puasa, mandi ketika panas ataupun menceburkan diri kedalam air dan hal ini juga tidak dimakruhkan. Sahabat nabi pernah melihat beliau mengguyurkan air pada kepalanya ketika panas dalam keadaan puasa.

Dalam bulan Ramadlan terdapat ibadah-ibadah yang hanya terdapat dibulan ini dan orang tidak dapat menjumpainya dibulan lain, yaitu shalat tarawih. Shalat tarawih dilaksanakan dengan berjamaah di masjid atau di lakukan sendiri di rumah. Disebut tarawih karena antara setiap dua salam terdapat duduk untuk istirahat bagi orang yang shalat, untuk berdzikir kepada Allah dan jumlahnyapun berbeda-beda. Dalam sebuah pendapat mengatakan bahwa jumlahnya adalah 36 rakaat, ada juga yang mengatakan 23 rakaat, dan dalam pendapat lain mengatakan bahwa jumlahnya 11 rakaat. Pendapat yang paling unggul adalah bahwa Rasulullah SAW tidak berpedoman pada jumlah tertentu, seperti halnya ketika nabi mengakhirkan tarawih di waktu malam karena khawatir menimbulkan pemahaman bahwa shalat tarawih diwajibkan bagi umat Islam dengan jumlahnya dan setiap malamnya, sehingga dapat memberatkan umat Islam. Shalat tarawih dikerjakan dengan semampunya, dengan menambahkan rakaatnya lebih dari delapan. Shalat tarawih di kerjakan sesudah shalat isya dengan membaca ayat-ayat Al-Quran yang di rasa mudah. Semoga dengan melaksanakan shalat tarawih di masjid dapat menjadi jalan untuk dapat bertadarus.

Pada masa tabiin, orang-orang membaca surat al-Baqarah di shalat tarawih pada delapan rakaat, oleh karena itulah wajib bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan Ramadlan, rajin membaca Al-Quran, memahami dan menghayati kandungan ayat-ayat Al-Quran seperti yang telah di contohkan Rasulullah SAW yang terdapat dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas berkata:

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling rajin, paling rajin melakukan sesuatu di bulan Ramadlan. Ketika Jibril menemuinya, Jibril-pun membacakan Al-Quran, padahal Jibril menemui beliu setiap malam di bulan Ramadlan, lalu Jibril membacakan Al-Quran untuk beliau. Rasulullah SAW semenjak bertemu Jibril adalah orang yang paling rajin berbuat kebajikan dari Jibril yang diutus

Ketika hukum berdoa menjadi wajib setiap saat bagi manusia, hal ini di karenakan Allah berfirman:

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..(QS. Al-Ghafir: 60)

Dan dalam bulan ramadlan lebih di wajibkan, sesungguhnya doa yang terbaik adalah yang tersurat dalam Al-Quran, semisal:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."(QS. Al-Baqarah: 286)

(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".(QS. Al-Imran: 8)

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. (QS. Al-Imran: 193)

Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji." (QS. Al-Imran: 194)

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (QS. Ibrahim: 40)

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)". (QS. Ibrahim: 41)

Dan dalam sejarahnya, Rasulullah ketika melihat bulan senantiasa berdoa kepada Tuhannya:

.....

Dan ketika Rasulullah berbuka, beliau membaca:

Dan beliau juga berdoa:

Dalam bentuk doa yang lain, beliau menambahkan:

Dan dalam bentuk dao yang lain, beliau berkata:

Suatu hari, beliau pernah berbuka puasa bersama Saad bin Muadz, lalu ketika hendak berbuka beliau membaca:

Adapun pada malam lailatul qadr , sayyidah Aisyah berkata:

Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui lailatul qadr, apa yang hendaknya aku baca? Beliau berkata:

Ketika matahari di hari terakhir bulan Ramadlan telah terbenam, maka wajib mengeluarkan zakat fitrah, yaitu zakat yang di wajibkan bagi umat Islam merdeka, yang mampu berzakat setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi dan juga orang yang menjadi tanggungannya dalam satu hari satu malam. Orang mengeluarkan zakat bagi dirinya sendiri dan bagi orang yang wajib di nafkahinya, yang jumlahnya setiap orang sebanyak 50 qirsyan.[8] Zakat yang dikeluarkan dapat berupa gandum ataupun kurma. Pada saat ini, terkadang mengeluarkan zakat berupa uang lebih bermanfaat, karena memungkinkan bagi orang miskin untuk memikirkan/menginventarisir kebutuhannya, dan wajib mengeluarkannya sebelum selesainya pelaksanaan shalat Id. Hal ini berdasarkan perkataan shahabat Umar bin Khatab:

Rasulullah SAW pernah memerintahkanku untuk berzakat fitrah, yang dilakukan sebelum orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat

Dalam mengeluarkan zakat, dapat juga dilakukan pada awal Ramadlan. Hal ini lebih memudahkan bagi orang fakir miskin untuk membeli kebutuhannya. Adapun ketika di keluarkan sesudah shalat Id, maka itu menjadi shadaqah biasa dan bukan terhitung sebagai zakat. Hal ini berdasarkan perkataan shahabat Ibnu Abbas:

Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan kotor dan memberi makan bagi orang-orang miskin. Barang siapa melaksanakannya sebelum shalat, maka itu adalah zakat yang diterima dan barang siapa melaksanakannya sesudah shalat, maka itu adalah shadaqah biasa

Zakat fitrah di syariatkan sebagai suatu bentuk tebusan terhadap adanya kekeliruan yang dilakukan oleh orang yang berpuasa, yaitu seperti halnya memohon ampunan atas tindakannya dan wajib bagi manusia untuk memohon ampunan dan bertaubat atas tidandakannya itu. Dan dalam hal ini Rasulullah bersabda:

Puasa Ramadlan itu tergantung diantara langit dan bumi, tidak dapat terangkat kecuali dengan zakat fitrah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUJUAN PUASA

 

Kesimpulan yang ada pada saat ini, mengenai tujuan puasa adalah untuk menumbuhkan rasa simpati pada orang kaya terhadap orang miskin. Ketika orang kaya merasakan lapar sewaktu puasa, diharapkan hal ini dapat menumbuhkan rasa simpatinya terhadap orang yang membutuhkan. Dalam pada itu, muncul perdebatan dalam Islam mengenai adanya bentuk motivasi yang meragukan dalam puasa, dengan menanyakan mengapa pada saat itu orang miskin di haruskan untuk berpuasa? Dan mengapa orang kaya pada saat itu harus bershadaqah? Apakah shadaqah-shadaqah yang pernah di lakukan oleh orang kaya tidak cukup untuk membebaskannya dari kewajiban puasa? Para pemikir Islam-pun membuat banyak alasan untuk menerangkan secara mendalam mengenai tujuan puasa.

Ibadah-ibadah yang ada dalam Islam turut menjadi bahan pembahasan ilmiah, karena dengan cara ini dimungkinkan dapat di pahami maksud yang sesungguhnya mengenai tujuan mengapa ibadah-ibadah yang ada dalam Islam di tetapkan dan di perintahkan bagi kebaikan diri sendiri dan keselamatan masyarakat.. Hal ini juga menjadi cara terbaik untuk membangun diri dan masyarakat. Keutamaan dari ibadah-ibadah itu tidak mungkin di terapkan hanya pada satu masa. Sebagian dari kumpulan ibadah-ibadah itu adalah puasa, yang sering dijadikan bahan pembahasan ilmiah pada setiap masa mengenai keutamaannya.

Hal ini sudah di jelasakan di awal pembahasan mengenai tujuan-tujuan dari puasa, bahwa keutamaan puasa akan selalu muncul tanpa henti, baik bagi individu ataupun kelompok

Para pemikir Islam berpendapat, bahwa menahan diri dari makan adalah sebuah watak yang telah di taqdirkan Allah bagi mahluk hidup pada suatu kelompok-kelompok tertentu, hal ini tidak lain dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan hidup dan pangannya, serta mengaitkan mata rantai sejarah. Seperti yang telah kita ketahui bahwa hewan-hewan dan serangga juga berpuasa. Diantara mereka ada yang berpuasa dalam jangka waktu yang lama, mencapai hitungan bulan dan ada pula yang berpuasa hanya setengah hari. Tumbuh-tumbuhan berpuasa pada saat mengeluarkan tunas baru yang terlihat bersinar indah. Kehidupan baru dimulai pada musim semi, bungan-bunga di penuhi hewan-hewan yang menawarkan pesona keindahan, setelah di landa musim kemarau yang mematikan, terlebih bagi orang yang berpuasa pada saat itu.

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa sampai saat ini masih ada orang, hingga sebuah masyarakat yang belum terdakwahi (sampai kepadanya dakwah Islam), sehingga tidak jelas adanya nabi-nabi yang mewajibkan mereka berpuasa dengan jangka waktu yang pendek ataupun lama. Mereka juga tidak mengetahui kapan waktunya untuk menyegerakan diri berpuasa. Berpuasa dari menahan makan ini ditujukan untuk menjaga ketentuan dasar yang penting dalam kehidupan manusia, yaitu ketentuan mengenai berusaha cukup dengan sedikit makan.

Pembahasan mengenai ketentuan dasar ini dan mempelajarinya merupakan perkara penting untuk memahami kondisi saat ini. Dr. Aleksis Karel, seorang dokter yang pernah mendapatkan hadiah nobel kedokteran, dalam bukunya yang berjudul Manusia dengan Kebodohannya berpendapat mengenai keadaan ini, dengan berkata:

Sesungguhnya banyaknya kewajiban makan atau mengabaikan pola makan adalah sebuah ketentuan-ketentuan yang datang dan menjelma menjadi sebuah perkembangan besar dalam usaha menjaga kelangsungan jenis manusia, yaitu ketentuan mengenai mencukupkan diri dengan sedikit makan.

Pada zaman dahulu, orang-orang senantiasa berpuasa di sebagian waktunya. Ketika mereka tidak merasa dirugikan dengan kebiasaan ini, maka mereka mewajibkan berpuasa bagi diri mereka sendiri, atas kemauan sendiri. Pada dasarnya semua agama telah mewajibkan kepada umatnya untuk berpuasa, dengan menahan diri dari makan yang merupakan awal dari merasakan lapar. Pada saat ini telah terjadi kekeringan pada sebagian kelompok masyarakat, lantas mereka-pun senantiasa merasakan lapar dan sengsara. Hanya saja, hal ini terjadi pada sebagian besar orang yang menjadi sebuah fenomena tersembunyi dan dalam kenyataannya mungkin jumlahnya lebih besar. Gula darah itu berkaitan dengan hati yang di gerakkan oleh kelenjar yang berada di bawah kulit dan juga kadar gula dalam darah pada otot, serta sel-sel hati. Semua anggota badan dengan elemen-elemennya mendapatkan sarapan untuk menjaga keseimbangan stamina dan kesehatan hati. Puasa dapat membersihkan dan memperbaiki elemen-elemen tubuh yang rusak.

Puasa yang dapat menyatakan maksud ini adalah puasa Ramadlan. Oleh karena itulah dapat disimpulkan bahwa puasa dalam Islam lebih berat dari puasa yang ada sebelumnya, dan hal ini tidak akan terjadi kecuali untuk mendapatkan kembali sesuatu yang hilang dari manusia, berupa kebersamaan, solidaritas dan kedermawanan.

Para dokter zaman sekarang berkesimpulan bahwa puasa merupakan obat bagi segala macam bentuk penyakit yang menimpa orang-orang zaman sekarang, yang diakibatkan oleh adanya banyak bahan kimia dalam makanan dan hal lain yang masuk dalam makanan karena beragamnya alat yang digunakan, yang dapat merubah pola makan seseorang. Puasa juga dapat menjadi obat bagi penyakit lain. Dr. Abdul Aziz Ismail, seorang dokter yang terkenal pada masanya, dalam bukunya yang berjudul Islam dan Pengobatan Modern berkomentar mengenai rahasia-rahasia puasa yang dapat menyembuhkan, seperti yang tertuang dalam pendapatnya:

Sebagian orang menyangkakan bahwa puasa hanyalah sebagian dari rukun Islam yang dapat membahayakan bagi yang melaksanakannya, di karenakan adanya sesuatu yang menimpa, berupa kehilangan kegesitan. Dan secara umum, bagi orang-orang yang berpuasa, mereka kehilangan kegesitan dalam beraktifitas dan nafsu. Ini adalah sebuah kesalahan, karena mereka pada dasarnya melakukan puasa dengan tanpa tujuan, mereka tidak menyeimbangkan antara berbuka dan sahur, mereka tidak menjaga waktu sahur, mereka berbuka puasa dengan makanan yang enak-enak yang telah disiapkan sejak siang, semuanya. Ketika sahur, di wajibkan untuk mengurangi porsi makan, karena pada prinsipnya lapar tidaklah membahayakan dan sudah jelas bahwa puasa bermanfaat dalam banyak kondisi, yaitu dapat menjadi obat mujarab dalam keadaan-keadaan lain, yaitu obat yang paling penting ketika tidak di temukan obat yang mujarab untuk menolong dari beragam penyakit

Puasa dapat dijadikan obat untuk:

  1. Penyakit pencernaan kambuhan yang dialami oleh masyarakat umum dikarenakan oleh adanya pola makan yang berganti-ganti. Dalam hal ini, puasa adalah solusi terbaik, dalam puasa itu tidak ada minum antara dua waktu makan dan jarak antara dua waktu makan itu lama, seperti dalam puasa Ramadlan. Oleh karena itu, sangat memungkinkan untuk makan sesuai keumuman dan ini adalah cara terbaik untuk membershkan pencernaan.
  2. Bertambahnya berat badan karena terlalu banyak makan dan sediki gerak. Dalam hal ini, puasa adalah cara terbaik dari semua obat, dengan menyeimbangkan makan ketika berbuka dan mencukupkan air ketika sahur.
  3. Bertambahnya tekanan batin, yaitu untuk dapat hidup terkenal dan mewah serta padatnya kegiatan. Dalam keadaan ini, bulan Ramadlan adalah sebuah nikmat dan berkah tersendiri, terlebih ketika hal ini ditambah dengan adanya berat badan yang melebihi keumuman.
  4. Kencing manis. Hal ini sudah mewabah, yang dapat menimbulkan tekanan tersendiri. Dalam tahap awal, sebelum terdeteksi pada umumnya di barengi dengan bertambahnya berat badan. Dalam hal ini puasa adalah obat mujarab, karena dapat menurunkan kadar gula. Dengan sedikitnya lemak, maka kadar gula-pun menurun. Kadar gula dalam darah dapat turun setelah makan lima hari, lebih sedikit dari batas minimal dalam keadaan orang sakit gula yang belum parah dan setelah sepuluh hari maka kadar gula dalam darah dapat berkurang secara drastis. Puasa dengan pengawasan pola makan ketat menjadi obat penting pada penyakit ini, sampai dengan terlihat jelas adanya zat insulin, terlebih ketika penderita bertambah berat badannya dari batas normal, maka tidak ada obat bagi penyakit ini sebelum insulin selain puasa.
  5. Penyakit ginjal kronis yang dibarengi dengan keringat dan bengkak.
  6. Penyakit-penyakit hati yang dibarengi dengan pembengkakan.
  7. Penyakit-penyakit persendian kronis, apalagi jika di barengi dengan kegemukan, seperti yang terjadi pada wanita pada umumnya, setelah berusia 40 tahun.

Telah terbukti bahwa ternyata masih banyak kegiatan yang dapat dilakukan di bulan Ramadlan dengan berpuasa, lebih banyak dari orang-orang yang menggunakan obat berupa jamu, suntik dan obat-obatan lain, serta konsultasi dokter-dokter modern selama bertahun-tahun.

Banyak orang bertanya; akan tetapi apakah puasa yang di lakukan dalam semua keadaan ini membutuhkan petunjuk dokter dalam setiap penyakit mengenai batasannya, puasa yang di wajibkan bagi orang Islam mengapa juga di wajibkan bagi orang-orang yang sehat? Hal ini dapat dibenarkan, akan tetapi manfaat puasa bagi orang yang sehat adalah menolongnya dari penyakit-penyakit ini, terlebih penyakit-penyakit yang dapat merusakkan usus, bertambahnya berat badan, bertambahnya tekanan batin, kencing manis dan penyakit persendian.

Penyakit-penyakit ini pada awalnya menyerang manusia secara bertahap, sekiranya orang tidak begitu percaya di awal sakit, tidak ada orang ataupun dokter yang dapat mendeteksi sebelumnya. Sesudah penyakit ini menyerang seseorang, barulah dapat diketahui tanda-tanda atau gejala-gejala dari penyakit-penyakit ini. Menurut pendapat yang kuat dari dokter, bahwa pertolongan dari semua penyakit ini terdapat dalam puasa, akan tetapi pertolongan pertama adalah tindakan terpenting sebelum penyakit itu nampak jelas.

Berdasarkan data statistik, dapat dipastikan bahwa bertambahnya kegemukan dapat menimbulkan penyakit kencing manis, bertambahnya tekanan darah, ginjal kronis, persendian dan lain sebagainya. Dengan menyedikitkan makan, dimungkinkan dapat mengurangi penyakit ini dengan melihat kondisi dari penyakit ini. Ini adalah sebuah rahasia yang tidak dapat diterima oleh semua orang, terlebih orang-orang yang mengalami kelebihan berat badan, kecuali dengan adanya pembuktian nyata bahwa puasa dapat mengurangi berat badan. Puasa selama sebulan penuh dalam tiap-tiap tahun adalah pertolongan terbaik bagi penyakit-penyakit ini. Penyakit-penyakit ini semakin mewabah, seiring dengan semakin bertambahnya gaya hidup mewah yang jumlahnya semakin bertambah banyak.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa puasa dalam Islam lebih berat dari puasa-puasa yang ada pada agama-agama terdahulu, hal ini dikarenakan Islam adalah syariat terakhir yang datang di zaman yang membutuhkan pertolongan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang terus bertambah, ketika semakin bertambhanya pola gaya hidup mewah.

Para ulama telah memfatwakan kepada kita dengan mengisahkan orang-orang barat yang mengambil manfaat dari puasa, bahwa salah seorang guru wanita mereka pernah terserang penyakit kencing manis dan ia mengumumkan bahwa puasa dapat menolong dan menjadi obat bagi kencing manis, ini adalah cara pembuktian ilmiah secara umum dengan bukti-bukti dan pembahasannya.

Dalam kitab yang dikarang oleh ustadz Hasan Abdul Salam, menyebutkan bahwa:

Manfaat puasa adalah dapat membantu memperlancar pencernaan dan dapat mengembalikan kebugaran badan dengan baik, menolong mengembalikan sesuatu yang hilang dan mengumpulkannya kembali, berupa zat anti toksin yang keluar karena gerak tubuh

Puasa juga dapat menjadi obat bagi penyakit radang, kencing batu dan ginjal yang menimpa seseorang. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa setiap orang dapat terserang penyakit. Penyakit borok bernanah dalam tubuh yang dapat mencemari zat anti toksin dalam peredaran darah dan dampaknya dapat membahayakan. Di awal berjangkit, orang tidak akan merasakan tanda-tandanya, ia seolah-olah dalam keadaan sehat, padahal seiring dengan berjalannya waktu, akan semakin menumpuk bahaya yang muncul dari borok bernanah ini, dan secara mengejutkan ternyata orang itu terjangkit penyakit berbahaya yang sulit disembuhkan. Cara terbaik yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari borok bernanah ini adalah dengan berpuasa. Karena dalam sela-sela waktu puasa memungkinkan bagi tubuh untuk mencerna asupan makan yang masuk.

Ketika suatu penyakit berjangkit, seperti penyakit sulit buang air, radang dan ginjal, pada awal berjangkit mula-mula menghancurkan kebugaran, menjadikan lesu dan puasa dapat menjadi obat bagi penyakit ini. Puasa juga dapat menghilangkan dan menyembuhkan penyakit kudis, zat kapur yang mengendap, bertambahnya daging dan bermacam-macam kotoran dan kuman yang menjijikkan. Para dokter terkenal di barat mengatakan bahwa manfaat puasa dapat menjadi obat pencegah yang ampuh.

Puasa juga dapat menjauhkan diri dari beragam penyakit dan menjadi obat bagi penyakit-penyakit dalam banyak keadaan. Para dokter di barat merekomendasikan puasa secara khusus bagi orang-orang yang terkena penyakit diabetesminitus, pembengkakan hati, ginjal kronis, kegemukan, tekanan darah tinggi dan penyakit-penyakit lain yang muncul dari berlebihan makan, asupan gizi dari adanya nafsu makan dan dengan cara-cara umum yang dilakukan untuk menjaga kesehatan.

Banyak pendapat dan dalil-dalil yang menguatkan bahwa puasa dapat dijadikan obat dan digunakan untuk menolong dari penyakit-penyakit dalam yang berat. Manfaat puasa sebagai obat mujarab bagi penyakit-penyakit dalam tidak dapat terhitung jumlahnya. Dan sudah jelas bahwa puasa dapat menjadi obat penyembuhan bagi banyak penyakit kulit dan juga pencegahannya. Menurut dokter Muhammad Dhowahir Ikhsyai seorang dokter spealis kulit, mengatakan bahwa:

Kemuliaan puasa dapat mengatasi beragam penyakit kulit, karena sebagian penyakit kulit itu dapat di sembuhkan dengan puasa. Keterkaitan antara pola makan dengan penyakit kulit sangat erat, karena menahan diri dari makan dan minum sesaat dapat mengurangi kadar air dalam kulit dan dapat menjadikan kulit kebal terhadap penyakit kulit yang menular dan kuman-kuman.

Kekuatan tubuh dalam menangani penyakit-penyakit menular adalah tindakan awal yang digunakan untuk mengobati. Tubuh yang tidak kuat melawan bakteri dan membunuhnya, serta adanya obat yang di gunakan tidak mujarab, yang di barengi dengan adanya sedikit kekebalan tubuh, kadar air yang sedikit dalam kulit, dapat juga menjadikan sedikit penyakit-penyakit kulit yang menyebar dan menular melalui sentuhan. Obat terbaik dari keadaan ini adalah dengan pengaturan pola makan dengan mengurangi makan dan minum dan hal ini tidaklah mudah, keculai dilakukan secara bertahap.

Sedikit makan dapat mengurangi bahan kimia yang masuk kedalam usus, hal ini dapat menolong usus dengan mengurangi banyaknya mikroba yang bersembunyi dalam usus. Ketika pertumbuhan mikroba menjadi sedikit, maka sedikit pula yang mengeluarkan racun, sehingga racun yang di serap usus menjadi sedikit, racun inilah yang dapat menimbulkan banyak penyakit kulit. Usus yang rusak dapat membusuk dan menyebarkan racun bagi banyak orang dan sangat menyakitkan badan dan kulit.

Bulan puasa adalah bulan yang dapat menenangkan dan menjinakkan racun-racun itu dan bahayanya. Dan puasa dapat juga dijadikan obat bagi berbagai macam penyakit, berupa meningkatkan kekebalan tubuh dan penyakit kulit basah.

Tidak mungkin mendata manfaat puasa yang jumlahnya tidak terhingga dan tidak terhitung pula manfaat puasa bagi tubuh. Para cendekiawaan berpendapat bahwa puasa adalah cara terbaik untuk melatih diri dan menguatkan cita-cita, puasa adalah cara terbaik dan paling utama untuk mewujudkan kedua hal tersebut.

Puasa adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk menanamkan sifat amanah dalam diri anak, dalam hal ini tidak banyak orang yang mampu melakukan pembiasaan terhadap anak-anak untuk bersifat amanah dengan mewajibkan merasakan lapar dan haus dan mendapatkan makan dan minum dari usahanya sendiri, tidak ada yang dapat mencegah seseorang untuk melakukannya, selain keyakinannya bahwa Allah melihatnya, tidak ada yang mengawasi kecuali hatinya, lantas tumbuhlah sifat amanah semenjak kecil. Ketika sifat amanah dibiasakan sejak dini dalam diri manusia, maka tidak lah sulit untuk menjaganya, oleh karena itulah Rasulullah bersabda:

Puasa adalah amanat, maka jagalah amanat kalian masing-masing

Tidak ada sesuatu yang menyertai antara puasa dan cara membiasakan sifat amanah pada anak, seperti hukuman ataupun nasehat. Semua itu adalah bentuk cara-cara nyata ketika menjadikan puasa sebagai cara bertindak, dan perbedaan keduanyapun sangat besar. Puasa dapat menjadikan hati manusia sabar, hal ini dengan berdasarkan pada hadits Rasulullah SAW:

Puasa adalah sebagian dari sabar

Orang yang berpuasa, dengan puasanya setidaknya dapat membiasakan diri untuk bersabar dari rasa lapar dan haus dan juga hasrat biologis. Barang siapa dapat bersabar dari hal ini, maka dapat memudahkan baginya untuk bersabar pada hal-hal yang lain.

Orang zaman sekarang terlihat lemah, jika dihadapkan dengan kemauannya dan senantiasa memaksakan diri untuk memenuhinya. Berbeda dengan puasa yang menjadi cara untuk menguatkan kehendak manusia, yaitu meninggalkan makannannya padahal ia sangat membutuhkannya dan menjauhkan diri dari air padahal ia juga sangat membutuhkannya. Ini membuktikan bahwa puasa dapat memberikan kepercayaan diri, menumbuhkan kehendak dan menguatkan keinginan. Jihardit al-Alim al-Many berkata:

Puasa adalah cara yang dapat dilakukan untuk mewujudkan adanya kekuasaan jiwa terhadap badan, maka manusia dapat hidup dengan menguasai dirinya dan tidak menjadi budak bagi hawa nafsunya

Puasa dapat membebaskan manusia dari kebiasaan yang menguasainya. Barang siapa yang terikat dengan suatu kebiasaan tertentu, maka dapat dipastikan bahwa ia tidak dapat lari darinya dan tidak sanggup membebaskan diri darinya, lalu datanglah puasa. Saya menemukan bahwa manusia telah dapat merubah semua kebiasaannya secara sempurna dan melepaskan diri dari kebiasannya, hal ini dapat dilihat setelah mereka menjalankan puasa. Puasa adalah cara termudah untuk membebaskan diri dari bergantung pada kebiasaan yang dapat menjadi sebab dari kegelisahan dan kerusakan diri manusia.

Manfaat puasa dapat menjadi penggerak yang kuat bagi perilaku orang yang berpuasa, karena puasa dapat mencegahnya sepanjang hari dari melakukan dosa dan menjauhkannya dari hal-hal yang diharamkan. Puasa telah menjadikannya sosok manusia yang taat dan melindunginya dari kesalahan-kesalahan dan mengurangi kekurangan-kekurangannya. Tidak ada adu domba, tidak ada kebohongan, tidak ada gunjingan dan melakukan kerusakan, tidak berkata jorok dan tidak bermaksiat walaupun sedikit. Setelah melakukan puasa, orang yang dapat mengambil manfaat dari puasanya seperti yang di kehendaki dalam Islam, akan menjadi suci, terampuni dosanya dan dia telah terbentengi dengan segala hal yang dapat menguatkan akhlak mulia.

Puasa juga dapat menumbuhkan kasih sayang diantara anggota keluarga dan mengembalikan keutuhan keluarga, karena dalam sebuah keluarga dikumpulkan hidangan untuk berbuka bersama dan sebelum berbuka menjadi tempat berkumpul untuk bertashbih, berdzikir ataupun diam ketika mendengarkan al-Quran dibaca. Di saat waktu senggang, puasa dapat menebarkan rasa kasih sayang dan rasa cinta terhadap anggota keluarga. Orang yang berpuasa, sewaktu menjalankan puasa telah berusaha untuk memperbaiki perilakunya dan menjernihkan jiwanya, yaitu sewaktu dibawah cengkraman rasa lapar dengan memperbanyak shadaqah yang dapat menggerakkannya untuk senantiasa berbuat kebajikan.

Berkumpul-lah orang-orang yang berkewajiban shalat dalam masjid untuk melaksanakan shalat isya dan tarawih, dan berkibarlah bendera Islam ditengah-tengah kehidupan manusia, serta terjagalah ikatan-ikatan persaudaraan. Suatu kelompok yang akrab dan saling menganggap saudara satu sama lain akan dijauhkan dari perpecahan, selamat dari kehancuran. Tidak ada dendam, hasut, marah ataupun sifat sensitif. Puasa adalah sebuah cara yang ampuh untuk dapat mewujudkan persamaan diantara anggota masyarakat, yang berupa perbuatan. Maka orang kaya yang mampu dan orang miskin yang membutuhkan, orang tua dan anak-anak, juragan dan pekerja semuanya menahan makan dalam satu waktu dan kembali makan dalam satu waktu. Puasa juga dapat menambah pengetahuan manusia mengenai agamanya, yaitu mengenai bulan ibadah, bulan berfikir dan merenungkan ayat-ayat Allah, yaitu bulan diturunkannya al-Quran yang agung.

Para musuh Islam mengabarkan bahwa puasa hanya menunda-nunda hasil dan menambah kerusakan. Sanggahan atas pendapat-pendapat yang salah ini telah dilakukan, berupa pengujian dan pembahasan-pembahasan ilmiah. Sesungguhnya tindakan hati dan akal dapat lebih baik dengan berpuasa. Seperti yang telah kita ketahui bahwa makan pada saat berpuasa dapat menyebabkan hilangnya bahan kimia dalam darah yang masuk kedalam perut, melancarkn pencernaan, memperbaiki kerja pencernaan, yang menyebabkan berkurangnya kegesitan dan nafsu menjadi terbatas.

Demikian juga dengan pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa kerja otak semakin bertambah dari melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak dan bangunan tubuh tidak memiliki pondasi yang sehat. Dalam hal ini Dr. Aleksis Karel berkata:

Sebagian orang barat berpendapat bahwa kerja otak tidak dapat serta merta bekerja secara total dan kokoh, sampai dengan terlihat adanya tanda-tanda bahwa otak telah mengerahkan semua kekuatannya, karena otak akan bekerja sesuai dengan kemampuanya, ini adalah sebuah bentuk kelemahan, sekiranya tidak membuat standar cara bertindak. Benar, ini adalah suatu bentuk keajaiban bahwa hasil pemikiran dapat merubah dunia, menghancurkan umat dan menyesatkannya. Membuka kesempatan bagi orang-orang pandai untuk berusaha memahami nasib mereka yang tidak mungkin tergambar keluasannya, yang dapat menyempurnakan kita dan bukan membuat kerusakan dengan segala kekuatan yang ada. Hasil pemikiran yang kuat dapat mempercepat kerusakan dan pembangunan yang dihasilkan jauh lebih sedikit dari kerusakan yang ditimbulkannya, hasil pemikiran yang kuat memiliki dua wajah yang dapat menguragi bobot ketika ditimbang. Raja Qaishar tidak dapat memenuhi keinginannya, Niotin tidak dapat menggapai cita-citanya, Bethoven tidak mendapatkan ilham, serta Bastur tidak dapat melihat adanya pertambahan kecepatan tubuh dalam menyerap asupan makan sesuai dengan kemampuannya yang memudahkan mikroba ataupun zat-zat penghancur dalam mengurai makanan dengan cepat.

Salah satu perkara yang menyertai puasa, yang menjadikan manusia mampu memurnikan pikirannya dan menjernihkan hati, dapat menjadikannya lebih baik di tengah keadaan perut lapar, hal ini dengan menyandarkan pada adanya hasil pemikiran. Adapun hasil berupa pengobatan, seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa manusia setelah makan pastilah mendapat imbalan walupun berupa sedikit lemas ataupun malas. Dalam keadaan ini, Islam memperbolehkan bagi pekerja untuk berbuka ketika hal ini memberikan banyak manfaat bagi semua ataupun sebagian orang yang berpuasa.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa puasa dapat menambah kerusakan bagi seseorang adalah pendapat yang salah. Semoga orang-orang menyebarkan keterangan ini dan berpegangan pada sesuatu yang juga menjadi pegangan bagi yang lain, dari bermacam-macamnya jenis makanan dan bahan kimia yang terkandung, terlebih macam-macam makanan yang dihidangkan di bulan Ramadlan.

Sesungguhnya, berlebihan dalam sesuatu bukanlah bagian dari Islam, yang akibatnya sudah jelas. Di dalam dunia dia tidak dapat mengambil manfaat dari sesuatu yang di tunjukkan oleh puasa berupa obat. Akan tetapi sebaliknya, hal ini dapat membahayakan kesehatannya dan tidak ada yang lebih membahayakan dari makanan yang berlebih pada perut kosong dan pada akhirnya ia akan mendapatkan balasan seperti balasan orang yang berlebihan.

Bulan puasa selesai ditandai dengan pemberian zakat fitrah, oleh karena itulah Islam menetapkan selesainya bulan ini dengan mengeluarkan zakat fitrah. Untuk meyempurnakan dirinya, maka manusia harus mengeluarkan zakat. Semua zakat yang di wajibkan Islam, di wajibkan karena untuk menyempurnakan sesuatu yang keluar dari puasa. Ketika aku membayangkan adanya kerusakan dalam bulan Ramadlan dan memungkinkan bagi manusia untuk melakukannya kembali di luar bulan Ramadlan dengan mendasarkannya pada bahan kimia yang terkandung dalam makanan, aku juga menemukan bahwa kebiasaan manusia makan sebanyak tiga kali dalam sehari semalam dan dalam bulan puasa di ringkas menjadi satu setengah, dengan menghitung sahur hanya untuk menyempurnakan (untuk menyedikitkan bahan kimia dalam makan) tidak melebihi dari setengah porsi makan biasa. Lalu manusiapun bermaksud mengambil separo makan dari yang di butuhkan. Ditemukan juga bahwa manusia telah tercegah sepanjang hari dari kebisaan minum dan mencukupkannya ketika berbuka dan tidak menambah setengah dari dari yang dapat di perolehnya. Hal ini di maksudkan dalam bulan Ramadlan, sebagian nafaqahnya untuk bershadaqah dan berzakat fitrah.

Tidak henti-hentinya ilmu pengetahuan bersusah payah untuk membuktikan kepada dunia mengenai tujuan puasa yang tidak terhingga jumlahnya. Adapun balasan puasa di akherat, seperti yang terkandung dalam firman Allah:

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS. Ar-Radu: 22)

Orang yang berpuasa, mereka bersabar dari lapar dan haus hanya karena Allah, hal ini terkandung dalam ayat:

(kepada mereka dikatakan): "Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu".(QS. Al-Haaqoh: 24)

Isyarat yang menunjukkan bahwa Allah akan mengganti orang-orang yang berpuasa dari puasanya dengan makanan yang lebih baik dan minuman yang lebih bagus di kehidupan akherat. Barang siapa berpuasa Ramadlan, maka dia taat kepada Allah dan juga kepada Rasul-Nya dan barang siapa taat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar, yang merupakan balasan terbaik. Hal ini berdasarkan firman Allah:

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (QS. An-Nisa: 13)

Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. Al-Ahzab:71)

Dan demikian seterusnya. Dalam puasa terdapat kebaikan dari semua kebaikan yang ada bagi individu dan kelompok, di dunia dan akherat. Allah maha benar atas firman-Nya dalam al-Quran:

Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui, (QS. Al-Baqarah: 184)



[1] Maksudnya: berhenti dari memusuhi dan memerangi Rasul.

[2] Maksudnya: kembali memusuhi dan memerangi Rasul.

[3] Maksudnya: Allah memberi pertolongan kepada Rasul.

[4] Maksudnya: mereka tidak mengerti bahwa perang itu haruslah untuk membela keyakinan dan mentaati perintah Allah. Mereka berperang hanya semata-mata mempertahankan tradisi jahiliyah dan maksud-maksud duniawiyah lainnya.

[5] I'tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.

[6] Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

[7] Maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

[8] Dalam kamus Al- Munawir di sebutkan bahwa Qirsyan adalah jenis mata uang